Anda di halaman 1dari 6

PERCOBAAN DAN TEMUAN HUKUM PILIHAN BEBAS MENDEL

Masih menggunakan tanaman coba ercis, J.G. Mendel melakukan percobaan persilangan yang pada
hasilnya diperhatikan dua ciri sekaligus; pada percobaan-percobaan persilangan J.G. Mendel yang
telah dikemukakkan,jumlah ciri yang diperhatikan pada hasil persilangan, adalah satu buah.
Permasalahan mendasar yang ingin ditemukan jawabanya adalah apa yang terjadi jika pada
rangkaian percobaan persilangan, dua ciri diperhatikan sekaligus?
J.G. Mendel melakukan percobaan persilangan yang dewasa ini dikenal sebagai persilangan
dihibrida. Pada satu percobaanya, tanaman ercis berbiji bulat dan kuning disilangkan dengan yang
berbiji keriput dan hijau. Ciri biji hasil persilangan (F1) seperti sudah diduga, seluruhnya bulat dan
hijau; tetapi pada F2 muncul hasil yang menarik.
Berkenaan dengan ciri biji hasil persilangan pada F2 ,J.G. Mendel sudah mempertimbangkan dua
kemungkinan yaitu:
a. Ciri-ciri yang berasal dari satu induk akan diwariskan bersama-sama;
b. Ciri-ciri yang berasal dari satu induk akan diwariskan secara bebas satu sama lain.
Dalam hubungan ini apabila kemungkinan a benar, maka pada F 2 hanya dijumpai dua macam ciri biji
(bulat kuning dan keriput hijau) dalam rasio 3:1 sesuai dengan hukum pemisahan Mendel. Akan
tetapi jika yang benar adalah kemungkinan b, maka pada F2 ini memperlihatkan rasio yang mendekati
9:3:3:1, sebagaimana yang diharapkan pada kemungkinan b. Dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor
yang menentukan karakter-karakter berbeda diwariskan secara bebas satu sama lain. Kesimpulan
inilah yang merupakan pernyataan dari hukum pilihan bebas Mendel. Dalam rumusan lain
dikemukakan lagi bahwa hukum mendel pilihan bebas Mendel menyatakan bahwa faktor-faktor
yang menentukan karakter-karakterberbeda diwariskan secara bebas satu sama lain. Percobaan J.G.
Mendel yang memperlihatkan kejadian pilihan bebas tersebut, ditunjukkan pada Gambar2.4.
Dari Gambar 2.4 terlihat bahwa pada F2
a.
b.
c.
d.

Ciri biji bulat kuning sebanyak 9/16 bagian,


Ciri biji keriput kuning sebanyak 3/16 bagian,
Ciri biji bulat hijau sebanyak 3/16 bagian,
Ciri biji keriput hijau sebanyak 1/16 bagian.
Dengan demikian rasio (bukan jumlah) keempat macam ciri itu adalah 9:3:3:1.

Percobaan persilangan J.G Mendel seperti pada Gambar 2.4 juga mempertegas hukum pemisahan
Mendel dalam rasio 3:1 (F2) untuk masing-masing ciri. Pada F2 TERDAPAT 423 biji bulat dan 133
biji keriput; 416 biji kuning dan 140 biji hijau.

Gambar 2.4 Percobaan persilangan J.G Mendel yang memperlihatkan kejadian pilihan bebas. Pada
F2 biji bulat kuning sebanyak 315 butir, bulat hijau sebanyak 108 butir, keriput kuning sebanyak 101
butir, dan keriput hijau sebanyak 32 butir (Ayalah dkk.,1984).
PERCOBAAN PERSILANGAN J.G. MENDEL YANG MEMPERLIHATKAN TIGA
KARAKTER SEKALIGUS
J.G Mendel sudah mengkonfirmasikan hukum pilihan bebas pada percobaan persilangan lain;
pada percobaan persilangan lain itu diperhatikan sebagai kombinasi dari dua karakter. Demikian pula
J.G Mendel telah mengkonfirmasikanya pada percobaan persilangan dengan memperhatikan tiga
karakter sekaligus.
Satu contoh percobaan persilangan trihibrida pada tanaman ercis akan ditunjukkan, misalnya
dengan rincian sebagai berikut (Tabel 2.2).
Tabel 2.2 Rincian karakter satu contoh persilangan trihibrida (Ayala dkk, 1984).

Induk betina

Induk jantan

Biji Bulat (RR)


Biji kuning (YY)
Bunga ungu (CC)

Biji keriput (rr)


Biji hijau (yy)
Bunga putih (cc)

Gambar 2.5 Kejadian pilihan bebas pada tanaman ercis trihibrida (F 1), lengkap dengan probilitasnya
sebesar 1/8 satu sama lain (Ayala dkk., 1984).
Gamet-gamet pada induk betina adalah RYC , sedangkan pada yang jantan adalah ryc sehingga
turunan F1 adalah RrYyCc yang memperlihatkan karakter biji bulat kuning serta bunga ungu.
Andaikata ketiga pasangan faktor melakukan pilihan secara bebas satu sama lain, maka tanaman ercis
trihibida (F1) akan menghasilkan 8 macam gamet.
Bersatunya kedelapan macam gamet dari kedua induk (fertilisasi) secara acak menghasilkan 27
kelas genetik yang berbeda. Kedua puluh tujuh kelas genetik tampak sebagai 8 tipe tanaman yang
berbeda dalam rasio: 27:9:9:9;3:3:1. Kedelapan tipe tanaman itu adalah yang:
a)
b)
c)
d)
e)
f)
g)
h)

Berbiji bulat, kunging dan berbunga ungu;


Berbiji bulat, kuning dan berbunga putih;
Berbiji bulat hijau dan berbunga ungu;
Berbiji keriput kuning dan berbunga ungu;
Berbiji bulat hijau dan berbunga putih;
Berbiji keriput kuning dan berbunga putih;
Berbiji keriput hijau dan berbunga ungu;
Berbiji keriput hijau dan berbunga putih.

Bagan percobaan persilangan trihibrida tanaman ercis dari F 1 menuju ke F2 ditunjukkan pada Gambar
2.6.

KONSEPSI DASAR J.G. MENDEL

Dalam melakukan percobaan persilangan seperti yang telah dikemukakan, J.G. Mendel berpendapat
bahwa karakter ditentukan oleh unit karakter yang disebut faktor. Percobaan-percobaan persilangan
J.G. Mendel sebagaimana yang dilaporkan pada berbagai acuan memperlihatkan bahwa tampaknya
konsepsi faktor yang diajukan oleh J.G. Mendel adalah satuan atau unit yang berdiri sendiri.
Hasil percobaan persilangan tanaman ercis yang memperhatikan sekaligus dua atau tiga ciri hingga F 2
terlihat memperkuat konsepsi faktor sebagai unit yang berdiri sendiri.

Gambar 2.6 Bagan persilangan trihibrida tanaman ercis dari F1 menuju F2 Ayala dkk., 1984).

HUKUM PEMISAHAN MENDEL DAN HUKUM PILIHAN BEBAS MENDEL YANG MULAMULA
Seperti yang terlihat dikemukakan menurut J.G. Mendel, tiap faktor berdiri sendiri. Hal ini berarti
bahwa peristiwa yang didalamnya faktor-faktor memisah dan melakukan pilihan bebas selama
meiosis, rupanya dibayangkan selalu berlangsung dalam keadaan tiap faktor atau pasangan faktor itu

bebas berdiri sendiri satu sama lain. Dengan semakinjelas bahwa hukum pemisahan Mendel dan
hukum pilihan bebas Mendel yang mula-mula, hendaknya dilihat dalam konteks tiap faktor atau
pasangan faktor itu bebas berdiri sendiri satu sama lain.

Gamabar 2.7 Bagan kejadian pemisahan faktor dan pilihan bebas atas dasar pandangan bahwa setiap
faktor berdiri sendiri-sendiri satu sama lain (A,a,B,b,C,c adalah simbol faktor; pasangan faktor
sengaja dirancang yang dominan dan resesif).
HUKUM PEMISAHAN MENDEL DAN HUKUM PILIHAN BEBAS MENDEL DALAM
RENTANG WAKTU MENUJU AWAL ABAD XX

Hasil karya brilian J.G. Mendel sudah diumumkan pada tahun 1866 yang dimuat dalam prosiding
Natural History Society of Brunn. Namun, Minkoff (1983) menyatakan bahwa situasi belum matang
sehingga karya itu tetap tidak dikenal hingga tahun 1900.
Pada musim semi 1900 hasil karya J.G. Mendel ditemukan kembali oleh tiga peneliti, Erich Von
Tschermack dari Austria, Carl Correns warga negara Denmark dan Hugo De Vries berkebangsaan
Belanda (Profesor pada Universitas Amsterdam). Ketiga ilmuwan tersebut melakukan percobaan
sendiri-sendiri secara terpisah.
Sepuluh tahun berikutnya banyak percobaan dilakukan di berbagai negara, dan selama waktu itu
prinsip-prinsip dasar yang baru dalam bidang genetika memantapkan hukum pemisahan Mendel dan

hukum pilihan bebas Mendel segera diterapkan pada pewarisan sifat (heredity) dari seluruh makhluk
hidup diploid yang berbiak secara seksual termasuk manusia. Para ilmuwan yang berjasa diantaranya
Punnet (Inggris), Bateson (Inggris), Weinberg (Jerman), De Vries (Belanda), Johannsen
(Denmark),Sutton (AS), Morgan (AS), Castle (AS), dan East (AS). Pada tahun 1909 Garrod (ahli
fisika dari Inggris) memperkenalkan satu bagian baru dalam genetika yaitu genetikabiokimia melalui
bukunya yang berjudul Inborn Errors of Metabolism.