Anda di halaman 1dari 6

MANAJEMEN PERPAJAKAN

OLEH :

KELOMPOK 3
BIGGITA RIZA ARBIPRANA

(1406315001)

I MADE ARSA WIJAYA

(1406315002)

GEDE AGUS WIDIARSANA

(1406315013)

NI PUTU AYU DEWI

(1406315019)

PENDIDIKAN PROFESI AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMIKA DAN BISNIS
UNIVERSITAS UDAYANA
2014

Tax planning dalam pemanfaatan tax


incentives
Istilah fasilitas perpajakan sudah memiliki makna khusus dalam tata hukum
perpajakan Indonesia. Yang difahami sebagai fasilitas perpajakan adalah
kemudahan atau perlakuan khusus terhadap Wajib Pajak tertentu atau Objek
Pajak tertentu dengan tujuan tertentu. Sebagai contoh, Pemerintah memberikan
fasilitas Pajak Penghasilan berupa pembebasan pajak selama masa pajak
tertentu (tax holiday) bagi industri-industri tertentu yang memenuhi syarat. Ada
banyak fasilitas perpajakan yang dikenal dalam sistem perpajakan Indonesia dan
dengan tujuan yang beragam.
Hal yang menarik adalah istilah fasilitas perpajakan itu sendiri tidak dikenal
di negara-negara lain, istilah yang lazim digunakan di negara lain untuk
kemudahan atau perlakuan khusus dimaksud adalah insentif (tax incentives).

1. Fasilitas PPh atas industri tertentu.


Dalam rangka menjaga stabilitas ekonomi makro dan mendorong
pertumbuhan ekonomi pada tingkat yang realistis sehubungan dengan
terjadinya gejolak pada pasar keuangan dan nilai tukar rupiah, dan untuk
meningkatkan daya saing industri nasional baik yang berorientasi domestik
maupun ekspor, serta untuk mendukung program pemerintah dalam upaya
penciptaan dan penyerapan lapangan kerja, perlu diberikan kebijakan Pajak
Penghasilan untuk meringankan dan menjaga likuiditas bagi WPindustri
tertentu pada tahun pajak 2013.
Yang berhak adalah WP yang melakukan kegiatan usaha pada bidang:
a.
b.
c.
d.
e.

industri
industri
industri
industri
industri

tekstil;
pakaian jadi;
alas kaki;
furnitur; dan/atau
mainan anak-anak,

yang mendapat rekomendasi dari Menteri Perindustrian.


Diberikan hak berupa pengurangan PPh Pasal 25 untuk Masa Pajak
September 2013 s.d. Desember 2013, paling tinggi sebesar:
a. 25% dari PPh Pasal 25 Masa Pajak Agustus 2013, bagi WP yang tidak
berorientasi ekspor;
b. 50% dari PPh Pasal 25 Masa Pajak Agustus 2013, bagi WPyang berorientasi
ekspor;

Penundaan pembayaran PPh Pasal 29 paling lama 3 bulan dari saat terutangnya
PPh Pasal 29.

Prosedur untuk memperoleh fasilitas pengurangan PPh Pasal 25:


1. WP menyampaikan permohonan tertulis kepada Kepala KPP tempat WP
terdaftar paling lambat pada akhir Masa Pajak dimulainya pengurangan
PPh Pasal 25;
2. Permohonan dilampiri:
a) fotokopi surat rekomendasi Menteri Perindustrian;
b) fotokopi NPWP;
c) fotokopi SK pengurangan PPh Pasal 25 sesuai KEP-537/PJ/2000 bagi
WP yang pernah menerima persetujuan pengurangan PPh Pasal
25 untuk Tahun Pajak 2013;
3. Kepala KPP memberikan keputusan persetujuan pengurangan PPh
Pasal 25 paling lambat 5 hari kerja sejak permohonan diterima
lengkap.
Penundaan pembayaran PPh Pasal 29:
1. WP menyampaikan permohonan tertulis kepada Kepala KPP tempat WP
terdaftar paling lambat 20 hari kerja sebelum saat terutangnya PPh Pasal
29;
2. Permohonan dilampiri:
a) fotokopi surat rekomendasi Menteri Perindustrian;
b) fotokopi NPWP;
3. Kepala KPP memberikan keputusan pemberian penundaan pembayaran
PPh Pasal 29 paling lambat 5 hari kerja sejak permohonan diterima
lengkap.

2. Beragam fasilitas PPN.


Pajak Pertmbahan Nilai (PPN) dikenakan atas pertambahan nilai yang terjadi
atas suatu barang atau jasa. Untuk tujuan-tujuan tertentu, PPN ini tidak
dikenakan terhadap sektor-sektor usaha tertentu. Inilah yang disebut dengan
fasilitas.
Ada beberapa bentuk fasilitas:
A.
B.
C.
D.

Dikenakan PPN dengan tarif 0%


Tidak Dikenakan PPN
Dibebaskan dari Pengenaan PPN
PPN Tidak Dipungut

A. Dikenakan PPN dengan Tarif 0%


Berdasarkan Pasal 7 UU PPN 1984 dan Perubahannya, atas ekspor Barang Kena
Pajak dikenakan PPN 0%.

B. Tidak Dikenakan PPN


Berdasarkan Pasal 4A UU PPN 1984 dan Perubahannya, diatur bahwa atas
keleompok barang dan jasa tertentu tidak dikenakan PPN, yaitu:
Kelompok Barang:
1. barang hasil pertambangan atau hasil pengeboran yang diambil langsung
dari sumbernya;
2. barang-barang kebutuhan pokok yang sangat dibutuhkan oleh rakyat
banyak;
3. Makanan dan minuman yang disajikan di hotel, restoran, rumah makan,
warung, dan sejenisnya;
4. uang, emas batangan, dan surat-surat berharga.
Kelompok Jasa:
1. Jasa
2. Jasa
3. Jasa
4. Jasa
5. Jasa
6. Jasa
7. Jasa
8. Jasa
9. Jasa
10.Jasa
11.Jasa
12.Jasa

di bidang pelayanan kesehatan medik;


di bidang pelayanan sosial;
di bidang pengiriman surat dengan perangko;
di bidang perbankan, asuransi, dan sewa guna usaha dengan hak opsi;
di bidang keagamaan;
di bidang pendidikan;
di bidang kesenian dan hiburan yang telah dikenakan Pajak Tontonan;
di bidang penyiaran yang bukan bersifat iklan;
di bidang angkutan umum di darat dan di air;
di bidang tenaga kerja;
di bidang perhotelan;
yang disediakan oleh Pemerintah dalam rangka menjalankan

pemerintahan secara umum.

C. Dibebaskan dari Pengenaan PPN dan PPN tidak dipungut


Berdasarkan Pasal 16B UU PPN 1984 dan Perubahannya, fasilitas berupa
pajak terutang tidak dipungut sebagian atau seluruhnya atau dibebaskan dari
pengenaan pajak, baik untuk sementara waktu maupun selamanya, untuk:
1. kegiatan di kawasan tertentu atau tempat tertentu di dalam Daerah Pabean;
2. penyerahan Barang Kena Pajak tertentu atau penyerahan Jasa Kena Pajak
tertentu;
3. impor Barang Kena Pajak tertentu;
4. pemanfaatan Barang Kena Pajak tidak berwujud tertentu dari luar Daerah
Pabean di dalam Daerah Pabean;
5. pemanfaatan Jasa Kena Pajak tertentu dari luar Daerah Pabean di dalam
Daerah Pabean.

3. Strategi memanfaatkan seluruh fasilitas perpajakan


yang ada.
Dengan beragamnya fasilitas Perpajakan yang ada di Indonesia dan sistem
yang dianut di Indonesia adalah Sef Assessment, Wajib Pajak harus dengan
cermat mampu menganalisis setiap aspek perpajakan mereka dalam upaya
mengurangi pembayaran pajak atau minimal menghindari pajak yang tidak perlu
dengan mempelajari aspek pajak dengan detail dan menggunakan fasilitas pajak
yang ada dengan sebaik-baiknya.
Fasilitas perpajakan yang ada di Indonesia dapat dinikmati oleh seluruh
Wajib Pajak yang ada, dengan mengikuti aturan-aturan yang berlaku.