Anda di halaman 1dari 28

ASPEK HUKUM

MALPRAKTEK MEDIS
(MEDICAL MALPRACTICE)
Dr. Mahmul Siregar, SH.,M.Hum

LATAR BELAKANG
Malpraktik Medis menjadi pembicaraan :

berubahnya paradigma hubungan dokter pasien


(HDP) dari paradigma tradisional kearah
kontemporer,
kemajuan teknologi informasi dan komunikasi,
demoktratisasi dalam kehidupan social, ekonomi
dan pendidikan.
meningkatnya kesadaran hukum masyarakat.

LATAR BELAKANG
HDP Tradisional

Dibangunan sejak jaman Hippocrates (460 377


Sm)
HDP tidak seimbang
Paternalistic dan Dominant (tenaga medis dokter
-,dipandang mengetahui yang terbaik bagi pasien)
Pertanggungjawaban dokter lebih merupakan
pertanggungjawaban moral dan etika profesional
Minim atau tidak ada peraturan dari pemerintah

LATAR BELAKANG
HDP Kontemporer

Hak Asasi Manusia


The right to self determination

Kemajuan teknologi medis

Akses informasi yang terbuka


Tingkat pendidikan semakin maju
HDP semakin kompleks
HDP : hubungan kepentingan, hubungan
kepercayaan, hubungan profesi dan hubungan
hukum
Campur tangan hukum dan pemerintah

DILEMA DAN KESULITAN

Diatur secara keras dan kurang hati-hati,


dokter terganggu (tidak nyaman)
menjalankan profesi, akhirnya masyarakat
dirugikan
Kurang pengaturan yang tegas, masyarakat
dirugikan ---- kurang terlindungi secara
hukum

DILEMA DAN KESULITAN

Sejumlah persoalan
Kendala substansi hukum
Ilmu kedokteran tidak murni ilmu pasti, lebih
merupakan experience scient
Kendala pembuktian
Inspanningsverbintenis
Tingginya ekspektasi masyarakat
Profesi kedokteran adalah profesi kedokteran

DOKTER TIDAK KEBAL HUKUM

Hubungan dokter dan pasien tidak sematamata hubungan kebutuhan (pasien lebih
butuh).
Hubungan dokter dan pasien meliputi
hubungan hukum
Pertanggungjawaban dokter tidak sekedar
pertanggungjawaban moral dan profesional
ethic
Juga meliputi pertanggungjawaban hukum
(perdata, pidana dan administrasi)

KEWAJIBAN DOKTER

KODEKI

UU Praktik Kedokteran (administratif dan substantif terkait


tindakan/perlakuan medis)
perijinan praktek (SIP dan STR)
wajib simpan rahasia kedokteran
informed consent
merujuk ke dokter yang lebih ahli
pertolongan darurat atas dasar kemanusiaan
menambah pengetahuan dan mengikuti perkembangan

Pelanggaran kewajiban pintu masuk terjadinya malpraktik medis


baik secara perdata, pidana dan administrasi.

PENGERTIAN MALPRAKTEK MEDIS

Tidak ada pengertian hukum berdasarkan perundang-undangan

Pasal 55 ayat (1) UU No 23 tahun 1992 tentang Kesehatan : setiap


orang berhak atas ganti rugi akibat kesalahan atau kelalaian yang
dilakukan tenaga kesehatan.

Medical malpractice involves the physicians failure to conform to


the standard of care for treatment of the patients condition, or lack
of skill, or negligence in providing care to the patient, which is the
direct cause of an injury to the patient (World Medical Association
1992)

PENGERTIAN MALPRAKTEK MEDIS

Hasil yang buruk atau tidak sesuai harapan pasien (tidak sembuh)
tidak serta merta merupakan tindakan malpraktek medik

Tindakan malpraktek medik tidak semata-mata dilihat dari hasil

Dilihat dari proses tenaga medis (dokter) dalam melakukan tindakan


medik

Ukurannya standar dan etika, profesi, standar operasional prosedur,


perundang-undangan

PENGERTIAN MALPRAKTEK MEDIS


Unsur-unsur penting

Sikap bathin (sengaja atau lalai)

tidak terpenuhinya syarat dalam


tindakan/ perlakuan medis
syarat mengenai akibat
tindakan/perlakuan medis.

PENGERTIAN MALPRAKTEK MEDIS


Unsur-unsur penting

1. Sikap Bathin
Sengaja

(secara sadar) dan kelalaian

Sangat

jarang terjadi, tenaga medis


(dokter) sengaja mencelakakan pasiennya

Contoh

: aborsi illegal, euthanasia

PENGERTIAN MALPRAKTEK MEDIS


Unsur-unsur penting
Kelalaian (medical negligence)

Salah satu bentuk perbuatan malpraktek medis.


Tetapi tidak semua bentuk kelalaian medis dapat dikategorikan
sebagai kejahatan.
de minimis non curat lex (the law does not concern itself with
trifles), hukum tidak mencampuri hal-hal yang sepele.
apabila kelalaian tersebut sudah mencapai suatu tingkatan
tertentu yang tidak memperdulikan jiwa orang lain, maka sifat
kelalaian itu berubah menjadi serius, dan bersifat kriminal.
Jika kelalaian itu sampai merugikan atau mencelakakan orang
lain, maka secara hukum dapat dikualifisir sebagai kelalaian
berat (culpa lata, gross negligence)

PENGERTIAN MALPRAKTEK MEDIS


Unsur-unsur penting
Praktek Anglo Saxon tentang Ukuran Kelalaian

(1). Duty ;
(2).Dereliction of that duty ;
(3). Direct causation ;
(4). Damage

PENGERTIAN MALPRAKTEK MEDIS


Unsur-unsur penting
Karakteristik Khusus dalam praktek kedokteran

Risiko tindakan medik (Risk of Treatment)


Kecelakaan
Non Negligent clinical error of judgement
Allergic Reactions.

Bukan merupakan kesalahan, sepanjang dokter


sudah memenuhi kewajibannya dalam perlakuan
medik sesuai standar dan etika profesi

PENGERTIAN MALPRAKTEK MEDIS


Unsur-unsur penting
2. Tidak terpenuhinya syarat dalam tindakan/perlakuan
medis

Melawan hukum
Bertentangan dengan kewajiban dokter untuk
berbuat sesuatu dengan sebaik-baiknya, secermatcermatnya, penuh kehati-hatian, tidak berbuat
ceroboh, berbuat yang seharusnya diperbuat, dan
tidak berbuat yang seharusnya tidak diperbuat.
mengacu kepada hukum, etika profesi, standar
profesi atau standar prosedur medik.

PENGERTIAN MALPRAKTEK MEDIS


Unsur-unsur penting

a.
b.
c.
d.
e.
f.

Bila dijabarkan lebih lanjut, maka malawan hukumnya suatu


perbuatan/perlakuan medis yang dilakukan oleh tenaga
kesehatan (dokter), adalah apabila perbuatan tersebut
melanggar :

standar profesi kedokteran


standar prosedur operasional
ketentuan informed consent
rahasi kedokteran
kewajiban-kewajiban dokter
prinsip-prinsip profesional kedokteran atau kebiasaan yang wajar
di bidang kedokteran
g. tidak sesuai dengan kebutuhan medis pasien
h. dilanggarnya hak-hak pasien

PENGERTIAN MALPRAKTEK MEDIS


Unsur-unsur penting
3. Syarat mengenai akibat tindakan/perlakuan medis
Syarat mengenai akibat tindakan/perlakuan medis
adalah timbulnya akibat yang merugikan kesehatan
dan nyawa pasien.

Dengan demikian, tindakan maplraktek medis


semata-mata tidak dinilai dari akibat yang
ditimbulkannya, tetapi juga lebih kepada sifat
melawan hukumnya dari perbuatan/ perlakuan
medis tersebut dengan mengacu pada hukum,
etika profesi, standar profesi atau standar prosedur
medik.

TANGGUNGJAWAB
o

Perdata (wanprestasi dan perbuatan


melawan hukum

Pidana

Administrasi

TANGGUNGJAWAB
Wanprestasi
Pasal 39 UU Praktik Kedokteran
Melanggar Kontrak Teraupetik
Karakteristik inspanningsverbintenis
Tidak melakukan prestasi sesuai dengan yang
diperjanjian (mengarah pada tindakan medik yang
dilakukan telah memenuhi atau tidak standar-standar
perlakuan medik
Memberikan prestasi lain dari yang diperjanjikan
Kerugian

TANGGUNGJAWAB

Perbuatan Melawan Hukum


Pasal 1365 KUH Perdata
Melawan hukum (perbuatan dapat dipidana,
telah membahayakan kesehatan dan jiwa,
seperti
menyebabkan
luka-luka
atau
kematian)
Adanya kesalahan (sengaja atau lalai)
Causalitas verban antara kerugian dan
perbuatan

TANGGUNGJAWAB

Beban Pembuktian
Secara umum dibebankan kepada
pasien
(sebagai
kreditur
dalam
wanprestasi dan sebagai pihak yang
dirugikan dalam PMH)
Kesulitan pasien sebagai orang awan

TANGGUNGJAWAB
Beban Pembuktian

Di Negeri Belanda, sejak 1 April 1988 dalam hukum pembuktian yang baru,
bertalian dengan beban pembuktian didasarkan atas dua ketentuan, yaitu :
1.

Didasarkan pada ajaran hukum objektif

Pihak yang menuntut berdasarkan fakta atau hukum memikul beban


pembuktian dari fakta hukum tersebut (Pasal 177 RV Belanda). Dengan kata
lain : pada pokoknya siapapun menuntut, harus membuktikan. Seorang pasien
yang menuntut dokter atas dasar wanprestasi atau perbuatan melawan hukum,
menurut ketentuan ini harus membuktikan bahwa oleh dokter tersebut dan
mungkin oleh orang untuk siapa ia bertanggungjawab telah dibuat kesalahan.
2. Didasarkan pada teori keadilan (billijkheidstheorie)

Pada teori ini yang didasarkan pada akal yang sehat (redelijkheid) dan keadilan
(billijkheid) hakim untuk setiap peristiwa/kejadian secara terpisah harus
membagi beban pembuktian berdasarkan keadilan

TANGGUNGJAWAB
Pidana
Sengaja (secara sadar),
Melawan hukum, telah membahayakan kesehatan dan
jiwa, seperti menyebabkan luka-luka atau kematian)
Perbuatan bertentangan dengan hukum, standar dan
etika profesi, standar prosedur
Tidak termasuk karakteristik khusus (risiko tindakan
medis, reaksi alergi, kecelakaan, Non Negligent clinical
error of judgement
Beberpa contoh : aborsi
menyebabkan kematian, dll.

illegal,

euthanasia,

kelalaian

TANGGUNGJAWAB

Pidana
Beberapa pelanggaran administrasi dapat
dipidana berdasarkan UU No. 29 Tahun 2004
Pasal 75, 76, 77, 78 dan 79 UU No. 29 Tahun
2009

TANGGUNGJAWAB
Administrasi

Tidak memiliki persyaratan administratif seperti surat tanda registrasi (STR) dokter yang
diterbitkan oleh Konsil Kedokteran (Pasal 29).
dokter lulusan luar negeri yang lulus di Indonesia tidak dilengkapi dengan syarat lulus
evaluasi. Bagi dokter asing selain lulus evaluasi juga harus memiliki ijin kerja (Pasal 30).
tidak memiliki surat ijin praktek (SIP) yang dikeluarkan pejabat kesehatan yang berwenang
di kabupaten/kota tempat praktik (Pasal 36 jo. Pasal 37).
Tidak memenuhi kewajiban pelayanan medis sesuai dengan standar profesi, standar
prosedur operasional dan kebutuhan medis pasien.
tidak merujuk pasien kedokter lain yang mempunyai keahlian atau kemampuan yang lebih
baik.
melanggar kewajiban merahasiakan segala sesuatu mengenai pasien (Pasal 14 Kodeki
dan PP 26 Tahun 1960)
tidak melakukan kewajiban melakukan pertolongan darurat atas dasar kemanusiaan
tidak menambah ilmu pengetahuan dan mengikuti perkembangan ilmu kedokteran
tidak mengindahkan informed consent (penjelasan kepada pasien sebelum melakukan
tindakan), Pasal 45 UU No. 29 Tahun 2004.

TANGGUNGJAWAB

Administrasi
Pencabutan ijin praktek
Beberapa pelanggaran administrasi dapat
dipidana berdasarkan UU No. 29 Tahun 2004
Pasal 75, 76, 77, 78 dan 79 UU No. 29 Tahun
2009

Dr. Mahmul Siregar, SH.,M.Hum


081362260213
mahmuls@yahoo.co.id