Anda di halaman 1dari 87

BAB III

DASAR TEORI

3.1.

Pengertian Bejana Tekan dan Separator


Tugas akhir ini mengangkat materi perancangan bejana tekan vertikal

yang berfungsi sebagai separator, oleh karena itu perlu dijelaskan pengertian
bejana tekan dan separator sebagai dasar perancangan.
3.1.1. Bejana tekan
Bejana tekan adalah suatu benda yang berfungsi untuk menampung atau
memproses suatu fluida. Contoh aplikasi bejana adalah sebagai berikut:
1.

Storage tank
Fungsi untuk menampung fluida, contoh tangki bahan bakar.

2.

Tempat proses atau reaksi


Fungsi untuk suatu proses kimia pada suatu fluida tertentu, contoh
separator, scrubber, dan slug catcher.

3.

Alat bantu
Fungsi untuk menunjang suatu proses, contoh pada sistem pneumatik
diperlukan udara bertekanan yang disimpan di bejana tekan.

4.

Transportation tank
Fungsi untuk mengangkut fluida, contoh mobil tangki bahan bakar.

Bejana tekan beroperasi pada tekanan operasi. Berdasarkan tinggi tekanan


operasi bejana tekan bisa dibagi menjadi sebagai berikut:
1.

Atmospheric tanks
Beroperasi pada tekanan atmosfer atau pada tekanan maksimal 0,5
psig, contoh : atmospheric tanks atau silincer pada sistem geothermal.

2.

Low pressure tanks


Beroperasi pada tekanan rendah (0,5 psig sampai 15 psig).

3.

Pressure vessel
Beropersi pada tekanan tinggi lebih dari 15 psig.

4.

Pressure vessel vakum

12

Beroperasi pada tekanan di bawah tekanan atmosfer (terjadi eksternal


pressure).
Berdasarkan hubungan tekanan operasi pada bejana tekan dengan udara
luar, tekanan operasi dapat dibedakan menjadi:
1.

Tekanan internal
Bila tekanan dalam bejana melebihi tekanan atmosfer di luar bejana.

2.

Tekanan eksternal
Bila tekanan dalam bejana kurang dari tekanan atmosfer dari luar,
termasuk juga bejana yang menderita tekanan vakum.

Bejana tekan dapat dibedakan berdasarkan bentuk shell. Shell mempunyai


beberapa bentuk, pemilihan bentuk mempertimbangkan tekanan operasi, fungsi,
dan harga. Jenis bejana tekan berdasarkan bentuk shell adalah sebagai berikut:
1.

Silinder
Bentuk shell silinder dibuat untuk incompressible fluid dan mix.

2.

Bola
Bentuk bola dibuat untuk compressible fluid. Dengan bentuk bola
pada ketebalan yang sama maka ketahanan menahan tekanan lebih
baik daripada bentuk silinder.

3.

Rectangular
Bentuk sederhana dan pembuatan mudah. Bentuk persegi tidak
dipakai untuk tekanan tinggi, biasanya dipakai untuk menampung
fluida dengan tekanan hidrostatik. Bentuk rectangular sangat jarang
digunakan dan dirancang dengan standar API.

Bejana tekan silinder dapat dibedakan menjadi dua berdasarkan posisi


pemasangan shell:
1.

Horisontal
Pada pressure vessel horisontal, vessel ditumpu oleh saddle.
Keuntunganya adalah kontruksi lebih mudah karena beban angin dan
gempa lebih kecil daripada vessel vertikal. Kerugian membutuhkan
tempat lebih luas.

13

2.

Vertikal
Pada konstruksi posisi vessel vertikal, vessel ditumpu oleh skirt atau
leg. Keuntungan membutuhkan tempat lebih sempit daripada
horisontal. Kerugian beban angin dan gempa harus dipertimbangkan.
Contoh bejana tekan dapat dilihat pada Gambar 3.1. sebagai berikut.

Gambar 3.1. Contoh bejana tekan vertikal dalam proses pabrikasi

Pada tugas akhir ini akan dirancang pressure vessel atau bejana tekan
dengan bentuk shell silinder, dengan posisi vertikal. Bejana tekan yang dirancang
akan berfungsi sebagai separator pada instalasi geothermal. Bejana tekan
dirancang berdasarkan tekanan internal.

3.1.2. Separator
Separator adalah suatu alat untuk memisahkan fasa fluida. Dalam
perancangan ini separator diklasifikasikan sebagai separator dua fasa, separator
akan memisahkan brine dan uap dari sumur produksi geothermal. Brine kemudian
akan dialirkan ke silencer dan selanjutnya akan dipompa ke sumur injeksi. Uap

14

selanjutnya akan dialirkan ke scrubber dan selanjutnya akan digunakan untuk


menggerakkan turbin.
Jenis separator yang dipakai dalam perancangan ini adalah separator
vertikal. Fluida masuk melalui nozzle pada dinding samping. Proses pemisahan
fluida pertama aliran dua fasa masuk melalui cyclone inlet. Karena perbedaan
densitas, brine akan turun ke bawah dan keluar melalui nozzle pada bottom head.
Uap akan bergerak ke atas dan uap mengalir melalui lubang pipa yang ada di
bagian atas dan keluar melalui nozzle outlet di bottom head, kemudian uap
mengalir ke scrubber. Separator dilengkapi dengan peralatan internal dan
peralatan pendukung. Contoh separator pada lapangan geothermal dapat dilihat
pada Gambar 3.2.

Gambar 3.2. Bejana tekan separator geothermal PT. Geodipa Energi Dieng

3.1.3. Kriteria desain


Kriteria perancangan

merupakan kebutuhan minimum dalam

perancangan dan pemilihan material bejana tekan. Prosedur umum dalam

15

perancangan bejana tekan adalah dengan menentukan kondisi desain dan


pembebanan akibat gaya-gaya luar yang menyebabkan tegangan. Lingkup
pekerjaan perancangan bejana tekan meliputi juga nozzle dan opening sampai
muka flange-nya, penumpu, dan lifting lugs.
Code dasar dalam perancangan bejana tekan adalah ASME (Boiler and
Pressure Vessel Code), Section VIII divisi 1, penggunaan code atau metode
lain hanya terbatas pada kasus-kasus yang tidak tercakup pada code (ASME
VIII divisi 1). Simulasi pembebanan eksentrik pada nozzle berdasarkan code
WRC 107.

3.1.4. Data perancangan


Kondisi perancangan harus diperhatikan sebelum perancangan. Data
operasi diperoleh dari Process Flow Diagram (PFD) dan perhitungan proses
untuk dimensi utama peralatan bejana tekan. Data-data tersebut meliputi
temperatur

operasi,

tekanan

operasi,

dimensi

utama

(diameter

dalam,

tinggi/panjang), fasa/kondisi fluida. Data-data tersebut didapat dari lapangan


dengan menguji sumur produksi dan memasang separator uji coba. Gambar dari
sumur produksi dan separator uji coba dapat dilihat pada Gambar 3.3.

Gambar 3.3. Sumur produksi dan separator uji coba di geothermal Karaha

16

Bejana tekan dirancang untuk kondisi yang paling buruk terhadap tekanan
maupun temperatur seperti yang diperkirakan akan terjadi selama operasional
normal. Tekanan dan temperatur perancangan akan dipakai sebagai dasar
pemilihan material dan tidak boleh melebihi dari tekanan dan temperatur
maksimum sesuai data material. Kondisi lingkungan juga perlu diperhatikan
dalam perancangan. Data lingkungan yang dipakai dalam

perancangan

bejana

tekan meliputi intensitas angin, zona gempa, kelembaban, temperatur lingkungan,


dan tekanan atmosfer.

3.1.5. Pembebanan
Pembebanan yang terjadi pada bejana tekan perlu diperhitungkan agar
bejana tekan mampu menahan beban tersebut. Beban-beban yang dialami oleh
bejana tekan meliputi:
a. Tekanan internal perancangan
b. Berat bejana tekan, berat peralatan dan berat isi ketika operasi dan
pengujian.
c. Superposisi reaksi-reaksi statik dari berat peralatan yang menempel,
seperti: perpipaan, lining, dan isolasi.
d. Peralatan lain yang tertempel, seperti: platform dan ladder.
e. Peralatan internal.
f. Penumpu, seperti: skirt, saddle, lugs, dan legs
g. Reaksi-reaksi dinamik/siklik akibat variasi tekanan atau temperatur, atau
akibat peralatan yang menempel pada bejana
h. Angin dan gempa
i. Beban impak akibat aliran fluida yang masuk bejana
j. Ekspansi termal

3.2.

Teori Tegangan
Teori tegangan pada bejana tekan secara umum merupakan pengembangan

dari teori tegangan dalam mekanika. Tegangan yang terjadi dalam bejana tekan
17

bisa disebabkan oleh tekanan internal bejana tekan dari fluida kerja, tekanan
eksternal dari udara luar, beban berat dari bejana tekan, beban akibat gaya luar
seperti beban angin, gempa dan beban eksentrik akibat perpipaan. Adapun
karakteristik hubungan antara tegangan regangan dapat dilihat pada kurva
tegangan regangan, yang di dalamnya mencakup tegangan luluh dan tegangan
ultimate. Kurva karakteristik antara tegangan regangan ditunjukkan pada Gambar
3.4. di bawah ini.

Gambar 3.4. Diagram tegangan regangan baja ulet (kiri) dan bahan getas
(kanan)
Titik tegangan luluh merupakan titik acuan sebagai batas tegangan ijin
dalam perancangan. Tegangan ultimate merupakan titik yang menunjukkan besar
tegangan maksimum yang mampu ditahan material sebelum mengalami
kegagalan. Titik kegagalan merupakan titik di mana material tersebut mengalami
kegagalan. Di bawah titik tegangan luluh material bersifat elastis dan di sebelah
kanan titik tegangan luluh, material bersifat plastis (bila diberi pembebanan pada
material tersebut dan beban ditiadakan, material akan berdeformasi).

3.2.1. Tegangan pada shell


Pada shell silindris, tekanan akan terbagi secara merata pada setiap
dinding. Tegangan yang terjadi pada shell karena tekanan internal P dapat
dihitung dari kesetimbangan statis. Dalam analisis tegangan shell dapat dibagi dua

18

yaitu shell tebal dan tipis. Shell tipis adalah shell dengan rasio dari ketebalan shell
t terhadap principal radius minimum dari kelengkungan adalah

atau

.
Dalam analisis tegangan diasumsikan shell adalah silinder panjang dan
tipis maka

dan

. Selanjutnya kedua ujung shell ditutup dan

dikenai tekanan internal P, maka akan terjadi tegangan pada arah hoop
(sirkumferensial atau tangensial) dan arah aksial (longitudinal). Dalam
perancangan ini shell diasumsikan shell tipis.

3.2.1.1. Tegangan sirkumferensial (tangensial/hoop)


Tegangan sirkumferensial adalah tegangan yang arahnya sejajar dengan
sumbu sirkumferensial. Tegangan sirkumferensial disebut juga tegangan
tangensial atau tegangan hoop. Tegangan sirkumferensial c ditimbulkan oleh
tekanan internal yang bekerja secara tengensial dan besarnya bervariasi
tergantung pada tebal dinding. Untuk shell yang berdinding tipis dapat dilakukan
penyederhanaan penurunan rumus tegangan pipa dengan mengasumsikan gaya
akibat tekanan dalam bekerja sepanjang shell ditahan oleh dinding shell.
Persamaan tegangan sirkumferensial atau tangensial (hoop) dapat
dinyatakan dengan rumus sebagai berikut.
(3.1)
Dimana:
c = t

= Tegangan sirkumferensial atau tangensial

= Tekanan pada shell

= Tebal shell

= Diameter luar shell

Arah tekanan dan tegangan sirkumferensial yang terjadi pada shell dapat
dilihat pada Gambar 3.5.

19

Gambar 3.5. Tegangan sirkumferensial pada shell karena tekanan internal


3.2.1.2. Tegangan longitudinal
Tegangan longitudinal adalah tegangan yang searah dengan shell atau
pipa. Tegangan longitudinal ditimbulkan oleh gaya tekan internal p yang bekerja
pada dinding pipa searah sumbu pipa. Arah tekanan dan tegangan longitudinal
yang terjadi pada shell dapat dilihat pada Gambar 3.5. di bawah ini.

Gambar 3.5. Tegangan longitudinal pada shell karena tekanan internal

20

Persamaan tegangan longitudinal yang bekerja pada shell dapat dinyatakan


dengan rumus berikut.
(3.2)
Dimana:
l

= Tegangan longitudinal (kPa)

= Tekanan pada shell (kPa)

= Tebal shell (mm)

= Diameter luar shell (mm)

3.2.1.3. Tegangan Radial


Penggunaan persamaan tegangan untuk shell tipis berbeda untuk shell
tebal yang mempunyai rasio

. Shell tebal diasumsikan mempunyai radius

dalam dan radius luar, sehingga tegangan radial yang terjadi diperhitungkan.Besar
tegangan radial adalah bervariasi dari permukaan dalam shell ke permukaan
luarnya dan dapat dinyatakan dengan rumus di bawah ini.
(3.3)
Dimana:
R

= Tegangan radial (kPa)

= Tekanan pada pipa (kPa)

ri

= Jari-jari dalam (mm)

ro

= Jari-jari luar (mm)

Tegangan radial maksimum mak terjadi pada permukaan dalam shell dan
tegangan minimum min pada permukaan luarnya.
Tegangan sirkumferensial adalah tegangan terbesar yang terjadi di bejana
tekan akibat tekanan internal. Tegangan yang terjadi dibandingkan dengan
tegangan maksimum yang diijinkan di shell pada kondisi operasi. Tegangan
dinyatakan aman apabila tegangan yang terjadi tidak melebihi dari tegangan
maksimum yang diijinkan.
21

3.2.2. Tegangan pada ellipsoidal head


Head pada bejana tekan vertikal membatasi shell pada sisi atas dan bawah.
Head mempunyai beberapa jenis berdasarkan bentuk menyesuaikan dengan
tekanan kerja dan fungsi. Contoh bentuk head menurut Megyesy (1997) dapat
dilihat pada Tabel 3.1.

Tabel 3.1. Jenis-jenis head berdasarkan bentuk


Tekanan maksimal
Tipe head
Tebal minimum
yang diijinkan
Hemispherical Head

2:1 ellipsoidal Head

Conical Head

Jika

ASME Flanged dan


Dished Head
(Torispherical Head)
Jika

22

Berdasarkan ketebalan minimum dan tekanan maksimum yang diijinkan


pada beberapa head maka head yang dipilih dalam perancangan adalah antara
hemispherical head atau ellipsoidal head karena lebih dapat menahan tekanan.
Jika menggunakan hemispherical head maka tebal dinding akan lebih tipis
dibanding ellipsoidal head, tetapi hemispherical head mempunyai kesulitan yang
tinggi dan lebih mahal dalam pabrikasi sehingga dipilih ellipsoidal head. Jadi
jenis head yang dipilih dalam perancangan adalah ellipsoidal head dengan rasio
2:1.
Menurut Dennis Moss (2004), pada ellipsoidal head terdapat perbedaan
nilai radius dari satu titik ke titik yang lain (meridional radius Rm dan latitudinal
radius R L), persamaan untuk mencari nilai R m dan RL adalah sebagai berikut.
Persamaan radius pada garis tangen:
(3.4)
(3.5)
Persamaan radius pada titik tengah head:
(3.6)
(3.7)
Persamaan radius pada titik X di manapun:

(3.8)
(3.9)

Menurut Dennis Moss (2004), tegangan pada head terdiri dari dua arah
tegangan yaitu meridional

dan latitudinal (hoop)

, dan dapat dibedakan di

titik tengah head, titik pada garis tangen dan pada setiap titik X. Arah tegangan
dan data dimensi dari ellipsoidal head dapat dilihat pada Gambar 3.7 dan 3.8.
berikut.

23

Gambar 3.7. Arah tegangan pada head

Gambar 3.8. Data dimensi pada head


Tegangan meridional atau longitudinal
latitudinal

dan tegangan tangensial atau

berbeda-beda pada setiap titik tertentu, dan dapat ditentukan dengan

rumus sebagai berikut.


Persamaan tegangan pada titik X di manapun:
Tegangan meridional atau longitudinal
Tegangan tangensial atau latitudinal

(3.10)
(

(3.11)

Persamaan tegangan pada titik tengah head:


Tegangan meridional atau longitudinal

(3.12)

Tegangan tangensial atau latitudinal

(3.13)

Persamaan tegangan pada garis tangen:


Tegangan meridional atau longitudinal

(3.14)

24

Tegangan tangensial atau latitudinal

(3.15)

Tegangan dinyatakan aman apabila tegangan terbesar yang terjadi pada


head tidak melebihi dari tegangan maksimum yang diijinkan.

3.3.

Perancangan Shell
Shell yang akan dirancang adalah jenis shell berbentuk silinder (cylindrical

shell). Shell mempunyai struktur yang bentuknya menyerupai plat melengkung.


Bentuk silinder shell merupakan bentuk jadi yang diperoleh dari lembaran plat
yang telah dilengkungkan lalu dirangkai dengan sambungan las sehingga menjadi
bentuk silinder dengan ukuran yang telah ditentukan. Pemilihan material shell
ditentukan berdasarkan kondisi kerja dari bejana tekan, dan secara khusus kondisi
yang sangat berpengaruh terhadap selubung shell. Pemilihan material terutama
ditentukan oleh temperatur operasi dan desain. Temperatur operasi temperatur
yang terjadi saat proses pada kondisi operasi normal. Pada perancangan bejana
tekan separator ini temperatur operasi diambil nilai maksimum saat operasi.
Temperatur desain adalah temperatur yang digunakan untuk desain bejana tekan,
temperatur desain mempunyai nilai lebih tinggi daripada tekanan operasi dengan
menambahkan margin. Temperatur desain mempengaruhi desain dalam pemilihan
material dan penentuan tegangan maksimum yang diijinkan pada material.
Ketebalan shell adalah parameter utama dalam mendesain dan dipengaruhi
oleh tekanan dan beban-beban yang terjadi. Tekanan operasi berupa tekanan
internal yang terjadi saat proses pada kondisi operasi normal. Tekanan desain
digunakan untuk desain bejana tekan,tekanan desain mempunyai nilai lebih tinggi
30 psig atau 10 % daripada tekanan operasi atau ditentukan perancang.
Plat mempunyai ketebalan tertentu sehingga dalam perancangan ketebalan
plat yang digunakan harus sesuai dengan ketebalan pada plat dipasaran.Sebagai
dasar pemilihan material dapat mengacu pada tabel yang ada di referensi dan
Lampiran 5.

25

3.3.1. Tebal minimum shell dan MAPNC shell


Penentuan tebal bejana, awalnya dilakukan dengan beban utama tekanan
internal. Penentuan tebal bejana silindrikal dilakukan berdasarkan circumferential
stress maupun longitudinal stress. Setelah ditambahkan corrosion allowance dan
penentuan dimensi penting lain, maka tingkat tegangan setiap komponen bejana
akan dianalisis secara lebih detail dengan memperhatikan pembebanan yang
mungkin terjadi selama operasional. Tebal minimum shell dan tekanan maksimal
yang diijinkan dapat dihitung berdasarkan diameter dalam atau diameter luar.

a.

Berdasarkan diameter dalam


Ketebalan plat karena tekanan internal dan berdasarkan diameter dalam

dapat dihitung dari rumus berikut.


(3.16)
MAPNC (Maximum Allowable Pressure New and Cold) adalah tekanan
maksimum yang diijinkan pada bejana tekan pada kondisi baru difabrikasi dan
bekerja pada temperatur ruangan.Tekanan maksimum yang diijinkan pada kondisi
baru dan pada temperatur ruangan MAPNC (Maximum Allowable Pressure New
and Cold), untuk plat dengan ketebalan t, dapat dihitung menggunakan rumus
berikut.
(3.17)
Dimana:
tr

= Tebal minimum shell (mm)

MAPNC

= Maximum Allowable Pressure New and Cold shell (kPa)

= Radius dalam shell kondisi terkorosi (mm)

= Tegangan maksimum yang diijinkan oleh material shell (kPa)

= Efisiensi sambungan las

CA

= Corrosion allowance (mm)

26

b.

Berdasarkan diameter luar


Ketebalan plat karena tekanan internal dan berdasarkan diameter luar,

dapat dihitung menggunakan rumus berikut.


(3.18)
Tekanan maksimum yang diijinkan pada kondisi baru dan pada temperatur
ruangan MAPNC (Maximum Allowable Pressure New and Cold). untuk plat
dengan ketebalan t
(3.19)
Dimana:
tr

= Tebal minimum shell (mm)

= Tebal nominal shell (mm)

MAPNC

= Maximum Allowable Pressure New and Cold shell (kPa)

= Radius luar shell kondisi terkorosi (mm)

= Tegangan maksimum yang diijinkan oleh material shell (kPa)

= Efisiensi sambungan las

CA

= Corrosion allowance (mm)

Shell pada perancangan ini akan dihitung berdasarkan diameter dalam.


Dengan melihat ketersediaan ukuran tebal plat yang tersedia di pasaran, dipilih
tebal yang lebih besar dari tebal minimal yang diperlukan. Penentuan nilai S
(tegangan maksimum yang diijinkan oleh material shell), E (efisiensi sambungan
las), dan CA (corrosion allowance) ditentukan oleh perancang berdasarkan
pemilihan material, umur, dan metode pengelasan.

a.

Pemilihan material
Pemilihan material bejana tekan ditentukan berdasarkan kondisi kerja dari

bejana tekan, dan secara khusus kondisi yang sangat berpengaruh terhadap
bejana tekan. Kondisi kerja ini menentukan kekuatan bejana tekan yang harus
dimiliki material bejana tekan. Tinggi rendahnya temperatur menjadi dasar
pemilihan material karena setiap jenis material memiliki kekuatan pada batas

27

temperatur tertentu. Material mempunyai tegangan maksimum yang diijinkan


yang harus diperhatikan.
Tegangan maksimum yang diijinkan (maximum allowable stress) adalah
tegangan maksimum yang diperbolehkan pada material yang dipakai untuk
bejana yang dirancang dan dibangun. Spesifikasi dan grade material dipilih
berdasarkan pada kriteria tegangan maksimum yang diijinkan dengan
pertimbangan-pertimbangan lain seperti ketahanan terhadap korosi, ketersediaan
di pasar dan ekonomis. Material yang dipilih diutamakan sama dengan material
yang digunakan pada bejana-bejana tekan sejenis pada instalasi transmisi
geothermal terpasang.

b.

Corrosion allowance
Corrosion allowance adalah tambahan pada ketebalan minimum bejana

tekan. Bejana tekan maupun komponen-komponennya mengalami penipisan


dinding akibat korosi, erosi maupun pengikisan mekanis, sehingga memerlukan
tambahan ketebalan (corrosion allowance) dari tebal minimum yang diperlukan.
Tambahan tebal ditentukan oleh kebutuhan umur bejana. Perlindungan terhadap
korosi juga dapat dilakukan dengan cara lain. Tambahan ketebalan, atau lapisan
tidak dipertimbangkan dalam penghitungan kekuatan dinding bejana.
Tambahan tebal untuk nozzle, opening, dan manhole ditetapkan minimum
sama dengan harga untuk bejana. Corrosion allowance pada perancangan bejana
tekan dipilih sebesar 0.125 in atau 3.175 mm

c.

Pengelasan
Pengelasan digunakan untuk menyambung pelat dinding bejana tekan dan

untuk menyambung komponen-komponen. Pengelasan dapat dibedakan menjadi


beberapa kategori dan tipe pengelasan. Setelah dilakukan pengelasan, lasan perlu
dites untuk mengetahui adanya cacat pada lasan.
Efisiensi las didasarkan pada tipe sambungan dan pengujian lasan. Tipe
sambungan pada shell adalah butt joint dilas single welding tanpa backing strip
dengan fully radiographed maka efisiensi las yang dipakai adalah satu.

28

Spesifikasi las, kualifikasi pengelas dan metode inspeksi bejana tekan


mengacu pada ASME Section IX. Teknik Pengelasan dalam praktek dapat
dilakukan pada posisi datar. Las yang dibentuk dari satu laluan tidak dapat
digunakan untuk menahan beban tekanan. Pengelasan harus mengikuti Welding
Procedure Specification (WPS) dan Procedure Qualification Record (PQR).

3.3.2. MAWP (Maximum Allowable Working Pressure) shell


Dalam perancangan bejana tekan, dihitung nilai MAWP (Maximum
Allowable Working Pressure). Di dalam praktiknya, MAWP digunakan sebagai
basis untuk menentukan peralatan pressure relieving untuk melindungi bejana
tekan. MAWP adalah tekanan maksimum yang diijinkan pada bejana tekan pada
kondisi operasi normal dan temperatur kerja. MAWP dihitung pada kondisi shell
yang terkorosi. Hasil dari perhitungan MAWP harus dikurangi dengan tekanan
hidrostatis dari fluida (PS).
(3.20)

MAWP shell dapat dihitung dengan persamaan sebagai berikut.


(3.21)

3.3.3. Berat shell


Berat shell dapat dihitung dengan mengalikan volum shell dan densitas
shell. Berat shell dihitung dengan berdasar sketsa pada gambar 3.9.

Gambar 3.9. Sketsa ukuran perhitungan berat shell

29

Volum shell
(3.22)
Berat shell
(3.23)
Dimana:
Vs

= Volum shell (mm3)

Di

= Diameter dalam shell (mm)

Hs

= Panjang shell (mm)

Ms

= Berat shell (kg)


= Densitas material (kg/mm3)

3.4.

Perancangan Head
Head pada bejana tekan vertikal membatasi shell pada sisi atas dan bawah.

Ukuran dari head tergantung dari ukuran shell berdasarkan parameter desain.
Material head biasanya sama dengan material shell.

3.4.1. Tebal minimum head


Tebal minimum head berdasarkan pada tekanan internal. Tebal minimum
head selanjutnya ditambahkan corrosion allowance. Tekanan maksimal yang
diijinkan didapat dari ketebalan head. Berdasarkan ketebalan minimum dan
tekanan maksimum yang diijinkan serta nilai fungsional dan ekonomis maka head
yang dipilih dalam perancangan adalah ellipsoidal head dengan rasio 2:1.
Perhitungan tebal minimum head adalah dengan menggunakan persamaan
sebagai berikut.
(3.24)
Dimana :
tr

= Tebal minimum head (mm)

= Tekanan total internal head (kPa)

30

= Radius dalam shell kondisi terkorosi (mm)

= Tegangan maksimum yang diijinkan oleh material head (kPa)

= Efisiensi sambungan las

CA

= Corrosion allowance (mm)

= Faktor pengali head elipsoidal

Nilai K dapat ditentukan dengan persamaan berikut.


( )[

) ]

(3.25)

Dimana:
D

= Diameter dalam head (mm)

= Panjang head (mm)


Dengan melihat ketersediaan ukuran tebal plat yang tersedia di pasaran,

dipilih tebal yang lebih besar dari tebal minimal yang diperlukan.

3.4.2. MAPNC head


Tekanan maksimum yang diijinkan pada kondisi baru dan pada temperatur
ruangan MAPNC (maximum allowable pressure new and cold). untuk head
dengan ketebalan t dapat dihitung menggunakan persamaan sebagai berikut.
(3.26)

3.4.3. MAWP (Maximum Allowable Working Pressure Head)


Pada perancangan head juga dihitung nilai MAWP (Maximum Allowable
Working Pressure). MAWP adalah tekanan maksimum yang diijinkan pada bejana
tekan pada kondisi operasi normal dan temperatur kerja. MAWP dapat dihitung
dengan persamaan sebagai berikut.
(3.27)
Dimana PS merupakan tekanan hidrostatis fluida dalam bejana tekan.

31

3.4.4. Berat head


Berat head dapat dihitung dengan mengalikan volum head dan densitas
head. Berat head dapat dihitung dengan berdasarkan sketsa pada Gambar 3.10.

Gambar 3.10. Sketsa ukuran perhitungan berat head


a. Berat head
Volume head

(3.28)

Berat head dapat dicari dengan mengalikan volum dan densitas.


(3.29)
b. Berat straight flange
Volum straight flange

(3.30)
(3.31)

Jadi berat total head


(3.32)
Dimana:
Velips

Volum elipsoidal head (mm3)

Vsf

Volum straight flange (mm3)

Hsf

Panjang straight flange (mm)

Mh

Berat head (kg)

Dm

Diameter dalam head (mm)

th

Tebal nominal head (mm)

tsf

Tebal nominal straight flange (mm)

Densitas material (kg/mm3)

32

3.4.5. Tekanan pengujian hidrostatis


Pengujian hidrostatis dilakukan dengan cara memasukan air ke dalam
bejana dan menekannya, tujuan hidrostatis tes untuk menguji kebocoran pada
material atau sambungan las. Pengujian hydrotest dilakukan pada temperatur air
normal yaitu 21oC. Menurut ASME VIII divisi 1 UG-99, tekanan hydrotest dapat
dihitung melalui persamaan berikut.
(3.33)
Dimana:
Ps

= Tekanan hidrotest (kPa)

MAWP

= Maximum allowable working pressure (kPa)

= Tegangan maksimum yang diijinkan pada kondisi lingkungan (kPa)


Tegangan maksimum yang diijinkan pada kondisi temperatur

Sa

operasi

(kPa)

Tekanan hydrotest total (Pst) dihitung dengan menambahkan tekanan


hydrotest (Ps) dengan tekanan hidrostatis liquid (Ph) atau

Untuk memastikan bejana tekan dapat menerima tegangan yang


diakibatkan pada hydrotest, diperlukan analisis tegangan. Setelah didapat
tegangan yang ditimbulkan pada shell dan head, dibandingkan dengan tegangan
maksimum yang diijinkan pada hydrotest (tegangan yield).

3.5.

Perancangan Nozzle
Bejana tekan dilengkapi berbagai nozzle untuk menghubungkan secara

fungsional bejana dengan perpipaan dan perlengkapan lainnya. Nozzle dibuat dari
bahan pipa. Perancangan nozzle meliputi perancangan pipa nozzle (nozzle neck),
flange, reinforcement pad, dan pengelasannya.
Perancangan yang dilakukan pada nozzle mencakup pemilihan tebal pipa
yang akan digunakan dan perhitungan kebutuhan reinforcement pad pada
opening. Aturan untuk opening ini didasarkan pada adanya intensifikasi

33

tegangan karena adanya lubang pada bejana yang sebelumnya berbentuk struktur
yang simetris.
Semua nozzle dan opening yang tertempel pada bagian bejana atau head
dipilih memiliki penampang melingkar (circular). Nozzle dan opening, jika
perlu, dirancang memiliki penguat sesuai dengan aturan UG-36 sampai UG-43
(CODE). Opening pada bejana silindrikal diperkuat sesuai dengan aturan UG37. Perancangan opening pada sisi bejana datar mengikuti aturan UG-39.
Hal yang harus diperhatikan dalam perancangan penguat secara efisien
adalah penguat tidak berlebih dan penguat di dekat opening. Digunakan fillet
dalam penyambungan untuk menghindarkan konsentrasi tegangan. Penampang
nozzle dapat dilihat pada Gambar 3.11. sebagai berikut.

Gambar 3.11. Penampang nozzle tanpa reinforcing pad (kiri)


dan nozzle dengan reinforcing pad (kanan)

3.5.1. Perancangan flange


Flange

adalah

bagian

sistem

perpipaan

yang

berfungsi

untuk

menyambungkan dua buah pipa. Flange pada nozzle dilas pada nozzle neck.
Flange dirancang dengan berdasar standar ASME B16.5. dipilih dengan rating
class sesuai dengan tekanan maksimum yang dapat ditahan oleh flange. Pemilihan
rating tekanan didasarkan pada temperatur dan tekanan desain bejana tekan.
Pemilihan rating dapat dilihat pada tabel untuk menentukan rating tekanan flange.
Dalam perancangan ini dipilih flange dengan rating 300, dengan material
SA 105. Pemilihan tipe flange berdasarkan fungsi, contoh tipe flange ada pada
Gambar 3.12. Ukuran dari flange dapat ditentukan ukuran flange standar sesuai

34

ukuran pipa dan rating. Penentuan rating flange dapat dilakukan dengan
berdasarkan Tabel 3.2.

Gambar 3.12. Contoh jenis-jenis flange


Tabel 3.2. Penentuan rating flange (ASME B16.5)

35

3.5.2. Tebal minimum nozzle


Pemilihan material pipa ditentukan berdasarkan kekuatan yang dimiliki
bahan pipa pada temperatur desain. Semua nozzle dan opening yang tertempel
pada bagian bejana atau head memiliki penampang melingkar (circular).
Ketebalan dinding yang dibutuhkan untuk nozzle agar mampu menahan tekanan
P, dapat dihitung dengan persamaan sebagai berikut.
(3.34)
Dimana:
tn

= Tebal minimum nozzle yang diperlukan (mm)

= MAWP shell + Ps (tekanan hidrostatik pada kondisi operasi) (kPa)

Rn

= Radius dalam nozzle pada kondisi terkorosi (mm)

Sn

= Tegangan maksimum yang diijinkan pada nozzle (kPa)

= Efisiensi pengelasan
Pipa telah mempunyai ukuran standar berdasarkan diameter dan schedule.

Setelah didapat tebal minimum yang dibutuhkan nozzle maka dapat dipilih pipa
dengan ketebalan standar atau schedule.

3.5.3. Luasan penguat


Dinding shell yang berfungsi untuk pamasangan nozzle akan berlubang
sehingga akan terjadi konsentrasi tegangan, reinforcement pad adalah tambahan
material untuk membagi tegangan di sekitar lubang pada dinding shell. Nozzle
harus terpasang dalam kondisi yang aman sehingga perlu dilakukan analisis
kekuatan nozzle untuk mengetahui nozzle tersebut perlu reinforcement (penguat)
atau tidak. Perhitungan luasan penguat pada nozzle dapat dilihat pada Gambar
3.13.
Menurut ASME VIII Divisi 1 UG-37, perhitungan luasan menggunakan
faktor pengurangan kekuatan (strength reduction factor). Faktor pengurangan
kekuatan nozzle dan shell dapat dinyatakan dengan persamaan sebagai berikut.
(3.35)

36

Faktor pengurangan kekuatan nozzle dan reinforcement pad dapat


dinyatakan dengan persamaan sebagai berikut.
(3.36)
Dimana

dipilih dengan nilai yang lebih rendah.

Faktor pengurangan kekuatan reinforcement pad dan shell dapat


dinyatakan dengan persamaan sebagai berikut.
(3.37)

Gambar 3.13. Luasan nozzle dengan penguat (ASME VIII Divisi 1)

3.5.3.1. Luasan yang dibutuhkan nozzle jika tanpa reinforcing element


Area yang dibutuhkan pada shell atau head untuk menahan tekanan
internal.
(3.38)

37

Total area yang tersedia


1.

A1, luas yang tersedia pada shell untuk menahan tekanan. Dipilih dengan nilai
yang terbesar.
)

(3.39)

atau
(3.40)
2.

A2, area yang tersedia pada proyeksi keluar nozzle, dipilih dengan nilai yang
terkecil
(3.41)
atau
(3.42)

3. A3, luas yang tersedia pada proyeksi kedalam nozzle


(3.43)
(3.44)
(3.45)
4.

A4, area yang tersedia pengelasan


Nozzle dan reinforcement pad.

(3.46)

Reinforcement pad dan shell

(3.47)

Nozzle dan shell

(3.48)

Total area yang tersedia = A1+A2+A3+A4


Pada pengelasan jika area yang tersedia lebih dari area yang dibutuhkan
, tambahan reinforcement tidak dibutuhkan. Jika area yang
tersedia kurang dari dari area yang dibutuhkan untuk reinforcement, tambahan
reinforcement pad dibutuhkan

3.5.3.2. Luasan yang dibutuhkan nozzle dengan Reinforcing Element


Area yang dibutuhkan pada shell atau head untuk menahan tekanan internal
(3.49)

38

Total area yang tersedia


1.

A1, luas yang tersedia pada shell untuk menahan tekanan. Dipilih dengan nilai
yang terbesar.
)

(3.50)

atau
(3.51)
2.

A2, area yang tersedia pada proyeksi keluar nozzle. Dipilih dengan nilai yang
terkecil.
(3.52)
atau
(3.53)

3.

Luas yang tersedia pada nozzle proyeksi ke dalam dipilih nilai yang terkecil.
(3.54)
(3.55)
(3.56)

4.

5.

A4, area las fillet


Nozzle dan reinforcement pad.

(3.57)

Reinforcement pad dan shell

(3.58)

Nozzle dan shell

(3.59)

A5, area yang tersedia pada reinforcement pad


(3.60)

Total area yang tersedia = A1+A2+A3+A4+A5


Jika area yang tersedia lebih dari area yang dibutuhkan
maka tebal reinforcement pad dan diameter pad mencukupi.
Keterangan:
At

= Luas penguat yang dibutuhkan (mm2)

A1

= Luas yang tersedia pada shell (mm2)

A2

= Luas yang tersedia pada nozzle (mm2)

A41

= Luas yang tersedia di pengelasan nozzle dan reinforcement pad (mm2)

A42

= Luas yang tersedia di pengelasan reinforcement pad dan shell (mm2)

39

A5

= Luas yang tersedia di reinforcement pad (mm2)

= Radius dalam nozzle keadaan terkorosi (mm)

Dp

= Radius luar pad (mm)

tr

= Tebal shell minimum yang dibutuhkan (mm)

tn

= Tebal nominal nozzle keadaan terkorosi (mm)

= Tebal shell dalam keadaaan terkorosi (mm)

= Faktor koreksi =1

fr1

= Faktor pengurangan kekuatan nozzle dan shell

fr2

= Faktor pengurangan kekuatan nozzle dan shell

fr3

= Faktor pengurangan kekuatan nozzle dan reinforcement pad

fr4

= Faktor pengurangan kekuatan nozzle dan reinforcement pad

trn

= Tebal nozzle minimum yang dibutuhkan

E1

= Efisiensi pengelasan nozzle

Leg

= Lebar kaki las (mm)

3.5.4. Tegangan yang diijinkan pada pengelasan


Tegangan untuk nozzle didasarkan pada adanya intensifikasi tegangan
karena adanya lubang pada bejana yang sebelumnya berbentuk struktur yang
simetris. Jika lubang pada plat dikenai tegangan tarik yang uniform maka akan
menimbulkan konsentrasi tegangan yang tinggi disekitar lubang.
Tegangan yang terjadi pada pengelasan adalah tegangan yang diijinkan
pada material nozzle dikalikan dengan faktor reduksi kekuatan. Beban pada
pengelasan nozzle adalah luas dikalikan tegangan.
Bagian-bagian nozzle digabungkan dengan cara pengelasan. Bagian yang
dilas adalah pipa nozzle dengan reinforcement pad, pipa nozzle dengan shell dan
reinforcement pad dengan shell. Gambar 3.14. berikut adalah nozzle dan posisi
pengelasan pada nozzle.

40

Las inner
Fillet (Si)
Las outer
Fillet (So)

Las groove
reinforcement pad
Las groove
shell (Sg)

Gambar 3.14 Daerah pengelasan pada nozzle


Menurut ASME VIII divisi 1 appendix-L, Tegangan yang diijinkan pada
pengelasan nozlze adalah sebagai berikut.
Tegangan ijin tarik pada las groove shell (Sg)

: 0.74 x S

(3.61)

Tegangan ijin geser pada dinding nozzle (Sn)

: 0.7 x Sn

(3.62)

Tegangan ijin geser pada las inner fillet (Si)

: 0.49 x Sn

(3.63)

Tegangan ijin geser pada las outer fillet (So)

: 0.49 x S

(3.64)

Tegangan ijin pada pada las groove pad (Sgp)

: 0.74 x S

(3.65)

3.5.5. Beban pengelasan pada nozzle


Beban pengelasan pada nozzle dapat dianalisis sesuai jenis nozzle, jenis
nozzle dapat dengan neck inserted atau dengan proyeksi internal dan neck abutting
atau tanpa proyeksi ke dalam.

41

3.5.5.1. Nozzle dengan neck inserted pada dinding vessel


Analisis kekuatan las untuk nozzle dengan neck inserted berdasarkan pada
garis path yang ditunjukan pada Gambar 3.15.

Gambar 3.15. Sketsa analisis kekuatan las nozzle dengan neck inserted
Total beban pengelasan
[

(3.66)

Beban pengelasan untuk kekuatan path 1-1


[

(3.67)

Beban pengelasan untuk kekuatan path 2-2


[

(3.68)

Beban pengelasan untuk kekuatan path 3-3


[

(3.69)

Area A1 , A2, A3., A5 dan A4i dikalikan faktor frx

3.5.5.2. Nozzle dengan neck abutting pada dinding vessel


Analisis kekuatan las untuk nozzle dengan neck abbuting berdasarkan
pada garis path yang ditunjukan pada Gambar 3.16.

42

Gambar 3.16 Sketsa pengecekan kekuatan las nozzle dengan neck abbuting
Total beban pengelasan
[

(3.70)

Beban pengelasan untuk kekuatan path 1-1


[

(3.71)

Beban pengelasan untuk kekuatan path 2-2


[

(3.72)

Area A1, A2, A5, dan A4i dikalikan faktor frx

3.5.6. Kekuatan antar elemen pengelasan


Gaya antar elemen pengelasan perlu dibandingkan dengan kekuatan las
untuk memastikan lasan mampu menahan beban.

(a) Gaya geser pada las inner fillet


( )

(3.73)

(b) Gaya geser pada las dinding nozzle


( )

(3.74)

(c) Gaya tarik pada las groove

43

( )

(3.75)

(d) Gaya geser pada las outer fillet


( )

(3.76)

(e) Gaya tarik pada las upper groove


( )

(3.77)

3.5.7. Analisis kekuatan pengelasan


Berdasarkan ASME Divisi 1 UG-41, total beban yang terjadi tidak boleh
melebihi kekuatan hubungan antar elemen. Hubungan antar elemen disatukan
dengan garis kekuatan elemen yang dapat dilihat pada Gambar 3.15 dan 3.16.

Analisis kekuatan las di garis 1-1.


Garis 1-1 adalah elemen las pada dinding nozzle dan las outer fillet.
Desain aman apabila kekuatan las pada garis 1-1 lebih besar dari pembebanannya.
Persamaan analisis kekuatan las garis 1-1 adalah :
(b) + (d) > W 1-1 atau W

(3.78)

Analisis kekuatan las di garis 2-2


Garis 2-2 adalah elemen las pada inner fillet, las groove dan las upper
groove. Desain aman apabila kekuatan las pada garis 2-2 lebih besar dari
pembebanannya. Persamaan analisis kekuatan las garis 2-2 adalah :
(a)+ (b) + (c) > W2-2 atau W

(3.79)

Analisis kekuatan las di garis 3-3.


Garis 3-3 adalah elemen las pada las groove dan las outer fillet. Desain
aman apabila kekuatan las pada garis 3-3 lebih besar dari pembebanannya.
Persamaan analisis kekuatan las garis 3-3 adalah :
(a)+ (d) > W3-3 atau W

(3.80)

44

3.5.8. Berat nozzle


Nozzle terdiri dari 3 komponen. Komponennya meliputi flange, pipa
nozzle (nozzle neck) dan reinforcement pad. Untuk menghitung berat nozzle, berat
ketiga komponen dijumlahkan.
Berikut adalah persamaan untuk menghitung berat nozzle.

a. Berat pipa nozzle


Wpipa = Lpipa x Wpipa per meter

(3.81)

b. Berat flange
Berat flange didapatkan dalam standar ASME B.16.5. Rating flange yang
berbeda akan mempunyai berat flange yang berbeda juga.
c. Berat reinforcement pad
(

(3.82)
(3.83)

Dimana :
Wpipa

= Berat pipa (kg)

Lpipa

= Panjang pipa (mm)

Wpipa per meter

= Berat pipa per satuan meter (kg/m)

Vpad

= Volume reinforcement pad (mm3)

Wpad

= Berat reinforcement pad (kg)


= Densitas material (kg/mm3)

3.6.

Perlengkapan Pendukung
Bejana dilengkapi perlengkapan-perlengkapan untuk mendukung operasi

bejana tekan. Perlengkapan itu antara lain isolasi, instrumentasi, platform, ladder,
perlengkapan internal bejana tekan, dan lain-lain.

3.6.1. Isolasi
Tujuan dari memasang isolasi pada peralatan yang digunakan untuk
mengalirkan fluida dengan suhu tinggi adalah:
45

1. Mencegah kerugian energi yang disebabkan oleh kehilangan panas.


2. Mempertahankan suhu proses.
3. Sebagai perlindungan bagi manusia dalam kasus kontak langsung dengan
peralatan.
Isolasi termal harus sesuai untuk kondisi operasi dan desain yang
ditentukan. Ketebalan insulasi yang dapat disentuh sebagai bagian dari operasi
normal atau kegiatan pemeliharaan tidak melebihi 45C. Bahan Isolasi tidak
dibolehkan dengan asbes. Perpindahan panas pada isolasi dapat diturunkan dari
persamaan perpindahan panas.

Gambar 3.17. Perpindahan panas pada isolasi

3.6.2. Platform dan ladder


Platform dan ladder dipasang pada bejana tekan vertical dengan tujuan
untuk memudahkan pengecekan nozzle dan instrumentasi pada bejana tekan.
Platform dan ladder juga digunakan saat maintenance bejana tekan. Platform
didesain dengan mempertimbangkan posisi nozzle, luas dan ketinggian platform
menyesuaikan dengan bejana tekan.
Platform dapat didesain dengan grating atau dengan floor plate. Ladder
dapat didesain dengan sangkar sebagai pengaman pada ketinggian. Pada bejana
tekan vertical dirancang platform sirkular pada shell, dan platform rectangular
diatas top head. Platform dan ladder harus didesain sesuai standar agar mampu
menahan beban manusia dan aman untuk digunakan.

46

3.6.3. Instrumentasi
Bejana tekan dilengkapi dengan perlengkapan instrumentasi diantaranya
adalah:
1. Indikator tekanan
2. Indikator temperatur
3. Level gauge
4. Transmiter tekanan
5. Transmiter temperatur
6. Transmiter level gauge
Instrumen digunakan sebagai sensor untuk mengetahui kondisi opersai
bejana tekan. Instrumentasi terhubung pada nozzle ukuran 2 in ke shell. Posisi
Instrumen dapat dilihat pada P&ID (Process and Instrumentation Diagram)
pada Lampiran 2.

3.6.4. Perlengkapan internal


Perlengkapan internal dalam separator diantaranya adalah inlet diverter,
mist extractor dan vortex breaker.
1. Inlet diverter: cyclone inlet
Inlet diverter berfungsi untuk membantu memisahkan fluida yang
masuk menjadi dua fasa yang berbeda. Cylone inlet memisahkan fluida
dengan gaya sentrifugal.

Gambar 3.18. Cyclone Inlet

47

2. Mist extractor atau demister pad


Mist Extractor berfungsi untuk mengumpulkan titik-titik cairan
yang masih terdapat dalam gas. Mist Extractor mampu melepaskan
droplets yang berukuran hingga 10 micron.

Gambar 3.19. Mist Extractor dan support dari mist extractor


3. Vortex breaker
Vortex breaker berfungsi mencegah timbulnya vortex pada cairan
yang keluar.

Gambar 3.20. Vortex breaker

48

3.7.

Perancangan Support
Support digunakan untuk menyangga bejana tekan ke pondasi. Support

terdiri dari beberapa jenis. Contoh jenis support untuk bejana tekan vertikal.
1. Leg support
Untuk bejana vertikal ukuran menengah hingga kecil.
2. Skirt support
Skirt semacam shell yang berbentuk silindris atau konikal sehingga beban
terdistribusi merata. Support yang dipakai dalam perancangan ini yaitu
jenis skirt silinder.

3.7.1. Perancangan skirt


Bejana tekan vertikal yang dirancang harus bisa berdiri dan ditumpu oleh
skirt silinder. Tumpuan skirt dilas langsung pada bagian bottom head bejana atau
shell. Perancangan tumpuan skirt ini dilakukan sesuai dengan diameter shell dan
berdasarkan berat vessel serta beban yang diderita. Komponen lain yang harus
diperhatikan adalah dasar skirt, ring bawah, lasan antara skirt dengan ring
bawah, ring penguat atas, dan penguat vertikal,
Ketebalan minimum diperlukan agar skirt dapat menyangga bejana tekan.
Faktor yang mempengaruhi diantaranya adalah berat bejana dan momen eksternal
akibat beban angin dan gempa. Ketebalan minimum dapat dicari menggunakan
rumus berikut.
(3.84)
Dimana:
D

= Diameter luar skirt

= Efisiensi sambungan skirt ke head

MT

= Moment pada skirt

= Radius luar

= Tegangan

= Tebal skirt yang dibutuhkan

= berat vessel yang ditumpu skirt pada kondisi paling berat (hidrotes)
49

Pengelasan digunakan untuk menyambung skirt dan head. Efisiensi


sambungan skirt ke head adalah sebagai berikut:
a. 0.6 untuk butt weld
b. 0.45 untuk lap weld

Gambar 3.21. Pengelasan pada skirt ke head butt weld (kiri) dan lap weld (kanan)

3.7.2. Anchor bolt


Hal yang perlu dipertimbangkan dalam pemasangan anchor bolt sehingga
mampu menahan beban tarik yang timbul yaitu
a. Jumlah anchor bolt
b. Spasi dari anchor bolt
c. Diameter anchor bolt
Perhitungan anchor bolt dapat dilakukan dengan metode pendekatan sebagai
berikut.
Gaya tarik maksimum
(3.85)
Area yang dibutuhkan untuk satu baut BA
(3.86)
Tegangan pada anchor bolt
(3.87)
Dimana:
=
=

50

=
=
=

3.7.3. Base rings


Permukaan base ring harus cukup luas untuk mendistribusikan beban
merata pada pondasi beton. Ketebalan base ring harus mampu menahan tegangan
bending akibat gempa atau beban angin.

Gambar 3.22. Sketsa dimensi dari base ring


Perhitungan base ring dapat dilakukan dengan metode pendekatan sebagai
berikut.
Gaya desak maksimum.
(3.88)
Lebar base ring kira-kira
(3.89)
Tebal base ring kira-kira
(3.90)
Tegangan bearing
(3.91)
Tegangan bending
(3.92)
Dimana:
51

=
=

(3.93)
skirt

=
=
=
=
=
=

3.7.4. Desain anchor bolt dan base ring


Anchor bolt dan base ring digunakan untuk menanam bejana tekan di atas
pondasi beton. Perancangan dimaksudkan agar bejana tekan dapat menahan beban
berat bejana tekan dan beban akibat angin dan gempa. Sketsa perancangan anchor
bolt dan base ring dapat dilihat pada Gambar 3.23.

Gambar 3.23. Sketsa perancangan anchor bolt dan base ring


Prosedur desain untuk memperoleh anchor bolt yang sesuai dengan base
ring adalah sebagai berikut.

52

Nilai dari konstanta dimensi k


(3.94)
Total area yang dibutuhkan anchor bolts
(3.95)
Hubungan antara tegangan desak maksimum yang diijinkan pada tepi luar base
ring dan bolt circle
(3.96)
(3.97)

Beban tarik pada anchor bolts


(3.98)
Tegangan tarik di anchor bolts.
(3.99)
Ketebalan ring dengan area sama dengan area dari anchor bolts.
(3.100)
Beban desak pada beton.
(3.101)
Tegangan desak pada beton.
(3.102)
Hubungan antara gaya tarik di baja dan desak di beton.
(3.103)
Ketebalan base ring tanpa gusset plate.

(3.104)

Ketebalan base ring dengan gusset plate.

(3.105)

Dimana:
b

= jarak antara gusset plates, diukur dari arc bolt circle

53

Bt

= Total area yang dibutuhkan untuk anchor bolt

Cc,Ct = Konstanta
d

= Diameter lingkaran anchor bolt

= Diameter lingkaran anchor bolt

fc

= Tegangan tekan pada pondasi di edge terluar pada base ring

fcb

= Tegangan tekan pada pondasi di lingkaran bolt.

= Konstanta

l4

= l - ts = lebar base ring

= Momen pada base akibat beban angin dan gempa.

Mmax = Mx atau My dipilih yang terbesar


n

= Rasio modulus elastisitas dari baja dan beton

= Radius lingkaran bolt

Sa

= Tegangan tarik pada anchor bolt

= Teganan maksimal yang diijinkan pada base

= Berat bejana tekan saat operasi

= Konstanta

Gusset plate, anchor chair, atau compression ring dapat digunakan untuk
distribusi tegangan yang lebih baik.

3.8.

Berat Bejana Tekan


Berat perlu dihitung untuk memperkirakan biaya pembuatan dan

transportasi. Berat juga dipakai untuk perancangan support, pondasi dan lifting
lug. Berat dihitung dari total kebutuhan material minimum bejana tekan. Berat
dihitung dengan cara mengalikan volum dari bagian-bagian bejana tekan dengan
berat teoritis dari material.
Berat dapat dibedakan menjadi berat pabrikasi, berat pemasangan, berat
operasi, dan berat uji.

54

3.8.1. Berat pabrikasi


Berat total saat dibuat dipabrik. Berat pabrikasi terdiri dari dari berat:
1.

shell

2.

heads

3.

Internal plate work

4.

Tray support

5.

Insulation rings

6.

Openings

7.

Skirt

8.

Base ring

9.

Anchor ring

10. Anchor lug


11. Misscellaneous
12. Ditambah 6% dari berat poin 1 sampai 11untuk kelebihan berat pada
plat dan berat dari lasan

3.8.2. Berat ereksi (pemasangan)


Berat ereksi adalah berat total saat pabrikasi ditambah berat dari
perlengkapan tambahan.
Perlengkapan tambahan
1.

Insulation

2.

Fireproofing

3.

Platform

4.

Ladder

5.

Piping

6.

Miscellaneous

55

3.8.3. Berat operasi


Berat kosong ditambah berat fluida pada kondisi operasi. Berat fluida
kerja dapat dicari dengan mengalikan volum fluida dengan densitas. Di dalam
separator terjadi pemisahan brine dan uap. Brine akan berada di bawah dan uap di
atas. Ketinggian brine dibatasi pada level tertentu. Berat brine dihitung pada
kondisi brine berada pada elevasi maksimal. Berat brine dapat dicari dengan
mengalikan volum dengan densitas brine. Berat uap dihitung dari volum vessel
dikurangi volum brine maksimal dan dikalikan dengan densitas dari uap.

3.8.4. Berat uji


Berat total ketika pengujian tekanan menggunakan air yang diisikan secara
penuh ke bejana tekan. Berat kosong ditambah berat fluida air pada kondisi
pengujian atau penuh. Berat fluida air dapat dicari dengan mengalikan volum
fluida dengan densitas air.

3.8.5. Titik berat bejana tekan


Titik berat dapat menentukan posisi titik angkat crane pada saat
pengangkatan (ereksi) dan gaya reaksi pada support. Menurut Moss, titik berat
bejana tekan dapat dihitung dengan persamaan sebagai berikut.
(3.106)
Dimana:
C

Titik pusat gravitasi dihitung dari garis tangen kiri (mm)

Ln

Jarak dari tangen line ke titik berat tiap komponen (mm)

Wn

Berat tiap komponen (kg)

Berat total bejana tekan (kg)

56

3.9.

Pembebanan pada Bejana Tekan


Pembebanan yang terjadi pada bejana tekan perlu diperhitungkan agar

bejana tekan mampu menahan beban tersebut. Pembebanan luar pada bejana tekan
yang perlu diperhatikan adalah beban akibat beban angin dan gempa.

3.9.1. Beban angin


Angin adalah aliran udara turbulen pada permukaan bumi dengan
kecepatan bervariasi. Kecepatan angin dipengaruhi oleh gesekan pada permukaan
bumi. Besarnya kecepatan udara akan meningkat dengan bertambahnya
ketinggian dari permukaan bumi. Profil kecepatan angin tergantung dari
karakteristik permukaan dari suatu wilayah.
Angin akan menimbulkan momen yang menghasilkan tegangan pada shell
dan skirt untuk bejana vertikal. Beban angin dapat dikonsiderasikan berdasarkan
standar UBC 1997 atau bisa juga dengan standar ANSI/ASCE 7. Sebelum
dikonderasi perlu diketahui kecepatan angin basis di lokasi.

a.

Konsiderasi dengan standar UBC-1997


Kecepatan angin didapat dari data lapangan, keceepatan angin desain

dipilih berdasarkan kecepatan angin maksimal yang mungkin terjadi. Dari


kecepatan angin dapat dicari parameter lain dari tabel yang telah disediakan oleh
UBC-1997. Persamaan yang digunakan pada standar UBC-1997
(3.107)
Dimana,
Ce

= Faktor koefisien gust

Cq

= Koefisien tekanan

qs

= Tekanan angin stagnasi

= Faktor importance

Nilai Ce Cq qs dan I diperoleh dari tabel 3.3. sampai dengan tabel 3.6. berikut yang
diambil dari UBC-1997.

57

Tabel 3.3. Tekanan angin stagnasi (qs) pada ketinggian standar 33 ft (UBC)
Kecepatan angin basis (mph)
70
80
90
100 110 120 130
Tekanan qs (psf)
12.6 16.4 20.8 25.6 31 36.9 43.3
Tabel 3.4. Koefisien Ce kombinasi ketinggian, exposure dan gust factor
(UBC)
Ketinggian diatas
Exposure D
Exposure C
Exposure B
permukaan tanah (feet)
0-15
1.39
1.06
0.62
20
1.45
1.13
0.67
25
1.5
1.19
0.72
30
1.54
1.23
0.76
40
1.62
1.31
0.84
60
1.73
1.43
0.95
80
1.81
1.53
1.04
100
1.88
1.62
1.13
120
1.93
1.67
1.20
160
2.02
1.79
1.31
200
2.1
1.87
1.42
300
2.23
2.05
1.63
400
2.34
2.19
1.80
Tabel 3.5. Koefisien tekanan Cq (UBC)
Struktur atau part thereof
diskripsi
Chimney, tanks dan solid
Square atau rectangular
tower
Hexagonal atau octagonal
Round atau elliptical
Open frame tower
Square dan rectangular
Diagonal
Normal
Triangular
Aksesoris tower ( seperti
Cylindrical members
ladders, conduicts, light,
Diameter 2 in atau kurang dari
dan elevator)
Diameter lebih dari 2 in
Flat atau angular members

I
II
III
IV

Factor Cq
1.4
1.1.
0.8
4.0
3.6
3.2
1
0.8
1.3

Tabel 3.6. Faktor importance I (UBC)


Kategori Occupancy
Faktor importance angin I
Fasilitas essential
1.15
Fasilitas Hazardous
1.15
Spesial struktur occupancy 1.00
Standar struktur occupancy 1.00

58

Konsiderasi beban angin perlu dilakukan sehingga bejana tekan mampu


menahan beban angin. Setelah dilakukan konsiderasi baban angin maka dapat
dilakukan perhitungan untuk mencari momen yang terjadi berdasarkan gambar
3.24. dan rumus sebagai berikut.

Gambar 3.24. Dimensi bejana tekan untuk konsiderasi beban angin


Gaya geser pada base.
(3.108)
Momen yang terjadi pada base akibat gaya geser.
(3.109)
Momen pada ketinggian hT .
(3.110)
Tegangan yang terjadi karena beban angin.
(3.111)
Tebal minimum yang dibutuhkan untuk menahan beban angin.
(3.112)
Keterangan:
D

= Diameter luar skirt

= Tinggi bejana

= Lever arm =H/2

hT

= Jarak dari base hingga bagian bawah dari shell

= Efisiensi las

59

b.

Konsiderasi dengan ANSI/ASCE 7-93

Konsiderasi dapat dilakukan juga menggunakan ANSI/ASCE 7-93


Desain tekanan angin
(3.113)
Dengan tekanan kecepatan
(3.114)
Dimana:
kz

Tekanan kecepatan koefisien exposure

Faktor importance

Kecepatan angin

Faktor respon Gust dimana lokasi tower

Cf =

Faktor bentuk = 0,8 untuk silinder

Af =

Area yang diproyeksikan

3.9.2. Beban gempa


Pembebanan gempa pada bejana tekan dapat juga menyebabkan momen.
Bejana tekan dapat diasumsikan sebagai cantilever beam yang mengalami
pembebanan. Pembebanan meningkat saat mendekati ujung secara uniform seperti
terlihat pada Gambar 3.25.

Gambar 3.25. Diagram beban seismic dan tegangan geser akibat beban seismic

60

Prosedur pembebanan karena gempa dapat dihitung dengan standar UBC


1997. Perhitungan gempa dengan peraturan UBC sering dipakai pada proyekproyek oil, gas dan juga geothermal.

Langkah-langkah perhitungan beban gempa dengan standar UBC 1997 adalah


sebagai berikut:
1.

Faktor zona seismic


Zona seismic dapat diketahui dari peta gempa di Indonesia yang terdapat

pada Lampiran 6. Dari zona seismic dapat ditentukan faktor zona seismic UBC,
berikut penentuan faktor Z dari zona seismic.
Tabel 3.7. Faktor zona seismic (UBC)
Zone
Z
2.

1
2A 2B
0.075 0.15 0.2

3
0.3

4
0.4

Tipe tanah
Tipe tanah sangat menentukan dalam kegempaan. Tipe tanah dapat

bernilai 1 sampai 5 secara lengkap dapat dilihat pada tabel 3.8. dibawah ini.
Tabel 3.8. Tipe tanah (UBC)
Staad value Tipe tanah
Deskripsi tanah
1

Sa

2
3

Sb
Sc

Hard rock

Rock
Very dense
Soil/soft rock
4
Sd
Stiff soil profile
5
Se
Sofy soil
Keterangan : N-SPT adalah standar tes penetrasi

3.

N-SPT

>50
15 sampai50
<15

Faktor importance
Untuk faktor kepentingan disesuaikan dengan jenis bangunan. Untuk

bejana tekan vertikal biasanya diambil sebesar I = 1.25.


4.

R value
Untuk setiap sistem struktur akan mempunyai R value yang berbeda-beda

sesuai dengan tipe struktur. Untuk bangunan struktur dan non building struktur R
value dapat ditentukan dengan cara berikut.
61

Tabel 3.9. R value untuk bangunan struktur dan non building struktur (UBC)
R value Tipe Struktur
bangunan struktur
5.6

OBF untuk baja dan concrete

4.5

OMRF untuk baja

3.5

OMRF untuk concrete

non building struktur


2.,2

Monumen, vessel, tank dan sperical tank, cantilever column


structure,

2.9

Bin dan hopper, distributed vertical mass such chimney, silo, truss
tower

3.6

Storage rack, signs, billboard, cooling tower

5. Faktor koefisien seismic


Dari nilai-nilai di atas dapat ditentukan faktor koefisien seismik Ca dan Cv . Ca
dan Cv akan digunakan untuk menghitung tegangan yang terjadi.
Tabel 3.10. Penentuan ditentukan faktor koefisien seismik Ca (UBC)
faktor koefisien seismik Ca
Jenis profil
Seismic Zone Factor, Z
tanah
Z=0.075
Z=0.15
Z=0.2
Z=0.3
Z=0.4
SA
0.06
0.12
0.16
0.24
0.32Na
SB
0.08
0.15
0.2
0.3
0.40Na
SC
0.09
0.18
0.24
0.33
0.40Na
SD
0.12
0.22
0.28
0.36
0.44Na
SE
0.19
0.3
0.34
0.36
0.36Na
SF
Tabel 3.11. Penentuan ditentukan faktor koefisien seismik Cv (UBC)
Faktor koefisien seismik Cv
Jenis profil
Seismic Zone Factor, Z
tanah
Z=0.075
Z=0.075
Z=0.075
Z=0.075
Z=0.075
SA
0.06
0.12
0.16
0.24
0.32Nv
SB
0.08
0.15
0.2
0.3
0.40Nv
SC
0.13
0.25
0.32
0.45
0.56Nv
SD
0.18
0.32
0.40
0.54
0.64Nv
SE
0.26
0.50
0.64
0.84
0.96Nv
SF
62

Investigasi geoteknik site secara spesifik dan analisis respon dinamik


harus dilakukan untuk menentukan seismic coefficient untuk tanah tipe S F. Nilai
Na dan Nv dapat ditentukan berdasarkan tipe dan jarak dari sumber gempa seperti
pada tabel 3.12 dan 3.13.

Tabel 3.12. Faktor kedekatan sumber gempa Na dan Nv (UBC 1997)


Tipe

Jarak terdekat ke sumber gempa


2km

sumber

5km

15km

10km

seismic

Na

Nv

Na

Nv

Na

Nv

Na

Nv

1.5

1.6

1.2

1.2

1.0

1.0

1.0

1.6

1.3

1.2

1.0

1.0

1.0

1.0

1.0

1.0

1.0

1.0

1.0

1.0

1.0

1.0

1.0

Tabel 3.13. Tipe sumber seismic (UBC 1997)


Tipe
sumber
seismic
A

Definisi sumber seismic


Momen
Deskripsi sumber seismic
Slip rate SR
magnitude
(mm/year)
maksimum M
Patahan
yang
mempunyai M 7.0
SR 5
kapasitas produksi magnitude
dan aktivitas seismic tingkat
tinggi
Kecuali tipe A dan C
M 7.0
SR < 5
M <7.0
SR > 2
M 6.5
SR < 2
Patahan yang tidak mempunyai M < 6.5
SR 2
kapasitas produksi magnitude
dan aktivitas seismic relatif
tingkat rendah

Setelah dilakukan konsiderasi beban gempa maka dapat dilakukan


perhitungan untuk mencari momen yang terjadi berdasarkan gambar 3.24. dan
rumus sebagai berikut.
Tegangan geser pada base, V (dimana V>V1 atau V2, V<V3)
(3.115)

63

(3.116)
(3.117)
Nilai V dengan syarat V>V1 atau V2, V<V3, diambil nilai Vn sebagai perkiraan,
nilai Vn dapat dihitung dari nilai V yang memenuhi syarat di atas.
(3.118)
Tegangan geser pada base karena desain seismic.
(3.119)
Base shear yang bekerja pada bagian atas bejana
Gaya seismic horisontal
(3.120)
Momen pada base
(3.121)
Momen pada ketinggian hi
(3.122)
Ketebalan minimum bejana agar mampu menahan beban gempa
(3.123)

Akibat beban angin atau gempa akan menimbulkan vibrasi, periode dari
vibrasi harus dibatasi karena periode natural yang besar dari vibrasi dapat
menimbulkan kegagalan fatigue. Perhitungan periode maksimum yang diijinkan
berdasarkan dari defleksi maksimum yang diperbolehkan.
Periode Vibrasi =
( )

(3.124)

Dimana:
H

= Panjang bejana termasuk skirt

= Diameter luar bejana

= Berat vessel

64

= Berat vessel per satuan panjang dari ketinggian

= Ketebalan skirt pada base

3.10.

Perancangan Lifting Lug


Lifting lug digunakan untuk ereksi atau pengangkatan separator. Piranti

pengangkatan harus dipastikan memiliki kekuatan sambungan yang memadai


untuk mengangkat bejana dengan aman dan sekaligus tidak merusak dirinya
sendiri. Lifting lug didesain dengan berdasarkan data berat ereksi vessel dan titik
berat
W1 =

Berat ereksi untuk perhitungan

W*c

(3.125)

Dimana:
W = Berat ereksi vessel
c = Faktor impact
Selanjutnya ditentukan jarak I dan L dimana:
I = Jarak dari CG ke R2 (base)
L = Jarak dari R1 (lubang lifting lug) ke R2,

Lifting lug terdiri dari tiga part yaitu lifting lug, pad, dan support. Bahan
yang digunakan dalam desain akan mempunyai tegangan yang diijinkan a yang
digunakan sebagai dasar dalam mendesain. Lifting lug akan menderita beban
akibat berat dari vessel. Dalam perancangan ini beban untuk lifting lug dapat
dibedakan pada posisi vertikal dan horisontal.
Posisi horizontal,
(3.126)
Posisi vertikal,
(3.127)
Bejana tekan dilengkapi juga dengan tailing lug yang terletak pada base
ring. Beban untuk tailing lug adalah sebagai berikut.
Posisi horizontal,

65

(3.128)
Posisi vertikal, untuk posisi vertikal pengangkatan bejana tekan hanya dengan
lifting lug, sehingga pada tailing lug

3.10.1. Desain reaksi dan tegangan yang diijinkan


Reaksi aktual yang terjadi pada setiap lifting lug adalah

. Desain reaksi

yang terjadi pada setiap lifting lug


(3.129)
Tegangan yang diijinkan pada lifting lug berdasarkan material yang
digunakan.
a

Tegangan yang diijinkan untuk tarik, desak dan bending

Dipilih yang terkecil dari 1/3 t atau 2/3 y

Tegangan geser yang diijinkan

Lifting lug terdiri dari tiga part yaitu lifting lug, pad dan support. Dimensi
dari ketiga komponen tersebut perlu diperhitungkan agar mampu menahan bejana
tekan saat ereksi. Perhitungan juga dilakukan pada penyambungan. Sketsa lifting
lug sebagai dasar perhitungan dan perancangan ditunjukkan pada Gambar 3.26.
Perhitungan lifting lug mengacu pada moss (2004) dan desain PT Tripatra

Engineers and Constructors.

Gambar 3.26. Sketsa lifting lug

66

Keterangan :
a
a'
b
c
c'

=
=
=
=

Jarak antara lubang pin bagian atas dengan diameter atas


Lebar support
Lebar pad
Tinggi pad
Tinggi area tambahan lasan
Diameter pin
Diameter setengah lingkaran untuk area tambahan lasan
Tinggi area tambahan lasan ditambah radius
Lebar lifting lug
Panjang support
Jarak vertikal titik tengah lubang pin dengan sisi atas support
Jarak vertikal sisi atas support dengan tangen line
Jarak vertikal tangen line dengan sisi bawah lifting lug
Tebal lifting lug
Tebal pad
Tebal support
sudut

d
d'
e
h
l
l1
l2
l3
T
t
t'

=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=

tw =
tw1 =
tw1'=
tw2 =

tebal throat las fillet


tebal throat lug-pad
tebal throat lug-supp't
tebal throat pad-shell

Keterangan satuan yang digunakan dalam mm.

3.10.2. Kekuatan lifting lug saat pengangkatan posisi vertikal


Tegangan sirkumferensial dari ring dapat dihitung dengan persamaan
berikut. Jika

kurang dari

maka tegangan yang terjadi masih aman.


(3.130)

Dimana:
f(y)=Faktor tegangan, rasio y=a/d,
f(y) dapat diketahui dari tabel
Y= a/d f(y)

67

Tegangan tarik pada A-A dapat dihitung dengan persamaan berikut. Jika
kurang dari

maka tegangan yang terjadi masih aman


(3.131)

Tegangan geser pada ring dapat dihitung dengan persamaan berikut. Jika
kurang dari

maka tegangan yang terjadi masih aman.


(3.132)

Dimana:
(3.133)
[(

( ) ]

(3.134)

Kombinasi tegangan pada B-B dapat dihitung dengan persamaan berikut.


(3.135)
(3.136)
Kombinasi tegangan pada B-B merupakan penjumlahan dari

.
(3.137)

Tegangan yang diijinkan adalah sebagai berikut.


(3.138)
Jika

kurang dari

maka tegangan yang terjadi masih aman

3.10.3. Kekuatan las saat pengangkatan posisi vertikal


Penyambungan antara lifting lug dan pad, lifting lug, dan support, pad
dan shell menggunakan las fillet. Saat pengangkatan posisi vertikal las akan
mengalami tegangan sehingga perlu dilakukan perhitungan.
Dimana:
tw

= tebal las fillet

tw1

= tebal las lug-pad

tw1'

= tebal las lug-support

68

tw2

= tebal las pad-shell

Efisiensi las
Tegangan geser pada sambungan lifting lug ke pad
dengan rumus sebagai berikut. Jika

kurang dari

dapat dihitung

maka tegangan yang terjadi

masih aman.
(3.139)
Tegangan geser pada sambungan lifting lug ke support
dengan rumus sebagai berikut. Jika

kurang dari

dapat dihitung

maka tegangan yang terjadi

masih aman.
(3.140)
Tegangan geser pada sambungan pad ke shell
rumus sebagai berikut. Jika

kurang dari

dapat dihitung dengan

maka tegangan yang terjadi masih

aman.
(3.141)

3.10.4. Kekuatan lifting lug saat pengangkatan posisi horisontal


Reaksi yang terjadi pada lifting lug saat terjada pengangkatan dalam posisi
horisontal dapat dihitung dengan persamaan berikut.
(3.142)
(3.143)
(3.144)

Gambar 3.27. Arah gaya pada lifting lug saat pengangkatan dalam posisi
horisontal.
69

Tegangan bending
kurang dari

dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut. Jika

maka tegangan yang terjadi masih aman.


(3.145)
(3.146)
(3.147)

Tegangan geser
kurang dari

dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut. Jika

maka tegangan yang terjadi masih aman.


(3.148)
(3.149)
(3.150)

Tegangan maksimum
*
Jika

kurang dari

dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut.


+

(3.151)

maka tegangan yang terjadi masih aman.


(3.152)

3.10.5. Kekuatan las lifting lug saat pengangkatan posisi horisontal


Penyambungan antara lifting lug dan pad, lifting lug, dan support, pad dan
shell menggunakan las fillet. Saat pengangkatan posisi horisontal, las akan
mengalami tegangan sehingga perlu dilakukan perhitungan. Momen inersia polar
dari lasan (lifting lug ke lasan pad) dapat dihitung berdasarkan Gambar 3.28.

70

Gambar 3.28. Lasan pada lifting lug dan arah gaya pada posisi horizontal
Momen inersia polar dari lasan (lifting lug ke lasan pad) dapat dihitung
berdasarkan dengan persamaan berikut.
Sumbu netral (N-A) dari sumbu X
(3.153)
Sumbu netral (N-A) dari sumbu Y
(3.154)
Momen inersia polar
(3.155)

Maksimum radius dari las r1 dan sudut

dihitung dengan persamaan

berikut.
[( )

) ]

(3.156)
(3.157)

Maksimum radius dari las r2 dan sudut

dapat dihitung dengan persamaan

berikut.

71

[( )

(3.158)

( )

a.

(3.159)

Kekuatan lasan lifting lug ke pad


Tegangan geser langsung ke lasan dapat dihitung dengan persamaan

berikut.
(3.160)
Dimana

= total throat area pada lasan


[

)]

(3.161)

Tegangan geser akibat momen bending dapat dihitung dengan persamaan berikut.
(3.162)
Tegangan geser maksimum dapat dihitung dengan persamaan berikut.

(3.163)

Tegangan yang diijinkan diipilih nilai yang paling kecil diantara pad atau lug.
(3.164)
Jika

b.

kurang dari

maka tegangan yang terjadi masih aman.

Kekuatan lasan lifting lug ke support


Tegangan geser langsung ke lasan dapat dihitung dengan persamaan

berikut.
(3.165)
Dimana

, maka tegangan geser yang terjadi.

Tegangan geser akibat momen bending dapat dihitung dengan persamaan berikut.
(3.166)
Tegangan geser maksimum dapat dihitung dengan persamaan berikut.

(3.167)

Tegangan geser yang diijinkan

72

(3.168)
Dimana

dipilih nilai yang paling kecil diantara support atau lug, Jika

kurang dari

maka tegangan yang terjadi masih aman.

Tegangan bending dapat dihitung dengan persamaan berikut.


(3.169)
Dimana:
F=gaya reaksi pada las support
(3.170)
Z adalah modulus section dari lasan support
(3.171)
Jika

c.

kurang dari

untuk support maka desain aman.

Kekuatan lasan pad ke shell


Tegangan geser pada lasan pad ke shell dapat dihitung dengan persamaan

sebagai berikut.
(3.172)
Dimana:
(3.173)
Jika

kurang dari

, maka tegangan yang terjadi masih aman.

3.10.6. Perancangan tailing lug.


Saat pengangkatan dengan posisi horisontal maka pengangkatan selain
menggunakan lifting lug juga dengan menggunakan tailing lug. Tailing lug
terletak pada base. Perancangan dilakukan agar tegangan yang terjadi tidak
melebihi tegangan yang diijinkan. Tegangan yang diijinkan pada lifting lug
berdasarkan material yang digunakan.
a

Tegangan yang diijinkan untuk tarik, desak, dan bending

Dipilih yang terkecil dari 1/3 t atau 2/3 y

73

Tegangan geser yang diijinkan

Gambar 3.29. Sketsa tailing lug


Sketsa dari tailing lug dapat dilihat pada Gambar 3.29.
Keterangan :
L1 = Jarak titik tengah lubang dan base
L3 = Lebar tailing lug
R = Radius atas tailing lug
d = Diameter lubang
t = Ketebalan tailing lug
a = Jarak radius luar dengan radius lubang
f(y) = Faktor tegangan
E = Efisiensi las
a = Tegangan yang diijinkan
Keterangan satuan panjang dalam mm.

Beban pada tailing lug (Fb) ,


Fb=R2

(3.174)

Tegangan sirkumferensial pada ring (1) dapat dihitung dengan persamaan


sebagai berikut.
(3.175)
Jika

kurang dari

maka desain aman.

74

Tegangan geser

dapat dihitung dengan persamaan sebagai berikut.


(3.176)

Jika

kurang dari

maka desain aman

Bending stress ( 3 ) dapat dihitung dengan persamaan sebagai berikut.


(3.177)
Jika

kurang dari

maka desain aman.

3.10.7. Kekuatan lasan tailing lug


Penyambungan antara tailing lug dan base menggunakan las fillet. Saat
pengangkatan posisi horisontal, las akan mengalami tegangan sehingga perlu
dilakukan perhitungan.
Bending stress

dapat dihitung dengan persamaan sebagai berikut.


(3.178)

Jika

kurang dari

maka desain aman.

Tegangan geser

dapat dihitung dengan persamaan sebagai berikut.


(3.179)

Jika

kurang dari

maka desain aman.

Tegangan kombinasi (S) dapat dihitung dengan persamaan sebagai berikut.

(3.180)

Tegangan yang diijinkan = E . Sa


Jika tegangan kombinasi

(3.181)

kurang dari E . Sa maka kekuatan tailing lug aman.

75

3.11.

Pembebanan Eksentrik pada Nozzle dengan Analisis Tegangan Lokal


(WRC 107)
Bejana tekan terhubung dengan sistem perpipaan sehingga beban eksentrik

pada nozzle akibat sistem perpipaan harus dipertimbangkan.

3.11.1. Sistem perpipaan


Sistem perpipaan dalam operasi menerima beban yang kompleks, yaitu
meliputi beban sustain, beban ekspansi, beban operasi dan beban occasional.
Masing-masing beban yang terjadi pada sistem tersebut diakibatkan oleh
pembebanan akibat dari kondisi operasi sistem perpipaan sendiri maupun dari
lingkungan sekitar. Untuk memperoleh hasil rancangan sistem perpipaan yang
aman tiap komponen beban baik akibat kondisi dari beban internal maupun akibat
beban eksternal harus diperhatikan pada saat melakukan perancangan.
Penggolongan pembebanan pada sistem perpipaan berdasarkan pada jenis bebanbeban yang terjadi secara umum dapat diklasifikasikan secara sederhana meliputi
beban - beban sustain, beban ekspansi, beban operasi, dan beban occasional.
a.

Beban sustain
Beban sustain adalah beban yang dialami oleh instalasi pada pipa yang

terjadi secara terus menerus. Beban ini merupakan kombinasi beban yang
diakibatkan oleh tekanan internal dan beban berat (berat fluida dan berat pipa).
Tegangan pada beban sustain = tegangan longitudinal akibat internal pressure +
tegangan akibat gaya berat sistem perpipaan.
b.

Beban ekspansi
Tegangan yang terjadi pada beban ekspansi merupakan tegangan normal

maupun tegangan geser yang diakibatkan oleh adanya ekspansi material pipa
akibat perbedaan temperatur pipa dengan temperatur lingkungan sekitar.
c.

Beban operasi
Beban operasi adalah beban yang diterima oleh pipa selama operasi

berlangsung, beban yang diterima pipa merupakan kombinasi dari beban sustain
dan beban termal. Beban operasi = beban sustain + beban ekspansi

76

d.

Beban occasional
Beban occasional adalah beban yang terjadi kadangkadang pada sistem

perpipaan selama operasi normal. Ada beberapa hal yang dapat menyebabkan
timbulnya beban occasional, yaitu akibat gaya angin, gaya dinamik gempa, dan
gaya-gaya lain dalam beban occasional. Tegangan pada beban occasional =
tegangan akibat beban sustain + tegangan akibat gaya occasional.

3.11.2. Pembebanan eksentrik pada nozzle


Separator terhubung dengan perpipaan pada nozzle inlet dan outlet.
Tegangan yang terjadi pada sistem perpipaan akan berpengaruh terhadap kekuatan
nozzle. Perpipaan yang menempel pada bejana tekan bagian luar dapat
mengakibatkan pertambahan tegangan pada nozzle. Sehingga perlu dilakukan
simulasi pembebanan eksentrik pada nozzle untuk mengetahui kekuatan nozzle.
Pada saat beroperasi sistem perpipaan akan memberikan gaya dan momen
pada nozzle di kondisi sustained, expansion dan occasional. Pada perancangan
bejana tekan, perlu dianalisa pengaruh beban perpipaan pada nozzle agar tidak
melebihi tegangan yang diijinkan oleh bejana tekan dan nozzle. Jika tegangan
yang terjadi akibat beban eksternal perpipaan telah mencapai limit-nya maka
harus dievaluasi fleksibilitas nozzle dengan cara menambah ketebalan dan
diameter reinforcement pad ataupun ketebalan nozzle. Dalam perancangan ini
akan dianalisa pembebanan eksentrik pada nozzle inlet. Analisa dilakukan dengan
metode analisis tegangan lokal pada nozzle sesuai dengan WRC 107.

3.11.3. Analisis Tegangan Lokal pada Nozzle (WRC 107)


Perumusan secara umum analisis tegangan lokal adalah mencari hubungan
antar tegangan. Pembebebanan diasumsikan berlangsung pada titik pusat nozzle
dan titik pusat shell. Arah pembebanan dan momen dapat dilihat pada gambar.
Hubungan antara tegangan membran internal, tegangan lengkung internal dan
konsentrasi tegangan dapat dirumuskan sebagai berikut.

77

(3.182)
Dimana:
i

= Tegangan arah i pada permukaan shell (kPa)

Kn

= Konsentrasi tegangan tekan atau tarik

Kb

= Konsentrasi tegangan lengkung

Mi

= Momen bending pada arah i (kg/mm.mm)

Ni

= Gaya membran per satuan unit pada arah I (kg/mm)

= Tebal shell (mm)


Parameter shell () Parameter shell dapat dicari dengan persamaan berikut.
(3.183)
Parameter nozzle (), untuk nozzle yang berbentuk lingkaran, parameter

dapat dicari dengan persamaan berikut.


(3.184)
Dimana:
Rm

= Diameter rata-rata shell (mm)

= Tebal nominal shell (mm)

ro

= Radius luar shell (mm)


Berikut adalah gambar 3.30 dan tabel 3.14 tentang perjanjian tanda dari

beban dan momen pada nozzle. Dari beban dan momen dapat ditentukan tegangan
lokal yang terjadi dengan langkah-langkah perhitungan sesuai pada WRC 107 dan
menggunakan grafik WRC 107.

Gambar 3.30. Perjanjian tanda WRC 107


78

Tabel 3.14. Perjanjian tanda untuk tegangan akibat beban dan momen pada
spherical shell (WRC 107)

Berikut langkah untuk menentukan tegangan akibat beban dan momen


berdasarkan WRC 107. Grafik mengacu pada grafik pada WRC 107 dan terdapat
pada Lampiran.

79

3.11.4. Tegangan akibat beban radial, P


a. Tegangan sirkumferensial
Langkah untuk menentukan tegangan sirkumferensial berdasarkan WRC 107.
1.

Berdasarkan nilai dan , dilakukan pembacaan Grafik 3C dan 4C (WRC


107) pada Lampiran 7 dan 8, kemudian ditentukan parameter tidak
berdimensi gaya membran (

2.

).

Berdasarkan nilai dan , dilakukan pembacaan pada Grafik 1C dan 2C-1


(WRC 107) pada Lampiran 9 dan 10, kemudian ditentukan parameter tak
berdimensi gaya membran (

3.

Digunakan nilai dari P, Rm dan T untuk menghitung tegangan membran


sirkumferensial (
(

4.

).

)(

) dengan persamaan berikut.


)

(3.185)

Dengan menggunakan nilai dari P dan T,

tegangan lengkung

sirkumferensial dihitung dengan persamaan berikut.


(
5.

)( )

(3.186)

Tegangan kombinasi antara tegangan membran dan tegangan lengkung


dihitung dengan persamaan berikut.
(3.187)

Dimana:
N

= Gaya membran pada dinding shell pada arah sirkumferensial (kg/mm)

= Gaya radial (N)

Rm

= Radius rata-rata shell (mm)

M = Momen lengkung dinding shell arah sirkumferensial (mm. kg/mm)

= Tegangan sirkumferensial akibat pembebanan eksternal (kPa)

b. Tegangan longitudinal (

Langkah sama dengan tegangan sirkumferensial, kecuali (

) didapat

dari grafik 3C atau 4C pada Lampiran 7 dan 8. ( ) didapat dari grafik 1C-1 atau

80

2C pada Lampiran 9 dan 10. Persamaan untuk menghitung tegangan longitudinal


adalah sebagai berikut.
(

)(

(3.188)

( )( )

(3.189)
(3.190)

Dimana:
Nx

Gaya membran pada dinding shell pada arah longitudinal (kg/mm)

Mx

Momen lengkung pada dinding shell arah longitudinal (mm.kg/mm)

Tegangan longitudinal akibat pembebanan eksternal (kPa)

Tebal shell (mm)

3.11.5. Tegangan karena momen sirkumferensial, Mc


a. Tegangan sirkumferensial (
Langkah untuk menentukan tegangan sirkumferensial berdasarkan WRC 107.
adalah sebagai berikut.
1.

Berdasarkan nilai dan , dilakukan pembacaan Grafik 3A pada Lampiran


11 kemudian ditentukan parameter tidak berdimensi gaya membran
(

2.

Berdasarkan nilai dan , dilakukan pembacaan Grafik 1A pada Lampiran


12 kemudian ditentukan parameter tak berdimensi momen lengkung
(

3.

Digunakan nilai dari Mc, Rm, dan T, untuk menghitung tegangan


membran sirkumferensial dengan persamaan berikut.
(

4.

)(

(3.191)

Digunakan nilai dari Mc, Rm, dan T, untuk menghitung tegangan


lengkung sirkumferensial (
(

)(

) dihitung persamaan berikut.


(3.192)

81

5.

Tegangan gabungan antara tegangan membran dan tegangan lengkung


dapat dihitung dengan persamaan berikut.
(3.193)

b. Tegangan longitudinal
Langkah

sama

sirkumferensial, kecuali (
(

pada

tegangan

sirkumferensial

karena

momen

) didapat dari Grafik 4A pada Lampiran 13.

) menggunakan Grafik 2A pada Lampiran 14. Persamaan untuk

menghitung tegangan longitudinal adalah sebagai berikut.


(
(

)(

(3.194)

)(

(3.195)
(3.196)

3.11.6. Tegangan karena longitudinal momen, ML


a. Tegangan sirkumferensial (

Ikuti langkah pada tegangan sirkumferensial kecuali (


didapat dari Gambar 3B pada Lampiran dan (

yang

) dari Grafik 1B atau 1B-1

pada Lampiran 16 yang dinyatakan dengan persamaan berikut.


(
(

)(

(3.197)

)(

(3.198)

b. Tegangan longitudinal (

Dengan mengikuti langkah pada tegangan sirkumferensial kecuali


(

) yang didapat dari Grafik 4B pada Lampiran 15 dan (

) dari

82

Grafik 2B atau 2B-1 pada Lampiran 17 yang dinyatakan dengan persamaan


berikut.
(
(

)(

(3.199)

)(

(3.200)

3.11.7. Tegangan karena momen torsional (


Pada kasus nozzle yang berada pada shell silindris, momen torsional
diasumsikan menyebabkan tegangan geser. Tegangan geser () pada shell di titik
attachement adalah :
(3.201)
Jika hanya tegangan geser yang dipertimbangkan, dapat disimpulkan bahwa
intensitas tegangan adalah 2 kali tegangan geser yang terhitung.
Dimana:
Tx = Tegangan geser akibat momen torsional (kPa)
M

= Momen torsional pada nozzle (Nm)

Ro

= Radius luar shell (mm)

= Tebal shell (mm)

3.11.8. Tegangan karena tegangan geser,


Beban geser (V) dapat diasumsikan beban yang diberikan kepada shell
secara langsung oleh gaya geser membran. Tegangan pada shell yang terdapat
pada nozzle di shell dapat di dekati sebagai :
(Maksimum pada titik A dan B)
(Maksimum pada titik C dan D)

(3.202)
(3.203)

Dimana = Sudut antara shell dengan nozzle

83

3.11.9. Syarat keamanan tegangan lokal


Dari persamaan sebelumnya, diringkas tabel untuk mengerjakan tegangan
lokal akibat beban dan momen. Beberapa kombinasi tegangan telah disusun pada
Tabel 3.3. Berikut adalah lembar perhitungan tegangan lokal pada shell.

Tabel 3.15. Lembar perhitungan tegangan lokal pada shell silindris (WRC107)

84

Kriteria yang harus dipenuhi sebelum tegangan pada dinding bejana


karena beban nozzle dibandingkan dengan tegangan yang diijinkan adalah sebagai
berikut.
a. Pm < k Smh

(3.204)

b. Pm + Pl + Pb < 1.5 k Smh

(3.205)

c. Pm + Pi + Pb + Q < 3 Smavg

(3.206)

Dimana :
Pm

= Tegangan membran primer global (disebabkan oleh tekanan internal


bejana tekan) (kPa)

Pl

= Tegangan membran primer lokal (disebabkan oleh beban eksternal


perpipaan pada nozzle) (kPa)

Pb

= Tegangan lengkung primer lokal (kPa)

= Total tegangan sekunder (kPa)

= Faktor tegangan occasional

Smh

= Tegangan yang diijinkan pada kondisi operasi (kPa)

Smc

= Tegangan yang diijinkan pada kondisi lingkungan (kPa)

Smavg = Tegangan rata-rata (Smh + Smc)/2 (kPa)

3.11.10. Solusi simulasi pembebanan eksentrik pada nozzle.


Perhitungan analisis tegangan lokal WRC dibantu dengan software PV
Elite. Jika dilakukan secara hitungan manual, perhitungan WRC 107 dengan
simulasi pembebanan pada nozzle inlet akan rumit, kompleks dan memerlukan
waktu kerja yang lama. Pada prinsipnya PV Elite modul WRC 107 menghitung
tegangan yang terjadi akibat beban dan momen eksternal pada nozzle dan
reinforcement pad. Metode yang dilakukan sama dengan teori pada WRC 107.
Data dan beban nozzle diperoleh dari data analisis tegangan pipa dengan software
Bentley Autopipe pada Lampiran. Hasil laporan PV Elite berupa hitungan manual
yang sesuai dengan code Welding Reseach Council Bulletin 107.
Gaya dan momen yang didapat dari autopipe dimasukkan kedalam
perhitungan analisis tegangan lokal WRC 107. Arah gaya dan momen pada

85

autopipe disamakan dengan perjanjian arah gaya dan momen pada WRC 107.
Perhitungan PV Elite sesuai dengan code WRC 107. Pada perhitungan ini didapat
rasio tegangan pada nozzle dan reinforcement pad akibat beban dan momen radial,
sirkumferensial dan longitudinal. Jika rasio tegangan berada di bawah tegangan
yang diijinkan oleh material nozzle dan reinforcement pad maka beban eksentrik
akibat perpipaan aman.

86

BAB IV
METODE PERANCANGAN

4.1.

Diagram Alir Perancangan Bejana Tekan


Dalam pengerjaan tugas akhir ini, akan dilakukan perancangan bejana

tekan vertikal dan simulasi pembebanan eksentrik pada nozzle. Sistematika


perancangan bejana tekan secara umum adalah sebagai berikut:
Mulai

Acuan PFD dan P&ID

Data desain

Perancangan Shell

Perancangan Head

Perancangan Nozzle

komponen pendukung

Perancangan berat

Konsiderasi beban angin dan gempa

Perancangan Support

Perancangan Lifting Lug

Data Hasil Perancangan

Gambar Teknik

Selesai

Gambar 4.1. Diagram alir perancangan separator

87

Sesuai dengan diagram alir, dapat dilihat langkah-langkah dalam


perancangan ini. Langkah yang pertama kali dilakukan adalah mempelajari PFD
(Process Flow Diagram) dan P&ID (Piping and Instrumentation Diagram),
sehingga dapat diketahui sistem kerja dari lapangan uap Fluid Collection and
Reinjection System (FCRS) Karaha. Langkah selanjutnya yaitu pengumpulan data
perancangan, berupa data operasi, dan lingkungan.
Data lingkungan yang dipakai dalam perancangan bejana tekan, meliputi
intensitas angin dan zona gempa. Data operasi diperoleh dari PFD dan
perhitungan proses. Data-data tersebut meliputi temperatur operasi, tekanan
operasi, dimensi utama (diameter dalam, tinggi/panjang), fasa/kondisi fluida.
Dari data lingkungan dan data operasi maka dapat ditentukan data
perancangan. Selanjutnya dapat ditentukan jenis separator dan gambar sketsa
bejana tekan dengan tinggi dan diameter. Data perancangan mengandung datadata yang diperlukan dalam perancangan diantaranya tekanan desain, temperatur
desain, kapasitas bejana tekan, densitas fluida, efisiensi pengelasan, tekanan
hydrotest, diameter dalam shell dan head, panjang shell dan materialnya. Bejana
tekan dirancang dengan code ASME VIII divisi I.

4.1.1. Perancangan shell


Shell dirancang sesuai data desain. Langkah pertama yaitu pemilihan
material yang sesuai dengan temperatur kerja dan diketahui properti dari material.
Pemilihan material mencakup juga penentuan corrosion allowance dan
pengelasan. Ketebalan shell adalah parameter utama dalam mendesain dan
dipengaruhi oleh tekanan dan beban-beban yang terjadi. Setelah ketebalan standar
diperoleh dapat dihitung MAPNC (Maximum Allowable Pressure New and Cold)
dan MAWP (Maximum Allowable Working Pressure). Perhitungan ini bertujuan
untuk menghitung tekanan maksimum yang diijinkan bekerja pada bejana tekan.
Selanjutnya dihitung tegangan yang terjadi pada arah longitudinal dan
sirkumferensial (tangensial), kemudian tegangan dibandingkan dengan tegangan

88

yang diijinkan shell. Langkah terakhir yaitu menghitung berat shell. Langkah
perancangan shell dapat dilakukan dengan mengikuti diagram alir:
Mulai

Data desain

Pemilihan material

Perhitungan tebal minimum

Perhitungan MAPNC

tidak

Perhitungan MAWP

Perhitungan Tegangan yang terjadi

Apakah
Tegangan yang terjadi<Tegangan yang diijinkan

Ya

Berat shell

Selesai

Gambar 4.2. Diagram alir perancangan shell

89

4.1.2. Perancangan head


Dalam perancangan head langkah awal yang dilakukan adalah pemilihan
jenis head. Langkah perancangan head hampir sama dengan perancangan shell,
yaitu pemilihan material, material head dipilih sama dengan material shell.
Perhitungan tebal minimum, perhitungan MAWP dan MAPNC. Selanjutnya
dihitung tegangan yang terjadi pada head. Dalam penyambungan shell ke head
perlu ditambah straight flange. Langkah perancangan head dapat dilakukan
dengan mengikuti diagram alir:
Mulai

Data desain

Pemilihan material

Perhitungan tebal minimum

Perhitungan MAPNC

tidak

Perhitungan MAWP

Perhitungan Tegangan yang terjadi

Apakah
Tegangan yang terjadi<Tegangan yang diijinkan

ya
Berat head

Selesai

Gambar 4.3. Diagram alir perancangan head

90

4.1.3. Perancangan nozzle


Bejana tekan dilengkapi berbagai nozzle untuk menghubungkan secara
fungsional bejana tekan dengan perpipaan dan perlengkapan lainnya. Langkah
perancangan nozzle dapat dilakukan dengan mengikuti diagram alir:
Mulai

Spesifikasi nozzle

Pemilihan rating flange


tidak
Perhitungan tebal minimum nozzle

Tebal nominal > tebal minimum


ya
Perhitungan luasan penguat

Luas yang tersedia lebih > luas yang


dibutuhkan

Menambah luas atau


tebal penguat
Menambah tebal lasan

tidak

ya
Tegangan yang diijinkan pada pengelasan

Beban pengelasan

tidak
Analisis kekuatan pengelasan

Kekuatan las > pembebanan


ya
Berat nozzle

selesai

Gambar 4.4. Diagram alir perancangan nozzle

91

Perancangan yang dilakukan pada nozzle mencakup penentuan rating


flange, pemilihan tebal pipa yang akan digunakan, tebal minimum pipa
dibandingkan dengan tebal nominal pipa nozzle (schedule). Langkah selanjutnya
perhitungan kebutuhan reinforcement pad pada opening dengan berdasarkan
luasan yang dibutuhkan dan yang tersedia, jika luasan yang tersedia lebih besar
dibanding luasan yang dibutuhkan maka desain nozzle aman. Langkah terakhir
perancangan adalah perhitungan tegangan yang diijinkan dalam pengelasan,
beban, dan kekuatan pengelasan.

4.1.4. Perancangan komponen pendukung


Bejana tekan memerlukan komponen tambahan untuk menunjang
fungsinya. Komponen tambahan tersebut diantaranya:
a. Isolasi,

dirancang

dengan

persamaan

perpindahan

panas

untuk

menentukan ketebalan yang dibutuhkan.


b. Platform dan ladder, perancangan hanya dilakukan dengan memilih tipe
dan perkiraan berat.
c. Instrumentasi mengacu pada process and instrumentation diagram.
d. Perlengkapan internal, separator dilengkapi dengan perlengkapan internal
diantaranya, baffle plate dan support pipa internal,

4.1.5. Perhitungan berat


Berat dipakai untuk perancangan support, lifting lug dan pondasi.
Perhitungan berat bejana tekan dimulai dengan perhitungan berat komponen
bejana tekan, berat fluida kerja, dan berat air saat hidrotest Berat bejana tekan
terdiri dari:
a. Berat pabrikasi,berat total saat pabrikasi.
b. Berat pemasangan, berat pabrikasi ditambah berat perlengkapan tambahan.
c. Berat operasi, berat kosong ditambah berat fluida saat operasi.
d. Berat test, berat saat pengujian dengan air diisikan penuh ke bejana tekan.
. Berat dari perhitungan ini akan digunakan untuk perhitungan kekuatan
support dan perancangan lifting lug.

92

4.1.6. Konsiderasi beban angin dan beban gempa


Angin akan menimbulkan momen yang menghasilkan tegangan pada shell
dan skirt untuk bejana vertikal. Beban angin dapat dihitung berdasarkan kecepatan
angin di lapangan dan standar standar UBC 1997.
Beban gempa juga akan menimbulkan momen yang menghasilkan
tegangan pada shell dan skirt untuk bejana vertikal. Beban gempa dapat
dikonsiderasi berdasarkan dengan peta zonasi gempa di Indonesia dan standar
UBC 1997. Konsiderasi beban gempa dan angin digunakan untuk mengetahui
tegangan dan momen dan digunakan untuk mendesain skirt dan basering.

4.1.7. Perancangan support


Support digunakan untuk menyangga bejana tekan ke pondasi. Bejana
tekan ditumpu oleh skirt. Perancangan skirt didasarkan dari data berat bejana
tekan, dan momen yang terjadi akibat beban gempa dan angin. Ketebalan
minimum diperlukan agar skirt dapat menyangga bejana tekan. Anchor bolt dan
base ring digunakan untuk menumpu dan menahan beban bejana tekan di atas
pondasi beton. Perancangan dimaksudkan agar bejana tekan dapat menahan beban
eksternal.

93

Mulai

Perancangan berat

Konsiderasi beban angin

Konsiderasi beban gempa

Data berat dan Momen

Pemilihan Material

Perhitungan tebal minimum skirt

Perancangan anchor bolt dan base ring

Selesai

Gambar 4.5. Diagram alir perancangan support

4.1.8. Perancangan lifting lug dan tailing lug


Lifting lug dan tailing lug dirancang dengan menghitung beban yang
terjadi, kemudian dilakukan penentuan ketebalan dan ukuran yang lain,
selanjutnya penentuan kekuatan pengelasan.

94

Mulai

Data berat dan titik berat

Reaksi dan Tegangan yang diijinkan

Spesifikasi lifting lug

Kekuatan lifting lug posisi vertikal

Kekuatan lasan lifting lug posisi vertikal

Kekuatan lifting lug posisi horizontal

tidak

Kekuatan lasan lifting lug posisi horizontal

Perancangan Tailing Lug

Kekuatan lasan Tailing Lug

Tegangan yang terjadi < tegangan yang diijinkan


ya
Selesai

Gambar 4.6. Diagram alir perancangan lifting lug

4.1.9. Hasil perhitungan


Setelah komponen bejana tekan dirancang bejana tekan perlu dianalisa
setiap komponen. Analisa dilakukan berdasarkan tegangan yang terjadi apakah
bejana tekan mampu menahan tegangan. Jika dari analisa pembebanan ternyata
didapat hasil bahwa bejana tekan tidak mampu menahan beban maka perlu

95

dilakukan pengecekan ulang.Perbaikan perhitungan hanya dilakukan pada bagian


yang gagal menahan beban. Jika telah dinyatakan mampu menahan beban maka
dapat diambil data dari perancangan untuk membuat lembar data mekanika.
Lembar data mekanika dipakai sebagai ringkasan dari perancangan bejana
tekan. Lembar data terdiri dari data mekanika shell, head, support, nozzle,
komponen lain, MAWP dan berat.

4.1.10. Gambar teknik


Pembuatan gambar teknik dengan software Auto Cad 2D. Gambar teknik
disertai dengan kebutuhan material untuk perancangan bejana tekan atau biasa
disebut material take off. Material take off diperlukan untuk memperkirakan biaya
dengan menghitung kebutuhan material.

96

4.2.

Diagram Alir Simulasi Pembebanan Eksentrik pada Nozzle


Sistematika pembebanan eksentrik pada nozzle adalah sebagai berikut .
Mulai

Tegangan
perpipaan

Gaya dan momen pada


perpipaan

Data nozzle

Gaya dan momen pada nozzle

Tegangan lokal pada nozzle dan reinforced pad


tidak
Rasio tegangan

Rasio tegangan <1

ya
Selesai

Gambar 4.7. Diagram alir simulasi pembebanan eksentrik pada nozzle

Perhitungan analisis tegangan lokal WRC dibantu dengan software PV


Elite. Jika dilakukan secara hitungan manual, perhitungan WRC 107 dengan
simulasi pembebanan pada nozzle inlet akan rumit, kompleks dan memerlukan
waktu kerja yang lama. Pada prinsipnya PV Elite menghitung tegangan yang
terjadi akibat beban dan momen eksternal pada nozzle dan reinforcement pad.
Data dan beban nozzle diperoleh dari data dokumen analisis tegangan pipa dengan

97

software Bentley Autopipe pada lampiran 20. Hasil laporan PV Elite berupa
hitungan manual yang sesuai dengan code Welding Reseach Council Bulletin 107.
Gaya dan momen yang didapat dari autopipe dimasukkan kedalam
perhitungan analisis tegangan lokal WRC 107. Arah gaya dan momen pada
autopipe disamakan dengan perjanjian arah gaya dan momen pada WRC 107.
Pada perhitungan ini didapat rasio tegangan pada nozzle dan reinforcement pad
akibat beban dan momen radial, sirkumferensial dan longitudinal. Jika rasio
tegangan berada di bawah tegangan yang diijinkan oleh material nozzle dan
reinforcement pad maka beban eksentrik akibat perpipaan aman.

98