Anda di halaman 1dari 4

Nama: Annisa

Kelas: Dik B Biologi 2013


Nim: 4131141005

LEMAK
Asam lemak merupakan asam lemah, yang di dalam air akan terdisosiasi sebagian. Umumnya
asam lemak berfase cair atau padat pada suhu ruang (27 C). Semakin panjang rantai karbon
penyusunnya, semakin mudah membeku dan juga semakin sukar larut. Asam lemak dapat
bereaksi dengan senyawa lain membentuk persenyawaan lipida.
Persenyawaan lipida tersebut sering dijumpai di dalam tubuh organisme yang memiliki
fungsi khusus dalam penyusunan sel organism. Beberapa jenis persenyawaan lipida tersebut
antara lain prostaglandin, wax, trigliserida, gliserofosfolipida, sfingolipida dan
glikofosfolipida, perhatikan kembali gambar 14.37, di bawah.

Gambar 14.37. Bagan penggolongan lipida


Asam lemak tidak lain adalah asam alkanoat atau asam karboksilat berderajat tinggi
(memiliki rantai karbon lebih dari 6). Asam lemak dibedakan menjadi asam lemak jenuh dan
asam lemak tak jenuh. Asam lemak jenuh hanya memiliki ikatan tunggal di antara atom-atom
karbon penyusunnya, sementara asam lemak tak jenuh memiliki paling sedikit satu ikatan
rangkap diantara atom-atom karbon penyusunnya. Kedua jenis ikatan dalam asam lemak
inilah yang menyebabkan perbedaan sifat fisik antara asam lemak satu dengan lainnya.
Keberadaan ikatan rangkap dan panjang rantai ini menyebabkan asam lemak penyusun lipida
memiliki dua jenis wujud yang berbeda pada suhu ruang. Dua wujud lipida yang sering kita

temukan adalah lemak dan minyak. Lemak pada suhu ruang berwujud padat sedangkan
minyak pada suhu ruang berwujud cair. perhatikan Gambar 14.38.

Gambar 14.38. Bentuk lipida dalam kehidupan sehari-hari


Lemak umumnya disusun oleh asam lemak rantai panjang yang memiliki ikatan tunggal atau
jenuh sedangkan minyak banyak disusun oleh asam lemak rantai panjang dengan ikatan
rangkap atau tak jenuh.
Kedua asam lemak tersebut jelas memiliki perbedaan sifat fisik dan kimianya, beberapa
struktur dan sifat dari kedua senyawa tersebut disajikan dalam Tabel di bawah ini.
Tabel 14.4. Sifat fisik dan struktur asam lemak jenuh dan tidak jenuh

Beberapa asam lemak yang telah dikenal dan telah teridentifikasi dengan baik ditunjukkan
pada Tabel 14.5.
Tabel 14.5 Daftar nama asam lemak yang telah teridentifikasi

PROSES PENCERNAAN LEMAK

Lemak yang dihasilkan makanan yang sudah dikunyah dalam mulut menunjukkan bentuk
lemak yang : telah teremulsi (emulsied fat) dan belum diemulsi (unemulsied fat), lemak yang
belum diemulsi dalam lambung dengan bentuan empedu akan diubah menjadi lemak yang
sudah teremulsi dan selanjutnya bersama-sama dengan lemak yang teremulsi akan masuk
dalam uss halus.

Didalam usus halus itu lemak yagteremulsi dengan bantuan enzim intestinal lipase dan
pencreatik lipase akan diubah kedalam 3 struktur yang lebih sederhana, jelasnya sebagai
berikut:
1. dipecah menjadi asam lemak dan gliserol 40%-50%
2. dipecah menjadi monogliserid 40%-50%
3. dipecah menjadi gliserida, trigliserida,10%-20%
Adapun kemampuan alat-alat pencernaan dalam mencerna lemak yang terdapat dalam tubuh
adalah bervariasi,sanagt tergantung pada kesehatan tubuh. Pada tubuh yangbenar-benar sehat
sekitar 95%-100% lemak yang dapat dicerna, penggumpalan-penngumpalan lemak tidak

terjadi. Lama berlangsungnya proses pencrnaan lemak sangat bergantung pada panjang
pendeknya rantai (jumlah atom karbon) dalam molekul asam lemak.