Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN

A.

LATAR BELAKANG

Toxoplasmosis merupakan penyakit zoonosis yaitu penyakit pada hewan yang


dapat ditularkan ke manusia. Penyakit ini disebabkan oleh sporozoa yang dikenal
dengan nama Toxoplasmosis gondii, yaitu suatu parasit intraselluler yang banyak
terinfeksi pada manusia dan hewan peliaharaan. Penderita Toxoplasmosis sering
tidak memperlihatkan suatu tanda klinis yang jelas sehingga dalam menentukan
diagnosis penyakit toxoplasmosis sering terabaikan dalam praktik dokter seharihari. Apabila penyakit toxoplasmosis mengenai wanita hamil trismester ketiga
dapat mengakibatkan hidrochephalus, khorioretinitis, tuli atau epilepsi.
Penyakit toxoplasmosis biasanya ditularkan dari kucing atau anjing tetapi
penyakit ini juga dapat menyerang hewan lain seperti babi, sapi, domba, dan
hewan peliharaan lainnya. Walaupun sering terjadi pada hewan-hewan yang
disebutkan di atas penyakit toxoplasmosis ini paling sering dijumpai pada kucing
dan anjing. Untuk tertular penyakit toxoplasmosis tidak hanya terjadi pada orang
yang memelihara kucing atau anjing tetapi juga bisa terjadi pada orang lainnya
yang suka memakan makanan dari daging setengah matang atau sayuran
lalapan yang terkontaminasi dengan agent penyebab penyakit toxoplasmosis.
Dewasa ini setelah siklus hidup toxoplasma ditemukan maka usaha
pencegahannya diharapkan lebih mudah dilakukan. Pada saat ini diagnosis
toxoplasmosis menjadi lebih mudah ditemukan karena adanya antibodi IgM atau
IgG dalam darah penderita. Diharapkan dengan cara diagnosis maka pengobatan
penyakit ini menjadi lebih mudah dan lebih sempurna, sehingga pengobatan
yang diberikan dapat sembuh sempurna bagi penderita toxoplasmosis. Dengan
jalan tersebut diharapkan insidensi keguguran, cacat kongenital, dan lahir mati
yang disebabkan oleh penyakit ini dapat dicegah sedini mungkin. Pada akhirnya
kejadian kecacatan pada anak dapat dihindari dan menciptakan sumber daya
manusia yang lebih berkualitas.

B.

RUMUSAN MASALAH

1.

Apa yang dimaksud dengan toxoplasmosis?

2.

Bagaimana siklus hidup toxoplasmosis?

3.

Bagaimanakah cara penularan toxoplasmosis?

C.

TUJUAN PENULISAN

1.

Tujuan Umum

Sebagai salah satu syarat pemenuhan tugas medical science prodi D III
Kebidanan Magelang.
2.

Tujuan Khusus.

a.

Untuk mengetahui pengertian toxoplasmosis secara jelas.

b.

Agar pembaca dan penulis mengenal siklus hidup toxoplasmaosis.

c. Untuk menambah pengetahuan pembaca dan penulis dalam penularan


toxoplasmosis.

D.

METODE

Yang dimaksud metode adalah suatu cara yang dilakukan penulis mengumpulkan
karya tulis. Penulis dalam penulisan bahan bahan dalam penulisan karya tulis
itu menggunakan metode :
1.

Studi pustaka.

Yang dimaksud dengan studi pustaka adalah metode dalam mengumpulkan


bahan-bahan dalam penulisan yang digunakan pembaca literatur sesuai dengan
topik.
2.

Studi internet

Yang dimaksud dengan studi internet adalah metode yang digunakan dalam
pengumpulan bahan-bahan makalah dengan membaca sumber yang sesuai
dengan topik.

BAB II
PEMBAHASAN

A.

Pengertian

Toxoplasmosis (toxo) adalah infeksi yang disebabkan oleh parasit bersel tunggal
yang disebut Toxoplasma gondii. Infeksi paling umum didapat dari kontak dengan
kucing-kucing dan feces mereka atau daging mentah atau yang kurang masak.
Penderita Toxoplasmosis sering tidak memperlihatkan suatu tanda klinis yang
jelas sehingga dalam menentukan diagnosis penyakit toxoplasmosis sering
terabaikan dalam praktik dokter sehari-hari. Apabila penyakit toxoplasmosis
mengenai wanita hamil trismester ketiga dapat mengakibatkan hidrochephalus,
khorioretinitis, tuli atau epilepsi.
Toxopasmosis adalah penyakit zoonosis yang secara alam dapat menyerang
manusia, ternak, hewan peliharaan yang lain seperti hewan liar, unggas dan lainlain. Kejadian toxoplasmosis telah dilaporkan dari beberapa daerah di dunia ini
yang geografiknya sangat luas. Survei terhadap kejadian ini memberi gambaran
bahwa toxoplasmosis pada suatu daerah bisa sedemikian hebatnya hingga
setiap hewan mmlperlihatkan gejala toxoplasmosis. Sebagai contoh adalah
survei yang telah diadakan di Amerika Serikat. Data positif didasarkan kepada
penemuan serodiagnostik dari beberapa hewan peliharaan dapat dilihat pada
Tabel dibawah ini:
Tabel 1: Data Positif didasarkan penemuan serodiagnostik

No

Hewan Yang
Terinfeksi

Presentase

Anjing

59%

Kucing

34%

Babi

30%

Sapi

47%

Kambing

48%

Pada manusia penyakit


toxoplasmosis ini sering terinfeksi melalui saluran pencernaan, biasanya melalui
perantaraan makanan atau minuman yang terkontaminasi dengan agent
penyebab penyakit toxoplasmosis ini, misalnya karena minum susu sapi segar
atau makan daging yang belum sempurna matangnya dari hewan yang terinfeksi

dengan penyakit toxoplasmosis. Penyakit ini juga sering terjadi pada sejenis ras
kucing yang berbulu lebat dan warnanya indah yang biasanya disebut dengan
mink, pada kucing ras mink penyakit toxoplasmosis sering terjadi karena
makanan yang diberikan biasanya berasal dari daging segar (mentah) dan sisasisa daging dari rumah potong hewan.

B.

Etilogi Penyakit Toxoplasmosis

Toxoplasmosis ditemukan oleh Nicelle dan Manceaux pada tahun 1909 yang
menyerang hewan pengerat di Tunisia, Afrika Utara. Selanjutnya setelah diselidiki
maka penyakit yang disebabkan oleh toxoplasmosis dianggap suatu genus
termasuk famili babesiidae.
Toxoplasma gondii adalah parasit intraseluler pada momocyte dan sel-sel
endothelial pada berbagai organ tubuh. Toxoplasma ini biasanya berbentuk bulat
atau oval, jarang ditemukan dalam darah perifer, tetapi sering ditemukan dalam
jumlah besar pada organ-organ tubuh seperti pada jaringan hati, limpa, sumsum
tulang, pam-pam, otak, ginjal, urat daging, jantung dan urat daging licin lainnya.
Perkembangbiakan toxoplasma terjadi dengan membelah diri menjadi 2,4 dan
seterusnya, belum ada bukti yang jelas mengenai perkembangbiakan dengan
jalan schizogoni. Pada preparat ulas dan sentuh dapat dilihat dibawah mikroskop,
bentuk oval agak panjang dengan kedua Ujung lancip, hampir menyerupai
bentuk merozoit dari coccidium. Jika ditemukan diantara sel-sel jaringan tubuh
berbentuk bulat dengan ukuran 4 sampai 7 mikron. Inti selnya terletak dibagian
ujung yang berbentuk bulat. Pada preparat segar, sporozoa ini bergerak, tetapi
peneliti-peneliti belum ada yang berhasil memperlihatkan flagellanya.
Toxoplasma baik dalam sel monocyte, dalam sel-sel sistem reticulo endoteleal,
sel alat tubuh viceral maupun dalam sel-sel syaraf membelah dengan cara
membelah diri 2,4 dan seterusnya. Setelah sel yang ditempatinya penuh lalu
pecah parasit-parasit menyebar melalui peredaran darah dan hinggap di sel-sel
baru dan demikian seterusnya.
Toxoplasma gondii mudah mati karena suhu panas, kekeringan dan pembekuan.
Cepat mati karena pembekuan darah induk semangnya dan bila induk
semangnya mati jasad inipun ikut mati. Toxoplasma membentuk pseudocyste
dalam jaringan tubuh atau jaringan-jaringan tubuh hewan yang diserangnya
secara khronis. Bentuk pseudocyste ini lebih tahan dan dapat bertindak sebagai
penyebar toxoplasmosis.

C.

Siklus Hidup Dan Morpologi Toxoplasmosis

Toxoplasma gondii terdapat dalam 3 bentuk yaitu bentuk trofozoit, kista, dan
Ookista. Trofozoit berbentuk oval dengan ukuran 3-7 um, dapat menginvasi
semua sel mamalia yang memiliki inti sel. Dapat ditemukan dalam jaringan

selama masa akut dari infeksi. Bila infeksi menjadi kronis trofozoit dalam
jaringan akan membelah secara lambat dan disebut bradizoit.
Bentuk kedua adalah kista yang terdapat dalam jaringan dengan jumlah ribuan
berukuran 10-100 um. Kista penting untuk transmisi dan paling banyak terdapat
dalam otot rangka, otot jantung dan susunan syaraf pusat. Bentuk yang ke tiga
adalah bentuk Ookista yang berukuran 10-12 um. Ookista terbentuk di sel
mukosa usus kucing dan dikeluarkan bersamaan dengan feces kucing. Dalam
epitel usus kucing berlangsung siklus aseksual atau schizogoni dan siklus atau
gametogeni dan sporogoni. Yang menghasilkan ookista dan clikeluarkan bersama
feces kucing. Kucing yang mengandung toxoplasma gondii dalam sekali exkresi
akan mengeluarkan jutaan ookista. Bila ookista ini tertelan oleh hospes
perantara seperti manusia, sapi, kambing atau kucing maka pada berbagai
jaringan hospes perantara akan dibentuk kelompok-kelompok trofozoit yang
membelah secara aktif. Pada hospes perantara tidak dibentuk stadium seksual
tetapi dibentuk stadium istirahat yaitu kista. Bila kucing makan tikus yang
mengandung kista maka terbentuk kembali stadium seksual di dalam usus halus
kucing tersebut.

D.

Cara Penularan Toxoplasmosis

Infeksi dapat terjadi bila manusia makan daging mentah atau kurang matang
yang mengandung kista. Infeksi ookista dapat ditularkan dengan vektor lalat,
kecoa, tikus, dan melalui tangan yang tidak bersih. Transmisi toxoplasma ke janin
terjadi utero melalui placenta ibu hamil yang terinfeksi penyakit ini. Infeksi juga
terjadi di laboratorium, pada peneliti yang bekerja dengan menggunakan hewan
percobaan yang terinfeksi dengan toxoplasmosis atau melalui jarum suntik dan
alat laboratorium lainnya yang terkontaminasi dengan toxoplasma gondii.

Table 2. Frekuensi toxoplasmosis pada penduduk dari berbagai negara.

E.

No.

Tempat

Frekuensi

Peneliti

Tahun

Taiwan

1,97%

Dufee

1975

Hongkong

6,20%

Ludlam

1969

Jepang

16,5%

Suzuki

1971

Singapura

17,2%

Singh

1968

Tanda dan Gejala

Pada individu imunokompeten yang tidak hamil, infeksi toxoplasma gondii


biasanya tanpa gejala. Sekitar 10-20% pasien mengembangkan limfadenitis atau
sindrom, seperti flu ringan ditandai dengan demam, malaise, mialgia, sakit
kepala, sakit tenggorokan, limfadenopati dan ruam. Dalam beberapa kasus,
penyakit ini bisa meniru mononukleosis menular. Gejala biasanya dapat hilang
tanpa pengobatan dalam beberapa minggu ke bulan, meskipun beberapa kasus
dapat memakan waktu hingga satu tahun. Gejala berat, termasuk myositis,
miokarditis, pneumonitis dan tanda-tanda neurologis termasuk kelumpuhan
wajah, perubahan refleks parah, hemiplegia dan koma, tapi jarang. Ensefalitis,
dengan gejala sakit kepala, disorientasi, mengantuk, hemiparesis, perubahan
refleks dan kejang, dapat menyebabkan koma dan kematian. Nekrosis
perbanyakan parasit dapat menyebabkan beberapa abses dalam jaringan saraf
dengan gejala lesi. Chorioretinitis, miokarditis, dan pneumonitis juga terjadi.
Penularan Toksoplasmosis tidak secara langsung ditularkan dari orang ke orang
kecuali dalam rahim (Institute for International Cooperation in Animal Biologics,
2005).

Tanda-tanda yang terkait dengan toksoplasmosis yaitu (Medows, 2005):


1)

Toxoplasma pada orang yang imunokompeten

Hanya 10-20% dari infeksi toksoplasma pada orang imunokompeten dikaitkan


dengan tanda-tanda penyakit. Biasanya, pembengkakan kelenjar getah bening
(sering di leher). Gejala lain bisa termasuk demam, malaise, keringat malam,
nyeri otot, ruam makulopapular dan sakit tenggorokan.
2)

Toxoplasmosis pada orang dengan sistem kekebalan yang lemah

Toxoplasmosis pada orang dengan sistem kekebalan yang lemah misalnya,


pasien dengan AIDS dan kanker. Pada pasien ini, infeksi mungkin melibatkan
otak dan sistem syaraf, menyebabkan ensefalitis dengan gejala termasuk
demam, sakit kepala, kejang-kejang dan masalah penglihatan, ucapan, gerakan
atau pemikiran. manifestasi lain dari penyakit ini termasuk penyakit paru-paru,
menyebabkan demam, batuk atau sesak nafas dan miokarditis dapat
menyebabkan gejala penyakit jantung, dan aritmia.
3)

Toxoplasma Okular

Toksoplasmosis okular oleh uveitis, sering unilateral, dapat dilihat pada remaja
dan dewasa muda, sindrom ini sering merupakan akibat dari infeksi kongenital
tanpa gejala atau menunda hasil infeksi postnatal. Infeksi diperoleh pada saat
atau sebelum kehamilan sehingga menyebabkan bayi toksoplasmosis bawaan.
Banyak bayi yang terinfeksi tidak menunjukkan gejala saat lahir, namun
sebagian besar akan mengembangkan pembelajaran dan visual cacat atau
bahkan yang parah, infeksi yang mengancam jiwa di masa depan, jika tidak
ditangani.
4)

Toksoplasmosis pada wanita hamil

Kebanyakan wanita yang terinfeksi selama kehamilan tidak menunjukkan tandatanda penyakit. Hanya wanita tanpa infeksi sebelumnya dapat menularkan
infeksi ke janin. Kemungkinan penyakit toksoplasmosis bawaan terjadi ketika
bayi baru lahir, tergantung pada tahap kehamilan saat infeksi ibu terjadi. Pada
kondisi tertentu, infeksi pada wanita selama kehamilan menyebabkan abortus
spontan, lahir mati, dan kelahiran prematur. Aborsi dan stillbirths juga dapat
dipertimbangkan, terutama bila infeksi terjadi pada trimester pertama. Tanda
dan gejalanya yaitu penglihatan kabur, rasa sakit, fotofobia, dan kehilangan
sebagian atau seluruh keseimbangan tubuh.
5)

Toxoplasmosis congenital

Bayi yang terinfeksi selama kehamilan trimester pertama atau kedua yang paling
mungkin untuk menunjukkan gejala parah setelah lahir. Tanda-tandanya yaitu
demam, pembengkakan kelenjar getah bening, sakit kuning (menguningnya kulit
dan mata), sebuah kepala yang sangat besar atau bahkan sangat kecil, ruam,
memar, pendarahan, anemia, dan pembesaran hati atau limpa. Mereka yang
terinfeksi selama trimester terakhir biasanya tidak menunjukkan tanda-tanda
infeksi pada kelahiran, tetapi mungkin menunjukkan tanda-tanda toksoplasmosis
okular atau penundaan perkembangan di kemudian hari.

F.

Perubahan Makroskopis Pada Penyakit Toxoplasmosis

Sarang-sarang nekrosa dapat ditemukan didalam paru-paru, hati, limpa, anak


ginjal dan sel-sel disekitar sarang-sarang ini mengandung toxoplasmosis yang
tergabung dalam koloni-koloni terminal (Pseudo-cysts) atau parasit-parasit itu
terletak bebas dalam jaringan-jaringan. Toxoplasma banyak dijumpai didalam
sel-sel pada pinggir ulkus-ulkus usus.
Didalam otak parasit-parasit terlihat didalam sel-sel glia atau neuron sebagai
paraasit-parasit intra selluler atau sebagai koloni-koloni terminal (pseudo cysts)..
Protozoa itu juga berada bebas dalam jaringan. Reaksi radang umumnya jelas
terlihat, sebagai gliosis, mikroglia, atan astrosit-astrosit. Penyerbukan limfositlimfosit dalam ruang virchow robin, disamping nekrosa lokal jaringan otak. Juga
terjadi proliferasi sel-sel adventisia, disamping nekrosa lokal jaringan otak.
Perubahan-perubahan itu paling banyak terdapat dalam cortex cerebralis. Parasit
itu juga bisa dijumpai pada selaput otak.
Hati memperlihatkan perdarahan-perdarahan lokal yaitu gambaran degenerasi
dan reaksi seluler disamping sarang-sarang nekrosa tersebut di atas. Parasitparasit dapat ditemukan didalam makrofag atau didalam sel-sel hati. Didalam
limpa kadang-kadang dijumpai sel-sel reticulum dan makrofag-makrofag. Parasitparasit terlihat didalam miokard yakni didalam makrofag-makrofag atau didalam
miofibril. Disamping itu serabut-serabut otot degenerasi.
Toxoplasmosis sekali-sekali ditemukan di dalam mata anjing. Disamping itu juga
memperlihatkan gejala renitis, newritis. Pada unggas toxoplasmosis otak
merupakan perubahan-perubahan yang sering terlihat.

G.

Diagnosis Toxoplasmosis

Meskipun insiden infeksi toksoplasmosis tinggi, diagnosis klinis jarang dilakukan


karena tanda klinis dari toxoplasmosis mirip dengan penyakit infeksi lainnya. Uji
laboratorium biasanya digunakan untuk diagnosis. Hanya mendeteksi antibodi
yang spesifik saja tidak cukup karena banyak manusia dan binatang memiliki
titer antibodi. Sebuah infeksi baru dapat menjadi pembeda dengan deteksi
peningkatan jumlah antibodi (seroconversion) dari isotypes yang berbeda (IgG,
IgM, IgA) atau dari sirkulasi. Deteksi parasit yang bebas (takizoit) pada kombinasi
dengan gejala klinis dapat mengkonfirmasikan suatu infeksi, sebagai contoh
pada biopsi atau abortion material. Deteksi kista jaringan (hanya seperti antibodi
saja) tidak mengkonfirmasi infeksi aktif.

Identifikasi Toxoplasma gondii dalam darah atau cairan tubuh (Medows, 2005)
1.
Isolasi T. gondii dalam darah atau cairan tubuh (misalnya, CSF, cairan
ketuban) dengan inokulasi kultur jaringan.
2.

Fluorescent antibodi atau tachyzooites pewarnaan immunoperoxidase.

3.

Reaksi berantai polimerase (PCR) untuk deteksi T. gondii DNA.

4.

Serologi

a)

ELISA untuk mendeteksi IgG, IgM, IgA atau antibodi IgE

b) IFA deteksi IgG atau IgM.


IgM spesifik tes yang dilakukan bila diperlukan untuk menentukan waktu infeksi,
misalnya dalam sebuah pregnansi. Sebuah tes negatif yang kuat IgM
menunjukkan bahwa infeksi ini tidak baru, tetapi tes IgM positif sulit untuk
menginterpretasikan. IgM spesifik toksoplasma dapat ditemukan hingga 18 bulan
setelah infeksi akut dan positif palsu yang umum.
c)

Uji aviditas imunoglobulin G.

d) Immunosorbant aglutinasi untuk IgM atau IgA.


e) Uji Sabin-Feldman dye, hemaglutinasi tidak langsung, aglutinasi lateks,
aglutinasi dimodifikasi dan fiksasi komplemen.
5.

Pencitraan Radiologi

a) Computed Tomography (CT) atau radiologi dapat menunjukkan


toksoplasmosis otak, USG dapat digunakan pada janin dan kalsifikasi atau
ventrikel membesar dalam otak bayi baru lahir.
b) CT atau MRI dapat menunjukkan beberapa kontras, bilateral meningkat
("cincin-lesi") dalam otak.

H.

Diagnosis Toxoplasmosis Kongenital Pada Bayi.

Di Indonesia sering dijumpai bayi yang dilahirkan dengan kelainan kongnital.


Penyebab kelainan kongenital karena infeksi termasuk golongan toxoplasma
janin mulai membentuk zat anti pada akhir trimester pertama, yang terdiri dari
IgM zat anti ini biasanya menghilang setelah 1-3 bulan. Zat anti IgM pada bayi
didapat dari ibunya melalui plasenta Konsentrasi IgG pada neonatus berkurang,
dan akan naik lagi bila bayi dapat mebuat IgG sendiri pada umur lebih kurang 3
bulan. Serodiagnosis infeksi kongenital berdasarkan kenaikan jumlah zat anti IgG
spesifik mau deteksi zat anti IgM spesifik. Tujuan penulisan makalah ini untuk
mengingat kembali kepentingan pemeriksaan zat anti IgG pada paired sera
untuk diagnosis toxoplasmosis kongenital bila zat anti IgG tidak ditemukan.
Pada bulan Januari 1986 Sampai Juni 1988 staf bagian parasitologi Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia yaitu Srisasi Ganda Husada telah melakukan
penelitian tentang toxoplasmosis yaitu telah memeriksa 99 bayi berumur 1 hari
sampai 6 bulan yang tersangka menderita toxoplasmosis kongenital. Bayi-bayi
ini dikirim oleh RS. Dr. Cipto Mangunkusumo, rumah sakit lain yang ada di Jakarta
dan dari dokter-dokter praktek pribadi. Kelainan klinik pada bayi-bayi yang
tersangka toxoplasmosis kongenital ini adalah merupakan trias klasik
yaituHidrocephalus, korioretinitis, dan perkapuran otak. Ada bayi yang hanya
menunjukkan suatu kelainan seperti hepatosplenomegali katarak, mikrosefalus,
kejang, dan ada yang menunjukkan lebih dari satu kelainan di atas.
Dari tiap bayi diambil darah vena atan darah tali pusat serum dipisahkan dari
gumpalan darah dan disimpan dalam frezer pada suhu 20C sampai diperiksa 2m
anti IgM ditentukan dengan Elisa dengan menggunakan test kit Eti-Toxox-M
reverse dari sorin Biomedica. Dalam test kit ini tersedia lempeng-lempeng plastik
dengan sumur-sumur ini diisi dengan serum kontrol dan serum pendertia,
kemudian diinkubasi selama 1 jam pada suhu 370C. Bila dalam serum tersebut
terdapat IgM spesifik, maka IgM ini akan diikat dan menempel pada dasar sumur.
Cairan dalam sumur-sumur dibuang dan lempeng-lempeng dicuci. Kemudian
sumur-sumur diisi dengan toxoplasmosis entigen yang dibuat dari toxoplasma
gondii RH Strain antigen ini dicanlpur dengan Enzyme tracer yang mengandung
IgG terhadap toxoplasma gondii (dari tikus) yang dikonjugasi pada horse radish
peroxydase. Setelah diinkubasi kembali selama 1 jam pada 370C, maka
toxoplasma gondii akan terikat pada IgM spesifik dan enzim tracer yang
menempel pada IgG terhadap toxoplasma gondii. Dengan demikian antivitas
enzim ini proposional dengan konsentrasi IgM spesifik dalam serum penderita
atau kontrol. Aktivitas enzim diukur dengan menambahkan Tetra
Methilbenzidene chromogen/substrat yang tidak warna. Lempeng-lempeng
diinkubasi selama 30 menit pada suhu kamar. Enzym dicampur dengan
chromogen substrat menimbulkan warna kuning yang diukur dengan
spektrofotometer dengan filter 45Omm setelah reaksi dihentikan dengan laluran
H2SO4In. Yang dianggap positif adalah nilai besar dari pada Cut off Control.

Zat anti IgG pada bayi yang datang sebelum Juni 1987 di tentukan dengan
mikroteknik tes hemagtutinasi tidak langsung (IHA) menurut Milgram dengan
menggunakan antigen dari laboratorium NAMRU 2 yang dibuat dari RH strain
toxoplasma gondii sebelum diperiksa serum diinativasi pada suhu 56C selama
setengah jam,. Titer dimana masih tampak aglutinasi. Mulai Juni 1987 telah
tersedia Toxo Elisa Test Kit dari MA Bio product dan untuk penentuan zat anti IgG
lalu digunakan Test Kit tersebut. Dalam Test Kit tersebut digunakan lempenglempeng plastik dengan sumur-sumur yang telah dilapisi dengan antigen
toxoplasma gondii.
Sumur-sumur ini diisi dengan senun kontrol dan serum penderita. Kemudian
diinkubasi 45 menit pada suhu kamar. Bila serum yang diperiksa mengandung
zat anti IgG spesifik maka zat anti ini terikat pada antigen. Setelah dicuci sumursumur diisi dengan antihuman IgG yang dikonjugasi pada enzim alkalin
fosfatase. Lempeng-lempeng diinkubasi selama 45 menit pada subu kamar.
Konjugat ini akan terikat pada IgG spesifik (bila) ada pada dasar sumur diisi
dengan substat P-nitro fenifostat. Setelah diinkubasi kembali selama 45 menit
subtract akan dihirrolisa oleh enzim yang menimbulkan warna kuning. Setelah
reaksi dihentikan dengan larutan Na OH I N perubahan warna dibaca dengan
spektrofotometer dengan filter 405 mm. Intentitas perubahan warna sejajar
dengan jumlah IgG spesifik. Yang dianggap positif adalah nilai yang sama dengan
atau lebih besar dapat pada 0,21.
Hasil penelitiannya yaitu dari 99 terdapat 79 bayi yang tersangka toxoplasmosis
kongenital. Dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 3. Hasil Pemeriksaan IgM pada 79 Bayi Tersangka Toxoplasmosis
Kongenital.
Hasil Yang
Didapat

Jumlah

Persentase (%)

Positif

10,1

Negatif

71

89,9

Jumlah

79

100

Pada Tabel 3 di atas dapat dilihat, bahwa IgM spesifik ditemukan pada 8 bayi
(10,1) yaitu 4 bayi berumur 2 hari sampai 5 bulan yang secara berturut-turut
menunjukkan kelainan kongenital multipel dan hepatospenomegali, anemia
gravis dan demam, mikro sephalus, khorioretinitis dan katarak. Pemeriksaan IgG
dengan Elisa menunjukkan nilai positif tinggi pada keempat bayi tersebut yaitu
0,73-0,82-1,22-0,97. Pemeriksaan IgG pada 4 bayi lainnya dilakukan dengan test
IHA dengan hasil titer 1:1024 (t.) pada bayi berumur 6 bulan dengan kelainan
kongenital multipel, titer 1:64 pada bayi berumur 6 bulan.

Umur

IgM +

IgG

Gejala

2 hari

0,62

0,73

Kelainan
kongenital
multipel +
hepatosple
nomegali

2 bulan

0,36

0,82

H. Spenomegali
+ anemia

3 bulan

0,67

1,22

Mikrosefalus

5 bulan

0,28

0,97

Khorioretinitis +
Katarak

6 bulan

0,28

Kelainan
kongenital

4,5 bulan

0,28

64

Atropi orak kiri

5,6 bulan

0,36

32

Kelainan mata

6 hari

0,33

Hiperbilirubinemi
a

Tabel 4. Hasil Pemeriksaan IsM dan IgG Pada 8 bayi dengan Diagnosis Serologik
Toxoplasmosis Kongenital.

Dari tabel di atas dapat dilihat diagnosis toxoplasmosis kongenital pada 8 bayi
dengan det.eksi IgM + dan IgG di dapat basil yang berbeda antara pemeriksaan
dengan IgM dan IgG. Menurut Remington dkk, (1980) IgM menghilang 3-4 bulan
setelah muncul dalam serum, tetapi kadang-kadang dapat ditemukan lebih lama.
Desmonts dkk, 1975 seperti dikutip Vejtorp (1980)menemukan zat antigen IgM
hanya pada 25% bayi dengan toxoplasmosis kongenital.
Penanganan
Indikasi infeksi pada janin bisa diketahui dari pemeriksaan USG, yaitu terdapat
cairan berlebihan pada perut (asites), perkapuran pada otak atau pelebaran
saluran cairan otak (ventrikel). Sebaliknya bisa saja sampai lahir tidak
menampakkan gejala apapun, namun kemudian terjadi retinitis (radang retina
mata), penambahan cairan otak (hidrosefalus), atau perkapuran pada otak dan
hati.
Pemeriksaan awal bisa dilakukan dengan pengambilan jaringan (biopsi) dan
pemeriksaan serum (serologis). Umumnya cara kedua yang sering dilakukan.
Pada pemeriksaan serologi akan dilakukan pemeriksaan untuk mengetahui
adanya reaksi imun dalam darah, dengan cara mendeteksi adanya IgG
(imunoglobulin G), IgM, IgA, IgE. Pemeriksaan IgM untuk ini mengetahui infeksi
baru. Setelah IgM meningkat, maka seseorang akan memberikan reaksi imun
berupa peningkatan IgG yang kemudian menetap. IgA merupakan reaksi yang
lebih spesifik untuk mengetahui adanya serangan infeksi baru, terlebih setelah
kini diketahui lgM dapat menetap bertahun-tahun, meskipun hanya sebagian
kecil kasus.

Sebenarnya sebagian besar orang telah terinfeksi parasit toksoplasma ini.


Namun sebagian besar diantaranya telah membentuk kekebalan tubuh sehingga
tidak berkembang, dan parasit terbungkus dalam kista yang terbentuk dari kerak
perkapuran (kalsifikasi). Sehingga wanita hamil yang telah memiliki lgM negatif
dan lgG positif berarti telah memiliki kekebalan dan tidak perlu khawatir
terinfeksi. Sebaliknya yang memiliki lgM dan lgG negatif harus melakukan
pemeriksaan secara kontinyu setiap 3 bulan untuk mengetahui secara dini bila
terjadi infeksi.
Bagaimana bila lgM dan lgG positif ? Untuk ini disarankan melakukan
pemeriksaan ulang. Bila ada peningkatan lgG yang signifikan, diduga timbul
infeksi baru. Meski ini jarang terjadi, tetapi adakalanya terjadi. Untuk lebih
memastikan akan dilakukan juga pemeriksaan lgA. Pemeriksaan bisa juga
dilakukan dengan PCR, yaitu pemeriksaan laboratorium dari sejumlah kecil
protein parasit ini yang diambil dari cairan ketuban atau darah janin yang
kemudian digandakan.
Bila indikasi infeksi sudah pasti, yaitu lgM dan lgA positif, harus segera dilakukan
penanganan sedini mungkin. Pengobatan bisa dilakukan dengan pemberian sulfa
danpirimethamin atau spiramycin dan clindamycin. Sulfa
dan pirimethamin dapat menembus plasenta dengan baik sehingga dianjurkan
untuk pengobatan pertama. Terapi harus dilakukan terus sampai persalinan.
Bahkan setelah persalinan akan dilakukan pemeriksaan pada bayi. Bila didapat
lgM positif maka bisa dipakstikan bayi telah terinfeksi. Meski hasilnya negatif
sekalipun, tetap harus dilakukan pemeriksaan berkala sesudahnya. Dengan
pemeriksaan dan pengobatan secara dini penularan pada bayi akan bisa ditekan
seminimal mungkin. Selain itu pengobatan dini yang tepat saat awal kehamilan
akan menurunkan secara signifikan kemungkinan janin terinfeksi.

I.

Pencegahan Toxoplasmosis

Terdapat beberapa pencegahan yang dapat dilakukan untuk menghindari


penyakit toksoplasmosis, antara lain (Chin, 2000):
1.

Mendidik ibu hamil tentang langkah-langkah pencegahan:

a. Gunakan iradiasi daging atau memasak daging pada suhu 1500F (660C)
sebelum dimakan. Pembekuan daging tidak efektif untuk menghilangkan
Toxoplasma gondii.
b. Ibu hamil sebaiknya menghindari pembersihan sampah panci dan kontak
dengan kucing. Memakai sarung tangan saat berkebun dan mencuci tangan
setelah kerja dan sebelum makan.
2.
Makanan kucing sebaiknya kering, kalengan atau rebus dan mencegah
kucing tersebut berburu (menjaga mereka sebagai hewan peliharaan dalam
ruangan)

3.
Menghilangkan feses kucing (sebelum sporocyst menjadi infektif). Feses
kucing dapat dibakar atau dikubur. Mencuci tangan dengan bersih setelah
memegang material yang berpotensial terdapat Toxoplasma gondii.
4.
Cuci tangan sebelum makan dan setelah menangani daging mentah atau
setelah kontak dengan tanah yang mungkin terkontaminasi kotoran kucing.
5.
Control kucing liar dan mencegah mereka kontak dengan pasir yang
digunakan anak-anak untuk bermain.
6.
Penderita AIDS yang telah toxoplasmosis dengan gejala yang parah harus
menerima pengobatan profilaksis sepanjang hidup dengan pirimetamin,
sulfadiazine dan asam folinic.

J.

Pengobatan Toxoplasmosis

Sampai saat ini pengobatan yang terbaik adalah kombinasi pyrimethamine


dengan trisulfapyrimidine. Kombinasi ke dua obat ini secara sinergis akan
menghambat siklus p-amino asam benzoat dan siklus asam foist. Dosis yang
dianjurkan untuk pyrimethamine ialah 25-50 mg per hari selama sebulan dan
trisulfapyrimidine dengan dosis 2.000-6.000 mg sehari selama sebulan.
Karena efek samping obat tadi ialah leukopenia dan trombositopenia, maka
dianjurkan untuk menambahkan asam folat dan yeast selama pengobatan.
Trimetoprimn juga temyata efektif untuk pengobatan toxoplasmosis tetapi bila
dibandingkan dengan kombinasi antara pyrimethamine dan trisulfapyrimidine,
ternyata trimetoprim masih kalah efektifitasnya.
Spiramycin merupakan obat pilihan lain walaupun kurang efektif tetapi efek
sampingnya kurang bila dibandingkan dengan obat-obat sebelumnya. Dosis
spiramycin yang dianjurkan ialah 2-4 gram sehari yang di bagi dalam 2 atau 4
kali pemberian. Beberapa peneliti menganjurkan pengobatan wanita hamil
trimester pertama dengan spiramycin 2-3 gram sehari selama seminggu atau 3
minggu kemudian disusul 2 minggu tanpa obat. Demikian berselang seling
sampai sembuh. Pengobatan juga ditujukan pada penderita dengan gejala klinis
jelas dan terhadap bayi yang lahir dari ibu penderita toxoplasmosis.

BAB III
PENUTUP

A.

Kesimpulan

Penyakit toxoplasmosis merupakan penyakit kosmopolitan dengan frekuensi


tinggi di berbagai negara juga di Indonesia karena gejala klinisnya ringan maka
sering kali Input dari pengamatan dokter. Padahal akibat yang ditimbulkannya
memberikan beban berat bagi masyarakat seperti abortus, lahir mati maupun
cacat kongenital. Diagnosis secara laboratoris cukup mudah yaitu dengan
memeriksa antibodi kelas IgG dan IgM terhadap toxoplasmagondii akan dapat
diketahui status penyakit penderita.
Toxoplasmosis ditemukan oleh Nicelle dan Manceaux pada tahun 1909 yang
menyerang hewan pengerat di Tunisia, Afrika Utara. Selanjutnya setelah diselidiki
maka penyakit yang disebabkan oleh toxoplasmosis dianggap suatu genus
termasuk famili babesiidae.
Tanda-tanda yang terkait dengan toksoplasmosis tanpa gejala. Pasien
mengembangkan limfadenitis atau sindrom, seperti flu ringan ditandai dengan
demam, malaise, mialgia, sakit kepala, sakit tenggorokan, limfadenopati dan
ruam. myositis, miokarditis, pneumonitis dan tanda-tanda neurologis termasuk
kelumpuhan wajah, perubahan refleks parah, hemiplegi, koma, dan ensefalitis.
Diagnosis dapat dilakukan dengan cara Isolasi, pewarnaan immunoperoxidase,
PCR, serologi, dan pencitraan radiologi.
Pencegahan dapat dilakukan dengan pendidikn pada ibu hamil, memperhatikan
makanan kucing, menghilangkan feses kucing, PHBS, kontrol kucing liar, dan
pengobatan profilaksis pada penderita AIDS.

B.

Saran

1.
Dianjurkan untuk memeriksakan diri secara berkala pada wanita hamil
trimester pertama akan kemungkinan terinfeksi dengan toxoplasmosis.
2.
Bagi wanita yang mengindap toxoplasmosis sebaiknya tidak hamil dahulu
sampai sembuh atau virus dalam keadaan istirahat.
3.

Ibu hamil sebaiknya menghindari kontak langsung deng kucing.

4.
Gunakanlah iradiasi daging atau memasak daging pada suhu 1500F
(660C) sebelum dimakan.
DAFTAR PUSTAKA

http://keluargacemara.com/wp-content/upload/04-055fi-jpg

http://keluargacemara.com/kesehatan/kehamilan/infeksi-kehamilan-karenatoxoplasma.html#ixzz1pe3XIgdB
http://kesmas-unsoed.blogspot.com/2011/05/makalah-toxoplasmosis.html
http://www.totalkesehatananda.com/toxoplasmosis1.html
http://www.vet-indo.com/Kasus-Medis/Pengertian-Toxoplasmosis.html