Anda di halaman 1dari 6

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Umum
Dalam proses produksi tenaga listrik pada pembangkit listrik tenaga uap
khususnya di PLTU Indramayu dengan kapaitas 3 x 300 MW, terdapat banyak
peralatan yang menunjang untuk mengoptimalkan proses produksi tenaga listrik,
baik itu peralatan utama maupun peralatan bantu.
Peralatan-peralatan bantu sendiri mempunyai tugas dan fungsi masingmasing dimana salah satunya penggunaan Chlorine plant dengan tujuan yaitu
untuk pengendalian fouling biologis dalam sistem air pendingin pada pembangkit
listrik tenaga uap. Hal ini merupakan cara yang paling efektif untuk mengontrol
bio-fouling, agar tidak berkembang biak dan menimbulkan kerak akibat aktifitas
biota laut yang tersedot sehingga diharapkan dapat meminimalisir adanya potensi
pipa tersumbat dikemudian hari.
Karena klorin diproduksi sendiri dari air laut yang disedot melalui pompapompa, maka jumlah dan konsentrasi pada chlorin yang wajar membuat produksi
chlorine selalu tersedia dengan menggunakan biaya yang rendah. Klorin
pengumpan Gas yang sederhana mudah untuk dikontrol dan memiliki biaya modal
yang rendah sehingga membutuhkan perawatan yang minimal.
Chlorine sendiri dihasilkan melalui proses air laut yang diberi arus listrik
rendah tegangan atau low voltage menggunakan alat yang diberi nama
Electrolysis Bath yang nantinya chlorine akan ditampung sementara di chlorine
tank sebelum di keluarkan ke laut kembali.
Dalam pembuatan chlorine ini proses produksi selalu dikontrol oleh
operator sehingga tidak melebihi dosis dan tidak pula kekurangan dosis sesuai
dengan yang telah ditetapkan, dalam pembuatan chlorine arus yang disalurkan
sebesar 5 6 KVA hal ini bertujuan agar air laut yang dipompa masuk lalu
melewati electrolysis bath dapat berubah menjadi Chlorine dengan sempurna
sehingga dapat mengoptimalkan kinerja Chlorine Plant itu sendiri.

Gambar 1. Elektrolysis Bath


B. Point keluaran dan Jumlah dosis klorin dalam Air Laut
Titik klorinasi air laut untuk pembangkit listrik adalah pada kepala asupan
air laut. Air laut yang sudah terklorinasi bergerak melalui pipa intake dan melalui
pompa sirkulasi air laut untuk kemudian disalurkan ke kondensor,pipa chlorine di
injeksikan kebagian paling depan karena diharapkan biota yang nantinya ikut
tersedot sudah tidak memiliki daya atau aktivitas yang nantinya dapat
mengganggu pendinginan kondensor.

Gambar 2. Point Keluaran Chlorine


1.1 Terus menerus dan Shock dosis klorinasi
Clorinasi Air laut dilakukan secara terus menerus dan klorinasi kejutan
dengan menggunakan dosis yang diterapkan untuk efektifitas dengan tujuan
adalah untuk mencapai klorinasi asam hipoklorit (HOCl) dan ion hipoklorit (OCl)
yang akan efektif dalam mencegah pengotoran dari sirkuit air pendingin.
Klorinasi tingkat dosis terus menerus disekitaran 0,3-2 ppm sedangkan,
waktu pemberian syok dosis dari klorinasi dilakukan secara efektif di 2-5 ppm
untuk 1 kali siklus untuk setiap 4-8 jam tergantung pada kualitas air laut yang akan

cukup untuk menjaga permukaan pendinginan kondensor bebas dari pengotoran


akibat adanya aktifitas biota laut dan mempertahankan efisiensi dari chlorine itu
sendiri.
Tujuan mendasar dalam klorinasi air sendiri adalah untuk menciptakan
lingkungan yang tidak bersahabat yang akan mencegah organisme laut dari
membangun diri mereka sendiri dan tumbuh pada permukaan internal kerja pipa
dan permukaan kondensor.
C. Teori klorinasi Air Laut
Dalam air laut memiliki pH 7,4-8,1 atau kurang dari 50% dari dosis klorin
yang tersedia. Namun Air laut juga mengandung 60 mg / liter (ppm) bromida ion
yang memindahkan klorin, menjadi agen pengoksidasi kuat untuk menghasilkan
asam hypobromous.
Cl2 + H2O --------- HOCl + H + + ClHOCl + Br ---------- HOBr + ClKetika kaporit dilarutkan dalam air menurut persamaan di atas maka
kecepatan reaksi dapat dinyatakan bahwa molekul klorin bereaksi dengan ion
hidroksil bukan dengan modul air.
Cl 2 + OH -------- HOCl + ClLandasan Teori

chlorine merupakan bahan yang sering dimanfaatkan

sebagai bahan desinfektan agar tidak mencemari kualitas dari air itu sendiri.
Beberapa bahan kimia yang dapat digunakan adalah Ozon (O3), Chlorine (Cl2),
dan air chlor oksida (ClO 2), atau secara fisika dengan penyinaran menggunkan
sinar ultra violet atau dengan cara pemanasan. chlorine sendiri merupakan
alternatif bahan yang dapat digunakann sebagai desinfektan karena selain harga
dari chlorine yang murah, juga mempunyai daya aktivitas yang baik selama
beberapa waktu. Proses pembuatan

chlorine dapat dilakukan dengan cara

elektrolisis menggunakan NaCl, karena dalam garam (NaCl) mengandung ion-ion


klorida didalam komposisinya.

Murni Selain digunakan sebagai desinfektan gas chlorine dapat digunakan


untuk mengoksidasi logam besi (Fe) dan Mangan (Mn), elektrolisis menggunakan
air saja tidak dapat dilakukan, karena air murni tidak dapat menghantarkan listrik,
akan tetapi dengan penambahan asam, basa, atau garam yangdilarutkan
didalamnya, maka larutan tersebut dapat menghantarkan listrik, dan akan
mengalami perubahan kimia. Larutan asam atau basa tersebut merupakan
elektrolit yang dapat meneruskan arus listrik dan merupakan konduktor yang baik.
Salah satu bahan kimia yang sering digunakan dalam sebagai elektrolit
adalah NaCl. Berikut ini adalah reaksi yang terjadi pada saat elektrolisis larutan
elektrolit NaCl.
Katoda : 2H2O + 2e- H2+ 2OHAnoda : 2Cl-

Cl2+ 2e-

Total Reaksi : 2H2O + 2Cl

Cl2+ 2OH+ 2H2

Selain terjadi pembentukan chlorine dalam proses elektrolisis ini

juga

terjadi pembentukan gas O2 pada katoda, sehingga persamaan reaksinya adalah


sebagai berikut :
Katoda : 4H2O + 4eAnoda : 2Cl-

H2+ 2OHCl2+ 2e-

Total Reaksi : 2H2O + 2Cl-

Cl2+ 2OH + 2H2+ O2

Produksi gas chlorine akan ditangkap oleh larutan kalium iodida dengan
melihat perubahan yang terjadi, tergantung volume chlorine yang terbentuk,
sedangkan gas oksigen akan naik ke atas dan mendorong kalium iodide ke
bawah. Gas yang terbentuk didalam reaktor elektroliysis pada anoda diidentifikasi
untuk menentukan pembentukan Chlorine.

D. Sumber energi primer


Produksi chlorine sangatlah bergantung pada rectifier karena rectifier
adalah alat pengubah tegangan AC menjadi DC yang nantinya berfungsi sebagai
alat untuk mentransfer listrik rendah tegangan menuju electrolysis bath.

Gambar 3. Rectifier
Dosis pada chlorine sendiri bergantung pada besar kecilnya arus listrik
yang mengalir pada electrolysis bath sehingga penyaluran ini selalu dikontrol oleh
operator. Dosis chlorine dijaga mulai dari flow atau jumlah debit air yang masuk
hingga tegangan pada chlorine bath seperti pada gambar berikut.

Gambar 4. Monitoring Chlorine Plant melalui monitor


Pengontrolan arus listrik dan flow air dimaksudkan agar air laut yang
mengalir melalui Electrolysis bath dapat terionisasi secara sempurna sehingga
menjadi larutan NaCL yang memenuhi standar yang telah ditentukan. Sebagai

media produksi chlorine,Electrolysis bath selalu dialiri oleh air laut yang memiliki
kadar mineral yang tinggi sehingga dikhawatirkan arus yang dialirkan tidak
maksimal hal ini dikarenakan sel-sel yang terdapat pada electrolysis bath memiliki
kerak akibat dialiri air laut terus menerus sehingga electrolysis bath selalu
dibersihkan setiap 720 jam oprasional.Sel-sel pada elctrolysis bath mampu
meyalurkan tegangan hingga 6 KVA atau sesuai dengan kebutuhan yang akan
digunakan termasuk sebagai shock dosis. Oprasional standar rectifier ini untuk
dosis normal membutuhkan tenaga 4 KVA sedangkan untuk shock dosis
mebutuhkan 5 KVA
Arus Listrik

Jumlah Flow Air

(Ampere)

(m3/Sec)

Dosis normal

4 KVA

25 m3/sec

0.5 - 2 ppm

Shock dosis

5 KVA

30 m3/sec

5 - 6 ppm

Hujan 6 jam <

6 KVA

35 m3/sec

7 - 8 ppm

Dosis oprasional

Kadar Chlorine

Tabel 1. Dosis Chlorine sesuai dengan debit air


Jumlah chlorine sendiri juga bergantung pada kondisi dan musim karena
debit air bisa bertambah sewaktu waktu dan air laut dapat mengalami pasang
surut sehingga pemberian chlorine juga disesuaikan agar dapat bekerja secara
efektif dan tidak melebihi batas yang diijinkan.