Anda di halaman 1dari 22

bab 3 teknik dan prosedur konsolidasi

Ada beberapa prosedur yang digunakan untuk mengkonsolidasi laporan keuangan induk dan
laporan keuangan perusahaan. Perbedaan proses konsolidasi disebabkan oleh perbedaan
metode yang digunakan perusahaan induk dalam mempertanggung jawabkan investasinya pada
perusahaan anak.

Prosedur Konsolidasi diatur dalam PSAK No. 4 (Paragraf 8,21 & 23) antara lain
dinyatakan bahwa dalam menyusun Laporan Keuangan Konsolidasi Laporan Keuangan
Induk Perusahaan (Parent Company) dan Anak Perusahaan (Subsidary Company)
digabungkan satu persatu dengan menggabungkan unsure-unsur yang sejenis dari Aktiva,
Kewajiban, Ekuitas, Pendapatan dan Beban.

1.
2.
3.
1.
2.

Sifat sifat laporan keuangan yang dikonsolidasi :


Menunjukkan pengaruh ekonomi dari penggabungan 2 atau lebih perusahaan
Digunakan untuk perusahaan induk dan anak, perusahaan anak dipandang sebagai cabang..
Nama perusahaan induk yang melaporkan saham perusahaan anak sebagai investasi
Masalah masalah yang umum yang dihadapi dalam penyusunan laporan keuangan :
Periode laporan neraca konsolidasi disusun
Jumlah saham yang dimiliki oleh perusahaan induk dan harga perolehan yang sudah
dikeluarkan untuk mendapatkan saham tersebut.

Teknik prosedur konsolidasi :


1. Proses konsolidasi dipengaruhi oleh metode akuntansi yang di gunakan untuk mencatat
investasinya dalam perusahaan anak.
2. Prosedur konsolidasi di diatur dalam PSAK No4
Ada beberapa masalah-masalah Umum yang Dihadapi Dalam
Penyusunan Laporan Keuangan Konsolidasi yaitu :
a. Periode di mana laporan / neraca konsolidasi tersebut disusun.
b. Jumlah saham yang dimiliki oleh perusahaan induk, dan harga perolehan
(pengorbanan) yang telah dikeluarkan untuk memperoleh saham tersebut.
Adapun prosedur penyusunan Laporan Keuangan Konsolidasi Dijelaskan lebih terperinci
lagi, yaitu:
1. Mengeliminasi semua rekening timbal balik (Recipocal Account)
Eliminasi dilakukan melalui jurnal eliminasi dengan mengeliminasi rekening-rekening yang
bersifat rekening timbal balik, yaitu suatu rekening yang dicatat oleh kedua belah pihak
(induk dan anak) untuk suatu transaksi yang sama.
2. Menyusun Kertas Kerja (Worksheet)

Worksheet digunakan untuk memepermudah penyusunan laporan keuangan Prosedur


penyusunan worksheet tergantung pada dasar yang dipakai, yaituLaporan Keuangan
Individual atau Neraca Saldo Individual.
Dalam penyusunan Laporan Keuangan Konsolidasi antara Induk Perusahaan dan Anak
Perusahaan dapat digunakan 3 (dua) metode yaitu:
1. Metode Ekuitas (Equity Method)
2. Metode Ekuitas Tidak Lengkap
3. Metode Harga Perolehan (Cost Method)

KONSOLIDASI DENGAN METODE EKUITAS


Dalam beberapa perusahaan induk menggunakan metode equity dalam
mempertanggungjawabkan perusahaan anaknya. Selanjutnya contoh yang sama diubah untuk
mengilustrasikan perbedaan-perbedaan dalam prosedur konsolidasi yang muncul ketika
perusahaan mempertanggung jawabkan perusahaan anaknya berdasarkan metode ekuitas tidak
lengkap.

Konsep dasar dari metode ekuitas pada dasarnya memandang investasi Induk Perusahaan
terhadap Anak Perusahaan sebagai sesuatu penyertaan modal sehingga jika aktiva bersih
Anak Perusahaan berubah karena kegiatan operasionalnya, secara otomatis akan
menyebabkan perubahan pada nilai investasi induk Perusahaan.data
Pencatatan investasi saham pada Anak Perusahaan dengan metode ekuitas, didasarkan pada
suatu anggapan investasi pada Anak Perusahaan sejajar dan sama dengan investasi pada
perusahaan-perusahaan cabangnya. Alasan diterapkannya metode ekuitas juga didasarkan
atas suatu fakta bahwa Induk Perusahaan dan Anak Perusahaan merupakan bagian-bagian
dari satu kesatuan usaha, seperti halnya hubungan antara Kantor Pusat dan CabangCabangnya. Oleh sebab itu perubahan-perubahan yang terjadi didalam hak-hak pemegang
saham pada Anak Perusahaan harus diakui dan dicatat oleh Induk Perusahaan, untuk dapat
mengikuti dan melaporkan posisi keuangan dan perkembangan usahanya secara lengkap.
Nilai investasi Induk Perusahaan terhadap Perusahaan akan meningkat jika Anak
Perusahaan memperoleh laba bersih dan akan menurun atau berkurangnya nilainya, jika Anak
Perusahaan menderita kerugian.
Meskipun Laporan Keuangan Konsolidasi hasil penerapan metode ekuitas ini
nantinya akan sama dengan penerapan metode biaya, namun lembar kerja konsolidasi beserta
jurnal untuk penyesuaian dan eliminasi akan berbeda. Harus memperhatikan pengaruh
perubahan modal anak Perusahaan terhadap hak pemilikan Induk Perusahaan.
Beberapa perkiraan (account) yang perlu diperhatikan antara lain:

1. Perkiraan Investasi Saham dalam Anak Perusahaan


Akan berubah jumlahnya apabila Anak Perusahaan melaporkan adanya Laba Rugi atau
pembagian Dividen.
2. Perkiraan Kas
Akan berubah jumlahnya apabila Induk Perusahaan melaporkan adanya Laba Rugi atau
pembagian Dividen.
3. Perkiraan Piutang Dividen Anak Perusahaan
Timbul karena perusahaan mengumumkan Dividen namun belum dibayar.Perkiraan ini harus
dihapuskan apabila telah dibayar tunai (kas).
4. Perkiraan Laba yang ditahan (Retained Earning) Induk Perusahaan
Akan berubah jumlahnya apabila Anak Perusahaan melaporkan adanya Laba atau Rugi.
Selain itu akan berubah juga karena adanya Laba atau Rugi milik Induk Perusahaan sendiri.
5. Perkiraan Laba yang ditahan (Retained Earning) Anak Perusahaan
Akan berubah jumlahnya apabila ada Laba Rugi atau pembagian Dividen pada Anak
Perusahaan sendiri.
Perkiraan-perkiraan diatas, dalam Kertas Kerja (Worksheet) penyusunan Laporan Keuangan
Konsolidasi harus sudah menunjukkan Saldo Akhir pada Laporan Keuangan Konsolidasi,
artinya sudah diperhitungkan perubahan jumlahnya.

METODE EKUITAS -TAHUN AKUISISI


Contoh: PT Panji membayar Rp 87.000.000,- untuk memperoleh 80% saham PT Saka yang
beredar pada tanggal 1 Januari 195 ketika kreutiotas pemegang saham PT Saka terdiri dari
Modal saham Rp 60 juta dan laba ditahan Rp 340 juta.
Kelebihan biaya nvestasi terhadap nilai buku Rp 15 juta (87 juta -(90 juta x 80%) dialokasikan
pada goodwill dengan periode amortisasi 10 tahun, dan laba bersdih dan dividen PT Saka
adalah sebagai:

195

196

Laba bersih

Rp 25 juta

Rp 30 juta

Dividen

15 juta

15 juta

Laporan keuangan PT PANJI dan PT SAKA untuk tahun berjalan 19X5 disajikan dalam dua kolom
pertama kertas kerja pada peraga 4-1. Pendapatan PT PANJI dari PT SAKA sebesar Rp
18.500.000 terdiri dari 80 persen dari laba bersih PT SAKA tahun 19X5 sebesar Rp 25.000.000
dikurangi dengan amortisasi good-will sebesar Rp 1.500.000. Dan akun investasi pada PT SAKA
pada tanggal 31 Desember 19X5 sebesar Rp 93.500.000 terdiri dari biaya investasi sebesar Rp
87.000.000 ditambah dengan pendapatan dari PT SAKA sebesar Rp 18.500.000, dikurangi
dengan dividen yang diterima dari PT SAKA selama tahun 19X5 Rp 12.000.000
Rangkaian Ayat Jurnal Kertas Kerja

Sejak kompleksitas konsolidasi ditemui, rangkain penyesuaian dan eliminasi kertas kerja
diperluas sebagai berikut :
1.

Penyesuaian kesalahan & kelalaian pada laporan terpisah perusahaan induk


anak

2.

Mengeliminasi laba & rugi antar perusahaan.

3.

Mengeliminasi pendapatan & deviden dri perusahaan anak dan menyesuaikan


investasi pd perusahaan anak di saldo awal periode

4.

Eliminasi saldo investasi pd perusahaan anak & ekuitas perusahaan anak yg


resiprokal

5.

Alokasi & amortisasi diferensial biaya/nilai buku (dri lngkah 4)

6.

f.

Eliminasi saldo yang resiprokal lainnya.

Contoh untuk konsolidasi PT Panji PT Saka dimasukan ke dalam ayat jurnal kertas kerja
berikut ini :

Pendapatan hak minoritas

Rp5.000.000

Devein

Rp3.000.000

Hak minoritas

Rp2.000.000

Perhatikan bahwa saldo investasi pda perusahaan anak selalu dieliminasi ketika suatu
perusahaan anak dikonsolidasi. Demikianpula, pendapatan investasi dari perusahaan anak yang

dikonsolidasikan selalu dieliminasi. Laba bersih konsolidasi dihitung dengan mengurangi


pendapatan konsolidasi dengan beban-beban konsolidasi dan pendapatan hak minoritas. Laba
ditahan konsolidasi pada akhir periode dihitung dlam kertas kerja sebagai penjumlahan
labaditahan konsolidasi awal dan laba bersih konsolidasi dikurangi dengan deviden perusahaan
induk.
Cara menyusun kertas kerja :
Kertas kerja adalah suatu daftar pencatatan neraca saldo, ayat jurnal penyesuaian, neraca saldo
disesuaikan, rugi/ laba, dan neraca aktif, sebagai alat bantu menyusun laporan keuangan
selama satu periode akuntansi.
1) Membuat kolom AJP (Ayat Jurnal Penyesuaian) dan kertas kerja
2) Memindahkan neraca saldo ke dalam kertas kerja
3) Menyusun ayat jurnal penyesuaian
4) Memindahkan AJP (Ayat Jurnal Penyesuaian) ke dalam kertas kerja
5) Menyesuaikan neraca saldo dan AJP (Ayat Jurnal Penyesuaian) ke dalam kolom neraca saldo
disesuaikan
6) Memindahkan akun nominal ke dalam kolom Rugi/ Laba.
7) Memindahkan akun riil ke dalam kolom neraca akhir
8) Menetukan rugi/ laba, apabila lebih banyak debet, maka perusahaan rugi. Jika banyak kredit,
maka perusahaan laba.

Contoh:
Kantor Akuntan Publik DewiMarta&Co mencatat data keuangan dalam neraca saldo, per 31
Desember 2010, sebagai berikut

Kantor Akuntan Publik (Public Accountan Firm) DewiMarta&Co


Neraca Saldo (Trial Balance)
31 Desember 2010
No.

Nama Akun (Name of Account)

Debet

Credit

Code
111

Kas (Cash)

Rp5.700.000

112

Piutang usaha (account receivable)

Rp1.450.000

113

Perlengkapan (Equipment)

Rp1.100.000

121

Peralatan (Tools)

Rp2.400.000

114

Asuransi dibayar dimuka (prepaid


insurance)

Rp900.000

115

Surat berharga (marketable securities)

Rp5.000.000

121

Akumlasi Peralatan (Tools


accumulation)

123

Gedung (Build)

Rp25.500.000

122

Kendaraan (vehicle)

Rp59.350.000

211

Utang usaha (business debt)

Rp950.000

212

Utang bank (bank debt)

Rp10.000.000

311

Modal (Capital)

Rp69.250.000

411

Pendapatan jasa (income)

Rp250.000

421

Pendapatan bunga (interest income)

Rp23.150.000

422

Pendapatan sewa (rent income)

Rp2.400.000

511

Beban gaji (salaries expenses)

Rp2.200.000

512

Beban iklan (advertising expense)

Rp300.000

513

Beban telepon (telephone expense)

Rp550.000

514

Beban listrik (load electric)

Rp450.000

515

Beban lain-lain (load other)

Rp600.000

516

Beban administrasi dan umum (general


and administration expenses)

Rp500.000
Rp106.000.000

Rp160.000.000

Data penyesuaian, per 31 Desember 2010, sebagai berikut:


1) Perlengkapan yang terpakai selama periode berjalan: Rp650.000
2) Penyusutan peralatan ditetapkan: 5%
3) Penyusutan gedung dan kendaraan ditetapkan: 10%
4) Asuransi telah digunakan selama satu bulan untuk jangka waktu satu tahun.

DewiMarta&Co

Ayat Jurnal penyesuaian (Adjusted entries)


31 Desember 2010
Tgl
(Date)

Nama Akun (Name Account)

Ref

Debet

Credit

Beban Pemakaian Perlengkapan (use for


supplies expenss)

505

Rp650.000

Perlengkapan kantor (equipment office)

103

Rp650.000

Beban penyusutan peralatan (load tools


depreciation)

517

Rp120.000

Akumulasi penyusutan peralatan


(accumulation tools depreciation)

121-1

Rp120.000

Beban penyusutan gedung (load build


depreciation)

518

Rp2.550.000

Akumluasi penyusutan gedung


(accumulation build depreciation)

121.1

Rp2.550.000

Beban penyusutan kendaraan (load


vehicle depreciation)

519

Rp5.935.000

Akumulasi penyusutan kendaraan


(accumulation vehicle depreciation)

122-1

Rp5.935.000

Beban asuransi (insurance expense)

521

Rp75.000

3(a)

3(b)

Asuransi dibayar dimuka (prepaid


insurance)

Rp75.000
Rp9.330.000

Rp9.330.000

METODE EKUITAS PADA TAHUN SETELAH AKUISISI


Jika PT PANJI mempertahankan 80% kepemilikannya pada PT Meranti sepanjang tahun 2004,
mencatat pendapatan dari PT SAKA sebesar Rp22.500.000.000 untuk tahun tersebut (80% dari
Rp30.000.000.000 laba bersih PT SAKA dikurangi dengan amortisasi hak paten sebesar
Rp1.500.000.000. pada tanggal 31/12/2004, PT PANJI pada PT SAKA mempunyai saldo sebesar
Rp 104.000.000

Biaya investasi 1/1/2003


Pendapatan dari PT SAKA-2003
Dividen dari PT SAKA-2003
Investasi pada PT SAKA 31/12/2003

Rp87.000.000.000
18.500.000.000
(12.000.000.000)
Rp93.500.000.000

Pendapatan dari PT SAKA-2004

22.500.000.000

Dividen dari PT SAKA-2004

(12.000.000.000)

Investasi pada PT SAKA 31/12/2004

Rp104.000.000.000

Transaksi antara PT PANJI dan PT SAKA selama tahun 2004 hanya pinjaman tanp bunga pada PT
SAKA selama triwulan terakhir tahun tersebut sebesar Rp10.000.000.000.
Kertas kerja konsolidasi PT PANJI dan PT SAKA untuk tahun 2004 disajian berikut ini:
PT PANJI DAN PERUSAHAAN ANAK
KERTAS KERJA KONSOLIDASI UNTUK TAHUN BERAKHIR 31 DESEMBER 2004 (Dalam jutaan rupiah)

Penyesuaian &
Keterangan

Eliminasi

PT

PT

PANJI

SAKA

Laporan L/R :
3000

7500

00

Pendapatan
2250
0

a)

Pendapatan dari Meranti

22500
-

2440

4500

00

d)150

Beban-beban

Beban hak minoritas

b)600

(Rp30 M x 20%)

Laba bersih

0
7850

3000

Laba Ditahan:
4350

4000

Saldo laba ditahan awal

c)400
00

7850

3000

4500

1500

(+) Laba bersih

(-) dividen

a)120
00

7700

5500

Saldo laba ditahan akhir

b)300
0

Neraca:
4600

2000

Kas
1000
0

e)100

Piutang wesel PT Meranti

00
9700

7000

Aktiva lancar lainnya


1040
00
Investasi pada PT Meranti

a)105
00
c)935
00

3000

1000

00

00

6000

4000

Pabrik dan peralatan

Akumulasi penyusutan

Hak paten
4970

1500

00

00

c)135

d)150

00

Saldo aktiva

1000
0

Hutang wesel pada PT


GKM

e)100
00

7000

2500

3500

6000

00

Kewajiban

Modal saham

c)600
00

7750

5500

4970

1500

00

00

Saldo laba

Saldo kewajiban & modal

Hak monoritas 1/1

c)200

(Rp90M x 20%)

00

b)300
Hak minoritas 31/12

Jurnal Eliminasi yang harus dibuat oleh PT PANJI terkait dengan laporan konsolidasi untuk
tahun 2004 yang dibuat adalah sbb:
a)

Untuk mengeliminasi pendapatan dan dividen dari PT SAKA serta mengembalikan saldo

investasi ke awal periode.


Pendapatan dari PT SAKA
Dividen PT SAKA..

Rp22.500.000.000
Rp12.000.000.000

Investasi pada PT SAKA..


b)

Untuk mencatat bagian hakminoritas atas pendapatan dan dividen anak perusahaan

Beban hak minoritas.


Dividen PT SAKA
Hakminoritas..
c)

10.500.000.000

Rp6.000.000.000
Rp3.000.000.000
3.000.000.000

Untuk mengeliminasi saldo ekuitas daninvestasi yang resiprokal, membentuk hak

minoritas awal danmencatat hak paten yang belum diamortisasi.


Modal saham PT SAKA..

Rp60.000.000.000

Laba ditahan PT SAKA

40.000.000.000

Hak paten..

13.500.000.000

Investasi pada PT SAKA

Rp93.000.000.000

Hakminoritas ..

20.000.000.000

d)

Untuk mencatat amortisasi hak paten tahun ini

Beban-beban amortisasi Hak paten..


Hak paten.
e)

Rp1.500.000.000

Rp1.500.000.000

Untuk mencatat eliminasi saldo piutang dan hutang yang resiprokal

Hutang wesel Rp10.000.000.000


Piutang wesel.

Rp10.000.000.000

Contoh Laporan Keuangan Konsolidasi saat akuisisi:


PT. Raihan membeli semua saham PT. Ramadhan dengan kas sebesar Rp600.000,- tunai.
Diasumsikan, nilai wajar/harga pasar PT. Ramadhan sama dengan nilai bukunya pada
tanggal penggabungan.
Neraca kedua perusahaan sebelum tanggal akuisisi adalah sebagai berikut:

Dari neraca diatas, dapat diketahui bahwa total saham yang diperoleh adalah 400.000 +
200.000 = 600.000.
Perhitungannya adalah sebagai berikut:

Karena nilai wajar/harga pasar dan nilai bukunya sama, maka tidak ada selisih, dan tidak
ada pengakuan terhadap goodwill.

Selanjutnya transaksi pembelian saham PT. Ramadhan ini dicatat dalam jurnal seperti
berikut:
(a)

Investasi di PT. Ramadhan (Db)

Kas (Kr)

600.000
600.000

(Mencatat pembelian saham PT. Ramadhan)


Dalam hal ini, tidak ada penambahan aset (aktiva) maupun kewajiban, melainkan dicatat
sebagai Investasi saja karena yang diakuisisi hanya sahamnya saja, dimana nilai
saham seharga 600.000 tersebut merupakan cerminan dari nilai net aset atau aktiva
bersihnya juga. Disini, hak pengendali diperoleh dengan membeli saham PT. Ramadhan.
Berikut ini adalah neraca kedua perusahaan setelah akuisisi:

Perlu diingat bahwasannya neraca konsolidasi ini dibuat oleh PT. Raihan adalah untuk
menyatukan laporan keuangan dua perusahaan yang sebelumnya terpisah. Transaksi
investasi ini merupakan transaksi antar perusahaan yang ada dalam satu grup, maka
harus dieliminasi. Sehingga perlu membuat jurnal sebagai berikut:
(a)

Saham PT. Ramadhan (Db)

Laba di Tahan (Db)


Investasi di PT. Ramadhan (Kr)
(mencatat eliminasi di PT. Ramadhan)

400.000
200.000
600.000

Kemudian dibuat kerja kertas kerja konsolidasi:

Dan setelah kertas kerja selesai dibuat dengan diikutsertakan eliminasi, Neraca
Konsolidasi PT. Raihan akan tampak seperti berikut:

KONSOLIDASI DENGAN METODE EKUITAS TIDAK LENGKAP


Jika metode ekuitas diterapkan secara benar, laba bersih perusahaan induk adalah sama
dengan laba bersih konsolidasi, dan laba ditahan perusahaan induk adalah sama dengan laba
ditahan konsolidasi. Persamaan tersebut tidak ada jika metode ekuitas diterapkan tidak secara
benar, atau jika akuntansi metode cost digunakan untuk investasi perusahaan anak.

Jika metode ekuitas diterapkan secara benar ,laba bersih perusahan induk adalah sama
dengan laba bersih konsolidasi,dan saldo laba perusahaan induk adalah sama dengan saldo
laba konsolidasi. Persamaan jumlah laba dan saldo laba perusahaan induk dan konsolidasi ini
tidak selalu ada. Persamaan tersebut tidak ada jika metode ekuitas diterapkan tidak secara
benar,atau jika akuntansi metode biaya digunakan untuk investasi perusahaan anak.

Contohnya, perusahaan induk dalam menerapkan akuntansi metode ekuias mungkin


mengamortisasikan perbedaan antara investasi dan nilai buku yang diperoleh pada buku
terpisah perusahaan induk, atau mungkin tidak mengeliminasi laba atau rugi antarperusahaan.Kelalaian-kelalaian seperti itu menyebabkan tidak lengkapnya penerapan
akuntansi metode ekuitas. Kesalahan-kesalahan lain dalam penerapan metode ekuitas
menyebabkan salah saji yang seruppa dalam laba dan saldo laba perusahaan induk.
Masalah yang timbul dari salahnya penerapan metode ekuitas atau menggunakan metode
biaya untuk investasi perusahaan anak mugkin tidak seserius yang terlihat. Hal ini
dikarenakan akuntan harus menyiapkan laporan keuangan konsolidasi yang benar dengan
mengabaikan bagaimana perusahaan induk mempertanggungjawabkan investasinya pada
perusahan anak. Tidak ada pelanggaran terhadap prinsip akuntansi yang berlaku umum
sepanjang laporan keuangan konsolidasi yang disiapkkan bagi pemegang saham benar dan
perusahaan induk/investor tidak menerbitkan laporan keuangan yang telah diaudit yang lain.
Tetap digunakannya metode biaya atau metode ekuitas tidak lengkap oleh beberapa
perusahaan didasarkan pada asumsi bahwa penerbitan laporan keuangan konsolidasi hanya
sebagai laporan keuangan yang disiapkan bagi para pemegang saham dari entias utama.

konsolida
METODE EKUITAS TIDAK LENGKAP-TAHUN AKUISISI
Ekuitas tidak lengkap perlu diterapkan jika terdapat ketidak cocokan antara akun-akun
resiprokal PT Induk dan PT Anak. Misalnya Jika metode ekuitas diterapkan secara benar maka
laba bersih perusahaan induk akan sama dengan laba bersih konsolidasi, dan laba ditahan
perusahaan induk akan sama dengan laba ditahan konsolidasi.
Misalkan laporan keuangan PT P dan PT S per 31/12-195 terlihat dalam dua kolom pertama KK
konsolidasi di bahwa ini. Berdasarkan data tersebut maka selengkapnya dapat dibuat KK
konsolidasi sebagai berikut pada tahun akuisisi:
Metode Ekuitas Tidak Lengkap pada Tahun Setelah Akuisisi

1.

Pendapatan dari PT SAKA

Rp24.000.000

Dividen

Rp12.000.000

Investasi pada PT SAKA

12.000.000

Untuk membentuk saldo resiprokal pada awal periode


1.

Laba ditahan-PT SAKA

Rp40.000.000

Modal Saham-PT SAKA

60.000.000

Goodwill

15.000.000

Investasi pada PT SAKA

Rp95.000.000

Hak minoritas

20.000.000

Untuk mengeliminasi jumlah ekuitas dan investasi yang resiplokal, membentuk hak minoritas
pada awal periode, dan menetapkan goodwill pada akuisisi.

1.

Beban-beban

Laba ditahan-PT SAKA


Goodwill

Rp1.500.000
1.500.000
3.000.000

Untuk menyesuaikan beban untuk mereflesikan amortisasi goodwill sekarang dan


membebankan laba ditahan PT PANJI atas kelalaian amortisasi goodwill tahun 19X5

1.

Wesel bayar-PT PANJI

Wesel tagih-PT SAKA

Rp10.000.000
10.000.000

Untuk mengeliminasi jumlah wesel bayar dan wesel tagih yang resiprokal

KONSOLIDASI DENGAN METODE BIAYA

Pada Metode Biaya, yang dipakai untuk mencatat investasi saham-saham Anak
Perusahaan, maka hanya dividen atas saham-saham tersebut (yang telah dibagikan oleh Anak
Perusahaan) yang diakui sebagi pendapatan (revenue) oleh Induk Perusahaan. Sebaliknya
laba atau rugi atas pemilikan modal (saham) hanya timbul apabila sebagian atau seluruh
jumlah saham yang dimiliki tersebut dijual.

Pada metode biaya bagian dividen yang dibagikan oleh Anak Perusahaan dicatat pada sisi
debit dalam rekening Piutang Dividen (Kas), dengan rekening lawan kredit Penghasilan
Dividen.
Beberapa hal yang harus diperhatikan pada Metode biaya:
1. Perkiraan Investasi Saham pada Anak Perusahaan, tidak mengalami perubahan jumlahnya.
Perubahan modal Anak Perusahaan akibat adanya Laba, Rugi atau pembagian Dividen tidak
mempengaruhi Perkiraan Investasi Saham pada Anak Perusahaan, atau Induk Perusahaan
tidak menyesuaikan Investasinya.
2. Laba atau rugi dari Anak Perusahaan baru diakui oleh Induk Perusahaan sebesar Prosentase
(%) kepemilikannya pada saat disusun Neraca Konsolidasi melalui perkiraan Laba yang
ditahan (Retained Earning) untuk Induk Perusahaan. Perkiraan ini hanya tampak pada
Worksheet penyusunan neraca Konsolidasi.
3. Penghapusan (eliminasi) terhadap perkiraan-perkiraan Modal Saham, Agio Saham dan
Retained Earning Anak Perusahaan hanya didasarkan pada jumlah awal/Saldo Awal tahun
atau Saldo Awal pada saat kepemilikan.
4. Metode Biaya berdasarkan pada asumsi bahwa investasi Induk terhadap Anak Perusahaan
merupakan bagian dari Aktiva.
5. Nilai Investasi harus selalu tetap, karena akan dittampakkan dalam neraca sebesar harga
perolehannya saja.
6. Perubahan nilai aktiva bersih Anak Perusahaan sebagai Konsekuensi dari kegiatan
operasionalnya tidak akan mempengaruhi besaarnya nilai investasi tersebut.

Konsolidasi berdasarkan metode biaya dapat diselesaikan dengan satu dri dua cara yang
tersedia, yaitu :
1.

Metode Biaya-Konversi Menjadi Metode Ekuitas

Tahun akuisisi , dapat diselesaikan dengan mengubah menjadi metode ekuitas pada ayat
jurnal pertama kertas kerja. Ayat-ayat kertas kerja lainnya akan tetap sama dengan metode
ekuitas, perubahan ini dipermudah dengan investasi dicatat pada harga perolehan.
Konversi menjadi ekuitas :
1.

Untuk memperbaiki pendapatan dan investasi yang dipertanggung jawabkan


dengan metode biaya

Pendapata deviden
Investasi pd PT Saka

Rp12.000.000
6.500.000

Pendapatan dri PT Saka


1.

Rp18.500.000

Untuk mengeliminasi pendapatan dan deviden PT Saka & mengembalikan


akun investasi pda saldo awal periode

Pendapatan dri PT Saka

Rp18.500.000

Deviden

Rp12.000.000

Investasi pd PT Saka
1.

6.500.000

Untuk mencatat saldo investasi ddan ekuitas resiprokal, membentuk hak


minoritas awal, dan mencatat goodwill yg belum diamortisasi

Laba ditahanPT Saka


Modal saham-PT Saka

Rp30.000.000
60.000.000

Goodwill

15.000.000

Investasi pd PT Saka
Hak minoritas

Rp87.000.000
18.000.000

Tahun setelah Akuisisi konversi biaya menjadi ekuitas dalam kertas kerja konsolidasi lebih
kompleks pada periode-periode setlh thn akuisisi dimna investasi perusahaan anak diperoleh.
Ayat-ayat jurnal kertas kerja lainnya untuk thn 19X6sama seperti yg dilustrasikan untuk
metode ekuitas. Jika perusahaan mengubah metode biaya menjadi ekuitas, perusahaan induk
dpat mencatat ayat jurnal pada buku terpisahnya sebelum jurnal penutup thn 19X6.
1.

Metode Biaya-Metode Tradisional

Tahun Akuisisi, prosedur-prosedur konsolidasi untuk thn 19X6 adalah sama seperti yang
diilustrasikan untuk PT Panji dan 80% kepemilikannya pd perusahaan anak, PT Saka.
Tahun Setelah Akuisisi, perbedaan-perbedaan yang lebih signifikan dalm prosedur kertas kerja
ini, didasari metode biaya maupun metode ekuitas, untuk mempertanggung jawabkan investasi
perusahaan anak, yang terjadi pd periode-periode setelah thn investasi diperoleh.
MENEMUKAN LETAK KESALAHAN
kesalahn-kesalahan konsolidasi laporan keuangan akan tampak ketika neraca konsolidasi tidak
seimbang. Jika neraca konsolidasi tetap tidak seimbang nilai total dihitung kembali dimasingmasing point harus diperiksa untuk memastikan bahwa point tersebut telah dicatat. Kelalaian

mencatat pendapatan hak minoritas dan ekuitas sering terjadi karena point ini tidak terlihat
pada laporan terisah perusahaan. Persamaan debit dan kredit pada ayat jurnal kertas kerja
diperiksa dengan menjumlahkan kolom penyesuaian dan eliminasi.
bagian terakhir dari konsolidasi telaah kertas kerja yang harus diselesaikan adalah bagian
neraca konsolidasi. sebagian besar kesalahan yang dibuat dalam mengkonsolidasikan laporan
keuangan akan muncul ketika neraca konsolidasi tidak seimbang. jika neraca konsolidasi gagal
untuk menyeimbangkan setelah recomputing total, kita harus mengecek setiap item untuk
memastikan bahwa semua item telah incuded. kelalaian yang melibatkan pangsa bunga
noncontrolling dalam laporan laba rugi konsolidasi dan ekuitas bunga noncontrolling pada
neraca konsolidasi sering occure karena barang-barang ini tidak muncul pada laporan terpisahperusahaan. kita memeriksa kesetaraan debit dan kredit dalam entri kertas kerja dengan total
kolom penyesuaian dan eliminasi. meskipun coding yang tepat dari setiap entri kertas kerja
meminimalkan kesalahan jenis ini, banyak akuntan lebih memilih untuk total kolom
penyesuaian dan eliminasi sebagai prosedur kertas kerja reguler

PENGALOKASIAN KELEBIHAN PADA AKTIVA BERSIH YANG DAPAT


DIIDENTIFIKASI
Prosedur kertas kerja konsolidasi untuk mengalokasikan kelebihan biaya investasi terhadap
nilai buku pada aktiva dan kewajiban yang spesifik serupa dengan preosedur kertas kerja
konsolidasi yg diilustrasikan untuk goodwill. Ayat-ayat jurnalnya lebih kompleks karena lebih
bnyak akun yang dipengaruhi diperlukannya alokasi tambahan, amortisasi, dan penyusutan.
Berdasarkan Pasal 1 angka 10 UU RI Nomor 40 Tahun 2007, peleburan (konsolidasi) adalah
perbuatan hukum yang dilakukan oleh dua perseroan terbatas atau lebih, untuk meleburkan diri
dengan cara mendirikan satu perseroan tebatas yang baru yang karena hukum memperoleh akitva
dan pasiva dari perseroan terbatas yang meleburkan diri dan status badan hukum perseroan tebatas
yang meleburkan diri berakhir karena hukum. Sementara Pasal 1 angka PP Nomor 27 Tahun 1998,
peleburan (konsolidasi), adalah perbuatan hukum yang dilakukan oleh dua perseroan terbatas atau
lebih untuk meleburkan diri dengan cara membentuk satu perseroan terbatas baru dan masingmasing perseroan terbatas yang meleburkan diri menjadi bubar.
Contoh : pembentukan Bank Mandiri yang berasal dari peleburan empat Bank BUMN yang
sedang sekarat akibat dampak krisis moneter 1997/1998, yaitu Bank BDN, Bank Bumi Daya, Bank
Ekspor Impor, dan Bank Bapindo. Kebijakan peleburan empat Bank BUMN tersebut diambil
pemerintah guna menyelematkan bank dari risiko kebangkrutan karena pada saat itu modal keempat
Bank BUMN tersebut sudah negatif.

Akuisisi
Akuisisi perusahaan secara sederhana dapat diartikan sebagai pengambilalihan perusahaan
dengan cara membeli saham mayoritas perusahaan sehingga menjadi pemegang saham pengendali.
Dalam peristiwa akuisisi, baik perusahaan yang mengambil alih (pengakuisisi) maupun perusahaan
yang diambil alih (diakuisisi) tetap hidup sebagai badan hukum yang terpisah.
Pengambilalihan perusahaan (akuisisi), sesuai Pasal 1 angka 11 UURI Nomor 40 Tahun 2007
tentang Persoroan Terbatas, adalah perbuatan hukum yang dilakukan oleh badan hukum atau orang
perseorangan untuk mengambil alih saham perseroan yang mengakibatkan beralihnya pengendalian
atas perseroan tersebut. Sementara itu, pengambilalihan (akuisisi), sesuai pasal 1 angka 3 PP Nomor
27 Tahun 1998, adalah perbuatan hukum yang dilakukan oleh badan hukum atau orang perseorangan
untuk mengambilalih perusahaan baik seluruh ataupun sebagian besar saham perseroan yang dapat
mengakibatkan beralihnya pengendalian terhadap perseroan tersebut.
Pengambilalihan (akuisisi), sesuai pasal 1 angka 3 PP Nomor 57 Tahun 2010, adalah perbuatan
hukum yang dilakukan oleh pelaku usaha untuk mengambilalih saham badan usaha yang
mengakibatkan beralihnya pengendalian atas badan usaha tersebut. Pelaku usaha, sesuai dengan
pasal 1 angka 8 PP Nomor 57 Tahun 2010, adalah setiap orang perorangan atau badan usaha baik
yang berbentuk badan hukum maupun bukan badan hukum yang didirikan dan berkedudukan atau
melakukan kegiatan dalam wilayah hukum negara Republik Indonesia, baik sendiri maupun bersamasama melalui perjanjian menyelenggarakan berbagai kegiatan usaha dalam bidang ekonomi.
Contoh : pengambilalihan saham mayoritas pabrik rokok asal Indonesia (PT HM Sampoerna)
oleh perusahaan rokok asal Amerika (Philip Morris Ltd). Akibat akuisisi tersebut, kendali perusahaan
PT HM Sampoerna tidak lagi berada di tangan keluarga besar Sampoerna tetapi sudah beralih tangan
Philip Morris Ltd.

b. Langkah yang perlu dilakukan direksi adalah (PP Nomor 27 Tahun 1998) :
Pihak yang akan mengakuisisi PT menyampaikan maksud dan tujuannya kepada Direksi PT
yang akan diakuisisi. Pihak Pengakuisisi dapat berbentuk PT, Koperasi, Yayasan, CV, Firma, atau
Perorangan.
Direksi PT yang akan diakuisisi dan Pihak Pengakuisisi masing-masing menyusun Usulan
Rencana Akusisi. Usulan Rencana Akusisi wajib mendapat persetujuan Komisaris PT yang akan
diakuisisi atau lembaga serupa dari Pihak Pengakuisisi.

Usulan Rencana Akusisi digunakan sebagai bahan penyusunan Rancangan Akuisisi yang
disusun secara bersama-sama antara Direksi PT yang akan diakuisisi dengan Pihak Pengakuisisi.
Ringkasan rancangan Akuisisi wajib diumumkan Direksi PT Pengakuisisi dalam 2 surat kabar harian
serta diberitahukan secara tertulis kepada karyawan PT Pengakuisisi paling lambat 14 hari sebelum
pemanggilan RUPS.
Rancangan akuisisi wajib disetujui RUPS dari PT yang akan diakuisisi. Rancangan akuisisi juga
harus disetujui oleh pemegang kekuasaan dari Pihak Pengakuisisi. Apabila pihak pengakuisisi
berbentuk PT, maka rancangan akusisi harus disetujui RUPS. Pada pihak pengakuisisi berbentuk
koperasi. Jika pihak pengakuisisi berbentuk yayasan maka rancangan akusisi harus disetujui rapat
dewan pembina yayasan. Disetujui oleh para sekutu atau pemilik CV dan Firma.
Rancangan Akuisisi yang telah disetujui selanjutnya dituangkan dalam Akta Akuisisi yang
dibuat di hadapan notaris dan ditulis dalam bahasa Indonesia. Akta Akuisisi yang sudah disahkan
Notaris selanjutnya didaftarkan kepada Menkumham.
Apabila Akuisisi PT diikuti perubahan Anggaran Dasar (AD) yang membutuhkan persetujuan
Menkumham, maka akuisisi dianggap mulai berlaku sejak tanggal persetujuan AD oleh Menkumham.
Apabila akuisisi dalam Daftar Perusahaan. Di sisi lain, apabila akuisisi PT tidak mengakibatkan
perubahan AD, maka akuisisi dianggap mulai berlaku sejak tanggal penandatanganan akta akuisisi di
hadapan notaris.

c. Akibat hukum dari akuisisi yaitu beralihnya hak dan kewajiban suatu perusahaan yang diakuisisi
kepada pengakuisisi. Pemegang saham yang tidak setuju atas pengambilalihan persoran, diberikan
hak khusus yang disebut appraisal right, yaitu hak milik pemegang saham yang tidak setuju terhadap
keputusan RUPS untuk menjual sahamnya kepada perseroan dengan harga wajar. Pemegang saham
yang tidak setuju terhadap keputusan RUPS mengenai MKAPP hanya boleh menggunakan haknya
sesuai pasal 62 UU RI Nomor 40 tahun 2007, dan pelaksanaan hak tersebut tidak menghentikan
proses pelaksanaan MKAPP.

d. Apabila akuisisi PT diikuti dengan perubahan AD yang membutuhkan persetujuan Menkumham,


akuisisi dianggap mulai berlaku sejak tanggal persetujuan AD oleh Menkumham. Apabila akusisi PT
disertai perubahan AD yang tidak memerlukan persetujuan Menkumham, akusisi dianggap mulai
berlaku sejak tanggal pendaftaran akta akuisisi dalam daftar perusahaan. Di sisi lain, apabila akuisisi

PT tidak mengakibatkan perubahan AD, akuisisi dianggap mulai berlaku sejak tanggal
penandatanganan Akta akuisisi di hadapan notaris.

Konsolidasi Pada Saat Akuisisi, kertas kerja konsolidasi perusahaan induk dan anak setelah
penggabungan usaha, karena kelebihan biaa terhadap nilai buku cukup kompleks, maka akun
kelebihan yang belum diamortisasikan digunakan dalam kertas kerja.
Konsolidisi Setelah Akuisisi, setelah mencatat akun-akun yang sebelumnya perusahaan
melanjutkan mencatat akun deviden,goodwill yang diamortisasi pada kertas kerja konsolidasi.
Ayat-ayat jurnal kertas kerjanya lebih kompleks karena lebih banyak akun yang dipengauhi dan
diperlukannya alokasi tambahan, amortisasi, dan penyusutan.
FORMAT KERTAS KERJA NERACA PERCOBAAN
Pendekatan neraca saldo untuk kertas kerja konsolidasi berasal dari neraca-neraca setelah
penyesuaian perusahan-perusahaan afiliasi. Baik pendekatan laporan keuangan maupun
pendekatan neraca saldo menghasilkan informasi yang sama, sesuai pilihan dari pemilik
perusahaan. Ayat jurnal kertas kerja untuk menyiapkan laporan keuangan konsolidasi
menggunakan format neraca saldo adalah sama dengan kertas kerja untuk menyiapkan laporan
keuangan konsolidasi menggunakan pendekatan laporan keuangan. Akun neraca saldo
diklasifikasikan menjadi debit dan kredit, maka penempatan akun-akun tersebut berbeda bila
dibandikan dengan peenempatan akun dalam format laporan keuangan.

KESIMPULAN
Tujuan penyiapan kertas kerja: untuk menghasilkan laporan keuangan yang berguna bagi
entitas usaha yang dikonsolidasikan. Kertas kerja hanyalah alat untuk mengatur dan
memanipulasi data.
Sebelum mengkonsolidasikan sebuah pperusahaan induk & anak, kita harus tahu metode apa
yang akan digunakan. Setelah itu, penyesuaian yang tepat dibuat pada kertas kerja untuk
menghasilkan laporan keuangan konsolidasi yang benar. Secara umum, perbedaan neraca lajur
akibat dari pnggunaan metode yang berbeda-beda pada perusahaan induk & anak, tidaklah
besar adanya.