Anda di halaman 1dari 66

KALSIUM

Simbol
: Ca
Nomor Atom dan nomor Massa : 20/40
Konfigurasi elektron
Struktur
Senyawa kalsium

: 1s2 2s2 2p6 3s2 3p6 4s2


: Kubus pusat muka
: CaCO3, Ca10(PO4)6(OH)2

(tulang)
Kebutuhan kalsium

: 1000 1300 mg/hr (usia 9 -50

thn)

Kubus pusat
muka

160
197
pm Ukuran atom
pm

Kalsium merupakan mineral terbanyak dalam tubuh


manusia (1,5-2% dari total berat badan)

Kalsium paling banyak terdapat di tulang (>99%),


lainnya terdapat di sitoplasma, organel, ataupun
cairan ekstrasel.

Kalsium memegang peranan dalam:

1. Aktifasi beberapa enzim (normal)


2. Koagulasi (pembekuan darah)

Tidak adanya kalsium menyebabkan prothrombin


tidak
dapat diubah menjadi thrombin oleh
thromboplastin
3. Kontraksi otot kerangka
Kontraksi otot terjadi karena kalsium terdifusi

4. Fungsi otot jantung


5. Eksitasi syaraf
Kenaikan konsentrasi kalsium menyebabkan sistem Na+
teraktifkan. Akibatnya threshold potential naik dan sel
menjadi kurang aktif (tidak tereksitasi)
6. Transmisi pada sinap

Kadar normal kalsium di dalam darah 8,8-10,4 mg/100 mL

40% kalsium dalam serum terdapat dalam bentuk terikat


dengan protein terutama albumin

10% terdapat dalam bentuk kompleks dengan ion sitrat


dan fosfat, sedangkan 50% dalam bentuk kompleks
dengan ion lain

Konsentrasi ion kalsium dalam serum harus dijaga


konstan

Absorpsi kalsium terjadi dibagian proximal usus kecil.

Dua tahap proses absorpsi kalsium:


1.

Penyerapan pada permukaan mukosa

2.

Transfer ke dalam serosa

Absorpsi kalsium di dalam usus dipengaruhi


oleh:

Vitamin D

Ion phytate dan oksalat

Beberapa macam penyakit

Beberapa macam obat

Ekskresi kalsium dari dalam tubuh:


Melalui urine, tergantung dari intake kalsium dan
intake protein
Melalui tinja (air liur, cairan pankreas, cairan empedu)

PENGATURAN KALSIUM DALAM TUBUH


Faktor yang mempengaruhi pengaturan
kalsium:
Hormon parathyroid (PTH)
Keseimbangan elektrolit
Hormon calcitonin
Vitamin D

1. HORMON PARATHYROID (PTH)

protein rantai lurus

84 asam amino (manusia, sapi dan babi)

dihasilkan oleh kelenjar parathyroid

dikeluarkan pada saat [Ca++] < normal

epineprin dan dopamin menstimulasi sekresi PTH

bekerja sama (cooperative) dengan 1,25-(OH)2-D3


untuk memobilisasi kalsium dalam tulang

Pada ginjal, PTH mempunyai tiga fungsi:


1.

menginduksi sintesis 1,25-(OH)2-D3

2.

menaikkan absorpsi kalsium


menurunkan absorpsi fosfor

3.

menurunkan [Ca] di susu, air liur dan lensa mata

2. KONSENTRASI ION FOSFAT DAN ION MAGNESIUM


K = [Ca2+]3 X [PO43-]2
kompetisi pada sistem reabsorpsi di ginjal dan usus
pada hewan, defisiensi kalsium menyebabkan

hipokalsemia, hipokalsiuria, dan kalsinosis

3. CALCITONIN

polipeptida rantai tunggal

32 asam amino

diproduksi oleh sel C (sel parafollicular) yang


terletak pada kelenjar thyroid, parathyroid maupun
thymus)

pada ginjal domba akan menaikkan eksresi ion


kalsium, natrium, kalium, dan fosfat.

4. VITAMIN D
larut dalam lemak
diperlukan untuk absorpsi normal ion Ca dari usus dan tulang
diperlukan untuk kekuatan dan tonus otot
vitamin D2 (calciferol) dan D3 (cholecalciferol)
7-dehydrocholesterol didapatkan pada jaringan hewan
ergosterol didapatkan pada jamur dan ragi
sumber lain vitamin D yaitu diet
absorpsi terjadi di usus dan dibawa ke hati oleh -globulin
dimetabolisme di hati menjadi 25-(OH)-D 3
di ginjal 25-(OH)-D3 diubah menjadi 1,25-(OH)2-D3 dan 24,25-

(OH)2-D3
1,25-(OH)2-D3 merupakan metabolit paling aktif pada transpor

Ca di usus, mobilisasi Ca di tulang, dan tranpor fosfat di usus

cooperatively
I
N
T
E
S
TI
N
E

BONE
demineralization
ON
OFF
CT

Ca

2+

high
SERUM CALCIUM
low

C cells
PTG

PTH

1,25-(OH)2-D3

Ca excretion
Ca absorption

KIDNEY
25-(OH)-D3

LIVER

Vitamin D

Mekanisme Pengaturan kalsium di dalam tubuh

PERANAN KALSIUM PADA KONTRAKSI


OTOT
SITOSKELETON
merupakan suatu network protein yang sangat kompleks

dan terdapat di seluruh area sitoplasma


hanya terdapat pada eukariot, tidak terdapat pada

bakteria
bertugas untuk pergerakan sel, kontraksi sel otot,

perubahan bentuk, dan membantu pergerakan organel


terdiri dari tiga komponen protein utama yaitu actin

filament, microtubule dan intermediate filament.


kontraksi otot tergantung pada actin dan pergerakan silia

tergantung pada microtubule.

Cara mendapatkan microtubule dari sel

SEL OTOT KERANGKA


berbeda dengan sel otot polos dan sel otot jantung
disebut juga sebagai muscle fiber
pada manusia dewasa, mempunyai diameter 50 m

dan panjang 500000 m


sel otot kerangka merupakan multinucleated cell
komponen utama dari sel otot kerangka yaitu myofibril

(2/3 berat kering)

MYOFIBRIL
myofibril mempunyai diameter 1-2 m dan panjang

sepanjang otot kerangka


bila ATP dan Ca2+ ditambahkan ke dalam myofibril

yang terisolasi maka myofibril akan berkontraksi


terdiri dari unit-unit kecil yang disebut sarcomere yang

panjangnya 2 m
setiap unit sarcomere terdiri dari thick filament dan

thin filament
bila satu myofibril yang terdiri dari 20000 sarcomere

berkontraksi (5 cm menjadi 4 cm) maka sarcomere


akan bertambah pendek 0,5 m (2,5 m menjadi 2,0
m)

pada waktu sarcomere bertambah pendek, light

band bertambah pendek sedangkan dark band


tetap
thin filament terbentuk dari actin sedangkan thick

filament terbentuk dari myosin


thick filament mempunyai tangan/kepala (myosin

head) yang menonjol dari permukaan sepanjang


13 nm dan menghubungkan thick filament dengan
thin filament

ACTIN
semua spesies eucaryote mengandung actin
selama proses evolusi gen actin tidak mengalami

perubahan yang besar (highly conserve)


actin terdiri atas sub-unit yang merupakan suatu

polipeptida, 375 AA, protein globular yang dinamakan


G actin, berasosiasi secara non kovalen dengan satu
molekul ATP
bila actin berpolimerisasi membentuk filament actin

maka gugus terminal fosfat akan terhidrolisa dan actin


dalam keadaan ini disebut F actin
filament actin yang terbentuk dari monomer actin

berbentuk seperti benang dengan tebal 8 nm


filament actin berbentuk helix dan akan membentuk

putaran setiap 37 nm

Monomer actin

Pengaruh thymosin dan profilin pada

MYOSIN
didapatkan pada hampir semua sel vertebrata, dan

selalu berasosiasi dengan actin dan membentuk


contractile bundle di dalam sitoplasma
setiap molekul myosin terdiri dari enam rantai

polipeptida yaitu dua rantai berat (heavy chain)


dengan 2000 AA, dua rantai ringan (light chain)
dengan 190 AA dan dua rantai ringan dengan 170 AA
enzim papain akan memotong molekul myosin ini

menjadi dua bagian yaitu bagian kepala (myosin head,


S1 fragment, dua bagian) dan bagian ekor (myosin tail,
myosin rod)
fungsi dari ekor mysoin untuk membentuk thick

filament sedangkan kepala myosin untuk


menggerakkan molekul di atas actin yang berdekatan
dengannya

ekor myosin secara spontan membentuk thick filament

yang bipolar
struktur molekul myosin tergantung pada interaksi

hidrophobik antara dua -helix, sedangkan struktur dari


thick filament tergantung kepada interaksi ionik antara
ekor-ekor myosin
kontraksi otot menggunakan energi yang didapat dari

hidrolisa ATP. Walaupun jumlah ATP dari otot yang


berkontraksi tidak berubah, hal ini disebabkan adanya
back up dari phosphocreatine. Phosphocreatine kinase
akan mengubah phosphocreatine dan ADP menjadi ATP
dan creatine

myosin merupakan enzim ATPase yang diaktifkan oleh

actin. Setiap molekul myosin akan membutuhkan


waktu 30 detik untuk menghidrolisa satu molekul ATP.
Dengan adanya actin, kemampuannya naik sehingga
dapat menghidrolisa 5-10 molekul ATP setiap detik
setiap molekul actin mempunyai kemampuan untuk

berikatan dengan satu kepala myosin


actin filament mempunyai plus end (arah z disc) dan

minus end (arah thick filament)

KONTRAKSI OTOT
sebagai hasil interaksi antara myosin head dengan

actin filament didekatnya


selama interaksi, terjadi hidrolisa ATP sehingga terjadi

perubahan konformasi
pada tahap 1, myosin head mengikat ATP dan berada

dalam keadaan bebas


pada tahap 2, hidrolisa terjadi dimana ATP diubah

menjadi ADP dan Pi. Myosin head tetap dalam


keadaan tidak terikat (bebas) dengan filament actin
reaksi tahap 1 menjadi tahap 2 merupakan reaksi

reversible
myosin head melepaskan Pi dan akan terikat dengan

filament actin (tahap 3)

tahap 4, terjadi perubahan konformasi dari myosin head

sehingga dihasilkan power stroke.


pada akhir power stroke, ADP terlepas dan myosin head

kembali mengikat ATP dan berada dalam keadaan bebas


kembali
kontraksi otot di inisiasi oleh adanya kenaikan

konsentrasi Ca2+ sitoplasma yang tiba-tiba


sinyal dari sel syaraf akan menstimulasi perubahan

potensial pada membran sel, yang kemudian akan


diteruskan dari plasma membran ke myofibril melalui
transverse tubule (T tubule)
pada saat T tubule tereksitasi, Ca2+ release channel

terbuka dan ion Ca2+ keluar dari sarcoplasmic reticulum


ke sitoplasma
kenaikan [Ca2+] hanya terjadi secara singkat, karena ion

Ca2+ dipompa kembali ke sarcoplasmic reticulum oleh


Ca2+-ATPase yang banyak terdapat di membran

Kontraksi otot

Regulasi Ca2+ pada kontraksi otot dilakukan melalui


troponin dan tropomyosin
myosin bebas + actin filament, myosin ATPase akan

teraktifasi tanpa adanya Ca2+


pada keadaan normal, actin tidak bebas, melainkan

terikat oleh protein pelengkap (accessory protein)


antara lain tropomyosin dan troponin
tropomyosin terdiri dari dua rantai -helix,

panjangnya 41 nm berbentuk bulat panjang, berguna


untuk membuat filamen actin kaku dan stabil
troponin terdiri dari tiga bagian yaitu troponin T

(tropomyosin binding), troponin I (inhibitory) dan


troponin C (calcium binding)

troponin C dan I bertindak sebagai kepala dan troponin

T bertindak sebagai ekor dan berikatan dengan


tropomyosin
troponin I berikatan dengan actin. Bila troponin I

digabungkan dengan troponin T dan tropomyosin,


kompleks ini akan menghambat interaksi actin dan
myosin walaupun ada ion Ca2+.
troponin C mengikat 4 ion Ca2+ dan bila sudah

mengikat Ca2+ akan menghilangkan efek inhibisi dari


dua molekul troponin lainnya
hanya ada satu molekul kompleks troponin untuk

setiap 7 monomer actin

TIGA MACAM OTOT VERTEBRATA:

1. Otot kerangka (skeletal muscle)

2. Otot jantung (heart/cardiac muscle)


3. Otot polos (smooth muscle)
Ketiga macam sel otot tersebut berkontraksi dengan
menggunakan mekanisme actin dan myosin. Demikian juga
halnya dengan sel myoepitelial. Seperti halnya otot
kerangka, otot jantung juga berkontraksi dengan mekanisme
yang sama, yaitu: perubahan potensial pada T tubule
menyebabkan keluarnya Ca2+ dari sarcoplasmic reticulum.
Naiknya konsentrasi Ca2+ akan mengaktifkan mekanisme
kompleks troponin-tropomyosin sehingga terjadi kontraksi

T tubule dan sarcoplasmic reticulum

Berbeda dengan otot kerangka maupun otot jantung,


otot polos mempunyai myosin dan actin yang tidak
membentuk myofibril. Filamen tebal an tipis terdapat
secara lebih bebas, walaupun mereka terikat kepada
plasma membran (lihat Gambar). Kontraksi pada
otot polos ataupun sel bukan otot terjadi melalui
perantaraan Ca2+, tetapi tidak melalui kompleks
troponin-tropomyosin. Kontraksi terjadi karena
phosphorilasi dari dua rantai ringan myosin (myosin
light chain)

Tahapan kontraksi otot


polos

Rangkaian peristiwa pengaktifan myosin pada kontraksi


otot polos adalah sbb:
1.

Kenaikkan Ca2+ dalam sitoplasma akan


menyebabkan terbentuknya kompleks Ca 2+calmodulin

2.

Kompleks Ca2+-calmodulin akan mengaktifkan


myosin light chain kinase

3.

Myosin light chain kinase akan mengkatalisis reaksi


phosphorylasi myosin dengan menggunakan ATP
sebagai sumber fosfor. (lihat Gambar)

Myosin pada sel otot polos dan sel lainnya (non otot)
menghidrolisa ATP lebih lambat dibandingkan dengan sel
myosin pada sel otot kerangka (10 x lebih lambat). Kontraksi
otot polos dikontrol oleh beberapa stimulus seperti syaraf
otonom dan hormon (misalnya epineprin). Hormon epineprin
akan menginduksi proses phosphorylasi myosin light chain
kinase dengan jalan menaikkan konsentrasi cAMP. Akibatnya
afinitas enzim ini dengan kompleks Ca2+-calmodulin akan
turun dan pada akhirnya otot polos akan relaks.
Phosphorylasi pada rantai ringan myosin menyebabkan
molekul myosin non otot dapat membentuk filamen (lihat
Gambar).
Phosphorylasi ini selain mempunyai efek pada aktifitas
ATPase juga mempengaruhi bentuk tiga dimensi dan
kemampuannya untuk self-assembly.

Ca2+ di dalam sel disimpan di sarcoplasmic reticulum.


Pada umumnya [Ca2+] di dalam sitoplasma rendah (10-7
M) sedangkan di luar sel (cairan ekstra sel) dan CSC
tinggi (10-3 M). Oleh karena itu, apabila terjadi signal yang
menggertak pengeluaran Ca2+ ke sitoplasma, maka
perbedaan konsentrasi yang besar tersebut akan sangat
mendorong aliran Ca2+ dari dalam tempat penyimpanan.

Cara yang dilakukan sel untuk menjaga [Ca2+] sitoplasma


tetap rendah
1.

menggunakan Ca2+-ATPase pada plasma membran


(dengan menggunakan energi ATP)

2.

pada sel otot dan syaraf yang banyak menggunakan


Ca2+ untuk aktifitasnya mempunyai pompa Ca +-Na+
pada permukaan membrannya (Na+-Ca2+ exchanger).
Pompa ini bekerja jika [Ca2+] tinggi (10 x normal).

3.

pengikatan Ca2+ dengan protein di sitoplasma

4.

penyimpanan Ca2+ di CSC dengan pertolongan pompa


Ca2+-ATPase

5.

penyimpanan Ca2+ di dalam mitokondria melalui


proses transfer elektron dari oxidative phosphorylation
(dilakukan apabila sel mengalami kerusakan pada
membran sehingga tidak dapat memompa Ca2+ keluar
sel)

Ca2+ merupakan intracellular mediator/messenger dan


cara Ca2+ masuk ke dalam sitoplasma yaitu:

1.

melalui voltage-gated Ca2+ channel (pada


sel syaraf di nerve terminal)

2.

melalui CSRP yang akan menstimulasi


keluarnya Ca2+ dari CSC. (lihat Gambar)

1. Phosphatidylinositol (PI) pada membran plasma

mengalami dua kali phosphorylasi menjadi PIP dan


PIP2
2. Sinyal yang ditangkap oleh CSRP mengaktifkan

protein G (Gp), yang selanjutnya akan mengaktifkan


phosphoinositide spesific phospholipase C
3. Phospholipase C akan memecah PIP2 menjadi inositol

triphosphate (InsP3) dan diacylglycerol (DAG)


4. DAG akan mengaktifkan protein kinase C sedangkan

InsP3 akan terikat dengan reseptor pada membran


CSC yang akan membuka Ca2+ channel sehingga Ca2+
keluar dari CSC

1.

Bekerjanya pompa Ca2+ pada membran sitoplasma


Dephosphorylasi InsP3 oleh phosphatase khusus
sehingga menjadi inaktif.
Selain itu juga InsP3 dapat mengalami phosphorylasi
menjadi InsP4 yang akan memperlama respon
walaupun kerjanya lebih lambat. Efek dari InsP3
dapat ditiru oleh Ca2+ ionophore seperti A23187
atau ionomycin, yang menyebabkan ion Ca2+ masuk
ke dalam sitoplasma dari cairan extrasel.

2.

DAG akan bekerja sama dengan naiknya Ca 2+ di sitoplasma


untuk mengaktifkan protein kinase C (C-kinase) (Ca2+
dependent).C-kinase akan mentransfer phosphate group
dari ATP ke asam amino serin ataupun threonin pada
protein target. Efek DAG dapat ditiru oleh MAD dan
phorbol ester.
Kerjasama dari DAG dan InsP3 diperlukan untuk
mendapatkan respon dari sel secara menyeluruh.
Beberapa macam sel akan berproliferasi secara in vitro
apabila diberikan calcium ionophore dan aktifator C-kinase.
Tetapi tidak dapat apabila hanya satu komponen saja

Calmodulin adalah protein yang mengikat Ca2+ (Ca2+


binding protein) terdapat pada sel hewan maupun
tanaman. Pada umumnya sel hewan dapat mengandung
107 molekul calmodulin, artinya 1% dari total protein sel.
Terdiri dari 150 AA dana merupakan polipeptida tunggal.
Mempunyai 4 tempat mengikat Ca2+ dengan aktifitas
tinggi dan pengikatan Ca2+ akan menyebabkan perubahan
konformasi yang besar. Calmodulin tidak mempunyai
aktifitas sebagai enzim. Calmodulin akan terikat pada
protein lain dan mempengaruhi aktifitas protein tersebut
misalnya mengaktifkan enzim. cAMP dan Ca2+ disebut
sebagai allosteric effector, yaitu senyawa yang dapat
mengaktifkan protein dengan berikatan dan mengubah
bentuk tiga dimensinya (konformasi). Yang termasuk Cakinase (Ca2+-calmodulin dependent protein kinase) adalah
myosin light chain kinase dan phosphorylase kinase.

Struktur Ca2+/calmodulin

Mengapa kalsium dipilih untuk digunakan sebagai


mediator pada berbagai macam proses di dalam
tubuh?
1.

Adanya ester fosfat dengan konsentrasi yang tinggi di


dalam sel dapat menyebabkan terjadinya endapan
fosfat. Perbedaan konsentrasi yang besar antara Ca 2+
di dalam sitoplasma dan di luar sel akan membantu
proses berjalannya sinyal.

2.

Ca2+ dapat terikat erat denga protein. Ca 2+ dapat


berikatan dengan oksigen bermuatan negatif (dari AA
glu dan asp) dan juga oksigen tidak bermuatan (dari
gugus karbonil). Kapasitas Ca2+ untuk berikatan
dengan > satu ligan (bilangan koordinasi 6-8),
menyebabkan terjadinya cross-link antara beberapa
segment satu protein sehingga dapat menyebabkan
terjadinya perubahan konformasi. Ikatan Ca 2+ dengan
protein sangat selektif. Kompetitor Ca2+ adalah Mg2+.

Kekurangan Mg2+ untuk bersaing dengan Ca2+


ialah:
Afinitas Mg2+ terhadap atom oksigen tidak bermuatan

sangat rendah.
Mg2+ cenderung untuk membentuk molekul yang kecil

dan mempunyai kerangka yang simetris, sedangkan


Ca2+ dapat membentuk molekul yang tidak beraturan
serta mempunyai radius yang lebih besar.

Adanya keuntungan di atas menyebabkan Ca2+ lebih


berpeluang untuk berikatan dengan molekul protein yang
bentuknya tidak beraturan, walaupun Mg2+ terdapat jauh
lebih banyak dibandingkan Ca2+

Alur Ca2+ dan cAMP dalam sel saling berinteraksi


satu dengan lainnya. Interaksi tersebut terjadi
antara lain:
Konsentrasi intrasel Ca2+ dan cAMP saling

mempengaruhi satu dengan lainnya. Misalnya Ca2+calmodulin menstimulasi cAMP phosphodiesterase


(memecah cAMP) dan adenylate cyslase (mensintesis
cAMP). Sebaliknya A kinase yang diaktifasi cAMP
akan mengaktifkan pompa kalsium
Beberapa Ca-kinase di fosforilasi oleh A-kinase
Ca-kinase dan A-kinase bekerja sama untuk

memfosforilasi protein pada tempat (site) yang


berlainan, untuk mengaktifkan protein tersebut.

HORMON KELENJAR THYROID


Kelenjar thyroid menghasilkan dua hormon aktif yaitu
thyroxine (T4) dan triiodothyronine (T3). Perbedaan ke dua
hormon ini ialah:
T3 lebih aktif dibandingkan T4
T3 mempunyai waktu paruh (half life) yang lebih pendek

dibandingkan T4
Kedua hormon ini di dalam sirkulasi akan terikat dengan TBG
(throxine binding globulin) dan hanya sekitar 0,04% berada
dalam keadaan bebas.
Di dalam kelenjar thyroid lebih banyak dibentuk T 4 (4,5-13,0
g/dL) dibandingkan dengan T3 (0,06-0,20 g/dL). Keunikan
hormon ini adalah banyaknya iodium yang dikandungnya.
Normal iodium di dalam darah < 1 g/dL, dan kehilangan
iodium per hari (75-100 g/dL) akan digantikan oleh iodium
dalam diet (200 g/dL)

Pengaturan pembentukan hormon kelenjar


thyroid dilakukan oleh TSH yang berasal dari
kelenjar pituitary. Pembentukan hormon TSH dan
sekresinya di atur oleh hormon yang berasal dari
hypothalamus yaitu thyrotropin releasing factor
(TRF). TRF terdiri dari tiga macam asam amino
yaitu pyroglutamyl-histidyl-prolimanide. T3 dan
T4 yang dihasilkan oleh kelenjar thyroid akan
berfungsi untuk menghentikan pembentukan dan
sekresi TRF dan TSH (feedback inhibition)

Parvalbumin adalah protein dari otot ikan, mempunyai


berat 12 kd dan mempunyai dua binding site (sisi ikatan)
untuk Ca2+. Sisi ikatan ini terbentuk dari satu helix, satu
loop dan satu helix (helix-loop-helix). Pada protein ini
Ca2+ berikatan dengan delapan atom oksigen yaitu empat
oksigen yang berasal dari asp, dua oksigen berasal dari
glu, satu oksigen berasal dari gugus karbonil dan satu dari
molekul air.
Calmodulin mempunyai berat molekul 17 kd. Terdiri dari
dua lobus globular yang dihubungkan oleh -helix. Setiap
lobus mempunyai dua sisi ikatan untuk Ca2+. Unit tangan
EF terpisah sejauh 11 Ao. Aktifitas lobus yang satu
terhadap Ca2+ lebih tinggi dibandingkan dengan lobus
lainnya. Pengikatan Ca2+ pada lobus yang terakhir akan
mengaktifkan calmodulin.