Anda di halaman 1dari 21

CASE BANGSAL

DIARE AKUT

Pembimbing:
Dr. Charles Anthony, Sp. A

Oleh:
Shitta Devi N.P (06-134)

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN ANAK


PERIODE 2 MEI 25 JUNI 2011
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS KRISTEN INDONESIA
JAKARTA
KASUS BANGSAL
IDENTITAS PASIEN

Nama

: An. A

Tanggal Lahir (Umur)

: 9 bulan

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Alamat

: JL.Auri RT 10/01
Cakung Timur, Jak-Tim

Agama

: Islam

Hubungan dengan Orangtua

: Anak kandung

RIWAYAT PENYAKIT (Alloanamnesis)


Keluhan Utama

: Mencret sejak 3 hari yang lalu

Keluhan Tambahan

: Muntah, demam

Riwayat Perjalanan Penyakit

3 hari SMRS pasien mencret. Kotoran cair berwarna kuning kehijauan, tidak
ada ampas, tidak ada lendir dan darah. Mencret 10x kira-kira sebanyak 1/2 gelas
aqua. Menurut ibu pasien, kotoran berbau amis dan pantat pasien berwarna merah.
Pasien juga mengalami muntah-muntah 2 hari SMRS. Muntah sebanyak 2-3x, berisi
cairan. Muntah terjadi tiap pasien diberi minum, muntah tidak menyemprot.
Sebelum muntah, pasien makan bubur ayam yang diberi kuah santan
Menurut ibunya, sebelumnya pasien tidak pernah makan bubur ayam dengan
menggunakan santan. Pasien juga mengalami demam.
Pasien lalu dibawa oleh ibunya ke RSUD Bekasi. Selama sakit pasien tidak
mau makan.Saudara kembar pasien juga mengalami keluhan seperti yang dialami
pasien.

RIWAYAT KEHAMILAN DAN KELAHIRAN


KEHAMILAN
Perawatan Antenatal

: teratur (Bidan)

Penyakit Kehamilan

: disangkal

KELAHIRAN
Tempat Kelahiran

: Klinik

Penolong Persalinan

: Bidan

Cara Persalinan

: Spontan pervaginam

Masa Gestasi

: Cukup bulan (35 Minggu)

Keadaan Bayi

Berat badan lahir

: 3000 gram

Panjang badan lahir

: 45 cm

Lingkar kepala

: Ibu pasien tidak tahu

Langsung menangis

Nilai APGAR

: Ibu pasien tidak tahu

Kelainan bawaan

: disangkal

RIWAYAT PERKEMBANGAN

Pertumbuhan gigi pertama

Psikomotor

: 5 bulan

- Duduk

: 6 bulan

- Jalan sendiri

: -

- Bicara

: -

- Membaca

: -

- Berbicara

: -

- Membaca

: -

Gangguan perkembangan

: disangkal

RIWAYAT IMUNISASI
BCG

: 0 bulan

DPT

:-

Polio

:-

Campak

:-

Hepatitis B

:-

Kesan : Imunisasi dasar tidak lengkap, karena ibu pasien takut atau tidak tega jika
anaknya di suntik
RIWAYAT PENYAKIT YANG PERNAH DIDERITA

Pasien tidak pernah mengalami sakit seperti ini.

RIWAYAT KELUARGA
Corak Reproduksi
No Tanggal lahir

Jenis

1.
2
3

Kelamin
Perempuan
Laki-laki
Laki-laki

6 tahun
9 bulan
9 bulan

Hidup

Lahir

Mati
-

Abortus Mati Keterangan


-

Kesehatan
mencret
mencret

Data Keluarga
Keterangan
Perkawinan ke
Umur saat menikah
Konsanguitas
Keadaan kesehatan

Ayah
1
31 tahun
Disangkal
Sehat

Ibu
1
25 tahun
Disangkal
Sehat

Riwayat Penyakit Dalam Keluarga

Disangkal

Riwayat Penyakit Pada Anggota Keluarga lain/Orang Serumah

Saudara kembar pasien mengalami hal serupa dengan pasien.

Data Perumahan
Kepemilikan Rumah

: Rumah pribadi

Keadaan Rumah

Rumah hanya terdiri dari satu lantai yang terdiri dari 2 kamar tidur, 1 ruang
tamu, 1 dapur, 1 kamar mandi dan mempunyai halaman yang tidak luas.

Rumah beratapkan genteng yang terbuat dari batu bata, mempunyai tembok
yang terbuat dari bata, dan semen yang dicat serta lantai dari keramik.

Ventilasi terdiri dari 3 buah jendela di ruang tamu, 1 jendela di tiap kamar
tidur.

Sumber Air

: PAM

Keadaan Lingkungan :

Berupa kompleks perumahan

Terdapat tempat pembuangan sampah

Keadaan di sekeliling rumah bersih.

PEMERIKSAAN FISIK
Tanggal

: 12 Mei 2011

Jam

: 12.00 WIB

PEMERIKSAAN UMUM
Keadaan Umum

: Tampak sakit sedang

Kesadaran

: Komposmentis

Frekuensi Nadi

: 86 x/menit

Frekuensi Pernafasan

: 39 x/menit

Suhu

: 38C

DATA ANTROPOMETRI
Berat Badan

: 7 Kg

Tinggi Badan

: 60 cm

Lingkar lengan atas

:-

PEMERIKSAAN SISTEMATIS
KEPALA

Bentuk

: Bulat

Rambut dan kulit kepala

: Rambut hitam, tidak mudah dicabut, distribusi

merata.

Mata

: Kelopak mata tidak cekung, air mata (+), pupil

bulat, isokor, konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-).

Telinga

Hidung

: Normotia, liang telinga lapang/lapang, serumen -/-.


: Bentuk biasa, cavum nasi lapang/lapang,

sekret(-), pernafasan cuping hidung ().

Mulut

: Mukosa bibir kering, lidah kering, tonsil T1-

T1.
5

LEHER

: KGB tidak teraba membesar.

THORAKS

Inspeksi

: pergerakan dinding dada simetris

Palpasi

: Vokal fremitus simetris kanan = kiri

Perkusi

: Sonor kanan = kiri

Auskultasi

: BND vesikuler, ronkhi -/-, wheezing -/BJ I & II normal, murmur -, gallop -

ABDOMEN :

Inspeksi

: Perut tampak kembung

Auskultasi

: Bising usus (+) 7x/menit

Palpasi

: Supel, hepar dan lien tidak teraba membesar, NT (-)

Perkusi

: Hipertimpani

Ekstremitas

: Akral hangat, sianosis -, capillary refill < 2 detik

Kulit

: Turgor cukup

PEMERIKSAAN LABORATORIUM
Tanggal 8 Mei 2011
*Hematologi
Darah rutin
Leukosit

: 16,9 ribu/uL

Eritrosit

: 5,28 juta/Ul

Hemaglobin

: 13,3 g/dl

Hematokrit

: 39,4 %

INDEKS ERITROSIT
- MCV :74,6 Fl
- MCH :25,2 pg
- MCHC

: 33,8 %

Trombosit:485 ribu/Ul

GDS

ELEKTROLIT

Na

:87 Mg/dl
:138 mmol/L

:3,7 mmol/L

CL

:108 mmol/L

RESUME
Seorang pasien laki-laki, usia 9 bulan, BB 7 kg, datang dengan keluhan
mencret kurang lebih 3 hari SMRS. Kotoran cair berwarna kuning kehijauan, tidak
ada ampas, tidak ada lendir dan darah. Mencret 10x kira-kira sebanyak 1/2 gelas
aqua. Menurut ibu pasien, kotoran berbau amis dan pantat pasien berwarna merah.
Pasien jg mengalami muntah-muntah 2 hari SMRS sebanyak 2-3x, berisi
cairan. Muntah terjadi tiap pasien diberi minum, muntah tidak menyemprot. Sebelum
muntah pasien makan bubur ayam yang diberi kuah santan. Menurut ibunya, pasien
sebelumnya tidak pernah makan bubur yang diberi kuah santan. Demam (+). Pasien
tidak pernah mengalami keluhan seperti ini sebelumnya. Saudara kembar pasien
mengalami hal serupa dengan yang pasien alami.
Pemeriksaan sistematis
Mulut

: Mukosa bibir kering, lidah kering, tonsil T1-T1.

Abdomen

Inspeksi

: Perut tampak kembung

Auskultasi

: Bising usus (+) 7x/menit

Palpasi

: Supel, hepar dan lien tidak teraba membesar, NT (-)

Perkusi

: Hipertimpani

Turgor kulit

: Cukup

PEMERIKSAAN LABORATORIUM
*Hematologi
Darah rutin
Leukosit

: 16,9 ribu/uL

Eritrosit

: 5,28 juta/Ul

Hemaglobin

: 13,3 g/dl

Hematokrit

: 39,4 %

INDEKS ERITROSIT
- MCV

:74,6 Fl

- MCH

:25,2 pg

- MCHC

: 33,8 %

-Trombosit

:485 ribu/Ul

- GDS

:87 Mg/dl

ELEKTROLIT
-

Na

:138 mmol/L

:3,7 mmol/L

CL

:108 mmol/L

DIAGNOSIS KERJA
Diare akut dehidrasi ringan-sedang
DIAGNOSIS BANDING
Diare akut dehidrasi ringan-sedang e.c virus
Diare akut dehidrasi ringan-sedang e.c bakteri
ANJURAN PEMERIKSAAN PENUNJANG
Feses lengkap

PENATALAKSANAAN
-

Rawat Inap

IVFD: Kaen 3B 18 tetes/menit

MM/: Ceftriaxone 1x 500 mg


Sanmol 1 cth
L-Bio 3x1 sach
Interzinc 1x1
Ranitidine 2 x 0,3cc

PROGNOSIS
- Ad Vitam

: Bonam

- Ad Sanationum

: Dubia ad Bonam

- Ad Fungtionum

: Bonam

DIARE AKUT
DEFINISI
Diare akut adalah buang air besar pada bayi atau anak lebih dari 3 kali perhari,
disertai perubahan konstitensi tinja menjadi cair dengan atau tanpa lendir dan darah
yang berlangsung kurang dari satu minggu. Dan tidak seperti biasanya.
EPIDEMIOLOGI

Diare masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di negara berkembang termasuk


di Indonesia dan merupakan salah satu penyebab kematian dan kesakitan tertinggi
pada anak, terutama usia di bawah 5 tahun. Di dunia, sebanyak 6 juta anak meninggal
tiap tahunnya karena diare dan sebagian besar kejadian tersebut terjadi di negara
berkembang. Sebagai gambaran 17 % kematian anak di dunia disebabkan oleh diare,
sedangkan di Indonesia, hasil Riskesdas 2007 diperoleh bahwa diare masih
merupakan penyebab kematian bayi yang terbanyak yaitu 42 % dibanding pneumonia
24 %, untuk golongan 1-4 tahun penyebab kematian karena diare 25,2 % dibanding
pneumonia 15,5 %.
ETIOLOGI
Etiologi diare dapat dibagi dalam beberapa faktor, yaitu :
1. Faktor infeksi

Infeksi enteral yaitu infeksi saluran pencernaan yang merupakan penyebab


utama diare pada anak.
Infeksi enteral ini meliputi :
-

Infeksi bakteri : vibrio, E coli, Salmonella, Shigella, dan


Campylobacter, Yersinia, Aeromonas dan sebagainya.

Infeksi

virus

Enteroovirus

(virus

ECHO,

Coxsackie,

Poliomyelitis), Adenovirus, Rotavirus, Astrovirus dan lain-lain.


-

Infeksi

parasit

Strongyloides),

Cacing

Protozoa

(Ascaris,
(Entamoeba

Trichiuris,

Oxyuris,

hystolitica,

Giardia

lamblia, Trichomonas hominis), Jamur (Candida albicans).


Sampai beberapa tahun yang lalu kuman-kuman patogen hanya dapat
diidentifikasi dari 25% tinja penderita diare akut. Pada saat ini dengan
menggunakan tehnik yang baru, tenaga laboratorium yang berpengalaman
dapat mengidentifikasi pada sekitar 75% kasus yang datang ke sarana
kesehatan dan pada sekitar 50% kasus-kasus ringan dimasyarakat.
Beberapa kuman patogen ini adalah penyebab penting diare akut disemua
negara berkembang yaitu:
-

Rotavirus

Escherichia coli enterotoksik

Shigella

10

Campylobacter jejuni

Cryptosporidium

Infeksi parenteral yaitu infeksi di bagian tubuh lain di luar alat pencernaan,
seperti Otitis media akut (OMA), Tonsilofaringitis, Bronkopneumonia,
Ensefalitis dan sebagainya. Keadaan ini terutama terdapat pada bayi dan
anak berumur dibawah 2 tahun.

2. Faktor malabsorbsi

Malabsorbsi karbohidrat : disakarida (intoleransi laktosa, maltosa dan


sukrosa), monosakarida (intoleransi glukosa, fruktosa dan galaktosa). Pada
bayi dan anak yang terpenting dan tersering ialah intoleransi laktosa.

Malabsorbsi lemak

Malabsorbsi protein

3. Faktor makanan : makanan basi, beracun, alergi terhadap makanan


4. Faktor psikologis : rasa takut dan cemas. Walaupun jarang dapat menimbulkan
diare terutama pada anak yang lebih besar.

PATOGENESIS DIARE AKUT


1. Masuknya jasad renik yang masih hidup ke dalam usus halus setelah berhasil
melewati rintangan asam lambung.
2. Jasad renik tersebut berkembang biak (multiplikasi) di dalam usus halus.
3. Oleh jasad renik dikeluarkan toksin
4. Akibat toksin tersebut terjadi hipersekresi yang selanjutnya akan menimbulkan
diare.
Mekanisme diare
Ada 2 prinsip mekanisme terjadinya diare cair : sekretorik dan osmotik. Infeksi usus
dapat menyebabkan diare melalui kedua mekanisme tersebut, diare sekretorik lebih
sering terjadi, dan keduanya dapat terjadi pada satu penderita.
Diare sekretorik

11

Diare sekretorik disebabkan karena sekresi air dan elektrolit ke dalam usus halus yang
terjadi akibat gangguan absorbsi natrium oleh vilus saluran cerna, sedangkan sekresi
klorida tetap berlangsung terus atau meningkat. Keadaan ini mengakibatkan air dan
elektrolit keluar dari tubuh sebagai tinja cair. Diare sekretorik ditemukan pada diare
yang disebabkan oleh infeksi bakteri akibat rangsangan pada mukosa usus oleh toksin
E.coli atau V. Cholera.
Diare osmotik
Mukosa usus halus adalah epitel berpori, yang dapat dilewati air dan elektrolit dengan
cepat untuk mempertahankan tekanan osmotik antara lumen usus dengan cairan
ekstrasel. Oleh karena itu, bila di dalam lumen usus terdapat bahan yang secara
osmotik aktif dan sulit diserap akan menyebabkan diare. Bila bahan tersebut adalah
larutan isotonik, air atau bahan yang larut, maka akan melewati mukosa usus halus
tanpa diabsorbsi sehingga terjadi diare.
Mekanisme patogenesis
Jasad renik menyebabkan diare melalui sejumlah mekanisme antara lain, sebagai
berikut:
Virus
Beberapa jenis virus seperti rotavirus, berkembang biak dalam epitel vili usus halus,
menyebabkan kerusakan sel epitel dan pemendekan vili. Hilangnya sel-sel vili yang
secara normal mempunyai fungsi absorbsi dan penggantian sementara oleh sel epitel
berbentuk kripta yang belum matang, menyebabkan usus mensekresi air dan
elektrolit. Kerusakan vili dapat juga dihubungkan dengan hilangnya enzim
disakaridase, menyebabkan berkurangnya absorbsi disakarida terutama laktosa.
Penyembuhan terjadi bila vili mengalami regenerasi dan epitel vilinya menjadi
matang.
Bakteri

Penempelan dimukosa. Bakteri yang berkembang biak dalam usus halus


pertama-tama menempel pada mukosa untuk menghindarkan diri dari
penyapuan. Penempelan terjadi melalui antigen yang menyerupai rambut
getar, disebut pili atau fimbria, yang melekat pada reseptor dipermukaan usus.

12

Hal ini terjadi pada E. coli enterotoksigenik dan V. cholerae. Pada beberapa
keadaan, penempelan di mukosa dihubungkan dengan perubahan epitel usus
yang menyebabkan pengurangan kapasitas penyerapan atau menyebabkan
sekresi cairan (misalnya infeksi E. coli enteropatogenik atau enteroaggregasi)

Toksin yang menyebabkan sekresi E. coli enterotoksigenik, V. cholerae dan


beberapa bakteri lain mengeluarkan toksin yang menghambat fungsi sel
epitel. Toksin ini mengurangi absorpsi natrium melalui vili dan mungkin
meningkatkan sekresi chlorida dari kripta, yang menyebabkan sekresi air dan
elektrolit. Penyembuhan terjadi bila sel yang sakit diganti dengan sel yang
sehat setelah 2 4 hari.

Invasi mukosa. Shigella, C. jejuni, E. coli enteroinvasif dan salmonela dapat


menyebabkan diare berdarah melalui invasi dan perusakan sel epitel mukosa.
Ini terjadi sebagian besar di colon dan bagian distal ileum. Invasi mungkin
diikuti dengan pembentukan mikroabses dan ulkus superficial yang
menyebabkan adanya sel darah merah dan sel darah putih atau terlihat adanya
darah dalam tinja. Toksin yang dihasilkan oleh kuman ini menyebabkan
kerusakan jaringan dan kemungkinan juga sekresi air dan elektrolit dari
mukosa.

Protozoa

Penempelan mukosa. G. lamblia dan Cryptosporidium menempel pada epitel


usus halus dan menyebabkan pemendekan vili, yang kemungkinan
menyebabkan diare.

Invasi mukosa. E.histolitica menyebabkan diare dengan cara menginvasi


epitel mukosa di colon ( atau ileum) yang menyebabkan mikroabses dan
ulkus. Namun begitu keadaan ini baru terjadi bila strainnya sangat ganas.
Pada manusia 90 % infeksi terjadi oleh strain yang tidak ganas; dalam hal ini
tidak ada invasi ke mukosa dan tidak timbul gejala atau tanda-tanda,
meskipun kista amoeba dan tropozoit mungkin ada di dalam tinjanya.

PATOFISIOLOGI
Mekanisme dasar yang menyebabkan timbulnya diare ialah:
1. Gangguan osmotik
Adanya makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan menyebabkan tekanan
osmotik dalam lumen usus meningkat, sehingga terjadi pergeseran air dan
13

elektrolit ke dalam lumen usus. Isi rongga usus yang berlebihan akan merangsang
usus untuk mengeluarkannya, sehingga timbul diare.
2. Gangguan sekresi
Akibat rangsangan tertentu (misalnya toksin) pada dinding usus akan terjadi
peningkatan sekresi, air dan elektrolit ke dalam lumen usus dan selanjutnya timbul
diare karena peningkatan isi lumen usus.
3. Gangguan motilitas usus
Hiperperistaltik akan menyebabkan berkurangnya kesempatan usus untuk
menyerap makanan sehingga timbul diare. Sebaliknya bila peristaltik usus
menurun akan mengakibatkan bakteri tumbuh berlebihan, selanjutnya dapat
timbul diare pula.

Akibat-akibat diare cair


Diare cair disebabkan karena kehilangan air dan elektrolit tubuh melalui tinja.
Penderita dengan diare cair mengeluarkan tinja yang mengandung sejumlah ion
natrium, klorida, kalsium dan bikarbonat. kehilangan sejumlah air dan elektrolit
bertambah bila ada muntah, dan kehilangan air juga meningkat bila ada panas.
Kehilangan ini menyebabkan dehidrasi (karena kehilangan air dan natrium klorida)
asidosis kekurangan basa (karena kehilangan bikarbonat) dan kekurangan kalium.
Dehidrasi adalah keadaan yang paling bahaya karena dapat menyebabkan
penurunan volume darah (hipovolemia), kolaps kardiovaskuler dan kematian bila
tidak diobati dengan tepat.

DERAJAT DEHIDRASI
Berdasarkan jumlah cairan yang hilang derajat dehidrasi dibagi menjadi :
Kehilangan berat badan
Tanpa dehidrasi, bila kehilangan cairan < 5% berat badan

14

Dehidrasi ringan sedang, bila kehilangan cairan diantara 5% - 10% berat


badan
Dehidrasi berat, bila kehilangan cairan > 10% berat badan.
Untuk menilai derajat dehidrasi dapat dilakukan penilaian derajat dehidrasi menurut
WHO, yaitu:
Penilaian Derajat Dehidrasi Menurut WHO
Kolom A

Kolom B

Kolom C

< 4 x sehari

4-10 x sehari

10x sehari

ada / sedikit

Kadang kadang

Sering sekali

Tidak ada

Haus

Sgt haus

Normal

Sedikit pekat

kencing ( 6 jam )

Keadaan umum

Baik

Jelek, mengantuk

sadar / gelisah

Air mata

Ada

Tidak ada

Tidak ada

Cekung

Sgt cekung, kering

Basah

Kering

Sgt kering

Lebih cepat

Sgt cepat, dalam

Cepat kembali

Kembali pelan

Sgt pelan

Nadi

N/cepat

Sgt cepat, lemah

Ubun-ubun

cekung

Sgt cekung

Berat badan

Kehilangan 2,5

Kehilangan 2,5 10 %

Kehilangan 10 %

Anamnesis
Diare
Muntah
Haus
Kencing
Inspeksi

Mata
Mulut & lidah
Nafas
Palpasi kulit
Turgor

%
Kesimpulan

Tanpa dehidrasi 2 tanda / lebih dehidrasi


ringan - sedang

2 tanda / lebih
dehidrasi berat

15

DIAGNOSIS
Diagnosis ditegakkan berdasakan gejala klinis dan dibantu dengan sarana penunjang
pemeriksaan laboratorium .
1. Anamnesis
Kepada penderita atau keluarga perlu ditanyakan mengenai riwayat perjalanan
penyakit antara lain :
-

Lamanya diare (sudah berapa jam, hari)

Frekuensi (berapa kali sehari)

Banyaknya / volumenya (berapa banyak setiap kali buang air besar)

Warnanya (biasa, kuning berlendir, berdarah, seperti cucian beras)

Baunya (amis, asam busuk)

Buang air kecil (banyaknya, warnanya, kapan terakhir kencing)

Ada tidaknya batuk, panas pilek, dan kejang (sebelum, selama atau setelah
diare)

Jenis, bentuk dan banyaknya makanan dan minuman sebelum dan sesudah dan
sakit

Penderita diare disekitar rumah

Berat badan sebelum sakit (bila diketahui)

2. Pemeriksaan jasmani
Dilihat dari derajat dehidrasi menurut WHO
3. Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium penting artinya dalam menegakkan diagnosis yang tepat
sehingga kita dapat memberikan obat yang tepat pula.
Pemeriksaan laboratorium yang dilakukan adalah:
1.

Pemeriksaan tinja
a.

Makroskopis dan mikroskopis

b.

pH dan kadar gula dalam tinja dan kertas lakmus dan tablet clinitest
bila diduga terdapat intoleransi glukosa.

c. Bila perlu dilakukan pemeriksaan biakan dan uji resistensi

16

2.

Pemeriksaan gangguan dan keseimbangan asam basa dalam darah, dengan


menentukan pH dan cadangan alkali atau lebih tepat lagi dengan pemeriksaan
analisa gas darah menurut ASTRUP (bila memungkinkan).

3.

Pemeriksaan kadar ureum dan kreatinin untuk mengetahui faal ginjal.

4.

Pemeriksaan elektrolit terutama kadar Natrium, kalium, kalsium dan fosfor


dalam serum.

5.

Pemeriksaan intubasi duodenum untuk mengetahui jenis jasad renik atau


parasit secara kualitatif dan kuantitatif, terutama dilakukan pada penderita
kronik.

PENATALAKSANAAN
Tujuan pengobatan
Mencegah dehidrasi
Mengatasi dehidrasi yang telah ada
Mencegah kekurangan nutrisi dengan memberikan makanan selama dan
setelah diare
Mengurangi lama dan beratnya diare, serta berulangnya episode diare, dengan
memberikan suplemen zinc.
Dalam garis besarnya pengobatan diare dapat dibagi dalam:
a. Pengobatan cairan
Sistematika pengobatan yang dapat dilaksanakan secara sederhana ialah pada
dehidrasi berat diberikan cairan rehidrasi parenteral, dehidrasi sedang dan ringan
diberikan cairan rehidrasi oral (oralit) dan yang belum menderita dehidrasi dapat
diberikan segala macam cairan rumah tangga.
b. Pengobatan dietetic
c. Obat-obatan
Pemberian cairan
1. jenis cairan
Cairan rehidarasi oral
-

Formula lengkap mengandung NaCl, NaHO3, KCl dan glukosa. Kadar


natrium 90 mEq/l untuk kolera dan diare akut pada anak diatas 6 bulan

17

dengan dehidarasi ringan atau sedang atau tanpa dehidrasi. Kadar Natrium
50-60mEq/l untuk diare akut non kolera pada anak dibawah 6 bulan
dengan dehidrasi ringan, sedang, tanpa dehidrasi.
-

Formula sederhana hanya mengandung NaCl, dan sukrosa, karbohidrat


lain.

Cairan parenteral
-

Larutan Darrow & glukosa

Ringer Laktat

2. Jalan pemberian cairan


a.

Peroral untuk dehidrasi ringan, sedang, & tanpa dehirasi & bila anak
mau minum serta kesadaran baik.

b.

Intragastrik untuk dehidrasi ringan, sedang, tanpa dehidrasi tetapi anak


tidak mau minum, atau kesadaran menurun intravena untuk dehidrasi berat.

3. Jumlah cairan
Untuk menentukan jumlah cairan yang perlu diberikan kepada penderita diare
harus diperhatikan hal-hal berikut: jumlah cairan yang diberikan harus sama
dengan
- Jumlah cairan yang telah hilang melalui diare dan muntah (PWL ).
- Banyaknya cairan yang hilang melalui keringat, urin & pernapasan
(NWL).
- Banyaknya cairan yang hilang melalui tinja dan muntah yang masih
terus berlangsung (CWL )
Jumlah ini bergantung pada derajat dehidrasi serta berat badan masing-masing
anak atau golongan umur.
4. Jadwal pemberian cairan
a.Belum ada dehidrasi
-

Oral sebanyak anak mau minum ( ad libitum ) atau 1 gelas setiap kali
buang air besar.

Parenteral dibagi rata dalam 24 jam

18

b. Dehidrasi ringan
-

1 jam pertama : 25-50 ml/kgbb peroral atau intragastrik

selanjutnya 125 ml/kgbb/hr atau ad libitum.

c. Dehidrasi sedang
-

1 jam pertama 50-100 ml/kgbb peroral atau intragastrik

selanjutnya 125 ml/kgbb/hari atau ad libitum


dehidrasi berat

untuk anak 1 bulan-2 tahun dengan berat badan 3-10 kg:


1 jam pertama 40 ml/kgbb/jam atau 10 tetes/kgbb/menit
7 jam kemudian 12 ml/kgbb/menit atau 3 tetes/kgbb/menit
16 jam berikut 125 ml/kgbb atau 2 tetes/kgbb/menit
untuk anak lebih dari 2-5 tahun dengan berat badan 10-15 kg:
1 jam pertama 30 ml/kgbb/jam atau 8 tetes/kgbb/menit
7 jam kemudian 10 ml/kgbb/jam atau 3 tetes/kgbb/menit
16 jam berikut 125 ml/kgbb/jam atau 2 tetes/kgbb/menit
untuk anak lebih dari 5-10 tahun dengan berat badan 15-25kg:
1 jam pertama 20 ml/kgbb/jam atau 5 tetes/kgbb/menit
7 jam kemudian 10 ml/kgbb/jam atau 3 tetes/kgbb/menit
16 jam berikut 105 ml/kgbb/oral atau bila anak tidak mau minum dapat
diberikan darrow glukosa 1 tetes/kgbb/menit
Pengobatan dietetik:
1. Untuk anak dibawah 1 tahun & anak diatas 1 tahun dengan berat badan
kurang dari 7 kg. Jenis makanan yang diberikan:
-

Susu (ASI atau susu formula yang mengandung laktosa rendah & asam
lemak tidak jenuh, misalnya LLM, Almiron )

Makanan setengah padat ( bubur susu ) atau makanan padat ( nasi tim )
bila anak tidak mau minum susu.

19

Susu khusus yaitu susu yang tidak mengandung laktosa atau susu dengan
asam lemak berantai seluler sesuai dengan kelainan yang ditemukan

2. Untuk anak diatas 1 tahun dengan berat badan lebih dari 7 kg jenis makanan
padat atau makanan air/ susu sesuai kebiasaan makan dirumah.
Obat-obatan
Prinsip pengobatan diare ialah menggantikan cairan yang hilang melalui tinja dengan
atau tanpa muntah,

dengan cairan yang mengandung elektrolit & glukosa atau

karbohidrat lain.
1. Obat anti sekresi
-

Asetosal 25 mg/tahun dengan dosis minimum 3 mg

Klorpromazin 0,5-1 mg/kgbb/hari

2. Antibiotika
Pada umumnya antibiotika tidak diperlukan untuk mengatasi diare akut, kecuali
bila penyebabnya jelas seperti :
-

Tetrasiklin 25-50mg/kgbb/hari (kolera)

Eritromisin 40-50 mg/kgbb/hari ( Campylobater ).

KOMPLIKASI
Sebagai akibat kehilangan cairan dan elektrolit secara mendadak, dapat terjadi
berbagai komplikasi seperti :
1.

Dehidrasi

2.

Renjatan hipovolemik

3.

Hipokalemia

4.

Intoleransi laktosa sekunder

5.

Kejang

6.

Malnutrisi energi protein


DAFTAR PUSTAKA
1. Suraatmaja, Sudaryat. 2007. Kapita Selekta Gastroenterologi. Sagung Seto:
Jakarta
20

2. Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FKUI. Ilmu Kesehatan Anak 1.


Infomedika: Jakarta.
3. Suharyono,dkk. 1988. Gastroenterologi Anak Praktis. FK UI : Jakarta

21