Anda di halaman 1dari 19

DISFUNGSI SEKSUAL PADA

WANITA
VIVI SK

Definisi:
Terganggunya fungsi aktivitas seksual yang normal.
Terdiri dari:
Keinginan/gairah
Getaran/rangsangan
Kepuasan
Dan atau nyeri
berdampak pada kualitas hidup dan hubungan interpersonal

Insidensi:
USA :
-Usia rata-rata hubungan intim pertama: 16 tahun
-Survey (18-59 tahun): &
terikat perkawinan : 87% puas
Disfungsi seks 43% didapatkan pada aktivitas fisik yang kurang,
emosional yang kurang baik, kekerasan seksual, tidak pengalaman,
pengalaman yang tidak menyenangkan

Frekuensi seksual:
Beberapa kali dalam sebulan : 47%
2-3 kali dalam seminggu
: 32%
4 atau > dalam seminggu
: 7%
Beberapa kali dalam sebulan : 12%
Tidak pernah aktivitas seksual : 3%
-kebanyakan monogami, tidak percaya
pada pasangan
: 85%
-Homoseksual
: 2,7% , : 1,3%
-Paksaan
: 22% : 3%

Di Indonesia :
Denpasar (1995-2001)
25-50% disfungsi seks, didapatkan
55,7% tidak pernah mencapai orgasme
Disparenia: 2,6%
Dorongan hipoaktif: 2,9%
Vaginismus : 1,2%
12,7% jarang orgasme
Subbag Urologi FKUI:
: disfungsi seks 84%
31% kesulitan mencapai orgasme

1.

2.

3.
4.

Konsensus Internasional berdasarkan


DSM-IV dan ICD-10 merumuskan
Klasifikasi Disfungsi Seksual Wanita
tahun 2003 menjadi 4 bentuk disfungsi
seksual 5:
Kelainan libido/ gairah, terbagi 2
Hipoaktif (kurang atau tak bergairah
terhadap aktivitas seks). Penolakan
terhadap aktivitas seks
Kelainan arousal (rangsangan) :
ketidakmampuan mencapai atau
mempertahankan rangsang seksual, tidak
ada lubrikasi sehingga vagina kering.
Kelainan orgasme.
Nyeri, tdd:
Disparenia (nyeri senggama); Vaginismus

Etilogi pada kelainan libido atau gairah:


Usia tua:
-11-48%penurunan libido, karena menopause, depresi,
medikasi,
-penurunan kadar testoteron dan estrogen fantasi yang
kurang, lubrikasi kurang tidak puas
-testoteron menurun frekuensi coitus menurun

Kanker depresi, pemikiran akan menularkan pada pasangan,


efek dari kemoterapi
Diabetesmasalah metabolik,neuropati + depresi
Uremiaend stage renal : insufisiensi vaskuler + neuropati
autonom disfungsi seksual
Kortikosteroid dan OAH menurunkan gairah
Dialisa: 40% tidak coitus, 27% tidak tertarik coitus

-Pada Cohrns disease: 25% tidak coitus


atau jarang, penyebab: nyeri perut 24%,
diare 20% kuatir inkontinensia fekal
14%
-Artritis: 59% turun gairah
-Multipel sklerosis 50% mengalami
disfungsi seksual . Kaarena spasisitas
dan kurang pengertian pasangan,
disorder neurologik baik sentral dan
perifer
-Depresi: terdapat korelasi yang kuat,
100% pada permulaan episode depresi

Kelainan rangsangan (arousal):


Usia tua; estrogen Vaginal blood flow
lubrikasi
estrogen vagina pendek, penurunan rugae, atrpopi
payudara, penipisan mukosa vagina merupakan masalah
mayor
Kanker : depresi dan, pengobatan radiasi dan kemoterapi
atropi pada vagina, kehilangan elastisitas, penurunan
panjang dan diameter vagina

Diabetes: menurunkan arousal


Obat-obatan: tranquilizer berefek pada
sistem saraf otonom g3
Hipnotik dan sedatif mendepresi libido
Litium menginhibisi gairah seks
Narkotik menurunkan sensitivitas
Epilepsi: 14-66% menurunkan
Sklerosis multiple: penurunan lubrikasi
(36,3%) dan nyeri pada stimulasi
genital. Disfungsi sensosrik daerah
sakral 61,7%

Sklerosis sistemik: kekeringan vagina (71%), ulserasi (23%)


Kolporafi posterior: disfungsi seks(18-22%).
Fiksasi lig.sakrospinosus: pada 71 orang, 38 orang puas, 25
orang tidak coitus lagi, 8 orang menolak
Cedera spinal cord: penurunan blood flow daerah genital
lubrikasi menurun. Masalah utama psikologis
Disorder hipotalamik dan pituitari: masalah lubrikasi (64,6%)

Artritis: nyeri dan keterbatasan gerak


Etiologi masalah orgasme:
Didapatkan 30-40% tidak dapat orgasme tanpa stimulasi
clitoris. Tidak dapat orgasme dengan berbagai stimulasi 5-8%.
Usia tua: menopause menurunnya elevasi uterus dan labia
mayora, kontraksi melemah, lubrikasi nyeri saat orgasme
Masalah psikologis masalah utama pada orgasme

Medikasi: Psikotropik seperti monoamine


oksidase inhibitor, tricyclic antidepresan,
pengobatan nyeri penyalahgunaan obat
terlarang
Penyakit vaskuler: mempengaruhi
orgasme
Penyakit renal: 33% setelah dialisa
kesulitan orgasme, 23% tidak mencapai
klimaks
Sklerosis multipel: 38,3% keterbatasan
kemampuan orgasme, 12,8% tidak pernah
orgasme

Cedera pada spinal cord: lesi S3-S4 kecil kemungkinan


orgasme

Disparenia: nyeri atau kurangnyamannya daerah vagina


atau sekitar pelvis sejak atau setelah coitus.
Didapatkan : 20%,
Tipe: 1. Interseksional vagina dan
genitalia eksterna
2. Deep dyspareunia pelvis
Penyebabnya : fisik dan psikis
Fisik: endometriosis, PID, tumor pelvis, anatomi uterus
yang retrovert, hymen intak, atropi vagina, abnormalitas
GIT dan sal kemih

Psikologis: kecemasan, kekuatiran penyakit


dan nyeri saat coitus, kehamilan
Vaginismus: Spasme saat penetrasi penis
juga kesulitasn proses arousal.
Yang terlibat spasme 1/3 distal vagina, m,
levator ani.

Pengobatan:
-Dibentuk tim multidisiplin ilmu: urologist/
subspesialis disfungsi seksual, ginekolog,
psikiatri, farmasi, perawat, petugas sosial.
-Pengontrolan dan terapi penyebab
Menopause dilakukan replacement hormon
estrogen dan atau testoteron.
Pada disparenia: koreksi pada penyebab,
contoh abnormalitas anatomis, endometriosis,
pemberian antibiotika pada PID, perubahan
posisi coitus, program relaksasi dan latihan
pernafasan, insersi obyek dengan peningkatan
ukuran secara gradual.