Anda di halaman 1dari 11

KERAGAMAN JENIS DAN FLUKTUASI POPULASI

NYAMUK YANG MENYERANG MANUSIA PADA UNIT


REHABILITASI DAN REPRODUKSI INSTITUT PERTANIAN
BOGOR

DAVID ALFIAN

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN


INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2014

Judul Skripsi: Keragaman Jenis dan Fluktuasi Populasi Nyamuk yang Menyerang
Manusia pada Unit Rehabilitasi dan Reproduksi Institut Pertanian Bogor
Nama
: David Alfian
NIM
: B04090173

Disetujui oleh

Dr drh Susi Soviana, Msi


Pembimbing I

Diketahui oleh

drh H Agus Setiyono, MS, Ph.D. APVet


Dekan Fakultas

Tanggal pengesahan :

DAFTAR ISI
PENDAHULUAN

Latar Belakang

Tujuan Penelitian

Manfaat Penelitian

TINJAUAN PUSTAKA

Klasifikasi dan Morfologi Nyamuk

Nyamuk sebagai vektor penyakit

Sifat-sifat Nyamuk

Faktor Iklim yang Mempengaruhi Perkembangan Nyamuk

METODE

Waktu dan tempat

Alat dan Bahan

Metode Penelitian

Analisis Data

DAFTAR PUSTAKA

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Nyamuk termasuk dalam serangga yang mengganggu kenyamanan dan
ketentraman. Nyamuk dapat mengganggu karena nyamuk mengisap darah untuk
melanjutkan hidupnya. Nyamuk dapat sebagai vektor penyakit yang serius pada
manusia dan hewan. Nyamuk berpopulasi tinggi dapat meningkatkan kejadian penyakit
yang disebabkan oleh nyamuk itu sendiri. Makhluk hidup lain dapat menderita stres
karena banyaknya populasi nyamuk.
Penyakit yang disebabkan oleh nyamuk sebagai vektor seperti malaria, filariasis,
yellow fever, japanese encephalitis, dan equine encehpalitis sering kali meresahkan
pemerintah dan masyarakat. Kerugian ekonomi akibat filariasis menurut hasil estimasi
dapat mencapai 43 triliun rupiah jika tidak dilakukan program pengendalian (Depkes
2010). Kerugian ekonomi yang diakibatkan malaria mencapai sekitar 3,3 triliun rupiah
sebagai akibat dari tidak dapat bekerja selama satu minggu, biaya pengobatan dan lainlain, belum termasuk biaya sosial seperti menurunnya tingkat kecerdasan anak dan
menurunnya kualitas sumber daya manusia yang berdampak pada penurunan
produktivitas (Depkes 2010). Besarnya kerugian akibat filariasis dan malaria belum
terhitung kerugian ekonomi penyakit lain yang dimediasi nyamuk sebagai vektornya.
Pengendalian vektor ektoparasit sangat diperlukan mengingat besarnya kerugian
ekonomi yang ditimbulkan. Secara umum populasi ektoparasit dapat dikendalikan
melalui beberapa macam cara yaitu pengendalian melalui pengelolaan lingkungan,
pengendalian secara hayati dengan menggunakan mahluk hidup, pengendalian secara
kimiawi, pengendalian genetik dan pengendalian secara terpadu. Pengendalian melalui
lingkungan atau manipulasi lingkungan adalah suatu kegiatan yang bertujuan untuk
menghasilkan suatu keadaan sementara yang tidak menguntungkan bagi vektor untuk
berkembang biak di tempat perindukannya (Rumbiak 2006). Pengendalian hayati adalah
pengendalian dengan cara memanfaatkan musuh alami atau predator. Teknik
pengendalian hayati meliputi introduksi, augmentasi, dan konservasi (Wagiman 2006).
Pengendalian secara kimiawi dapat berupa penggunaan insektisida. Pengendalian secara
genetik yakni pelepasan jantan mandul ke lingkungan untuk mengendalikan populasi.
Sedangkan pengendalian secara terpadu adalah suatu sistem pengendalian populasi
serangga pengganggu dengan memanfaatkan semua teknik yang mungkin bertujuan
untuk meminimalkan populasi hama (Hadi dan Soviana 2010). Menurut Komariah
(2010) pengendalian terpadu terhadap vektor nyamuk melibatkan masyarakat dan
pemerintah.
Upaya kontrol berupa pengendalian secara kimiawi telah dilakukan. Pengendalian
nyamuk dengan kimiawi terhambat dengan adanya nyamuk kebal insektisida. Hal ini
diatasi dengan seleksi insektisida yang masih efektif untuk membasmi vektor.
Pengelolaan lingkungan, ekonomi, sosial dan faktor demografik juga mempunyai peran
penting dalam penyebaran penyakit parasit (Beemtsen et al. 2000). Strategi baru
pengendalian vektor perlu dikembangkan untuk memperbaiki atau mengganti metode
pengendalian yang telah ada.

Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengamati keragaman jenis dan fluktuasi
populasi nyamuk yang menyerang manusia pada Unit Rehabilitasi dan Reproduksi
Institut Pertanian Bogor.
Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan sebagai informasi agar masyarakat lebih waspada
terhadap potensi penyakit yang ditimbulkan oleh nyamuk. Mengetahui risiko penyakit
tertular vektor (nyamuk) terhadap manusia.

TINJAUAN PUSTAKA
Klasifikasi dan Morfologi Nyamuk
Nyamuk merupakan salah satu serangga dan seringkali mengganggu
ketentraman dan dapat menyebabkan penyakit seperti malaria, demam berdarah,
filariasis, enchepalitis, cikungunya dan sebagainya (Gould dan Solomon 2007).
Berdasarkan taksonominya, nyamuk termasuk dalam family culicidae yang terbagi
menjadi dua subfamily yaitu Anophelinae dan Culicinae (Harbach 2007). Nyamuk
diklasifikasikan sebagai berikut:
Filum
Kelas
Ordo
Subordo

: Arthropoda
: Insecta
: Diptera
: Nematocera

Nyamuk mempunyai tubuh yang langsing, berkaki panjang memiliki dada bulat
yang lebih besar dai kepala dan perut dan sangat mudah dikenali karena memiliki
probosis yang panjang. Masa sebelum dewasa nyamuk terjadi di lingkungan air. Tetapi
banyak juga spesies yang tinggal di axiles daun, lubang pohon, atau lubang akar,
internode bambu dan daun jatuh (Harbach 2007). Setelah dewasa hanya nyamuk betina
saja yang menghisap darah untuk bertelur dengan mengambil protein darah, sedangkan
nyamuk jantan hanya makan dari nektar tumbuhan (BSC 2012). Morfologi tubuh
nyamuk secara umum dibagi menjadi tiga yaitu kepala, thorax dan abdomen. Pada
kepala terdapat antena dan proboscis, pada thorax terdapat sayap dan kaki yang terdiri
dari femur, tibia dan tarsus. Bagian terahir yaitu abdomen nyamuk yang terdiri dari 7
segmen (CAES 2005).
Nyamuk sebagai vektor penyakit
Nyamuk berperan sebagai vektor mekanis dari beberapa penyakit yang
dibawanya. Vektor mekanis adalah vektor dimana agen penyakit tidak mengalami
perkembangan, tetapi sebagai pembawa agen penyakit (Beriajaya 2005). Genus nyamuk
yang umumnya dikenal adalah Aedes, Armigeres, dan Culex.
Nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus adalah vektor dari penyakit demam
berdarah dengue. Ae. aegypti bertempat pada penampungan air di rumah-rumah yang
tidak berhubungan dengan tanah, sedangkan Ae. albopictus dapat berkembang biak di
lubang-lubang pohon, drum dan ban bekas yang berada di luar rumah. Aedes yang
selama ini dikira hanya menyerang siang hari ternyata juga dapat menyerang manusia
pada malam hari (nokturnal). Aedes aegypti juga ternyata mampu berkembang biak
pada wada yang berisi campuran air dengan feses ayam, campuran air dengan feses sapi
dan campuran air dengan kedua jenis feses tersebut di laboratorium. Ini merupakan
salah satu contoh dari perubahan prilaku berkembang biak nyamuk, yang semula hanya
bisa berkembang pada air bersih dan jernih (Hadi et. al. 2012).
Anopheles merupakan salah satu nyamuk yang berpotensi sebagai vektor
penyakit, yaitu malaria. Malaria merupakan masalah utama kesehatan dunia (Tikar et al.
2011). Tetapi tidak semua Anopheles sp dapat membawa vektor malaria, salah satunya

adalah Anopheles varuna yang bersifat zoofilik tetapi bukan spesies vektor (Sinka et al.
2011). Nyamuk grup punctulatus merupakan vektor penting malaria dan filariasis tipe
Wucheria bancrofti. Spesies Nyamuk Anopheles yang telah dikonfirmasi sebagai vektor
malaria adalah An. Punctulatus, An. Farauti, An. Kolensis, dan An. Bancrofti (Depkes
2007).
Culex sp. adalah nyamuk yang mempunyai keragaman spesies terbanyak
(Harbach 2007). Salah satu penyakit yang dapat ditularkan Culex sp adalah japanese
encehpalitis yang merupakan salah satu penyakit zoonosis. Manusia dapat terinfeksi
jika darahnya dihisap oleh nyamuk betina dan manusia sebagai dead end host
(Varnando 2012). Spesies yang bertanggung jawab atas japanese encephalitis adalah C.
tritaenorhynchus, C. gellidus,dan C. vishui (Beriajaya 2005). Spesies Mansonia dapat
juga berpotensi sebagai vektor Wucheria bancrofti dan mempunyai tingkat infeksi yang
tinggi (SMS 2007).
Sifat-sifat Nyamuk
Prilaku nyamuk dapat menentukan distribusi dari penyakit yang di bawa oleh
nyamuk. Nyamuk memiliki sifat lebih menyukai darah manusia disebut antropofilik,
sedangkan nyamuk yang memiliki sifat lebih menyukai darah hewan disebut zoofilik.
Nyamuk lebih berbahaya jika memiliki sifat antropozoofilik. Sifat antropozoofilik
adalah spesies nyamuk yang menyukai darah hewan dan darah manusia. Nyamuk
bersifat antropofilik lebih mudah ditemukan di lingkungan yang dekat dengan manusia.
Nyamuk zoofilik lebih mudah ditemukan di lingkungan yang dekat dengan hewan.
Nyamuk zoofilik menyukai lingkungan dan aktivitas yang dekat dengan hewan
sedangkan, nyamuk antropofilik menyukai lingkungan dan aktivitas yang dekat dengan
manusia. Nyamuk antropozoofilik dapat berkembang biak dalam lingkungan
pemukiman manusia ataupun dekat dengan hewan (Hadi dan Koesharto 2006).
Nyamuk membutuhkan darah untuk melanjutkan hidupnya. Nyamuk betina yang
menghisap darah untuk bereproduksi. Nyamuk jantan hidup dengan menghisap cairan
yang ada di tumbuhan dan madu. Nyamuk betina meletakan telur yang akan menetas di
tempat khusus sesuai dengan spesiesnya. Culex dapat hidup di lingkungan yang kotor,
Aedes menyukai hanya dapat hidup digenangan air bersih, sedangkan Anopheles lebih
menyukai air mengalir sercara perlahan. Predator alami nyamuk juga mempengaruhi
perkembangan nyamuk. Predator alami nyamuk seperti ikan guppy yang dapat
mengendalikan populasi larva nyamuk Aedes aegypti (IPB PSIH 2004)
Pengandalian populasi nyamuk bergantung pada sifat-sifat nyamuk, zat kimia
yang sudah resisten dan tidak, suhu, kondisi alam dan cuaca, dan kerjasama antara
masyarakat dengan pemerintah. Memonitor populasi nyamuk secara berkelanjutan,
pengembangan insektisida dan melakukan penyuluhan pada masyarakat juga perlu
dilakukan. Pengendalian secara kimia harus selalu dikembangkan guna mengatasi zat
kimia yang telah resisten. Contoh Gunandini dan Gionar (1999) melaporkan nyamuk
Aedes aegypti mulai terlihat toleran terhadap malation pada generasi ke lima dengan
tingkat kematian rata-rata 40.3%.

Faktor Iklim yang Mempengaruhi Perkembangan Nyamuk


Iklim merupakan faktor abiotik yang mempengaruhi faktor biotik. Iklim
mempengaruhi nyamuk ketika iklim berubah secara dinamis. Kondisi iklim yang
dinamis seperti curah hujan, suhu dan kelembabaan dapat mempengaruhi kehidupan
nyamuk. Perubahan iklim dapat mempengaruhi aspek fisiologi, prilaku nyamuk,
kelahiran, produktivitas dan siklus nutrisi nyamuk.
Curah hujan dapat meningkatkan populasi nyamuk. Curah hujan akan
menyebabkan banyaknya genangan air alami sebagai tempat pertumbuhan nyamuk.
Curah hujan minimal untuk perkembangan nyamuk sebesar 1.5 mm per hari. Curah
hujan yang terlalu tinggi akan mengakibatkan suhu juga menjadi rendah dan
kelembaban air menjadi tinggi. Perkembangan nyamuk dapat optimum pada suhu 2527o C.

METODE
Waktu dan tempat
Penelitian ini berlangsung selama bulan Maret sampai Mei 2013. Pengambilan
spesimen dilakukan di unit rehabilitasi dan reproduksi FKH IPB dengan cara human
landing atau bare leg collection. Proses identifikasi dilakukan di Departemen Ilmu
Penyakit Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner FKH IPB.
Alat dan Bahan
Alat yang digunakan adalah aspirator, termometer ruangan, gelas yang dipasang
saringan untuk tempat nyamuk, manusia sebagai umpan, pinning block, jarum pinning,
kotak spesimen, dan mikroskop guna identifikasi. Bahan yang digunakan adalah
chloroform guna memingsankan nyamuk.
Metode Penelitian
Alat dan bahan
Alat yang digunakan adalah aspirator, termometer ruangan, gelas yang dipasang
saringan untuk tempat nyamuk, manusia sebagai umpan, pinning block, jarum pinning,
kotak spesimen, dan mikroskop guna identifikasi. Bahan yang digunakan adalah
chloroform guna memingsankan nyamuk.
Metode Koleksi Nyamuk
Koleksi nyamuk dimulai pukul 10.00 sampai 05.40 keesokan harinya. Koleksi
Nyamuk dilakukan selama 40 menit tiap jamnya. Pengumpan orang sekaligus sebagai
penangkap menggunakan aspirator dengan keadaan kaki dan tangan terbuka.
Penangkapan nyamuk dilakukan apabila ada nyamuk yang hinggap atau menghisap
darah dari kaki umpan.

Metode Preservasi Nyamuk


Nyamuk yang ditangkap, dimasukan ke dalam gelas, dan dipingsankan dengan
chloroform ketika waktu telah mencapai 40 menit. Nyamuk di-pinning dan diletakan di
kotak spesimen disesuaikan dengan tanggal dan jamnya.
Identifikasi Nyamuk
Identifikasi dilakukan di Laboratorium Entomologi, Bagian Parasitologi dan
Entomologi Kesehatan, Departemen Ilmu Penyakit Hewan dan Kesehatan Masyarakat
Veteriner FKH IPB dengan menggunakan mikroskop stereo perbesaran 10x40.
Analisis Data
Parameter yang dianalisis berupa Man Hour Density (MHD), kelimpahan nisbi,
angka frekuensi nyamuk spesies, dan angka dominansi.
Pengukuran Aktivitas nyamuk/jam/orang
Man Hour Density (MHD) merupakan jumlah nyamuk tertentu yang menggigit
orang per jam dalam waktu tertentu

Pengukuran Kelimpahan Nisbi, Angka Frekuensi, dan Angka Dominasi


Kelimpahan nisbi merupakan perbandingan antara jumlah nyamuk spesies tertentu
dengan total jenis nyamuk dari berbagai spesies yang ditangkap.

Angka frekuensi spesies adalah perbandingan antara banyaknya nyamuk spesies


tertentu yang ditangkap dengan banyaknya penangkapan yang dilakukan menurut cara
tertentu.

Angka dominansi spesies merupakan hasil perkalian dari kelimpahan nisbi dengan
angka frekuensi nyamuk spesies tertentu yang tertangkap.

DAFTAR PUSTAKA
Beemtsen BT, James AA, Christensen BM. 2000. Genetics of Mosquito Vector
Competence. Microbiol Mol Biol
Beriajaya. 2005. Peranan vektor Sebagai Penular Penyakit Zoonosis. Bogor: Puslitbang
Peternakan
[BSC] Byron Shire Council. 2012. Public Health Risk and Mosquitoes. Byron Shire
Council (AU)
[CAES] The Connecticut Agricultural Experiment Station. 2005. Identification Guide to
the Mosquitoes of Connecticut. CAES (US)
[Depkes] Departemen Kesehatan. 2007. Vektor Malaria di Indonesia. Jakarta (ID):
Depkes RI
[Depkes] Departemen Kesehatan. 2010. Rencana Operasional Promosi Kesehatan
Untuk Eliminasi Malaria. Jakarta
Gould EA and Solomon T. 2008. Pathogenic Flaviviruses. The Lancet. 371(9611):500509
Gunandini DJ, Gionar YR. 1999. Penentuan Status Resistensi Nyamuk Aedes
aegypti
terhadap malation melalui gambaran pola larik DNA
Sebagai Dasar Strategi
Pengendalian. FKH IPB: Bogor
Hadi UK, Soviana S. 2010. Ektoparasit, Pengenalan, Identifikasi, dan
Pengendaliannya. IPB Press: Bogor
Hadi UK, Soviana S, Gunandini DD. 2012. Aktivitas Nokturnal Vektor Demam
Berdarah Dengue di beberapa Daerah di Indonesia. J Entomol Indones. 9:2-3
Harbach RE. 2007. The Culicidae (Diptera): a Review of Taxonomy, Classification and
Phylogeny. Zootaxa
[IPB PSIH] Institut Pertanian Bogor, Pusat Studi Ilmu Hayati (ID). 2004. Pemahaman
Biologi Ikan Seribu (Poecilia reticulata) Sebagai Predator Larva Nyamuk.
Bogor
Komariah, Pratita S, Malaka T. 2010. Pengendalian Vektor. Jurnal Kesehatan Bina
Husada. 6(1):38
Rumbiak H. 2006. Analisis Manajemen Lingkungan Terhadap Kejadian Malaria di
Kecamatan Biak Timur Kabupaten Biak-Numfor Papua [tesis]. Semarang (ID):
Universitas Diponegoro
Sinka ME, Bangs MJ, Manguin S, Chareonvirilyaphap, Patil AP, Temperley WH,
Gething PW, Elyazar IRF, Kabaria CW, Harbach RE, Hay SI. 2011. The
Dominant Anopheles Vector of Human Malaria in the Asia-Pacific Region:
Occurrence Data, Distribution Maps and Bionomic Precis. Biomed Central. 4:89
[SMS] Southern Monitoring Services. 2007. Mansonia Uniformis. New Zealand
Biosecure
Tikar SN, MJ Mendki, AK Sharma, D Sukumaran, V Veer, S Prakash, BD Parashar.
2011. Resistance Status of the Malaria Vector Mosquitoes, Anopheles stephensi
and Anopheles subpictus Towards Adulticides and Larvicides in Arid and SemiArid Areas of India. Journal of Insect Science. 2:2-3
Varnando WC, Goddard J, Harrison B. 2012. Identification Guide to Adult Mosquitoes
in Mississippi. Mississippi State University: Extension Service
Wagiman FX. 2006. Pengendalian hayati Hama Kutu Perisai Kelapa Dengan Predator
Chilocorus Politus. Gadjah Mada University Press