Anda di halaman 1dari 15

BAB I

STATUS PASIEN

I.

IDENTITAS PASIEN
Nama
: Nn. Y
Umur
: 20 tahun
Jenis kelamin :perempuan
Pekerjaan
: siswi
Alamat
: Sungai pagar
Status perkawinan : belum kawin

II.

ANAMNESIS
KU
: terdapat benjolan di payudara kiri
RPS
: pasie datang ke UGD dengan keluhan terdapat 1 benjolan di payudara
di sebelah kiri teraba benjolan sebesar ibu jari. Nyeri hilang timbul di
alami empat bulan ini. Demam tidak ada, sakit kepala tidak ada
RPD
: tidak pernah mengalami sakit seperti ini sebelumnya
RPK
: keluarga dari ayah pernah mengalami keluhan seperti ini
RSE
: pola makan teratur 3x1 hari

III.

PEMERIKSAAN TANDA VITAL


Tekanan darah
: 120/80 mmHg
Suhu tubuh
: 36,5C
Frekuensi denyut nadi : 78x/menit
Frekuensi nafas : 18x/menit
IV.
PEMERIKSAAN FISIK DIAGNOSTIK
IV.A.KEADAAN UMUM
Kesadaran
: composmentis
Keadaan umum : tampak sakit sedang
Tinggi badan :Berat badan
:Status gizi
:IV.B.PEMERIKSAAN KEPALA
Kepala
: tidak dilakukan pemeriksaan
Mata
: tidak dilakukan pemeriksaan
Telinga
: tidak dilakukan pemeriksaan
Hidung
: tidak dilakukan pemeriksaan
Mulut
: tidak dilakukan pemeriksaan
IV.C.PMERIKSAAN LEHER
Inspeksi
: leher simetris dan tidak ada pembesaran KGB
Palpasi
: tidak dilakukan pemeriksaan
Pemeriksaan trakea
: tidak dilakukan pemeriksaan
Tekanan vena sentral : tidak dilakukan pemeriksaan
IV.D.PEMRIKSAAN THORAKS

Inspeksi
Palpasi
Perkusi
Auskultasi

: tidak terdapat retraksi dinding dada


: fremitus taktil simetris kanan dan kiri, tidak ada krepitasi
: sonor pada dingding dada
: suara navas dasar vesukuler, wheezing (-/-), ronki (-/-)

IV.E.PEMERIKSAAN ABDOMEN
Inspeksi
: perut tampak datar
Auskultasi
: bising usus normal 8x/menit
Palpasi
: nyeri tekan(-),
Perkusi
: timpani
Pemeriksaan ren : tidak dilakukan pemeriksaan
Nyeri ketok ginjal : tidak dilakukan pemeriksaan
Pemeriksaan hepar : tidak dilakukan pemeriksaan
Pemeriksaan lien : tidak dilakukan pemeriksaan
Pemeriksaan asites : tidak ditemukan asites
Pemeriksaan ekstremitas : tidak ada gangguan pada ektremitas, anggota gerak badan
dapat digerakkan dengan bebas.
V.

STATUS LOKALISATA
Regio : payudara kanan
Inspeksi : terdapat benjolan sebanyak 1 buah
Palpasi : terdapat benjolan
Movement :-

VI.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Laboratorium, rontgen thorax PA
HASIL LABORATORIUM :
Hb : 13,1
Leukosit : 11.800
LED : 16
Trombosit : 337.000
Ht : 39,1
Eritrosit : 4,36

Eus

Bas

Stb

Seg

Lim

Mon

56

32

CT : 5 menit
BT : 2 menit
VII.

POINT DIAGNOSIS

Pasie datang ke UGD dengan keluhan terdapat 1 benjolan di payudara di


sebelah kiri teraba benjolan sebesar ibu jari. Nyeri hilang timbul di alami
empat bulan ini. Demam tidak ada, sakit kepala tidak ada. Sebeluumnya
pasien belum pernah mengalami keluhan seperti ini. Riwayat dari keluarga
ayah nya pernah mengalami keluhan yang sama. Tanda vital di dapatkan
tekanan darah: 120/80 mmHg, Suhu tubuh: 36,5C, Frekuensi denyut nadi :
78x/menit, Frekuensi nafas: 18x/menit. Hasil laboratorium didapatkan Hb:
13,1, Leukosit : 11.800, LED : 16, Trombosit : 337.000, Ht : 39,1, Eritrosit :
4,36.
VIII. DIAGNOSIS DAN DIAGNOSIS BANDING
Diagnosis
: Fibroadenoma mammae multiple
Diagnosis banding : fibrokistik payudara, karsinoma payudara, papiloma intraduktal
IX.

PERENCANAAN TERAPI
Penatalaksanaan : rujuk ke bedah untuk dilakukan pembedahan pengangkatan tumor
Medikamentosa :
1.
2.
3.
4.

X.

Inj ceftriaxon 2x1 (skin test)


Ketorolac 3x1
Kalnex 3x1
IV RL 30 tpm

PROGNOSIS
Ad vitam
Ad fungsionam
Ad sanationam

: Dubia ad malam
: Dubia ad malam
: Dubia ad malam

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
1. Definisi
Fibroadenoma merupakan neoplasma jinak yang terutam dijumpai pada
perempuan muda. Setelah menoupause, tumor tersebut tidak lagiditemukan.
Fibroadenoma teraba sebagai benjolan bulat atau berbenjol, dengan simpai licin,
bebas digerkkan, dan konsistensinya kenyal padat. Tumor ini tidak melekat ke
jaringan sekitarnya dan amat mudah digerkkan ke sana kemari. Biasanya
fibroadenoma tidak nyeri, tetapi kadang dirasa nyeri. Kadang fibroadenoma tumbuh
multiple. Pada masa remaja, fibroadenoma dapat dijumpai dalam ukuran yang besar.
Fibroadenoma dapat sangat cepat bertumbuh, kadang ada yang tumbuh banyak dan
berpotensi kambuh saat ransangan estrogen meninggi1.
2. Epidemiologi
Berdasarkan data World Health Organitation (WHO) pada tahun 2030 akan
terjadi lonjatan penderita kanker di Indonesia sampai tujuh kali lipat. Hal ini
dikarenakan banyaknya perempuan usia produktif dan pola hidup yang sudah beralih
dari pertanian menjadi perindustrian, sehingga hal ini mengakibatkan tingginya risiko
fibroadenoma mammae pada perempuan. Daerah penderita kanker terbanyak di
Indonesia adalah Yogyakarta. Tingkat prevelensi tumor fibroadenoma mencapai 9,6
per 1.000 orang. Angka tersebut jauh lebih tinggi dari rata-rata prevelensi nasional
yang sebesar 4,3 per 1.000 orang.
Di Indonesia jumlah kanker yang datang mengunjungi Yayasan Kanker
Indonesia di Rumah Sakit Dharmais Jakarta tercatat sebanyak 115 orang, namun
selama pertengahan tahun 2011 dimana 100 orang telah terkena tumor jinak
fibroadenoma mammae dan 15 orang lainnya positif terkena kanker payudara. Di
Provinsi Jawa Tengah khususnya Kota Semarang, insiden berdasarkan Rekapitulasi

Bulan Data Kesakitan Tingkat Puskesmas Se-Kota Semarang pada tahun 2009.
Sebanyak 148 kasus lainnya menderita tumor jinak fibroadenoma (Dinkes Semarang,
2009). Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Demak didapatkan kasus
tumor jinak payudara pada tahun 2011 sebanyak 267 kasus yang dihitung dari kasus
lama ditambah kasus baru. Sedangkan pada tahun 2012 didapatkan penambahan
jumlah kasus baru tumor jinak payudara sebanyak 2 kasus dan pada kasus tahun
sebelumnya belum ada yang meninggal sehingga total menjadi 269 kasus, dan pada
tahun 2013 didapatkan peningkatan jumlah kasus baru tumor jinak payudara yaitu
sebanyak 36 kasus, sehingga total kasus pada tahun 2013 menjadi 305 kasus tumor
jinak payudara4.
3. Etiologi
FAM ini terjadi akibat kelebihan hormone estrogen, biasanya akan
meningkat pada saat menstruasi atau pada saat hamil karena produksi
hormone yang meningkat
Genetic payudara
Faktor presdiposisi:
Usia < 30 tahun
Hereditas
Pekerjaan
Diet
Stress
Lesi prekanker
4. Anatomi Payudara
Payudara adalah organ yang berperan dalam proses laktasi, sedangkan pada pria organ
ini tidak berkembang dan tidak memiliki fungsi dalam proses laktasi seperti pada wanita
(rudimeter). Payudara terletak antara iga ketiga dan ketujuh serta terbentang lebarnya dari
linea parasternalis sampai axillaris anterior dan mediana. Berat dan ukuran payudara
bervariasi sesuai pertambahan umur, pada masa pubertas membesar, dan bertambah besar
selama kehamilan dan sesudah melahirkan, dan menjadi atropi pada usia lanjut. Setiap
payudara terdiri atas 15 sampai 25 lobus kelenjar yang masing-masing mempunyai

saluran ke papilla mamma yang disebut duktus laktiferus dan dipisahkan oleh jaringan
lemak yang bervariasi jumlahnya. Diantara kelenjar susu dan fasia pektoralis, juga di
antara kulit dan kelenjar tersebut terdapat jaringan lemak. Di antara lobus tersebut
terdapat jaringan ikat yang disebut ligamentum cooper yang merupakan tonjolan jaringan
payudara, yang bersatu dengan lapisan luar fasia superfisialis yang berfungsi sebagai
struktur penyokong dan memberi rangka untuk payudara. Jaringan ikat memisahkan
payudara dari otot-otot dinding dada, otot pektoralis dan anterior. Pembuluh darah
mammae berasal dari arteri mamaria interna dan arteri torakalis lateralis. Vena
supervisialis mamae mempunyai banyak anastomosa yang bermuara ke vena mamaria
interna dan vena torakalis interna/epigastrika, sebagian besar bermuara ke vena torakalis
lateralis.15 Aliran limfe dari payudara kurang lebih 75% ke aksila, sebagian lagi ke
kelenjar terutama dari bagian yang sentral dan medial dan ada pula aliran ke kelenjar
interpektoralis. Untuk lebih jelas dari anatomi payudara dapat dilihat pada gambar
berikut:

Gambar 2.1. Anatomi Payudara


5. Klasifikasi
jinak
Penyebab umum dari massa payudara jinak termasuk penyakit fibrokistik,
fibroadenoma, papiloma intraductal, dan abses.
ganas.

Penyakit payudara ganas mencakup banyak jenis histologis yang termasuk, tetapi
tidak terbatas pada, infiltrasi duktal karsinoma lobular atau, duktal in situ atau
karsinoma lobular, dan karsinoma inflamasi.
Perhatian utama dari banyak wanita yang mengalami massa payudara adalah
kemungkinan kanker; Namun, sebagian besar massa payudara jinak.
Infeksi payudara paling sering menyerang wanita berusia 18-50 tahun; dalam
kelompok usia ini, dapat dibagi menjadi infeksi laktasi dan nonlactational. Proses ini
dapat mempengaruhi kulit yang melapisi payudara, di mana ia dapat menjadi acara
utama, atau mungkin terjadi sekunder terhadap lesi seperti kista sebaceous sebagai
hidradenitis suppurativa1.
6. Patofisiologi
Fibroadenoma merupakan tumor jinak payudara yang sering ditemukan pada
masa reproduksi yang disebabkan oleh beberapa kemungkinan yaitu akibat
sensitivitas jaringan setempat yang berlebihan terhadap hormon estrogen sehingga
kelainan ini sering digolongkan dalam mamary displasia. Fibroadenoma biasanya
ditemukan pada kuadran luar atas, merupakan lobus yang berbatas jelas, mudah
digerakkan dari jaringan di sekitarnya. Fibroadenoma mammae biasanya tidak
menimbulkan gejala dan ditemukan secara kebetulan. Fibroadenoma biasanya
ditemukan sebagai benjolan tunggal, tetapi sekitar 10%-15% wanita yang menderita
fibroadenoma memiliki beberapa benjolan pada kedua payudara. Penyebab
munculnya beberapa fibroadenoma pada payudara belum diketahui secara jelas dan
pasti. Hubungan antara munculnya beberapa fibroadenoma dengan penggunaan
kontrasepsi oral belum dapat dilaporkan dengan pasti.
Selain itu adanya kemungkinan patogenesis yang berhubungan dengan
hipersensitivitas jaringan payudara lokal terhadap estrogen, faktor makanan dan faktor
riwayat keluarga atau keturunan.

Kemungkinan lain adalah bahwa tingkat fisiologi

estrogen penderita tidak meningkat tetapi sebaliknya jumlah reseptor estrogen

meningkat. Peningkatan kepekaan terhadap estrogen dapat menyebabkan hyperplasia


kelenjar susu dan akan berkembang menjadi Karsinoma. Fibroadenoma sensitif
terhadap perubahan hormon. Fibroadenoma bervariasi selama siklus menstruasi,
kadang dapat terlihat menonjol, dan dapat membesar selama masa kehamilan dan
menyusui. Akan tetapi tidak menggangu kemampuan seorang wanita untuk menyusui.
Diperkirakan bahwa sepertiga dari kasus fibroadenoma jika dibiarkan ukurannya akan
berkurang bahkan hilang sepenuhnya. Namun yang paling
sering terjadi, jika dibiarkan ukuran fibroadenoma akan tetap. Tumor ini biasanya
bersifat kenyal dan berbatas tegas dan tidak sulit untuk diraba. Apabila benjolan
didorong atau diraba akan terasa seperti bergerak-gerak sehingga beberapa orang
menyebut fibroadenoma sebagai breast mouse. Biasanya fibroadenoma tidak terasa
sakit, namun kadang kala akan menimbulkan rasa tidak nyaman dan sangat sensitif
apabila disentuh1,2.
7. Tanda dan gejala
Secara makroskopik: tumor bersimpai, bewarna putih keabu-abuan

pada penampang tampak jaringan ikat bewarna putih kenyal


Ada bagian yang menonjol kepermukaan
Ada penekanan pada jaringan sekitar
Batas tegas
Bila diameter mencapai 10-15 cm muncul fibroadenoma besar,

memiliki kapsul dan soliter, benjolan dapat digerakan


Pertumbuhan lambat
Mudah diangkat dengan local surgery
Bila segera ditangani tidak menyebabkan kematian
8. Faktor Risiko
berbagai faktor risiko dapat mempengaruhi perkembangan penyakit ini termasuk
genetik, hormonal, lingkungan, sosiobiologis dan fisiologis faktor. Selama beberapa
dekade terakhir, sementara risiko kanker payudara berkembang telah meningkat di
kedua negara maju dan berkembang 1% -2% per tahun, angka kematian akibat kanker

payudara telah jatuh sedikit. Peneliti percaya bahwa perubahan gaya hidup dan
kemajuan teknologi, terutama dalam deteksi dan tindakan terapi, berada di bagian
yang bertanggung jawab untuk penurunan ini. Kanker payudara tidak menyerang
individu saja tetapi unit seluruh keluarga. Meskipun perubahan sosial yang cukup,
perempuan terus menjadi fokus kehidupan keluarga. Dampaknya payudara kanker
karena itu mendalam pada kedua wanita didiagnosis dengan penyakit dan
keluarganya. Ketakutan mereka dan kecemasan atas hasil akhir dari penyakit dapat
bermanifestasi sendiri melalui perubahan perilaku. Tingginya angka kejadian dan
kematian kanker payudara, serta tingginya biaya pengobatan dan sumber daya yang
terbatas yang tersedia, mengharuskan harus terus menjadi fokus perhatian bagi
otoritas kesehatan masyarakat dan pembuat kebijakan. Biaya dan manfaat dari
memerangi kanker payudara, termasuk dampak positif bahwa deteksi dini dan
skrining dapat memiliki, harus hati-hati ditimbang terhadap kebutuhan kesehatan
pesaing lainnya. Kementerian kesehatan pejabat perlu merumuskan dan melaksanakan
rencana yang efektif akan membahas beban penyakit, termasuk kebijakan pengaturan
pada deteksi dini dan skrining kanker payudara. Penyedia layanan kesehatan juga
harus terlibat dalam pembahasan mengeluarkan dan mengembangkan programprogram untuk pengelolaan penyakit. Saya harap ini pedoman akan mendukung
semua orang yang terlibat dalam pertempuran melawan kanker payudara di
Mediterania Timur Region4.

9. Diangnosis
Diagnosis tumor payudara dapat ditegakkan dengan berdasarkan anamnesis yang
baik, pemeriksaan fisik dasar dan pemeriksaan penunjang. Sedangkan diagnosis pasti
adalah pemeriksaan histopatologi anatomi.

1. Anamnesa meliputi:
riwayat timbulnya tumor, adanya faktor resiko untuk terjadinya tumor payudara
dan adanya tanda-tanda penyebaran tumor.
2. Pemeriksaan fisik dari tumor payudara
Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI)
Menurut Djamaloeddin (2005), deteksi dini tumor payudara adalah suatu
usaha untuk menemukan adanya tumor yang belum lama tumbuh, masih kecil, masih
lokal, dan belum menimbulkan kerusakan yang berarti sehingga masih dapat
disembuhkan. Deteksi dini biasanya dilakukan pada orang-orang yang kelihatannya
sehat, asimptomatik, atau pada orang yang beresiko tinggi menderita tumor. Wanita
usia 20 tahun ke atas sebaiknya melakukan SADARI sebulan sekali, yaitu 7-10 hari
setelah menstruasi. Pada saat itu, pengaruh hormon ovarium telah hilang sehingga
konsistensi payudara tidak lagi keras seperti menjelang menstruasi. Untuk wanita
yang telah menopause, SADARI sebaiknya dilakukan setiap tanggal 1 setiap bulan
agar lebih mudah diingat. Pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) dilakukan dalam
tiga tahap, yaitu :
a.Melihat payudara
b.Memijat payudara
c.Meraba payudara

10. Pemeriksaa Penunjang


Morfologi
Sedapat mungkin dilakukan sebagai alat bantu diagnostik utama, terutama pada
usia di atas 30 tahun. Walaupun mamografi sebelumnya normal, jika terdapat keluhan

baru, maka harus dimamografi ulang. Pada mamografi , lesi yang mencurigakan ganas
menunjukkan salah satu atau beberapa gambaran sebagai berikut: lesi asimetris,
kalsifi kasi pleomorfi k, tepi ireguler atau ber-spikula, terdapat peningkatan densitas
dibandingkan

sekitarnya.

Pada

salah

satu

penelitian

terhadap

penderita,

sensitivitasnya mencapai 82,3% dengan spesifi sitas 91,2%. Walaupun demikian, bila
hasilnya negatif, harus tetap dilakukan pemeriksaan lanjutan.
Ultrasonografi
Ultrasonografi sangat berguna untuk membedakan lesi solid dan kistik setelah
ditemukan kelainan pada mamografi . Pemeriksaan ini juga dapat digunakan pada
kondisi klinis tertentu, misalnya pada wanita hamil yang mengeluh ada benjolan di
payudara sedangkan hasil mamografi nya tidak jelas walaupun sudah diulang, dan
untuk panduan saat biopsi jarum atau core biopsy. Hasil pemeriksaan USG maupun
mamografi dapat diklasifi kasikan menurut panduan The American College of
Radiology yang dikenal sebagai ACR-BIRADS, sebagai berikut:
Kategori 0: Harus dilakukan mamografi untuk menentukan diagnosis
Kategori 1: Negatif atau tidak ditemukan lesi
Kategori 2: Jinak. Biasanya kista simpleks. Ulang USG 1 tahun lagi
Kategori 3: Kemungkinan jinak. Sering ditemukan pada FAM. Ulang USG 3-6
bulan
Kategori 4: Curiga abnormal. Harus dibiopsi
Kategori 5: Sangat curiga ganas. Dikelola sesuai panduan kanker payudara
dini
Kategori 6: Kanker. Hasil biopsi memang benar keganasan payudara, dikelola
sebagai kanker payudara dini.

Biobsi
Tidak terhadap semua kasus benjolan payudara dilakukan biopsi. Beberapa
panduan terkini lebih menganjurkan core biopsy sebagai pilihan pertama. Apabila
tidak ada fasilitas ini maka biopsi insisi/ekstirpasi sebagai gantinya. Biopsi aspirasi
dengan jarum halus tidak dianjurkan,

kecuali dilakukan oleh ahli yang berpengalaman. Indikasinya kista asimptomatik


11. Penatalaksanaan
Terapi untuk fibroadenoma tergantung dari beberapa hal sebagai berikut:

Ukuran
Terdapat rasa nyeri atau tidak
Usia pasien
Hasil biopsy

Terapi dari fibroadenoma mammae dapat dilakukan dengan operasi pengangkatan


tumor tersebut, biasanya dilakukan general anaesthetic pada operasi. Operasi tidak akan
merubah bentuk dari payudara, tetapi hanya akan meninggalkan luka atau jaringan parut
yang nanti akan diganti oleh jaringan normal secara perlahan

Pencegahan
Pemeriksaan payudara sendiri penting bagi kesehatan wanita terutama pada awal
umur 20 tahun. Perlunya memperhatikan perubahan pada payudara dengan mengetahui
bentuk payudara secara normal dengan menggunakan langkah demi langkah.
1. Langkah Pertama
Berbaring miring dan tempatkan lengan kanan dibelakang kepala. Pemeriksaan
dilakukan ketika berbaring, bukan berdiri. Sebab, ketika berbaring, jaringan payudara
menyebar searah dinding dada dan serenggang mungkin, yang memudahkan untuk
merasakan seluruh jaringan payudara.
2.

Langkah Kedua
Gunakan telapak tangan dari tiga jari tengah pada tangan kiri untuk merasakan

berbagai benjolan pada payudara kanan. Gunakan gerakan memutar ke atas ke bawah
menggunakan tapak jari untuk merasakan jaringan payudara.
3.

Langkah Ketiga

Gunakan tiga tingkat tekanan berbeda untuk merasakan semua jaringan payudara.
Tekanan ringan untuk merasakan jaringan yang paling dekat dengan kulit, tekanan sedang
untuk merasakan sedikit lebih dalam, dan tekanan kuat untuk merasakan jaringan lebih
dekat dengan dada dan tulang rusuk.
4.

Langkah Keempat
Gerakkan tangan pada payudara dengan pola gerak ke atas ke bawah untuk

memulai baris bayangan yang tergambar lurus ke bawah sisi dari bawah lengan. Pastikan
untuk memeriksa seluruh area payudara ke bawah sampai merasakan tulang iga, dan ke
atas hingga mencapai leher ( tulang selangka ).
5. Langkah Kelima
Ulangi pemeriksaan pada payudara kiri, dengan menggunakan tapak jari tangan
kanan.
6.

Langkah Keenam
Berdiri di depan cermin dengan tekanan lembut ke bawah pada pinggul. Lihat

apakah ada perubahan ukuran, bentuk, kontur, lesung, kemerahan pada puting atau kulit
payudara. Lakukan penekanan ke bawah dengan posisi pinggul mengerutkan otot dinding
dada dan mempertinggi perubahan pada payudara.
7.

Langkah Ketujuh
Periksa setiap ketiak ketika duduk tegak dengan lengan terangkat sedikit, sehingga

dengan mudah dapat merasakan area ketiak. Pencegahan yang dapat dilakukan pada kasus
tumor jinak pada payudara dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut, antara lain :

Menghindari makanan yang tinggi lemak


Menghindari pemakaian obat hormonal terutama estrogen
Rajin melakukan SADARI

12. Komplikasi
Jenis tertentu dari fibroadenoma bisa meningkatkan risiko kanker payudara.
Meski demikian, kebanyakan kasus fibroadenoma tidak menyebabkan kanker

payudara. Kalaupun ditemukan penderita kanker payudara yang memiliki


fibroadenoma, biasanya ada komplikasi lainnya. Atau bisa jadi orang tersebut
memiliki risiko kanker payudara yang tinggi baik dari keluarga ataupun
lingkungannya6.
13. Prognosis
Prognosis dari fibroadenoma mammae adalah baik, bila diangkat dengan
sempurna, tetapi bila masih tertapat jaringan sisa pada saat operasi dapat kambuh
kembali.

DAFTAR PUSTAKA
1. Wim de jong, Sjamsuhidajat, 2010, Buku Ajar Ilmu Bedah
2. Breast Abscess and Masses http://emedicine.medscape.com/article/781116-overview
Updated: Oct 14, 2014
3. jurnal.unimus.ac.id/index.php/psn12012010/article/view/1242/1295+&cd=4&hl=id&
ct=clnk&gl=id

4. http://applications.emro.who.int/dsaf/dsa697.pdf 2006 Pedoman pengelolaan kanker


payudara / Kantor Wilayah WHO untuk Mediterania Timur
5. Slide share.22 Oktober 2012.http://www.slideshare.net/Ryas_Intan/pp-14829566 22
0kt 2012
6. Fadjari H, Pendekatan Diagnosis Benjolan di PayudaraSubbagian HematologiOnkologi Medik, 2012. Bagian Ilmu Penyakit Dalam RSUP Hasan Sadikin Bandung,
Indonesia
7. Artikel http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/38884/3/Chapter%20ll.pdf