Anda di halaman 1dari 29

BAB II

KONSEP DASAR

A. Pengertian
Ada beberapa pengertian Ca mamae menurut beberapa ahli,yaitu:
1. Kanker payudara adalah gangguan dalam pertumbuhan sel normal dimana
sel abnormal timbul dari sel-sel normal, berkembang cepat dan
menginfiltrasikan jaringan limfe dan pembuluh darah di dalam payudara.
(Carpenito,1999)
2. Kanker payudara merupakan salah satu kanker yang terbanyak ditemukan
di Indonesia biasanya kanker ini ditemukan pada umur 40-49 tahun dan
letak terbanyak di kuadran lateral atas (Mansjoer, 2000).

B. Anatomi dan Fisiologi Payudara


1. Anatomi Payudara
Setiap payudara terdiri dari 15 sampai 20 lobulus dari jaringan
kelenjar. Jumlah lobulus tidak berhubungan dengan ukuran payudara.
Setiap lobulus terbuat dari ribuan kelenjar kecil yang disebut alveoli atau
acini. Kelenjar ini bersama-sama membentuk sejumlah gumpalan, mirip
buah anggur yang merambat. Alveoli (alveolus dan acinus singular)
menghasilkan susu dan substansi lainnya selama masa menyusui. Setiap
bola memberikan makanan ke dalam pembuluh darah tunggal lactiferous
yang mengalirkannya keluar melalui putting susu. Sebagai hasilnya,
terdapat 15-20 saluran putting susu, mengakibatkan banyak lubang pada

putting susu. Di belakang putting susu pembuluh lactiferous agak


membesar sampai membentuk penyimpanan kecil yang disebut lubanglubang lactiferous (lactiferous sinuses). Setiap lubang ber diameter 2-4
mm (0,08-0,16 inci). Lemak dan jaringan penghubung mengelilingi bolabola jaringan kelenjar.. Gambar lobulus dapat dilihat pada gambar di
bawah ini (Gambar1)

Gambar 1 Lobulus dan Duktus Payudara


(http://www.breastcareinfo.com)

Sejunlah jaringan lemak bergantung pada banyaknya faktor


termasuk usia, persentase lemak tubuh, dan keturunan. Sendi tulang
Cooper menghubungkan dinding dada pada kulit payudara, memberikan
bentuk pada payudara dan keelastisannya. Gambar bentuk payudara
terlihat dalam gambar 2

Gambar 2 Payudara
(http://www.breastcareinfo.com)
2. Fisologi Payudara
Fisologi payudara menurut R. Sjamsuhidajat (2004) sebagai
berikut : Payudara mengalami tiga macam perubahan yang dipengaruhi
hormone. Perubahan pertama ialah mulai dari masa hidup anak melalui
masa pubertas, masa fertilitas, sampai kae klimakterium, dan menopause.
Sejak pubertas pengaruh estrogen dan progesterone yang diproduksi
ovarium dan juga hormone hipofise, telah menyebabkan duktus
berkembang dan timbulnya asinus. Perubahan kedua adalah perubahan
sesuai dengan daur haid. Sekitar hari ke-8 haid, payudara jadi lebih besar
dan pada beberapa hari sebelum haid berikutnya terjadi pmbesaran
maksimal. Kadang-kadang timbulnya benjolan yang nyeri dan tidak rata.
Selama beberapa hari menjelang haid, payudara menjadi tegang dan nyeri
sehingga pemeriksaan fisik, palpasi, tidak mungkin dilakukan. Pada
nwaktu itu , pemeriksaan foto mamografi tidak berguna karena kontras
kelenjar terlalu besar. Begitu haid mulai, semuanya berkurang.

Perubahan ketiga kelenjar terjadi pada masa hamil dan menyusui.


Pada kehamilan, payudara menjadi besar karena epitel duktus lobul dan
duktus alveolus berproliferasi, dan tumbuh duktus baru.Sekresi hormone
prolaktin dari hipofisis anterior memicu laktasi. Air susu diproduksi oleh
sel-sel alveolus, mengisi asinus, kemudian dikeluarkan melalui duktus ke
putting susu.

C. Etiologi/predisposisi
Dapat dicatat bahwa faktor etiologi kanker payudara sampai saat ini
belum diketahui dengan pasti, namun diduga bahwa penyebabnya sangat
mungkin multifaktorial yang saling mempengaruhi satu sama lain, seperti
yang dikemukakan oleh Ramli (1999), dan Manan (1999) sebagai berikut:
1. Geografi
Di negara barat angka kejadian kanker payudara banyak dijumpai,
merupakan 3-5 % penyebab kematian dan merupakan tumor yang jarang
di Jepang. Dinegara berkembang merupakan 1-3 % penyebab kematian,
2. Usia
Karsinoma payudara jarang dijumpai pada usia dibawah 20 tahun.
Angka kejadiannya meningkat sejalan dengan bertambahnya usia.
3. Kelamin
Hanya 1 % angka kejadian kanker payudara pada laki-laki
4. Genetik
Secara umum riwayat keluarga sangat berperan dalam terjadinya
kanker payudara. Suatu studi analisa tentang hubungan faktor genetik

menyatakan bahwa ketidaknormalan sering ada pada cabang pendek


kromosom 17 pada wanita-wanita dengan riwayat famili kanker payudara
dini. Gen sebenarnya masih di teliti. Bagaimanapun ketidaknormalan ini
dicatat mungkin kurang dari 10 % dari kanker payudara. Petunjuk genetik
lainnya penyebab kanker payudara adalah mutasi gen tumor supressor
P53 yang dijumpai dengan variasi yang luas.
5. Diet
Oleh karena kanker payudara sering pada wanita-wanita negara
berkembang, faktor diet memainkan peranan sebagai penyebab. Hal ini
berhubungan dengan tingginya diet asam lemak jenuh (saturated fatty
acids) dan kurang mengkonsumsi vitamin C. Tingginya intake alkohol
mungkin juga berhubungan dengan meningkatnya perkembangan kanker
payudara.
6. Endokrin / Hormonal
Kanker payudara sering dijumpai pada wanita-wanita nullipara dan
tidak menyusukan. Juga terlindung pada yang mempunyai anak pertama
pada usia dini dan khususnya sehubungan dengan haid pertama yang
terlambat dan menopause dini. Diketahui bahwa pada wanita post
menopause kanker payudara lebih sering dijumpai pada wanita yang tidak
dapat mengontrol berat badan (obese). Ini dipikirkan menjadi penyebab
meningkatnya konversi hormon steroid menjadi oestradiol dalam lemak
tubuh. Peranan hormon eksogen pada kenyataannya pil kontrasepsi dan

terapi penggantian hormon pada kanker payudara di negara-negara


berkembang masih kontroversi.
7. Trauma
Penggunaan BH yang terbuat dari bahan kawat, akibat terjadi
benturan dari bahan tumpul, penggunaan bahan karsinogen.
8. Bahan Karsinogen dan Radiasi
Penggunaan silikon untuk memperbesar ukuran payudara. Silikon
merupakan bahan berkarsinogen menyebabkan terjadinya mutasi genetik.
Pengaruh radiasi juga dapat memicu terjadinya sel kanker.

D. Pathofisiologi
Proses terjadinya kanker mamae dan masing- masing etiologi antra lain
obesitas, radiasi, hyperplasia, optik, riwayat keluarga dengan konsumsi zat-zat
karsinogen sehingga merangsang pertumbuhan epitel mamae dan dapat
menyebabkan kabnker mamae. Kanker mamae berasal dari jaringan epitelial,
dan paling sering terjadi pada sistem duktal. Mula - mula terjadi hiperplasia
sel-sel dengan perkembangan sel-sel atipik. Sel-sel ini akan berlanjut menjadi
carsinoma insitu dan menginvasi stroma. Kanker membutuhkan waktu 7 tahun
untuk bertumbuh dari sebuah sel tunggal sampai menjadi massa yang cukup
besar untuk dapat diraba (kira - kira berdiameter 1 cm). Pada ukuran itu, kira kira seperempat dari kanker mamae telah bermetastasis. Kebanyakan dari
kanker ditemukan jika sudah teraba, biasanya oleh wanita itu sendiri. Gejala
kedua yang tersering adalah cairan yang keluar dari muara duktus satu mamae,

10

dan mungkin berdarah. Jika penyakit telah berkembang lanjut, dapat terjadi
pecahnya benjolan - benjolan pada kulit ulserasi.
Penyakit paget adalah keganasan sepanjang duktus pada puting, yang
berasal dari kanker intraduktal bagian dalam yang bergerak menuju ke atas.
Sel-sel ganas (sel paget) menginvasi epidermis puting, menimbulkan krusta,
dan tampak seperti eksim.
Karsinoma Inflamasi, adalah tumor yang tumbuh dengan cepat terjadi
pada kira - kira 1 - 2 % wanita dengan kanker mamae. Gejala gejalanya
mirip dengan infeksi payudara akut. Kulit menjadi merah, panas, edematoda,
dan nyeri. Karsinoma ini menginvasi kulit danjaringan limfe.
Karsinoma mamae bermetastase dengan penyebaran langsung ke
jaringan sekitarnya, dan juga melalui saluran limfe dan aliran darah. Tempat
yang paling sering untuk metastasejauh adalah paru, pleura dan tulang (Price,
1997)
Salah satu tindakan untuk mengobati kanker mamae adalah dengan
mastektomi. Mastektomi adalah tindakan pembedahan untuk mengangkat
payudara.
Bedah merupakan salah satu bentuk -terapi medis. Bedah dapat
mendatangkan stress karena terdapat ancaman terhadap tubuh, integritas dan
terhadap jiwa seseorang. Rasa nyeri sering menyertai upaya tersebut.
Pengalaman operatif dibagi dalam tiga tahap yaitu preoperatif, intra operatif
dan post operatif.

11

Operasi merupakan stressor kepada tubuh dan memicu respon neuron


docrine. Respon terdiri dari sistem saraf simpati dan respon honfional yang
bertugas melindungi tubuh dari ancaman cidera. Bila stress terhadap system
cukup gawat atau kehilangan banyak darah, maka mekanisme kompensasi dari
tubuh terlalu banyak beban dan syock akan terjadi. Anestesi tertentu yang
dipakai dapat menimbulkan terjadinya shock.
Respon

metabolisme

juga

terjadi.

Karbohidrat

dan

lemak

dimetabolisme untuk memproduksi energi. Protein tubuh dipecah untuk


menyajikan suplai asam amino yang dipakai untuk membangunjaringan baru.
Intake protein yang diperlukan guna mengisi kebutuhan protein untuk
keperluan penyembuhan dan mengisi kebutuhan untuk fungsi yang optimal.
Dari kanker payudara tersebut menimbulkan metastase berbagai organ,
metastase dapat ke organ yang dekat maupun yang jauh antara lain limfogen
yang menjalar ke kelenjar limfe aksilasis dan terjadi benjolan, dari sel
epidermis penting menjadi invasi timbul krusta pada organ pulmo
mengakibatkan ekspansi paru tidak optimal (Brunner and Suddart, 2002).

E. Manifestasi Klinik
Pada stadium awal tidak ada keluhan sama sekali hanya seperti
fribroadenoma atau penyakit fibrokistik yang kecil saja, bentuk tidak teratur,
batas tidak tegas, permukaan tidak rata, konsistensi padat keras. Kanker
payudara dapat terjadi di bagian mana saja dalam payudara, tetapi mayoritas
terjadi pada kuadran atas terluar dimana sebagian besar jaringan payudara
terdapat kanker payudara umum terjadi pada payudara sebelah kiri. Umumnya

12

lesi tidak terasa nyeri, terfiksasi dan keras dengan batas yang tidak teratur,
keluhan nyeri yang menyebar pada payudara dan nyeri tekan yang terjadi saat
menstruasi biasanya berhubungan dengan penyakit payudara jinak. Namun
nyeri yang jelas pada bagian yang ditunjuk dapat berhubungan dengan kanker
payudara pada kasus yang lebih lanjut
Dengan meningkatnya penggunaan mammografi lebih banyak wanita
yang mencari bantuan medis pada penyakit tahap awal. Wanita-wanita ini bias
saja tidak mempunyai gejala dengan tidak mempunyai benjolan yang dapat
diraba, tetapi lesi abnormal dapat terdeteksi pada pemeriksaan mammografi.
Sayangnya, banyak wanita dengan penyakit lanjut mencari bantuan medis
setelah mengabaikan gejala yang dirasakan, sebagai contoh mereka barui
mencari bantuan medis setelah tampak dimpling atau peau dorange pada
kulit payudaranya yaitu kondisi yang disebabkan oleh obstruksi sirkulasi
limfotik pada dinding dada dapat juga merupakan bukti. Metastasis ke kulit
dapat dimanifestasikan oleh lesi yang mengalami ulserasi dan berjamur.
Tanda-tanda dan gejala klasik ini jelas mencirikan adanya kanker payudara
pada tahap lanjut. Namun indeks kecurigaan yang tinggi harus dipertahankan
pada setiap abnormalitas payudara dan evaluasi segera harus dilakukan
(Brunner & Suddarth, 2001)

F. Penatalaksanaan
Menurut Doenges (1999 ) penatalaksanaan kanker payudara adalah :
1. Pengobatan local kanker payudara
Tujuan utama terapi lokal adalah menyingkirkan adanya kanker local

13

a. Mastektomi radiasi yang di modifikasi


b. Bedah dengan menyelamatkan payudara, ex : mastektomi, limfektomi
(pengangkatan jaringan kanker dan sejumlah kecil jaringan sekitar nya
dengan kulit lapisan atas tetap ditempatnya)
2. Mastektomi
Pengangkatan ke seluruh tubuh payudara dan beberapa nodus limfe
Tujuan : untuk menghilangkan tumor payudara dengan menghilangkan
atau membuang payudara dan jaringan yang mendasarinya
Indikasinya yaitu
a. Stadium 1 : tumor terbatas pada payudara dengan ukuran kurang dari 2
cm, tidak terfiksasi pada kulit atau otot pektoralis, tanpa dugaan
metastasis aksila
b. Stadium 2 : tumor dengan diameter kurang dari 2 cm dengan
metastasis aksila atau tumor dengan diameter 2-5 cm dengan atau
tanpa metastasis aksila
c. Stadium 3 a : tumor dengan diameter lebih dari 5 cm tapi masih bebas
dari jaringan sekitarnya dengan atau tanpa metastasis aksila yang
masih bebas satu sama lain, atau tumor dengan metastasis yang
melekat
d. Stadium 3b : tumor dengan metastasis infra atau supraklafikula atau
tumor yang telah menginfiltrasi kulit atau dinding toraks
e. Stadium 4 : tumor yang telah mengadakan metastasis jauh

14

3. Terapi radiasi
Biasanya

dilakukan

sel

infuse massa tumor untuk

mengurangi

kecenderungan kambuh dan menyingkirkan kanker resodual


4. Rekontruksi / pembedahan
Tindakan pembedahan tergantung pada stadium kanker yaitu :
Pada stadium I dan II lakukan mastektomi radikal atau modifikasi
mastektomi radikal setelah itu periksa KGB, bila ada metastasis
dilanjutkan dengan radiasi regional dan kemoterapi ajuvan. Dapat juga
dilakukan mastektomi simpleks yang harus diikuti radiasi tumor bed dan
daerah KGB regional. Untuk setiap tumor yang terletak pada kuadran
sentral atau medial payudara harus dilakukan radiasi pada rantai KGB
regional.
5. Terapi normal
Tujuan dari therapy hormonal ini adalah untuk menekan sekresi hormon
6. Kemoterapi : example extoxan (c), methetrexale (m), fucroucacil (f)
7. Transplantasi sumsum tulang
Pada tahap ini prosedur yang dilakukan adalah pengangkatan sumsum
tulang dan memberikan kemotherapi dosis tinggi, sumsum tulang pasien
yang dipisahkan dari efek samping kemoterapi, kemudian infuskan ke IV

G. Komplikasi
Menurut Carpenito (1999) dan R. Sjamsuhidayat(2004), komplikasi kanker
payudara adalah :
1. Gangguan Neurovaskular

15

2. Metastasis: otak, pleura, paru, hati, tulang tengkorak, vertebra, iga, tulang
panjang
3. Fraktur patologi
4. Fibrosis payudara
5. Kematian

H. Pengkajian Fokus
Data fokus yang perlu dikaji menurut Doenges , (1999) adalah
1. Demografi
a. Biodata
Umur

: biasanya terjadi pada usia > 35 tahun

Jenis kelamin

: wanita > laki-laki

b. Riwayat kesehatan
1). Keluhan utama
Nyeri pada payudara, terdapat benjolan dan kesulitan untuk
bernafas
2). Riwayat kesehatan sekarang
Sejak pasien mengeluh nyeri dan ada benjolan pada payudara
sampai ke rumah sakit
3). Riwayat kesehatan dahulu
Riwayat menarche, menopause
4). Riwayat kesehatan keluarga
Adanya anggota keluarga yang menderita penyakit yang sama

16

2. Aktivitas/Istirahat
a. Aktivitas/istirahat
Gejala

Kerja,

aktivitas

yang

melibatkan

banyak

gerakan

tangan/pengulangan. Pola tidur (contoh, tidur tengkurap).


b. Sirkulasi
Tanda: Kongestif unilateral pada lengan yang lerkena (sistem limfe).
c. Makanan/Cairan
Gejala: Kehilangan nafsu makan, adanya penurunan berat badan.
d. Integritas Ego
Gejala: Stresor konstan dalam pekerjaan/pola di rumah.
Stres akut tentang diagnosa, prognosis, harapan yang akan datang.
e. Nyeri/Kenyamanan
Gejala: Nyeri pada penyakit yang luas/metastatik. (nyeri lokal jarang
terjadi pada keganasan dini). Beberapa pengalaman ketidaknyamanan
atau perasaan "lucu" pada jaringan payudara. Payudara berat, nyeri
sebelum menstruasi biasanya mengindikasikan penyakit fibrokistik.
f. Keamanan
Tanda: Massa nodul aksila.
Edema, eritema pada kulit sekitar.
g. Seksualitas
Gejala : Adanya henjolan payudara; peruhahan pada ukuran dan
kesimetrisan payudara. Perubahan pada warna kulit payudara atau
suhu; rabas puting yang tak biasanya; gatal, rasa terbakar atau puting

17

meregang. Riwayat menarke dini (lebih muda dari usia 12 lahun):


menopause lambat (seielah 50 lahun); kehamilan pcrtama lambat
(selclah usia 35 Tahun).
Masalah tentang seksualilas/keintiman.
Tanda: Perubahan pada kontur/massa payudara, asimetris. Kulil
cekung. berkerut; perubahan pada warna tekslur kulit, pembengkakan,
kemerahan atau panas pada payudara. Puting retraksi; rabas dari puting
(serosa.

Serosangiosa,

sangiosa.

rabas

berair

meningkatkan

kemungkinan kanker, khususnya bila discrtai benjolan).|


h. Penyuluhan/Pembelajaran
Gejala : Riwayat kanker dalam keluarga (ibu, saudara wanita, bibi dari
ibu. alau nenek). Kanker unilateral sebelumnya, kanker endometrial
atau ovarium. Pertimbangan DRC menunjukkan rerata lama dirawat:
4,0 hari 1 Rencana pemulangan: membutuhkan bantuan dalam
pengobatan/rehabililasi,

keputusan,

aktivitas

perawatan

diri.,

pemeliharaan rumah.
3. Pemeriksaan penunjang
a. Biopsi payudara(jarum atau eksisi): Memberikan diagnoa definitive
terhadap massa dan berguna untuk klasifikasi histology pentahapan,
dan seleksi terapi yang tepat.
b. Foto thoraks: Dilakukan untuk mengkaji adanya metastase.
c. PU THM (untuk mengevaluasi ukuran tumor)

18

d. CT scan dan MRI: Teknik skan yang dapat mendeteksi penyakit


payudara, khususnya massa yang lebih besar, atau tumor kecil,
payudara mengeras yang sulit diperiksa dengan mamografi.
e. Ultrasonografi (USG): Dapat membantu dalam membedakan antara
massa padat dan kista dan pada wanita yang jaringan payudaranya
keras; hasil komplemen dari mammografi.
f. Mammografi : Memperlihatkan struktur intrernal payudara, dapat
untuk mendeteksi kanker yang tak teraba atau tumor yang terjadi pada
tahap awal.

19

G. Pathways
Faktorpredisposisi
Faktorgenetik

Hormonal

Lingkungan

Faktorresiko

Hiperplasmasel
perkembanganselatipik
ca.mamae
massa

krisissituasi

cemas

pertumbuhanselca

Penanganan
menekansaraf Perubbentuk& Bendungan
Distruksijar
fungsimamae limfe
Kemoterapi
keterbatasan
Op.mastektomi
radiasi
E
d
em
a
rentanggerak
Terputusnya
Jar
tdkpunya kulitkering rambut
kulit
reseptornyeri terputus
mamae
kering
ro
nto
k
Gg.mobilitas
kerusakan
fisik
kulit
p
erubfu
ng
si
Gg.rasa
d
anb
en
tu
k
nyamannyeri
mamae
menekan
bonmorow
Pepertahanan
tubuh
Resiko
infeksi
Gg.citradiri

Resgg
integritaskulit

nutrisiyangmasukke
tubuhtidakbisa
digunakanoptimal
olehtubuh
risikoperubahannutrisi
kurangdarikebutuhan
mual
muntah

sistemhemolitik
terganggu
anemia

Resiko
infeksi

trombositopeni
Resikoinjuri
perdarahan

lekopeni

Resiko
infeksi

Sumber : (Guyton, 1992)


(Long, 1996)
(Price, 1997)

20

H. Diagnosa Keperawatan
1. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan prosedur pembedahan,
trauma jaringan
2. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan keterbatasan ruang gerak
3. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan terputusnya kontinuitas
jaringan karena destruksi jaringan oleh massa tumor
4. Resti injuri berhubungan dengan trombositopeni
5. Resiko infeksi berhubungan dengan lekopeni, penurunan pertahanan tubuh
karena kerusakan jaringan
6. Gangguan citra diri berhubungan dengan perubahan bentuk dan fungsi
mamae
7. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan
berhubungan dengan kurang terpajan / mengingat dan salah interpretasi
informasi.
8. Resiko perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan
nutrisi yang masuk ke tubuh tidak bisa digunakan optimal oleh tubuh,
intake tidak adekuat dan mual (kemoterapi).
9. Cemas berhubunagan dengan krisis situasi.

I. Fokus Intervensi
Menurut Doenges, (1999) dan Carpenito, (2000) fokus intervensi adalah:
1. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan prosedur pembedahan,
trauma jaringan, penekanan syaraf, diseksi otot ditandai dengan keluhan
otot, keluhan kekakuan, bebas pada area dada, nyeri bahu/ lengan,

21

perubahan tonus otot, fokus pada diri sendiri dan distraksi/ melindungi
bagian yang nyeri
a. Tujuan : Nyeri menjadi berkurang atau hilang.
b. Kriteria hasil : Mengekpresikan penurunan nyeri/ ketidaknyamanan;
tampak rileks, marnpu tidur/ istirohat dengan tenang.
c. Intervensi
1) Kaji keluhan nyeri, perhatikan lokasi, lamanya dan intensitas (skala
0 - 10), perhatikan petunjuk verbal dan non verbal
Rasional

: membantu

dalam

mengidentifikasi

derajat

ketidaknyamanan dan ebutuhan untuk / keefektifan


analgesik
2) Diskusikan sensasi masih adanya payudara normal
Rasional

: memberikan keyakinan bahwa sensasi bukan imajinasi


dan penghilangannya dapat dilakukan

3) Bantu pasien menemukan posisi yang nyaman


Rasional

: peninggian lengan, ukuran baju, dan adanya drain


mempengaruhi kemampuan pasien untuk rileks dan
tidur / istirahat secara efektif

4) Berikan pasien menemukan posisi nyaman


Rasional

: meningkatkan relaksasi

5) Berikan obat nyeri yang tepat pada jadwal teratur sebelum nyeri
berat dan aktivitas dijadwalkan, kolaborasi pemberian narkotik/
analgesik sesuai indikasi.

22

Rasional

: mempertahankan

tingkat

kenyamanan

dan

meningkatkan pasien untuk latihan lengan dan untuk


ambulasi tanpa nyeri yang menyertai upaya tersebut.
2. Gangguan mobilitas fisik yang berhubungan keterbatasan ruang gerak
a. Tujuan : Mobilitas fisik tidak mengalami gangguan.
b. Kriteria hasil : Pasien akan memperlihatkan kemajuan mobilitas
sampai tingkat yang paling mungkin dalam keterbatasan yang
dibebankan oleh pembedahan.
c. Intervensi :
1). Tinggikan lengan yang sakit sesuai indikasi, mulai melakukan
rentang gerak pasif (untuk fleksi / ekstansi siku, promosi / suspensi
pergelangan, menekuk, ekstensi jadi) segera mungkin
Rasional

: meningkatkan

aliran

balik

vena,

mengurangi

kemungkinan limfedema
2). Biarkan pasien menggerakkan jari, perhatikan sensasi dan warna
tangan yang sakit
Rasional

: kurang gerakan dapat menunjukkan masalah saraf


brakial interkostal dan perubahan warna dapat
mengidentifikasi gangguan sirkulasi

3). Dorong pasien untuk menggunakan lengan untuk kebersihan diri,


contoh makan, menyisir rambut, mencuci muka

23

Rasional

: peningkatan sirkuklasi, membantu meminimalkan


edema, dan mempertahankan kekuatan dan fungsi
lengan dan tangan

4). Bantu dalam aktivitas perawatan diri sesuai keperluan


Rasional

: menghemat energi pasien, mencegah kelelahan

5). Bantu ambulasi dan dorong m`emperbaiki postur


Rasional

: pasien

akan

memerlukan

merasa
bantuan

tak

seimbang

sampai

dan

terbiasa

dapat

terhadap

perubahan.
3. Gangguan integritas kulit/jaringan berhubungan terputusnya kontuinitas
jaringan karena destruksi jaringan oleh masa tumor.
a. Tujuan : Mempercepat waktu penyembuhan luka.
b. Kriteria hasil : Menunjukkan perilaku/ teknik untuk meningkatkan
penyembuhan / mencegah komplikasi, bebas drainase purulen atau
eritema.
c. Intervensi :
1). Kaji balutan/ luka untuk karakteristik drainase, awasi jumlah
edema, kemerahan dan nyeri pada insisi dan lengan, awasi suhu,
Rasional

: penggunaan balutan tergantung dari tipe penutupan


luka (balutan penekan biasanya dipakai pada awal dan
diperkuat, tidak diganti). Drainase terjadi karena
trauma prosedur dan manipulasi banyak pembuluh
darah dan limfatik pada area tersebut. Pengenalan dan

24

terjadinya infeksi dapat memampukan pengobatan


dengan cepat
2). Tempatkan pada posisi semi fowler pada punggung atau sisi yang
tak sakit dengan lengan tinggi dan disokong dengan bantal.
Rasional

: membantu drainase cairan melalui gravitasi

3). Jangan melakukan pengukuran tekanan darah, menginjeksi obat,


atau memasukkan intravena pada lengan yang sakit.
Rasional

: meningkatkan potensial konstriksi, infeksi

4). Kosongkan drain luka secara periodik, catat jumlah dan


karakteristik drainase
Rasional

: akumulasi cairan drainase (contoh, linfe, darah


meningkatkan

penyembuhan

dan

menurunkan

keselamatan terhadap infeksi. Alat penghisap (contoh :


hemovac, Jackson Pratt) saling dimasukkan selama
pembedahan untuk mempertahankan tekanan negatif
pada luka, selang biasanya diangkat sekitar hari ketiga
atau bila drainase terhenti.
5). Kolaborasi pemberian analgetik sesuai indikasi.
Rasional : dibeikan secara profilaksis atau untuk mengobati
inspeksi khusus dan meningkatkan penyembuhan
4. Resiko injuri berhubungan dengan trombositopeni ditandai dengan
drainasen limfe dan fungsi maotorik dan sensorik
a. Tujuan : Tidak terjadi edema, fungsi sensorik dan motorik teratasi

25

b. Kriteria hasil : Mengaitkan faktor yang menunjang limfedema,


menggambarkan aktivitas yang berbahaya untuk lengan yang sakit.
c. Intervensi :
1) Pantau tanda dan gejala gangguan sensorimator :
a) Gerakan sendi terganggu
b) Kelemahan otot
c) Baal atau kesemutan
Rasional : Tanda ini dapat menunjukkan entrapment saraf pada
outlet servikal atau pergelangan tangan dari edema
limfe atau kerusakan saraf torakodorsal
2) Pantau pengukuran lingkar lengan yang teratur
Rasional : Pengukuran yang teratur dapat mendeteksi peningkatan
edema
3) Konsultasikan dengan dokter untuk intervensi tambahan, jika
diperlukan, mis : diuretik, balitan elastis, kompresi pneumatik
intermitean
Rasional : Jika limfedema bertambah tyerapi yang lebih agresif
dapat diindikasikan
4) Ajari Klien untuk menghindari hal berikut :
a) Vaksin
b) Perhiasan dan pakaian yang ketat
c) Membawa tas bahu atau barang berat pada lengan yang sakit

26

d) Gunakan BH dengan tali bahu yang kecil (gunakan tali yang


lebar atau tanpa tali pengikat)
Rasional :
a, b. Konstriksi pada lengan dapat membuat limfedema lebih buruk
c. Tas bahu dan benda berat meningkatkan tekanan pada sendi
bahu
d. Tali BH yang kecil juga menyebabkan kontriksi pada bahu
5) Ajarkan Klien membilas luka pada lengan atau tangan derngan
cepat dan untuk mengobservasi dengan hati-hati terhadap tanda
awal infeksi (mis: kemerahan, bertambah hangat). Stres diperlukan
untuk melaporkan semua tanda dengan cepat
Rasional : Gunakan drainase limfe membahayakan pertahanan
tubuh terhadap infeksi, yang memerlukan penekanan
pencegahan infeksi.
5. Resiko infeksi berhubungan lekopeni, penurunan pertahanan tubuh karena
kerusakan jaringan.
a) Tujuan : Infeksi tidak terjadi.
b) Kriteria hasil : Tetap tidak demam, tidak terdapat tanda - tanda infeksi
(ruber, tumor, color, dolor, fungsiolaesa), mencapai pemulihan tepat
pada waktunya.
c) Intervensi
1) Gunakan tehnik aseptik ketat mengganti balutan bedah
Rasional

: membatasi sumber infeksi

27

2) Tekankan pentingnya mencuci tangan dengan baik`


Rasional

: menurunkan resiko kontaminasi silang

3) Dorong perubahan posisi sering nafas dalam


Rasional

: meningkatkan relaksasi

4) Observasi tanda infeksi, monitor TTV, suhu, nadi


Rasional

: memudahkan relaksasi intervensi yang lebih lanjut

5) Berikan antibiotik sesuai indikasi


Rasioanl

: akan meningkatkan proses penyembuhan luka.

6. Perubahan konsep diri, harga diri rendah berhubungan dengan gangguan


body image biofisikal ; prosedur bedah yang mengubah gambaran tubuh,
psikososial; masalah tentang ketertarikan seksual ditandai dengan
perubahan aktual pada struktur/ kontur tubuh, menyatakan ketakutan
penolakan oleh orang lain, perubahan dalam lingkungan sosial, perasaan
negatif tentang tubuh, stlalu memikirkan perubahan atau kehilangan, tidak
mau melihat tubuh, tidak berpartisipasi dalam terapi.
a. Tujuan : Menumbuhkan konsep diri yang positif.
b. Kriteria hasil : Menunjukkan gerakan ke arah penerimaan diri dalam
situasi, pengenalan dan ketidaktepatan perubahan dalam konsep diri,
menyusun tujuan yang realistik dan secara aktif berpartisipasi dalam
program terapi.
c. Intervensi
1). Dorong pertanyaan tentang situasi saat ini dan harapan yang akan
datang, berikan dukungan emosional bila balutan tidak diangkat

28

Rasional

: kehilangan payudara menyebabkan reaksi, termasuk


perasaan perubahan gambaran diri, takut jaringan
parut, dan takut pasangan terhadap perubahan tubuh

2). Identifikasi masalah peran sebagai wanita, istesi, ibu, wanita kase
dan sebagainya
Rasional

: dapat menyatakan bagaimana pandangan diri pasien


telah berubah

3). Dorong pasien untuk mengekspresikan perasaan


Rasional

: kehilangan bagian tubuh, menerima kehilangan hasrat


seksual

menambah

proses

kehilangan

yang

membutuhkan penerimaan sehingga pasien dapat


membuat rencana untuk masa depan
4). Diskusikan tanda / gejala depresi dengan pasien / orang terdekat
Rasional

: reaksi umum terhadap tipe prosedur dan kebutuhan ini


dikenali dan diukur

5). Yakinkan perasaan / masalah pasangan sehubungan dengan aspek


seksual dan memberikan informasi dan dukungan
Rasional

: respon negatif yang diarahkan pada pasien dapat


secara aktual menyatakan masalah pasangan tentang
rasa sedih pasien.

7. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan


berhubungan dengan kurang terpajan / mengingat dan salah interpretasi
informasi ditandai dengan pernyataan / permintaan informasi, pertanyaan

29

salah konsepsi, tidak akurat mengikuti instruksi / terjadinya komplikasi


yang dapat dicegah.
a. Tujuan : pengetahuan pasien tentang pemahaman proses penyakit dan
pengobatannya menjadi bertambah
b. Kriteria hasil : pasien dapat melakukan prosedur yang perlu dengan
benar dan menjelaskan alasan tindakan
c. Intervensi :
1) Kaji prses penyakit, prsedir pembedahan, dan harapan yang akan
datang
Rasional

: memberikan pengetahuan dasar dimana pasien dapat


membuat

pilihan

berdasrkan

informasi

temasuk

berpartisipasi dalam radiasi atau program kemoterapi


2) Diskusikan perlunya keseimbangan kesehatan, nutrisi, makan, dan
pemasukan cairan yang adekuat.
Rasional : memberikan nutrisi optimal dan mempertahankan
volume sirkulasi untuk meningkatkan organisasi
jaringan atau proses penyembuhan
3) Anjurkan pilihan jadwal istirahat sering dan periode aktivitas
khususnya situasi saat duduk lama
Rasional : mencegah atau membatasi kelelahan, meningkatkan
penyembuhan dan meningkatkan perasaan sehat
4) Anjurkan menggunakan alat waspada medik
Rasional : mencegah trauma yang diinginkan (contoh : mengukur
tekanan darah, infeksi) pada lengan yang sehat

30

5) Anjurkan penggunaan kompres intermitten sesuai kebutuhan


Rasional : alat bantu pneumatik kadang-kadang membantu dalam
menangani limpedema dengan meningkatkan sirkulasi
dan aliran balik vena.
8. Resiko perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan
nutrisi yang masuk ke tubuh tidak bisa digunakan optimal oleh tubuh,
intake tidak adekuat dan mual (kemoterapi).
a. Tujuan

: Tidak terjadi gangguan nulrisi.

b. Kriteria hasil : Mendemonstrasikan berat badan stabil, penambahan


berat badan progresif ke arah tujuan dengan nonnalisasi nilai
laboratorium dan bebas dari tanda mal nutrisi.
c. Intervensi
1) Kaji abdomen, catat adanya / karakter bising usus, distensi
abdomen dan keluhan mual
Rasional

: distensi abdomen dan atomi usus sering terjadi


mengakibatkan penularan / tiadak adanya bising usus

2) Berikan perawatan oral


Rasional

: menurunkan rangsangan muntah dan inflamasi / iritasi


membran

mukosa

kering

sehubungan

dengan

dehidrasi dan bernafas dengan mulut bila NG dipasang


3) Bantu pasien dalam pemilihan makanan / cairan yang memenuhi
kebutuhan nutrisi dan pembatasan bila diet dimulai

31

Rasional

: kebiasaan diet sebelumnya mungkin tidak memuaskan


pada pemenuhan kebutuhan saat ini untuk regensasi
jaringan dan penyembuhan penggunaan stimulan
gaster

4) Catat tanda peningkatan haus dan berkemih atau perubahan mental


dan ketajaman visual
Rasional

: mewaspadai terjadinya hipoglekemia.

9. Cemas berhubunagan dengan krisis situasi.


a. Tujuan :
1) Peningkatan tegangan, ketakutan, perasaan tak berdaya / tak
adekuat
2) Penurunan keyakinan diri
3) Mengekspresikan masalah sehubungan dengan perasaan hidup
potensial / aktual
b. Kriteria hasil:
1) Mengakui dan mendiskusikan masalah
2) Menunjukkan rentang poerasaan yang tepat
3) Melaporkan takut dan ansietas menurun sampai tingkat dapat
ditangani
c. Intervensi:
1) Yakinkan informasi pasien tentang diagnosis harapan intervensi
pembedahan dan terapi yang akan datang, perhatikan adanya
penolakan atau ansietas ekstrim

32

Rasional

: memberikan

dasar

pengetahuan

perawat

untuk

menguatkan kebutuhan informasi dan membantu


untuk mengidentifikasi pasien dengan ansietas tinggi
dan kebutuhan akan perhatian khusus
2) Jelaskan tujuan dan persiapan untuk tes diagnostik
Rasional

: pemahaman jelas akan prosedur dan apa yang terjadi


meningkatkan perasaan kontrol dan mengurangi
ansietas

3) Berikan lingkungan perhatian, keterbukaan dan penerimaan juga


privasi untuk pasien / orang terdekat. Anjurkan bahwa orang
terdekat ada kapanpun diinginkan
Rasional

: waktu dan privasi diperlukan untuk memberikan


dukungan, diskusikan perasaan tentang antisipasi
kehilangan dan masalah lain, komunikasi terapeutik,
pertanyaan terbuka, mendengarkan dan sebagainya,
memudahkan proses ini

4) Dorong pertanyaan dan berikan waktu untuk mengekspresikan


takut. Beritahu pasien bahwa stress sehubungan dengan kanker
payudara dapat menetap selama beberapa bulan dan perlu mencari
bantuan / dukungan
Rasional

: memberi kesempatan untuk mengidentifikasi dan


memperjelas kesalahan konsep dan menawarkan
dukungan emosi

5) Diskusikan / jelaskan peran rehabilitasi setelah pembedahan

33