Anda di halaman 1dari 5

Attactment And Faith Development

Jonathan T.Hart, Alicia Limke, Phillip R.Budd


Penelitian terbaru menunjukkan hubungan antara attachment denganpengasuh
dan attachment dengan Tuhan, attachment dengan Tuhan dan attachment dengan
orang dewasa, attachment dengan Tuhan dan religiusitas, dan keterikatan dan
kedewasaan rohani, tetapi belum memeriksa hubungan antara attachment dan
perkembangan iman ( yang meliputi tidak hanya rasional tetapi juga sifat imajinatif
dalam interogasi dan menjawab mengenai pengertian keberadaan filosofis). Selama
dekade terakhir, penelitian tentang attachment telah menyelidiki perkembangannya
pada bayi dan predictivenes untuk ciri-ciri keperibadian lainnya seperti respon
emosional terhadap stres, harga diri, dan kepercayaan diri yang dirasakan, neurotisme,
extraversion,locus of control, keterbukaan terhadap pengalaman, dan fundamentalisme.
Para peneliti (Beck, 2006; McDonald, Beck, Allison, & Norsworthy, 2005; Ten Elshof &
Furrow 2000) telah meneliti hubungan antara keterikatan dan masalah iman,
menunjukkan bahwa keterikatan pada pengasuh yang terulang dalam attactment
kepada Tuhan. Namun, belum ada penelitian yang mengarah langsung ke penyelidikan
tentang peran dalam perkembangan iman. Selain itu, hubungan antara keterikatan dan
spiritualitas masih belum jelas.
Attachment
Selama tiga dekade terakhir, para peneliti telah muali mengeksplorasi perbedaan
bagaimana pengaruh attachment dalam kehidupan individu. Konsep teori attachment
Bowlby (1973), mencari penjelasan tentang proses evolusi yang mempertahankan
kedekatan antara bayi dan pengasuh, bahkan dalam menghadapi bahaya atau
ancaman. Bowbly (1969) menyatakan gagasan bahwa pengalaman pengasuh awal
yaitu ibu mampu mencatat dan memperhatikan sinyal bayi tertekan atau takut,
diinternalisasikan sebagai model yang bekerja pada anak-anak. Penelitian Ainsworth et
al (1978), mengembangkan system untuk mengevaluasi dan mengklarifikasi mother
infant diad dalam kategori attactment yang berbeda.
Dari penelitian Ainsworth ini, ia mengidentifikasi tiga jenis attachment pada bayi
yaitu: aman (dimana bayi tertekan setelah keberangkatan ibu tetapi terhibur setelah
ibunya kembali), cemas-ambivalen (dimana bayi mengalami stress pada keberangkatan
dan kepulangan sang ibu) dan cemas-menghindar (dimana bayi tidak terganggu oleh
keberangkatan ibu mereka dan tertarik pada keuntungan mereka). Kemudian. Main dan
Solomon (1986, 1990) mengidentifikasi klasifikasi attactment yang keempat yaitu :
bingung (dimana bayi tampak bingung dan perilaku menghindar).
Attachment orang dewasa
Menurut Bowlby (1969), perilaku attactment dan pengaruh hubungan keterikatan
awal adalah pusat untuk fungsi relasional selama kehidupan. Penelitian Hazan dan
Shaver (1987) menemukan dua dimensi attachment orang dewasa; avoidant versus
aman dan cemas versus non-cemas. Bartholomew dan Horowitz (1991), mengusulkan
empat kategori model : aman (pandangan positif dari diri sendiri dan orang lain),
menolak (pandangan positif dari diri sendiri dan pandangan negatif dari orang lain),

sibuk (pandangan negatif tentang diri sendiri dan pandanagn positif dari orang lain),
takut (pandangan negatif dari diri sendiri dan orang lain). Penelitian Brennan (1998)
mengembangkan ukuran kontiyu yang didasarkan pada model ini, memberikan analisis
dari dua dimensi attactment (penghindaran dan kecemasan) serta empat kategori
attactment.
Attachment dan Tuhan
Beberapa peneliti telah mulai menerapkan model keterikatan hubungan individu
dengan Tuhan (misalnya, Beck, 2006; Cassibba, Granqvist, Costantini, & Gatto, 2008; Cicirelli,
2004; Granqvist, Ivarsson, Broberg, & Hagekull 2007; Granquvist & Kirkpatrick, 2004; Hall,
2007a, 2007b; Kirkpatrick, 1999). Ada kemungkinan bahwa individu mencari hubungan

dengan Tuhan untuk mengeimbangi obligasi attachment yang sebelumnya gagal.


Kemampuan untuk menciptakan basis yang aman kepada Tuhan memberikan dasar
untuk mengeksplorasi masalah iman dan menimbulkan toleransi kepada orang lain
dengan berbagai pandangan agama (Beck, 2006). Selain itu, attactment orang dewasa
memprediksi Kedewasaan rohani, bahwa individu terpasang pada tingkat yang lebih
tinggi horinsontal (hubungan dengan orang lain) dan vertikal (hubungan dengan
transenden lain). Penelitian Tenelshof dan Furrow (2000), menunjukkan bahwa individu
dengan secure attachment memiliki tingkat kedewasaan rohani daripada individu tanpa
secure attachment, attachment kepada orang tua dan hubungan kerjasama menyerupai
attachment kepada Tuhan. Namun, belum ada penelitian yang meneliti hubungan
antara attachment dengan perekembangan iman, Namun, belum ada penelitian yang
menyelidiki hubungan attactment dan perkembangan iman. Selain itu, ada penelitian
yang meneliti hubungan langsung antara jenis attachment yang tidak aman dan
spiritualitas.
Perkembangan Iman
Fowler (1981), mendefinisikan iman sebagai motivasi utama seseorang untuk
hidup. Dia menekankan tidak hanya relasional, tetapi sifat imajinatif dalam menilai
kemajuan pembentukan iman yaitu ia membahas proses intraspsikis yang menadasari
ritual dan gagasan filosofis. Sangat dipengaruhi oleh teori psikologis seperti Piaget
(1928) dan Erikson (1950), Fowler mengusulkan enam tahapan iman (pra-tahap untuk
mengkategorikan perkembangan iman bayi) dan diasumsikan bahwa transisi dalam
perkembangan iman hanya bergerak maju. Fowler (1981) menyakini bahwa
perkembangan iman adalah aktivitas manusia yang universal di mana individu
menemukan makna yang paling penting, Fowler lebih peduli dengan struktur keyakinan
individu (misalnya cara untuk mengetahui) dari pada isi keyakinan itu sendiri. Fowler
berpendapat bahwa iman meliputi kognitif, afektif, dan aspek relasional. Perpindahan
dari satu tahap ke tahap berikutnya mewakili kompleksitas meningkat dan kelengkapan
dalam struktur aspek ini. Jadi, menurut Fowler perkembangan iman mewakili lebih dari
kedewasaan hanya rohani.

Studi Saat ini


Penelitian terbaru menunjukkan hubungan antara attachment dengan pengasuh
dan attachment dengan Tuhan (Cassibba et al, 2008;. Granqvist et al, 2007;. McDonald
et al, 2005). Attachment dengan Tuhan dan attachment dewasa dan attachment dengan
kedewasan rohani, tetapi belum berhasil untuk memeriksa hubungan antara keterikatan
dan perekembangan iman. Karena, Flower (1981) percaya bahwa perkembangan iman
melibatkan struktur yang digunakan untuk menyelidiki keyakinan yang dimiliki
sebelumnya tentang spiritualitas dan agama. Hubungan antara attachment dan
perekembangan iman mungkin lebih kompleks daripada penelitian sebelumnya.
Namun, tidak tertutup kemungkinan bahwa perkembangan iman hanya indeks
kedewasaan rohani yang lebih besar dari individu. Jika demikian, attatchment harus
memprediksi perkembangan iman (secure attatchment tersebut terkait dengan
perkembangan iman yang lebih besar).
Meskipun hubungan antara keterikatan dan kedewasaan rohani sebelumnya
telah didokumentasikan, jenis spesifik attachment yang tidak aman yang memprediksi
kurangnya kedewasaan rohani belum teridentifikasi. Artinya, ada kemungkinan bahwa
kedua attatchment kecemasan dan attatchment menghindar memprediksi kurangnya
kedewasaan rohani. Namun, tidak tertutup kemungkinan bahwa hanya satu
penyumbang attatchment tidak aman menyumbang kekurangan yang sebelumnya telah
didokumentasikan(misalnya, Beck dan McDonald (2004)) menemukan bahwa hanya
attachment kecemasan yang terkait dengan kekurangan kedewasaan rohani.
Back dan McDonald (2004) telah menyatakan bahwa ada hubungan antara
attachment dalam hubungan romantis dan keterikatan kepada Tuhan untuk attachment
kecemasan, tetapi tidak untuk attachment menghindar. Hal ini menunjukkan bahwa
mungkin ada efek diferensial dari hubungan antara attatchment romantic dan
perkembagan iman untuk attachment kecemasan dan attachment menghindar. Dengan
demikian, penelitian ini meneliti hubungan antara attactment romantis kecemasan,
attatchment romantis menghindar, dan perkembangan iman dalam sampel mahasiswa
tradisional. Karena, Beck dan McDonald menemukan hubungan antara attachment
dalam hubungan romantis dan keterikatan dengan Tuhan untuk attachment kecemasan
dan karena perkembangan iman cenderung berkorelasi dengan attatchment dengan
Tuhan.
Selain itu, berdasarkan konseptualisasi kategori oleh Bartholomew dan Horowitz
(1991) sebagai mewakili ekstrem pada dua dimensi attachment dan berdasarakan
temuan penelitian tentang keterikatan dengan Tuhan dan spiritualitas diharapkan
bahwa individu diklasifikasikan sebagai secure attachment (pandangan positif tentang
diri, pandangan positif dari orang lain) dan individu dengan attachment menolak
(pandangan positif diri, pandangan negatif tentang orang lain) tingkat yang lebih tinggi
dari perkembangan iman daripada individu yang diklasifikasikan sebagai attachment
sibuk (pandangan negatif tentang diri, pandangan positif dari orang lain) dan
attachment takut (pandangan negatif tentang diri, pandangan negatif tentang orang lain)
karena tingginya tingkat attachment kecemasan terlibat dalam kedua gaya attachment
yaitu attachment sibuk dan attachment takut. Artinya attachment kecemasan
sebelumnya dikaitkan dengan attachment dengan Tuhan dan karena tingginya tingkat
attachment kecemasan yang hadir pada individu dengan attachment sibuk dan takut.

Dan mewakili pandangan negatif terhadap diri sendiri, diharapkan bahwa dua klasifikasi
attachment akan menunjukkan tingkat terendah perkembangan iman.
Metode
Seratus lima mahasiswa di Southern Nazare University menawarkan diri untuk
berpartisipasi dalam sebuah studi yang digambarkan sebagai Childhood experiences,
relationships, and faith. Dari jumlah tersebut 10 mahasiswa dikeluarkan karena
traditional undergraduates. Para peserta memiliki latar belakang ras, usia dan agama
yang berbeda.
Bahan
Attachment. Peserta menyelesaikan pengalaman pada Close Relationship
Scale sebagai ukuran attactment romantis. Ini berisi 36 pertanyaan untuk mengukur
tingkat attachment kecemasan terkait (misalnya, saya khawtir akan ditinggalkan, saya
khawatir tentang hubungan saya, dan saya kahwatir bahwa mitra romantis tidak akan
peduli tentang saya sebanyak yang saya peduli tentang mereka dan attachment
penghindaran (misalnya, saya lebih suka untuk tidak menunjukkan bagaimana
pasangan saya merasa jauh dari lubuk hati, hanya ketika pasangan saya mulai
mendekati saya, saya menemukan diri saya menarik diri, dan aku merasa tidak
nyaman ketika pasangan romantis ingin menjadi sangat menutup. Pertanyaan yang
dinilai pada sakala 7 poin (1=sangat tidak setuju, 7= sangat setuju). Skor
mencerminkan dua dimensi berkesinambungan (attachment kecemasan dan
attachment menghindar), skor lebih rendah mencerminkan attachment lebih aman dan
skor yang lebih tinggi mencerminkan attachment kecemasan atau avoidant.
Sedangkan, perkembangan iman menggunakan The Faith Development Scale
(FDS) sebagai ukuran pembentukan iman yang berhubungan dengan tahap 2 sampai 5
dari teori Fowler. Tahapan 1 (intiitif-proyektif) dan 6 (universalisai). FDS berisi 8
perbedaan semantic yang peserta harus memilih antara respon kurang berkembang
dan lebih maju. Artinya, individu harus memilih antara dua pernyataan seperti tradisi
agama dan keyakinan saya dibesarkan, sangat penting bagi saya dan tidak perlu
mengubah dan tradisi agama dan keyakinan saya dibesarkan, menjadi kurang dan
kurang relevan dengan orientasi agama saya saat ini.
FDS menghasilkan berbagai perkembangan iman dengan skor yang lebih tinggi
berhubungan dengan tahapan 4 atau 5 dan skor yang lebih rendah untuk tahap 2 atau
3. Leak melaporkan konsistensi internal dari 72 dan 5 minggu tes ulang keandalan
rating dari 0,96. Meskipun Leak terus mendukung validitas pengukuran, FDS telah
dikiritik sebagai bukan merupakan representasi langsung tahapan perkembangan iman
menurut fowler yaitu hanyalah ukuran global kedewasaan rohani. Peserta juga
menyelesaikan kuesioner demografi dan meniali latar belakang jenis kelamin, usia,
etnis, latar belakang agama, dan hubungan informasi dan ketergantungan pada
pengasuh.
Prosedur
Peserta direkrut untuk berpratisipasi, dan peneliti memberitahu mahasiswa
bahwa mereka berpartisipasi dalam proyek Childhood experiences, relationships, and
faith. Peserta diminta untuk jujur, dan tidak khawatir tentang jawaban yang sempurna.
Mereka di beri kuesioner secara acak.

Hasil
Analisis regresi berganda digunakan untuk menguji hipotesis bahwa attachment
penghindaran dan attachment kecemasan memprediksi perkembangan iman. Hasil
penelitian ini di dapatkan bahwa terdapat perbedaan signifikan F (3,91) = 4.65, p =
0,005 pada hubungan secure attachment dibuktikan tingkat yang lebih tinggi dari
perkembangan iman dari individu dengan attachment rasa senang. Tidak ada
perbedaan lain yang ditemukan.
Pembahasan
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secure attachment mencerminkan
kedewasaan rohani. Secara khusus penelitian ini menunjukkan bahwa secure
attachment memprediksi perkembangan iman. Bahwa iman tumbuh, dan orang harus
melihat angka keterikatan mereka (dan mungkin Tuhan) tanpa takut ditinggalkan; yaitu
mereka harus melihat diri mereka sendiri (bukan hanya orang lain) untuk layak dicintai
dan penerimaan. Kombinasi pandangan negatif dari diri sendiri dan pandangan positif
dari orang lain dapat menyebabkan individu untuk melihat diri mereka sebagai tidak
layak dari proses yang diinginkan eksplorasi spiritual, sedangkan pandangan negatif
dari diri sendiri dan orang lain dapat menyebabkan individu hanya mempercayai
pertanyaan yang diperlukan proses ini tanpa mejawab sepenuhnya.
Temuan studi ini menunjukkan bahwa belum berkembangnya literatur tentang
hubungan antara keterikatan dan iman. Penelitian ini bukan untuk mengukur religiusitas
tetapi perkembangan iman orang dengan sikap keagamaan yang dianut. Penelitian di
masa depan harus menyelidiki hubungan antara keterikatan dan perkembangan iman
pada seluruh jangka kehidupan. Hal ini juga harus mempertimbangkan hubungan
antara kematangan spiritual, keterikatan kepada Tuhan, perkembangan iman, dan
religiusitas untuk menentukan berapa banyak diskusi ini merupakan konstruk dasar
yang sama.