Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam ilmu kimia kami mempelajari salah satu materi yaitu elektrokimia. Elektrokimia sendiri
dibagi menjadi dua bagian yaitu sel galvani atau sel volta dan sel elektrolisis. Dari kedua sel tersebut
dapat diaplikasikan dalam berbagai bidang, salah satunya dalam bidang industri. Industri aluminium
pun mengaplikasikan salah satu sel tersebut, yaitu sel elektrolisis. Oleh karena itu, kami memilih
industri aluminium untuk kami bahas dalam makalah ini agar tahu proses yang terjadi dalam
pembuatan aluminium dan dimana letak sel elektrolisis dalam proses tersebut.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang diatas, dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut :
1. Bagaimana tahap-tahap produksi aluminium?
2. Zat apa saja yang diperlukan dalam proses produksi aluminium?
3. Reaksi apa saja yang pada proses produksi aluminium?

1.3 Manfaat dan Tujuan


Sebagai pengetahuan kepada penulis dan pembaca agar dapat mengetahui lebih dalam tentang
aplikasi sel elektrolisis dalam industri, yaitu produksi aluminium. Untuk produksi aluminium sendiri
kita mempunyai beberapa tujuan, yaitu :
Untuk mengetahui bagaimana tahap-tahap produksi aluminium
Untuk mengetahui zat apa saja yang terdapat pada proses produksi aluminium
Untuk mengetahui reaksi apa saja yang terjadi pada proses produksi aluminium

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Elektrokimia
Elektrokimia adalah cabang kimia yang mempelajari reaksi kimia yang berlangsung dalam
larutan pada antarmuka konduktor elektron (logam atau semikonduktor) dan konduktor ionik
(elektrolit), dan melibatkan perpindahan elektron antara elektroda dan elektrolit atau sejenis dalam
larutan.Jika reaksi kimia didorong oleh tegangan eksternal, maka akan seperti elektrolisis, atau jika
tegangan yang dibuat oleh reaksi kimia seperti di baterai, maka akan terjadi reaksi elektrokimia.
Sebaliknya, reaksi kimia terjadi di mana elektron yang ditransfer antara molekul yang disebut
oksidasi / reduksi (redoks) reaksi. Secara umum, elektrokimia berkaitan dengan situasi di mana
oksidasi dan reduksi reaksi dipisahkan dalam ruang atau waktu, dihubungkan oleh sebuah sirkuit
listrik eksternal.Elektrokimia ilmu yang mempelajari aspek elektronik dari reaksi kimia. Elemen
yang digunakan dalam reaksi elektrokimia dikarakterisasikan dengan banyaknya elektron yang
dimiliki. Sel Elektrokimia adalah sel yang disusun untuk menjadikan suatu reaksi redoks
menghasilkan energy listrik yang selanjutnya diubah menjadi energy kimia atau
sebaliknya.Elektrokimia dibagi menjadi dua jenis yaitu sel elektrolisis dan sel volta atau sel galvani.

2.2 Sel Elektrolisis


Sel Elektrolisis adalah sel yang menggunakan arus listrik untuk menghasilkan reaksi redoks
yang diinginkan dan digunakan secara luas di dalam masyarakat kita.Elektrolisis adalah disosiasi
suatu elektrolit menjadi ion pada elektroda dengan adanya arus listrik. Konduksi listrik yang
melewati larutan elektrolit akan menghasilkan perubahan kimia. Elektrolisis tersusun atas alat-alat
yaitu voltameter atau sel elektrolisis.

Terdiri dari gelas kimia yang berisi elektrolit dan dua buah plat logam yang disebut elektroda
yang terhubung dengan sumber arus DC (biasanya baterai). Elektrode yang terhubung dengan kutub
positif baterai disebut anoda, sedangkan yang terhubung dengan kutub negatif disebut
katoda.Elektrolisis adalah peristiwa penguraian zat elektrolit oleh arus listrik searah.Elektroda positif
(+) yang disebut juga anoda sedangkan elektroda negative (-) disebut katoda.
a. Elektrolisis terhadap lelehan/cairan/leburan
Sel elektrolisis tidak mengandung pelarut (air)
Katode : reduksi kation
Anode : oksidasi anion
2

b. Elektrolisis terhadap larutan elektrolit dalam air


- Elektroda inert ( tidak aktif )
Katode = Golongan IA dan IIA yang dielektrolisis air
Anode = Mengandung O,yang dioksidasi air
- Elektroda Aktip ( Cu,Ag,Fe,Ni,dll)
Katode = Golongan IA dan IIA yang dielektrolisis air
Anode = Elektrode Aktif tersebut.
Aplikasi kegunaan sel elektrolisis dalam kehidupan sehari-hari, contohnya kimia sel elektrolisis
banyak digunakan dalam bidang industri, di antaranya pada pembuatan beberapa bahan kimia,
pemurnian logam dan penyepuhan.
1. Pembuatan Beberapa Bahan Kimia
Beberapa bahan kimia seperti logam alkali dan alkali tanah aluminium, gas hidrogen,
gas oksigen, gas klorin, dan natrium hidroksida dibuat secara elektrolisis.
Contoh :

Pembuatan logam natrium dengan mengelektrolisis lelehan NaCl yang dicampur


dengan CaCl2

NaCl(l) Na+(l) + Cl-(l)


Na+(l) + e2Cl-(l)
2Na+(l) + 2Cl-(l)

Katoda :
Anoda :

Na(l)
Cl2(g) + 2e2Na(l) + Cl2(g)

(x 2)

Natrium cair yang terbentuk di katoda mengapung di atas cairan NaCl, kemudian
dikumpulkan pada kolektor.
2. Pemurnian Logam
Pada pengolahan tembaga dari bijih kalkopirit diperoleh tembaga yang masih tercampur
dengan sedikit perak, emas, dan platina. Untuk beberapa keperluan dibutuhkan tembaga murni,
misalnya untuk membuat kabel. Tembaga yang tidak murni dipisahkan dari zat pengotornya
dengan elektrolisis.
Tembaga yang tidak murni dipasang sebagai anoda dan tembaga murni dipasang sebagai
katoda
dalam
elektrolit
larutan CuSO4 tembaga
di
anoda
akan
teroksidasi
2+
2+
menjadi Cu selanjutnya Cu direduksi di katoda.
Anoda
Katoda

:
:

Cu(s)
Cu2+(aq) + 2eCu(s)
Anoda

Cu2+(aq) +2eCl2(g) + 2eCu(s)


Katoda

Dengan demikian tembaga di anoda pindah ke katoda sehingga anode semakin habis
dan katoda semakin bertambah besar. Logam emas, perak, dan platina terdapat pada lumpur
anoda sebagai hasil samping pada pemurnian tembaga.

Gambar 1. Pemurnian tembaga.


3. Penyepuhan Logam
Suatu produk dari logam agar terlindungi dari korosi (perkaratan) dan terlihat lebih
menarik seringkali dilapisi dengan lapisan tipis logam lain yang lebih tahan korosi dan
mengkilat. Salah satu cara melapisi atau menyepuh adalah dengan elektrolisis. Benda yang akan
dilapisi dipasang sebagai katoda dan potongan logam penyepuh dipasang sebagai anoda yang
dibenamkan dalam larutan garam dari logam penyepuh dan dihubungkan dengan sumber arus
searah. Contoh untuk melapisi sendok garpu yang terbuat dari baja dengan perak, maka garpu
dipasang sebagai katoda dan logam perak dipasang sebagai anoda, dengan elektrolit
larutan AgNO3.
Logam perak pada anoda teroksidasi menjadi Ag+kemudian direduksi menjadi Ag pada
katoda atau garpu. Dengan demikian garpu terlapisi oleh logam perak.

Anoda
Katoda

:
:

Ag(s)
Ag+(aq) + eAg(s)
Anoda

Ag+(aq)+ eAg (s)


Ag(s)
Katoda

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Elektrolisis


Banyak sekali hal yang mempengaruhi elektrolisis, diantaranya adalah:
1. Overpotensial
Tegangan yang dihasilkan akan lebih tinggi dari yang diharapkan. Overpotensial bisa menjadi
penting untuk mengendalikan interaksi antara elektroda.
2. Tipe elektroda
Elektroda inert berperan sebagai permukaan untuk reaksi yang terjadi. Namun elektroda tidak
ikut bereaksi dimana elektroda aktif menjadi bagian dari setengah reaksi.
3. Reaksi elektroda yang bersamaan

Jika dua pasang setengah reaksi terjadi bersamaan, maka salah satu setengah reaksi harus
dihentikan untuk menentukan pasangan tunggal reaksi yang dapat dielektrolisis.
4. Keadaan pereaksi
Jika pereaksi tak standar, maka tegangan setegah sel akan berbeda dari nilai standar. Pada kasus
ini, larutan untuk anoda setengah sel mungkin akan mempunyai pH lebih tinggi atau rendah dari
pH standar (yaitu 4).
Perbedaan Sel Elektrolisis dan Sel Volta
Sel elektrolisis pada dasarnya adalah sel volta yang bereaksi tidak spontan. Faktanya, aliran
listrik harus dibalik dari sel volta dengan melebihkan tegangan yang dibutuhkan. Sel elektrolisis
terdiri atas dua buah elektroda dan suatu elektrolit. Tidak seperti sel volta, reaksi yang menggunakan
sel elektrolisis harus terinduksi dan terbalik antara anoda dan katoda. Inilah perbedaan sel volta dan
sel elektrolisis:
Perbedaan

Sel Volta

Sel Elektrolisis

Perubahan

Energy kimia berubah menjadi


energy listrik

Energy listrik berubah menjadi


energy kimia

Elektrode

Katode = elektrode positif


Anode = elektrode negatif

Katode = elektrode negatif


Anode = elektrode positif

Proses

Katode = terjadi reduksi


Anode = terjadi oksidasi

Katode = terjadi oksidasi


Anode = terjadi reduksi

Contoh

Baterai, aki, timbal, dan sel bahan


bakar.

Penyepuhan logam, pemurnian


logam dll.

2.2.1 Elektroda Pada Sel Elektrolisis


Reaksi dalam sel elektrolisis dipengaruhi oleh jenis elektrodanya
a. Elektroda inert (tidak ikut bereaksi)yaitu platina (Pt), grafit (C), kalsium (Ca) dan emas
(Au).
b. Elektroda non inert (ikut bereaksi)yaitu selain Pt, C dan Au seperti seng (Zn), tembaga
(Cu), dan perak (Ag).
2.2.2 Proses Perubahan Pada Sel Elektrolisis
- Terjadi perubahan : energi listrik energi kimia
- Pada anoda, elektron adalah produk dari reaksi reduksi; anoda kutub positif
- Pada katoda, elektron adalah reaktan dari reaksi oksidasi; katoda = kutub negatif
- Elektron mengalir dari katoda ke anoda
2.2.3 Bagian Sel Elektrolisis
Rangkaian sel elektrolisis

Sel Elektrolisis terdiri dari beberapa bagian, yaitu:


1. Sumber arus yang digunakan biasanya adalah baterai
2. Anoda, elektroda positif, tempat terjadinya reaksi reduksi. pada gambar, yang
bertindak sebagai anoda adalah elektroda Cl.
3. Katoda, elektroda negatif, tempat terjadinya reaksi oksidasi. pada gambar, yang
bertindak sebagai katoda adalah elektroda Na.

2.3 Sel Galvani/Sel Volta


Sel galvani adalah sel elektrokimia yang menghasilkan energi listrik dari reaksi redoks
spontan yang terjadi dalam sel. Sel Galvani dinamai dari penemunya, yaitu Luigi Galvani. Selain itu
juga sering disebut sel volta, dinamai dari penemunya yaitu Alessandro Volta. Sel galvani biasanya
mengandung dua buah logam yang terhubung dengan jembatan garam, atau setengah sel yang
dipisahkan dengan membran porous. Untuk lebih jelas, perhatikan gambar sel Galvani berikut ini:

Berdasarkan kegunaannya, sel volta dibedakan atas dua macam sebagai berikut:
a. Sel Volta untuk penentuan pH larutan, energi reaksi, titrasi, dan kelarutan garam
b. Sel Volta untuk menghasilkan tenaga listrik, misalnya untuk penerangan, penggerak motor,
radio transistor, dan kalkulator, contoh: sel aki, sel kering atau baterai kering (sel leclanche),
baterai nikel kadmium, baterai perak oksida.
2.3.1

Elektroda Pada Sel Volta


6

Elektroda dalam sel galvani terbalik dengan elektroda sel elektrolisis. Dalam sel galvani,
Anoda adalah elektroda dimana terjadi reaksi oksidasi (kehilangan elektron). Anoda
menarik anion.
Katoda adalah elektroda dimana terjadi reaksi reduksi (menerima elektron). Katoda
menarik kation.
2.3.2

Proses Perubahan Pada Sel Volta


- Terjadi perubahan : energi kimia energi listrik
- Pada anoda, elektron adalah produk dari reaksi oksidasi; anoda kutub negatif
- Pada katoda, elektron adalah reaktan dari reaksi reduksi; katoda = kutub positif
- Elektron mengalir dari anoda ke katoda

2.3.3

Bagian Sel Volta


Rangkaian Sel Galvani

Contoh rangkaian sel galvani.


sel galvani terdiri dari beberapa bagian, yaitu:
1. Voltmeter, untuk menentukan besarnya potensial sel.
2. Jembatan garam (salt bridge), untuk menjaga kenetralan muatan listrik pada larutan.
3. Anoda, elektroda negatif, tempat terjadinya reaksi oksidasi. pada gambar, yang
bertindak sebagai anoda adalah elektroda Zn/seng (zink electrode).
4. Katoda, elektroda positif, tempat terjadinya reaksi reduksi. pada gambar, yang
bertindak sebagai katoda adalah elektroda Cu/tembaga (copper electrode).

2.4 Aplikasi Sel Elektrolisis Dalam IndustriProduksi Aluminium


2.4.1

Pengertian Aluminium
Aluminium ialah unsur kimia. Lambang aluminium ialah Al, dan nomor atomnya 13.
Aluminium ialah logam paling berlimpah. Aluminium adalah logam yang berwaarna putih
perak dan tergolong ringan yang mempunyai massa jenis 2,7 gr cm3. Aluminium bukan
merupakan jenis logam berat, namun merupakan elemen yang berjumlah sekitar 8% dari
permukaan bumi dan paling berlimpah ketiga. Aluminium terdapat dalam penggunaan aditif
makanan, antasida, buffered aspirin, astringents, semprotan hidung, antiperspirant, air
minum, knalpotmobil, asap tembakau, penggunaan aluminium foil, peralatan masak, kaleng,
keramik , dan kembang api.Aluminium merupakan konduktor listrik yang baik, terang dan
kuat. Merupakan konduktor yang baik juga buat panas. Dapat ditempa menjadi lembaran,
7

ditarik menjadi kawat dan diekstrusi menjadi batangan dengan bermacam-macam


penampang. Aluminium digunakan dalam banyak hal, kebanyakan darinya digunakan dalam
kabel bertegangan tinggi. Juga secara luas digunakan dalam bingkai jendela dan badan
pesawat terbang. Ditemukan di rumah sebagai panci, botol minuman ringan, tutup botol susu
dsb. Aluminium juga digunakan untuk melapisi lampu mobil dan compact disks.
2.4.2
-

Sifat-sifat yang Dimiliki Aluminium


Sifat-sifat yang dimilki aluminium antara lain :
Ringan, tahan korosi dan tidak beracun maka banyak digunakan untuk alat rumah tangga seperti
panci, wajan dan lain-lain.
Reflektif, dalam bentuk aluminium foil digunakan sebagai pembungkus makanan, obat, dan
rokok.
Daya hantar listrik dua kali lebih besar dari Cu maka Al digunakan sebagai kabel tiang listrik.
Paduan Al dengan logam lainnya menghasilkan logam yang kuat seperti Duralium (campuran Al,
Cu, mg) untuk pembuatan badan peswat.
Al sebagai zat reduktor untuk oksida MnO2 dan Cr2O3.

2.4.3

Klasifikasi Aluminium
Aluminium Murni
Aluminium Paduan
Paduan Aluminium-Silikon
Paduan Aluminium-Magnesium
Paduan Aluminium-Tembaga
Paduan Aluminium-Mangan
Paduan Aluminium-Seng
Paduan Aluminium-Lithium
Paduan Aluminium-Skandium
Paduan Aluminium-Besi
Aluminium paduan cor

2.4.4

Pengolahan Alumininum
Pembuatan Aluminium terjadi dalam dua tahap:
1 Proses Bayer merupakan proses pemurnian bijih bauksit untuk memperoleh
aluminium oksida (alumina), dan
2 Proses Hall-Heroult merupakan proses peleburan aluminium oksida untuk
menghasilkan aluminium murni.

BAB III
PEMBAHASAN
Aluminium terutama diproduksi untuk pembuatan alloy yang ringan. Di USA saja aluminium
diproduksi lebih dari 1 juta ton per tahunnya. Pengolahan logam aluminium dibagi menjadi 2 tahap, yaitu
tahap pemurnian dan tahap elektrolisis. Pengolahan ini dinamakan proses Hall, sesuai dengan nama
penemunya yaitu Charles Martin Hall (1863-1914).Secara rinci proses pengolahan aluminium dijelaskan
sebagai berikut:
1.

Tahap Pemurnian
Aluminium diproduksi dari bauksit yang mengandung pengotor Fe 2O3. Pengotor ini harus
dihilangkan dengan cara melarutkan bauksit tersebut dalam NaOH(aq). Besi oksida (Fe 2O3) yang
bersifat basa tidak larut dalam larutan NaOH, perhatikan reaksi berikut:
Al2O3(s) + 2OH-(aq) + H2O 2[Al(OH)4]-(aq)
Atau
Al2O3(s)+ 2NaOH(aq) + 3H2O() 2NaAl(OH)4 (aq)
Pengotor dipisahkan dengan penyaringan. Selanjutnya, aluminium diendapan dari filtrat dengan
mengalirkan gas CO2 dan pengenceran.
2NaAl(OH)4(aq) + CO2(g) 2Al(OH)3(s)+ Na2CO3(aq) + H2O()
Atau
2NaAl(OH)4-(aq) + CO2(g) 2Al(OH)3(s)+ CO32-(aq) + H2O()
Endapan A1(OH)3 disaring, dikeringkan lalu dipanaskan sehingga diperoleh A1 2O3 murni
(alumina).
2A1(OH)3(s)+ A12O3(s) A12O3(s)+ 3H2O(g)

2.

Tahap Elektrolisis
Selanjutnya pada tahap kedua, reduksi Al2O3 dilakukan melalui elektrolisis menurut
proses Hall Heroult. Metode elektrolisis itu ditemukan secara terpisah tetapi hampir bersamaan
pada tahun 1886 oleh dua orang peneliti muda, yaitu Charles M. Hall di Amerika Serikat dan Paul
Deroun di Perancis. Kita ingat bahwa Al2O3 mempunyai titik leleh yang sangat tinggi, yaitu lebih
dari 2000oC. Oleh karena itu elektrolisis lelehan Al 2O3 murni tidak ekonomis. Dalam proses Hall
Heroult, Al2O3 dilarutkan dalam lelehan kriolit (Na 3AlF6) dalam bejana dari baja berlapis grafit
yang sekaligus berfungsi sebagai katode. Dengan cara itu elektrolisis dapat dilangsungkan pada
suhu 950oC. Sebagai anode digunakan batang grafit. Elektrolisis menghasilkan aluminium di
katode, sedangkan di anode terbentuk gas oksigen dan karbon dioksida. Sebenarnya reaksi
elektrolisis ini berlangsung rumit dan belum sepenuhnya dipahami, tetapi dengan mengacu pada
hasil akhirnya dapat dituliskan sebagai berikut:
Al2O3() 2A13+() + 3O2-()
Selain Hall, ada juga Proses Bayer, yang dikembangkan oleh Karl Josef Bayer, seorang
ahli kimia berkebangsaan Jerman. Proses ini biasanya digunakan untuk memperoleh alumunium
murni. Bauksit halus yang kering dimasukan kedalam pencampur, diolah dengan soda api
9

(NaOH) dibawah pengaruh tekanan dan pada suhu dibawah atas titik didih. NaOH bereaksi
dengan bauksit menghasilkan aluminat natrium yang larut.
Setelah proses selesai, tekanan dikurangi dan ampas yang terdiri dari oksida besi yang tak
larut, silikon, titanium dan kotoran lainya ditekan melalui saringan dan dikesampingkan. Cairan
yang mengandung alumina dalam bentuk aluminat natrium dipompa ke dalam tangki
pengendapan, kemudian dibubuhkan Kristal hiroksida alumunium terpisah dari larutan. Hiroksida
alumunium kemudian disaring dan dipanaskan sampai mencapai suhu 980 oC. Alumina siap
dilebur.
Logam alumunium dihasilkan melalui proses elektrolisa dimana alumina berubah menjadi
oksigen dan alumunium. Alumina murni dilarutkan ke dalam eriolit cair (natrium alumunium
flourida) dalam dapur elektrolit. Arus listrik dialirkan dalam campuran melalui elektrodakarbon.
Pada saat tertentu, alumunium disadap dari sel dan logam cair tersebut dipindahkan ke dapur
penampung untuk dimurnikan atau untuk keperluan paduan, setelah itu dituang ke dalam ingot
untuk diolah lebih lanjut.
Pada tahun 1825, Oersted. Memperoleh aluminium murni dengan cara mereduksi
aluminium klorida dengan kalium-merkurium.
AlCl3(s) + 3K(Hg)x(l)3 KCl(s) + Al(Hg)3x(l)
Kemudian dengan distilasi, merkurium dapat dihilangkan dan akhirnya diperoleh logam
aluminium. Pada tahun 1854, Henri Sainte dan Claire Deville membuat aluminium dari natrium
aluminium klorida dengan cara memanaskannya dengan logam natrium.
Padatahun 1886, Charles Hall mulai memproduksi aluminium dengan proses skala besar
seperti sekarang, yaitu melalui elektrolisis alumina di dalam kriolit lebur. Pada tahun itu pula Paul
Herault mendapat paten Perancis untuk proses serupa dengan proses Hall. Pada tahun 1980,
produksi dunia dengan proses ini mencapai 107 ton. Pada proses ini aluminium diperoleh dengan
cara katalis aluminium oksida yang dilarutkan dalam leburan kriolit (Na 3AlF6).
Bahan baku bauksit, masih merupakan campuran aluminium oksida, besi(III) oksida dan
silika. Jadi ada dua tahap dalam produksi aluminium yaitu reaksi pemurnian untuk memperoleh
alumina murni dan tahap elektrolisis.
a. Reaksi Pemurnian:
Al2O3(s) + 2 OH-(aq) + 3 H2O(l)2[Al(OH)4]-(aq)
SiO2 + 2 OH-(aq)SiO32-(aq) + H2O(l)
2[Al(OH)4]-(aq) + CO22 Al(OH)3(s) + CO32-(aq)
2 Al(OH)3(s)Al2O3 + 3H2O
b. Elektrolisis dibuat dari baja yang dilapisi grafit. Grafit ini berfungsi sebagai katoda. Anoda
dibuat dari karbon.
Katoda: AlF4- + 3e- Al + 4FAnoda: 2 AlOF54- + C CO2 + AlF63- + AlF4- + 4 eSecara sederhana, reaksi pada elektroda dapat dituliskan sebagai berikut:

10

Katoda: 2 Al3+ + 6 e- 2 Al
Anoda: 3O2-1O2 + 6 eOksigen yang terbentuk pada suhu operasi dapat mengoksidasi anoda.Reaksi secara
keseluruhan dapat ditulis sebagai berikut:
2Al2O3(dalamKriolit) + 3 C(s)4 Al(l) + 3 CO2(g)
Proses Bayer adalah satu siklusdan sering disebut Bayer siklus. Ini melibatkan empat
langkah: Digestion (pencernaan), Clarification (klarifikasi), Precipitation (pengendapan),
danCalcination (kalsinasi).
1. Digestion (Pencernaan).
Pada langkah pertama, bauksit adalah tanah, slurried dengan larutan soda kostik
(natriumhidroksida), dan dipompa ke tank tekanan besar disebut digester, dikontrol
mengalami panas uap 175 C dan tekanan. natrium hidroksidabereaksi dengan mineral
alumina bauksit untuk membentuk solusi jenuh natrium aluminat; pengotor tak larut,
disebut lumpur merah (RM) , tetap dalam suspensi dan dipisahkan pada langkah
klarifikasi. Proses Bayer menurut persamaankimia:
PersamaanReaksi:
Al2O3(s) + 2NaOH (aq) + 3H2O(l)2NaAl(OH)4 (aq)
2. Clarification (klarifikasi).
Pengotor tak larut yang disebut lumpur merah /Red Mud (RM), tetap dalam
suspensi dan dipisahkan dengan menyaring dari kotoran padat, selanjutnya didinginkan di
exchangers panas, untuk meningkatkan derajat jenuh dari alumina terlarut, dan dipompa
menuju tempat yang lebih tinggi yaitu presipitator silolike untuk proses Precipitation
(pengendapan)
3. Precipitation (pengendapan).
Selanjutnya aluminium diendapkan dari filtratnya dengan cara mengalirkan gas
CO2 dan pengenceran.
2NaAl(OH)3 (aq) +CO2 (g)2Al(OH)3 (s) + Na2CO3 (aq)+ H2O (l)
Campuran dari kotoran padat disebut lumpur merah, dan menyajikan masalah
pembuangan. Selanjutnya, solusi hidroksida didinginkan, dan aluminium hidroksida
dilarutkan presipitat sebagai putih solid halus.
4. Calcination (kalsinasi).
Kemudian dipanaskan sampai 1050 C (dikalsinasi), aluminium hidroksida
terurai menjadi alumina, memancarkan uap air dalam proses:
2Al(OH)3 (s)Al2O3 (s) + 3H2O (g)
Dan dihasilkan aluminium oksida murni (Al 2O3) yang selanjutnya menuju proses
peleburan dengan proses Hall-Heroult untuk menghasilkan material aluminium.
.

11

BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan

Elektrokimia merupakan suatu sistem yang terdiri dari dua elektroda, yaitu katoda
dan anoda, serta larutan elektrolit.
Larutan elektrolit berfungsi sebagai penghantar elektron.
Berdasarkan prinsip kerjanya elektrokimia dibagi menjadi dua yaitu, redoks spontan
(sel volta/sel galvani) dan redoks tidak spontan (sel elektrolisis)
Sel volta/sel galvani adalah sel elektrokimia dimana energi kimia (reaksi redoks)
diubah menjadi energy listrik (arus listrik)
Sel elektrolisis adalah sel elektrokimia dimana energy listrik (arus listrik) diubah
menjadi energi kimia (reaksi redoks)
Aplikasi sel elektrolisis dalam dunia industri banyak digunakan untuk memperoleh
logam-logam dari senyawa seperti Al, Na, K, Mg, Mn, dan Ca. Selain itu, juga
digunakan pada pemurnian dan penyepuhan logam-logam, pembuatan NaOH dan gas
klor dari natrium klorida.
Proses produksi aluminium dibagi menjadi dua tahap, yaitu
o Proses Bayer merupakan proses pemurnian bijih bauksit untuk memperoleh
aluminium oksida (alumina).
o Proses Hall-Heroult merupakan proses peleburan aluminium oksida untuk
menghasilkan aluminium murni.
Dalam proses produksi aluminium ini didalamnya terdapat proses elektrolisis.
Dimana pada elektrolisis menghasilkan aluminium di katode, serta gas oksigen dan
gas karbondioksida di anode.

4.2 Saran
Dalam pembuatan makalah tentang aplikasi sel elektrolisis dalam industi produksi
aluminium ini, penulis menginginkan kritik dan saran dari pembaca, apabila dalam penulisan
makalah ini, terdapat kesalahan-kesalahan yang dapat mengurangi nilai dari pembuatan
makalah ini. Atas kritik dan saran yang disampaikan pembaca, penulis mengucapakan terima
kasih.

Daftar Pustaka
12

Widyastuti, CME. 2006. Buku Ajar Kimia. Surakarta : Citra Pustaka.


Waldjinah, dkk. 2012. Detik-Detik Ujian Nasional Kimia. Klaten : PT Intan
Perwira.
Foster, Bob. 2012. Revolusi Belajar Koding. Bandung : Ganesha Operation.

13