Anda di halaman 1dari 57

CDK

165 / vol. 35 no. 6


September - Oktober 2008

Cermin Dunia Kedokteran


ISSN: 0125-913 X
http://www.kalbe.co.id/cdk

Artikel :
321 Pendekatan Evidence-Based Medicine pada
Manajemen Stroke Perdarahan Intraserebral
Ismail Setyopranoto

328 Analisis Situasi Pengendalian Tekanan Darah


untuk Prevensi Stroke Sekunder
Rizaldy Pinzon

331 Obstructive Sleep Apnea


Andreas Prasadja, RPSGT, Maula N. Gaharu

334 Efek Coriandri fructus terhadap Distribusi Tidur Rapid Eye


Movement (REM) dibandingkan dengan Lorazepam
Lili Indrawati

337 Penatalaksanaan Rehabilitasi Neurogenic Bladder


Syarief Hasan Lutfie

Berita Terkini :
352 Latihan fisik dapat mempercepat penyembuhan luka
353 Astaxanthin, antioksidan dari golongan karotenoid
355 Homosistein ada hubungannya dengan penyakit jiwa
356 Hubungan antara selektivitas AINS dengan risiko stroke
359 Hubungan antara efek antikolinergik dan fungsi kognitif
360 Piracetam untuk pasca operasi
Petunjuk untuk Penulis
CDK menerima naskah yang membahas berbagai aspek
kesehatan, kedokteran dan farmasi, bisa berupa tinjauan
daftar isi
kepustakaan ataupun hasil penelitian di bidang-bidang tersebut,
termasuk laporan kasus. Naskah yang dikirimkan kepada
content
Redaksi adalah naskah yang khusus untuk diterbitkan oleh
CDK; bila pernah dibahas atau dibacakan dalam suatu Editorial 318
pertemuan ilmiah, hendaknya diberi keterangan mengenai
nama, tempat dan saat berlangsungnya pertemuan tersebut. English Summary 320

Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia atau Inggris; bila


menggunakan bahasa Indonesia, hendaknya mengikuti Artikel
kaidah-kaidah bahasa Indonesia yang berlaku. Istilah medis Pendekatan Evidence-Based Medicine pada 321
sedapat mungkin menggunakan istilah bahasa Indonesia yang Manajemen Stroke Perdarahan Intraserebral
baku, atau diberi padanannya dalam bahasa Indonesia. Ismail Setyopranoto

Redaksi berhak mengubah susunan bahasa tanpa mengubah Analisis Situasi Pengendalian Tekanan Darah 328
isinya. Setiap naskah harus disertai dengan abstrak dalam untuk Prevensi Stroke Sekunder
bahasa Indonesia dan Inggris. Bila tidak ada, Redaksi berhak Rizaldy Pinzon
membuat sendiri abstrak berbahasa Inggris untuk karangan
tersebut. Naskah berisi 2000 - 3000 kata ditulis dengan Obstructive Sleep Apnea 331
program pengolah kata seperti MS Word, spasi ganda, font Andreas Prasadja, RPSGT, Maula N. Gaharu
Euro-stile atau Times New Roman 10 pt.
Efek Coriandri fructus terhadap Distribusi Tidur Rapid 334
Nama (para) pengarang ditulis lengkap, disertai keterangan Eye Movement (REM) dibandingkan dengan Lorazepam
lembaga/fakultas/institut tempat bekerjanya. Tabel / skema / Lili Indrawati
grafik / ilustrasi yang melengkapi naskah dibuat sejelas- jelasnya
dan telah dimasukkan dalam program MS Word. Penatalaksanaan Rehabilitasi Neurogenic Bladder 337
Syarief Hasan Lutfie
Kepustakaan diberi nomor urut sesuai dengan pemunculannya
dalam naskah; disusun menurut ketentuan dalam Cummulated Kultur Embryonic Stem Cell menjadi 342
Index Medicus dan/atau Uniform Requirement for Manus- Sel Neuron dengan Medium Bebas Serum
cripts Submitted to Biomedical Journals (Ann Intern Med 1979; Riris L. Puspitasari, Caroline T. Sardjono, Boenjamin Setiawan, Ferry Sandra
90 : 95-9).
Awake Craniotomy, Alternatif bagi Tumor Intra-aksial 345
Contoh : Eka J. Wahyoepramono
1. Basmajian JV, Kirby RL.Medical Rehabilitation.
1st ed. Baltimore, London: William and Wilkins, Aktivasi Komplemen pada Jejas Mekanis 347
1984; Hal 174-9. Pengobatan Tradisional Kerokan
2. Weinstein L, Swartz MN. Pathogenetic properties Didik Tamtomo
of invading microorganisms. Dalam: Sodeman
WA Jr. Sodeman WA, eds. Pathologic physiology:
Mechanism of diseases. Philadelphia: Berita Terkini
WB Saunders, 1974 ; 457-72.
3. Sri Oemijati. Masalah dalam pemberantasan filariasis
Latihan fisik dapat mempercepat penyembuhan luka 352
di Indonesia. Cermin Dunia Kedokt. 1990; 64: 7-10. Astaxanthin, antioksidan dari golongan karotenoid 353
Homosistein ada hubungannya dengan penyakit jiwa 355
Jika pengarang enam orang atau kurang, sebutkan semua;
bila tujuh atau lebih, sebutkan hanya tiga yang pertama dan Hubungan antara selektivitas AINS dengan risiko stroke 356
tambahkan dkk.
Hubungan antara efek antikolinergik dan fungsi kognitif 359
Naskah dikirim ke redaksi dalam bentuk softcopy / CD atau Piracetam untuk pasca operasi 360
melalui e-mail ke alamat :
Simvastatin sebagai neuroprotektor 361
Redaksi CDK Lemak alami bentuk trans punya manfaat kesehatan 362
Jl. Letjen Suprapto Kav. 4
Cempaka Putih, Jakarta 10510 Polusi ozon di udara dan kematian prematur 363
E-mail: cdk.redaksi@yahoo.co.id
Lercanidipine plus Enalapril 364
Tlp: (021) 4208171. Fax: (021) 42873685
Coenzyme Q10 untuk Parkinson 365
Korespondensi selanjutnya akan dilakukan melalui e mail; oleh Citicoline untuk pasien pecandu kokain 366
karena itu untuk keperluan tersebut tentukan contact person
lengkap dengan alamat e-mailnya. Praktis 368
Info Produk 370
Laporan Khusus 372
Kegiatan Ilmiah 376
Gerai 378
Korespondensi 380
Agenda 382
Tulisan dalam majalah ini merupakan pandangan/pendapat RPPK 384
masing-masing penulis dan tidak selalu merupakan pandangan
atau kebijakan instansi/lembaga tempat kerja si penulis.

CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008


317
redaksi kehormatan
CDK
Cermin Dunia Kedokteran
Prof. Drg. Siti Wuryan A Prayitno, SKM, MScD, PhD
Bagian Periodontologi, Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, Jakarta

Prof. Dr. Abdul Muthalib, SpPD KHOM


Divisi Hematologi Onkologi Medik
Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/
RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta
ISSN: 0125-913 X
http://www.kalbe.co.id/cdk Prof. Dr. Djoko Widodo, SpPD-KPTI
Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonsia/
RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta
Alamat Redaksi
Prof. DR. Dr. Charles Surjadi, MPH
Gedung KALBE Pusat Penelitian Kesehatan Unika Atma Jaya Jakarta
Jl. Letjen. Suprapto Kav. 4
Prof. DR. Dr. H. Azis Rani, SpPD, KGEH
Cempaka Putih, Jakarta 10510 Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/
Tlp: 021-4208171 RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta
Fax: 021-4287 3685 Prof. DR. Dr. Sidartawan Soegondo, SpPD, KEMD, FACE
E-mail: cdk.redaksi@yahoo.co.id Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/
RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta
Web: http://www.kalbe.co.id/cdk
Milis: http://groups.yahoo.com/group/milisCDK DR. Dr. Abidin Widjanarko, SpPD-KHOM
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/RS Kanker Dharmais, Jakarta

Nomor Ijin DR. Dr. med. Abraham Simatupang, MKes


Bagian Farmakologi, Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia, Jakarta
151/SK/DITJEN PPG/STT/1976 Tanggal 3 Juli 1976
Prof. Dr. Sarah S. Waraouw, SpA(K)
Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi, Manado
Penerbit Kalbe Farma
Pencetak PT. Temprint Prof. DR. Dr. Rully M.A. Roesli, SpPD-KGH
Bagian Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran/
RSUP Dr. Hasan Sadikin, Bandung

Dr. Aucky Hinting, PhD, SpAnd


Bagian Biomedik Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya

Prof. DR. drg. Hendro Kusnoto, SpOrt.


Laboratorium Ortodonti Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Trisakti, Jakarta

editorial DR. Dr. Yoga Yuniadi, SpJP


Sub Dept. Kardiologi, Dept. Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia/RSP Jantung Nasional Harapan Kita, Jakarta

Setiap dokter pasti pernah menghadapi masalah penanganan stroke - baik saat akut di rumah- Prof. DR. Dra. Arini Setiawati
Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta
sakit maupun saat datang kontrol ke praktek pribadi; mudah-mudahan bukan merupakan
Prof. Dr. Faisal Yunus, PhD, SpP(K)
pengalaman di kalangan keluarga sendiri. Hal ini tidaklah mengherankan mengingat stroke Departemen Pulmonologi & Ilmu Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia/SMF Paru RS Persahabatan, Jakarta
atau gangguan peredaran darah otak saat ini merupakan penyebab kematian ke tiga dan
penyebab kecacatan yang utama di dunia, mungkin juga di Indonesia - ‘bersaing’ dengan susunan redaksi Prof. DR. Dr. Rianto Setiabudy, SpFK
Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta

kanker dan penyakit jantung. Penanganan stroke telah mendapat kemajuan berarti di bidang Dr. R.M. Nugroho Abikusno, MSc., DrPH
Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti, Jakarta
diagnostik dengan adanya CT scan dan MRI; sedangkan di bidang pengobatan, masalah Ketua Pengarah
Prof. DR. Dr. Wimpie Pangkahila, SpAnd, FAACS
utamanya ialah lambatnya pasien datang ke pelayanan kesehatan. Keberhasilan terapi sangat Dr. Boenjamin Setiawan, PhD Fakultas KedokteranUniversitas Udayana Denpasar, Bali
dipengaruhi oleh cepatnya diagnosis ditegakkan dan saat mulainya penanganan; baik itu Pemimpin Umum Prof. DR. Dr. Ignatius Riwanto, SpB(K)
Dr. Erik Tapan Bagian Bedah Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro/
untuk jenis non hemoragik maupun jenis hemoragik. RS Dr. Kariadi, Semarang

Ketua Penyunting Dr. Tony Setiabudhi, SpKJ, , PhD


Dr. Budi Riyanto W. Universitas Trisakti/ Pusat Kajian Nasional Masalah Lanjut Usia, Jakarta
Masalah menarik lain yang merupakan topik bahasan kali ini adalah masalah Gangguan Tidur.
Prof. DR. Samsuridjal Djauzi, SpPD, KAI
Gangguan tidur yang selama ini hanya dianggap sebagai masalah ‘pribadi’ sudah saatnya Manajer Bisnis Sub Dept. Alergi-Imunologi, Dept. Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran
mendapat perhatian yang lebih baik karena ternyata dikaitkan dengan peningkatan risiko Nofa, S.Si, Apt. Universitas Indonesia/RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta

beberapa penyakit lain; di antaranya stroke. Dr. Prijo Sidipratomo, SpRad(K)


Dewan Redaksi Departemen Radiologi FKUI/RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta
Prof. Dr. Sjahbanar Soebianto Zahir, MSc. Prof. DR. Dr. Johan S. Masjhur, SpPD-KEMD, SpKN
Selamat membaca, Dr. Michael Buyung Nugroho Departemen Kedokteran Nuklir Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran/
Dr. Karta Sadana RSUP Dr. Hasan Sadikin, Bandung
Dr. Sujitno Fadli Dr. Hendro Susilo, SpS(K)
Redaksi Drs. Sie Djohan, Apt. Dept. Neurologi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga/RS Dr. Soetomo,
Surabaya
Ferry Sandra, Ph.D.
Budhi H. Simon, Ph.D. Prof. DR. Dr. Darwin Karyadi, SpGK
Institut Pertanian Bogor, Bogor, Jawa Barat
Tata Usaha Dr. Ike Sri Redjeki, SpAn KIC, M.Kes
Dodi Sumarna Bagian Anestesiologi & Reanimasi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran/
RSUP Dr. Hasan Sadikin, Bandung

CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008 CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008
318 319
redaksi kehormatan
CDK
Cermin Dunia Kedokteran
Prof. Drg. Siti Wuryan A Prayitno, SKM, MScD, PhD
Bagian Periodontologi, Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, Jakarta

Prof. Dr. Abdul Muthalib, SpPD KHOM


Divisi Hematologi Onkologi Medik
Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/
RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta
ISSN: 0125-913 X
http://www.kalbe.co.id/cdk Prof. Dr. Djoko Widodo, SpPD-KPTI
Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonsia/
RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta
Alamat Redaksi
Prof. DR. Dr. Charles Surjadi, MPH
Gedung KALBE Pusat Penelitian Kesehatan Unika Atma Jaya Jakarta
Jl. Letjen. Suprapto Kav. 4
Prof. DR. Dr. H. Azis Rani, SpPD, KGEH
Cempaka Putih, Jakarta 10510 Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/
Tlp: 021-4208171 RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta
Fax: 021-4287 3685 Prof. DR. Dr. Sidartawan Soegondo, SpPD, KEMD, FACE
E-mail: cdk.redaksi@yahoo.co.id Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/
RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta
Web: http://www.kalbe.co.id/cdk
Milis: http://groups.yahoo.com/group/milisCDK DR. Dr. Abidin Widjanarko, SpPD-KHOM
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/RS Kanker Dharmais, Jakarta

Nomor Ijin DR. Dr. med. Abraham Simatupang, MKes


Bagian Farmakologi, Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia, Jakarta
151/SK/DITJEN PPG/STT/1976 Tanggal 3 Juli 1976
Prof. Dr. Sarah S. Waraouw, SpA(K)
Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi, Manado
Penerbit Kalbe Farma
Pencetak PT. Temprint Prof. DR. Dr. Rully M.A. Roesli, SpPD-KGH
Bagian Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran/
RSUP Dr. Hasan Sadikin, Bandung

Dr. Aucky Hinting, PhD, SpAnd


Bagian Biomedik Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya

Prof. DR. drg. Hendro Kusnoto, SpOrt.


Laboratorium Ortodonti Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Trisakti, Jakarta

editorial DR. Dr. Yoga Yuniadi, SpJP


Sub Dept. Kardiologi, Dept. Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia/RSP Jantung Nasional Harapan Kita, Jakarta

Setiap dokter pasti pernah menghadapi masalah penanganan stroke - baik saat akut di rumah- Prof. DR. Dra. Arini Setiawati
Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta
sakit maupun saat datang kontrol ke praktek pribadi; mudah-mudahan bukan merupakan
Prof. Dr. Faisal Yunus, PhD, SpP(K)
pengalaman di kalangan keluarga sendiri. Hal ini tidaklah mengherankan mengingat stroke Departemen Pulmonologi & Ilmu Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia/SMF Paru RS Persahabatan, Jakarta
atau gangguan peredaran darah otak saat ini merupakan penyebab kematian ke tiga dan
penyebab kecacatan yang utama di dunia, mungkin juga di Indonesia - ‘bersaing’ dengan susunan redaksi Prof. DR. Dr. Rianto Setiabudy, SpFK
Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta

kanker dan penyakit jantung. Penanganan stroke telah mendapat kemajuan berarti di bidang Dr. R.M. Nugroho Abikusno, MSc., DrPH
Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti, Jakarta
diagnostik dengan adanya CT scan dan MRI; sedangkan di bidang pengobatan, masalah Ketua Pengarah
Prof. DR. Dr. Wimpie Pangkahila, SpAnd, FAACS
utamanya ialah lambatnya pasien datang ke pelayanan kesehatan. Keberhasilan terapi sangat Dr. Boenjamin Setiawan, PhD Fakultas KedokteranUniversitas Udayana Denpasar, Bali
dipengaruhi oleh cepatnya diagnosis ditegakkan dan saat mulainya penanganan; baik itu Pemimpin Umum Prof. DR. Dr. Ignatius Riwanto, SpB(K)
Dr. Erik Tapan Bagian Bedah Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro/
untuk jenis non hemoragik maupun jenis hemoragik. RS Dr. Kariadi, Semarang

Ketua Penyunting Dr. Tony Setiabudhi, SpKJ, , PhD


Dr. Budi Riyanto W. Universitas Trisakti/ Pusat Kajian Nasional Masalah Lanjut Usia, Jakarta
Masalah menarik lain yang merupakan topik bahasan kali ini adalah masalah Gangguan Tidur.
Prof. DR. Samsuridjal Djauzi, SpPD, KAI
Gangguan tidur yang selama ini hanya dianggap sebagai masalah ‘pribadi’ sudah saatnya Manajer Bisnis Sub Dept. Alergi-Imunologi, Dept. Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran
mendapat perhatian yang lebih baik karena ternyata dikaitkan dengan peningkatan risiko Nofa, S.Si, Apt. Universitas Indonesia/RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta

beberapa penyakit lain; di antaranya stroke. Dr. Prijo Sidipratomo, SpRad(K)


Dewan Redaksi Departemen Radiologi FKUI/RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta
Prof. Dr. Sjahbanar Soebianto Zahir, MSc. Prof. DR. Dr. Johan S. Masjhur, SpPD-KEMD, SpKN
Selamat membaca, Dr. Michael Buyung Nugroho Departemen Kedokteran Nuklir Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran/
Dr. Karta Sadana RSUP Dr. Hasan Sadikin, Bandung
Dr. Sujitno Fadli Dr. Hendro Susilo, SpS(K)
Redaksi Drs. Sie Djohan, Apt. Dept. Neurologi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga/RS Dr. Soetomo,
Surabaya
Ferry Sandra, Ph.D.
Budhi H. Simon, Ph.D. Prof. DR. Dr. Darwin Karyadi, SpGK
Institut Pertanian Bogor, Bogor, Jawa Barat
Tata Usaha Dr. Ike Sri Redjeki, SpAn KIC, M.Kes
Dodi Sumarna Bagian Anestesiologi & Reanimasi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran/
RSUP Dr. Hasan Sadikin, Bandung

CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008 CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008
318 319
ENGLISH SUMMARY TINJAUAN PUSTAKA

anesthesia because of intractable general


Management of
Stroke Intracerebral
seizure, all mapping were negative, and
no morbidity after surgery.
Pendekatan Evidence-Based Medicine
Hemorrhage
Conclusion: Awake craniotomy is a safe
procedure for intra-axial brain tumor. pada Manajemen Stroke Perdarahan
Ismail Setyopranoto
Dept. of Neurology, Gadjah Mada University,
Key words: Awake craniotomy. Intra-axial
tumor. Supratentorial. Eloquent area. Safe
Intraserebral
Yogyakarta, Indonesia
procedure. Ismail Setyopranoto
Abstract Cermin Dunia Kedokt. 2008; 35(6): 345-346 Bagian Neurologi Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia
Intracerebral hemorrhage (ICH) is a com-
mon cause of stroke, accounting for bet-
ween 5 and 10% of all strokes. Currently,
Complement activation PENDAHULUAN Kurang lebih 80% pasien perdarahan intraserebral mempunyai
intracerebral hemorrhage (ICH) has the in mechanical skin Gambaran klasik stroke perdarahan intraserebral adalah faktor risiko hipertensi(3). Pemeriksaan CT Scan otak/kepala
munculnya (onset) secara tiba-tiba defisit neurologik yang
highest mortality rate among all stroke
subtypes. Hematoma growth is a main Local data was used to describe the mag-
injury in kerokan merupakan gold standard untuk membedakan apakah stroke
progresif dari beberapa menit sampai beberapa jam yang perdarahan intraserebral atau stroke infark(4). Pada orang tua
cause of early neurological deterioration. nitude of the problem. Hypertension was therapy. disertai dengan nyeri kepala yang hebat, mual, muntah, penu- perdarahan sering terjadi akibat angiopati amiloid(1).
Primary ICH develops in the absence of observed in at least 50% of stroke sur- runan kesadaran dan peningkatan tekanan darah (1).
Didik Tamtomo
any underlying vascular malformation or vivors. There is some evidence that specific Anatomy Laboratory, Faculty of Medicine,
coagulopathy; and more common than classes of antihypertensive drugs have Stroke perdarahan intraserebral menyebabkan kerusakan
Sebelas Maret University, Solo, Indonesia Tabel 1. Penyebab Stroke Perdarahan Intraserebral (2)
secondary intracerebral hemorrhage. different effects and/or their pharmacolo- melalui dua cara yaitu; (1) Kerusakan otak yang terjadi pada
1. Primer
Hypertensive arteriosclerosis and cere- gical actions differ in patient sub-groups. Background: Javanese people have saat perdarahan, terutama pada kasus dengan perdarahan
1.1. Hipertensi
bral amyloid angiopathy are responsible This review also evaluates the cost of anti- traditional therapy called kerokan.This 1.2. Amyloid Angiopathy yang meluas ke medial dan talamus serta ganglia basalis, dan
for 80% of primary hemorrhages. hypertensive drugs in secondary stroke therapy is applied by rubbing a blunt (2) Hematoma yang membelah korona radiata menyebabkan
2. Sekunder
prevention. object repeatedly on the skin of back, 2.1. Aneurisma penekanan serta gangguan fungsi neurologis yang mungkin
Initial management should first be direc- neck, and chest lubricated with oil. This 2.1.1. Saccular reversibel(5,6).
ted toward the basics of airway, breathing, Key words: hypertension - stroke - action injured skin and caused inflam- 2.1.2. Fusiform
circulation, and detection of focal neuo- secondary prevention mation. Complement is major chemical 2.1.3. Mycotic
logical deficits. Particular attention should Cermin Dunia Kedokt. 2008; 35(6): 328-330 2.2. Malformasi Vaskuler Prognosis stroke perdarahan intraserebral tergantung pada
mediator in inflammation reaction. There
be given to detecting signs of external are two complement activation pathways, 2.2.1. Malformasi arteri-venosa kondisi klinis saat masuk, lokasi perdarahan serta volume
trauma. A complete examination should 2.2.2. Malformasi kavernosus perdarahan; volume perdarahan lebih dari 50 ml mempunyai
classic pathway is C1q binding with anti-
also include looking for complications such Awake Craniotomy, body and alternative pathway is C3 binding
2.2.3. Angioma venosa
2.2.4. Fistula Arteriovenosa dural
prognosis lebih buruk(7).
as pressure sores, compartment syn-
dromes, and rhabdomyolysis in patients
Alternative for Intraaxial with polysaccharide bacteria. The aim of 2.3. Neoplasma
this research is to determine complement 2.3.1. Primer Pada pasien perdarahan intraserebral yang terlihat dari peme-
with a prolonged depressed level of cons- Tumor Surgery activation pathway in mechanical skin injury 2.3.2. Metastatik
ciousness. riksaan CT Scan kepala, terdapat berbagai permasalahan.
in kerokan therapy; the special aim is to 2.4. Koagulopati
Cermin Dunia Kedokt, 2008; 35(6): 321-327 Eka J. Wahyoepramono Salah satu masalah yang timbul sebelum melakukan penata-
Department of Neurosurgery Medical measure C1 q and C3 level. 2.4.1. Didapat
Faculty of Universitas Pelita Harapan, 2.4.1.1. Antikoagulan (Coumadin, Heparin) laksanaan adalah sangat sedikitnya pengetahuan para klinisi
Siloam Hospital, Lippo Karawaci, Indonesia Method: This is an experimental research 2.4.1.2. Trombolitik (tPA, Urokinase) terhadap mekanisme dan perjalanan penyakit saat pasien
Situation Analysis with randomized pre test-post test control 2.4.1.3. Diskrasia darah (DIC, Leukemia, Trombositopenia)
datang, apakah sudah mulai terjadi perburukan atau timbul
on Blood Pressure Abstract group design. The research was done at 2.4.1.4. Gagal hepar
komplikasi yang tidak terkendali. Masalah lain adalah tindakan
2.4.1.5. Disfungsi Platelet (gagal ginjal, karena pengobatan)
Management in Awake craniotomy has been reserved for Padma Clinic, Solo. Samples consists of
38 patients and were divided into two 2.4.2. Kongenital yang harus pertama kali diberikan kepada pasien stroke perda-
Secondary Stroke epilepsy surgery and for removal of mass
lesions from areas of eloquent cortex. groups: 19 patients were in the treatment 2.4.2.1. Hemofilia rahan intraserebral.
Prevention This procedure is safe, quite easy, com- group and the rest (19 patients) were in
2.4.2.2. Gangguan Platelet
2.5. Obat-obatan terlarang atau konsumsi alkohol
fortable for patients, and more widely the control group. This research used 2.5.1. Simpatomimetik (Efedrin, Fenilpropanolamin, Pseudoefedrin) Tulisan ini bermaksud untuk menjelaskan mekanisme, etiologi
Rizaldy Pinzon Kolmogorov-Smirnov test, t parametric
Dept. of Neurology, Bethesda Hospital, applied; it has been used for any supra- 2.5.2. Kokain, Amfetamin, Ecstasy dan berbagai penanganan dalam rangka penatalaksanaan
tentorial intra-axial brain tumor. Recent test and Mann Whitney nonparametric 2.6. Hemorrhagic Ischemic Stroke
Yogyakarta, Indonesia menyeluruh terhadap pasien stroke perdarahan intraserebral
evidence showed that it can be applied test, at the significance level of 5%. 2.7. Trombosis Sinus Dural
berdasarkan evidence based medicine.
Abstract for out-patient surgery (one-day surgery), 2.8. Vaskulitis/Vaskulopati
Result: There is no significant difference 2.9. Penyakit Moya moya
High blood pressure (BP) is the most and proved that it is a safe procedure, on C1q and C3 level between treatment 2.10. Arterial Dissection ETIOLOGI
important modifiable risk factor for stroke more convenient and psychologically much group and control group. 2.11. Kehamilan Stroke perdarahan intraserebral disebabkan oleh perdarahan
and other vascular diseases. Evidence better for patient. So far, we have started 2.12. Eklampsia, Venous Sinus Thrombosis
from randomized controlled trials supports awake craniotomy for 3 cases with intra- Key words: Kerokan, complement acti- arterial langsung ke parenkim jaringan otak. Perdarahan intra-
2.13. Tidak diketahui
the use of antihypertensive drugs to lower axial tumor in our hospital. All patients vation, C1q, C3. serebral dapat juga disebabkan oleh aneurisma, malformasi arteri-
blood pressure for stroke prevention. fared well, one need conversion to general Cermin Dunia Kedokt. 2008; 35(6): 347-349 * DIC = disseminated intravascular coagulation. vena, malformasi kavernosa, amiloid serebral, atau tumor (6,8,9).

CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008 CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008
320 321
ENGLISH SUMMARY TINJAUAN PUSTAKA

anesthesia because of intractable general


Management of
Stroke Intracerebral
seizure, all mapping were negative, and
no morbidity after surgery.
Pendekatan Evidence-Based Medicine
Hemorrhage
Conclusion: Awake craniotomy is a safe
procedure for intra-axial brain tumor. pada Manajemen Stroke Perdarahan
Ismail Setyopranoto
Dept. of Neurology, Gadjah Mada University,
Key words: Awake craniotomy. Intra-axial
tumor. Supratentorial. Eloquent area. Safe
Intraserebral
Yogyakarta, Indonesia
procedure. Ismail Setyopranoto
Abstract Cermin Dunia Kedokt. 2008; 35(6): 345-346 Bagian Neurologi Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia
Intracerebral hemorrhage (ICH) is a com-
mon cause of stroke, accounting for bet-
ween 5 and 10% of all strokes. Currently,
Complement activation PENDAHULUAN Kurang lebih 80% pasien perdarahan intraserebral mempunyai
intracerebral hemorrhage (ICH) has the in mechanical skin Gambaran klasik stroke perdarahan intraserebral adalah faktor risiko hipertensi(3). Pemeriksaan CT Scan otak/kepala
munculnya (onset) secara tiba-tiba defisit neurologik yang
highest mortality rate among all stroke
subtypes. Hematoma growth is a main Local data was used to describe the mag-
injury in kerokan merupakan gold standard untuk membedakan apakah stroke
progresif dari beberapa menit sampai beberapa jam yang perdarahan intraserebral atau stroke infark(4). Pada orang tua
cause of early neurological deterioration. nitude of the problem. Hypertension was therapy. disertai dengan nyeri kepala yang hebat, mual, muntah, penu- perdarahan sering terjadi akibat angiopati amiloid(1).
Primary ICH develops in the absence of observed in at least 50% of stroke sur- runan kesadaran dan peningkatan tekanan darah (1).
Didik Tamtomo
any underlying vascular malformation or vivors. There is some evidence that specific Anatomy Laboratory, Faculty of Medicine,
coagulopathy; and more common than classes of antihypertensive drugs have Stroke perdarahan intraserebral menyebabkan kerusakan
Sebelas Maret University, Solo, Indonesia Tabel 1. Penyebab Stroke Perdarahan Intraserebral (2)
secondary intracerebral hemorrhage. different effects and/or their pharmacolo- melalui dua cara yaitu; (1) Kerusakan otak yang terjadi pada
1. Primer
Hypertensive arteriosclerosis and cere- gical actions differ in patient sub-groups. Background: Javanese people have saat perdarahan, terutama pada kasus dengan perdarahan
1.1. Hipertensi
bral amyloid angiopathy are responsible This review also evaluates the cost of anti- traditional therapy called kerokan.This 1.2. Amyloid Angiopathy yang meluas ke medial dan talamus serta ganglia basalis, dan
for 80% of primary hemorrhages. hypertensive drugs in secondary stroke therapy is applied by rubbing a blunt (2) Hematoma yang membelah korona radiata menyebabkan
2. Sekunder
prevention. object repeatedly on the skin of back, 2.1. Aneurisma penekanan serta gangguan fungsi neurologis yang mungkin
Initial management should first be direc- neck, and chest lubricated with oil. This 2.1.1. Saccular reversibel(5,6).
ted toward the basics of airway, breathing, Key words: hypertension - stroke - action injured skin and caused inflam- 2.1.2. Fusiform
circulation, and detection of focal neuo- secondary prevention mation. Complement is major chemical 2.1.3. Mycotic
logical deficits. Particular attention should Cermin Dunia Kedokt. 2008; 35(6): 328-330 2.2. Malformasi Vaskuler Prognosis stroke perdarahan intraserebral tergantung pada
mediator in inflammation reaction. There
be given to detecting signs of external are two complement activation pathways, 2.2.1. Malformasi arteri-venosa kondisi klinis saat masuk, lokasi perdarahan serta volume
trauma. A complete examination should 2.2.2. Malformasi kavernosus perdarahan; volume perdarahan lebih dari 50 ml mempunyai
classic pathway is C1q binding with anti-
also include looking for complications such Awake Craniotomy, body and alternative pathway is C3 binding
2.2.3. Angioma venosa
2.2.4. Fistula Arteriovenosa dural
prognosis lebih buruk(7).
as pressure sores, compartment syn-
dromes, and rhabdomyolysis in patients
Alternative for Intraaxial with polysaccharide bacteria. The aim of 2.3. Neoplasma
this research is to determine complement 2.3.1. Primer Pada pasien perdarahan intraserebral yang terlihat dari peme-
with a prolonged depressed level of cons- Tumor Surgery activation pathway in mechanical skin injury 2.3.2. Metastatik
ciousness. riksaan CT Scan kepala, terdapat berbagai permasalahan.
in kerokan therapy; the special aim is to 2.4. Koagulopati
Cermin Dunia Kedokt, 2008; 35(6): 321-327 Eka J. Wahyoepramono Salah satu masalah yang timbul sebelum melakukan penata-
Department of Neurosurgery Medical measure C1 q and C3 level. 2.4.1. Didapat
Faculty of Universitas Pelita Harapan, 2.4.1.1. Antikoagulan (Coumadin, Heparin) laksanaan adalah sangat sedikitnya pengetahuan para klinisi
Siloam Hospital, Lippo Karawaci, Indonesia Method: This is an experimental research 2.4.1.2. Trombolitik (tPA, Urokinase) terhadap mekanisme dan perjalanan penyakit saat pasien
Situation Analysis with randomized pre test-post test control 2.4.1.3. Diskrasia darah (DIC, Leukemia, Trombositopenia)
datang, apakah sudah mulai terjadi perburukan atau timbul
on Blood Pressure Abstract group design. The research was done at 2.4.1.4. Gagal hepar
komplikasi yang tidak terkendali. Masalah lain adalah tindakan
2.4.1.5. Disfungsi Platelet (gagal ginjal, karena pengobatan)
Management in Awake craniotomy has been reserved for Padma Clinic, Solo. Samples consists of
38 patients and were divided into two 2.4.2. Kongenital yang harus pertama kali diberikan kepada pasien stroke perda-
Secondary Stroke epilepsy surgery and for removal of mass
lesions from areas of eloquent cortex. groups: 19 patients were in the treatment 2.4.2.1. Hemofilia rahan intraserebral.
Prevention This procedure is safe, quite easy, com- group and the rest (19 patients) were in
2.4.2.2. Gangguan Platelet
2.5. Obat-obatan terlarang atau konsumsi alkohol
fortable for patients, and more widely the control group. This research used 2.5.1. Simpatomimetik (Efedrin, Fenilpropanolamin, Pseudoefedrin) Tulisan ini bermaksud untuk menjelaskan mekanisme, etiologi
Rizaldy Pinzon Kolmogorov-Smirnov test, t parametric
Dept. of Neurology, Bethesda Hospital, applied; it has been used for any supra- 2.5.2. Kokain, Amfetamin, Ecstasy dan berbagai penanganan dalam rangka penatalaksanaan
tentorial intra-axial brain tumor. Recent test and Mann Whitney nonparametric 2.6. Hemorrhagic Ischemic Stroke
Yogyakarta, Indonesia menyeluruh terhadap pasien stroke perdarahan intraserebral
evidence showed that it can be applied test, at the significance level of 5%. 2.7. Trombosis Sinus Dural
berdasarkan evidence based medicine.
Abstract for out-patient surgery (one-day surgery), 2.8. Vaskulitis/Vaskulopati
Result: There is no significant difference 2.9. Penyakit Moya moya
High blood pressure (BP) is the most and proved that it is a safe procedure, on C1q and C3 level between treatment 2.10. Arterial Dissection ETIOLOGI
important modifiable risk factor for stroke more convenient and psychologically much group and control group. 2.11. Kehamilan Stroke perdarahan intraserebral disebabkan oleh perdarahan
and other vascular diseases. Evidence better for patient. So far, we have started 2.12. Eklampsia, Venous Sinus Thrombosis
from randomized controlled trials supports awake craniotomy for 3 cases with intra- Key words: Kerokan, complement acti- arterial langsung ke parenkim jaringan otak. Perdarahan intra-
2.13. Tidak diketahui
the use of antihypertensive drugs to lower axial tumor in our hospital. All patients vation, C1q, C3. serebral dapat juga disebabkan oleh aneurisma, malformasi arteri-
blood pressure for stroke prevention. fared well, one need conversion to general Cermin Dunia Kedokt. 2008; 35(6): 347-349 * DIC = disseminated intravascular coagulation. vena, malformasi kavernosa, amiloid serebral, atau tumor (6,8,9).

CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008 CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008
320 321
TINJAUAN PUSTAKA TINJAUAN PUSTAKA

Etiologi stroke perdarahan intraserebral adalah sebagai berikut: PENATALAKSANAAN a) Manajemen hipertensi Algoritma pemberian antihipertensi pada pasien dengan stroke
1. Hipertensi Arterial Pendekatan manajemen stroke perdarahan intraserebral masih Tekanan darah optimal pada pasien stroke perdarahan intrase- perdarahan intraserebral yang sudah dimodifikasi (LoE V, grade C) :
Hipertensi merupakan penyebab terbanyak perdarahan intra- kontroversial antara non pembedahan dengan pembedahan(1). rebral bersifat individual dan berhubungan dengan apakah pasien
serebral yaitu antara 70-90%(8). Pada arteri tampak degenerasi Dibutuhkan penelitian yang lebih baik sebagai dasar penyusunan sebelumnya menderita hipertensi kronik, tekanan intrakranial, 1. Jika tekanan darah sistolik >230 mmHg atau diastolik >140
tunika media dinding arteri yang diinduksi oleh hipertensi, guideline terkini. Terdapat beberapa pendekatan terapi yang umur, etiologi perdarahan, dan jendela terapi. Secara umum di- mmHg dalam dua kali pemeriksaan selama selang waktu 5
nekrosis fibrinoid yang mengakibatkan kelemahan progresif bersifat emergensi. menit maka diberi terapi nitroprusid.
rekomendasikan agar tekanan darah yang meningkat diturunkan
dan/atau terbentuknya mikroaneurisma. Predileksi perubahan 2. Jika tekanan darah sistolik antara 180-230 mmHg dan diastolik
secara lebih progresif dengan terapi antihipertensi yang ber-
patologis tersebut di arteria subkortikal dan perforating kecil, 1) Penanganan Awal di Ruang Gawat Darurat antara 105-140 mmHg, atau MAP >130 mmHg dalam dua kali
efek cepat dibandingkan dengan pada stroke iskemik(12,16,17).
yang dapat menjelaskan lokasi anatomik perdarahan intrase- Berupa tindakan basic life support yang meliputi tindakan air- pemeriksaan selama selang waktu 20 menit, maka diberi terapi
Secara teoritis tekanan darah yang lebih rendah menurunkan
rebral yang spesifik. way, breathing, dan circulation, serta mengidentifikasi adanya labetalol intravena, esmolol, enalapril, atau diltiazem intravena,
risiko ruptur arteri kecil dan arteriola. Suatu penelitian observa-
defisit neurologik fokal. Pemeriksaan lengkap harus dilakukan lisinopril, atau verapamil.
sional prospektif tentang bertambahnya volume perdarahan
Penyebab utama perburukan pada penderita stroke perdarahan terutama pada pasien dengan penurunan kesadaran yang 3. Jika tekanan darah sistolik <180 mmHg dan diastolik <105
intraserebral adalah terjadinya edema serebri dan nekrosis akibat diduga akibat stroke perdarahan intraserebral. intraserebral memperlihatkan tidak ada hubungan antara tekanan
mmHg, pemberian obat antihipertensi harus ditunda. Pilihan
iskemi global jaringan otak dan terjadinya hidrosefalus(7). darah sebelum serangan stroke dengan bertambahnya volume
obat antihipertensi tergantung kondisi pasien, misalnya hindari
Airway dan oksigenasi : darah setelah serangan, tetapi berhubungan dengan saat pem-
pemberian labetalol pada pasien asma bronkial.
2. Aneurisma Intrakranial Walaupun tidak selalu perlu intubasi, persiapan airway dan berian antihipertensi(18). Sebaliknya pemberian antihipertensi
4. Jika monitor tekanan intrakranial tersedia, maka tekanan perfusi
Perdarahan intraserebral akibat ruptur aneurisma biasanya ventilasi yang adekuat sangat penting. Pada pasien stroke yang sangat cepat menurunkan tekanan darah dapat menurunkan
serebral harus dipertahankan pada >70 mmHg.
menuju ke ruang subarakhnoid; jarang ke ventrikel atau perdarahan intraserebral dengan kesadaran menurun atau perfusi serebral dan secara teoritis akan memperparah cedera
parenkim otak. Kurang lebih 16-23% perdarahan intrasere- tanda-tanda disfungsi batang otak harus segera dilakukan otak, terutama dalam keadaan tekanan intrakranial tinggi(1).
Penurunan Tekanan Darah :
bral disebabkan karena aneurisma pecah(8). tindakan airway. Intubasi harus dilakukan secara hati-hati dan
Pendekatan pertama pada pasien dengan penurunan tekanan
mengikuti prosedur yang berlaku jika didapatkan insufisiensi Untuk menengahi kedua teori tersebut, Broderick et al., (1999) darah adalah penambahan cairan, yaitu cairan salin isotonik
Mekanisme pembentukan aneurisma dan terjadinya perdara- respirasi/ventilasi yang menyebabkan hipoksi (pO2 < 60 mmHg merekomendasikan bahwa tekanan darah harus diturunkan jika atau koloid; dilakukan monitoring tekanan vena sentral atau
han pada aneurisma masih kontroversial. Lesi ini diperkirakan atau pCO2 >50 mmHg) atau secara nyata didapatkan risiko mean arterial blood pressure (MAP) >130 mmHg(1), walaupun tekanan arteri pulmonal. Jika setelah koreksi penambahan
akibat kelemahan kongenital tunika muskularis arteri serebral aspirasi dengan atau tanpa gangguan oksigenasi arterial. bukti klinik yang mendukungnya sangat lemah (level of evidence V, cairan, tekanan darah tetap tidak berubah, pemberian infus
yang menyebabkan tunika intima membonjol dan akhirnya Sebelum intubasi dilakukan preoksigenasi maksimal dan pem-
grade C recommendation). Pada pasien dengan peningkatan kontinu harus dilakukan terutama jika tekanan darah sistolik
merobek membrana elastik(6). berian obat-obatan misalnya atropin, thiopental, midazolam,
tekanan intrakranial yang terpantau dengan monitor tekanan <90 mmHg dengan penambahan:
propofol, dan suksinilkholin untuk menghindari terjadinya
intrakranial, tekanan perfusi serebral (MAP–ICP) harus dipertahan-
3. Angiopati Amiloid Serebral refleks aritmia dan/atau ketidakstabilan tekanan darah(11).
kan sebesar >70 mmHg (LoE V, grade C). Obat-obat antihiper- Fenilefrin 2–10 µg. kg-1. min-1
Penyebab tersering ketiga perdarahan intraserebral adalah
tensi yang direkomendasikan untuk terapi hipertensi pada stroke Dopamin 2–20 µg. kg-1. min-1
angiopati amiloid, yaitu sekitar 10% dari seluruh perdarahan Tingkat kesadaran dimonitor dengan Glasgow Coma Scale (GCS).
perdarahan intraserebral dapat dilihat pada tabel 2.
intraserebral spontan. Kelainan angiopati amiloid ini khas Pencegahan aspirasi harus selalu dilakukan dengan tuba Norepinefrin titrasi dari 0.05–0.2 µg. kg-1. min-1
yaitu terbentuknya deposit fibril amiloid pada tunika media endotrakheal, tuba nasogastrik atau orogastrik dan dipantau
dan tunika intima arteria kecil dan sedang. Perdarahan terjadi dengan manset tekanan (cuff pressure) setiap 6 jam. Tuba Nitroprusid secara umum sering digunakan untuk hipertensi
b) Manajemen Peningkatan Tekanan Intrakranial
akibat robeknya dinding pembuluh yang lemah atau mikro- endotrakheal dengan manset lunak umumnya dipakai kurang maligna, obat tersebut merupakan vasodilator; teoritis dapat
Peningkatan tekanan intrakranial merupakan penyebab utama
aneurisma(6,10). dari 2 minggu. Jika setelah 2 minggu penurunan kesadaran meningkatkan aliran darah otak sehingga dapat meningkatkan
tingginya mortalitas pada stroke perdarahan intraserebral,
masih berlanjut atau terjadi komplikasi pulmonal, maka harus tekanan intrakranial. Hal tersebut mungkin tidak menguntungkan,
sehingga pemantauan dan penanganan yang tepat terhadap
4. Malformasi Arteri-venosa (MAV) dilakukan trakheostomi elektif. Oksigen harus diberikan pada tetapi belum ada laporan penelitian yang mendukung teori tersebut.
peningkatan tekanan intrakranial dapat menurunkan mortalitas,
Menurut The Arteriovenous Malformation Study Group (1999), semua pasien perdarahan intraserebral dengan penurunan
berupa osmoterapi, hiperventilasi, dan pemberian barbiturat.
malformasi pembuluh darah intrakranial berdasarkan jenis kesadaran(12). Tabel 2. Manajemen Tekanan Darah pada Stroke Perdarahan Intraserebral
Peningkatan tekanan intrakranial terjadi jika tekanan intrakra-
kelainan patologisnya dibagi menjadi empat, yaitu; (1) Malfor- Jika pasien hipertensi:
masi arteria-venosa, (2) Telangiektasia kapiler, (3) Malformasi nial > 20 mmHg selama > 5 menit. Tekanan intrakranial hendaknya
2) Penanganan Medikamentosa
kavernosa, dan (4) Malformasi venosa. Ada beberapa penelitian pemberian medikamentosa pada Labetalol 5–100 mg/jam secara intermiten dengan bolus dosis 10–40 mg dipertahankan < 20 mmHg dan tekanan perfusi serebral >70
atau drip (2–8 mg/menit)
stroke perdarahan intraserebral, seperti penggunaan steroid mmHg(19). Pasien yang diduga mengalami peningkatan tekanan
Esmolol 500 µg/kg sebagai awal, dosis maintenan 50–200 µg. kg-1. min-1 intrakranial dan penurunan kesadaran harus diawasi dengan
Malformasi arteri-venosa merupakan penyebab terbanyak (6-13%) vs. plasebo(13), hemodilusi vs. terapi medis standar(14), dan
perdarahan intraserebral spontan. Kelainan ini merupakan gliserol vs. plasebo(15). Tidak satupun yang hasilnya bermakna Nitroprusid 0.5–10 µg. kg-1. min-1 alat monitor (invasive ICP monitoring); dilakukan jika nilai GCS
suatu kelainan kongenital yang terjadi pada minggu ke-4 secara statistik. Bahkan pasien yang mendapatkan terapi Hidralazin 10–20 mg diberikan 4–6 jam < 9 (LoE V, grade C). Monitoring nilai GCS juga harus dilakukan.
hingga ke-8 kehidupan embrional, menyebabkan hubungan steroid lebih banyak mengalami komplikasi infeksi dibanding- Enalapril 0.625–1.2 mg diberikan tiap 6 jam jika diperlukan. Pemeriksaan CT Scan kepala juga harus dilakukan untuk me-
persisten antara sistema arterial dan vena. kan pasien dengan plasebo(13). lihat adanya efek massa dan hidrosefalus akibat perdarahan.

CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008 CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008
322 323
TINJAUAN PUSTAKA TINJAUAN PUSTAKA

Etiologi stroke perdarahan intraserebral adalah sebagai berikut: PENATALAKSANAAN a) Manajemen hipertensi Algoritma pemberian antihipertensi pada pasien dengan stroke
1. Hipertensi Arterial Pendekatan manajemen stroke perdarahan intraserebral masih Tekanan darah optimal pada pasien stroke perdarahan intrase- perdarahan intraserebral yang sudah dimodifikasi (LoE V, grade C) :
Hipertensi merupakan penyebab terbanyak perdarahan intra- kontroversial antara non pembedahan dengan pembedahan(1). rebral bersifat individual dan berhubungan dengan apakah pasien
serebral yaitu antara 70-90%(8). Pada arteri tampak degenerasi Dibutuhkan penelitian yang lebih baik sebagai dasar penyusunan sebelumnya menderita hipertensi kronik, tekanan intrakranial, 1. Jika tekanan darah sistolik >230 mmHg atau diastolik >140
tunika media dinding arteri yang diinduksi oleh hipertensi, guideline terkini. Terdapat beberapa pendekatan terapi yang umur, etiologi perdarahan, dan jendela terapi. Secara umum di- mmHg dalam dua kali pemeriksaan selama selang waktu 5
nekrosis fibrinoid yang mengakibatkan kelemahan progresif bersifat emergensi. menit maka diberi terapi nitroprusid.
rekomendasikan agar tekanan darah yang meningkat diturunkan
dan/atau terbentuknya mikroaneurisma. Predileksi perubahan 2. Jika tekanan darah sistolik antara 180-230 mmHg dan diastolik
secara lebih progresif dengan terapi antihipertensi yang ber-
patologis tersebut di arteria subkortikal dan perforating kecil, 1) Penanganan Awal di Ruang Gawat Darurat antara 105-140 mmHg, atau MAP >130 mmHg dalam dua kali
efek cepat dibandingkan dengan pada stroke iskemik(12,16,17).
yang dapat menjelaskan lokasi anatomik perdarahan intrase- Berupa tindakan basic life support yang meliputi tindakan air- pemeriksaan selama selang waktu 20 menit, maka diberi terapi
Secara teoritis tekanan darah yang lebih rendah menurunkan
rebral yang spesifik. way, breathing, dan circulation, serta mengidentifikasi adanya labetalol intravena, esmolol, enalapril, atau diltiazem intravena,
risiko ruptur arteri kecil dan arteriola. Suatu penelitian observa-
defisit neurologik fokal. Pemeriksaan lengkap harus dilakukan lisinopril, atau verapamil.
sional prospektif tentang bertambahnya volume perdarahan
Penyebab utama perburukan pada penderita stroke perdarahan terutama pada pasien dengan penurunan kesadaran yang 3. Jika tekanan darah sistolik <180 mmHg dan diastolik <105
intraserebral adalah terjadinya edema serebri dan nekrosis akibat diduga akibat stroke perdarahan intraserebral. intraserebral memperlihatkan tidak ada hubungan antara tekanan
mmHg, pemberian obat antihipertensi harus ditunda. Pilihan
iskemi global jaringan otak dan terjadinya hidrosefalus(7). darah sebelum serangan stroke dengan bertambahnya volume
obat antihipertensi tergantung kondisi pasien, misalnya hindari
Airway dan oksigenasi : darah setelah serangan, tetapi berhubungan dengan saat pem-
pemberian labetalol pada pasien asma bronkial.
2. Aneurisma Intrakranial Walaupun tidak selalu perlu intubasi, persiapan airway dan berian antihipertensi(18). Sebaliknya pemberian antihipertensi
4. Jika monitor tekanan intrakranial tersedia, maka tekanan perfusi
Perdarahan intraserebral akibat ruptur aneurisma biasanya ventilasi yang adekuat sangat penting. Pada pasien stroke yang sangat cepat menurunkan tekanan darah dapat menurunkan
serebral harus dipertahankan pada >70 mmHg.
menuju ke ruang subarakhnoid; jarang ke ventrikel atau perdarahan intraserebral dengan kesadaran menurun atau perfusi serebral dan secara teoritis akan memperparah cedera
parenkim otak. Kurang lebih 16-23% perdarahan intrasere- tanda-tanda disfungsi batang otak harus segera dilakukan otak, terutama dalam keadaan tekanan intrakranial tinggi(1).
Penurunan Tekanan Darah :
bral disebabkan karena aneurisma pecah(8). tindakan airway. Intubasi harus dilakukan secara hati-hati dan
Pendekatan pertama pada pasien dengan penurunan tekanan
mengikuti prosedur yang berlaku jika didapatkan insufisiensi Untuk menengahi kedua teori tersebut, Broderick et al., (1999) darah adalah penambahan cairan, yaitu cairan salin isotonik
Mekanisme pembentukan aneurisma dan terjadinya perdara- respirasi/ventilasi yang menyebabkan hipoksi (pO2 < 60 mmHg merekomendasikan bahwa tekanan darah harus diturunkan jika atau koloid; dilakukan monitoring tekanan vena sentral atau
han pada aneurisma masih kontroversial. Lesi ini diperkirakan atau pCO2 >50 mmHg) atau secara nyata didapatkan risiko mean arterial blood pressure (MAP) >130 mmHg(1), walaupun tekanan arteri pulmonal. Jika setelah koreksi penambahan
akibat kelemahan kongenital tunika muskularis arteri serebral aspirasi dengan atau tanpa gangguan oksigenasi arterial. bukti klinik yang mendukungnya sangat lemah (level of evidence V, cairan, tekanan darah tetap tidak berubah, pemberian infus
yang menyebabkan tunika intima membonjol dan akhirnya Sebelum intubasi dilakukan preoksigenasi maksimal dan pem-
grade C recommendation). Pada pasien dengan peningkatan kontinu harus dilakukan terutama jika tekanan darah sistolik
merobek membrana elastik(6). berian obat-obatan misalnya atropin, thiopental, midazolam,
tekanan intrakranial yang terpantau dengan monitor tekanan <90 mmHg dengan penambahan:
propofol, dan suksinilkholin untuk menghindari terjadinya
intrakranial, tekanan perfusi serebral (MAP–ICP) harus dipertahan-
3. Angiopati Amiloid Serebral refleks aritmia dan/atau ketidakstabilan tekanan darah(11).
kan sebesar >70 mmHg (LoE V, grade C). Obat-obat antihiper- Fenilefrin 2–10 µg. kg-1. min-1
Penyebab tersering ketiga perdarahan intraserebral adalah
tensi yang direkomendasikan untuk terapi hipertensi pada stroke Dopamin 2–20 µg. kg-1. min-1
angiopati amiloid, yaitu sekitar 10% dari seluruh perdarahan Tingkat kesadaran dimonitor dengan Glasgow Coma Scale (GCS).
perdarahan intraserebral dapat dilihat pada tabel 2.
intraserebral spontan. Kelainan angiopati amiloid ini khas Pencegahan aspirasi harus selalu dilakukan dengan tuba Norepinefrin titrasi dari 0.05–0.2 µg. kg-1. min-1
yaitu terbentuknya deposit fibril amiloid pada tunika media endotrakheal, tuba nasogastrik atau orogastrik dan dipantau
dan tunika intima arteria kecil dan sedang. Perdarahan terjadi dengan manset tekanan (cuff pressure) setiap 6 jam. Tuba Nitroprusid secara umum sering digunakan untuk hipertensi
b) Manajemen Peningkatan Tekanan Intrakranial
akibat robeknya dinding pembuluh yang lemah atau mikro- endotrakheal dengan manset lunak umumnya dipakai kurang maligna, obat tersebut merupakan vasodilator; teoritis dapat
Peningkatan tekanan intrakranial merupakan penyebab utama
aneurisma(6,10). dari 2 minggu. Jika setelah 2 minggu penurunan kesadaran meningkatkan aliran darah otak sehingga dapat meningkatkan
tingginya mortalitas pada stroke perdarahan intraserebral,
masih berlanjut atau terjadi komplikasi pulmonal, maka harus tekanan intrakranial. Hal tersebut mungkin tidak menguntungkan,
sehingga pemantauan dan penanganan yang tepat terhadap
4. Malformasi Arteri-venosa (MAV) dilakukan trakheostomi elektif. Oksigen harus diberikan pada tetapi belum ada laporan penelitian yang mendukung teori tersebut.
peningkatan tekanan intrakranial dapat menurunkan mortalitas,
Menurut The Arteriovenous Malformation Study Group (1999), semua pasien perdarahan intraserebral dengan penurunan
berupa osmoterapi, hiperventilasi, dan pemberian barbiturat.
malformasi pembuluh darah intrakranial berdasarkan jenis kesadaran(12). Tabel 2. Manajemen Tekanan Darah pada Stroke Perdarahan Intraserebral
Peningkatan tekanan intrakranial terjadi jika tekanan intrakra-
kelainan patologisnya dibagi menjadi empat, yaitu; (1) Malfor- Jika pasien hipertensi:
masi arteria-venosa, (2) Telangiektasia kapiler, (3) Malformasi nial > 20 mmHg selama > 5 menit. Tekanan intrakranial hendaknya
2) Penanganan Medikamentosa
kavernosa, dan (4) Malformasi venosa. Ada beberapa penelitian pemberian medikamentosa pada Labetalol 5–100 mg/jam secara intermiten dengan bolus dosis 10–40 mg dipertahankan < 20 mmHg dan tekanan perfusi serebral >70
atau drip (2–8 mg/menit)
stroke perdarahan intraserebral, seperti penggunaan steroid mmHg(19). Pasien yang diduga mengalami peningkatan tekanan
Esmolol 500 µg/kg sebagai awal, dosis maintenan 50–200 µg. kg-1. min-1 intrakranial dan penurunan kesadaran harus diawasi dengan
Malformasi arteri-venosa merupakan penyebab terbanyak (6-13%) vs. plasebo(13), hemodilusi vs. terapi medis standar(14), dan
perdarahan intraserebral spontan. Kelainan ini merupakan gliserol vs. plasebo(15). Tidak satupun yang hasilnya bermakna Nitroprusid 0.5–10 µg. kg-1. min-1 alat monitor (invasive ICP monitoring); dilakukan jika nilai GCS
suatu kelainan kongenital yang terjadi pada minggu ke-4 secara statistik. Bahkan pasien yang mendapatkan terapi Hidralazin 10–20 mg diberikan 4–6 jam < 9 (LoE V, grade C). Monitoring nilai GCS juga harus dilakukan.
hingga ke-8 kehidupan embrional, menyebabkan hubungan steroid lebih banyak mengalami komplikasi infeksi dibanding- Enalapril 0.625–1.2 mg diberikan tiap 6 jam jika diperlukan. Pemeriksaan CT Scan kepala juga harus dilakukan untuk me-
persisten antara sistema arterial dan vena. kan pasien dengan plasebo(13). lihat adanya efek massa dan hidrosefalus akibat perdarahan.

CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008 CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008
322 323
TINJAUAN PUSTAKA

Efek massa karena penambahan volume intrakranial akibat Walaupun penggunaan standar protokol manajemen pening-
perdarahan dan terjadinya hidrosefalus sekunder merupakan katan tekanan intrakranial sangat bervariasi, tetapi langkah-
penyebab utama peningkatan tekanan intrakranial. Drainase langkah seperti dalam tabel 3, dapat sebagai pedoman.
ventrikel harus dilakukan pada pasien yang mempunyai risiko Secara teori penurunan tekanan intrakranial melalui koreksi
hidrosefalus. Drainase ventrikel ini diberikan dan dihentikan hiperventilasi dapat dilihat jika pH cairan serebrospinal se-
tergantung gambaran klinik dan nilai tekanan intrakranial; imbang. Pendapat lain menyatakan bahwa hiperventilasi yang
karena risiko infeksi tinggi maka pengawasan harus terus memanjang mempunyai efek menguntungkan terhadap volume
menerus dan tidak boleh melebihi 7 hari (LoE V, grade C). jaringan otak.

Tabel 3. Manajemen Peningkatan Tekanan Intrakranial Efek rebound osmoterapi dapat terjadi walaupun ventilasi
normal. Tanpa hiperventilasi penurunan gradual pCO2 bisa
Osmoterapi
terjadi dalam waktu 24-48 jam. Umumnya hiperventilasi terjadi
Yang pertama kali harus diberikan; walaupun tindakan profilaksis tidak jika tekanan intrakranial meningkat. pCO2 harus dipertahankan
dianjurkan. Manitol 20% (0.25-0.5 g/kg tiap 4 jam) harus diberikan jika antara 30 - 35 mmHg sampai tekanan intrakranial terkontrol.
didapatkan peningkatan tekanan intrakranial yang progresif dan Kebanyakan pasien membutuhkan sedasi, misalnya dengan
terjadi penurunan kesadaran akibat efek massa (LoE V, grade C). Untuk
propofol, benzodiazepin atau morfin dan paralitik muskuler
mencegah rebound phenomenon, pemberian manitol direkomendasi-
secara intermiten.
kan tidak boleh lebih dari 5 hari. Untuk menurunkan tekanan osmotik
dapat diberikan furo- semid (10 mg injeksi selama 2–8 jam), dapat
bersama-sama dengan manitol. Osmolalitas darah harus diperiksa Jika peningkatan tekanan intrakranial tidak bisa terkontrol dengan
dua kali setiap hari dengan target < 310 mOsm/L. pemberian terapi seperti di atas, dapat diberi barbiturat; walaupun
demikian barbiturat dosis tinggi bukan terapi standar untuk
Jangan diberi Steroid peningkatan tekanan intrakranial akibat stroke perdarahan intra-
serebral. Pemberian barbiturat aksi pendek seperti thiopental
Pemberian kortikosteroid pada stroke perdarahan intraserebral harus
dihindari, karena dapat menyebabkan berbagai efek samping yang tidak sudah banyak diketahui efektif menurunkan tekanan intrakra-
menguntungkan (LoE II, grade B). nial; cara kerjanya mungkin melalui penurunan volume aliran
darah otak. Barbiturat dapat menurunkan pembengkakan otak,
Hiperventilasi mungkin akibat hipotensi sistemik derajat sedang, dan melalui
aksi penghambatan radikal bebas. Komplikasi pemberian bar-
Hipokarbia akan menyebabkan vasokonstriksi serebral. Penurunan aliran
darah otak dapat terjadi secara cepat; puncak penurunan tekanan intrakra- biturat dosis tinggi (dosis normal 10 mg/kg per hari) adalah
nial mungkin terjadi kurang dari 30 menit setelah perubahan pCO2. hipotensi, terutama saat dilakukan bolus barbiturat; juga mungkin
Kondisi pasien membaik jika penurunan pCO2 sampai 25–30 mmHg, merupakan predisposisi terjadinya infeksi.
tidal volume 12–14 mL/kg, tekanan intrakranial turun 25-30% (LoE III
through V, grade C). Pasien dengan peningkatan tekanan intrakranial Hipotensi sistemik sebagian besar merupakan akibat dari
mempunyai prognosis buruk jika manajemen hiperventilasi gagal. penurunan tegangan vena, tegangan barorefleks, dan aktivitas
simpatik. Efek samping kardiovaskular mungkin karena efek
Relaksasi Otot
penyerta dehidrasi akibat osmoterapi dan berkurangnya tekanan
Pemberian obat-obat berefek paralisis neuromuskular dikombinasi- pengisian jantung. Penurunan maksimal metabolisme serebral
kan dengan sedasi yang adekuat dapat mengurangi peningkatan dapat dilihat dengan continuous EEG. Pemberian bolus barbi-
tekanan intrakranial karena dapat mencegah peningkatan tekanan turat dapat dimulai dengan dosis rendah yaitu 0.3-0.6 mg/kg.
intratorakal dan tekanan vena akibat batuk, ketegangan, penyedotan
(suctioning) pada ventilator (LoE III through V, grade C). Obat-obat non
c) Pencegahan kejang
depolarisasi misalnya venkuronium atau pankuronium, pembebas
Kejang merupakan akibat cedera neuronal dan penurunan
histamin dan obat yang berefek blokade ganglion lebih baik diberikan
pada situasi peningkatan tekanan intrakranial (LoE III through V, grade C). stabilitas pada pasien yang memburuk karena kondisi sistemik.
Pasien dengan kegawatan akibat peningkatan tekanan intrakranial Kejadian kejang non konvulsif < 10% pada pasien koma yang
harus diberi premedikasi dengan bolus obat-obat relaksasi otot dirawat di ruang neurointensif. Pada pasien stroke perdarahan
sebelum airway suctioning; dalam kondisi emergensi pemberian lidokain intraserebral, profilaksis antiepilepsi misalnya fenitoin dengan
perlu dipertimbangkan. dosis titrasi 14-23 mg/mL dapat diberikan selama 1 bulan, jika tidak
ada kejang diturunkan kemudian dihentikan. ( LoE V, grade C ) (1).

CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008


325
TINJAUAN PUSTAKA TINJAUAN PUSTAKA

d) Manajemen demam 3. Kendalikan Faktor Risiko lain DAFTAR PUSTAKA


Suhu tubuh harus dipertahankan normal, parasetamol 650 mg Kraniotomi merupakan pendekatan standar, terutama untuk Laporan Framingham Study menyatakan bahwa konsumsi 1. Broderick JP, Adams HP, Barsan W, Feinberg W, Feldmann E, Grotta J, Kase C,
atau kompres dingin harus diberikan jika suhu >38.5° C. Pada pengambilan bekuan darah. Tindakan tersebut dapat menu- buah dan sayuran setiap hari dapat menurunkan risiko stroke Krieger D, Mayberg M, Tilley B, Zabramski JM, Zuccarello M. Guidelines for the
Management of Spontaneous Intracerebral Hemorrhage. A Statement for Healthcare
pasien demam atau infeksi, dapat dilakukan kultur darah, trakhea, runkan tekanan intrakranial dan tekanan lokal akibat efek termasuk stroke perdarahan intraserebral(26). Merokok, walaupun Professionals From a Special Writing Group of the Stroke Council, American Heart
dan urin, selanjutnya dapat diberikan antibiotik yang sesuai. massa di sekitarnya. Efek samping yang merugikan adalah merupakan faktor risiko utama beberapa penyakit termasuk Association. Stroke 1999;30: 905-15.
stroke infark dan perdarahan subarakhnoid, berdasarkan pene- 2. Fewell ME, Thompson BG, Hoff JT. Spontaneous intracerebral hemorrhage: a review.
Pada pasien dengan kateter intraventrikuler, harus dilakukan ana- kerusakan jaringan otak di sekitarnya terutama jika letak bekuan Neurosurg Focus 2003;15(4): 1-16.
darah terlalu dalam. litian kohort berhenti merokok tidak secara signifikan menurun-
lisis cairan serebrospinal untuk deteksi dini infeksi intrakranial. 3. The IMS Study Investigators. Hemorrhage in the Interventional Management of Stroke
kan risiko perdarahan intraserebral, tetapi peminum alkohol Study. Stroke 2006;37: 847-51.
berisiko tinggi menderita stroke perdarahan intraserebral, sehingga 4. Broderick J, Brott T, Tomsick T, Leach A. Lobar hemorrhage in the elderly: the
e) Terapi lain PENCEGAHAN pengendalian konsumsi alkohol lebih beralasan(27), juga penu- undiminishing importance of hypertension. Stroke 1993; 24: 49–51.
Banyak pasien yang kesadarannya menurun mengalami kege- Karena stroke perdarahan intraserebral mempunyai morbiditas 5. MacKenzie JM. Intracerebral haemorrhage. J Clin. Pathol.1996; 49: 360-64.
runan penggunaan kokain dan obat-obat simpatomimetik dapat
6. Qureshi AI, Tuhrim S, Broderick JP, Batjer H, Hondo H, Hanley DF. Spontaneous
lisahan; harus dijaga agar tidak terjadi cedera. Dapat diguna- dan mortalitas yang tinggi dan belum ada jaminan perbaikan dengan menurunkan risiko perdarahan intraserebral. Intracerebral Hemorrhage. N.Engl. J. Med. 2001; 344 (19): 1450-60.
kan tranquilizer minor atau mayor, yaitu benzodiazepin aksi pendekatan terapi apapun, pencegahan merupakan tindakan utama. 7. Lin SZ. Hypertensive Intracerebral Hemorrhage and Brain Edema. Chinese Med. J.
pendek atau propofol. Obat lain yang dapat diberikan adalah Risiko stroke perdarahan intraserebral pada penggunaan anti- (Taipei) 2002;65 (6): 239-40.
8. Ariesen MJ, Claus SP, Rinkel GJE, Algra A.. Risk Factors for Intracerebral Hemorrhage
analgesik dan neuroleptik sesuai dengan tanda dan gejala klinis. Pencegahan berupa mengendalikan faktor risiko, antara lain: koagulan akan meningkat jika INR > 3(28). Menurut The National in the General Population: A Systematic Review. Stroke 2003;34: 2060-65.
Jenis obat dan dosis harus dititrasi sesuai dengan perkembangan Institute of Neurological Disorders and Stroke rt-PA Stroke 9. Swanson RA. Intracerebral Hematoma Beyond the Mass Lesion. Stroke 2006;. 37: 2445.
1. Kontrol tekanan darah
klinik pasien. Emboli pulmonum sering merupakan ancaman Study Group (1995), tindakan hati-hati saat pemilihan tromboli- 10. Kazui S, Minematsu K, Yamamoto H, Sawada T, Yamaguchi T. Predisposing factors to
Hipertensi adalah faktor risiko stroke utama; pengobatan serta sis terhadap infark miokard dan stroke iskhemik dapat menu- enlargement of spontaneous intracerebral hematoma. Stroke 1997; 28: 2370-5.
selama fase perbaikan, terutama pada pasien yang berbaring
pengendaliannya dapat menurunkan risiko stroke. Suatu over- runkan risiko stroke perdarahan intraserebral (29). 11. Thompson WR. Acute cerebrovascular complications. In: Oh TE. Intensive Care
lama karena hemiplegi. Fisioterapi selama pasien inaktif sangat Manual. Butterworth Heinemann, Oxford, Boston, Johannesburg 1997.
view sistematis dari 14 prospective randomized controlled trials 12. Pouratian N, Kassell NF, Dumont AS. Update on management of intracerebral
penting.
menunjukkan bahwa penurunan tekanan diastolis 5 - 6 mmHg Tabel 5. Rekomendasi pencegahan stroke perdarahan intraserebral hemorrhage. Neurosurg Focus 2003; 15 (4): 1 – 6.
13. Poungvarin N, Bhoopat W, Viriyavejakul A, Rodprasert P, Buranasiri P, Sukondhabhant
3) Pembedahan dapat menurunkan risiko stroke sebanyak 42%(20). S, Hensley MJ, Strom BL. Effects of dexamethasone in primary supratentorial
1. Secara teratur mengkonsumsi obat antihipertensi adalah reko-
intracerebral hemorrhage. N Engl J Med. 1987;316: 1229 –1233
Tujuan utama tindakan pembedahan pada perdarahan intrase- mendasi utama, yang secara efektif akan menurunkan angka
14. Italian Acute Stroke Study Group. Haemodilution in acute stroke: results of the Italian
rebral adalah mengambil bekuan darah. Jika mungkin juga untuk Hipertensi erat hubungannya dengan kejadian stroke(21). Penderita morbiditas dan mortalitas stroke perdarahan intraserebral (LoE I haemodilution trial. Lancet 1988;1: 318 –321.
hipertensi kurang terkontrol adalah penderita dengan riwayat through II, grade A). 15. Yu YL, Kumana CR, Lauder IJ, Cheung YK, Chan FL, Kou M, Chang CM, Cheung RT.
mengidentifikasi penyebab perdarahan, misalnya malformasi
Fong KY. Treatment of acute cerebral hemorrhage with intravenous glycerol: a
arteri-vena. Selain itu juga untuk mencegah komplikasi, misal- hipertensi, tidak diobati atau diobati tetapi tidak terkendali. 2. Monitoring ketat pemberian obat-obat antikoagulan, misalnya, warfarin double-blind, placebo-controlled, randomized trial. Stroke 1992;23: 967–971.
(LoE I, grade A).
nya hidrosefalus dan efek massa akibat bertambahnya volume 16. Adams HP, Brott TG, Furlan, AJ, Gomez CR, Grotta J, Helgason CM, Kwiatkowski T,
3. Pemberian secara selektif obat-obat trombolitik untuk infark miokard Lyden PD, Marler JR, Torner J, Feinberg W, Mayberg M, Thies W. Guidelines for
intrakranial. Terapi rutin pasien hipertensi derajat ringan sampai sedang secara thrombolytic therapy for acute stroke: a supplement to the guidelines for the manage-
dan stroke iskhemik akut (LoE I, grade A). ment of patients with acute ischemic stroke: a statement for healthcare professionals
signifikan dapat menurunkan risiko stroke perdarahan pada usia from a special writing group of the Stroke Council, American Heart Association.
Tabel 4. Rekomendasi tindakan pembedahan pada perdarahan pertengahan dan lansia antara 36-48% (22) Hipertensi yang ter- 4. Peningkatan konsumsi buah dan sayuran serta menghindari alkohol Circulation 1996;94: 1167–1174.
intreaserebral dan penggunaan obat-obat simpatomimetik akan menurunkan 17. The Seventh Report Of The Joint National Committee. Prevention, Detection,
kontrol dapat menurunkan risiko perdarahan sampai 50% (23). risiko stroke perdarahan intraserebral (LoE III through V, grade C). Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure. National Institute of Health,
National Heart, Lung, and Blood Institute, National Blood Pressure Education
Tindakan tanpa pembedahan Program. US. Department of Health and Human Services. 2003.
Untuk menurunkan risiko stroke sebaiknya dilakukan 3 pen- 18. Brott T, Broderick J, Kothari R, Barsan W, Tomsick T, Sauerbeck L, Spilker J, Duldner
1. Pasien dengan perdarahan kecil (< 10 cm3) atau defisit neurologik yang LAMPIRAN 1. penilaian kualitas hasil penelitian J, Khouri J. Early hemorrhage growth in patients with intracerebral hemorrhage.
dekatan untuk menurunkan tekanan darah, yaitu; (1) tekanan darah
minimal (LoE II through V, grade B). Cara penilaian kualitas bukti-bukti penelitian direkomendasikan Stroke 1997;28: 1–5.
harus dikendalikan pada penderita hipertensi yang cenderung 19. Diringer MN. Intracerebral hemorrhage: pathophysiology and management. Crit Care
2. Pasien dengan skor GCS < 4 (LoE II through V, grade B). Pada perda- mengikuti suatu aturan, yaitu A,B, C atau D; selanjutnya untuk Med. 1993;21: 591–1603.
akan terserang stroke, (2) para dokter hendaklah memeriksa tekanan
rahan serebelum dengan penekanan pada batang otak, pembedahan melihat tingkat evidence digunakan nomor I, II, III atau IV, dan 20. Collins R, Peto R, MacMahon S. Blood pressure, stroke, and coronary heart disease,
darah semua penderita setiap datang berobat, dan (3) penderita tingkatan ini menunjukkan sumber-sumber yang dapat dipercaya. part 2: short-term reductions in blood pressure: overview of randomized drug trials in
merupakan tindakan lifesaving karena kegawatannya.
hipertensi hendaklah memantau tekanan darahnya di rumah. their epidemiological context. Lancet 1993;335: 827-38.
Tabel 6 memperlihatkan masing-masing tingkat evidence beserta
21. Juvela S, Hillbom M, Palomaki. Risk factors spontaneous intracerebral hemorrhage.
Tindakan Pembedahan penjelasannya. Kriteria ini diambil dari National Institute for Clinical Stroke 1995;26: 1558-64.
2. Kendalikan Diabetes Mellitus Excellence (NICE) (28). 22. SHEP Cooperative Research Group. Prevention of stroke by antihypertensive drug
1. Pada pasien stroke perdarahan serebelum > 3 cm dengan deteri treatment in older persons with isolated systolic hypertension: final results of the
Hiperglikemi adalah problem endokrinologi yang menonjol sebagai Systolic Hypertension in the Elderly Program (SHEP). JAMA 1991;265: 3255–3264.
orasi neurologik karena kompresi batang otak dan hidrosefalus
karena obstruksi ventrikel harus dilakukan tindakan pembersi-
faktor risiko stroke perdarahan intraserebral(24). Walaupun ada Tabel 6. Level of evidence (LoE) dan derajad rekomendasi 23. Elkind M. Stroke in the Elderly. The Mount Sinai J. Med 2003;70 (1): 27-37.
bukti hubungan erat antara diabetes melitus dengan stroke baik 24. Kuller LH, Dorman JS, Wolf PA. Cerebrovascular diseases and diabetes. In: National
han bekuan darah dengan segera (LoE III through V, grade C). Level of
evidence Tipe evidence
Derajat
rekomendasi
Diabetes Data Group Department of Health and Human Services, National Istitutes of
2. Pada perdarahan intraserebral karena lesi struktural misalnya aneu- dari studi epidemiologis dan studi patofisiologis, pengendalian Health, ed. Diabetes in America: Diabetes Data Compiled for 1984; Bethesda, Md,
Ia Meta-analisis atau randomised controlled trials (RCT) A Conn: Appleton & Lange. 1996.
risma, malformasi arterivena, atau angioma kavernosa, pembedahan dan penurunan kadar serum gula darah tidak menurunkan risiko Ib Randomised controlled trials (RCT) A 25. United Kingdom Prospective Diabetes Study Group. Intensive blood-glucose control
mungkin dapat dilakukan jika mempunyai kemungkinan outcome stroke. Dua penelitian besar, multisenter, uji klinis acak pengenda- IIa Mempunyai desain yang baik, terdapat kontrol with sulphonylurea or insulin compared with conventional treatment and risk of
walaupun tanpa randomisasi B macrovascular and microvascular complications in type 2 diabetes: UKPDS 33.
yang baik dan lesi struktural vaskuler tersebut dapat dijangkau lian kadar gula darah dengan terapi insulin pada penderita dia- IIb Mempunyai desain yang baik, quasi-experimental study B Lancet 1998;352: 837-853.
dengan tindakan pembedahan (LoE III through V, grade C). betes melitus tipe 1, dan pemberian intensif sulfonilurea dan atau III Mempunyai desain yang baik, non-experimental 26. Gillman MW, Cupples LA, Gagnon D, Posner BM, Ellison RC, Castelli WP, Wolf PA.
descriptive study (comparative studies, correlation studies, B Protective effect of fruits and vegetables on development of stroke in men. JAMA
3. Pada pasien usia muda dengan perdarahan sedang atau perdarahan dengan terapi insulin pada penderita diabetes melitus tipe 2 (25), case studies) 1995. 273:1113–1117
luas di daerah lobus yang secara klinik mengalami perburukan menunjukkan penurunan bermakna komplikasi mikrovaskuler IV Laporan, opini atau pengalaman para ahli. C 27. Donahue RP, Abbott RD, Reed DM, Yano K. Alcohol and hemorrhagic stroke: the
Consensus Rekomendasi dari organisasi profesi berdasarkan Honolulu Heart Program. JAMA 1986.; 255: 2311–2314.
(LoE II through V, grade B). (retinopati, nefropati, dan neuropati), tetapi tidak menurunkan of working pengalaman klinik atau pengembangan dari Guideline D 28. Royal College of Physicians. National clinical guidelines for stroke, Prepared by the
party Development Group
risiko stroke perdarahan (komplikasi makrovaskuler). Intercollegiate Stroke Working Party June 2004, 2nd ed., London 2004.

CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008 CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008
326 327
TINJAUAN PUSTAKA TINJAUAN PUSTAKA

d) Manajemen demam 3. Kendalikan Faktor Risiko lain DAFTAR PUSTAKA


Suhu tubuh harus dipertahankan normal, parasetamol 650 mg Kraniotomi merupakan pendekatan standar, terutama untuk Laporan Framingham Study menyatakan bahwa konsumsi 1. Broderick JP, Adams HP, Barsan W, Feinberg W, Feldmann E, Grotta J, Kase C,
atau kompres dingin harus diberikan jika suhu >38.5° C. Pada pengambilan bekuan darah. Tindakan tersebut dapat menu- buah dan sayuran setiap hari dapat menurunkan risiko stroke Krieger D, Mayberg M, Tilley B, Zabramski JM, Zuccarello M. Guidelines for the
Management of Spontaneous Intracerebral Hemorrhage. A Statement for Healthcare
pasien demam atau infeksi, dapat dilakukan kultur darah, trakhea, runkan tekanan intrakranial dan tekanan lokal akibat efek termasuk stroke perdarahan intraserebral(26). Merokok, walaupun Professionals From a Special Writing Group of the Stroke Council, American Heart
dan urin, selanjutnya dapat diberikan antibiotik yang sesuai. massa di sekitarnya. Efek samping yang merugikan adalah merupakan faktor risiko utama beberapa penyakit termasuk Association. Stroke 1999;30: 905-15.
stroke infark dan perdarahan subarakhnoid, berdasarkan pene- 2. Fewell ME, Thompson BG, Hoff JT. Spontaneous intracerebral hemorrhage: a review.
Pada pasien dengan kateter intraventrikuler, harus dilakukan ana- kerusakan jaringan otak di sekitarnya terutama jika letak bekuan Neurosurg Focus 2003;15(4): 1-16.
darah terlalu dalam. litian kohort berhenti merokok tidak secara signifikan menurun-
lisis cairan serebrospinal untuk deteksi dini infeksi intrakranial. 3. The IMS Study Investigators. Hemorrhage in the Interventional Management of Stroke
kan risiko perdarahan intraserebral, tetapi peminum alkohol Study. Stroke 2006;37: 847-51.
berisiko tinggi menderita stroke perdarahan intraserebral, sehingga 4. Broderick J, Brott T, Tomsick T, Leach A. Lobar hemorrhage in the elderly: the
e) Terapi lain PENCEGAHAN pengendalian konsumsi alkohol lebih beralasan(27), juga penu- undiminishing importance of hypertension. Stroke 1993; 24: 49–51.
Banyak pasien yang kesadarannya menurun mengalami kege- Karena stroke perdarahan intraserebral mempunyai morbiditas 5. MacKenzie JM. Intracerebral haemorrhage. J Clin. Pathol.1996; 49: 360-64.
runan penggunaan kokain dan obat-obat simpatomimetik dapat
6. Qureshi AI, Tuhrim S, Broderick JP, Batjer H, Hondo H, Hanley DF. Spontaneous
lisahan; harus dijaga agar tidak terjadi cedera. Dapat diguna- dan mortalitas yang tinggi dan belum ada jaminan perbaikan dengan menurunkan risiko perdarahan intraserebral. Intracerebral Hemorrhage. N.Engl. J. Med. 2001; 344 (19): 1450-60.
kan tranquilizer minor atau mayor, yaitu benzodiazepin aksi pendekatan terapi apapun, pencegahan merupakan tindakan utama. 7. Lin SZ. Hypertensive Intracerebral Hemorrhage and Brain Edema. Chinese Med. J.
pendek atau propofol. Obat lain yang dapat diberikan adalah Risiko stroke perdarahan intraserebral pada penggunaan anti- (Taipei) 2002;65 (6): 239-40.
8. Ariesen MJ, Claus SP, Rinkel GJE, Algra A.. Risk Factors for Intracerebral Hemorrhage
analgesik dan neuroleptik sesuai dengan tanda dan gejala klinis. Pencegahan berupa mengendalikan faktor risiko, antara lain: koagulan akan meningkat jika INR > 3(28). Menurut The National in the General Population: A Systematic Review. Stroke 2003;34: 2060-65.
Jenis obat dan dosis harus dititrasi sesuai dengan perkembangan Institute of Neurological Disorders and Stroke rt-PA Stroke 9. Swanson RA. Intracerebral Hematoma Beyond the Mass Lesion. Stroke 2006;. 37: 2445.
1. Kontrol tekanan darah
klinik pasien. Emboli pulmonum sering merupakan ancaman Study Group (1995), tindakan hati-hati saat pemilihan tromboli- 10. Kazui S, Minematsu K, Yamamoto H, Sawada T, Yamaguchi T. Predisposing factors to
Hipertensi adalah faktor risiko stroke utama; pengobatan serta sis terhadap infark miokard dan stroke iskhemik dapat menu- enlargement of spontaneous intracerebral hematoma. Stroke 1997; 28: 2370-5.
selama fase perbaikan, terutama pada pasien yang berbaring
pengendaliannya dapat menurunkan risiko stroke. Suatu over- runkan risiko stroke perdarahan intraserebral (29). 11. Thompson WR. Acute cerebrovascular complications. In: Oh TE. Intensive Care
lama karena hemiplegi. Fisioterapi selama pasien inaktif sangat Manual. Butterworth Heinemann, Oxford, Boston, Johannesburg 1997.
view sistematis dari 14 prospective randomized controlled trials 12. Pouratian N, Kassell NF, Dumont AS. Update on management of intracerebral
penting.
menunjukkan bahwa penurunan tekanan diastolis 5 - 6 mmHg Tabel 5. Rekomendasi pencegahan stroke perdarahan intraserebral hemorrhage. Neurosurg Focus 2003; 15 (4): 1 – 6.
13. Poungvarin N, Bhoopat W, Viriyavejakul A, Rodprasert P, Buranasiri P, Sukondhabhant
3) Pembedahan dapat menurunkan risiko stroke sebanyak 42%(20). S, Hensley MJ, Strom BL. Effects of dexamethasone in primary supratentorial
1. Secara teratur mengkonsumsi obat antihipertensi adalah reko-
intracerebral hemorrhage. N Engl J Med. 1987;316: 1229 –1233
Tujuan utama tindakan pembedahan pada perdarahan intrase- mendasi utama, yang secara efektif akan menurunkan angka
14. Italian Acute Stroke Study Group. Haemodilution in acute stroke: results of the Italian
rebral adalah mengambil bekuan darah. Jika mungkin juga untuk Hipertensi erat hubungannya dengan kejadian stroke(21). Penderita morbiditas dan mortalitas stroke perdarahan intraserebral (LoE I haemodilution trial. Lancet 1988;1: 318 –321.
hipertensi kurang terkontrol adalah penderita dengan riwayat through II, grade A). 15. Yu YL, Kumana CR, Lauder IJ, Cheung YK, Chan FL, Kou M, Chang CM, Cheung RT.
mengidentifikasi penyebab perdarahan, misalnya malformasi
Fong KY. Treatment of acute cerebral hemorrhage with intravenous glycerol: a
arteri-vena. Selain itu juga untuk mencegah komplikasi, misal- hipertensi, tidak diobati atau diobati tetapi tidak terkendali. 2. Monitoring ketat pemberian obat-obat antikoagulan, misalnya, warfarin double-blind, placebo-controlled, randomized trial. Stroke 1992;23: 967–971.
(LoE I, grade A).
nya hidrosefalus dan efek massa akibat bertambahnya volume 16. Adams HP, Brott TG, Furlan, AJ, Gomez CR, Grotta J, Helgason CM, Kwiatkowski T,
3. Pemberian secara selektif obat-obat trombolitik untuk infark miokard Lyden PD, Marler JR, Torner J, Feinberg W, Mayberg M, Thies W. Guidelines for
intrakranial. Terapi rutin pasien hipertensi derajat ringan sampai sedang secara thrombolytic therapy for acute stroke: a supplement to the guidelines for the manage-
dan stroke iskhemik akut (LoE I, grade A). ment of patients with acute ischemic stroke: a statement for healthcare professionals
signifikan dapat menurunkan risiko stroke perdarahan pada usia from a special writing group of the Stroke Council, American Heart Association.
Tabel 4. Rekomendasi tindakan pembedahan pada perdarahan pertengahan dan lansia antara 36-48% (22) Hipertensi yang ter- 4. Peningkatan konsumsi buah dan sayuran serta menghindari alkohol Circulation 1996;94: 1167–1174.
intreaserebral dan penggunaan obat-obat simpatomimetik akan menurunkan 17. The Seventh Report Of The Joint National Committee. Prevention, Detection,
kontrol dapat menurunkan risiko perdarahan sampai 50% (23). risiko stroke perdarahan intraserebral (LoE III through V, grade C). Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure. National Institute of Health,
National Heart, Lung, and Blood Institute, National Blood Pressure Education
Tindakan tanpa pembedahan Program. US. Department of Health and Human Services. 2003.
Untuk menurunkan risiko stroke sebaiknya dilakukan 3 pen- 18. Brott T, Broderick J, Kothari R, Barsan W, Tomsick T, Sauerbeck L, Spilker J, Duldner
1. Pasien dengan perdarahan kecil (< 10 cm3) atau defisit neurologik yang LAMPIRAN 1. penilaian kualitas hasil penelitian J, Khouri J. Early hemorrhage growth in patients with intracerebral hemorrhage.
dekatan untuk menurunkan tekanan darah, yaitu; (1) tekanan darah
minimal (LoE II through V, grade B). Cara penilaian kualitas bukti-bukti penelitian direkomendasikan Stroke 1997;28: 1–5.
harus dikendalikan pada penderita hipertensi yang cenderung 19. Diringer MN. Intracerebral hemorrhage: pathophysiology and management. Crit Care
2. Pasien dengan skor GCS < 4 (LoE II through V, grade B). Pada perda- mengikuti suatu aturan, yaitu A,B, C atau D; selanjutnya untuk Med. 1993;21: 591–1603.
akan terserang stroke, (2) para dokter hendaklah memeriksa tekanan
rahan serebelum dengan penekanan pada batang otak, pembedahan melihat tingkat evidence digunakan nomor I, II, III atau IV, dan 20. Collins R, Peto R, MacMahon S. Blood pressure, stroke, and coronary heart disease,
darah semua penderita setiap datang berobat, dan (3) penderita tingkatan ini menunjukkan sumber-sumber yang dapat dipercaya. part 2: short-term reductions in blood pressure: overview of randomized drug trials in
merupakan tindakan lifesaving karena kegawatannya.
hipertensi hendaklah memantau tekanan darahnya di rumah. their epidemiological context. Lancet 1993;335: 827-38.
Tabel 6 memperlihatkan masing-masing tingkat evidence beserta
21. Juvela S, Hillbom M, Palomaki. Risk factors spontaneous intracerebral hemorrhage.
Tindakan Pembedahan penjelasannya. Kriteria ini diambil dari National Institute for Clinical Stroke 1995;26: 1558-64.
2. Kendalikan Diabetes Mellitus Excellence (NICE) (28). 22. SHEP Cooperative Research Group. Prevention of stroke by antihypertensive drug
1. Pada pasien stroke perdarahan serebelum > 3 cm dengan deteri treatment in older persons with isolated systolic hypertension: final results of the
Hiperglikemi adalah problem endokrinologi yang menonjol sebagai Systolic Hypertension in the Elderly Program (SHEP). JAMA 1991;265: 3255–3264.
orasi neurologik karena kompresi batang otak dan hidrosefalus
karena obstruksi ventrikel harus dilakukan tindakan pembersi-
faktor risiko stroke perdarahan intraserebral(24). Walaupun ada Tabel 6. Level of evidence (LoE) dan derajad rekomendasi 23. Elkind M. Stroke in the Elderly. The Mount Sinai J. Med 2003;70 (1): 27-37.
bukti hubungan erat antara diabetes melitus dengan stroke baik 24. Kuller LH, Dorman JS, Wolf PA. Cerebrovascular diseases and diabetes. In: National
han bekuan darah dengan segera (LoE III through V, grade C). Level of
evidence Tipe evidence
Derajat
rekomendasi
Diabetes Data Group Department of Health and Human Services, National Istitutes of
2. Pada perdarahan intraserebral karena lesi struktural misalnya aneu- dari studi epidemiologis dan studi patofisiologis, pengendalian Health, ed. Diabetes in America: Diabetes Data Compiled for 1984; Bethesda, Md,
Ia Meta-analisis atau randomised controlled trials (RCT) A Conn: Appleton & Lange. 1996.
risma, malformasi arterivena, atau angioma kavernosa, pembedahan dan penurunan kadar serum gula darah tidak menurunkan risiko Ib Randomised controlled trials (RCT) A 25. United Kingdom Prospective Diabetes Study Group. Intensive blood-glucose control
mungkin dapat dilakukan jika mempunyai kemungkinan outcome stroke. Dua penelitian besar, multisenter, uji klinis acak pengenda- IIa Mempunyai desain yang baik, terdapat kontrol with sulphonylurea or insulin compared with conventional treatment and risk of
walaupun tanpa randomisasi B macrovascular and microvascular complications in type 2 diabetes: UKPDS 33.
yang baik dan lesi struktural vaskuler tersebut dapat dijangkau lian kadar gula darah dengan terapi insulin pada penderita dia- IIb Mempunyai desain yang baik, quasi-experimental study B Lancet 1998;352: 837-853.
dengan tindakan pembedahan (LoE III through V, grade C). betes melitus tipe 1, dan pemberian intensif sulfonilurea dan atau III Mempunyai desain yang baik, non-experimental 26. Gillman MW, Cupples LA, Gagnon D, Posner BM, Ellison RC, Castelli WP, Wolf PA.
descriptive study (comparative studies, correlation studies, B Protective effect of fruits and vegetables on development of stroke in men. JAMA
3. Pada pasien usia muda dengan perdarahan sedang atau perdarahan dengan terapi insulin pada penderita diabetes melitus tipe 2 (25), case studies) 1995. 273:1113–1117
luas di daerah lobus yang secara klinik mengalami perburukan menunjukkan penurunan bermakna komplikasi mikrovaskuler IV Laporan, opini atau pengalaman para ahli. C 27. Donahue RP, Abbott RD, Reed DM, Yano K. Alcohol and hemorrhagic stroke: the
Consensus Rekomendasi dari organisasi profesi berdasarkan Honolulu Heart Program. JAMA 1986.; 255: 2311–2314.
(LoE II through V, grade B). (retinopati, nefropati, dan neuropati), tetapi tidak menurunkan of working pengalaman klinik atau pengembangan dari Guideline D 28. Royal College of Physicians. National clinical guidelines for stroke, Prepared by the
party Development Group
risiko stroke perdarahan (komplikasi makrovaskuler). Intercollegiate Stroke Working Party June 2004, 2nd ed., London 2004.

CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008 CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008
326 327
HASIL PENELITIAN

Analisis Situasi
Pengendalian Tekanan Darah untuk
Prevensi Stroke Sekunder
Rizaldy Pinzon
SMF Saraf RS Bethesda Yogyakarta

PENDAHULUAN HASIL
Stroke merupakan penyebab kematian terbanyak yang ketiga Gambar 1 memperlihatkan model epidemiologi klinik perjala-
dan penyebab kecacatan pada orang dewasa di Amerika Serikat. nan penyakit stroke. Hipertensi merupakan faktor risiko stroke.
Insidensi dan prevalensi stroke yang tinggi memiliki dampak yang Hipertensi menyebabkan perubahan pembuluh darah yang sifat-
besar pada masyarakat. Setelah awal masa rawat inap dan reha- nya sub-klinis, sampai kemudian muncul komplikasi stroke.
bilitasi, 80% penderita stroke yang bertahan hidup kembali ke Pasien menjalani perawatan dengan kemungkinan 3 macam
komunitas, bergantung pada bantuan emosi anggota keluarga, outcome klinik. Pasien yang sembuh atau sembuh dengan cacat
informasi dan bantuan peralatan untuk hidup sehari-hari(1). merupakan target intervensi pengendalian tekanan darah untuk
mencegah stroke ulang.
Pasien yang terkena stroke memiliki risiko tinggi untuk menga-
lami serangan stroke ulang. Serangan stroke ulang berkisar
antara 30%-43% dalam waktu 5 tahun(2). Setelah serangan otak
sepintas, 20% pasien mengalami stroke dalam waktu 90 hari,
dan 50% di antaranya dalam waktu 24-72 jam. Tekanan darah
yang tinggi (tekanan darah sistolik > 140 mmHg dan tekanan
darah diastolik ≥ 90 mmHg) akan meningkatkan risiko terjadinya
stroke ulang(3,4,5).

Hipertensi merupakan masalah yang umum dijumpai pada


pasien stroke, dan menetap setelah serangan stroke. Penelitian
Lamassa, dkk(6) pada 4462 pasien stroke memperlihatkan
bahwa hipertensi dijumpai pada 48,6% kasus. Angka kematian
akibat stroke berkisar antara 20% sampai dengan 30%. Hal ini Data Unit Stroke di RS Bethesda memperlihatkan bahwa per
berarti ada potensi subyek sebesar 70%-80% untuk tindakan tahun terdapat antara 900 sampai dengan 1000 pasien stroke.
prevensi sekunder. Pengendalian tekanan darah harus dilaku- Data hasil penelitian epidemiologi memperlihatkan bahwa hipertensi
kan untuk pencegahan stroke. Tekanan darah target adalah di dijumpai pada 50%-70% pasien stroke, angka fatalitas ber-
bawah 140 mmHg untuk tekanan darah sistolik, dan di bawah kisar antara 20%-30% di banyak negara. Kematian akan jauh
85 mmHg untuk tekanan darah diastolik (Rekomendasi A)(7). meningkat (peningkatan sebesar 47%) pada serangan stroke
ulang (WHO Fact Sheet, 2005). Hal ini berarti akan ada kurang
Masalah yang muncul adalah ”bagaimana situasi pengendalian lebih 800 pasien yang harus menjalani tindakan prevensi sekunder
hipertensi pasca stroke pada para stroke survivor? ” Model analisis (termasuk pengendalian tekanan darah yang optimal). Jumlah ini
situasi terhadap para stroke survivor akan dilakukan dengan sangat berarti untuk mendapat perhatian (termasuk di antara-
fokus pada permasalahan pengendalian tekanan darah untuk nya adalah pemberlakuan suatu standar pelayanan atau clinical
mencegah serangan stroke ulang. practice guideline yang berbasis bukti ilmiah dan sesuai dengan
kondisi lokal).
METODE
Tabel 1. Profil Stroke RS Bethesda Yogyakarta (2002-2006)
Analisis situasi dilakukan dengan mengkaji catatan medik untuk
mendapatkan data lokal. Asumsi analisis situasi didasarkan pada Tahun Non hemoragik Hemorgaik Total
hasil-hasil penelitian epidemiologi. Analisis tentang obat-obat 2002 684 321 1005
antihipertensi yang bermakna untuk menurunkan risiko serangan 2003 622 289 911
otak ulang akan dikaji dari clinical practice guideline untuk stroke. 2004 755 352 1107
Analisis harga obat antihipertensi untuk prevensi serangan stroke 2005 726 261 987
ulang didapatkan dari pelacakan di www.mimsonlinecom. 2006 684 295 979

CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008


328
HASIL PENELITIAN TINJAUAN PUSTAKA

Pada tahun 2005 ada 162 kematian akibat stroke atau 16,4%, Pada beberapa uji klinik, pemberian obat antihipertensi dihubung-
dan 18,4% pada tahun 2006. Hal ini berarti ada kurang lebih
80% stroke survivors, atau sekitar 800 orang. Pada penelitian
faktor risiko, hipertensi dijumpai pada 71% kasus. Jumlah ini
kan dengan penurunan risiko stroke sebesar 35-40%. Penurunan
tekanan darah sistolik sebesar 12 mmHg selama 10 tahun akan
mencegah 1 kematian dari 11 pasien yang mendapat terapi obat
Obstructive Sleep Apnea
sangat signifikan sebagai target program pengendalian tekanan antihipertensi. Kombinasi penghambat ACE dan diuretika tipe Andreas Prasadja, RPSGT, Maula N. Gaharu
darah yang efektif. Bagaimana dengan kepatuhan terapi ? tiazid direkomendasikan untuk prevensi stroke sekunder(8-14). Sleep Technologist, Sleep Disorder Clinic RS Mitra Kemayoran, Jakarta
Hasil observasi menunjukkan ketidakpatuhan dan kurang ter- Dokter Spesialis Saraf RS St Elisabeth, Bekasi, Jakarta
kendalinya hipertensi masih cukup tinggi. Bukti ilmiah secara Bornstein dkk(15) melakukan kajian terhadap berbagai uji klinik
konsisten menunjukkan bahwa hipertensi yang tidak terkendali obat anti hipertensi untuk prevensi stroke. Hasil kajian menun-
merupakan faktor risiko stroke berulang. Penelitian epidemiologi jukkan ada beberapa obat yang didukung oleh uji klinik ber- PENDAHULUAN PATOFISIOLOGI DAN GEJALA KLINIS
memperlihatkan bahwa hanya 70% populasi hipertensi di kualitas baik dan jumlah sampel yang besar, yaitu: (1) HOPE trial Dalam film ataupun buku, kita sering menemukan tokoh pemalas, OSA disebabkan oleh menyempitnya saluran nafas atas secara
Amerika Serikat yang mengetahui kondisi sakitnya, 60% (ramipril vs. placebo), (2) ALLHAT trial (CCB or/and Angiotensin- yang gemuk, mudah tertidur, mendengkur dan selalu absent periodik saat tidur. Penyempitan ini bisa disebabkan oleh kelainan
mendapat terapi, dan 34% terkendali hipertensinya (tekanan Conventing Enzyme Inhibitors (ACE-Is) vs. diuretik), (3) LIFE
darah < 140/90 mmHg). trial (losartan vs. atenolol), dan (4) PROGRESS trial (perindopril minded/clumsy. Bahkan dalam kehidupan sehari-hari pun kita sering struktur anatomis atau gangguan neuromuskular.(4)
or/and indapamide vs. plasebo). menemui orang-orang seperti ini. Tidak jarang, karakter seperti
Bukti penelitian klinis memperlihatkan bahwa beberapa obat ini menjadi bahan tertawaan di lingkungan sahabat dan keluarga. (Gb.1-3)
antihipertensi didukung oleh bukti penelitian klinik yang luas dengan SIMPULAN Padahal ini merupakan gambaran seorang penderita sleep apnea!
jumlah sampel yang besar. Obat-obat tersebut adalah perindopril, Pengendalian tekanan darah pasca stroke merupakan hal yang
losartan, dan ramipril. Pertimbangan biaya terapi tentu merupakan penting untuk mencegah serangan stroke ulang. Bukti uji klinik
hal yang harus dipertimbangkan untuk meningkatkan ketaatan menunjukkan pengendalian tekanan darah yang adekuat akan Manifestasi klinis seperti tersebut di atas, pada tahun 1956 oleh
pasien berobat. Kami melakukan suatu model analisis pembiayaan menurunkan risiko serangan ulang dan komplikasi lain. Pertim- para ahli respirasi dikenal sebagai Pickwickian Syndrome. Ini
obat antihipertensi untuk prevensi stroke sekunder. Data harga bangan keefektifan, keamanan, dan ketejangkauan obat harus
merujuk pada karakter Joe si gendut dari tulisan Charles Dickens di
obat terakhir diperoleh dari pelacakan di www.mimsonline.com. didiskusikan secara seksama dengan pasien.
Hasil analisis pembiayaan obat dapat dilihat pada tabel 2. harian Pickwick. Tetapi, karena kurangnya perhatian pada segala
DAFTAR PUSTAKA sesuatu yang berkaitan dengan tidur, pemeriksaan sleep study Saat inspirasi tekanan intraluminal akan meningkat mencipta-
Tabel 2. Model pembiayaan obat untuk pengendalian tekanan darah 1. American Heart Association, Heart Disease and Stroke Statistics. 2004 update.
American Heart Association (www.strokeaha.org) pada pasien-pasien Pickwickian Syndrome baru dilakukan di kan sebuah suction reflex yang direspon oleh otot-otot dilator
Nama produk Nama generik Bukti uji klinik Harga 2. Mant J, Wade D, Winner S. Health Care Need Assessment in Stroke, Oxford tahun 1970-an. Dari pengamatan selama tidur dengan menggu- saluran nafas sehingga jalan nafas tetap terbuka. Tonus otot-
Radcliffe Medical Press
Prexum Perindopril PROGRESS 4mg x 30's (Rp 215.000) 3. Rothwell PM, Giles MF, Flossmann E et al. A Simple Score (ABCD) to identify nakan alat polisomnografi (PSG), barulah diketahui bahwa pen- otot ini akan melemah saat tidur; menyebabkan penyempitan
individuals at High Early Risk of Stroke after Transient Ischemic Attack. Lancet
Triatec Ramipril HOPE 2.5mg x 60's (Rp 398.772) 2005; 366: 29-36 derita Pickwickian Syndrome selain mendengkur, juga mengalami saluran nafas dan meningkatkan tahanan pada aliran udara.
5mg x 60's (Rp 629.640) 4. Eliasziw M, Kennedy J, Hill MD, Buchan AM. Early Risk of Stroke After Transient
10mg x 30's (Rp 437.250) Ischemic Attack in Patients with Internal Carotid Artery Disease, CMAJ 2004;170: henti nafas di saat tidur. Oleh karena itu Christian Guilleminault Kelainan struktur anatomi yang menyempitkan saluran nafas
1105-9
Cozaar Losartan LIFE 50mg x 2 x 15's (Rp 266.000) Johnston SC, Rothwell PM, Nguyen-Huynh MN, et al. Validation and refinement of
menambahkan perekaman fungsi pernafasan pada pemerik- atas tentu akan memperberat penyempitan sehingga terjadi
5.
Natrilix SR Indapamide ALLHAT 1.5mg x 30's (Rp 107.000)
scores to predict very early stroke risk after transient ischaemic attack. Lancet
2007;369:283–92.
saan PSG rutin.(1) Sebelumnya, semua penderita Excessive penyumbatan saat tidur.(5)
6. Lamassa M, Di Carlo A, Pracucci G, Basile AM et.al. Characteristics, Outcome, and Daytime Sleepiness (EDS) dianggap sebagai penderita narkolepsi.
Care of Stroke Associated with Atrial Fibrillation in Europe Data from a Multicenter
Hasil kajian di atas menunjukkan bahwa harga sebagian obat Multinational Hospital–Based Registry (The European Community Stroke Project). Tetapi dengan karakteristik PSG yang baru, diketahui bahwa Saat terjadi sumbatan, kemoreseptor akan merespon keadaan
Stroke 2001;32;392-8
yang didukung oleh bukti ilmiah uji klinik dengan jumlah sampel 7. Royal College of Physicians. National Clinical Guideline for Stroke, 2nd ed. banyak dari pasien narkolepsi tersebut ternyata menderita sleep kadar CO2 yang terlalu tinggi dengan mengirimkan sinyal untuk
yang besar relatif cukup tinggi. Intercollegiate Stroke Working Party, London, 2004
8. Neal B, MacMahon S, Chapman N. Effects of ACE inhibitors, calcium antagonists,
apnea. Karakteristik PSG memberikan gambaran baru bagi bernafas.(4) Akibatnya otak akan terbangun sejenak (micro
and other blood-pressure-lowering drugs: Results of prospectively designed penderita Excessive Daytime Sleepiness (EDS) yang sebelumnya arousal) tanpa disadari penderitanya. Proses ini akan memotong-
PEMBAHASAN overviews of randomised trials. Blood Pressure Lowering Treatment Trialists'
Kajian di atas memperlihatkan besarnya masalah hipertensi Collaboration. Lancet 2000;356:1955-64 hanya dianggap sebagai penderita narkolepsi. Pada perkem- motong proses tidur. Tidur yang terpotong disertai kadar
9. Dahlof B, Devereux RB, Kjeldsen SE et al. Cardiovascular morbidity and mortality in
pasca stroke. Beberapa hal yang dapat disimpulkan: (1) hiper- the Losartan Intervention For Endpoint reduction in hypertension study (LIFE): A bangan selanjutnya, istilah Pickwickian Syndrome ditinggalkan oksigen yang rendah akan menyebabkan kantuk berlebih, bahkan
tensi merupakan faktor risiko stroke yang utama, dan akan mene- randomised trial against atenolol. Lancet 2002;359:995-1003.
10. The ALLHAT Officers and Coordinators for the ALLHAT Collaborative Research dan diganti dengan Obstructive Sleep Apnea (OSA) yang diang- pada keadaan lanjut dapat menurunkan kemampuan mental
tap pasca serangan stroke, (2) kemajuan teknologi kedokteran Group. Major outcomes in high-risk hypertensive patients randomized to angioten-
akan meningkatkan jumlah stroke survivor, yang akan mening- sinconverting enzyme inhibitor or calcium channel blocker vs diuretic: The gap lebih tepat. dan kognitif seseorang.(6)
Antihypertensive and Lipid-Lowering Treatment to Prevent Heart Attack Trial
katkan pula jumlah pasien stroke dengan hipertensi, (3) bukti (ALLHAT). JAMA 2002;288:2981-97.
ilmiah secara konsisten menunjukkan manfaat pengendalian 11. The Heart Outcomes Prevention Evaluation Study Investigators. Effects of an Obstructive Sleep Apnea (OSA) merupakan gangguan tidur yang Sayang pengetahuan dan kepekaan masyarakat atas kesehatan
angiotensin converting- enzyme inhibitor, ramipril, on cardiovascular events in
tekanan darah untuk mencegah serangan stroke ulang, (4) beberapa high-risk patients. N Engl J Med 2000;342:145-53.
terutama ditandai dengan mendengkur dan kantuk berlebih;(2) tidur masih amat rendah sehingga ketika berkunjung ke dokter,
uji klinik baru memperlihatkan hasil yang menjanjikan untuk 12. PROGRESS Collaborative Group. Randomised trial of a perindopril-based blood-
prevensi stroke ulang, (5) harga obat yang didukung uji klinik pressure lowering regimen among 6,105 individuals with previous stroke or dua gejala yang sering dijumpai namun jarang mendapatkan mereka tidak dapat mengungkapkan keluhan secara tepat. Tak
transient ischaemic attack. Lancet 2001;358:1033-41.
skala besar masih relatif mahal, (6) perlu diskusi yang mendalam 13. Wing LMH, Reid CM, Ryan P et al. A comparison of outcomes with perhatian. Masyarakat sudah terlanjur menganggap mendengkur heran jika OSA menjadi penyakit yang banyak diderita namun
dengan pasien untuk pengendalian tekanan darah dan pence- angiotensinconverting-enzyme inhibitors and diuretics for hypertension in the
elderly. N Engl J Med. 2003;348:583-92. sebagai tidur lelap yang wajar, sehingga OSA seringkali tidak kurang tereteksi oleh para pekerja kesehatan. Prevalensi OSA
gahan serangan stroke ulang. Pertimbangan keefektifan, keamanan, 14. Psaty BM, Smith NL, Siscovick DS et al. Health outcomes associated with
antihypertensive therapies used as first-line agents. A systematic review and meta- terdiagnosis untuk diterapi dengan baik. Padahal OSA berhu- di Amerika sekitar 5%(7), yang sebagian besar tidak terdiagnosis;
dan keterjangkauan pasien harus didiskusikan dengan pasien.
analysis. JAMA 1997;277:739-45
Hal ini sesuai dengan komponen patient preferences dalam bungan erat dengan hipertensi, penyakit jantung koroner, stroke, sehingga angka morbiditas akibat OSA meningkat akibat gang-
15. Bornstein N, Silvestrelli G, Caso V, Arterial Hypertension and Stroke Prevention: an
komponen Evidence Based Medicine. update. Clin Exp Hypertens. 2006; 28 (3-4): 317-26 hipertensi pulmoner, diabetes dan refluks gastroesophageal.(3) guan kognitif maupun penyakit kardiovaskular yang terjadi.

CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008 CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008
330 331
HASIL PENELITIAN TINJAUAN PUSTAKA

Pada tahun 2005 ada 162 kematian akibat stroke atau 16,4%, Pada beberapa uji klinik, pemberian obat antihipertensi dihubung-
dan 18,4% pada tahun 2006. Hal ini berarti ada kurang lebih
80% stroke survivors, atau sekitar 800 orang. Pada penelitian
faktor risiko, hipertensi dijumpai pada 71% kasus. Jumlah ini
kan dengan penurunan risiko stroke sebesar 35-40%. Penurunan
tekanan darah sistolik sebesar 12 mmHg selama 10 tahun akan
mencegah 1 kematian dari 11 pasien yang mendapat terapi obat
Obstructive Sleep Apnea
sangat signifikan sebagai target program pengendalian tekanan antihipertensi. Kombinasi penghambat ACE dan diuretika tipe Andreas Prasadja, RPSGT, Maula N. Gaharu
darah yang efektif. Bagaimana dengan kepatuhan terapi ? tiazid direkomendasikan untuk prevensi stroke sekunder(8-14). Sleep Technologist, Sleep Disorder Clinic RS Mitra Kemayoran, Jakarta
Hasil observasi menunjukkan ketidakpatuhan dan kurang ter- Dokter Spesialis Saraf RS St Elisabeth, Bekasi, Jakarta
kendalinya hipertensi masih cukup tinggi. Bukti ilmiah secara Bornstein dkk(15) melakukan kajian terhadap berbagai uji klinik
konsisten menunjukkan bahwa hipertensi yang tidak terkendali obat anti hipertensi untuk prevensi stroke. Hasil kajian menun-
merupakan faktor risiko stroke berulang. Penelitian epidemiologi jukkan ada beberapa obat yang didukung oleh uji klinik ber- PENDAHULUAN PATOFISIOLOGI DAN GEJALA KLINIS
memperlihatkan bahwa hanya 70% populasi hipertensi di kualitas baik dan jumlah sampel yang besar, yaitu: (1) HOPE trial Dalam film ataupun buku, kita sering menemukan tokoh pemalas, OSA disebabkan oleh menyempitnya saluran nafas atas secara
Amerika Serikat yang mengetahui kondisi sakitnya, 60% (ramipril vs. placebo), (2) ALLHAT trial (CCB or/and Angiotensin- yang gemuk, mudah tertidur, mendengkur dan selalu absent periodik saat tidur. Penyempitan ini bisa disebabkan oleh kelainan
mendapat terapi, dan 34% terkendali hipertensinya (tekanan Conventing Enzyme Inhibitors (ACE-Is) vs. diuretik), (3) LIFE
darah < 140/90 mmHg). trial (losartan vs. atenolol), dan (4) PROGRESS trial (perindopril minded/clumsy. Bahkan dalam kehidupan sehari-hari pun kita sering struktur anatomis atau gangguan neuromuskular.(4)
or/and indapamide vs. plasebo). menemui orang-orang seperti ini. Tidak jarang, karakter seperti
Bukti penelitian klinis memperlihatkan bahwa beberapa obat ini menjadi bahan tertawaan di lingkungan sahabat dan keluarga. (Gb.1-3)
antihipertensi didukung oleh bukti penelitian klinik yang luas dengan SIMPULAN Padahal ini merupakan gambaran seorang penderita sleep apnea!
jumlah sampel yang besar. Obat-obat tersebut adalah perindopril, Pengendalian tekanan darah pasca stroke merupakan hal yang
losartan, dan ramipril. Pertimbangan biaya terapi tentu merupakan penting untuk mencegah serangan stroke ulang. Bukti uji klinik
hal yang harus dipertimbangkan untuk meningkatkan ketaatan menunjukkan pengendalian tekanan darah yang adekuat akan Manifestasi klinis seperti tersebut di atas, pada tahun 1956 oleh
pasien berobat. Kami melakukan suatu model analisis pembiayaan menurunkan risiko serangan ulang dan komplikasi lain. Pertim- para ahli respirasi dikenal sebagai Pickwickian Syndrome. Ini
obat antihipertensi untuk prevensi stroke sekunder. Data harga bangan keefektifan, keamanan, dan ketejangkauan obat harus
merujuk pada karakter Joe si gendut dari tulisan Charles Dickens di
obat terakhir diperoleh dari pelacakan di www.mimsonline.com. didiskusikan secara seksama dengan pasien.
Hasil analisis pembiayaan obat dapat dilihat pada tabel 2. harian Pickwick. Tetapi, karena kurangnya perhatian pada segala
DAFTAR PUSTAKA sesuatu yang berkaitan dengan tidur, pemeriksaan sleep study Saat inspirasi tekanan intraluminal akan meningkat mencipta-
Tabel 2. Model pembiayaan obat untuk pengendalian tekanan darah 1. American Heart Association, Heart Disease and Stroke Statistics. 2004 update.
American Heart Association (www.strokeaha.org) pada pasien-pasien Pickwickian Syndrome baru dilakukan di kan sebuah suction reflex yang direspon oleh otot-otot dilator
Nama produk Nama generik Bukti uji klinik Harga 2. Mant J, Wade D, Winner S. Health Care Need Assessment in Stroke, Oxford tahun 1970-an. Dari pengamatan selama tidur dengan menggu- saluran nafas sehingga jalan nafas tetap terbuka. Tonus otot-
Radcliffe Medical Press
Prexum Perindopril PROGRESS 4mg x 30's (Rp 215.000) 3. Rothwell PM, Giles MF, Flossmann E et al. A Simple Score (ABCD) to identify nakan alat polisomnografi (PSG), barulah diketahui bahwa pen- otot ini akan melemah saat tidur; menyebabkan penyempitan
individuals at High Early Risk of Stroke after Transient Ischemic Attack. Lancet
Triatec Ramipril HOPE 2.5mg x 60's (Rp 398.772) 2005; 366: 29-36 derita Pickwickian Syndrome selain mendengkur, juga mengalami saluran nafas dan meningkatkan tahanan pada aliran udara.
5mg x 60's (Rp 629.640) 4. Eliasziw M, Kennedy J, Hill MD, Buchan AM. Early Risk of Stroke After Transient
10mg x 30's (Rp 437.250) Ischemic Attack in Patients with Internal Carotid Artery Disease, CMAJ 2004;170: henti nafas di saat tidur. Oleh karena itu Christian Guilleminault Kelainan struktur anatomi yang menyempitkan saluran nafas
1105-9
Cozaar Losartan LIFE 50mg x 2 x 15's (Rp 266.000) Johnston SC, Rothwell PM, Nguyen-Huynh MN, et al. Validation and refinement of
menambahkan perekaman fungsi pernafasan pada pemerik- atas tentu akan memperberat penyempitan sehingga terjadi
5.
Natrilix SR Indapamide ALLHAT 1.5mg x 30's (Rp 107.000)
scores to predict very early stroke risk after transient ischaemic attack. Lancet
2007;369:283–92.
saan PSG rutin.(1) Sebelumnya, semua penderita Excessive penyumbatan saat tidur.(5)
6. Lamassa M, Di Carlo A, Pracucci G, Basile AM et.al. Characteristics, Outcome, and Daytime Sleepiness (EDS) dianggap sebagai penderita narkolepsi.
Care of Stroke Associated with Atrial Fibrillation in Europe Data from a Multicenter
Hasil kajian di atas menunjukkan bahwa harga sebagian obat Multinational Hospital–Based Registry (The European Community Stroke Project). Tetapi dengan karakteristik PSG yang baru, diketahui bahwa Saat terjadi sumbatan, kemoreseptor akan merespon keadaan
Stroke 2001;32;392-8
yang didukung oleh bukti ilmiah uji klinik dengan jumlah sampel 7. Royal College of Physicians. National Clinical Guideline for Stroke, 2nd ed. banyak dari pasien narkolepsi tersebut ternyata menderita sleep kadar CO2 yang terlalu tinggi dengan mengirimkan sinyal untuk
yang besar relatif cukup tinggi. Intercollegiate Stroke Working Party, London, 2004
8. Neal B, MacMahon S, Chapman N. Effects of ACE inhibitors, calcium antagonists,
apnea. Karakteristik PSG memberikan gambaran baru bagi bernafas.(4) Akibatnya otak akan terbangun sejenak (micro
and other blood-pressure-lowering drugs: Results of prospectively designed penderita Excessive Daytime Sleepiness (EDS) yang sebelumnya arousal) tanpa disadari penderitanya. Proses ini akan memotong-
PEMBAHASAN overviews of randomised trials. Blood Pressure Lowering Treatment Trialists'
Kajian di atas memperlihatkan besarnya masalah hipertensi Collaboration. Lancet 2000;356:1955-64 hanya dianggap sebagai penderita narkolepsi. Pada perkem- motong proses tidur. Tidur yang terpotong disertai kadar
9. Dahlof B, Devereux RB, Kjeldsen SE et al. Cardiovascular morbidity and mortality in
pasca stroke. Beberapa hal yang dapat disimpulkan: (1) hiper- the Losartan Intervention For Endpoint reduction in hypertension study (LIFE): A bangan selanjutnya, istilah Pickwickian Syndrome ditinggalkan oksigen yang rendah akan menyebabkan kantuk berlebih, bahkan
tensi merupakan faktor risiko stroke yang utama, dan akan mene- randomised trial against atenolol. Lancet 2002;359:995-1003.
10. The ALLHAT Officers and Coordinators for the ALLHAT Collaborative Research dan diganti dengan Obstructive Sleep Apnea (OSA) yang diang- pada keadaan lanjut dapat menurunkan kemampuan mental
tap pasca serangan stroke, (2) kemajuan teknologi kedokteran Group. Major outcomes in high-risk hypertensive patients randomized to angioten-
akan meningkatkan jumlah stroke survivor, yang akan mening- sinconverting enzyme inhibitor or calcium channel blocker vs diuretic: The gap lebih tepat. dan kognitif seseorang.(6)
Antihypertensive and Lipid-Lowering Treatment to Prevent Heart Attack Trial
katkan pula jumlah pasien stroke dengan hipertensi, (3) bukti (ALLHAT). JAMA 2002;288:2981-97.
ilmiah secara konsisten menunjukkan manfaat pengendalian 11. The Heart Outcomes Prevention Evaluation Study Investigators. Effects of an Obstructive Sleep Apnea (OSA) merupakan gangguan tidur yang Sayang pengetahuan dan kepekaan masyarakat atas kesehatan
angiotensin converting- enzyme inhibitor, ramipril, on cardiovascular events in
tekanan darah untuk mencegah serangan stroke ulang, (4) beberapa high-risk patients. N Engl J Med 2000;342:145-53.
terutama ditandai dengan mendengkur dan kantuk berlebih;(2) tidur masih amat rendah sehingga ketika berkunjung ke dokter,
uji klinik baru memperlihatkan hasil yang menjanjikan untuk 12. PROGRESS Collaborative Group. Randomised trial of a perindopril-based blood-
prevensi stroke ulang, (5) harga obat yang didukung uji klinik pressure lowering regimen among 6,105 individuals with previous stroke or dua gejala yang sering dijumpai namun jarang mendapatkan mereka tidak dapat mengungkapkan keluhan secara tepat. Tak
transient ischaemic attack. Lancet 2001;358:1033-41.
skala besar masih relatif mahal, (6) perlu diskusi yang mendalam 13. Wing LMH, Reid CM, Ryan P et al. A comparison of outcomes with perhatian. Masyarakat sudah terlanjur menganggap mendengkur heran jika OSA menjadi penyakit yang banyak diderita namun
dengan pasien untuk pengendalian tekanan darah dan pence- angiotensinconverting-enzyme inhibitors and diuretics for hypertension in the
elderly. N Engl J Med. 2003;348:583-92. sebagai tidur lelap yang wajar, sehingga OSA seringkali tidak kurang tereteksi oleh para pekerja kesehatan. Prevalensi OSA
gahan serangan stroke ulang. Pertimbangan keefektifan, keamanan, 14. Psaty BM, Smith NL, Siscovick DS et al. Health outcomes associated with
antihypertensive therapies used as first-line agents. A systematic review and meta- terdiagnosis untuk diterapi dengan baik. Padahal OSA berhu- di Amerika sekitar 5%(7), yang sebagian besar tidak terdiagnosis;
dan keterjangkauan pasien harus didiskusikan dengan pasien.
analysis. JAMA 1997;277:739-45
Hal ini sesuai dengan komponen patient preferences dalam bungan erat dengan hipertensi, penyakit jantung koroner, stroke, sehingga angka morbiditas akibat OSA meningkat akibat gang-
15. Bornstein N, Silvestrelli G, Caso V, Arterial Hypertension and Stroke Prevention: an
komponen Evidence Based Medicine. update. Clin Exp Hypertens. 2006; 28 (3-4): 317-26 hipertensi pulmoner, diabetes dan refluks gastroesophageal.(3) guan kognitif maupun penyakit kardiovaskular yang terjadi.

CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008 CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008
330 331
TINJAUAN PUSTAKA TINJAUAN PUSTAKA

Gejala-gejala lain yang dapat ditemukan pada pasien OSA:(2,8) Dari Gb.4 dapat dilihat bahwa hipertensi berkaitan erat dengan Dari pemeriksaan polisomnografi, dapat dilihat arsitektur tidur DAFTAR PUSTAKA
1. Nyeri kepala di pagi hari OSA secara independen. Peppard dkk(12) menyatakan bahwa pasien serta derajat keparahan OSA yang dinilai dengan Apnea-
2. Nokturia sepertiga penderita hipertensi juga menderita OSA. Bahkan Hypopnea Index (AHI). Selain itu kondisi pasien juga dapat 1. Dement W. The Promise of Sleep. London: Pan Books 2001. p:167-193.
3. Tersedak atau rasa kehabisan nafas saat tidur laporan Joint National Committee on Prevention, Detection, dinilai dari jumlah micro-arousals yang memotong proses tidur, 2. Sullivan CE, Issa FG. Obstructive sleep apnea in clinics. Chest Medicine
4. Kualitas tidur yang kurang nyenyak, sleep state mispercep- penurunan saturasi oksigen, denyut dan irama jantung, serta 1985;6:633-650.
Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure menyebut-
tion, insomnia durasi tiap episode henti nafas. 3. Collop N. The effect of obstructive sleep apnea on chronic medical disorders.
kan sleep apnea sebagai penyebab hipertensi yang utama dan Cleve Clin J Med 2007;74(1): 72-78
5. Mulut terasa kering saat terbangun dapat dikenali.(13) Sementara penelitian lain menunjukkan 4. Sullivan CE, Grunstein RR, Marrone O, Berthon-Jones M. Sleep apnea –
6. Konsentrasi terganggu bahwa perawatan OSA menggunakan CPAP dapat menu- Diagnosis OSA harus berdasarkan pada PSG dan manifestasi pathophysiology: upper airway and control of breathing. In Guilleminault. C.
7. Daya ingat menurun klinis.(20) Pasien dewasa biasanya mengeluhkan rasa kantuk OSAS: Clinical Research and Treatment. New York. Raven Press 1990. p.49-69.
runkan tekanan darah secara bermakna.(14)
8. Mudah marah, emosional berlebih di siang hari, rasa kurang segar saat bangun tidur, cepat 5. Boehlecke BA. OSAHS: Epidemiology and pathogenesis. Sleep Syllabus
9. Depresi lelah, insomnia, terbangun dengan rasa tersedak/ tercekik atau 2006. p.49-58.
DIAGNOSIS 6. Weaver TE, George CFP. Cognition and performance in patients with OSA. In
10. Hipertensi keluhan dari pasangan yang merasa terganggu dengan suara
Pemeriksaan menyeluruh yang meliputi anamnesis, riwayat Kryger MH, Roth T, Dement W. Principle and Practice of Sleep Medicine 4th ed.
11. Nyeri dada di waktu malam dengkuran. Jika pasien tersebut simptomatik, AHI>5 sudah Philadelphia. Elsevier 2005. p.1023-33.
penyakit, riwayat tidur serta gaya hidup harus dilakukan untuk dianggap positif menderita OSA. Sedangkan pada pasien yang
12. Kelebihan berat badan (obesitas) 7. Young T, Peppard PE, Gottlieb DJ. Epidemiology of OSA: a population health
mencari ciri-ciri OSA atau gangguan tidur lainnya. Keluhan tidak mempunyai keluhan apapun selain mendengkur, AHI>15 perspective. Am J Respir Crit Care Med 2002; 165:1217-39.
13. Masalah seksual - Impotensi
14. Bentuk leher yang pendek namun besar atau laporan dari pasangan tidur dianggap memiliki bobot baru dianggap positif. 8. Atwood CW. Obstructive sleep apnea: clinical presentation. Sleep Syllabus
yang amat penting karena penderita tidak pernah menyadari 2006. p.44-8.
15. Kelainan kraniofasial, retrognathia
keadaan dirinya saat mendengkur.(15) TATALAKSANA 9. Punjabi NM, Beamer BA. Sleep apnea and metabolic dysfunction. In Kryger
MH, Roth T, Dement W. Principle and Practice of Sleep Medicine 4th ed.
Dari sekian banyak gejala, biasanya penderita tidak pernah Standar emas tatalaksana OSA adalah dengan menggunakan Philadelphia. Elsevier 2005. p.1034-1039.
mengaitkannya dengan kebiasaan tidur. Misalkan keluhan cepat Baku emas diagnosis gangguan tidur adalah pemeriksaan nasal CPAP (Continuous Positive Airway Pressure) (16). CPAP 10. Resnick HE, Redline S, Shahar E, Gilpin A, Newman A, Walter R, Ewy GA,
lelah dan sering berkemih di malam hari dikaitkan dengan polisomnografi (PSG) yang dilakukan sepanjang malam di memberikan udara bertekanan yang diharapkan akan membuka Howard BV, Punjabi NM; Sleep Heart Health Study. Diabetes and sleep
sumbatan di orofaring, dengan demikian periode apnea tidak disturbances: findings from the Sleep Heart Health Study. Diabetes Care 2003
diabetes, padahal, hasil gula darah berada pada ambang batas laboratorium tidur.(16,17) Standar PSG meliputi perekaman aliran Mar;26(3):702-9.
normal tertinggi. Kini telah diketahui bahwa kadar oksigen darah udara nafas, gerakan nafas, elektroensefalografi (EEG), terjadi(2). Namun penggunaan alat ini mempunyai tantangan
11. Bradley TD, Floras JS. Sleep apnea and heart failure: Part I: obstructive sleep
yang fluktuatif dan periode microarousal yang berulang dapat tersendiri berupa proses adaptasi bagi penderita. Tidak jarang apnea. Circulation. 2003;107:1671-8.
elektromiografi (EMG), elektrookulogrofi (EOG), elektrokardio-
penderita merasa kurang nyaman dengan tiupan udara ber- 12. Peppard PE, Young T, Palta M, Skatrud J. Prospective study of the association
mengganggu sistem metabolik pasien OSA melalui aktivasi grafi (ECG), saturasi oksigen dan posisi badan.
tekanan maupun masker yang harus dikenakan sepanjang malam. between sleep-disordered breathing and hypertension. N Engl J Med
sistem simpatis.(9) Resnick dkk (10) lebih jauh menyebutkan 2000;342:1378-84.
Belum lagi tanggapan keluarga dan lingkungan yang masih
bahwa 58% penderita diabetes juga menderita OSA. PSG terdiri dari 4 tipe.(18) Tipe pertama, merupakan PSG 13. Chobanian AV, Bakris GL, Black HR, et al. The seventh report of the Joint
asing dengan penggunaan alat tersebut. Kemajuan teknologi
lengkap; minimum terdiri dari 7 channels dalam laboratorium National Committee on prevention, detection, evaluation, and treatment of
seperti autotitration dan rancangan masker telah menciptakan high blood pressure: the JNC 7 report. JAMA 2003; 289:2560-2572.
Efek kardiovaskular OSA merupakan bidang yang paling banyak dengan diamati oleh tenaga khusus sepanjang malam. Tipe kenyamanan yang lebih baik bagi penderita; untuk itu diperlukan 14. Becker HF, Jerrentrup A, Ploch T, Grote L, Penzel T, Sullivan CE, Peter JH.
menarik perhatian saat ini. Sistem kardiovaskular terganggu kedua juga merupakan PSG lengkap, tetapi pemeriksaannya masa trial tersendiri. Dalam masa ini kondisi penderita dan respon Effect of nasal continuous positive airway pressure treatment on blood
oleh beberapa faktor, antara lain hipoksemi, meningkatnya pressure in patients with obstructive sleep apnea. Circulation 2003;107:68-73.
dilakukan di tempat tinggal pasien, tidak diawasi secara terhadap alat direkam dan dianalisis untuk memilih alat, jenis
tekanan intratorakal, dan aktivasi sistem saraf simpatis yang 15. Ramsey R, Khanna A, Strohl KP. History and physical examination. In Kushida
langsung seperti tipe pertama. Tipe ketiga merupakan pemerik- masker, efektifitas terapi dan tekanan yang akan digunakan.
semuanya merupakan akibat sleep apnea.(11) CA. Obstructive sleep apnea: diagnosis and treatment. New York. Informa
saan portable sleep apnea testing yang lebih dikenal dengan Tak kalah penting, adalah edukasi bagi penderita serta lingku- healthcare 2007. p.1-20.
sebutan perekaman kardio-respiratori. Sedangkan tipe keempat ngannya.(21) Tak jarang, yang terpenting dalam terapi justru 16. Phillips B, Kryger MH. Management of obstructive sleep apnea-hypopnea
(Gb.4)
hanya merekam aliran udara di hidung dan kadar oksigen. dukungan dari keluarga. syndrome: overview. In Kryger MH, Roth T, Dement W. Principle and Practice
of Sleep Medicine 4th ed. Philadelphia. Elsevier 2005. p.1109-1121.
American Academy of Sleep Medicine, mengakui pemeriksaan
Pilihan terapi lainnya berupa pembedahan masih dalam perdebatan. 17. Kushida CA, Littner MR, Morgenthaler T, Alessi CA, et.al. Practice parameters
Tipe 1 dan 3 sebagai pemeriksaan standar untuk mendiagnosis for the indications for polysomnography and related procedure: an update for
OSA(19), sementara Tipe 4 masih dianggap sebagai alat penya- Teknik-teknik seperti Uvulopalatopharyngoplasty (UPPP), jaw 2005. Sleep 2005;28: 499-519.
ring saja. Pada pemeriksaan tipe 3 harus ada tenaga berkualifikasi enhancement, glossectomy, tounge resection dan lain-lain, 18. AASM Task Force. Sleep-related breathing disorders in adults: recommenda-
khusus yang membaca serta menganalisis hasil pemeriksaan masih terus dikembangkan. Dengan kemajuan teknologi pem- tions for syndrome definition and measurement techniques in clinical research.
bedahan yang semakin non-invasif, bukan tidak mungkin di masa Sleep 1999;22: 667-689.
secara manual, setara dengan pada tipe 1. 19. Collop NA, Anderson WM, Boehlecke B, Claman D, GoldbergR, Gottlieb DJ,
depan, pembedahan menjadi terapi primer bagi OSA.(22)
Hudgel D, Sateia M, Schwab R. Clinical guidelines for the use of unattended
portable monitors in the diagnosis of obstructive sleep apnea in adult patients.
Gb.4. Ket.: OSA akan meningkatkan tekanan transmural pada ventrikel kiri (LV)
akibat terciptanya tekanan negatif intratorakal (Pit) dan meningkatnya tekanan
SIMPULAN J Clin Sleep Med 2007;3(7):737-747.
darah sistemik (Bp.) Tekanan darah sendiri meningkat akibat kondisi hipoksia, Obstructive Sleep Apnea (OSA) merupakan gangguan tidur 20. American Academy of Sleep Medicine. International classification of sleep
micro arousal dan meningkatnya aktivitas sistem saraf simpatis (SNA.) Apnea yang sudah lama dikenal. Namun manifestasi klinis yang sering disorders, 2nd ed. American Academy of Sleep Medicine 2005; 51-55.
juga akan menekan efek penghambat aktivitas simpatis dari reseptor peregan- 21. Chervin RD, Theut S, Basseti C, Aldrich MS. Compliance with nasal CPAP can
gan paru, sehingga lebih meningkatkan lagi SNA. Kombinasi dari meningkat- dianggap normal menyebabkan diagnosis OSA sering kali luput
be improved by simple interventions. Sleep 1997;20:284-289.
nya LV dan irama jantung (HR) akibat meningkatnya SNA, akan meningkatkan dari perhatian. Kendati bermacam manifestasi klinis dapat
kebutuhan O2, justru di saat suplai O2 ke otot jantung berkurang. Keadaan ini 22. Powell NB, Riley RW, Guilleminault C. Surgical management of sleep-
menjadi komorbiditas dari OSA, tatalaksana yang optimal belum disordered breathing. In Kryger MH, Roth T, Dement W. Principle and Practice
secara akut menyebabkan iskemi jantung dan aritmi, serta secara kronis
menyebabkan hipertrofi ventrikel kiri dan akhirnya menjadi payah jantung. (11) dilakukan dengan baik. of Sleep Medicine 4th ed. Philadelphia. Elsevier 2005.p.1081-1097.

CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008 CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008
332 333
TINJAUAN PUSTAKA TINJAUAN PUSTAKA

Gejala-gejala lain yang dapat ditemukan pada pasien OSA:(2,8) Dari Gb.4 dapat dilihat bahwa hipertensi berkaitan erat dengan Dari pemeriksaan polisomnografi, dapat dilihat arsitektur tidur DAFTAR PUSTAKA
1. Nyeri kepala di pagi hari OSA secara independen. Peppard dkk(12) menyatakan bahwa pasien serta derajat keparahan OSA yang dinilai dengan Apnea-
2. Nokturia sepertiga penderita hipertensi juga menderita OSA. Bahkan Hypopnea Index (AHI). Selain itu kondisi pasien juga dapat 1. Dement W. The Promise of Sleep. London: Pan Books 2001. p:167-193.
3. Tersedak atau rasa kehabisan nafas saat tidur laporan Joint National Committee on Prevention, Detection, dinilai dari jumlah micro-arousals yang memotong proses tidur, 2. Sullivan CE, Issa FG. Obstructive sleep apnea in clinics. Chest Medicine
4. Kualitas tidur yang kurang nyenyak, sleep state mispercep- penurunan saturasi oksigen, denyut dan irama jantung, serta 1985;6:633-650.
Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure menyebut-
tion, insomnia durasi tiap episode henti nafas. 3. Collop N. The effect of obstructive sleep apnea on chronic medical disorders.
kan sleep apnea sebagai penyebab hipertensi yang utama dan Cleve Clin J Med 2007;74(1): 72-78
5. Mulut terasa kering saat terbangun dapat dikenali.(13) Sementara penelitian lain menunjukkan 4. Sullivan CE, Grunstein RR, Marrone O, Berthon-Jones M. Sleep apnea –
6. Konsentrasi terganggu bahwa perawatan OSA menggunakan CPAP dapat menu- Diagnosis OSA harus berdasarkan pada PSG dan manifestasi pathophysiology: upper airway and control of breathing. In Guilleminault. C.
7. Daya ingat menurun klinis.(20) Pasien dewasa biasanya mengeluhkan rasa kantuk OSAS: Clinical Research and Treatment. New York. Raven Press 1990. p.49-69.
runkan tekanan darah secara bermakna.(14)
8. Mudah marah, emosional berlebih di siang hari, rasa kurang segar saat bangun tidur, cepat 5. Boehlecke BA. OSAHS: Epidemiology and pathogenesis. Sleep Syllabus
9. Depresi lelah, insomnia, terbangun dengan rasa tersedak/ tercekik atau 2006. p.49-58.
DIAGNOSIS 6. Weaver TE, George CFP. Cognition and performance in patients with OSA. In
10. Hipertensi keluhan dari pasangan yang merasa terganggu dengan suara
Pemeriksaan menyeluruh yang meliputi anamnesis, riwayat Kryger MH, Roth T, Dement W. Principle and Practice of Sleep Medicine 4th ed.
11. Nyeri dada di waktu malam dengkuran. Jika pasien tersebut simptomatik, AHI>5 sudah Philadelphia. Elsevier 2005. p.1023-33.
penyakit, riwayat tidur serta gaya hidup harus dilakukan untuk dianggap positif menderita OSA. Sedangkan pada pasien yang
12. Kelebihan berat badan (obesitas) 7. Young T, Peppard PE, Gottlieb DJ. Epidemiology of OSA: a population health
mencari ciri-ciri OSA atau gangguan tidur lainnya. Keluhan tidak mempunyai keluhan apapun selain mendengkur, AHI>15 perspective. Am J Respir Crit Care Med 2002; 165:1217-39.
13. Masalah seksual - Impotensi
14. Bentuk leher yang pendek namun besar atau laporan dari pasangan tidur dianggap memiliki bobot baru dianggap positif. 8. Atwood CW. Obstructive sleep apnea: clinical presentation. Sleep Syllabus
yang amat penting karena penderita tidak pernah menyadari 2006. p.44-8.
15. Kelainan kraniofasial, retrognathia
keadaan dirinya saat mendengkur.(15) TATALAKSANA 9. Punjabi NM, Beamer BA. Sleep apnea and metabolic dysfunction. In Kryger
MH, Roth T, Dement W. Principle and Practice of Sleep Medicine 4th ed.
Dari sekian banyak gejala, biasanya penderita tidak pernah Standar emas tatalaksana OSA adalah dengan menggunakan Philadelphia. Elsevier 2005. p.1034-1039.
mengaitkannya dengan kebiasaan tidur. Misalkan keluhan cepat Baku emas diagnosis gangguan tidur adalah pemeriksaan nasal CPAP (Continuous Positive Airway Pressure) (16). CPAP 10. Resnick HE, Redline S, Shahar E, Gilpin A, Newman A, Walter R, Ewy GA,
lelah dan sering berkemih di malam hari dikaitkan dengan polisomnografi (PSG) yang dilakukan sepanjang malam di memberikan udara bertekanan yang diharapkan akan membuka Howard BV, Punjabi NM; Sleep Heart Health Study. Diabetes and sleep
sumbatan di orofaring, dengan demikian periode apnea tidak disturbances: findings from the Sleep Heart Health Study. Diabetes Care 2003
diabetes, padahal, hasil gula darah berada pada ambang batas laboratorium tidur.(16,17) Standar PSG meliputi perekaman aliran Mar;26(3):702-9.
normal tertinggi. Kini telah diketahui bahwa kadar oksigen darah udara nafas, gerakan nafas, elektroensefalografi (EEG), terjadi(2). Namun penggunaan alat ini mempunyai tantangan
11. Bradley TD, Floras JS. Sleep apnea and heart failure: Part I: obstructive sleep
yang fluktuatif dan periode microarousal yang berulang dapat tersendiri berupa proses adaptasi bagi penderita. Tidak jarang apnea. Circulation. 2003;107:1671-8.
elektromiografi (EMG), elektrookulogrofi (EOG), elektrokardio-
penderita merasa kurang nyaman dengan tiupan udara ber- 12. Peppard PE, Young T, Palta M, Skatrud J. Prospective study of the association
mengganggu sistem metabolik pasien OSA melalui aktivasi grafi (ECG), saturasi oksigen dan posisi badan.
tekanan maupun masker yang harus dikenakan sepanjang malam. between sleep-disordered breathing and hypertension. N Engl J Med
sistem simpatis.(9) Resnick dkk (10) lebih jauh menyebutkan 2000;342:1378-84.
Belum lagi tanggapan keluarga dan lingkungan yang masih
bahwa 58% penderita diabetes juga menderita OSA. PSG terdiri dari 4 tipe.(18) Tipe pertama, merupakan PSG 13. Chobanian AV, Bakris GL, Black HR, et al. The seventh report of the Joint
asing dengan penggunaan alat tersebut. Kemajuan teknologi
lengkap; minimum terdiri dari 7 channels dalam laboratorium National Committee on prevention, detection, evaluation, and treatment of
seperti autotitration dan rancangan masker telah menciptakan high blood pressure: the JNC 7 report. JAMA 2003; 289:2560-2572.
Efek kardiovaskular OSA merupakan bidang yang paling banyak dengan diamati oleh tenaga khusus sepanjang malam. Tipe kenyamanan yang lebih baik bagi penderita; untuk itu diperlukan 14. Becker HF, Jerrentrup A, Ploch T, Grote L, Penzel T, Sullivan CE, Peter JH.
menarik perhatian saat ini. Sistem kardiovaskular terganggu kedua juga merupakan PSG lengkap, tetapi pemeriksaannya masa trial tersendiri. Dalam masa ini kondisi penderita dan respon Effect of nasal continuous positive airway pressure treatment on blood
oleh beberapa faktor, antara lain hipoksemi, meningkatnya pressure in patients with obstructive sleep apnea. Circulation 2003;107:68-73.
dilakukan di tempat tinggal pasien, tidak diawasi secara terhadap alat direkam dan dianalisis untuk memilih alat, jenis
tekanan intratorakal, dan aktivasi sistem saraf simpatis yang 15. Ramsey R, Khanna A, Strohl KP. History and physical examination. In Kushida
langsung seperti tipe pertama. Tipe ketiga merupakan pemerik- masker, efektifitas terapi dan tekanan yang akan digunakan.
semuanya merupakan akibat sleep apnea.(11) CA. Obstructive sleep apnea: diagnosis and treatment. New York. Informa
saan portable sleep apnea testing yang lebih dikenal dengan Tak kalah penting, adalah edukasi bagi penderita serta lingku- healthcare 2007. p.1-20.
sebutan perekaman kardio-respiratori. Sedangkan tipe keempat ngannya.(21) Tak jarang, yang terpenting dalam terapi justru 16. Phillips B, Kryger MH. Management of obstructive sleep apnea-hypopnea
(Gb.4)
hanya merekam aliran udara di hidung dan kadar oksigen. dukungan dari keluarga. syndrome: overview. In Kryger MH, Roth T, Dement W. Principle and Practice
of Sleep Medicine 4th ed. Philadelphia. Elsevier 2005. p.1109-1121.
American Academy of Sleep Medicine, mengakui pemeriksaan
Pilihan terapi lainnya berupa pembedahan masih dalam perdebatan. 17. Kushida CA, Littner MR, Morgenthaler T, Alessi CA, et.al. Practice parameters
Tipe 1 dan 3 sebagai pemeriksaan standar untuk mendiagnosis for the indications for polysomnography and related procedure: an update for
OSA(19), sementara Tipe 4 masih dianggap sebagai alat penya- Teknik-teknik seperti Uvulopalatopharyngoplasty (UPPP), jaw 2005. Sleep 2005;28: 499-519.
ring saja. Pada pemeriksaan tipe 3 harus ada tenaga berkualifikasi enhancement, glossectomy, tounge resection dan lain-lain, 18. AASM Task Force. Sleep-related breathing disorders in adults: recommenda-
khusus yang membaca serta menganalisis hasil pemeriksaan masih terus dikembangkan. Dengan kemajuan teknologi pem- tions for syndrome definition and measurement techniques in clinical research.
bedahan yang semakin non-invasif, bukan tidak mungkin di masa Sleep 1999;22: 667-689.
secara manual, setara dengan pada tipe 1. 19. Collop NA, Anderson WM, Boehlecke B, Claman D, GoldbergR, Gottlieb DJ,
depan, pembedahan menjadi terapi primer bagi OSA.(22)
Hudgel D, Sateia M, Schwab R. Clinical guidelines for the use of unattended
portable monitors in the diagnosis of obstructive sleep apnea in adult patients.
Gb.4. Ket.: OSA akan meningkatkan tekanan transmural pada ventrikel kiri (LV)
akibat terciptanya tekanan negatif intratorakal (Pit) dan meningkatnya tekanan
SIMPULAN J Clin Sleep Med 2007;3(7):737-747.
darah sistemik (Bp.) Tekanan darah sendiri meningkat akibat kondisi hipoksia, Obstructive Sleep Apnea (OSA) merupakan gangguan tidur 20. American Academy of Sleep Medicine. International classification of sleep
micro arousal dan meningkatnya aktivitas sistem saraf simpatis (SNA.) Apnea yang sudah lama dikenal. Namun manifestasi klinis yang sering disorders, 2nd ed. American Academy of Sleep Medicine 2005; 51-55.
juga akan menekan efek penghambat aktivitas simpatis dari reseptor peregan- 21. Chervin RD, Theut S, Basseti C, Aldrich MS. Compliance with nasal CPAP can
gan paru, sehingga lebih meningkatkan lagi SNA. Kombinasi dari meningkat- dianggap normal menyebabkan diagnosis OSA sering kali luput
be improved by simple interventions. Sleep 1997;20:284-289.
nya LV dan irama jantung (HR) akibat meningkatnya SNA, akan meningkatkan dari perhatian. Kendati bermacam manifestasi klinis dapat
kebutuhan O2, justru di saat suplai O2 ke otot jantung berkurang. Keadaan ini 22. Powell NB, Riley RW, Guilleminault C. Surgical management of sleep-
menjadi komorbiditas dari OSA, tatalaksana yang optimal belum disordered breathing. In Kryger MH, Roth T, Dement W. Principle and Practice
secara akut menyebabkan iskemi jantung dan aritmi, serta secara kronis
menyebabkan hipertrofi ventrikel kiri dan akhirnya menjadi payah jantung. (11) dilakukan dengan baik. of Sleep Medicine 4th ed. Philadelphia. Elsevier 2005.p.1081-1097.

CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008 CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008
332 333
HASIL PENELITIAN HASIL PENELITIAN

Dalam penelitian ini digunakan peralatan : 1 set DG Discovery tidur ke dua oleh plasebo, dan tidur ke tiga oleh Coriandri fructus.
Efek Coriandri fructus terhadap dari Medelec beserta kelengkapannya. DG Discovery adalah Periode wash out setelah meminum Lorazepam adalah empat
alat perekam gelombang listrik tubuh manusia, khususnya
Distribusi Rapid Eye Movement (REM) gelombang otak. Dalam penelitian ini yang direkam hanya tiga
sampai lima hari.

dibandingkan dengan Lorazepam macam gelombang, yaitu Electroencephalogram (EEG) seban-


yak satu pasang (dua channel), Electro-oculogram (EOG) seban-
Persiapan Subjek
Subyek harus melakukan beberapa persiapan sebelum peneli-
yak satu pasang (dua channel), dan Electromyogram (EMG) tian tidur dilakukan, sesuai petunjuk. Petunjuk dimaksudkan
Lili Indrawati
sebanyak sepasang (dua channel). Hasil rekaman disimpan agar ada kesamaan pada setiap kali tidur guna mengurangi
Dosen Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas YARSI, Jakarta
dalam optical disc. bias. Persiapan tersebut dibagi menjadi dua, yaitu tiga hari
PENDAHULUAN Obat-obatan yang menginduksi tidur, seperti benzodiazepin, sebelum penelitian dan pada hari dilakukannya penelitian.
Cara Kerja
Benzodiazepin adalah hipnotik yang paling banyak diresepkan antihistamin, antidepresan, dan barbiturat dapat menimbulkan
Rancangan Penelitian
untuk pasien insomnia karena dapat menyebabkan kantuk kekantukan di hari berikutnya (kekantukan di siang hari). Kekan- Metode Analisis
Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah single
dengan cara memperpendek masa laten permulaan tidur. tukan di siang hari juga berhubungan dengan kualitas dan konti- Metode analisis data menggunakan one-way of variance.
subject research atau rancangan sama subjek (McGuigan,
Lorazepam, salah satu golongan benzodiazepin, pada dosis nuitas tidur malam sebelumnya7. Kekantukan di hari berikutnya Perbandingan antara Coriandri fructus dengan plasebo dan
1990) pada 11 orang subjek. Penelitian ini membandingkan
terapi secara umum menekan aktivitas fisik, menurunkan disebabkan oleh waktu paruh eliminasi obat yang panjang dan lorazepam dianalisis menggunakan metode Tukey dengan asumsi
antara Coriandri fructus, Lorazepam dan kontrol. Data yang
respon terhadap rangsangan emosi, dan bersifat menenang- menurunnya kualitas tidur akibat pengaruh obat-obatan terhadap data memiliki distribusi normal dan memiliki variasi yang sama.
terkumpul disajikan dalam bentuk tabel dan grafik yang
kan, namun lorazepam mempengaruhi distribusi dan lamanya distribusi dan lamanya SWS dan REM. Survai di beberapa negara nantinya dibahas secara kuantitatif. Seluruh perhitungan statistik dalam penelitian ini menggunakan
Rapid Eye Movement Sleep (REMS) dan Slow Waves Sleep (SWS)1. seperti Perancis, Inggris, Jerman, dan Itali menunjukkan 20% Pengukuran Parameter Penelitian program Statistical Program for Social Science 10.0.1.
Hampir semua benzodiazepin meningkatkan latensi REMS dan subyek mengalami kekantukan di siang hari. 1) Jumlah (dalam menit) episode REMS pada 2,5 jam pertama tidur.
memperpendek lamanya REMS 2,3. Efek samping obat golongan 2) Jumlah (dalam menit) episode REMS pada 2,5 jam kedua tidur. HASIL DAN PEMBAHASAN
benzodiazepin sangat bervariasi akibat depresi fungsi susunan Kewaspadaan berasal dari kemampuan otak untuk memper- 3) Jumlah (dalam menit) episode REMS pada 2,5 jam terakhir tidur; Dari hasil pemeriksaan fisik seluruh subyek dinyatakan sehat.
saraf pusat. Efek samping yang muncul berhubungan dengan tahankan keadaan jaga dan konsentrasi, sedangkan kekantukan Data hasil pemeriksaan laboratorium darah subyek yang
dosis, sehingga pemberian lorazepam pada pasien berobat jalan dihasilkan oleh kegagalan mempertahankan kewaspadaan di Metode Penarikan Sampel diperoleh sebelum penelitian tidur malam menunjukkan bahwa
harus hati-hati karena dosis yang relatif rendah dapat menye- siang hari8 . Kapasitas okupasional dan kualitas hidup domestik Pada penelitian ini subyek dipilih menggunakan teknik purposive seluruh subjek mempunyai fungsi hati dan ginjal, serta jumlah
babkan kantuk, berkurangnya kemampuan dalam pengambilan jelas berkurang pada orang yang merasa mengantuk dibanding sampling (Shaughnessy & Zechmeister, 1994), berdasarkan kriteria sel darah dan trombosit yang normal.
keputusan dan berkurangnya ketrampilan motorik, kadang- dengan yang kewaspadaannya baik 9. Kekantukan siang hari sebagai berikut:
kadang sangat berpengaruh terhadap kemampuan mengemudi, yang patologis juga dapat membahayakan kehidupan pasien Kriteria inklusi subyek yaitu pria sehat, umur 20-25 tahun, Tiga hari sebelum subyek menjalani polisomnografi sepanjang
kinerja dalam pekerjaan, dan hubungan personal4. (misal saat mengendarai mobil), sehingga sangat penting untuk bebas obat termasuk obat yang diresepkan oleh dokter, mem- malam, ia diharapkan tidur dan bangun pada waktu yang sama.
mengembangkan pengertian tentang penyebab yang mendasari punyai kebiasaan tidur paling sedikit 7 jam sehari, mulai sekitar Catatan harian tidur dan jaga tiga hari menjelang penelitian tidur
Penelitian yang untuk mengetahui fungsi tidur REM menduga kekantukan siang hari 10. jam 21.00-22.00. malam menunjukkan rata-rata lamanya tidur yang hampir sama.
otak yang aktif pada tidur REM berfungsi untuk konsolidasi Kriteria eksklusi adalah penyakit fisik, merokok, penyakit alergi Dari kesebelas orang sampel tidak terdapat perbedaan yang
misalnya rhinitis alergika, dermatitis, dan asma, sering terbangun bermakna antara lama tidur, sehingga dapat dianggap variasi
memori, sintesis informasi baru atau yang diadaptasikan, atau Dengan makin meningkatnya keluhan insomnia (di Amerika
di malam hari, memiliki kebiasaan tidur siang, dan peminum alkohol. pada polisomnografi sepanjang malam masing-masing sampel
penempatan informasi ke dalam suatu kerangka asosiasi internal. meningkat dari 27% menjadi 30%) 11,12 diperlukan obat alter-
Subyek yang memenuhi syarat dan bersedia terlibat sebagai bukan karena pengaruh dari lama tidur sampel tiga hari sebelumnya.
Penelitian pada binatang memperlihatkan bahwa tidur REM natif di samping obat yang sudah ada. Selain itu akibat yang dapat
subjek penelitian diminta mengisi Lembar Persetujuan Uji Klinik.
meningkat setelah pelatihan (learning) dan bahwa kehilangan ditimbulkan baik oleh insomnia maupun oleh obat untuk mengatasi
Besar sampel diketahui berdasarkan rumus13 : Tiga Parameter Distribusi REMS per 2,5 Jam Tidur.
tidur REM setelah pelatihan mengakibatkan penurunan retensi5. insomnia juga merupakan alasan dibutuhkannya obat alternatif.
Obat alternatif diharapkan dapat meningkatkan kualitas tidur, Grafik 1 Tabel 1, dan Grafik 2 memperlihatkan tiga parameter
n = 3* (Zα + Zβ )2* SD2/Δ2 distribusi REMS per 2,5 jam tidur. Walaupun diharapkan REMS
Tidur REM mungkin membantu konsolidasi learning2. Meski- dengan efek samping minimal dan mudah didapat oleh masyarakat.
pun belum diketahui fungsinya dengan pasti, manusia jelas Obat alternatif yang masih banyak dimanfaatkan oleh penduduk dominan pada 2,5 jam terakhir tidur, namun agar gambaran ke-
Jumlah subyek yang diperlukan untuk mendeteksi perbedaan
membutuhkan tidur REM maupun SWS karena setelah dilaku- Indonesia adalah obat asli Indonesia yang berasal dari tumbuhan. seluruhan efek Coriandri fructus dibandingkan dengan lorazepam
yang bermakna secara klinis sebesar 20 % antar perlakuan,
kan deprivasi terhadap tidur REM maupun SWS, subjek akan terhadap distribusi REMS terlihat dengan jelas maka REMS pada
dengan tingkat kebermaknaan (α) 0,05, dan tingkat kepastian
meningkatkan jumlah maupun lamanya tidur REM atau SWS Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui manfaat Coriandri 2,5 jam pertama tidur dan pada 2,5 jam kedua tidur juga ditampilkan.
(1-β) 80%, simpangan baku untuk setiap observasi 15%, adalah
pada malam recovery 5. fructus (ketumbar) sebagai obat tidur, dengan melihat efeknya sebanyak 11 orang. Lorazepam terutama menekan REM pada 2,5 jam pertama
terhadap distribusi tidur REM selama tidur malam hari. tidur dan pada 2,5 jam terakhir tidur (Grafik 1 dan 2). Rata-rata
Kualitas tidur yang baik umumnya menunjukkan Sleep Onset Prosedur Pengumpulan Data REMS pada 2,5 jam pertama tidur selama Overnight Polysom-
Latency (SOL) yang tidak terlalu panjang dan Number of Stage BAHAN DAN CARA Data diperoleh dari hasil perekaman gelombang aktivitas otak nography pada subyek yang tidur diinduksi plasebo adalah
Shift (NSS) yang tidak terlalu sering. Selain itu jumlah SWS harus Bahan yang diuji adalah Coriandri fructus (ketumbar) dikering- dan otot, serta gerakan bola mata melalui polisomnografi sepan- 7,9±7,596 menit. Sedangkan pada subjek yang tidur diinduksi
cukup khususnya pada dua sampai empat jam pertama6, sedang- kan menggunakan oven, selanjutnya dibuat serbuk. Kemudian jang malam pada 33 kali tidur masing-masing selama 7,5 jam oleh lorazepam adalah 1,7 ± 3,068 menit dan pada subjek yang tidur
kan episode tidur REM diharapkan menjadi sangat dominan ditimbang sebanyak 3 gram dan dimasukkan ke dalam kapsul. 11 orang subyek. Setiap subjek tidur tiga kali yang disebabkan oleh diinduksi Coriandri fructus adalah 7,9 ± 8,035 menit. Hasil ANOVA
pada sepertiga bagian terakhir malam1. Obat pembanding menggunakan Lorazepam (2 mg). tiga obat yang berbeda, tidur pertama disebabkan Lorazepam, untuk REMS pada 2,5 jam pertama tidur p=0,055. (Grafik 1)

CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008 CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008
334 335
HASIL PENELITIAN HASIL PENELITIAN

Dalam penelitian ini digunakan peralatan : 1 set DG Discovery tidur ke dua oleh plasebo, dan tidur ke tiga oleh Coriandri fructus.
Efek Coriandri fructus terhadap dari Medelec beserta kelengkapannya. DG Discovery adalah Periode wash out setelah meminum Lorazepam adalah empat
alat perekam gelombang listrik tubuh manusia, khususnya
Distribusi Rapid Eye Movement (REM) gelombang otak. Dalam penelitian ini yang direkam hanya tiga
sampai lima hari.

dibandingkan dengan Lorazepam macam gelombang, yaitu Electroencephalogram (EEG) seban-


yak satu pasang (dua channel), Electro-oculogram (EOG) seban-
Persiapan Subjek
Subyek harus melakukan beberapa persiapan sebelum peneli-
yak satu pasang (dua channel), dan Electromyogram (EMG) tian tidur dilakukan, sesuai petunjuk. Petunjuk dimaksudkan
Lili Indrawati
sebanyak sepasang (dua channel). Hasil rekaman disimpan agar ada kesamaan pada setiap kali tidur guna mengurangi
Dosen Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas YARSI, Jakarta
dalam optical disc. bias. Persiapan tersebut dibagi menjadi dua, yaitu tiga hari
PENDAHULUAN Obat-obatan yang menginduksi tidur, seperti benzodiazepin, sebelum penelitian dan pada hari dilakukannya penelitian.
Cara Kerja
Benzodiazepin adalah hipnotik yang paling banyak diresepkan antihistamin, antidepresan, dan barbiturat dapat menimbulkan
Rancangan Penelitian
untuk pasien insomnia karena dapat menyebabkan kantuk kekantukan di hari berikutnya (kekantukan di siang hari). Kekan- Metode Analisis
Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah single
dengan cara memperpendek masa laten permulaan tidur. tukan di siang hari juga berhubungan dengan kualitas dan konti- Metode analisis data menggunakan one-way of variance.
subject research atau rancangan sama subjek (McGuigan,
Lorazepam, salah satu golongan benzodiazepin, pada dosis nuitas tidur malam sebelumnya7. Kekantukan di hari berikutnya Perbandingan antara Coriandri fructus dengan plasebo dan
1990) pada 11 orang subjek. Penelitian ini membandingkan
terapi secara umum menekan aktivitas fisik, menurunkan disebabkan oleh waktu paruh eliminasi obat yang panjang dan lorazepam dianalisis menggunakan metode Tukey dengan asumsi
antara Coriandri fructus, Lorazepam dan kontrol. Data yang
respon terhadap rangsangan emosi, dan bersifat menenang- menurunnya kualitas tidur akibat pengaruh obat-obatan terhadap data memiliki distribusi normal dan memiliki variasi yang sama.
terkumpul disajikan dalam bentuk tabel dan grafik yang
kan, namun lorazepam mempengaruhi distribusi dan lamanya distribusi dan lamanya SWS dan REM. Survai di beberapa negara nantinya dibahas secara kuantitatif. Seluruh perhitungan statistik dalam penelitian ini menggunakan
Rapid Eye Movement Sleep (REMS) dan Slow Waves Sleep (SWS)1. seperti Perancis, Inggris, Jerman, dan Itali menunjukkan 20% Pengukuran Parameter Penelitian program Statistical Program for Social Science 10.0.1.
Hampir semua benzodiazepin meningkatkan latensi REMS dan subyek mengalami kekantukan di siang hari. 1) Jumlah (dalam menit) episode REMS pada 2,5 jam pertama tidur.
memperpendek lamanya REMS 2,3. Efek samping obat golongan 2) Jumlah (dalam menit) episode REMS pada 2,5 jam kedua tidur. HASIL DAN PEMBAHASAN
benzodiazepin sangat bervariasi akibat depresi fungsi susunan Kewaspadaan berasal dari kemampuan otak untuk memper- 3) Jumlah (dalam menit) episode REMS pada 2,5 jam terakhir tidur; Dari hasil pemeriksaan fisik seluruh subyek dinyatakan sehat.
saraf pusat. Efek samping yang muncul berhubungan dengan tahankan keadaan jaga dan konsentrasi, sedangkan kekantukan Data hasil pemeriksaan laboratorium darah subyek yang
dosis, sehingga pemberian lorazepam pada pasien berobat jalan dihasilkan oleh kegagalan mempertahankan kewaspadaan di Metode Penarikan Sampel diperoleh sebelum penelitian tidur malam menunjukkan bahwa
harus hati-hati karena dosis yang relatif rendah dapat menye- siang hari8 . Kapasitas okupasional dan kualitas hidup domestik Pada penelitian ini subyek dipilih menggunakan teknik purposive seluruh subjek mempunyai fungsi hati dan ginjal, serta jumlah
babkan kantuk, berkurangnya kemampuan dalam pengambilan jelas berkurang pada orang yang merasa mengantuk dibanding sampling (Shaughnessy & Zechmeister, 1994), berdasarkan kriteria sel darah dan trombosit yang normal.
keputusan dan berkurangnya ketrampilan motorik, kadang- dengan yang kewaspadaannya baik 9. Kekantukan siang hari sebagai berikut:
kadang sangat berpengaruh terhadap kemampuan mengemudi, yang patologis juga dapat membahayakan kehidupan pasien Kriteria inklusi subyek yaitu pria sehat, umur 20-25 tahun, Tiga hari sebelum subyek menjalani polisomnografi sepanjang
kinerja dalam pekerjaan, dan hubungan personal4. (misal saat mengendarai mobil), sehingga sangat penting untuk bebas obat termasuk obat yang diresepkan oleh dokter, mem- malam, ia diharapkan tidur dan bangun pada waktu yang sama.
mengembangkan pengertian tentang penyebab yang mendasari punyai kebiasaan tidur paling sedikit 7 jam sehari, mulai sekitar Catatan harian tidur dan jaga tiga hari menjelang penelitian tidur
Penelitian yang untuk mengetahui fungsi tidur REM menduga kekantukan siang hari 10. jam 21.00-22.00. malam menunjukkan rata-rata lamanya tidur yang hampir sama.
otak yang aktif pada tidur REM berfungsi untuk konsolidasi Kriteria eksklusi adalah penyakit fisik, merokok, penyakit alergi Dari kesebelas orang sampel tidak terdapat perbedaan yang
misalnya rhinitis alergika, dermatitis, dan asma, sering terbangun bermakna antara lama tidur, sehingga dapat dianggap variasi
memori, sintesis informasi baru atau yang diadaptasikan, atau Dengan makin meningkatnya keluhan insomnia (di Amerika
di malam hari, memiliki kebiasaan tidur siang, dan peminum alkohol. pada polisomnografi sepanjang malam masing-masing sampel
penempatan informasi ke dalam suatu kerangka asosiasi internal. meningkat dari 27% menjadi 30%) 11,12 diperlukan obat alter-
Subyek yang memenuhi syarat dan bersedia terlibat sebagai bukan karena pengaruh dari lama tidur sampel tiga hari sebelumnya.
Penelitian pada binatang memperlihatkan bahwa tidur REM natif di samping obat yang sudah ada. Selain itu akibat yang dapat
subjek penelitian diminta mengisi Lembar Persetujuan Uji Klinik.
meningkat setelah pelatihan (learning) dan bahwa kehilangan ditimbulkan baik oleh insomnia maupun oleh obat untuk mengatasi
Besar sampel diketahui berdasarkan rumus13 : Tiga Parameter Distribusi REMS per 2,5 Jam Tidur.
tidur REM setelah pelatihan mengakibatkan penurunan retensi5. insomnia juga merupakan alasan dibutuhkannya obat alternatif.
Obat alternatif diharapkan dapat meningkatkan kualitas tidur, Grafik 1 Tabel 1, dan Grafik 2 memperlihatkan tiga parameter
n = 3* (Zα + Zβ )2* SD2/Δ2 distribusi REMS per 2,5 jam tidur. Walaupun diharapkan REMS
Tidur REM mungkin membantu konsolidasi learning2. Meski- dengan efek samping minimal dan mudah didapat oleh masyarakat.
pun belum diketahui fungsinya dengan pasti, manusia jelas Obat alternatif yang masih banyak dimanfaatkan oleh penduduk dominan pada 2,5 jam terakhir tidur, namun agar gambaran ke-
Jumlah subyek yang diperlukan untuk mendeteksi perbedaan
membutuhkan tidur REM maupun SWS karena setelah dilaku- Indonesia adalah obat asli Indonesia yang berasal dari tumbuhan. seluruhan efek Coriandri fructus dibandingkan dengan lorazepam
yang bermakna secara klinis sebesar 20 % antar perlakuan,
kan deprivasi terhadap tidur REM maupun SWS, subjek akan terhadap distribusi REMS terlihat dengan jelas maka REMS pada
dengan tingkat kebermaknaan (α) 0,05, dan tingkat kepastian
meningkatkan jumlah maupun lamanya tidur REM atau SWS Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui manfaat Coriandri 2,5 jam pertama tidur dan pada 2,5 jam kedua tidur juga ditampilkan.
(1-β) 80%, simpangan baku untuk setiap observasi 15%, adalah
pada malam recovery 5. fructus (ketumbar) sebagai obat tidur, dengan melihat efeknya sebanyak 11 orang. Lorazepam terutama menekan REM pada 2,5 jam pertama
terhadap distribusi tidur REM selama tidur malam hari. tidur dan pada 2,5 jam terakhir tidur (Grafik 1 dan 2). Rata-rata
Kualitas tidur yang baik umumnya menunjukkan Sleep Onset Prosedur Pengumpulan Data REMS pada 2,5 jam pertama tidur selama Overnight Polysom-
Latency (SOL) yang tidak terlalu panjang dan Number of Stage BAHAN DAN CARA Data diperoleh dari hasil perekaman gelombang aktivitas otak nography pada subyek yang tidur diinduksi plasebo adalah
Shift (NSS) yang tidak terlalu sering. Selain itu jumlah SWS harus Bahan yang diuji adalah Coriandri fructus (ketumbar) dikering- dan otot, serta gerakan bola mata melalui polisomnografi sepan- 7,9±7,596 menit. Sedangkan pada subjek yang tidur diinduksi
cukup khususnya pada dua sampai empat jam pertama6, sedang- kan menggunakan oven, selanjutnya dibuat serbuk. Kemudian jang malam pada 33 kali tidur masing-masing selama 7,5 jam oleh lorazepam adalah 1,7 ± 3,068 menit dan pada subjek yang tidur
kan episode tidur REM diharapkan menjadi sangat dominan ditimbang sebanyak 3 gram dan dimasukkan ke dalam kapsul. 11 orang subyek. Setiap subjek tidur tiga kali yang disebabkan oleh diinduksi Coriandri fructus adalah 7,9 ± 8,035 menit. Hasil ANOVA
pada sepertiga bagian terakhir malam1. Obat pembanding menggunakan Lorazepam (2 mg). tiga obat yang berbeda, tidur pertama disebabkan Lorazepam, untuk REMS pada 2,5 jam pertama tidur p=0,055. (Grafik 1)

CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008 CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008
334 335
HASIL PENELITIAN TINJAUAN PUSTAKA

Secara kuantitatif Lorazepam lebih menekan REM pada 2,5


jam pertama tidur dan pada 2,5 jam terakhir tidur, dibanding- Penatalaksanaan
kan kontrol maupun Coriandri fructus (Grafik 1 dan 2). Hal ini
merupakan efek tidak baik lorazepam terhadap distribusi Rehabilitasi Neurogenic Bladder
REMS, karena tidur REM biasanya terdistribusi pada sepertiga Syarief Hasan Lutfie
akhir malam (Coble et al., 1974). Namun demikian tidak ada Rumah Sakit Amanda, Bekasi, Jawa Barat
perbedaan bermakna antara ketiga kelompok pada penguku-
ran parameter yang berhubungan dengan REMS. PENDAHULUAN PERSARAFAN SENSORIK
Istilah Neurogenic Bladder tidak mengacu pada suatu diagnosis Serabut-serabut sensorik mengikuti serabut-serabut motorik dalam
Grafik 1. REMS pada 2,5 jam pertama tidur selama Overnight Polysomnogra- spesifik ataupun menunjukkan etiologinya ; melainkan lebih me- perjalanannya menuju ke medula spinalis setinggi sakral 2-3-4
phy pada subyek yang tidur diinduksi lorazepam, plasebo, dan Coriandri fructus. SIMPULAN
nunjukkan suatu gangguan fungsi urologi akibat kelainan neurologik. (somatik dan parasimpatik) dan torakal 11- lumbal 2 (simpatik).
Lorazepam berpengaruh buruk pada distribusi REMS. Distribusi
Sensorik kandung kemih terdiri dari dua jenis : eksteroseptif
REMS pada tidur yang diinduksi Coriandri fructus tidak terlihat Banyak penyebab dapat mendasari timbulnya Neurogenic Bladder mukosa dan proprioseptif otot detrusor (stretch receptor)
Perlakuan berbeda dibandingkan kontrol. Dengan demikian tidur yang
Sampel sehingga mutlak dilakukan pemeriksaan yang teliti sebelum
Lorazepam Kontrol Coriandri fructus
diinduksi lorazepam lebih rendah kualitasnya bila dibandingkan diagnosis ditegakkan. Penyebab tersering adalah gangguan medula FISIOLOGI MIKSI
A 32.5 35.5 47.5 dengan kontrol dan tidur yang diiduksi Coriandri fructus. spinalis; trauma merupakan penyebab akut serta memberikan Kandung kemih adalah organ penampung urin; di samping itu
B 25.5 14.5 14.5 manifestasi klasik. Dalam kesempatan ini dibahas Neurogenic berfungsi pula mengatur pengeluarannya. Proses miksi dimulai
C 46.5 56.5 13.5 Bladder akibat cedera spinal. oleh tekanan intramural otot detrusor. Tekanan ini dahulu dianggap
DAFTAR PUSTAKA
D 10 23 8 semata-mata akibat persarafan; akan tetapi bukti-bukti menun-
E 17 45.5 20.5 1. Carskadon MA, Dement W.C. Normal Human Sleep: An Overview. Dalam:
EPIDEMOLOGI jukkan bahwa tekanan intramural otot detrusor lebih ditentukan
F 35.5 22 35 Principles and Practice of Sleep Medicine. Kryger MH, Roth T, Dement
WC. (eds), 2nd ed. Philadelphia: WB. Saunders Co. 1994. Salah satu penelitian pertama prevalensi Neurogenic Bladder di oleh keadaan fisik kandung kemih (berisi penuh atau tidak). Jika
G 8 25 20
2. Hobbs WR, Rall TW, Verdoorn TA. Hypnotics and Sedatives: Ethanol. Asia adalah sebuah survai oleh APCAB (Asia Pacific Continence kandung kemih terisi, karena sifatnya ia mampu mengembang;
H 14 0 6.5
I 48.5 37 20
Dalam: Goodman & Gilman’s The Pharmacological Basis of Therapeutics. Advisory Board) pada tahun 1998 yang mencakup 7875 laki-laki sementara itu tekanan intravesika tetap, sehingga sesuai dengan
Hardman JG, Gilman GA, Limbird LE. (eds). 9th ed. McGraw-Hill. 1996. dan perempuan (sekitar 70% perempuan) dari 11 negara (termasuk hukum Laplace, tekanan intramural otot detrusor akan meningkat.
J 69 27.5 3.5
3. Nishino S, Mignot E, Dement WC. Sedative-Hypnotics. Dalam Textbook of 499 dari Indonesia) ; didapatkan bahwa prevalensi Neurogenic Peningkatan ini sampai titik tertentu akan merangsang stretch
K 17 12.5 49
Psychopharmacology. Schatzberg AF, Nemeroff CB. (eds). 2nd ed. The
Rata-rata 29.41 27.18 21.64 Bladder secara umum pada orang Asia adalah sekitar 50,6%. receptor. Timbullah impuls ke arah pusat refleks miksi di medula
American Psychiatric Press, Inc. Washington DC, London, England. 1998.
Standar deviasi 19.15 15.89 15.70 spinalis S 2-3-4. Dalam keadaan normal impuls tidak akan
4. Trevor JA, Way WL. Sedative-Hypnotic Drugs. Dalam: Basic & Clinical
Pharmacology. Katzung BG (ed.) 7th ed. Appleton & Lange, Stamford, ANATOMI segera terjawab. Impuls diteruskan ke pusat-pusat yang lebih tinggi,
Tabel 1. REMS pada 2,5 jam kedua tidur selama Overnight Polysomnography Connecticutt. 1998. 1. Kandung Kemih yakni inti-inti dalam talamus yang bertindak sebagai relay untuk
pada subyek yang tidur diinduksi lorazepam, plasebo, dan Coriandri fructus.
Hasil ANOVA untuk REMS pada 2,5 jam kedua tidur p = 0,55 5. Bonnet MH. Sleep Deprivation. Dalam: Principles and Practice of Sleep Kandung kemih dibentuk oleh anyaman serat otot polos. Lapisan girus sentral-belakang, tempat keinginan untuk miksi disadari.
Medicine. Kryger MH, Roth T, Dement WC. (eds). 2nd ed. Philadelphia: WB. paling dalam terdiri dari serat-serat yang berjalan longitudinal, Selain ke arah kortikal, impuls juga dikirim ke daerah-daerah lain
Saunders Co. 1994.
lapisan tengah serat-serat sirkuler, sedangkan lapisan paling yang berkaitan, seperti ganglia basal, serebelum, pons serta
Rata-rata REMS pada 2,5 jam terakhir tidur selama Overnight 6. Gaillard JM. Benzodiazepines and GABA-ergic Transmission. Dalam: luar oleh serat-serat longitudinal kembali. hipotalamus. Daerah-daerah ini masing-masing mempengaruhi
Polysomnography pada subyek yang tidur diinduksi plasebo Principles and Practice of Sleep Medicine Kryger MH, Roth T, Dement WC
(eds). 2nd ed. Philadelphia: WB. Saunders Co. 1994. 2. Bladder Neck pusat refleks miksi, baik bersifat inhibisi maupun aktivasi. Berarti
adalah 39,6±25,59 menit. Sedangkan rata-rata REMS pada 2,5
7. Roth T, Roehrs TA, Carskadon MA, Dement W.C. Daytime Sleepiness and
Otot detrusor melanjutkan perjalanannya ke arah uretra mem- proses miski belum terlaksana bila belum ada perintah dari pusat-
jam terakhir tidur selama Overnight Polysomnography pada subyek bentuk suatu "pipa" yang disebut bladder neck. pusat lebih tinggi tersebut. Walaupun refleks miksi terutama diatur
Alertness. Dalam: Principles and Practice of Sleep Medicine. Kryger MH,
yang tidur diinduksi lorazepam adalah 34 ± 20,69 menit dan pada Roth T, Dement WC. (eds), 2nd ed. Philadelphia: WB. Saunders Co. 1994. 3. Sfingter uretra oleh susunan saraf otonom, miksi adalah proses yang dapat
subjek yang tidur diinduksi Coriandri fructus 38,7 ± 20,38 menit. 8. Kotagal S, Pianosi P. Sleep disorders in children and adolescents. BMJ Sfringter uretra dibentuk oleh serat-serat otot lurik. Peranannya ditunda atau dihentikan mendadak, dapat diatur oleh kemauan.
Hasil ANOVA untuk REMS pada 2,5 jam terakhir tidur p=0,823. 2006;332:828-832 . ialah untuk menahan miksi untuk sementara waktu atau segera Jika pusat-pusat mengijinkan miksi terlaksana maka impuls aktivasi
9. Homann CN, Wenzel K, Suppan K, Ivanic G, Kriechbaum N, Crevenna R, menghentikan proses miksi bila dikehendaki akan disalurkan secara desenden melalui berkas-berkas parasim-
Ott E. Sleep attack in patients taking dopamine agonists: review. BMJ
2002;324: 1483-7.
4. Trigonum patik splanknikus. Miksi dimulai oleh kontraksi detrusor, diikuti
Daerah ini merupakan kelanjutan otot ureter dan tak mempunyai oleh pembukaan bladder neck dan relaksasi sfingter uretra.
10. Wegelin J, McNamara P, Durso R, Brown A, McLaren D. Correlates of
excessive daytime sleepiness in Parkinson’s disease. Parkinsonism and peranan dalam proses miksi. Fungsinya adalah memperlancar
Related Disorder 2005; 11: 441-448. arus urin dari ureter ke arah kandung kemih. Diketahui pula bahwa kontraksi otot detrusor secara reflektoris
11. Mendelson W. Pharmacology and Clinical Use of Sedative Drugs for 5. Hubungan ureter-vesika mengakibatkan inhibisi impuls tonik ke arah sfingter uretra sehingga
Insomnia. Paper presented at General Pharmacology and Therapeutics Struktur ini merupakan katup yang membuka saat pengisian sfingter uretra menjadi kendur. Sebaliknya, kontraksi tonik sfingter
in Sleep. 9th Annual APPS Meeting. Nashville, Tennessee. 1995.
kandung kemih dan menutup saat kontraksi otot detrusor. uretra secara reflektoris akan menghambat kontraksi otot detrusor.
12. Lamberg L. World Health Organization targets Insomnia. JAMA 1997; 278
Di samping itu kontraksi otot detrusor akan menambah rangsangan
(20): 1652.
PERSARAFAN MOTORIK terhadap stretch receptor sehingga menambah kekuatan kontraksi
13. Pope JE, Bellamy N. Sample Size Calculation in Scleroderma: A
Grafik 2. REMS pada 2,5 jam terakhir tidur selama Overnight Polysomnography Rational Approach to Choosing Outcome Measurements in Scleroderma Terdapat 3 macam persarafan motorik katup yang mengatur otot- otot detrusor, Jadi, suatu proses miksi normal secara keseluruhan
pada subyek yang tidur diinduksi lorazepam, plasebo, dan Coriandri fructus. Trials. Clinical and Investigation Medicine 1995;18(1): 1-10. otot kandung kemih yaitu detrusor, sfingter uretra dan trigonum. berlangsung sekunder terhadap kontraksi otot detrusor.

CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008 CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008
336 337
HASIL PENELITIAN TINJAUAN PUSTAKA

Secara kuantitatif Lorazepam lebih menekan REM pada 2,5


jam pertama tidur dan pada 2,5 jam terakhir tidur, dibanding- Penatalaksanaan
kan kontrol maupun Coriandri fructus (Grafik 1 dan 2). Hal ini
merupakan efek tidak baik lorazepam terhadap distribusi Rehabilitasi Neurogenic Bladder
REMS, karena tidur REM biasanya terdistribusi pada sepertiga Syarief Hasan Lutfie
akhir malam (Coble et al., 1974). Namun demikian tidak ada Rumah Sakit Amanda, Bekasi, Jawa Barat
perbedaan bermakna antara ketiga kelompok pada penguku-
ran parameter yang berhubungan dengan REMS. PENDAHULUAN PERSARAFAN SENSORIK
Istilah Neurogenic Bladder tidak mengacu pada suatu diagnosis Serabut-serabut sensorik mengikuti serabut-serabut motorik dalam
Grafik 1. REMS pada 2,5 jam pertama tidur selama Overnight Polysomnogra- spesifik ataupun menunjukkan etiologinya ; melainkan lebih me- perjalanannya menuju ke medula spinalis setinggi sakral 2-3-4
phy pada subyek yang tidur diinduksi lorazepam, plasebo, dan Coriandri fructus. SIMPULAN
nunjukkan suatu gangguan fungsi urologi akibat kelainan neurologik. (somatik dan parasimpatik) dan torakal 11- lumbal 2 (simpatik).
Lorazepam berpengaruh buruk pada distribusi REMS. Distribusi
Sensorik kandung kemih terdiri dari dua jenis : eksteroseptif
REMS pada tidur yang diinduksi Coriandri fructus tidak terlihat Banyak penyebab dapat mendasari timbulnya Neurogenic Bladder mukosa dan proprioseptif otot detrusor (stretch receptor)
Perlakuan berbeda dibandingkan kontrol. Dengan demikian tidur yang
Sampel sehingga mutlak dilakukan pemeriksaan yang teliti sebelum
Lorazepam Kontrol Coriandri fructus
diinduksi lorazepam lebih rendah kualitasnya bila dibandingkan diagnosis ditegakkan. Penyebab tersering adalah gangguan medula FISIOLOGI MIKSI
A 32.5 35.5 47.5 dengan kontrol dan tidur yang diiduksi Coriandri fructus. spinalis; trauma merupakan penyebab akut serta memberikan Kandung kemih adalah organ penampung urin; di samping itu
B 25.5 14.5 14.5 manifestasi klasik. Dalam kesempatan ini dibahas Neurogenic berfungsi pula mengatur pengeluarannya. Proses miksi dimulai
C 46.5 56.5 13.5 Bladder akibat cedera spinal. oleh tekanan intramural otot detrusor. Tekanan ini dahulu dianggap
DAFTAR PUSTAKA
D 10 23 8 semata-mata akibat persarafan; akan tetapi bukti-bukti menun-
E 17 45.5 20.5 1. Carskadon MA, Dement W.C. Normal Human Sleep: An Overview. Dalam:
EPIDEMOLOGI jukkan bahwa tekanan intramural otot detrusor lebih ditentukan
F 35.5 22 35 Principles and Practice of Sleep Medicine. Kryger MH, Roth T, Dement
WC. (eds), 2nd ed. Philadelphia: WB. Saunders Co. 1994. Salah satu penelitian pertama prevalensi Neurogenic Bladder di oleh keadaan fisik kandung kemih (berisi penuh atau tidak). Jika
G 8 25 20
2. Hobbs WR, Rall TW, Verdoorn TA. Hypnotics and Sedatives: Ethanol. Asia adalah sebuah survai oleh APCAB (Asia Pacific Continence kandung kemih terisi, karena sifatnya ia mampu mengembang;
H 14 0 6.5
I 48.5 37 20
Dalam: Goodman & Gilman’s The Pharmacological Basis of Therapeutics. Advisory Board) pada tahun 1998 yang mencakup 7875 laki-laki sementara itu tekanan intravesika tetap, sehingga sesuai dengan
Hardman JG, Gilman GA, Limbird LE. (eds). 9th ed. McGraw-Hill. 1996. dan perempuan (sekitar 70% perempuan) dari 11 negara (termasuk hukum Laplace, tekanan intramural otot detrusor akan meningkat.
J 69 27.5 3.5
3. Nishino S, Mignot E, Dement WC. Sedative-Hypnotics. Dalam Textbook of 499 dari Indonesia) ; didapatkan bahwa prevalensi Neurogenic Peningkatan ini sampai titik tertentu akan merangsang stretch
K 17 12.5 49
Psychopharmacology. Schatzberg AF, Nemeroff CB. (eds). 2nd ed. The
Rata-rata 29.41 27.18 21.64 Bladder secara umum pada orang Asia adalah sekitar 50,6%. receptor. Timbullah impuls ke arah pusat refleks miksi di medula
American Psychiatric Press, Inc. Washington DC, London, England. 1998.
Standar deviasi 19.15 15.89 15.70 spinalis S 2-3-4. Dalam keadaan normal impuls tidak akan
4. Trevor JA, Way WL. Sedative-Hypnotic Drugs. Dalam: Basic & Clinical
Pharmacology. Katzung BG (ed.) 7th ed. Appleton & Lange, Stamford, ANATOMI segera terjawab. Impuls diteruskan ke pusat-pusat yang lebih tinggi,
Tabel 1. REMS pada 2,5 jam kedua tidur selama Overnight Polysomnography Connecticutt. 1998. 1. Kandung Kemih yakni inti-inti dalam talamus yang bertindak sebagai relay untuk
pada subyek yang tidur diinduksi lorazepam, plasebo, dan Coriandri fructus.
Hasil ANOVA untuk REMS pada 2,5 jam kedua tidur p = 0,55 5. Bonnet MH. Sleep Deprivation. Dalam: Principles and Practice of Sleep Kandung kemih dibentuk oleh anyaman serat otot polos. Lapisan girus sentral-belakang, tempat keinginan untuk miksi disadari.
Medicine. Kryger MH, Roth T, Dement WC. (eds). 2nd ed. Philadelphia: WB. paling dalam terdiri dari serat-serat yang berjalan longitudinal, Selain ke arah kortikal, impuls juga dikirim ke daerah-daerah lain
Saunders Co. 1994.
lapisan tengah serat-serat sirkuler, sedangkan lapisan paling yang berkaitan, seperti ganglia basal, serebelum, pons serta
Rata-rata REMS pada 2,5 jam terakhir tidur selama Overnight 6. Gaillard JM. Benzodiazepines and GABA-ergic Transmission. Dalam: luar oleh serat-serat longitudinal kembali. hipotalamus. Daerah-daerah ini masing-masing mempengaruhi
Polysomnography pada subyek yang tidur diinduksi plasebo Principles and Practice of Sleep Medicine Kryger MH, Roth T, Dement WC
(eds). 2nd ed. Philadelphia: WB. Saunders Co. 1994. 2. Bladder Neck pusat refleks miksi, baik bersifat inhibisi maupun aktivasi. Berarti
adalah 39,6±25,59 menit. Sedangkan rata-rata REMS pada 2,5
7. Roth T, Roehrs TA, Carskadon MA, Dement W.C. Daytime Sleepiness and
Otot detrusor melanjutkan perjalanannya ke arah uretra mem- proses miski belum terlaksana bila belum ada perintah dari pusat-
jam terakhir tidur selama Overnight Polysomnography pada subyek bentuk suatu "pipa" yang disebut bladder neck. pusat lebih tinggi tersebut. Walaupun refleks miksi terutama diatur
Alertness. Dalam: Principles and Practice of Sleep Medicine. Kryger MH,
yang tidur diinduksi lorazepam adalah 34 ± 20,69 menit dan pada Roth T, Dement WC. (eds), 2nd ed. Philadelphia: WB. Saunders Co. 1994. 3. Sfingter uretra oleh susunan saraf otonom, miksi adalah proses yang dapat
subjek yang tidur diinduksi Coriandri fructus 38,7 ± 20,38 menit. 8. Kotagal S, Pianosi P. Sleep disorders in children and adolescents. BMJ Sfringter uretra dibentuk oleh serat-serat otot lurik. Peranannya ditunda atau dihentikan mendadak, dapat diatur oleh kemauan.
Hasil ANOVA untuk REMS pada 2,5 jam terakhir tidur p=0,823. 2006;332:828-832 . ialah untuk menahan miksi untuk sementara waktu atau segera Jika pusat-pusat mengijinkan miksi terlaksana maka impuls aktivasi
9. Homann CN, Wenzel K, Suppan K, Ivanic G, Kriechbaum N, Crevenna R, menghentikan proses miksi bila dikehendaki akan disalurkan secara desenden melalui berkas-berkas parasim-
Ott E. Sleep attack in patients taking dopamine agonists: review. BMJ
2002;324: 1483-7.
4. Trigonum patik splanknikus. Miksi dimulai oleh kontraksi detrusor, diikuti
Daerah ini merupakan kelanjutan otot ureter dan tak mempunyai oleh pembukaan bladder neck dan relaksasi sfingter uretra.
10. Wegelin J, McNamara P, Durso R, Brown A, McLaren D. Correlates of
excessive daytime sleepiness in Parkinson’s disease. Parkinsonism and peranan dalam proses miksi. Fungsinya adalah memperlancar
Related Disorder 2005; 11: 441-448. arus urin dari ureter ke arah kandung kemih. Diketahui pula bahwa kontraksi otot detrusor secara reflektoris
11. Mendelson W. Pharmacology and Clinical Use of Sedative Drugs for 5. Hubungan ureter-vesika mengakibatkan inhibisi impuls tonik ke arah sfingter uretra sehingga
Insomnia. Paper presented at General Pharmacology and Therapeutics Struktur ini merupakan katup yang membuka saat pengisian sfingter uretra menjadi kendur. Sebaliknya, kontraksi tonik sfingter
in Sleep. 9th Annual APPS Meeting. Nashville, Tennessee. 1995.
kandung kemih dan menutup saat kontraksi otot detrusor. uretra secara reflektoris akan menghambat kontraksi otot detrusor.
12. Lamberg L. World Health Organization targets Insomnia. JAMA 1997; 278
Di samping itu kontraksi otot detrusor akan menambah rangsangan
(20): 1652.
PERSARAFAN MOTORIK terhadap stretch receptor sehingga menambah kekuatan kontraksi
13. Pope JE, Bellamy N. Sample Size Calculation in Scleroderma: A
Grafik 2. REMS pada 2,5 jam terakhir tidur selama Overnight Polysomnography Rational Approach to Choosing Outcome Measurements in Scleroderma Terdapat 3 macam persarafan motorik katup yang mengatur otot- otot detrusor, Jadi, suatu proses miksi normal secara keseluruhan
pada subyek yang tidur diinduksi lorazepam, plasebo, dan Coriandri fructus. Trials. Clinical and Investigation Medicine 1995;18(1): 1-10. otot kandung kemih yaitu detrusor, sfingter uretra dan trigonum. berlangsung sekunder terhadap kontraksi otot detrusor.

CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008 CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008
336 337
TINJAUAN PUSTAKA

TERMINASI MIKSI - Gangguan/kelainan uretra


Berakhirnya suatu miksi dimulai oleh penutupan sfingter uretra. - Hidronefrosis
Kemudian kontraksi otot-otot perineum mengembalikan kedudu- - Vesicourethral reflux
kan kandung kemih ke posisi semula. Setelah itu bladder neck - Batu traktus urinarius
menutup. Terakhir relaksasi otot detrusor. - Penderita tidak kooperatif

REHABILITASI NEUROGENIC BLADDER Program kateterisasi kontinyu


Bladder Training atau latihan kandung kemih adalah salah satu Kateterisasi kontinyu tidaklah fisiologis karena kandung kemih
upaya mengembalikan fungsi kandung kemih yang mengalami selalu kosong, sehingga kehilangan potensi sensasi miksi; terjadi
gangguan, ke keadaan normal atau ke fungsi optimalnya sesuai atrofi serta penurunan tonus otot kandung kemih; ditambah lagi
dengan kondisi. dengan sepsis dan bakteriuri. Oleh karena itu dianjurkan program
kateterisasi intermiten. Waktu yang diperlukan untuk mencapai
Mencegah/mengurangi infeksi saluran kemih, mencegah kompli- keadaan bebas kateter berkisar antara 3 - 278 hari atau sekitar
kasi saluran kemih lebih lanjut akan menurunkan angka kematian, 8-10 minggu, jika tidak ada obstruksi.
terutama pada penderita cedera medula spinalis. Gagal ginjal
merupakan penyebab utama kematian pada pasien cedera Paremeter keberhasilan
medula spinalis. 1) Penderita dapat mengeluarkan urine dengan baik dan lancar,
baik secara spontan, dengan bantuan stimulasi refleks atau-
Untuk mencegah komplikasi tersebut, diupayakan mempertahan- pun dengan crede/valsava manuever secara mudah.
kan fungsi pengosongan kandung kencing dengan residu urine 2) Residual urine kurang atau sama dengan l00 ml.
seminimal mungkin, mencegah masuknya mikroorganisme ke Tak didapat perubahan patologis pada saluran kemih.
dalam sistem saluran kemih, serta eradiksi dini terhadap infeksi 3) Penderita bebas kateter.
saluran kemih yang mungkin terjadi.
Program Kateterisasi Intermiten
Ketiga upaya tersebut tercakup dalam penatalaksanaan neuro- Metoda ini dengan teknik non touch pertama kali diperkenalkan
genic bladder yang akan dibahas, yang bertujuan mempertahan- oleh Guttmann. Karena hasilnya memuaskan, cara ini dengan
kan fungsi ginjal secara efektif sehingga penderita cedera medula cepat diikuti oleh klinik-klinik lain. Pada saat ini hampir seluruh
spinalis dapat mandiri mengatur kandung kencingnya. klinik di seluruh dunia menganggap kateterisasi intermiten me-
rupakan method of choice. Sebagian kecil penulis meragukan
Tujuan rehabilitasi: perbedaannya dibandingkan dengan metoda lain.
1. Kelancaran aliran urine mulai dari ginjal
- bebas kateter kandung kemih dan uretra Keberatan atau kerugian tersebut antara lain adalah:
- menghilangkan obstruksi uretra a) Bahaya distensi kandung kemih tetap ada.
2. Keadaan abakterial b) Risiko trauma uretra akibat kateter yang keluar masuk secara
- sterile intermittent catherization berulang.
- pengosongan kandung kemih secara sering dan teratur c) Risiko infeksi akibat masuknya kuman-kuman dari luar atau
3. Pengosongan kandung kemih secara tuntas pada setiap masa dari ujung distal uretra (flora normal).
pengosongan dengan cara mengembangkan/ meningkatkan
kekuatan ekspulsi pada waktu yang cukup, sesuai dengan Terhadap bahaya-bahaya tersebut diajukan beberapa cara pen-
yang dibutuhkan. cegahan :
a) Restriksi cairan. Bila penderita dirawat dalam ruangan ber-AC,
Hal-hal yang tercakup dalam pengertian bladder training : maka jumlah cairan total yang dapat diberikan ialah 1500 ml/hari,
1. Kateterisasi intermiten dibagi rata tiap 2 jam. Kateterisasi dilakukan tiap 6 jam.
2. Pengaturan dan pengontrolan masuknya cairan ke dalam tubuh Berdasarkan ketentuan ini maka pada tiap kateterisasi akan
3. Refleks stimulasi terhadap kandung kemih diperoleh urin tidak lebih dari 500 ml. Bila ternyata lebih, maka
4. Crede manuever pemberian cairan dikurangi atau frekuensi kateterisasi ditambah.
5. Bantuan medikamentosa yang dapat mempunyai efek terha- Tentunya restriksi cairan ini harus disesuaikan bila ruang
dap kandung kemih. perawatan tanpa AC.
b) Risiko trauma uretra dapat dicegah, paling tidak dikurangi
Hal tersebut dapat diatur kombinasinya sesuai kondisi neruo- dengan menggunakan kateter jenis lunak yang biasanya
genic bladder. dibuat dari bahan polivinil. Sebaiknya dengan ujung bulat
(misalnya kateter Jacques polivinil no. 14 Fr).
Kontra indikasi bladder training: c) Sebelum pemasangan, baik pada kateter maupun uretra diberi
- Sistitis berat pelumas terlebih dahulu. Jangan sekali-kali memasang kateter
- Pielonefritis pada seorang penderita pria dalam keadaan refleksi ereksi.

CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008


338
Aman - Praktis - Mudah Digunakan
TINJAUAN PUSTAKA TINJAUAN PUSTAKA

d) Pencegahan infeksi dilakukan dengan teknik "non touch". Setelah menjalani program kateterisasi intermiten, bila residu Obat yang dipakai: Pada tahun-tahun selanjutnya mungkin cukup tiap 4-6 bulan.
Di samping itu berikan cairan antibiotika/antiseptika ke dalam urine < l00 ml, frekuensi kateterisasi dikurangi dan jumlah urin 1. Flavoxate HCl lOOmg/tbl Patokan ini untuk penderita dengan kandung kemih yang ter-
kandung kemih setiap habis kateterisasi; bahan yang diperguna- ditambah. Ditunggu sampai 3 kali berturut-turut. Demikian Indikasi: Inkontinensia, disuria, spasme kandung kemih golong memuaskan (residu < 80 ml). Untuk penderita dengan
kan bervariasi antara satu klinik dengan klinik lainnya. seterusnya sampai bebas kateter. akibat kateterisasi kandung kemih yang tergolong tidak memuaskan (> 150 ml) ada
Dosis : 3 x 200 mg/hari baiknya lebih sering memeriksakan diri, karena volume residual
Kandung Kemih UMN (Upper Motor Neuron) Apabila terdapat kendala, misalnya sampai 7 hari sisa urin masih 2. Oxybutynin HCl 2,5 mg/5 mg/tbl. urine yang besar mempunyai kecenderungan menyebabkan re-
Pada tahap akut pengosongan kandung kemih dilakukan lebih dari 200 ml atau bila dalam 2 hari program tanda-tanda Indikasi: Inkontinensia, Neurogenic Bladder instability noctural infeksi (potensi wash-out rendah).
dengan cara kateterisasi intermiten. Dua hari kemudian lakukan miksi spontan negatif, dapat diberi urocholin dengan dosis enuresis
pemeriksaan refleks bulbokavernosus dan tes air dingin. Bila maksimum 100 mg/hari. Dimulai dengan 15-60 mg/hari dibagi 3 Dosis : 2-3 x 5 mg/hari maksimum. 4x5 mg/hari Pada dasarnya hal-hal yang perlu dilakukan pada follow up ialah :
belum ada respons, evaluasi diulang tiap 72 jam. Setelah dosis. Dosis awal : 5 mg (3x5 mg) diobservasi tiap 2 hari. Bila Untuk orang tua dosis dimulai dari 2x2,5 mg perhari dengan 1. Urinalisis
percobaan-percobaan tersebut positif, latihan kandung kemih respon kurang, dosis dapat ditingkatkan sampai dosis efektif. dosis maksimum 2x5 mg/hari; untuk anak di atas usia 5 tahun 2. Ada tidaknya hambatan arus miksi. Dinilai dari catatan titik
dimulai. Caranya adalah dengan ketokan pada dinding abdo- Pemberian dihentikan bila sisa urine menetap sampai 1 minggu. dimulai dari 2x2,5 mg/hari maksimum.3x5 mg/hari. terjauh pancaran urin.
men daerah suprapubis setiap 2 jam. Tindakan yang dimaksud- Untuk mengatasi kendala-kendala tersebut, pemberian obat- Hati hati pada: gagal ginjal/hepar, hipertiroid, penyakit jantung, 3. Kultur urin
kan untuk merangsang refleks miksi ini harus dilakukan oleh obatan dapat dipertimbangkan. hipertrofi prostat, kehamilan dan menyusui Biasanya spesimen diambil dari urin pancaran tengah midstream
penderita di luar jam-jam tidur (kecuali penderita tetraplegi). Kontraindikasi: obstruksi/atoni intestinal atau bladder glaucoma urine). Perlu ditekankan bahwa ada tidaknya infeksi kandung
Pada jam-jam tidur pekerjaan diambil alih oleh perawat Bila OBAT UNTUK RETENSIO URINAE 3. Propantheline bromide kemih yang membakat jangan didasarkan atas gejala klinis;
Dosis: 2-3 x 15-30 mg/hari satu jam sebelum makan. pada penderita paraplegi/tetraplegi biasanya secara subjektif
jumlah urin yang dapat dikeluarkan melalui cara ini kira-kira A. Jenis Penyekat Alfa
4. Ani depresan trisiklik terlambat ketimbang orang normal. Pedoman berikut patut
sebanyak jumlah urin yang didapat melalui kateter, maka pada Cara Kerja:
Imipramine HCl (Tofranil 25 mg/tbl) dipergunakan sebagai referensi:
jadual tersebut tak perlu kateterisasi. Jika kurang, kateterisasi 1) Merelaksasi otot polos
Indikasi: Inkontinensia, noctural enuresis a. Bila jumlah koloni < 104 per ml, dianggap tak ada infeksi
tetap dilakukan. Mudah dipahami bahwa makin efisien refleks 2) Meningkatkan urinary flow rate pada obstruksi akibat
Dosis : 1-3 x 25 mg/hari dapat ditingkatkan bertahap setiap b. Bila jumlah koloni > 105 per ml, infeksi sudah membakat
miksi, makin kurang frekuensi kateterisasi. Kateterisasi dapat spasme
minggu sampai maksimum 6-8 tbl/hari. sehingga perlu pemberian terapi adekuat.
dihentikan sama sekali bila keadaan ini sudah tercapai, restriksi Efek samping:
Untuk enuresis pada anak-anak di atas 5 tahun diberikan dosis c. Bila jumlah koloni antara 104-105 per ml, meragukan sehingga
cairan dapat dilonggarkan. Sedasi, dizziness, hipotensi postural, depresi, nyeri kepala,
tunggal setelah makan malam; usia 5-8 tahun: 1 tbl, usia 8-12 perlu kultur ulang.
mulut kering, mual, takhkardi dan palpitasi
tahun: 1-2 tbl usia 12 tahun : sampai maksimum 3 tbl. 4. Residual urine
Kadang-kadang bladder training tak memberikan hasil memuaskan: Obat yang dipakai: Jangan diberikan bersama obat MAO
biasanya disebabkan oleh dua kemungkinan: 1. Alfuzozin HCl 2,5 mg/tbl Diharapkan volume residual urine berkurang, paling tidak menetap.
Toleransi terhadap alkohol berkurang, bila terjadi reaksi kulit, Bila ternyata bertambah, maka harus dilakukan evaluasi ulang,
1. Kontraksi otot detrusor kurang efisien Dosis 2,5 mg tiga kali sehari dengan max lOmg/hari stop pemberian agranulositosis, hati-hati pada kehamilan
2. Sfingter uretra kurang efisien 2. Indoramin 20 mg/tbl terutama untuk menilai efisiensi kontraksi otot detrusor dan
Kontraindikasi tidak diketahui; relatif pada penyakit jantung, ada tidaknya resistensi outflow yang bertambah
Dosis 20 mg dua kali sehari, dapat ditingkatkan setiap 2 gangguan kandung kemih akibat obstruksi, glaucoma.
Kandung Kemih LMN (Lower Motor Neuroni) minggu 1 tbl. sSampai 100 mg/hari 5. Tes fungsi ginjal
Prosedur rehabilitasi kandung kemih LMN biasanya tidak sulit. 3. Prazosin HCl (Minipress® 1 mg/2 mg/tbl.) 6. IVP/sistouretrografi ada kalanya perlu dilakukan atas indikasi.
Jika bladder training dan obat-obatan masih belum berhasil baik,
Miksi spontan dilaksanakan dengan manipulasi Crede dengan Dosis 0,5 mg dua kali sehari dapat ditingkatkan setiap beberapa prosedur konservatif non operatif, dapat dipertimbangkan.
hasil memuaskan. Hanya sedikit penulis yang meragukan efekti- 3-7 hari sampai max 2x2 mg. Umumnya follow up membutuhkan rawat inap selama 1-2 hari;
fitasnya. Di samping itu biasanya penderita masih mempunyai 4. Terazosin HCl (Hytrin® 1 mg/2 mg/tbl) suatu spinal unit yang baik selalu menyediakan beberapa
Tindakan-tindakan tersebut ialah:
kemampuan mengejan sehingga dapat membantu evakuasi urin. Dosis awal 1 mg saat tidur dapat ditingkatkan 1 mg tempat tidur kosong untuk maksud tersebut.
a. Anestesi mukosa kandung kemih
setiap minggu sampai max lOmg/hari dosis tunggal. Berlawanan dengan kandung kemih normal, pada neurogenic
Langkah-Langkah Pelaksanaan Program Kateterisasi Intermiten : Jika pasien mengeluh pusing, suruh tetap tidur sampai KESIMPULAN
bladder, kontraksi otot detrusor kadang-kadang justru meng-
Menentukan tipe kandung kemih UMN, LMN atau campuran; pusingnya hilang. Neurogenic Bladder merupakan gangguan kandung kemih akibat
akibatkan aktivasi impuls tonik pada sfingter uretra; akibatnya
caranya: B. Jenis Para Simpatomimetik persarafan yang memerlukan penatalaksanaan rehabilitasi medik
sfingter uretra menjadi sulit terbuka. Di pihak lain keadaan tonik
- Lakukan pemeriksaan ACR/BCR Cara kerja: berupa program bladder training yang akan mempengaruhi prognosis.
sfingter uretra secara reflektoris akan mengakibatkan inhibisi
- Tentukan fase shock sudah terlewati atau belum (dribble) - 1) Meningkatkan efek muskarinik kontraksi otot detrusor, sehingga kontraksi makin lemah, jadi DAFTAR PUSTAKA
- Bila telah dribble, lakukan pengukuran IBV (Initial Bladder - 2) Meningkatkan aktivitas m. detrusor timbul keadaan kontraksi otot sulit terbuka. Pemberian anestesi 1. Austin GM. The Spinal Cord, 3rd ed., University of Southern California, Igaku-
Shoin New York, Tokyo 1983
Volume) yaitu mengukur jumlah urin spontan, residu urin dan - Pada keadaan tidak ada obstruksi jalan keluar kandung lokal ke dalam kandung kemih diharapkan dapat mengurangi 2. Bloch FR. Management of Spinal Cord Injuries, William & Wilkins 2002
dengan tapping/express. kemih, peranannya untuk mengatasi retensio urine terbatas. rangsangan, sehingga refleks miksi tidak berlebihan. Dianjurkan 3. Ciccone DC. Pharmacology in Rehabilitation, FA Davis Co. Philadelphia,
- Lakukan pemeriksaan IWT (Ice Water Test) Efek samping : Keringat, bradikardi, kolik intestinal mengulangi prosedur ini tiap hari untuk kira-kira dua minggu. Department Of Rehabilitation Medicine Emory University School of Medicine,
Atlanta, Georgia 1990
Bila hasil positif; berarti fungsi otot detrusor masih baik. Obat yang dipakai: b. Blok n. pudendus
4. Downey JA, The Physiological Basis of Rehabilitation
1. Carbachol 2 mg/tbl Prosedur ini diindikasikan pada keadaan sfingter uretra ter- Medicine, 2nd ed. British Library Cataloging in Publication Data, Butterworth-
Dari hasil pemeriksaan di atas dapat ditentukan jenis/tipe bladder 2. Bethanechol chloride Urecholin lOmg/tbl) lampau spastik. Dengan blok n. pudendus bilateral diharapkan Heinemann, 1994
5. Ganong WF. Fisiologi Kedokteran, Large Medical Publ. terjemah EGC
dan jumlah cairan yang diminum. Dosis 3-4 x 10-25mg _ jam sebelum makan impuls tonik pada sfingter uretra berkurang.
6. Greenwood R et al. Neurological Rehabilitation, Neurogenic Bladder dysfunction
Jika IBV > 400 ml, minum 125 ml/2 jam 3. Distigmine bromide 5 mg/tbl Secara reflektoris kontraksi otot detrusor juga diharapkan lebih and its management, Churchill Livingstone, 1993.
Jika IBV < 400 ml, minum 150 ml/2 jam Dosis 5 mg/hari atau 2 hari _ jam sebelum makan efisien, Bahan yang biasa dipergunakan adalah larutan fenol 7. Chusid JG. Neuroanatomi Korelatif & Neurologi Fungsional, Jilid 1, Hartono
A.(terj.) Gajah Mada University Press, 1991
Kateterisasi dilakukan setiap 6 jam atau lignokain.
8. Mochtar AC, Perkina OKI. Overeaction Bladder, Sub bag Urologi, Bag Bedah
Sebelum menjalani program ini sebaiknya dilakukan pemerik- OBAT UNTUK INKONTINENSIA URINAE FKUI RSCM
saan antara lain : urine, kultur dan sensitifitas, serum kreatin dan Bersifat anti muskarinik untuk meningkatkan kapasitas kandung FOLLOW UP 9. Pearman JW, England EJ. The Urological Management of the Patient
Follow up harus teratur dan berkesinambungan. Pada tahun per- Following Spinal Cord Injury, Charles Thomas, Springfield.
serum urea nitrogen, bila perlu pemeriksaan radiologi maupun kemih dengan mengurangi kontraksi m. detrusor yang tidak stabil. 10. Thamrinsyam H. Bladder Training. URM RSUD dr. Soetomo/FK Unair
uretro sistografi. Efek samping : mulut kering, pandangan kabur, glaukoma. tama dapat dilakukan tiap 2-3 bulan. Surabaya, 1992

CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008 CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008
340 341
TINJAUAN PUSTAKA TINJAUAN PUSTAKA

d) Pencegahan infeksi dilakukan dengan teknik "non touch". Setelah menjalani program kateterisasi intermiten, bila residu Obat yang dipakai: Pada tahun-tahun selanjutnya mungkin cukup tiap 4-6 bulan.
Di samping itu berikan cairan antibiotika/antiseptika ke dalam urine < l00 ml, frekuensi kateterisasi dikurangi dan jumlah urin 1. Flavoxate HCl lOOmg/tbl Patokan ini untuk penderita dengan kandung kemih yang ter-
kandung kemih setiap habis kateterisasi; bahan yang diperguna- ditambah. Ditunggu sampai 3 kali berturut-turut. Demikian Indikasi: Inkontinensia, disuria, spasme kandung kemih golong memuaskan (residu < 80 ml). Untuk penderita dengan
kan bervariasi antara satu klinik dengan klinik lainnya. seterusnya sampai bebas kateter. akibat kateterisasi kandung kemih yang tergolong tidak memuaskan (> 150 ml) ada
Dosis : 3 x 200 mg/hari baiknya lebih sering memeriksakan diri, karena volume residual
Kandung Kemih UMN (Upper Motor Neuron) Apabila terdapat kendala, misalnya sampai 7 hari sisa urin masih 2. Oxybutynin HCl 2,5 mg/5 mg/tbl. urine yang besar mempunyai kecenderungan menyebabkan re-
Pada tahap akut pengosongan kandung kemih dilakukan lebih dari 200 ml atau bila dalam 2 hari program tanda-tanda Indikasi: Inkontinensia, Neurogenic Bladder instability noctural infeksi (potensi wash-out rendah).
dengan cara kateterisasi intermiten. Dua hari kemudian lakukan miksi spontan negatif, dapat diberi urocholin dengan dosis enuresis
pemeriksaan refleks bulbokavernosus dan tes air dingin. Bila maksimum 100 mg/hari. Dimulai dengan 15-60 mg/hari dibagi 3 Dosis : 2-3 x 5 mg/hari maksimum. 4x5 mg/hari Pada dasarnya hal-hal yang perlu dilakukan pada follow up ialah :
belum ada respons, evaluasi diulang tiap 72 jam. Setelah dosis. Dosis awal : 5 mg (3x5 mg) diobservasi tiap 2 hari. Bila Untuk orang tua dosis dimulai dari 2x2,5 mg perhari dengan 1. Urinalisis
percobaan-percobaan tersebut positif, latihan kandung kemih respon kurang, dosis dapat ditingkatkan sampai dosis efektif. dosis maksimum 2x5 mg/hari; untuk anak di atas usia 5 tahun 2. Ada tidaknya hambatan arus miksi. Dinilai dari catatan titik
dimulai. Caranya adalah dengan ketokan pada dinding abdo- Pemberian dihentikan bila sisa urine menetap sampai 1 minggu. dimulai dari 2x2,5 mg/hari maksimum.3x5 mg/hari. terjauh pancaran urin.
men daerah suprapubis setiap 2 jam. Tindakan yang dimaksud- Untuk mengatasi kendala-kendala tersebut, pemberian obat- Hati hati pada: gagal ginjal/hepar, hipertiroid, penyakit jantung, 3. Kultur urin
kan untuk merangsang refleks miksi ini harus dilakukan oleh obatan dapat dipertimbangkan. hipertrofi prostat, kehamilan dan menyusui Biasanya spesimen diambil dari urin pancaran tengah midstream
penderita di luar jam-jam tidur (kecuali penderita tetraplegi). Kontraindikasi: obstruksi/atoni intestinal atau bladder glaucoma urine). Perlu ditekankan bahwa ada tidaknya infeksi kandung
Pada jam-jam tidur pekerjaan diambil alih oleh perawat Bila OBAT UNTUK RETENSIO URINAE 3. Propantheline bromide kemih yang membakat jangan didasarkan atas gejala klinis;
Dosis: 2-3 x 15-30 mg/hari satu jam sebelum makan. pada penderita paraplegi/tetraplegi biasanya secara subjektif
jumlah urin yang dapat dikeluarkan melalui cara ini kira-kira A. Jenis Penyekat Alfa
4. Ani depresan trisiklik terlambat ketimbang orang normal. Pedoman berikut patut
sebanyak jumlah urin yang didapat melalui kateter, maka pada Cara Kerja:
Imipramine HCl (Tofranil 25 mg/tbl) dipergunakan sebagai referensi:
jadual tersebut tak perlu kateterisasi. Jika kurang, kateterisasi 1) Merelaksasi otot polos
Indikasi: Inkontinensia, noctural enuresis a. Bila jumlah koloni < 104 per ml, dianggap tak ada infeksi
tetap dilakukan. Mudah dipahami bahwa makin efisien refleks 2) Meningkatkan urinary flow rate pada obstruksi akibat
Dosis : 1-3 x 25 mg/hari dapat ditingkatkan bertahap setiap b. Bila jumlah koloni > 105 per ml, infeksi sudah membakat
miksi, makin kurang frekuensi kateterisasi. Kateterisasi dapat spasme
minggu sampai maksimum 6-8 tbl/hari. sehingga perlu pemberian terapi adekuat.
dihentikan sama sekali bila keadaan ini sudah tercapai, restriksi Efek samping:
Untuk enuresis pada anak-anak di atas 5 tahun diberikan dosis c. Bila jumlah koloni antara 104-105 per ml, meragukan sehingga
cairan dapat dilonggarkan. Sedasi, dizziness, hipotensi postural, depresi, nyeri kepala,
tunggal setelah makan malam; usia 5-8 tahun: 1 tbl, usia 8-12 perlu kultur ulang.
mulut kering, mual, takhkardi dan palpitasi
tahun: 1-2 tbl usia 12 tahun : sampai maksimum 3 tbl. 4. Residual urine
Kadang-kadang bladder training tak memberikan hasil memuaskan: Obat yang dipakai: Jangan diberikan bersama obat MAO
biasanya disebabkan oleh dua kemungkinan: 1. Alfuzozin HCl 2,5 mg/tbl Diharapkan volume residual urine berkurang, paling tidak menetap.
Toleransi terhadap alkohol berkurang, bila terjadi reaksi kulit, Bila ternyata bertambah, maka harus dilakukan evaluasi ulang,
1. Kontraksi otot detrusor kurang efisien Dosis 2,5 mg tiga kali sehari dengan max lOmg/hari stop pemberian agranulositosis, hati-hati pada kehamilan
2. Sfingter uretra kurang efisien 2. Indoramin 20 mg/tbl terutama untuk menilai efisiensi kontraksi otot detrusor dan
Kontraindikasi tidak diketahui; relatif pada penyakit jantung, ada tidaknya resistensi outflow yang bertambah
Dosis 20 mg dua kali sehari, dapat ditingkatkan setiap 2 gangguan kandung kemih akibat obstruksi, glaucoma.
Kandung Kemih LMN (Lower Motor Neuroni) minggu 1 tbl. sSampai 100 mg/hari 5. Tes fungsi ginjal
Prosedur rehabilitasi kandung kemih LMN biasanya tidak sulit. 3. Prazosin HCl (Minipress® 1 mg/2 mg/tbl.) 6. IVP/sistouretrografi ada kalanya perlu dilakukan atas indikasi.
Jika bladder training dan obat-obatan masih belum berhasil baik,
Miksi spontan dilaksanakan dengan manipulasi Crede dengan Dosis 0,5 mg dua kali sehari dapat ditingkatkan setiap beberapa prosedur konservatif non operatif, dapat dipertimbangkan.
hasil memuaskan. Hanya sedikit penulis yang meragukan efekti- 3-7 hari sampai max 2x2 mg. Umumnya follow up membutuhkan rawat inap selama 1-2 hari;
fitasnya. Di samping itu biasanya penderita masih mempunyai 4. Terazosin HCl (Hytrin® 1 mg/2 mg/tbl) suatu spinal unit yang baik selalu menyediakan beberapa
Tindakan-tindakan tersebut ialah:
kemampuan mengejan sehingga dapat membantu evakuasi urin. Dosis awal 1 mg saat tidur dapat ditingkatkan 1 mg tempat tidur kosong untuk maksud tersebut.
a. Anestesi mukosa kandung kemih
setiap minggu sampai max lOmg/hari dosis tunggal. Berlawanan dengan kandung kemih normal, pada neurogenic
Langkah-Langkah Pelaksanaan Program Kateterisasi Intermiten : Jika pasien mengeluh pusing, suruh tetap tidur sampai KESIMPULAN
bladder, kontraksi otot detrusor kadang-kadang justru meng-
Menentukan tipe kandung kemih UMN, LMN atau campuran; pusingnya hilang. Neurogenic Bladder merupakan gangguan kandung kemih akibat
akibatkan aktivasi impuls tonik pada sfingter uretra; akibatnya
caranya: B. Jenis Para Simpatomimetik persarafan yang memerlukan penatalaksanaan rehabilitasi medik
sfingter uretra menjadi sulit terbuka. Di pihak lain keadaan tonik
- Lakukan pemeriksaan ACR/BCR Cara kerja: berupa program bladder training yang akan mempengaruhi prognosis.
sfingter uretra secara reflektoris akan mengakibatkan inhibisi
- Tentukan fase shock sudah terlewati atau belum (dribble) - 1) Meningkatkan efek muskarinik kontraksi otot detrusor, sehingga kontraksi makin lemah, jadi DAFTAR PUSTAKA
- Bila telah dribble, lakukan pengukuran IBV (Initial Bladder - 2) Meningkatkan aktivitas m. detrusor timbul keadaan kontraksi otot sulit terbuka. Pemberian anestesi 1. Austin GM. The Spinal Cord, 3rd ed., University of Southern California, Igaku-
Shoin New York, Tokyo 1983
Volume) yaitu mengukur jumlah urin spontan, residu urin dan - Pada keadaan tidak ada obstruksi jalan keluar kandung lokal ke dalam kandung kemih diharapkan dapat mengurangi 2. Bloch FR. Management of Spinal Cord Injuries, William & Wilkins 2002
dengan tapping/express. kemih, peranannya untuk mengatasi retensio urine terbatas. rangsangan, sehingga refleks miksi tidak berlebihan. Dianjurkan 3. Ciccone DC. Pharmacology in Rehabilitation, FA Davis Co. Philadelphia,
- Lakukan pemeriksaan IWT (Ice Water Test) Efek samping : Keringat, bradikardi, kolik intestinal mengulangi prosedur ini tiap hari untuk kira-kira dua minggu. Department Of Rehabilitation Medicine Emory University School of Medicine,
Atlanta, Georgia 1990
Bila hasil positif; berarti fungsi otot detrusor masih baik. Obat yang dipakai: b. Blok n. pudendus
4. Downey JA, The Physiological Basis of Rehabilitation
1. Carbachol 2 mg/tbl Prosedur ini diindikasikan pada keadaan sfingter uretra ter- Medicine, 2nd ed. British Library Cataloging in Publication Data, Butterworth-
Dari hasil pemeriksaan di atas dapat ditentukan jenis/tipe bladder 2. Bethanechol chloride Urecholin lOmg/tbl) lampau spastik. Dengan blok n. pudendus bilateral diharapkan Heinemann, 1994
5. Ganong WF. Fisiologi Kedokteran, Large Medical Publ. terjemah EGC
dan jumlah cairan yang diminum. Dosis 3-4 x 10-25mg _ jam sebelum makan impuls tonik pada sfingter uretra berkurang.
6. Greenwood R et al. Neurological Rehabilitation, Neurogenic Bladder dysfunction
Jika IBV > 400 ml, minum 125 ml/2 jam 3. Distigmine bromide 5 mg/tbl Secara reflektoris kontraksi otot detrusor juga diharapkan lebih and its management, Churchill Livingstone, 1993.
Jika IBV < 400 ml, minum 150 ml/2 jam Dosis 5 mg/hari atau 2 hari _ jam sebelum makan efisien, Bahan yang biasa dipergunakan adalah larutan fenol 7. Chusid JG. Neuroanatomi Korelatif & Neurologi Fungsional, Jilid 1, Hartono
A.(terj.) Gajah Mada University Press, 1991
Kateterisasi dilakukan setiap 6 jam atau lignokain.
8. Mochtar AC, Perkina OKI. Overeaction Bladder, Sub bag Urologi, Bag Bedah
Sebelum menjalani program ini sebaiknya dilakukan pemerik- OBAT UNTUK INKONTINENSIA URINAE FKUI RSCM
saan antara lain : urine, kultur dan sensitifitas, serum kreatin dan Bersifat anti muskarinik untuk meningkatkan kapasitas kandung FOLLOW UP 9. Pearman JW, England EJ. The Urological Management of the Patient
Follow up harus teratur dan berkesinambungan. Pada tahun per- Following Spinal Cord Injury, Charles Thomas, Springfield.
serum urea nitrogen, bila perlu pemeriksaan radiologi maupun kemih dengan mengurangi kontraksi m. detrusor yang tidak stabil. 10. Thamrinsyam H. Bladder Training. URM RSUD dr. Soetomo/FK Unair
uretro sistografi. Efek samping : mulut kering, pandangan kabur, glaukoma. tama dapat dilakukan tiap 2-3 bulan. Surabaya, 1992

CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008 CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008
340 341
TINJAUAN PUSTAKA TINJAUAN PUSTAKA

reaktivitas host terhadap transplan, mengeliminasi gen-gen Medium Bebas Serum


Kultur Embryonic Stem Cell menjadi yang bertanggung jawab pada reaksi penolakan misalnya
pada major histocompatibility complex (MHC) kelas I agar
Faktor yang berperan dalam keberhasilan pertumbuhan sel
secara in vitro antara lain lingkungan kultur. Kondisi dan
Sel Neuron dengan Medium Bebas Serum cocok untuk semua pasien. Cara lainnya adalah dengan
manipulasi genetik menggunakan kloning terapetik dan peng-
pengaturan lingkungan kultur terdiri atas substrat, medium,
gas, dan suhu. Komposisi medium dapat mempengaruhi arah
Riris L. Puspitasari, Caroline T. Sardjono, Boenjamin Setiawan, Ferry Sandra gunaan ESC yang berasal dari hasil partenogenesis (4,11). pertumbuhan sel yang dikultur. Medium yang dibutuhkan
Stem Cell Division, Stem Cell and Cancer Institute, dalam kultur pada umumnya membutuhkan bahan-bahan
PT Kalbe Farma Tbk, Jl. Jend. Ahmad Yani No.2, Pulo Mas, Jakarta 13210, Indonesia
Kultur Pengarahan ESC menjadi Sel Neuron tambahan yang sesuai untuk tipe sel tertentu. Bahan-bahan
Propagasi ESC untuk dapat berdiferensiasi menjadi sel tipe tambahan tersebut antara lain asam amino, vitamin, garam-
ABSTRAK tertentu dipengaruhi oleh beberapa faktor yang diregulasi oleh garaman, glukosa, suplemen organik, hormon dan growth
Stem cell memiliki peran yang besar dalam terapi berbagai penyakit degeneratif. Stem cell dapat diperoleh dari mediator pertumbuhan yang sesuai. Hal tersebut dapat ditun- factor, antibiotik serta serum. Serum mengandung sejumlah
beberapa sumber antara lain adult stem cell (ASC), embryonic germinal stem cell (EGC), dan embryonic stem cell jukkan pada propagasi ESC mencit yang dapat dilakukan bahan-bahan yang dibutuhkan yaitu sumber protein, hormon,
(ESC). Dalam artikel berikut akan didiskusikan teknik kultur embryonic stem cell, khususnya mengenai teknik melalui kokultur dengan fibroblas embrio atau penambahan dan growth factor; namun konsentrasi masing-masing kompo-
pengarahannya menjadi sel neuron. Kultur dengan tujuan mengarahkan menjadi sel neuron dapat dicapai LIF (Leukemia Inhibitory Factor), yang berlangsung melalui nen yang tedapat di dalam serum sering kali tidak dapat
dengan menggunakan growth factor, sedangkan medium bebas serum digunakan dengan tujuan untuk memini- kompleks LIF-R/gp130 (LIF-reseptor; glikoprotein 130) (12,13). diketahui pasti(2). Hal ini sering mempengaruhi proses analisis
malkan pemakaian bahan-bahan dari hewan. Selain itu, penggunaan kombinasi BMP (bone morphogenetic penelusuran dari mediator tertentu yang mempengaruhi
protein) dan LIF dapat mendukung propagasi ESC, yang terjadinya diferensiasi sel menjadi sel neuron; sehingga evalu-
dikultur tanpa feeder layer ataupun serum (14). asi dan penentuan faktor yang mempengaruhi sel-sel untuk
PENDAHULUAN Teknik kultur yang pertama kali dilakukan berasal dari potongan berdiferensiasi menjadi neuron akan menjadi sulit. Oleh karena
Saat ini penggunaan teknik kultur sel sudah demikian luasnya jaringan yang ditumbuhkan di atas substrat, sehingga pertum- Pada propagasi ESC dikenal istilah terbentuknya embryoid itu dikembangkanlah metode kultur dengan medium bebas
dalam dunia biologis maupun medis. Secara fundamental, tujuan buhan hanya terbatas pada sel-sel yang bermigrasi dari poton- body (EB). EB merupakan sekumpulan atau agregat sel yang serum, dengan harapan akan didapatkan sel-sel neuron yang
para peneliti dan pekerja dalam bidang kultur sel adalah mem- gan jaringan tersebut. Beberapa eksplan yang digunakan dalam pertumbuhannya dapat mengarah pada sel-sel ektodermal, bebas kontaminasi produk hewan dan pertumbuhannya dapat
persiapkan sel untuk dikultur lebih lanjut dan juga untuk memeli- kultur antara lain sel, jaringan, organ, cell line. Dewasa ini banyak
endodermal, dan mesodermal. Salah satu metode untuk dirunut secara akurat. Sebagai contoh, kultur neural precursor
haranya dalam sistem yang bebas kontaminasi walaupun penelitian yang mengkultur stem cell untuk mendapatkan sel-sel
mengarahkan ESC menjadi tipe sel tertentu adalah dengan cell (NPC) dapat tumbuh secara selektif dan berproliferasi
dilakukan pasase (subkultur) berulang-ulang sesuai keperluan. yang dapat diarahkan diferensiasinya (2,3).
mengarahkan EB menjadi sel progenitor neuron dalam pada medium bebas serum (22). Selain itu ESC juga dikultur
medium tanpa serum. Medium tanpa serum diharapkan dalam medium bebas serum untuk diferensiasi neural (23,24).
Makin berkembangnya bidang bioteknologi menyebabkan Embryonic Stem Cell
sebagai medium yang selektif terhadap sel prekursor neuron
kegiatan kultur sel menjadi ikut meluas. Berbagai metode baru Stem cell adalah sel-sel yang belum berdiferensiasi, dapat (15). Metode lain yang juga dapat digunakan untuk pengarahan Beberapa penelitian lain juga telah memanfaatkan medium
telah dikembangkan sejalan dengan kebutuhan yang makin berproliferasi, dan dapat diinduksi untuk berdiferensiasi menjadi
EB menjadi sel neurogenik adalah dengan penambahan zat bebas serum pada medium pengarahan ESC untuk men-
kompleks. Beberapa bidang ilmu yang menggunakan kultur sel berbagai tipe sel dengan fungsi khusus. Penelitian di bidang
penginduksi seperti FGF2 (fibroblast growth factor) (15,18); FGF dapatkan sel prekursor neural. Penelitian-penelitian tersebut
antara lain biologi seluler, imunologi, farmakologi, biokimia, medis banyak memfokuskan aplikasi stem cell untuk penyakit (16); BMP2, RA (retinoic acid), Shh (sonic hedgehog), Wnt3a antara lain sebagai berikut:
virologi, genetika, dan produksi berbagai bahan biologis. degeneratif. Kepentingan tersebut didasarkan untuk menemu- (17,20); BMP4 (15); CNTF (ciliary neurotrophic factor) dan
kan sumber jaringan baru sebagai usaha untuk memperbarui
Teknik kultur sel dan kultur jaringan memungkinkan kita mempe- jaringan atau organ manusia yang rusak. Beberapa penyakit neurotrofin 3 (19). Zat penginduksi tersebut ditambahkan ke Bouhon dkk. menggunakan CDM untuk mengkultur neuro-
lajari perilaku sel secara in vitro. Kondisi lingkungan normal yang telah dilaporkan dapat diterapi menggunakan stem cell dalam medium baik secara tunggal maupun kombinasi. genic embryoid bodies (NEB). Karakterisasi sel dilakukan
disimulasikan dalam suatu media tumbuh yang mengandung pada mencit dan hewan laboratorium lainnya antara lain Parkin- dengan pengujian imunositokimia, flow cytometry, RT PCR
bahan kimia, faktor pertumbuhan, dan komponen serum. Sel- son, hati, diabetes, spinal cord injury, jantung, dan Alzheimer (4). Penambahan zat penginduksi baik tunggal maupun kombinasi untuk profil gen yang terekspresi. Penambahan FGF2 pada
sel yang akan ditumbuhkan dapat dikoleksi dari jaringan baik Embryonic stem cell berasal dari embrio yang berada dalam tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan pertumbuhan sel- medium CDM menyebabkan diameter neurosphere bertam-
secara enzimatis maupun mekanis, disuspensikan dan diisolasi stadium blastosis. Di dalam blastosis terdapat beberapa sel sel EB yang mengekspresikan faktor neurogenik (20). Pada bah. Ekspresi gen-gen dalam NEB tergolong heterogen,
dalam media kultur. Sel normal secara genetis mempunyai masa yang letaknya mengumpul di satu sisi. Sel-sel tersebut dinamakan beberapa studi dilaporkan bahwa penambahan zat pengin- sehingga FGF2 eksogen masih diperlukan (15).
hidup yang terbatas, namun sel-sel yang mengalami transfor- inner cell mass (ICM). ICM memiliki beberapa sifat antara lain duksi tersebut dapat dilakukan setelah didapatkan EB dan
masi seperti yang dijumpai pada sel tumor atau kanker dapat mampu melakukan pembelahan untuk proliferasi dan kapasitas terbentuk neurosphere dengan tujuan untuk meningkatkan Krichevsky dkk. meneliti peranan microRNA (miRNA) pada
menjadi sel yang dapat tumbuh dan berkembang (membelah untuk berdiferensiasi menjadi tipe sel lain (pluripotent) (5-10). ekspresi sel neuron (21). diferensiasi sel progenitor neural menjadi sel neuron dan
atau memperbanyak diri) tanpa terkontrol serta mempunyai astrosit dengan melihat profil ekspresinya. Transfeksi miRNA
masa hidup yang lebih lama (1). Pada upaya peningkatan fungsional transplantasi ESC untuk Sel feeder seringkali digunakan dengan tujuan untuk mening- dilakukan dengan menambahkan suatu reagen ke dalam cell
penyakit degeneratif perlu diidentifikasi dan diminimalkan risiko katkan diferensiasi ESC menjadi sel neurogenik. Diferensiasi line D3 yang ditumbuhkan dalam medium N2 bebas serum.
Pada kultur sel atau jaringan diusahakan sel dapat berproliferasi yang mungkin timbul. Risiko tersebut antara lain pembentukan neuroektoderm dalam medium CDM (chemically defined Ekspresi miRNA dilihat dengan menggunakan northern blot
dan berdiferensiasi. Proses proliferasi menyangkut pertumbuhan tumor dan penolakan jaringan. Stem cell memiliki imunitas rendah, medium) sangat dipengaruhi oleh densitas sel dalam plate. dan flow cytometry, juga didukung dengan pengujian imunosi-
sel sehingga pemahaman mengenai siklus pertumbuhan dan faktor ditunjukkan dengan rendahnya ekspresi molekul human leukocyte Pada beberapa penelitian dilaporkan bahwa NEB (neurogenic tokimia dan western blot. Hasilnya menunjukkan bahwa
yang berperan dalam proses pertumbuhan sangat diperlukan. Proses antigen (HLA); HLA akan dapat mengatasi permasalahan reaksi EB) tumbuh lebih cepat pada kultur dengan densitas sel miRNA berperan dalam diferensiasi sel menjadi sel progenitor
diferensiasi sel berhubungan dengan interaksi dan komunikasi sel, jaringan. Beberapa pendekatan untuk mengurangi atau mengelimi- tertentu. Di samping itu, mediator FGF2 berpengaruh pada neural (25).
sehingga dibutuhkan pemahaman sifat-sifat sel (1). nasi penolakan imunologis terhadap ESC antara lain mengurangi pertumbuhan prekursor sel neuron (15).

CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008 CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008
342 343
TINJAUAN PUSTAKA TINJAUAN PUSTAKA

reaktivitas host terhadap transplan, mengeliminasi gen-gen Medium Bebas Serum


Kultur Embryonic Stem Cell menjadi yang bertanggung jawab pada reaksi penolakan misalnya
pada major histocompatibility complex (MHC) kelas I agar
Faktor yang berperan dalam keberhasilan pertumbuhan sel
secara in vitro antara lain lingkungan kultur. Kondisi dan
Sel Neuron dengan Medium Bebas Serum cocok untuk semua pasien. Cara lainnya adalah dengan
manipulasi genetik menggunakan kloning terapetik dan peng-
pengaturan lingkungan kultur terdiri atas substrat, medium,
gas, dan suhu. Komposisi medium dapat mempengaruhi arah
Riris L. Puspitasari, Caroline T. Sardjono, Boenjamin Setiawan, Ferry Sandra gunaan ESC yang berasal dari hasil partenogenesis (4,11). pertumbuhan sel yang dikultur. Medium yang dibutuhkan
Stem Cell Division, Stem Cell and Cancer Institute, dalam kultur pada umumnya membutuhkan bahan-bahan
PT Kalbe Farma Tbk, Jl. Jend. Ahmad Yani No.2, Pulo Mas, Jakarta 13210, Indonesia
Kultur Pengarahan ESC menjadi Sel Neuron tambahan yang sesuai untuk tipe sel tertentu. Bahan-bahan
Propagasi ESC untuk dapat berdiferensiasi menjadi sel tipe tambahan tersebut antara lain asam amino, vitamin, garam-
ABSTRAK tertentu dipengaruhi oleh beberapa faktor yang diregulasi oleh garaman, glukosa, suplemen organik, hormon dan growth
Stem cell memiliki peran yang besar dalam terapi berbagai penyakit degeneratif. Stem cell dapat diperoleh dari mediator pertumbuhan yang sesuai. Hal tersebut dapat ditun- factor, antibiotik serta serum. Serum mengandung sejumlah
beberapa sumber antara lain adult stem cell (ASC), embryonic germinal stem cell (EGC), dan embryonic stem cell jukkan pada propagasi ESC mencit yang dapat dilakukan bahan-bahan yang dibutuhkan yaitu sumber protein, hormon,
(ESC). Dalam artikel berikut akan didiskusikan teknik kultur embryonic stem cell, khususnya mengenai teknik melalui kokultur dengan fibroblas embrio atau penambahan dan growth factor; namun konsentrasi masing-masing kompo-
pengarahannya menjadi sel neuron. Kultur dengan tujuan mengarahkan menjadi sel neuron dapat dicapai LIF (Leukemia Inhibitory Factor), yang berlangsung melalui nen yang tedapat di dalam serum sering kali tidak dapat
dengan menggunakan growth factor, sedangkan medium bebas serum digunakan dengan tujuan untuk memini- kompleks LIF-R/gp130 (LIF-reseptor; glikoprotein 130) (12,13). diketahui pasti(2). Hal ini sering mempengaruhi proses analisis
malkan pemakaian bahan-bahan dari hewan. Selain itu, penggunaan kombinasi BMP (bone morphogenetic penelusuran dari mediator tertentu yang mempengaruhi
protein) dan LIF dapat mendukung propagasi ESC, yang terjadinya diferensiasi sel menjadi sel neuron; sehingga evalu-
dikultur tanpa feeder layer ataupun serum (14). asi dan penentuan faktor yang mempengaruhi sel-sel untuk
PENDAHULUAN Teknik kultur yang pertama kali dilakukan berasal dari potongan berdiferensiasi menjadi neuron akan menjadi sulit. Oleh karena
Saat ini penggunaan teknik kultur sel sudah demikian luasnya jaringan yang ditumbuhkan di atas substrat, sehingga pertum- Pada propagasi ESC dikenal istilah terbentuknya embryoid itu dikembangkanlah metode kultur dengan medium bebas
dalam dunia biologis maupun medis. Secara fundamental, tujuan buhan hanya terbatas pada sel-sel yang bermigrasi dari poton- body (EB). EB merupakan sekumpulan atau agregat sel yang serum, dengan harapan akan didapatkan sel-sel neuron yang
para peneliti dan pekerja dalam bidang kultur sel adalah mem- gan jaringan tersebut. Beberapa eksplan yang digunakan dalam pertumbuhannya dapat mengarah pada sel-sel ektodermal, bebas kontaminasi produk hewan dan pertumbuhannya dapat
persiapkan sel untuk dikultur lebih lanjut dan juga untuk memeli- kultur antara lain sel, jaringan, organ, cell line. Dewasa ini banyak
endodermal, dan mesodermal. Salah satu metode untuk dirunut secara akurat. Sebagai contoh, kultur neural precursor
haranya dalam sistem yang bebas kontaminasi walaupun penelitian yang mengkultur stem cell untuk mendapatkan sel-sel
mengarahkan ESC menjadi tipe sel tertentu adalah dengan cell (NPC) dapat tumbuh secara selektif dan berproliferasi
dilakukan pasase (subkultur) berulang-ulang sesuai keperluan. yang dapat diarahkan diferensiasinya (2,3).
mengarahkan EB menjadi sel progenitor neuron dalam pada medium bebas serum (22). Selain itu ESC juga dikultur
medium tanpa serum. Medium tanpa serum diharapkan dalam medium bebas serum untuk diferensiasi neural (23,24).
Makin berkembangnya bidang bioteknologi menyebabkan Embryonic Stem Cell
sebagai medium yang selektif terhadap sel prekursor neuron
kegiatan kultur sel menjadi ikut meluas. Berbagai metode baru Stem cell adalah sel-sel yang belum berdiferensiasi, dapat (15). Metode lain yang juga dapat digunakan untuk pengarahan Beberapa penelitian lain juga telah memanfaatkan medium
telah dikembangkan sejalan dengan kebutuhan yang makin berproliferasi, dan dapat diinduksi untuk berdiferensiasi menjadi
EB menjadi sel neurogenik adalah dengan penambahan zat bebas serum pada medium pengarahan ESC untuk men-
kompleks. Beberapa bidang ilmu yang menggunakan kultur sel berbagai tipe sel dengan fungsi khusus. Penelitian di bidang
penginduksi seperti FGF2 (fibroblast growth factor) (15,18); FGF dapatkan sel prekursor neural. Penelitian-penelitian tersebut
antara lain biologi seluler, imunologi, farmakologi, biokimia, medis banyak memfokuskan aplikasi stem cell untuk penyakit (16); BMP2, RA (retinoic acid), Shh (sonic hedgehog), Wnt3a antara lain sebagai berikut:
virologi, genetika, dan produksi berbagai bahan biologis. degeneratif. Kepentingan tersebut didasarkan untuk menemu- (17,20); BMP4 (15); CNTF (ciliary neurotrophic factor) dan
kan sumber jaringan baru sebagai usaha untuk memperbarui
Teknik kultur sel dan kultur jaringan memungkinkan kita mempe- jaringan atau organ manusia yang rusak. Beberapa penyakit neurotrofin 3 (19). Zat penginduksi tersebut ditambahkan ke Bouhon dkk. menggunakan CDM untuk mengkultur neuro-
lajari perilaku sel secara in vitro. Kondisi lingkungan normal yang telah dilaporkan dapat diterapi menggunakan stem cell dalam medium baik secara tunggal maupun kombinasi. genic embryoid bodies (NEB). Karakterisasi sel dilakukan
disimulasikan dalam suatu media tumbuh yang mengandung pada mencit dan hewan laboratorium lainnya antara lain Parkin- dengan pengujian imunositokimia, flow cytometry, RT PCR
bahan kimia, faktor pertumbuhan, dan komponen serum. Sel- son, hati, diabetes, spinal cord injury, jantung, dan Alzheimer (4). Penambahan zat penginduksi baik tunggal maupun kombinasi untuk profil gen yang terekspresi. Penambahan FGF2 pada
sel yang akan ditumbuhkan dapat dikoleksi dari jaringan baik Embryonic stem cell berasal dari embrio yang berada dalam tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan pertumbuhan sel- medium CDM menyebabkan diameter neurosphere bertam-
secara enzimatis maupun mekanis, disuspensikan dan diisolasi stadium blastosis. Di dalam blastosis terdapat beberapa sel sel EB yang mengekspresikan faktor neurogenik (20). Pada bah. Ekspresi gen-gen dalam NEB tergolong heterogen,
dalam media kultur. Sel normal secara genetis mempunyai masa yang letaknya mengumpul di satu sisi. Sel-sel tersebut dinamakan beberapa studi dilaporkan bahwa penambahan zat pengin- sehingga FGF2 eksogen masih diperlukan (15).
hidup yang terbatas, namun sel-sel yang mengalami transfor- inner cell mass (ICM). ICM memiliki beberapa sifat antara lain duksi tersebut dapat dilakukan setelah didapatkan EB dan
masi seperti yang dijumpai pada sel tumor atau kanker dapat mampu melakukan pembelahan untuk proliferasi dan kapasitas terbentuk neurosphere dengan tujuan untuk meningkatkan Krichevsky dkk. meneliti peranan microRNA (miRNA) pada
menjadi sel yang dapat tumbuh dan berkembang (membelah untuk berdiferensiasi menjadi tipe sel lain (pluripotent) (5-10). ekspresi sel neuron (21). diferensiasi sel progenitor neural menjadi sel neuron dan
atau memperbanyak diri) tanpa terkontrol serta mempunyai astrosit dengan melihat profil ekspresinya. Transfeksi miRNA
masa hidup yang lebih lama (1). Pada upaya peningkatan fungsional transplantasi ESC untuk Sel feeder seringkali digunakan dengan tujuan untuk mening- dilakukan dengan menambahkan suatu reagen ke dalam cell
penyakit degeneratif perlu diidentifikasi dan diminimalkan risiko katkan diferensiasi ESC menjadi sel neurogenik. Diferensiasi line D3 yang ditumbuhkan dalam medium N2 bebas serum.
Pada kultur sel atau jaringan diusahakan sel dapat berproliferasi yang mungkin timbul. Risiko tersebut antara lain pembentukan neuroektoderm dalam medium CDM (chemically defined Ekspresi miRNA dilihat dengan menggunakan northern blot
dan berdiferensiasi. Proses proliferasi menyangkut pertumbuhan tumor dan penolakan jaringan. Stem cell memiliki imunitas rendah, medium) sangat dipengaruhi oleh densitas sel dalam plate. dan flow cytometry, juga didukung dengan pengujian imunosi-
sel sehingga pemahaman mengenai siklus pertumbuhan dan faktor ditunjukkan dengan rendahnya ekspresi molekul human leukocyte Pada beberapa penelitian dilaporkan bahwa NEB (neurogenic tokimia dan western blot. Hasilnya menunjukkan bahwa
yang berperan dalam proses pertumbuhan sangat diperlukan. Proses antigen (HLA); HLA akan dapat mengatasi permasalahan reaksi EB) tumbuh lebih cepat pada kultur dengan densitas sel miRNA berperan dalam diferensiasi sel menjadi sel progenitor
diferensiasi sel berhubungan dengan interaksi dan komunikasi sel, jaringan. Beberapa pendekatan untuk mengurangi atau mengelimi- tertentu. Di samping itu, mediator FGF2 berpengaruh pada neural (25).
sehingga dibutuhkan pemahaman sifat-sifat sel (1). nasi penolakan imunologis terhadap ESC antara lain mengurangi pertumbuhan prekursor sel neuron (15).

CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008 CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008
342 343
TINJAUAN PUSTAKA LA PO R A N K A SUS

Dihne dkk. meneliti pembentukan teratoma saat transplantasi DAFTAR PUSTAKA

sel-sel prekursor neural pada striatum mencit. Sel prekursor


neural monolayer ditumbuhkan dalam medium bebas serum
1. Priosoeryanto BP. Penggunaan teknik biakan sel dalam berbagai pengujian di bidang
Awake Craniotomy,
Alternatif bagi Tumor Intra-aksial
biomedis. Dalam Pelatihan Pemanfaatan Teknik Kultur Jaringan dan Histokimia. FKH
dengan penambahan FGF2 pada substrat poly L ornithine. Hasil IPB, 2003.
2. Djuwita I. Biologi kultur jaringan. Dalam Pelatihan Pemanfaatan Teknik Kultur
menunjukkan bahwa pembentukan teratoma menurun hingga Jaringan dan Histokimia. FKH IPB, 2003.
17% dengan transplantasi SENA (substrate adherent ES cell- 3. Fahrudin M. Pembuatan (inisiasi) kultur primer. Dalam Pelatihan Pemanfaatan Teknik Eka J. Wahyoepramono
Kultur Jaringan dan Histokimia. FKH IPB, 2003. Department of Neurosurgery Medical Faculty of Universitas Pelita Harapan,
derived neural aggregate). SENA merupakan sel predominan
4. Matahine T, Boediono A. Peluang dan tantangan penggunaan stem cells untuk terapi Siloam Hospital, Lippo Karawaci, Indonesia
prekursor neural. Pembentukan teratoma berhubungan dengan regeneratif. Med Vet Indones 2006;10:31-38.
kematangan sel yang akan ditransplantasikan dengan pemben- 5. Choi D, Lee HJ, Jee S. In vitro differentiation of mouse embryonic stem cells:

tukan tumor (26).


Enrichment of endodermal cells in the embryoid body. Stem Cells 2005;23:817-27. Prosedur awake craniotomy mula-mula digunakan pada Pada saat operasi, mapping negatif. Tumor berhasil diangkat
6. Tropepe V, Hitoshi S, Sirard C, Mak TW, Rossant J, van der Kooy D. Direct neural fate
specification from embryonic stem cells: A primitive mammalian neural stem cell
operasi epilepsi dan pengangkatan tumor di daerah eloquent. total secara kasat mata di bawah mikroskop. Pada saat operasi,
Yue dkk. mengujikan metode kokultur ESC primata dengan sel
stage through a default mechanism. Neuron 2001;30:65-78. Awake craniotomy memungkinkan ahli bedah melakukan brain mapping negatif. Tumor berhasil diangkat total secara kasat
7. Mattson MP, Chan SL, Duan W. Modification of brain aging and neurodegenerative mapping untuk menentukan batas-batas yang aman, sehingga
Sertoli tikus sebagai feeder layer pada medium bebas serum. disorders by genes, diet and behavior. Physiol Rev 2002;82:637-72. mata di bawah mikroskop. Hasil patologi menunjukkan suatu
Sel Sertoli digunakan dalam teknik kokultur, karena juga meng- 8. Puente LG, Borris DJ, Carriere JF, Kelly JF, Megeney LA. Identification of candidate operasi tidak memperburuk keadaan neurologis penderita. giant cell glioblastoma multiforme. Setelah operasi kelemahan
regulators of embryonic stem cell differentiation by comparative phosphoprotein Kemudian prosedur ini digunakan untuk semua tumor intra-
hasilkan GDNF (Glial cell derived neurotrophic factor). GDNF affinity profiling. Mol Cell Proteomics 2006;5:57-67. penderita membaik. Pengobatan dilajutkan dengan radioterapi.
diyakini dapat menstimulasi pertumbuhan ESC menjadi sel 9. Laeisz CS, Lang S, Chalaris A. Forced dimerization of gp130 leads constitutive STAT3 aksial tanpa memperhatikan letaknya1. Bahkan saat ini sudah
neural. Karakterisasi terhadap ekspresi sejumlah protein dilaku-
activation, cytokine-independent growth, and blockade of differentiation of banyak dilakukan sebagai outpatient surgery2. Penderita datang ke
embryonic stem cells. Mol Biol Cell 2006;17:2986-95.
kan dengan uji imunohistokimia, western blot, dan mikroskop 10. Wobus AM, Boheler KR. Embryonic stem cells: Prospects for developmental biology
rumah sakit pagi hari, kemudian dilakukan pemeriksaan MRI
elektron (27).
and cell therapy. Physiol Rev 2005;85:635-78. atau CT Scan, dilanjutkan dengan operasi awake craniotomy.
11. Ateghang B, Wartenberg M, Gassmann M, Sauer H. Regulation of cardiotrophin-1 Setelah operasi selesai, penderita diobservasi selama 4 jam di
expression in mouse embryonic stem cells by HIF-1a and intracellular reactive
Medium bebas serum dalam kultur ESC sangat berperan dalam oxygen species. J Cell Sci 2006;119:1043-52. ruang pemulihan, dilanjutkan dengan pemeriksaan CT Scan
12. Nakashima K, Wiese S, Yanagisawa M. Developmental requirement of gp130 sebelum pulang untuk memastikan bahwa tidak terdapat
diferensiasi sel prekursor neural menjadi sel-sel yang neurogenik. signaling in neuronal survival and astrocyte differentiation. J Neurosci 1999;13:5429-34.
Dengan menambahkan bahan-bahan tertentu yang berperan 13. Gregg C, Weiss S. CNTF/LIF/gp130 receptor complex signaling maintains a VZ bekuan darah yang membahayakan pada bekas tumor bed.
precursor differentiation gradient in the developing ventral forebrain. Development
sebagai mediator pertumbuhan, faktor yang berperan dalam 2005;132:565-78. a b c
sistem kultur pengarahan dapat diketahui. Dengan demikian 14. Montcouquiol M, Crenshaw EB, Kelley MW. Noncanonical Wnt signaling and neural
Pengalaman di RS Siloam Lippo Karawaci
penerapan medium bebas serum untuk pengarahan ESC dapat
polarity. Annu Rev Neurosci 2006;29:363-86. Sejauh ini telah dilakukan prosedur awake craniotomy terha- Gambar 1. Ilustrasi kasus 1, a) CT Scan tanpa kontras sebelum operasi,
15. Bouhon IA, Kato H, Chandran S, Allen ND. Neural differentiation of mouse embryonic dap 3 kasus. Semua penderita hanya membutuhkan neurolept terlihat massa di lobus frontal kiri dengan pergeseran garis tengah ke
membantu aplikasi ESC untuk tujuan terapetik. stem cells in chemically defined medium. Brain Res Bull 2005;68:62-75.
arah kanan. Massa hiperintens dengan nekrosis b) CT Scan dengan
16. Rathjen J, Halnes BP, Hudson KM, Nesci A, Dunn S, Rathjen PD. Directed differentia- anesthesia seperti propofol 100-150 mg (titrasi), fentanyl 50
kontras - tampak penyangatan pada massa yang padat. C) CT Scan post
tion of pluripotent cells to neural lineage: Homogeneous formation and differentiation mg dan precedex 0,05 - 0,07 µg/kg/menit dan sejenisnya. awake craniotomy pengangkatan tumor terlihat massa sudah terangkat,
of neuroectoderm population. Development 2002;129:2649-61.
17. Murashov AK, Pak ES, Hendricks WA, Owensby JP, Sierpinski PL, Tatko LM, Fletcher Pemberian obat ini hanya dilakukan saat awal anestesi infiltrasi sistem ventrikel dan garis tengah kembali ke posisi semestinya, dengan
PL. Directed differentiation of embryonic stem cells into dorsal interneuron. FASEB J dengan ropivacaine 0,5% 60 ml yang dicampur dengan epi- pneumocephalus ringan pada bifrontal.
2005;19:252-64.
18. Zhang P, Chebath J, Lonal P, Renel M. Enhancement of oligodendrocyte differentia-
nefrin 1:200.000 dan pemasangan pin holder. Campuran ini
tion from murine embryonic stem cells by an activator of gp 130 signalling. Stem Cells disuntikkan pada kulit kepala mulai dari superior glabella mem- Diskusi
2004;22:344-54.
bentuk lingkaran ke arah temporal, inion, temporal sisi yang Dahulu operasi awake craniotomy dianggap sulit, membutuh-
19. Liu S, Qu Y, Stewart TJ. Embryonic stem cells differentiate into oligodendrocytes and
myelinate in culture and after spinal cord transplantation. Proc Natl Acad Sci USA lain lalu kembali ke glabella. Infiltrasi ini akan memblok saraf kan peralatan mahal, membutuhkan tim bedah khusus, dan
2000;97:6126-31.
supraorbital dan oksipital, serta memberikan cakupan anestesi membutuhkan alat-alat khusus. Saat ini prosedur operasi ini
20. Fraichard A, Chassande O, Bilbaut G, Dehay C, Savatier P, Samarut J. In vitro
differentiation of embryonic stem cells into glial cells and functional neurons. J Cell Sci yang lebih luas dan lebih nyaman bagi penderita. dapat dilakukan dengan cara yang sederhana, mudah, dan
1995;108:3181-88.
21. Gage FH. Mammalian neural stem cells. Science 2000;287:1433-38.
murah. Bahkan jumlah penderita yang dioperasi dan pulang
22. Bain G, Kitchens D, Yao M. Embryonic stem cells express neural properties in vitro.
Oksigen diberikan melalui nasal canule, pemasangan artery pada hari yang sama, semakin banyak. Hal ini menunjukkan
Dev Biol 1995;168:342-357. line dilakukan dengan asumsi manset regular kurang nyaman. bahwa prosedur ini cukup aman. Dari 550 kasus awake
23. Kawasaki H, Mizuseki K, Sasai Y. Selective neural induction from ESC by stromal cell Brain mapping dilakukan dengan bipolar atau monopolar yang
derived inducing activity and its potential theurapetic application in Parkinson’s craniotomy yang dilakukan oleh Bernstein dan koleganya,
disease. Meth Mol Biol 2002;185:217-227. rendah, tentunya penderita dalam keadaan sadar penuh.
24. Tropepe V, Hitoshi S, Sirard C. Direct neural fate spesification from ESC: a primitive
hanya 2 kasus yang membutuhkan konversi ke anestesi
Lokasi mapping yang positif ditandai jika ditemukan, dan
mammalian neural stem cell stage acquired through default mechanism. Neuron umum3. Konversi tersebut terjadi pada kasus-kasus awal,
2001;30:65-78. dihindari pada saat pengangkatan tumor.
25. Krichevsky AM, Sonntag KC, Isacson O. Specific microRNAs modulate embryonic semakin pengalaman mereka melakukannya sudah hampir
stem cell–derived neurogenesis. Stem Cells 2006;24:857–864. tidak pernah terjadi konversi ke anestesi umum. Delapan
26. Dihne M, Bernrauther C, Hagel C. Embryonic stem cell-derived neuronally committed
Ilustrasi kasus
precursor cells with reduced teratoma formation after transplantation into the Laki-laki 21 tahun sadar penuh, dengan nyeri kepala kronis, kasus awake craniotomy yang dilakukan di berbagai rumah
lesioned adult mouse brain. Stem Cells 2006;24:1458–1466. sakit di Bandung, semuanya berlangsung baik3. Tidak ada
kejang dan kelemahan sisi kanan tubuh. CT Scan pre dan
27. Yue F, Cui L, Johkura K. Induction of midbrain dopaminergic neurons from primate
embryonic stem cells by coculture with sertoli cells. Stem Cells 2006;24:1695–1706. postoperatif awake craniotomy diperlihatkan di gbr 1. kasus yang dikonversi ke general anesthesia.

CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008 CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008
344 345
TINJAUAN PUSTAKA LA PO R A N K A SUS

Dihne dkk. meneliti pembentukan teratoma saat transplantasi DAFTAR PUSTAKA

sel-sel prekursor neural pada striatum mencit. Sel prekursor


neural monolayer ditumbuhkan dalam medium bebas serum
1. Priosoeryanto BP. Penggunaan teknik biakan sel dalam berbagai pengujian di bidang
Awake Craniotomy,
Alternatif bagi Tumor Intra-aksial
biomedis. Dalam Pelatihan Pemanfaatan Teknik Kultur Jaringan dan Histokimia. FKH
dengan penambahan FGF2 pada substrat poly L ornithine. Hasil IPB, 2003.
2. Djuwita I. Biologi kultur jaringan. Dalam Pelatihan Pemanfaatan Teknik Kultur
menunjukkan bahwa pembentukan teratoma menurun hingga Jaringan dan Histokimia. FKH IPB, 2003.
17% dengan transplantasi SENA (substrate adherent ES cell- 3. Fahrudin M. Pembuatan (inisiasi) kultur primer. Dalam Pelatihan Pemanfaatan Teknik Eka J. Wahyoepramono
Kultur Jaringan dan Histokimia. FKH IPB, 2003. Department of Neurosurgery Medical Faculty of Universitas Pelita Harapan,
derived neural aggregate). SENA merupakan sel predominan
4. Matahine T, Boediono A. Peluang dan tantangan penggunaan stem cells untuk terapi Siloam Hospital, Lippo Karawaci, Indonesia
prekursor neural. Pembentukan teratoma berhubungan dengan regeneratif. Med Vet Indones 2006;10:31-38.
kematangan sel yang akan ditransplantasikan dengan pemben- 5. Choi D, Lee HJ, Jee S. In vitro differentiation of mouse embryonic stem cells:

tukan tumor (26).


Enrichment of endodermal cells in the embryoid body. Stem Cells 2005;23:817-27. Prosedur awake craniotomy mula-mula digunakan pada Pada saat operasi, mapping negatif. Tumor berhasil diangkat
6. Tropepe V, Hitoshi S, Sirard C, Mak TW, Rossant J, van der Kooy D. Direct neural fate
specification from embryonic stem cells: A primitive mammalian neural stem cell
operasi epilepsi dan pengangkatan tumor di daerah eloquent. total secara kasat mata di bawah mikroskop. Pada saat operasi,
Yue dkk. mengujikan metode kokultur ESC primata dengan sel
stage through a default mechanism. Neuron 2001;30:65-78. Awake craniotomy memungkinkan ahli bedah melakukan brain mapping negatif. Tumor berhasil diangkat total secara kasat
7. Mattson MP, Chan SL, Duan W. Modification of brain aging and neurodegenerative mapping untuk menentukan batas-batas yang aman, sehingga
Sertoli tikus sebagai feeder layer pada medium bebas serum. disorders by genes, diet and behavior. Physiol Rev 2002;82:637-72. mata di bawah mikroskop. Hasil patologi menunjukkan suatu
Sel Sertoli digunakan dalam teknik kokultur, karena juga meng- 8. Puente LG, Borris DJ, Carriere JF, Kelly JF, Megeney LA. Identification of candidate operasi tidak memperburuk keadaan neurologis penderita. giant cell glioblastoma multiforme. Setelah operasi kelemahan
regulators of embryonic stem cell differentiation by comparative phosphoprotein Kemudian prosedur ini digunakan untuk semua tumor intra-
hasilkan GDNF (Glial cell derived neurotrophic factor). GDNF affinity profiling. Mol Cell Proteomics 2006;5:57-67. penderita membaik. Pengobatan dilajutkan dengan radioterapi.
diyakini dapat menstimulasi pertumbuhan ESC menjadi sel 9. Laeisz CS, Lang S, Chalaris A. Forced dimerization of gp130 leads constitutive STAT3 aksial tanpa memperhatikan letaknya1. Bahkan saat ini sudah
neural. Karakterisasi terhadap ekspresi sejumlah protein dilaku-
activation, cytokine-independent growth, and blockade of differentiation of banyak dilakukan sebagai outpatient surgery2. Penderita datang ke
embryonic stem cells. Mol Biol Cell 2006;17:2986-95.
kan dengan uji imunohistokimia, western blot, dan mikroskop 10. Wobus AM, Boheler KR. Embryonic stem cells: Prospects for developmental biology
rumah sakit pagi hari, kemudian dilakukan pemeriksaan MRI
elektron (27).
and cell therapy. Physiol Rev 2005;85:635-78. atau CT Scan, dilanjutkan dengan operasi awake craniotomy.
11. Ateghang B, Wartenberg M, Gassmann M, Sauer H. Regulation of cardiotrophin-1 Setelah operasi selesai, penderita diobservasi selama 4 jam di
expression in mouse embryonic stem cells by HIF-1a and intracellular reactive
Medium bebas serum dalam kultur ESC sangat berperan dalam oxygen species. J Cell Sci 2006;119:1043-52. ruang pemulihan, dilanjutkan dengan pemeriksaan CT Scan
12. Nakashima K, Wiese S, Yanagisawa M. Developmental requirement of gp130 sebelum pulang untuk memastikan bahwa tidak terdapat
diferensiasi sel prekursor neural menjadi sel-sel yang neurogenik. signaling in neuronal survival and astrocyte differentiation. J Neurosci 1999;13:5429-34.
Dengan menambahkan bahan-bahan tertentu yang berperan 13. Gregg C, Weiss S. CNTF/LIF/gp130 receptor complex signaling maintains a VZ bekuan darah yang membahayakan pada bekas tumor bed.
precursor differentiation gradient in the developing ventral forebrain. Development
sebagai mediator pertumbuhan, faktor yang berperan dalam 2005;132:565-78. a b c
sistem kultur pengarahan dapat diketahui. Dengan demikian 14. Montcouquiol M, Crenshaw EB, Kelley MW. Noncanonical Wnt signaling and neural
Pengalaman di RS Siloam Lippo Karawaci
penerapan medium bebas serum untuk pengarahan ESC dapat
polarity. Annu Rev Neurosci 2006;29:363-86. Sejauh ini telah dilakukan prosedur awake craniotomy terha- Gambar 1. Ilustrasi kasus 1, a) CT Scan tanpa kontras sebelum operasi,
15. Bouhon IA, Kato H, Chandran S, Allen ND. Neural differentiation of mouse embryonic dap 3 kasus. Semua penderita hanya membutuhkan neurolept terlihat massa di lobus frontal kiri dengan pergeseran garis tengah ke
membantu aplikasi ESC untuk tujuan terapetik. stem cells in chemically defined medium. Brain Res Bull 2005;68:62-75.
arah kanan. Massa hiperintens dengan nekrosis b) CT Scan dengan
16. Rathjen J, Halnes BP, Hudson KM, Nesci A, Dunn S, Rathjen PD. Directed differentia- anesthesia seperti propofol 100-150 mg (titrasi), fentanyl 50
kontras - tampak penyangatan pada massa yang padat. C) CT Scan post
tion of pluripotent cells to neural lineage: Homogeneous formation and differentiation mg dan precedex 0,05 - 0,07 µg/kg/menit dan sejenisnya. awake craniotomy pengangkatan tumor terlihat massa sudah terangkat,
of neuroectoderm population. Development 2002;129:2649-61.
17. Murashov AK, Pak ES, Hendricks WA, Owensby JP, Sierpinski PL, Tatko LM, Fletcher Pemberian obat ini hanya dilakukan saat awal anestesi infiltrasi sistem ventrikel dan garis tengah kembali ke posisi semestinya, dengan
PL. Directed differentiation of embryonic stem cells into dorsal interneuron. FASEB J dengan ropivacaine 0,5% 60 ml yang dicampur dengan epi- pneumocephalus ringan pada bifrontal.
2005;19:252-64.
18. Zhang P, Chebath J, Lonal P, Renel M. Enhancement of oligodendrocyte differentia-
nefrin 1:200.000 dan pemasangan pin holder. Campuran ini
tion from murine embryonic stem cells by an activator of gp 130 signalling. Stem Cells disuntikkan pada kulit kepala mulai dari superior glabella mem- Diskusi
2004;22:344-54.
bentuk lingkaran ke arah temporal, inion, temporal sisi yang Dahulu operasi awake craniotomy dianggap sulit, membutuh-
19. Liu S, Qu Y, Stewart TJ. Embryonic stem cells differentiate into oligodendrocytes and
myelinate in culture and after spinal cord transplantation. Proc Natl Acad Sci USA lain lalu kembali ke glabella. Infiltrasi ini akan memblok saraf kan peralatan mahal, membutuhkan tim bedah khusus, dan
2000;97:6126-31.
supraorbital dan oksipital, serta memberikan cakupan anestesi membutuhkan alat-alat khusus. Saat ini prosedur operasi ini
20. Fraichard A, Chassande O, Bilbaut G, Dehay C, Savatier P, Samarut J. In vitro
differentiation of embryonic stem cells into glial cells and functional neurons. J Cell Sci yang lebih luas dan lebih nyaman bagi penderita. dapat dilakukan dengan cara yang sederhana, mudah, dan
1995;108:3181-88.
21. Gage FH. Mammalian neural stem cells. Science 2000;287:1433-38.
murah. Bahkan jumlah penderita yang dioperasi dan pulang
22. Bain G, Kitchens D, Yao M. Embryonic stem cells express neural properties in vitro.
Oksigen diberikan melalui nasal canule, pemasangan artery pada hari yang sama, semakin banyak. Hal ini menunjukkan
Dev Biol 1995;168:342-357. line dilakukan dengan asumsi manset regular kurang nyaman. bahwa prosedur ini cukup aman. Dari 550 kasus awake
23. Kawasaki H, Mizuseki K, Sasai Y. Selective neural induction from ESC by stromal cell Brain mapping dilakukan dengan bipolar atau monopolar yang
derived inducing activity and its potential theurapetic application in Parkinson’s craniotomy yang dilakukan oleh Bernstein dan koleganya,
disease. Meth Mol Biol 2002;185:217-227. rendah, tentunya penderita dalam keadaan sadar penuh.
24. Tropepe V, Hitoshi S, Sirard C. Direct neural fate spesification from ESC: a primitive
hanya 2 kasus yang membutuhkan konversi ke anestesi
Lokasi mapping yang positif ditandai jika ditemukan, dan
mammalian neural stem cell stage acquired through default mechanism. Neuron umum3. Konversi tersebut terjadi pada kasus-kasus awal,
2001;30:65-78. dihindari pada saat pengangkatan tumor.
25. Krichevsky AM, Sonntag KC, Isacson O. Specific microRNAs modulate embryonic semakin pengalaman mereka melakukannya sudah hampir
stem cell–derived neurogenesis. Stem Cells 2006;24:857–864. tidak pernah terjadi konversi ke anestesi umum. Delapan
26. Dihne M, Bernrauther C, Hagel C. Embryonic stem cell-derived neuronally committed
Ilustrasi kasus
precursor cells with reduced teratoma formation after transplantation into the Laki-laki 21 tahun sadar penuh, dengan nyeri kepala kronis, kasus awake craniotomy yang dilakukan di berbagai rumah
lesioned adult mouse brain. Stem Cells 2006;24:1458–1466. sakit di Bandung, semuanya berlangsung baik3. Tidak ada
kejang dan kelemahan sisi kanan tubuh. CT Scan pre dan
27. Yue F, Cui L, Johkura K. Induction of midbrain dopaminergic neurons from primate
embryonic stem cells by coculture with sertoli cells. Stem Cells 2006;24:1695–1706. postoperatif awake craniotomy diperlihatkan di gbr 1. kasus yang dikonversi ke general anesthesia.

CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008 CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008
344 345
LAPORAN KASUS HASIL PENELITIAN

Pemilihan penderita didasarkan pada faktor tumor dan faktor


penderita. Prosedur ini dilakukan untuk tumor intra-aksial supra- Aktivasi Komplemen pada Jejas Mekanis
tentorial, tidak dilakukan pada tumor infratentorial karena posisi
penderita yang tidak nyaman, banyaknya otot yang harus diinfiltrasi, Pengobatan Tradisional Kerokan
dan pada kenyataannya glioma lebih jarang terletak pada fossa
Didik Tamtomo
posterior. Juga sebaiknya dihindarkan lokasi tumor yang terletak
Lab Anatomi Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Sebelas Maret, Solo, Indonesia
pada duramater yang sensitif seperti di fossa media, dekat falx
cerebri dan tentorium1-5. Penderita harus benar-benar memahami
semua prosedur yang akan dilakukan, mulai dari penempatan posisi, ABSTRAK
prosedur operasi, dan instruksi selama operasi. Penderita harus Latar belakang: Masyarakat Jawa mempunyai pengobatan tradisional yang disebut kerokan. Pengobatan ini
bersedia bekerja sama dan dapat berkomunikasi dengan tim bedah, dilakukan dengan menekan dan menggeserkan benda tumpul berulang-ulang pada kulit di daerah punggung,
agar dapat mengikuti instruksi dan petunjuk selama operasi. Saat DAFTAR PUSTAKA leher dan dada dengan pelicin minyak. Perlakuan ini menyebabkan jejas mekanis pada kulit yang mengakibatkan
cortical mapping, penderita harus nyaman dan mengikuti semua reaksi inflamasi. Komplemen adalah mediator kimia yang berperan penting pada reaksi inflamasi. Dikenal dua
1. Taylor MD, Bernstein M. Awake craniotomy with brain mapping as the routine
instruksi dengan baik4. Penderita yang tidak sadar penuh, agitasi dan surgical approach to treating patients with supratentorial intaaxial tumors: a jalur aktivasi komplemen yaitu jalur klasik yang tercetus oleh pengikatan C1 dengan antibodi dan jalur alternatif
memiliki hambatan komunikasi tidak sesuai untuk prosedur ini. Hal prospective trial of 200 cases. J Neurosurg 1999;90:35-41 yang tercetus oleh pengikatan C3 dengan polisakarida bakteri. Tujuan penelitian ini adalah mengungkap jalur
ini merupakan kekurangan dan keterbatasan prosedur ini. 2. Bernstein M. Outpatient craniotomy for brain tumor: A pilot feasibility study in 46 aktivasi komplemen pada jejas mekanis pengobatan kerokan, tujuan khususnya mengukur kadar C1q dan C3.
patients. Can J Neurol Sci 2001;28:120-124 Metoda: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan rancangan randomized pre test – post test
Persiapan yang lain untuk penderita sama dengan operasi yang lain, 3. Julius July, Setyowidi Nugroho, Beny A Wiryomartani, Kahdar Wiriadisastra, Mark control group design. Penelitian dilakukan di Klinik Padma. Besar sampel 38 yang dibagi menjadi 2 kelompok,
Bernstein. Awake Craniotomy: How we do it?. Dipresentasikan di 11th ASEAN
seperti pemeriksaan darah dan urin, foto thoraks, EKG, dan lain-lain, 19 sukarelawan merupakan kelompok perlakuan sedangkan 19 sukarelawan kelompok kontrol. Tes statistik
Congress of Neurological Surgeons and Joint Educational Meeting of
sesuai dengan kebutuhan. ACNS/AASNS /WFNS, Bali, Indonesia, Dec 2004. yang dipergunakan adalah: Kolmogorov-Smirnov, t parametrik, Mann Whitney pada derajat kemaknaan 5%.
4. Danks RA, Rogers M, Aglio LS, Gugino LD, Black PM. Patient tolerance of Hasil: Tidak terdapat perbedaan yang signifikan kadar C1q dan C3 antara kontrol dan perlakuan.
Kesimpulan craniotomy performed with the patient under local anesthesia and monitored
Awake craniotomy merupakan salah satu alternatif prosedur yang conscious sedation. Neurosurgery 1998;42:28-34
PENDAHULUAN jalur yaitu jalur klasik dimulai dengan C1 yang terdiri dari C1q, C1r
dapat dikembangkan di Indonesia untuk pembedahan tumor intra- 5. Aglio LS, Gugino LD:. Conscious sedation for intraoperative neurosurgical
procedures. Techniques in Neurosurgery 2001; 7:52-60 Mahalnya biaya pelayanan kesehatan dan harga obat-obatan di dan C1s dan jalur alternatif dimulai dengan C35. Jalur klasik
aksial supratentorial.
Indonesia mendorong masyarakat mencari pengobatan alternatif1. tercetus oleh ikatan C1 dengan antibodi (IgM atau IgG) sedangkan
Ada kecenderungan besar dalam pemanfaatan pengobatan jalur alternatif tercetus oleh polisakarida bakteri atau endotoksin6.
alternatif sehingga kedokteran konvensional tidak dapat meng- Pada jejas mekanis terutama pada pengobatan kerokan terjadi
abaikan pengobatan ini. Bangsa Indonesia khususnya di Jawa reaksi inflamasi yang tentunya menyebabkan aktivasi sistem
mengenal suatu cara pengobatan yang disebut kerokan. Dalam komplemen, tetapi belum pernah diteliti melalui jalur manakah
budaya Jawa, kerokan biasanya dilakukan untuk pengobatan aktivasi sistem komplemen tersebut. Tujuan umum penelitian ini
gejala masuk angin. Masyarakat awam menggunakan istilah adalah mengungkap jalur aktivasi komplemen pada jejas mekanis
masuk angin untuk menggambarkan berbagai fenomena yang pengobatan kerokan. Dan tujuan khususnya membuktikan bahwa
berhubungan dengan tidak enak badan seperti perut kembung, perlakuan kerokan menyebabkan peningkatan C1q dan/atau C3.
pegal linu, batuk pilek, nyeri kepala2.
METODE
Pola umum kerokan membentuk garis lurus dari atas ke bawah Penelitian dilakukan di Klinik Padma Surakarta, Februari - April
dan miring di sisi kiri-kanan ruas tulang belakang atau pada leher 2005. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan
belakang. Pada kerokan terjadi penekanan dan peregangan rancangan Randomized Pre Test - Post test control group design.
berulang pada kulit sehingga timbul balur berwarna merah. Sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah sukarelawan
Pada perlakuan ini terjadi jejas mekanis yang mengakibatkan dengan kriteria sebagai berikut: Menderita mialgia 2-3 hari,
suatu reaksi inflamasi. Inflamasi adalah reaksi jaringan hidup ter- belum mendapat pengobatan anti inflamasi (NSAID) atau imuno-
hadap semua bentuk jejas yang merupakan mekanisme penting supresan (kortikosteroid), usia 40 – 50 tahun, jenis kelamin
untuk mempertahankan diri dari berbagai bahaya yang meng- perempuan, berat dan tinggi ideal [dengan rumus Quetelet :
ganggu keseimbangan dan berfungsi memperbaiki kerusakan (tinggi badan – 100) ± 10%], suhu 36-37°C (aksial), tekanan
struktur jaringan3. Tanda dini inflamasi berupa pelepasan mediator- darah 120/80-130/85, nadi 72 – 84/menit reguler. Sampel tidak
mediator kimia, salah satu yang penting adalah komplemen. menderita anemi, DM, penyakit keganasan, gangguan kulit yang
Sistem komplemen terdiri dari satu seri protein plasma yang ber- luas, penyakit hati kronis (tes faal hati normal) penyakit ginjal
peran penting dalam imunitas maupun inflamasi. Komponen- kronis (tes faal ginjal normal), faal hemostasis normal (waktu
komplemen terdapat dalam bentuk inaktif dalam plasma dan diberi pembekuan dan pendarahan normal). Sudah mengalami kerokan
kode C1 sampai C9 4. Sistem komplemen diaktifkan melalui 2 minimal sebulan 2 kali.

CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008 CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008
346 347
LAPORAN KASUS HASIL PENELITIAN

Pemilihan penderita didasarkan pada faktor tumor dan faktor


penderita. Prosedur ini dilakukan untuk tumor intra-aksial supra- Aktivasi Komplemen pada Jejas Mekanis
tentorial, tidak dilakukan pada tumor infratentorial karena posisi
penderita yang tidak nyaman, banyaknya otot yang harus diinfiltrasi, Pengobatan Tradisional Kerokan
dan pada kenyataannya glioma lebih jarang terletak pada fossa
Didik Tamtomo
posterior. Juga sebaiknya dihindarkan lokasi tumor yang terletak
Lab Anatomi Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Sebelas Maret, Solo, Indonesia
pada duramater yang sensitif seperti di fossa media, dekat falx
cerebri dan tentorium1-5. Penderita harus benar-benar memahami
semua prosedur yang akan dilakukan, mulai dari penempatan posisi, ABSTRAK
prosedur operasi, dan instruksi selama operasi. Penderita harus Latar belakang: Masyarakat Jawa mempunyai pengobatan tradisional yang disebut kerokan. Pengobatan ini
bersedia bekerja sama dan dapat berkomunikasi dengan tim bedah, dilakukan dengan menekan dan menggeserkan benda tumpul berulang-ulang pada kulit di daerah punggung,
agar dapat mengikuti instruksi dan petunjuk selama operasi. Saat DAFTAR PUSTAKA leher dan dada dengan pelicin minyak. Perlakuan ini menyebabkan jejas mekanis pada kulit yang mengakibatkan
cortical mapping, penderita harus nyaman dan mengikuti semua reaksi inflamasi. Komplemen adalah mediator kimia yang berperan penting pada reaksi inflamasi. Dikenal dua
1. Taylor MD, Bernstein M. Awake craniotomy with brain mapping as the routine
instruksi dengan baik4. Penderita yang tidak sadar penuh, agitasi dan surgical approach to treating patients with supratentorial intaaxial tumors: a jalur aktivasi komplemen yaitu jalur klasik yang tercetus oleh pengikatan C1 dengan antibodi dan jalur alternatif
memiliki hambatan komunikasi tidak sesuai untuk prosedur ini. Hal prospective trial of 200 cases. J Neurosurg 1999;90:35-41 yang tercetus oleh pengikatan C3 dengan polisakarida bakteri. Tujuan penelitian ini adalah mengungkap jalur
ini merupakan kekurangan dan keterbatasan prosedur ini. 2. Bernstein M. Outpatient craniotomy for brain tumor: A pilot feasibility study in 46 aktivasi komplemen pada jejas mekanis pengobatan kerokan, tujuan khususnya mengukur kadar C1q dan C3.
patients. Can J Neurol Sci 2001;28:120-124 Metoda: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan rancangan randomized pre test – post test
Persiapan yang lain untuk penderita sama dengan operasi yang lain, 3. Julius July, Setyowidi Nugroho, Beny A Wiryomartani, Kahdar Wiriadisastra, Mark control group design. Penelitian dilakukan di Klinik Padma. Besar sampel 38 yang dibagi menjadi 2 kelompok,
Bernstein. Awake Craniotomy: How we do it?. Dipresentasikan di 11th ASEAN
seperti pemeriksaan darah dan urin, foto thoraks, EKG, dan lain-lain, 19 sukarelawan merupakan kelompok perlakuan sedangkan 19 sukarelawan kelompok kontrol. Tes statistik
Congress of Neurological Surgeons and Joint Educational Meeting of
sesuai dengan kebutuhan. ACNS/AASNS /WFNS, Bali, Indonesia, Dec 2004. yang dipergunakan adalah: Kolmogorov-Smirnov, t parametrik, Mann Whitney pada derajat kemaknaan 5%.
4. Danks RA, Rogers M, Aglio LS, Gugino LD, Black PM. Patient tolerance of Hasil: Tidak terdapat perbedaan yang signifikan kadar C1q dan C3 antara kontrol dan perlakuan.
Kesimpulan craniotomy performed with the patient under local anesthesia and monitored
Awake craniotomy merupakan salah satu alternatif prosedur yang conscious sedation. Neurosurgery 1998;42:28-34
PENDAHULUAN jalur yaitu jalur klasik dimulai dengan C1 yang terdiri dari C1q, C1r
dapat dikembangkan di Indonesia untuk pembedahan tumor intra- 5. Aglio LS, Gugino LD:. Conscious sedation for intraoperative neurosurgical
procedures. Techniques in Neurosurgery 2001; 7:52-60 Mahalnya biaya pelayanan kesehatan dan harga obat-obatan di dan C1s dan jalur alternatif dimulai dengan C35. Jalur klasik
aksial supratentorial.
Indonesia mendorong masyarakat mencari pengobatan alternatif1. tercetus oleh ikatan C1 dengan antibodi (IgM atau IgG) sedangkan
Ada kecenderungan besar dalam pemanfaatan pengobatan jalur alternatif tercetus oleh polisakarida bakteri atau endotoksin6.
alternatif sehingga kedokteran konvensional tidak dapat meng- Pada jejas mekanis terutama pada pengobatan kerokan terjadi
abaikan pengobatan ini. Bangsa Indonesia khususnya di Jawa reaksi inflamasi yang tentunya menyebabkan aktivasi sistem
mengenal suatu cara pengobatan yang disebut kerokan. Dalam komplemen, tetapi belum pernah diteliti melalui jalur manakah
budaya Jawa, kerokan biasanya dilakukan untuk pengobatan aktivasi sistem komplemen tersebut. Tujuan umum penelitian ini
gejala masuk angin. Masyarakat awam menggunakan istilah adalah mengungkap jalur aktivasi komplemen pada jejas mekanis
masuk angin untuk menggambarkan berbagai fenomena yang pengobatan kerokan. Dan tujuan khususnya membuktikan bahwa
berhubungan dengan tidak enak badan seperti perut kembung, perlakuan kerokan menyebabkan peningkatan C1q dan/atau C3.
pegal linu, batuk pilek, nyeri kepala2.
METODE
Pola umum kerokan membentuk garis lurus dari atas ke bawah Penelitian dilakukan di Klinik Padma Surakarta, Februari - April
dan miring di sisi kiri-kanan ruas tulang belakang atau pada leher 2005. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan
belakang. Pada kerokan terjadi penekanan dan peregangan rancangan Randomized Pre Test - Post test control group design.
berulang pada kulit sehingga timbul balur berwarna merah. Sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah sukarelawan
Pada perlakuan ini terjadi jejas mekanis yang mengakibatkan dengan kriteria sebagai berikut: Menderita mialgia 2-3 hari,
suatu reaksi inflamasi. Inflamasi adalah reaksi jaringan hidup ter- belum mendapat pengobatan anti inflamasi (NSAID) atau imuno-
hadap semua bentuk jejas yang merupakan mekanisme penting supresan (kortikosteroid), usia 40 – 50 tahun, jenis kelamin
untuk mempertahankan diri dari berbagai bahaya yang meng- perempuan, berat dan tinggi ideal [dengan rumus Quetelet :
ganggu keseimbangan dan berfungsi memperbaiki kerusakan (tinggi badan – 100) ± 10%], suhu 36-37°C (aksial), tekanan
struktur jaringan3. Tanda dini inflamasi berupa pelepasan mediator- darah 120/80-130/85, nadi 72 – 84/menit reguler. Sampel tidak
mediator kimia, salah satu yang penting adalah komplemen. menderita anemi, DM, penyakit keganasan, gangguan kulit yang
Sistem komplemen terdiri dari satu seri protein plasma yang ber- luas, penyakit hati kronis (tes faal hati normal) penyakit ginjal
peran penting dalam imunitas maupun inflamasi. Komponen- kronis (tes faal ginjal normal), faal hemostasis normal (waktu
komplemen terdapat dalam bentuk inaktif dalam plasma dan diberi pembekuan dan pendarahan normal). Sudah mengalami kerokan
kode C1 sampai C9 4. Sistem komplemen diaktifkan melalui 2 minimal sebulan 2 kali.

CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008 CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008
346 347
HASIL PENELITIAN HASIL PENELITIAN

Besar sampel ditentukan menurut rumus sebagai berikut7 Uji t Sebenarnya pada jalur alternatif yang berperan penting adalah Tabel 1. Deskripsi perubahan kadar C1q
Berdasarkan output diperoleh nilai p = 0.950, berarti kadar C3 C3a tetapi karena sulit diperiksa maka digunakan C3 sebagai
n = Ó_ (Z1-_/2 + Z1-_)_ pada perlakuan dan kontrol tidak berbeda bermakna. indikator; bila teraktivasi C3 akan terurai menjadi C3a dan C3b. C1q perlakuan C1q kontrol
µo - µa)_
(µ Pada kenyataannya jalur alternatif secara terus menerus diaktifkan N 19 19
Uji Mann-Whitney tetapi pada derajat yang sangat rendah; akan naik secara dra- Rata-rata -.60021 -.37868
n : Besar sampel yang dibutuhkan
Berdasar output diperoleh nilai p= 0.665 berarti kadar C1q pada matis jika terdapat aktivator seperti dinding bakteri atau jamur13. Minimum -4.849 -1.600
Z1-_/2 : Nilai distribusi normal baku (tabel z ) pada _ tertentu
perlakuan dan kontrol tidak berbeda bermakna.
Z1-_ : Nilai distribusi normal baku (tabel z) pada _ tertentu Maksimum .765 .989
Tidak terdapat perbedaan bermakna antara rerata kadar C3
µo - µa : Perkiraan selisih nilai mean perlakuan dan kontrol dipopulasi Deviasi standar 1.417485 .676804
PEMBAHASAN kelompok perlakuan kerokan dan kontrol (p=0.950) (tabel 3). Ini
Pada pengobatan kerokan terjadi jejas mekanis pada kulit yang menunjukkan kemungkinan ada jalur lain aktivasi komplemen
Dari rumus di atas didapat besar sampel minimun adalah 25.
menimbulkan reaksi inflamasi8. Meskipun jejas dapat bermacam- selain jalur alternatif karena komplemen merupakan pusat untuk
Dalam penelitian ini besar sampel adalah 38. Pengambilan
macam dan jaringan yang menyertai inflamasi berbeda, mediator terjadinya reaksi inflamasi. Tabel 2. Deskripsi perubahan kadar C3
sampel dengan simple random sampling. Selanjutnya masing-
kimia yang dilepaskan sama sehingga respon terhadap inflamasi
masing 19 orang dialokasikan secara acak ke dalam 2 kelom- C3 perlakuan C3 kontrol
tampaknya stereotip9. Mediator kimia berasal dari plasma SIMPULAN
pok, perlakuan dan kontrol.
maupun jaringan merupakan rantai penting antara jejas dengan Pada pengobatan kerokan (jejas mekanis) tidak terdapat kenaikan N 19 19
Variabel bebas adalah kerokan variabel tergantung adalah C1q
timbulnya fenomena yang diserbut inflamasi. Mediator-mediator kadar C1q yang merupakan pencetus jalur klasik komplemen Rata-rata .21 .32
dan C3. Bahan penelitian adalah serum darah tepi yang diambil
kimia ini tersebar luas dalam tubuh al: histamin, serotonin, maupun C3 yang merupakan pencetus jalur alternatif komplemen.
melalui vena mediana cubiti. Metode pengujian C1q dengan Minimum -8 -9
leukotrin, prostaglandin dan komplemen. Kebanyakan ilmuwan
Elisa, C3 dengan Immunoturbidimetri SARAN Maksimum 10 8
selalu berpikir tentang sistem imun pada antibodi, sel B, sel T
yang melindungi tubuh terhadap benda asing. Sebenarnya Penelitian lebih lanjut secara imunohistokimia untuk mencari Deviasi standar 5.073 4.655
HASIL kemungkinan jalur lain aktivasi komplemen pada jejas mekanik.
terdapat bagian lain dari sistem imun yang bekerja lebih cepat
Perubahan kadar C1q yang disebut komplemen10. Komplemen inflammatory cascade
Pada kelompok perlakuan ditemukan perubahan kadar C1q merupakan suatu komponen yang penting dalam pembentukan
minimum adalah –4.849 Eg/ml, maksimum 0.765 Eg/ml, rata- DAFTAR PUSTAKA Tabel 3. Uji t satu sisi C3
respon innate immunity, merangsang fagositosis dan reaksi infla- TWO SAMPLE T - TEST AND CONFIDENCE INTERVAL
rata –0.600 Eg/ml, dan deviasi standar 1.417 Eg/ml. Pada masi lokal yang akhirnya merupakan pertahanan dan penyem- 1. Dharmojono. Akupuntur sebagai Pengobatan Alternatif. Dalam: Menghayati Two sample T for C3
kelompok kontrol ditemukan perubahan kadar C1q minimum buhan tubuh melawan infeksi11. Teori & Praktek Akupuntur dan Moksibasi. Jakarta: Trubus Agriwidya; 2001:
adalah –1.600 Eg/ml, maksimum 0.989 Eg/ml, rata-rata –0.379 22-31.
Kasus N Mean StDev SEMean T-Test P
Eg/ml, dan deviasi standar 0.677 Eg/ml (Tabel1). Hasil penelitian 2. Koosnadi S. Pengobatan Tradisional Kerokan untuk Sindroma yang Defisien.
Komplemen mempengaruhi berbagai fenomena inflamasi akut Dalam: Akupuntur Klinik. Surabaya: Airlangga University Press; 2002: 137-141.
menunjukkan bahwa angka sebaran kadar C1q pada perlakuan 1 19 0.21 5.07 1.2
al; meningkatkan permeabilitas vaskuler, vasodilatasi, mengak- -0.07 0.950
lebih menyebar dibandingkan kontrol. Hal ini terlihat dari deviasi 3. Baratawijaya KG. Imunologi. Ed. 5 dasar. Jakarta:Balai Penerbit Fakultas 2 19 0.32 4.66 1.1
tifkan jalur lipoksigenase asam arakidonat, kemotaksis, fagosit- Kedokteran Universitas Indonesia;2002: 42-47
standar pada perlakuan sebesar 1.417 Eg/ml, lebih besar dari- osis. Sampai saat ini dikenal dua jalur aktivasi komplemen yaitu
4. Cotran RS, Kumar V, Collins T.Acute and Chronic Inflammation. In: Robbins
pada kontrol sebesar 0.677 Eg/ml. jalur klasik dan jalur alternatif. Aktivasi jalur klasik dimulai dari Pathologic Basis of Disease 6th ed Philadelpia: WB Saunders Co. 1999:
komponen C1q. Seperti diketahui kehadiran substansi molekul 50-86 Tabel 4 Uji Mann-Whitney
Perubahan kadar C3 C1q karena adanya induksi dari molekul antigen dan antibodi 5. Roitt IM.Pokok-pokok Ilmu Kekebalan.Jakarta:PT Gramedia;1985:155-162.
Pada perlakuan ditemukan perubahan kadar C3 minimum sebagai suatu komplek imun. Tindakan kerokan menghasilkan NPar Tests
6. Abbas AK, Lichtman AH, Pober JS.Cells and Tissues of the Immune
adalah –8 mg/dl, maksimum 10 mg/dl, rata-rata 0.21 mg/dl, dan sel/jaringan debris yang diduga berpenampilan suatu antigen System. In: Cellular and Molecular Immunology 2nd ed. Philadelphia: WB Ranks
deviasi standar 5.073 mg/dl. Pada kontrol ditemukan perubahan yang akan merangsang tubuh untuk membuat autoantibodi ter- Saunders Co.1994 : 22-24.
kadar C3 minimum adalah -9 mg/dl, maksimum 8 mg/dl, rata- hadap debris tersebut sehingga membentuk komplek imun 7. Notobroto HB. Penghitungan Besar Sampel. Dalam: Tehnik Sampling dan Kasus N Mean Rank Sum of Ranks
rata 0.32 mg/dl, dan deviasi standar 4.655 mg/dl (Tabel 2). Hasil yang akan merangsang aktivasi C1q. Ternyata debris pada orang Penghitungan Besar Sampel. Surabaya: Lembaga Penelitian Universitas C1q perlakuan 19 20.32 386.00
Airlangga; 2004 : 4.
penelitian menunjukkan bahwa angka sebaran kadar C3 pada yang sering kerokan berupa antigen, dan tubuh tidak membuat kontrol 19 18.68 355.00
perlakuan lebih menyebar dibandingkan kontrol. Hal ini terlihat 8. Didik GT. Gambaran Histopatologi Kulit pada Pengobatan Tradisional
antibodi terhadap debris tersebut sehingga tidak terjadi komplek total 38
Kerokan. Cermin Dunia Kedokt. 2005: 35 (1): 28-31.
dari deviasi standar pada perlakuan sebesar 5.073 mg/dl lebih imun yang merangsang aktivasi komplemen C1q. Auto antibodi
9. Parslow TG, Bainton DF. Innate Immunity. In: Parslow TG, Stites DP eds.
besar daripada kontrol sebesar 4.655 mg/dl. yang terjadi pada jaringan rusak, infeksi dapat berikatan dengan Medical Immunology Lange 10th ed.New York: The McGraw-Hill Co. 2003: Test Statisticsb
jaringan tubuh dan mengaktivasi sistem komplemen12. 19-37
C1q
Perbandingan Kelompok Perlakuan dan Kelompok kontrol 10. Board of Regent. Primitive, Primary and Potent. Available from: URL:http:
Mann-Whitney U 165.000
Untuk menguji apakah terdapat perbedaan antara kelompok Pemeriksaan kadar C1q pada perlakuan kerokan dan kontrol //whyfiles.org/index.php. 2005
Wilcoxon W 355.000
perlakuan dan kelompok kontrol dilakukan dengan uji para- tidak menemukan perbedaan bermakna (p = 0.665). (tabel 4). 11. Francis K, Beek J, Canova C, Neal JW, Gasque P. Activation and Regula-
Z -0.453
metrik t untuk dua sampel independen (untuk data yang ber- Berarti sel debris pada kerokan bukan merupakan antigen sehingga tion of the Complement System. Available from: URL:http://www-ermm.
cbcu.com.ac.uk/03006252h.htm.org. 2003 Asymp. Sig. (2-tailed) 0.651
distribusi normal) dan uji non parametrik Mann-Whitney (untuk tidak terjadi aktivasi komplemen melalui jalur klasik. C3 diproduksi
Exact Sig. [2*(1-Tailed sig.)] .665ª
data yang berdistribusi tidak normal). Bedasarkan hasil uji nor- oleh hati dan merupakan 70% protein total dari sistem komplemen. 12. Sigal LH, Ron Y. Immunology and Inflammation. Basic Mechanism and
Clinical Consequences. New York: McGraw-Hill Inc. 1994; 243-246 a. Not Corrected for ties
malitas, uji t dilakukan pada C3 sedangkan uji Mann Whitney Aktivasi C3 melalui jalur alternatif dirangsang oleh polisakarida
dilakukan pada C1q. dinding sel tertentu seperti endotoksin kuman13. 13. Roitt IM, Brostoff J, Male D, Immunology 6th ed. Edinbrugh: Mosby. 2001; 52-59 b. Grouping Variable: kasus

CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008 CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008 349
348
HASIL PENELITIAN HASIL PENELITIAN

Besar sampel ditentukan menurut rumus sebagai berikut7 Uji t Sebenarnya pada jalur alternatif yang berperan penting adalah Tabel 1. Deskripsi perubahan kadar C1q
Berdasarkan output diperoleh nilai p = 0.950, berarti kadar C3 C3a tetapi karena sulit diperiksa maka digunakan C3 sebagai
n = Ó_ (Z1-_/2 + Z1-_)_ pada perlakuan dan kontrol tidak berbeda bermakna. indikator; bila teraktivasi C3 akan terurai menjadi C3a dan C3b. C1q perlakuan C1q kontrol
µo - µa)_
(µ Pada kenyataannya jalur alternatif secara terus menerus diaktifkan N 19 19
Uji Mann-Whitney tetapi pada derajat yang sangat rendah; akan naik secara dra- Rata-rata -.60021 -.37868
n : Besar sampel yang dibutuhkan
Berdasar output diperoleh nilai p= 0.665 berarti kadar C1q pada matis jika terdapat aktivator seperti dinding bakteri atau jamur13. Minimum -4.849 -1.600
Z1-_/2 : Nilai distribusi normal baku (tabel z ) pada _ tertentu
perlakuan dan kontrol tidak berbeda bermakna.
Z1-_ : Nilai distribusi normal baku (tabel z) pada _ tertentu Maksimum .765 .989
Tidak terdapat perbedaan bermakna antara rerata kadar C3
µo - µa : Perkiraan selisih nilai mean perlakuan dan kontrol dipopulasi Deviasi standar 1.417485 .676804
PEMBAHASAN kelompok perlakuan kerokan dan kontrol (p=0.950) (tabel 3). Ini
Pada pengobatan kerokan terjadi jejas mekanis pada kulit yang menunjukkan kemungkinan ada jalur lain aktivasi komplemen
Dari rumus di atas didapat besar sampel minimun adalah 25.
menimbulkan reaksi inflamasi8. Meskipun jejas dapat bermacam- selain jalur alternatif karena komplemen merupakan pusat untuk
Dalam penelitian ini besar sampel adalah 38. Pengambilan
macam dan jaringan yang menyertai inflamasi berbeda, mediator terjadinya reaksi inflamasi. Tabel 2. Deskripsi perubahan kadar C3
sampel dengan simple random sampling. Selanjutnya masing-
kimia yang dilepaskan sama sehingga respon terhadap inflamasi
masing 19 orang dialokasikan secara acak ke dalam 2 kelom- C3 perlakuan C3 kontrol
tampaknya stereotip9. Mediator kimia berasal dari plasma SIMPULAN
pok, perlakuan dan kontrol.
maupun jaringan merupakan rantai penting antara jejas dengan Pada pengobatan kerokan (jejas mekanis) tidak terdapat kenaikan N 19 19
Variabel bebas adalah kerokan variabel tergantung adalah C1q
timbulnya fenomena yang diserbut inflamasi. Mediator-mediator kadar C1q yang merupakan pencetus jalur klasik komplemen Rata-rata .21 .32
dan C3. Bahan penelitian adalah serum darah tepi yang diambil
kimia ini tersebar luas dalam tubuh al: histamin, serotonin, maupun C3 yang merupakan pencetus jalur alternatif komplemen.
melalui vena mediana cubiti. Metode pengujian C1q dengan Minimum -8 -9
leukotrin, prostaglandin dan komplemen. Kebanyakan ilmuwan
Elisa, C3 dengan Immunoturbidimetri SARAN Maksimum 10 8
selalu berpikir tentang sistem imun pada antibodi, sel B, sel T
yang melindungi tubuh terhadap benda asing. Sebenarnya Penelitian lebih lanjut secara imunohistokimia untuk mencari Deviasi standar 5.073 4.655
HASIL kemungkinan jalur lain aktivasi komplemen pada jejas mekanik.
terdapat bagian lain dari sistem imun yang bekerja lebih cepat
Perubahan kadar C1q yang disebut komplemen10. Komplemen inflammatory cascade
Pada kelompok perlakuan ditemukan perubahan kadar C1q merupakan suatu komponen yang penting dalam pembentukan
minimum adalah –4.849 Eg/ml, maksimum 0.765 Eg/ml, rata- DAFTAR PUSTAKA Tabel 3. Uji t satu sisi C3
respon innate immunity, merangsang fagositosis dan reaksi infla- TWO SAMPLE T - TEST AND CONFIDENCE INTERVAL
rata –0.600 Eg/ml, dan deviasi standar 1.417 Eg/ml. Pada masi lokal yang akhirnya merupakan pertahanan dan penyem- 1. Dharmojono. Akupuntur sebagai Pengobatan Alternatif. Dalam: Menghayati Two sample T for C3
kelompok kontrol ditemukan perubahan kadar C1q minimum buhan tubuh melawan infeksi11. Teori & Praktek Akupuntur dan Moksibasi. Jakarta: Trubus Agriwidya; 2001:
adalah –1.600 Eg/ml, maksimum 0.989 Eg/ml, rata-rata –0.379 22-31.
Kasus N Mean StDev SEMean T-Test P
Eg/ml, dan deviasi standar 0.677 Eg/ml (Tabel1). Hasil penelitian 2. Koosnadi S. Pengobatan Tradisional Kerokan untuk Sindroma yang Defisien.
Komplemen mempengaruhi berbagai fenomena inflamasi akut Dalam: Akupuntur Klinik. Surabaya: Airlangga University Press; 2002: 137-141.
menunjukkan bahwa angka sebaran kadar C1q pada perlakuan 1 19 0.21 5.07 1.2
al; meningkatkan permeabilitas vaskuler, vasodilatasi, mengak- -0.07 0.950
lebih menyebar dibandingkan kontrol. Hal ini terlihat dari deviasi 3. Baratawijaya KG. Imunologi. Ed. 5 dasar. Jakarta:Balai Penerbit Fakultas 2 19 0.32 4.66 1.1
tifkan jalur lipoksigenase asam arakidonat, kemotaksis, fagosit- Kedokteran Universitas Indonesia;2002: 42-47
standar pada perlakuan sebesar 1.417 Eg/ml, lebih besar dari- osis. Sampai saat ini dikenal dua jalur aktivasi komplemen yaitu
4. Cotran RS, Kumar V, Collins T.Acute and Chronic Inflammation. In: Robbins
pada kontrol sebesar 0.677 Eg/ml. jalur klasik dan jalur alternatif. Aktivasi jalur klasik dimulai dari Pathologic Basis of Disease 6th ed Philadelpia: WB Saunders Co. 1999:
komponen C1q. Seperti diketahui kehadiran substansi molekul 50-86 Tabel 4 Uji Mann-Whitney
Perubahan kadar C3 C1q karena adanya induksi dari molekul antigen dan antibodi 5. Roitt IM.Pokok-pokok Ilmu Kekebalan.Jakarta:PT Gramedia;1985:155-162.
Pada perlakuan ditemukan perubahan kadar C3 minimum sebagai suatu komplek imun. Tindakan kerokan menghasilkan NPar Tests
6. Abbas AK, Lichtman AH, Pober JS.Cells and Tissues of the Immune
adalah –8 mg/dl, maksimum 10 mg/dl, rata-rata 0.21 mg/dl, dan sel/jaringan debris yang diduga berpenampilan suatu antigen System. In: Cellular and Molecular Immunology 2nd ed. Philadelphia: WB Ranks
deviasi standar 5.073 mg/dl. Pada kontrol ditemukan perubahan yang akan merangsang tubuh untuk membuat autoantibodi ter- Saunders Co.1994 : 22-24.
kadar C3 minimum adalah -9 mg/dl, maksimum 8 mg/dl, rata- hadap debris tersebut sehingga membentuk komplek imun 7. Notobroto HB. Penghitungan Besar Sampel. Dalam: Tehnik Sampling dan Kasus N Mean Rank Sum of Ranks
rata 0.32 mg/dl, dan deviasi standar 4.655 mg/dl (Tabel 2). Hasil yang akan merangsang aktivasi C1q. Ternyata debris pada orang Penghitungan Besar Sampel. Surabaya: Lembaga Penelitian Universitas C1q perlakuan 19 20.32 386.00
Airlangga; 2004 : 4.
penelitian menunjukkan bahwa angka sebaran kadar C3 pada yang sering kerokan berupa antigen, dan tubuh tidak membuat kontrol 19 18.68 355.00
perlakuan lebih menyebar dibandingkan kontrol. Hal ini terlihat 8. Didik GT. Gambaran Histopatologi Kulit pada Pengobatan Tradisional
antibodi terhadap debris tersebut sehingga tidak terjadi komplek total 38
Kerokan. Cermin Dunia Kedokt. 2005: 35 (1): 28-31.
dari deviasi standar pada perlakuan sebesar 5.073 mg/dl lebih imun yang merangsang aktivasi komplemen C1q. Auto antibodi
9. Parslow TG, Bainton DF. Innate Immunity. In: Parslow TG, Stites DP eds.
besar daripada kontrol sebesar 4.655 mg/dl. yang terjadi pada jaringan rusak, infeksi dapat berikatan dengan Medical Immunology Lange 10th ed.New York: The McGraw-Hill Co. 2003: Test Statisticsb
jaringan tubuh dan mengaktivasi sistem komplemen12. 19-37
C1q
Perbandingan Kelompok Perlakuan dan Kelompok kontrol 10. Board of Regent. Primitive, Primary and Potent. Available from: URL:http:
Mann-Whitney U 165.000
Untuk menguji apakah terdapat perbedaan antara kelompok Pemeriksaan kadar C1q pada perlakuan kerokan dan kontrol //whyfiles.org/index.php. 2005
Wilcoxon W 355.000
perlakuan dan kelompok kontrol dilakukan dengan uji para- tidak menemukan perbedaan bermakna (p = 0.665). (tabel 4). 11. Francis K, Beek J, Canova C, Neal JW, Gasque P. Activation and Regula-
Z -0.453
metrik t untuk dua sampel independen (untuk data yang ber- Berarti sel debris pada kerokan bukan merupakan antigen sehingga tion of the Complement System. Available from: URL:http://www-ermm.
cbcu.com.ac.uk/03006252h.htm.org. 2003 Asymp. Sig. (2-tailed) 0.651
distribusi normal) dan uji non parametrik Mann-Whitney (untuk tidak terjadi aktivasi komplemen melalui jalur klasik. C3 diproduksi
Exact Sig. [2*(1-Tailed sig.)] .665ª
data yang berdistribusi tidak normal). Bedasarkan hasil uji nor- oleh hati dan merupakan 70% protein total dari sistem komplemen. 12. Sigal LH, Ron Y. Immunology and Inflammation. Basic Mechanism and
Clinical Consequences. New York: McGraw-Hill Inc. 1994; 243-246 a. Not Corrected for ties
malitas, uji t dilakukan pada C3 sedangkan uji Mann Whitney Aktivasi C3 melalui jalur alternatif dirangsang oleh polisakarida
dilakukan pada C1q. dinding sel tertentu seperti endotoksin kuman13. 13. Roitt IM, Brostoff J, Male D, Immunology 6th ed. Edinbrugh: Mosby. 2001; 52-59 b. Grouping Variable: kasus

CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008 CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008 349
348
BERITA TERKINI BERITA TERKINI

Latihan fisik dapat mempercepat Astaxanthin, antioksidan


penyembuhan luka dari golongan karotenoid
Antioksidan golongan karotenoid berjumlah sekitar 732 jenis antioksidan. Karotenoid tidak bisa
disintesis oleh tubuh, sehingga antioksidan jenis ini diperoleh dari asupan makanan. Ada dua kelas
antioksidan dari kelompok karotenoid, yaitu Kelas Xantofil dan Kelas Karoten. Dari Kelas Karoten
misalnya betakaroten dan likopen. Sedangkan dari Kelas Xantofil misalnya Lutein dan Astaxanthin.
A staxanthin merupakan karotenoid alami, memiliki kekuatan Gb.1. Antioxidant pathways 1
antioksidan yang jauh lebih poten dibandingkan antioksidan
lain yang sudah dikenal seperti vitamin E dan C. Senyawa ini
lebih kuat 550 kali dibandingkan vitamin E dan 40 kali lebih kuat
dibandingkan beta karoten dalam mengikat singlet oksigen.
Untuk menghambat peroksidasi lipid, astaxanthin bahkan
lebih kuat dibandingkan vitamin E.

Menurut studi pada tikus yang dilakukan di Universitas Illionis dan yang telah dipublikasikan Astaxanthin bisa ditemukan di mikroalga yang hidup di perairan
seluruh dunia mulai dari daerah tropis sampai padang salju
di the American Journal of Physiology: Regulatory, Integrative and Comparative Physiology, Antartika, atau di hewan laut seperti salmon segar, udang,
manfaat latihan fisik terhadap penyembuhan luka dikaitkan dengan penurunan inflamasi. dan lobster. Astaxanthin ini yang memberikan warna merah
Dan tingkat inflamasi yang rendah dikaitkan dengan penyembuhan luka yang lebih cepat muda pada hewan-hewan laut tersebut.
dan jaringan parut yang lebih sedikit pada mamalia. Kekuatan astaxanthin terletak pada potensinya dalam men-
cegah berbagai penyakit dan gangguan kesehatan lain.
K. Todd Keylock Ph.D dari Universitas Bowling Green State, Latihan fisik menyebabkan penurunan tingkat inflamasi tikus Sebagai antioksidan, astaxanthin memiliki aktivitas menetral-
Bowling Green, Ohio mengatakan bahwa banyak studi me- tua ke tingkat yang hampir sama dengan yang tampak pada kan singlet oxygen dan peroksida lipid. Astaxanthin memiliki
nemukan peningkatan petanda darah inflamasi hingga empat tikus muda. efek antiinflamasi dengan menghambat sitokin dan chemokin.
kali lipat yang dikaitkan dengan penuaan, dan penuaan Dari sisi kesehatan mata, ia bisa mencegah kelelahan mata,
tampaknya meningkatkan fase inflamasi penyembuhan luka. Dr. Keylock juga mengatakan bahwa manfaat latihan fisik katarak diabetik, dan mempertajam penglihatan. Pada penyakit-
Dia juga telah membuat hipotesis bahwa latihan fisik sedang pada penyembuhan luka terjadi pada awal proses hingga 6 penyakit yang ada kaitannya dengan gaya hidup seperti
dapat mempercepat penyembuhan luka melalui penurunan hari pasca luka. Waktu untuk 20% penutupan luka adalah hipertensi, diabetes, sindrom metabolik atau infeksi lambung
kadar sitokin proinflamasi yang dikaitkan dengan penuaan. 2,5 hari lebih cepat sedangkan waktu untuk 80% penutupan oleh Helicobacter pylori, astaxanthin juga berperan cukup besar.
Di kedokteran olahraga, astaxanthin bisa meningkatkan daya
luka 51% lebih cepat pada tikus dengan latifan fisik. Latihan tahan otot dan untuk kesehatan kulit, mencegah kerut.
Untuk mengontrol jumlah latihan fisik, dia menempatkan fisik pada tikus tersebut setara dengan manusia berjalan
sejumlah tikus pada treadmill yang dimotorisasi selama 30 cepat selama 30 menit sehari, 5-6 kali seminggu. Dr. Keylock Penelitian manfaat astaxanthin yang banyak dilakukan pada Gb.2. Antioxidant pathway 2
menit sebelum dan selama penyembuhan luka, sedangkan memperkirakan jumlah latihan fisik tersebut adalah jumlah hewan percobaan menujukkan hasil positif. Beberapa peneli- Ket. gb.2 : SOD – Superoxide dismutasis, Cat – Catalase, O2· – Superoxide, O2 – Oxygen
GSSH – Oxidate Glutathione, GSHPx – Glutathione Peroxidase, H2O – Água,OH· –
tikus kontrol tidak diberi kesempatan untuk latihan fisik. yang diperlukan untuk menimbulkan manfaat penyembuhan tian kemudian ditingkatkan pada percobaan pada manusia. Hydroxyl Radical, GSH – Reduced Glutathione, H2O2 – Hydrogen Peroxide.
luka; jumlah latihan fisik yang lebih banyak tidak akan meng- Studi di Jepang meneliti penggunaan astaxanthin 5 mg selama
Sebuah alat biopsi kulit digunakan untuk membuat 4 luka hasilkan manfaat yang lebih besar secara bermakna. 4 minggu untuk eye fatigue (kelelahan mata) atau astenofia; Radikal bebas superoxide oleh SOD akan diubah menjadi
kulit full-thickness, dan tingkat penutupan luka dinilai setelah hasilnya keluhan eye fatigue menurun 54%. H2O2 (Hidrogen peroxida). Selanjutnya H2O2 oleh glutation
10 hari. Proses tersebut diulang 4 bulan kemudian, dengan Dokter perlu mendorong pasien yang berusia lebih tua untuk peroxidase dan katalase diurai menjadi H2O (air). Namun ada
Astaxanthin memiliki mekanisme kerja memperbaiki akomodasi, H2O2 yang tidak tertangkap oleh glutation peroxidase dan
luka dinilai setelah 1, 3 dan 5 hari serta kadar sitokin diukur. latihan fisik secara teratur sebelum dan setelah pembeda- dan meningkatkan aliran darah dan antiinflamasi di mata. katalase, akan terurai menjadi OH· . Radikal bebas ini akan
han. Selain memperbaiki kekuatan, tonus otot dan densitas Pada beban kerja yang sangat membutuhkan penglihatan, ditangkap oleh antioksidan eksogen (scavenger) dan diurai-
Hasilnya menunjukkan bahwa tikus tua dengan latihan fisik tulang serta menurunkan lemak tubuh, latihan fisik dapat mata akan fokus pada suatu obyek dengan jarak tertentu kan menjadi molekul yang netral.
sembuh lebih cepat secara bermakna dibanding tikus tua mempercepat penyembuhan luka dan menurunkan risiko pada periode waktu lama sehinga akan menyebabkan kejang
yang tidak latihan fisik. terbentuknya jaringan parut. atau kelelahan otot yang dapat dideteksi dari uji akomodasi. Kesimpulan: antiokidan enzimatik dan antioksidan eksogen
Pada pengguna astaxanthin, lebar akomodasi akan mening- memiliki tempat kerja yang berbeda-beda, dan bila keduanya
Dari hasil analisis luka, Dr. Keylock menemukan kadar tumor Dr.Keylock percaya bahwa penemuan ini dapat diaplikasi- kat pada semua obyek dekat dan jauh. Dan efek ini mulai cukup dimiliki oleh tubuh, akan memberikan manfaat yang
bermakna di minggu ke-2. baik untuk kesehatan. (MML)
necrosis factor alpha (TNF-alpha), keratinocyte chemoat- kan pada kondisi lain dengan tingkat inflamasi yang tinggi
tractant (KC), dan monocyte chemoattractant protein-1 seperti diabetes dan obesitas. (EKM) Antioksidan enzimatik dan antioksidan eksogen Daftar Pustaka:
(MCP-1) yang lebih rendah secara bermakna pada tikus tua Para ahli menyebutkan bahwa SOD dan antioksidan enzima- 1. Astaxanthin. Wikipedia. www://em.wikipedia.org/wiki/Astaxanthin
dengan latihan fisik. Sedangkan tikus yang lebih muda mem- Referensi : 2. Terapi dan Pencegahan Penyakit dengan Astaxanthin. Farmacia, Juli 2007.
tik lainnya (antioksidan endogen) bekerja sebagai antioksidan
punyai tingkat inflamasi lebih rendah, apakah berlatih fisik 3. Rechkermmer. Antioxidants and their role in healthy nutrition.
Roehr B. Get moving! Exercise decreases inflammation, facilitates wound tahap awal, sedangkan vitamin atau antioksidan eksogen lain Institute of Nutritional Physiology, Germany.
atau tidak. healing. Dermatology Times, Juni 1, 2008. bekerja pada tahap akhir. (Gb.1) 4. Reactive Oxigen Species and Oxidative Stress. www.redlabs.be

CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008 CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008
352 353
BERITA TERKINI BERITA TERKINI

Latihan fisik dapat mempercepat Astaxanthin, antioksidan


penyembuhan luka dari golongan karotenoid
Antioksidan golongan karotenoid berjumlah sekitar 732 jenis antioksidan. Karotenoid tidak bisa
disintesis oleh tubuh, sehingga antioksidan jenis ini diperoleh dari asupan makanan. Ada dua kelas
antioksidan dari kelompok karotenoid, yaitu Kelas Xantofil dan Kelas Karoten. Dari Kelas Karoten
misalnya betakaroten dan likopen. Sedangkan dari Kelas Xantofil misalnya Lutein dan Astaxanthin.
A staxanthin merupakan karotenoid alami, memiliki kekuatan Gb.1. Antioxidant pathways 1
antioksidan yang jauh lebih poten dibandingkan antioksidan
lain yang sudah dikenal seperti vitamin E dan C. Senyawa ini
lebih kuat 550 kali dibandingkan vitamin E dan 40 kali lebih kuat
dibandingkan beta karoten dalam mengikat singlet oksigen.
Untuk menghambat peroksidasi lipid, astaxanthin bahkan
lebih kuat dibandingkan vitamin E.

Menurut studi pada tikus yang dilakukan di Universitas Illionis dan yang telah dipublikasikan Astaxanthin bisa ditemukan di mikroalga yang hidup di perairan
seluruh dunia mulai dari daerah tropis sampai padang salju
di the American Journal of Physiology: Regulatory, Integrative and Comparative Physiology, Antartika, atau di hewan laut seperti salmon segar, udang,
manfaat latihan fisik terhadap penyembuhan luka dikaitkan dengan penurunan inflamasi. dan lobster. Astaxanthin ini yang memberikan warna merah
Dan tingkat inflamasi yang rendah dikaitkan dengan penyembuhan luka yang lebih cepat muda pada hewan-hewan laut tersebut.
dan jaringan parut yang lebih sedikit pada mamalia. Kekuatan astaxanthin terletak pada potensinya dalam men-
cegah berbagai penyakit dan gangguan kesehatan lain.
K. Todd Keylock Ph.D dari Universitas Bowling Green State, Latihan fisik menyebabkan penurunan tingkat inflamasi tikus Sebagai antioksidan, astaxanthin memiliki aktivitas menetral-
Bowling Green, Ohio mengatakan bahwa banyak studi me- tua ke tingkat yang hampir sama dengan yang tampak pada kan singlet oxygen dan peroksida lipid. Astaxanthin memiliki
nemukan peningkatan petanda darah inflamasi hingga empat tikus muda. efek antiinflamasi dengan menghambat sitokin dan chemokin.
kali lipat yang dikaitkan dengan penuaan, dan penuaan Dari sisi kesehatan mata, ia bisa mencegah kelelahan mata,
tampaknya meningkatkan fase inflamasi penyembuhan luka. Dr. Keylock juga mengatakan bahwa manfaat latihan fisik katarak diabetik, dan mempertajam penglihatan. Pada penyakit-
Dia juga telah membuat hipotesis bahwa latihan fisik sedang pada penyembuhan luka terjadi pada awal proses hingga 6 penyakit yang ada kaitannya dengan gaya hidup seperti
dapat mempercepat penyembuhan luka melalui penurunan hari pasca luka. Waktu untuk 20% penutupan luka adalah hipertensi, diabetes, sindrom metabolik atau infeksi lambung
kadar sitokin proinflamasi yang dikaitkan dengan penuaan. 2,5 hari lebih cepat sedangkan waktu untuk 80% penutupan oleh Helicobacter pylori, astaxanthin juga berperan cukup besar.
Di kedokteran olahraga, astaxanthin bisa meningkatkan daya
luka 51% lebih cepat pada tikus dengan latifan fisik. Latihan tahan otot dan untuk kesehatan kulit, mencegah kerut.
Untuk mengontrol jumlah latihan fisik, dia menempatkan fisik pada tikus tersebut setara dengan manusia berjalan
sejumlah tikus pada treadmill yang dimotorisasi selama 30 cepat selama 30 menit sehari, 5-6 kali seminggu. Dr. Keylock Penelitian manfaat astaxanthin yang banyak dilakukan pada Gb.2. Antioxidant pathway 2
menit sebelum dan selama penyembuhan luka, sedangkan memperkirakan jumlah latihan fisik tersebut adalah jumlah hewan percobaan menujukkan hasil positif. Beberapa peneli- Ket. gb.2 : SOD – Superoxide dismutasis, Cat – Catalase, O2· – Superoxide, O2 – Oxygen
GSSH – Oxidate Glutathione, GSHPx – Glutathione Peroxidase, H2O – Água,OH· –
tikus kontrol tidak diberi kesempatan untuk latihan fisik. yang diperlukan untuk menimbulkan manfaat penyembuhan tian kemudian ditingkatkan pada percobaan pada manusia. Hydroxyl Radical, GSH – Reduced Glutathione, H2O2 – Hydrogen Peroxide.
luka; jumlah latihan fisik yang lebih banyak tidak akan meng- Studi di Jepang meneliti penggunaan astaxanthin 5 mg selama
Sebuah alat biopsi kulit digunakan untuk membuat 4 luka hasilkan manfaat yang lebih besar secara bermakna. 4 minggu untuk eye fatigue (kelelahan mata) atau astenofia; Radikal bebas superoxide oleh SOD akan diubah menjadi
kulit full-thickness, dan tingkat penutupan luka dinilai setelah hasilnya keluhan eye fatigue menurun 54%. H2O2 (Hidrogen peroxida). Selanjutnya H2O2 oleh glutation
10 hari. Proses tersebut diulang 4 bulan kemudian, dengan Dokter perlu mendorong pasien yang berusia lebih tua untuk peroxidase dan katalase diurai menjadi H2O (air). Namun ada
Astaxanthin memiliki mekanisme kerja memperbaiki akomodasi, H2O2 yang tidak tertangkap oleh glutation peroxidase dan
luka dinilai setelah 1, 3 dan 5 hari serta kadar sitokin diukur. latihan fisik secara teratur sebelum dan setelah pembeda- dan meningkatkan aliran darah dan antiinflamasi di mata. katalase, akan terurai menjadi OH· . Radikal bebas ini akan
han. Selain memperbaiki kekuatan, tonus otot dan densitas Pada beban kerja yang sangat membutuhkan penglihatan, ditangkap oleh antioksidan eksogen (scavenger) dan diurai-
Hasilnya menunjukkan bahwa tikus tua dengan latihan fisik tulang serta menurunkan lemak tubuh, latihan fisik dapat mata akan fokus pada suatu obyek dengan jarak tertentu kan menjadi molekul yang netral.
sembuh lebih cepat secara bermakna dibanding tikus tua mempercepat penyembuhan luka dan menurunkan risiko pada periode waktu lama sehinga akan menyebabkan kejang
yang tidak latihan fisik. terbentuknya jaringan parut. atau kelelahan otot yang dapat dideteksi dari uji akomodasi. Kesimpulan: antiokidan enzimatik dan antioksidan eksogen
Pada pengguna astaxanthin, lebar akomodasi akan mening- memiliki tempat kerja yang berbeda-beda, dan bila keduanya
Dari hasil analisis luka, Dr. Keylock menemukan kadar tumor Dr.Keylock percaya bahwa penemuan ini dapat diaplikasi- kat pada semua obyek dekat dan jauh. Dan efek ini mulai cukup dimiliki oleh tubuh, akan memberikan manfaat yang
bermakna di minggu ke-2. baik untuk kesehatan. (MML)
necrosis factor alpha (TNF-alpha), keratinocyte chemoat- kan pada kondisi lain dengan tingkat inflamasi yang tinggi
tractant (KC), dan monocyte chemoattractant protein-1 seperti diabetes dan obesitas. (EKM) Antioksidan enzimatik dan antioksidan eksogen Daftar Pustaka:
(MCP-1) yang lebih rendah secara bermakna pada tikus tua Para ahli menyebutkan bahwa SOD dan antioksidan enzima- 1. Astaxanthin. Wikipedia. www://em.wikipedia.org/wiki/Astaxanthin
dengan latihan fisik. Sedangkan tikus yang lebih muda mem- Referensi : 2. Terapi dan Pencegahan Penyakit dengan Astaxanthin. Farmacia, Juli 2007.
tik lainnya (antioksidan endogen) bekerja sebagai antioksidan
punyai tingkat inflamasi lebih rendah, apakah berlatih fisik 3. Rechkermmer. Antioxidants and their role in healthy nutrition.
Roehr B. Get moving! Exercise decreases inflammation, facilitates wound tahap awal, sedangkan vitamin atau antioksidan eksogen lain Institute of Nutritional Physiology, Germany.
atau tidak. healing. Dermatology Times, Juni 1, 2008. bekerja pada tahap akhir. (Gb.1) 4. Reactive Oxigen Species and Oxidative Stress. www.redlabs.be

CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008 CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008
352 353
BERITA TERKINI

Homosistein ada hubungannya


dengan penyakit jiwa
Seiring dengan bertambahnya usia, kadar homosistein dapat meningkat secara progresif.
Peningkatan homosistein di dalam darah merupakan faktor risiko independen
terjadinya aterosklerosis yang menyerang otak, jantung dan pembuluh darah perifer.
Dan dari penelitian yang akhir-akhir ini dipublikasi berhubungan juga dengan
penurunan fungsi kognitif pada pasien lansia.
S eruan pentingnya fortifikasi asam folat pernah dilakukan Sejumlah 75 pasien bipolar dan 42 kelompok kontrol sehat
oleh sebuah Lembaga The Framingham Offspring Study ikut serta dalam penelitian tersebut, performa kelompok
untuk menurunkan prevalensi rendahnya status asam folat bipolar lebih jelek dibandingkan kelompok sehat, dengan
yang sangat tinggi yaitu lebih dari 90% dan akan memberikan kemaknaan yang baik (Pillai Spur: F = 3.32, p =0,038), kecuali
pengaruh terhadap terjadinya hiperhomosisteinemia ringan.
IQ premorbid (p = 0,068).
Di bidang penyakit jiwa, telah dibuktikan adanya hubungan
antara penurunan fungsi kognitif pasien skizofrenia dengan Kadar homosistein rata-rata 1,2 ± 3,2 µM/L untuk pasien
tingginya kadar homosistein dalam darah, bahkan baru-baru bipolar dan 8,9 ± 2,8 µ M/L untuk kelompok kontrol (p = 0,036).
ini Journal of Clinical Psychiatry 2008, edisi terbaru memuat Ada hubungan bermakna antara kadar homosistein dan
hasil sebuah penelitian kecil tentang adanya hubungan penu- kemampuan verbal pasien (p = 0,002), dengan kemunduran
runan fungsi kognitif pada pasien dengan gangguan bipolar fungsi memori (p = 0,030), dan dengan kemunduran fungsi
dengan peningkatan kadar homosistein.
eksekutif (p = 0,011) pada pasien.
Pasien gangguan bipolar yang ikut dalam penelitian tersebut,
diamati dari tahun 2002 hingga 2006; sebelumnya dinilai Kesimpulan :
depresinya dengan skala HRS (Hamilton Rating Scale for Dep- peningkatan kadar homosistein memberikan efek negatif pada
ression, (skoringnya ≤ 5) dan juga dinilai gejala manianya proses verbal, kemunduran memori dan fungsi eksekutif
dengan skor YMRS (Young Mania Rating Scale, (skoringnya ≤ 5).
pada pasien bipolar. (IDS)
Semua dinilai fungsi kognitifnya dengan mengacu pada kriteria
DSM IV untuk gangguan bipolar dan kelompok kontrol sehatnya
Referensi:
dengan beberapa skala yaitu: Skala dari Wechsler Adult Intelli-
gence Scale, Skala III dari The Wechsler Adult Intelligence The Impact of Homocysteine Levels on Cognition in Euthymic Bipolar Patients:
Scale III Letter-Number Sequencing Subtest, Test Trail Making. A Cross-Sectional Study J Clin Psychiatry 2008; 69:899906, http://www.schizophrenia.
com/sznews/archives/ 002393.html
Penilaian status neuropsikologi menggunakan alat khusus yaitu The Significance of Homocysteine Levels in Schizophrenia . Am J Psychiatry
The Repeatable Battery yang digunakan untuk menilai IQ 162:1387-1388, http://ajp.psychiatryonline.org/cgi/reprint/ 162/ 7/1387-a
premorbid, kecepatan, dan kemampuan verbal dan seberapa
Elevated Homocysteine Levels in Young Male Patients With Schizophrenia, Am J
luas kapasitas memori pasien dan fungsi eksekutif. Kadar Psychiatry 2002, 159:1790-1792. http://ajp.psychiatryonline.org/ cgi/content/
Homosistein plasma diukur dengan menggunakan kromatografi. abstract/159/10/1790

CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008


355
BERITA TERKINI

Hubungan antara selektivitas AINS


dengan risiko stroke
Pada uji klinik-uji klinik sebelumnya, Pengguna AINS nonselective (HR Melibatkan anggota Medicaid yang
telah diperlihatkan adanya hubungan 1,72; 95% confidence interval [CI] tidak pernah menderita stroke dan
antara obat antiinflamasi non steroid 1,22-2,44) dan COX-2 selective (HR penyakit serius lainnya pada saat
(AINS) COX-2 selective dengan pening- 2,75; 95% CI 1,28-5,95) mempunyai sebelum studi ini dilakukan.
katan risiko kejadian tromboembolik. risiko terkena stroke yang lebih besar,
Namun, informasi profil keamanan AINS namun tidak demikian halnya pada Dilakukan studi terhadap 7 macam
penghambat COX-2 (coxib) dan non- pengguna AINS COX-1 selective AINS yang paling sering digunakan,
coxib terhadap kejadian serebrovas- (HR 1,10; 95% CI 0,41-2,97). yaitu : celecoxib, rofecoxib, valde-
kular masih sangat terbatas. coxib, ibuprofen, naproxen, diclof-
Hazard ratios (95% CIs) terhadap enac, dan indomethacin. Kelompok
1. Studi hubungan antara selektivitas stroke iskemik adalah 1,68 (1,05-2,69) kontrol pada studi ini terdiri dari
AINS dengan risiko stroke bertujuan untuk penggunaan AINS nonselec- orang-orang yang tidak pernah
untuk mengetahui hubungan antara tive dan 4,54 (2,06-9,98) untuk AINS menggunakan AINS.
penggunaan AINS dengan risiko stroke COX-2 selective.
pada prospective, population-based Karena pengguna baru AINS kurang
Rotterdam Study. Studi ini melibatkan Pada individual AINSs, penggunaan rentan terhadap bias, maka para
7636 orang yang tidak menderita AINS nonselective naproxen (HR 2,63; peneliti juga melakukan analisis yang
stroke pada saat baseline (1991-1993) 95% CI 1,47-4,72) dan AINS COX-2 serupa terhadap pengguna baru
dan difollow-up terhadap insidens selective rofecoxib (HR 3,38; 95% AINS. Parameter yang dinilai adalah
stroke hingga September 2004. Semua CI, 1,48-7,74) berhubungan dengan perawatan di rumah sakit terhadap
data mengenai obat-obatan yang di- risiko terkena stroke yang lebih besar. insiden kejadian serebrovaskular,
gunakan para partisipan berasal dari seperti : stroke iskemik, perdarahan
catatan farmasi. Hazard ratios (95% CIs) untuk diklo- intraserebral, dan perdarahan sub-
fenak (1,60 [1,00-2,57]), ibuprofen araknoid.
Dengan menggunakan Cox regression (1,47 [0,73-3,00]), dan celecoxib (3,79
models, para peneliti menghitung crude [0,52-27,6]) lebih besar daripada 1,00 Studi ini melibatkan 336.906 orang,
and adjusted hazard ratios (HRs) of namun secara statistik tidak bermakna. dengan 989.826 person-years of follow-
stroke for time-dependent current up, dan 4354 perawatan di rumah
use of AINSs and individual AINSs Kesimpulan: studi ini ialah pada popu- sakit akibat stroke.
dibandingkan dengan yang tidak pernah lasi umum, risiko terkena stroke lebih
menggunakan AINS sama sekali. besar pada penggunaan AINS non- Terdapat 4,51 kejadian stroke per
selective dan COX-2 selective. Risiko 1000 person years pada kelompok
Berdasarkan selektivitas terhadap COX, stroke tidak hanya terbatas pada kontrol, 5,15 kejadian stroke per 1000
AINS digolongkan menjadi : COX-1 penggunaan AINS COX-2 selective. person years (adjusted HR 1,28;
selective, nonselective, dan COX-2 95% CI 1,06-1,53) pada pengguna
selective. 2. Studi hubungan antara AINS non- rofecoxib, dan 5,95 kejadian stroke
aspirin dan penghambat COX-2 dengan per 1000 person years (adjusted HR
Pada awal studi usia rata-rata para risiko stroke bertujuan untuk menentu- 1,41; 95% CI 1,04-1,91) pada peng-
partisipan adalah 70,2 tahun, 61,3% kan apakah AINS tertentu, termasuk guna valdecoxib.
wanita. di dalamnya golongan coxib mempu-
nyai hubungan dengan risiko stroke. Pengguna baru rofecoxib dan valde-
Selama 70.063 person-years of follow- Merupakan retrospective cohort study coxib memiliki 6,06 (adjusted HR
up (rata-rata, 9,2 tahun), 807 orang pada anggota Tennessee Medicaid 1,46 95% CI 1,08-1,98) dan 6,19
menderita stroke (460 stroke iskemik, yang berusia 50-84 tahun. Studi ini (adjusted HR 1,39; 95% CI 0,74-2,59)
74 stroke hemoragik, dan 273 stroke berlangsung dari 1 Januari 1999 hingga kejadian stroke per 1000 person years
yang tidak terspesifikasi). 31 Desember 2004. secara berturut-turut.

CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008


356
BERITA TERKINI BERITA TERKINI

AINS lainnya tidak meningkatkan risiko Odds ratios (ORs) terhadap hubungan
insiden stroke secara bermakna. antara stroke iskemik dengan peng-
gunaan AINS COX-2 selective dihi-
Kesimpulan : tung dengan menggunakan conditi-
Dari hasil studi ini dapat disimpul- onal logistic regression.
kan bahwa terdapat peningkatan
risiko stroke dengan penggunaan 2 Hasilnya : Pengguna rofecoxib (OR
AINS golongan coxib, yaitu rofeco- = 1,71; 95% CI 1,33-2,18), dan
xib dan valdecoxib, dimana kedua etoricoxib (OR = 2,38; 95% CI 1,10-
AINS tersebut juga mempunyai hu- 5,13) berhubungan dengan pening- Referensi :
1. Haag M. D. et al. Cyclooxygenase Selectiv-

Hubungan antara efek


bungan dengan peningkatan risiko katan risiko stroke iskemik secara ber-
kardiovaskular. makna, namun tidak demikian halnya ity of Nonsteroidal Anti-inflammatory Drugs
dengan celecoxib (OR = 1,07; 95% and Risk of Stroke. In : Archives of Internal

3. Studi hubungan antara AINS COX-2


CI 0,79-1,44). Medicine. 2008; 168(11):1219-1224. Available
from : http://archinte.ama-assn.org/cgi/ content/
short/168/11/1219
antikolinergik dan fungsi kognitif
selective dengan risiko stroke iske- Bagi pengguna rofecoxib dan eto-
mik bertujuan untuk mengetahui hu- ricoxib, ORs cenderung meningkat
bungan antara penghambat COX-2 dengan dosis harian yang lebih tinggi 2. Roumie C. L. et al. Nonaspirin NSAIDs, Sebuah hasil penelitian dipresentasikan dalam pertemuan
dengan risiko terkena stroke iskemik. dan waktu pemakaian yang lebih Cyclooxygenase 2 Inhibitors, and the Risk American Academy of Neurology ke-60 tahun 2008 di Chicago baru-baru ini,
panjang dan ORs juga meningkat pada for Stroke. In : Stroke. 2008; 39 : 2037. yang menjelaskan bahwa ternyata semua obat-obatan antikolinergik
Studi ini merupakan nested case- pasien tanpa faktor risiko stroke. Available from : http://stroke.ahajournals.org/
cgi/content/abstract/STROKEAHA.107.50
berhubungan dengan penurunan fungsi kognitif pada orang tua.
control study, yang melibatkan 469.
674 pasien yang terdaftar pada UK Kesimpulan : 8549v1
General Practice Research Database - AINS COX-2 selective berbeda 3. Andersohn F. et al. Cyclooxygenase-2 Selec-
Temuan ini sekaligus merupakan anjuran kepada dokter Setiap peserta diobservasi selama 7,8 tahun, dicatat, dan
tive Nonsteroidal Anti-Inflammatory Drugs untuk lebih berhati-hati dalam meresepkan obat-obatan yang diamati model regresinya, yang dicocokkan dengan jenis
(GPRD), yang setidaknya pernah men- potensialitasnya dalam menyebab-
dapatkan 1 macam AINS antara 1 Juni kan kejadian serebrovaskular iskemik. and the Risk of Ischemic Stroke : A Nested mungkin akan mempunyai efek tersebut, demikian penjela- kelamin, usia serta nilai rata-rata penurunan fungsi kognitif
2000-31 Oktober 2004. Terdapat 3094 - Peningkatan risiko stroke iskemik Case-Control Study. In : Stroke. 2006; 37 : 1-6. san Dr. Jack Tsao, profesor di bidang Neurologi di Universitas
setiap individu sebelum dan sesudah diterapi dengan obat
kasus stroke iskemik yang berhasil dapat dipengaruhi oleh penggunaan Available from : http://stroke.ahajournals.org/ Uniformed Services di Bethesda, Maryland, Amerika.
antikolinergik.
diidentifikasi. Kelompok kontrol terdiri obat-obatan penghambat COX-2 cgi/content/abstract/01.STR.0000226642.
dari 11.859 orang. tertentu. (VKS) 55207.94v1?ck=nck Efek antikolinergik yang kuat sering terdapat pada obat-obat
antiparkinson dan obat yang dapat dipakai untuk mengatasi Dr. Tsao melaporkan angka kejadian yang tidak bermakna
overactive-bladder atau gangguan berkemih; selain itu juga baik pada kelompok yang sedang mendapatkan obat atau
disebutkan beberapa obat lain yang mempunyai efek antiko- kelompok referensi. Tetapi dibandingkan dengan kelompok
linergik di antaranya Warfarin, Furosemid, Hidrokhlorotiazid referensi, penurunan fungsi kognitif setelah menggunakan
(HCT), serta Ranitidin meski efek antikolinegiknya lemah.
obat tersebut rata-rata adalah 0,045 unit/pertahun lebih cepat
Di brosur obat-obat tersebut, kebanyakan tidak disebutkan (p=0,0044). Perlu disampaikan bahwa semua peserta dalam
mempunyai efek antikolinergik, padahal secara in-vitro efek penelitian ini awalnya mempunyai fungsi kognitif normal, dan
tersebut nyata ada. Hal ini merupakan problem yang poten- tidak ada yang menggunakan obat antikolinergik.
sial pada populasi besar, dengan mengacu pada data peneli-
tian Rush Religious Orders Study, suatu penelitian kohort Peneliti menyimpulkan bahwa terapi antikolinergik berhubungan
jangka panjang yang merekrut 870 orang tua dan demensia
dengan penurunan fungsi kognitif. Selanjutnya perlu ada
dengan follow-up evaluasi kurang dari 1 tahun.
langkah-langkah serta upaya menilai potensi obat ini dalam
Saat baseline dan evaluasi klinis, fungsi kognitif secara klinik menurunkan performa dari fungsi memori. (IDS)
diukur dengan 21 item pengukuran khusus menggunakan tes
neuropsychological battery. Referensi:

http://www.abstracts2view.com/aan2008chicago/view.php?nu=AAN08L_
Pasien dibagi ke dalam kelompok dan kemudian didaftar, 679 S51.001 Impaired Cognition in Normal Individuals Using Medications with
pasien mendapat obat yang ada efek antikolinergiknya, 191 pasien Anti-cholinergic Activity Occurs Following Several Years.
sama sekali tidak menggunakan obat yang memberikan efek http: //www. mhguidelines-leics.nhs.uk/default.aspx?page=schizophrenia_
antikolinergik. guidance

CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008 CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008
358 359
BERITA TERKINI BERITA TERKINI

AINS lainnya tidak meningkatkan risiko Odds ratios (ORs) terhadap hubungan
insiden stroke secara bermakna. antara stroke iskemik dengan peng-
gunaan AINS COX-2 selective dihi-
Kesimpulan : tung dengan menggunakan conditi-
Dari hasil studi ini dapat disimpul- onal logistic regression.
kan bahwa terdapat peningkatan
risiko stroke dengan penggunaan 2 Hasilnya : Pengguna rofecoxib (OR
AINS golongan coxib, yaitu rofeco- = 1,71; 95% CI 1,33-2,18), dan
xib dan valdecoxib, dimana kedua etoricoxib (OR = 2,38; 95% CI 1,10-
AINS tersebut juga mempunyai hu- 5,13) berhubungan dengan pening- Referensi :
1. Haag M. D. et al. Cyclooxygenase Selectiv-

Hubungan antara efek


bungan dengan peningkatan risiko katan risiko stroke iskemik secara ber-
kardiovaskular. makna, namun tidak demikian halnya ity of Nonsteroidal Anti-inflammatory Drugs
dengan celecoxib (OR = 1,07; 95% and Risk of Stroke. In : Archives of Internal

3. Studi hubungan antara AINS COX-2


CI 0,79-1,44). Medicine. 2008; 168(11):1219-1224. Available
from : http://archinte.ama-assn.org/cgi/ content/
short/168/11/1219
antikolinergik dan fungsi kognitif
selective dengan risiko stroke iske- Bagi pengguna rofecoxib dan eto-
mik bertujuan untuk mengetahui hu- ricoxib, ORs cenderung meningkat
bungan antara penghambat COX-2 dengan dosis harian yang lebih tinggi 2. Roumie C. L. et al. Nonaspirin NSAIDs, Sebuah hasil penelitian dipresentasikan dalam pertemuan
dengan risiko terkena stroke iskemik. dan waktu pemakaian yang lebih Cyclooxygenase 2 Inhibitors, and the Risk American Academy of Neurology ke-60 tahun 2008 di Chicago baru-baru ini,
panjang dan ORs juga meningkat pada for Stroke. In : Stroke. 2008; 39 : 2037. yang menjelaskan bahwa ternyata semua obat-obatan antikolinergik
Studi ini merupakan nested case- pasien tanpa faktor risiko stroke. Available from : http://stroke.ahajournals.org/
cgi/content/abstract/STROKEAHA.107.50
berhubungan dengan penurunan fungsi kognitif pada orang tua.
control study, yang melibatkan 469.
674 pasien yang terdaftar pada UK Kesimpulan : 8549v1
General Practice Research Database - AINS COX-2 selective berbeda 3. Andersohn F. et al. Cyclooxygenase-2 Selec-
Temuan ini sekaligus merupakan anjuran kepada dokter Setiap peserta diobservasi selama 7,8 tahun, dicatat, dan
tive Nonsteroidal Anti-Inflammatory Drugs untuk lebih berhati-hati dalam meresepkan obat-obatan yang diamati model regresinya, yang dicocokkan dengan jenis
(GPRD), yang setidaknya pernah men- potensialitasnya dalam menyebab-
dapatkan 1 macam AINS antara 1 Juni kan kejadian serebrovaskular iskemik. and the Risk of Ischemic Stroke : A Nested mungkin akan mempunyai efek tersebut, demikian penjela- kelamin, usia serta nilai rata-rata penurunan fungsi kognitif
2000-31 Oktober 2004. Terdapat 3094 - Peningkatan risiko stroke iskemik Case-Control Study. In : Stroke. 2006; 37 : 1-6. san Dr. Jack Tsao, profesor di bidang Neurologi di Universitas
setiap individu sebelum dan sesudah diterapi dengan obat
kasus stroke iskemik yang berhasil dapat dipengaruhi oleh penggunaan Available from : http://stroke.ahajournals.org/ Uniformed Services di Bethesda, Maryland, Amerika.
antikolinergik.
diidentifikasi. Kelompok kontrol terdiri obat-obatan penghambat COX-2 cgi/content/abstract/01.STR.0000226642.
dari 11.859 orang. tertentu. (VKS) 55207.94v1?ck=nck Efek antikolinergik yang kuat sering terdapat pada obat-obat
antiparkinson dan obat yang dapat dipakai untuk mengatasi Dr. Tsao melaporkan angka kejadian yang tidak bermakna
overactive-bladder atau gangguan berkemih; selain itu juga baik pada kelompok yang sedang mendapatkan obat atau
disebutkan beberapa obat lain yang mempunyai efek antiko- kelompok referensi. Tetapi dibandingkan dengan kelompok
linergik di antaranya Warfarin, Furosemid, Hidrokhlorotiazid referensi, penurunan fungsi kognitif setelah menggunakan
(HCT), serta Ranitidin meski efek antikolinegiknya lemah.
obat tersebut rata-rata adalah 0,045 unit/pertahun lebih cepat
Di brosur obat-obat tersebut, kebanyakan tidak disebutkan (p=0,0044). Perlu disampaikan bahwa semua peserta dalam
mempunyai efek antikolinergik, padahal secara in-vitro efek penelitian ini awalnya mempunyai fungsi kognitif normal, dan
tersebut nyata ada. Hal ini merupakan problem yang poten- tidak ada yang menggunakan obat antikolinergik.
sial pada populasi besar, dengan mengacu pada data peneli-
tian Rush Religious Orders Study, suatu penelitian kohort Peneliti menyimpulkan bahwa terapi antikolinergik berhubungan
jangka panjang yang merekrut 870 orang tua dan demensia
dengan penurunan fungsi kognitif. Selanjutnya perlu ada
dengan follow-up evaluasi kurang dari 1 tahun.
langkah-langkah serta upaya menilai potensi obat ini dalam
Saat baseline dan evaluasi klinis, fungsi kognitif secara klinik menurunkan performa dari fungsi memori. (IDS)
diukur dengan 21 item pengukuran khusus menggunakan tes
neuropsychological battery. Referensi:

http://www.abstracts2view.com/aan2008chicago/view.php?nu=AAN08L_
Pasien dibagi ke dalam kelompok dan kemudian didaftar, 679 S51.001 Impaired Cognition in Normal Individuals Using Medications with
pasien mendapat obat yang ada efek antikolinergiknya, 191 pasien Anti-cholinergic Activity Occurs Following Several Years.
sama sekali tidak menggunakan obat yang memberikan efek http: //www. mhguidelines-leics.nhs.uk/default.aspx?page=schizophrenia_
antikolinergik. guidance

CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008 CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008
358 359
BERITA TERKINI BERITA TERKINI

Piracetam untuk pasca operasi


Delirium merupakan salah satu komplikasi setelah anestesi umum.
Insidennya sekitar 10 - 15 %, dan akan diperberat dengan adanya faktor risiko pasien
seperti usia lanjut, penyakit serebrovaskular sebelumnya, faktor psikis yang pernah dialami
serta lamanya paparan anestesi. Delirium dapat menjadi penyebab bertambah lamanya
perawatan pasien di rumah sakit dan juga berhubungan dengan mortalitas.

Simvastatin sebagai neuroprotektor


Jurnal Stroke edisi 28 Februari 2008, telah memuat hipotesis baru hasil penelitian
bahwa tingginya kadar glutamat ekstraseluler pada kasus iskemi serebral ternyata
dikaitkan dengan meningkatnya kejadian infark atau kematian sel saraf. Aktivitas ini ada
hubungannya dengan aktivitas berlebihan reseptor N-methyl-D-aspartate (NMDA),
sebagai reseptor dari neurotransmitter glutamat.
Penelitian pemberian nootropik perioperatif untuk memper- skala ansietas dari The Spielberger Anxiety Inventory dan
Penggunaan obat antikolesterol statin, ternyata telah diteliti Simvastatin dan AY9944 telah menurunkan hubungan subunit 1
pendek proses pemulihan pasca anestesi telah dilakukan, dan skala depresi dari the Beck Depression Inventory (BDI), mampu melindungi sel neuron dari kematian akibat aktivitas dari reseptor NMDA atau NMDAR1 pada celah lemak di lapisan
yang diharapkan mempengaruhi efek atau gejala deliriumnya. untuk menilai neuropsikologi pasien. reseptor NMDA yang berlebihan, meskipun sejauh ini meka- lemak membran sel sampai 42% dan 21%, dan tidak ditemukan
Piracetam perioperasi diharapkan akan memberikan keuntu- nisme yang mendasari hal tersebut belum sepenuhnya di- adanya perubahan ekspresi NMDAR1. Statin dapat menurun-
ngan terhadap susunan saraf pusat khususnya terhadap ketahui pasti. kan kolesterol, dan sebagian efek simvastatin berhubungan
Setelah 6 minggu pascaoperasi, skoring kombinasi menun-
efek hipoksi, iskemi atau intoksikasi yang merupakan faktor dengan efek reseptor NMDAR1 terhadap celah lemak.
jukkan kemaknaan secara statistik pada penilaian fungsi
penyebab delirium post operatif. Penelitian di Bagian Neuro- Reseptor NMDA banyak terdapat pada membran yang kaya
kognitif setelah terapi Piracetam (p = 0,041) dan tidak ber- Meski dari hasil penelitian yang masih terkesan awal sekali ini
logi Universitas Targu-Mures, Romania, menunjukkan bahwa kolesterol, atau lebih dikenal sebagai celah lemak. Hasil
makna secara statistik pada kelompok plasebo. Tidak hanya dapat menerangkan bahwa penurunan kadar kolesterol dapat
Piracetam dapat digunakan untuk memperbaiki fungsi kognitif penelitian menjelaskan bahwa terapi statin ternyata dapat
secara keseluruhan saja yang bermakna, skala ansietas juga memproteksi semua kerusakan akibat aktivitas reseptor NMDA
pasien yang menjalani operasi by pass jantung atau CABG menurunkan kadar kolesterol terutama melalui aktivitas eksito-
pada celah lemak, dan dapat dianggap Simvastatin mempunyai
lebih menurun secara bermakna di kelompok Piracetam jika toksisitas dan berhubungan dengan reseptor NMDA yang
(coronary artery bypass grafting). efek sebagai neuroprotektor, masih dibutuhkan pembuktian
dibandingkan dengan kelompok plasebo (-9,27 dan –6,37). terdapat di celah lapisan lemak membran sel atau celah lebih lanjut.
lemak. Dari hasil kultur sel neuron sebelum diterapi dengan
Telah dilakukan penelitian acak buta ganda untuk menilai
penghambat sintesis kolesterol statin, reseptor NMDA telah Penelitian terhadap efek neuroprotektor Simvastatin terus
efektivitas Piracetam sebagai terapi fungsi kognitif pasca Kesimpulan penelitian ini adalah bahwa pemakaian Pirace-
menginduksi kematian sel yang ditunjukkan melalui hasil berlanjut, tidak hanya melalui hasil kultur saja. Dikembangkan
operasi CABG dengan kontrol plasebo, terhadap 98 pasien tam selama 6 minggu pasca CABG, dapat memberikan
pengukuran terhadap lepasnya enzim laktat dehidrogenase. hipotesis baru bahwa terapi Simvastatin dapat juga mensupresi
yang akan menjalani operasi CABG; pada 50 pasien diberi- perbaikan fungsi kognitif dan psikologis pasien. (IDS) Pengukuran juga menggunakan hasil isolasi fraksi celah perkembangan aneurisma serebral akibat reaksi inflamasi
kan Piracetam dengan dosis 150 mg/kgBB/hari sebelum lemak serta teknik Western blots. dinding aneurisma. Hasil penelitian tersebut juga menjelaskan
operasi dan 300 mg/kgBB pada saat operasi secara intravena, Referensi : bahwa Simvastatin dapat memberikan efek preventif terhadap
dan 48 pasien diberi plasebo. Piracetam diberikan sebelum Piracetam in anesthesia for prevention of postoperative delirium, Anas- thesiol Hasil terapi dengan penghambat sintesis kolesterol simvas- progresifitas aneurisma pembuluh darah serebral, yang sepertinya
Intensivmed Notfallmed Schmerzther 1999 Sep;34(9): 520-7 menjanjikan sekali di kemudian hari untuk prevensi progresifitas
operasi sampai 6 minggu setelah operasi. tatin, menunjukkan penghambatan pada langkah awal sintesis
Postoperative Cognitive Impairment and Postoperatrive Delirium: risk
kolesterol atau ditunjukkan dengan adanya penanda yang di arteri karotis. (IDS)
factors,pathophysiology and management, The Greek E-Journal of Periopera-
Fungsi kognitif pasien kemudian dinilai pada saat baseline tive Medicine 2007; 5:11-20. http://www.anesthesia.gr/ main/wp- diberi kode AY9944 pada langkah sintesis kolesterol berikut-
content/uploads/2007/07/2-soilemezi-p11-20.pdf, Referensi:
yaitu sebelum operasi dan 6 minggu setelah dioperasi. nya menghasilkan proteksi dari kematian akibat terinduksinya
Simvastatin Reduces the Association of NMDA Receptors to Lipid Rafts,
Penilaian fungsi kognitif menggunakan battery dengan 12 Piracetam prevents cognitive decline in coronary artery bypass: a random- NMDA; menurunkan kematian sel saraf sampai dengan 70% A Cholesterol-Mediated Effect in Neuroprotection. Stroke 2008;39:1269
ized trial versus placebo, Ann Thorac Surg. 2006 Oct;82(4): 1430-5,
dan 54%. Terapi tersebut dapat menurunkan kolesterol Simvastatin Suppresses the Progression of Experimentally Induced Cerebral
test neuropsikogi, selain itu juga dilakukan pengukuran http://ats.ctsnetjournals.org/ cgi/content/abstract/ 82/4/1430
dalam sel saraf sampai 35% dan 13%. Aneurysms in Rats. Stroke 2008;39:1276

CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008 CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008
360 361
BERITA TERKINI BERITA TERKINI

Piracetam untuk pasca operasi


Delirium merupakan salah satu komplikasi setelah anestesi umum.
Insidennya sekitar 10 - 15 %, dan akan diperberat dengan adanya faktor risiko pasien
seperti usia lanjut, penyakit serebrovaskular sebelumnya, faktor psikis yang pernah dialami
serta lamanya paparan anestesi. Delirium dapat menjadi penyebab bertambah lamanya
perawatan pasien di rumah sakit dan juga berhubungan dengan mortalitas.

Simvastatin sebagai neuroprotektor


Jurnal Stroke edisi 28 Februari 2008, telah memuat hipotesis baru hasil penelitian
bahwa tingginya kadar glutamat ekstraseluler pada kasus iskemi serebral ternyata
dikaitkan dengan meningkatnya kejadian infark atau kematian sel saraf. Aktivitas ini ada
hubungannya dengan aktivitas berlebihan reseptor N-methyl-D-aspartate (NMDA),
sebagai reseptor dari neurotransmitter glutamat.
Penelitian pemberian nootropik perioperatif untuk memper- skala ansietas dari The Spielberger Anxiety Inventory dan
Penggunaan obat antikolesterol statin, ternyata telah diteliti Simvastatin dan AY9944 telah menurunkan hubungan subunit 1
pendek proses pemulihan pasca anestesi telah dilakukan, dan skala depresi dari the Beck Depression Inventory (BDI), mampu melindungi sel neuron dari kematian akibat aktivitas dari reseptor NMDA atau NMDAR1 pada celah lemak di lapisan
yang diharapkan mempengaruhi efek atau gejala deliriumnya. untuk menilai neuropsikologi pasien. reseptor NMDA yang berlebihan, meskipun sejauh ini meka- lemak membran sel sampai 42% dan 21%, dan tidak ditemukan
Piracetam perioperasi diharapkan akan memberikan keuntu- nisme yang mendasari hal tersebut belum sepenuhnya di- adanya perubahan ekspresi NMDAR1. Statin dapat menurun-
ngan terhadap susunan saraf pusat khususnya terhadap ketahui pasti. kan kolesterol, dan sebagian efek simvastatin berhubungan
Setelah 6 minggu pascaoperasi, skoring kombinasi menun-
efek hipoksi, iskemi atau intoksikasi yang merupakan faktor dengan efek reseptor NMDAR1 terhadap celah lemak.
jukkan kemaknaan secara statistik pada penilaian fungsi
penyebab delirium post operatif. Penelitian di Bagian Neuro- Reseptor NMDA banyak terdapat pada membran yang kaya
kognitif setelah terapi Piracetam (p = 0,041) dan tidak ber- Meski dari hasil penelitian yang masih terkesan awal sekali ini
logi Universitas Targu-Mures, Romania, menunjukkan bahwa kolesterol, atau lebih dikenal sebagai celah lemak. Hasil
makna secara statistik pada kelompok plasebo. Tidak hanya dapat menerangkan bahwa penurunan kadar kolesterol dapat
Piracetam dapat digunakan untuk memperbaiki fungsi kognitif penelitian menjelaskan bahwa terapi statin ternyata dapat
secara keseluruhan saja yang bermakna, skala ansietas juga memproteksi semua kerusakan akibat aktivitas reseptor NMDA
pasien yang menjalani operasi by pass jantung atau CABG menurunkan kadar kolesterol terutama melalui aktivitas eksito-
pada celah lemak, dan dapat dianggap Simvastatin mempunyai
lebih menurun secara bermakna di kelompok Piracetam jika toksisitas dan berhubungan dengan reseptor NMDA yang
(coronary artery bypass grafting). efek sebagai neuroprotektor, masih dibutuhkan pembuktian
dibandingkan dengan kelompok plasebo (-9,27 dan –6,37). terdapat di celah lapisan lemak membran sel atau celah lebih lanjut.
lemak. Dari hasil kultur sel neuron sebelum diterapi dengan
Telah dilakukan penelitian acak buta ganda untuk menilai
penghambat sintesis kolesterol statin, reseptor NMDA telah Penelitian terhadap efek neuroprotektor Simvastatin terus
efektivitas Piracetam sebagai terapi fungsi kognitif pasca Kesimpulan penelitian ini adalah bahwa pemakaian Pirace-
menginduksi kematian sel yang ditunjukkan melalui hasil berlanjut, tidak hanya melalui hasil kultur saja. Dikembangkan
operasi CABG dengan kontrol plasebo, terhadap 98 pasien tam selama 6 minggu pasca CABG, dapat memberikan
pengukuran terhadap lepasnya enzim laktat dehidrogenase. hipotesis baru bahwa terapi Simvastatin dapat juga mensupresi
yang akan menjalani operasi CABG; pada 50 pasien diberi- perbaikan fungsi kognitif dan psikologis pasien. (IDS) Pengukuran juga menggunakan hasil isolasi fraksi celah perkembangan aneurisma serebral akibat reaksi inflamasi
kan Piracetam dengan dosis 150 mg/kgBB/hari sebelum lemak serta teknik Western blots. dinding aneurisma. Hasil penelitian tersebut juga menjelaskan
operasi dan 300 mg/kgBB pada saat operasi secara intravena, Referensi : bahwa Simvastatin dapat memberikan efek preventif terhadap
dan 48 pasien diberi plasebo. Piracetam diberikan sebelum Piracetam in anesthesia for prevention of postoperative delirium, Anas- thesiol Hasil terapi dengan penghambat sintesis kolesterol simvas- progresifitas aneurisma pembuluh darah serebral, yang sepertinya
Intensivmed Notfallmed Schmerzther 1999 Sep;34(9): 520-7 menjanjikan sekali di kemudian hari untuk prevensi progresifitas
operasi sampai 6 minggu setelah operasi. tatin, menunjukkan penghambatan pada langkah awal sintesis
Postoperative Cognitive Impairment and Postoperatrive Delirium: risk
kolesterol atau ditunjukkan dengan adanya penanda yang di arteri karotis. (IDS)
factors,pathophysiology and management, The Greek E-Journal of Periopera-
Fungsi kognitif pasien kemudian dinilai pada saat baseline tive Medicine 2007; 5:11-20. http://www.anesthesia.gr/ main/wp- diberi kode AY9944 pada langkah sintesis kolesterol berikut-
content/uploads/2007/07/2-soilemezi-p11-20.pdf, Referensi:
yaitu sebelum operasi dan 6 minggu setelah dioperasi. nya menghasilkan proteksi dari kematian akibat terinduksinya
Simvastatin Reduces the Association of NMDA Receptors to Lipid Rafts,
Penilaian fungsi kognitif menggunakan battery dengan 12 Piracetam prevents cognitive decline in coronary artery bypass: a random- NMDA; menurunkan kematian sel saraf sampai dengan 70% A Cholesterol-Mediated Effect in Neuroprotection. Stroke 2008;39:1269
ized trial versus placebo, Ann Thorac Surg. 2006 Oct;82(4): 1430-5,
dan 54%. Terapi tersebut dapat menurunkan kolesterol Simvastatin Suppresses the Progression of Experimentally Induced Cerebral
test neuropsikogi, selain itu juga dilakukan pengukuran http://ats.ctsnetjournals.org/ cgi/content/abstract/ 82/4/1430
dalam sel saraf sampai 35% dan 13%. Aneurysms in Rats. Stroke 2008;39:1276

CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008 CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008
360 361
BERITA TERKINI BERITA TERKINI

Lemak alami bentuk trans Polusi ozon di udara


punya manfaat kesehatan dan kematian prematur

Di sejumlah tempat, paparan jangka pendek kadar ozon saat ini tampaknya berkontribusi
terhadap kematian bayi prematur, demikian menurut sebuah laporan National Research Council.
Hal ini menambah bukti cukup kuat bagi U.S Enviromental Protection Agency (EPA) untuk
memasukkan kematian berkaitan dengan ozon dalam hubungan analisis manfaat
kesehatan bagi standar ozon masa depan.
O zon adalah komponen penting udara, dapat menyebab- paparan lebih dari 24 jam dan paparan jangka panjang (minggu
kan masalah penapasan dan efek kesehatan lain. Sebagai atau tahunan) berhubungan dengan kematian, termasuk
tambahan, bukti kaitan antara paparan pada ozon jangka bagaimana paparan ozon dapat berdampak pada umur
pendek (kurang dari 24 jam) dan kematian telah meningkat, harapan hidup. Contohnya, kematian berhubungan dengan
tapi interpretasi bukti telah berubah, membuat EPA meminta paparan jangka pendek tidak terjadi sampai beberapa hari
laporan NCR. setelahnya atau dapat dikaitkan dengan paparan ganda
jangka pendek.
Berlawanan dengan opini umum, tidak semua lemak bentuk trans jelek untuk tubuh Anda. Berdasarkan kaji ulang penelitian terbaru, komite mengamati
Peneliti di Universitas Alberta, Flora Wang mengamati bahwa diet yang diperkaya asam vasenik EPA, seperti badan negara lainnya, berkewajiban melakukan
bahwa kematian berhubungan dengan paparan ozon lebih
analisis biaya-manfaat sebagai tindakan penghematan lebih
(VA=Vaccenic Acid) trans, lemak hewan alami yang ditemukan pada produk harian susu dan cenderung pada individu dengan penyakit yang telah ada
dari100 juta dolar per tahun. Baru-baru ini menggunakan
daging sapi dapat menurunkan faktor risiko terkait penyakit jantung, diabetes dan obesitas. sebelumnya dan faktor-faktor lain yang meningkatkan keren-
hasil studi populasi untuk memperkirakan jumlah kematian
tanannya. Namun demikian, kematian prematur tidak terbatas prematur yang dapat dihindari oleh pengurangan ozon dengan
H asil menunjukkan bahwa manfaat ini berkaitan dengan Hasilnya dipresentasikan baru-baru ini pada International pada orang-orang yang memang akan meninggal. berbagai pilihan kebijakan berbeda dan selanjutnya melakukan
kemampuan asam vasenik menurunkan produksi partikel Symposium on Chylomicrons in Disease, termasuk temuan perhitungan biaya untuk menghindari kematian dengan meng-
kilomikron lemak dan kolesterol yang dibentuk di usus halus baru bahwa VA dapat secara langsung mempengaruhi usus Komite menguji penelitian berdasarkan kelompok populasi gunakan value of a statistical life (VSL).
setelah makan dan diproses cepat ke seluruh tubuh. Peran halus. Mereka juga menunjukkan penurunan faktor-faktor besar untuk menemukan bagaimana perubahan konsentrasi
kunci metabolik. Contohnya, dalam jangka panjang, kolesterol ozon di udara mempengaruhi kematian, khususnya untuk VSL didapatkan dari studi pada orang dewasa yang mengin-
kilomikron dipandang meningkat sebagai missing link kritis
total diturunkan kira-kira 30%, kolesterol LDL diturunkan menentukan batasan (konsentrasi ozon di bawah paparan dikasi ”harga” yang bersedia mereka bayar (manfaat atau
dalam pemahaman kondisi gangguan metabolik.
sebesar 25% dan kadar trigliserid diturunkan lebih dari 50%. yang tidak ada risiko kematian). Komite menyimpulkan bahwa kenyamanan seseorang yang dihilangkan) untuk mengubah
jika ada batasan, mungkin konsentrasinya di bawah standar risiko kematian mereka pada periode tertentu. Nilai keuangan
Menurut Wang, kandidat Ph.D dari Fakultas Agricultural, Life dari perbaikan kesehatan didasarkan pada nilai kelompok
VA adalah lemak bentuk trans alami utama dalam produk kesehatan publik saat ini. Karena orang-orang mempunyai
and Enviromental Sciences di Universitas Alberta, hasil ini pada saat menerima manfaat kesehatan.
susu dan daging sapi, merupakan lebih dari 70% kandungan kerentanan individual terhadap paparan ozon, tidak semua
menunjukkan lebih jauh bukti pentingnya kontribusi kilomik- lemak trans alami produk-produk ini. Temuan ini mendukung akan mengalami risiko kematian jika konsentrasi ozon di udara
ron dalam faktor-faktor risiko berkaitan dengan gangguan peningkatan bukti-bukti yang mengindikasikan bahwa lemak berubah. Penelitian lebih lanjut harus menggali bagaimana Komite menyimpulkan bahwa EPA tidak harus mengubah
metabolik. Mereka juga mengindikasikan kemungkinan meng- trans alami hewani berbeda dibandingkan lemak trans hidro- batasan individu dapat bervariasi dan berubah tergantung VSL karena bukti yang ada tidak cukup untuk menentukan
gunakan diet asam vasenik untuk membantu menurunkan genasi yang dihasilkan melalui proses industri. bagaimana perubahan nilai dapat mengubah perbedaan
pada kelemahan seseorang.
faktor-faktor risiko ini. harapan hidup dan status kesehatan. Namun demikian,
Beberapa lemak trans alami tidak berbahaya dan nyatanya komite tidak menolak ide penemuan ini dapat digunakan
Penelitian terhadap paparan jangka pendek tidak meliputi
dapat bermanfaat. (NFA) untuk penyesuaian di masa depan. (NFA)
Peneliti melibatkan 2 trial penggunaan asam vasenik, satu semua kematian terkait ozon dan diperkirakan risiko kematian
jangka pendek (3 minggu) dan satu jangka panjang (16 minggu) lebih besar dibandingkan jika berdiri sendiri. Untuk lebih me-
Sumber : Sumber :
menggunakan model tikus untuk obesitas dan sindrom mahami semua hubungan yang mungkin antara ozon dan
http://medicineworld.org/cancer/lead/4-2008/natural-trans-fats-have-health- http://www8.nationalacademies.org/
metaboliknya. benefits.html. http://www.ualberta.ca kematian, penelitian masa depan harus diarahkan pada apakah http://medicineworld.org/

CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008 CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008
362 363
BERITA TERKINI BERITA TERKINI

Lemak alami bentuk trans Polusi ozon di udara


punya manfaat kesehatan dan kematian prematur

Di sejumlah tempat, paparan jangka pendek kadar ozon saat ini tampaknya berkontribusi
terhadap kematian bayi prematur, demikian menurut sebuah laporan National Research Council.
Hal ini menambah bukti cukup kuat bagi U.S Enviromental Protection Agency (EPA) untuk
memasukkan kematian berkaitan dengan ozon dalam hubungan analisis manfaat
kesehatan bagi standar ozon masa depan.
O zon adalah komponen penting udara, dapat menyebab- paparan lebih dari 24 jam dan paparan jangka panjang (minggu
kan masalah penapasan dan efek kesehatan lain. Sebagai atau tahunan) berhubungan dengan kematian, termasuk
tambahan, bukti kaitan antara paparan pada ozon jangka bagaimana paparan ozon dapat berdampak pada umur
pendek (kurang dari 24 jam) dan kematian telah meningkat, harapan hidup. Contohnya, kematian berhubungan dengan
tapi interpretasi bukti telah berubah, membuat EPA meminta paparan jangka pendek tidak terjadi sampai beberapa hari
laporan NCR. setelahnya atau dapat dikaitkan dengan paparan ganda
jangka pendek.
Berlawanan dengan opini umum, tidak semua lemak bentuk trans jelek untuk tubuh Anda. Berdasarkan kaji ulang penelitian terbaru, komite mengamati
Peneliti di Universitas Alberta, Flora Wang mengamati bahwa diet yang diperkaya asam vasenik EPA, seperti badan negara lainnya, berkewajiban melakukan
bahwa kematian berhubungan dengan paparan ozon lebih
analisis biaya-manfaat sebagai tindakan penghematan lebih
(VA=Vaccenic Acid) trans, lemak hewan alami yang ditemukan pada produk harian susu dan cenderung pada individu dengan penyakit yang telah ada
dari100 juta dolar per tahun. Baru-baru ini menggunakan
daging sapi dapat menurunkan faktor risiko terkait penyakit jantung, diabetes dan obesitas. sebelumnya dan faktor-faktor lain yang meningkatkan keren-
hasil studi populasi untuk memperkirakan jumlah kematian
tanannya. Namun demikian, kematian prematur tidak terbatas prematur yang dapat dihindari oleh pengurangan ozon dengan
H asil menunjukkan bahwa manfaat ini berkaitan dengan Hasilnya dipresentasikan baru-baru ini pada International pada orang-orang yang memang akan meninggal. berbagai pilihan kebijakan berbeda dan selanjutnya melakukan
kemampuan asam vasenik menurunkan produksi partikel Symposium on Chylomicrons in Disease, termasuk temuan perhitungan biaya untuk menghindari kematian dengan meng-
kilomikron lemak dan kolesterol yang dibentuk di usus halus baru bahwa VA dapat secara langsung mempengaruhi usus Komite menguji penelitian berdasarkan kelompok populasi gunakan value of a statistical life (VSL).
setelah makan dan diproses cepat ke seluruh tubuh. Peran halus. Mereka juga menunjukkan penurunan faktor-faktor besar untuk menemukan bagaimana perubahan konsentrasi
kunci metabolik. Contohnya, dalam jangka panjang, kolesterol ozon di udara mempengaruhi kematian, khususnya untuk VSL didapatkan dari studi pada orang dewasa yang mengin-
kilomikron dipandang meningkat sebagai missing link kritis
total diturunkan kira-kira 30%, kolesterol LDL diturunkan menentukan batasan (konsentrasi ozon di bawah paparan dikasi ”harga” yang bersedia mereka bayar (manfaat atau
dalam pemahaman kondisi gangguan metabolik.
sebesar 25% dan kadar trigliserid diturunkan lebih dari 50%. yang tidak ada risiko kematian). Komite menyimpulkan bahwa kenyamanan seseorang yang dihilangkan) untuk mengubah
jika ada batasan, mungkin konsentrasinya di bawah standar risiko kematian mereka pada periode tertentu. Nilai keuangan
Menurut Wang, kandidat Ph.D dari Fakultas Agricultural, Life dari perbaikan kesehatan didasarkan pada nilai kelompok
VA adalah lemak bentuk trans alami utama dalam produk kesehatan publik saat ini. Karena orang-orang mempunyai
and Enviromental Sciences di Universitas Alberta, hasil ini pada saat menerima manfaat kesehatan.
susu dan daging sapi, merupakan lebih dari 70% kandungan kerentanan individual terhadap paparan ozon, tidak semua
menunjukkan lebih jauh bukti pentingnya kontribusi kilomik- lemak trans alami produk-produk ini. Temuan ini mendukung akan mengalami risiko kematian jika konsentrasi ozon di udara
ron dalam faktor-faktor risiko berkaitan dengan gangguan peningkatan bukti-bukti yang mengindikasikan bahwa lemak berubah. Penelitian lebih lanjut harus menggali bagaimana Komite menyimpulkan bahwa EPA tidak harus mengubah
metabolik. Mereka juga mengindikasikan kemungkinan meng- trans alami hewani berbeda dibandingkan lemak trans hidro- batasan individu dapat bervariasi dan berubah tergantung VSL karena bukti yang ada tidak cukup untuk menentukan
gunakan diet asam vasenik untuk membantu menurunkan genasi yang dihasilkan melalui proses industri. bagaimana perubahan nilai dapat mengubah perbedaan
pada kelemahan seseorang.
faktor-faktor risiko ini. harapan hidup dan status kesehatan. Namun demikian,
Beberapa lemak trans alami tidak berbahaya dan nyatanya komite tidak menolak ide penemuan ini dapat digunakan
Penelitian terhadap paparan jangka pendek tidak meliputi
dapat bermanfaat. (NFA) untuk penyesuaian di masa depan. (NFA)
Peneliti melibatkan 2 trial penggunaan asam vasenik, satu semua kematian terkait ozon dan diperkirakan risiko kematian
jangka pendek (3 minggu) dan satu jangka panjang (16 minggu) lebih besar dibandingkan jika berdiri sendiri. Untuk lebih me-
Sumber : Sumber :
menggunakan model tikus untuk obesitas dan sindrom mahami semua hubungan yang mungkin antara ozon dan
http://medicineworld.org/cancer/lead/4-2008/natural-trans-fats-have-health- http://www8.nationalacademies.org/
metaboliknya. benefits.html. http://www.ualberta.ca kematian, penelitian masa depan harus diarahkan pada apakah http://medicineworld.org/

CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008 CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008
362 363
BERITA TERKINI BERITA TERKINI

Coenzyme Q10 untuk Parkinson


Pada penyakit parkinson, (PD, Parkinson Disease), terjadi gangguan degeneratif persarafan
dengan gejala tremor, perlambatan gerakan (motorik), dan kekakuan otot. Di Amerika Serikat,
PD diderita kurang lebih 1% orang dengan usia di atas 65 tahun. Secara patologi terlihat
penurunan neuron dopaminergik di substansia nigra pars kompakta dan adanya badan Lewy
di substansia nigra dan daerah ekstra nigra di otak.

Penyebab PD tidak diketahui pasti, namun diperkirakan Hasil penelitian :

Lercanidipine plus Enalapril


karena abnormalitas genetik dan pengaruh faktor lingkungan. Perubahan total rata-rata UPDRS adalah:
Penelitian mengenai mitokondria dilakukan karena adanya Kelompok Kelompok Kelompok Kelompok
anggapan mengenai pengaruh 1-methyl-4-phenyl-1,2,3,6- Coenzyme Q10 Coenzyme Q10 Coenzyme Q10 plasebo
300 mg 600 mg 1200 mg
Di negara maju sekalipun pasien hipertensi akan makin banyak dari tahun ke tahun, walaupun tetrahydropyridine (MPTP) yang dapat menyebabkan parkin- Perubahan
sudah tersedia fasilitas asuransi yang memadai dan obat-obat antihipertensi yang baik. sonism melalui penghambatan kompleks I pada rantai trans- total rata-rata +8.81 +10.82 +6.69 +11.99
UPDRS
Kini, dengan sulitnya mengontrol tekanan darah pasien (dengan sulitnya mengatur pola hidup), por elektron mitokondria.
penurunan tekanan darah seringkali memerlukan 2 macam obat antihipertensi. Tes untuk tren linier antara dosis dan perubahan skor total
Coenzyme Q10 merupakan penerima elektron untuk kompeks UPDRS rata-rata nilai p adalah 0.09, yang memenuhi kriteria
D ari penelitian yang pernah dilakukan menggunakan 2 macam Metode penilaian: Pemeriksaan tekanan darah di klinik dan I dan II dan juga merupakan antioksidan yang poten. Peneli- prositif penelitian ini. (Analisis primer). Untuk analisis sekunder,
obat antihipertensi, seperti ANDI (The Amlodipine in Diabetes Pemeriksaan tekanan darah dengan Ambulatory Blood Pressure tian memperlihatkan penurunan kadar Coenzyme Q10 pada perbandingan antara kelompok terapi dengan dosis berbeda
Trial) , LOTHAR (AmLodipino e LOsartana no Tratamento da Monitoring (ABPM) 24 jam. mitokondria yang telah diisolasi dari pasien dengan PD dan dengan kelompok plasebo, dan perbandingan antara kelompok
Hipertensão ARterial) dan ACCOMPLISH (Avoiding Cardio- kadar serum Coenzyme Q10 pada pasien dengan parkinson- dosis 1200 mg dengan kelompok plasebo adalah bermakna
vascular Events in Combination Therapy in Patients Living Hasil penelitian: ism lebih rendah dibandingkan dengan kadar Coenzyme (p=0.04). Dalam penelitian ini juga diketahui bahwa Coenzyme
with Systolic Hypertension), tekanan darah dapat dikontrol Q10 pada pasien stroke. Penelitian lainnya memperlihatkan Q10 hingga dosis 1200 mg sehari aman dan ditoleransi dengan
lebih baik dengan efek samping yang lebih sedikit dibandingkan bahwa pemberian Coenzyme Q10 sebagai suplemen akan baik oleh pasien. Disabilitas pada kelompok Coenzyme Q10
dengan pemberian monoterapi dosis besar. Terapi kombinasi mengurangi hilangnya dopamin dan akson dopaminergik lebih sedikit dibandingkan dengan kelompok plasebo. Disabilitas
dengan dosis yang lebih kecil sangatlah penting, terutama striatum tikus. Selain itu pemberian Coenzyme Q10 pada semakin rendah apabila dosis Coenzyme Q10 yang diberikan
pada pasien usia lanjut. tikus sebagai suplemen bermakna meningkatkan konsen- lebih tinggi.
trasi Coenzyme Q10 di mitokondria korteks serebral. Peneli-
Obat antihipertensi kombinasi dalam 1 sediaan (fixed combi- tian memperlihatkan bahwa pemberian Coenzyme Q10 pada Kesimpulan:
nation) akan memainkan peranan yang penting dalam pasar dosis 400, 600, dan 800 mg/hari pada pasien dengan PD • Didukung oleh penelitian-penelitian Coenzyme Q10 sebelum-
obat-obat antihipertensi, karena selain dapat menurunkan ditoleransi dengan baik dan meningkatkan kadar Coenzyme nya, disabilitas lebih sedikit dijumpai pada pasien yang diberi
tekanan darah, kepatuhan pasien dapat terjaga, apalagi terapi Q10 dalam plasma dengan bermakna. Sebuah penelitian Coenzyme Q10, dibandingkan pasien yang diberi plasebo.
hipertensi sangatlah fragile terhadap drug holiday (pasien Dalam penelitian ini, penurunan tekanan darah lercanidipine lanjutan dilakukan untuk mengetahui keamanan dan tole- • Makin tinggi dosis Coenzyme Q10 yang diberikan, makin
lupa makan obat). plus enalapril lebih bermakna dibandingkan dengan mono- ransi pasien PD baru terhadap pemberian Coenzyme Q10 sedikit disabilitas.
terapi lercanidipine atau enalapril. dan meneliti kemampuan Coenzyme Q10 dalam mengu- • Pemberian Coenzyme Q10 pada pasien-pasien dalam kelom-
Recordati, perusahaan farmasi Italia mengatakan sudah men-
rangi penurunan fungsional pada pasien-pasien tersebut. pok ini relatif aman dan ditoleransi dengan baik.
dapatkan persetujuan untuk obat baru Zanitek (kombinasi Satu pasien yang menerima plasebo dan 1 pasien yang
lercanidipine dan enalapril) dari Perwakilan Obat-obatan menerima terapi kombinasi lercanidipine plus enalapril tidak
Penelitian bersifat multisenter, acak, kelompok-paralel, tersamar • Coenzyme Q10 tampaknya dapat memperlambat gangguan
ganda, perbandingan dosis atas 80 pasien dengan PD baru fungsi pada PD, namun tetap perlu penelitian yang lebih
Jerman, BfArM (Bundesinstitut für Arzneimittel und Medizin- melanjutkan penelitian karena efek samping.
yang tidak memerlukan terapi untuk disabilitasnya. Terapi besar untuk memberikan kepastian yang lebih jelas, serta
produkt, departemen untuk obat-obatan dan produk medis).
Kesimpulan: Terapi lercanidipine plus enalapril memiliki efek berupa pemberian secara acak Coenzyme Q10 dengan dosis dosis optimal yang memberikan efek terapi terbaik. (YYA)
penurunan tekanan darah lebih besar dibandingkan dengan 300, 600 atau 1200 mg/hari, atau Plasebo.
Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Human Referensi:
Hypertension 2007, membandingkan pemberian lercanidipine, monoterapi lercanidipine atau enalapril dengan toleransi baik 1. Braak H. Pathoanatomy of Parkinson's disease. J Neurol. 2000;247(suppl 2):II3-II10.

enalapril atau plasebo dengan terapi kombinasi lercanidipine oleh pasien. Tetapi Lercanidipine belum mendapatkan per- Metode penilaian menggunakan Unified Parkinson Disease 2. Olanow CW. Etiology and pathogenesis of Parkinson's disease. Ann Rev
Neurosci. 1999;22:123-144
plus enalapril. Penelitian tersamar ganda, kontrol plasebo, setujuan FDA. (YYA) Rating Scale (UPDRS) pada saat skrining, baseline dan pada 3. Shults CW, Oakes D, Kieburtz K et al in the Parkinson Study Group. Effects of
kedatangan pasien ke klinik pada bulan ke 1, 4, 8, 12 dan 16. Coenzyme Q10 in Early Parkinson Disease. Evidence of Slowing of the Functional
silang atas 75 pasien umur 60-85 tahun dengan rata-rata Referensi : Decline. Arch Neurol. 2002;59:1541-50.
tekanan darah sistolik duduk di klinik: 160–179 mm Hg. 1. Hypertension: uncontrolled and conquering the world. Lancet 2007; 370(9587). Pasien di follow up selama 16 minggu atau hingga pasien 4. Shults CW, Haas RH, Passov D et al. Coenzyme Q10 levels correlate with the
activities of complexes I and II/III in mitochondria from parkinsonian and
2. Marketwire.RECORDATI: German approval received for Zanitek®, a new lercani- memerlukan terapi levodopa. Pengukuran dilakukan untuk nonparkinsonian subjects. Ann Neurol. 1997;42:261-264
dipine_based_product.http://www.marketwire.com/mw/release.do?id=696332&k=
Dosis terapi : Lercanidipine 10 mg, Enalapril 20 mg, Lercani- 3. Puig JG, Calvo C, Luurila O et al. Lercanidipine, enalapril and their combination in the
menilai perubahan skor total UPDRS dari baseline hingga 5. Shults CW, Beal MD, Fontaine S et al. Absorption, tolerability and effects on
mitochondrial activity of oral coenzyme Q10 in parkinsonian patients. Neurology
dipine 10 mg plus enalapril 20 mg, atau Plasebo. treatment of elderly hypertensive patients: placebo-controlled, randomized, crossover kunjungan pasien terakhir ke klinik. 1998;50:793-795
study with four ABPM. J. Hum.Hypertens. 2007; 21, 97–24.

CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008 CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008
364 365
BERITA TERKINI BERITA TERKINI

Coenzyme Q10 untuk Parkinson


Pada penyakit parkinson, (PD, Parkinson Disease), terjadi gangguan degeneratif persarafan
dengan gejala tremor, perlambatan gerakan (motorik), dan kekakuan otot. Di Amerika Serikat,
PD diderita kurang lebih 1% orang dengan usia di atas 65 tahun. Secara patologi terlihat
penurunan neuron dopaminergik di substansia nigra pars kompakta dan adanya badan Lewy
di substansia nigra dan daerah ekstra nigra di otak.

Penyebab PD tidak diketahui pasti, namun diperkirakan Hasil penelitian :

Lercanidipine plus Enalapril


karena abnormalitas genetik dan pengaruh faktor lingkungan. Perubahan total rata-rata UPDRS adalah:
Penelitian mengenai mitokondria dilakukan karena adanya Kelompok Kelompok Kelompok Kelompok
anggapan mengenai pengaruh 1-methyl-4-phenyl-1,2,3,6- Coenzyme Q10 Coenzyme Q10 Coenzyme Q10 plasebo
300 mg 600 mg 1200 mg
Di negara maju sekalipun pasien hipertensi akan makin banyak dari tahun ke tahun, walaupun tetrahydropyridine (MPTP) yang dapat menyebabkan parkin- Perubahan
sudah tersedia fasilitas asuransi yang memadai dan obat-obat antihipertensi yang baik. sonism melalui penghambatan kompleks I pada rantai trans- total rata-rata +8.81 +10.82 +6.69 +11.99
UPDRS
Kini, dengan sulitnya mengontrol tekanan darah pasien (dengan sulitnya mengatur pola hidup), por elektron mitokondria.
penurunan tekanan darah seringkali memerlukan 2 macam obat antihipertensi. Tes untuk tren linier antara dosis dan perubahan skor total
Coenzyme Q10 merupakan penerima elektron untuk kompeks UPDRS rata-rata nilai p adalah 0.09, yang memenuhi kriteria
D ari penelitian yang pernah dilakukan menggunakan 2 macam Metode penilaian: Pemeriksaan tekanan darah di klinik dan I dan II dan juga merupakan antioksidan yang poten. Peneli- prositif penelitian ini. (Analisis primer). Untuk analisis sekunder,
obat antihipertensi, seperti ANDI (The Amlodipine in Diabetes Pemeriksaan tekanan darah dengan Ambulatory Blood Pressure tian memperlihatkan penurunan kadar Coenzyme Q10 pada perbandingan antara kelompok terapi dengan dosis berbeda
Trial) , LOTHAR (AmLodipino e LOsartana no Tratamento da Monitoring (ABPM) 24 jam. mitokondria yang telah diisolasi dari pasien dengan PD dan dengan kelompok plasebo, dan perbandingan antara kelompok
Hipertensão ARterial) dan ACCOMPLISH (Avoiding Cardio- kadar serum Coenzyme Q10 pada pasien dengan parkinson- dosis 1200 mg dengan kelompok plasebo adalah bermakna
vascular Events in Combination Therapy in Patients Living Hasil penelitian: ism lebih rendah dibandingkan dengan kadar Coenzyme (p=0.04). Dalam penelitian ini juga diketahui bahwa Coenzyme
with Systolic Hypertension), tekanan darah dapat dikontrol Q10 pada pasien stroke. Penelitian lainnya memperlihatkan Q10 hingga dosis 1200 mg sehari aman dan ditoleransi dengan
lebih baik dengan efek samping yang lebih sedikit dibandingkan bahwa pemberian Coenzyme Q10 sebagai suplemen akan baik oleh pasien. Disabilitas pada kelompok Coenzyme Q10
dengan pemberian monoterapi dosis besar. Terapi kombinasi mengurangi hilangnya dopamin dan akson dopaminergik lebih sedikit dibandingkan dengan kelompok plasebo. Disabilitas
dengan dosis yang lebih kecil sangatlah penting, terutama striatum tikus. Selain itu pemberian Coenzyme Q10 pada semakin rendah apabila dosis Coenzyme Q10 yang diberikan
pada pasien usia lanjut. tikus sebagai suplemen bermakna meningkatkan konsen- lebih tinggi.
trasi Coenzyme Q10 di mitokondria korteks serebral. Peneli-
Obat antihipertensi kombinasi dalam 1 sediaan (fixed combi- tian memperlihatkan bahwa pemberian Coenzyme Q10 pada Kesimpulan:
nation) akan memainkan peranan yang penting dalam pasar dosis 400, 600, dan 800 mg/hari pada pasien dengan PD • Didukung oleh penelitian-penelitian Coenzyme Q10 sebelum-
obat-obat antihipertensi, karena selain dapat menurunkan ditoleransi dengan baik dan meningkatkan kadar Coenzyme nya, disabilitas lebih sedikit dijumpai pada pasien yang diberi
tekanan darah, kepatuhan pasien dapat terjaga, apalagi terapi Q10 dalam plasma dengan bermakna. Sebuah penelitian Coenzyme Q10, dibandingkan pasien yang diberi plasebo.
hipertensi sangatlah fragile terhadap drug holiday (pasien Dalam penelitian ini, penurunan tekanan darah lercanidipine lanjutan dilakukan untuk mengetahui keamanan dan tole- • Makin tinggi dosis Coenzyme Q10 yang diberikan, makin
lupa makan obat). plus enalapril lebih bermakna dibandingkan dengan mono- ransi pasien PD baru terhadap pemberian Coenzyme Q10 sedikit disabilitas.
terapi lercanidipine atau enalapril. dan meneliti kemampuan Coenzyme Q10 dalam mengu- • Pemberian Coenzyme Q10 pada pasien-pasien dalam kelom-
Recordati, perusahaan farmasi Italia mengatakan sudah men-
rangi penurunan fungsional pada pasien-pasien tersebut. pok ini relatif aman dan ditoleransi dengan baik.
dapatkan persetujuan untuk obat baru Zanitek (kombinasi Satu pasien yang menerima plasebo dan 1 pasien yang
lercanidipine dan enalapril) dari Perwakilan Obat-obatan menerima terapi kombinasi lercanidipine plus enalapril tidak
Penelitian bersifat multisenter, acak, kelompok-paralel, tersamar • Coenzyme Q10 tampaknya dapat memperlambat gangguan
ganda, perbandingan dosis atas 80 pasien dengan PD baru fungsi pada PD, namun tetap perlu penelitian yang lebih
Jerman, BfArM (Bundesinstitut für Arzneimittel und Medizin- melanjutkan penelitian karena efek samping.
yang tidak memerlukan terapi untuk disabilitasnya. Terapi besar untuk memberikan kepastian yang lebih jelas, serta
produkt, departemen untuk obat-obatan dan produk medis).
Kesimpulan: Terapi lercanidipine plus enalapril memiliki efek berupa pemberian secara acak Coenzyme Q10 dengan dosis dosis optimal yang memberikan efek terapi terbaik. (YYA)
penurunan tekanan darah lebih besar dibandingkan dengan 300, 600 atau 1200 mg/hari, atau Plasebo.
Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Human Referensi:
Hypertension 2007, membandingkan pemberian lercanidipine, monoterapi lercanidipine atau enalapril dengan toleransi baik 1. Braak H. Pathoanatomy of Parkinson's disease. J Neurol. 2000;247(suppl 2):II3-II10.

enalapril atau plasebo dengan terapi kombinasi lercanidipine oleh pasien. Tetapi Lercanidipine belum mendapatkan per- Metode penilaian menggunakan Unified Parkinson Disease 2. Olanow CW. Etiology and pathogenesis of Parkinson's disease. Ann Rev
Neurosci. 1999;22:123-144
plus enalapril. Penelitian tersamar ganda, kontrol plasebo, setujuan FDA. (YYA) Rating Scale (UPDRS) pada saat skrining, baseline dan pada 3. Shults CW, Oakes D, Kieburtz K et al in the Parkinson Study Group. Effects of
kedatangan pasien ke klinik pada bulan ke 1, 4, 8, 12 dan 16. Coenzyme Q10 in Early Parkinson Disease. Evidence of Slowing of the Functional
silang atas 75 pasien umur 60-85 tahun dengan rata-rata Referensi : Decline. Arch Neurol. 2002;59:1541-50.
tekanan darah sistolik duduk di klinik: 160–179 mm Hg. 1. Hypertension: uncontrolled and conquering the world. Lancet 2007; 370(9587). Pasien di follow up selama 16 minggu atau hingga pasien 4. Shults CW, Haas RH, Passov D et al. Coenzyme Q10 levels correlate with the
activities of complexes I and II/III in mitochondria from parkinsonian and
2. Marketwire.RECORDATI: German approval received for Zanitek®, a new lercani- memerlukan terapi levodopa. Pengukuran dilakukan untuk nonparkinsonian subjects. Ann Neurol. 1997;42:261-264
dipine_based_product.http://www.marketwire.com/mw/release.do?id=696332&k=
Dosis terapi : Lercanidipine 10 mg, Enalapril 20 mg, Lercani- 3. Puig JG, Calvo C, Luurila O et al. Lercanidipine, enalapril and their combination in the
menilai perubahan skor total UPDRS dari baseline hingga 5. Shults CW, Beal MD, Fontaine S et al. Absorption, tolerability and effects on
mitochondrial activity of oral coenzyme Q10 in parkinsonian patients. Neurology
dipine 10 mg plus enalapril 20 mg, atau Plasebo. treatment of elderly hypertensive patients: placebo-controlled, randomized, crossover kunjungan pasien terakhir ke klinik. 1998;50:793-795
study with four ABPM. J. Hum.Hypertens. 2007; 21, 97–24.

CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008 CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008
364 365
BERITA TERKINI

Citicoline untuk pasien


pecandu kokain
Gangguan bipolar atau kebanyakan gangguan psikiatri yang lain sering terjadi
pada para pencandu obat-obatan. Para pemakai kokain sering mengalami gangguan
bipolar, dan akhirnya pasien datang dengan penurunan fungsi kognitif.

Pada keadaan kecanduan kokain dibutuhkan terapi yang Rating Scale); selain itu juga dinilai kemampuan verbalnya
dapat menstabilkan mood, memperbaiki fungsi kognitif dengan Rey Auditory Verbal Learning Test. Penggunaan kokain
serta mampu pula mengurangi pemakaian kokain; semua ini dinilai dengan skrining urine setiap hari.
harus diupayakan berjalan bersama, dan menurut penelitian
Setiap data dianalisis secara luas dan teliti; Citicoline
terbaru Citicoline mampu memberikan efek tersebut. Citico-
bermakna secara statistik terutama sangat baik terhadap
line mampu memodulasi metabolisme fosfolipid membran kemampuan verbal (p = 0,006); untuk skala depresi atau
sel serta memperbaiki kadar neurotransmiter yang akan skala mania tidak ada perbedaan bermakna antara kedua
memperbaiki kognitif. Untuk itu sengaja diteliti efektivitas kelompok. Tetapi pada kelompok Citicoline secara bermakna
pemberiannya pada kasus ketergantungan kokain; peneli- menurun kemungkinan pemakaian kokainnya terbukti dari
tian ini dilakukan selama 12 minggu dengan metode acak hasil test urine (p = 0,026). Pasien yang mendapat Citicoline
buta ganda untuk menilai pemakaian Citicoline pada 44 merasa efeknya baik dan dapat ditoleransi, tidak ada satupun
yang memutuskan terapi karena tidak ada efek samping.
pasien rawat jalan ketergantungan kokain dengan riwayat
mania atau hipomania, dibandingkan dengan plasebo.
Penelitian awal ini memperlihatkan bahwa Citicoline dapat
memberikan perbaikan beberapa aspek akibat ketergantungan
Tujuan utama penelitian ini adalah untuk menilai fungsi memori kokain dan perbaikan kognitif pasien, meskipun masih perlu
pasien ketergantungan dan juga mengamati mood pasien dibuktikan lagi melalui penelitian yang berskala besar. (IDS)
dan efek ketergantungan kokain pada pasien. Evaluasi kema-
Referensi:
juan terapi melalui interview pasien langsung; menilai skala
Randomized, Placebo-Controlled Trial of Citicoline Add-On Therapy in
depresi dengan Inventory of Depressive Symptomatology, Outpatients With Bipolar Disorder and Cocaine Dependence. J. Clin. Psycho-
dinilai gejala manianya dengan skala YMRS (Young Mania pharmacol. 2007 ; 27(5):498-502

CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008


366
P RA K T IS PR A K T I S

Hati –hati dengan efek samping ataksia, iritabel dan sedasi berat Risiko epilepsi
yang terjadi pada 25% - 39% kasus. Faktor risiko epilepsi adalah jika ada :
Fenobarbital, fenitoin dan karbamazepin saat demam tidak 1. Kelainan neurologis atau perkembangan yang jelas sebelum
berguna untuk mencegah kejang demam. kejang demam pertama.
2. Kejang demam kompleks
Pengobatan rumat/pencegahan/profilaksis 3. Riwayat epilepsi pada orangtua atau saudara kandung.

KEJANG DEMAM
Diberikan jika:
1. Kejang lama > 15 menit Masing-masing faktor risiko meningkatkan risiko epilepsi sampai
2. Ada kelainan neurologis nyata sebelum atau sesudah kejang, 4% – 6%; kombinasi faktor risiko tersebut meningkatkan risiko
misalnya paresis Todd, cerebral palsy, retardasi mental, epilepsi menjadi 10%– 49%.
DEFINISI: EEG tidak direkomendasikan karena tidak dapat memprediksi hidrosefalus. Risiko epilepsi tidak dapat dicegah dengan pemberian obat
Kejang demam ialah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan berulangnya kejang atau memperkirakan risiko epilepsi di 3. Kejang fokal rumat/profilaksis pada kejang demam.
suhu tubuh (suhu rektal > 38ºC) yang disebabkan oleh proses kemudian hari. Pemeriksaan EEG dapat dilakukan pada kejang
ekstrakranium demam tak khas; misalnya pada anak usia > 6 tahun atau kejang Dipertimbangkan jika : EDUKASI PADA ORANGTUA
demam fokal. 1. Kejang berulang dua kali atau lebih dalam 24 jam Orangtua sering panik menghadapi kejang karena merupakan
KLINIS : 2. Terjadi pada bayi < 12 bulan peristiwa yang menakutkan.
Kejang demam terjadi pada 2-4% anak berusia 6 bulan - 5 tahun. Pencitraan seperti foto X ray, CT scan atau MRI kepala hanya 3. Kejang demam ≥ 4 kali/tahun Kecemasan ini dapat dikurangi dengan antara lain:
Kejang disertai demam pada bayi < 1 bulan tidak termasuk kejang dilakukan jika ada : 1. Meyakinkan bahwa kejang demam umumnya mempunyai
demam. Jika anak berusia < 6 bulan atau > 5 tahun mengalami 1. Kelainan neurologik fokal menetap (misal hemiparesis) Jenis obat : prognosis baik
kejang didahului demam, pikirkan kemungkinan lain seperti infeksi 2. Paresis n.VI (n.abdusens) - bola mata tidak dapat melirik ke lateral Pilihan pertama saat ini ialah asam valproat dengan dosis 15-40 2. Memberitahukan cara penanganan kejang
SSP, atau epilepsi yang kebetulan terjadi bersama demam. Anak 3. Papiledema mg/kg.bb/hari dibagi 2-3 dosis; atau fenobarbital 3-4 mg/kg. 3. Memberi informasi tentang risiko kejang berulang
yang pernah mengalami kejang tanpa demam, kemudian kejang bb/hari dibagi dalam 1-2 dosis. 4. Pemberian obat pencegahan memang efektif, tetapi harus
saat demam, tidak termasuk dalam kejang demam. PENATALAKSANAAN diingat risiko efek samping obat
Saat kejang Asam valproat dapat menyebabkan gangguan fungsi hati pada
Kejang demam dibagi atas 2 jeins: Umumnya kejang berlangsung singkat dan berhenti sendiri. Jika sebagian kecil kasus terutama pada usia < 2 tahun; fenobarbital Jika anak kejang, lakukan hal berikut :
1. Kejang demam sederhana (simple febrile seizure) ; yaitu : masih kejang diberikan diazepam intravena 0.3 – 0.5 mg/kg.bb dapat menimbulkan gangguan perilaku dan kesulitan belajar 1. Tetap tenang dan tidak panik
Kejang demam yang berlangsung singkat, < 15 menit dan iv diberikan dalam waktu 3 – 5 menit, dosis maksimal 20 mg. pada 40% - 50% kasus. 2. Kendorkan pakaian yang ketat, terutama sekitar leher
umumnya akan berhenti sendiri. Kejang berupa kejang umum Atau diazepam per rektal 5 mg. untuk anak dengan berat badan 3. Jika tidak sadar, posisikan anak telentang dengan kepala
tonik atau klonik, tanpa gerakan fokal. Kejang demam tidak < 10 kg,. dan 10 mg. jika berat badan > 10 kg. Atau diazepam Lama pengobatan : miring. Bersihkan muntahan atau lendir di mulut dan/atau
berulang dalam 24 jam. Kejang jenis ini merupakan 80% dari per rektal 5 mg. untuk usia < 3 tahun dan 7.5 mg. untuk usia > 3 Diberikan selama 1 tahun bebas kejang; kemudian dihentikan hidung. Walaupun ada risiko lidah tergigit, jangan masukkan
seluruh kejang demam tahun. Jika setelah pemberian diazepam per rektal kejang belum bertahap dalam 1-2 bulan. apapun ke dalam mulut.
2. Kejang demam kompleks (complex febrile seizure) ; yaitu : berhenti, dapat diulang dengan dosis sama setelah selang 4. Ukur suhu tubuh, catat lama dan bentuk/sifat kejang
Kejang dengan salah satu ciri berikut : waktu 5 menit. Jika setelah dua kali pemberian diazepam per PROGNOSIS 5. Tetap bersama anak selama kejang
a. Kejang lama > 15 menit rektal masih belum berhenti, dianjurkan ke rumah sakit. Risiko cacad akibat komplikasi kejang demam tidak pernah 6. Berikan diazepam per rektal. Jangan diberikan jika kejang
b. Kejang fokal atau parsial satu sisi, atau kejang umum dilaporkan. telah berhenti.
didahului kejang parsial Di rumahsakit : Perkembangan mental dan neurologis umumnya tetap normal 7. Bawa ke dokter atau rumahsakit jika kejang berlangsung ≥ 5
c. Berulang atau lebih dari satu kali dalam 24 jam Diberikan diazepam intravena 0.3 – 0.5 mg/kg.bb. Jika masih pada pasien yang sebelumnya normal. menit. (BRW)
tetap kejang, berikan fenitoin intravena 10-20 mg/kg.bb/kali Ada penelitian retrospektif yang melaporkan kelainan neurologis
PEMERIKSAAN PENUNJANG : dengan kecepatan 1 mg/menit atau < 50 mg/menit. Jika berhenti pada sebagian kecil kasus, biasanya terjadi pada kasus dengan Disarikan dari :
Pemeriksaan laboratorium tidak dikerjakan secara rutin; dilaku- dosis selanjutnya fenitoin 4-8 mg/kg.bb/hari dimulai 12 jam setelah kejang lama atau kejang berulang. Pusponegoro HD, Widodo DP, Ismael S. (eds.).
kan untuk evaluasi penyebab demam, atau keadaan lain; misal- dosis awal. Jika masih belum berhenti, rawat di ruang intensif. Kematian akibat kejang demam tidak pernah dilaporkan. Konsensus Penatalaksanaan Kejang Demam. UKK Neurologi IDAI, 2006.
nya pemeriksaan darah perifer, elektrolit dan gula darah.
Pemberian obat saat demam Risiko berulang
Punksi lumbal dilakukan untuk menegakkan atau menyingkirkan Tidak ada bukti bahwa pemberian antipiretik mengurangi risiko Faktor risiko berulangnya kejang demam :
kemungkinan meningitis; risiko meningitis bakterialis adalah kejang demam; tetapi dapat diberikan parasetamol dengan 1. Riwayat kejang demam dalam keluarga
0.6% - 6.7 %. Jika yakin klinis bukan meningitis, tidak perlu dosis 10 -15 mg/kg.bb/kali diberikan 4 kali sehari, tidak lebih 2. Usia < 12 bulan
dilakukan. dari 5 kali sehari. Obat lain ibuprofen dengan dosis 5-10 mg/ 3. Suhu rendah saat kejang demam
Mengingat manifestasi klinis meningitis sering tidak jelas pada bayi ; kgbb/kali, 3 – 4 kali sehari.Asam asetil salisilat tidak dianjurkan 4. Cepatnya kejang setelah demam
maka pada: terutama pada usia < 18 bulan karena risiko sindrom Reye Diazepam
1. Bayi < 12 bulan sangat dianjurkan punksi lumbal oral 0.3 mg/kg.bb tiap 8 jam saat demam menurunkan risiko Jika semua faktor risiko ada , risiko berulang 80%; jika tidak ada
2. Bayi antara 12 – 18 bulan dianjurkan berulangnya kejang demam pada 30% - 60 % kasus, begitu pula hanya 10-15%. Sebagian besar berulang pada tahun pertama
3. Bayi > 18 bulan tidak rutin diazepam rektal 0.5 mg/kg.bb setiap 8 jam pada suhu > 38.5ºC. (setelah kejang).

CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008 CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008
368 369
P RA K T IS PR A K T I S

Hati –hati dengan efek samping ataksia, iritabel dan sedasi berat Risiko epilepsi
yang terjadi pada 25% - 39% kasus. Faktor risiko epilepsi adalah jika ada :
Fenobarbital, fenitoin dan karbamazepin saat demam tidak 1. Kelainan neurologis atau perkembangan yang jelas sebelum
berguna untuk mencegah kejang demam. kejang demam pertama.
2. Kejang demam kompleks
Pengobatan rumat/pencegahan/profilaksis 3. Riwayat epilepsi pada orangtua atau saudara kandung.

KEJANG DEMAM
Diberikan jika:
1. Kejang lama > 15 menit Masing-masing faktor risiko meningkatkan risiko epilepsi sampai
2. Ada kelainan neurologis nyata sebelum atau sesudah kejang, 4% – 6%; kombinasi faktor risiko tersebut meningkatkan risiko
misalnya paresis Todd, cerebral palsy, retardasi mental, epilepsi menjadi 10%– 49%.
DEFINISI: EEG tidak direkomendasikan karena tidak dapat memprediksi hidrosefalus. Risiko epilepsi tidak dapat dicegah dengan pemberian obat
Kejang demam ialah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan berulangnya kejang atau memperkirakan risiko epilepsi di 3. Kejang fokal rumat/profilaksis pada kejang demam.
suhu tubuh (suhu rektal > 38ºC) yang disebabkan oleh proses kemudian hari. Pemeriksaan EEG dapat dilakukan pada kejang
ekstrakranium demam tak khas; misalnya pada anak usia > 6 tahun atau kejang Dipertimbangkan jika : EDUKASI PADA ORANGTUA
demam fokal. 1. Kejang berulang dua kali atau lebih dalam 24 jam Orangtua sering panik menghadapi kejang karena merupakan
KLINIS : 2. Terjadi pada bayi < 12 bulan peristiwa yang menakutkan.
Kejang demam terjadi pada 2-4% anak berusia 6 bulan - 5 tahun. Pencitraan seperti foto X ray, CT scan atau MRI kepala hanya 3. Kejang demam ≥ 4 kali/tahun Kecemasan ini dapat dikurangi dengan antara lain:
Kejang disertai demam pada bayi < 1 bulan tidak termasuk kejang dilakukan jika ada : 1. Meyakinkan bahwa kejang demam umumnya mempunyai
demam. Jika anak berusia < 6 bulan atau > 5 tahun mengalami 1. Kelainan neurologik fokal menetap (misal hemiparesis) Jenis obat : prognosis baik
kejang didahului demam, pikirkan kemungkinan lain seperti infeksi 2. Paresis n.VI (n.abdusens) - bola mata tidak dapat melirik ke lateral Pilihan pertama saat ini ialah asam valproat dengan dosis 15-40 2. Memberitahukan cara penanganan kejang
SSP, atau epilepsi yang kebetulan terjadi bersama demam. Anak 3. Papiledema mg/kg.bb/hari dibagi 2-3 dosis; atau fenobarbital 3-4 mg/kg. 3. Memberi informasi tentang risiko kejang berulang
yang pernah mengalami kejang tanpa demam, kemudian kejang bb/hari dibagi dalam 1-2 dosis. 4. Pemberian obat pencegahan memang efektif, tetapi harus
saat demam, tidak termasuk dalam kejang demam. PENATALAKSANAAN diingat risiko efek samping obat
Saat kejang Asam valproat dapat menyebabkan gangguan fungsi hati pada
Kejang demam dibagi atas 2 jeins: Umumnya kejang berlangsung singkat dan berhenti sendiri. Jika sebagian kecil kasus terutama pada usia < 2 tahun; fenobarbital Jika anak kejang, lakukan hal berikut :
1. Kejang demam sederhana (simple febrile seizure) ; yaitu : masih kejang diberikan diazepam intravena 0.3 – 0.5 mg/kg.bb dapat menimbulkan gangguan perilaku dan kesulitan belajar 1. Tetap tenang dan tidak panik
Kejang demam yang berlangsung singkat, < 15 menit dan iv diberikan dalam waktu 3 – 5 menit, dosis maksimal 20 mg. pada 40% - 50% kasus. 2. Kendorkan pakaian yang ketat, terutama sekitar leher
umumnya akan berhenti sendiri. Kejang berupa kejang umum Atau diazepam per rektal 5 mg. untuk anak dengan berat badan 3. Jika tidak sadar, posisikan anak telentang dengan kepala
tonik atau klonik, tanpa gerakan fokal. Kejang demam tidak < 10 kg,. dan 10 mg. jika berat badan > 10 kg. Atau diazepam Lama pengobatan : miring. Bersihkan muntahan atau lendir di mulut dan/atau
berulang dalam 24 jam. Kejang jenis ini merupakan 80% dari per rektal 5 mg. untuk usia < 3 tahun dan 7.5 mg. untuk usia > 3 Diberikan selama 1 tahun bebas kejang; kemudian dihentikan hidung. Walaupun ada risiko lidah tergigit, jangan masukkan
seluruh kejang demam tahun. Jika setelah pemberian diazepam per rektal kejang belum bertahap dalam 1-2 bulan. apapun ke dalam mulut.
2. Kejang demam kompleks (complex febrile seizure) ; yaitu : berhenti, dapat diulang dengan dosis sama setelah selang 4. Ukur suhu tubuh, catat lama dan bentuk/sifat kejang
Kejang dengan salah satu ciri berikut : waktu 5 menit. Jika setelah dua kali pemberian diazepam per PROGNOSIS 5. Tetap bersama anak selama kejang
a. Kejang lama > 15 menit rektal masih belum berhenti, dianjurkan ke rumah sakit. Risiko cacad akibat komplikasi kejang demam tidak pernah 6. Berikan diazepam per rektal. Jangan diberikan jika kejang
b. Kejang fokal atau parsial satu sisi, atau kejang umum dilaporkan. telah berhenti.
didahului kejang parsial Di rumahsakit : Perkembangan mental dan neurologis umumnya tetap normal 7. Bawa ke dokter atau rumahsakit jika kejang berlangsung ≥ 5
c. Berulang atau lebih dari satu kali dalam 24 jam Diberikan diazepam intravena 0.3 – 0.5 mg/kg.bb. Jika masih pada pasien yang sebelumnya normal. menit. (BRW)
tetap kejang, berikan fenitoin intravena 10-20 mg/kg.bb/kali Ada penelitian retrospektif yang melaporkan kelainan neurologis
PEMERIKSAAN PENUNJANG : dengan kecepatan 1 mg/menit atau < 50 mg/menit. Jika berhenti pada sebagian kecil kasus, biasanya terjadi pada kasus dengan Disarikan dari :
Pemeriksaan laboratorium tidak dikerjakan secara rutin; dilaku- dosis selanjutnya fenitoin 4-8 mg/kg.bb/hari dimulai 12 jam setelah kejang lama atau kejang berulang. Pusponegoro HD, Widodo DP, Ismael S. (eds.).
kan untuk evaluasi penyebab demam, atau keadaan lain; misal- dosis awal. Jika masih belum berhenti, rawat di ruang intensif. Kematian akibat kejang demam tidak pernah dilaporkan. Konsensus Penatalaksanaan Kejang Demam. UKK Neurologi IDAI, 2006.
nya pemeriksaan darah perifer, elektrolit dan gula darah.
Pemberian obat saat demam Risiko berulang
Punksi lumbal dilakukan untuk menegakkan atau menyingkirkan Tidak ada bukti bahwa pemberian antipiretik mengurangi risiko Faktor risiko berulangnya kejang demam :
kemungkinan meningitis; risiko meningitis bakterialis adalah kejang demam; tetapi dapat diberikan parasetamol dengan 1. Riwayat kejang demam dalam keluarga
0.6% - 6.7 %. Jika yakin klinis bukan meningitis, tidak perlu dosis 10 -15 mg/kg.bb/kali diberikan 4 kali sehari, tidak lebih 2. Usia < 12 bulan
dilakukan. dari 5 kali sehari. Obat lain ibuprofen dengan dosis 5-10 mg/ 3. Suhu rendah saat kejang demam
Mengingat manifestasi klinis meningitis sering tidak jelas pada bayi ; kgbb/kali, 3 – 4 kali sehari.Asam asetil salisilat tidak dianjurkan 4. Cepatnya kejang setelah demam
maka pada: terutama pada usia < 18 bulan karena risiko sindrom Reye Diazepam
1. Bayi < 12 bulan sangat dianjurkan punksi lumbal oral 0.3 mg/kg.bb tiap 8 jam saat demam menurunkan risiko Jika semua faktor risiko ada , risiko berulang 80%; jika tidak ada
2. Bayi antara 12 – 18 bulan dianjurkan berulangnya kejang demam pada 30% - 60 % kasus, begitu pula hanya 10-15%. Sebagian besar berulang pada tahun pertama
3. Bayi > 18 bulan tidak rutin diazepam rektal 0.5 mg/kg.bb setiap 8 jam pada suhu > 38.5ºC. (setelah kejang).

CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008 CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008
368 369
INFO PRODUK

®
IBUFENZ
Solusi tepat untuk mengatasi
demam dan nyeri
Demam dan rasa nyeri merupakan Setiap obat yang termasuk dalam golo- Dosis dan cara pemberian IBUFENZ® :
keluhan yang umum dan sering dijumpai ngan AINS mempunyai karakteristik • Menurunkan demam pada anak-anak
dalam kehidupan sehari-hari. Kedua yang berbeda, misalnya ibuprofen mem- - Anak usia 3-7 tahun: 3-4 kali
keluhan tersebut adalah suatu gejala punyai efek antipiretik dan analgesik sehari, 1 supositoria.
proses peradangan yang merupakan yang lebih besar dibandingkan efek anti- - Anak usia 8-12 tahun: 3-4 kali
tanda awal penyakit yang penyebabnya inflamasinya. Oleh karena itu, secara sehari, 2 supositoria.
dapat bermacam-macam. klinis ibuprofen diindikasikan untuk anti- • Meringankan nyeri derajat ringan
piretik dan analgesik. sampai sedang :
Peningkatan suhu tubuh pada keadaan - Dewasa : 3-4 kali sehari,
patologik diawali oleh pelepasan suatu 2 supositoria.
Selain itu ibuprofen merupakan salah
zat pirogen endogen atau sitokin seperti - Anak usia 3-7 tahun :
satu analgesik antipiretik golongan AINS
interleukin 1, atau seperti yang terdapat 3-4 kali sehari, 1 supositoria.
yang aman digunakan pada anak-anak.
pada komponen dinding sel bakteri gram - Anak usia 8-12 tahun: 3-4 kali
negatif (LPS atau lipopolisakarida) akan sehari, 2 supositoria.
memacu pelepasan prostaglandin (PGE2) Anak-anak yang sedang sakit, biasa-
berlebihan di hipotalamus yang meru- nya sering menangis, tidak mau minum
obat, obat yang diberikan dimuntahkan Jika diberikan sesuai dengan dosis yang
pakan pusat pengaturan suhu tubuh. dianjurkan, jarang menimbulkan efek
Selain demam, nyeri juga merupakan kembali atau memang tidak bisa me-
samping. Efek samping yang pernah di-
salah satu gejala peradangan. Nyeri nerima asupan peroral (misalnya muntah-
laporkan adalah : gangguan saluran cerna
adalah suatu perasaan dan pengalaman muntah). Pemberian secara supositoria
termasuk mual, muntah, diare, konstipasi
emosional yang tidak menyenangkan dapat menghindari masalah tersebut dan
dan nyeri lambung; ruam kulit; penyem-
yang dikaitkan dengan terjadinya keru- obat dapat bekerja secara maksimal.
pitan bronkus; trombositopeni.
sakan jaringan atau adanya potensi
terjadinya kerusakan jaringan (IASP). IBUFENZ® merupakan produk yang Tidak terdapat perbedaan bermakna
mengandung ibuprofen dan tersedia antara ibuprofen supositoria dengan ibu-
Dengan diketahuinya mekanisme ter- dalam bentuk supositoria sehingga me- profen oral dalam kemampuan penurunan
jadinya demam dan rasa nyeri, maka mudahkan pemberian baik pada anak- suhu tubuh dan durasi kerja. Bahkan,
pengobatan dapat lebih tepat. Pengo- anak maupun dewasa dengan gejala penurunan suhu tubuh terjadi lebih cepat
batan demam dan rasa nyeri dapat di- demam dan nyeri, yang tidak mampu secara bermakna dengan ibuprofen su-
lakukan dengan memberikan terapi untuk menerima asupan secara peroral. positoria dibandingkan dengan ibupro-
mengatasi gejala (simptomatik) maupun fen oral. (VKS)
penyebabnya (kausatif). AINS (Anti- IBUFENZ® diindikasikan untuk :
inflamasi Non Steroid) merupakan obat Referensi :
antiradang yang juga berkhasiat anti- • Menurunkan demam pada anak- 1. Fever. 2007. Available from : http://www.wikipedia.org
anak.
piretik dan analgesik sehingga dapat 2. Pain and nociception. 2007. Available from :
mengatasi kedua hal tersebut. • Meringankan nyeri derajat ringan http://en.wikipedia.org/wiki/Pain
sampai sedang, antara lain sakit gigi 3. American Medical Association. Module 6 Pain
Pada umumnya, AINS mempunyai 3 atau nyeri pada pencabutan gigi, Management : Pediatric Pain Management. In :
American Medical Association . 2007.
khasiat utama yaitu analgesik (menghi- nyeri setelah operasi, nyeri kepala,
gejala nyeri ringan sampai sedang 4. Handayani S et al. The efficacy of suppository versus
langkan rasa nyeri), antipiretik (menurun-
oral ibuprofen for reducing fever in children. In :
kan demam), dan antiinflamasi / anti- pada rematik tulang, sendi dan non Paediatrica Indonesiana. 2005. Vol. 45, No. 9-10. p:
radang (meredakan peradangan). sendi, serta terkilir. 211-216. Available from : http://www.idai.or.id

CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008


370
LAPORAN KHUSUS LAPORAN KHUSUS

PIT
Simposium KONIKA ke 14 FARMAKOLOGI
Simposium KONIKA ke 14 yang diadakan di hotel Shangri-la Surabaya 5-9 Juli 2008 dan TERAPI
Surabaya selama 4 hari ini merupakan kelanjutan dari The
Asian Congress of Pediatric Infectious Diseases (ACPID) Saat acara Welcome Reception Gala Dinner menjelang di-
Hotel Millennium, Jakarta
yang juga diadakan di Surabaya namun berlangsung di hotel
berbeda yaitu di JW Marriott. Jumlah peserta yang hadir pada
gelarnya KONIKA, dilakukan acara pelantikan 95 orang dokter
spesialis anak (SpA) sebagai konsultan kesehatan anak, yang
18-19 Juli 2008
simposium KONIKA ke 14 ini sebanyak 2750 peserta, sebagian terbagi dalam 14 sub bidang ilmu. Mereka berasal dari seluruh
besar dokter spesialis anak, selebihnya adalah dokter umum. Fakultas Kedokteran (FK) di Indonesia.
P ada tanggal 18-19 Juli 2008 telah diadakan Pertemuan Metode ini dilakukan untuk mengurangi efek samping. Keber-
Tema KONIKA kali ini adalah “meningkatkan Profesionalisme Untuk Plenary session, Oliver Fontaine dari Switzerland Ilmiah Tahunan (PIT) Farmakologi dan Terapi (The 8th Annual hasilan pengobatan ini juga didukung dengan pemberian
dan Kompetensi Dokter Anak Indonesia”. Panitia KONIKA menyampaikan presentasinya tentang New Recomendations Scientific Meeting on Pharmacology & Therapy) yang diadakan motivasi pada orang yang ingin berhenti merokok.
diketuai oleh Prof. Bambang Permono SpA(K). Menurut beliau on the Management of Diarrhoea. Terapi dehidrasi yaitu dengan oleh Departemen Farmakologi dan Terapi, Fakultas Kedokteran,
dalam kata sambutannya, pertemuan KONIKA kali ini agak ORS solution (atau cairan elektrolit intravena untuk dehidrasi Universitas Indonesia. Jumlah peserta sekitar 300 dokter 2. Beta blocker in Chronic Heart Failure oleh: dr. Arieska Ann
berbeda dengan kegiatan KONIKA tahun-tahun sebelumnya, berat). Pemberian seng 20 mg perhari selama 10-14 hari. maupun farmasis. Sunarta (RS Harapan Kita)
yaitu dengan diadakannya CPD. Dengan diberlakukannya Penggunaan antibiotik hanya untuk diare disebabkan kolera
UU Praktek Kedokteran, para dokter terutama dokter anak atau diare dengan darah dan tidak membaik dengan obat Acara yang berlangsung selama 2 hari ini cukup padat dengan Seperti telah diketahui bersama, dahulu beta bloker dikon-
mempunyai kewajiban mengumpulkan Satuan Angka Kredit antidiare. (WHO 2004). topik bahasan menarik dan praktis yaitu: mengenai penyakit
(SAK) dengan kategori yang berbeda-beda. Kategori pertama traindikasikan pada pasien gagal jantung. Sekarang uji
dan terapi pengobatan yang umum di masyarakat seperti : klinik menunjukkan bahwa beta bloker dapat membantu
yaitu kategori CPD (Continuous Professional Development) Topik lain yang dibahas adalah Rhinitis-Asthma Connection osteoartritis, diabetes, tuberkulosis, hipertensi, bahaya merokok
yang merupakan kategori paling tinggi, dan baru di KONIKA oleh Zakiudin Munasir. Sumbatan hidung menyebabkan pasien gagal jantung; namun yang digunakan adalah beta
dan terapi yang dapat digunakan oleh pasien yang ingin ber-
kali ini diadakan CPD. Kategori ke dua yaitu mengikuti seminar penderita bernafas melalui mulut. Tindakan bernafas melalui bloker kardioselektif seperti carvedilol dan bisoprolol.
atau kongres, kategori ke tiga adalah mengajar di institusi, mulut akan memasukkan udara tanpa melalui tahap penyari- henti merokok, terapi ketergantungan narkotika. Para pembicara
dan kategori ke empat yaitu belajar mandiri. CPD ini hanya ngan atas komponen alergen atau partikel penyebab iritan adalah para pakar di bidangnya seperti: Prof. Arini Setiawati
3. Low dose Aspirin for Prevention of CV Events oleh: Prof.
boleh diikuti oleh peserta dokter spesialis anak dengan pilihan seperti jika bernafas melalui hidung; selain itu udara yang masuk dan Prof. Hanafi Trisnohadi.
Hanafi Trisnohadi dan Resistensi Aspirin oleh: Prof. Arini
topik Perinatology, Nutrition and Metabolic Diseases, Gastro- tidak melewati proses penghangatan. Keadaan ini memicu
Seperti biasanya, pabrik farmasi juga ikut meramaikan perte- Setiawati
hepatology, Growth and Development, Endocrinology, Neuro- terjadinya hipereaktivitas bronkus dan timbul gejala asma.
logy dan Pediatric Imaging. Mukus dari kavitas nasal akan masuk melalui hidung bagian muan ilmiah ini dengan memamerkan produk unggulan mereka;
belakang ke tuba bronkial, terutama saat tidur. Masuknya termasuk PT Kalbe Farma . Pasien dengan risiko tinggi CVD (Cerebrovascular Disease,
Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia mencatat ada mukus tersebut meningkatkan inflamasi bronkus dan me- Stroke) sering menggunakan aspirin; dari beberapa dosis
2.400 dokter spesialis anak di seluruh Indonesia. Jumlah ini nyebabkan episode asma pada malam hari. Topik yang menarik: aspirin (ASA) yang diuji ternyata dosis 75-150 mg yang
kata Prof. Bambang sangat tidak sebanding dengan jumlah paling efektif menurunkan risiko CVD. ASA merupakan
anak di Indonesia yang mencapai 43% dari total jumlah 1. Burden of smoking and nicotine addiction oleh Prof.
Topik Respirologi disampaikan oleh 3 pembicara dengan tema salah satu golongan NSAID; oleh karena itu terdapat
penduduk. Dengan keterbatasan sumber daya manusia ini, Chronic Recurrent Cough Management. Judul pertama adalah Menaldi Rasmin dan Varenicline: a breakthrough in smok-
ing cessation management oleh: Prof. Arini Setiawati risiko gangguan saluran cerna. Adanya ASA yang di-
perhatian terhadap masalah kesehatan anak tidak boleh di- Cough Pathophysiology oleh dr. I. Boediman, judul ke dua
abaikan. Para dokter anak di Indonesia tetap wajib memper- formulasi salut enterik dapat menurunkan insiden efek
Diagnostic Approach oleh dr. Adi Suardi dan terakhir Cough
dalam ilmu, memperbaiki kualitas dan meningkatkan kompeten- Management oleh dr. Dwi Wastoro. Dikemukakan bahwa batuk Jumlah perokok di seluruh dunia 1,3 miliar orang ; perokok samping saluran cerna karena dengan selaput enterik
sinya agar tidak tertinggal dari dokter asing. Pemerintah juga bisa merupakan tanda fisiologis ataupun tanda patologis; pria lebih banyak dibanding wanita. Di setiap negara pasti berarti obat akan pecah di usus, bukan di lambung.
wajib memperbaiki sarana dan pelayanan kesehatan anak; dengan kata lain batuk bisa menjadi teman, namun juga bisa terdapat perokok yang sering mengalami penyakit PPOK Dalam sesi ini, juga disebutkan penggunaan Clopidogrel
salah satunya dengan optimalisasi peran posyandu dan pus- menjadi lawan. Reflek batuk sangat penting karena tanpa reflek (penyakit paru obstruktif kronik) maupun gangguan jantung. yang dinyatakan rendah efek sampingnya.
kesmas untuk mengatasi berbagai masalah penyakit anak. batuk akan terjadi aspirasi dan menjadi masalah serius; namun Pada rokok, terdapat zat nikotin dan zat kimia lainnya.
Harapannya yaitu agar masyarakat Indonesia semakin sadar batuk karena infeksi, pertusis, TBC dll merupakan batuk yang Efek nikotin adalah menekan insulin sehingga dapat me- Adanya resistensi aspirin juga perlu diperhatikan dalam
akan bahaya penyakit infeksi, karena hasil surveilans pen- harus diatasi. Hal lain yang disampaikan yaitu algoritma diag- ningkatkan risiko diabetes melitus. Selain itu, nikotin dapat pengobatan ASA. Alasan resistensi ini ada beberapa hal;
catatan dan pelaporan menunjukkan bahwa penyakit infeksi nostik batuk kronik pada anak, dan penanganan batuk dengan melepaskan dopamin sehingga dapat menimbulkan perasa-
masih mendominasi. pemberian nutrisi, PUVA, antioksidan dan medikamentosa. salah satunya karena perubahan genetik; dapat juga
an tenang dan nyaman. Oleh karena itulah, orang yang karena penggunaan kombinasi dengan obat NSAID lain.
Disebutkan bahwa antitusif dan obat batuk OTC tidak efektif
merokok merasa ingin kembali merokok. Sampai saat ini belum pernah dipublikasikan mengenai
Menteri Kesehatan RI Dr. Siti Fadilah Supari SpJP dalam dan tidak dianjurkan karena penyebab batuk dipengaruhi oleh
sambutannya yang dibacakan oleh Direktur Bina Kesehatan berbagai faktor. Selanjutnya pencegahan batuk diutamakan ada/tidaknya toleransi (semakin lama digunakan, dosis
Varenicline adalah salah satu pengobatan yang dapat diterap-
Anak Departemen Kesehatan RI dr. Fatmi Sulani DTM&H Msi dengan menghindari alergen, medikamentosa dan terapi non- perlu ditambah) terhadap ASA. (CTA)
pada Plenary Session 1 di hari pertama, mengatakan bahwa kan pada pasien yang ingin berhenti merokok. Pengobatan
farmakologi. Terapi nonfarmakologi ditujukan untuk menguat-
dokter anak bukan hanya bertugas mengobati penyakit, tapi kan barier mukosa, mencegah dan memperbaiki kerusakan ini dilakukan selama 12 minggu dengan metode titrasi yaitu
juga harus menjadi penggerak masyarakat terutama untuk mukosa saluran nafas dan akhirnya mengurangi penggunaan pertama kali digunakan 0,5 mg, 1 kali sehari, lalu 0,5 mg, 2
meningkatkan derajat kesehatan anak. medikamentosa. (MML) kali sehari dan selanjutnya adalah 1 mg, 1 kali sehari.

CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008 CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008
372 373
LAPORAN KHUSUS LAPORAN KHUSUS

PIT
Simposium KONIKA ke 14 FARMAKOLOGI
Simposium KONIKA ke 14 yang diadakan di hotel Shangri-la Surabaya 5-9 Juli 2008 dan TERAPI
Surabaya selama 4 hari ini merupakan kelanjutan dari The
Asian Congress of Pediatric Infectious Diseases (ACPID) Saat acara Welcome Reception Gala Dinner menjelang di-
Hotel Millennium, Jakarta
yang juga diadakan di Surabaya namun berlangsung di hotel
berbeda yaitu di JW Marriott. Jumlah peserta yang hadir pada
gelarnya KONIKA, dilakukan acara pelantikan 95 orang dokter
spesialis anak (SpA) sebagai konsultan kesehatan anak, yang
18-19 Juli 2008
simposium KONIKA ke 14 ini sebanyak 2750 peserta, sebagian terbagi dalam 14 sub bidang ilmu. Mereka berasal dari seluruh
besar dokter spesialis anak, selebihnya adalah dokter umum. Fakultas Kedokteran (FK) di Indonesia.
P ada tanggal 18-19 Juli 2008 telah diadakan Pertemuan Metode ini dilakukan untuk mengurangi efek samping. Keber-
Tema KONIKA kali ini adalah “meningkatkan Profesionalisme Untuk Plenary session, Oliver Fontaine dari Switzerland Ilmiah Tahunan (PIT) Farmakologi dan Terapi (The 8th Annual hasilan pengobatan ini juga didukung dengan pemberian
dan Kompetensi Dokter Anak Indonesia”. Panitia KONIKA menyampaikan presentasinya tentang New Recomendations Scientific Meeting on Pharmacology & Therapy) yang diadakan motivasi pada orang yang ingin berhenti merokok.
diketuai oleh Prof. Bambang Permono SpA(K). Menurut beliau on the Management of Diarrhoea. Terapi dehidrasi yaitu dengan oleh Departemen Farmakologi dan Terapi, Fakultas Kedokteran,
dalam kata sambutannya, pertemuan KONIKA kali ini agak ORS solution (atau cairan elektrolit intravena untuk dehidrasi Universitas Indonesia. Jumlah peserta sekitar 300 dokter 2. Beta blocker in Chronic Heart Failure oleh: dr. Arieska Ann
berbeda dengan kegiatan KONIKA tahun-tahun sebelumnya, berat). Pemberian seng 20 mg perhari selama 10-14 hari. maupun farmasis. Sunarta (RS Harapan Kita)
yaitu dengan diadakannya CPD. Dengan diberlakukannya Penggunaan antibiotik hanya untuk diare disebabkan kolera
UU Praktek Kedokteran, para dokter terutama dokter anak atau diare dengan darah dan tidak membaik dengan obat Acara yang berlangsung selama 2 hari ini cukup padat dengan Seperti telah diketahui bersama, dahulu beta bloker dikon-
mempunyai kewajiban mengumpulkan Satuan Angka Kredit antidiare. (WHO 2004). topik bahasan menarik dan praktis yaitu: mengenai penyakit
(SAK) dengan kategori yang berbeda-beda. Kategori pertama traindikasikan pada pasien gagal jantung. Sekarang uji
dan terapi pengobatan yang umum di masyarakat seperti : klinik menunjukkan bahwa beta bloker dapat membantu
yaitu kategori CPD (Continuous Professional Development) Topik lain yang dibahas adalah Rhinitis-Asthma Connection osteoartritis, diabetes, tuberkulosis, hipertensi, bahaya merokok
yang merupakan kategori paling tinggi, dan baru di KONIKA oleh Zakiudin Munasir. Sumbatan hidung menyebabkan pasien gagal jantung; namun yang digunakan adalah beta
dan terapi yang dapat digunakan oleh pasien yang ingin ber-
kali ini diadakan CPD. Kategori ke dua yaitu mengikuti seminar penderita bernafas melalui mulut. Tindakan bernafas melalui bloker kardioselektif seperti carvedilol dan bisoprolol.
atau kongres, kategori ke tiga adalah mengajar di institusi, mulut akan memasukkan udara tanpa melalui tahap penyari- henti merokok, terapi ketergantungan narkotika. Para pembicara
dan kategori ke empat yaitu belajar mandiri. CPD ini hanya ngan atas komponen alergen atau partikel penyebab iritan adalah para pakar di bidangnya seperti: Prof. Arini Setiawati
3. Low dose Aspirin for Prevention of CV Events oleh: Prof.
boleh diikuti oleh peserta dokter spesialis anak dengan pilihan seperti jika bernafas melalui hidung; selain itu udara yang masuk dan Prof. Hanafi Trisnohadi.
Hanafi Trisnohadi dan Resistensi Aspirin oleh: Prof. Arini
topik Perinatology, Nutrition and Metabolic Diseases, Gastro- tidak melewati proses penghangatan. Keadaan ini memicu
Seperti biasanya, pabrik farmasi juga ikut meramaikan perte- Setiawati
hepatology, Growth and Development, Endocrinology, Neuro- terjadinya hipereaktivitas bronkus dan timbul gejala asma.
logy dan Pediatric Imaging. Mukus dari kavitas nasal akan masuk melalui hidung bagian muan ilmiah ini dengan memamerkan produk unggulan mereka;
belakang ke tuba bronkial, terutama saat tidur. Masuknya termasuk PT Kalbe Farma . Pasien dengan risiko tinggi CVD (Cerebrovascular Disease,
Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia mencatat ada mukus tersebut meningkatkan inflamasi bronkus dan me- Stroke) sering menggunakan aspirin; dari beberapa dosis
2.400 dokter spesialis anak di seluruh Indonesia. Jumlah ini nyebabkan episode asma pada malam hari. Topik yang menarik: aspirin (ASA) yang diuji ternyata dosis 75-150 mg yang
kata Prof. Bambang sangat tidak sebanding dengan jumlah paling efektif menurunkan risiko CVD. ASA merupakan
anak di Indonesia yang mencapai 43% dari total jumlah 1. Burden of smoking and nicotine addiction oleh Prof.
Topik Respirologi disampaikan oleh 3 pembicara dengan tema salah satu golongan NSAID; oleh karena itu terdapat
penduduk. Dengan keterbatasan sumber daya manusia ini, Chronic Recurrent Cough Management. Judul pertama adalah Menaldi Rasmin dan Varenicline: a breakthrough in smok-
ing cessation management oleh: Prof. Arini Setiawati risiko gangguan saluran cerna. Adanya ASA yang di-
perhatian terhadap masalah kesehatan anak tidak boleh di- Cough Pathophysiology oleh dr. I. Boediman, judul ke dua
abaikan. Para dokter anak di Indonesia tetap wajib memper- formulasi salut enterik dapat menurunkan insiden efek
Diagnostic Approach oleh dr. Adi Suardi dan terakhir Cough
dalam ilmu, memperbaiki kualitas dan meningkatkan kompeten- Management oleh dr. Dwi Wastoro. Dikemukakan bahwa batuk Jumlah perokok di seluruh dunia 1,3 miliar orang ; perokok samping saluran cerna karena dengan selaput enterik
sinya agar tidak tertinggal dari dokter asing. Pemerintah juga bisa merupakan tanda fisiologis ataupun tanda patologis; pria lebih banyak dibanding wanita. Di setiap negara pasti berarti obat akan pecah di usus, bukan di lambung.
wajib memperbaiki sarana dan pelayanan kesehatan anak; dengan kata lain batuk bisa menjadi teman, namun juga bisa terdapat perokok yang sering mengalami penyakit PPOK Dalam sesi ini, juga disebutkan penggunaan Clopidogrel
salah satunya dengan optimalisasi peran posyandu dan pus- menjadi lawan. Reflek batuk sangat penting karena tanpa reflek (penyakit paru obstruktif kronik) maupun gangguan jantung. yang dinyatakan rendah efek sampingnya.
kesmas untuk mengatasi berbagai masalah penyakit anak. batuk akan terjadi aspirasi dan menjadi masalah serius; namun Pada rokok, terdapat zat nikotin dan zat kimia lainnya.
Harapannya yaitu agar masyarakat Indonesia semakin sadar batuk karena infeksi, pertusis, TBC dll merupakan batuk yang Efek nikotin adalah menekan insulin sehingga dapat me- Adanya resistensi aspirin juga perlu diperhatikan dalam
akan bahaya penyakit infeksi, karena hasil surveilans pen- harus diatasi. Hal lain yang disampaikan yaitu algoritma diag- ningkatkan risiko diabetes melitus. Selain itu, nikotin dapat pengobatan ASA. Alasan resistensi ini ada beberapa hal;
catatan dan pelaporan menunjukkan bahwa penyakit infeksi nostik batuk kronik pada anak, dan penanganan batuk dengan melepaskan dopamin sehingga dapat menimbulkan perasa-
masih mendominasi. pemberian nutrisi, PUVA, antioksidan dan medikamentosa. salah satunya karena perubahan genetik; dapat juga
an tenang dan nyaman. Oleh karena itulah, orang yang karena penggunaan kombinasi dengan obat NSAID lain.
Disebutkan bahwa antitusif dan obat batuk OTC tidak efektif
merokok merasa ingin kembali merokok. Sampai saat ini belum pernah dipublikasikan mengenai
Menteri Kesehatan RI Dr. Siti Fadilah Supari SpJP dalam dan tidak dianjurkan karena penyebab batuk dipengaruhi oleh
sambutannya yang dibacakan oleh Direktur Bina Kesehatan berbagai faktor. Selanjutnya pencegahan batuk diutamakan ada/tidaknya toleransi (semakin lama digunakan, dosis
Varenicline adalah salah satu pengobatan yang dapat diterap-
Anak Departemen Kesehatan RI dr. Fatmi Sulani DTM&H Msi dengan menghindari alergen, medikamentosa dan terapi non- perlu ditambah) terhadap ASA. (CTA)
pada Plenary Session 1 di hari pertama, mengatakan bahwa kan pada pasien yang ingin berhenti merokok. Pengobatan
farmakologi. Terapi nonfarmakologi ditujukan untuk menguat-
dokter anak bukan hanya bertugas mengobati penyakit, tapi kan barier mukosa, mencegah dan memperbaiki kerusakan ini dilakukan selama 12 minggu dengan metode titrasi yaitu
juga harus menjadi penggerak masyarakat terutama untuk mukosa saluran nafas dan akhirnya mengurangi penggunaan pertama kali digunakan 0,5 mg, 1 kali sehari, lalu 0,5 mg, 2
meningkatkan derajat kesehatan anak. medikamentosa. (MML) kali sehari dan selanjutnya adalah 1 mg, 1 kali sehari.

CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008 CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008
372 373
LAPORAN KHUSUS

Workshop Bio-Identical
Hormone Replacement Therapy
Jakarta 10 Agustus 2008
Acara workshop yang dihadiri oleh sekitar 50-an dokter praktisi Post Partum Depression
Anti-aging Medicine berlangsung dengan baik. Pembicara Anti-aging Sesudah makan siang, para peserta dikejutkan dengan pertan-
Medicine Internasional, S. Ali. Mohamed MD dari The Clinic for Grace- yaan menantang dari dr Ali, "What do these ladies (Princess
ful Aging, Houston, Texas, memulai presentasinya dengan bercerita Diana, Broke Shields, Marie Osmond and Andrea Yates) have in
sekilas mengenai Anti-aging Medicine secara keseluruhan. Bagi para common?". Dr Ali kemudian menjelaskan bahwa mereka yang
peserta workshop yang sebagian besar adalah mereka yang sedang disebutkan itu, menderita apa yang disebut dengan Post Partum
menempuh pendikan Master (S2) Anti Aging Medicine, pasti sudah Depression. Sayangnya, saat itu belum banyak yang mengetahui
sering mendengar hal ini. Untunglah, informasi ini hanya diulas sekilas. bahwa sindrom tersebut bisa diatasi dengan Bio-Identical Hormone
Replacement Therapy. Akibatnya para dokter menangani gejala
Suasana makin hangat, ketika dokter pendiri Organisasi Anti-aging sindroma tersebut dengan pelbagai obat-obat depresi/anti stress.
Medicine di India ini memaparkan mengenai Bio-Identical Hormone
Replacement Therapy (BHRT). Hormon, menurut Dr Ali, layaknya Beberapa kondisi / keadaan / penyakit yang bisa diterapi
seorang petugas pembersih ruangan ini. Saat ini semua dalam ke- dengan BIHRT
adaan rapi. Lampu-lampu dalam ruangan ini nyala dengan baik, meja Menurut pembicara Anti Aging Medicine International tersebut,
ditutup dengan taplak yang rapi. Gelas dan permen tersusun rapi di kekurangan level hormon dalam tubuh manusia bisa menye-
atas meja. Bagaimana kalau suatu saat, sang pelayan yang mengatur babkan gangguan yang berarti baik pada wanita maupun pria.
hal ini, ngambek atau ambil cuti, misalnya saat Hari Kemerdekaan? Beberapa di antaranya adalah:
Tentunya semuanya akan kacau balau. Proses cuti pelayan tersebut-
Pada wanita :
lah yang disebut dengan proses aging, analogi sang dokter.

Selama ini banyak yang berpikir, bahwa usia-lah penyebab penurunan


fungsi-fungsi tubuh manusia. Ternyata sebaliknya. Penurunan kadar
hormon-lah yang menyebabkan gangguan pada usia lanjut. Dengan
adanya suplemen hormon dari luar tubuh, tentu kondisi/penyakit yang
umumnya dialami oleh mereka yang sudah lanjut usia, tidak akan
dialami lagi.

Berbicara mengenai suplementasi, Bio-identical Hormone, masih Pada pria :


menurut dr Ali, merupakan jenis hormon yang paling baik. Bio-Identical
Hormone berarti bahwa hormon tersebut susunan atom-atomnya
sama persis dengan hormon yang diproduksi oleh tubuh manusia.
Tubuh akan mengenali molekul bio-identical hormone dan memper-
lakukannya sama seperti hormon yang diproduksi oleh kelenjar manusia Contoh-contoh kasus
(ovarium, tiroid ataupun kelenjar adrenal). Pada sesi terakhir – dan merupakan inti - dari workshop ini di-
paparkan contoh-contoh kasus yang pernah ditangani oleh Dr Ali.
Penyebutan Hormon berdasarkan cara kerja Hal ini disambut dengan antusias oleh para peserta yang sebagian
Agar lebih mudah mengingat, Dr Ali memperkenalkan gelar-gelar ter- besar sudah berpraktek dan menerapkan anti aging medicine.
tentu kepada beberapa hormon seperti : Diskusi seru pun terjadi. Begitu serunya diskusi yang terjadi, hingga
Hormon Gelar tak terasa workshop yang steril dari sponsor produk manapun
ini sudah harus berakhir, karena waktu sudah menunjukkan
Tiroid The metabolic Hormone
pukul 5 sore. Wajah puas nampak dari para peserta dokter-
Estrogen The primary Female Hormone dokter anti aging medicine.
Progesteron The Hormone of Pregnancy
Testosteron The Hormon of Desire Kerjasama dengan A4M
DHEA Immune System Booster Hormone Workshop sehari ini yang dilaksanakan atas kerjasama Ameri-
Melatonin The Sleep Hormone can Academy of Anti-Aging Medicine (A4M), Center for Study
of Anti-Aging Medicine (CSAAM) FK Udayana bersama dengan
Human Growth In Childhood = Growth Hormone
Hormone (HGH) In Adult = Healing Hormone
Perkumpulan Kedokteran Anti-Penuaan Indonesia (PERKAPI/
ISAAM), selain di Jakarta, juga diselenggarakan di Surabaya
Cortisol The Stress Hormone (12 Agustus) dan Bali (14 Agustus). (ETN)

CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008


374
KEGIATAN ILMIAH KEGIATAN ILMIAH

Seminar Awam IKCC “ Peningkatan Kualitas The 5th Hospital Management Refreshing
Hidup Pasien Dialisis ”, RSPAD Gatot Course and Exhibition, Hotel Ciputra,
Soebroto Jakarta, 19 Juli 2008 22 - 24 Juli 2008
Pasien penyakit ginjal kronik (PGK) seringkali dihadapi Life cycle layanan/produk unggulan suatu rumah sakit
dengan berbagai komplikasi yang mengikuti penyakit saat ini semakin pendek. Tidak memerlukan waktu yang
lama dari yang kita anggap sebagai competitive advan-
yang dideritanya yang berakibat semakin menurunnya
tage akan berubah menjadi standard industri yang sudah
kualitas hidup orang tersebut. IKCC bekerjasama
dimiliki oleh sebagian besar kompetitor kita. Demikian
dengan Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) dijelaskan Handry Satriago, pada sesi pertama acara
Gatot Soebroto mengadakan seminar awam berte- Konferensi Nasional V PERMAPKIN di Jakarta. Acara
makan ”Peningkatan Kualitas Hidup Pasien Dialisis” yang dihadiri oleh sekitar 150 orang manager institusi
dengan dr. Sri Kunmartini,SpPD sebagai pembicara. pelayanan kesehatan seluruh Indonesia ini dibuat ber-
sama oleh para founder PERMAPKIN, Dr Samsi Jacobalis
SpB, dr Yos Susanto dan dr Suprijanto Rijadi, PhD (Ketua
PERMAPKIN, 2007 - 2011).
The 4th Asian Interventional Cardiovascular
Therapeutics AICT, Bangkok, 25-27 Juni 2008
Simposium The 4th Asian Interventional Cardiovascular
Therapeutics, AICT yang diselenggarakan di Centara Simposium Critical Care Medicine, Discovery Kartika Plaza Kuta, Bali, 14 - 16 Agustus 2008
Grand & Bangkok Convention Centre, Central World, Simposium tentang critical care medicine secara menyeluruh, yang
Bangkok, Thailand pada tanggal 25-27 Juni 2008. melibatkan para pakar berbagai profesi kedokteran dari dalam
maupun luar negeri telah diadakan pada tanggal 14 - 16 Agustus
Acara ini diikuti oleh kurang lebih 2000 peserta dari
2008 lalu di hotel Discovery Kartika Plaza Kuta, Bali.
mancanegara, termasuk Thailand, Indonesia, Korea,
Cina, Jepang, Amerika, Filipina, Singapura, dan beberapa Simposium dengan judul "15th International Symposium on
Critical Care & Emergency Medicine 2008 in conjunction with
negara lainnya. dan dari para ahli kesehatan di Thailand
4th Symposium of Nutri Indonesia" ini menghadirkan pembicara
sendiri. Selain dokter ahli dalam bidang terapi inter-
dari Amerika Serikat, Perancis, Australia, Malaysia, Saudi Arabia,
vensional, acara ini juga diikuti oleh dokter umum dan Hongkong, Singapura, Selandia Baru dan pakar dari Indonesia.
perawat. Acara ini dihadiri lebih dari 2.000 peserta. Pada kesempatan ini PT Kalbe Farma, sebagai perusahaan
farmasi terbesar di Indonesia turut berpartisipasi dalam bentuk
kerjasama penyelenggaraan registrasi seluruh peserta seminar.
PIT POGI 2008, Balikpapan, 28-30 Juli 2008 Peserta yang terdaftar dalam acara ini tidak kurang dari 750 orang
Konker XI PAPDI & PIT ke-2 PB PAPDI, Pada tanggal 28 – 30 Juli 2008 telah diadakan acara dokter, perawat maupun mahasiswa dari dalam dan luar negeri.
Padang, 11-12 Juli 2008 PIT POGI XVII (Pertemuan Ilmiah Tahunan Perkumpu-
Acara pertemuan ilmiah Perhimpunan Ahli Penyakit lan Obstetri dan Ginekologi Indonesia) yang di pusat-
Dalam Indonesia (PAPDI) yang dihadiri oleh 720 peserta kan di Hotel Grand Senyiur Balikpapan dengan tema
Simposium Sindroma Koroner Akut, Solo,
(internis dan dokter umum) ini merupakan salah satu “Peningkatan Mutu Pelayanan Obstetri dan Ginekologi 23 Agustus 2008
acara penting di bidang penyakit dalam Indonesia. dalam Menghadapi Era Globalisasi”. Acara PIT yang
Pada hari Sabtu, tanggal 23 Agustus 2008 telah terselenggara sebuah
Hal-hal update yang disampaikan meliputi berbagai didahului oleh Pra PIT (tanggal 25–27 Juli 2008) meru- simposium di Hotel Sahid Jaya Solo, yang membahas mengenai Sindroma
aspek dari bidang penyakit dalam. Hal yang menarik pakan acara ilmiah dokter Obstetri Ginekologi terbe- Koroner Akut, yang diberi topik “Latest News in Acute Coronary Sindrome
dari acara yang dihadiri oleh seluruh cabang PAPDI ini sar tahun ini, diikuti oleh lebih dari 2.000 peserta yang Management” yang dihadiri oleh sekitar 200 dokter yang bertugas di Solo
adalah, kolaborasi simposium dengan pameran kebu- terdiri dari dokter Obstetri Ginekologi, dokter umum dan sekitarnya. Dokter yang hadir adalah dokter Ahli Jantung, dokter
dayaan Minangkabau. Selain ada tari adat yang di- serta bidan. Acara dibuka oleh Ketua Umum PB POGI, spesialis Penyakit Dalam, Dokter Neurologi serta dokter umum yang
bertugas di Solo dan sekitarnya. Pada kesempatan tersebut simposium
suguhkan, para spesialis penyakit dalam / keluarga juga dr. Suryono SI Santoso, SpOG. Menurut ketua panitia,
yang memberikan 6 SKP bagi pesertanya, bersamaan dengan acara
menampilkan paduan suara dengan diiringi musik dr. Triseno Adji SpOG, semua kegiatan baik pra PIT pelantikan pengurus PERKI Cabang Solo untuk periode 2008 - 2010.
tradisional Minangkabau. maupun PIT pesertanya melebihi prediksi semula.

Laporan lengkap dari pelbagai simposium di atas (dalam Bahasa Indonesia/English), bisa diakses pada http://www.kalbe.co.id/seminar

CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008 CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008
376 377
KEGIATAN ILMIAH KEGIATAN ILMIAH

Seminar Awam IKCC “ Peningkatan Kualitas The 5th Hospital Management Refreshing
Hidup Pasien Dialisis ”, RSPAD Gatot Course and Exhibition, Hotel Ciputra,
Soebroto Jakarta, 19 Juli 2008 22 - 24 Juli 2008
Pasien penyakit ginjal kronik (PGK) seringkali dihadapi Life cycle layanan/produk unggulan suatu rumah sakit
dengan berbagai komplikasi yang mengikuti penyakit saat ini semakin pendek. Tidak memerlukan waktu yang
lama dari yang kita anggap sebagai competitive advan-
yang dideritanya yang berakibat semakin menurunnya
tage akan berubah menjadi standard industri yang sudah
kualitas hidup orang tersebut. IKCC bekerjasama
dimiliki oleh sebagian besar kompetitor kita. Demikian
dengan Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) dijelaskan Handry Satriago, pada sesi pertama acara
Gatot Soebroto mengadakan seminar awam berte- Konferensi Nasional V PERMAPKIN di Jakarta. Acara
makan ”Peningkatan Kualitas Hidup Pasien Dialisis” yang dihadiri oleh sekitar 150 orang manager institusi
dengan dr. Sri Kunmartini,SpPD sebagai pembicara. pelayanan kesehatan seluruh Indonesia ini dibuat ber-
sama oleh para founder PERMAPKIN, Dr Samsi Jacobalis
SpB, dr Yos Susanto dan dr Suprijanto Rijadi, PhD (Ketua
PERMAPKIN, 2007 - 2011).
The 4th Asian Interventional Cardiovascular
Therapeutics AICT, Bangkok, 25-27 Juni 2008
Simposium The 4th Asian Interventional Cardiovascular
Therapeutics, AICT yang diselenggarakan di Centara Simposium Critical Care Medicine, Discovery Kartika Plaza Kuta, Bali, 14 - 16 Agustus 2008
Grand & Bangkok Convention Centre, Central World, Simposium tentang critical care medicine secara menyeluruh, yang
Bangkok, Thailand pada tanggal 25-27 Juni 2008. melibatkan para pakar berbagai profesi kedokteran dari dalam
maupun luar negeri telah diadakan pada tanggal 14 - 16 Agustus
Acara ini diikuti oleh kurang lebih 2000 peserta dari
2008 lalu di hotel Discovery Kartika Plaza Kuta, Bali.
mancanegara, termasuk Thailand, Indonesia, Korea,
Cina, Jepang, Amerika, Filipina, Singapura, dan beberapa Simposium dengan judul "15th International Symposium on
Critical Care & Emergency Medicine 2008 in conjunction with
negara lainnya. dan dari para ahli kesehatan di Thailand
4th Symposium of Nutri Indonesia" ini menghadirkan pembicara
sendiri. Selain dokter ahli dalam bidang terapi inter-
dari Amerika Serikat, Perancis, Australia, Malaysia, Saudi Arabia,
vensional, acara ini juga diikuti oleh dokter umum dan Hongkong, Singapura, Selandia Baru dan pakar dari Indonesia.
perawat. Acara ini dihadiri lebih dari 2.000 peserta. Pada kesempatan ini PT Kalbe Farma, sebagai perusahaan
farmasi terbesar di Indonesia turut berpartisipasi dalam bentuk
kerjasama penyelenggaraan registrasi seluruh peserta seminar.
PIT POGI 2008, Balikpapan, 28-30 Juli 2008 Peserta yang terdaftar dalam acara ini tidak kurang dari 750 orang
Konker XI PAPDI & PIT ke-2 PB PAPDI, Pada tanggal 28 – 30 Juli 2008 telah diadakan acara dokter, perawat maupun mahasiswa dari dalam dan luar negeri.
Padang, 11-12 Juli 2008 PIT POGI XVII (Pertemuan Ilmiah Tahunan Perkumpu-
Acara pertemuan ilmiah Perhimpunan Ahli Penyakit lan Obstetri dan Ginekologi Indonesia) yang di pusat-
Dalam Indonesia (PAPDI) yang dihadiri oleh 720 peserta kan di Hotel Grand Senyiur Balikpapan dengan tema
Simposium Sindroma Koroner Akut, Solo,
(internis dan dokter umum) ini merupakan salah satu “Peningkatan Mutu Pelayanan Obstetri dan Ginekologi 23 Agustus 2008
acara penting di bidang penyakit dalam Indonesia. dalam Menghadapi Era Globalisasi”. Acara PIT yang
Pada hari Sabtu, tanggal 23 Agustus 2008 telah terselenggara sebuah
Hal-hal update yang disampaikan meliputi berbagai didahului oleh Pra PIT (tanggal 25–27 Juli 2008) meru- simposium di Hotel Sahid Jaya Solo, yang membahas mengenai Sindroma
aspek dari bidang penyakit dalam. Hal yang menarik pakan acara ilmiah dokter Obstetri Ginekologi terbe- Koroner Akut, yang diberi topik “Latest News in Acute Coronary Sindrome
dari acara yang dihadiri oleh seluruh cabang PAPDI ini sar tahun ini, diikuti oleh lebih dari 2.000 peserta yang Management” yang dihadiri oleh sekitar 200 dokter yang bertugas di Solo
adalah, kolaborasi simposium dengan pameran kebu- terdiri dari dokter Obstetri Ginekologi, dokter umum dan sekitarnya. Dokter yang hadir adalah dokter Ahli Jantung, dokter
dayaan Minangkabau. Selain ada tari adat yang di- serta bidan. Acara dibuka oleh Ketua Umum PB POGI, spesialis Penyakit Dalam, Dokter Neurologi serta dokter umum yang
bertugas di Solo dan sekitarnya. Pada kesempatan tersebut simposium
suguhkan, para spesialis penyakit dalam / keluarga juga dr. Suryono SI Santoso, SpOG. Menurut ketua panitia,
yang memberikan 6 SKP bagi pesertanya, bersamaan dengan acara
menampilkan paduan suara dengan diiringi musik dr. Triseno Adji SpOG, semua kegiatan baik pra PIT pelantikan pengurus PERKI Cabang Solo untuk periode 2008 - 2010.
tradisional Minangkabau. maupun PIT pesertanya melebihi prediksi semula.

Laporan lengkap dari pelbagai simposium di atas (dalam Bahasa Indonesia/English), bisa diakses pada http://www.kalbe.co.id/seminar

CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008 CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008
376 377
GERAI

Acara peluncuran produk Biogaia Chewing Gum (BCG) di Hailai QVIDA turut berpartisipasi pada seminar Ristra (perusahaan
Ancol Jakarta, Minggu 6 Juli 2008. Tampak Tim Kalbe sedang kosmetik yang mengedepankan kesehatan & keamanan
memberikan informasi kepada para dokter yang mengunjungi kulit) tgl. 14 Juni 2008 di Graha Ristra, Kebayoran Baru,
stan Biogaia. Jakarta Selatan

Kalbe meluncurkan produk ‘CPG’ pada tanggal 16 Agustus 2008 di Hotel Four Seasons Jakarta. Acara tersebut juga diisi
dengan sesi ilmiah yang menghadirkan 2 pembicara. Yaitu Prof. dr. Idris Idham, SpJP(K), FIHA, FACC, FASCC (RS Jantung
Harapan Kita/kiri) dan Prof. DR. dr. Herri S. Sastramihardja, Sp. FK(K) (RS Hasan Sadikin Bandung/tengah) dengan dipandu
oleh moderator Dr. Tedjasukmana, Sp.JP, FIHA (kanan).

CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008


378
KORESPONDENSI

Kepada Yth.
Dr. Indah Rahmawati, Prof. Dr. Faisal Yunus, Dr. Wiwin Heru Wiyono

Kami sangat tertarik dengan artikel yang ada di CERMIN DUNIA KEDOKTERAN tentang PATOGENESIS DAN
PATOFISIOLOGI ASMA. dimana proses inflamasi pada asma khas ditandai dengan peningkatan Eosinophyl.

Putra kami Reffy pada September 2005 dari pemeriksaan hasil lab tertulis Eosinophyl 946, Eosinophyl tinggi
dikarenakan alergi, kemudian kami bawa ke dokter ahli darah & dokter ahli kulit untuk pengobatan lebih lanjut.
Tahun 2006 hasil pemeriksaan lab Eosinophyl 845, November 2006 kami juga mencoba terapi akupunktur yg juga
dokter radiolog, Hasil lab bulan Januari 2008 eosinophyl turun hingga 500, hasil lab bulan Maret Eosinophyl
450,hasil lab bulan Mei Eosinophyl 746, hasil lab minggu ke 4 bulan juni 640,

Sebenarnya obat apa yang bisa menyembuhkan Eosinophyl anak kami? Bila berkenan, kami berniat membawa
anak kami untuk berkonsultasi / menemui dr. Indah Rahmawati, Prof. Dr. Faisal Yunus, dr. Wiwin Heru Wiyono yang
melakukan penelitian PATOGENESIS DAN PATOFISIOLOGI ASMA di bagian Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran
Respirasi Rumah Sakit Persahabatan Jakarta.

Di manakah kami bisa berkonsultasi? pada jam praktek jam berapa kami bisa berkonsultasi di RS Persahabatan?
Kami berencana minggu ini akan pergi ke Jakarta. kebetulan kami bertempat tingal di Surabaya.

Hormat Kami
Ny Riza Wendari Hardiyanto
Jln Dharmahusada Indah Utara IX-15 / U-75 Surabaya 60115.
Tlp 031-60614XXX

Yth. Ibu Riza W. Hardiyanto,

Terima kasih atas tanggapan ibu terhadap tulisan kami di Majalah CDK.

Bila kadar eosinofil dalam darah tinggi itu disebut eosinofilia. Berbagai keadaan dapat menimbulkan eosinofilia ini antara lain
penyakit alergi, bisa alergi di kulit yaitu dermatitis alergi, bisa alergi di mata yaitu konjungtivitis alergi, bisa di hidung yaitu rinitis
alergi dan bisa juga di saluran napas bawah yaitu asma alergi. Selain itu infeksi oleh cacing juga bisa menimbulkan eosinofilia.
Maka kita harus mencari penyebab eosinofilia ini, baru kemudian kita lakukan penatalaksanaannya.

Saya ada di RS Persahabatan, nomor telpon 021-489-3536. Ibu bisa bertanya ke tata usaha sdri, Narti, sdri. Yenny atau
sdr. Zainal kalau ingin ketemu saya, karena mereka tahu jadual saya di RS Persahabatan.

Terima kasih atas perhatian ibu dan semoga putra ibu cepat sembuh.
Wasalam,

Prof. Dr. Faisal Yunus

TURUT BERDUKA CITA ATAS MENINGGALNYA


BP. ARI SATRIYO WIBOWO
SALAH SATU KONTRIBUTOR RUBRIK PROFIL MAJALAH CDK
PADA TANGGAL 18 JULI 2008
SEMOGA ARWAH ALMARHUM DITERIMA DI SISI TUHAN YANG MAHA ESA
AMIN

CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008


380
AGENDA AGENDA

d e r OKTOBER
International Thalassaemia Conference 2008
2nd Congress of the European Academy of Paediatrics -
EAP 2008
22nd Federation Asian Pharmaceutical Associations
Congress (FAPA 2008)

n
Tanggal : 24 Oct 2008 - 28 Oct 2008 Tanggal : 07 Nov 2008 - 10 Nov 2008

e a
Tanggal : 08 Oct 2008 - 11 Oct 2008

l
Tempat : Nice-Acropolis, Nice, France Tempat : Hotel Grand Copthorne Waterfront, Singapore

r
Tempat : Singapore

a
Kalangan : Pediatrician Kalangan : Pharmacist

a er Negara : Singapore Sekretariat : Congress Manager Pacific World Singapore Pte Ltd 73
b
K acer - N
Sekretariat : Kenes International 2nd Congress of the European

vem Kalangan
Email
: Specialist
: admin@thalassaemia2008singapore.org
Academy of Paediatrics, Nice, France, October 24-28,
2008 17 Rue du Cendrier PO Box 1726, CH-1211
Bukit Timah Road, Rex House #03-01, Singapore
229832

o Phone : 65-63-795-260
Email
Geneva 1, Switzerland
: Paediatrics@kenes.com
Email
Phone
: fapa08@pacificworld.com
: (65) 6330 6720
Fax : 65-64-752-077

mb 008
Contact Person : Daisy Kim Phone : +41 22 908 0488 Fax : (65) 6336 2263

te 2
Fax : +41 22 732 2850 URL : http://www.fapa2008.com

Sep The 7th Asia Pasific Conference on Anti-Aging Medi-


cine 2008 12th Biennial International Gynecologic Cancer Society PAIN : The Balance Between Research and Clinic
Meeting IGCS 2008 Tanggal : 28 Nov 2008 - 29 Nov 2008

SEPTEMBER Tanggal
Tempat
: 10 Oct 2008 - 12 Oct 2008
: Grand Hyatt Bali Nusa Dua, Bali, Indonesia
Tanggal : 25 Oct 2008 - 28 Oct 2008 Tempat
Kalangan
: Borobudur Hotel, Jakarta
: Neurolog, Reumatolog, Surgeon, GP
Asia Pasific Digestive Week 2008 Tempat : Bangkok, Thailand
Kalangan : Member, anti aging practitioner Sekretariat : Geoconvex Office & Mailing Address: Jl. Kebon Sirih
Kalangan : Specialist obsgin, oncologist
Tanggal : 13 Sep 2008 - 16 Sep 2008 Sekretariat : Asia Anti Aging 2008 Conference Secretariat c/o VICTUS Timur 4 Jakarta Pusat (10340) Indonesia
Life - Spa & Longevity Institute Kawasan Pariwisata BTDC Sekretariat : Conference Secretariat: International Gynecologic
Tempat : Hotel The Ashok, New Delhi, India Email : marketing@geoconvex.co.id
Lot C-3, Nusa Dua Resrt 80363, Bali-Indonesia Cancer Society, PO Box 1726, CH-121 Geneva
Kalangan : Gastroenterologist, endoscopist, hepatologist, digestive Phone : +62 +21 3149318 / 3149319 / 2305835
Email : info@AsiaAntiAging.net Email : igcs-12@kenes.com
surgeon Fax : +62 +21 +3153392
Phone : +62 361 565; +62 361 742 3649; +62 812 3940 113 Phone : 41-229-080-488
Sekretariat : Conference Managers & Official Travel Coordinator Plan it! Contact Person : Jery Londa
by Creative Travel Creative Travel Pvt. Ltd Creative Plaza, Fax : +61 733 196 527 (int'l); 0361- 773 570 (lokal) Fax : 41-227-322-850
Nanakpura, Motibagh New Delhi - 110021
Contact Person : Mel Tjandra
Email : akhileshdubey@travel2india.com Microbes for a beautiful and prosperous world
URL : www.AsiaAntiAging.net 2nd Indonesian PICU-NICU Update 2008
Phone : +91-11-26872257 / 58 / 59 Tanggal : 11 Nov 2008 - 13 Nov 2008
Fax : +91-11-26885886 / 26889764 Tanggal : 30 Oct - 02 Nov 2008 Tempat : Atma Jaya Catholic University of Indonesia 15th floor
Contact Person : Rakesh tandon (tandon@apdw2008.net) 2nd European Conference on Probiotic and Tempat : The Sultan Hotel, Jakarta Yustinus Building, Jakarta, Indonesia
URL : www.apdw2008.net Their Application Kalangan : Pediatrican, intensivist Kalangan : Dokter, Mikrobiologist
Tanggal : 15 Oct 2008 - 17 Oct 2008 Sekretariat : Geoconvex Office & Mailing Address: Jl. Kebon Sirih Sekretariat : School of Biotechnology, Atma Jaya Catholic University
Timur 4 Jakarta Pusat (10340) Indonesia of Indonesia Jl. Jend. Sudirman 51 Jakarta Indonesia 12930
Pandemic Flu : Influenza Preparedness & Control Conference Tempat : Auditorium Maximum 35 Krupnicza Street, Cracow,
Email : marketing@geoconvex.co.id
Poland Email : imbc_2008@yahoo.com
Tanggal : 18 Sep 2008 - 19 Sep 2008 Phone : +62 +21 3149318 / 3149319 / 2305835 Phone : +62 21 5703306 ext 450
Kalangan : Dokter, peneliti, mikrobiologi, ahli pangan
Tempat : InterContinental Grand Stanford, Hong Kong, China Fax : +62 +21 +3153392 Fax : +62 21 5719060
Sekretariat : EUPROBIO 2008 CONFERENCE ORGANIZATIONAL
Sekretariat : Organized by The Asia Business Forum Contact Person : Jery Londa URL : http://www.imbc-indonesia.com/
OFFICE 18 Czysta Street 31-121 Cracow Poland
Email : abfhk@biznetvigator.com URL : www.kalbe.co.id/calendar
Email : biuro@towarzystwoprobiotyczne.pl
Phone : +852-28041901
Phone : +4812 633 25 67 STROKE in Asia
Fax : +852-25281167
Fax : +4812 423 39 24 PIN PAPDI ke-6 Tanggal : 14 Nov 2008 - 16 Nov 2008
Contact Person : Ms. Rachel
Tempat : Beijing, China
Tanggal : 30 Oct 2008 - 02 Nov 2008
Kalangan : Neurologist, specialist
The 32nd
World Congress of the International Society of Tempat : Hotel Sahid Jaya, Jakarta
The Xth International Symposium on Thrombolysis and Sekretariat : Asia Pacific Office Jason Leng 3 Killiney Road, #08-01
Acute Stroke Therapy Hematology (ISH 2008) Kalangan : Spesialis penyakit dalam, dokter umum
Winsland House I Singapore 239519 China Office Gin Lee
Tanggal : 19 Oct 2008 - 23 Oct 2008 Sekretariat : Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI / RSUPN #1303, China Merchants Plaza, East Building, No.333
Tanggal : 20 Sep 2008 - 23 Sep 2008 Dr. Cipto Mangunkusumo Jl. Diponegoro No. 71, Jakarta
Tempat : Bangkok, Thailand Cheng Du Road (N), Shanghai, 200041, China
Tempat : Budapest, Hungary Email : pb_pabdi@indo.net.id
Kalangan : Specialist, hemato-oncologist Email : apacevents@elsevier.com/gi.lee@elsevier.com
Kalangan : Dokter dan Tenaga Kesehatan Phone : 021-31931384, 31930808
Sekretariat : Conference Secretariat: ISH2008 Secretariat, c/o Thai Phone : +65 6349 0201; +86 21 61333000
Sekretariat : C/o Kenes International - Global Congress Organisers Fax : 021-3159704
Society of Hematology, 10th Floor, Royal Golden Jubilee Fax : +65 6733 1817; +86 21 52980210
and Association Management Services 17 Rue du
Cendrier, P.O. Box 1726 CH-1211 Geneva 1, Switzerland Building 2 Soi Soonvijai, New Petchburi Road, 10400 Contact Person : Ibu Siti / Bpk. Muhtar Contact Person : Jason Leng/Gin Lee
Bangkok Thailand
Email : tast2008@kenes.com URL : http://www.thelancetforum.com
Email : secretariat@ish2008.org
Phone : +41 22 908 0488
Phone : 66-27-14-25-90 - 1
Fax : +41 22 732 2850
Fax : 66-27-14-26-56 ext.1
URL : www.kenes.com/tast2008
NOVEMBER
6th World Stroke Congress 2008 The 1st Hepatobliary
GI-Surgical : Update & Workshops Seminar Nasional IX PERSI & Hospital Expo 2008
Tanggal : 24 Sep 2008 - 27 Sep 2008 on Endosopy, Surgery and Imaging Tanggal : 04 Nov 2008 - 07 Nov 2008
Tempat : Reed Messe Wien GmbH, Messeplatz 1, Vienna, Austria Tanggal : 24 Oct 2008 - 26 Oct 2008 Tempat : Jakarta Convention Center, Jakarta, Indonesia
Kalangan : Neurologist, cardiologist Tempat : Gran Melia Hotel & RS.Medistra, Jakarta Kalangan : Rumah Sakit, Farmasi, Alkes, pemerintah
Sekretariat : Kenes International - Global Congress Organizers and Kalangan : Dokter internis, bedah, radiologi & endoskopi Sekretariat : PT. OKTA SEJAHTERA INSANI (OSI) Perkantoran
Association Management Services 17 Rue du Cendrier Kebun Jeruk Baru Blok A No. 13-14 JI.. Arjuna Setatan,
PO Box 1726 CH-1211 Geneva 1, Switzerland Sekretariat : Global Medica & RS Medistra Jakarta 11530 Indonesia
Email : stroke2008@kenes.com Email : hepgi-surgerymedistra@cbn.net.id Email : hospex@cbn.net.id, hospital.expo@gmail.com
Phone : +41 22 908 0488 Phone : 021-4532202 Phone : 62 21 536 77981, 536 77982 1. Informasi ini sesuai pada saat dicetak. Apabila ingin mengetahui lebih lanjut,
Fax : +41 22 732 2850 Fax : 021-4535833 Fax : 62 21 536 77983 silahkan akses http://www.kalbe.co.id/calendar
URL : www.kenes.com/stroke2008 Contact Person : Yenny URL : www.hospital-expo.com 2. Apabila Anda mempunyai kegiatan ilmiah, dapat dikirimkan ke:
cdk.redaksi@yahoo.co.id

CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008 CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008
382 383
AGENDA AGENDA

d e r OKTOBER
International Thalassaemia Conference 2008
2nd Congress of the European Academy of Paediatrics -
EAP 2008
22nd Federation Asian Pharmaceutical Associations
Congress (FAPA 2008)

n
Tanggal : 24 Oct 2008 - 28 Oct 2008 Tanggal : 07 Nov 2008 - 10 Nov 2008

e a
Tanggal : 08 Oct 2008 - 11 Oct 2008

l
Tempat : Nice-Acropolis, Nice, France Tempat : Hotel Grand Copthorne Waterfront, Singapore

r
Tempat : Singapore

a
Kalangan : Pediatrician Kalangan : Pharmacist

a er Negara : Singapore Sekretariat : Congress Manager Pacific World Singapore Pte Ltd 73
b
K acer - N
Sekretariat : Kenes International 2nd Congress of the European

vem Kalangan
Email
: Specialist
: admin@thalassaemia2008singapore.org
Academy of Paediatrics, Nice, France, October 24-28,
2008 17 Rue du Cendrier PO Box 1726, CH-1211
Bukit Timah Road, Rex House #03-01, Singapore
229832

o Phone : 65-63-795-260
Email
Geneva 1, Switzerland
: Paediatrics@kenes.com
Email
Phone
: fapa08@pacificworld.com
: (65) 6330 6720
Fax : 65-64-752-077

mb 008
Contact Person : Daisy Kim Phone : +41 22 908 0488 Fax : (65) 6336 2263

te 2
Fax : +41 22 732 2850 URL : http://www.fapa2008.com

Sep The 7th Asia Pasific Conference on Anti-Aging Medi-


cine 2008 12th Biennial International Gynecologic Cancer Society PAIN : The Balance Between Research and Clinic
Meeting IGCS 2008 Tanggal : 28 Nov 2008 - 29 Nov 2008

SEPTEMBER Tanggal
Tempat
: 10 Oct 2008 - 12 Oct 2008
: Grand Hyatt Bali Nusa Dua, Bali, Indonesia
Tanggal : 25 Oct 2008 - 28 Oct 2008 Tempat
Kalangan
: Borobudur Hotel, Jakarta
: Neurolog, Reumatolog, Surgeon, GP
Asia Pasific Digestive Week 2008 Tempat : Bangkok, Thailand
Kalangan : Member, anti aging practitioner Sekretariat : Geoconvex Office & Mailing Address: Jl. Kebon Sirih
Kalangan : Specialist obsgin, oncologist
Tanggal : 13 Sep 2008 - 16 Sep 2008 Sekretariat : Asia Anti Aging 2008 Conference Secretariat c/o VICTUS Timur 4 Jakarta Pusat (10340) Indonesia
Life - Spa & Longevity Institute Kawasan Pariwisata BTDC Sekretariat : Conference Secretariat: International Gynecologic
Tempat : Hotel The Ashok, New Delhi, India Email : marketing@geoconvex.co.id
Lot C-3, Nusa Dua Resrt 80363, Bali-Indonesia Cancer Society, PO Box 1726, CH-121 Geneva
Kalangan : Gastroenterologist, endoscopist, hepatologist, digestive Phone : +62 +21 3149318 / 3149319 / 2305835
Email : info@AsiaAntiAging.net Email : igcs-12@kenes.com
surgeon Fax : +62 +21 +3153392
Phone : +62 361 565; +62 361 742 3649; +62 812 3940 113 Phone : 41-229-080-488
Sekretariat : Conference Managers & Official Travel Coordinator Plan it! Contact Person : Jery Londa
by Creative Travel Creative Travel Pvt. Ltd Creative Plaza, Fax : +61 733 196 527 (int'l); 0361- 773 570 (lokal) Fax : 41-227-322-850
Nanakpura, Motibagh New Delhi - 110021
Contact Person : Mel Tjandra
Email : akhileshdubey@travel2india.com Microbes for a beautiful and prosperous world
URL : www.AsiaAntiAging.net 2nd Indonesian PICU-NICU Update 2008
Phone : +91-11-26872257 / 58 / 59 Tanggal : 11 Nov 2008 - 13 Nov 2008
Fax : +91-11-26885886 / 26889764 Tanggal : 30 Oct - 02 Nov 2008 Tempat : Atma Jaya Catholic University of Indonesia 15th floor
Contact Person : Rakesh tandon (tandon@apdw2008.net) 2nd European Conference on Probiotic and Tempat : The Sultan Hotel, Jakarta Yustinus Building, Jakarta, Indonesia
URL : www.apdw2008.net Their Application Kalangan : Pediatrican, intensivist Kalangan : Dokter, Mikrobiologist
Tanggal : 15 Oct 2008 - 17 Oct 2008 Sekretariat : Geoconvex Office & Mailing Address: Jl. Kebon Sirih Sekretariat : School of Biotechnology, Atma Jaya Catholic University
Timur 4 Jakarta Pusat (10340) Indonesia of Indonesia Jl. Jend. Sudirman 51 Jakarta Indonesia 12930
Pandemic Flu : Influenza Preparedness & Control Conference Tempat : Auditorium Maximum 35 Krupnicza Street, Cracow,
Email : marketing@geoconvex.co.id
Poland Email : imbc_2008@yahoo.com
Tanggal : 18 Sep 2008 - 19 Sep 2008 Phone : +62 +21 3149318 / 3149319 / 2305835 Phone : +62 21 5703306 ext 450
Kalangan : Dokter, peneliti, mikrobiologi, ahli pangan
Tempat : InterContinental Grand Stanford, Hong Kong, China Fax : +62 +21 +3153392 Fax : +62 21 5719060
Sekretariat : EUPROBIO 2008 CONFERENCE ORGANIZATIONAL
Sekretariat : Organized by The Asia Business Forum Contact Person : Jery Londa URL : http://www.imbc-indonesia.com/
OFFICE 18 Czysta Street 31-121 Cracow Poland
Email : abfhk@biznetvigator.com URL : www.kalbe.co.id/calendar
Email : biuro@towarzystwoprobiotyczne.pl
Phone : +852-28041901
Phone : +4812 633 25 67 STROKE in Asia
Fax : +852-25281167
Fax : +4812 423 39 24 PIN PAPDI ke-6 Tanggal : 14 Nov 2008 - 16 Nov 2008
Contact Person : Ms. Rachel
Tempat : Beijing, China
Tanggal : 30 Oct 2008 - 02 Nov 2008
Kalangan : Neurologist, specialist
The 32nd
World Congress of the International Society of Tempat : Hotel Sahid Jaya, Jakarta
The Xth International Symposium on Thrombolysis and Sekretariat : Asia Pacific Office Jason Leng 3 Killiney Road, #08-01
Acute Stroke Therapy Hematology (ISH 2008) Kalangan : Spesialis penyakit dalam, dokter umum
Winsland House I Singapore 239519 China Office Gin Lee
Tanggal : 19 Oct 2008 - 23 Oct 2008 Sekretariat : Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI / RSUPN #1303, China Merchants Plaza, East Building, No.333
Tanggal : 20 Sep 2008 - 23 Sep 2008 Dr. Cipto Mangunkusumo Jl. Diponegoro No. 71, Jakarta
Tempat : Bangkok, Thailand Cheng Du Road (N), Shanghai, 200041, China
Tempat : Budapest, Hungary Email : pb_pabdi@indo.net.id
Kalangan : Specialist, hemato-oncologist Email : apacevents@elsevier.com/gi.lee@elsevier.com
Kalangan : Dokter dan Tenaga Kesehatan Phone : 021-31931384, 31930808
Sekretariat : Conference Secretariat: ISH2008 Secretariat, c/o Thai Phone : +65 6349 0201; +86 21 61333000
Sekretariat : C/o Kenes International - Global Congress Organisers Fax : 021-3159704
Society of Hematology, 10th Floor, Royal Golden Jubilee Fax : +65 6733 1817; +86 21 52980210
and Association Management Services 17 Rue du
Cendrier, P.O. Box 1726 CH-1211 Geneva 1, Switzerland Building 2 Soi Soonvijai, New Petchburi Road, 10400 Contact Person : Ibu Siti / Bpk. Muhtar Contact Person : Jason Leng/Gin Lee
Bangkok Thailand
Email : tast2008@kenes.com URL : http://www.thelancetforum.com
Email : secretariat@ish2008.org
Phone : +41 22 908 0488
Phone : 66-27-14-25-90 - 1
Fax : +41 22 732 2850
Fax : 66-27-14-26-56 ext.1
URL : www.kenes.com/tast2008
NOVEMBER
6th World Stroke Congress 2008 The 1st Hepatobliary
GI-Surgical : Update & Workshops Seminar Nasional IX PERSI & Hospital Expo 2008
Tanggal : 24 Sep 2008 - 27 Sep 2008 on Endosopy, Surgery and Imaging Tanggal : 04 Nov 2008 - 07 Nov 2008
Tempat : Reed Messe Wien GmbH, Messeplatz 1, Vienna, Austria Tanggal : 24 Oct 2008 - 26 Oct 2008 Tempat : Jakarta Convention Center, Jakarta, Indonesia
Kalangan : Neurologist, cardiologist Tempat : Gran Melia Hotel & RS.Medistra, Jakarta Kalangan : Rumah Sakit, Farmasi, Alkes, pemerintah
Sekretariat : Kenes International - Global Congress Organizers and Kalangan : Dokter internis, bedah, radiologi & endoskopi Sekretariat : PT. OKTA SEJAHTERA INSANI (OSI) Perkantoran
Association Management Services 17 Rue du Cendrier Kebun Jeruk Baru Blok A No. 13-14 JI.. Arjuna Setatan,
PO Box 1726 CH-1211 Geneva 1, Switzerland Sekretariat : Global Medica & RS Medistra Jakarta 11530 Indonesia
Email : stroke2008@kenes.com Email : hepgi-surgerymedistra@cbn.net.id Email : hospex@cbn.net.id, hospital.expo@gmail.com
Phone : +41 22 908 0488 Phone : 021-4532202 Phone : 62 21 536 77981, 536 77982 1. Informasi ini sesuai pada saat dicetak. Apabila ingin mengetahui lebih lanjut,
Fax : +41 22 732 2850 Fax : 021-4535833 Fax : 62 21 536 77983 silahkan akses http://www.kalbe.co.id/calendar
URL : www.kenes.com/stroke2008 Contact Person : Yenny URL : www.hospital-expo.com 2. Apabila Anda mempunyai kegiatan ilmiah, dapat dikirimkan ke:
cdk.redaksi@yahoo.co.id

CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008 CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008
382 383
RPPIK

Ruang Penyegar dan Penambah Ilmu Kedokteran


Dapatkah sejawat menjawab pertanyaan-pertanyaan di bawah ini?
Jawablah B jika benar, S jika salah

Pendekatan
Evidence-Based Medicine
pada Manajemen Stroke Perdarahan
Intraserebral
Ismail Setyopranoto

1. Pemeriksaan CT scan kepala merupakan pemeriksaan


utama pada dugaan stroke perdarahan intraserebral

2. Prognosis perdarahan intraserebral akan buruk jika


volume perdarahan > 50 ml.

3. Penyebab utama perdarahan intraserebral ialah aneu-


risma pecah

4. Usaha resusitasi adalah mempertahankan pO2 > 70


mmHg dan pCO2 < 60 mmHg

5. Tekanan perfusi serebral pada perdarahan intra-


serebral diusahakan > 70 mmHg

6. Tekanan darah harus segera diturunkan pada perda-


rahan intraserebral jika sistolik > 230 mmHg dan
Obstructive Sleep Apnea
diastolik > 140 mmHg Andreas Prasadja, Maula N.Gaharu

7. Furosemid digunakan untuk tujuan menurunkan teka-


1. Pemeriksaan utama pada dugaan obstructive sleep
nan darah
apnea (OSA) ialah polisomnografi
8. Steroid bermanfaat untuk mengurangi edema otak
2. Excessive daytime sleepiness sinonim dengan nar-
pada stroke
kolepsi
9. Kejang pada stroke dapat bersifat nonkonvulsif
3. Rangsang untuk bernapas antara lain berasal dari
10. Pembedahan tidak dilakukan jika Skala Koma kemoreseptor yang merespon peningkatan pCO2
Glasgow < 4
4. Bentuk leher yang pendek mempermudah terjadinya
OSA

5. Polisomnografi juga mencatat saturasi oksigen


6. Microarousal akan memperbaiki kualitas tidur

7. Polisomnografi yang sederhana hanya mencatat


kadar oksigen dan sifat aliran udara pernapasan

8. Penyebab mendengkur ialah adanya hipoksi otak

9. Efek samping OSA yang paling banyak diperhatikan


ialah efeknya terhadap konsentrasi belajar

10. Gaya hidup memengaruhi risiko OSA

10.B 9.B 8.S 7.S 6.B 5.B 4.S 3.S 2.B JAWABAN: 1.B 10.B 9.S 8.S 7.B 6.S 5.B 4.B 3.B 2.S JAWABAN: 1.B

CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008


384

Anda mungkin juga menyukai