Anda di halaman 1dari 16

Universitas Sriwijaya

Laporan Kerja Praktek Unit Operasi PUSRI - II


Periode 1 Desember 2014 15 Januari 2015

BAB IV
TUGAS KHUSUS
ANALISA PENURUNAN KONVERSI PADA AMMONIA CONVERTER
(105-D) DI PABRIK PUSRI II
4.1. Pendahuluan
4.1.1. Latar Belakang
Amoniak merupakan salah satu senyawa penting yang banyak digunakan
dalam industri kimia sebagai bahan baku dan produk. Amoniak (NH 3) adalah gas
basa tidak bewarna,lebih ringan dari udara dan memiliki aroma tajam dan unik. Di
alam amoniak terbentuk pada saat zat-zat organik yang mengandung nitrogen
membusuk, oleh sebab itu sedikit terdapat dalam udara. Bahan baku yang
digunakan untuk sintesa amoniak yaitu gas alam, udara dan steam (uap air).
Teknologi sintesis ammonia dari bahan baku hidrogen dan nitrogen yang
pertama kali adalah proses Haber-Bosch. Sintesis amoniak pada PT Pupuk
Sriwijaya Palembang dilakukan pada Ammonia Converter (105-D). Dalam proses
pembuatan amoniak dari hidrogen dan nitrogen ditentukan oleh beberapa kondisi
operasi seperti temperatur, tekanan dan perbandingan molar antara H 2 dan N2
dalam gas umpan.
Di pabrik Amoniak, proses yang paling menentukan adalah sintesis
amoniak dari gas H2 dan gas N2 yang terjadi di dalam ammonia converter (105-D)
dengan bantuan katalis promoted iron. Pada ammonia converter terjadi reaksi
sebagai berikut :
N2 + 3H

2NH3 +Q

Katalis promoted iron berpotensi mengalami deaktivasi yang dapat menyebabkan


terjadinya penurunan jumlah konversi amoniak. Deaktivasi katalis dapat terjadi
akibat tersumbatnya pori-pori dari katalis atau telah habisnya life-time dari katalis.
Reaksi di atas berlangsung pada temperatur sekitar 400-500oC dan tekanan
140-150 kg/cm2. Apabila ditinjau dari segi keseimbangan termodinamika, reaksi
ini akan berlangsung baik pada temperatur yang relatif rendah dan tekanan yang

104

105
Universitas Sriwijaya
Laporan Kerja Praktek Unit Operasi PUSRI - II
Periode 1 Desember 2014 15 Januari 2015

tinggi. Akan tetapi bila ditinjau dari segi kinetika reaksi kimianya, temperatur
yang rendah justru akan memperlambat terjadinya reaksi. Oleh sebab itu, perlu
ditekankan kondisi operasi yang optimum untuk memperoleh hasil amoniak
sesuai dengan yang diharapkan. Untuk mengontrol temperatur dalam konverter
dilakukan penambahan umpan dengan sistem quench pada setiap selang antar bed
agar diperoleh konversi yang maksimal.
Konversi yang dicapai dalam Ammonia converter hanya sekitar 15%.
Untuk meningkatkan jumlah produk amoniak maka digunakan sistem pereaksian
kembali yang sering disebut sebagai synthesis loop atau syn-loop. Didalam sistem
looping untuk menjaga agar tidak terjadi akumulasi gas inert di dalam ammonia
converter yang justru akan menurunkan konversi di dalam ammonia converter,
maka sebagian gas proses harus dibuang atau di-purge.
Namun ternyata pada tanggal 27 November 2014 3 Desember 2015
terjadi penurunan konversi amoniak secara drastis maka judul ini diambil untuk
menganalisa penyebab dari menurunnya konversi reaksi pada ammonia converter
(105-DA dan 105-DB) Pusri II (2A-105D).
4.1.2. Tujuan
Menganalisa penyebab penurunan konversi reaksi pada ammonia
converter dari data aktual mulai dari 27 November 2014 hingga 3 Desember 2014.
4.1.3. Permasalahan
Apakah penyebab dari penurunan konversi reaksi pada ammonia
converter Pusri II (2A-105D) pada bulan November 2014?
4.2. Tinjauan Pustaka
Kini banyak sekali perusahaan mengkhususkan diri pada desain dan
konstruksi pabrik ammonia sehingga berkembanglah beberapa jenis reaktor
ammonia (ammonia converter). Pada dasarnya semua bentuk desain ammonia
converter mempunyai tujuan yang sama yaitu ingin mengatasi dua masalah pokok
yang timbul dalam rangka meningkatkan hasil amoniak. Dua masalah itu adalah
menjaga temperatur optimum dan reaksi yang terjadi pada tekanan tinggi.
Synthesis converter yang dibuat oleh Haber-Bosch mula-mula dirancang
untuk beroperasi pada tekanan sekitar 200 atm. Converter lainnya beroperasi pada

106
Universitas Sriwijaya
Laporan Kerja Praktek Unit Operasi PUSRI - II
Periode 1 Desember 2014 15 Januari 2015

tekanan kira-kira 1000 atm untuk versi Mont Cenis. Setelah synthesis loop
dikembangkan tekanan operasi yang ekonomis adalah sekitar 4500-5200 psig atau
300-380 atm. Beberapa dekade kemudian setelah sistem energy recovery dengan
sistem turbine centrifugal compressor dikembangkan dan dintegrasikan dengan
syn-loop, tekanan operasi menjadi lebih rendah yaitu sekitar 2000-2100 psig atau
130-240 atm.
Saat ini setelah peralatan untuk energy recovery dan penerapannya sudah
semakin baik dibandingkan sebelumnya, tekanan operasi yang paling ekonomis
adalah sekitar 4500-5000 psig. Semua converter dirancang untuk mengikuti salah
satu dari dua pendekatan umum, yaitu mendapatkan profil temperatur terbaik yang
mungkin untuk perpindahan panas dengan gas yang bereaksi dan quench dari gasgas tersebut dengan sintesis segar.
Heat exchanged converter diproduksi oleh Tennesse Valley Authority
(TVA) di Amerika dan oleh Montecatini Edison. Sedangkan converter tipe quench
ditawarkan oleh Pullman-Kellog, Chemico, Foster-Wheeler, Uhde, Humprey and
Glasgow, Haldor, Topsoe, Imperial Chemical Industries (ICI) dan BASF.
Beberapa converter di atas antara lain :
1) TVA Counter-Current Converter yang dirancang oleh TVA ini merupakan
counter-current converter.
2) NEC-TVA Converter adalah jenis converter dengan aliran counter current.
3) Fauser-Montecatini

dan

Osw-Uhde

Converter

dikembangkan

oleh

Osterreichische Stickstoffwerke (OSW) dan Frederick Uhde.


4) Chemico Cocurrent Converter, desain converter ini menunjukkan bahwa pola
aliran dalam converter dapat diatur untuk memberikan jumlah yang bervariasi
pada perpindahan panas pada saat gas-gas reaktan melewati bed-bed katalis
secara kontinyu.
5) Quench Converter oleh Chemico, ICI, BASF telah dikembangkan oleh
Chemico, ICI dan BASF.
6) Topsoe Converter, Haldor Topsoe Co. telah menyempurnakan pola aliran yang
lain pada converter. Pola aliran ini sebenarnya banyak mempunyai kesamaan
dengan converter-converter yang lain.

107
Universitas Sriwijaya
Laporan Kerja Praktek Unit Operasi PUSRI - II
Periode 1 Desember 2014 15 Januari 2015

7) Pullman-Kellog

Vertical

Converter

mempunyai

banyak

keunggulan

dibandingkan dengan converter sejenis. Converter ini telah berdiri di lebih


dari 100 pabrik amoniak.
8) Horizontal Converter dirancang juga oleh Kellog untuk kapasitas pabrik
sekitar 1700 ton/hari, dan sedikitnya sebuah converter jenis ini telah
dioperasikan.
9) Braun

Converter,

C.

Braun

Co.

menyatakan

bahwa

ia

telah

menyempurnakan converter dengan dua buah shell converter yang beroperasi


secara seri. Kedua shell tersebut identik dan hanya berbeda ukurannya.
Reaksi sintesa amoniak yang dibantu katalis dapat dituliskan sebagai
berikut :
N2 + 3H2

2NH3 + Q

Titik kesetimbangan dari reaksi ini sedemikian rupa bahwa pada kondisi
operasi yang diusulkan, kadar ammonia dalam gas keluar reaktor kira-kira 15%
mol. Gas yang tidak terkonversi dikembalikan ke reaktor untuk mendapatkan
produksi maksimal.
Kondisi yang mempengaruhi reaksi di converter yaitu :
a. Temperatur
Sebagai akibat dari perubahan temperatur terhadap reaksi sintesa amoniak
adalah dua kali lipat karena mempengaruhi derajat kesetimbangan maupun
kecepatan reaksi. Karena reaksi sintesa eksotermis, kenaikan temperatur akan
menurunkan derajat kesetimbangan dari ammonia dan pada waktu yang sama
mempercepat reaksi.
Hal ini berarti bahwa pada kondisi jauh dari kesetimbangan, kenaikan
akan menuju konversi yang lebih tinggi, sedangkan untuk sistem sintesa yang
memberikan konversi dekat dengan kesetimbangan kenaikan temperatur akan
menuju pada konversi yang lebih rendah. Efisiensi selalu berubah sebanding
dengan temperatur jika perubahan aktivitas katalis tidak diperhitungkan. Efisiensi
konversi didefinisikan sebagai perbandingan persentase NH3 sebenarnya di dalam
gas yang keluar dari converter dengan persentase NH3 yang mungkin secara
teoritis pada kondisi tersebut.

108
Universitas Sriwijaya
Laporan Kerja Praktek Unit Operasi PUSRI - II
Periode 1 Desember 2014 15 Januari 2015

Gambar 4.1. Pengaruh quenching pada garis operasi konversi amoniak

b. Tekanan
Karena sintesa amoniak disertai dengan berkurangnya volume (penurunan
jumlah molekul), derajat kesetimbangan amoniak akan naik apabila tekanan naik.
Pada saat yang bersamaan kecepatan reaksi dipercepat oleh kenaikan tekanan,
karena itu konversi akan bertambah baik pada tekanan yang lebih tinggi.
c. Space velocity
Jika jumlah gas proses semakin bertambah (space velocity yang lebih
besar dalam converter) reaksi sintesa mempunyai waktu yang lebih sedikit untuk
berlangsung dan menghasilkan kadar amoniak (pada gas keluar converter) yang
tidak setinggi dibandingkan apabila gas mengalir, melalui katalis lebih lambat.
Akan tetapi pengurangan dari hasil jauh lebih sedikit dari kenaikan space
velocity. Kenaikan produksi ammonia disebabkan karena lebih banyak gas yang
masuk ke dearah reaksi mempunyai pengaruh yang lebih besar daripada tendensi
pengurangan produksi disebabkan karena reaksi yang kurang sempurna (residence
time yang rendah).
Karena itu pada keadaan normal atau pengurangan operasi, kenaikan
jumlah gas masuk converter (pada kondisi - kondisi lainnya yang tetap) akan

109
Universitas Sriwijaya
Laporan Kerja Praktek Unit Operasi PUSRI - II
Periode 1 Desember 2014 15 Januari 2015

memberikan kenaikan produksi. Metode yang biasa untuk merubah space velocity
yaitu dengan mengubah jumlah gas recycle (sirkulasi).
Dengan menambah sirkulasi temperatur di katalis pada bed akan turun
disebabkan oleh turunnnya konversi per pass; tekanan akan turun disebabkan
karena total produksi amoniak bertambah. Sirkulasi ditambah dengan menutup
MIC-34. Sirkulasi maksimum dicapai jika MIC-34 tertutup rapat.
d. Perbandingan H2 dan N2
Gas sintesa yang segar (make up, tidak termasuk recycle) yang menuju ke
seksi sintesa harus mempunyai perbandingan H2 terhadap N2 kira-kira 3,0 : 1,0.
Hal ini demikian karena pembentukan amoniak berasal dari H 2 dan N2 dengan
perbandingan 3,0 : 1,0.
e. Gas gas inert
Pengeluaran gas-gas inert secara kontinyu harus dijaga melaui pipa header
yang masuk ke kompresor recycle dikirim ke sistem purge gas. Aliran purge gas
diperlukan untuk mengontrol konsentrasi CH4 dan gas-gas inert lainnya agar tidak
menjadi tinggi di daerah sintesa karena akan mengakibatkan penurunan konversi,
kenaikan tekanan dan mengurangi kapasitas produksi.
f. Kecepatan gas sintesa
Dengan hanya menaikkan kecepatan gas sintesa yang segar (make up)
menghasilkan amoniak yang lebih banyak dan mengakibatkan hal-hal tersebut di
bawah ini terhadap kondisis-kondisi di atas:
1)

Tekanan sistem alarm naik

2) Temperatur katalis bed akan naik


3) Kadar gas inert akan naik
4) Perbandingan gas H2 dan N2 akan berubah
Sebaliknya pengurangan gas sintesa akan memberikan efek yang
berlawanan. Dibawah kondisi operasi normal, rate gas sintesa ditentukan oleh
permintaan produksi. Penambahan dari gas umpan ke daerah sintesa biasanya
didapat dengan menaikkan rate produksi di daerah pembuatan gas sintesa.

110
Universitas Sriwijaya
Laporan Kerja Praktek Unit Operasi PUSRI - II
Periode 1 Desember 2014 15 Januari 2015

Gambar 4.2. Pengaruh kondisi operasi terhadap kesetimbangan NH3


Jenis katalis yang digunakan memiliki pengaruh terhadap laju reaksi.

Aktivitas dan selektivitas katalis mempengaruhi laju reaksi dan juga besarnya
konversi yang bisa dicapai. Untuk katalis dengan active material yang sama,
promoter memiliki pengaruh terhadap aktivitas dan selektivitas katalis. Untuk katalis
Fe berpromotor yang umum digunakan pada reaktor sintesis amonia, beberapa
promotor katalis yang bisa dipakai, beserta pengaruhnya terhadap reaksi ditunjukan
oleh Tabel 4.1.
Tabel 4.1. Pengaruh jenis promotor pada katalis Fe

Jenis Promotor

%amoniak
P = 30 atm

P = 100 atm

1,01% Al2O3

5,02

9,00

0.35% K2O + 0.84% Al2O3

5,82

13,60

0,61% ZrO2

4,88

7,72

0.96% K2O + 2,76% ZrO2

5,43

12,63

0,51% SiO2

4,67

7,49

0,57% K2O + 0,75% SiO2

5,33

10,90

111
Universitas Sriwijaya
Laporan Kerja Praktek Unit Operasi PUSRI - II
Periode 1 Desember 2014 15 Januari 2015

4.3. Data dan Perhitungan


Perhitungan konversi:
Berdasarkan data aktual tanggal 27-11-2014 0:00
Komponen
Ar
N2
CH4
H2
NH3
Basis perhitungan: 100 mol
Mula-mula
Komponen
(mol)
Ar
2.18
N2
21.74
CH4
10.16
H2
63.45
NH3
2.47
Total
100

Inlet
Outlet
105-D
105-D
(%mol) (%mol)
2.18
2.67
21.74
19.07
10.16
11.53
63.45
50.41
2.47
16.32
Bereaksi
(mol)
0
-1/3x
0
-x
+2/3x
-2/3x

Setimbang
(mol)
2.18
21.74 - 1/3x
10.16
63.45 x
2.47 + 2/3x
100 - 2/3x

Basis %mol output H2 aktual= 50.41%


Basis %mol output NH3 aktual= 6.32%

Tabel 4.2. Data Analisa Laboratorium Inlet 105-D

Waktu
11/27/2014 0:00
11/27/2014 7:00
11/28/2014 0:00
11/28/2014 7:00
11/29/2014 0:00
11/29/2014 7:00
11/30/2014 0:00
11/30/2014 7:00
11/30/2014 15:00
12/1/2014 0:00
12/1/2014 7:00
12/1/2014 15:00
12/2/2014 0:00
12/2/2014 7:00
12/2/2014 15:00
12/3/2014 0:00
12/3/2014 7:00
12/3/2014 15:00
12/4/2014 0:00

Inlet 105-D, %mol


Ar
N2
CH4
2.18
21.74
10.16
2.07
21.24
9.76
2.10
20.97
10.69
2.11
21.73
10.51
2.10
22.18
10.41
2.06
19.97
10.37
2.13
21.86
10.48
2.21
21.21
10.81
2.07
21.05
10.34
2.02
21.00
9.84
2.08
19.60
10.18
2.13
20.00
10.18
2.18
21.43
9.93
2.12
22.54
9.50
2.10
20.62
9.60
2.15
22.26
10.07
2.08
21.68
9.89
2.14
20.68
10.13
2.08
22.24
9.67

H2
63.45
64.13
63.58
62.80
62.78
65.13
63.53
63.63
64.33
64.98
65.60
65.37
64.19
62.57
65.46
63.22
64.03
64.78
63.61

NH3
2.47
2.80
2.66
2.85
2.53
2.47
2.00
2.14
2.21
2.16
2.54
2.32
2.27
3.27
2.22
2.30
2.32
2.27
2.40

Tabel 4.3. Data Analisa Laboratorium Outlet 105-D

Waktu
11/27/2014 0:00
11/27/2014 7:00
11/28/2014 0:00
11/28/2014 7:00
11/29/2014 0:00
11/29/2014 7:00
11/30/2014 0:00
11/30/2014 7:00
11/30/2014 15:00
12/1/2014 0:00
12/1/2014 7:00
12/1/2014 15:00
12/2/2014 0:00
12/2/2014 7:00

Outlet 105-D, %mol


Ar
N2
CH4
2.67
19.07
11.53
2.44
18.15
11.44
2.71
18.94
12.16
2.47
18.71
12.26
2.45
18.96
11.88
2.41
16.59
11.90
2.51
18.31
12.13
2.63
18.15
12.49
2.46
18.10
12.00
2.41
18.11
11.51
2.48
16.49
11.93
2.50
16.93
11.83
2.59
18.60
11.62
2.47
19.82
11.30

H2
50.41
51.83
50.01
50.26
50.33
52.72
51.32
50.93
51.71
52.26
53.47
53.11
51.46
50.78

NH3
16.32
16.14
16.18
16.30
16.38
16.38
15.73
15.80
15.73
15.71
15.63
15.63
15.73
15.63

12/2/2014 15:00

2.48

53.00

15.57

17.68

11.27

12/3/2014 0:00
12/3/2014 7:00
12/3/2014 15:00
12/4/2014 0:00

2.56
2.47
2.55
2.44

19.50
19.05
17.71
19.43

11.80
11.58
11.84
11.19

50.47
51.47
52.41
51.21

15.67
15.43
15.49
15.73

Tabel 4.4. Konversi H2 dan NH3

Waktu
11/27/2014 0:00
11/27/2014 7:00
11/28/2014 0:00
11/28/2014 7:00
11/29/2014 0:00
11/29/2014 7:00
11/30/2014 0:00
11/30/2014 7:00
11/30/2014 15:00
12/1/2014 0:00
12/1/2014 7:00
12/1/2014 15:00
12/2/2014 0:00
12/2/2014 7:00
12/2/2014 15:00
12/3/2014 0:00
12/3/2014 7:00
12/3/2014 15:00
12/4/2014 0:00

%H2
30.95
29.31
32.02
30.03
29.85
29.38
29.21
30.22
29.94
30.04
28.73
29.04
30.19
28.49
29.43
30.39
29.86
29.35
29.60

%NH3
28.15
26.87
27.45
27.62
28.43
27.53
28.01
27.81
27.24
27.03
25.89
26.41
27.18
25.63
26.47
27.43
26.61
26.51
27.16

4.4. Pembahasan
Pada studi kasus ini, pengamatan difokuskan pada parameter yang
menyebabkan penurunan konversi pada ammonia converter. Pada pengamatan
diperlukan data konversi untuk menghitung jumlah persen konversi reaksi dalam
ammonia converter menggunakan perhitungan dengan basis mol. Data diperoleh
dari kondisi operasi Ammonia Plant Pusri-II dan analisa komponen dari
Laboratorium Control Pusri-II. Melalui hasil perhitungan data, didapat konversi
reaksi secara perhitungan aktual selama 8 hari cenderung turun.
Berikut ini merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi penurunan
konversi reaksi yang terjadi pada ammonia converter Pusri-II yaitu :
1. Temperatur

Gambar 4.3. Grafik Perubahan Temperatur Per Bed 105-DA

Ditinjau dari perubahan temperatur per bed pada ammonia converter 105DA, temperatur tiap bed (bed I, bed II, dan bed III) mengalami peningkatan yang
mengindikasi bahwa terjadi reaksi eksotermis pada masing-masing bed. Maka
peningkatan temperatur pada masing-masing bed di ammonia converter 105-DA
ini bukan merupakan penyebab turunnya konversi.

Gambar 4.4. Grafik Perubahan Temperatur Per Bed 105-DB

Ditinjau dari perubahan temperatur per bed pada ammonia converter 105DB, temperatur pada bed I mengalami penurunan sedangkan pada bed II dan III
mengalami peningkatan. Perubahan temperatur pada bed I diindikasi merupakan
parameter yang menyebabkan menurunnya konversi pada ammonia converter
Pusri II. Turunnya temperatur pada bed I mengindikasi bahwa terjadi penurunan
kinerja pada katalis bed I ammonia converter 105-DB. Penurunan kinerja ini
kemungkinan dapat disebabkan akibat tersumbatnya pori-pori katalis oleh
carryover oli yang terikut pada fluida gas saat kompresi gas di 103-J dan oleh
adanya deaktivasi pada katalis di bed I ammonia converter 105-DB.
2. Tekanan

Gambar 4.5. Grafik Pressure Drop Pada Ammonia Converter

Ditinjau dari pressure drop pada ammonia converter 105-DA dan 105-DB,
pressure drop mengalami peningkatan. Semakin banyak flow feed yang masuk ke
dalam reaktor maka pressure drop akan semakin meningkat, begitu pula
sebaliknya. Namun bila pressure drop mengalami peningkatan secara tiba-tiba
atau drastis, hal ini diduga kemungkinan telah terjadi deaktivasi katalis yang akan
menyebabkan penurunan konversi pada reaktor. Pada data aktual, pressure drop
tidak mengalami peningkatan secara drastis namun secara bertahap sehingga
pressure drop tidak menjadi parameter yang menyebabkan penurunan konversi.

Gambar 4.6. Grafik Tekanan Loop

Ditinjau dari tekanan loop pada proses looping feed gas, tekanan
mengalami peningkatan. Tekanan loop yang meningkat pada sistem loop secara
teoritis akan menyebabkan konversi reaksi pada ammonia converter semakin
meningkat. Hal ini tidak terjadi pada kondisi aktual ammonia converter Pusri II
dimana konversi justru mengalami penurunan pada saat tekanan loop meningkat.
Pada reaksi pembentukan amoniak, peningkatan tekanan akan cenderung untuk
meningkatkan konversi pada ammonia converter. Maka, peningkatan tekanan
loop tidak menjadi parameter yang menyebabkan penurunan konversi.
3. Gas Inert

Gambar 4.7. Grafik Jumlah Gas Inert

Peningkatan jumlah gas inert mengindikasikan bahwa jumlah gas yang


dipurge semakin sedikit. Jumlah gas inert pada sistem dikontrol secara kontinyu
dengan cara mengirim sebagian gas menuju sistem purge gas untuk mengurangi
gas inert dalam sistem loop. Dampak yang dihasilkan secara teoritis terhadap
konversi adalah semakin banyak jumlah inert di dalam sistem loop akan
mengakibatkan konversi semakin menurun dan sebaliknya. Ditinjau dari grafik,
jumlah gas inert pada sistem loop cenderung mengalami penurunan. Maka, jumlah
gas inert bukan menjadi parameter yang menyebabkan menurunnya konversi pada
ammonia converter.
4. Ratio H2/N2
Perubahan pada rasio H2/N2 baik mengalami peningkatan atau penurunan

akan berdampak pada perubahan konversi di ammonia converter. Gas sintesa


yang menuju ke reaksi sintesa akan dikontrol sehingga mempunyai perbandingan
H2 terhadap N2 kira-kira 3,0 : 1,0. Nilai range ratio H2/N2 optimum adalah 2,8 3,2. Perbandingan rasio antara H2 dan N2 dapat dikontrol dengan mengatur jumlah
udara tie-in, LP H2 dan H2 dari PGRU. Ditinjau dari grafik, perubahan rasio H 2/N2
tidak mengalami perubahan dan cenderung konstan. Maka, ratio antara H2/N2
bukan menjadi parameter yang menyebabkan menurunnya konversi pada
ammonia converter.

Gambar 4.8. Grafik Ratio H2/N2

5. Space Velocity

Gambar 4.9. Grafik Space Velocity


Peningkatan gas proses yang masuk ke dalam ammonia converter dan
peningkatan tekanan proses dan looping akan meningkatkan kecepatan dari gas
didalam ammonia converter (space velocity). Peningkatan kecepatan gas ini akan
menurunkan waktu tinggal (residence time) reaktan didalam reaktor. Menurunnya
waktu tinggal reaktan didalam reaktor akan menyebabkan berkurangnya waktu
reaktan didalam reaktor untuk bereaksi membentuk amoniak. Namun penurunan
konversi akibat peningkatan space velocity dibanding banyaknya jumlah gas
proses yang masuk akan memberikan pengaruh space velocity yang sangat kecil,
sehingga penurunan konversi akibat peningkatan space velocity dapat diabaikan.
Langkah-langkah yang memungkinkan untuk mengoptimalisasi kinerja
ammonia converter (105-D) antara lain:
1. Temperatur
Secara simulasi kenaikan temperatur sebesar 1oC pada ammonia converter
akan menurunkan konversi hidrogen sebesar lebih dari 0.0086% dan temperatur
produk (oulet ammonia converter) meningkat sebesar 0.923oC pada tekanan dan
komposisi umpan konstan. Sehingga untuk mengoptimalkan kinerja dari ammonia
converter dapat dilakukan dengan melakukan penurunan temperatur umpan
dengan pertimbangan penurunan temperatur umpan tidak melebihi range
temperatur converter design sekitar 400-480oC.

2. Tekanan
Secara simulasi peningkatan tekanan umpan pada ammonia converter akan
meningkatkan konversi secara keseluruhan pada ammonia converter, peningkatan
tekanan 1 bar akan meningkatkan konversi N2 sebesar 0.063% dan diikuti dengan
peningkatan pada temperatur produk ammonia converter sebesar 0.65oC pada
temperatur dan komposisi inlet konstan. Sehingga untuk meningkatkan konversi
dapat dilakukan dengan meningkatkan tekanan dalam converter dengan
pertimbangan tekanan tidak melebihi tekanan range design 130-140 kg/cm2.
4.5. Kesimpulan dan Saran
4.5.1. Kesimpulan
1. Konversi reaksi pada ammonia converter mengalami penurunan dari
tanggal 27 November 2014 hingga 3 Desember 2014.
2. Penurunan konversi dipengaruhi oleh beberapa parameter diantaranya
adalah temperatur, tekanan, perbandingan H2/N2, jumlah gas inert serta
space velocity.
3. Dari beberapa parameter tersebut terdapat satu parameter yang
memungkinkan terjadinya penurunan konversi ammonia converter pada
tanggal 27 November 2014 hingga 3 Desember 2014 yakni penurunan
perubahan temperatur pada bed I di ammonia converter 105-DB.
4.5.2. Saran
1.

Perlunya

dilakukan

penurunan

temperatur

umpan

untuk

meningkatkan konversi dalam ammonia converter dengan peningkatan


sebesar 0.0086%/oC.
2.

Perlunya dilakukan peningkatan tekanan loop pada sistem untuk


meningkatkan konversi N2 dalam ammonia converter dengan peningkatan
sebesar 0.063%/bar.

3.

Perlu dilakukan evaluasi terhadap kinerja katalis pada tiap bed di


ammonia converter.

Anda mungkin juga menyukai