Anda di halaman 1dari 4

CENGKILUNG

Batas-batas wilayah:
Utara: Subak Waji
Timur: Subak Melayu
Selatan:
1. Banjar Jenah
2. Carik Kalangan (Kalangan Dangin & Dauh)
Barat: Sungai Ayung
Asal-usul nama:
Berdasarkan informasi yang dapat dikumpulkan nama
cengkilung berasal dari dua versi:
1. Versi pertama
Nama Cengkilung didasarkan atas keadaan geografis dari
kawasan tersebut; artinya kawasan yang banyak calungcalungnya: yang dimasksud dengan calung-calung adalah
keadaan tanah yang banyak ceruk-ceruknya kebawah (calungcalung). Dengan kata lain, celung-celung tersebut terutama
terletak di dekat Sungai Ayung di sebelah barat dan utara
banjar Cengkilung yang sekarang
2. Versi Kedua
Versi kedua menyebutkan bahwa nama cengkilung dikaitkan
dengan Sungai Ayung yang banyak belokannya di kawasan
cengkilung yang sekarang. Kawasan Cengkilung bagian
tenggara yang sekarang disebut dengan istilah gbgan yang
kemungkinan besar berasal dari kata gebug (serang).
Maksudnya adalah ketika Desa Bun diserang oleh Kerajaan
Mengwi terutama lascar yang berasal dari sibang menyerang
dari kawasan tenggara Cengkilung yang sekarang disebut
gbgan. Diketahui bahwa Desa Bun diserang oleh Kerajaan
Mengwi pada sekitar tahun 1700 karena raja Mengwi yang
bernama Cokorda Umbahyun (Cokorda Mayun) dibunuh oleh
rakyat Bun. Ketika itu, Cokorda Umbahyun yang baru sekitar
dua tahun menjadi raja di Mengwi, beranjang sana (bersantai,
berpiknik) di desa lambing. Di sana didengar informasi bahwa
I Gusti Ngurah Bun sebagai penguasa di Desa Bun
mengabdikan dirinya ke Sukawati, mendengar berita itu,
Cokorda Umbahyun marah dan dengan mendadak dengan
pengiring sekitar 400 org menyerang Desa Bun. Laskar
Mengwi kalah, Cokorda Umbahyun dapat ditewaskan. Setelah
ada yang melapor ke Mengwi sehingga Desa Bun diserang,
lascar dari sibang menyerang dari kawasan gbgan. Desa
pun hancur lebur, I Gusti Ngurah Bun tewas. Bukti sejarah
yang sekarang banyak orang-orang keturunan Sibang yang
bertempat tinggal (mengalih tempat) ke Cengkilung,
mempunyai sawah di bekas Desa Bun yang dijadikan kawasan

sawah. Bekas-bekas desa yang tergabung wilayah Bun adalah


Melayu, Pengumpian, Jungut, dan Bun sendiri. Sampai
sekarang masih ada peninggalan yang berasal dari jaman itu
berupa pura di Suba Umabun.
Keunikan:
1) Umumnya kuburan di Bali letaknya di sebelah barat daya
kawasan desa tersebut, tetapi di Cengkilung, kuburannya
terletak di bagian barat laut desa, dekat Sungai Ayung.
Kemungkinan besar karena dikaitkan dengan perkembangan
politik pada abad 18 dan 19, yakni kurang amannya situasi
dan kindisi georgrafis dan bagian selatan atau perbatasan,
sehingga kuburan Banjar Cengkilung dibuat di bagian barat
laut desa.
2) Keunikan dikaitkan upacara sangat berbeda seperti dengan
upacara di Banjar Kadua. Salah satu contoh: ketika upacara
sugihan salah satu sarana yang berbeda adalah dengan
menggunakan telur yang diguling (dipanggang) sedangkan di
Banjar Kedua misalnya menggunakan anak babi atau kucit.
3) Salah satu keunikan social masyarakat disana adalah sangat
patuh artinya kalu dalam istilah Balinya beriuk siuh atau
beriuk bebek maksudnya adalah: misalnya saja dalam hal
mengambil keputusan sangat tergantung dari perintah
pemimpin (tokoh) yang dalam hal ini adalah Bendesa.
4) Stratifikasi social di Cengkilung: kalau didasarkan atas system
catur warna (catur kasta) adalah sebagai berikut:
a) Golongan Brahmana tidak ada dijumpai di Banjar
Cengkilung dalam periode tradisional atau lama.
Sedangkan mulai sekitar tahun 90-an ada pendatang
baru dari Tabanan bertempat tinggal disana yang secara
kedinasan masuk ke Banjar Cengkilung.
b) Golongan Kesatria Dalem dan Kesatria Arya dalam masa
tradisional tidak dijumpai golongan Kesatria Dalem di
banjar tersebut, sedangkan Kesatria Arya sejak
berdirinya Banjar Cengkilung ada dua keluarga keturuna
Arya Wang Bang Pinatih: yang salah satu keluarganya
yang tinggal di kawasan gbgan dan salah satu lagi
tinggal di bagian utara Banjar Cengkilung
c) Golongan Waisya tidak ditemukan di Banjar Cengkilung.
d) Golongan Sudra atau Jaba adalah sebagian besar
penduduk yang tinggal di Banjar Cengkilung.
Yang membedakan Kesatria Dalem dengan Kesatria Arya
adalah: kalau Kesatria Dalem seperti Cokorda, Anak Agung,
Dewa, Ngakan, Pungakan, Sang, adalah keturunan Dalem Sri
Kresna Kepakisan yang dieajakan di Bali oleh Patih Gadja
Mada pada tahun 1352 masehi. Kesatria Arya adalah

keturunan para Arya dari majapahit yang berjasa memimpin


pasukan menyerang Bali pada tahun 1343 masehi.
Kayangan Tiga:
Banjar Cengkilung merupakan anjar adat atau desa adat
tersendiri. Artinya banjar ini mempunyai kayangan tiga: pura
desa, pura pusah, dan pura dalem tersendiri.

Kawasan keramat dan unik di sekitar Sungai Ayung:


Di sebelah barat dan barat laut Desa Cengkilung secara niskala
ditemukan ada tiga desa wong samar, yaitu
a) Di dekat jembatan di Sibang Sri Jati dengan jumlah penghuni
11 wong samar.
b) Di sekitar Batu Keben dengan jumlah penghuni tiga wong
samar.
c) Di sebelah barat daya Banjar Cengkilung atau barat Banjar
Kedua ada Banjar Baluran yang dihuni oleh lima wong samar
(dekat Dam Peraupan).
Banjar kedua di aliran Sungai Ayung di barat Banjar Kedua
ditemukan sumur kecil (bulakan kecil) yang airnya bias dipakai
untuk mengobati sakit gendongan (di tukad sinoman).
Di kawasan Sungai Cengkilung sampai dengan di Bantas sering
dijumpai wong samar dalam wujud bebek angsa. Sebelumnya
sering juga berwujud ikan julid aneh yang pendek dan besar (Jilid
Kendang) ikan itu tidak boleh ditangkap dan sangat berbahaya.
Tata Ruang:
Bentuk tempat di Banjar Cengkilung adalah berbentuk seperti
huruf l besar (L). dari utara desa itu memanjang ke selatan di
sebelah kiri dari kanan jalan kemudian berbelok ke timur sampai
dengan perbatasan Banjar Jenah dan Banjar Angga Baya. Salah
satu keunikan yang ada diperbatasan dengan Banjar Kedua
adalah: ada mabanjar dua, yaitu ke Cengkilung dan Br. Kedua.
Perlu diketahui bahwa di Cengkilung ditemukan sebuah pura
yang bernama Pura Gunung Sari yang disungsung oleh satu
keluarga, yakni kaluhuran dari Pandan. Letaknya di sebelah
tenggara Br. Cengkilung. Pura ini diduga dikaitkan dengan
perjalanan Dang Hyang Nirartha pada sekitar tahun 1490-an
atau akhir abad 15. Ada satu kompleks perumahan yang
dibangun sekitar 1980-an yang secara kedinasan masuk Br.
Cengkilung. Ada salah satu keunikan yang ditemukan di Br.
Cengkilung, yakni ada dua pura mambang diperkirakan pura ini
didirikan pada pertengahan abad 19, ketika memuncaknya
antara Kerajaan Badung dengan Kerajaan Mengwi. Mambang

artinya melayang di angkasa. Perlu dijelaskan pernah ada salah


seorang pasukan Badung dibunuh oleh Laskar Mengwi,
kemudian mayatnya ditarik-tarik ke bagian timur dan barat
dalam sebuah tali yang diikat pada pohon yang tinggi dengan
maksud agar Laskar Badung takut.