Anda di halaman 1dari 10

UPAYA MEMINIMALISIR MEDICATION ERROR

Dwiprahasto (2004) menyebutkan bahwa ada beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk
mencegah terjadinya medical error, antara lain:
a.

Pengukuran kinerja dan penerapan performance improvement system


Pengukuran kinerja ini dapat dilakukan melalui berbagai cara, antara lain: pengumpulan data
dan monitoring terhadap outcome spesifik yang menjadi salah satu target potensial untuk
terjadinya medical error. Hal ini sebenarnya dapat dilakukan secara rutin di tingkat rumah
sakit atau bahkan pelayanan kesehatan yang rendah. Tujuannya untuk mendeteksiseawal
mungkin terjadinya medical error dan sekaligus menetapkan upaya perbaikan berdasarkan
masalah yang dihadapi. Dalam kerangka continous quality improvement maka kegiatan ini
sebenarnya sudah built-in dalam system pelayanan kesehatan.
Selain itu dapat pula dikembangkan program risk management atau istilah lainnya adalah
disease management atau outcome management. Program ini merupakan respon terhadap
kejadian medical error yang sebenarnya dapat dicegah apabila prosedur dilaksanakan secara
benar. Salah satu tujuan dari risk management ini adalah untuk mencegah terjadinya resiko
akibat tindakan medik.

b.

Menetapkan strategi pencegahan berbasis pada fakta


Beberapa langkah pencegahan resiko terjadinya medical error dapat dilakukan dngan cara:
1. Mengidentifikasi dan memantau kejadian error pada sekelompok pasien dengan resiko
tingggi serta memahami bagaimana error bias terjadi.
2. Melakukan analisis, interpretasi dan mendiseminasikan data yang ada ke para klinisi
maupun stakeholders.
3. Menetapkan strategi dengan mempertimbangkan bagaimana strategi tersebut dapat

c.

diterapkan dalam system pelayanan kesehatan yang ada.


Menetapkan standar kinerja (performance standards) untuk keamanan pasien
Hal ini bertujuan untuk:
1. Sebagai standar minimum kinerja yang harus dilaksanakan oleh setiap petugas untuk
meminimalkan resiko.
2. Untuk menjamin konsistensi dan keseragaman prosedur bagi setiap petugas kesehatan
dalam melakukan upaya medic.

3. Menjamin bahwa pelaksanaan standar adalah dalam kerangka profesionalisme dan


akuntabilitas.
Berbagai metode pendekatan organisasi sebagai upaya menurunkan medication error yang jika
dipaparkan menurut urutan dampak efektifitas terbesar adalah :
1. Mendorong fungsi dan pembatasan (forcing function& constraints) : suatu upaya
mendesain sistem yang mendorong seseorang melakukan hal yang baik, contoh : sediaan
potasium klorida siap pakai dalam konsentrasi 10% Nacl 0.9%, karena sediaan di pasar
dalam konsentrasi 20% (>10%) yang mengakibatkan fatal (henti jantung dan nekrosis
pada tempat injeksi)
2. Otomasi dan komputer (Computerized Prescribing Order Entry) : membuat statis
/robotisasi pekerjaan berulang yang sudah pasti dengan dukungan teknologi, contoh :
komputerisasi proses penulisan resep oleh dokter diikuti dengan /tanda peringatan jika
di luar standar (ada penanda otomatis ketika digoxin ditulis 0.5g)
3. Standard dan protokol, standarisasi prosedur : menetapkan standar berdasarkan bukti
ilmiah dan standarisasi prosedur (menetapkan standar pelaporan insiden dengan prosedur
baku). Kontribusi apoteker dalam Panitia Farmasi dan Terapi serta pemenuhan
sertifikasi/akreditasi pelayanan memegang peranan penting.
4. Sistem daftar tilik dan cek ulang : alat kontrol berupa daftar tilik dan penetapan cek ulang
setiap langkah kritis dalam pelayanan. Untuk mendukung efektifitas sistem ini diperlukan
pemetaan analisis titik kritis dalam sistem.
5. Peraturan dan Kebijakan : untuk mendukung keamanan proses manajemen obat pasien.
contoh : semua resep rawat inap harus melalui supervisi apoteker
6. Pendidikan dan Informasi : penyediaan informasi setiap saat tentang obat, pengobatan
dan pelatihan bagi tenaga kesehatan tentang prosedur untuk meningkatkan kompetensi
dan mendukung kesulitan pengambilan keputusan saat memerlukan informasi
7. Lebih hati-hati dan waspada : membangun lingkungan kondusif untuk mencegah
kesalahan, contoh : baca sekali lagi nama pasien sebelum menyerahkan.
Dalam relasi antara dokter sebagai penulis resep dan apoteker sebagi penyedia obat
(pelayanan tradisional farmasi), dokter dipercaya terhadap hasil dari farmakoterapi. Dengan
berubahnya situasi secara cepat di sistem kesehatan, praktek asuhan kefarmasian diasumsikan
apoteker bertanggung jawab terhadap pasien dan masyarakat tidak hanya menerima asumsi
tersebut. Dengan demikian apoteker bertanggung jawab langsung pada pasien tentang biaya,

kualitas, hasil pelayanan kefarmasian. Dalam aplikasi praktek pelayanan kefarmasian untuk
keselamatan pasien terutama medication error adalah menurunkan risiko dan promosi
penggunaan obat yang aman.
Penggunaan obat rasional merupakan hal utama dari pelayanan kefarmasian. Dalam
mewujudkan pengobatan rasional, keselamatan pasien menjadi masalah yang perlu di perhatikan.
Dari data-data yang termuat dalam bab terdahulu disebutkan sejumlah pasien mengalami cedera
atau mengalami insiden pada saat memperoleh layanan kesehatan, khususnya terkait penggunaan
obat yang dikenal dengan medication error. Di rumah sakit dan sarana pelayanan kesehatan
lainnya, kejadian medication error dapat dicegah jika melibatkan pelayanan farmasi klinik dari
apoteker yang sudah terlatih.
Medikasi error paling banyak terjadi pada saat dispensing, berikut beberapa cara yang dapat
dilakukan untuk meminimalkan medikasi error pada saat dispensing:
1. Pastikan entry identitas pasien yang tepat dari resep. Kesalahan transkripsi (misalnya,
kelalaian, ketidakakuratan) 15% dari semua errors. Kesalahan ini dapat dikurangi dengan
secara konsisten menggunakan metode yang dapat diandalkan untuk memverifikasi identitas
pasien saat memasuki resep ke dalam komputer. Strategi ini membantu mencegah kesalahan
pengobatan karena suara-sama, mirip nama. Proses ini juga berguna untuk memiliki
informasi tentang pasien, seperti usia pasien, alergi, obat-obatan secara bersamaan,
kontraindikasi, duplikasi terapi, dan sejenisnya.
2. Konfirmasikan bahwa resep benar dan lengkap. Apoteker sering kali "menebak-nebak" dari
resep yang sulit terbaca terbaca atau resep yang ambigu, singkatan tidak standar, akronim,
desimal. Hal ini sering dikaitkan dengan obat errors.

Oleh karena itu penting untuk

mengklarifikasi ketidakpastian atau keraguan tentang resep kepada pemberi resep yaitu
kepada dokter yang bersangkutan. Klarifikasi yang diperoleh dari dokter harus segera
didokumentasikan.
3. Hati-hati dengan

obat

yang

mirip

dari

nama

dan

cara

pembacaannya.

Nama obat yang sama atau mirip berkontribusi untuk satu dari tiga kesalahan pengobatan.
Sebagai contoh, obat baru dengan nama yang mirip dengan obat sebelumnya salah
diinterpretasikan sebagai obat lama yang lebih familiar. Kesalahan tersebut dapat dikurangi

dengan menempatkan pengingat pada tempat persediaan atau menggunakan sistem


komputer untuk mengingatkan staf tentang nama obat jika meragukan.
4. Hati-hati dengan nol dan singkatan. Nol salah, poin desimal, dan kesalahan satuan adalah
penyebab umum dari kesalahan pengobatan akibat salah tafsir. Transkripsi atau interpretasi
kesalahan yang melibatkan titik desimal nol berarti bahwa pasien dapat menerima
setidaknya 10 kali lebih obat daripada yang ditunjukkan, yang dapat mengakibatkan
konsekuensi yang serius.
5. Mengatur tempat kerja. Pengorganisasian ruang kerja, lingkungan kerja, dan alur kerja telah
terbukti nyata mengurangi kesalahan dispensing. Pencahayaan yang tepat, ruang kerja yang
memadai, dan suhu yang nyaman dan kelembaban dapat membantu memfasilitasi
kelancaran arus dari satu tugas ke depan, sehingga mengurangi kemungkinan errors.
6. Mengurangi gangguan bila memungkinkan. Multitasking dan gangguan selama bekerja
merupakan penyebab utama errors. Memiliki teknisi farmasi membantu apoteker dengan
melakukan fungsi-fungsi rutin akan membantu meminimalkan gangguan.
7. Fokus pada pengurangan stres dan menyeimbangkan beban kerja yang berat.
Kenaikan beban kerja sering disebut sebagai faktor dalam kesalahan peracikan. Staf yang
cukup dan beban kerja yang tepat akan membantu mengurangi kesalahan. Istirahat secara
teratur dan waktu istirahat untuk istirahat makan dapat membantu mengurangi beberapa
kesalahan. Berbagi tanggung jawab dengan jelas menetapkan tugas kepada staf akan
membantu aliran kerja dan pada akhirnya dapat membantu dalam mengurangi stres di
tempat kerja, dan, karena itu, mengurangi kesalahan medis.
8. Luangkan waktu untuk menyimpan obat dengan benar. Salah satu cara untuk menghindari
campur-baur antara obat yang mirip adalah menyimpan mereka jauh dari satu sama lain di
tempat penyimpanan obat. Botol obat harus benar terorganisir dengan label menghadap ke
depan. Secara rutin memeriksa semua obat di rak dan membuang obat kadaluarsa.
9. Pemeriksaan ulang resep. Pemeriksaan ulang dan counterchecking merupakan strategi
penting untuk meminimalkan kesalahan dispensing. Membandingkan resep ditulis dengan
produk yang muncul di komputer, dengan label yang dicetak, dan dengan obat-obatan yang
sedang diisi akan membantu mengurangi kesalahan.
10. Selalu memberikan konseling pasien menyeluruh. Sekitar 83% dari kesalahan yang
ditemukan selama konseling dapat diperbaiki sebelum pasien meninggalkan apotek. Oleh
karena itu, penting untuk memberikan konseling untuk setiap pasien. Hal ini dianggap
praktik yang baik untuk membuka wadah dan menunjukkan obat yang sebenarnya untuk

pasien selama konseling daripada mengirimkannya kepada pasien dalam kantong tertutup.
Proses ini akan memberikan kesempatan bagi pasien untuk melihat pengobatan dan
mengajukan pertanyaan. Konseling juga harus mencakup petunjuk tentang cara meminum
obat yang tepat administrasi. Banyak kesalahan dispensing yang dikaitkan dengan kesalahan
penggunaan. Mendidik pasien tentang penggunaan yang aman dan efektif turut membantu
keterlibatan pasien dalam perawatan kesehatan mereka, yang kemungkinan akan
mengurangi kesalahan medis.
PENCEGAHAN KESALAHAN OBAT

Mendorong standarisasi proses untuk mencegah aspek rawan kesalahan pengadaan obat,

resep, pengeluaran, administrasi, pembuangan


Mendorong akuntabilitas bersama dan solusi system berbasis untuk meningkatkan

keamanan penggunaan obat dan untuk dapat meminimalkan potensi kesalahan manusia
Mempromosikan / mendorong penggunaan yang aman dan pemahaman teknologi dalam

pencegahan kesalahan pengobatan


Meningkatkan kesadaran akan kebutuhan untuk kemasan khas, pelabelan, dan
nomenklatur produk yang berhubungan dengan kesalahan pengobatan aktual atau

potensial
Mendidik konsumen dan pasien tentang strategi untuk mencegah kesalahan pengobatan

untuk kedua resep dan nonprescription


Mendidik profesional perawatan kesehatan tentang penyebab kesalahan dan strategi
untuk pencegahan obat

PERAN APOTEKER
Peran apoteker dalam mewujudkan keselamatan pasien meliputi dua aspek yaitu aspek
manajemen dan aspek klinik. Aspek manajemen meliputi pemilihan perbekalan farmasi,
pengadaan, penerimaan, penyimpanan dan distribusi, alur pelayanan, sistem pengendalian
(misalnya memanfaatkan IT). Sedangkan aspek klinik meliputi skrining permintaan obat (resep
atau bebas), penyiapan obat dan obat khusus, penyerahan dan pemberian informasi obat,
konseling, monitoring dan evaluasi. Kegiatan farmasi klinik sangat diperlukan terutama pada
pasien yang menerima pengobatan dengan risiko tinggi. Keterlibatan apoteker dalam tim

pelayanan kesehatan perlu didukung mengingat keberadaannya melalui kegiatan farmasi klinik
terbukti memiliki konstribusi besar dalam menurunkan insiden/kesalahan.
Apoteker harus berperan di semua tahapan proses yang meliputi :
1.

Pemilihan
Pada tahap pemilihan perbekalan farmasi, risiko insiden/error dapat diturunkan dengan

2.

pengendalian jumlah item obat dan penggunaan obatobat sesuai formularium.


Pengadaan
Pengadaan harus menjamin ketersediaan obat yang aman efektif dan sesuai peraturan yang

3.

berlaku (legalitas) dan diperoleh dari distributor resmi.


Penyimpanan
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penyimpanan untuk menurunkan kesalahan
pengambilan obat dan menjamin mutu obat:
a. Simpan obat dengan nama, tampilan dan ucapan mirip (look-alike, sound-alike
medication names) secara terpisah.
b. Obat-obat dengan peringatan khusus (high alert drugs) yang dapat menimbulkan cedera

4.

jika terjadi kesalahan pengambilan, simpan di tempat khusus.


c. Simpan obat sesuai dengan persyaratan penyimpanan.
Skrining Resep Apoteker dapat berperan nyata dalam pencegahan terjadinya medication

5.
6.

error melalui kolaborasi dengan dokter dan pasien.


Dispensing
Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE)
Edukasi dan konseling kepada pasien harus diberikan mengenai hal-hal yang penting tentang

7.

obat dan pengobatannya.


Penggunaan Obat
Apoteker harus berperan dalam proses penggunaan obat oleh pasien rawat inap di rumah
sakit dan sarana pelayanaan kesehatan lainnya, bekerja sama dengan petugas kesehatan lain.
Hal yang perlu diperhatikan adalah tepat pasien, tepat indikasi, tepat waktu pemberian, tepat

8.

obat , tepat dosis,tepat label obat (aturan pakai), dan tepat rute pemberian.
Monitoring dan Evaluasi
Apoteker harus melakukan monitoring dan evaluasi untuk mengetahui efek terapi,
mewaspadai efek samping obat, memastikan kepatuhan pasien. Hasil monitoring dan
evaluasi didokumentasikan dan ditindaklanjuti dengan melakukan perbaikan dan mencegah
pengulangan kesalahan.

Apoteker wajib melaksanakan tugas, fungsi, dan tanggung jawabnya dalam bidang dispensing
dan dalam ruang perawatan pasien.

A. Dalam Bidang Dispensing


Memastikan bahwa kebijakan dan prosedur yang ditetapkan diikuti
Mengkaji resep dan order obat dengan seksama.
Merekam dan mengkaji P3
Memeriksa akurasi dosis yang disiapkan
Memeriksa kelengkapan informasi pada etiket
Melakukan pengendalian obat yang sesuai
Memastikan bahwa teknik yang baik dalam meracik obat dan dalam pencampuran
sediaan intravena
Melakukan dokumentasi yang baik dan menyimpan dokumentasi
Meningkatkan kompetensi profesional terutama pengetahuan tentang obat termasuk
stabilitas dan inkompatibilitas obat
Memastikan bahwa personel baru telah dilatih dengan baik
Mengkoordinasikan berbagai kegiatan bidang dispensing dengan staf yang ada,
untuk melakukan penggunaan personel dan sumber daya sebaik mungkin
Memelihara kebersihan dan kerapian ruang dispensing
Memberikan informasi obat yang diperlukan bagi apoteker, dokter, perawat dan
pasien
Mengkomunikasikan kepada semua staf IFRS berbagai hal berkenaan dengan
pengembangan baru dalam bidang dispensing dan membantu dalam mengevaluasi
personel
Mengkoordinasikan kebutuhan farmasi dari ruang perawatan pasien dengan bidang
dispensing
B. Dalam Ruang Perawatan Pasien
Mengkaji dan mengintepretasikan setiap dosis unit, serta pemberian obat campuran
intravena, guna memastikan bahwa itu telah dimasukkan dengan akurat ke dalam
sistem dosis unit atau sistem pencampuran intravena
Mengkaji setiap kartu pengobatan pasien secara berkala untuk memastikan bahwa
dosis telah diberikan dengan benar
Memastikan secara berkala bahwa dosis yang diberikan telah terdokumentasi pada
waktu pengobatan
Memastikan bahwa dokumentasi untuk obat golongan narkotik yang telah diberikan,
dipelihara dengan benar
Memastikan bahwa teknik pemberian obat yang tepat digunakan

Bertindak sebagai penghubung antara apoteker, perawat dan staf medis


Mengkomunikasikan pada perawat dan dokter tentang masalah pemberian obat
Secara berkala menginspeksi ruang obat pada unit perawat guna memastikan
pemeliharaan tingkat persediaan obat dan perlengkapan
Memastikan bahwa obat-obat dan pelengkapan diadakan dari ruang dispensing sesuai
dengan yang diperlukan
Memastikan bahwa pelayanan pendukung lain yang dilakukan IFRS dilaksanakan
dengan benar
Mengkoordinasikan semua pelayanan farmasi pada tingkat unit perawat
Memastikan bahwa ruangan obat adalah bersih dan teratur
Memastikan bahwa keamanan yang tepat dipelihara dalam ruangan obat untuk
mencegah pencurian
C. Perawatan Langsung Pasien
Mengidentifikasikan obat yang dibawa pasien ke rumah sakit
Mengetahui riwayat penggunaan obat oleh pasien dan mengkomunikasikan semua
informasi berkaitan kepada dokter
Membantu dokter dalam seleksi zat aktif dan produk obat
Membantu dokter dalam seleksi regimen dosis dan jadwal, kemudian menetapkan
waktu pemberian obat untuk jadwal tersebut (pelayanan farmakokinetik)
Memantau terapi obat menyeluruh untuk keefektifan atau ketidakefektifan, efek
samping, toksisitas, reaksi alergi obat dan interaksi obat
Memberikan konseling kepada pasien
Berpartisipasi dalam keadaan darurat kardiopulmo dalam mengadakan dan
menyiapkan obat-obat yang diperlukan, dan sebagainya
D. Tanggung Jawab Umum
Mengadakan edukasi in-service, bagi :
Apoteker, residen apoteker dan mahasiswa farmasi
Perawat dan siswa perawat
Dokter dan mahasiswa kedokteran

Pencegahan yang dapat dilakukan pasien antara lain :

a. Bertanya kepada tenaga kesehatan tentang hal-hal yang berkaitan dengan pengobatan yang
sedang dijalaninya misalnya untuk apa obat tersebut digunakan, bagaimana aturan pakainya,
sampai kapan obat dipakai.
b. Bisa juga dengan melihat informasi obat atau penyakitnya melalui internet sehingga
pengetahuan pasien pun tentang penyakit dan obatnya dapat bertambah.

Bagi pemerintah beberapa hal yang bisa dilakukan antara lain:


a.

Mengatur pembuatan kemasan obat agar tidak terlalu mirip dan dapat dibedakan secara

spesifik satu sama lain.


b. Membentuk suatu lembaga independen yang khusus memantau dan mencari solusi terhadap
Medication Error yang terjadi seperti ISMP (Institute for Safe Medication Practices) yang
ada di Canada dan di beberapa negara lainnya.

DAFTAR PUSTAKA
Dwiprahasto, I. 2004. Medical Error di Rumah Sakit dan Upaya untuk Meminimalkan Risiko.
Clinical Epidemiology & Biostatics Unit Fakultas Kedokteran UGM Yogyakarta.
Departemen Kesehatan RI. 2008. Tanggung Jawab Apoteker terhadap Keselamatan Pasien
(Patient Safety). Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik, Ditjen Bina Kefarmasian
dan Alat Kesehatan RI. Jakarta.
Departemen Kesehatan RI. 2008. Tanggung Jawab Apoteker terhadap Keselamatan Pasien
(Patient Safety). Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik, Ditjen Bina Kefarmasian
dan Alat Kesehatan RI: Jakarta. )
Siregar. Charles. 2006. Farmasi Klinik teori dan penerapan. Penerbit buku kedokteran EGC.
Jakarta. Hlm 380- 416
Nair,

Rama

P.,

et.

al,

2010,

10

Strategies

for

Minimizing

Dispensing

Errors,

http://www.pharmacytimes.com/publications/issue/2010/January2010/P2PDispensingErrors0110, diakses pada: 16 januari 2015 pukul 21.00.