Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Diantara karunia Allah yang besar bagi manusia adalah kemampuan berbicara. Dengan
kemampuan tersebut manusia dapat menyampaikan gagasan, pikiran, dan perasaan kepada
orang lain. Dengan kemampuan tersebut pula manusia dapat berinteraksi dengan lingkungan
sekitarnya, oleh karena itu berbicara menjadi hal penting bagi kehidupan manusia.
B. Perumusan Masalah
1. Jelasakn jenis-jenis berbicara ?
2. Bgaimana metode berbicara yang baik?
3. Apasaja yang termasuk berbicara dalam kegiatan berpidato?
4. Apasaja yang termasuk berbicara dalam kegiatan ilmiah?
C. Tujuan Pembahasan
Adapun tujuan pembahasan adalah untuk:
1. Menjelaskan jenis-jenis berbicara
2. Menjelaskan metode berbicara yang baik
3. Menjelasakan berbicara dalam kegiatan berpidato
4. Menjelasakan berbicara dalam kegiatan ilmiah
D. Manfaat dan Kegunaan Pembahasan
Adapun manfaat pembahasan untuk menjelaskan tentang retorika teori dan praktik.
Kegunaanya adalah untuk dipresentasikan dalam acara diskusi kelompok..

BAB II
RETORIKA TEORI DAN PRAKTIK
A. Jenis-jenis Berbicara
1. Berdasarkan Situasinya
a. Formal
Dalam situasi formal, pembicara dituntut untuk berbicara secara formal. Penggunaan
berbicara jenis ini misalnya dalam kegiatan tukar-menukar informasi, percakapan,
menyampaikan berita,pengumuman atau bertelepon.
b. Nonformal
Dalam situasi nonformal, pembicara berbicara secara tidak formal dalam arti berbicara secara
sederhana. Penggunaan berbicara jenis ini misalnya dalam kegiatan ceramah, wawancara,
atau prosedur parlementer.
2. Berdasarkan Reaksi dari Pesan yang Disampaikan
a. Pembicara sebagai penyampai pesan dan pesannya dipahami oleh pendengar tetapi tidak
ada interaksi antara pembicara dan pendengar
Penggunaan berbicara jenis ini misalnya sebagai penyampai berita, pembawa acara,
berpidato, dan lain-lain.
b. Pembicara sebagai penyampai pesan disusul dengan adanya interaksi antara pembicara dan
pendengar.
Pada berbicara jenis ini, posisi pembicara dan pendengar diduduki silih berganti. Penggunaan
berbicara jenis ini misalnya dalam diskusi, debat, seminar, symposium, rapat organisasi, dan
lain-lain.
3. Berdasarkan Klasifikasi Pesan

a. Komunikasi Satu Arah


Komunikasi satu arah yaitu situasi komunikasi yang bersifat pengirim pesan dan tidak
memiliki kesempatan untuk mengetahui cara penerima pesan telah memodifikasikan
pesannya. Yang termasuk ke dalam jenis berbicara ini diantaranya, ceramah, berpidato,
khotbah,wawancara dan lain-lain.
b. Komunikasi Dua Arah
Komunikasi dua arah yaitu situasi komunikasi yang bersifat pengirim pesan cukup leluasa
mendapatkan umpan balik tentang cara penerima pesan menangkap pesan yang telah
dikirimnya. Pembicara dan pendengar terlibat dalam suatu interaksi verbal untuk mencapai
tujuan tertentu. Jenis berbicara ini diantaranya digunakan dalam diskusi.
4. Berdasarkan Tujuan
a. Menginformasikan
b. Menghibur
c. Meyakinkan
5. Berdasarkan Metode atau Cara Penyampaiannya
a. Impromptu
b. Manuskrip
c. Memoriter
d. Ekstempore
6. Berdasarkan Wilayah Kajian
a. Berbicara Terapan atau Berbicara Fungsional (Berbicara Sebagai Seni)
Berbicara jenis ini, penekanannya diletakkan pada penerapan berbicara sebagai alat
komunkasi dalam masyarakat.
Pokok-pokok yang mendapat perhatian antara lain:
1. Berbicara di muka umum
2. Pemahaman makna kata
3. Diskusi kelompok
4. Argumentasi
5. Debat
6. Prosedur Parlementer
7. Penafsiran lisan
8. Seni drama
9. Berbicara melalui udara
b. Pengetahuan Dasar Berbicara atau Berbicara Sebagai Ilmu
Jika memandang berbicara sebagai ilmu, maka hal yang harus ditelaah antara lain:
1. Mekanisme berbicara dan mendengar
2. Latihan dasar bagi ajaran dan suara
3. Bunyi-bunyi bahasa
4. Bunyi-bunyi dalam rangakaian ujaran
5. Vokal, konsonan dan diftong
6. Patologi ujaran (penyelidikan mengenai cacat dan gangguan yang menghambat
kemampuan orang berkomunikasi verbal)
7. Berdasarkan Jumlah Penyimaknya
a. BerbicaraAntarpribadi (Empat Mata)
Berbicara antarpribadi dapat terjadi jika dua pribadai membicarakan, merundingkan atau
mendiskusikan sesuatu. Pembicaraannya bersifat serius, santai, akrab atau tergantung pada
masalah yang dibicarakan.
b. Berbicara Dalam Kelompok Kecil
c. Berbicara Dalam Kelompok Besar

B. Metode Berbicara
1. Metode Impromptu
Metode ini terjadi jika secara tiba-tiba kita diminta berbicara di depan khalayak tanpa
persiapan terlebih dahulu. Metode ini biasanya berhasil pada orang yang sudah terbiasa
berbicara di depan umum. Akan tetapi, metode ini sulit dilakukan oleh orang yang belum
berpengalaman sehingga terjadilah demam panggung atau gugup.
2. Metode Menghafal
Metode ini dilakukan dengan cara menghafal. Jika pembicara hanya berbicara mengenai hal
yang dihapalkannya tanpa menghayati yang diucapkannya, dipastikan pembicaraan tidak
akan menarik dan membosankan. Sebaliknya, pembicara akan berhasil menggunakan metode
ini jika ia mejiwai pembicaraan dan tanggap terhadap situasi dan kondisi yang
melatarbelakangi pembicaraaan.
3. Metode Naskah
Metode ini merupakan metode berbicara dengan membaca naskah. Kelemahan metode ini
yaitu kurang terjadi spontanitas yang segar dan kurang adanya kontak mata antara pembicara
dan pendengar
4. Metode Ekstemporan
Metode ini merupakan metode yang digunakan pembicara dengan membuat naskah secara
lengkap dan juga mempersiapkan catatan-catatan penting tentang urutan uraian yang akan
disampaikan. Naskah lengkap tidak dipakai, pembicara hanya memakai catatan kecil. Metode
ini sering dipergunakan oleh pembicara yang sudah berpengalaman.
C. Berbicara dalam Kegiatan Berpidato
1. Pengertian Pidato
Dalam KBBI (Depdikbud, 1996) pidato adalah pengugkapan pikiran dalam bentuk kata-kata
yang ditujukan kepada banyak orang; atau wawancara yang disiapkan untuk diucapkan
didepan khalayak.
Tujuan umum pidato:
a. Menarik perhatian dan menyenangkan khalayak
b. Memberikan informasi atau mendidik khalayak
c. Merangsang atau memberi kesan khalayak
d. Membujuk atau meyakinkan khalayak
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam menentukan topik pidato:
a. Keadaan dan sikap khalayak
b. Peristiwa yang melatarbelakangi
c. Kelayakan topik
d. Penguasaan materi
Syarat-syarat pembicara agar pidatonya berhasil:
a. Memiliki keberanian dan tekad yang kuat
b. Memiliki pengetahuan luas
c. Memahami proses komunikasi massa
d. Menguasai bahasa yang baik dan lancer
e. Melakukan latihan yang memadai
2. Ciri-ciri pembicara yang baik
a. Pandai memliih topik yang tepat
b. Menguasai materi
c. Memahami khalayak
d. Memahami situasi
e. Merumuskan tujuan dengan jelas
f. Menjalin kontak dengan khalayak
g. Menguasai khalayak

h. Memiliki kemampuan linguistic yang memadai


D. Berbicara dalam kegiatan ilmiah
1. Pengertian diskusi kelompok
Diskusi kelompok yang bersifat ilmiah merupakan kelompok resmi yang sering diartikan
sebagai bentuk tukar pikiran dalm musyawarah yang direncanakn atau dipersiapkan antara
dua orang atau lebih tentang topik tertentu dengan seorang pemimpin.
2. Tujuan diskusi kelompok
a. Mencari pemecahan masalah
Untuk mencapai tujuan ini peserta diskusi hendaknya secar bijakdana dapat
mempertimbangkan, menilai, dan menentukan kemungkinan keputusan yang akan diterima.
b. Menampung pendapat, pandangan dan saran
Untuk mencapai tujuan ini diskusi hanya merupakan upaya untuk mengetahui pendapat
peserta mengenai suatu masalah yang sedang dibicarakan.
3. Hal-hal penting yang mendasari kegiatan diskusi
a. Pelaksanaan sikap demokrasi
Diskusi kelompok pada dasarnya merupakan suatu pelaksanaan sikap demokrasi karena
setiap putusan diskusi kelompok merupakan hasil dari sikap
demokrasi pesertanya.
b. Pengujian sikap toleransi
Jika sikap toleransi ini terjadi pada saat diskusi kelompok maka debat kusir dapat dihindari.
c. Pengembangan kebebasan berfikir
Dalam diskusi kebebasan berfikir dan berbicara yang bertanggung jawab dapat
dikembangkan secara maksimal.
d. Pengembangan latihan berfikir
Adanya pengembangan kebebasan berfikir dalam diskusi akan memacu adanya
pengembangan latihan berfikir pula terutama latihan berfikir secara kritis dan terbuka
e. Penambahan pengetahuan dan pengalaman
Dengan diskusi seseorang akan semakin bertambah pengetahuan dan pengalamannya
f. Kesempatan penyaluran sikap inteligen dan kreatif
Sikap intelegen dan kreatif dapat tersalurkan
Kriteria-kriteria diskusi berhasil dengan baik
a. Peserta dapat menerima tujuan diskiusi
b. Peserta memahami permasalahan yang akan didiskusikan
c. Peserta memiliki rasa tanggung jawab untuk kelancaran diskusi dan memiliki sikap
tenggang rasa serta saling menghormati
d. Pemimpin diskusi dan pembicara merupakan orang yang tegas, bebwibawa dan dihormati
peserta diskusi
e. Pemimpin diskusi menjamin kebebasan mengelurkan pendapan para peserta diskusi
Unsur-unsur manusia dalam diskusi kelompok:
a. Pemandu atau pemimpin diskusi
b. Peserta diskusi
Tata cara diskusi kelompok
a. Pemandu membuka diskusi kelompok
b. Dilakukan pembicaraan hakikat tentang masalah yang akan didiskusikan
c. Pencarian sebab-sebab yang menimbulkan masalah
d. Pendiskusian mengenai kemungkinan cara pemecahan masalah
e. Kemungkinan pemecahan masalah dipertimbangkan baik buruknya
f. Pemandu diskusi menutup diskusi kelompok
4. Jenis diskusi kelompok

a. Diskusi panel
Merupakan diskusi yang terdiri atas beberapa orang panelis yang dipimpin oleh seorang
pemandu. Tujuan diskusi panel biasanya untuk menyampaikan informasi dan pendapatpendapat.
Bentuk pengaturan tempat dalam diskusi panel.

Tata cara diskusi Panel:


1. Pemandu membacakan tata tertib dan menggenalkan panelis
2. Panelis pertama diberi kesempatan dalam waktu yang telah ditentukan untuk menjelaskan
masalah dan pandangan-pandangannya terhadap masalah sesuai dengan keahliannya
3. Panelis kedua mengutarakan pendapat dan pandangannya terhadap masalah yang
didiskusikan sesuai dengan keahliannya.
4. Panelis ketiga diberikan kesempatan berbicara sesuai dengan keahliannya.
5. Diadakan diskusi informal antar panelis disertai penjelasan mengapa para panelis berbeda
pandapat mengenai masalha itu
6. Pemandu menutup diskusi panel dengan menyimpulkan hasil pembicaraan para panelis,
sedangkan peserta tidak berpartisipasi aktif
b. Simposium
Simposium merupakan jenis diskusi kelompok yang hampir sama dengan panel, tetapi
perbedaannya terletak pada keresmian pidato yang disampaikan. Pidato simosium cenderung
lebih resmi dari pidato panel, selain itu dalam simosium tidak terdapat interaksi antara
pembicara yang satu dengan pembicara yang lainnya. Simposium biasanya bertujuan untuk
menampung pendapat.
Berikut ini merupakan salah satu bentuk pengaturan dalam simposium.

Tata cara dalam suatu simposium:


1. Pemandu membuka simposium, menjelaskan simposium, membacakan tata tertib, dan
mengenalkan pembicara, selain itu mengenalkan penyanggah utama jika ada.
2. Pembicara pertama mengutarakan pandangannya terhadap masalah yang dibicarakan

3. Pembicara kedua mendapat kesempatan untuk mengutarakan pandangan-pandangannya


4. Pembicara ketiga membahas masalah yang dibicarakan sesuai dengan keahliannya
5. Apabila ada penyanggah utama, penyanggah utama ini diberi kesempatan untuk
mengutarakan sanggahan atau bandingan.
6. Dalam simposium bentuk baru, peserta diberi kesempatan untuk bertanya dan
mengeluarkan pendapat
7. Dimungkinkan adanya pandangan umum
8. Pemandu merumuskan dan menutup simposium
c. Seminar
Seminar merupakan jenis diskusi kelompok yang diikuti oleh para ahli dan dipimpin oleh
pemandu untuk mencari pedoman dan penyelesaian masalah tertentu. Berikut ini adalah
contoh bentuk pengaturan tempat dalam seminar

d. Konferensi
Konferensi adalah pertemuan antara beberapa perwakilan kelompok atau organisasi untuk
merundingkan suatu masalah tertentu. Peserta konferensi biasanya dipilih berdasarkan
keahlian khusus atau karena pengetahuannya mengenai masalah yang menjadi pokok
pembicaraan . Berikut adalah salah satu alternatif pengaturan dalam konferensi.

BAB III

KESIMPULAN
A. Kesimpulan
Ciri-ciri pembicara yang baik dalam kegiatan berpidato yaitu pandai memilih topik yang
tepat, menguasai materi pidato dengan baik, memahami situasi khalayak dengan baik, mampu
merumuskan tujuan dengan jelas, mampu berinteraksi dengan khalayak, serta memiliki
kemampuan linguistik yang baik.
Diskusi kelompok yang bersifat ilmiah merupakan kelompok resmi yang sering diartikan
sebagai bentuk tukar pikiran dalm musyawarah yang direncanakn atau dipersiapkan antara
dua orang atau lebih tentang topik tertentu dengan seorang pemimpin.
Macam-macam diskusi:
1. Diskusi Panel
2. Simposium
3. Seminar
4. Konferensi
Jadi, jika kita ingin berbicara di depan umum dengan bailk harus memiliki kriteria diatas,
selain itu juga harus sering-sering mengadakan latihan.
B. Saran
Kami menyadari makalah ini masih jauh dari sempurna oleh karena itu kami sangat
mengharapkan kritik dan saran yang konstruktif.

DAFTAR PUSTAKA
Tim pusat bahasa. (2012). Pengembangan kompetensi bahasa indonesia.
Bandung Pusat Bahasa Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung

LAMPIRAN
TUGAS DAN LATIHANBAB XI

Jawaban Soal:
1. Dalam situasi formal, pembicara dituntut untuk berbicara secara formal. Penggunaan
berbicara jenis ini misalnya dalam kegiatan tukar-menukar informasi, percakapan,
menyampaikan berita,pengumuman atau bertelepon.
Dalam situasi nonformal, pembicara berbicara secara tidak formal dalam arti berbicara secara
sederhana. Penggunaan berbicara jenis ini misalnya dalam kegiatan ceramah, wawancara,
atau prosedur parlementer.
2. Kerangka pidato
Judul : Syarat-syarat mencari ilmu
- Pentingnya mencari ilmu
- Syarat- syarat keberhasilan mencari ilmu
3. Teks pidato
Assalamualaikum wr.wb
Segala puji bagi Allah, Tuhan Yang memilih Muhammad sebagai Nabi pilihan dari anak
Adam. Sholawat serta Salam semoga tetap tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad
SAW beserta keluarga, para sahabat, dan para pengikutnya hingga hari kiamat.
Saudara-saudara yang dimuliakan Allah
Setiap orang mempunyai keinginan yang berbeda-beda. Tetapi mereka mempunyai harapan
yang sama, yaitu menginginkan tercapainya apa yang mereka inginkan. Begitu pula
halnyadalam mencari ilmu, semua orang menginginkan ilmu yang mereka cari/pelajari
bermanfaat dihari esok kelak.
Tapi, apakah kita mengetahui syarat-syarat yang menjadikansuatu ilmu itu berhasil ? dalam
kitab Talimul mutaallim dijelaskan, seseorang akan berhasil dalam mencari ilmu bila
memenuhi syarat-syarat sebagai berikut : cerdas, sungguh-sungguh, sabar, bekal, petunjuk
guru, waktu yang lama.
Syarat yang pertama yaitu erdas, cerdas merupakan syarat pertama agar berhasil dalam
menuntut ilmu karena jika tidak cerdas mka akan sulit dalam mencerna pelajaran.
Yang kedua adalah sungguh-sungguh, dengan sungguh-sungguh maka seseorang yang
mencai ilmu akan berhasi mencapai tujuannya.
Yang ketiga yaitu sabar. Sabar merupakan sifat yang harus dimiliki oleh seorang yang
menuntut ilmu. Jika tidak sabar maka tujuan yang ingin dicapai tidak akan terlaksana.
Yang keempat adalah bekal yang cukup, jika bekalnya cukuupmaka orang yang mencari ilmu
akan bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu. Oleh karen itu bekal menjadi syarat dalam
menuntut ilmu agar berhasil.
Syarat yang kelima adalah hormat kepada guru. Kunci berhasilnya mencari ilmu adalah
keridhoan seorang guru. Jika seseorang tidak mendapat ridho dari gurunya maka ilmunya
tidak akan bermanfaat. Oleh karena itu agar berhasil dalam menuntut ilmu harus hormat
kepada guru. Selanjutnya yang terakhir adalah waktu yang lama. Dengan waktu yang lama,
seseorang akan mendapatkan pelajaran yang banyak dan pengalaman yang bermacam-macam
sehingga tingkat keilmuannya akan tinggi.
Rupanya pembicaraan dari saya dicukupkan sampai disini mudah-mudahan bermanfa`at.
Wassalamu`alaikum wr.wb

Diposkan oleh Manz Ghumelar di Sabtu, Juni 08, 2013

Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke


Pinterest
Label: bahasa indonesia
Reaksi:
Tidak ada komentar:
Poskan Komentar
Link ke posting ini
Buat sebuah Link
Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Langganan: Poskan Komentar (Atom)

Entri Populer

Sejarah Reformasi Indonesia


1. Sejarah Reformasi Di Indonesia Sebelum masuk dalam pembahasan mengenai
reformasi di Indonesia, maka hendaknya perlu kita ulas dan paham...

Peranan keanekaragaman Hayati dalam Kehidupan Manusia


Peranan Keanekaragaman Hayati dalam Kehidupan Manusia Selama hidupnya, suatu
jenis makhluk hidup selalu memerlukan makhluk hidup yang lain...

LPJ Ambalan NM-NH


LAPORAN PERTANGGUNGJAWABAN DEWAN AMBALAN NAHDLATUL
MUTA`ALIMIN-MUTA`ALIMAH PERIODE 2011/2012 ...

makalah retorika bahasa indonesia


BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Diantara karunia Allah yang besar bagi
manusia adalah kemampuan berbicara. Dengan kemampuan tersebut ...

keterampilan mendengar
Nama : Iman Gumelar NIM : 1122030032 Kelas/Semester : PBA/2A
KETERAMPILAN MENDENGAR Ada sejumlah istilah yang terkait dengan
menden...

pemikiran murjiah
PEMIKIRAN KALAM MURJIAH DAN IMPLIKASI SOSIAL POLITIK (Makalah
ini diajukan untuk memenuhi salah satu tugas Mata Kuliah Ilmu Kalam) Dis...

makalah filsafat dan agama


MAKALAH FILSAFAT DAN AGAMA A. Pendahuluan Istilah filsafat dan agama
mengandung pengertian yang dipahami secara berlawanan oleh banya...

makalah sejarah pergerakan nasional indonesia


MUNCUL DAN BERKEMBANGNYA PERGERAKAN NASIONAL INDONESIA
Tentu kalian masih ingat bukan dengan penderitaan rakyat pada masa kolonial
Belanda?...

kliping senam lantai


KLIPING SENAM LANTAI Sejarah Singkat Menurut asal kata, senam (gymnastics)
berasal dari bahasa Yunani, yang artinya: "untuk menerangk...

muhkam dan mutasyabih


BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Pembahasan dalam Ulumul
Quran sangat meluas, salah satunya diantaranya adalah tentang Muhkam...

Share to
Google+ Followers
Langganan
Pos
Komentar

Mengenai Saya

Manz Ghumelar
Lihat profil lengkapku

Daily Calendar
Arsip Blog

2013 (8)

o Oktober (1)
o Juni (7)

muhkam dan mutasyabih

keterampilan mendengar

makalah filsafat dan agama

pendidikan karakter

pemikiran murjiah

laporan observasiilmu kalam

makalah retorika bahasa indonesia

2012 (9)

2011 (4)

Pengikut