Anda di halaman 1dari 7

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Secara global, penyebab kematian yang utama banyak disebabkan oleh penyakit tidak
menular. Data WHO (World Health Organization) menyebutkan bahwa 36 juta (63 %) dari
total 57 juta kematian di dunia pada tahun 2008 disebabkan oleh penyakit tidak menular,
yang meliputi penyakit kardiovaskular, diabetes, kanker dan penyakit pernafasan kronis.
Penyakit tidak menular tersebut, tidak hanya terjadi pada usia tua, tapi juga terjadi pada usia
muda. Negara dengan tingkat ekonomi rendah hingga menengah, 29 % dari seluruh kematian
pada usia kurang dari 60 tahun disebabkan oleh penyakit tidak menular. Sedangkan di negara
maju, adalah sebanyak 13 %. Proporsi kematian yang disebabkan oleh penyakit tidak menular
pada orang-orang yang berusia dibawah 70 tahun, paling banyak disebabkan oleh penyakit
kardiovaskular (39 %), diikuti kanker (27 %), kemudian penyakit pernafasan kronis dan
penyakit tidak menular lainnya (30 %), dan yang terakhir adalah diabetes (4 %).(1, 2)
Indonesia merupakan salah satu Negara berkembang dengan tingkat ekonomi
menengah ke bawah, dalam kurun waktu 10 tahun terakhir tidak lagi mengahadapi double
burden diseases, tetapi triple burden diseases. Maksudnya, penyakit menular masih menjadi
masalah yang tak kunjung terselesaikan, munculnya penyakit menular lama (re-emerging
diseases), timbulnya penyakit baru (new-emerging diseases), dan diperparah dengan penyakit
tidak menular dengan kecenderungan yang semakin meningkat.(2)
Penyakit jantung koroner atau disebut juga dengan penyakit arteri koronaria terjadi
bila pembuluh arteri koroner tersumbat atau menyempit karena endapan lipid atau lemak
yang berada pada dinding arteri. Pengendapan ini terjadi secara bertahap dan perlahan-lahan.

Pengendapan atau penumpukan ini disebut dengan aterosklerosis yang bisa juga terjadi pada
pembuluh darah lainnya, tidak hanya pada arteri koroner.(3)
Sejarah penyakit jantung koroner dimulai pada masa perang dunia II, Amerika Serikat
tampil sebagai kekuatan dunia baru menghadapi masalah yang cukup serius, yaitu
peningkatan insiden penyakit jantung koroner yang banyak memakan korban. Dimulai di
sebuah kota di dekat Boston, yaitu Framingham (1948) dilakukan studi besar-besaran yang
disebut Framingham Heart Study, subyeknya adalah penduduk yang berusia 30-62 tahun
sebanyak lima ribu orang lebih. Para ilmuan mencatat jenis kelamin, usia, bebrapa parameter
kimiawi darah, tekanan darah, dan kebiasaan hidup penduduk Framingham yang diperiksa
secara rutin setiap 2 tahun. Tahun 1960-an, diketahuilah bahwa beberapa karakteristik
pribadi, kondisi kesehatan dan kebiasaan hidup subyek penelitian merupakan faktor-faktor
risiko kardiovaskular, istilah yang diungkapkan oleh Dr. William Kannel sebagai kepala
peneliti. Faktor risiko tersebut meliputi usia lanjut, jenis kelamin, riwayat penyakit,
hiperkolesterol, hipertensi, diabetes mellitus dan kebiasaan merokok.(4)
faktor risiko pada penyakit jantung koroner dapat dikelompokkan menjadi 2,
berdasarkan bisa atau tidaknya dimodifikasi, faktor risiko yang bisa dimodifikasi (modifiable)
antara lain obesitas, dislipidemia, hipertensi, diabetes mellitus, kurang aktivitas fisik,
kebiasaan merokok dan stress, faktor yang tidak bisa dimodifikasi (non-modifiable) antara
lain adalah umur, jenis kelamin, riwayat penyakit keluarga, dan ras/etnis. Selain itu, faktor
risiko penyakit jantung koroner juga ada yang digolongkan menjadi faktor risiko utama
(merokok, hipertensi, kolesterol, diabetes mellitus dan alkohol) dan faktor risiko tambahan
(obesitas, keturunan, kurang aktivitas fisik, umur, jenis kelamin dan stress).(3, 5)
Selain faktor risiko di atas, beberapa penelitian menyebutkan bahwa ada hubungan
antara penyakit periodontal denagn penyakit jantung koroner. Penyakit periodontal tersebut
antara lain karies gigi dan oral hygiene status (status kebersihan gigi dan mulut).(6-8)

Penyakit jantung merupakan penyakit yang banyak menyerang penduduk Indonesia.(3)


Menurut data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007, dari hasil wawancara,
prevalensi penyakit jantung ditemukan sebesar 7,2 %, sedangkan berdasarkan riwayat
didiagnosis tenaga kesehatan hanya ditemukan sebesar 0,9 %, cakupan kasus jantung yang
sudah didiagnosis tenaga kesehatan sebesar 12,5 %.(9) World Health Organization (WHO)
mencatat bahwa proporsi penyebab kematian pada semua umur di Indonesia pada tahun 2008
adalah sebesar 30 %. Angka tersebut merupakan yang tertinggi diantara penyakit tidak
menular lainnya (kanker, diabetes, penyakit pernafasan kronis, dan lain-lain).(10)
Provinsi Sumatera Barat merupakan salah satu provinsi dengan prevalensi penyakit
jantung diatas rata-rata nasional, setelah Nanggroe Aceh Darussalam.(9) Kota Padang,
menurut profil kesehatan dari tahun 2010 sampai tahun 2013 penyakit jantung selalu masuk
dalam peringkat 4 besar penyebab kematian terbanyak. Tercatat pada data tahun 2009
penyakit jantung berada di peringkat ke-3 setelah ketuaan dan korban gempa dengan
persentase sebanyak 13,35 %, data tahun 2010 penyakit jantung berada di peringkat ke-2
penyebab kematian terbanyak setelah ketuaan dengan presentase 20,00 %, pada data tahun
2011 penyakit jantung mengalami penurunan menjadi peringkat ke-4 penyebab kematian
terbanyak di kota padang setelah ketuaan, diabetes dan hipertensi dengan persentase 13,20 %,
sedangkan pada data tahun 2012 penyakit jantung mengalami peningkatan yang cukup
signifikan, yaitu menjadi peringkat pertama penyebab kematian terbanyak di kota padang
dengan persentase 19,00 %. Hal ini tentunya menjadi masalah yang serius untuk kota Padang.
(11-14)

Penyakit jantung koroner biasanya terjadi pada usia setengah baya. Serangan jantung
pada anak remaja sangat sedikit, jika ada, hal itu berkaitan dengan konsumsi narkotik atau
obat-obat terlarang. Penyakit jantung koroner tidak mudah terlihat seperti penyakit lainnya
(kulit, tumor, patah tulang atau penyakit infeksi). Keluhan pada penderita bersifat khas dan

terasa berat, sehingga mudah ditebak. Akan tetapi beberapa penderita hanya menampakkan
gejala yang samar, bahkan ada yang tanpa keluhan sama sekali. Usia di atas 40 tahun
merupakan usia yang rentan terkena penyakit jantung koroner. Sehingga jika sudah
merasakan keluhan yang mengarah ke penyakit jantung, sangat dianjurkan untuk melakukan
pemeriksaan.(4)
Penelitian kasus kontrol tentang faktor risiko penyakit jantung koroner sudah banyak
diteliti, diantaranya penelitian Yusnidar (2007) yang dilakukan pada wanita usia > 45 tahun di
RSUP Dr. Kariadi Semarang, hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor yang terbukti
berpengaruh dengan kejadian PJK pada wanita usia > 45 tahun adalah menopause; penuaan;
inaktivitas fisik; riwayat diabetes mellitus; riwayat hipertensi dan tingkat pengetahuan,
kemudian penelitian di tempat yang sama yang dilakukan oleh Supriyono (2008), penelitian
dilakukan pada pasien yang berusia 45 tahun, didapatkan hasil faktor risiko yang
berpangaruh terhadap kejadian PJK adalah dislipidemia; kebiasaan merokok; dan penyakit
diabetes mellitus, berikutnya penelitian Anggraini (2005) yang dilakukan pada pasien rawat
jalan di poliklinik jantung RSUP DR. M. Djamil Padang, dari penelitian tersebut diketahui
bahwa faktor risiko yang berhubungan dengan penyakit jantung koroner adalah keturunan;
hipertensi dan merokok, kemudian penelitian yang dilakukan oleh Suganda (2012) di tempat
yang sama pada pasien rawat inap yang berusia > 40 tahun didapatkan hasil faktor risiko
yang berhubungan dengan kejadian PJK adalah dislipidemia.(15-18)
Berdasarkan latar belakang di atas, maka akan dilakukan penelitian tentang faktor
risiko yang mempengaruhi kejadian penyakit jantung koroner di RSUP DR. M. Djamil
Padang Tahun 2013. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian-penelitian sebelumnya adalah
perbedaan waktu penelitian dan variabel yang diteliti.

Perumusan Masalah
Bagaimana hubungan Faktor Risiko yang Mempengaruhi Kejadian Penyakit Jantung
koroner pada usia > 40 Tahun Di RSUP DR. M. Djamil Padang Tahun 2013?
Tujuan Penelitian
Tujuan Umum
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besarnya pengaruh faktor risiko yang dapat
dan tidak dapat dimodifikasi terhadap kejadian penyakit jantung koroner pada Kelompok
Umur > 40 Tahun Di RSUP DR. M. Djamil Padang Tahun 2013.

Tujuan Khusus
1. Diketahuinya pengaruh faktor risiko riwayat penyakit dalam keluarga terhadap
kejadian penyakit jantung koroner
2. Diketahuinya pengaruh faktor obesitas terhadap kejadian penyakit jantung koroner
3. Diketahuinya pengaruh faktor risiko dislipidemia terhadap kejadian penyakit jantung
koroner
4. Diketahuinya pengaruh faktor risiko riwayat hipertensi terhadap kejadian penyakit
jantung koroner
5. Diketahuinya pengaruh faktor risiko diabetes mellitus terhadap kejadian penyakit
jantung koroner
6. Diketahuinya pengaruh faktor risiko kurang aktivitas fisik terhadap kejadian penyakit
jantung koroner
7. Diketahuinya pengaruh faktor risiko kebiasaan merokok terhadap kejadian penyakit
jantung koroner
Manfaat Penelitian
Manfaat teoritis
Sebagai masukan untuk memperkaya khazanah ilmu pengetahuan dan referensi atau
rujukan bagi penelitian selanjutnya di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Andalas.
Manfaat praktis
Sebagai referensi dan informasi baik bagi tenaga kesehatan maupun masyarakat
tentang faktor apa saja yang berisiko meningkatkan kejadian penyakit jantung koroner,
sehingga dapat menurunkan risiko terjadinya penyakit jantung koroner.
Manfaat bagi peneliti
Sebagai tambahan pengetahuan dan wawasan peneliti tentang faktor risiko yang
mempengaruhi terjadinya penyakit jantung koroner di RSUP DR. M. Djamil Padang.

Ruang Lingkup Penelitian


Penelitian ini akan membahas tentang faktor risiko yang mempengaruhi terjadinya
penyakit jantung koroner di RSUP DR. M. Djamil Padang pada tahun 2013, yang meliputi
pengertian, dan faktor risiko penyakit jantung koroner. Faktor risiko ada 2 macam, yaitu
faktor risiko yang tidak dapat dan yang dapat dimodifikasi. Faktor risiko yang tidak dapat
dimodifikasi antara lain adalah umur, jenis kelamin, riwayat keluarga dan ras. Sedangkan
faktor risiko yang dapat dimodifikasi antara lain adalah obesitas, dislipidemia, hipertensi,
disbetes mellitus, kurang aktivitas fisik, merokok dan stress.