Anda di halaman 1dari 20

STRATEGI PENINGKATAN MUTU MADRASAH

MAKALAH
Diajukan Kepada Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Purwokerto
Guna Memenuhi Sebagian Syarat Mengikuti Ujian Komprehensif
Disusun Oleh :
Nama

: Chalim Muchtarom

NIM

: 092333001

Prodi

: Kependidikan Islam

Jurusan

: Tarbiyah

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)


PURWOKERTO
2013
A. Pendahuluan

Mutu pendidikan sebagai salah satu pilar pengembangan sumber daya


manusia sangat penting maknanya bagi pembangunan nasional. Dapat dikatakan
bahwa masa depan bangsa terletak pada keberadaan pendidikan yang berkualitas.
Pendidikan yang berkualitas hanya akan muncul apabila terdapat lembaga pendidikan
yang berkualitas. Karena itu, upaya peningkatan mutu pendidikan merupakan titik
strategi dalam upaya menciptakan pendidikan yang berkualitas.
Dalam rangka peningkatan mutu lembaga pendidikan dalam hal ini
dikhususkan pada lembaga pendidikan Islam (madrasah), diperlukan strategi.
Berbagai strategi dalam upaya peningkatan mutu terus bergulir guna mencapai tujuan
yang diharapkan. Dalam upaya pencapaian tujuan, segala komponen yang ada di
madrasah perlu dirancang kembali agar mutu yang telah ada dapat ditingkatkan,
sehingga menuju kriteria madrasah yang bermutu. Hal ini yang menunjukkan bahwa
konsep strategi peningkatan mutu madrasah sangat menarik untuk dikaji dan disusun
sebagai sebuah makalah.

B.

Pembahasan
1. Strategi Peningkatan Mutu Madrasah
a. Pengertian Strategi Peningkatan Mutu Madrasah
Menurut Imam Moedjiono (2002), istilah strategi berasal dari kata Yunani
strategos, atau strategus dengan kata jamak strategi. Strategos berarti jenderal
tetapi dalam Yunani Kuno sering berarti perwira Negara (state officer) dengan
fungsi yang luas. Lama kelamaan strategy memperoleh pengertian baru.1 Azhar
Arsyad (2003), mengemukakan kata-kata strategy berasal dari kata kerja bahasa
Yunani stratego yang berarti merencanakan pemusnahan musuh lewat
penggunaan sumber-sumber yang efektif.2 Selanjutnya Chandler Jr (1966)
sebagaimana dikutip oleh Imam Moedjiono (2002) mengatakan bahwa strategi
dapat didefinisikan sebagai penetapan dari tujuan dan sasaran jangka panjang
suatu organisasi serta penggunaan serangkaian tindakan dan alokasi sumber daya
yang diperlukan untuk mencapai tujuan tersebut. Ada tiga komponen penting
dalam definisi Chandler ini, yaitu adanya tujuan dan sasaran, adanya cara
bertindak dan alokasi sumber daya untuk mencapai tujuan itu.3

1 Imam Moedjiono, Kepemimpinan Dan Keorganisasian (Yogyakarta: UII Press, 2002), Hlm. 145.

2 Azhar Arsyad, Pokok-Pokok Manajemen (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003), Hlm.


25.
3 Imam Moedjiono, Kepemimpinan Dan Keorganisasian (Yogyakarta: UII Press, 2002), Hlm. 146.

Peningkatan berarti kenaikan, pertambahan, pengembangan.4 Menurut


Jerome S. Arcaro, mutu adalah sebuah proses terstruktur untuk memperbaiki
keluaran yang dihasilkan.5 Selanjutnya menurut Daulat Purnama Tampubolon
(2001), peningkatan mutu pada dasarnya adalah evaluasi untuk menemukan
informasi tentang perencanaan dan pengendalian mutu. Juga tentang produk yang
dihasilkan, sehingga dapat dilakukan peningkatan (perbaikan) mutu atau
terobosan baru dalam usaha peningkatan mutu.6
Menurut Abuddin Nata (2004), madrasah merupakan isim makna dari fiil
madhi, dari darasa, mengandung arti tempat atau wahana untuk mengenyam
proses pembelajaran. Dengan demikian, secara teknik madrasah menggambarkan
proses pembelajaran secara formal dan memiliki konotasi spesifik. Madrasah itu
sendiri merupakan institusi peradaban Islam yang sangat penting. Madrasah
adalah salah satu jenis lembaga pendidikan islam yang berkembang di Indonesia
yang diusahakan di samping masjid dan pesantren. Meskipun madrasah pernah
berkembang pada abad 11 dan 12, atau periode pertengahan sejarah islam,
khususnya di wilayah Baghdad seperti madrasah al-Nizamiyah, kehadiran
madrasah di indonesia tampaknya merupakan fenomena modern pada awal abad
20. Tampaknya tokoh syekh zaenudin Labai dapat disebut sebagai tokoh pertama
4 Eko Endarmoko, Thesaurus Bahasa Indonesia (Jakarta: Gramedia, 2006), hlm. 637.
5 Jerome S Arcaro, Pendidikan Berbasis Mutu. Terj. Yosal Iriantera (Terj. Yosal
Iriantera: Yogyakarta,2006), hlm. 75.
6 Daulat Purnama Tampubolon, Perguruan Tinggi Bermutu (Jakarta: Gramedia
Pustaka Utama, 2001) Hlm. 115.

yang pada 10 oktober 1915 mendirikan lembaga pendidikan madrasah di padang


panjang, sebelum berkembangnya lembaga serupa di berbagai daerah. Madrasah
di Indonesia ini bukan merupakan kelanjutan atau adopsi langsung dari madrasah
abad pertengahan.7 Madrasah Selanjutnya menurut M. Ridlwan Nasir (2005),
madrasah adalah tempat pendidikan yang memberikan pendidikan dan pengajaran
yang berbeda di bawah naungan Departemen Agama. Yang termasuk ke dalam
kategori madrasah ini adalah lembaga pendidikan Ibtidaiyah, Tsanawiyah, Aliyah,
Muallimin, Muallimat serta Diniyah.8
Dengan demikian, yang dimaksud dengan strategi peningkatan mutu
madrasah adalah penetapan tujuan dan sasaran jangka panjang suatu lembaga
pendidikan Islam (madrasah) tentang produk yang dihasilkan melalui evaluasi
sehingga dapat dilakukan peningkatan (perbaikan) mutu atau terobosan baru
dalam usaha peningkatan mutu.

7, Abuddin Nata, Sejarah Pendidikan Islam (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004),
Hlm. 50.
8 M. Ridlwan Nasir, Mencari Tipologi Format Pendidikan Ideal (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005),
Hlm. 90.

2. Strategi Peningkatan Mutu Madrasah


Dalam rangka peningkatan mutu diperlukan strategi. Suatu strategi
diarahkan kepada perumusan visi dan misi. Pernyataan tersebut merupakan
langkah awal yang dilakukan dalam merencanakan peningkatan mutu.
a. Misi
Pengertian misi menurut Salusu (1996) sebagaimana dikutip oleh
Imam Moedjiono (2002) adalah pernyataan tentang tujuan organisasi yang
diekspresikan dalam produk dan pelayanan yang ditawarkan, kebutuhan
yang dapat ditanggulangi, kelompok masyarakat yang dilayani, nilai-nilai
yang dapat diperoleh, serta cita-cita aspirasi di masa depan. Dari pengertian
tersebut tampaknya ada lima unsure penting yang tidak dapat dilupakan
dalam merumuskan misi suatu organisasi. Pertama, produk apa atau
pelayanan apa yang akan ditawarkan. Kedua, apa produk atau pelayanan
yang ditawarkan itu dapat dan mampu memenuhi kebutuhan tertentu yang
diperlukan bahkan dicari karena belum tersedia selama ini. Ketiga, misi
harus secara tegas menyatakan public mana yang akan dilayani. Keempat,
bagaimana kualitas barang atau pelayanan yang hendak ditawarkan?
Kelima, aspirasi apa yang diinginkan di masa yang akan datang.9
b. Visi

9 Imam Moedjiono, Kepemimpinan dan Keorganisasian (Yogyakarta: UII Press, 2002), Hlm. 153.

Menurut Imam Moedjiono (2002), visi dapat dijelaskan sebagai suatu


deskripsi tentang bagaimana seharusnya keadaan suatu organisasi pada saat
ini berhasil dengan sukses melaksanakan strateginya dan menemukan
dirinya

yang

penuh

dengan

potensi

yang

mengagumkan.

Visi

menggambarkan masa depan yang lebih baik, memberi harapan dan mimpi,
tetapi juga menggambarkan hasil-hasil yang memuaskan. Visi mempunyai
kekuatan yang mampu mengundang, memanggil dan menyerukan kepada
setiap orang untuk beramai-ramai memasuki masa depan. Para perencana
akan lebih mudah menjabarkan petunjuk yang jelas bagaimana seharusnya
menjabarkan rencana-rencananya.10 Konsep visi yang baik adalah dibangun
dari komunitas organisasi. Perumusan visi yang efektif melibatkan semua
personel organisasi. Dengan demikian tingkat kepemilikan atas visi yang
telah dirumuskan menjadi tanggung jawab semua anggota institusi
pendidikan untuk dapat melakukan dan merealisasikan visi yang telah
disusun. Visi merupakan cerminan komitmen organisasi dan sebagai tujuan
bersama dalam membentuk organisasi yang ideal.11
Visi dan misi merupakan langkah awal dalam merencanakan program
peningkatan mutu. Selanjutnya, Juran berpendapat sebagaimana dikutip
oleh Daulat Purnama Tampubolon (2001), bahwa ada sepuluh langkah
yang harus dilaksanakan untuk peningkatan mutu secara maksimal.
10 Ibid,. hlm. 157.
11 Rohmat, Kepemimpinan Pendidikan (Yogyakarta: Cahaya Ilmu, 2010), hlm. 6.

1. Mengembangkan kesadaran dan peluang akan perlunya peningkatan mutu


2. Menentukan langkah peningkatan mutu dengan jelas dan dapat diukur
3. Menyusun langkah-langkah untuk mencapai tujuan peningkatan mutu
yang sudah ditentukan
4. Mempersiapkan pelatihan untuk melaksanakan peningkatan mutu
5. Melaksanakan program peningkatan mutu yang direncanakan
6. Membuat laporan kemajuan. Laporan itu pada dasarnya adalah hasil
evaluasi pelaksanaan untuk peningkatan mutu selanjutnya
7. Memberikan penghargaan kepada karyawan atau tim yang berhasil baik
(bermutu)
8. Mengumumkan hasil-hasil yang dicapai secara terbuka
9. Mempertahankan prestasi keberhasilan, dalam arti jangan turun lagi,
dengan memperbaiki kekurangan masa lalu
10. Membudayakan mutu dan peningkatan mutu sebagai bagian dari sistem
yang dimaksud.12
Dengan demikian, dapat disimpukan tentang sepuluh langkah
peningkatan mutu menurut Juran yakni mengembangkan kesadaran dan
peluang, menentukan tujuan dengan jelas dan terukur, menyusun langkah
yang sudah ditentukan, mempersiapkan pelatihan, melaksanakan program,
membuat laporan kemajuan, memberikan penghargaan, mengumumkan
hasil yang dicapai, mempertahankan prestasi dan membudayakan mutu.
Kemudian dalam bukunya Stephen W. Littlejohn (1985) mengatakan:
Active strategies of information involve asking other about the target
person and manipulating the environment in ways that set up the target

12 Daulat Purnama Tampubolon, Perguruan Tinggi Bermutu (Jakarta: Gramedia


Pustaka Utama, 2001) Hlm. 145.

person for observation.you might, for example, maneuver to get assigned


to a project group with the classmate you are interested in getting to
know. Dari pendapat ini dipahami bahwa Strategi aktif menginformasikan
yang melibatkan pertanyaan Tentang Target Orang Lain dan memanipulasi
lingkungan dalam menyediakan target untuk orang yang mengamati.
sebagai contoh, untuk dapat mengatur tugas dalam suatu kelompok/
organisasi dengan teman sekelas. Kamu harus berusaha bisa mendapatkan
apa yang ingin kamu ketahui.
Madrasah merupakan lembaga pendidikan Islam yang terorganisir,
dengan demikian madrasah juga dapat disebut sebagai organisasi. Segala
komponen yang ada di madrasah dirancang sedemikian rupa agar
terlaksana dengan baik. Hal ini dilakukan guna mencapai predikat
madrasah yang bermutu.
Madrasah yang bermutu merupakan dambaan bagi setiap pihak
terutama pengelolaanya dan strategi untuk meningkatkan mutu madrasah
tersebut. Berbagai upaya dalam rangka peningkatan mutu terus bergulir
guna mencapai tujuan yang diharapkan. Dalam upaya pencapaian tujuan,
segala komponen yang ada di madrasah perlu ditata kembali agar mutu
yang ada dapat ditingkatkan sehingga menuju kriteria madrasah yang
bermutu.
Dalam rangka peningkatan mutu pendidikan madrasah, menurut M.
Ridlwan Nasir (2005), pemerintah berupaya memberi bantuan sebagai berikut:

1. Di bidang pengajaran umum memberi bantuan terkait dengan pengadaan


buku-buku pelajaran pokok dan alat-alat pendidikan lainnya
2. Di bidang pengajaran, memberikan program penataran dan perbantuan
pengajar
3. Di bidang sarana fisik, memberikan dana untuk pembangunan gedung
sekolah.13
Menurut Abdullah Nasih Ulwan (1997: 761-762) diterangkan dalam kitab
Tarbiyatul Aulad fil Islam, yakni

:


,
,
.14

13 M. Ridlwan Nasir, Mencari Tipologi Format Pendidikan Ideal (Yogyakarta:


Pustaka Pelajar, 2005), Hlm. 98.
14 Abdullah Nasih Ulwan, Tarbiyatul Aulad Fil Islam, Juz 2 (Beirut: Darussalam,
1997), hlm. 761-762.

Maksud dari pernyataan di atas dalam kaitannya dengan peningkatan mutu


pendidikan madrasah yakni menurut Abdullah Nasih Ulwan (1994: 675)
sebagaimana dijelaskan dalam terjemah kitab Tarbiyatul Aulad fil Islam:
Menyediakan sarana kultural yang bermanfaat: Berdasarkan tanggung jawab
pendidikan dalam hubungannya kewajiban memberi pengajaran dan pendidikan
kepada

orang-orang

yang

berhak

menerimanya,

maka

mereka

harus

menyediakan sarana kultural yang bermanfaat dan bervariasi, sehingga anakanak berfikiran matang, hidupnya terbentuk dari segi akal dan intelektualnya.
Madrasah sebagai lembaga pendidikan Islam berupaya memberikan yang
terbak untuk pengguna pendidikan. Berbagai kegiatan penyempurnaan terhadap
fasilitas fisik dan sumber daya manusia yang professional terus diupayakan.
Sebab, mutu madrasah dapat terealisasikan dipengaruhi oleh banyak tahapan
kegiatan seperti kegiatan perencanaan, implementasi dan evaluasi.
1. Perencanaan Mutu Pada Madrasah
Menurut Daulat P. Tampubolon (2001), perencanaan mutu dapat
diartikan sebagai proses penyusunan langkah-langkah kegiatan secara
sistematis, rasional, berkiat, dan berjangka waktu, serta berdasarkan visi, misi,
dan prinsip tertentu untuk memenuhi kebutuhan para pelanggan (tujuan
mutu). 15

15 Tambupolon, Perguruan Tinggi Bermutu (Jakarta: Gramedia, 2001), Hlm. 268.

10

Perencanaan sebagaimana dikemukakan oleh Azhar Arsyad (2003),


adalah

proses

penyusunan

dan

penetapan

tujuan

dan

bagaimana

menempuhnya atau proses identifikasi ke mana anda akan menuju dan


bagaimana cara anda menempuh tujuan tersebut. 16
Perencanaan diawali dengan merasakan adanya kebutuhan. Ragam
kebutuhan di madrasah meliputi peningkatan input peserta didik, perbaikan
sarana prasarana dan peningkatan pemanfaatanya, peningkatan kuantitas dan
kualitas lulusan serta beragam kegiatan yang menunjang mutu madrasah.
Semua kegiatan tersebut terus direncanakan kembali guna mencapai kriteria
madrasah yang bermutu.
Kegiatan perencanaan mutu madrasah disesuaikan dengan sesuatu
rencana yang baik. Kegiatan perencanaan yang baik menurut M. Manullang
(1992), harusnya mengandung sifat-sifat sebagai berikut:
i.

Pemakaian

kata-kata

dalam

suatu

rencana haruslah sederhana dan terang (mudah dimengerti)


ii.

Suatu rencana hendaklah fleksibel

iii.

Suatu rencana hendaklah mempunyai


stabilitas

iv.

Suatu rencana hendaklah ada dalam


perimbangan

16Azhar Arsyad, Pokok-Pokok Manajemen (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003), hlm


78.

11

v.

Suatu rencana hendaklah meliputi semua


tindakan yang diperlukan17
Merencanakan sama halnya dengan memikirkan dan menetapkan

kegiatan yang akan dilakukan. Asumsinya apabila rencana yang ditetapkan


terorganisir dengan baik, maka hasilnya juga akan memuaskan. Sedangkan
kegiatan perencanaan mutu madrasah dalam bahasan ini merupakan kegiatan
perencanaan kembali oleh pihak madrasah agar mutu yang telah diperoleh
lebih meningkat.
2. Implementasi Mutu Pada Madrasah
Implementasi merupakan suatu proses penerapan ide, konsep,
kebijakan, atau inovasi dalam bentuk tindakan praktis sehingga memberikan
dampak, baik berupa perubahan pengetahuan, keterampilan, maupun nilai dan
sikap.18
Adapun implementasi mutu pada madrasah dilakukan melalui
pengorganisasian dan penggerakan. Menurut Ramayulis (2008), kegiatan
pengorganisasian merupakan implementasi dari perencanaan yang telah
ditetapkan sebelumnya. Dalam pengorganisasian ini perlu diperhatikan semua
kekuatan dan sumber daya yang dimiliki. Kegiatan penggerakan merupakan
17 M. Manullang, Dasar-Dasar Manajemen (Jakarta: Ghalia Indonesia, 1992), hlm.
92.
18 Oemar Hamalik. Dasar-Dasar Pengembangan Kurikulum (Bandung Remaja
Rosdakarya, 2008), hlm. 237.

12

suatu upaya untuk memberikan arahan bimbingan dan dorongan agar dapat
menjalankan tugasnya dengan kesadaran yang paling tinggi. Dengan adanya
pengorganisasian dan penggerakan, maka kegiatan implementasi mutu pada
madrasah diharapkan akan terlaksana dengan baik. 19
Mutu madrasah terkait dengan proses kegiatan madrasah yang
diselenggarakan secara menyeluruh. Menurut Amirudin Siahaan (2006),
dalam menyelenggarakan mutu pendidikan diharapkan seluruh komponen
yang bertanggung jawab terhadap pendidikan tersebut mampu melaksanakan
tugas pokoknya sehingga kinerjanya tercapai secara utuh dan menyeluruh.
Tanpa adanya kinerja yang menyeluruh, maka pencapaian tujuan pendidikan
tidak tercapai. 20
Implementasi merupakan proses penerapan rencana yang telah
ditetapkan sebelumnya agar tujuan yang telah ditetapkan dapat tercapai.
Apabila penerapan tersebut dilakukan dengan pengorganisasian dan
penggerakan terhadap kegiatan yang baik, maka hasilnya akan memuaskan.
Adapun kegiatan implementasi mutu madrasah dalam bahasan ini merupakan
kegiatan penerapan yang berdasarkan pada pengorganisasian dan penggerakan
yang telah direncanakan agar mutu madrasah meningkat.
3. Evaluasi Mutu Pada Madrasah
19 Ramayulis. Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta: Kalam Mulia, 2008), hlm. 102.
20 Amiruddin Siahaan. Manajemen Pengawasan Pendidikan (Jakarta: Ciputat Press,
2006),hlm. 76.

13

Dalam arti luas, evaluasi adalah suatu proses merencanakan,


memperoleh, dan menyediakan

informasi yang sangat diperlukan untuk

membuat alternatif-alternatif keputusan21.


Dalam pendidikan Islam menurut Ramayulis (2008), evaluasi
merupakan salah satu komponen dari sistem pendidikan Islam yang harus
dilakukan secara sistematis dan terencana sebagai alat untuk mengukur
keberhasilan atau target yang akan dicapai dalam proses pendidikan Islam dan
proses pembelajaran.
Mutu madrasah bersifat menyeluruh, menyangkut semua komponen,
baik pelaksana maupun kegiatan pendidikan. Merupakan sesuatu yang kurang
memungkinkan apabila hasil pendidikan yang bermutu dapat dicapai hanya
dengan satu komponen atau satu kegiatan. Karena setiap komponen dan
kegiatan saling bekerja sama dalam upaya peningkatan mutu madrasah.
Dengan demikian, hal tersebut memungkinkan untuk memudahkan evaluasi
mutu pada madrasah.
Menurut Abdullah Rachman Shaleh (1994), bahwa tujuan dan sasaran
pendidikan tidak mungkin akan tercapai kecuali materi pendidikan yang
tertuang pada kurikulum lembaga pendidikan terseleksi secara baik dan tepat.
Istilah Materi pendidikan berarti mengorganisir bidang ilmu pengetahuan
yang membentuk basis aktivitas lembaga pendidikan, bidang-bidang ilmu
21 Ngalim Purwanto, Prinsip-Prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran (Bandung: PT
Remaja Rosdakarya, 2004), hlm. 3.

14

pengetahuan ini satu dengan lainnya dipisah-pisah namun suatu kesatuan utuh
terpadu.22
Evaluasi merupakan kegiatan untuk mengumpulkan informasi. Apabila
informasi tersebut diperoleh secara sistematis dan terencana, maka hasilnya
akan memuaskan. Adapun maksud dari evaluasi mutu madrasah dalam
bahasan ini yaitu suatu kegiatan untuk mengukur keberhasilan atau target
yang akan dicapai dengan melihat kondisi komponen, baik pelaksana maupun
kegiatan yang ada pada madrasah. Dengan demikian diharapkan hasil evaluasi
tersebut dapat menunjang kegiatan dalam upaya peningkatan mutu pada
madrasah.

22 Abdurahman Shaleh Abdullah, Teori-Teori Pendidikan Berdasarkan Al-Quran


(Jakarta: Rineka Cipta, 1994), Hlm. 159.

15

C.

Kesimpulan
Berdasarkan pemaparan makalah yang berjudul Strategi Peningkatan
Mutu Madrasah, dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan strategi
peningkatan mutu madrasah adalah penetapan tujuan dan sasaran jangka panjang
suatu lembaga pendidikan Islam (madrasah) tentang produk yang dihasilkan
melalui evaluasi sehingga dapat dilakukan peningkatan (perbaikan) mutu atau
terobosan baru dalam usaha peningkatan mutu.
Madrasah sebagai lembaga pendidikan Islam berupaya memberikan yang
terbaik untuk pengguna pendidikan. Berbagai kegiatan penyempurnaan terhadap
fasilitas fisik dan Sumber Daya Manusia (SDM) yang profesional terus
diupayakan. Sebab, mutu madrasah dapat terealisasikan dipengaruhi oleh banyak
tahapan kegiatan seperti perencanaan, implementasi dan evaluasi.

D.

Penutup
Demikian pemaparan makalah yang berjudul Strategi Peningkatan Mutu
Madrasah. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis maupun pembaca.
Khususnya yang berkecimpung di dunia pendidikan.
Penulis sadari bahwa pokok-pokok pikiran yang disampaikan
belum lengkap dan operasional, bahkan masih jauh dari harapan.
Penulis berharap ini bukanlah satu-satunya makalah, tetapi
merupakan bagian kecil pikiran penulis yang bisa memberikan
warna pada dunia pendidikan pada umumnya dan generasi
muda serta remaja pada khususnya. Sehingga akan muncul

16

dunia pendidikan yang bermutu dan bermoral sesuai dengan


harapan kita.
Pada akhirnya terima kasih kami sampaikan pada semua
pihak, kritik dan saran penulis harapkan demi peningkatan kita
bersama.

17

DAFTAR PUSTAKA

Arcaro, Jerome S, 2006. Pendidikan Berbasis Mutu. Terj. Yosal Iriantera. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.
Arikunto, Suharsimi dan Cepi Safruddin Abdul Jabbar, 2008. Evaluasi Program
Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Arsyad, Azhar, 2003. Pokok-Pokok Manajemen. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Endarmoko, Eko, 2006. Thesaurus Bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia.
Gibson, jane Whitney, dkk, 1985. Reading Dan Study Guide For Management.
Florida: Academic Press.
Hamalik, Oemar, 2008. Dasar-Dasar Pengembangan Kurikulum. Bandung: Remaja
Rosdakarya.
Moedjiono, Imam, 2002. Kepemimpinan Dan Keorganisasian. Yogyakarta: UII Press.
Muhaimin, 2005. Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam di Sekolah,
Madrasah dan Perguruan Tinggi. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
M. Manullang, 1992. Dasar-Dasar Manajemen. Jakarta: Ghalia Indonesia.
Nasir, M. Ridlwan, 2005. Mencari Tipologi Format Pendidikan Ideal. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.
Nata, Abuddin, 2004. Sejarah Pendidikan Islam. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Ramayulis, 2008. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kalam Mulia.
Shaleh, Abdul Rachman, 2004. Madrasah Dan Pendidikan Anak Bangsa. Jakarta:
Raja Grafindo Persada.
Siahaan, Amiruddin, 2006. Manajemen Pengawasan Pendidikan. Jakarta: Ciputat
Press.

18

Tampubolon, Daulat Purnama, 2001. Perguruan Tinggi Bermutu. Jakarta: Gramedia


Pustaka Utama.
Ulwan, Abdullah Nasih, 1997. Tarbiyatul Aulad Fil Islam, Juz 2. Beirut: Darus
Salam.
, 2007. Tarbiyatul Aulad Fil Islam, Jilid 2. Terj. Jamaludin Miri.
Jakarta: Pustaka Amani.
Usman, Husaini, 2006. Manajemen. Jakarta: Bumi Aksara.

19