Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN
I.1

Latar Belakang
Actinomycetes adalah bakteri gram positif,organisme yang cenderung

tumbuh

perlahan-lahan

membentuk

filamen

bercabang.

Banyak

actinomycetes yang akan tumbuh pada media yang umumdigunakan di


laboratorium, seperti nutrien agar, trypticase soy agar, blood agar, dan
bahkan brain-heart infusion agar. Actinomycetes mencakup berbagai jenis
bakteri (1).
Actinomycetes adalah saprofit yang memliki peran penting dalam
pemecahan bahan organik menjadi lebih nutrisi yang lebih mudah dicerna.
Mereka juga adalah produsen metabolit sekunder spektrum luas yang banyak
digunakan sebagai obat bagi manusia dan hewan dan pertanian. Lebih dari
75 tahun terakhir, banyak strain actinomycetes yang telah diisolasi dari
berbagai substrat yang dikumpulkan dari seluruh dunia dan memiliki
kemampuan biosintesis mereka yang luar biasa. Tanah merupakan sumber
terbesar dan dominan actinomycetes. Namun baru-baru ini, bagaimanapun,
para ilmuwan telah menemukan bahwa sumber lain, seperti daun-daun dan
tanaman

juga

memiliki

potensi

sumber

keanekaragaman

hayati

actinomycetes. (2) biosynthesis


Telah ditemukan bahwa beberapa mikroba endofit dapat memproduksi
senyawa farmasetikal yang memiliki manfaat yang besar. Oleh karena itu,
screening actinomycetes dari habitat ini dianggap penting untuk identifikasi
strain yang memiliki kemampuan untuk menghasilkan senyawa bioaktif yang
baru. (3)

Antifungal

I.2
1.
2.
3.
4.

Rumusan Masalah
Bagaimana karakteristik actinomycetes?
Bagaimana lingkungan hidup actinomycetes?
Bagaimana cara mengisolasi actinomycetes?
Apa saja produk metabolit sekunder dari hasil fermentasi yang dihasilkan

actinomycetes laut?
5. Metode apa saja yang digunakan dalam menguji daya hambat senyawa
antimikroba yang dihasilkan actinomycetes?
I.3 Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui dan memahami mengenai karakteristik, klasifikasi, dan
lingkungan hidup actinomycetes.
2. Untuk

mengetahui

cara

mengisolasi

senyawa

antibakteri

dari

actinomycetes.
3. Untuk

mengetahui

dan

memahami

pemanfaatan

berdasarkan produk metabolit sekunder yang dihasilkan.

BAB II

Actinomycetes

TINJAUAN PUSTAKA
II.1 Karakteristik Actinomycetes
Actinomycetes merupakan kelompok bakteri golongan gram positif,
berbentuk kecil, tipis, lurus, non motil, tidak berkembang biak dengan cepat,
tidak berspora, memiliki percabangan filament. Secara umum Actinomycetes
berwarna keputihan, akan berubah menjadi berwarna kekuningan setelah
masa inkubasi yang lama, berdiameter 1-4 mm, kuat bertahan dan
menimbulkan permukaan yang kusut (7).
Dilihat

dari

ukuran

sel,

spora

serta

miselia

actinomycetes

dikategorikan sebagai bakteri yang memiliki nukleoid yang sama dengan


bakteri. Chitin dan selulosa sebagai penyusun dinding sel fungi tidak terdapat
pada actinomycetes. Penyusun dinding sel actinomycetes adalah polimer
gula, gula amino, dan beberapa asam amino seperti halnya bakteri gram
positif. Sensitifitas terhadap beberapa antibiotik menempatkan actinomycetes
masuk dalam golongan bakteri gram positif. Actinomycetes biasanya
dipandang sebagai kelompok bakteri gram positif yang memiliki kandungan
guanin (G) dan citosin (C) yang tinggi di dalam DNA-nya (>55%) dengan
kemampuan

membentuk

cabang-cabang

hifa

pada

tahap-tahap

pengembangannya (8).
Actinomycetes memetabolisme senyawa organik alami. Karena
mereka membutuhkan lebih sedikit nitrogen daripada bakteri pada umumnya
untuk pertumbuhan sel, actinomycetes cenderung memetabolisme bentuk
bahan organik yang lebih resisten. Setelah bakteri dan fungi normal
memetabolisme komponen dari bahan tanaman mati yang mudah mengalami
biodegradasi, actinomycetes mampu melanjutkan memetabolisme residu
bahan organik. Actinomycetes dapat tumbuh pada karbohidrat, protein,
protein, lipid, dan aromatik. Senyawa lignoselulosa kompleks dan humus
dapat dimetabolisme secara perlahan oleh kelompok mikroorganisme ini.

Actinomycetes

adalah

organisme

fakultatif

yang

mampu

melakukan

metabolisme secara aerobik maupun anaerobik. Metabolisme aerobik


menghasilkan energi yang lebih besar dan lebih banyak produksi masa sel
daripada metabolisme anaerobik (9).
Koloni actinomycetes bukan akumulasi dari kumpulan sel-sel tunggal
dan seragam seperti halnya bakteri, melainkan bentuk masa filamen
bercabang (8). Miselium vegetatif actinomycetes berbentuk hifa non-septat
yang panjang. Beberapa hifa membentang dan panjangnya lebih dari 600
m,

bercabang,

melengkung/meliuk-liuk,

dan

cabangnya

berbrntuk

monopodial. Miselium vegetatif memiliki karakteristik berwarna, seperti


kuning, oranye, hijau, coklat, atau hitam. Apabila terlarut dalam air, pigmen
akan dikeluarkan dalam medium (10).
Actinomycetes

termasuk

ordo

Actinomycetales.

Pada

umunya

Actinomycetes terdiri dari beberapa suku, seperti (11):


1. Suku Mycobactericeae
Dimana suku Mycobactericeae memiliki sel-sel yang tidak membentuk
miselium atau hanya miselium yang rudimeter. Contohnya:
Mycobacterium tuberculosis , penyebab penyakit tuberkolosis (TBC)
Mycobacterium leprae , penyebeb penyakit lepra atau kusta.
2. Suku Actinomycetaceae
Dimana suku Actinomycetaceae membentuk miselium, spora terbentuk
dalam fragmen-fragmen miselium. Contohnya :
Actinomyces bovis, patogen penyebab penyakit mulut ternak
3. Suku Streptomycetaceae
Dimana suku Streptomycetaceae , membentuk miselium-miselium yang
tidak terbagi-bagi. Contohnya :
Streptomyces aureofacien , menghasilkan aureomisin
Streptomyces griseus, menghasilkan streptomision
Streptomyces rimosus, menghasilkan teramisin
Streptomyces venezuelae, menghasilkan kloromisetin.
II. 2 Lingkungan hidup Actinomycetes

Pada umumnya actinomycetes tidak toleran terhadap asam dan


jumlahnya menurun pada keadaan lingkungan dengan pH di bawah 5,0.
Rentang pH yang paling cocok untuk perkembangbiakan Actinomycetes
adalah antara 6,5-8,0. Tanah yang tergenang air tidak cocok untuk
pertumbuhan Actinomycetes, sedangkan tanah gurun yang kering atau
setengah kering dapat mempertahankan populasi dalam jumlah cukup besar,
karena

adanya

spora.

Temperatur

yang

cocok

untuk

pertumbuhan

Actinomycetes adalah 25-30C, tetapi beberapa actinomycetes masih dapat


tumbuh dalam jumlah besar pada suhu 55-65 C (12).
Secara umum Actinomycetes tersebar luas di lingkungan dan
memegang

peranan

penting

dalam

proses

siklus

karbon

karena

kemampuannya tumbuh pada konsentrasi senyawa berkarbon renda.


Actinomycetes memiliki habitat yang cukup luas antara lain ditemukan pada
tanah, kompos, padang rumput, tanah hutan, sedimen, lumpur, pada daerah
perakaran tanaman, atau di perairan laut. Populasinya berada pada urutan
kedua setelah bakteri, Actinomycetes juga hidup sebagai saprofit dan aktif
mendekomposisi bahan organik, sehingga dapat meningkatkan kesuburan
tanah, Actinomycetes juga merupakan salah satu mikroorganisme yang
mampu mendegradasi selulosa di samping bakteri, kapang dan khamir. Jenis
Actinomycetes juga tergantung pada (6):
1. Tipe tanah, Tanah yang tergenang air tidak cocok untuk pertumbuhan
Actinomycetes, sedangkan tanah gurun yang kering atau setengah kering
dapat mempertahankan populasi Actinomycetes

dalam jumlah yang

cukup besar karena adanya spora.


2. Kadar bahan organik, dimana jumlah Actinomycetes akan meningkat
dengan adanya bahan organik yang mengalami dekomposisi.
3. Temperatur, temperatur yang cocok untuk pertumbuhan Actinomycetes
adalah 25C sampai 30C, tetapi pada suhu 55C sampai 65 C

Actinomycetes masih dapat tumbuh dalam jumlah yang cukup besar


khususnya genus Thermoactinomycetes dan Streptomycetes.
4. pH lingkungan, Actinomycetes pada umumnya tidak toleran terhadap
asam dan jumlahnya akan menurun pada keadaan lingkungan dengan pH
dibawah 5,0. Rentang pH yang paling cocok untuk perkembangbiakan
Actinomycetes adalah antara 6,5 sampai 8,0.
II.5 Isolasi Actinomycetes
isolasi mikroba dari alam merupakan tahap awal dalam penapisan
metabolit mikroba seperti antibiotik. Biasanya tidak diketahui jenis dan jumlah
mikroba yang terdapat dalam sampel tersebut. Pada prinsipnya tujuan isolasi
mikroba

yaitu

mendapatkan

mikroba

yang

dikenhendaki

sebanyak-

banyaknya (13). Untuk maksud tersebut dapat digunakan teknik medium


diperkaya dan sistem pengenceran. Misalnya sampel tanah atau air
diencerkan sedemikian rupa, sehingga diharapkan pertumbuhan koloni tidak
lebih dari 200 koloni per cawan petri. Suspensi tersebut dengan metode
taburan spread plate diinokulasikan pada cawan petri yang mengandung
medium diperkaya. Setelah diinkubasi, akan terlihat koloni-koloni pada cawan
tersebut dan siap untuk diisolasi (14). Namun dalam praktek, cara tersebut
kurang efisien karena harus mengisolasi banyak mikroba yang potensinya
belum jelas, sehingga para peneliti sudah membatasi jenis mikroba yang
akan diisolasi. Biasanya tidak diinginkan isolasi semua mikroba yang ada
dalam sampel, karena akan menghabiskan banyak biaya, tenaga, dan waktu.
Pra-perlakuan sampel dilakukan untuk mengeliminasi mikroba yang tidak
diinginkan. Ada beberapa contoh yang sering dilakukan oleh para peneliti,
misalnya sampel tanah dikeringkan di udara pada suhu kamar selama 3-10
hari tergantung dari kandungan airnya untuk mengurangi populasi bakteri
(15).

Kelembaban pada permukaan agar dapat mendorong tumbuh dan


menyebarkan bakteri gram-negatif yang secara signifikan dapat menekan
proses germinasi dan pertumbuhan actinomycetes. Oleh karena itu, cawan
isolasi dan permukaan agar harus dalam kondisi yang kering pada saat
menyebarkan sampel isolasi (17). Beberapa spesies actinomycetes lebih
menyukai

permukaan

medium

kering

untuk

proses

germinasi

dan

pertumbuhan. Proses pemanasan dan pengeringan dengan kombinasi


medium selektif akan mampu menghasilkan koloni actinomycetes yang relatif
banyak. Sentrifugasi diferensial juga dapat digunakan dalam proses praperlakuan sampel (18).
Spora actinomycetes juga tahan terhadap pemanasan kering sampai
suhu 120C, sifat ini dimanfaatkan untuk perlakuan pendahuluan yang dapat
menghilangkan sejumlah bakteri kontaminan (19). Spora actinomycetes lebih
sensitif terhadap pemanasan basah, yaitu sampel tersuspensi dalam pelarut
yang dipanaskan. Perlakuan pendahuluan sampel secara kimia juga banyak
dilakukan untuk mengisolasi actinomycetes, misalnya penggunaan fenol, klor,
atau

amonium

kuarterner. Metode

pra-perlakuan

ini

biasanya

juga

mengurangi sejumlah actinomycetes yang akan diisolasi (16).


Waktu inkubasi proses isolasi actinomycetes pada cawan agar sampai
dilihat koloninya dengan mata telanjang kurang lebih selama 7 sampai
dengan 14 hari. Masa inkubasi yang semakin lama biasanya dihindari oleh
peneliti. Hal ini disebabkan pertumbuhan actinomycetes yang lambat akan
meningkatkan biaya produksi pada saat masuk dalam proses fermentasi.
Namun demikian, pertumbuhan actinomycetes dapat dimodifikasi melalui
medium pertumbuhan dan kondisi lingkungan yang digunakan (10). Salah
satu faktor yang penting dalam proses isolasi dan fermentasi actinomycetes
adalah suhu inkubasi. Secara umum actinomycetes tumbuh baik pada suhu
25-30C. namun demikian, ada beberapa actinomycetes yang tumbuh baik
pada suhu 45C (16).

II.4 Senyawa yang Dihasilkan Actinomycetes Laut dan Produksi


Metabolit Sekunder Actinomycetes
Dewasa

ini,

penemuan-penemuan

senyawa

aktif

baru

dari

actinomycetes tanah telah banyak mengalami penurunan dari tahun ke


tahun, sehingga banyak peneliti yang mulai mengalihkan perhatiannya
kepada actinomycetes laut (2). Meskipun penelitian mengenai eksplorasi
senyawa aktif dari actinomycetes laut belum banyak dilakukan, akan tetapi
sejumlah senyawa aktif baru dihasilkan oleh actinomycetes laut seperti
Caprolactones, Chandrananimycins, Chinikomycins, Chlorodihydroquinones,
Frigocyclinone, Gutingimycin, dan Marinomycins (21).
Beberapa contoh antibiotik yang dihasilkan oleh actinomycetes laut
antara lain Abyssomycin C yang merupakan antibiotik polisiklik poliketida dari
actinomycetes laut strain Verrucosispora (22). Abbysomycin C dilaporkan
memiliki

aktivitas

penghambat

pertumbuhan

bakteri

gram

positif.

Diazepinomicin yang dihasilkan oleh strain micromonospora laut juga


memiliki

aktivitas

antibakteri,

antiperadangan,

dan

antitumor.

Salinosporamide A merupakan senyawa lactone-g-lactam yang diisolasi dari


actinomycetes laut Salinispora tropica (23).
Produksi antibiotik melalui pemanfaatan mikro organisme dilakukan
melalui fermentasi. Adapun sistem fermentasi yang telah berkembang yaitu
(24):
1. Sistem Continue
Pada sistem kontinyu, media selalu ditambahkan dari luar dan
hasilnya dipanen secara berkala. Sistem ini cocok digunakan pada produksi
besar (dalam skala industri) agar lebih efisien. Sistem ini tidak cocok
digunakan untuk produksi kecil (skalalaboratorium).
2. Sistem Batch

Pada sistem ini tidak ada penambahan media dan pemanenan hasil
pada akhir periode fermentasi, sehingga hanya dapat bertahan selama
beberapa jam atau hari. Sistem ini cocok untuk produksi skala kecil (skala
laboratorium).
Ada beberapa metode yang dapat digunakan dalam proses fermentasi
mikroorganisme antara lain (25):
1. Kultur permukaan (Surface culture)
Pada metode ini, medium diinokulasikan spora atau miselium fungi.
Miselium akan tumbuh di seluruh permukaan medium cair membentuk
suatu koloni bervariasi. Ini merupakan metode yang paling mudah dan
murah, akan tetapi memiliki beberapa kerugian yaitu pertumbuhan yang
tidak homogen di mana koloni terdiri dari beberapa miselium yang
berbeda pertumbuhannya dan lingkungan tumbuhnya di mana miselium
yang berada di atas permukaan koloni berada dalam kondisi yang lebih
aerobik dibandingkan yang di bawah permukaan koloni, hal ini
berkebalikan pada keadaan kontak dengan medium.
2. Kultur dengan pengocokan (shaker culture)
Pada metode ini medium dikocok setelah diinokulasikan spora atau
miselium sehingga pertumbuhan akan tampak pada seluruh medium.
Kelebihan metode ini dibandingkan dengan metode kultur permukaan
yaitu

pemanfaatan

medium

oleh

mikroorganisme

lebih

efisien,

mempercepat pertumbuhan dan pertumbuhannya lebih homogen.


3. Kultur dengan pengocokan, mengalirkan udara (stirred aerate culture)
Metode ini merupakan pengembangan dari metode kultur dengan
pengocokan, menggunakan pengaduk medium dan jalur udara atau
oksigen. Dikarenakan efisiensi pengocokan dan aerasi produksi dapat
meningkat pesat dan ini merupakan metode yang paling efisien untuk
memproduksi metabolit fungi dalam skala besar.
4. Kultur berkelanjutan (continous culture)
Metode ini dilakukan dengan cara berkala mengganti medium pada
fermentor dengan medium fermentasi yang baru, hal ini akan

menyebabkan proses fermentasi akan terus berlangsung. Metode ini


akan sangat bermanfaat untuk penelitian laboratorium fermentasi, karena
dengan menjaga ketersediaan medium baru kita dapat menjaga proses
fermentasi pada tahapan yang diinginkan sementara efek yang lain
dipelajari.
II.5 Metode uji daya hambat
Dikenal
mikrobilogis

beberapa
terhadap

cara

pemeriksaan

kemampuan

dan

antimikroba

pengujian
dari

secara

bahan-bahan

kemoterapeutika seperti antibiotika. Walaupun pada umumnya pengujian


dilakukan terhadap kebanyakan antibiotika, namun ada juga bahan-bahan
lain yang diduga mempunyai daya hambat atau membunuh mikroba.
Secara umum dapat dilakukan dengan dua cara yaitu (26):
1. Metode difusi (penyerapan)
Pada metode ini kemampuan antimikroba ditentukan berdasarkan
hambatan yang terjadi. Beberapa modifikasi metode ini adalah:
a. Metode difusi dengan silinder pipih
Cara ini didasarkan atas perbadingan antara luas daerah hambatan
yang dibentuk larutan contoh terhadap pertumbuhan mikroba dengan daerah
hambatan yang dibentuk oleh larutan pembanding. Pada cara ini digunakan
plat silinder yang diletakkan pada media, kemudian larutan contoh
dimasukkan ke dalamnya.
b. Metode difusi dengan mangkuk pipih
Cara ini sama dengan silinder pipih, namun perbedaannya disini
menggunakan lubang yang dibuat langsung pada medium.
c. Metode difusi dengan kertas saring
Cara ini menggunakan kertas saring yang dibuat dengan bentuk dan
ukuran tertentu, biasanya dengan garis tengah 0,7 1 cm, yang nanntinya
akan dicelupkan ke dalam larutan contoh dan

larutan pembanding. Pengamatan dilakukan setelah masa inkubasi dengan


melihat daerah hambatan yang terbentuk.
Cara difusi ini telah direkomendasikan oleh NCCLS dan International
Collaborative Study (ICL) and Regulation, yang dimodifikasi oleh Bauer,
Kirby, Shenis, dan Turch. Keuntungan dari cara ini adalah prosedurnya
sederhana (mudah dan praktis), dapat menggunakan beberapa jenis
antibiotika untuk satu jenis strain patogen yang ditest. Hanya saja konsentrasi
obat telah ditentukan masing-masing oleh pabriknya, pada setiap kertas
cakram (paper disk).
2. Metode dilusi (pengenceran)
Pada cara ini, yang biasa juga disebut penetapan dengan cara
turbidimetri atau tabung, menggunakan pengenceran secara seri dari
antimikroba dalam media broth dengan konsentrasi yang berbedabeda,
kemudian ditanami dengan bakteri uji. Potensi antimikroba dapat diketahui
dengan melihat kekeruhan yang terjadi akibat dari pertumbuhan bakteri uji
pada konsentrasi tertentu, dan kekeruhan yang terjadi diukur dengan alat
fotoelektrik kolorimeter serta dapat diketahui konsentrasi terendah yang
masih dapat menghambat pertumbuhan bakteri uji tersebut (MIC=Minimum
Inhibitory Concentration). Kekurangan dari cara ini adalah prosedurnya lebih
panjang dan jenis antibiotik yang digunakan terbatas.

BAB III
PEMBAHASAN
III.1

Optimization

of

Antimicrobial

Production

by

Marine

Actinomycete Streptomyces Afghaniensis VPTS3-1 Isolated from


Palk Strait, East Coast Of India (4)
Penelitian ini mengumpulkan 25 sampel tanah laut yang diambil dari
daerah Palk Strait of Bay of Bengal, Tamil, Nadu untuk diisolasi
actinomycetesnya. Diperoleh 68 isolat yang berbeda secara morfologi dan 25
di antaranya memiliki aktivitas antimikroba. Salah satu strain yang paling
potensial dalam menghasilkan senyawa antimikrooba yaitu Streptomyces sp.
VPTS3-1.

Senyawa

antimikroba

kemudian

diekstraksi

dari

isolat

menggunakan solven yang berbeda-beda dan efektivitas antimikroba diuji


terhadap beberapa bakteri dan fungi patogen.
Tahap isolasi dilakukan dengan ngencerkan sampel sampai 10 -6.
Sebanyak 0,1 ml hasil pengenceran disebar di atas medium SCA (Starchcasein agar) dan diinkubasi pada suhu 28 2 C selama 7-10 hari. Koloni
actinomycetes yang tumbuh pada medium dimurnikan dan ditumbuhkan pada
medium SCA.
Pengujian aktivitas antimikroba spektrum luas dilakukan terhadap 5
mikrkoba patogen yaitu B. subtilis ,E. coli, Klebsiella pneumoniae, Proteus
mirabilis, dan Proteus vulgaris serta fungi C.albicans. isolat diinokulasi ke
medium SC broth dan di shake pada suhu 28 2 C 250rpm selama 7-10
hari. Setelah inkubasi, filtrat disaring melalui kertas saring (Whatman No.1)
dan melalui filter Seitz (G5). Filtrat dipindahkan secara aseptis ke dalam
erelenmeyer dan ditambahkan lima solven (alkohol, kloroform, aquades, etil
asetat, dan metanol) lalu dishake selama 2 jam dan filtrat yang terekstraksi
diuji aktivitas antimikrobanya menggunakan metode well-diffusion.

Optimasi produksi senyawa antimikroba dilakukan dengan variasi


faktor-faktor yang berpengaruh terhadap produksi senyawa antimikroba.
Untuk efek medium, dilakukan menggunakan delapan medium berbeda.
Asparagines-mannitol medium, ISP medium 2, ISP medium 3, ISP medium 4,
ISP medium 5, Ken-knight medium, nutrient medium, starch-nitrate medium
dan SC medium diinokulasi dengan kultur bakteri ke dalam erlenmeyer dan
diinkubasi pada shaker selama 7 hari. Setelah inkubasi, ekstrak etil asetat
disiapkan dan dievaluasi untuk efek antimikrobanya melalui metode difusi
terhadap bakteri uji patogen.
Efek masa inkubasi, SC broth diinokulasi dengan actinomycetes dan
diinkubasi selama 15 hari. Setiap 3 hari, aktivitas antimikroba ekstrak diuji
dengan metode well-diffusion terhadap bakteri uji patogen.
Efek suhu, actinomycetes diinokulasikan ke dalam SC broth dan
diinkubasi pada suhu yang bervariasi yaitu 5, 10, 20, 30, 40, 50 C selama 7
hari. Setelah inkubasi, ekstrak yang didapatkan diuji aktivitas antimikrobanya
menggunakan metode well-diffusion.
Efek pH, pH dari SC broth di-adjust hingga 5, 6, 7, 8, dan 9 dengan
NaOH 0,1 N/HCl 0,1 N. Kultur actinomycetes diinokulasikan ke dalam
erlenmeyer dan diinkubasi pada suhu 28 2 C selama 7 hari lalu diuji
aktivitas ekstraknya.
Efek kadar garam, SC broth dibuat dengan kadar garam bervariasi (1,
2, 4, 8, 16, dan 32%) dengan penambahan NaCl. Actinomycetes
diinokulasikan dan diinkubasi pada suhu 28 2C selama 7 hari dan aktivitas
antimikroba ekstrak diuji.
Efek sumber karbon, digunakan beberapa sumber karbon yang
berbeda yaitu dextrosa, glukosa, maltosa, manitol, amilum, dan sukrosa (10
g/L) pada medium SC.
Efek sumber nitrogen, digunakan beberapa variasi sumber nitrogen,
yaitu alanin, glisin, fenilalanin, tirosin, dan KNO 3 (2 g/L) pada medium SC.
Hasil yang diperoleh berdasarkan penelitian diketahui bahwa aktivitas
antimikroba dari senyawa yang dihasilkan oleh actinomycetes bergantung

pada strain actinomycetes penghasil senyawa dan juga solven serta mikroba
uji yang digunakan. Dari kelima solven yang digunakan, diperoleh hasil
bahwa ektstrak dengan solven etil asetat memiliki aktivitas yang tinggi
terhadap C.albicans dan P.mirabilis dan memprduksi zona hambat yang
cukup luas yaitu masing-masing 20 dan 19 mm. Solven yang lainnya
menunjukkan zona hambat yang sedang sampai kecil.

Optimasi kondisi yang diperlukan unutk produksi senyawa antibiotik


diperlukan untuk memperoleh pengetahuan yang lengkap mengenai kondisi
fermentasi optimal. Dari kedelapan media yang diuji, strain Streptomyces sp.
VPTS3-1

yang

tumbuh

pada

medium SC memperlihatkan aktivitas

antimikroba yang baik terhadap seluruh mikroba uji patogen. Diperoleh


aktivitas antimikroba paling besar terhadap P. vulgaris (20 mm) serta K.

Pneumoniae (19 mm).

Ekstrak yang diperoleh dari medium asparagine-

mannitol broth memiliki aktivitas antimikroba sedang dan ekstrak yang


lainnya menunjukkan aktivitas minimum dan variasi dalam produksi metabolit
antimikroba pada medium dapat dikaitkan dengan komposisi medium tempat
bertumbuh. Faktor yang lainnya yaitu masa inkubasi. Aktivitas antimikroba
maksimum dan minimum diperoleh terhadap K.pneumoniae (20 mm) dan
B.subtilis (13 mm) dalam masa waktu 9 hari. Aktivitas isolat diuji pada hari
ketiga masa inkubasi dan mencapai aktivitas maksimum setelah 9 hari pada
media SC broth.
Temperatur juga memiliki efek terhadap fisiologi, morfologi, biokimia,
dan produksi metabolit organisme. Studi terbaru mengidentifikasi bahwa filtrat
kultur Streptomycetes sp. VPTS3-1 memiliki aktivitas antimikroba paling
tinggi pada suhu 30C dan tidak memiliki aktivitas pada suhu 5 dan 10 C.
ekstrak dari strain actinomycetes diperoleh dari isolat yang ditumbuhkan
pada suhu 30C dan menunjukkan aktivitas maksimum terhadap P.vulgaris
(20 mm) dan B.subtilis (12 mm).
Perubahan pH medium kultur juga meningkatkan produksi dari produk
baru yang memengaruhi produksi antibiotik, dan masing-masing strain
memiliki pH optimum, minimum, dan maximum. Studi menunjukkan bahwa
pH optimal dari produksi senyawa antimikroba berkisar antara 7 sampai 8.
Aktivitas antimikroba paling tinggi ditemukan pada pH 7 terrhadap B. subtilis
(20 mm) dan pailng rendah terhadap E. coli (10 mm). Lebih jauh lagi,
ditemukan bahwa strain Streptomycetes sp. VPTS3-1 yang tumbuh pada
kadar garam 4% memiliki daya hambat yang maksimum terhadap B.subtilis
dan P.mirabilis (16 mm), dan minimum pada 1 dan 16% serta tidak
menunjukkan aktivitas antimikroba pada kedar garam 32%.
Ditemukan bahwa aktivitas antimikroba paling maksimum saat
ditumbuhkan pada medium yang mengandung amilum. Aktivita paling tinggi
yaitu terhadap P.vulgaris (19 mm) dan yang paling rendah terhadap B.subtilis

dan K.penumoniae (10 mm). Strain actinomycetes ini tidak menunjukkan


aktivitas antimikroba pada medium yang mengandung glukosa walaupun
medium yang mengaandung sumber karbon lain menunjukkan aktivitas
sedang terhadap mikroba uji patogen.
Sumber dan jumlah nitrogen dan asam amino juga diperkirakan sebagai
salah satu prekursor dari produksi antibiotik. Berddasarkan studi saat ini
menunjukkan bahwa aktivitas antimikroba

maksimum di temukan pada

medium yang mengandung KNO3 terhadap P.mirabilis (16 mm). Medium yang
megandung sumber nitrogen lainnya menunjukkan aktivitas sedang.
III.2

Optimization of Culture Conditions of Streptomyces Carpaticus


(MTCC-11062) for The Production of Antimicrobial Compound (27)
Sedimen laut dikumpulkan dari pantai laut Visakhapatnam dari Teluk

Benggala, India dari kedalaman 5-95mts. Streptomyces carpaticus (MTCC11062) diisolasi dengan seri pengenceran pada medium starch casein agar
dengan rifampisin (5mg/ml) dan nistatin (25g/ml) untuk menghambat
kontaminasi bakteri dan jamur.
Streptomyces carpaticus (MTCC-11062) ditumbuhkan dalam medium
produksi (medium SS), yang mengandung (g/L): amilum 25, glukosa 25,
ekstrak yeast 2, CaCO3 dan diinkubasi pada suhu 28 0C dan di shaker pada
kecepatan 180 rpm selama 4 hari. Setelah inkubasi, medium disentrifugasi
selama 15 menit pada kecepatan 5000 rpm dan supernatan dicampur
bersama etil asetat dengan volume yang sama untuk mengekstraksi senyawa
antimikroba. Uji aktivitas mikroba menggunakan metode well-diffusion.
Mikroba uji yang digunakan yaitu Bacillus cereus, Escherichia coli, dan
Candida albicans.
Optimasi dilakukan dengan memvariasikan faktor yang memengaruhi
pertumbuhan dan produksi senyawa antimikroba, antara lain sumber karbon,
konsentrasi sumber karbon, sumber nitrogen, konsentrasi sumber nitrogen,

konsentrasi K2HPO4, konsentrasi MgSO4.7H2O, konsentrasi NaCl, suhu, pH,


masa inkubasi, dan penggojokan.
Untuk efek sumber karbon, Streptomyces carpaticus (MTCC-11062)
diinokulasikan ke dalam medium garam anorganik Pridham and gottlieb
dengan sumber karbon bervariasi 1% (b/v) yaitu glukosa, fruktosa, galaktosa,
xylosa, arabinosa, gliserol, amilum, maltosa, laktosa, sukrosa, meso-inositol,
dan manitol. Efek konsentrasi sumber karbon, digunakan konsentrasi yang
berbeda-beda yaitu (g/L) 2,5; 5; 7,5; 10; 12,5; 15; 17,5; dan 20. Untuk efek
sumber nitrogen, digunakan sumber nitrogen anorganik dan organik
sebanyak 1% (b/v) yaitu kacang kedelai, ekstrak yeast, ekstrak beef, pepton,
amonium nitrat, amonium sulfat, kalium nitrat, dan natrium nitrat. Efek
konsentrasi sumber nitrogen, digunakan medium dengan konsentrasi
nitrogen bervariasi yaitu 0,5; 1,0; 1,5; 2,0; 2,5; 3,0; 3,5; dan 4,0 (g/L).
Untuk efek K2HPO4, Streptomyces carpaticus diinokulasi ke dalam
medium yang telah dioptimasi dengan berbagai konsentrasi yaitu 0,5; 1,0;
1,5; 2,0; 2,5; 3,0; 3,5; 4,0 g/L. Untuk efek konsentrasi MgSO 4.7H2O,
digunakan konsentrasi 0,25; 0,5; 0,75; 1,0; 1,25; 1,5; 1,75;; dan 2,0 g/L. Pada
pengaruh konsentrasi natrium klorida konsentrasi yang berbeda yang
digunakan dalam media yaitu 0,25; 0,50; 0,75; 1,0; 1,25; 1,50; 1,75 dan 2.0
g/L.
Untuk pengaruh suhu, Streptomyces carpaticus (MTCC-11062)
diinokulasikan dan diinkubasi pada suhu yang berbeda mulai dari 15-50 0C.
Pada pengaruh pH, PH optimum diidentifikasi dengan menyesuaikan pH
medium pertumbuhan pada 6, 6.4, 6.8, 7.2, 7.6, 8.0, 8.4 dan 8.8.
Streptomyces carpaticus (MTCC-11062) diinokulasi dalam media dan
Untuk pengaruh waktu inkubasi, Streptomyces carpaticus (MTCC-11062)
diinokulasi dalam media dan untuk masa inkubasi yang berbeda dari 24 jam,
48 jam, 72 jam, 96 jam, 120 jam, 144 jam, 168 jam dan 192 jam. Untuk
pengaruh pengocokan, Streptomyces carpaticus diinokulasi ke dalam media

pada kecepatan 20, 40, 60, 80, 100, 120, 140, 160, 180, 200, 220, dan 240
rpm lalu diinkubasi selama 7 hari.
Setelah inkubasi Streptomyces carpaticus (MTCC-11062) diekstraksi
menggunakan etil asetat dan aktivitas antimikroba dilakukan dengan metode
difusi agar.
Berdasarkan penelitian, diperoleh hasil bahwa dari antara bakteri dan
jamur yang diuji, B. cereus menunjukkan zona hambat paling besar yaitu 24
mm diikuti oleh E. coli (22 mm) dan C.albicans menunjukkan zona hambat 20
mm. Hasil senyawa antimikroba maksimum dan pertumbuhan miselium
dihasilkan pada medium yang mengandung glukosa, diikuti oleh gliserol dan
amilum. Fruktosa, galaktosa, xylosa, arabinosa, maltose, laktosa, sukrosa,
meso-inositol dan manitol menunjukkan produksi senyawa antimikroba dan
pertumbuhan miselium yang rendah. Konsentrasi glukosa yang optimum
untuk produksi antibiotik maximum yaitu 10 g/L.
Sumber nitrogen organik bila dibandingkan dengan sumber nitrogen
anorganik memberikan produksi antibiotik dan pertumbuhan miselium yang
maksimum. Pertumbuhan dan produksi maksimum ada pada medium yang
mengandung kacang kedelai kemudian diikuti oleh pepton dan amonium
nitrat. Konsentrasi kacang kedelai yang paling baik untuk produksi
antimikroba maksimum yaitu 2,5g/L.
Konsentrasi optimum K2HPO4 untuk produksi senyawa antimikroba
yaitu 2,0 g/L, konsentrasi optimum MgSO 4 yaitu 1,0 g/L, sedangkan
konsentrasi optimum NaCl yaitu 7,5 g/L. Apabila konsentrasi meningkat maka
akan menghasilkan pengurangan produksi senyawa antimikroba.
Pertumbuhan dan produksi senyawa antimikroba paling optimal yaitu
pada 300C dan di luar suhu optimum produksi pertumbuhan dan metabolit
antimikroba menurun. Sebagian besar spesies Streptomyces yang digunakan
secara komersial menunjukkan kisaran pH optimum 7-8. Pertumbuhan dan

produksi metabolit antimikroba Streptomyces carpaticus (MTCC-11062)


adalah maksimum pada pH 7,2.
Produksi senyawa antimikroba dan pertumbuhan Streptomyces
carpaticus (MTCC-11062) meningkat terus menerus dari 24 jam sampai 120
jam. Peningkatan lebih lanjut dalam waktu inkubasi menunjukkan penurunan
bertahap dalam produksi senyawa antimikroba dan pertumbuhan miselium.
Oleh karena itu waktu inkubasi optimum untuk produksi maksimum metabolit
antimikroba berada di 120 jam. Sedangkan kecepatan pengocokan paling
optimal yaitu pada kecepatan 180 rpm.
III.3 Optimation of Antibiotic Production by Marine Actinomycetes
Streptomyces sp. KOD10 (28)
Berdasarkan jurnal praktikum ini tahap isolasi dari Streptomyces sp.
KOD10 diisolasi dari tanah laut Kodiyakarai, Tamil Nadu, India (lintang
1016'59.55''N, bujur 7949'56.15''E). Tanah dikumpulkan pada wadah steril
pada kedalaman 15 cm. Streptomyces sp. KOD10 diisolasi dengan metode
lempeng seri pengenceran dengan medium Starch Casein Agar dengan
50mg/liter Cyclohexamide untuk menghambat kontaminasi jamur. Diinkubasi
selama 10 hari pada suhu 28C. Pada uji aktivitas antimikroba, adapun
mikroba yang digunakan yaitu Staphylococcus aureus, Micrococcus luteus,
Neisseria mukosa dan Faecalis Enterococcus.
Pada tahap screening, Streptomyces sp. KOD10 ditumbuhkan dalam
yeast extract Malt extact broth dan diinkubasi pada suhu 30 C kemudian
shaker pada 200rpm selama 7 hari. Setelah inkubasi, medium disentrifugasi
pada 5000 rpm selama 10 menit dengan volume yang sama dari Ethyl
acetate untuk mengekstrak senyawa dan studi antibakteri dilakukan dengan
Metode well-diffusion 100l atau 100 mikroliter supernatan yang didapatkan
diukur menggunakan mikropipet. Zona inhibisi diukur sebagai diameter total
zona dan diameter substrat dikurangi dari total diameter.

Optimasi produksi antibiotik menggunakan medium yang berbeda-beda


yaitu medium Krasilnikovs synthetic broth (KSB), Nutrient broth (NB), Starch
casein broth (SCB), Tryptone yeast extract broth (ISP1), Yeast extract malt
extract broth (ISP2) and Inorganic salt starch broth (ISP4). Dan disimpan
dalam inkubator shaker pada 150rpm selama 7 hari pada suhu 25C.
Pada efek suhu dilakukan dengan memvariasikan suhu inkubasi pada
25C, 28C, 32C, 37C and 45C. Streptomyces sp. KOD10 diinokulasi ke
dalam media disimpan dalam inkubator shaker pada 150rpm selama 7 hari.
Efek pH, PH optimum dipelajari dengan memvariasikan pH media yaitu
5, 6, 7, 8, 9, 10 dan 11 menggunakan HCl 1 M dan NaOH 1 M. Efek dari
konsentrasi

inokulum,

Streptomyces

sp.

KOD10

diinokulasi

dengan

konsentrasi inokulum yang berbeda-beda yaitu 0,5%, 1%, 1,5% dan 2% (b/v)
dan disimpan dalam inkubator shaker pada 150rpm selama 7 hari.
Efek agitasi, digunakan kecepatan agitasi yang berbeda yaitu 100rpm,
130rpm, 150rpm dan

200rpm. Labu kontrol dipertahankan pada 0 rpm.

Seluruh labu diinkubasi selama 7 hari.


Efek sumber karbon, digunakan beberapa sumber karbon yang berbeda
yaitu Glukosa, Dextrose, Sukrosa, Sorbitol, Galaktosa, Gliserol dan Maltosa.
Dan dibuat juga kontrol tanpa sumber karbon. Dan konsentrasi sumber
karbonnya pun berbeda-beda yaitu 0,5%, 1%, 1,5% dan 2% (b/v). Digunakan
juga sumber nitrogen yang berbeda-beda untuk melihat pengaruh sumber
nitrogen, yaitu pepton, kasein, ekstrak beef, ekstrak yeast, ekstrak malt, dan
kontrol tanpa sumber nitrogen. Konsentrasi yang digunakan yaitu 0,5%, 1%,
1,5%, dan 2% (b/v).
Konsentrasi NaCl yang terdapat dalam medium juga dibuat bervariasi
yaitu 0,5%, 1%, 1,5%, 2%, dan 2,5% (b/v) serta kontrol tanpa NaCl. Efek
Masa inkubasi, digunakan pula masa inkubasi yang bervariasi dari 5, 6, 7, 8,
9 dan 10 hari.

Penelitian ini menemukan bahwa Streptomyces sp. KOD10 dapat


menghambat pertumbuhan Neisseria mucosa lebih baik daripada bakteri uji
lainnya

yaitu

Staphylococcus

aureus,

Enterococcus

faecalis,

dan

Micrococcus luteus. Diperoleh juga hasil bahwa medium ISP2, suhu 25-28 C,
pH 10, masa inkubasi 7 hari, agitasi pada kecepatan 200rpm, sumber karbon
dektrosa, sumber nitrogen ekstrak yeast, konsentrasi inokulum 2%, dan
konsentrasi NaCl 2,5% dapat mengoptimalkan produksi senyawa antimikroba
pada Streptomycetes sp. KOD10.
III.4 Isolation And Screening Of Actinomycetes From Marine Sediments
For Their Potential To Produce Antimicrobials (29)
Berdasarkan jurnal penelitian yang dilakukan oleh Gunasaken
Mohanraj dimana actinomycetes diisolasi dan di screening dari sedimen laut
india. Isolasi dan pencacahan actinomycetes menggunakan dilusi serial dan
metode tuang. Serial dilusi dilakukan dengan mengambil 1 gram sampel
sedimen dan dicampur dengan 10 ml air steril dalam tabung uji dan di, 1 ml
hasil pengenceran dari serial dilusi dipindahkan ke tabung uji dan di goyang
goyangkan selama 10 menit. Suspensi serial dilusi diipindahkan kemasingmasing seri tabung. Masing-masing mengandung 9 ml air steril dan 1 ml
diambil dari dilusi sampel dipindahkan ke cawan petri steril agar tuang
keatasnya dan dihomogenkan. Media yang digunakan diantaranya adalah
Starch Casein Agar (SCA), Starch Nitrate Agar (SNA), Glycerol Asparagie
Agar (GAA) dan CSPY-ME agar. Media dipersiapkan dan disterilkan dalam
121C dalam tekanan 15 lbs. Media isolasi ditambahkan antibiotic
cycloheximide (25 mg/ml) dan asam nalidixic (25 mg/ml). Koloni diidentifikasi
dengan karakteristiknya.
Hasil yang diperoleh adalah dari 52 actynomycetes laut yang di isolasi
dari 28 sampel sedimen, diantara semua medium yang digunakan hanya

SCA (Starch Casein Agar) yang terbukti paling bagus digunakan untuk isolasi
actinomycetes dari sedimen.
III.5

Pembahasan Jurnal
Kelima jurnal yang telah diuraikan di atas sama-sama membahas

mengenai optimasi produksi antibiotik yang dilakukan dengan memanipulasi


kondisi kultur seperti nutrisi, parameter fisik, dan kimia. Antara lain yaitu
komposisi medium (sumber karbon, sumber nitrogen), pH, waktu dan suhu
inkubasi. Optimasi kondisi yang diperlukan untuk produksi senyawa antibiotik
diperlukan untuk memperoleh pengetahuan yang lengkap mengenai kondisi
fermentasi optimal (27).

BAB IV
PENUTUP
IV.1 KESIMPULAN

Actinomycetes merupakan salah satu mikroorganisme yang mampu


menghasilkan senyawa antimikroba dari produk metabolit sekunder yang
dihasilkannya, oleh karena itu dibutuhkan optimasi agar didapatkan hasil
senyawa antimikroba yang maksimal. Berdasarkan jurnal dan pustaka yang
kami dapatkan, ada banyak faktor yang dapat dioptimalkan untuk
mendapatkan senyawa antimikroba yang maksimal, antara lain: dari segi
komposisi medium, masa inkubasi, suhu, dan pelarut pada proses ekstraksi.
Kelima jurnal yang telah diuraikan di atas sama-sama membahas
mengenai optimasi produksi antibiotik yang dilakukan dengan memanipulasi
kondisi kultur seperti nutrisi, parameter fisik, dan kimia. Antara lain yaitu
komposisi medium (sumber karbon, sumber nitrogen), pH, waktu dan suhu
inkubasi. Optimasi kondisi yang diperlukan untuk produksi senyawa antibiotik
diperlukan untuk memperoleh pengetahuan yang lengkap mengenai kondisi
fermentasi optimal.
IV.2 SARAN
Sebaiknya penelitian dan pengoptimasian mengenai Actinomycetes
laut lebih ditingkatkan karena pada daerah lautan ada berbagai macam atau
jenis Actinomycetes yang belum teridentifikasi sehingga variasi dari senyawa
antimikroba yang dihasilkan dapat berbeda-beda.

DAFTAR PUSTAKA
1. Basavaraj,

Nanjwade,

S.

Chandrashekhara,

Prakash

S.,

Goudanavar, Ali M. Shamarez, dan Fakirappa V. Manvi. 2010.

Production of Antibiotics from Soil-Isolated Actinomycetes and


Evaluation of their Antimicrobial Activities. Tropical Journal of
Pharmaceutical Research.
2. Poosarla, Aparanji, Venkata Ramana L., dan R. Murali Krishna. 2013.
Isolation of Potent Antibiotic Producing Actinomycetes from Marine
Sediments of Andaman and Nicobar Marine Islands. Journal of
Microbiology and Antimicrobials Vol. 5(1), pp. 6-12.
3. Valli S., Suvathi Sugasini S., Aysha O. S., Nirmala P., Vinoth Kumar P.,
Reena A. 2012. Antimicrobial Potential of Actinomycetes Species
Isolated from Marine Environment. Asian Pacific Journal of Tropical
Biomedicine.
4. Vijayakumar, R., K. Panneerselvam, C. Muthukumar, N. Thajuddin, A.
Panneerselvam. 2011. Optimization of Antimicrobial Production by a
Marine Actinomycete Streptomyces afghaniensis VPTS3-1 Isolated
from Palk Strait, East Coast of India. Indian J. Microbiol.
5. Hutabarat, S dan Stewart, M. E. 1985. Pengantar Oseanografi.
Jakarta: UI Press.
6. Whitman, Williams, et al. Begrgeys manual of systematic bacteriology
vol.5. Baltimore : William dan Wilkins. 2012
7. Johnson, Arthur G et al. 1994. Mikrobiologi dan Imunologi. Jakarta:
Binarupa Aksara
8. Locci, R, Sharples GP. 1983.

Morphology. Dalam: Goodfellow M.,

Mordarski M., Williams ST. 1984. The Biology of The Actinomycetes.


London: Academic Press.
9. McKinney, R. 2004. Environmental Pollution Control Microbiology. New
York: Marcel Dekker, Inc
10. Cross T. 1982. Actinomycetes: A Continuing Source of New
Metabolites. Dalam Lancini G, Rolando L. 1993. Biotechnology of
Antibiotic and Other Bioactive Microbial Metabolites.

New York:

Kluwer Academic Publisher Group.


11. Waluyo, L. 2005. Mikrobiologi Lingkungan. Malang: Universitas
Muhammadiyah Malang Press.

12. Jawetz, Melnik dan Aldebergs. 2011. Mikroniologi Kedokteran.


Jakarta: Penerbit Salemba Medika.
13. Morello JA, Paul AG, Helen EM. 2002. Laboratory Manual and
Workbook in Microbiology Applications to Patient Care. New york: The
Mc. Graw-Hill Company.
14. Hogg, S. 2005. Essential Microbiology. England: John Wiley and Son
Inc.
15. Hayakawa M, Hideo N. 1987. Efficacy of Artificial Humic Acid as A
Selective Nutrient in HV Agar Used for the Isolation of Soil
Actinomycetes. J Ferment. Technol 65(6): 609-616.
16. Goodfellow M, William ST, Mordarski M. 1998. Actinomycetes in
Biotechnology. New York: Academic Press.
17. Seong, C. N., Ji, H. C., Keun-shik, B. 2001. Improve Selective Isolation
of Rare Actinomycetes from Forest Soil. J. Microbiol 39(1): 17-23.
18. Araujo, J. M., Adilson, C. D., Joao, LA. 2008. Isolation of Endophytic
Actinomycetes from Roots and Leaves of Maize (Zea maysL.). Brazil
Electronic Journal.
19. Takahashi, Y. Satoshi, O. 2003. Isolation of New Actinomycetes Galurs
for The Screening of New Bioactive Compounds. J Gen Appl Microbiol
49:141-154.
20. Shahat, A. S., Abouwarda, A., dan El-Wafa W. M. A. 2011. Production
of Anti-Candida albicansby Egyptian Streptomyces Isolates dalam
International Journal of Microbiological Research 2.
21. Lam, K. M. 2006. Discovery of novel metabolites from marine
actinomycetes. Current Opinion in Microbiology. 9: 245-251.
22. Riegdlinger, J., Reicke, A,. Zahner, H., Krismer, B., Bull, A. T.,
Maldanado, L. A., Ward, A. C., Goodfellow, M., Bister, B., dan Bischott,
D. 2004. Abyssomycins, inhibitors of the para-aminobenzoic acid
pathway produced by the marine Verrucosispora strain AB-18-032. J
Antibiotic. 57: 271-279.
23. Feling, R.H., Buchanan, G.O., Mincer, T.J., Akuffman, C.A., Jensen,
P.R., and Fenical, W. 2003. Salinisporamide A: a highly cytotoxic

proteasome

inhibitor from a novel microbial source, a marine

bacterium of the new genus Salinispora. Angew Chew Int Ed Engl. 42:
355-357.
24. Fardiaz. 1988. Fisiologi fermentasi. Lembaga Sumber Daya Informasi:
IPB.
25. William, P.G., Buchanan, G. O., Fehling, R.H., Kauffman, C.a., Jensen,
P.R., an dFenical, W. 2005. New cycotoxic salinosporamida from the
marine actinomycetes salinispora tropica. J. Org Chem. 70: 61966203.
26. Buchanan, R.E and Gibbons N.E. 1974. Bergeys Manual of
Determinative Bacteriology. Eight Edition. Baltimore: William and
Wilkins Company.
27. M. Bhavana, Prasad Talluri, K. Siva Kumar, S. V. Rajagopal.
Optimization of Culture Conditions of Streptomyces Carpaticus
(MTCC-11062) for The Production of Antimicrobial Compound.
International Journal of Pharmacy and Pharmaceutical Sciences.
28. S.

Febina

Bernice

Sharon,

Rachel

Regi

Daniel,

and

R.

Shenbagarathai. 2014. Optimization of Antibiotic Production by Marine


Actinomycetes Streptomyces Sp. KOD10. International Journal of
Pharmacy and Pharmaceutical Sciences.
29.

Gunasekaran, Mohanraj, and Thangavel Sekar. 2013. Isolation

and Screening of Actinomycetes from Marine Sediments for Their


Potential to Produce Antimicrobials. International journal of Life
Sciences Biotechnology and Pharma Research.