Anda di halaman 1dari 27

BAB I

PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
kelahiran dianggap sebagai suatu kejadian fisiologis yang pada sebagian

besar ibu berakhir dengan normal dan tanpa komplikasi (Departmen of Health,
1993). Pada akhir masa puerperium (masa nifas), pemulihan persalinan secara
umum dianggap telah lengkap. Pandangan ini mungkin terlalu optimisis Bagi
banyak ibu, pemulihan adalah sesuatu yang berlangsung terjadi dan merupakan
proses fisiologis yang normal. Namun beberapa studi terbaru mengungkapkan
bahwa masalah-masalah kesehatan yang terjadi setelah melahirkan adalah
masalah yang banyak ditemui (Hillan, 1992b; glazener et al. 1993.
Hemoragi postpartum ( HPP) adalah masalah yang sering dialami oleh ibu
nifas. Seorang ibu nifas dikatakan hemoragi postpartum (HPP) jika perdarahan
pervaginam 500cc atau lebih, setelah kala III selesai (setelah plasenta lahir)
(Wikjosastro, 2000). Hemoragi postpartum ada kalanya merupakan perdarahan
yang hebat dan menakutkan sehingga dalam waktu singkat ibu jatuh ke dalam
syok, ataupun perdarahan yang menetes perlahan-lahan tetapi terjadi terus
menerus dan ini juga berbahaya karena akhrinya jumlah perdarahan menjadi
banyak yang mengakibatkan ibu menjadi lemas dan jatuh dalam syok (Mochtar,
1995). Hemoragi postpartum ini merupakan resiko tersering yang terjadi pada ibu
nifas.
Angka kejadian ibu nifas yang mengalami hemoragi postparum di
indonesia mencapai ( ) kejadian dengan berbagai faktor, adapun angka kejadian

hemoragi postpartum di ruang bersalin RSUD.IR.Soedarsono Pasuruan 2 bulan


terkahir (desember 2014 januari 2015) yaitu 9 kasus
Faktor-faktor terjadinya hemoragi postpartum pada ibu nifas , fakor
tersebut antara lain : truma jalan lahir (episiotomi yang lebar, laserasi perineum
vagina dan serviks, ruptur uterus), atonia uteri, retensi sisa plasenta dan gangguan
koagulasi (Mochtar 1995). Dari terjadinya hemoragi postpartum sendiri akan
berdampak pada ibu, dampak pada ibu antara lain : anemia, syok hipovolemik,
sindroma sheesan, bahkan hal terburuk yang bisa terjadi adalah meningkatnya
AKI (angka kematian ibu).
Tindakan yang dilakukan untuk menghindari terjadinya hemoragi
postpartum (HPP) adalah dengan pemeriksaan rutin selama masa kehamilan agar
dapat diketahui secara dini adakah faktor-faktor yang dapat menyebabkan
terjadinya hemoragi postpartum (HPP). Oleh karena itu untuk mengetahui faktor
tersering yang menyebabkan terjadinya hemoragi postpartum (HPP) maka peneliti
tertarik untuk mengambil judul gambaran faktor tersering yang mempengaruhi
terjadinya hemoragi postpartum pada ibu nifas.
1.2

Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka dapat dibuat rumusan masalahnya

yaitu, apa faktor tersering yang menyebabkan terjadinya hemoragi postpartum


(HPP) pada ibu nifas di ruang bersalin RSUD.IR.Soedarsono Pasuruan?
1.3

Tujuan Penelitian

1.3.1

Tujuan umum

Diketahuinya faktor tersering penyebab terjadinya hemoragi postpartum


pada ibu nifas di ruang bersalin RSUD.IR.Soedarsono Pasuruan.
1.4

Manfaat penelitian

1.4.1

Bagi pihak RSUD.IR.Soedarsono Pasuruan


Sebagai data tentang faktor tersering penyebab terjadinya hemoragi

postpartum pada ibu nifas dan meningkatkan ketanggapan proses persalinan pada
ibu.
1.4.2

Bagi responden
Meningkatkan pengetahuan ibu tentang resiko yang dapat terjadi selama

masa nifas (puerperium).

BAB 2
TINJAUAN TEORI
2.1

Konsep ibu nifas (periode postpartum)

2.1.1

Definisi nifas
Masa nifas disebut juga masa post partum atau puerperium adalah masa

atau waktu sejak bayi dilahirkan dan plasenta keluar lepas dari rahim,sampai
enam minggu berikutnya, disertai dengan pulihnya kembali organ organ yang
berkaitan dengan kandungan, yang mengalami perubahan seperti perlukaan dan
lain sebagainya berkaitan saat melahirkan.
Masa nifas (puerperium) adalah masa yang dimulai setelah plasenta lahir
dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali ke keadaan sebelum hamil. masa
nifas berlangsung selama kira-kira 2-6 minggu.(Sarwono, 2002:122).
2.1.2

Periode masa nifas

a. Periode immediate postpartum


Masa segera setelah plasenta lahir sampai dengan 24 jam.pada masa ini
sering terdapat banyak masalah seperti perdarahan
b. Periode Early postpartum (24 jam-1 minggu)
Masa dimana involsi uterus harus dipastikan dalam keadaan normal,tidak
ada perdarahan, lokea tidak berbau busuk, tidak demam,ibu cukup
mendapatkan makanan dan cairan,serta ibu dapat menyusui dengan baik
c. Periode Latei Postpartum (1-5 minggu)

Masa di mana perawatan dan pemeriksaan kondisi sehari-hari,serta


konseling KB.
2.1.3

Pembagian masa nifas

a. Peurperium Dini
Yaitu kepulihan dimana ibu telah diperbolehkan berdiri dan berjalan-jalan
b. Peurperium intermedial
Yaitu kepulihan menyeluruh alat-alat genitalis yang lamanya 6-8 minggu
c. Remote peurperium
Yaitu waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat sempurna terutama bila
selama hamil atau waktu persalinan mempunyai komplikasi
2.1.4

Perubahan-perubahan Fisik Pada Masa Nifas

2.1.4.1 Involusi Corpus Uteri


Segera setelah placenta lahir, fundus korpus uteri berkontraksi, letaknya
kira-kira pusat dan symfisis atau sedikit lebih tinggi. Umumnya organ ini
mencapai ukuran tidak hamil seperti semula dalam waktu ukuran sekitar 6-8
minggu. Proses involusio uterus meliputi 3 aktivitas, yaitu :
a. Kontraksi uterus
b.Autolysis sel-sel myometrium
c. Regenerasi epithelium

Tabel tinggi fundus uteri dan berat uterus menurut masa involusio.
Involusi
Bayi lahir

Tinggi Fundus Uteri


Setinggi pusat

Berat Uterus
1000 gram

Uri lahir

2 jari dibawah pusat

750 gram

1 minggu

Pertengahan pusat dan symfisis

500 gram

2 minggu

Tidak teraba di atas symfisis

350 gram

6 minggu

Bertambah kecil

50 gram

8 minggu
Sebesar normal
2.1.4.2 Bekas Implantasi Uri

30 gram

Tempat placenta mengecil karena kontraksi dan menonjol ke kavum uteri


dengan diameter 7,5 cm. Sesudah 2 minggu menjadi 3,5 cm. Pada minggu keenam
2,4 cm dan akhirnya pulih.
2.1.4.3 Lochea
Adalah cairan sekret yang berasal dari kavum uteri dan vagina dalam masa
nifas. Ada beberapa macam lochea antara lain :
a. Lochea rubra (cruenta)
Berwarna merah segar, berisi darah segar dan sisa-sisa selaput ketuban,
sel-sel desidua, vernik caseosa, lanugo dan mekonium, selama 2 hari pasca
persalinan.
b. Lochea sanguinolenta
Berwarna merah kuning berisi darah dan lendir.Terjadi pada hari ke 3-7
pasca persalinan.

c. Lochea serosa
Berwarna kuning, cairan tidak berdarah lagi, terjadi pada hari ke 7-14
pasca persalinan.
d. Lochea alba
Berupa cairan berwarna putih, berisi leukosit dan mukosa servik terjadi
setelah 2 minggu pasca persalinan.
e. Lochea purulenta
Terjadi dikarenakan adanya infeksi, keluar cairan seperti nanah dan berbau
busuk.
f. Lochiostasis
Yaitu lochea yang keluarnya tidak lancar.
2.1.4.4 Perubahan Servik dan Segmen Bawah Rahim
Segera setelah placenta lahir, servik dan segmen bawah rahim menjadi
struktur yang tipis, kolaps dan kendur. Mulut servik mengecil perlahan-lahan
sebelum beberapa hari mulut serviks mudah dimasuki oleh 2 jari, tetapi pada akhir
minggu pertam telah menjadi sedemikian sempitnya sehingga jari sulit untuk
masuk, sewaktu servik menyempit, servik menebal dan salurannya terbentuk
kembali, tetapi masih ada tanda-tanda servik parut.

Setelah kelahiran, miometrium segmen bawah rahim yang sangat menipis


berkontraksi dan beretraksi tetapi tidak sekuat pada korpus uteri. Dalam
perjalanan beberapa minggu segmen bawah rahim diubah dari struktur yang jelas
dan cukup besar untuk memuat kebanyakan kepala janin cukup bulan menjadi
isthmus yang hampir tidak dapat dilihat.
2.1.4.5 Perubahan Vagina dan Pintu Keluar Vagina
Pada perlukaan jalan lahir akan sembuh dalam 6-7 hari, bila tidak disertai
infeksi dan faktor gizi juga sangat berpengaruh dalam penyembuhan luka jalan
lahir tersebut, karena dengan gizi yang cukup akan mempercepat pertumbuhan
sel-sel tubuh yang rusak.
Vagina dan pintu keluar vagina pada bagian pertama masa nifas
membentuk lorong berdinding lunak dan luas yang ukurannya secara perlahanlahan mengecil tetapi jarang kembali ke ukuran semula. Rugae terlihat kembali
pada minggu ke 3 dan terdapatcarunculae mirtiformis yang khas pada wanita yang
pernah melahirkan.
2.1.4.6 Rasa Sakit
Yang disebut juga after pains (meriang atau mules-mules) disebabkan
oleh kontraksi rahim, biasanya berlangsung 2-4 hari pasca persalinan. Perlu
diberikan pengertian pada ibu, mengenai hal ini dan bila terlalu mengganggu
dapat diberikan obat-obatan anti sakit dan anti mulas.
2.1.4.8 Ligament-ligament

Ligament fasia dan diafragma pelvis yang meregang pada waktu


persalinan. Setelah bayi lahir, secara berangsur-angsur menjadi ciut dan pulih
kembali sehingga tidak jarang uterus jatuh ke belakang dan menjadi retrofleksi,
karena ligamentum rotundum menjadi kendor.
Setelah melahirkan, kebiasaan wanita Indonesia melakukan berkusuk
atau berurut dimana sewaktu diurut tekanan intra abdomen bertambah tinggi.
Karena setelah melahirkan ligamen, fasia dan jaringan penunjang menjadi kendor,
jika dilakukan urut, banyak wanita akan mengeluh kandungannya turun atau
terbalik. Untuk memulihkan kembali sebaiknya dengan latihan-latihan dan senam
pasca persalinan/senam nifas. Biasanya striae yang terjadi pada saat kehamilan
akan berkurang.
2.1.4.8 Perubahan Saluran Kencing
Peregangan dan dilatasi selama kehamilan yang menyebabkan perubahan
permanen di pelvis renalis dan ureter, kecuali ada infeksi kembali normal pada
waktu 2-8 minggu, bergantung pada :
a. Keadaan atau status sebelum persalinan
b. Lamanya partus kala II
c. Besarnya kepala yang menekan pada saat persalinan
2.1.4.9 Sistem Kardio Vaskuler
Penurunan volume darah diasumsikan dengan kehilangan darah. Pada saat
persalinan volume plasma menurun 1000 ml karena kehilangan darah dan

diuresis. Setelah 3 hari volume darah meningkat 1200 ml sebagai akibar cairan
ekstra seluler ke intra seluler. Total volume darah menurun 16% setelah
persalinan. Perkiraan kehilangan darah dapat dibandingkan setelah persalinan.
Kehilangan darah 500 ml akan menyebabkan pengurangan Hb 1%, nadi dan
cardiac output meningkat selama 1-2 jam post partum. Segera setelah melahirkan,
cardiac outputmeningkat 50-60 % dan menurun setelah 10 menit.
2.1.4.10 Payudara
Pada semua wanita setelah melahirkan, laktasi dimulai secara alami dan
normal. Proses menyusui mempunyai 2 mekanisme fisiologis, yang meliputi:
produksi susu dan sekresi susu atau let down.
Fisiologi dari produksi ASI masih belum sepenuhnya dimengerti.
Dipikirkan bahwa konsentrasiestrogen dan progesteron yang tinggi sebelum
kehamilan menghambat produksi prolaktin, yang dibutuhkan untuk laktasi. Hal ini
menjelaskan mengapa seorang wanita tidak memproduksi ASI sepanjang
kehamilannya.
Pada saat placenta lahir, terjadi perubahan drastis yang mendadak pada
kadar estrogen danprogesteron. Keadaan ini membuat kelenjar hipofise anterior
memproduksi prolaktin. Produksi ASI juga dipengaruhi oleh hisapan bayi yang
dapat menyebabkan kenaikan atau kelanjutan dari pelepasan prolaktin dari
hipofise anterior.
Seorang bayi akan menekan sinus laktiferussewaktu menghisap ASI.
Hisapan ini akan mendorong air susu melalui ductus laktiferus menuju tempat

akhir, yaitu mulut bayi. Aliran susu dan sinus laktiferus disebut let down dan
dalam hal ini dapat dirasakan oleh ibu
2.2

Konsep hemoragi postpartum

2.2.1

Definisi hemoragia postpartum


Hemoragi postpartum adalah hilangnya darah lebih dari 500 ml dalam 24

jam pertama setelah lahirnya bayi (William, 1981)


Hemoragi postpartum adalah kehilangan darah lebih dari 500 ml selama
atau setelah melahirkan (Doengoes, 2001)
2.2.2

Klasifikasi hemoragi postpartum

a. hemoragi postpartum primer


Mencakup semua kejadian hemoragi postpartum dalam 24 jam setelah
kelahiran.
b. hemoragi postpartum sekunder
Mencakup semua kasus hemoragi postpartum yang terjadi antara 24 jam
setelah kelahiran bayi dan 6 minggu masa postpartum.
2.3

Faktor penyebab hemoragi postpartum


Berbagai penyebab penting, baik berdiri sendiri maupun bersama-sama

yang dapat menimbulkan hemoragi postpartum adalah sebagai berikut.


a.

Truma jalan lahir


1) Episiotomi yang lebar

Episiotomi adalah suatu tindakan insisi pada perineum yang


menyebabkan terpotongnya selaput lender vagina, cicin selaput dara,
jaringan pada septum rektovaginal, otot-otot dan fasia perineum dan
kulit sebelah depan perineum (Ilmu Bedah Kebidanan).
2) Laserasi perineum, vagina, dan serviks

Laserasi perineum adalah robeknya perineum pada saat janin lahir.


Laserasi perineum terjadi pada hampir semua persalinan pertama dan
tidak jarang juga pada persalinan berikutnya. Robekan dapat terjadi di
bagian dalam serviks atau vagina, atau bagian luar genital atau
perineum atau anus.
Laserasi perineum dapat mengakibatkan perdarahan sesuai derajat
laserasi yang terjadi, pada laserasi perineum derajat I dan II jarang
terjadi perdarahan, namun pada laserasi perineum derajat III dan IV
sering menyebabkan perdarahan postpartum
3) Ruptur uterus
Ruptur uteri adalah pelepasan insisi yang lama disepanjang uterus
dengan robeknya selaput ketuban sehingga kavum uteri berhubung
langsung dengan kavum peritoneum ( Cunningham, 1995, P: 470 ).
b.

Kegiatan kompresi pembuluh darah tempat implantasi plesenta.


1) Miometrium hipotonia (atonia uteri).
a.

Anastesi umum (trauma dengan senyawa halogen dan eter).

b.

Perfusi miometrium yang kurang (hipotensi akibat perdarahan atau


anetesi konduksi

c.

Uterus yang terlalu menegang (janin yang besar, kehamilan


multipel, hidramion).

d.

Setelah persalinan yang lama.

e.

Setelah persalinan yang terlalu cepat.

f.

Setelah persalinan yang dirangsang dengan oksitosin dengan


jumlah yang besar.

g.

Paritas tinggi.

h.

Perdarahan akibat atonia uteri pada persalinan sebelumnya.

i.

Infeksi uterus.

2) Retensi sisa plasenta.


a.

Perlekatan yang abnormal (plasenta akreta dan perkreta).

b.

Tidak ada kelainan perlekatan (plasenta senturia).

c. Gangguan koagulasi.
Gangguan

koagulasi

yang

didapat

maupun

kongenital

akan

memperberat perdarahan akibat semua sebab di atas.


Dari semua penyeba di atas, 2 penyebab pedarahan postpartum dini
yang paling sering adalah sebagai berikut :
a)

Miometrium yang hipotonia ( atonia uteri).

Atonia uteri adalah keadaan lemahnya tonus/kontraksi rahim yang


menyebabkan uterus tidak mampu menutup perdarahan terbuka
dari tempat implantasi plasenta setelah bayi dan plasenta lahir.
b)
2.3.1

Perlukaan vagina serta serviks.

Faktor predisposisi
Faktor-faktor predisposisi hemoragi postpartum adalah sebagai berikut.

a. Kelahiran besar.
b. Kelainan forsep tengah.
c. Rotasi forsep.
d. Kelahiran sebelum pembukaan serviks lengkap.
e. Insisi serviks.
f. Kelahiran per vaginam.
g. Post-seksio caesarea.
h. Insisi uterus lain.
Dari beberapa hal di atas, kekeliruan pada pengolahan kala III aalah dengan
mempercepat keahiran plasenta seperti pengeluaran plasenta manual, dengan
terus menerus meremas uterus yang telah berkontraksi baik, sehingga dapat
menghambat mekanisme fisiologis pelepasan plasenta. Akibat pelepasan
plasenta yang tidak lengkap akan terjadi penigkatan jmlah perdarahan.

2.3.2

Tanda klinis

2.3.2.1

Pengaruh hemoragi postpartum bergantung pada.

a.Volume darah yang ada sebelum kehamilan.


b. Besarnya hipervolemia akibat kehamilan.
c.Tingkat anemia waktu kehamilan.
2.3.2.2 Tanda klinis hemoragi postpartum
a. Hipovolemia yang berat, hipoksia, takipnea, dispnea, asidosis, dan
sianosis.
b. Kehilangan darah dalam jumlah yang besar.
c. Distensi kavum uterus
2.4

Komplikasi
Komplikasi yang dapat terjadi pada ibu nifas akibat hemoragi postpartum.

2.4.1

Syok hipovolemik
Syok hipovolemik merupakan kondisi medis atau bedah dimana terjadi

kehilangan cairan dengan cepat yang berakhir pada kegagalan beberapa organ,
disebabkan oleh volume sirkulasi yang tidak adekuat dan berakibat pada perfusi
yang tidak adekuat. Paling sering, syok hipovolemik merupakan akibat kehilangan
darah yang cepat (syok hemoragik). Kehilangan darah dari luar yang akut akibat
trauma tembus dan perdarahan.

2.4.2

Sindroma Sheehan.
Sindroma Sheehan adalah suatu kondisi yang menyerang wanita yang

sebelumnya mengalami perdarahan yang berat/banyak (sampai mengancam


nyawanya) saat melahirkan atau paska melahirkan. Perdarahan yang banyak
mengakibatkan penurunan kadar oksigen pada organ dan jaringan.
Pada Sindrom Sheehan, terjadi kerusakan pada kelenjar hipofise yang
terletak di dalam otak, sehingga menyebabkan kurangnya produksi hormon yang
dihasilkannya (hipo-pituitarisme). Nama lainnya postpartum hipo-pituitarisme.
2.4.3

Anemia postpartum.
Anemia Postpartum adalah suatu keadaan dimana seseorang ibu sehabis

melahirkan sampai dengan kira-kira 5 minggu dalam kondisi pucat, lemah dan
kurang bertenaga. Anemia terjadi jika kadar hemoglobin dalam darah rendah.
Hemoglobin adalah zat pembawa oksigen dalam sel darah merah. Anemia
postpartum didefinisikan sebagai kadar hemoglobin kurang dari 10g/dl,
normalnya adalah 11-12g/dl. Ini di kaitkan dengan banyaknya kehilangan darah
atau perdarahan postpartum (hemoragia postpartum

2.5 Kerangka konsep. Faktor tersering yang menyebabkan terjadinya hemoragi postpartum pada ibu nifas di ruang bersalin
RSUD.IR.Soedarsono Pasuruan.

Episiotomi
yang lebar
Trauma jalan lahir

Laseri
perineum,
vagina dan
Ruptur uterus

perdarahan

Kegiatan kompresi pembuluh


darah tempat implantasi
plasenta

Miometrium
hipotonia
(atonia uteri)
Faktor-faktor yang
mempengaruhi hemoragi
Retensi sisa postpartum
plasenta

Gangguan
koagulasi

1.Kelahiran besar
2.kelainan forsep tengah
Keterangan :

: yang
menghubungkan

Faktor
predisposisi

3.rotasi forsep

: Yang di
teliti

4.kelahiran sebelum pembukaan


serviks lengkap
5.insisi serviks
6.kelainan pervaginam
7.post-seksio caesarea

BAB 3
METODE PENELITIAN
Dalam bab ini digunakan tentang metode yang digunakan dalam penelitian
meliputi: desain penelitian, kerangka kerja, definisi operasional, sampling desain
pengumpulan data, analisa data, etika penelitian dan keterbatasan.
3.1

Desain penelitian
Penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif. Penelitian

deskriptif bertujuan untuk menerangkan atau menggambarkan masalah penelitian


yang terjadi berdasarkan karakteristik tempat, waktu, umur, jenis kelamin, sosial,
ekonomi, pekerjaan, status perkawinan, cara hidup (pola hidup), dll (Hidayat,
2007). Dalam penelitian ini mendiskripsikan tentang gambaran faktor-faktor yang
menyebabkan terjadinya hemoragia postpartum pada ibu nifas di ruang bersalin
RSUD.IR.Soedarsono Pasuruan.
3.2

Lokasi dan waktu penelitian


penelitian ini dilakukan pada bulan desember 2014 - januari 2015 di ruang

bersalin RSUD.IR.Soedarsono Pasuruan.


3.3

kerangka kerja
kerangka kerja atau frame work adalah tahapan (langkah-langkah dalam

aktivitas ilmiah) mulai dari penerapan populasi, sampel, dan seterusnya, yaitu
kerangka kerja sejak awal penelitian dilaksanakan (Nursalam, 2003)

kerangka kerja dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.


Populasi
Ibu nifas yang mengalmai hemoragia postpartum di ruang bersalin
RSUD.IR.Soedarsono Pasuruan

Sampel
sebagian ibu nifas yang mengalmai hemoragia postpartum di ruang bersalin
RSUD.IR.Soedarsono Pasuruan sebanyak 6 ibu

Teknik sampling
Purposive

Desain penelitian
Deskriptif

Pengumpulan data
Observasi, quisioner

Pengolahan data
Coding, scoring, tabulating

Penyajian data dan hasil

Kesimpulan hasil
Gambar

3.3

Kerangka

kerja

penelitian

gambaran

faktor-faktor

yang

mempengaruhi terjadinya perdarahan (hemoragia postpartum) pada


ibu hamil usia muda di RSUD.IR.Soedarsono Pasuruan.

3.4

Populasi, Sampel, Sampling

3.4.1

Populasi penelitian
Populasi adalah keseluruhan dari subyek penelitian (Arikunto, 2006).

Populasi dalam penelitian ini adalah ibu hamil usia muda yang mengalami
perdarahan (hemoragia postpartum) di RSUD.IR.Soedarsono Pasuruan. Populasi
penelitian ( ) ibu hamil usia muda yang mengalami perdarahan (hemoragia
postpartum).
3.4.2

Sampel penelitian
Sampel adalah sebagian dari keseluruhan objek yang diteliti yang

dianggap mewakili populasi (Notoatmodjo, 2002). Sampel dari penelitian ini


adalah sebagian ibu hamil usia muda yang mengalami perdarahan (hemoragia
postpartum) di RSUD.IR.Soedarsono Pasuruan. Sejumlah ( )
3.4.2.1 Kriteria inklusi
a.Bersedia menjadi responden
b. Responden yang mengalami perdarahan (hemoragia postpartum) dengan
usia dibawah 20 tahun.
c. Responden yang kooperatif
3.4.2.2 Kriteria eksklusi
a. Tidak bersedia menjadi responden

b. Responden tidak mengalami perdarahan (hemoragia postpartum) dengan


usia dibawah 20 tahun
c. Responden tidak kooperatif
3.4.3

Teknik sampling
Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini teknik pengambilan

sampel menggunakan purposive sampling dimana pengambilan samplingnya


berdasarkan atas strata, atau daerah, tetapi sampelnya berdasarkan atas strata,
random, atau daerah, tetapi didasarkan atas dasarnya tujuan tertentu (Arikunto,
2002). Karena keterbatasn waktu, tenaga dan dana sehingga tidak dapat
mengambil sampel data digunakan rumus jika jumlah populasi lebih besar dari
100 maka pengambilan sampel 10% - 15% dari populasi jadi sampel yang adi
ambl peneliti adalah 10% dari 300 populasi yaitu 30 sampel (Arikunto)
3.5

Identifikasi variabel
Variabel adalah perilaku atas karakteristik yang memberikan nilai baca

terhadap sesuatu (Nursalam, 2003). Variabel dalam penelitian ini adalah gambaran
faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya perdarahan (hemoragia postpartum)
pada ibu hamil usia muda di RSUD.IR.Soedarsono Pasuruan.
3.7

Definisi operasional
Definisi operasional

adalah definisi berdasarkan karakteristik yang

diamati dan sesuatu yang didefinisikan. (Nursalam, 2003).

3.7

Tabel definisi operasional


Definisi

variabel

Parameter

Alat ukur

skala

skor

operasioanl
Gambaran faktor

Merupakan

Faktor-faktor yang

Hhhhhbbnb

Jhbbbjjsdh Hgvbvdb

terserig yang

hal tersering

menyebabkan

nkkkmmmn

chhcjsdbh

vbdhbhv

menyebabkan

dari berbagai

terjadinya

nbnbnbnbn

vbhvbdhv

bhbvbvdj

terjadinya

faktor yang

perdarahan

bbhbbn

bdsfiofhjh

hdcdbcb

hemoragi

akan

hemoragia

jjnkkmkmk

fhfjdhfjdhf bcncn n

postpartum pada

menyebabkan postpartum pada ibu

mkmkmkm

dhjdhfjdhd hbhfbhfb

ibu nifas

hemoragi

hamil usia muda

kmkmkm

jfjdjfdhfjf

- trauma jalan lahir

Observasi

Nominali

postpartum.

hfbhfb

tersering
-atonia uteri

Observasi

Nominal h

hh

-retensi sisa plasenta

Observasi

:1
Tidak : 0
n n n nn

Nominal

nnn
Ya : 1

-Gangguan koagulasi

quesioner

Nominal

tidak : 0

3.7

Pengumpulan dan pengolahan data

3.7.1

Instrumen penelitian
Instrumen adalah alat untuk mengukur variabel yang diamati dalam

penelitian (Nursalam, 2000). Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini


adalah Quisioner dan Observasi.
3.7.1.2 Quisioner
Quisioner yaitu pengumpulan data

mengenai suatu masalah yang

dilakukan dengan mengedarkan suatu daftar pertanyaan, diajukan secara tertulis


kepada sejumlah subyek unntuk mendapatkan tanggapan, informasi, jawaban, dan
sebagainya serta memperoleh data yang cukup luas (Notoatmodjo, 2005).
3.7.1.3 Observasi
Observasi adalah suatu hasil perbuatan jiwa secara aktif dan penuh
perhatian untuk menyadari adanya rangsangan, mula-mula rangsangan dari luar
mengeanai indra dan terjadilah penginderaan, kemudian apabila rangsangan itu
menarik perhatian akan dilanjutkan dengan adanya pengamatan (Notoatmodjo,
2002).
3.7.2

Pengumpulan data
Dalam hal ini peneliti membagikan quisioner kepada responding untuk di

isi. Responden yang dimaksud harus sesuai dengan kriteria inklusi dari penelitian.
Peneliti mengambil sampel dari masing-masing responden sesuai yang ditentukan
kemudian dibagikan quisioner apabila ada sebagian sample kurang mengerti atau

tidak bisa membaca, peneliti akan membantu dan membacakan pernyataan


quisioner tersebut. Sedangkan untuk observasi peneliti mengamati langsung
jalannya proses persalinan atau sesudah persalinan untuk menentukan terjadinya
perdarahan pada sample yang telah ditentukan. Setelah data terkumpul kemudia
ditabulasi dan dikelompokkan sesuai dengan variabel yang akan diteliti.
3.7.3

Pengolaha data

3.7.3.1 Coding
a. Quisioner
Alat ukur untuk faktor atonia uteri, retesi sisa plasenta, trauma jalan lahir,
gangguan koagulasi, memberi jawaba secara angka sehingga lebih muda
ditabulasi aat penelitian ini dilakukan.
1. Untuk jawaban Ya skornya = 1
2. Untuk jawaban Tidak skornya = 0
Setelah data terkumpul kemudian ditabulasi menggunakan rumus:

Keterangan :
N

: nilai yang didapat

Sp

: skor yang didapat

Sm

: skor maksimum

Hasil pengolahan data dalam bentuk prosentase lalu diinterpretasikan sebagai


berikut :
1. Apabila hasil jawaban Ya dari quisioner lebih dari 50% maka hasil
yang diperoleh yaitu dari berbagai faktor hemoragi postpartum maka
hal tersebut menjadi faktor tersering yang menyebabkan hemoragi
postpartum.
2. Apabila hasil jawaban Tidak dari quisioner lebih dari 50% maka
hasil yang diperoleh yaitu dari berbagai faktor hemoragi postpartum
maka hal tersebut bukan menjadi faktor tersering yang menyebabkan
hemoragi postpartum.
b. Observasi
Alat ukur untuk faktor hemoragi postpartum adalah dengan melakukan
observasi. Observasi adalah suatu hasil perbuatan jiwa secara aktif dan penuh
perhatian untuk menyadari adanya rangsangan , mula-mula rangsangan dari luar
mengenai indra dan terjadilah penginderaan, kemudian apabila rangsangan
tersebut menarik perhatian akan dilanjutkan dengan adanya pengamatan
(Notoatmodjo, 2002). Apabila faktor tersebut tersering untuk tejadinya hemoragi
postpartum, skornya = 1, untuk yang tidak menjadi faktor tersering, skornya = 0
Catatan :
1. Trauma jalan lahir
a. Tersering = 1

b. Tidak = 0
2. Atonia uteri
a. Tersering = 1
b. Tidak = 0
3. Retensi sisa plasenta
a. Tersering = 1
b. Tidak = 0
4. Gangguan kaogulasi
a. Tersering = 1
b. Tidak = 0
3.8

Etika penelitian
Etika penelitian merupakan masalah yang sangat penting dalam penelitian,

mengingat penelitian keperawatan berhubungan langsung dengan manusia, maka


segi etika penelitian harus diperhatikan. Dalam penelitian ini, peneliti membawa
rekomendasi lembaga tempat penelitian yang dituju, kemudian barulah peneliti
melakukan penelitian dengan menekankan masalah etika yang meliputi:
3.8.1

Informed consent
Merupakan bentuk persetujuan antara peneliti dengan responden penelitian

degan memberikan lembar persetujuan. Responden harus memenuhi kriteria


inklusi, harus dilengkapi judul penelitian dan manfaat dari penelitian. Jika subyek

menolak maka peneliti tidak boleh memaksa dan harus menghormati hak-hak
subyek.
3.8.2

Anomity
Subyek penelitian tidak mencantumkan atau tidak memberikan nama

respoden pada lembar ukur hanya menuliskan kode pada lembar pengumpulan
data.
3.8.3

Kerahasian
Dalam penelitian ini memberikan jaminan kerahasiaan hasil penelitian,

baik informasi atau masalah-masalah lain. Semua informasi yang telah diperoleh
akan dijamin kerahasiaannya oleh peneliti, hanya kelompok data tertentu yang
akan dilaporkan pada hasil penelitian.