Anda di halaman 1dari 18

1

I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Bertambahnya dan meningkatnya jumlah penduduk Indonesia, beserta
kemajuan gizi masyarakat yang senantiasa berkembang dan ditunjang dengan
peningkatan daya beli konsumen menyebabkan adanya peningkatan konsumsi
pangan asal hewani. Kebutuhan makanan seperti daging, susu dan telur untuk
mencukupi gizi masyarakat Indonesia sangatlah kurang, dalam peningkatan
produksi protein hewani di Indonesia masih banyak mengalami hambatan. Hal
ini dapat dilihat dari masih diimportnya daging maupun ternak dari luar
negeri. Hal tersebut dipicu dari kurangnya tenaga ahli dalam bidang tersebut,
dan juga kurangnya lapangan kerja yang ada.
Mengenai pembibitan Nasional, timbul permasalahan yaitu tidak
tersedianya bibit ternak dalam jumlah yang cukup dan berkualitas prima.
Salah satu yang cara yang digunakan dalam meningkatkan produksi yaitu
dengan menyiapkan pejantan. Produk semen pejantan digunakan untuk
menghasilkan kemajuan di bidang teknologi perkawinan modern seperti kawin
secara Inseminasi Buatan (IB).
Pemerintah dalam hal ini Direktorat Jendral Peternakan, Departemen
Pertanian, telah mencanangkan Program Swasembada Daging pada tahun
2014. Artinya, 90% jumlah ternak nasional maupun kebutuhan daging harus
dipasok dari dalam negeri melalui program pembibitan atau pemberian modal
pada peternak. Adanya Balai Inseminasi Buatan (BIB) ini berarti membantu
negara meringankan dalam hal pengimporan ternak unggul. Disamping itu
juga Balai Inseminasi Buatan (BIB) juga memproduksi semen beku, benih
unggul, ternak unggul. Selain itu juga Balai ini memberikan pendapatan untuk
negara. Kegiatan magang di BIB Lembang dapat diperoleh pengetahuan
tentang bagaimana program pengadaan, seleksi dan replacement stocks bibit
sapi potong, sapi perah dan kambing etawa, program pengadaan, produksi dan
peredaran benih (semen beku) sapi potong, sapi perah dan kambing etawa.

B. Tujuan Magang
1. Tujuan umum
a) Upaya penyelarasan antara status pencapaian pembelajaran di kampus
dengan dinamika perkembangan kegiatan usaha disektor peternakan.
b) Meningkatkan kompetensi lulusan
c) Meningkatkan pengalaman dan skill kerja mahasiswa.
2. Tujuan khusus
a. Mengaplikasikan ilmu dalam praktek kerja lapangan
b. Meningkatkan pengetahuan tentang penerapan ilmu pengetahuan dan
teknologi dalam usaha peternakan.
c. Meningkatkan pengetahuan mengenai metode inseminasi buatan pada
ternak sapi yang efisien dan menguntungkan.
d. Memberikan

pengetahuan

tentang

menajemen

organisasi

dan

manajemen ternak dalam skala besar dan berorientasi bisnis.


e. Melatih mahasiswa mengintegrasikan diri dalam masyarakat dan
lingkungan perusahaan.
f. Mengidentifikasi permasalahan dan mencari solusinya.
g. Mengetahui manajemen pastura yang berlaku di Balai Inseminasi
Buatan Lembang dan manajemen pakan yang diterapkan.
h. Mengetahui manajemen seleksi pejantan guna produksi sperma
berkualitas dan proses pembekuan semen beku.
C. Manfaat Magang
1. Mengetahui kesesuaian dan penerapan ilmu yang dipelajari di lapangan.
2. Mengetahui faktor-faktor eksternal di lapangan yang mempengaruhi
pengaplikasian teori ilmu.
3. Menambah pengalaman dan ketrampilan kerja.
4. Mahasiswa mampu berkomunikasi dan mengintegrasikan diri dalam
lingkungan perusahaan.
5. Mampu menganalisis permasalahan dan kendala dalam pengelolaan dan
pengembangan usaha peternakan.

II.

TINJAUAN PUSTAKA

A. Pembibitan Ternak
Semua aktivitas yang berhubungan dengan perbaikan populasi atau
kelompok ternak bibit dapat dikelompokkan menjadi dua bagian yang luas
yaitu pertama menetapkan sasarannya dan kedua mengembangkan program
seleksi yang dimaksudkan untuk mengubah rata-rata populasi atau kelompok
ke arah sasaran yang dikehendaki. Seleksi dapat dipandang sebagai suatu
proses yang terdiri dari dua tahap. Pertama membentuk dan menyeleksi
populasi yang akan dipakai. Kedua mengembangkan program seleksi yang
tepat untuk perbaikan populasi (Warwick et. al., 1983).
Empat metode utama digunakan dalam praktek. Seleksi individu atau
kelompok, seleksi atas silsilah, seleksi atas dasar keturunannya.

Seleksi individu atau kelompok dan tes performans. Ini adalah metode
yang baik terhadap sifat yang daya menurunnya tinggi dan sifat tersebut
dapat diobservasi pada kedua jenis kelamin.

Seleksi atas dasar silsilah. Ini adalah satu metode seleksi yang
mendasarkan pada performan nenek moyangnya sampai saat ini metode
yang kebanyakan dilakukan dengan mana seleksi dilakukan dan kelompok
garis keturunan ternak di daerah empat musim.

Seleksi atas dasar hubungan persaudaraan. Ini paling banyak dipakai bila
dalam keluarga yang cukup banyak, bila sifat-sifat menurunnya tinggi bila
terapat hubungan genetik yang dekat dalam anggota keluarga dan bila ratarata interval generasi pendek.

Tes atas dasar keturunannya. Penentuan nilai breeding suatu ternak atas
dasar performans keturunannya dikenal dengan progeny test. Mengingat
pada kebanyakan jenis ternak pejantan menghasilkan lebih banyak
keturunan

dalam

masa

hidupnya

daripada

ternak

betina

(Williamson dan Payne, 1993).


Beberapa sebab populasi atau kelompok ternak bibit yang khusus
biasanya lebih mahal pemeliharaannya daripada populasi ternak niaga. Sebab3

sebab penting antara lain : (1) prosedur yang tepat, terperinci dan kadangkadang mahal harus digunakan dalam evaluasi ternak, (2) harus dibuat catatan
yang terperinci, dianalisis dan dibuat ringkasannya untuk mengawasi program
perkawinan dan juga memungkinkan pembeli ternak-ternak atau plasma
nutfah dalam bentuk lain seperti air mani atau embrio yang berpotensi untuk
mengevaluasi kegunaannya, (3) perkawinan-perkawinan harus diawasi dengan
cermat untuk meyakinkan bahwa rencana perkawinan telah dilaksanakna, (4)
harus dilakukan program penanggulangan penyakit yang tepat untuk
mencegah masalah kesehatan dalam kelompok ternak dari pembeli dan (5)
untuk mendapat kemajuan paling besar para pemilik atau pengelola harus
mempunyai pengetahuan tentang metode pemuliaan ternak atau menggaji
orang-orang

terlatih

yang

mengetahui

metode

pemulihan

ternak

(Warwick et. al., 1983).


Pemilihan sapi potong bibit dan bakalan yang akan dipelihara, akan
tergantung pada selera petani ternak dan kemampuan modal yang dimiliki.
Namun secara umum yang menjadi pilihan petani ternak adalah sapi potong
yang pada umumnya dipelihara di daerah atau lokasi peternakan dan yang
paling mudah pemasarannya. Di Indonesia cukup banyak dikenal sapi potong
lokal, jenis sapi potong impor, maupun sapi peranakan atau hasil silangan
yang dikembangkan lewat kawin suntik /inseminasi buatan (Murtidjo, 1990).
B. Karakteristik Pejantan
1. Sapi Pejantan
Sapi pejantan mempunyai silsilah tetua

(pedigree) dan sudah

terseleksi harus dibuktikan dengan sertifikat dari asosiasi breeder atau


badan pemerintah/semi pemerintah dinegara asal ternak. Sapi pejantan
tersebut harus sehat dan bebas dari cacat fisik seperti cacat mata, tanduk
patah, pincang, lumpuh, kaki abnormal (bentuk O atau X) dan kuku
abnormal serta tidak terdapat kelainan tulang punggung atau cacat tubuh
lainnya. Sapi pejantan tersebut tidak memiliki cacat pada alat kelamin
(testis asimetris, monocidismus, paratymosis) (AAK, 1995).

Beberapa bangsa sapi yang unggul dan banyak disuka oleh


masyarakat, antara lain :
a. Sapi Limousin
Sapi Limousin merupakan sapi tipe potong yang berasal dari
prancis. Ciri-ciri dari sapi limausin adalah warna bulu merah coklat,
tetapi pada sekeliling mata kaki mulai dari lutut kebawah agak terang.
Ukuran tubuh besar, tubuh berbentuk kotak dan panjang, pertumbuhan
bagus. Tanduk pada jantan tumbuh keluar dan agak melengkung
(Murtidjo, 1990).
b.

Sapi Simmental
Sapi Simemtal merupakan sapi yang berasal dari Switzerland.
Tipe sapi ini merupakan tipe potong, perah dan kerja. Ciri-ciri sapi
simental adalah tubuh berukuran besar, tubuh berbentuk kotak
pertumbuhan otot bagus, penimbunan lemak dibawah kulit rendah.
Warna bulu pada umumnya krem agak coklat atau sedikit merah,
sedangkan muka keempat kaki mulai dari lutut, dan ujung ekor
berwarna putih. Ukuran tanduk kecil. Berat sapi betina mencapai 800
kg dan sapi jantan 1150 kg (Sugeng, 1999).

c. Sapi Brangus
Sapi brangus merupakan hasil persilangan antara Brahman dan
Aberdeen Angus. Sapi ini merupakan tipe potong, dengan cirri-ciri bulu
halus dan pada umumnya berwarna hitam atau merah. Sapi ini juga
tidak bertanduk, bergelambir, bertelinga kecil. Sapi ini juga berpunuk,
tetapi kecil (Sugeng, 1999).
d. Sapi Brahman
Bangsa sapi ini semula berkembang di Amerika serikat (18541926), (Sugeng, 1999). Sapi Brahaman mempunyai punuk yang besar
diatas bahu depan dan mempunyai kulit longgar serta berlebih pada
bagian leher dan gelambir serta berlipat-lipat. Telinga besar dan
menggantung. Mempunyai suara yang besar. Warna bulu putih sedang
pada yang jantan terdapat warna delap pada punuk, leher, kepala dan

kadang kala pantat serta paha belakang terdapat yang berwarna putih,
abu-abu merah (Pane, 1993).
e. Sapi Friesian Holstein (FH)
Bangsa sapi perah friesian Hoistein berasal dari propinsi North
Holland dan propinsi West Friesland Belanda yang memiliki padang
rumput cukup baik. Sapi jenis ini mempunyai ciri-ciri berwarna putih
dan hitam dengan sedikit bintik hitam, berat badan untuk betina
berkisar 816 (beberapa pejantan lebih dari 1 ton), kpasitas perut dan
ambing yang besar, bentuk kepala panjang, sempit dan lurus dengan
dominan warna hitam garis warna putih dari dahi sampai mulut
(Blakly dan Bade, 1994).
2. Kambing Pejantan
Berasal dari wilayah Jamnapari India. Kambing ini paling popular di
Asia Tenggara, termasuk tipe dwiguna yaitu penghasil susu dan penghasil
daging. Kambing Peranakan Etawa (PE) merupakan persilangan antara
kambing Kacang dengan kambing Etawa, yang telah terjadi beberapa
puluh tahun yang lalu. Hasil persilangan ini menjadi bangsa kambing yang
sudah beradaptasi dengan kondisi Indonesia. Bentuk tubuhnya berada
diantara kambing Etawa dan kambing Kacang (Murtidjo, 1992).
Tanda-tanda kambing Etawa yaitu panjang telinga berkisar 18-30
cm, bobot badan jantan kurang lebih 40 kg dan betina kurang lebih 35 kg,
tinggi pundak berkisar 76-100 cm. Kambing jantan bulu bagian atas dan
bawah leher, pundak, lebih tebal dan agak panjang, sedang yang betina
bulu panjangnya hanya terdapat pada bagian paha. Warna bulu berfariasi
dari coklat muda sampai hitam (Anggorodi, 1990).
Ciri-ciri Kambing Peranakan Etawa yang baik digunakan sebagai
calon pejantan adalah tubuh besar dan panjang dengan bagian belakang
lebih besar dan lebih tinggi, dada lebar, tidak terlalu gemuk, gagah, aktif
dan memiliki libido (nafsu kawin) tinggi, Kaki lurus dan kuat, umur antara
1,5 sampai 3 tahun (Sarwono, 1990).

C. Inseminasi Buatan
Inseminasi Buatan adalah salah satu bentuk bioteknologi dalam bidang
reproduksi ternak yang memungkinkan manusia mengawinkan ternak betina
yang dimilikinya tanpa perlu seekor pejantan utuh. Inseminasi buatan sebagai
teknologi merupakan suatu rangkaian proses yang terencana dan terprogram
karena akan menyangkut kualitas genetik ternak di masa yang akan datang.
Pelaksanaan dan penerapan teknologi Inseminasi Buatan di lapangan di-mulai
dengan langkah pemilihan pejantan unggul sehingga akan lahir anak-anak
yang kualitasnya lebih baik dari induknya. Selanjutnya dari pejantan tersebut
dilakukan pe-nampungan semen, penilaian kelayakan kualitas semen,
pengolahan dan pengawetan semen dalam bentuk cair dan beku, serta teknik
inseminasi yaitu cara penempatan (inseminasi/ deposisi) ke dalam saluran
reproduksi ternak betina (Kartasudjana, 2001).
IB adalah proses memasukkan sperma ke dalam saluran reproduksi
betina dengan tujuan untuk membuat betina jadi bunting tanpa perlu terjadi
perkawinan alami. Konsep dasar dari teknologi ini adalah bahwa seekor
pejantan secara alamiah memproduksi puluhan milyar sel kelamin jantan
(spermatozoa) per hari, sedangkan untuk membuahi satu sel telur (oosit) pada
hewan betina diperlukan hanya satu spermatozoon. Potensi terpendam yang
dimiliki seekor pejantan sebagai sumber informasi genetik, apalagi yang
unggul dapat dimanfaatkan secara efisien untuk membuahi banyak betina
(Hafez, 1993).
Permasalahan utama dari semen beku adalah rendahnya kualitas semen
setelah dithawing, yang ditandai dengan terjadinya kerusakan pada
ultrastruktur, biokimia dan fungsional spermatozoa yang menyebabkan terjadi
penurunan motilitas dan daya hidup, kerusakan membran plasma dan tudung
akrosom, dan kegagalan transport dan fertilisasi. Ada empat faktor yang
diduga sebagai penyebab rendahnya kualitas semen beku, yaitu (1) perubahanperubahan intraseluler akibat pengeluaran air yang bertalian dengan
pembentukan kristal-kristal es; (2) cold-shock (kejutan dingin) terhadap sel
yang dibekukan; (3) plasma semen mengandung egg-yolk coagulating enzyme

yang diduga enzim fosfolipase A yang disekresikan oleh kelenjar


bulbourethralis; dan (4) triglycerollipase yang juga berasal dari kelenjar
bulbourethralis dan disebut SBUIII. Pengaruh yang ditimbulkan akibat
fenomena di atas adalah rendahnya kemampuan fertilisasi spermatozoa yang
ditandai oleh penurunan kemampuan sel spermatozoa untuk mengontrol aliran
Ca2+ (Bailey dan Buhr, 1994).
D.

Reproduksi Ternak
Reproduksi pada hewan betina merupakan suatu proses yang kompleks
dan dapat terganggu pada berbagai stadium sebelum dan sesudah permulaan
siklus reproduksi. Siklus ini dimulai dengan pubertas atau dewasa kelamin
yang ditandai dengan berfungsinya organ-organ kelamin betina. Kemudian
musim kawin yang ditandai dengan siklus birahi dan kopulasi sperma adanya
kelahiran setelah kelahiran dan anak disapih maka ternak betina akan kembali
ke masa siklus birahi dan seterusnya (Toelihere, 1981).
Dalam satu siklus birahi terjadi perubahan-perubahan fisiologik dari alat
kelamin betina. Perubahan ini bersifat sambung menyambung satu sama lain,
hingga akhirnya bertemu kembali pada permulaannya. Pada umumnya yang
disebut permulaan adalah timbulnya gejala birahi itu sendiri. Untuk
memperoleh dasar yang lebih baik dalam menerangkan fisiologi kelamin,
sering pula peristiwa ovulasi yang mengikuti kejadian birahi digunakan
sebagai titik permulaan dari suatu siklus birahi, sedangkan untuk dapat
menerangkan siklus birahi berdasarkan gejala yang terlihat dari luar tubuh,
satu siklus birahi terbagi menjadi 4 fase yaitu proestrus, estrus, metestrus, dan
diestrus (Partodihardjo, 1980).
Siklus birahi ternak betina terbagi menjadi 4 fase yaitu proestrus, estrus,
metestrus, dan diestrus. Proestrus ditandai dengan pertumbuhan folikel tersier
menjadi folikel de Graff. Kelenjar endometrium memanjang cerviknya mulai
merelax dan lumen serviknya mulai memproduksi lendir. Estrus ditandai
dengan adanya kopulasi, ovum telah masak dan dinding folikel menjadi tipis
serta terjadi ovulasi (pecahnya dinding folikel dan keluarnya ovum dari

folikel). Metestrus ditandai dengan pembentukan corpus nemorrhogicum di


tempat folikel de Graff, cerviks telah menutup, kelenjar kental diskereksikan
oleh cerviks untuk menutup lubang cerviks. Diestrus ditandai dengan
kebuntingan dan adanya sel-sel kuning (luteum) di bawah lapisan hemoragik
(Partodiharjo, 1980).
Pengontrolan hormonal terhadap reproduksi merupakan suatu sistem
pengawasan dan pengaturan yang kompleks dan sangat berimbang. Berbagai
hormon saling menstimulir atau menghambat sehingga tercapai suatu
keselarasan fungsi dan pengaruh terhadap organ-organ reproduksi. Hormonhormon reproduksi memegang peranan penting dalam initrasi dan regulasi
siklus birahi, ovulasi, fertilisasi, mempersiapkan uterus untuk menerima ovum
yang telah dibuahi, melindungi, mengamankan dan mempertahankan
kebuntingan, menginitrasikan kelahiran, perkembangan kelenjar susu dan
laktasi (Toelihere, 1981).
E.

Pakan Ternak
Pakan adalah sesuatu yang sangat penting bagi ternak sebagai sarana
pembina pertumbuhan tubuh. Tubuh membutuhkan zat pembangun yang
berasal

dari

pakan.

Hanya

pakan

yang

sempurna

yang

mampu

mengembangkan pekerjaan sel tubuh. Pakan yang sempurna mengandung


kelengkapan protein, karbohidrat, lemak, air, vitamin, dan mineral
(Tilman, 1991).
Tingkat konsumsi adalah jumlah pakan yang dikonsumsi oleh hewan
atau bahan makanan yang diberikan secara ad libitum. Tingkat konsumsi
seekor sapi pedaging dipengaruhi oleh berbagai faktor yang terdiri atas :
1.

Hewannya

sendiri

yaitu

bobot

badan

dewasa, sapi potong mempunyai bobot badan yang berbeda akan berbeda
pula dalam kegemukannya pada umur dan makanan yang sama.
Disamping itu juga perbedaan jenis kelamin, umur, genetik ikut
menentukan.

10

2.

Faktor

lingkungan

(Temperatur,

kelembaban, sinar matahari, dan lain-lain) (Parakkasi, 1995).


Konsumsi pakan setiap ekor kambing per hari di peternakan ini adalah
daun ketela pohon sebanyak 1,9 kg, rumput lapangan sebanyak 0,5 kg, dan
bekatul padi sebanyak 2,0 kg. Bahan pakan tersebut dicampur dengan air dan
tetes tebu sebanyak 1 ml serta garam sebanyak 2 g untuk 82 ekor ternak.
Rata-rata konsumsi BK harian per ekor sebanyak 2,18 kg, konsumsi PK
sebanyak 0,288 kg. Perhitungan dapat dilihat pada Lampiran 2. Dilihat dari
data yang diperoleh, kebutuhan kambing sudah tercukupi. Hal ini dapat
dilihat bahwa protein yang di konsumsi sebesar 13,21%. Domba dengan berat
25 kg membutuhkan protein sebesar 10-16% agar mempunyai pertambahan
bobot badan dan konversi pakan yang maksimal (Jurgens, 1993).
Konsentrat merupakan campuran bahan pakan ternak yang mutu dan
gizinya baik serta mudah dicerna oleh ternak dengan kandungan protein
yang tinggi
ditambahkan

dan

kandungan

serat

kasar

yang

rendah.

Konsentrat

dalam pakan pakan untuk meningkatkan keserasian gizi

(Astuti dan Hardjosubroto, 1993).


Secara umum jenis pakan yang diberikan pada kambing Peranakan
Ettawa terdiri dari tiga jenis yaitu, pakan kasar, pakan penguat, dan pakan
tambahan atau suplemen. Dijelaskan lebih lanjut, pakan kasar merupakan
bahan pakan berkadar serat kasar tinggi. Bahan ini berupa pakan hijauan dan
dedaunan. Pakan penguat merupakan bahan pakan berkadar serat rendah dan
mudah dicerna seperti bekatul, ampas tahu, dan bubur singkong. Bahan pakan
suplemen misalnya sejenis probiotik seperti Nutri Simba, yang dicampurkan
pada hijauan. Probiotik ini berpengaruh pada peningkatan kesehatan ternak
dan dapat mengurangi bau kotoran ternak (Setiawan dan Tanius, 2003).
Jenis dan cara pemberiannya disesuaikan dengan umur dan kondisi
ternak. Pakan yang diberikan harus cukup protein, karbohidrat, vitamin dan
mineral, mudah dicerna, tidak beracun dan disukai ternak, murah dan mudah
diperoleh. Pada dasarnya ada dua macam makanan, yaitu hijauan (berbagai
jenis rumput) dan makan tambahan (berasal dari kacang-kacangan, tepung

11

ikan, bungkil kelapa, vitamin dan mineral). Cara pemberiannya diberikan 2


kali sehari (pagi dan sore), berat rumput 10% dari berat badan kambing,
berikan juga air minum 1,5 - 2,5 liter per ekor per hari, dan garam berjodium
secukupnya (Sarwono, 1990).
F. Perawatan Kesehatan Ternak
Pembersihan kandang sebaiknya dilakukan setiap hari. Kegiatan ini
dilakukan bertujuan untuk menjaga kesehatan ternak, kebersihan minum dan
pakan dari bakteri patogen yang dapat menyebabkan penyakit dan gangguan
pencernaan. Kandang dapat dibuat dengan kerangka dari besi, besi beton,
kayu, maupun bambu. Bahan-bahan yang dipilih ini disesuaikan dengan
model kandang yang dikehendaki serta persediaan bahan bangunan yang ada
didaerah tersebut (Sosro Amijojo dan Soeradji, 1984).
1. Kebersihan ternak
Perawatan ternak yang biasa dilakukan petani peternak adalah
memandikan ternak, membersihkan kandang 2-3 kali tiap minggu dan
membakar sampah disekitar kandang untuk mengusir nyamuk dan lalat di
lingkungan kandang (Akoso, 1996).
Ternak perlu mendapat perawatan badan secara rutin, sebab setiap
saat tubuhnya menjadi kotor oleh kotoran ternak tersebut. Adanya kotoran
yang melekat pada tubuh sternak menyebabkan tumbuhnya bakteri dan
parasit (Murtidjo, 1992).
2. Perawatan kuku
Ternak pun perlu perawatan kuku terutama kuku bagian belakang.
Apabila kuku dari kedua kaki belakang itu menderita sakit, maka fungsi
jantan sebagai pemacek tak berarti lagi. Agar kuku tetap bagus dan kuat,
maka lantai kandang sapi jantan diupayakan terbuat dari papan yang kuat
(AAK, 1995).
3. Gerak Jalan (Exercise)
Agar ternak pejantan selalu dalam kondisi yang prima, tidak teralu
gemuk atau kurus, maka mereka harus diberi kebebasan untuk selalu

12

berjalan-jalan di suatu tempat khusus seperti di lapangan penggembalaan.


Sapi-sapi yang memperoleh kebebsan berjalan-jalan, kecuali menunjang
kondisi prima, juga sangat penting untuk pembentukkan kuku yang
bertahan baik dan rata dan kuat (AAK, 1995).
4. Macam-macam Penyakit
Pengertian umum tentang hewan sakit adalah setiap penyimpangan
dari kondisi normalnya. Dalam arti yang lebih spesifik, hewan sakit adalah
suatu kondisi yang ditimbulkan oleh individu hidup atau oleh penyebab
lainnya, baik yang diketahui atau tidak, yang merugikan kesehatan hewan
tersebut. Dari pengertian ini, maka hewan yang sakit dapat disebabkan
oleh beberapa faktor antara lain mekanis, termis, kekurangan nutrisi,
pengaruh zat kimia, faktor keturunan, dan sebagainya (Akoso, 1996).
Penyakit hewan dapat diklasifikasikan menurut agen penyebabnya
sebagai berikut :
a. Mikroorganisme (bakteri, virus, protozoa, dan riketsia)
b. Parasit (eksternal dan internal)
c. Gangguan metabolis (termasuk kekurangan gizi)
d. Jamur
e. Keracunan (tanaman, ular, dan baham makanan)
f. Neoplasma
g. Luka-luka fisik
(Wiliamson dan Payne, 1993).
5. Pengendalian, Pencegahan dan Pengobatan Penyakit
Bila terjadi luka pada anggota tubuh ternak, sebelum dibalut
hendaknya luka dibersihkan dari kotoran yang melekat. Pencucian
dilakukan dengan air hangat yang dicampur dengan kapur atau disinfektan.
Setelah luka menjadi bersih, baru kemudian dilumuri salep hewan atau
sulfanilame untuk luka bernanah. Untuk luka baru bisa diberikan powder
antibiotika atau yodium (Murtidjo, 1990).
Penjagaan kesehatan ternak dari serangan eksternal parasit biasanya
dilakukan dengan pencelupan atau spraying menggunakan zat kimia.

13

Pencelupan merupakan tindakan menyelamatkan ternak sapi secara


mekanis ataupun manual. Tujuan pencelupan atau spraying adalah
membunuh

eksternal

parasit

yang

terdapat

pada

badan

sapi

(Sugeng, 1999).
Bila suatu penyakit infeksi menyerang hewan, tubuh dapat
mengembangkan kemampuan untuk bertahan. Daya kebal hewan terhadap
penyakit sangat bervariasi Apabila hewan dapat menahan penyakit tanpa
vaksin terhadap penayakit tersebut, kekebalanya disebut vaksin terhadap
penyakit tersebut, kekebalannya disebut kekebalan alami. Tetapi apabila
hewan telah

diberikan

vaksin

terhadap

penyakit

tertentu

maka

kekebalannya disebut kekebalan buatan (Akoso, 1996).


G. Manajemen Perkandangan
Perkandangan merupakan faktor yang ikut menentukan tingkat
keberhasilan suatu usaha peternakan. Pada usaha peternakan domba
tradisional, ternak domba umumnya hanya dijadikan sebagai usaha
sampingan. Masalah perkandangan cenderung merugikan, baik terhadap
ternak, pengelola, maupun penduduk serta lingkunghan sekitarnyha.
Permasalah

tersebut

terjadi

karena

kurangnya

pengertian

tentang

perkandangan bagi keberhasilan usaha ternak domba. Kurangnya pengertian


tersebut menyebabkan kurangnya perhatian terhadap masalah perkandangan
yang memenuhi syarat-syarat kelayakan kandang. Hal ini mungkin berkaitan
dengan

keterbatasan

permodalan

yang

ada

pada

usaha

tersebut

(Murtidjo, 1992).
Kandang yang baik biasanya memberikan perlindungan yang nyaman
bagi ternak. Lokasi dipilih harus pada tempat yang teduh, tetapi cukup
mendapatkan sinar matahari di waktu pagi. Lokasi kandang juga harus jauh
dari lalu lintas dan masyarakat yang ramai, sehingga ternak benar-benar
tenang (Sarwono,1990).
Sedapat mungkin bangunan kandang tunggal dibangun menghadap
ketimur dan kandang ganda membujur kearah utara selatan sehingga hal ini

14

memungkinkan sinar pagi bias masuk kedalam ruangan atau lantai kandang
secara leluasa. Ventilasi merupakan keluar masuknya udara dari dalam dan
dari luar kandang pengaturan ventilasi yang sempurna akan sangat berguna
untuk mengeluarkan udara kotor dari dalam kandang dan menggantikan udara
bersih dari luar. Atap merupakan pembatas (isolasi) bagian atas dari kandang
dan berfungsi untuk menghindarkan dari air hujan dan terik matahari, menjaga
kehangatan ternak diwaktu malam, serta menahan panas yang dihasilkan oleh
tubuh ternak itu sendiri. Lantai kandang sebagai batas bangunan kandang
bagian bawah atau tempat berpijak dan berbaring pada ternak sepanjang
waktu, maka pembuatan lantai kandang harus memenuhi syarat (rata, tidak
licin, tidak mudah lembab, tahan injakan, awet) (AAK, 1995).

15

III.

TATALAKSANA KEGIATAN

A. Metode pelaksanaan
Kegiatan magang ini dilakukan secara mandiri oleh mahasiswa dengan
cara mencari sendiri lokasi dan mencoba melakukan pendekatan dengan
instansi tersebut.
B. Tatalaksana Kegiatan Magang
Tatalaksana atau uraian kegiatan yang akan dilaksanakan selama magang
adalah:
a. Melakukan manajemen pemberian pakan pada berbagai ternak sesuai
dengan kebutuhan dan kondisinya.
b. Metode pengambilan semen, pengamatan kualitas semen di Laboratorium,
proses pembekuan semen dan proses penceiran semen (thawing).
c. Mengikuti kegiatan IB pada ternak.
C. Cara Pengambilan Data
Cara pengambilan data yang digunakan dalam kegiatan magang adalah
sebagai berikut :
1. Kegiatan magang dilakukan dengan mengikuti serangkaian kegiatan kerja
secara langsung sehingga dapat mengetahui secara langsung kegiatan yang
dilaksanakan dan memperoleh pengalaman.
2. Wawancara atau interview yaitu mencari data dengan jalan mengadakan
wawancara dengan

section head (Kepala Balai Inseminasi Buatan/

instansi yang terkait), supervisor, dan asisten serta anak kandang.


3. Observasi yaitu mencari data dengan melakukan pengamatan secara
langsung dan mencatat data primer maupun sekunder yang diperoleh di
lapangan.
4. Studi pustaka yaitu dengan studi literatur yang ada relevansinya dengan
kegiatan yang dilakukan guna melengkapi data dan studi pustaka
dilakukan di perpustakaan Fakultas Pertanian UNS.
IV.

JADWAL KEGIATAN

15

16

A.

Waktu dan Tempat


Kegiatan magang dilaksanakan pada tanggal 1 Juli 1 Agustus 2013
yang bertempat di Balai Inseminasi Buatan Lembang, Bandung.

B.

Alokasi Kegiatan
Kegiatan yang dilaksanakan merupakan bidang kerja peternakan antara
lain pemeliharaan ternak, pengambilan semen, pengamatan kualitas semen di
laboratorium, pembekuan semen, pengenceran semen dan IB.

C.

Jadwal Kegiatan
Kegiatan magang ini direncanakan untuk dilaksanakan mulai dari
penentuan lokasi hingga laporan kegiatan praktik lapangan yang dihasilkan.
Adapun rangkaian kegiatan dan waktu pelaksanaan yang direncanakan adalah
sebagai berikut :
No.

Macam Kegiatan

Minggu Ke1

1
2
3
4
5
6

Perkenalan dan penyelesaian administrasi


Presentasi dan pembagian kerja
Pra kegiatan di lapangan
Pelaksanaan kegiatan lapangan
Evaluasi data dan hasil kegiatan di lapangan
Penyusunan hasil akhir kegiatan lapangan

DAFTAR PUSTAKA
16
AAK. 1995. Petunjuk Praktis Beternak Sapi Potong. Kanisius. Jakarta.
Akoso . 1996. Kesehatan Sapi. Kanisius Yogyakarta.
Anggorodi, R.1990. Ilmu Makanan Ternak Umum. Gramedia, Jakarta.
Astuti dan Hardjosubroto, 1993. Ilmu Makanan Ternak Umum. Gramedia. Jakarta.

17

Bailey, J.L and M.M Burh. 1994. Cryopreservation alters the Ca2+ flux of bovine
spermatozoa. Can. J. Anim. Sci. 74: 45-51.
Blakely, J. and D. H. Bade, 1992. The Science of Animal Husbandry. Penterjemah:
B. Srigandono. Cet. ke-2. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Hafez, E.S.E. 1993. Artificial insemination. In: HAFEZ, E.S.E. 1993.
Reproduction in Farm Animals. 6th Ed. Lea & Febiger, Philadelphia. pp.
424-439.
Jurgens. M. H. 1993. Animal Feeding and Nutrition. Seventh Edition. Kendall/
Hunt Publishing Company, Dubuque.
Kartasudjana,R,
2001.
Teknik
IInseminasi
Buatan
Pada
Ternak.
Http://bos.fkip.uns.ac.id/pub/ono/pendidikan/materikejuruan/pertanian/bud
i-daya-ternak-ruminansia/tehnik_inseminasi_buatan_pada_ternak.pdf
Murtidjo, B.A. 1990. Beternak Sapi Potong. Kanisius. Yogyakarta.
, 1992. Memelihara Domba. Kanisius. Yogyakarta.
Pane, I., 1993. Pemuliabiakan Ternak Sapi. Gramedia Utama. Jakarta.
Parakkasi. 1995. Ilmu dan Makanan Ternak Monogastrik. Universitas Indonesia
Press. Jakarta.
Partodihardjo, S. 1980. Ilmu Reproduksi Hewan. Mutiara. Jakarta.
Sarwono. 1990. Beternak Kambing Unggul. Penebar Swadaya. Jakarta.
Setiawan, T dan A. Tanius. 2003. Beternak Kambing Perah Peranakan Etawa.
Penebar Swadaya, Jakarta.
Soeparno, 1992. Ilmu dan Teknologi Daging. Cetakan ke-1. Gadjah Mada
University Press, Yogyakarta.
Sosroamidjojo, S dan Soeradji. 1984. Peternakan Umum. CV Jasaguna. Jakarta.
Sugeng, Y B. 1999. Sapi Potong. Penebar Swadaya. Jakarta.
Tillman, A. D, H Hartadi, S. Reksohadipradja, S. Prawirakusuma,
S.
Lebdosukojo, 1991. Ilmu Makanan Ternak I. Universitas Gadjah Mada
Press. Yogyakarta.
Toelihere, M. R., 1981. Insiminasi Buatan pada Ternak. Angkasa. Bandung.
Warwick, E.J., M. Astuti, M dan Hardjosubroto. 1983. Pemuliaan Ternak.
Universitas Gadjah Mada Press. Jakarta.
Williamson, G dan Payne, W.J.A. 1993. Pengantar Peternakan DI Daerah Tropis.
Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

LAMPIRAN
Daftar Biodata Anggota Magang :
1. Nama
NIM

: Eka Prastikawati
: H0510026

18

Alamat

: Komplang, RT 03/26, Kadipiro, Banjarsari, Surakarta.

CP

: 089666906804

2. Nama

: Henny Widowati

NIM

: H0510034

Alamat

: Jl. Tawangria 40, RT 10/03, Kartoharjo, Madiun.

CP

: 085749061809

3. Nama

: Suharto

NIM

: H0510066

Alamat

: Jl. Gitadini no 89, RT 06 RW 03, Sukowinangun, Magetan.

CP

: 085736347363

4. Nama

: Sulistyo Fajar B

NIM

: H0510067

Alamat

: Potrojayan,jl.arjuna 1 no.12 RT 02/05, Serengan, Surakarta.

CP

: 088216056080

5. Nama

: Surya Putranto

NIM

: H0510068

Alamat

: Jl. Onta gang angsa no 24, Kedaton, Bandar Lampung,


Lampung.

CP

: 08984302659