Anda di halaman 1dari 31

A.

Judul praktikum
: ANALISIS ENZIM PENCERNAAN PADA USUS IKAN
B. Tujuan praktikum :
Adapun tujuan dilaksanakannya praktikum analisis enzim pencernaan pada usus
dan ventrikel ikan diantaranya adalah :
a. Mengetahui macam-macam enzim pencernaan pada ikan mujair, lele, dan tombro.
b. Mengetahui bagian saluran cerna yang menghasilkan enzim pencernaan pada ikan
mujair, lele, dan tombro.
c. Mengetahui pengaruh lama waktu penyimpanan isolat enzim pencernaan pada ikan
mujair, lele, dan tombro.
d. Mengetahui fungsi enzim pencernaan dan cairan empedu.
C. Dasar Teori
Pencernaan merupakan proses pemecahan senyawa kompleks menjadi senyawa yang
lebih kecil. Proses pemecahan senyawa tersebut menghasilkan energi yang penting bagi
kebutuhan sel, jaringan, organ dan makhluk hidup. Pencernaan merupakan proses kimia. Proses
kimia membutuhkan adanya enzim untuk perubahan kimia bahan dasarnya. Enzim berperan
dalam meningkatkan kecepatan reaksi tanpa mempengaruhi hasil reaksi dan tidak ikut bereaksi.
Dalam proses pencernaan, enzim dihasilkan oleh berbagai organ, seperti usus halus, kelenjar
ludah

dan

lambung.

Enzim

bersifat

spesifik

dalam

proses

pemecahan

bahan

kompleks(karbohidrat, protein, vitamin dan mineral) (Guyton,1992).


Enzim adalah satu atau beberapa gugus polipeptida (protein) yang berfungsi sebagai
katalis (senyawa yang mempercepat proses reaksi tanpa habis bereaksi) dalam suatu reaksi
kimia. Enzim bekerja dengan cara menempel pada permukaan molekul zat-zat yang bereaksi dan
dengan demikian mempercepat proses reaksi. Percepatan terjadi karena enzim menurunkan
energi pengaktifan yang dengan sendirinya akan mempermudah terjadinya reaksi. Sebagian besar
enzim bekerja secara khas, yang artinya setiap jenis enzim hanya dapat bekerja pada satu macam
senyawa atau reaksi kimia. Hal ini disebabkan perbedaan struktur kimia tiap enzim yang bersifat
tetap. Sebagai contoh, enzim -amilase hanya dapat digunakan pada proses perombakan pati
menjadi glukosa. Enzim dipelajari dalam enzimologi (Campbell,1995).
Enzim pencernaan merupakan substansi kimia dalam sistem pencernaan yang berfungsi untuk
hidrolisis pakan sehingga menjadi bentuk yang sederhana dan dapat diserap oleh sel-sel tubuh
(Audesirk, 1999).

Jumlah enzim yang kecil di dalam sel mempersulit pengukuran kadarnya di dalam
ekstrak jaringan atau cairan. Untungnya, aktivitas katalitis yang dimiliki enzim dapat menjadi
sarana pemeriksaan yang sensitive dan spesifik bagi pengukuran kadar enzim itu sendiri.
Kemampuan mengatalitis transformasi ribuan, puluhan ribu, atau bahkan lebih molekul substat
menjadi produk dalam periode waktu yang singkat memberikan kepada setiap molekul enzim
kemampuan untuk secara kimiawi menguatkan keberadaannya (Lehninger, 1995).
Untuk mengukur kadar enzim di dalam sebuah sampel ekstrak jaringan atau cairan biologik lain,
kecepatan reaksi yang dikatalitis oleh enzim dalam sampel tersebut harus ditentukan. Dalam
kondisi yang tepat, hasil pengukuran kecepatan reaksi harus sebanding dengan jumlah enzim
yang ada. Karena jumlah molekul atau massa enzim yang ada sukar ditentukan, hasil pengukuran
tersebut dinyatakan dalam unit enzim. Jumlah relatif enzim dalam berbagai ekstrak kemudian
dapat dibandingkan. International Union of Biocemistry mengartikan satu unit aktivitas enzim
sebagai 1 mikromol (1 mol; 10-6) substrat yang bereaksi atau produk yang ditransformasikan
per menit (Lehninger, 1995).
a. Sistem Pencernaan pada Ikan
Secara anatomis, struktur alat pencernaan ikan berkaitan dengan bentuk tubuh, kebiasan
makanan, tingkah laku ikan dan umur ikan. Sistem atau alat pencernaan pada ikan terdiri dari
dua bagian, yaitu saluran pencernaan (Tractus digestivus) dan kelenjar pencernaan (Glandula
digestoria).
1. Saluran Pencernaan
Mulai dari muka ke belakang, saluran pencernaan tersebut terdiri dari mulut,
rongga mulut, farings, esofagus, lambung, pilorus, usus, rektum dan anus. Saluran
pencernaan pada ikan dimulai dari rongga mulut (cavum oris). Pada rongga mulut
terdapat gigi-gigi kecil yang berbentuk kerucut pada geraham bawah dan lidah pada dasar
mulut yang tidak dapat digerakkan. Lidah ikan banyak menghasilkan lendir, tetapi tidak
menghasilkan ludah (enzim). Dari rongga mulut, makanan masuk ke esophagus melalui
faring yang terdapat di daerah sekitar insang kemudian makanan di dorong masuk ke
lambung. Lambung ikan pada umumnya membesar dan tidak memiliki batas yang jelas
dengan usus. Dari lambung, makanan masuk ke usus yang berupa pipa panjang berkelokkelok dan sama besarnya. Usus bermuara pada anus.
2. Kelenjar Pencernaan

Kelenjar pencernaan berguna untuk menghasilkan enzim pencernaan yang


nantinya akan bertugas membantu proses penghancuran makanan. Beberapa enzim yang
berperan dalam proses pencernaan makanan diantaranya adalah :
1. Tripsin
Tripsin adalah suatu enzim pemecah protein atau proteose, yang dihasilkan oleh
sel-sel pankreas dalam bentuk molekul tripsinogen yang tidak aktif. Tripsinogen akan
diaktifkan menjadi tripsin oleh enterokinase yaitu enzim yang dihasilkan oleh usus.
Tripsin dapat bekerja maksimal pada pH 8-9. Pembuktian adanya enzim tripsin dapat
dilakukan dengan uji biuret, apabila bahan uji mengandung protein yang memiliki dua
atau lebih ikan peptida akan berwarna keunguan bila diuji dengan reagen biuret.
2. Amilase
Amilase(-amilase) terdapat pada saliva dan usus halus. Amilase berfungsi
sebagai katalis dalam proses hidrolisis amilum, dekstrin dan glikogen menjadi maltosa.
Maltosa adalah disakarida yang terbentuk dari dua molekul glukosa. Ikatan yang terjadi
adalah antara karbon nomor 1 dan atom karbon nomor 4, oleh karenanya maltosa masih
memiliki gugus OH glikosidik dan demikian masih mempunyai sifat mereduksi.
Maltosa merupakan hasil hidrolisis amilum dengan asam maupun enzim. Dalam tubuh
amilum mengalami hidrolisis menjadi maltosa oleh enzim amilase. Pengujian enzim
amilase dapat dilakukan dengan uji Benedict. Glukosa akan mereduksi Cu2+ menjadi Cu+
yang kemudian mengendap sebagai Cu2O. Endapan yang terbentuk dapat berwarna hijau,
kuning atau merah bata tergantung konsentrasi bahan uji yang diperiksa.
3. Lipase
Lipase dalam cairan pankreas berfungsi sebagai katalis dalam proses hidrolisis
lemak menjadi asam lemak, gliserol, monoasilgliserol dan diasilgliserol. Aktivitas enzim
lipase dapat bertambah dengan adanya ion Ca2+ dan asam empedu, dan bekerja secara
optimal pada pH 7-8,8.

Empedu
Garam-garam empedu : terbentuk dari asam empedu yang berikatan dengan kolesterol
dan asam amino. Setelah disekresi ke dalam usus, garam tersebut direabsorbsi dari illeum bagian

bawah kembali ke hati dan di daur ulang kembali. Peristiwa ini dikenal sebagai sirkulasi
enterohepatika garam empedu. (Ethel Sloane, 2003)
Fungsi garam empedu dalam usus halus adalah mengemulsifikasi dan saponifikasi lemak
garam, empedu mengemulsi globulus lemak besar dalam usus halus yang kemudia menghasilkan
globulus lemak lebih kecil dan area permukaan yang lebih luas untuk kerja enzim. Garam
empedu juga membantu absorbsi zat terlarut lemak dengan cara memfasilitasi jalurnya
menembus membran sel (Ethel Sloane, 2003). Empedu juga berfungsi sebagai deodoran untuk
feses, mengurangi bau yang menyengat. Hal ini semata-mata dihubungkan dengan kenyataan
bahwa kekurangan garam-garam empedu berarti pencernaan lemak buruk, sehingga lemak di
dalam usus tetap berlebihan, melapisi makanan lain dan mencegah pencernaan dan absorbsi.
Akibatnya, protein dan lemak yang tidak tercerna diserang oleh bakteri pembusuk dan
mengalami dekomposisi yang menghasilkan kelebihan hidrogen yang disulfurasi, yaitu gas yang
menyebabkan bau feses abnormal, drainase yang menyengat, dan berbau seperti telur busuk
(Watson, 2002).
Kendali pada sekresi dan aliran empedu
Sekresi empedu diatur oleh faktor syaraf (impuls parasimpatis) dan hormon (sekretin dan
CCK) yang sama dengan yang mengatur sekresi cairan pankreas. Saat asam lemak dan asam
amino mencapai usus halus, CCK dilepas untuk mengkontraksi otot kandung empedu dan
merelaksasi sfingter Oddi. Cairan empedu kemudian didorong ke dalam duodenum (Watson,
2002).
3. Proses Pencernaan
Sebelum makanan di sambar dan ditelan, terlebih dahulu telah menimbulkan rangsangan
berupa nafsu untuk makan. Nafsu untuk makan ini dapat dirangsang melalui penglihatan, bau
dan rabaan. Begitu ada nafsu untuk makan, maka alat-alat pencernaanya segera bersiap-siap
untuk menerima makanan dan selanjutnat mencernakannya. Setelah makanan digigit, untuk
menelannya diperlukan bahan pelicin yaitu air liur. Selai sebagai pelicin, air liur juga
mengandung enzim ptialin yang merupakan enzim pemecah karbohidrat menjadi maltosa yang
kemudaian dilanjutkan menjadi glukosa. Tapi karena ikan tidak mengunyah makanan, padahal
pemecahan karbohidrat membutuhkan waktu yang lama, maka ptialinnya baru dapat bekerja
aktif setelah makanan sampai di lambung. Selain mengandung enzim ptialin, air liur juga

mengandung senyawa penyangga derajat keasaman (bufer) yang berguna untuk memecah
terjadinya penurunan pH agar proses pencernaan dapat berjalan normal.
Apabila makanan telah masuk ke dalam saluran pencernaan, maka dindng saluran
pencernaannya akan terangsang untuk menghasilkan hormon gastrin. Hormon ini akan memacu
pengeluaran asam klorida (HCL) dan pepsinogen. HCL akan mengubah pepsinogen menjadi
pepsin yang merupakan enzim pencernaan akif, yaitu sebagai pemecah protein menjadi pepton
(polipeptida). Apabila makanannya banyak mengandung lemak, maka akan dihasilkan juga
hormon entergastron.
Di dalam usus, makanan itu sendiri akan merangsang keluarnya hormon kolsistokinin.
Hormon ini kemudian akan memacu keluarnyagetah empedu dari hati. Getah empedu itu
sebenarnya dibuat dari sel-sel darah merah yang telah rusak di dalam hati. Pengeluaran getah
empedu tersebut melalui pembuluh hepatikus yang kemidaian ditampung di dalam kantong
empedu. Fungsi getah empedu tersebut adalah memeperhalus butiran-butiran lemak menjadi
emulsi sehingga mudah larut dalam air dan diserap oleh usus.
Dinding usus juga mengeluarkan hormon sekretin dan pankreozinin. Sekretin akan
memacu pengeluaran getah empedu dan pankreas. Getah penkreas ini mengandung enzim
amilase, lipase dan protase. Sedangkan hormon pankreozinin menyebabkan rangsangan untuk
mempertinggi produksi getah pankreas.
Enzim amilase akan memecah karbohidrat menjadi glukosa. Enzim lipase memecah
lemak menjadi asam lemak dan gliserol. Sedangkan protase memecah protein menjadi asam
amino. Ketiga enzim tersebut dapat mencapai puncak keaktifan apabila kadar protein dalam
makanan antara 40-60%. Apabila kadar proteinnya berubah maka untuk mencapai puncak
keaktifan, enzim-enzim tersebut membutuhkan waktu untuk menyseuaikan diri.
4. Penyerapan Sari Makanan
Makanan yang sudah dicerna halus sekali kemudian sari-sarinya akan diserap oleh
dinding usus. Sebenarnya di dalam lambung juga sudah mulai penyerapan, tapi jumlahnya masih
sangat sedikit. Penyerapan yang utama terjadi di dalam usus. Untuk menyerap sari makanan
tersebut, dinding usus mempunyai jonjot-jonjot agar permukaannya lebih luas. Melalui
pembuluh darah rambut pada jonjot usus tersebut, sari makanan akan diserap ke dalam darah.
Karbohidrat diserap dalam bentuk monosakarida, yaitu glikosa, galaktosa, fruktosa dan lain-lain.
Proses penyerapannya dipengaruhi oleh hormon insulin. Hormon tersebut dihasilkan oleh

kelenjar pankreas. Lemak diserap dalam bentuk asam lemak dan gliserol. Di dalam lapisan lendir
dinding usus, asam lemak dan gliserol bersatu lagi, untuk kemudian diedarkan keseluruh tubuh
melalui limfe (70%) dan melalui pembuluh darah (30%). Sedangkan protein diserap dalam
bentuk asam amino yang dibawa ke hati dulu untuk diubah menjadi protein lagi, akan tetapi yang
telah disesuaikan dengan kebutuhan tubuh ikan yang bersangkutan.
Zat-zat makanan yang telah diserap oleh darah kemudian diedarkan ke seluruh tubuh
untuk keperluan metabolisme, yaitu anabolisme dan katabolisme. Anabolisme adalah
pembentukan zat-zat yang lebih kompleks dari zat-zat yang lebih sederhana. Misalnya
pembentukan protein dan asam-asam amino. Sedangkan katabolisme adalah pemecahan zat-zat
yang merupakan bahan bakar untuk menghasilkan tenaga. Misalnya pemecahan karbohidrat
menjadi tenaga, air dan karbondioksida.
d.

Tinjauan Bahan

1. Minyak goreng
Minyak goreng termasuk dalam lemak netral. Lemak netral adalah persenyawaan asam
lemak dengan gliserol. Tiga molekul asam lemak (rantai panjang atom karbon dan hidrogen
dengan satu gugugs karboksil di salah satu ujungnya) berikatan kovaln dengan satu molekul
gliserol (satu molekul terdiri dari tiga karbon dengan tiga sisi gugus hidroksil) melalui proses
sintesis dehidrasi. Minyak cenderung cair pada suhu kamar (Etjhel Sloane, 2004).
2. Telur
Telur ayam mempunyai struktur yang sangat khusus yang mengandung zat gizi yang
cukup untuk mengembangkan sel yang telah dibuahi menjadi seekor anak ayam. Ketiga
komponen pokok telur adalah kulit telur, putih telur a albumin dan kuning telur. Albumin
mengandung protein, glukosa, lemak, garam dan air.
1. Ikan
Ikan merupakan salah satu jenis hewan vertebrata yang bersifat poikilotermis (berdarah
dingin), memiliki ciri khas pada tulang belakang, insang dan siripnya serta tergantung pada air
sebagai medium untuk kehidupannya. Ikan memiliki kemampuan di dalam air untuk bergerak
dengan menggunakan sirip untuk menjaga keseimbangan tubuhnya sehingga tidak tergantung
pada arus atau gerakan air yang disebabkan oleh arah angin. Dari keseluruhan vertebrata, sekitar
50,000 jenis hewan, ikan merupakan kelompok terbanyak di antara vertebrata lain memiliki jenis
atau spesies yang terbesar sekitar 25,988 jenis yang terdiri dari 483 famili dan 57 ordo. Jenis-

jenis ikan ini sebagian besar tersebar di perairan laut yaitu sekitar 58% (13,630 jenis) dan 42%
(9870 jenis) dari keseluruhan jenis ikan. Jumlah jenis ikan yang lebih besar di perairan laut,
dapat dimengerti karena hampir 70% permukaan bumi ini terdiri dari air laut dan hanya sekitar
1% merupakan perairan tawar. Ikan yang digunakan dalam praktikum ini adalah ikan lele,
mujair, dan ikan tombro.
Uji Amilase:

Dengan perubahan warna menjadi kuning menandakan bahwa amilum telah dirubah
menjadi maltosa. Amilase dalam usus dan ventrikel disekresikan oleh pankreas dan

memutus ikatan -14 glikosidik pada amilum atau pati sehingga dihasilkan maltosa.
Terbentuk sedikit endapan berwarna orange disekitar tabung. Endapan tersebut
diindikasikan sebagai hasil positif adanya amilase pada usus dan ventrikel ikan.

Uji Maltase:

Dengan perubahan warna menjadi biru menandakan bahwa maltosa glukosa.


Perubahan menjadi warna biru akan menjadi hasil positif adanya glukosa yang terdapat

pada usus dan ventrikel ikan.


Pada usus ikan maltase lebih banyak ditemukan sehingga warna biru berubah menjadi
warna biru yang lebih tua daripada yang terdapat pada ventrikel usus.

Uji Tripsin

Enzim tripsin berasal dari tripsinogen yang diaktivasi oleh enterokinase yang disekresi di
sel mukosa usus. Tripsin akan memecah peptida yang berdekatan dengan asam

aminobasik.
Tripsin diproduksi di pankreas sebagai enzim yang tidak aktif yaitu trypsinogen.
Di dalam usus kecil, enzim enteropeptidase mengaktifkan tripsin oleh pembelahan

proteolitik.
Yang terjadi adalah perubahan warna menjadi ungu yang menandakan adanya enzim
tripsin pada usus halus dan ventrikel ikan.

Uji Empedu:
Pada uji empedu yang mendeteksi adanya kandungan lemak di dalam empedu sebagai
emulgator dari proses emulsifikasi yang meminimalkan lemak sehingga luas daerah juga
akan semakin besar.
D. Bahan dan alat
7

Alat
Tabung reaksi
Botol berwarna gelap dan terang
Mortar dan alu
Gelas beaker ukurn 500 ml
Pembakar spiritus
Penjepit kayu
Pipet tetes
Rak tabung reaksi
Gelas ukur 10 ml
Papan bedah
Perlengkapan bedah
Corong kaca
Kertas saring
Kertas label
Tisu
Korek api
Kertas karbon

15 tabung
24 botol
1 set
1 gelas
1 set
1 penjepit
5 pipet
1 rak
1 gelas
1 papan
1 set
1 buah
Secukupnya
Secukupnya
Seperlunya
Seperlunya
secukupnya

Bahan
Ikan mujair
Ikan lele
Ikan tombro
Aquades
Gliserin 50%
Toluen
Larutan Amilum 2%
Larutan Maltosa 2%
Putih telur
Reagent Biuret
Reagen Benedict
Minyak goreng

Ukuran 50 gram
Ukuran 100-200 gram
Ukuran 300 gram
Secukupnya
200 ml
50 ml
100 ml
100 ml
50 ml
100 ml
100 ml
secukupnya

E. Cara kerja
Isolasi Enzin
1. Membedah ikan pada bagian perutnya, kemudian memisahkan ventrikel, usus, dan
empedu dari organ lain secara hati-hati.
2. Memotong bagian ventrikel hingga usus besar.
3. Memisahkan antara bagian ventrikel dan usus halus dan memisahkannya dari usus
besar.
4. Menyayat secara longitudinal pada masing-masing ventrikel dan usus halus.
5. Membersihkan ventrikel dan usus halus dengan akuades lalu mengeringkan pada tisu.
6. Meletakkan ventrikel atau usus halus pada mortar dan menambahkan 20 ml gliserin
50% lalu menggerusnya menggunakan alu.

7. Memasukkan isolat ventrikel atau usus halus pada botol gelap dan memberi label
identitas menggunakan kertas label yaitu kode V4, V7, U4, dan U7.
8. Menambahkan toluene 4-5 tetes pada tiap botol lalu menutupnya.
9. Menyimpan isolat ventrikel dan usus halus di ruang gelap pada suhu ruang selama 4
hari untuk contoh uji berlabel V4 dan U4 dan 7 hari untuk contoh uji berlabel V7 dan
U7 pada masing-masing jenis ikan.
Uji Aktivitas Enzim Amilase
1. Memberi label tabung reaksi K sebagai kontrol dan V4,V7, U4, U7 sebagai contoh
uji.
2. Menuangkan 2 ml reagen benedict pada tiap tabung reaksi.
3. Menambahkan 2 ml larutan amilum 2% pada tiap tabung reaksi.
4. Menambahkan 1 ml akuades pada tabung reaksi Kdan i ml isolat sesuai label V4, V7,
U4, dan U7 pada tabung reaksi berlabel sama.
5. Menggoyangkan masing-masing tabung reaksi selama 5-10 menit.
6. Memanaskan air di gelas Beaker yang telah diisi air sekitar 100 ml.
7. Memanaskan masing-masing tabung reaksi pada air yang telah mendidih dan
mendiamkan selama 15-20 menit dan mengamati perubahan warna yang terjadi.
8. Mencatat perubahan warna yang terjadi dan merekap pada tabel data.
9. Melakukan 3 kali pengulangan untuk masing-masing jenis ikan.
Uji Aktivitas Enzim Maltase
1. Melakukan aktivitas seperti langkah kerja pada uji aktivitas enzim amilase poin 1 dan
2
2. Menambahkan 2 ml larutan maltose 2% pada tiap tabung reaksi.
3. Melakukan aktivitas seperti langah kerja pada uji aktivitas enzim amilase poin 4
hingga 9
Uji Aktivitas Enzim Trypsin
1. Mengencerkan putih telur dengan akuades dengan perbandingan 1:1
2. Memberi label tabung reaksi dengan K sebagai kontrol dan V4, V7, U4, dan U7
sebagai contoh uji.
3. Memasukkan putih telur encer sebanyak 1 ml pada tiap tabung reaksi.
4. Menambahkan 1 ml akuades pada tabung berlabel K dan 1 ml isolat sesuai label V4,
V7, U4, dan U7 pada tabung reaksi berlabel sama.
5. Mendiamkan selama 10 menit.
6. Meneteskan 10 tetes reagen biuret pada masing-masing tabung dan mengamati
perubahan warna yang terjadi.
7. Mencatat perubahan warna yang terjadi dan merekap pada tabel data.
8. Melakukan 3 kali pengulangan untuk maisng-masing jenis ikan.
Uji Fungsi Empedu Terhadap Lemak

1. Memberi label tabung reaksi dengan K sebagai kontrol, EM sebagai contoh uji
empedu ikan mujair, EL sebagai contoh uji empedu ikan lele, dan ET sebagai contoh
uji ikan tombro.
2. Menuangkan cairan empedu maisng-masing ikan pada tabung yang telah disiapkan.
3. Mengisi tabung K dengan 2 ml akuades dan mengencerkan empedu masing-masing
jenis ikan dengan akuades pada tabung EM, EL, dan ET hingga volume mencapai 2
ml.
4. Menambahkan 2 ml minyak goreng pada masing-masing tabung lalu mengocok kuat
selama 10 menit.
5. Mengamati perubahan yang terjadi dan mencatat pada tabel data.

10

F. Hasil dan pembahasan


1. Hasil
G.
Tabel 1 : Data uji aktivitas amylase, maltase, dan trypsin
H.

J J.

enis
I.

Lama
E

nzim
Y.
Z.
AA.
AB.

wakt
(hari)
AC.
AD.

BK.
BL.
7
BM.

altase

ontrol

entrikel

CW.
CX.
M

U
sus

S.

ontrol

L.
T.

Lele
Ve U.

ntrikel

Usu V.

s halus

ontrol

M.
W.

Tombro
Ve X.

ntrikel

Us

us halus

halus

milase

CS.
CT.
CU.
CV.

K.
Mujair
K Q.
V R.

P.

AE.

Bi

AF.

Hi AG.

H AH.

Bi

AI.

Hij

AJ.

Hij

AK.

AL.

Hi

AM.

Hij

ru 3
AP. Bi

jau 8
ijau 9
ru 3
AQ. Hi AR. H AS. Bi

au 4
AT. Hj

au 8
AU. Hij

iru 3
AV.
B

jau 9
AW. Hi

au 8
AX. Hij

ru 3
BA. Bi

jau 9
ijau 8
ru 3
BB. Hi BC. H BD. Bi

au 4
BE. Hij

au 8
BF.
Hij

iru 3
BG. B

jau 8
BH. Hi

au 9
BI.
Hij

ru 3
BN. Bi

jau 9
ijau 8
ru 3
BO. Hi BP.
H BQ. Bi

au 4
BR. Hij

au 5
BS.
Hij

iru 3
BT. B

jau 9
BU. Hi

au 9
BV. Hij

ru 3
BY. Bi

jau 4
ijau 5
ru 3
BZ. Hi CA. H CB. Bi

au 5
CC. Hij

au 4
CD. Hij

iru 3
CE. B

jau 8
CF. Hi

au 8
CG. Hij

ru 3
CJ.
Bi

jau 4
ijau 5
ru 3
CK. Hi CL. H CM. Bi

au 4
CN. Hij

au 7
CO. Hij

iru 3
CP. B

jau 9
CQ. Hi

au 9
CR. Hij

ru 3
CY. M

jau 5
CZ. M

ijau 5
DA. Ji

ru 3
DB. M

au 4
DC. Ku

au 5
DD. Ku

iru 3
jau 9
DE. K DF. Ku

au 9
DG. Ku

erah bata

erah bata

ngga 2

erah bata

ning

ning 2

0
M

1
DK. M

0
DM. M

jingga 3
DN. Ku

erah bata

erah bata

erah bata

ning

jingga 3

4
DJ.

DL.

Ji

ngga 2

uning 1

ning 4

ning jingga
2

DO.

Ku

ning 2

DP.

K DQ.

uning 1

Ku

ning 4

DR.

Ku

ning jingga
2

DU.

EE.
EF.

erah bata

1
EH. K

EG.

ripsin
GX.
GY.
7

IE.

Ji

ngga 2
EI.

DX.

Ku

jingga 3
EK. Ku

EJ.

jingga 1
ES.
K

jingga 2
ET. K

erah bata

uning

uning

jingga 1
FD. K

jingga 2
FE. K

erah bata

uning

uning

0
U

jingga 1
FS.
U

jingga 2
FT.
U

FU.

ngu 3
GC. U

ngu 3
GD. U

ngu 3
GN. U

DY.
ning

uning

erah bata

uning

FC.

DW.

erah bata
ER.

FP.
FQ.

erah bata

FL.
FM.
FN.
FO.

DV.

erah bata

ning

jingga 2
EV. Ku

EU.

erah bata

ning

jingga 2
FG. Ku

FF.

DZ.

Ku

ning 2

EA.

K EB.

uning 1

Ku

ning 4

EC.

Ku

ning jingga
2

EL.

Ku

ning 4
EW.

Ku

ning 4
FH.

Ku

K EN.

uning 1
EX.

FI.

ning 4

K EY.

uning 1

Ku

ning 4

K FJ.

Ku

Ku

ning 3
EZ.

Ku

ning 3
FK.

Ku

0
U

jingga 2
FV. Un

FW.

ngu 4
GE. U

ngu 3
GF. U

gu 3
GG. Un

gu 2
GH. Un

ngu 3
gu 4
GI.
U GJ. Un

gu 3
GK. Un

ngu 3
GO. U

ngu 3
GP. U

ngu 3
GQ. U

gu 3
GR. Un

gu 2
GS. Un

ngu 3
gu 4
GT. U GU. Un

gu 3
GV. Un

ngu 3
GZ. U

ngu 4
HA. U

ngu 3
HB. U

ngu 3
HC. U

gu 3
HD. Un

gu 3
HE. Un

ngu 3
gu 4
HF. U HG. Un

gu 3
HH. Un

ngu 3
HK. U

ngu 3
HL. U

ngu 2
HM. U

ngu 3
HN. U

gu 2
HO. Un

gu 1
HP. Un

ngu 3
gu 3
HQ. U HR. Un

gu 1
HS. Un

ngu 3
HV. U

ngu 3
HW. U

ngu 1
HX. U

ngu 3
HY. U

gu 2
HZ. Un

gu 1
IA.
Un

ngu 3
gu 2
IB.
U IC.
Un

gu 1
ID.
Un

FX.

ning 4

EO.

ning

Un

uning 1

Ku

erah bata

FR.

ning 4

EM.

U FY.

Un

ning 3
FZ.

ngu 3
ngu 2
ngu 1
ngu 3
gu 2
gu 1
ngu 3
gu 2
gu 1
Keterangan : Perubahan warna reagen Benedict : tidak ada perubahan (-), hijau (+), kuning (++), kuning jingga (++
+), merah bata (++++)

Un

IF.
Perubahan warna reagen Biuert : biru (-), ungu (+), merah muda (++)
IG.Tabel 2 : Data Uji Fungsi Empedu terhadap Lemak
IH.
A. Jenis Ikan
C. Mujair
E. Lele
G. Tombro

B. Fungsi Empedu
D. Negatif (-)
F. Positif (+)
H. Positif (+)

II.
IJ.
IK.
IL.

Keterangan : tidak ada gumpalan (-), ada gumpalan (+)

IM.
2. Analisis data
a. Uji aktivitas enzim amilase
IN.

Uji aktivitas enzim amilase yang terdapat pada bagian ventrikel dan usus

halus ikan mujair, lele, dan tombro yang isolatnya disimpan selama 4 hari dan 7 hari pada
suhu ruang, perubahan warna yang timbul dibandingkan dengan warna pada variabel
kontrol. Pada pengujian ini dilakukan tiga kali pengulangan agar data yang diperoleh
lebih akurat. Uji aktvitas enzim amilase pada isolat ventrikel dan usus halus ikan mujair
yang telah disimpan selama 4 hari pada suhu ruang memberikan hasil yaitu pada
pengulangan ke-1, warna sebelum diberikan perlakuan (kontrol) yaitu biru 3, setelah
diberikan perlakuan yaitu meneteskan 1 ml isolat ventrikel terjadi perubahan warna yaitu
hijau 8, dan setelah meneteskan 1 ml isolat usus halus terjadi perubahan warna yaitu hijau
9. Pada pengulangan ke-2, warna sebelum diberikan perlakuan (kontrol) yaitu biru 3,
setelah diberikan perlakuan yaitu meneteskan 1 ml isolat ventrikel terjadi perubahan
warna yaitu hijau 9, dan setelah meneteskan 1 ml isolat usus halus terjadi perubahan
warna yaitu hijau 8. Pada pengulangan ke-3, warna sebelum diberikan perlakuan
(kontrol) yaitu biru 3, setelah diberikan perlakuan yaitu meneteskan 1 ml isolat ventrikel
terjadi perubahan warna yaitu hijau 9, dan setelah meneteskan 1 ml isolat usus halus
terjadi perubahan warna yaitu hijau 8. Uji aktvitas enzim amilase pada isolat ventrikel
dan usus halus ikan mujair yang telah disimpan selama 7 hari pada suhu ruang
memberikan hasil yaitu pada pengulangan ke-1, warna sebelum diberikan perlakuan
(kontrol) yaitu biru 3, setelah diberikan perlakuan yaitu meneteskan 1 ml isolat ventrikel
terjadi perubahan warna yaitu hijau 4, dan setelah meneteskan 1 ml isolat usus halus
terjadi perubahan warna yaitu hijau 5. Pada pengulangan ke-2, warna sebelum diberikan
perlakuan (kontrol) yaitu biru 3, setelah diberikan perlakuan yaitu meneteskan 1 ml isolat
ventrikel terjadi perubahan warna yaitu hijau 4, dan setelah meneteskan 1 ml isolat usus
halus terjadi perubahan warna yaitu hijau 5. Pada pengulangan ke-3, warna sebelum
diberikan perlakuan (kontrol) yaitu biru 3, setelah diberikan perlakuan yaitu meneteskan
1 ml isolat ventrikel terjadi perubahan warna yaitu hijau 5, dan setelah meneteskan 1 ml
isolat usus halus terjadi perubahan warna yaitu hijau 5.
IO.
Uji aktvitas enzim amilase pada isolat ventrikel dan usus halus ikan lele
yang telah disimpan selama 4 hari pada suhu ruang memberikan hasil yaitu pada

pengulangan ke-1, warna sebelum diberikan perlakuan (kontrol) yaitu biru 3, setelah
diberikan perlakuan yaitu meneteskan 1 ml isolat ventrikel terjadi perubahan warna yaitu
hijau 4, dan setelah meneteskan 1 ml isolat usus halus terjadi perubahan warna yaitu hijau
8. Pada pengulangan ke-2, warna sebelum diberikan perlakuan (kontrol) yaitu biru 3,
setelah diberikan perlakuan yaitu meneteskan 1 ml isolat ventrikel terjadi perubahan
warna yaitu hijau 4, dan setelah meneteskan 1 ml isolat usus halus terjadi perubahan
warna yaitu hijau 8. Pada pengulangan ke-3, warna sebelum diberikan perlakuan
(kontrol) yaitu biru 3, setelah diberikan perlakuan yaitu meneteskan 1 ml isolat ventrikel
terjadi perubahan warna yaitu hijau 4, dan setelah meneteskan 1 ml isolat usus halus
terjadi perubahan warna yaitu hijau 5. Uji aktvitas enzim amilase pada isolat ventrikel
dan usus halus ikan lele yang telah disimpan selama 7 hari pada suhu ruang memberikan
hasil yaitu pada pengulangan ke-1, warna sebelum diberikan perlakuan (kontrol) yaitu
biru 3, setelah diberikan perlakuan yaitu meneteskan 1 ml isolat ventrikel terjadi
perubahan warna yaitu hijau 5, dan setelah meneteskan 1 ml isolat usus halus terjadi
perubahan warna yaitu hijau 4. Pada pengulangan ke-2, warna sebelum diberikan
perlakuan (kontrol) yaitu biru 3, setelah diberikan perlakuan yaitu meneteskan 1 ml isolat
ventrikel terjadi perubahan warna yaitu hijau 4, dan setelah meneteskan 1 ml isolat usus
halus terjadi perubahan warna yaitu hijau 7. Pada pengulangan ke-3, warna sebelum
diberikan perlakuan (kontrol) yaitu biru 3, setelah diberikan perlakuan yaitu meneteskan
1 ml isolat ventrikel terjadi perubahan warna yaitu hijau 4, dan setelah meneteskan 1 ml
isolat usus halus terjadi perubahan warna yaitu hijau 5.
IP.
Uji aktvitas enzim amilase pada isolat ventrikel dan usus halus ikan
tombro yang telah disimpan selama 4 hari pada suhu ruang memberikan hasil yaitu pada
pengulangan ke-1, warna sebelum diberikan perlakuan (kontrol) yaitu biru 3, setelah
diberikan perlakuan yaitu meneteskan 1 ml isolat ventrikel terjadi perubahan warna yaitu
hijau 9, dan setelah meneteskan 1 ml isolat usus halus terjadi perubahan warna yaitu hijau
8. Pada pengulangan ke-2, warna sebelum diberikan perlakuan (kontrol) yaitu biru 3,
setelah diberikan perlakuan yaitu meneteskan 1 ml isolat ventrikel terjadi perubahan
warna yaitu hijau 8, dan setelah meneteskan 1 ml isolat usus halus terjadi perubahan
warna yaitu hijau 9. Pada pengulangan ke-3, warna sebelum diberikan perlakuan
(kontrol) yaitu biru 3, setelah diberikan perlakuan yaitu meneteskan 1 ml isolat ventrikel

terjadi perubahan warna yaitu hijau 9, dan setelah meneteskan 1 ml isolat usus halus
terjadi perubahan warna yaitu hijau 9. Uji aktvitas enzim amilase pada isolat ventrikel
dan usus halus ikan tombro yang telah disimpan selama 7 hari pada suhu ruang
memberikan hasil yaitu pada pengulangan ke-1, warna sebelum diberikan perlakuan
(kontrol) yaitu biru 3, setelah diberikan perlakuan yaitu meneteskan 1 ml isolat ventrikel
terjadi perubahan warna yaitu hijau 8, dan setelah meneteskan 1 ml isolat usus halus
terjadi perubahan warna yaitu hijau 8. Pada pengulangan ke-2, warna sebelum diberikan
perlakuan (kontrol) yaitu biru 3, setelah diberikan perlakuan yaitu meneteskan 1 ml isolat
ventrikel terjadi perubahan warna yaitu hijau 9, dan setelah meneteskan 1 ml isolat usus
halus terjadi perubahan warna yaitu hijau 9. Pada pengulangan ke-3, warna sebelum
diberikan perlakuan (kontrol) yaitu biru 3, setelah diberikan perlakuan yaitu meneteskan
1 ml isolat ventrikel terjadi perubahan warna yaitu hijau 9, dan setelah meneteskan 1 ml
isolat usus halus terjadi perubahan warna yaitu hijau 9.
b.

Uji aktivitas enzim maltase


IQ.

Uji aktvitas enzim maltase pada isolat ventrikel dan usus halus ikan

mujair yang telah disimpan selama 4 hari pada suhu ruang memberikan hasil yaitu pada
pengulangan ke-1, warna sebelum diberikan perlakuan (kontrol) yaitu merah bata 0,
setelah diberikan perlakuan yaitu meneteskan 1 ml isolat ventrikel terjadi perubahan
warna yaitu merah bata 1, dan setelah meneteskan 1 ml isolat usus halus terjadi
perubahan warna yaitu jingga 2. Pada pengulangan ke-2, warna sebelum diberikan
perlakuan (kontrol) yaitu merah bata 0, setelah diberikan perlakuan yaitu meneteskan 1
ml isolat ventrikel terjadi perubahan warna yaitu merah bata 1, dan setelah meneteskan 1
ml isolat usus halus terjadi perubahan warna yaitu jingga 2. Pada pengulangan ke-3,
warna sebelum diberikan perlakuan (kontrol) yaitu merah bata 0, setelah diberikan
perlakuan yaitu meneteskan 1 ml isolat ventrikel terjadi perubahan warna yaitu merah
bata 1, dan setelah meneteskan 1 ml isolat usus halus terjadi perubahan warna yaitu
jingga 2. Uji aktvitas enzim maltase pada isolat ventrikel dan usus halus ikan mujair
yang telah disimpan selama 7 hari pada suhu ruang memberikan hasil yaitu pada
pengulangan ke-1, warna sebelum diberikan perlakuan (kontrol) yaitu merah bata 0,
setelah diberikan perlakuan yaitu meneteskan 1 ml isolat ventrikel terjadi perubahan
warna yaitu kuning jingga 1, dan setelah meneteskan 1 ml isolat usus halus terjadi

perubahan warna yaitu kuning jingga 2. Pada pengulangan ke-2, warna sebelum
diberikan perlakuan (kontrol) yaitu merah bata 0, setelah diberikan perlakuan yaitu
meneteskan 1 ml isolat ventrikel terjadi perubahan warna yaitu kuning jingga 1, dan
setelah meneteskan 1 ml isolat usus halus terjadi perubahan warna yaitu kuning jingga 2.
Pada pengulangan ke-3, warna sebelum diberikan perlakuan (kontrol) yaitu merah bata 0,
setelah diberikan perlakuan yaitu meneteskan 1 ml isolat ventrikel terjadi perubahan
warna yaitu kuning jingga 1, dan setelah meneteskan 1 ml isolat usus halus terjadi
perubahan warna yaitu kuning jingga 2.
IR.
Uji aktvitas enzim maltase pada isolat ventrikel dan usus halus ikan lele
yang telah disimpan selama 4 hari pada suhu ruang memberikan hasil yaitu pada
pengulangan ke-1, warna sebelum diberikan perlakuan (kontrol) yaitu merah bata 0,
setelah diberikan perlakuan yaitu meneteskan 1 ml isolat ventrikel terjadi perubahan
warna yaitu kuning jingga 3, dan setelah meneteskan 1 ml isolat usus halus terjadi
perubahan warna yaitu kuning 2. Pada pengulangan ke-2, warna sebelum diberikan
perlakuan (kontrol) yaitu merah bata 0, setelah diberikan perlakuan yaitu meneteskan 1
ml isolat ventrikel terjadi perubahan warna yaitu kuning jingga 3, dan setelah meneteskan
1 ml isolat usus halus terjadi perubahan warna yaitu kuning 2. Pada pengulangan ke-3,
warna sebelum diberikan perlakuan (kontrol) yaitu merah bata 0, setelah diberikan
perlakuan yaitu meneteskan 1 ml isolat ventrikel terjadi perubahan warna yaitu kuning
jingga 3, dan setelah meneteskan 1 ml isolat usus halus terjadi perubahan warna yaitu
kuning 2. Uji aktvitas enzim maltase pada isolat ventrikel dan usus halus ikan lele yang
telah disimpan selama 7 hari pada suhu ruang memberikan hasil yaitu pada pengulangan
ke-1, warna sebelum diberikan perlakuan (kontrol) yaitu merah bata 0, setelah diberikan
perlakuan yaitu meneteskan 1 ml isolat ventrikel terjadi perubahan warna yaitu kuning
jingga 2, dan setelah meneteskan 1 ml isolat usus halus terjadi perubahan warna yaitu
kuning 4. Pada pengulangan ke-2, warna sebelum diberikan perlakuan (kontrol) yaitu
merah bata 0, setelah diberikan perlakuan yaitu meneteskan 1 ml isolat ventrikel terjadi
perubahan warna yaitu kuning jingga 2, dan setelah meneteskan 1 ml isolat usus halus
terjadi perubahan warna yaitu kuning 4. Pada pengulangan ke-3, warna sebelum
diberikan perlakuan (kontrol) yaitu merah bata 0, setelah diberikan perlakuan yaitu

meneteskan 1 ml isolat ventrikel terjadi perubahan warna yaitu kuning jingga 2, dan
setelah meneteskan 1 ml isolat usus halus terjadi perubahan warna yaitu kuning 4.
IS.
Uji aktvitas enzim maltase pada isolat ventrikel dan usus halus ikan
tombro yang telah disimpan selama 4 hari pada suhu ruang memberikan hasil yaitu pada
pengulangan ke-1, warna sebelum diberikan perlakuan (kontrol) yaitu kuning 1, setelah
diberikan perlakuan yaitu meneteskan 1 ml isolat ventrikel terjadi perubahan warna yaitu
kuning 4, dan setelah meneteskan 1 ml isolat usus halus terjadi perubahan warna yaitu
kuning jingga 2. Pada pengulangan ke-2, warna sebelum diberikan perlakuan (kontrol)
yaitu kuning 1, setelah diberikan perlakuan yaitu meneteskan 1 ml isolat ventrikel terjadi
perubahan warna yaitu kuning 4, dan setelah meneteskan 1 ml isolat usus halus terjadi
perubahan warna yaitu kuning jingga 2. Pada pengulangan ke-3, warna sebelum
diberikan perlakuan (kontrol) yaitu kuning 1, setelah diberikan perlakuan yaitu
meneteskan 1 ml isolat ventrikel terjadi perubahan warna yaitu kuning 4, dan setelah
meneteskan 1 ml isolat usus halus terjadi perubahan warna yaitu kuning jingga 2. Uji
aktvitas enzim maltase pada isolat ventrikel dan usus halus ikan tombro yang telah
disimpan selama 4 hari pada suhu ruang memberikan hasil yaitu pada pengulangan ke-1,
warna sebelum diberikan perlakuan (kontrol) yaitu kuning 1, setelah diberikan perlakuan
yaitu meneteskan 1 ml isolat ventrikel terjadi perubahan warna yaitu kuning 4, dan
setelah meneteskan 1 ml isolat usus halus terjadi perubahan warna yaitu kuning 3. Pada
pengulangan ke-2, warna sebelum diberikan perlakuan (kontrol) yaitu kuning 1, setelah
diberikan perlakuan yaitu meneteskan 1 ml isolat ventrikel terjadi perubahan warna yaitu
kuning 4, dan setelah meneteskan 1 ml isolat usus halus terjadi perubahan warna yaitu
kuning 3. Pada pengulangan ke-3, warna sebelum diberikan perlakuan (kontrol) yaitu
kuning 1, setelah diberikan perlakuan yaitu meneteskan 1 ml isolat ventrikel terjadi
perubahan warna yaitu kuning 4, dan setelah meneteskan 1 ml isolat usus halus terjadi
perubahan warna yaitu kuning 3.
c. Uji aktivitas enzim tripsin
IT.

Uji aktvitas enzim tripsin pada isolat ventrikel dan usus halus ikan mujair

yang telah disimpan selama 4 hari pada suhu ruang memberikan hasil yaitu pada
pengulangan ke-1, warna sebelum diberikan perlakuan (kontrol) yaitu ungu 3, setelah
diberikan perlakuan yaitu meneteskan 1 ml isolat ventrikel terjadi perubahan warna yaitu

ungu 3, dan setelah meneteskan 1 ml isolat usus halus terjadi perubahan warna yaitu ungu
4. Pada pengulangan ke-2, warna sebelum diberikan perlakuan (kontrol) yaitu ungu 3,
setelah diberikan perlakuan yaitu meneteskan 1 ml isolat ventrikel terjadi perubahan
warna yaitu ungu 3, dan setelah meneteskan 1 ml isolat usus halus terjadi perubahan
warna yaitu ungu 3. Pada pengulangan ke-3, warna sebelum diberikan perlakuan
(kontrol) yaitu ungu 3, setelah diberikan perlakuan yaitu meneteskan 1 ml isolat ventrikel
terjadi perubahan warna yaitu ungu 4, dan setelah meneteskan 1 ml isolat usus halus
terjadi perubahan warna yaitu ungu 3. Uji aktvitas enzim tripsin pada isolat ventrikel dan
usus halus ikan mujair yang telah disimpan selama 7 hari pada suhu ruang memberikan
hasil yaitu pada pengulangan ke-1, warna sebelum diberikan perlakuan (kontrol) yaitu
ungu 3, setelah diberikan perlakuan yaitu meneteskan 1 ml isolat ventrikel terjadi
perubahan warna yaitu ungu 3, dan setelah meneteskan 1 ml isolat usus halus terjadi
perubahan warna yaitu ungu 2. Pada pengulangan ke-2, warna sebelum diberikan
perlakuan (kontrol) yaitu ungu 3, setelah diberikan perlakuan yaitu meneteskan 1 ml
isolat ventrikel terjadi perubahan warna yaitu ungu 3, dan setelah meneteskan 1 ml isolat
usus halus terjadi perubahan warna yaitu ungu 1. Pada pengulangan ke-3, warna sebelum
diberikan perlakuan (kontrol) yaitu ungu 3, setelah diberikan perlakuan yaitu meneteskan
1 ml isolat ventrikel terjadi perubahan warna yaitu ungu 2, dan setelah meneteskan 1 ml
isolat usus halus terjadi perubahan warna yaitu ungu 1.
IU.
Uji aktvitas enzim tripsin pada isolat ventrikel dan usus halus ikan lele
yang telah disimpan selama 4 hari pada suhu ruang memberikan hasil yaitu pada
pengulangan ke-1, warna sebelum diberikan perlakuan (kontrol) yaitu ungu 3, setelah
diberikan perlakuan yaitu meneteskan 1 ml isolat ventrikel terjadi perubahan warna yaitu
ungu 3, dan setelah meneteskan 1 ml isolat usus halus terjadi perubahan warna yaitu ungu
2. Pada pengulangan ke-2, warna sebelum diberikan perlakuan (kontrol) yaitu ungu 3,
setelah diberikan perlakuan yaitu meneteskan 1 ml isolat ventrikel terjadi perubahan
warna yaitu ungu 3, dan setelah meneteskan 1 ml isolat usus halus terjadi perubahan
warna yaitu ungu 2. Pada pengulangan ke-3, warna sebelum diberikan perlakuan
(kontrol) yaitu ungu 3, setelah diberikan perlakuan yaitu meneteskan 1 ml isolat ventrikel
terjadi perubahan warna yaitu ungu 3, dan setelah meneteskan 1 ml isolat usus halus
terjadi perubahan warna yaitu ungu 3. Uji aktvitas enzim tripsin pada isolat ventrikel dan

usus halus ikan lele yang telah disimpan selama 7 hari pada suhu ruang memberikan
hasil yaitu pada pengulangan ke-1, warna sebelum diberikan perlakuan (kontrol) yaitu
ungu 3, setelah diberikan perlakuan yaitu meneteskan 1 ml isolat ventrikel terjadi
perubahan warna yaitu ungu 2, dan setelah meneteskan 1 ml isolat usus halus terjadi
perubahan warna yaitu ungu 1. Pada pengulangan ke-2, warna sebelum diberikan
perlakuan (kontrol) yaitu ungu 3, setelah diberikan perlakuan yaitu meneteskan 1 ml
isolat ventrikel terjadi perubahan warna yaitu ungu 2, dan setelah meneteskan 1 ml isolat
usus halus terjadi perubahan warna yaitu ungu 1. Pada pengulangan ke-3, warna sebelum
diberikan perlakuan (kontrol) yaitu ungu 3, setelah diberikan perlakuan yaitu meneteskan
1 ml isolat ventrikel terjadi perubahan warna yaitu ungu 2, dan setelah meneteskan 1 ml
isolat usus halus terjadi perubahan warna yaitu ungu 1.
IV.
Uji aktvitas enzim tripsin pada isolat ventrikel dan usus halus ikan
tombro yang telah disimpan selama 4 hari pada suhu ruang memberikan hasil yaitu pada
pengulangan ke-1, warna sebelum diberikan perlakuan (kontrol) yaitu ungu 3, setelah
diberikan perlakuan yaitu meneteskan 1 ml isolat ventrikel terjadi perubahan warna yaitu
ungu 4, dan setelah meneteskan 1 ml isolat usus halus terjadi perubahan warna yaitu ungu
3. Pada pengulangan ke-2, warna sebelum diberikan perlakuan (kontrol) yaitu ungu 3,
setelah diberikan perlakuan yaitu meneteskan 1 ml isolat ventrikel terjadi perubahan
warna yaitu ungu 4, dan setelah meneteskan 1 ml isolat usus halus terjadi perubahan
warna yaitu ungu 3. Pada pengulangan ke-3, warna sebelum diberikan perlakuan
(kontrol) yaitu ungu 3, setelah diberikan perlakuan yaitu meneteskan 1 ml isolat ventrikel
terjadi perubahan warna yaitu ungu 4, dan setelah meneteskan 1 ml isolat usus halus
terjadi perubahan warna yaitu ungu 3. Uji aktvitas enzim tripsin pada isolat ventrikel dan
usus halus ikan tombro yang telah disimpan selama 7 hari pada suhu ruang memberikan
hasil yaitu pada pengulangan ke-1, warna sebelum diberikan perlakuan (kontrol) yaitu
ungu 3, setelah diberikan perlakuan yaitu meneteskan 1 ml isolat ventrikel terjadi
perubahan warna yaitu ungu 2, dan setelah meneteskan 1 ml isolat usus halus terjadi
perubahan warna yaitu ungu 1. Pada pengulangan ke-2, warna sebelum diberikan
perlakuan (kontrol) yaitu ungu 3, setelah diberikan perlakuan yaitu meneteskan 1 ml
isolat ventrikel terjadi perubahan warna yaitu ungu 2, dan setelah meneteskan 1 ml isolat
usus halus terjadi perubahan warna yaitu ungu 1. Pada pengulangan ke-3, warna sebelum

diberikan perlakuan (kontrol) yaitu ungu 3, setelah diberikan perlakuan yaitu meneteskan
1 ml isolat ventrikel terjadi perubahan warna yaitu ungu 2, dan setelah meneteskan 1 ml
isolat usus halus terjadi perubahan warna yaitu ungu 1.
d.

Uji fungsi empedu terhadap lemak


IW. Pada uji fungsi empedu terhadap lemak dengan minyak goreng sebagai zat

penguji (pengganti lemak) menunjukkan hasil yang berbeda-beda pada setiap jenis ikan. Pada
ikan lele dan ikan tombro uji fungsi empedu menujukkan hasil positif yang artinya terbentuk
gumpalan, namun pada ikan mujair uji fungsi empedu menunjukkan hasil negatif yang artinya
tidak terbentuk gumpalan.
IX.
3. Pembahasan
IY.
Pada praktikum analisis enzim pencernaan pada ventrikel dan usus halus ikan,
menggunakan organ pencernaan ikan yang masih segar agar enzim yang ada pada organ
pencernaan tersebut masih dalam kondisi aktif karena enzim sangat sensitif dan dapat rusak oleh
beberapa faktor, salah satunya adalah karena pemasakan dan pasteurisasi. Kantung empedu juga
diambil secara hati-hati, agar kantung empedu tidak pecah, sehingga cairan empedu masiih
dalam volume utuh yang dapat megoptimalkan hasil praktikum. Botol yang digunakan untuk
menyimpan isolat enzim adalah botol yang berwarna gelap dan tertutup, memilih botol yang
gelap agar tidak terjadi oksidasi larutan sehingga komponen enzim yang berupa protein tetap
terjaga dan tidak mengalami denaturasi, kemudian menutup rapat isolat enzim selama proses
penyimpanan agar isolat yang berada di dalam botol yang berupa larutan kimia tidak menguap
dan menyebabkan isolat enzim menjadi rusak.
IZ.
Fungsi digunakannya larutan gliserin 50% pada saat penghalusan organ ventrikel
maupun usus halus ikan adalah untuk menghilangkan lemak yang menempel pada organ dan
menstabilkan enzim yang terdapat pada organ tersebut sehingga tidak rusak pada saat proses
penyimpanan. Fungsi penambahan toluen pada isolat enzim adalah untuk melarutkan atau
meluruhkan enzim-enzim yang terkandung pada ventrikel dan usus halus, mengekstrak enzim,
melisiskan sel-sel, serta menjaga agar usus tidak busuk atau sebagai pengawet tanpa merubah
struktur/konformasi materi organik yang diawetkan.
JA.
Pada praktikum ini organ pencernaan yang dipilih untuk isolasi enzim adalah
ventrikel dan usus halus karena pada kedua organ pencernaan tersebut banyak terjadi proses
pencernaan terutama pencernaan secara kimiawi (reaksi enzimatik), sehingga enzim yang
dihasilkan pada organ tersebut lebih banyak jika dibandingkan organ-organ pencernaan lainnya.

JB.

Pada pengujian aktivitas enzim amilase dan enzim maltase dilakukan pemanasan yang

berfungsi sebagai katalis untuk meningkatkan kerja enzim karena kerja enzim optimal pada suhu
tertentu sehingga reaksi akan lebih cepat terjadi. Namun pada pengujian atktivitas enzim trypsin
tidak perlu proses pemanasan karena protein (albumin) sebagai zat penguji mudah terdenaturasi
pada suhu tinggi.
JC.

Secara garis besar proses enzimatis pencernaan yang terjadi pada ventrikel

dan usus halus sebagai berikut : Cairan gastrik berfungsi untuk mensekresi peptin dan
asam klorida (HCl) yang dihasilkan oleh sel-sel yang ada di lambung. Di dalam lambung
terjadi pencernan protein, lemak, dan karbohidrat. protein mengalami denaturasi oleh
kerja HCl dan dihidrolisis oleh enzim pepsin. Ikan yang tidak memiliki lambung
proteinnya dicerna di usus depan menggunakan enzim protease. Permukaan doudenum
membentuk lipatan-lipatan yang mensekresikan enzim enterokinase yang berperan
mengaktifkan tripsinogen menjadi tripsin. Sel sekretori mukosa usus halus mensekresikan
cairan yang mengandung enzim pencernaan sebagai berikut :
1. Disakaridase : hidrolisis disakarida menjadi monosakarida, dibedakan menjadi maltase,
laktase, dan sukrose.
2. Peptidase

: hidrolisis polipeptida dan dipeptida menjadi asam amino

3. Lipase usus

: hidrolisis lemak menjadi asam lemak dan gliserol

a. Pembahasan aktivitas uji enzim amilase


JD.
Pada aktivitas uji enzim amilase pada ikan mujair, lele, dan tombro terbukti
bahwa lama penyimpanan isolat enzim berpengaruh terhadap aktivitas enzim pencernaan. Pada
ketiga jenis ikan, enzim amilase bekerja lebih optimal pada penyimpanan selama 4 hari baik
pada isolat enzim usus halus maupun pada isolat enzim ventrikel,

dan sudah mengalami

penurunan aktivitas pada hari ke 7. Namun pada ikan lele hari ke 7 pada tabung pertama isolat
enzim pada ventrikel menunjukkan nilai hijau 5, nilai ini lebih besar dibandingkan nilai pada hari
ke 4 yang sebesar hijau 4, namun pada saat dilakukan pengulangan nilai tetap menunjukkan hijau
4 dan tidak terjadi penaikkan aktivitas enzim. Kesalahan hasil pada tabung pertama dapat terjadi
dikarenakan tidak dilakukan penyaringan pada saat pembuatan isolat enzim, sehingga pada saat
pengambilan isolat, potongan-potongan ventrikel yang belum halus ikut terambil.
JE.
Adanya enzim amilase dapat ditunjukkan dengan perbedaan warna tabung yang
diberi isolat enzim dengan tabung K sebagai kontrol. Tabung K meskipun setelah proses
pemanasan tetap berwarna biru, dan tabung yang diberi isolat enzim baik isolat enzim pada usus

maupun isolat enzim pada ventrikel menunjukkan perubahan warna setelah poses pemanasan,
yakni dari biru menjadi berwarna biru kehijauan.
JF.
Pada ikan lele dan mujair perubahan warna isolat enzim usus halus memiliki nilai
yang lebih tinggi daripada perubahan warna isolat enzim ventrikel, hal ini menyatakan bahwa
kandungan enzim amilase pada usus halus ikan lele dan mujair lebih banyak jika dibandingkan
kandungan enzim amilase pada bagian ventrikelnya. Namun pada ikan tombro perubahan
warnanya memiliki nilai yang hampir sama besar pada ventrikel dan usus halus, yang berarti
bahwa setiap jenis ikan memiliki kadar enzim amilase yang berbeda pada setiap organ
pencernaannya.
JG.

Warna biru benedict merupakan karakteristik utama keberadaan atom

tembaga. Atom ini mudah bereaksi dengan oksigen dari disakarida atau gula sederhana
lain pada gugus aldehid atau keton membentuk tembaga (II) oksida.Dalam hal ini, atom
tembaga yang berada dalam bentuk ion Cu2+ akan membentuk ikatan ionik dengan
oksigen (Vogel, 1998). Pereaksi benedict mengandung kupri sulfat, natrium karbonat dan
natrium sitrat. Glukosa dapat mereduksi ion Cu2+dari kupri sulfat menjadi ion Cu+ yang
bereaksi dengan gula (pereduksi) akan menjadi Cu2O yang ditandai dengan endapan
merah bata. Pada praktikum ini tidak terjadi endapan merah bata, tapi hanya perubahan
warna. Namun, bila ragen Benedict direaksikan dengan gula bergugus keton, maka reaksi
yang terbentuk adalah perubahan warna dari biru menjadi orange atau kuning. Walaupun
hanya perubahan warna, tetapi telah menunjukkan adanya reaksi yang terjadi antara
amilum-ekstrak usus/ventrikel dan Benedict. Warna yang terbentuk merupakan pelepasan
ion Cu2+ oleh katalis. Amilum dalam larutan bereaksi dengan enzim amilase yang terdapat
dalam isolat enzim usus/ventrikel. Amilum dipecah oleh enzim menjadi senyawa yang
lebih sederhana. Hasil dari reaksi pemecahan tersebut bereaksi dengan reagen Benedict
dan menghasilkan perubahan warna. Tidak terbentuknya endapan berwarna merah bata
terjadi karena konsentrasi enzim yang kurang mencukupi untuk mengkatalis substrat
(amilum) sehingga kurang dihasilkan produk. Penyebab lain dapat disebabkan oleh
terlalu lamanya waktu pemanasan larutan sehingga enzim terdenaturasi.
JH.

Hidrolisis amilum merupakan proses pemecahan molekul amilum menjadi

bagian-bagian yang lebih sederhana seperti dekstrin, isomaltosa, dan glukosa. Komponen
penyusun amilum ada dua yakni amilosa dan amilopektin, kedua komponen ini dapat

dikatakan homogen secara kimia, tetapi masih heterogen dalam ukuran molekul, derajat
percabangan, rantai,susunan dan keacakan rantai cabang (Winarno,1992). Hidrolisis
amilosa oleh -amilase terjadi dalam dua tahap. Tahap pertama adalah degradasi menjadi
maltosa dan maltotriosa yang terjadi secara acak. Degradasi ini terjadi secara cepat
diikuti pula dengan menurunnya viskositas dengan cepat. Tahap kedua relatif lambat
dengan pembentukan glukosa dan maltosa sebagai hasil akhir. Sedangkan untuk
amilopektin, hidrolisis dengan -amilase menghasilkan glukosa, maltosa, dan berbagai
jenis -limit dekstrin yang merupakan oligosakarida yang terdiri dari 4 atau lebih residu
gula yang semuanya mengandung ikatan -1,6 glikosidik (Suhartono, 1989).
JI.

Sebelum makanan bereaksi dengan asam lambung, amilum akan diubah

menjadi disakarida. Di dalam lambung tidak ada enzim pemecah amilum, maka di
lambung tidak terjadi pemecahan amilum. Di dalam usus disekresikan enzim pemecah
amilum. Pankreatik amilase mememecah amilum menjadi disakarida. Pankreas
menghasilkan beberapa enzim hidrolitik dan larutan alkali yang kaya akan bikarbonat.
Bikarbonat itu bekerja sebagai dapar (buffer) yang menetralisir pencernaan kim dari
lambung. Amilase pankreas menghidrolisis amilum, glikogen dan polisakarida yang lebih
kecil menjadi disakarida, termasuk maltosa (Campbell et al., 2002).
b. Pembahasan aktivitas uji enzim maltase
JJ.

Pada aktivitas uji enzim maltase pada ikan mujair, lele, dan tombro

terbukti bahwa lama penyimpanan isolat enzim berpengaruh terhadap aktivitas enzim
pencernaan. Pada ikan mujair, lele dan tombro, isolat enzim bekerja optimal pada lama
penyimpanan 4 hari, kemudian mengalami penurunan hasil yang signifikan pada hari ke
7 karena banyak molekul-molekul enzim yang mulai rusak. Pada isolat enzim usus ikan
mujair pada hari ke 4 terjadi perubahan warna menjadi merah bata hal ini menunjukkan
bahwa enzim maltase yang berada di usus halus bereaksi secara optimal dengan reagen
benedict. Pereaksi benedict mengandung kupri sulfat, natrium karbonat dan natrium
sitrat. Glukosa dapat mereduksi ion Cu 2+dari kupri sulfat menjadi ion Cu+ yang bereaksi
dengan gula (pereduksi) akan menjadi Cu2O yang ditandai dengan endapan merah bata.
JK.

Pada semua jenis ikan yang diujikan (mujair, lele, dan tombro) seharusnya

menunjukkan bahwa pada hari ke 7 penyimpanan terjadi penurunan aktivitas enzim


maltase, yang ditandai dengan berkurangnya nilai perubahan warna yang terjadi, namun

ada sedikit perbedaan, hasil pada isolat enzim usus halus pada ikan lele justru terjadi
kenaikan pada penyimpanan hari ke 7, yakni yang semula kuning 2 menjadi kuning 4.
Hal ini menunjukkan bahwa enzim maltase yang terdapat pada usus halus ikan lele lebih
optimal pada penyimpanan hari ke 7 dibandingkan hari ke 4. Ringkasan reaksi yang
terjadi pada proses uji aktivitas enzim amilase sebagai berikut :
JL.

Maltase + Maltosa

2 gugus glukosa + Maltase

JM.
c. Pembahasan aktivitas uji enzim tripsin
JN.

Pada aktivitas uji enzim tripsin yang menggunakan putih telur sebagai zat

penguji pada ikan mujair, lele, dan tombro terbukti bahwa lama penyimpanan isolat
enzim berpengaruh terhadap aktivitas enzim pencernaan. Pada ikan mujair, lele dan
tombro, isolat enzim bekerja optimal pada lama penyimpanan 4 hari, kemudian
mengalami penurunan hasil pada hari ke 7 karena banyak molekul-molekul enzim yang
mulai rusak.
JO.

Warna ungu pada tabung reaksi timbul karena reagen Biuret bereaksi

dengan gugus amin yang terdapat pada asam amino. Biuret merupakan reagen yang
bersifat basa, sehingga gugus amin dariasam amino bertindak sebagai asam Dengan
membentuk NH4+. Reaksi tersebut menghasilkan senyawa basa NH 4OH yang
menyebabkan larutan berwarna ungu.
JP.

Enzim tripsin adalah enzim yang dihasilkan oleh pankreas yang dapat

memecah polipeptida menjadi asam-asam amino penyusunnya. Keberadaan enzim ini


diindikasikan dengan pembentukan warna ungu dari reagen biuret yang ditambahkan.
JQ.

Hidrolisis protein adalah proses pecahnya ikatan peptida menjadi molekul

yang lebih sederhana. Hidrolisis ikatan peptida akan menyebabkan beberapa perubahan
pada protein, yaitu meningkatkan kelarutan karena bertambahnya kandungan NH3+ dan
COO- dan berkurangnya berat molekul protein/polipeptida, rusaknya protein globular.
JR.

Pada proses pencernaan protein di dalam tubuh dengan bantuan enzim

terjadi di beberapa bagian tubuh, seperti lambung dan usus halus. Enzim-enzim tersebut
bekerja secara spesifik dan ditempat tertentu. Kecuali peptidase usus, semua enzim
proteolitik diaktifkan dengan mengubah prekursor yang merupakan protein lebih besar
dan tidak aktif yang dinamakan zimogen. Pelepasan pepsinogen bersamaan dengan HCl

kemudian memungkinkan aktivasi pepsinogen menjadi pepsin. Getah pankreas


mengandung

zimogen

kimotripsinogen,

tripsinogen,

proelastase

dan

prokarboksipeptidase (Montgomery et al., 1993). Enzim protease merupakan enzim yang


berfungsi untuk menghidrolisis protein menjadi asam amino.
JS.

Enzim pepsin terdapat di lambung, bekerja pada spesifikasi lebar protein.

Tripsin, kimotripsin dan karboksipeptidase terdapat di usus. Enzim aminopeptidase


memiliki fungsi untuk menghidrolisis asam amino ujung-N, enzim ini terdapat pada
mukosa usus (Montgomery et al., 1993). Pemberian protein atau asam amino dalam
jumlah banyak dapat meningkatkan daya serap usus. Besarnya peningkatan aktivitas
enzim tersebut berbeda antara yang terjadi pada usus halus dengan di pankreas. Jumlah
enzim di dalam sel sangat bergantung pada kecepatan mensintesis dan mendegradasi
asam amino, karena pada dasarnya dalam semua bentuk kehidupan, enzim disintesis dari
asam amino dan didegradasi menjadi asam amino (Nadeak, 1992)
JT.

Pada setiap jenis ikan terjadi perbedaan aktivitas enzim baik amilase,

maltase, maupun tripsin. Hal tersebut dapat diketahui dengan adanya perbedaan warna
yang terjadi setelah uji enzim, perbedaan tersebut karena berbedanya jenis ikan yaitu ikan
lele (omnivora) dan ikan mujair dengan tombro (herbivora). Perbedaan tersebut
menyebabkan perbedaan fungsi enzim dalam aktivitas di dalam usus.
d. Pembahasan uji fungsi empedu terhadap lemak
JU.

Pada praktikum uji fungsi empedu terhadap lemak ini dilakukan

pengocokan kuat selama 10 menit agar minyak goreng dan cairan empedu dapat
tercampur sempurna. Pada hasil praktikum menunjukkan bahwa pada ikan lele dan ikan
tombro terbentuk gumpalan, sedangkan pada ikan mujair tidak. Hal ini dapat disebabkan
karena pada saat praktikum ikan mujair yang digunakan terlalu kecil, sehingga ukuran
empedunya semakin kecil dan pengambilan empedu menjadi sulit karena rawan pecah,
apabila empedu pecah maka cairan empedu yang digunakan untuk reaksi semakin sedikit
sehingga tidak menunjukkan hasil yang sesuai dan optimal.
JV.

Emulsi adalah keadaan dimana fase terdispersinya adalah padatan dan

fase pendispersinya adalah cair. Cairan empedu yang disebut bilus atau bila yang
merupakan emulsifier lemak yang mampu memecah lemak menjadi tetes-tetes minyak
yang dapat bercampur dengan air

JW.

Lemak dapat dicerna di dalam tubuh karena adanya garam-garam empedu

yang menjadikan lemak larut dalam air. Makanan dari kelompok lemak akan
diemulsifikasi oleh cairan empedu menjadi butiran-butiran lemak (droplet lemak). Baru
setelah itu droplet lemak diuraikan oleh enzim lipase menjadi asam lemak dan gliserol.
Selain itu garam empedu juga membantu absorbsi zat terlarut lemak dengan cara
memfasilitasi jalurnya menembus membran sel.
JX.

Enizim pencerna lemak dihasilkan oleh pankreas eksokrin dan disekresi ke

dalam duodenum (Montgomery et al., 1993). Lemak (trigliserida) dapat dihidrolisis oleh
enzim lipase yang dihasilkan oleh pankreas (steapsin) menjadi gliserol dan asam-asam
lemak. Hidrolisa dapat berlangsung pada pH 7,5-8,5 dan suhu antara 36-40 C.
Pencernaan lemak terjadi apabila lemak dihidrolisis menjadi asam lemak dan gliserol,
semakin banyak asam lemak yang dibebaskan, maka semakin banyak larutan NaOH yang
dibutuhkan untuk menetralisir kadar asam lambung.
JY.

Lipase pankreas mengkatalisis sebagian hidrolisis trigliserid yang

mengandung asam lemak berantai panjang. Lipase bekerja pada persinggungan


perhubungan natara air dan molekul trigliserid, dan absorpsi interfasial enzim merupakan
langkah penting dalam proses katalisis. Enzim esterase kolesterol menghidrolisis ester
kolesterol. Enzim fosfolipase A2 mencerna fosfogliserid dalam makanan (Montgomery et
al., 1993).
JZ.

Pencernaan senyawa-senyawa triasilgliserol dimulai di dalam usus halus,

kedalam organ inilah zimogen prolipase dikeluarkan oleh pankreas, di dalam usus halus
tersebut, zimogen kemudian diubah menjadi lipase yang aktif, yang dengan adanya
garam-garam empedu dan protein khusus yang disebut kolipase mengikat tetesan-tetesan
senyawa triasil gliserol dan mengkatalisis pemindahan hidrolitik satu atau dua residu
asam lemak bagian luar sehingga dihasilkan suatu campuran asam-asam lemak bebas
(sebagai senyawa sabun dengan Na+ atau K+) dan senyawa 2-monoasilgliserol. Sebagian
kecil dari senyawa triasil gliserol masih ada yang tetap tidak dihirolsis. Senyawa sabun
asam lemak dan senyawa asil gliserol yang tidak terpecahkan diemulsifikasi menjadi
bentuk butir-butir halus oleh peristaltik, yaitu suatu gerakkan mengaduk pada usus,
dibantu oleh garam-garam empedu dan monoasil gliserol, yang merupakan molekulmolekul amfipatik dan memberikan efek detergen (Lehninger, 1995).

KA.
KB.

Simpulan
KC. Setelah melakukan praktikum analisis enzim pencernaan pada usus dan ventrikel

beberapa ikan, dapat diperoleh beberapa kesimpulan diantaranya :


1. Enzim-enzim pencernaan pada ikan diantaranya adalah enzim amilase, enzim maltase,
enzim tripsin, dan enzim lipase. Selain itu juga ada garam empedu yang dihasilkan oleh
kantung empedu yang membantu mengemulsikan lemak pada proses pencernaan lemak.
2. Bagian saluran pencernaan pada ikan yang paling banyak terdapat enzim adalah bagian
ventrikel dan usus halus.
3. Lama waktu penyimpanan isolat enzim berpengaruh terhadap aktivitas enzim. Ada enzim
yang optimal pada penyimpanan 4 hari, dan ada enzim yang optimal pada pada
penyimpanan 7 hari, hal ini tergantung pada jenis ikan dan jenis enzim.
KD.
KE.
KF.

Daftar pustaka.
Adhi, I.K.D. 2008.

Sistem

Pencernaan

pada

Hewan.

http://gurungeblog.

wordpress.com/2008/11/23/sistem-pencernaan-pada-hewan/
KG. Affandi, R., Sjafei, D.S., Rahardjo, M.F. dan Sulistiono. 2004. Fisiologi
Ikan, Pencernaan dan Penyerapan Makanan. Departemen Manajemen
Sumberdaya Perairan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut
Pertanian Bogor. Bogor. 215 hal
KH. Campbell, N. A, Reece, T. B, Mitchell, L. G. 2002. Biologi. Jilid II Edisi
KI.

Kelima. Jakarta: Erlangga.


Eafrianto.
2009.
Probiotik

Pada

Ikan.

http://eafrianto.wordpress.com/

2009/11/29/probiotik-pada-ikan/.
KJ.

Guyton & Hall, Artur C.,M.D. & John E.,Ph.D.1997. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran,

edisi 9. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran


KK.
Lehninger.A.L, 1995. Dasar-Dasar Biokimia. Jakarta : Erlangga
KL. Montgomery, R., R. L. Dryer, T. W. Conway dan A. A. Spector. 1993. Biokimia.
Yogyakarta : Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
KM. Nadeak, M. R. 1992. Studi Isolat Actinomycetes Penghasil Protease dari Sponge Di
Perairan Lelanga Teluk Lampung. Skripsi. Unila. Bandar Lampung.
KN.

Suhartono. 1989. Enzim dan Bioteknologi. Bogor :Institut Pertanian Bogor

KO.

Watson, Roger. 2002. Anatomi dan Fisiologi untuk Perawat. Jakarta : Penerbit Buku
Kedokteran EGC

KP.
KQ.

Winarno. 1992. Biofermentase dan Biosintesa Protein. Bandung : PT. Angkasa

KR.

Lampiran

KS.
KT.
KU.
KV.
KW.
KX.
KY.
KZ.
Gambar 1 : Ikan
Lele
ditimbang
terlebih dahulu

LA.

Gambar 2 : Ikan Lele


yang di bedah untuk
mengambil empedu dan
ususnya.

Gambar 3 : berat
usus yang ditimbang
2,43 gram.

LB.
LC.
LD.
LE.
LF.
LG.
LH.
LI.

Gambar 4 : Berat
ventrikel
yang
ditimbang 1,44 gram.

Gambar 5 : Usus
LJ.
beserta ventrikel.

LK.

Gambar 6 : Empedu
dimasukkan ke tabung
reaksi.

LL.
LM.
LN.
LO.
LP.
LQ.

Gambar 9 : Hasil Uji


Amilase Ikan lele

LR.
Gambar 7 :
Perbandingan
empedu dengan

Gambar 8 :
LS.
Ventrikel dan usus
yang dihaluskan

LT.

LU.
LV.
LW.
LX.
LY.
Gambar 10 : Hasil Uji
LZ.
ventrikel dan Usus setelah
ditaruh di lemari es berhari-

MA.
MB.
MC.
MD.
ME.
MF.

MG.
MH.
MI.
MJ.
MK.
ML.
MM.
MN.
MO.
MP.
MQ.

MR.
MS.

MT.
MU.
MV.
MW.
MX.
MY.
MZ.
NA.
NB.
NC.
ND.
NE.