Anda di halaman 1dari 3

NURSING ERRORS

Ada 8 faktor utama penyebab Nursing errors:


-

Kurangnya perhatian

Kurangnya empati

Tindakan keperawatan yang tidak tepat

Kurangnya informed consent

Kesalahan pengobatan

Kurangnya tindakan pencegahan

Kesalahan membaca/melakukan tindakan dari kolaborasi dokter

Kesalahan melakukan dokumentasi

Contoh kasus dari beberapa faktor:

Faktor kurangnya perhatian


Seorang perempuan berusia 65 tahun, telah mendapatkan perawatan rawat inap selama 6 hari
akan direncanakan untuk pulang. Dokter meminta petugas lab. Untuk dilakukan pemeriksaan
darah pada pasien tersebut. Pengambilan darah dilakukan di tangan kanan pasien. Perawat
memeriksa pasien sekitar 30 menit kemudian dan menemukan bahwa pasien sudah kembali
tidur, berbaring ke sisi kanannya. Perawat merencanakan asuhan keperawatan untuk
memberikan istirahat tidur pasien tersebut sehingga untuk pemeriksaan TTV telah dilakukan
sebelum pengambilan darah. Ketika pergantian shift malam, perawat shift malam diam-diam
mengobservasi pasien dengan hati-hati. Pada jam 5 pagi, perawat shift malam
membangunkan pasien untuk diperiksa TTV. Pada saat itu perawat menemukan bahwa
petugas lab. Telah mengabaikan untuk melepaskan tourniquet ketika ia mengambil darah
malam sebelumnya. Lengan pasien bengkak, teraba dingin, pucat, dan mati rasa. Lengan
pasien menderita kerusakan jaringan cukup serius dan memerlukan pembedahan serta terapi
rehabilitasi beberapa kali. Demikianlah contoh kurangnya perhatian yang menyebabkan
kejadian yang tidak diharapkan.

Contoh kasus dari beberapa faktor:

Faktor kurangnya perhatian


Seorang perempuan berusia 65 tahun, telah mendapatkan perawatan rawat inap selama 6 hari
akan direncanakan untuk pulang. Dokter meminta petugas lab. Untuk dilakukan pemeriksaan
darah pada pasien tersebut. Pengambilan darah dilakukan di tangan kanan pasien. Perawat
memeriksa pasien sekitar 30 menit kemudian dan menemukan bahwa pasien sudah kembali
tidur, berbaring ke sisi kanannya. Perawat merencanakan asuhan keperawatan untuk
memberikan istirahat tidur pasien tersebut sehingga untuk pemeriksaan TTV telah dilakukan

sebelum pengambilan darah. Ketika pergantian shift malam, perawat shift malam diam-diam
mengobservasi pasien dengan hati-hati. Pada jam 5 pagi, perawat shift malam
membangunkan pasien untuk diperiksa TTV. Pada saat itu perawat menemukan bahwa
petugas lab. Telah mengabaikan untuk melepaskan tourniquet ketika ia mengambil darah
malam sebelumnya. Lengan pasien bengkak, teraba dingin, pucat, dan mati rasa. Lengan
pasien menderita kerusakan jaringan cukup serius dan memerlukan pembedahan serta terapi
rehabilitasi beberapa kali. Demikianlah contoh kurangnya perhatian yang menyebabkan
kejadian yang tidak diharapkan.
Peran perawat dalam mendukung Patient Safety (WHO: World Alliance for
Patient Safety, Forward Programme, 2004) :

Mengidentifikasi pasien dengan benar,


Meningkatkan komunikasi secara efektif,
Meningkatkan keamanan dari high-alert medications,
Memastikan benar tempat, benar prosedur, dan benar pembedahan pasien,
Mengurangi risiko infeksi dari pekerja kesehatan,
Mengurangi risiko terjadinya kesalahan yang lebih buruk pada pasien.
KASUS

Pada tanggal 8 Mei 2002, salah seorang karyawan rumah hunian


melaporkan bahwa korban mengalami gejala ketidakstabilan, hampir tidak
bisa bergerak, dan sangat lemah dan tak berdaya. Akan tetapi keadaan ini
tidak dilaporkan kepada Supervisornya. Pada tanggal 11 Mei 2002, korban
dibawa ke rumah sakit untuk dilakukan pemeriksaan. Korban tercatat
mengalami kelemahan dan gangguan kestabilan selama 1 minggu. Korban
juga menyatakan bahwa dirinya menderita hiponatremia berat,
hiperkalemia. Kadar lithium yang tercatat dalam darah korban adalah 6,8
mEq/L. Hari berikutnya ia tercatat memiliki dehidrasi berat persisten
dengan kekacauan metabolisme dan hipotensi, serta gagal ginjal akut,
akibat tanda toksisitas lithium. Pasien meninggal pada tanggal 13 Mei
2002.
Litigasi terus dilakukan dalam kasus ini. PCP dan psikiater menyatakan
bahwa gejala toksisitas yang ditunjukkan korban tidak disampaikan
kepada mereka oleh staf perumahan. Para PCP berpendapat bahwa gejala
korban pada tanggal dan hari pada saat dilakukan pemeriksaan tidak
sugestif menunjukkan adanya gejala keracunan lithium dan dia tidak
bertanggung jawab untuk memantau pengobatan kerena dia bukanlah
orang yang meresepkan obat. Psikiater yang meresepkan obat kepada
korban berpendapat bahwa dia tidak diberitahu tentang kelemahan dan
kelesuan yang diderita korban. Kasus ini berakhir dengan ganti rugi
sebesar Satu Miliar Dolar ($ 1.000.000.000) oleh pihak farmasis.

PEMBAHASAN
Lithium karbonat adalah jenis garam lithium yang paling sering
digunakan untuk mengatasi gangguan bipolar. Sejak disahkan oleh Food
and Drug Administration (FDA) pada tahun 1970 lithium digunakan
sebagai obat untuk mengatasi mania akut, lithium masih efektif dalam
menstabilkan mood pasien dengan gangguan bipolar. Efek samping yang
ditimbulkan dari penggunaan lithium hampir serupa dengan efek
mengonsumsi banyak garam, yakni tekanan darah tinggi, retensi air, dan
konstipasi. Oleh karena itu, selama penggunannya obat ini harus dilakukan
tes darah secara teratur (Therapy Drug MonitoringTDM) untuk
menentukan kadar lithium mengingat dosis terapeutik lithium berdekatan
dengan dosis toksiknya (Israr, dkk., 2008).
Efek samping lithium seperti tremor, diare, nausea, dan sering kencing,
bergantung pada dosis yang dikonsumsi. Pada kadar lithium darah yang
tinggi (> 2 mg), pasien akan mengalami ataksia, kebingungan, bahkan
koma. Beberapa pasien dapat mencapai kadar lithium darah normal
(sekitar 1 mg) dengan mengkonsumsi dua pil perhari sementara pada
pasien lainnya perlu dua belas pil per hari. Jika kita dapat mengukur kadar
obat dalam darah pada semua jenis obat serupa, kemungkinan kita dapat
menemukan perbedaan individual. Ini dapat menjelaskan mengapa
beberapa pasien kizofrenia menunjukkan perbaikan dengan pemberian 200
mg klorpromazin per hari sementara yang lainnya memerlukan 2000 mg
per hari (Israr, dkk., 2009).
Gejala intoksikasi (kadar serum lithium > 1,5 mEq/L) dapat berupa:
Gejala dini : muntah, diare,tremor kasar, mengantuk, konsentrasi pikiran
menurun, bicara sulit, pengucapan kata tidak jelas, dan gaya berjalan tidak
stabil.
Dengan semakin beratnya intoksikasi terdapat gejala : kesadaran menurun
dapat sampai koma dengan hipertoni otot dan kedutan, oliguria, dan
kejang-kejang.