Anda di halaman 1dari 2

1.

Nilai-Nilai Pancasila Pasca Indonesia Merdeka


Latar belakang kehidupan para penggali Pancasila, interaksinya dengan masyarakat dan
suasana kebatinan kolonialisme yang dihadapi kemudian diabstrasikan dalam
rumusan-rumusan konsep mengenai (kemungkinan) dasar bernegara. Adu konsep
meniscayakan diskusi dalam sidang BPUPKI untuk menghasilkan rumusan Pancasila,
selain dimunculkannya istilah Pancasila, dialog terjadi berkaitan dengan perumusan
dasar negara untuk negara yang (akan) merdeka. Pancasila dalam perumusannya
mengalami pergumulan terutama berkaitan dengan sila atau nilai mengenai ketuhanan.
Perumusan nilai ketuhanan yang kemudian dikenal dengan sila pertama yaitu
Ketuhanan yang Maha Esa, yang rumusan awalnya merupakan konsekuensi dari
mayoritas tokoh muslim yang berada dalam BPUPKI. Dan pergumulan rumusan akhir
nilai ketuhanan, oleh Soepomo dikatakan sebagai penyelesaian yang merupakan
akibat gentlemen agreement antara kelompok nasionalis dan kelompok agama.
Pancasila yang dituangkan dalam pembukaan UUD 1945 disahkan pada tanggal 18
Agustus 1945 sah menjadi dasar negara Indonesia (baru). Pasca kemerdekaan,
aktualisasi Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara seolah mengalami
kemorosotan. Kemerosotan dimaksud bahwa diskusi untuk merefleksi dasar negara
Indonesia dalam kehidupan berbangsa dan bernegara tidak mendapatkan ruang yang
cukup. Kondisi tersebut disebabkan fokus kehidupan berbangsa diarahkan pada
mempertahankan kemerdekaan untuk menghadapi agresi colonial. Meski demikian,
terdapat kondisi yang menarik ketika terjadi pergolakan politik di Indonesia, Pancasila
tidak mengalami pergeseran dalam setiap konstitusi yang dihasilkan sebagai respon
atas pergolakan politik. Artinya tidak ada usaha untuk mengganti Pancasila sebagai
dasar negara yang diletakkan pada saat persiapan (tanggal) kemerdekaan Indonesia.
Pancasila dibangunkan dari tidur panjangnya ketika Indonesia mengalami berbagai
pergolakan politik ketika Soeharto berhasil mengambil alih kekuasaan pasca tahun
1965. Pengalaman instabilitas politik dan kemorosotan ekonomi menjadi dalih bagi
Soeharto untuk memulihkan pasca gejolak politik menggunakan Pancasila basis
legitimasi penggunaan kekuasaan. Soeharto menggunakan istilah Demokrasi Pancasila
untuk memperoleh kesan kuat, bahwa dirinya adalah seorang yang memegah teguh
Pancasila. Namun dalam praktek penggunaan kekuasaannya, Pancasila sekedar menjadi
teks tertulis yang mati dan melahirkan jurang pemisah antara teks dan kenyataan. Silasila Pancasila hanya menjadi alat indoktrinasi atau propaganda untuk memberi efek
takut bagi para penentang kebijakan pembangunan yang dilakukan.

Pancasila menjadi kedok penyimpangan yang dilakukan oleh Orde Baru. Tameng
legitimasi bagi berbagai hal untuk melaksanakan pembangunan, menghasilkan
keserakahan dan aneka pelanggaran yang menjauh dari nilai-nilai yang terkandung
dalam Pancasila. Meski stabilitas politik tercapai dan pembangunan ekonomi dapat
teraih, namun kebebasan dan hak-hak warga negara yang diatur dalam konstitusi
dilaksanakan berdasarkan tafsir sepihak hanya untuk memuaskan dahaga kekuasaan
dan melanggengkannya. Kebebasan dibatasi dan melahirkan tekanan politik bagi aktivis
demokrasi yang menghendaki partisipasi politik dalam proses pembangunan. Dimana
pembangunan dilakukan dengan melanggar HAM warga negara, dan negara bergeming
untuk mempertimbangkan manusia/warga negara yang menjadi korban pembangunan
yang diatasnamakan dengan Pancasila.
Gugatan terhadap pelaksanaan Pancasila versi Orba mengalami puncaknya pada Mei
1998. Dipicu oleh krisis ekonomi, gerakan mahasiswa dan kekuatan anti Soeharto
memaksa lengser keprabon dan menyerahkan kursi kepresiden kepada wakilnya.
Pelanggaran HAM dan keterbatasan partisipasi politik yang berkelindan dengan krisis
moneter melahirkan semangat perjuangan anti Soeharto yang memerintah tidak
dengan demokratis. Kebebasan (politik) yang diperjuangkan dan berhasil pada tahun
1998 harus mampu menyuburkan internalisasi dan aktulaisasi nilai-nilai Pancasila.
Membuka kembali ruang diskursus untuk mendalami semua gagasan yang terkandung
dalam Pancasila, dan meletakkannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Menempatkan Pancasila kembali dalam diskursus keseharian akan dipandang
sebagai alien karena stigma negative Pancasila dari hasil penafsiran Pancasila yang
sepihak pada masa orde baru. Tafsir ulang yang tidak sekedar partisipatif yang dimotori
oleh negara/pemerintah, melainkan pemahaman dari hasil deliberasi dalam
mengartikulasi nilai-nilai Pancasila. Kebebasan politik yang sudah digenggam dalam
manifestasi partisipasi politik dan otonomi daerah harus diarahkan untuk memperkuat
basis pemikiran mengenai Pancasila. Pancasila yang tidak hanya didasarkan pada tafsir
penguasa seperti dipraktekkan selama ini, melainkan menggali kembali nilai-nilai
Pancasila yang berkembang di masyarakat. Sehingga Pancasila terus mengalami
artikulasi dalam kehidupan keseharian dan tetap membumi, tidak teralienasi dari nilainilai (yang masih) dianut oleh masyarakat Indonesia.