Anda di halaman 1dari 26

LAPORAN PENDAHULUAN

TERAPI HIPERBARIK
A. DEFINISI TERAPI HIPERBARIK
Hiperbarik adalah sebuah terapi oksigen yang dilakukan dalam sebuah
chamber atau ruangan bertekanan udara tinggi yaitu lebih dari 1 atmosfer.
Pasien berada di dalam chamber selama beberapa jam untuk menghirup
oksigen murni. Pasien diberikan 3x30 menit untuk menghirup oksigen.
Awalnya terapi hiperbarik ini hanya dilakukan oleh penyelam dan digunakan
oleh angkatan laut. Saat ini terapi hiperbarik sudah dilakukan untuk
menyembuhkan berbagai macam penyakit lain, seperti luka bakar, kanker,
diabetes, tetanus, stroke, dan lain-lain. Terapi hiperbarik juga digunakan untuk
kebugaran, kecantikan dan keperkasaan.
B. SEJARAH TERAPI HIPERBARIK
Sejak tahun 1662 waktu Dr. Henshaw (Inggris) menciptakan Domicilium,
suatu prototype dari Ruang Udara Bertekanan Tinggi (RUBT), untuk meneliti
kegunaan tekanan tinggi pada penyembuhan kasus-kasus klinis, yang
kemudian ternyata gagal karena tidak ditemukannya dasar ilmiah yang tepat.
Lalu pada tahun 1771 ketika Joseph Priestley (Inggris) menemukan oksigen
dan tahun 1780 Dr. Thomas Beddoes (Inggris) menggabungkan keduanya
dengan menyatakan/mendemonstrasikan bahwa pernafasan dengan udara yang
kaya akan oksigen dapat menyembuhkan berbagai penyakit dan meminta
kepada James Watt (Inggris) penemu mesin uap untuk merancang suatu RUBT
baginya. Setelah itu RUBT mengalami pasang surut dalam dunia kedokteran
dan hingga sekarang ini sudah ada lebih dari 60 macam kasus klinis yang
pernah

dilaporkan

berhasil

dibantu

penyembuhannya

oleh

RUBT.

Tahun 1830 di Perancis mulai menggunakan Caisson untuk membuat


terowongan-terowongan bawah air dan sebagai akibatnya mulai pula
dikeluhkan simtom-simtom yang kemudian dikenal sebagai Bends Diseases.
Tak lama kemudian setelah dilaporkan sukses besar tentang pengobatan bends
maka RUBT didirikan di mana-mana.
1

Tahun 1834 Junod (Perancis) memasukkan pasien-pasiennya ke dalam


RUBT bertekanan 4 atmosfer dan merasakan nyaman di sana. Junod
menerangkan ini sebagai akibat perbaikan aliran darah otak dan alat-alat
dalam.
Tahun 1837 Pravaz (Perancis) membuat RUBT dengan kapasitas 12 orang dan
ia menulis hasil-hasil RUBT dalam Bulletin of the Academic of Medicine
(Paris).

Selanjutnya

RUBT

maju

pesat

di

Eropa

Barat.

Tahun 1860 dibuat RUBT pertama di benua Amerika, yaitu di Otawa (Kanada).
Tahun 1870 Fontaine membuat RUBT beroda yang dapat ditarik kemana-mana
dan di dalamnya ia melakukan tindakan-tindakan pembedahan. Ia merupakan
orang

pertama

yang

melakukan

operasi

di

dalam

RUBT.

Tahun 1880 Paul Bert mengemukakan penelitiannya tentang keracunan oksigen


(the

Paul

Berts

effect).

Tahun 1918 J. Cunningham di Kansas City, AS, berhasil menolong pasien


dengan influenza berat (waktu itu berjangkit wabah influenza di AS). Ia begitu
aktif di dalam RUBT dan terus membangun RUBT baru. RUBTnya yang
kedua dapat diisi 72 orang dan yang ketiga berupa suatu rumah sakit tingkat
lima dari bola besi seluruhnya bertekanan tinggi. Sayang rumah sakit ini gagal
dijalankan. Ia menggunakan RUBT untuk terapi penyakit paru-paru menahun,
sifilis (era prapenisilin), hipertensi, arthritis, penyakit jantung, demam rematik
akut

dan

penyakit

kencing

manis.

Tahun 1930 Edgar End (Milwauke, AS) meneliti problematik penyelaman.


Tahun 1954 dokter-dokter di Inggris melaporkan hasil-hasil yang baik RUBT
dengan

radiasi

untuk

pengobatan

Carcinoma

(Churchill-Davidson).

Tahun 1958 Ite Boerima yang kemudian dikenal sebagasi Bapak RUBT,
membuktikan kemampuan plasma darah dalam mengangkut oksigen selama di
dalam RUBT. Tahun berikutnya ia melaporkan sukses besar dalam terapi gas
gangrene dengan RUBT. Sukses ini merangsang kembali minat para dokter di
Barat

untuk

menggunakan

dan

meneliti

RUBT.

Selanjutnya begitu banyak laporan dikemukakan tentang kegunaan maupun


kerugian

yang

disebabkan

oleh

RUBT.

Tahun 1963 di AS dibentuk panitia kerja yang bertugas membuat tulisan


tentang

RUBT,

Hyperbaric

Oxigenation,

Potential

and

Problems.

Tahun 1963 diadakan konferensi internasional tentang RUBT pertama di


Amsterdam, dilanjutkan dengan konferensi-konferensi selanjutnya di Glasgow,
Durham,

dan

lain

sebagainya.

Tahun 1965 Harry Alvis dari Buffalo, New York, membuat majalah RUBT
setiap

tiga

bulanan.

Sejak zaman Portugis di Indonesia telah mulai dilaksanakan penyelaman


mutiara oleh penyelam-penyelam alam, kemudian pada zaman K.M. (penjajah)
sebelum Perang Dunia ke II, telah dilakukan kegiatan-kegiatan penyelaman,
kapal

selam

dan

lain-lain

di

Indonesia.

Selanjutnya pada zaman kemerdekaan setelah penyerahan kedaulatan,


kesehatan bawah air mulai maju dengan pesat. Kemajuan ini dirangsang
dengan

dimulainya

pembuatan

Graving

Dock

di

Surabaya.

Dalam upaya bangsa Indonesia untuk mewujudkan tujuan nasional bangsa


Indonesia yang mempunyai aspek keamanan dan aspek kesejahteraan, telah
dilaksanakan rangkaian pembangunan nasional yang terencana, bertahap dan
terpadu. Pelaksanaan pembangunan nasional bagi suatu negara kepulauan yang
terdiri atas 13.677 pulau besar dan kecil, dimana 2/3 wilayahnya adalah laut,
mengharuskan

pula

tersedianya

tenaga

kerja

Matra

Laut.

Tenaga kerja Matra Laut masa kini dan mendatang harus dapat mengawaki
lapangan pekerjaan di laut yang makin bertambah luas dan makin bertambah
besar. Apalagi dengan telah diumumkan berlakunya ketentuan Zona Ekonomi
Eksklusif (ZEE) 200 mil oleh pemerintah, dimana bangsa yang berdaulat atas
sumber-sumber

kekayaan

alam

yang

terdapat

di

wilayah

tersebut.

Di lain pihak kepentingan bangsa Indonesia di laut Nusantara adalah


pemanfaatan laut Nusantara sebesar-besarnya bagi kesejahteraan dan keamanan
bangsa Indonesia. Pemanfaatan ini telah terlihat dengan laju pertumbuhan
ekonomi dewasa ini yang memungkinkan berkembangnya dengan pesat
kegiatan eksplorasi kekayaan laut, termasuk penambangan kekayaan alam di
dasar

laut

dan

pemanfaatan

teknologi

bawah

air.

Teknologi bawah air atau kemampuan bekerja di bawah air yang merupakan
salah satu teknologi Matra Laut, belum banyak berkembang. Kalau hal ini
dikaitkan dengan penambangan atau pemasangan pipa dan kabel di lepas pantai
di dasar laut dalam lebih-lebih lagi di landas kontinen atau di laut ZEE dengan
kedalaman lebih dari 100 meter, maka yang diperlukan adalah teknologi
penyelaman

dalam.

Dewasa ini dukungan teknologi bawah air dan teknologi laut dalam, didominir
pihak asing, karena penguasaan pengetahuan dan ketrampilan bangsa Indonesia
dalam bidang ini masih belum kuat. Mengingat laut sangat vital bagi
kelangsungan hidup bangsa dan negara Indonesia, maka teknologi dalam laut
ini

perlu

dikembangkan

oleh

bangsa

Indonesia.

Pengembangan teknologi laut dalam ini harus dibarengi dengan pengembangan


ilmu kesehatan bawah air. Pengembangan ilmu ini akan mencakup bagaimana
penyiapan tenaga kerja matra laut yang akan mengawaki lapangan pekerjaan di
laut dan fasilitas yang akan digunakan untuk bekerja di bawah permukaan air.
Selanjutnya harus dikembangkan fasilitas untuk penanggulangan keadaan
darurat yang sewaktu-waktu dapat menimpa tenaga kerja matra laut tersebut.
Jadi jelaslah bahwa pengembangan ilmu kesehatan bawah air atau kesehatan
udara bertekanan tinggi (KUBT) sangat erat hubungannya dengan tenaga kerja
matra laut khususnya dengan pekerja-pekerja bawah air baik para penyelam
maupun

awak

kapal

selam.

Dengan perkataan lain Kesehatan Udara Bertekanan Tinggi digunakan pada


pengobatan penyakit-penyakit akibat bekerja di bawah air atau tekanan tinggi.
Tenaga kerja matra laut yang mengawaki lapangan pekerjaan di laut sangat
berkepentingan dengan teknologi bawah air atau teknologi laut dalam.
Semuanya adalah demi pemanfaatan laut Nusantara baik untuk aspek
kesejahteraan maupun aspek keamanan dalam rangka mewujudkan tujuan
nasional

bangsa

Indonesia.

Di sinilah letak maknanya pengetahuan sejarah penyelaman dan terapi oksigen


hiperbarik sebagai salah satu Ilmu Pengetahuan dan Teknologi di bumi persada
Indonesia

ini.

C.Pengenalan

RUBT

RUBT sendiri merupakan suatu alat, yang dalam pemakaiannya memerlukan


alat pendukung lainnya. Tanpa alat pendukung tersebut maka RUBT seperti
tabung-tabung lainnya merupakan alat mati yang tidak mampu berfungsi.
1.Jenis

RUBT

Pembuatan RUBT direka bentuk sesuai kegunaannya. Jenis-jenis RUBT antara


lain

a.Large

multi

compartment

1)Dipakai
2)Mampu

dalam
diisi

3)Mampu
b.Large

chambers
riset/pengobatan.

tekanan

lebih

menampung
multi

for

orang.
treatment

dalam

2)Mampu

diisi

3)Mampu

pengobatan.

tekanan

menampung

c.Portable

high

ATA.

beberapa

compartment

1)Dipakai

dari

2-4
beberapa

pressure

multi-man

1)Dapat

ATA.
orang.
chamber
dipindahkan.

2)Dipakai dalam pengobatan untuk penyelam atau pekerja Caisson.


3)Memuat
d.Portable

lebih
one

man

dari
high

or

low

seorang.
pressure

chamber

1)Untuk

pengobatan

atau

2)Untuk
e.Large

satu
multi

transport.
orang.

compartment

recompression

chamber

RUBT ini terdiri dari dua atau lebih ruangan yang saling berhubungan yang
disebut lock. Tekanan dalam ruangan-ruangan tersebut dapat diatur sesuai
keperluan. Pada umumnya, RUBT ini terdiri dari ruangan dalam (inner lock),
termasuk di dalamnya medical lock dan ruangan luar (outer lock ). Medical
lock : berfungsi untuk memasukkan obat-obatan atau makanan maupun
perlengkapan dalam inner lock. Untuk kenyamanan, ukurannya dibuat
sedemikian rupa sehingga penderita di dalam chamber dapat berdiri dan
bergerak agak bebas. Diameter RUBT 2 m dan panjangnya 3 m (2). Untuk
mengintai seluruh ruangan didalam chamber, pada dindingnya biasanya dibuat
lubang yang ditutup kaca kedap udara. Diameter lubang 15-30 cm (2).
Seluruh interior berwarna cerah dan memenuhi persyaratan, antara lain (2) :
1)Mudah

dibersihkan.

2)Tidak
3)Tahan
4)Dapat
5)Kemampuan
6)Tidak
2.Komponen-

memantulkan
api/tidak

cahaya.
mudah

meredam
listrik

suara.
statis

bersifat
komponen

terbakar.
kecil.
toksik.
RUBT

Komponen-komponen RUBT pada umumnya sama untuk berbagai jenis RUBT


yaitu:
a.Pintu
Pintu RUBT dalam keadaan tertutup mampu menahan tekanan yang besar, baik

dari satu sisi maupun dua sisi. Pada umumnya, pintu ini berbentuk bulat dan
pipih, tetapi dapat di modifikasi sesuai dengan kegunaannya. Sekeliling pintu
diberi lapisan karet agar kedap udara. Karet pelapis ini harus tergolong highelastic rubber dan tahan terhadap minyak maupun ozon. Untuk meringankan
waktu membuka pintu, engsel dipasang dibagian samping bukan dibagian atas.
b.Jendela
Untuk mengamati kegiatan di dalam RUBT, pada dindingnya dipasang
semacam jendela permanen yang ditutup dengan kaca tebal. Kaca ini terbuat
dari gelas acrylic atau gelas mineral yang tidak mudah pecah bila mendapat
tekanan. Jika kaca pecah, sangat berbahaya bagi orang yang berada di dalam
RUBT

karena

mengalami

penurunan

c.Ventilasi

tekanan

secara

mendadak.

udara

segar

Tanpa ventilasi, kadar CO2 didalam RUBT akan bertambah. Bila kadarnya
lebih dari 5-6% akan berbahaya. Untuk mengatasinya, pada RUBT ditambah
CO2 absorbent untuk menyerap kelebihan CO2 dari ekspirasi. Pada RUBT
yang kecil, biasanya tanpa diberi CO2 absorbent : tetapi selama kompresi, terus
diberikan ventilasi. Kerugiaannya yaitu akan timbul suara bising didalam
RUBT. Tempat luang udara masuk dan udara keluar biasanya diletakkan secara
diagonal agar pengaliran udara dapat terjamin. Pada pengobatan dengan
oksigen tekanan tinggi, biasanya penderita menghisap O2 100% dengan
masker. Karena suatu hal, dapat pula O2 bocor masuk dalam RUBT. Kadar O2
dalam RUBT tidak boleh lebih dari 25% karena dapat menyebabkan
kebakaran. Karena itulah RUBT juga dilengkapi dengan sarana-sarana
pemadam

kebakaran,

karena

bila

terjadi

kebakaran

sangat

fatal.

d.Penyinaran
Pada umumnya sinar alami yang masuk kedalam RUBT tidak mencukupi
untuk penerangan didalamnya. Untuk itu, diberikan sinar tambahan dengan
tegangan rendah yaitu kurang dari 42 volt. Pemasangan lampu dalam RUBT

memerlukan banyak pertimbangan, terutama dari segi keamanan. Sebagai


petunjuk umum, untuk RUBT dengan diameter 1.8 m dan panjang dengan 2.4
m

dipakai

lampu

e.Pendingin

2x100

dan

w.
pemanas

Jika tekanan udara dalam RUBT dinaikkan, suhu udara di dalamnya juga akan
naik : dan jika tekanan udara dikurangi, suhu udara akan turun. Untuk itu,
RUBT

dilengkapi

dengan

f.Pengaturan

alat

pendingin

kelembaban

dan

pemanas.
udara

Kelembaban udara di dalam RUBT diatur dengan menempatkan absorbent


seperti silica gel sebagai penyerap uap air. Agar udara dapat mengalir melalui
absorbent tersebut, digunakan blower. Untuk mengukur kelembaban udara
digunakan

pikrometer.

g.Peredam

udara

Untuk mengurangi kebisingan pada saat kompresi, digunakan peredam suara


yang dapat mengurangi kebisingan tersebut hingga dibawah 50 dB.
h.Komunikasi
Komunikasi diusahakan dengan voltase rendah dan Sound Powred Telephone,
hal ini berguna bila ada kerusakan. Komunikasi juga dapat dilakukan dengan
ketukan palu kayu, menggunakan kode-kode tertentu yang telah diatur
sebelumnya.
i.Kamera

televisi

Agar pengawasan kegiatan di dalam RUBT dapat dilakukan dengan lebih baik,
dapat dipasang televisi. Pada umumnya RUBT tidak dilengkapi TV kecuali
untuk
3.Alat

maksud
Pendukung

penelitian.
RUBT

RUBT dapat berfungsi apabila diisi dengan udara tekan. Penghasil udara tekan
ialah suatu kompresor. Sebagai sumber utama udara tekan, kompresor harus
mampu memberikan udara sampai tekanan pada kedalaman 50 m (165 feet)
untuk

dua

kali

kapasitas

kerja

ditambah

ventilasi.

Sumber udara tekan tambahan, harus mampu memberikan udara tekan sampai
kedalaman 50 m untuk 1 kali kerja ditambah ventilasi selama 1 jam. Untuk
menghindari polusi udara, lebih baik memakai kompresor listrik, sedangkan
untuk

cadangan

digunakan

generator

diesel.

4.Pemakaian
RUBT umumnya dipakai untuk menunjang kegiatan dibawah air, antara lain
untuk penelitian dan pengobatan penyakit tertentu maupun yang berhubungan
dengan

kegiatan

di

bawah

permukaan

5.Lingkup

air.
Fungsi

a.Dukungan

kesehatan

1)Pemeriksaan khas matra, yaitu kompresi dan kerentanan terhadap oksigen.


2)Pengobatan penderita akibat kegiatan operasi dibawah permukaan laut.
b.Pelayanan

kesehatan

Pengobatan beberapa kasus klinis dan penunjang pengobatan pasca bedah dan
penyakit-penyakit

lainnya.

c.Bidang

pendidikan

1)Pengenalan untuk para Perwira, Bintara dan Tamtama Kesehatan TNI-AL,


baik

untuk

yang

baru

masuk

maupun

untuk

penyegaran.

2)Membantu pengenalan RUBT pada instansi lain di luar TNI-AL.


d.Bidang

penelitian

Sedang dilakukan penelitian, bersama dengan para ahli disiplin ilmu kesehatan
yang

lain

untuk

mengobati

beberapa

kasus

tertentu.

6.Pengawakan
Untuk pengoperasian RUBT, diperlukan satu tim yang terdiri dari beberapa
orang

yaitu:

a.Penanggung

Jawab

Umum

Pimpinan

Satuan

Kerja

b.Penanggung Jawab Medis : Dokter dengan kualifikasi hiperbarik


c.Ketua

Team

Mengoperasikan

seluruh

jalannya

pengobatan

d.Petugas Luar I (Outside Tender I): Bertanggung jawab terhadap pengaturan


udara

tekan,

oksigen

dan

oksigen

helium.

e.Petugas Luar II (Outside Tender II) : Bertanggung jawab terhadap prosedur


dan mencatat jalannya operasi dan melakukan komunikasi dengan petugas
dalam.
f.Petugas Dalam (Inside Tender) : Mahir tentang penyakit-penyakit
penyelaman dan perawatannya dan melaksanakan kegiatan pelaksanaan dalam
RUBT.
g.Petugas Generator : Bertanggung jawab terhadap pemasokan udara tekan
maupun

oksigen

yang

diperlukan

oleh

RUBT.

7.Prosedur
Prosedur pelaksanaan sudah diatur oleh satuan kerja setempat, sehingga tim ini
selalu siap 24 jam untuk menangani kasus-kasus darurat. Untuk penelitian dan
kasus-kasus

bukan

darurat

dikerjakan

secara

rutin

tiap

hari.

8.Pengamanan
Pengamanan ini ditujukan terhadap alatnya (RUBT) sebelum dioperasikan.
Untuk itu, diadakan langkah-langkah pengamanan sebagai berikut:
a.Pintu-pintu
b.Manometer

dan

packing
jalan

dalam

keadaan
dengan

10

tertutup.
baik.

c.Inhalator

sumber

oksigen

d.Semua

dalam

keadaan

baik.

katup

berfungsi.

e.Tidak ada kontaminasi udara dengan unsur udara yang merugikan kesehatan,
alat komunikasi berfungsi baik, aliran listrik berjalan baik, termasuk kabelkabelnya,

tidak

f.Jendela

pengawas

g.Tidak

ada

h.Sudah

ada
termasuk

kacanya

bahan-bahan/faktor-faktor
disiapkan

kerusakan.
cukup

penyebab

baik.
kebakaran.

penanggulangan

kebakaran.

9.Pemeliharaan
Secara periodik (sebulan sekali) RUBT dipelihara secara rutin sesuai petunjuk
pemeliharaan. Sekali setahun pasca pemakaian, dilakukan pemeriksaan secara
umum

baik

dari

luar

maupun

dalam

dan

dilakukan

pengecatan.

Dilakukan test tekanan tiap lima tahun sekali. CO2 absorbent dan penyerap
kelembaban harus diganti secara periodik. Kaca-kaca jendela diperiksa paling
lama

enam

bulan

sekali.

Fondasi/penyangga RUBT harus diperiksa secara periodik, untuk diperbaiki


bila

ada

kerusakan.

D.Manfaat
1.Manfaat

Terapi

a.Kelainan

atau

Oksigen

Hiperbarik

penyakit

penyelaman

Terapi HBO digunakan untuk kelainan atau penyakit penyelaman seperti


dekompresi,

emboli

b.Luka

gas

dan

penderita

keracunan

kencing

gas.
manis

Luka pada penderita kencing manis merupakan salah satu komplikasi yang
paling ditakuti karena sulit disembuhkan. Paling sering terjadi pada kaki dan
disebabkan oleh bakteri anaerob. Pemberian terapi HBO dapat membunuh
bakteri

tersebut

dan

mempercepat

11

penyembuhan

luka.

c.Sudden

Deafness

Sudden Deafness adalah penyakit tiba-tiba tuli atau tidak mendengar, hal ini
bisa terjadi karena infeksi (panas terlebih dahulu), bunyi-bunyian yang keras
atau penyebab lain yang tidak diketahui. Dengan melakukan terapi hiperbarik
oksigen

dapat

2.Manfaat

segera

sembuh

Lain

atau

dari

terhindar

Terapi

a.Keracunan

dari

tuli

permanen.

Hiperbarik

Oksigen

gas

CO2.

b.Cangkokan

kulit.

c.Osteomyelitis.
d.Ujung

amputasi

yang

e.Rehabilitasi

tidak

sembuh.

paska

stroke.

f.Radionokrosis.
g.Meningkatkan

motilitas

sperma

pada

kasus

infertilitas.

h.Alergi.
E.

Syarat

1.Syarat-syarat

dalam

menjalani

HBO

a.Sebelum menjalani terapi, pasien akan dievaluasi untuk memastikan tidak


adanya kontraindikasi dilakukannya terapi oksigen hiperbarik, seperti kanker,
pneumotoraks, sedang flu atau demam, penderita sinusitis, asma, infeksi
saluran pernafasan atas yang sedang akut dan ibu hamil trimester I.
b.Pasien harus memberitahu obat-obatan yang sedang mereka konsumsi
mengingat terdapat obat-obatan tertentu yang dapat menyebabkan keracunan
oksigen

misalnya

obat-obatan

jenis

steroid

dan

kemoterapi.

c.Pasien akan dimasukkan ke dalam ruangan yang menyerupai kapal selam


yang berukuran kecil selama 2 jam sehingga penting sekali untuk memastikan
pasien

tidak

memiliki

phobia

12

terhadap

ruangan

sempit.

d.Saat merasa tidak kuat, pasien dapat memberitahukan petugas yang ikut
masuk

ke

2.Data

dalam
penunjang

ruangan

hiperbarik.

terapi

hiperbarik.

a.Pemeriksaan laboratorium (Hb diatas 12 dan gula darah lebih dari 200).
b.Torax

foto.

F.Indikasi
Indikasi

penggunaan

1.Pasien

kelainan

2.Menyembuhkan

bekas

HBO

:
penyelaman.

luka

bakar.

3.Gangrene.
4.Kelainan

THT

5.Gangguan

neurologik

pasien
seperti

dengan
vertigo

tuli
dan

mendadak.
migraine.

6.Untuk kebutuhan kosmetikal : kebugaran, kecantikan dan suntik kolagen.


7.Kandungan
8.Anak

(infertil).
yang

mengalami

autis.

G.Kontraindikasi
1.Kontraindikasi

HBO

a.Kontra indikasi absolute adalah pneumotorak yang belum dirawat, kecuali


bila sebelum pemberian O2 hiperbarik dapat dikerjakan tindakan bedah untuk
mengatasi pneumotorak tersebut. Selain itu kehamilan juga dianggap
kontraindikasi karena parsial O2 yang tinggi berhubungan dengan penutupan
patent ductus arteriosus sehingga pada bayi prematur secara teori dapat
terjadi fibroplasias retrorental. Namun, penelitian yang kemudian dikerjakan

13

menunjukan

bahwa

b.Pasien
c.Infeksi

komplikasi
post

saluran

ini

nampak

tidak

operasi
pernafasan

jantung.
atas

d.Infeksi
e.Tekanan

terjadi.
(ISPA).
THT.

darah

lebih

dari

120

mmHg.

f.Beberapa keadaan yang memerlukan perhatian, tetapi bukan merupakan


kontraindikasi absolute pemakaian oksigen hiperbarik adalah sebagai berikut :
1)Infeksi saluran nafas bagian atas, yang menyulitkan penderita untuk
melaksanakan equalisasi. Dapat ditolong dengan menggunakan dekongestan
dan

miringotomi

bilateral.

2)Sinusitis kronis, menyulitkan penderita untuk melaksanakan equalisasi.


Untuk pemakaian oksigen hiperbarik pada penderita ini dapat diberikan
dekongestan

dan

miringotomi

bilateral.

3)Penyakit kejang, yang menyebabkan penderita lebih mudah terserang


konvulsi oksigen. Namun bilamana diperlukan, penderita sebelumnya dapat
diberikan

anti

konvulsan.

4)Emfisema yang disertai retensi CO2. Pada keadaan ini ada kemungkinan
bahwa penambahan oksigen lebih dari normal, akan menyebabkan penderita
secara spontan berhenti bernafas akibat hilangnya rangsangan hipoksik. Pada
penderita-penderita dengan penyakit paru disertai retensi CO2, terapi oksigen
hiperbarik dapat dikerjakan bila penderita di inkubasi dan memakai ventilator.
5)Panas tinggi yang tidak terkontrol, dapat merupakan predisposisi terjadinya
konvulsi oksigen. Namun kemungkinan ini dapat diperkecil dengan pemberian
aspirin dan selimut hipotermia. Juga sebagai pencegahan dapat diberikan anti
konvulsan.
6)Riwayat pneumotorak spontan. Penderita yang mengalami pneumotorak
spontan dalam RUBT kamar tunggal akan menimbulkan masalah tetapi di
dalam RUBT kamar ganda dapat dilakukan pertolongan-pertolongan yang
memadai. Sebab itu bagi penderita yang mempunyai riwayat pneumotorak
spontan, harus dilakukan persiapan-persiapan untuk dapat mengatasi terjadinya

14

hal

tersebut.

7)Riwayat operasi dada. Operasi dada dapat menyebabkan terjadinya lika


dengan air trapping yang menimbulkan masalah waktu dekompresi. Namun
setiap operasi dada harus diteliti kasus demi kasus untuk menentukan langkahlangkah yang harus diambil. Tetapi jelas, proses dekompresi harus dilakukan
sangat

lambat.

8)Riwayat operasi telinga. Penderita yang mengalami operasi telinga dengan


penempatan kawat atau topangan plastik di dalam telinga setelah stapedoktomi,
mungkin suatu kontraindikasi pemakaian oksigen hiperbarik, sebab perubahan
tekanan dapat mengganggu implant tersebut. Konsultasi dengan seorang ahli
THT

dalam

hal

ini

perlu

dilakukan.

9)Kerusakan paru asimotomatik yang ditemukan pada penerawangan atau


pemotretan dengan sinar-x. Memerlukan proses dekompresi yang sangat
lambat. Menurut pengalaman, waktu dekompresi antara 5-10 menit tidak
menimbulkan

masalah.

10)Infeksi virus. Pada percobaan binatang ditemukan bahwa infeksi virus


menjadi lebih hebat bila binatang tersebut diberi oksigen hiperbarik. Dengan
alasan ini dianjurkan agar penderita yang terkena selesma (cold) menunda
pengobatan dengan oksigen hiperbarik sampai gejala akut menghilang, apabila
penderita tidak memerlukan pengobatan segera dengan oksigen hiperbarik.
11)Sterositosis Kongenital. Pada keadaan ini butir-butir darah merah sangat
fragil dan pemberian oksigen hiperbarik dapat diikuti dengan hemolisis yang
berat. Bila memang pengobatan dengan oksigen hiperbarik mutlak diperlukan
keadaan ini tidak boleh jadi penghalang, antara lain harus dipersiapkan
langkah-langkah yang perlu untuk mengatasi komplikasi yang mungkin timbul.
12)Riwayat Neuritis Optik. Pada beberapa penderita dengan riwayat neuritis
optik terjadinya kebutaan dihubungkan dengan terapi oksigen hiperbarik.
Namun, kasus yang terjadi sangat sedikit. Tetapi jika ada penderita dengan
riwayat neuritis optik diperkirakan mengalami gangguan pengelihatan yang
berhubungan dengan retina bagaimanapun kecilnya, pemberian oksigen
hiperbarik harus segera dihentikan dan perlu konsultasi dengan ahli mata.

15

2.Kategorisasi

Penyakit

Kelainan atau penyakit diklasifikasikan menurut kategorisasi yang dibuat oleh


The Committee Hyperbaric Oxygenation of the Undersea and Hyperbaric
Medical Society yang telah mengalami revisi pada tahun 1986 dan 1988.
Dalam revisi ini UHMS tidak lagi memasukkan golongan penyakit untuk
penelitian, namun hanya memakai ACCEPTED CATEGORIZATION saja.
Adapun penyakit-penyakit yang termasuk kategori yang diterima adalah
sebagai

berikut

a.Aktinomikosis.
b.Emboli

udara.

c.Anemia

karena

d.Insufisiensi

kebanyakan

kehilangan

arteri

darah.

perifer

akut.

e.Infeksi

bakteri.

f.Keracunan

karbon

g.Crush

injury

and

monoksida.
reimplanted

appendages.

h.Keracunnan

sianida.

i.Penyakit

dekompresi.

j.Gas

gangren.

k.Cangkokan
l.Infeksi

(graft)

jaringan

lunak

oleh

kuman

kulit.
aerob

dan

anaerob.

m.Osteo-radionekrosis.
n.Radionekrosis

jaringan

o.Sistitis
p.Ekstraksi

lunak.

akibat
gigi

pada

rahang

yang

radiasi.
diobati

q.Konidiobulus

dengan

radiasi.
koronatus.

r.Mukomikosis.
s.Ostomielitis.
t.Ujung

amputasi

yang

u.Ulkusdiabetik.

16

tidak

sembuh.

v.Ulkus

statis

refraktori.

w.Tromboangitis
x.Luka

tidak

obliterans.
sembuh

akibat

hipoperfusi

dan

trauma

y.Inhalasi

lama.
asap.

z.Luka

bakar.

aa.Ulkus

yang

terkait

dengan

vaskulitis.

H.Komplikasi
1.Barotrauma telinga KO HBO yang paling sering terjadi, salah satu
penyebabnya adalah penderita gagal atau sulit melakukan equalisasi tekanan
antara udara telinga tengah dengan udara luar saat terapi HBO. Pemberian obat
nasal decongestan akan sangat membantu. Beberapa pasien bahkan perlu
miringotomy

untuk

emergency

saat

HBO

(LAMM,1987).

2.Nyeri

sinus

Sinus adalah rongga-rongga fisiologis di sekitar tulang wajah. Hambatan atau


kebuntuan sinus, sinusitis misalnya, saat penekanan di dalam chamber akan
terasa nyeri. Sinusitis banyak terjadi karena ISNA. Jika hal ini terjadi HBO
harus

ditunda.

Antibiotik

dan

nasal

decongestan

bisa

diberikan.

Miopia dan katarak myopia atau rabun jauh merupakan komplikasi yang
refersibel, yang biasanya terjadi saat awal pengobatan HBO (Anderson 1978).
Sedang katarak merupakan komplikasi akibat pengobatan jangka panjang (long
term

exposure).

Barotrauma paru HBO dapat memicu terjadinya robek paru (long rupture),
emboli udara, emfisema mediastinum atau pneumotorak (unsworth,1973).
Tanda robek paru, nyeri dada dan sesak nafas juga diikuti pergeseran trakea
dan pergerakan nafas dada asimetris. Jika hal ini terjadi hentikan HBO dan
torakosentesis.
I.Pertolongan
1.Tindakan

Pertama

pada
Medis

17

Kecelakaan

Penyelaman
Umum

a.Resusitasi
Adalah semua tindakan untuk mengembalikan fungsi vital tubuh guna
menyelamatkan

jiwa

korban.

Ada

tiga

macam

resusitasi

1)Resusitasi paru (pulmonary resuscitation) atau memberikan pernapasan


buatan

untuk

mengembalikan

fungsi

pernapasan.

2)Resusitasi jantung (cardiac resuscitation) atau pemijatan jantung untuk


mengembalikan

denyut

jantung.

3)Resusitasi jantung dan paru-paru (pulmoner resuscitation = CPR).


Korban kecelakaan penyelaman sering ditemukan dalam keadaan tidak sadar,
disertai dengan berhentinya pernapasan dan denyut jantung, untuk itu
diperlukan pernapasan buatan bersama-sama pemijatan jantung (DPR). Untuk
memudahkan resusitasi paru sering digunakan alat resusitasi (misal AMBU
Type Resuscitation) yang dapat digerakkan secara mekanis (dengan pompa
karet)

atau

dihubungkan

dengan

1)Resusitasi
a)Teknik
Cara

tangki

oksigen.

Paru
pemberian

pemberian

nafas

pernafasan

buatan

mulut

ke

mulut

buatan

adalah

sebagai

didarat

berikut

Miringkan kepala korban, ambil (bersihkan) benda-benda asing dari


mulut/hidung.
Tengadahkan

kepala

Tangan

untuk

membuka

kiri

Tangan

kanan

saluran

nafas

mengangkat

mendorong

kening

ke

dengan

leher.
arah

bahu.

Dengan ibu jari dan telunjuk tangan kanan, pijatlah hidung korban, sambil
mempertahankan

posisi

kepala

(tetap

tengadah).

Buka mulut Anda, hisaplah nafas sedalam-dalamnya, tempelkan mulut Anda


ke mulut korban (mouth to mouth), tiupkan udara ke paru-paru korban.
Setelah selesai meniup, lihat dada korban adakah gerakan dada naik turun
terdengarkah
Jika
Hidung

tak

suara
ada

gerakan

korban
naik,

mungkin

lupa/tidak

18

menghembuskan
kesalahan

teknis,

nafas.
misal

ditutup.

Masih

ada

Ulangi

benda

dengan

asing,
teknik

keluarkan.
yang

benar.

Jika udara tetap belum bisa masuk ke paru, miringkan tubuh penderita, tepuk
kuat-kuat di antara kedua tulang belikat agar sumbatan jalan nafas dapat
terbuka.
b)Teknik

pernafasan

buatan

dipermukaan

air

Pada prinsipnya cara pemberian nafas buatan di permukaan air adalah sama
dengan di darat, untuk memudahkan kembangkanlah pelampung korban dan
pelampung Anda. Bila jarak dengan daratan/kapal cukup dekat, pernafasan
buatan dapat diberikan sambil berenang ke darat/kapal. Jika jaraknya cukup
jauh tetaplah di tempat anda, berikan nafas buatan sambil menunggu
pertolongan.
Teknik memberikan nafas buatan mulut ke mulut di air (di tempat).
Tiup

pelampung

korban

dan

pelampung

penolong.

Buka masker korban dan penolong masukkan ke lengan penolong.


Buka sabuk pemberat dan lain-lain yang dianggap tidak perlu.
Segera lakukan nafas buatan, jika ada reaksi (korban masih hidup), kirimkan
isyarat minta tolong dengan gerakan tangan, meniup peluit, menyalakan lampu
pelampung

dan

lain-lain.

Pertimbangkan kemampuan penolong bila merasa tidak mampu menunggu


pertolongan atau berenang membawa korban ke kapal/ke pantai sambil
memberikan nafas buatan lepas dan buang scuba korban dan atau scuba
penolong.
Terus lakukan pernafasan buatan sambil menunggu pertolongan, atau sambil
berenang

ke

pantai.

Teknik memberikan nafas buatan mulut ke mulut sambil berenang ke kapal


atau

ke

pantai.

Setelah pelampung dikembangkan dan peralatan yang harus dilepas,


masukkan lengan kanan penolong ke ketiak kiri korban, pegang pelampung
korban dibagian belakang leher sambil menahan kepala agar mulut dan hidung

19

korban selalu di atas permukaan air (punggung telapak tangan terletak di antara
tengkuk

dan

pelampung

korban).

Tangan kiri memijit hidung korban berikan nafas buatan secara cepat dua kali,
lepas

tangan

kiri.

Kemudian berenang dengan kayuhan kaki (flutter kick) sambil membawa


korban ke kapal/pantai terdekat sambil menghitung dalam hati 1000, 2000,
3000, 4000 kemudian berhenti sejenak sambil memberikan nafas buatan lagi
dan

seterusnya.

2)Pemijatan Jantung Bersama Pernafasan paru paru (resusitasi jantung dan


paruparu)
Resusitasi jantung dan paru paru terdiri dari 3 tahap yaitu :
a)Membuka

jalan

nafas

(Air

Way

Open

A)

Tindakan

Bersihkan mulut dan hidung korban untuk mengeluarkan benda asing dari
saluran
Tengadahkan
b)Lakukan

nafas
kepala

korban

pernafasan

agar

buatan

korban.
saluran

nafas

(Breathing

terbuka

Restored

(lurus).
=

B)

Pernafasan buatan dilakukan 12 kali per menit untuk orang dewasa, 20-30 kali
untuk

anakanak.

c)Pemijatan jantung (Circulation Restored) pemijatan paru dan nafas buatan


tergantung

jumlah

penolong,

dimana

pada

Seorang penolong : dilakukan 15 kali penekanan/pemijatan jantung


diseling

kali

pernafasan

buatan.

Dua orang penolong : dilakukan 5 kali pemijatan jantung diselingi sekali


pernafasan
b.Gangguan

buatan.
peredaran

darah

Shock)

Merupakan reaksi tubuh ditandai oleh melambatnya atau terhentinya peredaran


darah, yang mengakibatkan penurunan persediaan darah pada organ organ
vital
1)Tanda-tanda

penting.
shock

20

a)Muka

pucat.

b)Kulit

basah

dan

dingin

(kening,

telapak,

tangan).

c)Denyut nadi lemah dan cepat, lebih dari 100 kali per menit.
d)Korban

gelisah,

e)Tekanan

merasa

haus

darah

2)Jika

dan

mual.

sangat

berat

rendah.

didapatkan

a)Sangat
b)Mata

pucat.
terlihat

c)Pernafasan

cekung,

cepat

tampak

dan

hampa

dangkal,

dan

tidak

kadang-kadang

bercahaya.

tidak

teratur.

d)Nadi susah teraba dan apabila teraba sangat cepat 150 kali per menit.
e)Kesadaran

penderita

menurun.

3)Pada syok berat, kematian dapat mengancam dalam beberapa menit.


a)Tindakan
Bawa

:
korban

ke

tempat

teduh

dan

aman.

Tidurkan penderita terlentang dengan kepala lebih rendah dari bagian tubuh
lainnya. Jika ada patah tulang kepala dan atau pendarahan di kepala.
Kendorkan pakaian penderita. Bila perlu pakaian korban dilepaskan dan
ditutup
Tenangkan
Korban

dengan
korban
jangan

dan

usahakan

diberi

selimut.
agar

minum

badannya
apabila

tetap
tidak

hangat.
sadar.

Medicamentosa.
Bila ada luka dengan perdarahan pasang pembalut cepat dan bila ada patah
tulang

pasang

bidai.

4)Menghentikan

perdarahan

Korban kecelakaan yang tidak sadar disertai berhentinya pernafasan dan


denyut jantung, bila disertai perdarahan massive (berlebihan) sering
menimbulkan persoalan serius atau berakhir dengan kematian. Pada kasus
demikian

resusitasi

harus

dilakukan

bersama-sama

tindakan

untuk

menghentikan perdarahan. Perdarahan dapat berasal dari pecahnya pembuluh


darah arteri ataupun permbuluh vena (balik). Dimana pecah atau terputusnya
pembuluh darah arteri akan mengakibatkan perdarahan yang lebih hebat dari

21

pada putusnya pembuluh darah vena. Cara menghentikan perdarahan :


a)Lakukan tourniquet (penekanan, mengikat) pembuluh darah yang terletak di
sebelah atas (proksimal) dari luka sehingga perdarahan berhenti atau
berkurang.
b)Bersihkan dan cuci luka dengan perhidrol atau cairan garam fisiologi.
c)Tempat

luka

ditutup

kain

korban/kasa

tebal,

lalu

di

balut.

d)Torniquet sering dikendorkan agar ada aliran darah ke bagian bawah (distal)
luka. Hal ini penting untuk mencegah nekrose (kematian) jaringan disebelah
distal

luka.

J.Perlakuan

pada

Pasien

Pasien

Datang

1.Prosedur
a.Pasien

datang

atas

b.Pasien

permintaan

sendiri

diperiksa

c.Pemeriksaan

tanda

vital,

pemeriksaan

THT,

dokter.
dan

rontgen

berat

e.Anjurkan

pasien

f.Anjurkan

pasien

g.Anjurkan

membawa
pakaian

rujukan.

oleh

d.Timbang

h.Pakai

atau

badan.

makan

terlebih

dahulu.

air

kecil.

buang
permen

yang

atau

longgar

thorax.

air

dan

menyerap

minum.
keringat.

i.Dilarang membawa kalkulator, Hp, korek api, alat elektronik yang bergerak,
jam

tangan

kecuali

jam

selam.

j.Lanjutkan untuk terapi hiperbarik, disesuaikan dengan keadaan pasien.


1)Untuk kebugaran, kecantikan, washing out, silent hubbler pemakaian dengan
menggunakan

tabel

Australia.

2)Untuk penyakit gangrene, dan lain-lain terapinya dengan menggunakan tabel


terapi

HBO

Lakeska

atau

k.Pencatatan
2.Persiapan

modifikasi

tabel

dibuku
Sebelum

register.
Masuk

a.Main

Chamber
lock

1)Air
2)Waskom

Kindwall.

minum.
berisi

air

22

es.

3)Handuk.
4)Pispot.
5)Tissue.
6)Selimut,

seprei,

bantal.

7)Tempat

muntah.

8)Penutup

telinga.

9)Emergency

KIT.

10)Tensi

meter

non

air

raksa.

11)Menutup

medical

12)Lepaskan

selang

masker.

connected,

masker.

13)Bibs
14)Periksa

peralatan

pemadam

tuas

bibs

15)Buka
16)Buka

lock.

tuas

kebakaran.
exhaust.

bibs

17)Periksa

air

alat

inlet.
komunikasi.

b.Entry

lock

1)Bibs

connected.

2)Periksa
3)Buka

peralatan

pemadam

tuas

bibs

4)Buka

tuas

3.Prosedur

di

1.Sebelum

pasien

masuk

kebakaran.
exhaust.

bibs

air.

dalam
kedalam

Chamber

chamber,

beri

rasa

nyaman.

2.Perkenalkan alat-alat yang ada di dalam chamber, serta kegunaannya.


3.Tutup
4.Tunjukan

pintu

dan

tanda-tanda

siap

5.Beritahu

pasien

6.Beritahu

pasien

7.Perhatikan

keadaan

dikunci
untuk

dari

dimulai

dari

kedalaman
pola

yang
yang

selama

dalam

luar
layar

.
monitor.
dituju.

dijalankan.
chamber.

8.Sebelum mulai, mencoba masker oksigen terlebih dahulu dan memasang


masker
4.Prosedur

dan

kencangkan
Pasien

23

talinya.
Pulang

1.Selesai

terapi,

pasien

membayar

biaya

administrasi

di

ruangan.

2.Pasien dianjurkan terapi lagi minimal 5 kali terapi, maksimal 10 kali sampai
dengan
K.Terapi

gejala
Oksigen

Hiperbarik

hilang.
pada

Penyakit

Penyelaman

Pada penyelaman saat penyelam menuju ke dasar dan selama di kedalaman


terjadi saturasi jaringan tubuh oleh gas nitrogen, sebaliknya saat penyelam
menuju

ke

permukaan

terjadi

desaturasi.

Desaturasi jaringan tubuh penyelam oleh gas nitrogen/gas lembam lainnya


diatur menurut prosedur dekompresi. Jika terjadi kesalahan prosedur
dekompresi atau prosedur berenang naik menuju ke permukaan : setibanya di
stasiun dekompresi tertentu atau di permukaan dapat terjadi keadaan
supersaturasi (lewat jenuh) jaringan tubuh oleh gas Nitrogen. Helium maupun
gas lembam lainnya tergantung jenis gas pernafasan yang dipakai.
Jika supersaturasi tadi melampaui nilai kritis (nilai maksimum) tekanan partial
gas nitrogen (gas lembam lainnya) yang dapat dilarutkan oleh tubuh pada
tekanan tertentu. Maka sesuai hukum Henry sebagai larutan gas nitrogen/gas
lembam akan berubah menjadi gas kembali sehingga terbentuklah gelembung
gas

lembam

Nitrogen

bubble,

Helium

bubble).

Gelembung gas lembam yang terjadi dapat menyebabkan penyakit dekompresi


maupun emboli pada penyelam. Dengan teori fisika yang sederhana mudah
dipahami bila diberikan tekanan tinggi pada tubuh kita maka gelembung tadi
akan mengecil volume dan diameternya (sesuai hukum Boyle). Disamping itu
sesuai hukum Henry sebagian gelembung nitrogen akan kembali menjadi
larutan.
Jika pada penderita penyakit dekompresi dan emboli diberikan oksigen tekanan
tinggi maka resolusi gelembung Nitrogen akan berlangsung jauh lebih cepat
dan efektif. Dibandingkan jika pada penderita diberikan udara tekanan tinggi.
Perbandingan efektivitas pengobatan penyakit dekompresi dan emboli gas
dengan oksigen tekanan tinggi dan udara tekanan tinggi sehubungan dengan
perubahan diameter gelembung gas dan kecepatan resolusi gelembung gas.
L.Terapi

Oksigen

Hiperbarik

24

dalam

Klinik

1.Pengaruh

oksigen

hiperbarik

terhadap

mikroorganisme

Timbulnya organisme yang kebal terhadap antibiotik menyebabkan makin


bertambahnya keinginan untuk mendapatkan vaksin. Antibiotika paru maupun
cara-cara yang dapat meninggikan kemampuan zat anti mikroba. Tujuan dari
terapi adalah merusak jasad renik tanpa merugikan tuan rumah (host). Sebab
itu tujuan dari pemakaiaan HBO adalah untuk mencapai tingkat tekanan parsial
oksigen dalam jaringan yang dapat merusak jasad renik bukan malah
membantu pertumbuhannya. Tanpa adanya efek negatif terhadap tuan rumah.
Sebagai zat anti mikroba oksigen tidak bersifat selektif nampaknya oksigen
menghambat bakteri gram positif maupun gram negatif dengan kekuatan yang
sama. Jadi dengan demikian oksigen dapat dianggap obat anti mikroba yang
berspektrum luas. Terdapat kuman anaerob. Oksigen hiperbarik bersifat
bakteriostatik. Konsep tentang anaerobiosis sedang diteliti kembali karena pada
kenyataannya banyak kuman anaerob yang menunjukkan adanya toleransi
terhadap
2.Pengaruh

oksigen,
oksigen

bahkan

membutuhkan

hiperbarik

terhadap

oksigen.
obat-obatan

Pada umumnya, sebagian besar obat-obatan tidak mempunyai efek sinergis


atau bereaksi dengan beberapa perkecualian penting yang akan dibahas di
bawah ini. Jadi cukup aman untuk menganggap bahwa pemberian obat-obatan
dapat diteruskan selama berada di bawah tekanan (suasana hiperbarik), kecuali
adanya kontraindikasi yang khusus mengenai pemakaian obat-obatan tertentu.
3.Pengaruh

oksigen

hiperbarik

terhadap

sel

jaringan

tubuh

Pengalaman dalam bidang ilmu bedah menunjukkan bahwa keadaan iskemia


mengganggu proses penyembuhan suatu luka. Diketahui pula bahwa hipoksia
tidak tepat sama dengan iskemia. Karena itu ada asumsi yang mengatakan
bahwa pemberian oksigen lebih banyak akan membantu proses penyembuhan
luka dalam keadaan tertentu. Selama hampir 100 tahun para ahli oksigen
hiperbarik menggarap asumsi ini, namun bukti bahwa pengobatan cara ini
rasional atau efektif belum ditemukan. Baru sekitar tahun 1960-an, penelitianpenelitiaan dan kenyataan klinis menunjukkan bahwa pada luka selalu terdapat
minoksia. Dan bahwa adanya oksigen merupakan faktor yang menentukan

25

dalam proses penyembuhan luka dan faktor penting dalam pertahanan infeksi.
Sudah menjadi kenyataan bahwa terapi dengan oksigen hiperbarik mempunyai
efek yang baik terhadap aliran darah dan kelangsungan hidup jaringan itissue
viabilitinya yang iskemik. Penggunaan oksigen hiperbarik dalam klinik
meningkat dengan cepat pada dekade terakhir ini dimana perbaikan jaringan
yang hipoksia dan pengurangan pembengkakan merupakan faktor utama dalam
pemakaiannya namun sampai saat ini pembenaran pemakaian oksigen
hiperbarik untuk memperbaiki kelangsungan hidup jaringan didasarkan pada
pengamatan klinis belaka. Meskipun begitu diadakan penyempurnaanpenyempurnaan dalam metode penelitian untuk dapat menentukan dengan tepat
pengaruh

oksigen

hiperbarik

terhadap

kelangsungan

hidup

jaringan.

M.Tabel
Ini merupakan tabel Australia. Tabel ini adalah pasien untuk indikasi
kebugaran, kecantikan, washing out, atau silent hubbler. Pasien pada
kedalaman 18 m (60 ft) akan diberikan oksigen selama 25 menit, kemudian
istirahat 5 menit, diberi oksigen lagi selama 25 menit, istirahat kedua 5 menit
dan terakhir naik ke permukaan diberikan oksigen lagi selama 30 menit. Jadi
pasien

berada

di

dalam

chamber

selama

1,5

jam.

Ini merupakan tabel Kindwall. Tabel ini adalah pasien untuk indikasi penyakit
gangrene dan lain-lain. Pasien pada kedalaman 14 m akan diberikan oksigen
selama 30 menit, kemudian istirahat 5 menit, diberi oksigen lagi selama 30
menit, istirahat kedua 5 menit dan terakhir naik ke permukaan diberikan
oksigen lagi selama 30 menit. Kurang lebih pasien berada di dalam chamber
selama 2,5 jam.

26