Anda di halaman 1dari 12

Taenia (cacing pita)

Taenia

Cacing Taenia saginata dewasa

Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Animalia
Filum:
Platyhelminthes
Kelas:
Cestoda
Ordo:
Cyclophyllidea
Famili:
Taeniidae
Genus:
Taenia
Linnaeus, 1758

Spesies
Taenia crassiceps
Taenia pisiformis
Taenia saginata
Taenia solium
Taenia asiatica
Taenia taeniaeformis
Taenia merupakan salah satu marga cacing pita yang termasuk dalam Kerajaan Animalia, Filum
Platyhelminthes, Kelas Cestoda, Bangsa Cyclophyllidea, Suku Taeniidae. [1] Anggota-anggotanya
dikenal sebagai parasit vertebrata penting yang menginfeksi manusia, babi, sapi, dan kerbau. [1]

Daftar isi

1 Perbedaan antarspesies

2 Siklus Hidup

3 Penyebaran

o 3.1 Penyebaran di Dunia


o 3.2 Penyebaran di Indonesia

4 Dampak terhadap Kesehatan

5 Pengendalian

6 Referensi

7 Pranala Luar

Perbedaan antarspesies

Segmen tubuh Taenia solium


Terdapat tiga spesies penting cacing pita Taenia, yaitu Taenia solium, Taenia saginata, dan
Taenia asiatica. [2][3] Ketiga spesies Taenia ini dianggap penting karena dapat menyebabkan
penyakit pada manusia, yang dikenal dengan istilah taeniasis dan sistiserkosis.[2]. Adapun
perbedaan antarspesies cacing pita Taenia dapat dilihat pada Tabel 1 di bawah ini.
Tabel 1. Perbedaan antara Taenia solium, Taenia saginata dan Taenia asiatica
No.
1

Keterangan
Taenia solium [1][4]
Inang definitif dan
Usus halus manusia
habitat

Taenia saginata [1][4]

Taenia asiatica [5]

Usus halus manusia

Usus halus manusia

Sapi (utama), kambing,


domba

Babi (utama), sapi

Inang antara

Babi dan manusia

Nama tahap larva

Cysticercus cellulosae Cysticercus bovis

Cysticercus t.s.
taiwanensis

(3-8)x 0,01 meter

4-8 meter

Ukuran panjang x
lebar
Jumlah segmen

Jumlah telur

(4-15) x 0,01 meter

700-1000
1000-2000
30.000-50.000 di setiap lebih dari 100.000 di
segmen
setiap segmen

712

Siklus Hidup

Siklus hidup Taenia sp.


Cacing pita Taenia dewasa hidup dalam usus manusia yang merupakan induk semang definitif. [4]
Segmen tubuh Taenia yang telah matang dan mengandung telur keluar secara aktif dari anus
manusia atau secara pasif bersama-sama feses manusia. [4] Bila inang definitif (manusia) maupun
inang antara (sapi dan babi) menelan telur maka telur yang menetas akan mengeluarkan embrio
(onchosphere) yang kemudian menembus dinding usus.[4] Embrio cacing yang mengikuti
sirkulasi darah limfe berangsur-angsur berkembang menjadi sistiserkosis yang infektif di dalam
otot tertentu. [4] Otot yang paling sering terserang sistiserkus yaitu jantung, diafragma, lidah, otot
pengunyah, daerah esofagus, leher dan otot antar tulang rusuk. [6]
Infeksi Taenia dikenal dengan istilah Taeniasis dan Sistiserkosis.[1] Taeniasis adalah penyakit
akibat parasit berupa cacing pita yang tergolong dalam genus Taenia yang dapat menular dari
hewan ke manusia, maupun sebaliknya.[7] Taeniasis pada manusia disebabkan oleh spesies
Taenia solium atau dikenal dengan cacing pita babi [7], sementara Taenia saginata dikenal juga
sebagai cacing pita sapi.[7][8]
Sistiserkosis pada manusia adalah infeksi jaringan oleh bentuk larva Taenia (sistiserkus) akibat
termakan telur cacing Taenia solium (cacing pita babi). [2] Cacing pita babi dapat menyebabkan

sistiserkosis pada manusia, sedangkan cacing pita sapi tidak dapat menyebabkan sistiserkosis
pada manusia. [7] Sedangkan kemampuan Taenia asiatica dalam menyebabkan sistiserkosis
belum diketahui secara pasti. [3] Terdapat dugaan bahwa Taenia asiatica merupakan penyebab
sistiserkosis di Asia. [3]
Manusia terkena taeniasis apabila memakan daging sapi atau babi yang setengah matang yang
mengandung sistiserkus sehingga sistiserkus berkembang menjadi Taenia dewasa dalam usus
manusia. [6] Manusia terkena sistiserkosis bila tertelan makanan atau minuman yang mengandung
telur Taenia solium. [9] Hal ini juga dapat terjadi melalui proses infeksi sendiri oleh individu
penderita melalui pengeluaran dan penelanan kembali makanan. [10].
Sumber penularan cacing pita Taenia pada manusia yaitu [11]
1. Penderita taeniasis sendiri dimana tinjanya mengandung telur atau segmen tubuh
(proglotid) cacing pita.
2. Hewan, terutama babi dan sapi yang mengandung larva cacing pita (sistisekus).
3. Makanan, minuman dan lingkungan yang tercemar oleh telur cacing pita.

Penyebaran
Penyebaran di Dunia

Cacing pita Taenia tersebar secara luas di seluruh dunia. [7]. Penyebaran Taenia dan kasus
infeksi akibat Taenia lebih banyak terjadi di daerah tropis karena daerah tropis memiliki
curah hujan yang tinggi dan iklim yang sesuai untuk perkembangan parasit ini. [12]
Taeniasis dan sistiserkosis akibat infeksi cacing pita babi Taenia solium merupakan salah
satu zoonosis di daerah yang penduduknya banyak mengkonsumsi daging babi dan
tingkat sanitasi lingkungannya masih rendah, seperti di Asia Tenggara, India, Afrika
Selatan, dan Amerika Latin. [13] Adapun kasus infeksi cacing pita Taenia di negara tropis
dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Kasus Infeksi Cacing Pita Taenia di Negara Tropis
Negara
Taiwan,
Cina
Brazil
Thailand

Kasus
1.661 orang penderita taeniasis.

[14]

0,1-0,9 % kejadian sistiserkosis pada manusia.


5,9% dari 1450 orang positif taeniasis. [16]

[15]

Indonesi
a
Laos

Taeniasis/sistiserkosis terutama ditemukan di Papua, Bali dan


Sumatera Utara. Selain itu ditemukan di NTT, Lampung,
Sulawesi Utara, Kalimantan Barat dan Jawa Timur.
Kejadian taeniasis mencapai 14% [18]

[17] [3] [9]

Salah satu bukti lebih luasnya penyebaran Taenia di daerah tropis yaitu ditemukannya
spesies ketiga penyebab taeniasis pada manusia di beberapa negara Asia yang dikenal
dengan sebutan Taiwan Taenia atau Asian Taenia. [19]. Asian Taenia dilaporkan telah
ditemukan di negara-negara Asia yang umumnya beriklim tropis seperti Indonesia,
Thailand, Malaysia, Filipina, Korea dan Cina. [20] Kini Asian Taenia disebut Taenia
asiatica [21]. Kejadian T. asiatica yang tinggi terutama ditemukan di Pulau Samosir,
Indonesia. [17]
Sistiserkosis merupakan infeksi yang sering ditemukan pada babi dan manusia terutama
di negara berkembang. [3] Penyebaran sistiserkus pada manusia dipengaruhi oleh kontak
antara babi dan feses manusia, tidak adanya pemeriksaan kesehatan daging saat
penyembelihan, dan konsumsi daging mentah atau setengah matang.[6] Penyebaran
penyakit ini luas karena Taenia dapat memproduksi puluhan bahkan ratusan ribu telur
setiap hari yang dapat disebar oleh air hujan ke lingkungan bahkan pada lokasi yang jauh
dari tempat pelepasan telur. [4]
Penyebaran di Indonesia

Infeksi cacing pita Taenia tertinggi di Indonesia terjadi di Provinsi Papua. [22] Di
Kabupaten Jayawijaya Papua, Indonesia ditemukan 66,3% (106 orang dari 160
responden) positif menderita taeniasis solium/sistiserkosis selulosae dari babi [3].
Sementara 28,3% orang adalah penderita sistiserkosis yang dapat dilihat dan diraba
benjolannya di bawah kulit [3]. Sebanyak 18,6% (30 orang) di antaranya adalah penderita
sistiserkosis selulosae yang menunjukkan gejala epilepsi [3]. Dari 257 pasien yang
menderita luka bakar di Papua, sebanyak 82,8% menderita epilepsi akibat adanya
sistiserkosis pada otak. [3]
Prevalensi sistiserkosis pada manusia berdasarkan pemeriksaan serologis pada
masyarakat Bali sangat tinggi yaitu 5,2% sampai 21%, sedangkan prevalensi taeniasis di
provinsi yang sama berkisar antara 0,4%-23%. [17] Sebanyak 13,5% (10 dari 74 orang)

pasien yang mengalami epilepsi di Bali didiagnosa menderita sistiserkosis di otak. [23]
Prevalensi taeniasis T. asiatica di Sumatera Utara berkisar 1,9%-20,7%. [17] Kasus T.
asiatica di Provinsi ini umumnya disebabkan oleh konsumsi daging babi hutan setengah
matang. [17]

Dampak terhadap Kesehatan

Sistiserkosis pada otak

Taenia saginata di usus buntu


Cacing pita Taenia dapat menimbulkan penyakit yang disebut taeniasis dan sistiserkosis. Gejala
klinis terbanyak yang dikeluhkan adalah[14]:

Pengeluaran segmen tubuh cacing dalam fesesnya (95%)

Gatal-gatal pada anus (77%)

Mual (46%)

Pusing (42%)

Peningkatan nafsu makan (30%)

Sakit kepala (26%)

Diare (18%)

Lemah (17%)

Merasa lapar (16%)

Sembelit (11%)

Penurunan berat badan (6%)

Rasa tidak enak di lambung (5%)

Letih (4%)

Muntah (4%)

Tidak ada selera makan saat lapar (1%)

Pegal-pegal pada otot (1%)

Nyeri di perut, mengantuk, serta kejang-kejang, gelisah, gatal-gatal di kulit dan gangguan
pernapasan (masing-masing <1%).

Sistiserkosis menimbulkan gejala dan efek yang beragam sesuai dengan lokasi parasit dalam
tubuh. [4] Manusia dapat terjangkit satu sampai ratusan sistiserkus di jaringan tubuh yang
berbeda-beda. [4] Sistiserkus pada manusia paling sering ditemukan di otak (disebut
neurosistiserkosis), mata, otot dan lapisan bawah kulit [17].
Dampak kesehatan yang paling ditakuti dan berbahaya akibat larva cacing Taenia yaitu
neurosistiserkosis yang dapat menimbulkan kematian. [24] Neurosistiserkosis adalah infeksi
sistem saraf pusat akibat sistiserkus dari larva Taenia solium. Neurosistiserkosis merupakan
faktor risiko penyebab stroke baik pada manusia yang muda maupun setengah baya[25], epilepsi
dan kelainan pada tengkorak. [8] Sistiserkosis merupakan penyebab 1% kematian pada rumah
sakit umum di Meksiko City dan penyebab 25% tumor dalam otak [8].

Pengendalian

Cara Pengendalian cacing pita Taenia


Pengendalian cacing pita Taenia dapat dilakukan dengan memutuskan siklus hidupnya.
Pemutusan siklus hidup cacing Taenia sebagai agen penyebab penyakit dapat dilakukan melalui
diagnosa dini dan pengobatan terhadap penderita yang terinfeksi. [8] Beberapa obat cacing yang
dapat digunakan yaitu Atabrin, Librax dan Niclosamide [5] dan Praziquantel [17]. Sedangkan untuk
mengobati sistiserkosis dapat digunakan Albendazole dan Dexamethasone. [26] Untuk mengurangi
kemungkinan infeksi oleh Taenia ke manusia maupun hewan diperlukan peningkatan daya tahan
tubuh inang. Hal ini dapat dilakukan melalui vaksinasi pada ternak, terutama babi di daerah
endemis taeniasis/sistiserkosis serta peningkatan kualitas dan kecukupan gizi pada manusia. [27]
Lingkungan yang bersih sangat diperlukan untuk memutuskan siklus hidup Taenia karena
lingkungan yang kotor menjadi sumber penyebaran penyakit. Pelepasan telur Taenia dalam feses
ke lingkungan menjadi sumber penyebaran taeniasis/sistiserkosis. [8] Faktor risiko utama
transmisi telur Taenia ke babi yaitu pemeliharaan babi secara ekstensif, defekasi manusia di
dekat pemeliharaan babi sehingga babi memakan feses manusia dan pemeliharaan babi dekat
dengan manusia. [28] Hal yang sama juga berlaku pada transmisi telur Taenia ke sapi. Telur cacing
ini dapat terbawa oleh air ke tempat-tempat lembap sehingga telur cacing lebih lama bertahan
hidup dan penyebarannya semakin luas. [4]
Kontrol penyakit akibat Taenia di lingkungan dapat dilakukan melalui peningkatan sarana
sanitasi, pencegahan konsumsi daging yang terkontaminasi, pencegahan kontaminasi tanah dan
tinja pada makanan dan minuman. [28] Pembangunan sarana sanitasi, misalnya kakus dan septic
tank, serta penyediaan sumber air bersih sangat diperlukan. Pencegahan konsumsi daging yang
terkontaminasi dapat dilakukan melalui pemusatan pemotongan ternak di rumah potong hewan
(RPH) yang diawasi oleh dokter hewan. [29]

Referensi

1.

^ a b c d e S, Kusumamihardja (1992). Parasit dan Parasitosis pada Hewan Ternak


Piaraan di Indonesia (dalam bahasa Indonesia). Bogor: Pusat Antar Universitas
Bioteknologi Institut Pertanian Bogor.

2.

^ a b c (Inggris) Wandra, T., A. Ito, H. Yamasaki, T. Suroso, dan S. S. Margono.


2003. Taenia solium Cysticercosis, Irian Jaya, Indonesia. Journal of Emerging Infectious
Disease 9 (7): 884-885.

3.

^ a b c d e f g h i Simanjuntak, Gindo Mangara. "Studi Taeniasis/Cysticercosis di


Kabupaten Jayawijaya Propinsi Irian Jaya" (Pdf). Badan Litbang Kesehatan. Diakses
2010-05-13.

4.

^ a b c d e f g h i j (Indonesia) Satrija, F. 2005. Helmintologi: Ciri Umum dan


Morfologi Helminth. Bogor: Departemen Ilmu Penyakit Hewan dan Kesehatan
Masyarakat Veteriner, Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor. Hal 1-5

5.

^ a b (Indonesia) Dharmawan, N. S. 2004. Taenia asiatica: Bentuk Ketiga Cacing


Pita Taenia. Jurnal Veteriner 5 (4).

6.

^ a b c (Inggris) Gomes, A. B. K. A. Soares, E. C. Bueno, N. M. Espindola, A. A.


Maia, R. H. Peralta, A. J. Vaz. 2007. Comparative Evaluation of Different Immunoassays
for the Detection of Taenia solium Cysticercosis in Swine with Low Parasite Burden.
Mem Inst Oswaldo Cruz, Rio de Jaineiro 102 (6): 725-731.

7.

^ a b c d e (Inggris) Grove, D. I. 1990. A History of Human Helminthology. United


Kingdom: CAB International.

8.

^ a b c d e (Inggris) Acha, P. N., dan B. Szyfres. 2003. Zoonoses and


Communicable Diseases Common to Man and Animals 3rd Edition Volume III
Parasitoses. Washington: Pan American Health Organization.

9.

^ a b Suroso, T., S. S. Margono, T. Wandra, dan A. Ito. (2006). "Challenges for


Control of Taeniasis/Cysticercosis in Indonesia". Parasitology International 55: 161165.
doi:10.1016/j.parint.2005.11.025.

10.

^ (Indonesia) Arimbawa, M., I. K. Kari, dan N. S. Laksminingsih. 2004.


Neurocysticercosis. Pediatrica Indonesiana 44 (7-8): 165-170.

11.

^ Departemen Kesehtan Republik Indonesia. "Petunjuk Pemberantasan


Taeniasis/Sistiserkosis di Indonesia" (PDF). Departemen Kesehtan Republik Indonesia.
Diakses 2010-05-10. Unknown parameter |lamguage= ignored (help)

12.

^ (Inggris) Hunter, G. W., W. W. Frye, dan J. C. Swartzwelder. 1966. A Manual of


Tropical Medicine. Philadelphia: Saunders Company.

13.

^ Devidson Maitindom, Ferry (2008). "Studi Kejadian Sistiserkosis pada Babi


yang Dijual di Pasar Jibama Kabupaten Jayawijaya Papua" (Pdf). Institut Pertanian
Bogor. Diakses 2010-05-13.

14.

^ a b Fan, P. C., W. C. Chung, C. Y. Lin, dan C. H. Chan. 1992. Clinical


Manifestation of Taeniasis in Taiwan Aborigines. J. Helminthology 66: 118-123

15.

^ Agapejev, S (1996). "Epidemiology of Neurocysticercosis in Brazil". Rev Inst


Med Trop Sao Paulo 38: 207216. doi:10.1016/S0022-510X(97)85101-5.

16.

^ Waikagul, J., P. Dekumyoy, dan M. T. Anantaphruti (2006). "Taeniasis,


Systicercosis and Echinococcosis in Thailand" (pdf). Parasitology Int 55 (175-180).
doi:10.1016/j.parint.2005.11.027.

17.

^ a b c d e f g Wandra, T., A. A. Depary, P. Sutisna, S. S. Margono, T. Suroso, M.


Okamoto, P. S. Craig, dan A. Ito (2006). "Taeniasis and Cysticercosis in Bali and North
Sumatra, Indonesia.". Parasitology International 55: 155160.
doi:10.1016/j.parint.2005.11.024.

18.

^ Conlan, J., S. Khounsy, P. Inthavong, S. Fenwick, S. Blacksell, dan R. C. A.


Thompson. (2008). "A Review of Taeniasis and Cysticercosis in The Lao Peoples
Democratic Republic" (Pdf). Parasitology International.
doi:10.1016/j.parint.2008.04.002.

19.

^ (Inggris) Galan-Purchades, M. T., dan M. V. Fuentes. 2000. The Asian Taenia


and The Possibility of Cysticercosis. Korean Journal of Parasitology 38 (1): 1-7.

20.

^ (Inggris) Bowles, J., dan D. P. McManus. 1994. Genetic Characterization of the


Asian Taenia, A Newly Described Taeniid Cestodes of Human. American Journal Trop
Med Hyg 50:33-34.

21.

^ (Inggris) Ito, A., M. Nakao, T. Wandra, T. Suroso, M. Okamoto, H. Yamasaki,


Y. Sako, dan K. Nakaya. 2005. Taeniasis and Cysticercosis in Asia and The Pacific.
Southest Asian J Trop Med Public Health 36(4): 123-130.

22.

^ Margono, SS; T. Wandra, M. F. Swasono, S. Murni, P. S. Craig, dan A. Ito


(2006). "Taeniasis/Cysticercosis in Papua (Irian Jaya), Indonesia". Parasitology
International 55: 143148. doi:10.1016/j.parint.2005.11.051.

23.

^ Margono, S. S., T. Wandra, dan T. Suroso (2001). "Cysticercosis in Indonesia:


Epidemiological Aspects". Southeast Asian J Trop Med Public Health (dalam bahasa
English) 32 (2): 7984.

24.

^ (Inggris) Townes, J.M., C. J. Hoffmann, dan M. A. Kohn. 2004.


Neurocysticercosis in Oregon 1995-2000. Journal of Emerging Infectious Disease 10 (3):
508-510

25.

^ (Inggris) Alacron, F., dan K. Vanormelingen. 1992. Cerebral Cysticercosis as a


Risk Factor Stroke in Young and Middle-Aged People. Stroke Journal 23 (11):15631565.

26.

^ Ahmad, F. U., dan B. S. Sharma (2007). "Treatment of Intramedullary Spinal


Cysticercosis: Report of 2 Cases and Review of Literature.". Surgical Neurology 67 (7477). doi:10.1016/j.surneu.2006.03.034.

27.

^ Pawlowski, Z., J. Allan, dan E. Sarti (2005). "Control of Taenia solium


Taeniasis/Cysticercosis: From research towards Implementation". Journal of
Parasitology 35: 12211232. doi:10.1016/j.ijpara.2005.07.015.

28.

^ a b (Inggris) Eddi, C., B. Katalin, L. Juan, A. William, S. Andrew, B. Daniela,


dan D. Joseph. 2006. Veterinary Public Health Activities at FAO: Cysticercosis and
Echinococcosis. Parasitology Int 55: S305-S308.

29.

^ (Indonesia) Rotinsulu DA. 2008. Strategi Global Kesehatan Masyarakat


Veteriner dalam Pengendalian Taeniasis/Sistiserkosis sebagai Re-emerging Foodborne
Zoonoses Daerah Tropis. Karya Tulis. Bogor: Institut Pertanian Bogor. Halaman 22

Pranala Luar
Petunjuk Pemberantasan Taeniasis/Sistiserkosis di Indonesia

Kingdom Animalia
Eukariotik Metazoa Heterotrof
Porifera
Avertebrata

Calcarea Hexactinellida Demospongiae

Ctenophora Tentaculata Nuda


Cnidaria

Hydrozoa Scyphozoa Anthozoa Cubozoa


Staurozoa

Platyhelminthe
Turbellaria Trematoda Cestoda Monogenea
s
Nematoda

Ascaris lumbricoides Ancylostoma Enterobius


vermicularis Wuchereria bancrofti Trichinella
spiralis Heterodera radicicola

Annelida

Polychaeta Oligochaeta Hirudinea

Moluska

Polyplacophora Gastropoda Pelecypoda


Scaphopoda Cephalopoda

Artropoda
Echinodermata

Crustacea Chelicerata Myriapoda Hexapoda


Asteroidea Ophiuroidea Echinoidea
Holothuroidea Crinoidea

AcraniataUrochordata Cephalochordata Hemichordata


Vertebrata

Chordat
a

Pisces (Agnatha Chondrichthyes


Craniata Osteichthyes) Amphibia Reptilia Aves
Mammalia

Kategori:

Semua kelas cestoda

Biologi

Cacing