Anda di halaman 1dari 66

1

JUDUL
Upaya Peningkatan Derajat Kesehatan Lansia Dusun Premban
Kelurahan Sumberkradenan Kecamatan Pakis Kabupaten Malang
BAB 1
PENDAHULUAN
1. ANALISIS SITUASI
A. Geografi
Desa Sumberkradenan mempunyai luas wilayah 3362 Ha yang mempunyai
empat dusun, yaitu Dusun Premban, Dusun Njepuk, Dusun Mbonangan, dan Dusun
Krajan. Adapun batas wilayah sebagai berikut:
-

Utara: Desa Pakis Kembar


Selatan: Cemoro Kandang
Barat: Ampel Dento
Timur: Desa Pucangsongo

B. Demografi
Berdasarkan

data

dari

kantor

statistik

keadaan

Demografi

Desa

Sumberkradenan memiliki jumlah penduduk sebanyak 6.094 jiwa. Jumlah penduduk


lansia di Desa Sumberkradenan sebanyak 50 orang, ada 35 orang lansia yang aktif.
C. Keadaan Khusus
a. Sarana Kesehatan Pemerintah
Polindes

b. Sarana Kesehatan Swasta


Balai Pengobatan (BP)

Dokter Praktek Swasta

Bidan Praktek Swasta

Rumah Bersalin

c. Upaya Kesehatan Bersumber Daya Masyarakat (UK3M)


Jumlah Kader

30

Jumlah Kader Aktif

30

Posyandu Lansia

d. Ketenagaan
Tenaga Di Polindes
1 Orang Bidan
1 Orang Perawat
Tabel 1: Kondisi Umum Kesehatan pada Bayi/Balita
No. Masalah

Deskripsi

1.

Kurangnya Pemantauan

Terdapat satu posyandu lansia yang berpusat di

Kesehatan Lansia

premban. Kegiatan yang biasanya dilakukan pada


posyandu adalah timbang berat badan dan
pemantauan tekanan darah. Kesadaran lansia untuk
datang ke posyandu masih rendah.

2.

Hipertensi

Merupakan penyakit yang paling umum diderita


oleh lansia di Desa Sumberkradenan. Tingginya
jumlah

warga

yang

mengalami

hipertensi

dimungkinkan karena banyak yang mengkonsumsi


3.

Diabetes Mellitus

makanan tinggi garam dan kurang berolahraga.


Merupakan penyakit yang paling umum diderita
oleh lansia di Desa Sumberkradenan. Tingginya
jumlah

warga

yang

mengalami

hipertensi

dimungkinkan karena banyak yang mengkonsumsi


makanan tinggi gula dan kurang berolahraga.

Analisis USG Tumbuh Kembang


URGENCY
1:2=1

KETERANGAN
1. = 1

1:3=3

2. = 0
3. = 2

2:3=3
SERIOUSNESS
1:2=1

KETERANGAN
1 =1
2 =0
3 =2

1:3=3
2:3=3
GROWTH
1:2=1

KETERANGAN
1 =1
2 =0
3 =2

1:3=3
2:3=3
Keterangan:
1 = Hipertensi
2 = DM
3 = Pemantauan Kesehatan Lansia
Dari hasil analisis USG
No. MASALAH
1
DM
2
Kurangnya
3

U
1
Pemantauan 0

Kesehatan Lansia
Hipertensi

S
1
0

G
1
0

TOTAL
3
0

2. Perumusan Masalah
1. Bagaimana tingkat pengetahuan lansia terkait penyakit hipertensi dan diabetes
mellitus di desa Sumberkradenan?
2. Bagaimana praktek penyediaan makanan lansia dalam memenuhi kebutuhan?
3. Bagaimanakah perilaku hidup bersih dan sehat lansia di Desa
Sumberkradenan?
4. Bagaimanakah status gizi lansia yang ada di desa Sumberkradenan?
5. Apakah program pembinan yang diusulkan kelompok 24 dapat meningkatkan
pengetahuan dan kemandirian lansia dalam perawatan diri terkait penyediaan
makanan, pola hidup sehat dan aktifitas fisik yang sesuai untuk penyakit
hipertensi dan DM?

3. Tujuan Kegiatan
1. Mengetahui tingkat pengetahuan lansia terkait penyakit hipertensi dan
diabetes mellitus di desa Sumberkradenan
2. Mengetahui praktek penyediaan makanan lansia dalam memenuhi kebutuhan
3. Mengetahui status gizi lansia yang ada di desa Sumberkradenan
4. Mengetahui program pembinan yang diusulkan kelompok 24 dapat
meningkatkan pengetahuan dan kemandirian lansia dalam perawatan diri
terkait penyediaan makanan, pola hidup sehat dan aktifitas fisik yang sesuai
untuk penyakit hipertensi dan DM .
4. Manfaat Kegiatan
1. Meningkatnya pengetahuan lansia mengenai penyakit hipertensi dan DM.
Sehingga para lansia dapat melakukan perawatan diri yang baik serta dapat
melakukan pencegahan yang lebih baik.
2. Meningkatkan pengetahuan dan kemandirian perilaku hidup bersih dan sehat
lansia di Desa Sumberkradenan
3. Memberikan informasi kepada para kader mengenai contoh makanan PMT
yang baik dan sesuai kebutuhan ansia ditinjau dari hasil alam setempat.
4. Meningkatkan aktifitas fisik lansia dengan senam ringan, sehingga lansia
terbiasa untuk berolahraga dan mendapatkan manfaatnya.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

1. LANSIA
A. Definisi
Pengertian lanjut usia (lansia) ialah manusia yang berumur di atas usia 60
tahun dan masih hidup. Kelompok lanjut usia adalah kelompok penduduk
yang berusia 60 tahun ke atas (Hardywinoto dan Setiabudhi, 1999 dalam
Wijayanti, 2008). Menurut WHO, batas usia untuk kategori lanjut usia
berdasarkan tingkat usia yaitu:
1.
2.
3.
4.

Usia pertengahan middle age 45-59 tahun,


Lanjut usia (lansia)elderly60-74tahun,
Lansia tua old 75-90tahun,
Dan usia sangat tua veryold diatas 90 tahun

Penggolongan lansia menurut Depkes dikutip dari Azis (1994) dalam


Wijayanti 2008, terdapat tiga kelompok lansia yakni :
1. Kelompok lansia dini (55 64 tahun), merupakan kelompok yang baru
memasuki lansia
2. Kelompok lansia (65 tahun ke atas)
3. Kelompok lansia resiko tinggi, yaitu lansia yang berusia lebih dari 70
tahun.
Ada beberapa hal yang dapat digunakan untuk memahami usia tua, antara
lain (Papalia dkk, 2001 dalam Wijayanti, 2008) :
1. Primary aging
Bahwa aging merupakan suatu proses penurunan atau kerusakan fisik
yang terjadi secara bertahap dan bersifat inevitable (tidak dapat
dihindarkan).
2. Secondary Aging
Proses aging merupakan hasil dari penyakit, abuse, dan disuse pada
tubuh yang seringkali lebih dapat dihindari dan dikontrol oleh individu
dibandingkan dengan primary aging, misalnya dengan pola makan yang
baik, menjaga kebugaran fisik dll.

B. KESEHATAN LANSIA
Faktor kesehatan meliputi keadaan fisik dan keadaan psikis lanjut usia.
Keadaan fisik merupakan faktor utama dari kegelisahan manusia. Kekuatan
fisik, pancaindera, potensi dan kapasitas intelektual mulai menurun pada
tahap-tahap tertentu (Prasetyo,1998 dalam

Wijayanti 2008). Dengan

demikian orang lanjut usia harus menyesuaikan diri kembali dengan ketidak
berdayaannya. Kemunduran fisik ditandai dengan beberapa serangan
penyakit seperti gangguan pada sirkulasi darah, persendian, sistem
pernafasan, neurologik, metabolik, neoplasma dan mental. Sehingga keluhan
yang sering terjadi adalah mudah letih, mudah lupa, gangguan saluran
pencernaan, saluran kencing, fungsi indra dan menurunnya konsentrasi. Hal
ini sesuai dengan pendapat Joseph J. Gallo (1998) dalam Wijayanti (2008)
mengatakan

untuk

dipertimbangkan

mengkaji

fisik

keberadaannya

pada

seperti

orang

lanjut

menurunnya

usia

harus

pendengaran,

penglihatan, gerakan yang terbatas, dan waktu respon yang lamban.


Pada umumnya pada masa lanjut usia ini orang mengalami penurunan
fungsi kognitif dan psikomotorik. Menurut Zainudin (2002) fungsi kognitif
meliputi proses belajar, persepsi pemahaman, pengertian, perhatian dan lainlain yang menyebabkan reaksi dan perilaku lanjut usia menjadi semakin
lambat. Fungsi psikomotorik meliputi hal-hal yang berhubungan dengan
dorongan kehendak seperti gerakan, tindakan, koordinasi yang berakibat
bahwa lanjut usia kurang cekatan.
Seseorang yang berusia lanjut akan mengalami perubahan-perubahan
akibat penurunan fungsi sistem tubuh. Salah satu perubahan tersebut adalah
perubahan kejiwaan dan fisik. Masalah kesehatan jiwa lansia yang sering
muncul adalah gangguan proses pikir yang ditandai dengan lupa, pikun,
bingung, dan curiga, dan gangguan perasaan ditandai dengan perasaan
kelelahan, acuh tak acuh, tersinggung, sedangkan gangguan fisik/somatik
meliputi gangguan pola tidur, gangguan makan dan minum, gangguan

perilaku yang ditandai dengan enggan berhubungan dengan orang lain, dan
ketidakmampuan merawat diri sendiri.
Badan manusia menua kurang lebih 1% setiap tahun. Meskipun orang
yang segar jasmaninya,akan menua pula. Untungnya orang-orang yang
kesegaran jasmaninya baik, proses menuanya lebih lambat. Bila seseorang
menjadi lebih segar jasmaninya,maka fungsi badannya akan lebih baik.
(Sadoso S,1993 dalam Sriwahyuniati, 2008). Proses menua adalah masalah
yang akan selalu dihadapi oleh semua manusia. Dalam tubuh terjadi
perubahan- perubahan structural yang merupakan proses degeneratif.
Misalnya sel-sel mengecil atau menciut, jumlah sel berkurang, terjadi
perubahan isi atau komposisi sel, pembentukan jaringan ikat baru
meggantikan sel-sel yang menghilang atau mengecil dengan akibat timbulya
kemunduran fungsi organ tubuh
Menurut (Hardianto Wibowo, 2003 dalam Sriwahyuniati, 2008) secara
ringkas dapat dikatakan:
1. Kulit tubuh dapat menjadi lebih tipis, kering dan tidak elastis lagi.
2. Rambut rontok warnanya berubah menjadi putih, kering dantidak
mengkilat.
3. Jumlah otot berkurang, ukuran juga mengecil, volume otot secara
keseluruhan menyusut dan fungsinya menurun.
4. Otot-otot jantung mengalami perubahan degeneratif, ukuran jantung
mengecil, kekuatan memompa darah berkurang.
5. Pembuluh darah mengalami kekakuan (Arteriosklerosis).
6. Terjadinya degenerasi selaput lendir dan bulu getar saluran pemapasan,
alveolus menjadi kurang elastis.
7. Tulang-tulang menjadi keropos (osteoporosis).
8. Akibat degenerasi di persendian, permukaan tulang rawan menjadi
kasar.
9. Karena proses degenerasi maka jumlah nefron (satuan fungsional di
ginjal yang bertugas membersihkan darah) menurun. Yang berakibat

kemampuan mengeluarkan sisa metabolisme melalui urin berkurang


pula.
10. Proses penuaan dianggap sebagai peristiwa fisiologik yang memang
harus dialami oleh semua makluk hidup.
Proses penuaan merupakan tantangan yang harus ditanggulangi karena
diartikan dengan proses kemunduran prestasi kerja dan penurunan kapasitas
fisik seseorang. Akibatnya kaum lansia menjadi kurang produktif, rentan
terhadap penyakit dan banyak bergantung pada orang lain. Dengan tetap
bekerja dan melakukan olahraga secara teratur dapat memperlambat proses
kemunduran dan penurunan kapasitas tersebut di atas. Karena bekerja
maupun olahraga pada dasarnya berkaitan dengan aktifitas sistem
musculoskeletal (otot dan tulang) serta sistem kardiopulmonal (jantung dan
paru-paru) (Sriwahyuniati, 2008).
Kemunduran fungsi organ-organ akibat terjadinya proses penuaan terlihat
pada:
1. Kardiovaskuler( Jantung dan pembuluh darah)
a. Volume sekuncup menurun hingga menyebabkan terjadinya
penurunan isi sekuncup(sktroke vollume) dan curah jantung(cardiac
outr-put).
b. Elastisitas`pembuluh

darah

menurun

sehingga

menyebabkan

terjadinya peningkatan tahanan perifer dan peningkatan tekanan


darah.
2. Respirasi
a. Elastisitas paru-paru menurun sehingga pernafasan harus bekerja
lebih keras dan kembang kempis paru tidak maksimal.
b. Kapiler paru-paru menurun sehingga ventilasi juga menurun.
3. Otot dan persendian
a. Jumlah motor unit menurun
b. Jumlah mitokondria menurun
c. Otot dan memudahkan terjadinya kelelahan , karena fungsi
Mitokondria adalah memproduksi adenosin triphospat(ATP).

d. Kekakuan jaringan otot dan persendian meningkat sehingga


menyebabkan turunnya stabilitas dan mobilitas.
4. Tulang
a. Mineral tulang menurun sehingga terjadi osteoporosis dan akan
meningkatkan resiko patah tulang.
b. Kiposis
5. Peningkatan lemak tubuh.
Hal ini menyebabkan gerakan menjadi lamban dan peningkatan resiko
terserang penyakit.
2. DIABETES MELLITUS
A. DEFINISI
Diabetes Mellitus merupakan sekelompok kelainan heterogen yang
ditandai oleh kenaikan kadar glukosa dalam darah atau yang disebut
hiperglikemia (Brunner & suddath, 2002). Penyakit ini merupakan penyakit
menahun yang timbul pada seseorang disebabkan karena adanya
peningkatan kadar gula atau glukosa darah akibat kekurangan insulin baik
absolut maupun relatif. Menurut American Association (ADA) 2005,
Diabetes mellitus adalah merupakan suatu kelompok penyakit metabolik
dengan karateristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi
insulin, kerja insulin atau kedua-duanya. Insufisiensi fungsi insulin dapat
disebabkan oleh gangguan atau defisiensi produksi insulin oleh sel-sel beta
Langerhans kelenjar pankreas, atau disebabkan oleh kurang responsifnya selsel tubuh terhadap insulin (WHO, 1999).
B. KLASIFIKASI
Klasifikasi Diabetes berdsasarkan etiologinya :
Tipe Diabetes
Tipe 1

Penyebab
Destruksi sel beta, umumnya menjurus ke
defisiensi insulin absolut

Autoimun

10

Tipe 2

Idiopatik
Bervariasi, mulai yang dominan resistensi
insulin disertai defisiensi insulin relatif
sampai yang dominan defek sekresi

Tipe lain

insulin disertai resistensi insulin


Defek genetik fungsi sel beta
Defek genetik kerja insulin
Penyakit eksokrin pankreas
Endokrinopati
Karena obat atau zat kimia
Infeksi
Sebab imunologi yang jarang
Sindrom genetik lain yang berkaitan
dengan DM

Diabetes mellitus gestasional


Sumber : Konsesus DM di Indonesia, 2011
C. ETIOLOGI
1. Diabetes tipe I:
a. Faktor genetik
Penderita diabetes tidak mewarisi diabetes tipe I itu sendiri; tetapi
mewarisi suatu predisposisi atau kecenderungan genetik ke arah
terjadinya DM tipe I. Kecenderungan genetik ini ditemukan pada
individu yang memiliki tipe antigen HLA.
b. Faktor-faktor imunologi
Adanya respons otoimun yang merupakan respons abnormal dimana
antibodi terarah pada jaringan normal tubuh dengan cara bereaksi
terhadap jaringan tersebut yang dianggapnya seolah-olah sebagai
jaringan asing. Yaitu otoantibodi terhadap sel-sel pulau Langerhans
dan insulin endogen.
c. Faktor lingkungan
Virus atau toksin tertentu dapat memicu proses otoimun yang
menimbulkan destruksi sel beta.
2. Diabetes Tipe II

11

Mekanisme yang tepat yang menyebabkan resistensi insulin dan


gangguan sekresi insulin pada diabetes tipe II masih belum diketahui.
Faktor genetik memegang peranan dalam proses terjadinya resistensi
insulin.
Faktor-faktor resiko :
a. Usia (resistensi insulin cenderung meningkat pada usia di atas 65 th)
b. Obesitas
c. Riwayat keluarga
D. PATOFISIOLOGI
Umur ternyata merupakan salah satu faktor yang bersifat mandiri
dalam pengaruhnya terhadap perubahan toleransi tubuh terhadap glukosa
(Wasilah, 2006). Hampir setiap study epidemiologi baik yang bersifat crosssectional maupun longitudinal menunjukkan bahwa prevalensi gangguan
gangguan toleransi glukosa dan dibetes meningkat bersama pertambahan
umur. Umumnyadibetes pada orang dewasa hampir 90 % masuk diabetes
tipe 2. Pada diabetes tipe 2 ( DMT2 ) gangguan metabolisme glukosa
disebabkan oleh dua faktor : tidak adekuatnya sekresi insulin secara
kuantitatif ( defisiensi insulin ) dan kurang sensitifnya jaringan tubuh
terhadap insulin ( resistensi insulin ) ( Asman, 2006 ).
Pada DMT2 gangguan berupa disfungsi sel beta dan resistensi insulin
adalah dua faktor etiologi yang bersifat bawaan ( genetik ). Secara klinis
muncul peningkatan Umur ternyata merupakan salah satu faktor yang
bersifat mandiri dalam pengaruhnya terhadap perubahan toleransi tubuh
terhadap glukosa (Wasilah, 2006). Hampir setiap study epidemiologi baik
yang bersifat cross-sectional maupun longitudinal menunjukkan bahwa
prevalensi gangguan gangguan toleransi glukosa dan dibetes meningkat
bersama pertambahan umur. Umumnya dibetes pada orang dewasa hampir
90 % masuk diabetes tipe 2. Pada diabetes tipe 2 ( DMT2 ) gangguan
metabolisme glukosa disebabkan oleh dua faktor : tidak adekuatnya sekresi

12

insulin secara kuantitatif ( defisiensi insulin ) dan kurang sensitifnya jaringan


tubuh terhadap insulin ( resistensi insulin ) ( Asman, 2006 ).
Pada DMT2 gangguan berupa disfungsi sel beta dan resistensi insulin
adalah dua faktor etiologi yang bersifat bawaan ( genetik ). Secara klinis
muncul peningkatan kadar glukosa darah oleh karena utilisasi glukosa tidak
berlangsung dengan sempurna.Proses utilisasai glukosa yang normal
membutuhkan insulin dalam jumlah yang cukup dan jaringan tubuh yang
sensitif terhadap insulin agar dapat bekerja secara efektif. Gangguan
metabolisme glukosa yang terjadi pada mulanya disebabkan oleh kelainan
pada dinamika sekresi insulin. Kelainan tersebut berupa gangguan pada fase
1 sekresi insulin yang tidak sesuai kebutuhan ( inadekuat ). Defisiensi insulin
yang terjadi, menimbulkan dampak buruk terhadap homeostatis glukosa
darah. Yang pertama terjadi adalah hiperglikemia akut pasca prandial (HAP)
yakni peningkatan kadar glukosa darah segera ( 10-30 menit ) setelah beban
glukosa ( makan atau minum ) atau disebut juga lonjakan setelah makan
(post prandial spike ) (Asman, 2006).
HAP yang muncul akibat tidak normalnya fase 1, memberi dampak
terhadap kinerja fase 2 sekresi insulin. Secara klinis, dampak yang
ditimbulkan oleh gangguan pada fase 1 sekresi insulin, dapat dideteksi pada
tes toleransi glukosa oral ( TTGO ). Dalam hal ini TTGO mulai
memperlihatkan kecendrungan peningkatan kadar glukosa darah dua jam
setelah beban glukosa. Hal ini merupakan cerminan dari ketidakberhasilan
sekresi insulin fase 1 dalam meredam HAP, meskipun pada mulanya ada
upaya berupa peningkatan sekresi fase 2, namun secara lambat laun
keadaaan normoglikemia tidak dapat dipertahankan. Pada suatu waktu akan
muncul keadaan atau fase yang dinamakan toleransi glukosa terganggu
(TGT). Dalam perjalan penyakit ini, tahap ini sering disebut pre-diabetes.
(kadar glukosa darah dua jam setelah beban glukosa : 140-200 mg/dl)
(Asman, 2006 ).

13

Secara fisiologis, dampak peningkatan kadar glukosa darah yang


diakibatkan gangguan fase 1, diusahakan mengatasinya oleh fase 2 sekresi
insulin.Pada mulanya, melalui mekanisme kompensasi, bahkan sering
overkompensasi,insulin disekresi secara berlebihan untuk untuk tujuan
normalisasi kadar gula darah. Dapat dipahami bahwa lambat laun usaha ini
akan berakhir pada tahap kelelahan sel beta yang disebut tahap
dekompensasi sehingga terjadi defisiensi insulin secara absolut. Pada tahap
akhir ini, metabolisme glukosa makin burukkarena peningkatan kadar
glukosa darah ( hiperglikemi ) tidak hanya oleh karena resistensi insulin, tapi
disetai pula oleh kadar insulin yang telah begitu rendahnya. Dengan
berlanjutnya penyakit, tingkat atau drajat resistensi tubuh terhadap insulin
akan semakin tinggi. Resistensi tubuh terhadap insulin mulai menonjol
peranannya semenjak perubahan atau konversi fase TGT menjadi DMT2.
dikatakan pada saat tersebut faktor resistensi insulin mulai dominan sebagai
penyebab hiperglikemia dan berbagai kerusakan jaringan.
Kerusakan jaringan yang terjadi, terutama mikrovaskular, meningkat
secara tajam pada tahap diabetestingginya tingkat resistensi pada tahap ini,
dapat terlihat pula dari peningkatan kadar glukosa darah puasa. Hal ini
sejalan dengan apa yang terjadi di jaringan hepar, semakin tinggi resistensi
insulin,

semakin

rendah

kemampuan

inhibisinya

terhadap

proses

glikogenolisis dan glukoneogenesis, dan semakin tinggi tingkat produksi


glukosa dari hepar ( Asman, 2006 ). Hiperglikemia yang terjadi pada
gangguan metabolisme akibat gangguan kinerja insulin ( defisiensi dan
resistensi ), selanjutnya memberi dampak metabolisme dan kerusakan
jaringan lainnya secara langsung dan tidak langsung (Sugondo,2005).
E. MANIFESTASI KLINIS

14

Berbagai keluhan dapat ditemukan pada penyandang diabetes.


Kecurigaan adanya DM tipe 2 perlu dipikirkan apabila terdapat keluhan
klasik DM seperti tersebut di bawah ini.
1. Keluhan klasik DM tipe 2 berupa :
a. Poliuria
b. Polidipsia
c. Penurunan berat badan yang tidak diketahui penyebabnya.
2. Keluhan lain dapat berupa :
a. Lemah badan
b. Kesemutan, gatal, mata kabur, dan disfungsi ereksi pada pria, serta
pruritus vulvae pada wanita
Diagnosis DM dapat ditegakkan melalui tiga cara. Pertama, jika
keluhan klasik ditemukan, maka pemeriksaan glukosa plasma sewaktu 200
mg/dl sudah cukup untuk menegakkan dianosis DM. Kedua, dengan
pemeriksaan glukosa plasma puasa yang lebih mudah dilakukan, mudah
diterima oleh pasien serta murah, sehingga pemeriksaan ini dianjurkan untuk
diagnosis DM. Ketiga dengan TTGO. Meskipun TTGO dengan beban 75 g
glukosa lebih sensitive dan spesifik dibanding dengan pemeriksaan glukosa
plasma puasa, namun memiliki keterbatasan tersendiri. TTGO sulit untuk
dilakukan berulang-ulang dan dalam praktek sangat jarang dilakukan
(Konsensus Perkeni, 2006).
Kriteria Diagnosis DM ( Konsensus Parkeni, 2006 )
a. Gejala klasik DM + glukosa darah sewaktu 200 mg/dl ( 11,1 mmol/L).
Glukosa plasma sewaktu merupakan hasil pemeriksaan sesaat pada
suatu hari tanpa memerhatikan waktu terakhir
b. Gejala klasik DM + kadar glukosa plasma puasa 126 mg/dl ( 7,0
mmol/L). Puasa diartikan pasien tak mendapat kalori tambahan
sedikitnya 8 jam.
c. Kadar glukosa plasma 2 jam pada TTGO 200 mg/dL (11,1 mmol/L).
TTGO dilakukan dengan standard WHO, menggunakan beban glukosa
yang setara dengan 75 g glukosa anhidrus yang dilarutkan ke dalam air

15

Apabila hasil pemeriksaan tidak memenuhi kriteria normal atau DM,


maka dapat digolongkan ke dalam kelompok TGT atau GDPT
tergantung dari hasil yang diperoleh sebagai berikut :

TGT : Diagnosis TGT ditegakkan bila pemeriksaan TTGO


didapatkan glukosa plasma 2 jam setelah beban antara 140-199

mg/dL (7.8-11.0 mmol/L)


GDPT : Diagnosis GDPT ditegakkan bila setelah pemeriksaan
glukosa darah plasma puasa didapatkan antara 100-125 mg/dL
( 5.6-6.9 mmoL ).

F. PENATALAKSANAAN
Pilar penatalaksanaan DM
1. Edukasi
2. Terapi gizi medis
3. Latihan jasmani
4. Intervensi farmakologis
Pengelolaan DM dimulai dengan pengaturan makan dan latihan jasmani
selama beberapa waktu (2-4 minggu). Apabila kadar glukosa darah belum
mencapai

sasaran,

dilakukan

intervensi

farmakologis

dengan

obat

hipoglikemik oral (OHO) dan atau suntikan insulin. Pada keadaan tertentu,
OHO dapat segera diberikan secara tunggal atau langsung kombinasi, sesuai
indikasi.

Dalam

keadaan

dekompensasi

metabolik

berat,

misalnya

ketoasidosis, stres berat, berat badan yang menurun dengan cepat, dan
adanya ketonuria, insulin dapat segera diberikan.
1. Edukasi
Diabetes tipe 2 umumnya terjadi pada saat pola gaya hidup dan perilaku
telah terbentuk dengan mapan. Pemberdayaan penyandang diabetes
memerlukan partisipasi aktif pasien, keluarga dan masyarakat. Tim

16

kesehatan mendampingi pasien dalam menuju perubahan perilaku sehat.


Untuk mencapai keberhasilan perubahan perilaku, dibutuhkan edukasi
yang komprehensif dan upaya peningkatan motivasi. Berbagai hal
tentang edukasi dibahas lebih mendalam di bagian promosi perilaku
sehat. Pengetahuan tentang pemantauan glukosa darah mandiri, tanda
dan gejala hipoglikemia serta cara mengatasinya harus diberikan kepada
pasien. Pemantauan kadar glukosa darah dapat dilakukan secara
mandiri, setelah mendapat pelatihan khusus.
2. Terapi Nutrisi Medis
a. Terapi Nutrisi Medis

(TNM)

merupakan

bagian

dari

penatalaksanaan diabetes secara total. Kunci keberhasilan TNM


adalah keterlibatan secara menyeluruh dari anggota tim (dokter, ahli
gizi, petugas kesehatan yang lain serta pasien dan keluarganya).
b. Setiap penyandang diabetes sebaiknya mendapat TNM sesuai
dengan kebutuhannya guna mencapai sasaran terapi.
c. Prinsip pengaturan makan pada penyandang diabetes hampir sama
dengan anjuran makan untuk masyarakat umum yaitu makanan
yang seimbang dan sesuai dengan kebutuhan kalori dan zat gizi
masing-masing

individu.

Pada

penyandang

diabetes

perlu

ditekankan pentingnya keteraturan makan dalam hal jadwal makan,


jenis, dan jumlah makanan, terutama pada mereka yang
menggunakan obat penurun glukosa darah atau insulin.
Komposisi makanan yang dianjurkan terdiri dari:
Karbohidrat

Karbohidrat yang dianjurkan sebesar 45-65% total asupan energi.


Pembatasan karbohidrat total <130 g/hari tidak dianjurkan
Makanan harus mengandung karbohidrat terutama yang berserat
tinggi.

17

Gula dalam bumbu diperbolehkan sehingga penyandang diabetes

dapat makan sama dengan makanan keluarga yang lain


Sukrosa tidak boleh lebih dari 5% total asupan energi.
Pemanis alternatif dapat digunakan sebagai pengganti gula, asal

tidak melebihi batas aman konsumsi harian (Accepted Daily Intake)


Makan tiga kali sehari untuk mendistribusikan asupan karbohidrat
dalam sehari. Kalau diperlukan dapat diberikan makanan selingan
buah atau makanan lain sebagai bagian dari kebutuhan kalori sehari.

Lemak

Asupan lemak dianjurkan sekitar 20-25% kebutuhan kalori. Tidak

diperkenankan melebihi 30% total asupan energi.


Lemak jenuh < 7 % kebutuhan kalori
Lemak tidak jenuh ganda < 10 %, selebihnya dari lemak tidak jenuh

tunggal.
Bahan makanan yang perlu dibatasi adalah yang banyak
mengandung lemak jenuh dan lemak trans antara lain: daging

berlemak dan susu penuh (whole milk).


Anjuran konsumsi kolesterol < 200 mg/hari.

Protein

Dibutuhkan sebesar 10 20% total asupan energi.


Sumber protein yang baik adalah seafood (ikan, udang, cumi, dll),
daging tanpa lemak, ayam tanpa kulit, produk susu rendah lemak,

kacang-kacangan, tahu, dan tempe.


Pada pasien dengan nefropati perlu penurunan asupan protein
menjadi 0,8 g/Kg BB perhari atau 10% dari kebutuhan energi dan
65% hendaknya bernilai biologik tinggi.

Natrium

Anjuran asupan natrium untuk penyandang diabetes sama dengan


anjuran untuk masyarakat umum yaitu tidak lebih dari 3000 mg
atau sama dengan 6-7 gram (1 sendok teh) garam dapur.

18

Mereka yang hipertensi, pembatasan natrium sampai 2400 mg

garam dapur.
Sumber natrium antara lain adalah garam dapur, vetsin, soda, dan
bahan pengawet seperti natrium benzoat dan natrium nitrit.

Serat

Seperti halnya masyarakat umum penyandang diabetes dianjurkan


mengonsumsi cukup serat dari kacang-kacangan, buah, dan sayuran
serta sumber karbohidrat yang tinggi serat, karena mengandung

vitamin, mineral, serat, dan bahan lain yang baik untuk kesehatan.
Anjuran konsumsi serat adalah 25 g/hari.

Pemanis alternatif

Pemanis dikelompokkan menjadi pemanis berkalori dan pemanis


tak berkalori. Termasuk pemanis berkalori adalah gula alkohol dan

fruktosa.
Gula alkohol antara lain isomalt, lactitol, maltitol, mannitol,

sorbitol dan xylitol.


Dalam penggunaannya, pemanis berkalori perlu diperhitungkan

kandungan kalorinya sebagai bagian dari kebutuhan kalori sehari.


Fruktosa tidak dianjurkan digunakan pada penyandang diabetes

karena efek samping pada lemak darah.


Pemanis tak berkalori yang masih dapat digunakan antara lain

aspartam, sakarin, acesulfame potassium, sukralose, dan neotame.


Pemanis aman digunakan sepanjang tidak melebihi batas aman
(Accepted Daily Intake / ADI)

3. Latihan jasmani
Kegiatan jasmani sehari-hari dan latihan jasmani secara teratur (3-4 kali
seminggu selama kurang lebih 30 menit), merupakan salah satu pilar
dalam pengelolaan DM tipe 2. Kegiatan sehari-hari seperti berjalan kaki
ke pasar, menggunakan tangga, berkebun harus tetap dilakukan (lihat

19

tabel 4). Latihan jasmani selain untuk menjaga kebugaran juga dapat
menurunkan berat badan dan memperbaiki sensitivitas insulin, sehingga
akan memperbaiki kendali glukosa darah. Latihan jasmani yang
dianjurkan berupa latihan jasmani yang bersifat aerobik seperti jalan
kaki, bersepeda santai, jogging, dan berenang. Latihan jasmani
sebaiknya disesuaikan dengan umur dan status kesegaran jasmani.
Untuk mereka yang relatif sehat, intensitas latihan jasmani bisa
ditingkatkan, sementara yang sudahmendapat komplikasi DM dapat
dikurangi. Hindarkan kebiasaanhidup yang kurang gerak atau bermalasmalasan.

4. Terapi farmakologis
Terapi farmakologis diberikan bersama dengan pengaturan makan dan latihan
jasmani (gaya hidup sehat). Terapi farmakologis terdiri dari obat oral dan
bentuk suntikan.
1. Obat hipoglikemik oral
Berdasarkan cara kerjanya, OHO dibagi menjadi 5 golongan:
A.
B.
C.
D.
E.

Pemicu sekresi insulin (insulin secretagogue): sulfonilurea dan glinid


Peningkat sensitivitas terhadap insulin: metformin dan tiazolidindion
Penghambat glukoneogenesis (metformin)
Penghambat absorpsi glukosa: penghambat glukosidase alfa.
E. DPP-IV inhibitor

20

A. Pemicu Sekresi Insulin


1. Sulfonilurea
Obat golongan ini mempunyai efek utama meningkatkan sekresi insulin
oleh sel beta pankreas, dan merupakan pilihan utama untuk pasien dengan
berat badan normal dan kurang. Namun masih boleh diberikan kepada
pasien dengan berat badan lebih. Untuk menghindari hipoglikemia
berkepanjangan pada berbagai keadaaan seperti orang tua, gangguan faal
ginjal dan hati, kurang nutrisi serta penyakit kardiovaskular, tidak
dianjurkan penggunaan sulfonilurea kerja panjang.
2. Glinid
Glinid merupakan obat yang cara kerjanya sama dengan sulfonilurea,
dengan penekanan pada peningkatan sekresi insulin fase pertama.
Golongan ini terdiri dari 2 macam obat yaitu Repaglinid (derivat asam
benzoat) dan Nateglinid (derivat fenilalanin). Obat ini diabsorpsi dengan
cepat setelah pemberian secara oral dan diekskresi secara cepat melalui
hati. Obat ini dapat mengatasi hiperglikemia post prandial.
B. Peningkat sensitivitas terhadap insulin
Tiazolidindion
Tiazolidindion (pioglitazon) berikatan pada Peroxisome Proliferator
Activated Receptor Gamma (PPAR-g), suatu reseptor inti di sel otot dan sel
lemak. Golongan ini mempunyai efek menurunkan resistensi insulin dengan
meningkatkan jumlah protein pengangkut glukosa, sehingga meningkatkan
ambilan glukosa di perifer. Tiazolidindion dikontraindikasikan pada pasien
dengan gagal jantung kelas I-IV karena dapat memperberat edema/retensi
cairan dan juga pada gangguan faal hati. Pada pasien yang menggunakan
tiazolidindion perlu dilakukan pemantauan faal hati secara berkala.
*golongan rosiglitazon sudah ditarik dari peredaran karena efek sampingnya.
C. Penghambat glukoneogenesis

21

Metformin
Obat ini mempunyai efek utama mengurangi produksi glukosa hati
(glukoneogenesis), di samping juga memperbaiki ambilan glukosa perifer.
Terutama

dipakai

pada

penyandang

diabetes

gemuk.

Metformin

dikontraindikasikan pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal (serum


kreatinin >1,5 mg/dL) dan hati, serta pasien dengan kecenderungan
hipoksemia (misalnya penyakit serebro-vaskular, sepsis, renjatan, gagal
jantung). Metformin dapat memberikan efek samping mual. Untuk
mengurangi keluhan tersebut dapat diberikan pada saat atau sesudah makan.
Selain itu harus diperhatikan bahwa pemberian metformin secara titrasi pada
awal penggunaan akan memudahkan dokter untuk memantau efek samping
obat tersebut.
D. Penghambat Glukosidase Alfa (Acarbose)
Obat ini bekerja dengan mengurangi absorpsi glukosa di usus halus,
sehingga mempunyai efek menurunkan kadar glukosa darah sesudah makan.
Acarbose tidak menimbulkan efek samping hipoglikemia. Efek samping
yang paling sering ditemukan ialah kembung dan flatulens.
E. DPP-IV inhibitor
Glucagon-like peptide-1 (GLP-1) merupakan suatu hormon peptida yang
dihasilkan oleh sel L di mukosa usus. Peptida ini disekresi oleh sel mukosa
usus bila ada makanan yang masuk ke dalam saluran pencernaan. GLP-1
merupakan perangsang kuat penglepasan insulin dan sekaligus sebagai
penghambat sekresi glukagon. Namun demikian, secara cepat GLP-1 diubah
oleh enzim dipeptidyl peptidase-4 (DPP-4), menjadi metabolit GLP-1(9,36)-amide yang tidak aktif. Sekresi GLP-1 menurun pada DM tipe 2,
sehingga upaya yang ditujukan untuk meningkatkan GLP-1 bentuk aktif
merupakan hal rasional dalam pengobatan DM tipe 2. Peningkatan
konsentrasi GLP-1 dapat dicapai dengan pemberian obat yang menghambat
kinerja enzim DPP-4 (penghambat DPP-4), atau memberikan hormon asli

22

atau analognya (analog incretin=GLP-1 agonis). Berbagai obat yang masuk


golongan DPP-4 inhibitor, mampu menghambat kerja DPP-4 sehingga GLP1 tetap dalam konsentrasi yang tinggi dalam bentuk aktif dan mampu
merangsang penglepasan insulin serta menghambat penglepasan glukagon.
G. KOMPLIKASI
Beberapa komplikasi dari Diabetes Mellitus (Mansjoer dkk, 1999) adalah
1. Akut
a. Hipoglikemia dan hiperglikemia
b. Penyakit makrovaskuler : mengenai pembuluh darah besar, penyakit
jantung koroner (cerebrovaskuler, penyakit pembuluh darah
kapiler).
c. Penyakit mikrovaskuler, mengenai pembuluh darah kecil, retinopati,
nefropati.
d. Neuropati saraf sensorik (berpengaruh pada ekstrimitas), saraf
otonom

berpengaruh

pada

gastro

intestinal,

kardiovaskuler

(Suddarth and Brunner, 1990).


2. Kronik
a. Neuropati diabetik
b. Retinopati diabetik
c. Nefropati diabetik
d. Proteinuria
e. Kelainan koroner
f. Ulkus/gangren (Soeparman, 1987, hal 377)

3. HIPERTENSI
A. DEFINISI
Hipertensi adalah tekanan darah persisten dimana tekanan sistoliknya di
atas 140mmHg dan tekanan diastoliknya di atas 90mmHg, tetapi pada lanjut
usia hiperternsi didefinisikan sebagai tekanan sistolik 160mmHg dan tekanan
diastolik 90mmHg (Brunner and Suddarth, 2002)

23

Hipertensi adalah suatu peningkatan abnormal tekanan darah dalam


pembuluh darah arteri secara terus menerus lebih dari satu periode, akibat dari
arteriole-arteriole yang konstriksi sehingga mengakibatkan darah sulit
mengalir dan meningkatkan tekanan melawan dinding arteri.(Udjianti, 2010)
Hipertensi pada lansia dibedakan menjadi dua macam yaitu hipertensi
dengan peningkatan sistolik dan diastolik dijumpai pada usia pertengahan dan
hipertensi sistolik pada usia di atas 65 tahun. Tekanan diastolik meningkat
pada usia sebelum 60 tahun dan menurun sesudah usia 60 tahun. Tekanan
sistolik meningkat dengan bertambahnya usia (Kuswardhani, 2006 dalam
Baldah dkk., 2013).
B. KLASIFIKASI
Klasifikasi hipertensi menurut WHO
Klasifikasi
Normotensi
Hipertensi Ringan
Hipertensi Perbatasan
Hipertensi sedang dan berat
Hipertensi sistolik terisolasi
Hipertensi sistolik perbatasan

Sistolik (mmHg)
< 140
140-180
140-160
>180
>140
140-160

Diastolik (mmHg)
<90
90-105
90-95
>105
<90
<90

Klasifikasi tekanan darah pada dewasa > 18 tahun menurut Joint National
Commitee on Prevention,Detection,Evaluation & Treatment of High Blood
Pressure (JNC)
Category

Systolic

Normal

<120

and

<80

Pre-hypertension

120-139

or

85-89

Stage 1 hypertension

140-159

or

90-99

Stage 2 hypertension

>160

or

>100

Klasifikasi berdasarkan etiologinya

Diastolic

24

1. Hipertensi primer / essential


Hipertensi yang tidak diketahui penyebabnya, sering di sebut juga
hipertensi idiopatik. Terdapat banyak faktor yang mempengaruhinya,
seperti

genetik,ras,usia,jenis

kelamin,stress,obesitas,asupan

garam

Na,rokok, dsb. Hipertensi ini didapati ada sekitar 95% kasus.


2. Hipertensi sekunder / renal
Hipertensi yang penyebabnya spesifik / diketahui penyebabnya, seperti
hipertensi akibat penyakit ginjal, penggunaan estrogen(pil Kb), hipertensi
vaskuler renal, dsb.
C. ETIOLOGI
Menurut penyebabnya, hipertensi dibagi menjadi 2, yaitu :
1 Hipertensi Primer / Essential
Hipertensi yang tidak diketahui penyebabnya, sering di sebut juga
hipertensi idiopatik. Terdapat banyak faktor yang mempengaruhinya,
seperti

genetik,ras,usia,jenis

kelamin,stress,obesitas,asupan

garam

Na,rokok, dsb. Hipertensi ini didapati ada sekitar 95% kasus.


a. Genetik
Hipertensi merupakan suatu kondisi yang bersifat menurun dalam
suatu keluarga. Anak dengan orang tua hipertensi memiliki
kemungkinan dua kali lebih besar untuk menderita hipertensi
daripada anak dengan orang tua yang tekanan darahnya normal
b. Ras
Orang-orang afro risiko terkena hipertensi lebih besar daripada orang
kulit putih. Hal ini berhubungan dengan pengolahan garam dalam
tubuh yang berbeda dengan orang kulit putih, kadar renin mereka
lebih sedikit dibandingkan orang kulit putih.
c. Usia
Hipertensi lebih umum terjadi berkaitan dengan usia, Khususnya
pada masyarakat yang banyak mengkonsumsi garam. Wanita
premenopause cenderung memiliki tekanan darah yang lebih tinggi
daripada pria pada usia yang sama, meskipun perbedaan diantara

25

jenis kelamin kurang tampak setelah usia 50 tahun. Penyebabnya,


sebelum menopause, wanita relatif terlindungi dari penyakit jantung
oleh hormon estrogen. Kadar estrogen menurun setelah menopause
dan wanita mulai menyamai pria dalam hal penyakit jantung.
d. Jenis kelamin
Pria lebih banyak mengalami kemungkinan menderita hipertensi
daripada wanita. Hipertensi berdasarkan jenis kelamin ini dapat pula
dipengaruhi oleh faktor psikologis. Pada pria seringkali dipicu oleh
perilaku tidak sehat (merokok, kelebihan berat badan), depresi dan
rendahnya

status

pekerjaan

Sedangkan

pada

wanita

lebih

berhubungan dengan pekerjaan yang mempengaruhi faktor psikis


kuat.
e. Stress Psikis
Stress meningkatkan aktivitas saraf simpatis, peningkatan ini
mempengaruhi meningkatnya tekanan darah secara bertahap. Apabila
stress berkepanjangan dapat berakibat tekanan darah menjadi tetap
tinggi. Secara fisiologis apabila seseorang stress maka kelenjer
pituitary

otak

akan

menstimulus

kelenjer

endokrin

untuk

mengahasilkan hormon adrenalin dan hidrokortison ke dalam darah


sebagai bagian homeostasis tubuh. Penelitian di AS menemukan
enam penyebab utama kematian karena stress adalah PJK, kanker,
paru-paru, kecelakan, pengerasan hati dan bunuh diri.
f. Obesitas
Pada orang yang obesitas terjadi peningkatan kerja pada jantung
untuk memompa darah agar dapat menggerakan beban berlebih dari
tubuh

tersebut. Berat

badan

yang

berlebihan

menyebabkan

bertambahnya volume darah dan perluasan sistem sirkulasi. Bila


bobot ekstra dihilangkan, TD dapat turun lebih kurang 0,7/1,5 mmHg
setiap kg penurunan berat badan. Mereduksi berat badan hingga 510% dari bobot total tubuh dapat menurunkan resiko kardiovaskular
secara signifikan.

26

g. Asupan garam Na
Ion natrium mengakibatkan retensi air, sehingga volume darah
bertambah dan menyebabkan daya tahan pembuluh meningkat. Juga
memperkuat efek vasokonstriksi noradrenalin. Secara statistika,
ternyata bahwa pada kelompok penduduk yang mengkonsumsi
terlalu banyak garam terdapat lebih banyak hipertensi daripada
orang-orang yang memakan hanya sedikit garam.
h. Rokok
Nikotin dalam tembakau adalah penyebab tekanan darah meningkat.
Hal ini karena nikotin terserap oleh pembuluh darah yang kecil dalam
paru-paru dan disebarkan keseluruh aliran darah. Hanya dibutuhkan
waktu 10 detik bagi nikotin untuk sampai ke otak. Otak bereaksi
terhadap nikotin dengan memberikan sinyal kepada kelenjer adrenal
untuk melepaskan efinephrine (adrenalin). Hormon yang sangat kuat
ini menyempitkan pembuluh darah, sehingga memaksa jantung untuk
memompa lebih keras dibawah tekanan yang lebih tinggi.
i. Konsumsi Alkohol
Alkohol memiliki pengaruh terhadap tekanan darah, dan secara
keseluruhan semakin banyak alkohol yang di minum semakin tinggi
tekanan darah. Tapi pada orang yang tidak meminum minuman keras
memiliki tekanan darah yang agak lebih tinggi daripada yang
2

meminum dengan jumlah yang sedikit.


Hipertensi sekunder / renal
Hipertensi yang penyebabnya spesifik / diketahui penyebabnya, seperti
hipertensi akibat penyakit ginjal, penggunaan estrogen(pil Kb), hipertensi
vaskuler renal, dsb.

27

D. PATOFISIOLOGI
Mekanisme dasar peningkatan tekanan sistolik sejalan dengan
peningkatan usia terjadinya penurunan elastisitas dan kemampuan meregang
pada arteri besar. Tekanan aorta meningkat sangat tinggi dengan penambahan
volume intravaskuler yang sedikit menunjukkan kekakuan pembuluh darah
pada lanjut usia. Secara hemodinamik hipertensi sistolik ditandai dengan
penurunan kelenturan pembuluh darah arteri besar, resistensi perifer yang
tinggi, pengisian diastolik abnormal dan bertambahnya masa ventrikel kiri.
Penurunan volume darah dan output jantung disertai kekakuan arteri besar
menyebabkan penurunan tekanan diastolik. Lanjut usia dengan keadaan
hipertensi sistolik dan diastolik akan

menyebabkan berkurangnya output

jantung, peningkatan volume intravaskuler, menyebabkan aliran darah ke


ginjal terhambat, mengakibatkan aktivitas plama renin yang lebih rendah dan
menimbulkan resistensi perifer. Perubahan aktivitas sistem syaraf simpatik
dengan bertambahnya norepinephrin menyebabkan penurunan tingkat
kepekaan sistem reseptor beta adrenergik sehingga berakibat penurunan fungsi
relaksasi otot pembuluh darah (Ferdinand, 2008 dalam Baldah dkk., 2013).
Lanjut usia mengalami kerusakan struktural dan fungsional pada arteri
besar yang membawa darah dari jantung menyebabkan semakin parahnya
pengerasan pembuluh darah dan tingginya tekanan darah (Takasihaeng, 2002
dalam Baldah dkk., 2013).

Berbagai faktor data mempengaruhi konstriksi dan relaksasi pembuluh


darah yang berhubungan dengan tekanan darah. Bila seseorang mengalami
emosi yang hebat, maka sebagai respon korteks adrenal mengekskresi

28

epinefrin yang menyebabkan vasokonstriksi. Selain itu korteks adrenal


mengekskresi kortisol dan steroid lainnya, yang berperan memperkuat respon
vasokonstriksi pembuluh darah. Vasokonstriksi menyebabkan penurunan
aliran darah ke ginjal, menyebabkan pelepasan rennin. Rennin merangsang
pembentukan angiostensin I yang kemudian diubah oleh enzim ACE
(Angiostensin
vasokonstriktor

Converting
kuat,

Enzyme)

yang

pada

menjadi

angiostensin

gilirannya

II,

merangsang

suatu
sekresi

aldosteron.oleh korteks adrenal. Hormon ini menyebabkan retensi natrium dan


air oleh tubulus ginjal, menyebabkan peningkatan volume intravaskuler,
semua faktor tersebut cenderung mencetus keadaan hipertensi.(Rohaendi,
2008; Tjay dan Raharja, 2002 dalam Irza, 2009).
E. MANIFESTASI KLINIS
Corwin (2000) menyebutkan bahwa sebagian besar gejala klinis timbul
setelah mengalami hipertensi bertahun-tahun berupa:
1. Nyeri kepala saat terjaga, kadang-kadang disertai mual dan muntah akibat
2.
3.
4.
5.

peningkatan tekanan darah intracranial


Penglihatan kabur akibat kerusakan retina akibat hipertensi
Ayunan langkah yang tidak mantab karena gangguan susunan saraf pusat
Nokturia karena peningkatan aliran darah ginjal dan filtrasi glomerulus
Edema dependen dan pembengkakan akibat peningkatan tekanan kapiler.
Gejala lain yang mungkin terjadi adalah pusing, muka merah, sakit
kepala, keluar darah dari hidung secara tiba-tiba, tengkuk terasa pegal,
dll.

29

F. KOMPLIKASI
1. Stroke
Stroke terjadi akibat perdarahan tekanan tinggi di otak/akibat embolus
yang terlepas dari pembuluh darah non-otak yang terpajan tekanan tinggi.
Stroke terjadi pada hipertensi kronik apabila arteri-arteri yang

30

memperdarahi otak mengalami hipertrofi dan penebalan, sehingga aliran


darah ke daerah-daerah yang diperdarahi berkurang.
2. Infark miokard akut
Terjadi apabila arteri koroner yang aterosklerosis tidak dapat menyuplai
darah yang cukup ke miokardium. Karena hipertensi kronik dan
hipertensi ventrikel, maka kebutuhan O2 miokardium mungkin tidak
dapat dipenuhi dan dapat terjadi iskemia jantung yang menyebabkan
infark
3. Gagal ginjal
Hal ini dapat terjadi karena kerusakan progresif akibat tekana tinggi
kapiler-kapiler ginjal, yaitu glomerulus. Dengan rusaknya glomerulus,
darah akan mengalir ke unit-unit fungsional ginjal, nefron akan terganggu
dan dapat berlanjut menjadi hipoksik dan kematian.
4. Penyakit jantung
Peningkatan Tekanan Darah secara sistemik juga meningkatkan resistensi
terhadap pemompaan darah dari ventrikel kiri, sehingga menyebabkan
beban jantung bertambah.
5. Penyakit arteri koronaria
Terjadi akibat adanya plak yang terbentuk pada percabangan arteri yang
kemudian menyebabkan aliran darah mengalami obstruksi secara
permanen / sementara, sehingga menghambat pertukaran gas dan nutrisi.
6. Ensefalopati
Dapat terjadi terutama pada hipertensi maligna. Tekanan darah yang
sangat tinggi pada kelaina ini menyebabkan peningakatan tekanan kapiler
dan mendorong cairan ke dalam ruangan interstitium di seluruh susunan
saraf pusat. Sehingga neuron-neuron di sekitarnya kolaps yang bisa
menyebabkan koma dan kematian.
G. PENATALAKSANAAN
1. Modifikasi gaya hidup
a. Diet DASH (Dietary Approaches to Stop Hipertension)
Digunakan untuk mencegah dan mengontrol hipertensi karena diet ini
lebih menganjurkan konsumsi sayur dan buah. Penelitian tentang
DASH menunjukkan bahwa diet tinggi buah, sayur menggunakan

31

produk susu rendah lemak (susu skim, yoghurt), mengurangi


saturated fatty acid (SAFA) dan total lemak. Kombinasi DASH dan
diet rendah garam memberikan ampak positif pada perubahan
tekanan darah yaitu menurunkan TD sistolik pada kelompok
hipertensi sebesar 11,5 mmHg dan diastolic sebesar 5 mmHg (Hoey,
2001). Diet DASH data membantu menurunkan TD dalam 2 minggu.
Diet inididasarkan pada hitungan 2000 kalori/hari.
Ada 5 prinsip perencanaan diet DASH yaitu:
1. Konsumsi buah an sayur yang mengandung

kalium,

fitoesterogen, dan serat.


a) Konsumsi kalium:pisang, mangga, air kelapa muda,
mengendalikan

TD

menjadi

normal

dan

terjadi

keseimbangan antara natrium dan kalium dalam tubuh,


meningkatkan konsentrasi kalium dalam tubuh , dan
meningkatkan konsentrasi kalium dalam intrasel, sehingga
cenderung menarik cairan dari bagian ekstraseluler dan
mengurangi tekanan darah.
b) Fitoesterogen:susu, kedelai, tempe, dll. Perannnya sama
dengan hormone

esterogen,

menghambat

menopause,

menghindari gejala hot flakes (rasa terbakar) pada wanita


menopause dan mengurangi risiko kanker.
2. Low fat dairy product.
Mengandung banyak kalsium,
bermanfaat pada penurunan tekanan darah.
3. Konsumsi ikan, kacang dan unggas secukupnya.
4. Kurangi SAFA (Saturated Fatty Acid) daging berlemak, lemak
hewani, susu, cokelat, keju, mentega, dll. Penimbunan SAFA
dalam pembuluh darah menyebabkan timbulnya arteriosklerosis
yang akhirnya meningkatkan TD.
5. Membatasi gula dan garam. Tujuan: mengurangi tekanan darah,
menegah edema, dan penyakit jantung. Diet rendah natrium atau
sodium batasi konsumsi garam dapur karena mengandung

32

40% Na dan batasi sumber sodium lain, contohnya makanan


yang mengandung soda kue, baking powder, MSG, pengawet
makanan (natrium benzoate yang terdapat pada kecap, saos,
selai, dll)
b. Mengurangi konsumsi makanan dibawah ini:
1. Makanan dan minuman berkaleng (sarden, sosis, korned, sayur
dan buah dalam kaleng, softdrink)
2. Makanan yang diawetkan (dendeng, asinan sayur/buah, abon,
ikan asin, pindang, udang kering, telur asin, selai kacang)
3. Bumbu-bumbu seperti kecap, terasi, saus tomat, saus sambal,
serta bumbu penyedap lainnya yang pada umumbya mengandung
garam natrium.
4. Alcohol dan makanan yang mengandung alcohol seperti durian,
tape.
c. Olahraga, terutama bila disertai penurunan berat badan, dapat
menurunkan tekanan darah dengan menurunkan kecepatan denyut
jantung, istirahat, dan tahanan perifer total. Olahraga dapat
meningkatkan kadar HDL yang dapat mengurangi terbentuknya
aterosklerosis yang menyebabkan hipertensi.
d. Teknik relaksasi dapat mengurangi denyut jantung dan tehanan
perifer total dengan cara menghambat respon stress saraf simpatis.
2. Penatalaksanaan farmakologis
a. Diuretic Tiazid
Menurunkan tekanan darah dan memiliki efek vasodilatasi langsung
pada arteriol sehingga dapat mempertahankan efek antihipertensi
lebih lama. Dan efek ini terjadi pada dosis rendah . efek samping
karena peningkatan ekskresi urin mengakibatkan hipokalemi,
hiponatremi, dan hipomagnesemi, juga dapat membantu toleransi
glukosa (resisten terhadap insulin) yang mengakibatkan peningkatan
risiko DM tipe 2.
b. Beta blocker

33

Terapi menggunakan beta blocker akan mengantagonis efek stimulasi


pada reseptor beta terutama pada reseptor beta-1 sehingga terjadi
penurunan tekanan darah. Efek sampingnya dapat juga terjadi
blockade reseptor beta-2 pada paru yakni tepatnya di bronchi yang
dapat menyebabkan bronkospasme hati-hati pada pasien asma.
Kesadaran terhadap gejala hipoglikemik pada beberapa pasien DM
tipe 1 dapat berkurang memblok saraf simpatis.
c. ACE inhibitor
Fungsinya yakni menghambat secara kompetitif pembentukan
angiostensin II yang akan berakibat menurunkan tekanan darah. ACE
yang

bertanggungjawab

terhadap

degradasi

kinin

(bradikinin)vasodilatasi . penghambatan degradasi ini akan


menghasilkan efek antihipertensi yang lebih kuat. Contoh:captopril.
Antagonis reseptor angiostensin II (AIIRA) mempunyai banyak
kemiripan dengan ACEi namun AIIRA tidan mendegradasi kinin.
Efek samping ACEi dan AIIRA hiperkalemi, karena menurunkan
fungsi aldosteron. Perbedaan dari keduanya adalah pasien yang
mendapat terapi ACEi, 15% mengalami batuk kering, namun tidak
terjadi pada AIIRA.
d. Calcium channel blocker
Fungsinya yakni menurunkan influx ion kalsium kedalam sel
miokard sel-sel dalam system konduksi jantung dan sel-sel otot
polos. Efek ini akan menurunkan kontraktilitas jantung dan memacu
aktivitas

vasodilatasi.

fenilkolamin,

Terdapat

benzodiazipin.

kelas

CCB:dihidropiridin,

dihidropiridinvasodilator

perifer

sedangkan fenilkolamin dan benzodiazipin menurunkan heart rate


dan mencegah angina. Efek sampingnya yakni pemerahan pada
wajah, pusing, dan pembengkakan pada pergelangan tangan dan kaki
(vasodilatasi), juga gangguan GI (konstipasi)
e. Alpha blocker (penghambat adrenoreseptor alfa 1)

34

Fungsinya:memblok adenoreseptor alfa-1 perifer vasodilatasi


karena relaksasi otot polos pembuluh darah. Efek sampingnya yakni
dapat menyebabkan hipotensi postural yang sering terjadi pada
pemberian dosis pertama kali. (Beth dan Gormer, 2007).
4. SENAM LANSIA
A. DEFINISI
Senam bugar lansia adalah senam aerobic low impact (menghindari loncatloncat), intensitas ringan sampai sedang, gerakannya melibatkan sebagian besar
otot tubuh, sesuai dengan gerak sehari-hari, gerakan antara kanan dan kiri
mendapat beban yangseimbang (Budiharjo dkk., 2004).
Salah satu usaha untuk mencapai kesehatan dengan berolahraga sehingga
bagi lanjut usia untuk dapat memperoleh tubuh yang sehat salah satunya harus
rutin melakukan aktivitas olahraga. Olahraga apa yang cocok untuk lansia itu
yang harus diperhatikan. Menurut Sadoso Sumosardjuno (1991) dalam
Sriwahyuniati, 2008 pada umumnya aktivitas aerobik merupakan aktivitas fisik
dari dari kebanyakan usia lanjut, dan juga disertai oleh latihan kekuatan,terutama
punggung,kaki,lengan dan perut. Juga latihan kelenturan untuk memperbaiki dan
memelihara daerah geraknya dan aktivitas untuk melatihperimbangan serta
koordinasi.
Aktivitas yang bersifat aerobik cocok untuk lanjut usia antara lain : Jalan
kaki,senam aerobik low impac,senam lansia, bersepeda ,berenang dan lain
sebagainya. Bermanfaat atau tidaknya program olahraga yang dilakukan oleh
lanjut usia juga tergantung dari program yang dijalankan. Sebaiknya program
latihan yang dijalankan harus memenuhi konsep FITT (Frequency,Intensity,Time,
Type).
2. Frequency adalah banyaknya unit latihan persatuan waktu, untuk
meningkatkan kebugaran diperlukan latihan 3-5 kali/minggu. Lanjut usia

35

dapat melakukan latihan setiap minggu minimal 3 kali dengan memilih


latihan yang disukai ataupun yang sesuai dengan kelompoknya.
3. Intensity menunjukkan derajat kualitas latihan.Intensitas latihan diukur
dengan kenaikan detak jantung (latihan untuk peningkatan daya tahan paru
jantung pada intensitas 75%-85% detak jantung maksimal, pembakaran
lemak65%-75% detak jantung maksimal. Untuk intensitas latihan pada lanjut
usia tetap harus dimemperhatikan faktor keterlatihan apabila pemula
mulailah dari intensitas yang paling ringan selanjutnya naikkan secara
bertahap sesuai dengan adaptasi dari para lansia masing-masing.
Contoh : Ny. Siti berusia 65 tahun. Berapakah DNM dan rentang
training zone yang Ny. Siti miliki?
Jawab:
a. Denyut Nadi Maksimum= 220- usia
220-65= 155 (denyut nadi maksimal Ny.Siti)
b. Training Zone minimum= 70% x DNM
70% x 155= 108 detak/menit
c. Training Zone maksimum=85% x DNM
85%X 155=156 detak/menit
Jadi Ny. Siti memiliki denyut nadi maksimal 155 detak/menit, dengan
rentang intensitas latihan yang baik antara 108 sampai 156 detak/ menit
4. Time atau durasi adalah lama setiap sesi latihan.Untuk meningkatkan
kebugaran lanjut usia memerlukan waktu 20-60 menit per sesi. Hasil latihan
akan terlihat setelah 8-12`minggu dan akan stabil setelah 20 Minggu.
5. Type atau model latihan, tidak semua tipe gerak/ model latihan cocok untuk
meningkatkan semua komponen kebugaran namun perlu disesuaikan dengan
tujuan latihan. Lanjut usia harus memilih latihan yang cocok yang sesuai
dengan kemampuannnya, disarankan olahraga yang sifatnya aerobik.
Berdasarkan hasil berbagai penelitian epidemiologi terbukti bahwa ada
keterkaitan antara gaya hidup kurang aktif dengan hipertensi. Oleh karena itu,
WHO, ACSM, The National Heart Foundation Joint National Committee on
Detection, Evaluation, and Treatment of high Blood Pressure sangat
menganjurkan untuk meningkatkan aktifitas fisik sebagai intervensi pertama
dalam upaya pencegahan dan pengobatan hipertensi. Penelitian sebelumnya

36

tentang senam lansia yang dilakukan oleh Kardi(2005) menunjukkan bahwa


terdapat kecenderungan tekanan darah lebih tinggi pada lanjut usia yang tidak
mengikuti senam lansia dibandingkan dengan lanjut usia yang mengikuti senam
lansia (Wati, 2012). Selain itu penelitian lain yang dilakukan oleh Rokhman
(2011) menunjukkan bahwa terdapat hubungan senam lansia dengan kebugaran
jasmani pada lansia di UPT pelayanan sosial lanjut usia.
Senam bugar lansia disusun dalam empat paket yaitu paketA, B, C, dan D
masing-masing paket diperuntukan untuk kondisi yangberbeda. Paket A (untuk
lansia yang tidak tahan berdiri dilakukansambil duduk di kursi), paket B (untuk
lansia dengan kondisisedang), paket C (untuk lansia dengan kondisi baik), paket
D (untuk lansia dengan tingkat kondisi prima). Tiap paket latihan SBL
mempunyai susunan yaitu latihan pemanasan, inti danpendinginan (Budiharjo
dkk., 2004).
B. MANFAAT SENAM LANSIA
1. Daya Tahan Kardiovaskular
Komponen ini menggambarkan kemampuan dankesanggupan melakukan
kerja sistem peredaran darahpemapasan, dalam menyediakan oksigen yang
dibutuhkan(Sumintarsih, 2006)
2. Kekuatan Otot.
Kekuatan otot banyak digunakan dalam kehidupansehari-hari, terutama
untuk tungkai yang harus menahan beratbadan. Makin tua seseorang makin
kurang pula kekuatan otot. Agar menjadi lebih kuat, otot-otot harus dilatih
melebihinormalnya. Intensitas latihan beragam dari latihanberintensitas
rendah sampai berintensitas tinggi. Denganlatihan ini akan mempertahankan
kekuatan otot(Sumintarsih, 2006).
3. Daya Tahan Otot
Daya tahan otot adalah kemampuan dan kesanggupan otot untuk kerja
berulang-ulang tanpa mengalami kelelahan
Senam membantu meningkatkan daya tahan otot dengan caramelakukan
gerakan-gerakan ringan, seperti: melompat-lompat, mengangkat lutut, dan

37

menendang, sehingga tubuh menjadi kuat. Tubuh yang seimbang


akanmengurangi risiko terluka (Sumintarsih, 2006).
4. Kelenturan (Fleksibilitas)
Kelenturan adalah kemampuan gerak maksimal suatu persendian. Pada usia
lanjut banyak terjadi kekakuan sendi,hal ini dapat diatasi dengan melakukan
latihan pada sendi.Setelah menyelesaikan latihan, peregangan akan
membantumeningkatkan kelenturan (Sumintarsih, 2006).
5. Komposisi Tubuh
Komposisi tubuh berhubungan dengan pendistribusianotot dan lemak di
seluruh tubuh dan pengukuran komposisitubuh ini memegang peranan
penting, baik untuk kesehatantubuh maupun untuk berolahraga. Kelebihan
lemak tubuhdapat menyebabkan kegemukan atau obesitas danmeningkatkan
resiko untuk menderita berbagai macampenyakit. Senam Bugar Lansia
sangat baik untuk membakarlemak dalam tubuh sehingga menurunkan
jumlah angkakesakitan pada lansia (Sumintarsih, 2006).
Jenis-jenis senam aerobik
1. Senam High Impacts (senam aerobik aliran gerakan keras)
Senam ini biasa dilakukan oleh orang dewasa dan anakanak di sekolah.
Dengan gerakan yang cukup keras seperti melompat, berlari dan gerakan
memutar. Diiringi musik yang cukup energik dan beraliran keras.
2. Senam Low Impacts (senam aerobik aliran gerakan ringan)
Senam aerobik low impacts, hanya mempunyai gerakan ringan seperti
berjalan di tempat, menekuk siku, dan menyerongkan badan. Diiringi alunan
musik yang tidak terlampau keras tapi membuat bersemangat. Senam
aerobik low impact inilah yang tepat digunakan untuk lansia.
3. Discorobic
Kombinasi antara gerakan aliran keras dan gerakan aliran ringan. Kombinasi
antara gerakan disco dan gerakan senam. Diiringi alunan musik hip-hop
yang beraliran keras. Senam aerobik jenis ini bisa dikategorikan sebagai
dance dan bisa juga dikatakan sebagai senam.
4. Rockrobic
Kombinasi gerakan-gerakan aerobic serta gerakangerakan rock and roll.
Menggunakan musik rock yang beraliran keras dengan gerakan menendang

38

dan meloncat. Dilakukan oleh anak-anak remaja dengan kombinasi yang


bermacam-macam.

Sama

seperti

discorobic,

rockrobic

pun

bisa

dikategorikan sebagai dance.


5. Aerobic sports
Kombinasi gerakan-gerakan keras dan ringan serta gerakan kelentukan.
Biasa digunakan oleh para atlet senam dan atlet renang, untuk menjaga
kelentukan tubuh sehingga tidak terjadi kekakuan otot. Berfungsi untuk
menguatkan semua bagian otot tubuh. Kombinasi antara high impact dan
low impact.
C. SENAM AEROBIK LOW IMPACT UNTUK LANSIA
Pada senam aerobik low impact maka salah satu kaki selalu berada dan
menapak di lantai setiap waktu (Suharno, 2009). Terdiri dari tiga unsur
gerakan yang dapat divariasikan sendiri berupa:
1. Single step (langkah tunggal)
Langkahkan kaki kanan ke arah kanan lanjutkan dengan membawa kaki
kiri ke arah kanan dan menutup langkah lakukan secara bergantian.
2. Double step (langkah ganda)
Langkahkan kaki kanan ke arah kanan, lanjutkan dengan membawa kaki
kiri ke arah kanan dan menutup langkah. Lakukan hitungan sekali lagi
(single step berurutan).
3. V step (langkah segitiga)
Langkahkan kaki kanan ke arah diagonal kanan depan, langkahkan kaki
kiri ke arah diagonal kaki kiri depan, bawa kembali kaki kanan ke posisi
awal dan bawa kaki kiri kembali ke posisi awal.
4. Berjalan dengan cara melangkah maju dan mundur (backward dan
forward).
5. Grapevine ( langkah ganda)

39

Hampir sama dengan double step hanya dalam penggunaan kaki kiri tidak
menutup langkah kaki kanan melainkan bawa kaki kiri di sisi belakang
kaki kanan (Pefrosky , 2005).
D. PROSEDUR LATIHAN AKTIFITAS FISIK SENAM AEROBIK LOW
IMPACT PADA LANSIA
Latihan Aerobik menurut Wicaksono (2011), ada tiga fase senam aerobik
Setiap fase memiliki tujuan tersendiri sehingga jika satu fase tidak dilakukan
maka tidak berlangsung secara sempurna. Yang dilakukan 3-5 kali dalam satu
minggu, atau paling tidakminimal 2 kali dalam seminggu. Seperti dijelaskan
sebagai berikut:
1. Latihan Pemanasan
Latihan yang bersifat pendahuluan yang tujuannya untuk:
a. Meningkatkan suhu tubuh, dan secara bertahap meningkatkan denyut
nadi dari denyut nadi istirahat menjadi denyut nadi latihan,
b. Meningkatkan elastisitas otot dan ligamentum persendian,
dilaksanakan secara perlahan-lahan dan tidak terlalu memaksakan
serta
c. Mempersiapkan tubuh baik fisik atau mental ke aktivitas yang
dilaksanakan. Pemanasan dapat dilakukan dengan peregangan. Ada 4
jenis peregangan yaitu sebagai berikut:
1) peregangan dinamis
2) peregangan statis,
3) peregangan pasif dan
4) peregangan kontraksi dan relaksasi.
Peregangan yang dianjurkan bagi lansia yaitu peregangan pasif dan
peregangan statis.
2. Latihan inti
Kegiatan ini lebih aktif dan melibatkan gerakan yang disiplin untuk
melatih bagian tubuh tertentu dengan pengulangan yang cukup. Gerakan
yang dipilih dinilai dari bagian atas tubuh ke bawah atau dari bagian

40

kepala, bahu, lengan, pinggang ke gerakan gabungan. Latihan inti


bergerak secara progresif, yaitu dari gerakan tunggal kemudian ke
gerakan secara bersamaan. Fase aerobic terdiri dari dua gaya yaitu high
impact dan low impact. Low impact hanya membuat gerakan ringan tanpa
melompat dengan satu kaki di lantai. High impact kombinasi gerakannya
berupa lari, loncat dan lompat dengan kecepatan dan intensitas yang
bervariasi. Pada lansia disarankan menggunakan yang low impact
(Kusmaedi, 2004).
3. Latihan Pendinginan atau Latihan Penutup
Dalam tahap akhir kegiatan aerobik ini bertujuan mengembalikan nadi
yang cepat karena latihan kembali menjadi normal. Harus merupakan
penurunan secara bertahap dari gerakan intensitas tinggi ke intensitas
yang rendah. Proses pendinginan dimaksudkan untuk menghindari
penumpukan asam laktat yang menyebabkan kelelahan dan rasa pegal
pada otot di tempat tertentu. Pada fase ini gerakan berangsur diturunkan
kecepatannya selama 3-5 menit untuk mengembalikan ke denyut nadi
normal (Giriwijoyo, 2007).
E. MANFAAT SENAM AEROBIC LOW IMPACT
Manfaat senam aerobic low impact menurut Suharno (2009) khususnya
pada lansia ialah menaikkan fungsi jantung, dengan menaikkan detak jantung
selama 15 menit dapat meningkatkan daya tahan dan kekuatan, meningkatkan
kinerja paru-paru, membantu untuk memperluas permukaan paru-paru dan
mempermudah jalan nafas, menjaga jantung dan paru-paru untuk bekerja dengan
baik adalah hal yang terpenting dalam manfaat senam aerobic low impact ini.
Senam aerobik low impact juga dapat membantu untuk menurunkan obesitas,
karena dalam latihan aerobic memanfaatkan oksigen secara maksimal sehingga
dapat meningkatkan metabolisme tubuh atau pembakaran lemak, bisa
menjadikan awet muda karena latihan aerobic low impact memiliki efek

41

signifikan pada kesehatan memori atau daya ingat dan meningkatkan


kemampuan fungsi organ-organ tubuh, meningkatkan sistem kekebalan tubuh,
melawan depresi, kegiatan aerobic yang teratur telah dikenal untuk
meningkatkan mood seseorang dan membantu membendung efek depresi.
Latihan aerobic low impact juga dapat meningkatkan koordinasi khususnya pada
kaum lanjut usia.
Faktor Kesehatan Lansia

Genetik

Kebutuhan Dasar

Motivasi

dan

Dukungan Keluarga

Lingkungan

Aktivitas

Intake Makan, nafsu makan,

Fisik

Pemilihan

bahan

makanan,

modifikasi variasi makanan

Penyakit
Hipertensi,

Degeneratif
Diabetes

Mellitus

BAB III
KERANGKA PEMECAHAN MASALAH
Level Prevention

Primary Prevention

Health Promotion

Hipertensi, Diabetes
Usulan kegiatan

Mellitus,
Senam lansia

PMT,

Secondary Prevention

Promt Promotion

Tertiary Prevention

Early detection

Antropometri,

Pengukuran

tekanan darah, Cek gula darah,


Pelatihan

Kader

makanan sehat

tentang

42

BAB IV
METODE KEGIATAN
1. Lokasi dan Waktu Pelaksanaan Kegiatan
1. Posyandu Lansia Plus
Hari/tanggal : Jumat, 10 Januari 2014
Waktu
: 07.30-08.00 WIB

43

Tempat
2.

: Posyandu premban lansia RW 07 dusun premban desa sumber

kradenan kecamatan pakis kabupaten malang.


Senam Sehat Lansia
Hari/tanggal : Jumat , 10 Januari 2014
Waktu
: 08.00-08.15 WIB
Tempat
: Posyandu premban lansia RW 07 dusun premban desa sumber

kradenan kecamatan pakis kabupaten malang.


3. Penyuluhan Hipertensi dan DM
Hari/tanggal : Jumat, 10 Januari 2014
Waktu
: 08.15-08.35 WIB
Tempat
: Posyandu premban lansia RW 07 dusun premban desa sumber
kradenan kecamatan pakis kabupaten malang.
4. Pelatihan Kader Posyandu I (penjelasan dan pembagian booklet makanan
sehat untuk hipertensi dan diabetes mellitus untuk kader Posyandu Dusun
Premban)
Hari/tanggal
Waktu
Tempat

: Jumat, 10 Januari 2014


: 08.35-08.55 WIB
: Posyandu premban lansia RW 07 dusun premban desa sumber

kradenan kecamatan pakis kabupaten malang.


5. Pelatihan kader posyandu II (pelatihan dan pembagian kaset VCD senam
sehat lansia untuk kader Posyandu Desa Sumberkradenan)
Hari/tanggal : Minggu, 12 januari 2014
Waktu
: 08.30-09.00
Tempat: Rumah ibu Sri, Dusun Bonangan, Desa Sumberkradenan kecamatan
Pakis, Kabupaten malang
2. Sasaran Kegiatan
Sasaran kegiatan ini adalah ibu-ibu yang berusia 40 dan kader posyandu di
RW 07 dusun Premban desa Sumber Kradenan Kecamatan Pakis, Kabupaten
Malang.

3. Deskripsi Kegiatan

44

Kegiatan penyuluhan dan pelatihan akan dilaksanakan dalam satu hari yang
bersamaan dengan jadwal posyandu lansia di dusun Premban yaitu pada Jumat, 10
Januari 2014, dengan deskripsi kegiatan sebagai berikut:
a. Kegiatan I (pukul 07.30-08.00)
Posyandu Lansia Plus merupakan kegiatan posyandu lansia yang
kegiatannya berupa pengukuran tekanan darah, penimbangan berat badan,
plus cek gula darah. Dimana penimbangan BB dan pengukuran TD
dilaksanakan seperti biasanya ketika posyandu dan dilakukan pencatatan pada
kartu KMS Lansia, namun pelaksanan selain dari kader posyandu juga akan
dibantu oleh peserta PKNM kelompok 24. Sedangkan cek gula darah dengan
menggunakan glukometer dan glukostik yang disediakan oleh peserta PKNM
kelompok 24. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mengetahui status
kesehatan lansia, termasuk kadar gula darah rata-rata usia lansia di dusun
Premban. Target partisipasi peserta kegiatan ini sebesar 60% dari jumlah ibu
usia berusia 50 di dusun Premban desa Sumber Kradenan Kecamatan Pakis,
b.

Kabupaten Malang.
Kegiatan II (pukul 08.00-08.15)
Senam Sehat Lansia merupakan kegiatan senam pagi yang komposisi
gerakannya diformasikan untuk usia pra lansia dan lansia dan disertai musik
yang akan mengiringi senam. Senam ini akan dipandu oleh anggota PKNM
kelompok 24, dengan tujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat lansia
Premban mengenai manfaat dari senam lansia dapat mencegah timbulnya
berbagai penyakit yang dapat menyerang di usia lanjut terutama rematik dan
pegal-pegal. Target peserta senam 60% dari pra lansia dan lansia yang datang

ke posyandu dusun Premban.


c. Kegiatan III (08.15-08.35)
Penyuluhan Hipertensi dan DM, merupakan kegiatan memberikan
penyuluhan kepada pra lansia dan lansia yang bersisi tentang (pengertian,
penyebab, gejala yang sering timbul, komplikasi, makanan yang baik untuk
penderita, makanan yang dapat memperburuk penderita) hipertensi dan DM.
Bentuk dari penyuluhan adalah disajikan dalam bentuk poster, penjelasan dari

45

pemateri, tanya-jawab, dan diskusi. Tujuan dari kegiatan ini agar warga pra
lansia dan lansia dusun Premban dapat lebih mengenali hipertensi dan DM,
yang menurut informasi penyakit tersebut banyak diderita oleh usia pra lansia
dan lansia dusun Premban. Dengan mereka lebih mengenali penyakit tersebut
mereka dapat mencegahnya/menghambat ke tingkat lebih lanjut melalui
penerapan pola makan dan pola hidup sehat yang telah disampaikan oleh
pemateri penyuluhan. Target peserta penyuluhan sebesar 60% dari pra lansia
dan lansia yang datang ke posyandu dusun Premban.
d. Kegiatan IV (pukul 08.35-08.55)
Pelatihan Kader Posyandu, merupakan kegiatan pelatihan yang
diberikan kepada kader posyandu mengenai cara pengolahan makanan yang
sehat untuk lansia dengan DM dan hipertensi. Kader posyandu juga akan
diberikan booklet makanan sehat untuk lansia. Target kegiatan ini 90% dari
jumlah kader posyandu Premban.
Kami mendapatkan informasi dari kader Posyandu Dusun Premban,
bahwa semua kader Posyandu di Desa Sumberkradenan tidak pernah
mendapatkan pelatihan senam lansia. Oleh karena itu kami memutuskan untuk
melanjutkan acara, yaitu pelatihan senam untuk kader Desa Sumberkradenan
bersamaan dengan acara pertemuan kader (paguyuban kader) Desa
Sumberkradenan pada hari Minggu, 12 Januari 2014, dengan deskripsi
kegiatan sebagai berikut:
a. Pelatihan Senam kader posyandu (pukul 08.30-09.00)
Pelatihan senam kader posyandu merupakan kegiatan pelatihan senam
sehat lansia secara langsung. Semua kader di Desa Sumberkradenan
berkumpul dan bersama-sama melakukan senam sehat lansia. Pelatihan ini
diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan kader mengenai senam lansia,
dan masing-masing kader diharapkan dapat mengajarkan senam ini pada
lansia di dusun/pos posyandu masing-masing. Sebelum senam, kader
dijelaskan mengenai manfaat senam lansia dan hubungannya dengan
kesehatan dan kebugaran lansia. Setelah memberikan penjelasan mengenai

46

pentingnya senam, kader dilatih untuk melakukan senam bersama-sama


diiringi musik. Senam ini akan dipandu oleh anggota PKNM kelompok 24.
Setelah senam selesai dilaksanakan, kader diberi kaset VCD yang berisi
panduan senam lansia, agar dapat dipelajari kembali di rumah.
4.

Metode Pelaksanaan.
No
1

Kegiatan
Sasaran
Metode
Pengukuran Antropometri dan Lansia posyandu a. Pengukuran
TD

TB

Premban

Cek Gula Darah

dan BB
b. Pengukuran TD
Lansia posyandu c. Pengukuran Gula

Senam Sehat

Premban
darah
Lansia posyandu d. Praktek

diiringi

Premban

musik,

dengan
pemandu

dari

anggota
4
5

Penyuluhan

Hipertensi

dan Lansia posyandu e.


f.
DM
Premban
g.
Pelatihan Kader Posyandu I
Kader posyandu h.
Dusun Premban

PKNM

K.24
Penjelasan Poster
Tanya-jawab
Diskusi
Penjelasan
cara
pengolahan
makanan
untuk

sehat

DM

dan

hipertensi
i. Pembagian
booklet
resep

berisi
makanan

sehat untuk DM

Pelatihan kader posyandu II

dan hipertensi
j. Tanya-jawab
k. Diskusi
Kader Posyandu l. Penjelasan

47

Desa

manfaat

Sumberkradenan

senam

lansia
m. Pelatihan

senam

lansia (melakukan
senam

lansia

secara

bersama-

sama)
n. Pembagian

VCD

senam lansia

5. Pembagian Jobdesk Tiap Program Studi


Setiap kegiatan yang diselenggarakan berdasarkan pada skill masing-masing
program studi. Meskipun demikian, seluruh rangkaian kegiatan tetap dilaksanakan
dengan menerapkan prinsip Interprofesional Education (IPE). Berikut ini
pembagian jobdesk untuk setiap program studi :
No Program Studi
Kegiatan
1
Ilmu Keperawatan a. Pengukuran TD
b. Cek gula darah
c. Penyuluhan

Gizi Kesehatan

hipertensi dan DM
d. Pelatihan Kader II
b. Senam sehat lansia
c. Penyuluhan
makanan
untuk

Kebidanan

d.
e.
a.
b.
c.

sehat

Penanggung Jawab
a. Bayu, Trisa
b. Anissa, Diana
c. Sayyidati

a.
b.
c.

Ika
Netta dan Changi
Desita

a.
b.

Iftitahul
Mustaadah, Youke

Hipertensi

dan DM
Pelatihan Kader I
Pelatihan Kader II
Pengukuran TD
Senam sehat lansia
Penyuluhan

hipertensi dan DM
d. Pelatihan Kader II

Marsella, Yuli
Istinawati

48

c.
d.

Shelvy Novita
Yuli Istinawati

6. Kemitraan Kegiatan
Kegiatan ini dilakukan bermitra dengan perangkat Desa Sumber Kradenan dusun
Premban melalui metode pendekatan personal dengan perangkat desa, bidan
desa, perawat desa, dan kader posyandu.
BAB V
RANCANGAN EVALUASI
No
1

Kegiatan
Pemeriksaan Gratis

Indikator Keberhasilan
Cara Mengukur Indikator
Pemeriksaan gratis diikuti Melalui perbandingan jumlah

Tekanan Darah dan

minimal 60% lansia dari total

Gula Darah

total kehadiran (absensi) pemeriksaan


posyandu lansia

jumlah

lansia

yang
gratis

daftar

ikut
dengan

kehadiran

(absensi) posyandu
2

Senam Lansia

a. Senam

diikuti

oleh a. Melalui perbandingan jumlah

60% lansia dari total

total lansia yang mengikuti

kehadiran

senam dengan jumlah daftar

(absensi)

posyandu lansia
b. Para
lansia
mengikuti

kehadiran (absensi) posyandu


dapat b. Melalui partipasi aktif lansia
gerakan

mengikuti gerakan senam

senam yang diajarkan


3

PMT

(Pemberian Seluruh

Makanan Tambahan)

lansia

yang Melalui daftar kehadiran

hadir/datang ke posyandu
mendapatkan PMT. Status
kehadiran

dilihat

dari

absensi posyandu
4

Penyuluhan tentang Penyuluhan diikuti oleh a. Melalui daftar kehadiran.

49

Hipertensi

dan minimal 60% lansia dari b. Keaktifan bertanya


c. Dapat menjawab pertanyaan
Diabetes Melitus
total
absensi/daftar
dari penyuluh dengan benar
(Pengertian, gejala, kehadiran posyandu
atau
dapat
mengulang
aktivitas
yang
beberapa inti materi yang
dianjurkan dan tidak,
telah dijelaskan dengan benar
makanan yang baik
dan

tidak

untuk

penderita)
5

Penjelasan

dan Penjelasan dan pemberian a. Melalui daftar kehadiran


b. Keaktifan bertanya
Pemberian Booklet booklet
diikuti
oleh
c. Kader
dapat
menjawab
tentang
Makanan minimal 90% kader dari
pertanyaan dari pemateri
Sehat untuk Lansia total kader posyandu lansia
dengan benar atau dapat
hipertensi dan DM
dusun Premban
mengulang beberapa inti
materi yang telah dijelaskan
dengan benar
d. Booklet diberikan minimal
sebanyak

Pelatihan

senam Pelatihan

senam

90%

dari

total

peserta (kader)
diikuti a. Melalui perbandingan jumlah

lansia kepada kader oleh minimal 60% kader

total

Posyandu

dengan jumlah kader yang

Desa yang datang.

Sumberkradenan

kader

yang

datang

mengikuti senam
b. Melalui partipasi aktif lansia
mengikuti gerakan senam

50

BAB VI
JADWAL KEGIATAN
Tanggal
2 Januari 2014

Kegiatan
Survey Lapangan

Target Peserta
Indikator
Kepala Desa, Bidan Mendapatkan

data

dari

Desa, Perawat Desa, Kelurahan


Kader.

Sumberkradenan, Perawat
Desa,

Bidan

Kader
3 Januari 2014

Konsultasi

Desa

terkait

masalah

kesehatan.
analisa Kelompok 24 PKNM Minimal 50%

anggota

situasi

2014

kelompok

ikut

melaksanakan
4 Januari 2014

terkait

Bidan
Usaha

Penyusunan Proposal

Penyusunan
dana

dan

proposal

data

Desa,

Tata RW, dan TU Puskesmas

Puskesmas, Kecamatan Pakis

kelompok

anggota

mendapatkan

bagian

masing-masing

dalam

mengerjakan

proposal
anggaran Kelompok 24 PKNM Minimal
konsultasi 2014

dari

Lansia, kader, Bidan Desa, Ketua

Ketua RW
Kelompok 24 PKNM Masing-masing
2014

6 Januari 2014

konsultasi

proposal
Kader Mendapatkan

Survey Lapangan dan Ketua


kerjasama dengan pihak Posyandu

5 Januari 2014

dan

50%

kelompok
melaksanakan
proposal

anggota
ikut
konsultasi

51

7 Januari 2014

Rapat internal kelompok Kelompok 24 PKNM Minimal


24

2014

50%

anggota

kelompok

ikut

melaksanakan

rapat

internal.
Setiap anggota kelompok
mendapat tugas masingmasing (PJ acara, membuat
8 Januari 2014

undangan)
-Pak RW setuju dalam

Kerjasama dengan pihak - Pak RW


-Kader
posyandu
terkait dan membagikan
menyediakan sarana dan
Dusun Premban
undangan pada lansia
prasarana
-lansia
dusun
- kader bersedia membantu
secara door to door
Premban
memberikan undangan
- undangan diterima oleh
seluruh lansia di dusun

9 Januari 2014

Premban
Rapat internal kelompok Kelompok 24 PKNM Minimal
24

2014

50%

anggota

kelompok

ikut

melaksanakan

rapat

internal.
Setiap anggota kelompok
memahami tugas masingmasing pada pelaksanaan
posyandu
10 Januari 2014

Pemeriksaan

tekanan Peserta

darah dan gula darah

Lansia

Dusun kegiatan lebih dari 60%

Pelaksanaan senam Premban,

lansia
Posyandu Lansia
Penyuluhan tentang
Melitus

10

Januari 2014.
Posyandu Peserta yang hadir pada

Diabetes

tanggal

Kader dari data jumlah peserta


posyandu

52

dan Hipertensi
Pelatihan
kader
mengenai

cara

pengukuran
-

berat

badan
Pemberian booklet
makanan sehat bagi

11 Januari 2014

lansia
Rapat internal kelompok Kelompok 24 PKNM Minimal
24

2014

50%

anggota

kelompok

ikut

melaksanakan

rapat

internal.
Setiap anggota kelompok
memahami tugas masingmasing pada pelaksanaan
pelatihan
12 Januari 2014

senam

kader

Pelatihan senam lansia Seluruh

tanggal 12 Januari 2014.


kader Minimal
60%
kader

pada

Desa posyandu

kader

posyandu posyandu

Desa Sumberkradenan.

Sumberkradenan.

Desa

Sumberkradenan mengikuti
pelatihan senam lansia.
Setiap
pos
posyandu
mendapat 1 keping VCD

13 Januari 2014

Persiapan laporan

panduan senam lansia.


Kelompok 24 PKNM Setiap anggota kelompok
th 2014

14 Januari 2014

Persiapan laporan

masing
Kelompok 24 PKNM Setiap anggota kelompok
th 2014

15 Januari 2014

Presentasi

mendapat tugas masing-

mendapat tugas masing-

masing
Kelompok 24 PKNM 60% anggota

kelompok

53

dan
Pembimbing

dosen mengikuti presentasi

54

No.

Kegiatan

1
2
3
4
5

Survey lapangan
Pendalaman masalah
Persiapan program
Pelaksanaan program
Persiapan laporan

Presentasi laporan

Hari ke
7
8

10

11

12

13

14

55

BAB VII
HASIL DAN PEMBAHASAN
Intervensi Kegiatan
Judul Kegiatan

Upaya Peningkatan Derajat Kesehatan Lansia Dusun


Premban Kelurahan Sumberkradenan Kecamatan Pakis

Waktu dan Tempat

Kabupaten Malang
Posyandu Lansia
Hari/tanggal : Jumat, 10 Januari 2014
Waktu
: 07.30-10.00 WIB
Tempat: Posyandu lansia RW 07 Dusun Premban Desa
Sumber Kradenan Kecamatan Pakis Kabupaten Malang
Pelatihan Senam Lansia untuk Kader:
Hari tanggal : Minggu, 12 Januari 2014
Waktu
: 08.30-09.00
Tempat
: Rumah Bu Sri, Dusun Bonangan,
Kelurahan Sumberkradenan, Kecamatan Pakis, Kabupaten

Peserta

Malang
Posyandu Lansia
Jumlah yang hadir
Jumlah total : 61 orang, dengan rincian sbb:
Very old : 4 orang
Old : 9 orang
Elderly : 17 orang
Middle age : 21 orang
< 45 th : 4 orang
Lupa usia : 6 orang
Kualifikasi
Sebagian besar peserta sangat antusias terhadap kegiatan
ini dibuktikan dengan adanya kegiatan ini di posyandu
kehadiran lansia ke posyandu lansia RW 07 dusun
Premban meningkat dua kali lebih banyak dibandingkan

56

Sasaran/ Target
Tujuan

dengan posyandu lansia biasanya.


Pra lansia dan lansia warga RW 07 Dusun Premban
Setelah diajarkan senam lansia dan diberikan penyuluhan
serta PMT diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan
tentang hipertensi dan DM, dan jumlah keaktifan peserta

Jadual Rinci

yang datang ke posyandu lansia RW 07 Dusun Premban.


05.00 06.00 Briefing dan persiapan
06.00 07.00 Perjalanan ke desa
07.00 08.00 Persiapan tempat posyandu, senam lansia
dan penyuluhan
08.00 09.15 - Pembukaan acara oleh ketua kelompok
dan sambutan oleh ketua RW 07 dusun
Premban,
- Posyandu lansia (penimbangan BB,
pengukuran TD dan gula darah).
09.15 09.25 Senam lansia
09.25 09.55 Penyuluhan Hipertensi, DM, dan makanan
sehat untuk lansia serta tanya-jawab
09.55 10.05 Pemagian doorprize dan penutupan
posyandu lansia oleh ketua kelompok 24
pknm
10.05 10.20 Penyuluhan makanan sehat lansia dan cara
pengolahannya kepada kader posyandu
RW 07 dusun Premban.
10.20 10.25 Penutupan acara keseluruhan dan
penyerahan kenang-kenangan bersama
dengan kader, pak RW setempat (RW 07),
dan kantor desa.

Pencapaian Hasil

10.25 10.30 Bersih-bersih dan persiapan pulang


- Kegiatan selesai tepat pada waktunya.

57

Keikutsertaan peserta telah melebihi target.


Pengetahuan peserta meningkat ditandai dengan
feedback peserta setelah penyuluhan baik berupa
pertanyaan-pertanyaan maupun tanggapan dan dapat

mengulangi kembali dari apa yang telah disampaikan.


Timbulnya keinginan peserta posyandu yang belum
aktif ataupun yang sebelumnya belum pernah datang

Pelaksanaan

ke posyandu lansia.
Situasi Pelaksanaan
Pelaksanaan posyandu lansia berlangsung kondusif,
pemeriksaan gula darah sangat diminati peserta karena
merupakan daya tarik dari kehadiran peserta untuk
posyandu lansia. Senam lansia berlangsung sangat baik
96% peserta yang hadir ke posyandu mengikuti senam
lansia dengan antusias sekali. Penyuluhan diikuti seluruh
peserta yang hadir ke posyandu lansia. Kegiatan tidak
berlangsung secara formal melainkan dengan metode
picture-to-picture, dan penjelasan gambar (mading) yang
lebih efektif dan mudah untuk dipahami oleh peserta.
Kelebihan
-

Kehadiran peserta melebihi target


Peserta sangat antusias mengikuti setiap kegiatan
Peserta aktif bertanya dan feedbacknya yang baik.
Para kader, perawat, dan bidan posyandu yang

kooperatif mendukung jalannya acara.


Bantuan dan penerimaan penuh dari pak RW
sekeluarga sebagai tempat acara sangat mendukung

berlangsungnya kegiatan.
Kegiatan penyuluhan dikemas dengan metode yang
menarik sehingga peserta dapat memahami topik
penyuluhan dengan mudah dan merasa senang dengan

58

pengetahuan baru yang didapatnya.


Kerjasama tim yang efektif dan kompak, seluruh
anggota tim berpartisipasi aktif

Kekurangan
-

Tidak adanya tiang untuk mendirikan terop/terpal

sehingga tempat duduk peserta tidak beratap/terbuka.


Waktu yang terbatas sehingga beberapa lansia yang
tidak dapat berjalan datang ke posyandu tidak
terkunjungi semua.

Hambatan
-

Cuaca yang kurang mendukung, yang awalnya


mendung kemudian panas sehingga ketika penyuluhan
peserta duduk di teras rumah pak RW

Peluang Pengembangan
-

Kerja sama yang baik antara mahasiswa dan kader


sehingga para lansia yang berkunjung ke posyandu

turut partisipasi kegiatan penyuluhan.


Keantusiasan peserta ketika senam lansia dapat
digunakan sebagai rekomendasi program baru yaitu
senam lansia di posyandu lansia RW 07 dusun

Analisis Tingkat

Premban.
Program kegiatan ini tergolong berhasil karena telah

Keberhasilan

memenuhi indikator yang telah ditetapkan yaitu :

Program dan

Faktor Penyebab

Evaluasi Proses
Jumlah peserta yang hadir lebih 60% dari jumlah
undangan yang disebar.
Seluruh peserta mengikuti kegiatan dari awal
hingga akhir.
Peserta aktif bertanya dan memerikan feedback

yang baik terhadap topik penyuluhan.


Evaluasi Hasil

59

Ketika diberi pertanyaan dari gambar-gambar yang


ditunjuk oleh penyuluh, peserta mampu menjawab
Pelajaran yang
dapat diambil

pertanyaan dengan benar.


Penerapan Interprofesional education
Penerapan komunikasi efektif dan

interprofesional
Penerapan kerjasama tim dan kemitraan dengan kader

dan bidan desa


Manajemen konflik

komunikasi

BAB VIII
PENUTUP
KESIMPULAN
1. Program pembinaan PKNM ini bermanfaat bagi warga RW 07 dusun Premban
usia pra lansia dan lansia.
2.

Program pembinaan PKNM ini dapat meningkatkan motivasi warga RW 07


dusun Premban usia pra lansia dan lansia untuk terus aktif datang ke posyandu
lansia.

3. Kondisi lansia RW 07 dusun Premban


SARAN

Pre-diabetes : 75%
Diabetes : 9%
Pre-hipertensi : 13%
Hipertensi stage 1 : 23%
Hipertensi stage 2 : 46%

60

Dibutuhkan monitoring dan follow up secara rutin dari posyandu lansia untuk
memantau keberlanjutan dan outcome dari program.

BAB IX
REKAPITULASI PENGGUNAAN DANA
Pemasukan:
Iuran Anggota 13 x @Rp 60.000,00 = Rp 780.000,00
Pengeluaran:
Konsumsi
Konsumsi Peserta

55 x @ Rp 5.000

= Rp 275.000

Konsumsi Kader

5 x @ Rp 5.000

= Rp 25.000

Konsumsi undangan 5 x @ Rp 5.000

= Rp 25.000

Aqua

= Rp 40.000 +

Total
Perlengkapan

2 x @ Rp 20.000

Rp 365.000

61

Glukostik

2 x @ Rp 85.000

= Rp 170.000

Alkohol swab

1 x @ Rp 20.000

= Rp 20.000

Lancet

1 bungkus x @ Rp 20.00

= Rp 20.000

Proposal 55 lbr x @ Rp 200 x 2 eksemplar


LPJ 1 eksemplar x 70 x @ Rp 200
TOR 8 lbr x @ Rp 200
Undangan 1 x @ Rp 200
Booklet 1 x @ Rp 2.000
Poster 4 x @ Rp 2.500

= Rp 11.000
= Rp 14.000
= Rp 1.600
= Rp 200
= Rp 2.000
= Rp 10.000

Print
-

Fotokopi
-

TOR 16 x @ Rp 100
Undangan 55 x @ Rp 100
Booklet 5 x @ Rp 2.000

= Rp 1.600
= Rp 5.500
= Rp 10.000 +

Total

Rp 265.900

Kenang-kenangan
-

Souvenir Kader 5 x @ Rp 15.000


Jam Dinding
1 x @ Rp 40.000
Doorprize
2 x @ Rp 5000

Total

= Rp 75.000
= Rp 40.000
= Rp 10.000 +
Rp 125.000

Total Pengeluaran :
Total

Rp 365.000
Rp 265.900
Rp 125.000 +
Rp 755.900

62

DAFTAR PUSTAKA

Arief, Mansjoer. 2000. Kapita Selekta Kedokteran.jilid 2. Jakarta:FKUI, Media


Auskulapius.
Baldah, Arfani Asa. Pengaruh Senam Aerobic Low Impact Terhadap Tekanan Darah
Pada Lansia. Universitas Jenderal Soedirman.
Brunner & suddarth. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medical Bedah.volume 2. Edisi2.
Jakarta: EGC.
Budiharjo, S., Prakosa, D., Soebijanto, 2004, Pengaruh Senam Bugar Lansia
terhadap Kekuatan Otot Wanita Lanjut Usia Tidak Terlatih di Yogyakarta,
Sains Kesehatan 17 (1), 111-121.
Corwin, Elizabeth J. 2008. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta: EGC.
Muttaqin, Arif. 2009. Ipengantar Asuhan Keperawatan dengan Gangguan Sistem
Kardiovaskuler. Jakarta: Salemba Medika.
Rokhman, Fatkhur. 2011. Hubungan Senam Lansia dengan Kebugaran Jasmani pada
Lansia di UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia.
Saslizawati. 2012. Perbedaan Penurunan Tekanan Darah pada Penderita Hipertensi
Usia Pertengahan yang Melakukan Senam Lansia dengan yang Tidak
Melakukan Senam Lansia di Wilayah Kerja Puskesmas Pakan Kamis
Kabupaten Agam Tahun 2012. Universitas Andalas.

63

Smeltzer, Suzanne and Bare. 2001. Keperawatan Kardiovaskuler.Jakarta: Salemba


Medika.
Sriwahyuniati, Fajar. 2008. Menjaga Kesehatan dan Kebugaran bagi Lansia Melalui
Berolahraga
Sumintarsih. 2006. Kebugaran Jasmani Untuk Lanjut Usia, Majalah Olahraga,
edisiAgustus, 147-150.
Suroto. 2004. Buku Pegangan KuliahPengertian Senam, Manfaat Senam, dan Urutan
Gerakan. Semarang : Universitas Diponegoro.
Wijayanti, 2008. Hubungan Kondisi Fisik RTT Lansia terhadap Kondisi Sosial
Lansia di RW 03 RT 05 Kelurahan Tegalsari, Kecamatan Candisari,
Semarang, Enclosure Jurnal Ilmiah Perencanaan Kota dan Pemukiman 7 (1).

64

Lampiran I
HASIL PEMERIKSAAN BERAT BADAN, TEKANAN DARAH DAN GULA DARAH
POSYANDU LANSIA DUSUN PREMBAN KECAMATAN PAKIS
No
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.
26.
27.
28.
29.
30.
31.
32.
33.

Nama
Sumi
Riama
Musripah
Nafsiah
Senatun
Sumami
Buang
Manan
Nur
Siti Fatanah
Misnah
Sundari
Bawon
Khasanah
Wakiyah
Juwariyah
Ponami
Jumaiyah
Sriah
Jamsiah
Ngatemi
Sunardi
Saudah
Rumiyati
Paiti
Rukamah
Rukayah
Jumaiyah
Rasinah
Sarmini
Sanati
Gimah
Tukah

Jenis

Usia

Berat Badan

Tekanan Darah

Gula Darah

Kelamin
P
P
P
P
P
P
L
L
P
P
P
P
P
P
P
P
P
P
P
P
P
L
P
P
P
P
P
P
P
P
P
P
P

(Th)
75
90
63
71
70
52
57
64
50
70
>50
54
100
100
75
40
60
45
87
87
48
60
53
90
45
47
60
45
60
60
65
-

(Kg)
36
30
42
74
52
50
46
58
69
44
56
50
52
34
46,5
48
53
67
50,5
53
42
55
44
46
66
59
35
39
42
34
40
39
64

(mmHg)
170/77
145/85
139/72
142/72
170/100
200/160
109/65
120/80
141/87
120/90
136/83
135/75
160/100
193/85
120/50
177/105
180/85
156/102
185/111
150/80
120/60
152/90
160/85
170/110
184/94
120/80
141/72
130/100
130/70
170/110
170/70
130/80
190/120

(mm/dL)
107
96
70
130
93
91
115
91
74
100
122
330
192
140
112
251
95
112
95
100
112
153
112
162
170
86
162
142
86
86
78
128
115

65

34.
35.
36.
37.
38.
39.
40.
41.
42.
43.
44.
45.
46.
47.
48.
49.
50.
51.
52.
53.
54.
55.
56.
57.
58.
59.
60.
61.

Suwarni
Suparni
Supiyah
Poniti
Liana
Panisah
Ngawiyati
Sarwanto
Zulaikha
Siti Mariam
Ruminah
Maluah
Kasri
Wartiah
Juwariyah
Suwarti
Sumroti
Andrianto
Ngateni
Umaiyah
Asenah
Ngateni
Sariatun
Suriati
Tiar
Riani
Abdurohman
Subandi

P
P
P
P
P
P
P
L
P
P
P
P
P
P
P
P
P
L
P
P
P
P
P
P
P
P
L
L

44
50
55
50
44
80
57
75
59
67
35
63
47
65
61
53
45
55
70
47
70
80
75
70

62
45
38
39
64
40
46
49
58
38
75
45
55
49
62
52,5
44
54
46
47
42
36
53
50
38
45
45
43

170/113
184/104
160/60
179/90
150/50
199/79
120/70
169/84
150/90
170/110
124/72
170/00
179/99
197/87
120/80
110/80
120/80
181/82
190/110
155/90
200/110
130/74
140/110
130/90
156/83
140/80
153/79
181/83

132
189
106
106
165
96
95
115
438
128
140
109
86
106
95
106
113
259
82
122
162
106
274
234
169
70
126
106

Diabetes : 6

L: 7

Very old : 4

P : 54

Old : 9

HT stage 2 :
28
HT stage 1 :

Elderly : 17

Pre-HT : 8

Middle age : 21

Normal : 11

< 45 th : 4
Lupa usia : 6

Pre-diabetes :
46
Normal : 9

66

Lampiran 2
DOKUMENTASI KEGIATAN
POSYANDU LANSIA RW 07 DUSUN PREMBAN KECAMATAN PAKIS
KABUPATEN MALANG JUMAT dan MINGGU, 10 dan 12 JANUARI 2104
tes gula darah

Penyuluhan

Senam lansia

Pemberian booklet kepada kader

Pelatihan kader senam lansia