Anda di halaman 1dari 81

cardiologi

Penyakit jantung

PJB
Asianotik Sianotik
- ASD
- TF
- VSD
- Atr. pulm
- PDA
- Atr. Trikusp
- PS ringan - TGA
- CoAo
- AoS

Jemmy Tejokusuma

Didapat
- PJR
- Endokarditis
- Perikarditis
- Gagal jantung

cardiologi

PENDAHULUAN
Penyakit jantung dapat secara bawaan dan dapat
juga secara didapat. Untuk dapat mengevaluasi,
harus mempertimbangkan:
Anatomi dan fisiologi Jantung
Hemodinamika jantung
Sirkulasi darah fetal/post natal
Tekanan ruangan dan saturasi O2
Suara (bunyi) jantung dan lokalisasi
Bising jantung serta derajatnya
CTR dan foto toraks
EKG
ECHO

Untuk
dapat
menegakkan
diagnosis
diperhatikan:
- Manifestasi Klinik (berdasarkan anamnesa
dan pemeriksaan fisik)
- Foto rontgen dada
- Hasil elektrokardiogram
- Hasil pemeriksaan laboratorium
- Eko/kateterisasi
Jemmy Tejokusuma

cardiologi

PENYAKIT / KELAINAN JANTUNG


PADA BAYI / ANAK
Penyakit ini dapat diklasifikasikan:
1. Secara bawaan (kongenital heart disease/CHD)
2. Secara didapat (acquired heart disease)
Penyakit/kelainan jantung bawaan (CHD)
ialah suatu kelainan struktural jantung dan
pembuluh darah besar yang sudah terjadi sejak
lahir.
Adanya kelainan structural menyingkirkan
salah satu jenis gangguan seperti aritmia
(disritmia) yang bukan merupakan kelainan
struktural.
Tidak semua CHD dapat dideteksi segera setelah
lahir. Ada yang terdeteksi setelah beberapa
minggu, bulan, atau tahun.
Insiden pederita penyakit jantung bawaan
bervariasi di tiap-tiap negara. Mengenai 6 s/d 10
per 1000 kelahiran hidup. Untuk dapat
mendeteksinya, bergantung terhadap alat
diagnostik yang tersedia. Frekuensi relatif yang
bisa diperoleh yaitu:
VSD: 20-30%
ASD
: 10-16 %
Jemmy Tejokusuma

cardiologi

PDA
: 10-14%
TF
: 10-13%
Umumnya pria dan wanita insidennya sama,
tetapi pada pria lebih sering terkena: Coarktasio
Aorta (CoAo), The Great Artery (TGA), Tetralogi
Falot (TF), Aorta Stenosis (AO). Sedangkan pada
wanita lebih sering terkena: Patent Ductus
Arteriosus (PDA), Atrial Septal Disease (ASD),
Pulmonal Stenosis (PS).
Etiologi:
- Sampai saat ini etiologinya belum diketahui
secara pasti
- Diduga kemungkinan ialah konsumsi obat
pada
ibu
hamil
muda
seperti:
Talidomid/Sitostatika.
- Penyakit pada ibu hamil juga dapat
menyebabkan seperti infeksi virus Rubella
yang dapat menyebabkan PDA, VSD, TF, PS.
- Efek dari radiasi
- Faktor-faktor endogen tertentu seperti:
o Down Syndrome :
Atrial-Ventricular
Canal
o Turner Syndrome: Coarctasio Aorta
o Marfan Syndrome: Aorta Insufisiensi.

Jemmy Tejokusuma

cardiologi

Klasifikasi dari CHD dapat


berdasarkan:
A. Ada tidaknya sianosis
B. Kelainan anatomik tubuh
C.Fisiologi/hemodinamika

ditentukan

Ada tidaknya stenosis:


1. Tipe Sianosis
2. Tipe Non Sianosis
Dua-duanya tidak bersifat mutlak
Tipe Sianosis seperti: TF, AT, Atresia
Pulmonalis, TGA, TAPVR, Ebstein AV, Single
Ventrikel, Truncus Arteriosus Persisten.
Tipe Non-sianotik : ASD, VSD, PDA, PS, CoAo,
Aorta Stenosis.
Diagnosis CHD ditegakkan melalui:
Manifestasi
klinik
(Anamnesis
pemeriksaan fisik)
X-Foto Toraks
Elektrokardiogram (EKG)
Pemeriksaan Laboratorium
(EKO, Kateterisasi, Doppler)

Jemmy Tejokusuma

dan

cardiologi

ATRIAL SEPTAL DISEASE


ASD terdiri atas 3 bentuk:
1. Sinus venosus (VCS defect)
2. Fossa ovalis defect (ASD II/Secundum)
3. Atrioventrikular defect (ASD I/Primum;
ECD)
Hemodinamika:
- Left-Right Shunt
- PBF (>SBF)
- Relatif Pulmonal Stenosis

ASD II
Gejala klinis:
- Sebagian
besar
gejala
ASD
itu
asimptomatik / lekas lelah
- Dapat terjadi infeksi saluran pernapasan
secara berulang
- Bising jantung dapat didengar pada ejeksi
sistolik pada tepi kiri atas sternum.
- S I normal / S II fixed wide splitting

Jemmy Tejokusuma

cardiologi

Pemeriksaan EKG:
- RsR atau rsR (RBBB inkomplit); RAD
- Hipertropi ventrikel kanan .
Pemeriksaan X-foto thoraks :
- Hipertropi ventrikel kanan
- Corak pembuluh darah paru >
- Segmen pulmonal menonjol
Diagnosa:
- Berdasarkan auskultasi + EKG + X-foto
(+ECHO + Kateterisasi)
Differential Diagnosa:
- Pulmonal Stenosis (PS) bila EKG: IRBBB (-),
X-foto thorax normal.
Terapi: Operasi (Pada usia sekolah dini)
Komplikasi: SBE/Hipertensi Pulmonal

Jemmy Tejokusuma

cardiologi

DEFEK ATRIOVENTRIKULARIS
(AV

CANAL; DAHULU DISEBUT JUGA


ENDOCARDIAL CUSHION DEFECT/ECD)

Terdapat 2 jenis yaitu:


1. Defek A-V parsial = defek septum atrium
primum
2. Defek A.V. komplit

Defek Septum Atrium Primum


Etiologi:
Gangguan penutupan ostium primum oleh
endocardial cushion (sering disertai celah pada
daun katup mitral)
Hemodinamika:
Defek septum atrium sekundum (L-R shunt)
Gejala klinis:
- Umumnya sama dengan septum atrium
sekundum
- Bising pansistolik (ok Mitral Insufisiensi)

Jemmy Tejokusuma

cardiologi

EKG:
- Hipertropi ventrikel kiri
- Hipertropi atrium kanan (P.Pulmonal)
(beda dengan yang lain)
- LAD
Diagnosa: Berdasarkan gejala klinis, EKG, x-foto
Prognosis: Defek ostium primum > buruk
dibandingkan defek secundum. Dapat terjadi
hipertensi
pulmonal
dan
kemungkinan
endokarditis bartambah.
Terapi : operasi (pada umur 5-7 tahun).

Defek
atrioventrikularis
Komplit
Disini didapatkan:
- Defek septum atrium primum
- Defek septum ventrikel posterior (katup
mitral dan katup trikuspidalis tidak terpisah
sehingga terdapat katup atrioventrikularis
tunggal)
Hemodinamika:
Jemmy Tejokusuma

cardiologi

- shunt keempat ruang jantung


- Pada bayi didapatkan L-R shunt
Gejala Klinis:
- Pada minggu-minggu pertama hanya
didapati sianosis ringan
- Setelah beberapa bulan pertama terjadi gagal
jantung
- Terdengar bising berupa:
o Sistolik ejeksi (kiri atas)
o Mid diastolik (kiri bawah karena adanya
stenosis trikuspid)
o Pansistolik murmur oleh karena mitral
insufisiensi (MI)
Pemeriksaan x-foto toraks:
- Kardiomegali
- PVM >
EKG:
- RAD
- Biventricle hypertrophy
- PR memanjang
Terapi:
- Operasi
- Penanganan gagal jantung

Jemmy Tejokusuma

10

cardiologi

DEFEK SEPTUM VENTRIKEL

Klasifikasi:
- Hemodinamik
- Anatomis
Kelainan hemodinamik:
1. Defek kecil dengan resistensi paru normal
2. Defek sedang dengan resistensi paru normal
3. Defek besar dengan hipertensi pulmonal
4. Defek besar dengan penyakit obstruksi
vaskular paru
Defek Kecil (Septum Ventrikel):
Hemodinamika:
- adanya L-R shunt
- Status kardiovaskuler normal
Gejala klinik:
- Asimtomatik
- Hari-hari pertama tidak terdengar bising
sebab tekanan pada ventrikel kiri=kanan.

Jemmy Tejokusuma

11

cardiologi

Lalu terjadi resistensi vaskuler paru


meningkat.
- 2-6 minggu terjadi L-R shunt dan terdengar
bising di intercostal 3-4 kiri dan menjalar
sepanjang kiri sternum.
- Bising yang terdengar sampai grade IV/VI
(thrill +) disebut Maladie De Roger.
Pemeriksaan
X-Foto,
apabila
kelainan
hemodinamik kurang maka x-foto dan EKG
dapat tampak normal
Differential Diagnosa:
- Pulmonal stenosis (bising sistolik). Yg dpt
membedakan ialah mll hasil pemeriksaan EKG.
Defek Septum Ventrikel Sedang
(Resistensi Vaskular Paru Normal)
Shunt L-R yang cukup besar dapat terjadi
sehingga aliran darah paru bertambah dan
mengakibatkan hipertropi ventrikel kiri.
Gejala klinis:
Pada saat kelahiran terlihat normal

Jemmy Tejokusuma

12

cardiologi

Dalam 2 s/d 6 minggu terjadi takipnue,


kegiatan fisik yang menurun, SI-II normal,
bising pansistolik (pada kiri bawah sternum)
dan bising diastolik pada apeks paru.
Thrill terdeteksi
Gagal jantung (Gallop)
Pemeriksaan X-foto:
- terlihat
kardiomegali
hypertrophy)
- PVM >

(left

ventrikel

EKG: Left ventrikel hypertrophy.


Differential Diagnosa:
- PDA (pada neonatus terjadi saat resistensi
vaskuler paru neonati meningkat) sehingga
terdengar bising sistolik dan bising kontinu
belum terdengar oleh karena tekanan aortaa.pulmonalis belum berbeda secara besar
Defek Septum Ventrikel Besar
(Dengan Hipertensi Pulmonal)
- Terjadi shunt L-R yang bertambah

Jemmy Tejokusuma

13

cardiologi

- Tekanan vetnrikel kanan atau a.pulmonalis


mendekati tekanan sistemik dan mengawali
hipertensi pulmonal.
Gejala klinis:
- Dapat lebih berat atau justru menunjukkan
tanda-tanda yang sama
- Toleransi kegiatan yang buruk
- Infeksi saluran pernapasan yang berulangulang
- Pertumbunan anak terganggu
- Bunyi SII mengeras (oleh karena tekanan
a.pulmonalis yang tinggi)
EKG: Hipertropi Biventrikel
X-foto toraks:
- Kardiomegali
- PVM >
Differential Diagnosa: Kelainan L-R shunt besar
lainnya.
Defek Septum Ventrikel +
Obstruksi Vaskular Paru

Jemmy Tejokusuma

Penyakit

14

cardiologi

- Terjadinya
obstruksi
vaskular
paru
umumnya didahului dengan hipertensi
pulmonal
- Shunt dari kiri ke kanan (L-R) yang semula
besar, dnegan meningkatnya tekanan
ventrikel kanan, akan berkurang. Bila
tekanan vetnrikel Kanan sama dengan
tekanan sistemik, maka dapat terjadi shunt
terbalik atau disebut Sindroma Eisenmenger.

Gejala klinis:
- Toleransi kegiatan berkurang
- Gangguan pertumbuhan
- Infeksi berulang
- Gagal jantung
- Deformitas dada
- Aktivitas ventrikel kanan yang meningkat
- SII mengeras
X-foto: Kardiomegali < (oleh karena ventrikel kiri
mengecil) sedangkan ventrikel kanan membesar.
EKG: Right ventrikel hypertrophy.

Jemmy Tejokusuma

15

cardiologi

Differential diagnosa: L-R Shunt Besar +


Hipertensi pulmonal (PDA/VSD/ASD-defek AV)
Terapi VSD:
- Untuk defek kecil: sebagian besar menutup
spontan
- Defek besar: dapat terjadi gagal jantung
- Defek berat/perubahan vaskular paru: dalam
2-3 tahun dapat terjadi hipertensi pulmonal.
- Defek sedang: gagal jtg pasti walaupun dgn
terapi medik. Disertai dgn obstruksi
vaskular . Apabila di umur 4-5 thn defek tdk
berkurang, maka akan dipertimbangkan
operasi.
- Defek besar + hipertensi pulmonal:
o Apabila terjadi gagal jantung, segera
tangani
o Penderita yang berumur 2 tahun apabila
hemodinamikanya tidak ada perbaikan,
maka dilakukan operasi.

Jemmy Tejokusuma

16

cardiologi

DUKTUS
PERSISTEN

ARTERIOSUS

Yang terjadi sebelum lahir: darah, melalui AP ke


Ao
Yang terjadi sesudah lahir: darah melalui Ao ke
AP.

Jemmy Tejokusuma

17

cardiologi

Penutupan duktus arteriosus melalui


ligamentum arteriosum dan meningkatkan
saturasi O2 dan arteriol paru mengembang.
Kemungkinan terjadinya PDA karena tinggal di
dataran tinggi di mana tekanan O2 berkurang dan
dapat dengan kelahiran premature / BBLR
Hemodinamika:
- L-R shunt
- Relatif Mitral Stenosis (darah ke ventrikel
kiri bertambah atau terjadi dastolik flow
murmur)
Gejala klinis:
- Asimtomatis / lekas lelah /gangguan
pertumbuhan.
- Gejala yang khas:
o Pulsus seller atau water hammer pulse
o Bising kontinu (machinary murmur) di ICS
II
Kiri
sehingga
terdengar
di
infraklavikula.
o P2 bertambah sehingga terjadi hipertensi
pulmonal
X-foto toraks:
- Left ventrikel hypertrophy.

Jemmy Tejokusuma

18

cardiologi

- Ao AP >
- Corakan pembuluh darah bertambah.
EKG: Left ventricel hypertrophy atau normal saja.
(sedangkan Right Ventricles Hypertrophy terjadi
dengan defek > dan hipertensi pulmonal)
Terapi: Operasi diikat dan dipotong
Differential Diagnosa:
- Bising kontinu:
o Dengung vena
o Fistula Arterio-vena pulmonal
- Pulsus seller:
o Komunikasi Aorta-Pulmonal
o Aorta Insufisiensi + Ventrikel
Disease
o Tirotoksikosis
o Anemia berat.

PATENT
ARTERIOSUS

Septal

DUKTUS

(PADA BAYI PREMATUR)

Jemmy Tejokusuma

19

cardiologi

Hal ini merupakan fenomena perkembangan


yang normal.
Makin < usia kehamilan (prematuritas) maka
insidens PDA >.
Gejala klinis:
- Mula-mula baik
- Pada umur 5-7 hari akan memburuk:
o Takikardi/takipnue
o Prekordium hiperdinamik
o Pulsus seller
o Bising sistolik/pansistolik
o Tanda-tanda retensi cairan
X-Foto toraks:
- Kardiomegali yang progresif
- vaskularisasi
Penatalaksanaan:
- Retriksi
cairan/diuretik/digitalis
agar
membaik
- Bila perlu lakukan transfusi untuk
mempertahankan PVC > 40%
- Operasi yang elektif (bila keadaan
memburuk) dan ligasi duktus

Jemmy Tejokusuma

20

cardiologi

- Pemberian prostaglandin yang dapat


memacu penutupan duktus (pada persalinan
prematur).
Kontraindikasi:
Hiperbilirubinemia/sepsis/gangguan
faal
hati dan ginjal.

TETRALOGI FALLOT

Jemmy Tejokusuma

21

cardiologi

CHD sianotik yg plg sering (2/3) nomor 4


CHD
Terdapat 4 kelainan anatomis pada tetralogi falot:
- Stenosis pulmonal
- Defek septum ventrikel
- Overriding aorta
- Hipertropi ventrikel kanan
R-L Shunt
- Besarnya VSD
- Derajad stenosis
- Dekstro posisi
Hemodinamika:
Aliran darah paru ditentukan oleh :
- Obstruksi (PS)
- Tekanan ventrikel kanan
- Resistensi vascular sistemik
Normal : resistensi vask paru < 1/10 resist
vask sistemik.
TF : resist vask paru 3-4 x resist vask sistemik
- DSV
dan
overiding
aorta
dapat
menyebabkan stenosis pulmonal darah
ventrikel kanan + darah ventrikel kiri ke
aorta sianosis.

Jemmy Tejokusuma

22

cardiologi

- Sedangkan
stenosis
pulmonalis
menyebabkan darah ke paru berkurang
sianosis.
Gejala klinis:
- Aliran darah ke paru-paru 1/3-1/4 aliran
darah sistemik.
- Terdapat R-L shunt
- Terjadi hipoksia
Mekanisme kompensasi tubuh:
- Sirkulasi kolateral (berlangsung secara lama)
- Polisitemia (berlangsung cepat)
- Terjadi sianosis di bulan-bulan pertama
akibat duktus arteriosus
- Polisitemia yang terjadi untuk memperbaiki
pengangkutan O2
- Hemoglobin
dan
PCV
normal

menyebabkan anemia relatif.


- Kompensasi mengatasi hipoksia dengan
squatting (mengurangi aliran balik darah dari
ekstremitas yang saturasi O2 nya rendah).
- Gangguan pertumbuhan
- Geographic tongue

Jemmy Tejokusuma

23

cardiologi

- Bising sistolik ejeksi (dari ventrikel kanan,


bukan dari ventrikel septal disease) bunyi
di ICS III-IV kiri
- Suara SI keras, SII lemah (ICS II kiri).
Pemeriksaan laboratorium:
- Hemoglobin dan PCV: sebagai indikator
hipoksia mekanisme kompensasi akibat
saturasi O2 rendah
- Hb bertahan di 16-18 gr/dl relatif
anemia
- PCV 50-65% (dapat terjadi bahaya emboli).
X-foto thoraks:
- Conus pulmonalis menghilang
- Jantung: coer en sabot (bentuk sepatu)
- Corakan vaskulatur paru berkurang
EKG:
- RAD; RVH
- Anak >; P.Pulmonal

Penatalaksanaan:
- Konservatif:
o Apabila serangan sianosis terjadi, anak
melakukan knee chest position.
Jemmy Tejokusuma

24

cardiologi

o Beri morfin dosis kecil: 1/8-1/4 mg


o Pemberian oksigen
o Propranolol (mengurangi kontraktilitas
miokard)
o Cegah/obati anemia dan asidosis.
- Operasi:
o Operasi pintasan/pelebaran stenosis
o Koreksi total
Prognosis:
- Jika tidak dilakukan operasi, maka
prognosisnya jelek
- Dapat terjadi komplikasi:
o Abses otak (pada umur penderita 2-3
tahun)
o Trombosis pembuluh darah otak
(sehingga terjadi gangguan neurologik)
o Endokarditis bakterialis
o Perdarahan (trombosit atau fibrinogen
)

ATRESIA TRIKUSPIDALIS
tidak ada hubungan antara atrium kanan dgn
ventrikel kanan ok katup trikuspid tidak terbentuk.
Terjadi ventrikel kanan hipoplastik
Jemmy Tejokusuma

25

cardiologi

Atresia trikuspidalis dapat disertai TGA / tanpa


TGA.
Hemodinamika:
Darah dari atrium kanan atrium kiri (melalui
foramen ovale) ventrikel kiri aorta
duktus arteriosus arteri pulmonalis
Gejala klinis:
- sianosis pada minggu-minggu pertama
- Jari tabuh pada anak-anak
- SII tunggal (oleh karena P2 -)
- Bising sistolik ejeksi sepanjang tepi kiri
sternum
X-foto toraks:
- Corakan paru berkurang
- Jtg btk bulat (ok atrium kanan >/ apeks
terangkat)
EKG:
- Left atrium dilatation
- Left ventrikel hipertrophy/ QR. Diikuti T
yang normal pada prekordial kiri
Terapi: operasi/BAS
Prognosa: Jelek

Jemmy Tejokusuma

26

cardiologi

KOARKTASIO AORTA
Koarktasio aorta ialah penyempitan atau obliterasi
lokal sekitar insersi duktus arteriosus atau lebih distal
di aorta abdominalis.
Terdapat 3 jenis yaitu:
- Praduktal
- Duktal
- Paska duktal
Manifestasi klinik:
Gejala tergantung umur/derajat koarktasio.
Pada masa neonatus terjadi gagal jantung pada
hari-hari pertama.
Koarktasio aorta preduktal : Sianosis diferensial
(bagian atas merah; bagian bawah sianosis).

Pemeriksaan fisik:
- Nadi radialis/brakhialis kuat
- Nadi femoralis/poplitea/dorsum pedis: </- Tekanan darah: ekstremitas inferior lebih
rendah dari ekstremitas superior

Jemmy Tejokusuma

27

cardiologi

- Ventrikel kiri hiperdinamik/aktif.

X-Foto toraks:
- Left
Ventrikel
Hipertropi
+
Aorta
asendens/desendens > (pada paska duktal)
- RIB notrching (bila telah lama)
EKG: Praduktal RVH LVH
Terapi: Operasi/pemberian digitalis.
Prognose: untuk neonatus jelek

Jemmy Tejokusuma

28

cardiologi

TRANSPOSITION OF THE GREAT


ARTERY
TGA yaitu 2 sirkulasi yang terpisah.
Foramen ovale
PDA dan RVH ?? /tidak bisa dipastikan
Gejala klinis:
- Sianosis
- Decompensasi kordis
- Bising tidak ada atau tidak jelas
- SII
X-Foto Toraks:
- Kardiomegali (egg shape)
- PBF , PVM
EKG:
- RAD, RVH
ECHO: Ao/Art. Pulm
Differential Diagnose:
- Truncus
- TAPVR
- Single Ventrikel
Terapi: BAS.
Jemmy Tejokusuma

29

cardiologi

PENYAKIT JANTUNG DIDAPAT


DEMAM REMATIK AKUT (DRA) DAN
PENYAKIT JANTUNG REMATIK (PJR)
Prevalensi PJR Indonesia ,3-0,8 anak
sekolah 5-15 tahun
DRA penyebab utama penyakit jantung
didapat anak 5 thn dewasa muda negara
berkembang dengan keadaan sosioekonomi
rendah dan lingkungan buruk
DRA ke.imunologik yg terjadi akibat rx
lambat inf Streptococcus beta hemolyticus
group A di faring, biasanya timbul 1-5
minggu (rerata 3 mgg) setelah inf tsb.
Diagnosis
Kriteria Jones (revisi) utk pedoman dlm dx
demam reumatik (1995) :
Manifestasi mayor : karditis, poliartritis,
korea Syndenham, eritema marginatum,
nodulus subkutan
Manifestasi minor : atralgia, demam, LED
naik, Protein C reaktif (CRP) (+),

Jemmy Tejokusuma

30

cardiologi

leukositosis, pemanjangan interval PR pd


EKG
Bukti adanya inf streptokok : kenaikan titer
antibodi antistreptokok (ASTO), usapan
faring (+)Streptococcus beta hemolyticus group
A (SGA), demam skarlatina yg baru.
Kriteria WHO thn 2002-2003 utk DRA dan
PJR (berdasarkan revisi kriteria Jones) :
Kategori Diagnostik
Kriteria
Demam reumatik
serangan I
2 mayor atau 1 mayor &
2 minor + bukti inf SGA
Sblmnya
Demam Reumatik
serangan rekuren
tanpa PJR
2 mayor atau 1 mayor &
2 minor + bukti inf SGA
Sblmnya

Jemmy Tejokusuma

31

cardiologi

Demam reumatik
seranganrekuren
dengan PJR

Korea Sydenham

2 minor + bukti inf SGA


Sblmnya
tidak
diperlukan
kriteriaMayor lainnya
atau bukti
Inf SGA

PJR (stenosis mitral murni atau


Kombinasi denagn insufisiensi
mitral dan/atau gang. Katup Aorta) tidak
diperlukan kriteria lainnya utk dx sbg PJR

Jemmy Tejokusuma

32

cardiologi

TATALAKSANA
1. Tindakan umum dan tirah baring
Aktivitas Artritis Karditis
minimal
Tirang
1-2
2-3 mgg
baring
mgg
Aktivitas 1-2
2-3 mgg
dalam
mgg
rumah
Aktivitas 2 mgg 2-4 mgg
di luar
rumah
Aktivitas 1-2
2-4 mgg
penuh
mgg
Stlh 6Stlh 6- 10 mgg
10
mgg

2.

Karditis
sedang
4-6
mgg
4-6
mgg

Karditis
berat
2-4 bln

1-3 bln

2-3 bln

2-4 bln

1-3 stlh 2-3 bln


3-6 bln bervariasi

Pemusnahan streptokok :
Eradikasi
pd
tonsil
dan
faring
(=pengobatan faringitis streptokok) :
Benzatin penicilin G, dosis tunggal (1,2
juta U IM utk BB > 30 kg dan 600.000 U IM
bila BB < 30 kg); juga berfx sbf pencegahan
dosis pertama, bila alergi :

Jemmy Tejokusuma

33

cardiologi

Eritromisin 40 mg/kgBB/hari dibagi 2-4


dosis slm 10 hari.
Alternatif lain :
Oral penisilin V 2 x 250 mg
Oral sulfadiazin 1 X 1 gr
Oral eritromisin 2 X 250 mg
3. Pengobatan anti nyeri dan anti radang
Artriti Karditi Karditi Karditi
s
s
s
s berat
ringan sedang
Predniso 0
0
0
2-6
n
mgg
Aspirin
1-2
3-4
6-8
2-4 bln
mgg
mgg
mgg

Dosis Prednison :
2
mg/kgBB/hari
dibagi 4 dosis
Aspirin
: 100 mg/kgBB/hari dibagi
4-6 dosis
Dosis prednison di tappering off pd
minggu terakhir pemberian dan mulai
diberikan aspirin.

Jemmy Tejokusuma

34

cardiologi

Setelah minggu ke-2 aspirin diturunkan 60


mg/kgBB/hari
Karditis:
minimal

tidak
jelas
ditmkn
kardiomegali
Sedang kardiomegali ringan
Berat
jelas tdpt kardiomegali+ggl jtg
Pencegahan
Sekunder : Benzatin penisilin G 600.000 U
IM (BB < 30kg) dan 1,2 juta U IM (BB>30
kg) setiap 28 hari, pilihan lain :
Penisilin V p.o 2 x 125-250 mg
Sulfadiazin 1 g p.o sekali
Eritromisin 2 x 250 mg p.o
Diberikan pada demam reumatik akut
termasuk korea tanpa PJR
Lama pencegahan sampai usia 21-25 thn pd
pasien tanpa bukti kel.katup, bukan pasien
dgn resiko tinggi (guru,perawat,dokter);
ke.katup (+) seumur hidup

Jemmy Tejokusuma

35

cardiologi

PJR
Merupakan kel jantung yg menetap akibat
demam reumatik sebelumnya
Patofisiologi
Karditis pd demam reumatik dpt mengenai
perikardium
miokardium
dan
endokardium; kelainan menetap hanya
pada endokardium terutama katup
tersering mitral dan aorta insufisiensi,
stenosis (bila penyakit sudah berlangsung
lama)
Manifestasi klinis
Anamnesis : riwayat demam reumatik
waktu lampau
PF : kel. katup insufisiensi, stenosis
Pem. Penunjang : Ro torax, EKG, Eko
Komplikasi
: gagal jtg, endokarditis
bakterial subakut, tromboemboli
Tatalaksana : tgtg kel.katup yg terjadi

Jemmy Tejokusuma

36

cardiologi

Pencegahan ; thdp tjdx reaktivasi sesuai


dgn pencegahan thdp demam reumatik
akut
Prognosis : tgtg berat ringannya kel.katup
ENDOKARDITIS INFEKTIF (EI)

EI : inf mikroba pd lap.endotel jtg yg


menyebabkan tdptnya vegetasi pd katup jtg
Man.Klinis
- anamnesis : riwayat
- adanya PJB atau PJR
- setelah tindakan gigi dan mulut,
sal.urogenital, GIT
- pemakaian obat IV
- pemasanagn kateter v.sentral
- demam,nyeri dada dan perut, atralgia
atau mialgia, keringat malam, penurunan
BB dan gjl neurologis
PF :
Demam,
takikardi,
petekia,
murmur
baru/perubahan murmur, splenomegali dan
jari
tabuh,
srg
ditemukan
artritis,
Jemmy Tejokusuma

37

cardiologi

glomerulonefritis, abses miokardium dan


ggl jtg.

Kriteria Duke utk Dx EI


Kriteria Mayor
1. Kultur biakan darah (+)
a. Mikroorganisme khas yg dsbbkan EI dr
2 bhn kultur darah yang diambil scr
terpisah s.viridans, S.bovis atau klpk
HACEK
(haemophilus,actinobacilus,cardiobacteri
um, eikenela, kingela) atau orgnsm yg
didapat dr komunitas S.aureus atau
enterokokus tanpa fokus primer atau
b.Mikroorganisme penyebab EI dr kultur
darh yg (+) scr persisten :
2 bhn kultur drh (+) yg diambil dgn jarak
12 jam atau 3-4 kultur darah (+) dgn jarak
waktu antara pengambilan pertama dan
berikutnya 1 jam
2. Bukti keterlibatab endokardium
a. ekokardiografi (+)
Jemmy Tejokusuma

38

cardiologi

massa intrakardiak pd katup atau


struktur pendukung atau pd tempat
koreksi kel.intrakardiak atau abses atau
defek baru pd katup buatan atau
b.regurgitasi katup yang baru pd
ekokardiografi
ekho 2-D : Koaptasi katup mitral tidak
sempurna
Kriteria Minor
- faktor predisposisi berupa kel.jtg atau
pemakaian obat IV
- suhu tubuh > 38oC
- fenomena vaskuyler brp emboli arteri,
infark
paru,
aneurisme
mikotik,
perdarahan intrakranial, perdarahan
konjungtiva
- fenomena imunologi : glomerulonefritis,
fktr reumatoid
- bukti mikrobiologis kultur drh (+) ttp
tdk memenuhi kriteria mayor atau bukti
serologis inf organisme penyebab EI
namun tdk memenuhi kriteria mayor
Kriteria Duke Definitif EI
Jemmy Tejokusuma

39

cardiologi

Kriteria patologi
- mikroorganisme (MO) : dpt diisolasi dr
kultur darh atau vegetasi atau dr abses
intrakardiak
- dtmkn lesi patologik spt vegetasi atau
abses intrakardiak yg dikonfirmasi dgn
pemeriksaa .histologis menunjukkan
endokarditis
Kriteria klinis
2 kriteria mayor atau
1 kriteria mayor dan 3 minor atau
5 kriteria minor

Kemungkinan EI :
- temuan mengarah pd EI
- tdk ckp utk memenuhi kriteria definitif
- tdk tmsk klpk yg ditolak
Ditolak :
Manifestasi endokarditis menghilang dgn
terapi antibiotik slm > 4 hr atau tdk tdpt
kel.patologi saat operasi atau otopsi stlah
pemberian tx antibiotik slm > 4 hr
Komplikasi :
Jemmy Tejokusuma

40

cardiologi

Ggl jtg, embolisasi, manifestasi neurologis


Tx :
Antibiotik, operasi, komplikasi
Pemberian Antibiotik
A. Pada EI yang disebabkan Streptokokus
viridans, S.Bovis, atau Enterokokus pada
penderita yang tidak dapat menerima
Beta-laktam
Dosis Freku
Organi Antibio
(/kgBB/ ensi
sme
tic
hari)
(jam)
Katup
natif
Vanko 40 mg
6-12
Strepto misin iv
6-12
kus
Vanko 40 mg
Enterok misin iv
8
okus
+
Genta 3 mg iv
misin
6-12
Katup
buata
40 mg
8
n
Vanko iv
(Idem
Jemmy Tejokusuma

Lama
(min
ggu)
4-6
6
6

6
2
6
41

cardiologi

Strepto misin
kus
+
Genta
misin
Enterok (Idem
okus
di
atas)

3 mg iv
(Idem di
atas)

di
atas)

B. Pada EI yang disebabkan Streptokokus,


S.Bovis, atau Enterokokus
Dosis
Organi Antibiot
(/kgBB/h
sme
ic
ari)
Strept Penisilin 200.000
okus
G atau u iv
yg
Seftriak 100 mg
peka
son
iv
terhad +
ap
Penisilin 200.000
Penisili G
u iv
n
atau
100 mg
MIC < Seftriak iv
0.1
son
Jemmy Tejokusuma

Lama
Frekuen
(ming
si (jam)
gu)
4-6
4
24

4-6

24

42

cardiologi

ug/ml

+
3 mg
Gentam im/iv
isin
300.000
u iv
Penisilin 100 mg
Strept G
iv
okus
atau
relativ Seftriak 3 mg
e
son
im/iv
resiste +
n
Gentam
terhad isin
ap
Penisili
n
MIC <
0.1-0.5
ug/ml

4-6

24

Organism Antibiot
Dosis Frekue Lama
e
ic
(/kgBB/h
nsi
(ming
ari)
(jam)
gu)
Jemmy Tejokusuma

43

cardiologi

Enterokok
us
nutritiona
lly variant
streptoco
cci atau
Streptoku
s dengan
tingkat
resistensi
tinggi
terhadap
Penisilin
MIC < 0.1
ug/ml

Penisilin
G
+
Gentam
isin

300.000 4-6
u iv
3 mg
8
im/iv

4-6
4-6

Ket :
# Minimum inhibitory concentration of
Penicilin (MIC)
* Dpt diberikan Ampisilin
300mg/kgBB/hari dibagi 4-6 jam
Untuk Enterokokus yg resisten thdp
penisilin diberikan vankomisisn atau
aminoglikosida

Jemmy Tejokusuma

44

cardiologi

C. 1. Pada EI yang disebabkan Stafilokokus


Organis
Antibiotic
me
Katup
natif
Peka
Metisili
n

Nafsilin
Atau
Oksasilin
dgn/tanpa
Gentamisi
n
Alergi
Sefazolin
Betadgn/tanpa
laktam Gentamisi
n
Atau
Vankomisi
n
Resiste Vankomisi
nsi
n
Metisili
n

Dosis
(/kgBB/h
ari)

Frekue Lama
nsi
(ming
(jam)
gu)

200 mg
iv

4-6

8
6-8

3-5
6

6-12
6-12

3-5
6

3 mg iv
100 mg
iv
3 mg iv
40 mg iv
40 mg iv

2. Pada EI yang disebabkan Stafilokokus


Organis
Antibiotic
me
Katup
buatan
Peka
Metisili
n

Nafsilin
Atau
Oksasilin
Sefazolin

Jemmy Tejokusuma

Dosis
(/kgBB/h
ari)
200 mg
iv

Frekue Lama
nsi
(ming
(jam)
gu)
4-6

45

cardiologi

+
Rifampisn
+ Genta
misin
Resiste
nsi
Metisili
n

100 mg
iv
20 mg iv
3 mg iv

Vankomisi 3 mg iv
n
+
40 mg iv
Rifampisn 40 mg iv
+ Genta
misin

8
6-8

3-5
6

6-12
6-12

3-5
6

D. EI pada prosedur Saluran Urogenital


dan Cerna
Keadaan
Obat
Dosis
Resiko
Ampisil 50 mg/kgbb iv/im
tinggi
in +
(max.2 g)
gentam 1.50 mg/kgbb iv/im
isin
(max.120 mg) 30
menit sebelum
prosedur.
6 jam kemudian
Ampisilin 25
Resiko
mg/kgbb iv/im atau
tinggi
Amoksisilin 25
yang
mg/kgbb p.o
alergi
Amoksisis
20 mg/kgbb iv
Jemmy Tejokusuma

46

cardiologi

lin/
ampisilin

selama 1-2 jam


1.5 mg/kgbb iv/im
diberikan 30 menit
sebelum prosedur

Resiko
sedang

50 mg/kgbb p.o 1
jam sebelum
prosedur
50 mg/kgbb iv/im
diberikan 30 menit
sebelum prosedur

Resiko
sedang
alergi
amoks/a
mpi

20 mg/kgbb iv
selama 1-2 jam
diberikan 30 menit
sebelum prosedur

E. EI pada tindakan Gigi, Mulut, Saluran


Nafas Atas dan prosedur Esofagus
Keadaan
Profilaksis
standar
Tidak
dapat
minum

Obat
Dosis
Amoksi 50 mg/kgbb p.o 1
sislin
jam sebelum
tindakan
Ampisili 50 mg/kgbb p.o 1
n+
jam sebelum

Jemmy Tejokusuma

47

cardiologi

obat
Alergi
Penisilin

Alergi
Penisilin
dan tidak
dapat
minum
obat

tindakan
Klinda
misin
atau
sefalek
sin/
sefadro
ksil
atau
Azitrom
isin/
klaritro
misin

20 mg/kgbb iv
selama 1-2 jam
50 mg/kgbb p.o 1
jam sebelum
prosedur
15 mg/kgbb p.o 1
jam sebelum
prosedur

20 mg/kgbb iv 30
menit sebelum
Klinda tindakan
misin
25 mg/kgbb iv/im
atau
30 menit sebelum
sefazoli tindakan
n

Operasi :
Indikasi berdasarkan gamb.Eko
Jemmy Tejokusuma

48

cardiologi

1. Vegetasi
vegetasi persisten stlh emboli sistemik
vegetasi daun mitral anterior, terutama
dgn ukuran > 10 mm
kejadian emboli selama 2 mgg pertama
stlh pemberian antibiotik
kejadian emboli slm dan stlah tx
antibiotik
peningkatan uk.vegetasi stlh 4 mgg tx
antibiotik
2. Disfx katup
insufisiensi mitral atau aorta akut
disertai gjl ggl jtg
ggl jtg yg tdk berespons thdp tx obat
perforasi atau ruptur katup
Perluasan perivaskuler:
ruptur atau fistula katup
blok jtg baru
abses luas atau abses yg bertambah bsr
walaupun mendpt tx antibiotik
Pencegahan : (kel.jtg yg direkomendasikan
mdpt antibiotik pencegahan)
Jemmy Tejokusuma

49

cardiologi

resiko tinggi : katup jtg buatan,


menderita EI sebelumnya, PJB sianotik
kompleks (spt TF, ventrikel tunggal, TGA),
shunt sistemik paru
resiko sedang : hampir semua PJB, disfx
katup didapat (mis: PKR), kardiomiopati
hipertrofik, prolaps katup mitral dgn
regurgitasi katup
prosedur gigi :
o kel.jtg yg tdk direkomendasikan mdp
AB pencegahan : ASD II, operasi
penutupan ASD, VSD atau PDA, op.
bypass a.koronaria sblmnya, prolaps
katup mitral tanpa regurgitasi, murmur
(fisiologik,
fxonal
atau
inosen),
menderita
peny.Kawasaki
sblmnya
tanpa
disfx
katup,
menderita
peny.demam reumatik sblmnya tanpa
disfx
katup,
tanpa
pemasangan
pacemaker dan deficrilator jtg
o rekomerndasi pencegahan pd prosedur
gigi : extraksi gigi, prosedur periodontal
(pembedahan, skeling, root planning,
probing
dan
pemeliharaan),

Jemmy Tejokusuma

50

cardiologi

penempatan
dental
implant
dan
reimplantasi
gigi
yg
avulsi,
instrumentasi endodontik (root canal)
atau pembedahan diu atas apeks,
pemasangan fiber AB subginggival,
pemasanagn awal ortodontik bands, ttp
bukan bracket, injeksi anestesi lokal
intraligamentum,
pembersihan
pencegahan pd gigi atau implant
apabila tdpt perdarahan
o prosedur gigi yg tdk direkomendasikan
mendapat AB pencegahan :
restorasi
gigi
(operasi
atau
prostodontik) dgn atau tanpa retraction
cord, injeksi anestesi lokal (noninterligamentum),
perawatan
endodontik interkanal, pemasanagn
rubber dams, penagngkatan jahitan post
operasi, pemasanagn prostodontik yg
dilepas
(removable)
atau
piranti
ortodontik, pencetakan gigi, t\x fluorid,
radiografi orak, pemasanagn piranti
kawat gigi ortodontik, pencabutan gigi
primer.
Jemmy Tejokusuma

51

cardiologi

Penyuluhan tergadap oangtua :


Setelah dx kel.jtg ditegakkan, rujuk ke
dokter gigi pada saat ;
- periode erupsi gigi pertama (usia 612bln)
- pem. Rutin gigi setiap 6-12bln
Jika akan dilakukan operasi thdp kel.jtg :
Dilakukan evaluasi prabedah jtg : 1-2 bln
sblm dilakukan bedah jtg, utk mengurangi
resiko terjadinya endokarditis infektif

PERIKARDITIS
Jemmy Tejokusuma

52

cardiologi

Etiologi:
- Perikarditis septik dan aseptik dari
penyakit sistemik (DR paling sering)
- Infeksi: bakteri piogenik, TBC, virus, jamur
()
- DR, penyakit kolagen lain efusi perikard
non supuratif
- Sepsis efusi perikard supuratif
Manifestasi Klinik
Bayi dan anak : tidak khas
Nyeri dada dan sesak nafas yang terasa
sampai di punggung dan bahu.
Nyeri berkurang pada posisi tegak dan
membungkuk
Takikardia (nadi paradoksal / tekanan
sistolik menurun inspirasi)
Kardiomegali dan prekordium tenang
(pulsasi jantung hilang-timbul)
BJ melemah (silent heart)
Pericardial friction rub : + (bila cairan
sedikit)
Eksudat banyak tamponade jantung
Pemeriksaan radiologik:

Jemmy Tejokusuma

53

cardiologi

Kardiomegali (bayangan jantung) bentuk


botol (water bottle)
Fluoroskopi: silent heart
EKG
Voltase rendah (QRS)
ST elevasi (fase akut)
Perubahan gelombang T (sesuai perjalanan
penyakit)
Ekokardiografi
Gambaran cairan di sekitar jantung
Pemeriksaan cairan perikardium
Pungsi perikardium (tamponade jantung)
Komplikasi
- perikarditis adhesiva kronik
- tamponade kardiak
Pengobatan
Parasentesis: tamponade
penyebab ?
Tindakan umum:
o keadaan yang mendasari
o = gagal jantung,
o kortikosteroid?

Jemmy Tejokusuma

54

cardiologi

Tindakan bedah:
adhesiva kronik)

fibrosis

(perikarditis

Prognosis :
penyebab dan tindakan (perikardium purulenta?)

Jemmy Tejokusuma

55

cardiologi

PENYAKIT JANTUNG
BAWAAN
NON SIANOTIK
Berdasarkan ada tidaknya pirau dibagi :
1. PJB non sianotik dengan pirau kiri ke kanan:
ASD (atrial septal defect)
VSD (ventrikel septal deffct)
ASVD (atrioventrikuler septal defect)
PDA (persisten ductus arteriosus)
2. PJB non sianotik tanpa pirau
PS (pulmonal stenosis)
AS ( aorta stenosis)
Co-A (coarktasio aorta)

Jemmy Tejokusuma

56

cardiologi

VSD
Defek Septum Ventrikel
Insiden :
Paling sering ditemukan (+ 30% dari semua PJB)
Klasifikasi :
1. VSD perimembran :
Defek perimembran inlet mengarah ke
posterior ke daerah inlet septum
Defek perimembran outlet mengarah ke
depan, dibawah akar aorta ke dalam
septum pars muskularis
Defek trabekular mengarah ke bawah, ke
arah septum trabekularis
Defek
perimembran
konfluen,
yang
mencakup ketiga bagian septum muskuler
sehingga merupakan defek yang besar
2. defek septum ventrikel muskuler
defek muskuler inlet
defek muskuler trabekuler
defek muskuler outlet
3. defek subarterial

Jemmy Tejokusuma

57

cardiologi

Menurut besarnya :
VSD kecil (< 5 mm2/M2 luas permukaan tubuh)
VSD sedang (5-10 mm2/M2 luas permukaan
tubuh)
VSD besar (>10 mm2/M2 luas permukaan
tubuh atau aorta)
Gambaran klinik
VSD kecil tanpa keluhan
Sesak napas waktu minum (bayi) / tidak
mampu habiskan makanan / minuman
Bb sukar naik
Sering mengalami infeksi saluran napas
Kurus, dispneu, takipneu, retraksi, dada
meonjol
Bising pansistolik, ICS III-IV garis parasternal
kiri, menjalar ke sepanjang garis parasternal
kiri bahkan ke seluruh prekordium
Bisa sampai gagal jantung.
Pemeriksaan radiologis
Besar jantung normal kardiomegali
Konus pulmonaris menonjol, pembuluh
darah hilus membesar
Vaskularisasi paru normal meningkat
Defek besar + hipertensi pulmonal (sindrom
Eisenmenger) konus pulmonaris sangat
menonjol + vaskularisasi paru meningkat di

Jemmy Tejokusuma

58

cardiologi

daerah hilus namun berkurang diderah


perifer (pruning)
Ekokardiografi (EKG) :
Normal sampai akhir peningkatan aktivitas
ventrikel kiri
Bisa gambaran hipertrofi biventrikular
Pembesaran atrium kiri (P mitral)
Ekokardiografi :
Menentukan letak serta ukuran defek
Menetukan terdapatnya kelainan penyerta
Arah pirau
Tekanan arteri pulmonalis, tekanan sistolik
ventrikel kanan
Rasio aliran paru dengan aliran sistemik
(Qp/Qs)
Normal sampai pelebaran ventrikel kiri /
atrium kiri, kontraktilitas ventrikel kiri
umumnya masih baik
Defek besar bisa terdapat pembesaran
ke-4 ruang jantung +
pelebaran arteri
pulmonalis
Defek subarterial prolaps sinus Valsava +
regurgitasi aorta
Kateterisasi jantung dan angiokardiografi
Diperlukan sebelum oprasi

Jemmy Tejokusuma

59

cardiologi

Membuktikan kenaikan saturasi oksigen di


ventrikel kana, Qp/Qs, tekanan ruang
jantung & pembuluh darah besar
Angiografi ventrikel kiri dapat menunjukkan
arah pirau
Aortografi mendeteksi regurgitasi aorta pada
defek subarterial
Penatalaksaan
1. medis
tidak membutuhkan pengobatan apapun
profilaksis endokardtis infektif bila akan
dilakukan tindakan operatif di daerah mulut
(ekstraksi gigi, tonsilektomi), tindakan pada
gastrointestinalis, urogenital (mis sirkumsisi)
defek kecil tidak perlu pembatasan
aktivitas
imunisasi semua jenis penyakit jantung
bawaan = anak sehat
penanganan gagal jantung digoksin
0,01mg/kgBB/hari, diuretik
penanganan infeksi saluran pernapasan
antibiotik dini dan adekuat)
2. pembedahan
2 tahun pertama defek mungkin mengecil
atau menutup spontan
Usia 3 atau 4 tahun belum menutup terdapat
pembesaran jantung, pletora paru, masih
terdapat gejala dianjurkan penutupan defek

Jemmy Tejokusuma

60

cardiologi

Tidak adanya kemungkinan penutupan


spontan di atas 6 tahun defek dikoreksi
pada usia 4-6 tahun
Waktu operasi cenderung makin lama, makin
muda tergantung kemampuan tim kardiologi
anak dan bedah jantung
3. penutupan defek secara transkateter
AMVO. APMVO
Defek septum muskuler khususnya yang
multipel
untuk defek yang jauh dari struktur penting
seperti aorta
Prognosis
defek kecil menutup spontan cukup besar
terutama 2 tahun pertama kehidupan,
setelah usia 2 tahun penutupan spontan
sangat berkurang, umumnya tidak ada
penutupan spontan di atas 6 tahun
Pencegahan terhadap endokarditis
Dilakukan pada tiap pasien VSD yang belum
lama dioperasi dan masih perlu sampai 6 bulan
pasca korektif

Jemmy Tejokusuma

61

cardiologi

ASD
Defek Septum Atrial
Definisi : defek pada sekat yang memisahkan
atrium kiri dan kana
Klasifikasi :
Anatomis : primun, sekundum, tipe venosus, tipe
sinus koronarius
Insiden :
+ 10% dari seluruh penyakit jantung bawaan
ASD sekundum 80% dari seluruh ASD

ASD SEKUNDUM
Anatomi dan hemodinamik
terdapat lubang patologis di tempat fosa
ovalis
pirau dari atrium kiri ke atrium kanan
Gambaran Klinik
kebanyakan asimtomatis (bayi dan anak
kecil)
Jemmy Tejokusuma

62

cardiologi

sesak napas, infeksi paru


berat badan sedikit berkurang
gagal jantung
komponen aorta dan pulmonal BJ II terbelah
lebar (wide split) yang tidak berubah saat
inspirasi dan ekspirasi (Fixed split)
bising ejeksi sistolik di daerah pulmonal
Foto Thorax
Atrium kanan menonjol, konus pulmonalis
menonjol,
jantung
sedikit
membesar,
vaskularisasi paru bertambah
EKG :
RBBB (right bundle branch block) 95% ASD
sekundum beban volume ventrikel kanan
right axis deviation (RAD)
blok AV derajat 1 (interval PR ) 10% ASD
sekundum
hipertrofi
ventrikel
kana
(sering),
pembesaran atrium kanan (jarang)
Ekokardiografi
2 dimensi letak dan ukuran ASD
Pelebaran arteri pulmonalis, atrium /
ventrikel kanan
M-mode pelebaran ventrikel kanan
dengan gerakan septum paradoksal (septum
ventrikel bergerak ke rongga ventrikel kanan
saat sistole)
Jemmy Tejokusuma

63

cardiologi

Prolaps mitral (penyulit ASD) gerakan


krepitaso, ruptur korda tendinae, regurgitasi,
insufisiensi trikuspid ringan
Kateterisasi jantung
Dilakukan bila terdapat keraguan adanya
penyakit penyerta atau hipertensi pulmonal
Tekanan ventrikel kanan dan arteri pulmonal
normal atau sedikit meningkat, kenaikan
saturasi oksigen di atrium kanan, perlu dicari
kelainan lain misalnya adanya stenosis
pulmonal atau anomali parsial drainase
v.pulmonalis
Penatalaksaan
Pembedahan jika Qp/Qs > 2:1 defek harus
ditutup pada usia 4-5 tahun
Penutupan defek dengan kateter ASO
Prognosis
Penutupan spontan terjadi pada 1 tahun pertama
dan jarang setelah usia 1 tahun.

ASD primum
Jenis ASD ke dua terbanyak
Anatomi dan hemodinamik
Terdapat celah pada bagian bawah septum
atrium, sering terdapat celah daun katub mitral
sebabkan pirau dari atrium kiri ke kanan, arus

Jemmy Tejokusuma

64

cardiologi

sistolik dari ventrikel kiri ke atrium kiri melalui


celah pada katub mitral (insufisiensi mitral)
Gambaran klinik
BB kurang dibanding anak sebayanya
Prekodrium menonjol (ventrikel kanan>)
Jantung membesar, aktivitas ventrikel kanan
dan kiri
BJ 1 normal atau mengeras
Bising ejeksi sistolik (stenosis pulmonal
relatif)
Kadang bising pansistolik apikal akibat
adanya regurgitasi mitral
Foto rontgen:
Pembesaran ventrikel kanan + atrium kanan
Konus pulmonalis meonjol, vaskularisasi
paru hilus + perifer
Ventrikel/atrium kiri > bila ada regurgitasi
EKG:
LAD (left aksis deviasi) left anterior
block karena tidak terbentuknya sebagian
cabang anterior kiri dari bundle his +
hipertrofi ventrikel kiri
rsR di V1 atau V4r (IRBBB)
PR interval memanjang (50% kasus)
Ekokardiografi
M-mode mirip ASD sekundum
Jemmy Tejokusuma

65

cardiologi

2 dimensi defek pada septum primum


Droppler berwarna perkirakan besarnya
pirau kiri ke kanan serta derajat regurgitasi
mitral
Kateterisasi Jantung
Pasien yang akan dioperasi, sebagian pusat
kardiologi telah melakuakn operasi tanpa
kateterisasi terlebih dahulu
Pastikan diagnosis, ukuran tekanan arteri
pulmonalis, flow ratio, singkirkan kelainan
kardiovaskuler penyerta lain
Penatalaksanaan
bedah korektif usia 2-3 tahun
pencegahan endokarditis dengan anti-iotik
(terutama bila ada regirgitasi mitral)

ASD tipe sinus venosus


Kiinik, EKG, radiologi = ASD sekundum
dibedakan dengan ekokardiografi
2-3% dari ASD
Terletak dekat muara vena kava superior atau
inferior dan seringkali disertai dengan anomali
parsial
drainase
v.pulmonalis
(sebagian
v.pulmonalis bermuara ke dalam atrium kanan)

ASD tipe sinus koronarius


Paling sedikit dijumpai
Jemmy Tejokusuma

66

cardiologi

Terletak pada muara sinus koronarius


Pirau dari kiri ke kanan (atrium kiri ke sinus
koronarius) baru kemudian ke atrium kanan
Biasanya ditemukan sinus koronarius yang
membesar disertai vena kava superior kiri
persisten

AvSD
Defek Septum Atrioventrikularis
dahulu disebut complete endocardial cushion
defect complete AV-canal
tidak terjadi pemisahan antara cincin katub
mitral dan katub trikuspid terdapat 1 lubang
besar cincin katub atrioventrikuler yang
hubungkan kedua atrium dan kedua ventrikel
secara bersama
sering menyertai sindroma Down
gejala minggu2 pertama, gagal jantung bulan2
pertama
sering terjadi hipertensi peulmonal dengan bj
II keras dan tunggal
bising sistolik ejeksi di pulmonal, pansistolik di
apeks (karena regurgitasi katub yang
hubungkan atrium dan ventrikel kiri)
Ro thoraks kardiomegali dengan pletora
paru dan edema interstisial (=ASD sekundum)
EKO 1 katub AV sebagai penghubung
antara atrium dan ventrikel (tidak ada katub
mitral maupun trikuspid yang terpisah)
Jemmy Tejokusuma

67

cardiologi

EKG LAD, hipertrofi biventrikel, S dalam di


II, III, AVF, interval PR memanjang
Operasi korektif < 1 tahun, angka kematian
pasca bedah masih agak tinggi

PDA
Patent ductus arteriosus
Ductus arterious tetap terbuka setelah bayi lahir
7 % dari semua PJB
Sering pada bayi prematur sebagian besar
dapat menutup spontan
Klinis dibagi kecil, sedang besar
Anatomi dan hemodinamik
Sebgian besar hubungkan aorta dengan
pangkal a.pulmonalis kiri
Pirau dari aorta ke a.pulmonalis (kiri ke
kanan)
Manifestasi klinik
Sering infeksi saluran napas, cepat lelah
Sulit makan dan minum berat badan sulit
bertambah
Dispneu, takipneu

Jemmy Tejokusuma

68

cardiologi

Bising kontinu di sela iga II-III garis


parasternal kiri, bising mid sistolik di
apeks karena bertambahnya pengisian
cepat ventrikel kiri (stenosis mitral relatif)
Ro thoraks : jantung > (terutama ventrikel
kiri), vaskularisasi paru dan p.darah hilus
membesar
EKG : hipertrofi ventrikel kiri + dilatasi atrium
kiri
EKO : tampak duktus, atrium kiri > (rasio
AKI/AO > 1,3) + ventrikel kiri >, aorta
normal. A.pulmonalis >
Kateterisasi bila ragu adanya hipertensi
pulmonal. Pasien PDA besar tidak diobati
jadi pulmonal hipertensi penyakit vaskular
paru, komplikasi yang diatakuti
Penatalaksanaan
a. Medikamentosa
Bayi prematur < 1 minggu indometasin
(IV/oral) 0,2 mg/kgBB selang 12 jam,
diberikan 3 kali (inhibitor prostaglandin)
tutup PDA 70% kasus
PDA (I-R) + gagal jantung digoksin,
furosemid
Pencegahan endokarditis infekstif
b. Bedah
Indikasi :
PDA yang tidak
medikamentosa
Jemmy Tejokusuma

berespon

dengan

69

cardiologi

PDA dengan keluhan


PDA dengan endokarditis infektif yang kebal
medikamentosa

c. penutupan dengan kateter


ADO (amplatzer ductal occluder)

Prognosis
PDA kecil dapat tutup spontan
Pasien dengan pirau besar yang tidak
dioperasi hipertensi pulmonal (komplikasi
serius)
Salah satu penyulit terbentuknya
aneurisme dan divertikulum pada duktus
(penutupan duktus yang tidak sempurna)
penyebab ruptur duktus
Adanya pirau yang berlangsung lama
tekanan a.pulmonalis & timbulkan
aneurisme / dilatasi aorta.

Jemmy Tejokusuma

70

cardiologi

PENYAKIT JANTUNG
BAWAAN SIANOTIK
KLASIFIKASI
1. PJB SIANOTIK DENGAN VASKULARISASI
PARU BERKURANG
A. tetralogi of fallot (ToF=TF)
B. ateresia pulmonal dengan VSD
C. ateresia pulmonal dengan septum ventrikel
utuh
D. ateresia trikuspid
E. anomali Eibstein
2. PJB SIANOTIK DENGAN VASKULARISASI
PARU BERTAMBAH
Jemmy Tejokusuma

71

cardiologi

A. transposisi arteri besar (TGA)


B. trunkus arteriosus
C. ventrikel tunggal (single ventricle)
D. anomali total drainase vena pulmonalis (total
anomalous pulmonary venous drainage =
TAPVD)

tetralogi fallot
insiden
paling banyak ditemukan (+ 10% dari PJB)
Patologi : kombinasi 4 komponen
VSD
Over-riding aorta
Stenosis pulmonal
Hipertrofi ventrikel kanan
Manifestasi klinik
Sianosis
Jari tabuh
Serangan sianotik (cyanotic spells, hypoxic
spell, paroxysmal hyperpnea) sesak
napas mendadak, napas cepat dan dalam,
sianosis bertambah, lemas dapat disertai
kejang atau sinkop serangan hebat dapat
berakhir dengan koma bahkan kematian
Anemia relatif
Jemmy Tejokusuma

72

cardiologi

Squating (jongkok)
Dada menonjol (pelebaran ventrikel kanan)
BJ I normal, BJ II tunggal (A2)
Bising ejeksi sistolik di daerah pulmonal

Ro Thoraks
Jantung bentuk sepatu (apeks jantung kecil
dan terangkat, konus pulmonaris cekung)
Vaskularisasi paru
EKG
Gel. T (+) di V1, RAD, RVH (right ventrikel
hipertrofi), gel.P di II tinggi (P pulmonal)
EKO
4 kelainan
Infundibulum sempit (stenosis infundibular)
Kateterisasi jantung dan angiokardiografi
Sebelum bedah korektif mengetahui VSD
multiple, deteksi kelainan A.Koronarius, deteksi
stenosis pulmonal perifer
Komplikasi
Bencana
serebrovaskular,
abses
otak,
endokarditis infektif, anemia relatif, trombosis
paru, perdarahan (polisitemia hebat) trombosit
dan fibrinogen
Penatalaksanaan
A. Medis
Jemmy Tejokusuma

73

cardiologi

1. pada serangan sianotik akut


pasien diletakkan pada posisi knee chest
position
O2 masker 5-8 L/M
Morfin sulfat 0,1-0,2 mg/kgBB subkutan
(IM)
Sodium bicarbonat 1 mEq/Kg/IV untuk
koreksi asidosis
Transfusi darah < 15 g/dl
Propanolol 0,1 mg/kg BB/IV(bolus)
rumat 1 mg/kgBB/hari dibagi 4 dosis
2. FE bila serangan sianotik disertai anemia
relatif bila terjadi retikulositosis dan kadar
Hb
3. higienis mulut dan gigi meniadakan
sumber infeksi endokarditis infektif dan abses
otak
4. cegah dehidrasi
B. Bedah
Paliatif menambah aliran darah ke
paru
Korektif koreksi total (menutup VSD
dan eksisi infundibulum usia 1 tahun)
Prognosis
Bila tidak dioperasi bisa terjadi 1 atau lebih
kemungkinan berikut :
Jemmy Tejokusuma

74

cardiologi

Meninggal karena sianosis


Stenosis infundibular
Abses otak
Komplikasi lain

Transposisi arteri besar


Insiden : 5 % PJB
Patologi :
aorta keluar dari ventrikel kanan dan terletak
anterior a.pulmonalis
sedangkan
a.pulmonalis keluar dari ventrikel kiri, posterior
terhadap aorta.
Dapat hidup bila ada komunikasi antara 2
sirkulasi ini (PDA, Foramen ovale)
Manifestasi klinik
Sianosis
Gagal jantung kongestif
Pertumbuhan badan terhambat
Sering pneumonia

Jemmy Tejokusuma

75

cardiologi

BJ I normal, Bj II tunggal dan keras,


biasanya bising (-)
EKG :
Hipertrofi ventrikel kanan dan pembesaran atrium
kanan

Radiologi :
Jantung bentuk telur yang terletak pada sisinya
(egg on side), corakan vaskuler paru pletorik
EKO
Penilaian anatomis,
diagnosis lain

fungsional,

singkirkan

Kateterisasi jantung
Suatu tindakan darurat
Konfirmasi

diagnosis

sekaligus

untuk

tindakan septostomi atrium dengan balon


(ballon atrial septostomi = BAS prosedur
raskind)
Penatalaksanaan
1. suportif pada bayi sianosis hebat dengan
asidosis dan gagal jantung koreksi asidosis,

Jemmy Tejokusuma

76

cardiologi

O2 + ventilator, inotropik (digitalis, dopamin)


dan diuretik, antibiotika pada gagal jantung bila
sangat dicurigai infeksi
2. BAS merobek septum atrium, bila gagal
lakukan

surgical-atrial

septostomi

(operasi

blalock-hanion)
3. operasi atrial switch (mempertukarkan fungsi
atrium kanan dan kiri)
4. koreksi anatomis operasi pertukaran arteri
(arterial switch)
Prognosis :
operasi (-) 95% mati tahun pertama,
paling sering 3 bulan pertama karena
gagal jantung kongestif
hipertensi pulmonal bila disertai VSD
besar
bedah korektif dini prognosis baik

Jemmy Tejokusuma

77

cardiologi

Koarktasio aorta
Definisi :
Penyempitan

terlokalisasi

pada

aorta

yang

umumnya terjadi pada daerah ductus arteriosus


(juxtaductal coarvtation)
Manifestasi Klinik
koarktasio aorta berat gejala tampak pada
masa neonatus, gejala timbul mendadak (bayi
sebelumnya sehat mendadak sesak napas,
hepar >, nadi kecil, oligouria + anuria mati)
tanda klasik : nadi brakialis teraba normal /
kuat sedangkan nadi femoralis serta dorsalis
pedis

tidak

Jemmy Tejokusuma

teraba

teraba

kecil

78

cardiologi

pengukuran nadi dan tekanan darah pada 4


ekstrimitas
BJ I dan II umumnya normal
Bising ejeksi sistolik di daerah pulmonal
Anak besar seringkali asimptomatik walaupun
derajat obstruksi sedang / berat
Pasien lebih besar sakit kepala, nyeri di
tungkai dan kaki, epiktaksis
Pada Co-A berat setelah pasien berumur 4
tahun biasanya dapat diraba kolateral di
daerah seubskapula dan diderah interkostal.
Radiologi
Neonatus kardiomegali dengan atau tanpa
kongesti paru
Anak besar hipertrofi ventrikel kiri, rib
notching
(karena
kolateral
arteria
interkostalis)
Barium meal gambaran angka 3 terbalik
pada esofagus (karena penekanan dilatasi
pasca Co-A pada esofagus)
EKG

Jemmy Tejokusuma

79

cardiologi

Neonatus dengan Co-A berat hipertrofi


ventrikel kanan dengan RBBB
Anak lebih besar mungkin hipertrofi
ventrikel kiri dengan T terbalik di V5 dan V6
jarang pada anak menunjukkan adanya
lesi lain, mis : stenosis aorta.

EKO
Pandangan suprasternal memperlihatkan Co-A
Kateterisasi

Diperlukan pada sebagian besar kasus Co-A


karena hasil eko sering kurang meyakinkan

Penurunan tekanan sistolik aorta sesudah


tempat Co-A

Aortografi retrograd perlihatkan dengan


tepat lokasi serta derajat Co-A

Penatalaksaan

Co-A berat yang didiagnosis segera atau


beberapa hari setelah lahir berikan gejala
berat mengancam jiwa perlu tindakan
invasif pelebaran co-A dengan kateter
balon; tindakan bedah
Jemmy Tejokusuma

80

cardiologi

Pasien yang lebih besar tidak terdapat gejala


tidak dianjurkan operasi, tetapi perlu
tindakan pencegahan ensokarditis infektif

Jemmy Tejokusuma

81