Anda di halaman 1dari 2

Menuju Pilpres 2009

Sen, Apr 7, 2008


Tajuk
Baik Presiden SBY maupun Wapres Jusuf Kalla merupakan dua tokoh yang
diperkirakan bakal maju dalam Pilpres 2009. SBY berusaha mempertahankan
kedudukannya, sementara JK berusaha naik kelas.
Tapi, kalau keduanya beradu di Pilpres, tentunya SBY dapat dengan mudah
meraih kemenangan. Oleh karena itu, JK diperkirakan akan menggaet wakilnya
dari etnis Jawa, disebut-sebut Sri Sultan Hamengkubuwono X. Kalau itu terjadi,
maka kans JK sama kuat dengan SBY.
Begitu juga jika mantan Presiden Megawati maju dan berhasil mendapatkan
wakilnya yang bagus, kita sebut saja dari Golkar seperti Agung Laksono atau
Akbar Tanjung, maka hanya ketiga orang (SBY, JK, dan Mega) itulah yang
bersaing ketat. Kalaupun ada calon-calon lainnya, seperti Gus Dur, Amien Rais,
Wiranto, Sutiyoso diperkirakan hanya penggembira belaka.
Terkait dengan Pilpres 2009 sejak sekarang mulai muncul upaya ganjalmengganjal. Ada Parpol yang menghendaki diterapkannya aturan usia maksimal
60 tahun untuk mengganjal JK dll, namun ada juga Parpol yang ingin
menerapkan ketentuan atau persyaratan sarjana untuk mengganjal Megawati,
dan Parpol lainnya menghendaki persyaratan kesehatan harus sehat jasmani
dan rohani untuk mengganjal Gus Dur yang masih berambisi. Sedangkan Golkar
berupaya menaikkan persyaratan pencalonan Capres harus 30 persen hasil
Pemilu 5 April 2009 sehingga tiga calon saja yang bisa maju nantinya.
Tapi, kalau kita lihat hasil Revisi UU Pemda diharapkan memberi peluang bagi
pemimpin muda menunjukkan kemampuan dirinya. Usia 25 tahun sudah bisa
menjadi kepala daerah (bupati dan walikota). Revisi UU No 32/2004 itu sangat
positif untuk mendapatkan pemimpin yang enerjik sehingga diharapkan bangsa
dan negara kita lebih maju di masa mendatang.
Oleh karena itu, sudah waktunya pemerintah dan organisasi kemasyarakatan
juga menerapkan hal yang sama. Jangan ada lagi, pemimpin organisasi pemuda
berusia 40 bahkan 50 tahun, sudah punya cucu pula. Kalau namanya pemuda
harusnya berusia 20an tahun.
Kalau menjadi bupati dan walikota sudah bisa tokoh berusia 25 tahun, hal yang
sama juga kita harapkan bisa diterapkan untuk menjadi gubernur, bahkan
presiden. Sebaliknya, ketentuan batasan umur juga diterapkan. Hal itu
dimaksudkan untuk mempercepat terjadi regenerasi di kalangan pemimpin
bangsa di tingkat pusat maupun daerah. Jika batasan umur menjadi pejabat

tidak diterapkan, maka tokoh usia 60-70 tahun pun tetap mencalonkan diri. Sama
saja hal itu menghambat tampilnya tokoh-tokoh muda.
Kita sangat setuju dilakukan batasan usia untuk menjabat kepala daerah,
termasuk presiden dan wakil presiden. Usulan dari PKS bahwa batasan usia
presiden maksimal 60 tahun bisa dijadikan alternatif, namun dipastikan akan
diganjal oleh Parpol lainnya yang masih tetap menjagokan tokoh usia 60 tahun
ke atas. Golkar misalnya, jagonya sudah di atas 65 tahun, juga jagonya PDIP
(Megawati), Sutiyoso, Wiranto, Gus Dur, Amien Rais dll.
Tak pelak lagi, ke depan persaingan antara generasi muda dengan seniornya
semakin ketat dan sportif. Yang muda harus bisa belajar dari yang tua, dan
meninggalkan sifat dan kebiasaan pemimpin tua yang lupa daratan, sehingga
kalau sudah menjadi pemimpin lupa diri. Lupa pada rakyatnya, dan yang menjadi
target hanya mencari kekayaan sebanyaknya untuk pribadi, keluarga, dan
kroninya.
Pemimpin kita baik yang tua maupun yang muda harus mau belajar dari
pemimpin negara asing, yang tidak segan mundur dari jabatan, karena malu jika
kepemimpinannya dinilai rakyat gagal. Budaya mundur inilah yang perlu
ditanamkan, disosialisasikan menjelang Pilpres 2009 sehingga membudaya
dalam masyarakat kita terutama di kalangan elite politiknya saat Pilkada maupun
Pilpres.=