Anda di halaman 1dari 17

1

SKRINING ONLINE PRANIKAH: METODE APLIKATIF DETEKSI DINI


UNTUK MENURUNKAN PREVALENSI PMS

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Salah satu masalah kesehatan yang belum tertangani dengan baik di


Indonesia adalah Sexually Transmitted Diseases (STD) atau Penyakit Menular
Seksual (PMS). PMS adalah suatu infeksi yang kebanyakan ditularkan melalui
hubungan seksual (oral, anal atau lewat vagina). PMS juga diartikan sebagai
penyakit kelamin, atau infeksi yang ditularkan melalui hubungan seksual.
Walaupun penularannya dapat terjadi melalui transfusi darah yang telah terinfeksi,
penggunaan jarum suntik secara bersamaan, atau cara lain yang menyebabkan
masuknya cairan tubuh penderita ke dalam tubuh seseorang.
Sejak ditemukan AIDS pada tahun 1981, PMS yang belum dapat
disembuhkan --terutama disebabkan oleh virus-- mendapat perhatian besar,
misalnya herpes genitalis, kondilomata akuminata, dan AIDS. Menurut data
Departemen Kesehatan (2007), jumlah kumulatif kasus AIDS tahun 2005 adalah
2638 kasus di Indonesia, ketiga peringkat pertama diantaranya Jakarta 656 kasus,
Jawa Timur 504, Papua 373, dan Jabar 223 kasus.
PMS memiliki bahaya yang sangat signifikan bagi individu dan
masyarakat. Proporsi kumulatif kasus AIDS tertinggi, dilaporkan tertinggi pada
kelompok umur 20-29 tahun (53,62 persen), disusul kelompok umur 30-39 tahun
(27,79 persen). Dan proporsi kasus AIDS yang korbannya meninggal dilaporkan
mencapai 20,95 persen (suarapemberuan.com, 2008). Sedang dalam tataran sosial
PMS menyebabkan terganggunya hubungan sosial dan bukti bahwa telah terjadi
penyimpangan sosial dalam masyarakat.
Untuk mencegah bahaya PMS, sejak awal diperlukan deteksi dini terhadap
tanda dan gejala PMS melalui skrining, terutama untuk calon pengantin. Masa
pernikahan --dimana pasangan melakukan fungsi reproduksinya dengan
melakukan hubungan seksual sebagai suatu pemenuhan biologis-- perlu
dipersiapkan dengan matang. Selain itu kasus PMS terutama AIDS diderita oleh
sebagian besar kelompok umur 20-29 tahun yang termasuk dalam umur pranikah.
Oleh karena itu, masa pranikah merupakan masa yang tepat untuk melakukan
deteksi dini terhadap PMS, agar terhindar dari berbagai penyakit menular seksual
yang hampir semuanya dapat ditransmisikan melalui hubungan seksual selama
masa pernikahan. Bila tidak dilakukan deteksi dini PMS pranikah, tingkat
kemungkinan seseorang tertular PMS dari pasangannya sangat tinggi.
Deteksi dini terhadap suatu gejala penyakit yang belum terbukti secara
klinis dapat dilakukan dengan metode skrining. Sebagai deteksi dini, skrining
dapat digunakan untuk mengetahui status kesehatan seseorang dengan beberapa
cara, salah satunya yaitu melakukan pengkajian dengan memberikan pertanyaan
anamnesis. Oleh karena itu, skrining tepat digunakan untuk menanggulangi

bahaya PMS pranikah. Namun kendalanya, tidak semua kalangan dapat


mengikuti skrining PMS pranikah, sebab skrining yang diaplikasikan melalui
berbagai bentuk tes kesehatan pranikah -- memiliki biaya yang cukup mahal.
Untuk melakukan medical check up pranikah kita harus mengeluarkan dana
sebesar 1-2 juta. Biaya yang cukup mahal untuk mempersiapkan pernikahan
ditambah dengan tuntutan biaya penyelengaraan pesta dan lainnya.
Data SDKI 2003-2007 menyatakan bahwa sebagian besar (48,7 %)
masalah dalam mendapatkan pelayanan kesehatan adalah karena kendala biaya,
jarak, dan transportasi. Keterbatasan akses terhadap pelayanan kesehatan
dijadikan alasan dalam melakukan deteksi dini terhadap penyakit sehingga
diperlukan akses lain untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. Meningkatnya
kecanggihan teknologi, maka pengguna internet memiliki jumlah peningkatan
sangat pesat. Menurut Internet world Stat (2009), dalam 1 dekade terakhir,
pengguna internet tumbuh lebih dari 1.000 persen, sedang dari tahun total
pengguna internet pada tahun 2008 terhitung mencapai 25 juta. Dilihat dari
jumlah pengguna dan makin maraknya perkembangan teknologi internet, dapat
dikatakan bahwa internet merupakan media yang ampuh untuk menyebarkan
informasi.
Oleh karena itu, kami mengusulkan untuk menggunakan internet dalam
bentuk website sebagai media skrining online. Skrining online adalah usaha
mengidentifikasi penyakit atau kelainan secara klinis secara online dengan
memanfaatkan teknologi internet. Skrining online yang diintegrasikan dengan
berbagai kuesioner bermanfaat untuk mengidentifikasi penyakit secara realtime.
Jumlah pengguna internet yang telah mencapai 30.000.000 dalam tahun 2009
merupakan media yang cukup efektif untuk skrining PMS. Dengan begitu,
skrining online merupakan salah satu solusi terhadap masalah pelayanan
kesehatan karena tidak membebankan biaya yang cukup mahal kepada pengguna
dan tingkat kerahasiaan hasil skrining juga dapat terjaga dengan baik.
Dari uraian diatas, dapat dimpulkan bahwa tingginya jumlah penderita
PMS di Indonesia menuntut adanya upaya preventif untuk mencegah ledakan
jumlah penularan yang lebih besar. Salah satu cara yang efektif untuk menekan
laju prevalensi PMS adalah dengan melakukan deteksi dini, terlebih kepada calon
pengantin. Namun deteksi dini yang diimplementasikan dengan berbagai tes
kesehatan pranikah membebankan biaya yang cukup besar sehingga hanya sedikit
orang yang dapat melakukan deteksi dini PMS. Oleh karena itu, perlu
dikembangkan teknologi yang memungkinkan orang untuk mendapatkan akses
pendeteksian dini PMS pranikah dengan biaya yang murah, realtime dan hasil
yang dapat dipercaya.

Tujuan Penulisan

1.

Tujuan penulisan karya tulis ini adalah :


Diketahuinya tindakan preventif yang tepat untuk mecegah ledakan jumlah
penularan PMS melalui hubungan seksual dengan pemanfaatan skrining
online melalui web

2.

Dievaluasinya penggunaan web yang tepat guna dan terjangkau untuk


mencegah penularan PMS yang ditularkan melalui hubungan seksual.

Manfaat Penulisan

1.
2.
3.

Penulisan Karya ilmiah ini bermanfaat untuk:


Mengetahui metode yang efektif dan efisien untuk mencegah penularan
Penyakit Menular Seksual
Mengetahui efektivitas dan efisiensi penggunaan website sebagai media
skrining online untuk mencegah penularan Penyakit Menukar Seksual
Memberikan informasi kepada masyarakat tentang deteksi dini Penyakit
Menular Seksual pranikah dan memfasilitasi masyarakat dengan teknologi
yang efektif dan efisien untuk mencegah akibat penularan PMS sehingga
prevalensi penularan PMS dapat berkurang.

GAGASAN
Kondisi Kekinian Pencetus Gagasan

Dari tahun ke tahun jumlah infeksi HIV semakin meningkat. Telah


disebutkan dalam suarapembaruan.com (2008) bahwa pada tahun 2007,
perkembangan situasi epidemi Human Immunodeficiency Virus (HIV)
menunjukkan peningkatan yang sangat tajam. Jumlah kasus HIV dan Acquired
Immune Deficiency Syndrome (AIDS) meningkat terus, dan dilaporkan pada akhir
tahun 2007 terdapat 11.141 pasien AIDS dan 6.066 orang HIV positif. Jumlah ini
diperkirakan hanya dari 10 persen dari seluruh orang yang terinfeksi HIV di
Indonesia.
Carcio (1999) menyebutkan
bahwa terdapat tujuh jenis PMS yang
berbahaya, diataranya Gonorea, Clamidia, HIV, sifilis, hepatitis B, genital
herpes,Vaginal weat. Sampai saat ini belum ditemukan metode yang tepat untuk
menagani PMS. Terkadang PMS tidak menunjukan gejala sama sekali, sehingga
penderita tidak mengetahui jika sudah terinfeksi. PMS dapat bersifat
asymptomatic (tidak memiliki gejala) baik pada pria atau wanita. Beberapa PMS
baru menunjukkan tanda-tanda dan gejala berminggu-minggu, berbulan-bulan,
bahkan bertahun-tahun setelah terinfeksi. Pada wanita, PMS bahkan tidak dapat
terdeteksi. Walaupun seseorang tidak menunjukkan gejala-gejala terinfeksi PMS
dan tidak mengetahui bahwa mereka terkena PMS, mereka tetap bisa menulari
orang lain.
UNAIDS dan WHO dalam kesrepro (1998) menyatakan bahwa PMS juga
dapat ditularkan melalui darah dan Ibu hamil kepada bayinya. Penularan dari
darah dapat berasal dari transfusi darah yang terinfeksi, menggunakan jarum
suntik bersama, atau benda tajam lainnya ke bagian tubuh untuk menggunakan

obat atau membuat tato, sedang penularan melalui ibu hamil kepada anaknya
dapat terjadi selama masa kehamilan dan proses kelahiran.

Gambar 1. Peta Pesebaran Kasus AIDS di Indonesia


PMS perlu diwaspadai sebab PMS menimbulkan banyak akibat buruk baik
bagi individu dan sosial. Individu yang terjangkiti PMS akan mengalami berbagai
dampak negatif, seperti kemandulan (baik pria maupun wanita) , kanker leher
rahim (pada wanita), kehamilan di luar rahim, infeksi yang menyebar ke seluruh
tubuh, bayi lahir dengan kelahiran yang tidak seharusnya (belum cukup bulan,
BBLR atau terinfeksi PMS), dan infeksi HIV yang menyebabkan kematian.
Sedang dari segi sosial, PMS menyebabkan keterkucilan. Orang yang menderita
PMS, terutama HIV akan merasa dirinya berdosa dan cenderung dijauhi
masyarakat.
Dilihat dari dampak negatif yang ditimbulkan PMS, jelas bahwa PMS
merupakan penyakit berbahaya yang harus segera ditanggulangi. Gejala PMS
yang bersifat asymptomatic membuat pengidap tidak mengetahui secara sadar
bahwa dia sedang terjangkit PMS. Oleh karena itu diperlukan penanggulangan
berupa deteksi dini (skrinning PMS).
Skrining PMS sangat diperlukan, terutama menjelang penikahan
(pranikah). Menurut WHO, keluarga yang berkualitas adalah keluarga yang
harmonis, yaitu keluarga yang sehat dalam arti fisik, psikologis, sosial, spritual.
Karena itu disarankan untuk melakukan pemeriksaan kesehatan sebelum
memasuki jenjang pernikahan guna mewujudkan keluarga yang berkualitas.
Pemeriksaan kesehatan (skrining) pranikah diperlukan untuk menjaga
keharmonisan rumah tangga. Skrining juga penting untuk mendeteksi penyakit
dan kelainan yang bisa menular pada pasangan maupun memengaruhi kesehatan
ibu dan janin yang dikandung.
Skrinning PMS pranikah juga dapat mengantisipasi penularan PMS kepada
pasangan. Sebagaimana telah dijelaskan diatas, bahwa PMS merupakan penyakit
yang sebagian besar ditularkan melalui hubungan seksual. Jika salah satu

pasangan terkena, maka secara otomatis pasangan hidupnya yang tidak terinfeksi
PMS akan berpotensi besar terkena PMS. Jadi, dengan melakukan skrining PMS
sebenarnya calon pengantin telah melakukan tindakan preventif terhadap
kemungkinan
adanya
penularan.

Solusi yang pernah Ditawarkan Sebelumnya untuk Mendeteksi PMS pada


Calon Pengantin di Indonesia

Kantor Urusan Agama (KUA) sebagai lembaga dibawah Departemen


Agama yang mengurusi masalah pencatatan perkawinan sampai saat ini belum
mempunyai regulasi yang tepat untuk mengatasi penularan Penyakit Menular
Seksual (PMS). Padahal, KUA sebagai gerbang pencatatan dan pengurusan
dokumen pranikah memiliki kekuatan yang cukup kuat untuk memaksa calon
pengantin melakukan skrining pranikah.
Namun kenyataannya, pencatatan pranikah yang dilakukan KUA hanya
sekadar meminta surat keterangan sehat yang menyatakan bahwa kedua mempelai
dalam keadaan sehat lahir-batin. Surat tersebut dapat diperoleh dengan
memeriksakan diri ke puskesmas setempat. Hanya dengan berbekal selembar surat
tersebut, kedua mempelai dinyatakan sehat, padahal pengukuran sehat yang
dimaksud hanya berdasarkan tinggi, berat badan dan tekanan darah.
Idealnya, kesehatan calon pengantin dibuktikan dengan hasil medical
check up . Pemeriksaan sebelum menikah meliputi pemeriksaan fisik --ada atau
tidaknya penyakit infeksi-- maupun penyakit keturunan yang dapat ditularkan atau
diturunkan. Menurut dr. Boyke Dian Nugraha, ahli ginekologi yang telah
mendirikan beberapa klinik pasuti di Indonesia, Medical check up juga dapat
dilakukan untuk memeriksa kesehatan reproduksi yang berhubungan dengan
penyakit menular Seksual (PMS) seperti sifilis, Gonoroe dan HIV. Pengecekan
PMS dilakukan dengan tes HbsAg dan TPHA yang diintegrasikan dengan tes
kesehatan pra-nikah
Medical check up pranikah mutlak dilakukan untuk mengetahui kesehatan
calon pengantin agar terhindar dari bahaya PMS. Sebagian besar orang yang
menderita PMS tidak mengetahui dirinya menderita penyakit tersebut. Hal itu
beralasan, sebab PMS terkadang tidak menimbulkan gejala apapun. Dengan
begitu, tak jarang penderita tidak merasakan nyeri, gatal, keluar cairan atau gejala
lainnya. Baru setelah mengalami gejala tertentu, Pasangan Suami Istri (pasutri)
pun memeriksakan diri. Itupun terlambat karena pasien kerap datang dalam
keadaan stadium lanjut.
Tak dapat disangkal, Medical check up pranikah memang perlu dilakukan.
Namun aplikasinya di lapangan banyak terhalang kendala finansial. Calon
pengantin yang sibuk memikirkan persiapan pernikahan dan biaya cukup besar
yang harus dikeluarkan untuk melakukan medical check up menjadi kendala calon
pengantin urung melakukan medical check up. Untuk sekali melakukan medical
check up yang terdiri dari analisa hematologi, gambaran darah tepi, laju Endap
darah, Golongan darah, urine rutin, glukosa puasa, Analisis Hb HPLC, badan
inklusi HbH, anti toxoplasma Ig G, anti- Rubella Ig G, anti CMV Ig G HbsAg,
VDRL, calon pengantin harus dikenakan biaya berkisar 1-2 juta rupiah . Tentu

biaya tersebut cukup memberatkan calon pengantin yang sedang sibuk dengan
persiapan pernikahan dan mengeluarkan banyak uang untuk mengurusi keperluan
pernikahan yang lain.

Skrining online PMS Pranikah Berbasis Teknologi Website

Skrining adalah usaha identifikasi penyakit yang secara klinis belum


menampakkan gejala-gejala yang signifikan
dengan menggunakan test,
pemeriksaan atau prosedur tertentu yang dapat digunakan secara cepat untuk
membedakan orang-orang yang kelihatannya sehat, benar-benar sehat, tetapi
sesungguhmya menderita keluhan. Skrining bertujuan untuk mengurangi tingkat
morbiditas dan mortalitas dari suatu penyakit dengan melakukan
pengobatan/pencegahan dini terhadap suatu penyakit.
Berdasarkan tahapan promosi kesehatan, skrining merupakan secondary
promotion health, suatu langkah pencegahan sekunder terhadap penyakit yang
mencakup deteksi dini terhadap penyakit dan komplikasinya kepada mereka yang
menderita atau dianggap menderita (suspek) atau yang terancam akan menderita.
Setelah penyakit didiagnosa pada tahap awal, masyarakat dapat memiliki kontrol
terhadap kehidupan mereka sehingga dapat mengurangi biaya finansial dan sosial
akibat penyakit.
Uji skrining dapat dilaksanakan dalam bentuk pertanyaan/kuesioner,
pemeriksaan fisik, prosedur diagnostik, dan uji laboratorium. Program yang akan
dibuat berfokus pada skrining melalui pertanyaan anamnesis sehingga
memerlukan instrumen skrining yang digunakan sebagai alat deteksi dini.
Menurut Stanhope (2008) instrumen skrining adalah instrumen yang bermanfaat
untuk mengidentifikasi dan merencanakan intervensi yang sesuai untuk penderita
di semua usia. Instrumen dalam bagian ini terutama menyajikan mekanisme bagi
perawat untuk mendiagnosis masalah-masalah klien yang terlihat di komunitas
sebagai suatu dasar untuk mengkaji kebutuhan klien dan rencana perawatan.
Instrumen-instrumen ini dapat digunakan atau diadaptasi dengan praktik
keperawatan dalam cara yang paling bermanfaat untuk lingkungan atau lembaga
tertentu.
Kriteria bagi uji skrining yang baik adalah terdapat sensitivitas dan
spesifitas, aman, sederhana dan biaya murah, dapat diterima oleh pasien dan
tenaga kesehatan lain. Sedangkan kriteria untuk melakukan skrining terhadap
suatu penyakit adalah penyakit merupakan masalah kesehatan yang sangat
penting, terdapat fasilitas pengobatan dan diagnosis, terdapat pengobatan yang
efektif, dan deteksi dini terhadap penyakit dapat memperbaiki outcome. Hal
tersebut dapat digunakan sebagai acuan melakukan skrining pada PMS sebagai
deteksi dini terhadap penyakit.
Jenis-jenis skrining diantaranya adalah
mass screening, selective
screening, single disease screening, case finding screening, dan multiphasic
screening. Sedangkan aspek epidemiologi skrining test ditentukan dengan cara
sebagai berikut:
a. Validitas; merupakan kemampuan dari suatu pemeriksaan/test untuk
menentukan individu mana yang mempunyai penyakit/beresiko dan individu

mana yang tidak mempunyai penyakit.sedangkan indikator untuk menilai


validitas adalah dengan sensitivitas (mengidentifikasi secara benar orang
yang mempunyai penyakit/beresiko) dan spesifitas (mengidentifikasi secara
benar orang yang sehat/tidak beresiko.
b. Reabilitas; merupakan kemampuan test atau pengukuran untuk menghasilkan
nilai yang sama pada individu dan kondisi yang sama. Dapat dipengaruhi oleh
faktor bias intraobserver (bias karena satu observer menginterpretasi berbeda
suatu hasil dalam waktu yang berbeda) dan interobserver(bias karena dua
observer menginterpretasi satu hasil test dan memberi interpretasi yang
berbeda).
c. Efficacy; ketepatan hasil yang dapat diukur dengan nilai prediksi
kemungkinan sakit terhadap suatu hasil pemeriksaan tes, yaitu prediksi nilai
positif (hasil tes positif sakit) atau negatif (hasil tes tidak sakit).
Penatalaksanaan tes skrining dapat dilakukan dengan metode kombinasi
paralel dan bertahap. Tes skrining paralel dapat meningkatkan sensitifitas, yaitu
hasil positif terhadap salah satu ataupun kedua tes skrining yang dilakukan.
Sedangkan tes skrining bertahap dapat meningkatkan spesifitas, yaitu hanya orang
yang positif terhadap tes skrining tahap satu akan mendapatkan tes skrining tahap
dua. Skrining tahap satu merupakan tes yang lebih murah, tidak terlalu invasif
atau tidak terlalu mengganggu. Sedangkan skrining tahap dua diharapkan dapat
mengurangi positif palsu.

Skrining Online

Sistem on-line merupakan sistem yang menerima langsung input pada area
dimana input tersebut direkam dan menghasilkan output yang dapat berupa hasil
komputasi pada area mereka dibutuhkan. Area sendiri dapat dipisah-pisah dalam
skala, misalnya ratusan kilometer. Skrining online merupakan skrining yang
dibuat dalam bentuk online sehingga dapat diakses dalam suatu website dengan
jaringan internet. Skrining online bermanfaat sebagai deteksi dini secara realtime
untuk mengetahui apakah seseorang terjangkit PMS atau tidak. Pelaksanaan
deteksi dini PMS secara online mempunyai banyak kelebihan dibandingkan
pemeriksaan kesehatan pra-nikah secara konvensional.
Metode skrining online adalah salah satu cara mengidentifikasi dan deteksi
dini penyakit yang komprehensif mengenai riwayat kesehatan dan faktor-faktor
resiko yang mengarah terhadap salah satu dari penyakit seksual. Skrining online
membutuhkan model yang dapat menggali lebih dalam mengenai pengkajian
berbentuk pertanyaan kepada calon pengantin. Oleh karena itu, model yang dapat
digunakan untuk mengkaji lebih dalam riwayat penyakit seorang calon pengantin
dan memberikan informasi mengenai penyakitnya dengan model PLISSIT.
Model PLISSIT (Permission-Limited Information-Specific SuggestionsIntensive Therapy) merupakan cara yang digunakan dalam melakukan penerapan
sebuah treatment awal sebagai tindakan pencegahan dan membantu
mengidentifikasi penyakit agar dapat memperoleh informasi mengenai penyakit
secara mendalam. Dengan begitu diharapkan calon pengantin yang terpapar dan
beresiko menderita PMS dapat mendapatkan informasi bahwa dia harus

melanjutkan proses skrining ke tahap selanjutnya dan dapat melakukan kontrol


serta pengobatan sebelum memulai proses pernikahan.
Penggunaan metode PLISSIT sudah digunakan oleh beberapa tenaga
profesional yang digunakan sebagai solusi mengatasi masalah yang sulit
diidentifikasi. Menurut Ayaz (2009), Model PLISSIT merupakan pendekatan
yang efektif sehingga membuahkan hasil yang positif, terutama dalam masalah
seksual yang sebagian membutuhkan waktu proses yang lama dalam
penyelesaiannya. Sehingga metode ini digunakan dalam sebuah pendekatan
terhadap masalah seksual pada pasien stoma. Metode ini juga dapat diaplikasikan
sebagai sebuah penelitian maupun pelatihan, dan sebagai penduan dalam prinsip
pembelajaran melalui media audio dan visual dalam ranah perawatan klinik.
Model PLISSIT mempunyai empat level, yaitu Permisssion (P),Limited
Information (LI), Spessific Suggestion (SS), dan Intensive Therapy (IT) . menurut
Ayaz (2009), sebanyak 80-90% masalah seksual dapat diselesaikan dengan tiga
level awal dalam fase model ini. Tiga tahapan awal tersebut diantaranya
Permisssion (P),Limited Information (LI), Spessific Suggestion (SS) yang mampu
memberikan solusi dalam menyelesaikan masalah.
Tahapan PLISSIT yang disesuaikan dengan metode identifikasi dan
deteksi dini PMS berbeda dengan model PLISSIT yang digunakan sebagai solusi
masalah seksual yang biasa digunakan. Model PLISSIT yang digunakan dalam
skrining online di sini merupakan hasil modifikasi model PLISSIT yang
diterapkan sesuai inti pengertiannya yang disesuaikan dengan metode skrining
online.
Permission (P) dalam skrining online merupakan cara yang dilakukan oleh
individu dan ataupun calon pasangannya untuk berekspresi mengenai masalah
penyakit seksual yang dialami. Dalam tahapan ini keterbukaaan terhadap perasaan
dan perizinan terhadap hal tersebut dapat memberikan hasil yang konstruktif
mengenai proses awal yang tidak menyalahkan mereka atas resiko penyakit yang
ada.dengan begitu adanya keterbukaan dan kejujuran yang tercipta terhadap calon
pengantin sehingga mereka mengisi pertanyaan dengan benar sesuai dengan
masalah yang mereka alami. Tahapan ini merupakan tahap awal yang dimulai
dengan pertanyaan terbuka mengenai permasalahan hiup yang berhubungan
dengan dampak dan gejala PMS yang dicurigai. Pertanyaan terbuka yang dapat
digunakan adalah pertanyaan pilihan ganda, benar atau salah, essai pendek, atau
esai panjang. Pertanyaan yang diberikan di sini merupakan tahapan awal yang
dilakukan untuk mengidentifikasi dan juga deteksi dini terhadap gejala dan
dampak PMS terhadap hidup yang selama ini dijalani berupa permasalahan umum
yang terjadi.
Tahapan ke dua yaitu Limited Information (LI) yang memberikan
informasi khusus kepada calon pengantin secara langsung mengenai masalah
yang dialaminya. Pada tahap ini, ekspresi mengenai masalah yang dialami calon
pengantin akan lebih khusus terhadap resiko PMS ataupun dempak PMS yang
dialaminya. Pertanyaan yang diberikan mengarah ke seberapa jauh tingkat
pengetahuan calon pengantin terhadap masalah kesehatan yang selama ini
dialaminya. Kemudian setelah itu, calon pengantin akan mendapatkan informasi
mengenai efek samping dan pengarahan terhadap kontrol dan pengobatan yang
sesuai dengan resiko penyakit yang diderita. Pada tahap ini juga diberikan
informasi mengenai perubahan emosional yang terjadi seperti harga diri,

gambaran diri, serta kecemasan terhadap masalah kesehatan yang dimiliki serta
dampak lebih lanjut jika penyakit yang diderita tidak ditangani segera.
Setelah mendapat informasi khusus, maka calon pengantin mendapat
Specific Suggestions (SS), yaitu sugesti terhadap upaya kesehatan yang dapat
dilakukan. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Ayaz (2009) bahwa profesional
kesehatan memberikan informasi khusus sebelum memberikan sugesti khusus
terhadap individu. Dalam tahapan ini calon pengantin yang mendapat informasi
dan sugesti khusus terhadap resiko maupun penyakit yang diderita. Hal tersebut
akan meningkatkan pengetahuannya sehingga dapat melakukan kontrol terhadap
dampak lain yang akan muncul serta dapat memberikan metode pengobatan yang
sesuai. Upaya yang disarankan kepada individu bersifat meningkatkan kesehatan
mereka dan menghindari perilaku berulang yang memicu penyakitnya bertambah
parah. Hal tersebut dapat dilakukan dengan memberikan informasi mengenai
pengenalan terhadap dampak yang lebih buruk, pemantauan hasil laboratorium,
pengontrolan pengobatan sesuai program, dan pemberian informasi lain sesuai
kebutuhan. Selain itu upaya mencegah PMS dengan gaya hidup sehat, hubungan
seksual yang aman, dan kebersihan genitalia. Menurut Ayaz (2009), sebagian
besar masalah dapat diselesaikan dengan baik pada tiga tahapan pertama. Namun,
ada beberapa masalah yang tidak dapat diselesaikan dengan pendekatan ini akan
diteruskan ke tahapan selanjutnya.
Akhir tahapan dari model PLISSIT adalah tahap Intensive Therapy (IT),
yaitu dengan merekomendasikan calon pengantin maupun pasangannya ke
spesialis (seperti psikologi, terapis, dan sebagainya) ketika mereka membutuhkan
konsultasi lebih lanjut mengenai masalah kesehatannya. Hal ini sangat dianjurkan
untuk mendapatkan terapis yang terlatih sehingga dapat memberikan perawatan
yang tepat. Ketika mereka mendapakan pelayanan kesehatan, pendidikan
kesehatan, dan konsultasi dalam model ini, maka mereka akan mendapatkan
informasi yang dapat diaplikasikan untuk meminimalisasi resiko penyakit
semakin besar.
Adapun kuesioner yang dibuat dalam skrining online dapat menggunakan
software kuis online yang sudah banyak terdapat di internet. Kita dapat langsung
membuat pertanyaan sesuai dengan pertanyaan anamneses yang sesuai dengan
riwayat gejala penyakit tertentu. Raihanna (2008) menyatakan bahwa sebaiknya
proses skrining pranikah dilakukan minimal enam bulan sebelum seorang calon
pengantin mempersiapkan pernikahannya. Batas waktu tersebut ditetapkan untuk
memberi waktu terhadap proses pengobatan jika seorang calon pengantin
menderita
salah
satu penyakit
PMS.
Pembuatan
website
dengan dari
model
PLISSIT
Rekomendasi pengobatan
khusus penyakit (Intensive
Pengguna melakukan registrasi
Therapy
Mengisi kuesioner berbentuk kuis online
(Permission)

Hasil jawaban kuesioner berupa


informasi (Limited Information)

Anjuran khusus mengenai


metode pengobatan dan
pemeriksaan kesehatan
sesuai penyakit (Spesific
Sugession)

10

Diagram 1. Kerangka konsep skrining online pranikah


Metode skrining online ini tidak terbatas pada para calon pengantin saja
tetapi dapat juga digunakan oleh orang-orang yang mempunyai resiko terhadap
PMS. Namun, pencegahan penularan dengan identifikasi dan deteksi dini sangat
dianjurkan bagi calon pengantin dalam mempersiapkan kesehatannya menjelang
masa pernikahan. Seperti yang telah kita ketahui, hubungan seksual merupakan
pemenuhan biologis yang dilakukan oleh pasangan hasil pernikahan yang akan
menghasilkan keturunan dan menciptakan generasi penerus bangsa. Calon
pengantin yang tidak mengetahui status kesehatannya tetapi dia mempunyai
resiko terhadap salah satu penyakit dari PMS, maka dia dapat menularkannya
kepada pasangannya. Dengan begitu anak yang dilahirkan juga akan beresiko
mendapat penyakit yang sama dari orang tuanya. Oleh karena itu, diperlukan
sebuah hubungan yang sehat dari orang tua yang sehat akan menghasilkan
generasi yang sehat.
Kemajuan teknologi informasi yang telah mendobrak sekat antara jarak,
ruang, dan waktu dapat dijadikan sebagai solusi dalam menangani permasalahan
PMS. Website merupakan salah satu produk hasil kemajuan teknologi informasi.
Pemilihan website sebagai media yang digunakan untuk melakukan skrining
dikarenakan website mampu menyebarkan informasi dan sering di akses oleh
pengguna internet. Informasi ini dapat berupa teks, suara, animasi, bahkan video.
Fitur-fitur ini semakin mendukung aplikasi skrining online, sehingga skrining
online menjadi lebih interaktif, menarik, dan mudah untuk diakses.
Setidaknya ada lima kelebihan skrining online dibandingkan metode
pemeriksaan kesehatan secara laboratorik. Skrining online dapat memadukan
manfaat skrining sebagai deteksi dini penyakit dengan kemudahan akses internet
yang memiliki peningkatan pengguna sebesar 1000 persen dalam satu dekade
terakhir ini. Manfaat-manfaat tersebut digabungkan dalam suatu kesatuan yang
diintegrasikan secara realtime oleh fasilitas internet :
1. Mudah, karena cara aksesnya yang gampang. Pengguna hanya tinggal
meghubungkan diri dengan teknologi internet dan mengakses situs yang
memuat fasilitas skrining online. Pengguna dapat langsung melakukan
deteksi dini tanpa harus repot menemukan rumah sakit atau laboratorium
klinis yang menyediakan pemeriksaan kesehatan.
2. Murah, karena untuk mengakses fasilitas skrining pengguna metode ini hanya
akan mengisi lembaran skrining seperti lembaran kuis dengan option ya atau
tidak.
3. Kerahasiaan terjamin, karena dengan melakukan skrining secara online
pengguna tidak memberitahukan masalahnya kepada orang lain tetapi kepada
sistem.
4. Akses luas, penggunaan metode skrining online ini tidak hanya mencakup
wilayah jabodetabek saja, tapi juga seluruh wilayah Indonesia bahkan dunia
dimana wilayah tersebut terkoneksi dengan akses internet.
5. Bias observer minimal, skrining online dapat mengurangi faktor
biasintraobserver dan interobserver.

11

Oleh karena itu, perpaduan antara skrining dengan layanan website di


Internet menjadi solusi yang tepat untuk mengatasi permasalahan PMS. Skrining
online akan mempermudah calon pengantin mengetahui kesehatan reproduksinya,
apakah dirinya memiliki risiko PMS atau tidak. Calon pengantin yang melakukan
skrining online tidak akan merasa malu dan bersikap jujur dalam menjawab
pertanyaan-pertanyaan yang di ajukan dalam lembar skrining online karena
identitas dirinya tidak diketahui oleh siapapun.

Pihak-pihak yang Dapat Membantu Program Skrining Online Pranikah dan


Perannya Masing-masing

Untuk mewujudkan Skrining Online before marriage : Metode aplikatif


deteksi dini untuk menurunkan prevalensi PMS di Indonesia Tentunya
diperlukan sinergisitas dengan beberapa instansi terkait, antara lain:
1. Departemen Kesehatan
Kerjasama dengan departemen kesehatan diperlukan untuk memformalkan
skrining online. Skrining online membutuhkan pengakuan dari departemen
kesehatan agar keberadaannya legal-formal dan memiliki penilaian yang valid
mengenai deteksi dini PMS.
Dibutuhkan bantuan dan masukkan dari para ginekolog, ahli kesehatan dan
psikolog terkait pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dalam skrining online
agar metode skrining online dapat dipercaya dan menjadi rujukan deteksi dini
kesehatan pranikah
2. Departemen Agama
Departemen agama yang memilki wewenang mengurusi Kantor Urusan
Agama (KUA) di semua wilayah Indonesia sangat berperan dalam
pengadaan, pembuat peraturan dan distribusi informasi skrining online
sehingga setiap KUA di Indonesia dapat menyediakan Skrining Online on
Demmand sebagai persyaratan dalam pencatatan pernikahan di KUA. Jika
skrining online on demmand dapat diaplikasikan dengan baik di KUA, maka
skrining online dapat menjangkau berbagai wilayah di Indonesia dan calon
pengantin (calon pengantin) dapat terhindar dari membeli kucing dalam
karung dan mengurangi resiko terjangkitnya PMS. Kerjasama dengan
Departemen Agama juga diperlukan untuk menyebarkan akses skrining
online, sehingga di setiap KUA tersedia sarana yang memfasilitasi
penggunaan skrining onlene sebagai persyaratan pencatatan pernikahan
3. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM)
LSM yang terkait dalam bidang kesehatan maupun sosial dapat membantu
melakukan publikasi mengenai penggunaan skrining online pranikah yang
tepat.

Langkah Strategis untuk Menjadikan Skrining Online Pranikah Diterima


oleh Masyarakat Luas

12

Ada beberapa langkah yang harus dilakukan untuk mengimlementasikan


gagasan pembuatan skrining online pranikah :
1.
Berkonsultasi dengan beberapa
ahli kesehatan
(kesehatan
masyarakat,dokter dan perawat ) untuk menyempurnakan program ini dan
membicarakan validitas program ini sebagai metode deteksi dini PMS pranikah.
2.
Menawarkan program ini ke Departemen Kesehatan (Depkes) dan
menawarkan agar skrining online dapat dimasukkan ke dalam website depkes.
Bila hal ini terjadi, masyarakat akan mendapatkan akses yang lebih mudah untuk
menggunakan skrining kesehatan. Masyarakat juga dapat lebih percaya kepada
program ini karena situs departemen kesehatan berdomain .go.id yang berarti web
tersebut dimiliki oleh pemerintah dan validitasnya bisa dipercaya.
3.
Mengajak Departemen Agama (Depag) untuk bekerjasama dalam
program ini. Depag sebagai departemen yang membawahi KUA mempunyai
otoritas khusus yang mengikat kepada KUA. Dalam hal ini, Depag dapat
mengeluarkan regulasi tentang pencatatan pernikahan dan mensosialisasikan
program skrining online ke semua KUA di Indonesia dan memberikan fasilitas
berupa komputer dan jaringan internet ke semua KUA di Indonesia. Harapannya,
nantinya hasil skrining online dapat dimasukkan ke dalam persyaratan pencatatan
pernikahan.
4.
Bekerja sama dengan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang
berkecimpung dalam bidang kesehatan maupun sosial dalam melakukan publikasi
mengenai penggunaan skrining online pranikah yang tepat. Dengan begitu
informasi yang diberikan dapat langsung mengenai sasaran terhadap individu
yang mempunyai resiko tinggi terhadap PMS.
5.
Membuat website yang dilengkapi dengan tutorial mengenai
persiapan pranikah khususnya mengenai kesehatan reproduksi dan kesehatan fisik
yang harus dimiliki calon pengantin menghadapi masa pernikahannya. Tutorial
yang dibuat sebagai rangkaian dari skrining online merupakan bentuk promosi
kesehatan berupa pemberian informasi mengenai pencegahan penyakit serta
peningkatan kesehatan tubuh. Selain itu dalam penggunaannya, pengguna skrining
online melakukan registrasi dengan memasukkan umur serta jenis kelamin
sebagai data awal sehingga dapat dilakukan pengumpulan data secara tidak
langsung.

KESIMPULAN

Gagasan yang diajukan

Masalah kesehatan khususnya pada penyakit menular seksual merupakan


salah satu penyakit yang sulit disembuhkan. Selain itu juga, PMS merupakan
penyakit individu yang berdampak pada kehidupan sosial. Begitu luasnya dampak
yang dihasilkan sehingga pencegahan terhadap penularan penyakit ini harus

13

dilakukan. Pencegahan terhadap penularan PMS sebaiknya dilakukan kepada


individu yang belum menikah dan akan menikah. Persiapan kesehatan pacra calon
pengantin haruslah dilakukan sebelum mereka memasuki masa pernikahan.
Dimana dalam masa tersebut, setiap pasangan melakukan hubungan seksual yang
teratur. Jika identifikasi penyakit tidak dilakukan maka akan berdampak terhadap
kehidupan rumah tangga yang mereka jalani. Seperti yang sudah kita ketahui
bahwa sebagian besar PMS bersifat asimtomtik. Proses identifikasi dan deteksi
dini PMS dapat dilakukan secara online mengingat masalah tersebut sangat
sensitif jika diketahui oleh orang lain.
Skrining online merupakan solusi tepat bagi para calon pengantin untuk
mengidentifikasi dan melakukan deteksi dini terhadap PMS yang kerahasiaannya
dapat terjamin. Selain itu, akses internet yang dapat memberikan jangkauan luas
dengan biaya murah, mudah , rahasia terjamin, dan bias yang minimal. Hal
tersebut dapat membuat para calon pengantin waspada terhadap masalah
kesehatan seksualnya dan dapat segera melakukan pengobatan yang sesuai dengan
masalah mereka.

Teknik implementasi

Skrining online pranikah dibuat dengan menggunakan internet sebagai


jaringannya sehinga akan lebih mudah meng-update informasi yang ada sesuai
perkembangan jaman. Penggunaan website sebagai tempat menyimpan informasi
akan dibentuk sebagai tampilan layar yang didesain secara menarik sehingga
dapat memberikan ketertarikan kepada pengguna. Metode PLISSIT yang
digunakan dalam skrining online dapat memberikan informasi yang sesuai dengan
masalah yang dihadapi. Hal tersebut dapat membantu para calon pengantin
mendapatkan solusi terhadap masalah penyakit seksualnya. Waktu pelaksanaan
yang dianjurkan dalam metode skrining ini adalah enam bulan karena mengingat
proses penyembuhan penyakit dan pengontrolan yang memerlukan waktu yang
berbeda setiap penyakit.

Prediksi hasil

Pelaksanaan skrining online ini akan berhasil ketika semua pihak dapat
mendukung pelaksanaannya. Hal tersebut memerlukan koordinasi yang baik
antata pihak-pihak terkait, seperti Depkes, Depag, dan LSM demi terwujudnya
kesehatan sosial suatu negara. Mengingat skrining merupakan salah satu bagian
dari promosi kesehatan yang merupakan pencegahan awal yang dicanangkan oleh
pemerintah dalam mengurangi biaya pengobatan yang sangat tinggi. Oleh karena
itu, jika skrining online ini dapat terbentuk, maka akan dapat mengurangi
prevalensi angka penularan PMS yang lebih besar. Evaluasi program ini dapat
terlihat dengan banyaknya jumlah pengguna yang tercatat dalam total pengguna
yang dapat dilacak menggunakan account website. Semakin banyak pengguna
yang menggunakan skrining online, maka diharapkan tindakan pencegahan

14

sekunder ini dapat mengarahkan pengguna untuk mengontrol dan juga mengobati
PMS yang dideritanya.

DAFTAR PUSTAKA

Adisasmito, W. (2007). Sistem Kesehatan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada


Ayaz, Sultan, 2009. Approach to Sexual Problems of Patients with Stoma by
PLISSIT Model: An Alternative. Dalam Sex Disabil (2009) 27:7181 .
DOI 10.1007/s11195-009-9113-4. Published online: 20 February 2009
Bobak, Lowdermilk, dan Jensen. 2005. Buku Ajar Keperawatan Maternitas. Edisi
4. Jakarta: EGC

15

Budiman, Amelia. 2009. Website sebagai Media Iklan di Internet, Murah dan
Efektif. www.belajarinternet-marketing.com (Diakses pada Minggu, 21
Maret 2010, pukul 14.10 WIB)
Carcio, Helen Nelson. 1999. Advanced Health Assesment of Woman: Clinical
Skill and Procedurses. Philadelphia: Lippincott
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2007. Peta kesehatan indonesia tahun
2005. Direktorat Jenderal Pusat data dan Informasi.
Noor, N.N. 1997. Pengantar Epidemiologi Penyakit Menular. Jakarta: PT Rineka
Cipta
Potter, P.A.dan Perry AG. 2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan:Konsep,
Proses, Dan Praktik. Edisi 4. Jakarta: ECG
Stanhope, M. dan Knollmueller R.N. 2008. Keperawatan Komunitas: Pengkajian,
Intervensi, dan penyuluhan. Jakarta: EGC
_____Apa itu Penyakit Menular Seksual?. Diambil dari
http://www.kesrepro.info/?q=node/356 pada 21 Maret 2010

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

a. Nama Lengkap

: Putri Dwi Silvana

Tempat dan Tanggal Lahir

: Jakarta, 28 Mei 1990

Karya Ilmiah yang pernah Dibuat

: Islam, Ilmu, dan Peradaban;


Pengetahuan Masyarakat
Pondok Cina Depok
Mengenai Tanggal

16

Kadaluarsa pada Makana;


dan Gerakan Demam
Buku(Gedebuk): Langkah
Cerdas Dalam Meningkatkan
Minat Baca Siswa Yayasan
Bina Insan Mandiri (Yabim)
Tingkat Sekolah Dasar
Penghargaan Ilmiah yang pernah Diraih

b. Nama Lengkap

:-

: Megha Lestari Khoirunnisa

Tempat dan Tanggal Lahir

:Tangerang, 12 Juni 1990

Karya Ilmiah yang pernah Dibuat

Penghargaan Ilmiah yang pernah Diraih

: Peserta Olimpiade UI 2008


bidang Kewirausahaan

c. Nama Lengkap

: Zakiyah

Tempat dan Tanggal Lahir

: Jakarta, 12 Februari 1990

Karya Ilmiah yang pernah Dibuat

: Sekolah Alam Ciliwung:


Pelatihan Relawan Cilik
Peduli Sungai Ciliwung;
Pengetahuan Masyarakat
Pondok Cina Depok
Mengenai Tanggal
Kadaluarsa pada Makanan;
dan Gerakan Demam
Buku(Gedebuk): Langkah
Cerdas Dalam Meningkatkan
Minat Baca Siswa Yayasan
Bina Insan Mandiri (Yabim)
Tingkat Sekolah Dasar

Penghargaan Ilmiah yang pernah Diraih


PIMNAS ke-22

: JuaraIII Kategori PKM-M

17