Anda di halaman 1dari 6

PEMURNIAN BAJA DI ELECTRIC ARC FURNACE

Valentin MINCU1, Nicolae CONSTANTIN2


Karakteristik dan sifat baja hasil pengecoran dan penempaan akan mengalami penurunan kualitasnya jika
terdapat unsur yang tidak diinginkan (pengotor), seperti : P, S, H, O dan N. Oleh karena itu, perlu
dilakukan pemurnian (refining) logam cair, seperti: degassing(pengurangan gas) dan penghilangan
inklusi non-logam dalam ruang hampa (vakum), gelembung gas inert, pengadukan magnetik(magnetic
stirring) dan lain-lain untuk meningkatkan kualitas produk.
Kata kunci: pemurnian baja, inklusi, degassing vakum.
1

PhD eng., Engineering and Management of Metallic Materials Department, Materials Science &

Engineering Faculty, University POLITEHNICA of Bucharest, Romania, e-mail:


valentin.mincu1@yahoo.com
2

Prof., Engineering and Management of Metallic Materials Department, Materials Science & Engineering

Faculty, University POLITEHNICA of Bucharest, Romania, e-mail: nctin2010@yahoo.com

1. PENDAHULUAN
Di antara unsur-unsur pengotor yang berdampak negatif pada kualitas baja, sebagian besar adalah
fosfor (menyebabkan baja menjadi getas pada temperatur rendah), sulfur (baja menjadi getas pada
temperatur tinggi), gas H, O dan N (menyebabkan porositas dan retak selama solidifikasi berlangsung).
Sumber inklusi berasal dari bahan baku dan material yang digunakan dalam pembuatan baja
(kontaminasi dengan P dan S), lining refraktori (oksida seperti

MgO, ZrO, Al 2O3) dan atmosfer

disekitarnya (penyerapan gas H, O dan N dari atmosfer).


Metode pemurnian baja dalam makalah ini adalah menggunakan defosforisasi konvensional,
oksidasi baja menggunakan gas oksigen di EAF, deoksidasi secara difusi dan presipitasi, desulfurisasi
dan degassing dengan menginjeksikan gas inert (Ar) yang diiringi dengan pemvakuman. Berikut adalah
diagram alir proses peleburan dan pemurnian :

Fig. 2 - Flow diagram of melting and refining of steels


2. Pengaruh komponen gas dalam kualitas baja
Desulfurisasi didasarkan pada penggunaan unsur-unsur dengan afinitas yang lebih tinggi untuk
sulfur dari besi, seperti Mn, Ca, Ba, Mg dan Lantanida. Sulfida yang dihasilkan tidak larut dalam baja dan
diserap oleh terak. Desulfurisasi menggunakan mangan lebih baik dilakukan pada suhu rendah dan
kandungan Mn yang tinggi, sedangkan untuk menghilangkan kandungan sulfur dengan kalsium dilakukan
pada suhu tinggi. Berikut adalah reaksinya :
[FeS] + [Mn] = (MnS) + [Fe]

(6)

[MnS] + (CaO) = (CaS ) + (MnO)

(7)

[FeS] + (CaO)= (CaS ) + (FeO)

(8)

Penginjeksian gas inert pada baja memiliki pengaruh terhadap deoksidasi, desulfurisasi dan
degassing pada bath logam karena reaksi kimia yang berlangsung dipercepat oleh campuran dari
komposisi kimia dan Suhu.

3. Program Eksperimental
Metode yang digunakan dan waktu yang dibutuhkan untuk mencairkan dan memperbaiki heats
ditunjukkan oleh Gambar. 3

Fi
g. 3. Operation mode on installation: a EAF; b EAF-LF; c EAF-LF-VD; d EAF VAD.
Baik selama transportasi dan periode secondary treatment, logam cair diaduk dengan
menginjeksikan gas Ar melalui plug berpori sehingga memperoleh komposisi kimia dan keseragaman
suhu dan flotasi inklusi non-logam yang optimal.
Penelitian tentang setiap metode yang diterapkan pada pabrik didasarkan pada kombinasi metode
pemurnian yang digunakan, sebagai berikut:

EAF - pemurnian baja pada metode ini dilakukan dengan adanya reaksi antara penambahan

unsur-unsur melalui oksidasi dan proses deoksidasi;


LF proses pemurniannya mirip dengan pemurnian pada EAF kecuali menginjeksikan gas Ar

secara kontinu melalui plug berpori yang terletak di bawah ladle;


LF-VD itu mirip dengan perlakuan pada LF tetapi selama proses ini dilakukan degassing pada

logam cair dalam vakum;


VAD - pemurnian baja pada metode ini dilakukan dalam tekanan rendah (vakum) selama proses
(slag making, heating, alloying dan degassing) berlangsung.

Logam cair dapat terkontaminasi pengotor selama proses pemurnian. Contohnya adalah gas yang
dihasilkan dari atmosfer lingkungan sekitar, bahan baaku, material yang digunakan, bahan bakar, dll.
Gbr.4.The undesirable elements content in molten steel: before refining after refining.
Dengan menggabungkan metode pemurnian yang berbeda akan mendapatkan keuntungan yang
lebih besar (lihat gbr. 5).

Gbr.5. The efficiency of different refining methods

n=

[ Ei ] [ Ef ]
[ Ef ]

x 100

(9)

Dengan :

= efficiency,

[Ei]

= initial Element,

[Ef]

= final Element.

Efisiensi maksimum diperoleh dengan menggabungkan metode pemurnian yang disajikan (>
90%).
Pengurangan kandungan fosfor harus dilakukan pada EAF selama proses peleburan dan oksidasi
terjadi untuk mendapatkan kualitas produk yang baik.
Steel vacuum treatment adalah metode yang paling efektif dalam pemurnian baja karena hasil
desulfurisasi dan degassingnya sangat maksimal.
4. KESIMPULAN
1. Metode pemurnian baja dengan EAF sangat menarik untuk mendapatkan kualitas yang baik,
terutama dalam pengurangan kandungan fosfor. Namun untuk mencapai desulfurisasi yang
optimal pada metode ini, dibutuhkan waktu proses yang lama (produktivitas rendah), energi dan
konsumsi material yang tinggi.

2. Pengadukan Argon pada furnace sangat mempengaruhi kualitas baja. Karena pengadukan dengan
Argon tersebut dapat menyeragamkan komposisi kimia dan suhu dan juga meningkatkan reaksi
yang terjadi (desulfurisasi, deoksidasi, dll). Banyak hasil yang lebih baik dibandingkan dengan
pemurnian baja dengan EAF.
3. Fasilitas Secondary treatment dengan degassing vakum baja cair sangat diperlukan. Karena dapat
menurunkan tekanan atmosfer secara signifikan dan meningkatkan kecepatan reaksi yang terjadi
di bath logam. Hasil yang diperoleh dengan mengkombinasikan metode pemurnian menunjukkan
bahwa metode pemurnian sangat berguna untuk mengurangi pengotor dan meningkatkan kualitas
produk.
REFERENSI :

Mincu, Valentin and Constantin, Nicolae. Refining Steels Produced In Electric Arc
Furnace. ISSN 1454-2331. U.P.B. Sci. Bull., Series B, Vol. 75, Iss. 2, 2013