Anda di halaman 1dari 24

Jurnal Tugas Akhir STIPAP 2014

EFEKTIFITAS PEMBIAKAN SERANGGA PENYERBUK KELAPA SAWIT (Elaiedobius Kamerunicus) METODE HATCH AND CARRY TERHADAP PENINGKATAN FRUIT SET DI KEBUN AEK KULIM PT. BINANGA MANDALA

Ir. Mardiana Wahyuni MP 1 ,Marshal Arifin SST 2 ,Reza Falhlefi NST 3 Budidaya Perkebunan Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Agrobisnis Perkebunan

ABSTRAK

Perkebunan kelapa sawit mengeluhkan adanya penurunan produksi tandan buah segar (TBS) per hektar. Kondisi ini tidak hanya terjadi pada perkebunan rakyat, tetapi juga pada perkebunan besar negara dan perkebunan besar swasta. tetapi juga pada perkebunan besar negara dan perkebunan besar swasta. Bahkan selain produktifitas yang menurun, rendemen minyak juga mengalami nasib yang serupa. Penurunan ini diduga kuat berkaitan dengan berkurangnya nilai fruit set Teknik Hatch and Carry telah diterapkan di beberapa kebun di Indonesia dan telah berhasil meningkatkan fruitset hingga 30%, bahkan lebih tergantung kepada fruit set awal.

Penelitian ini akan dilaksanakan di kebun Aek Kulim PT. BINANGA MANDALA Labuhan Batu Selatan. Penelitian ini dilakukan oleh PT. BINANGA MANDALA mulai bulan Juni 2010 sampai dengan saat ini. Pelaksanaan tugas akhir ini dilakukan dengan metode pengambilan data sekunder dan analisa dilakukan dengan menggunakan analisa deskriftif dari hasil penelitian yang dilakukan PT. BINANGA MANDALA. Hasil penelitian ini menunjukan Penyerbukan bantuan dilakukan berdasarkan pertimbangan nilai Fruit Set (< 75%), Sex Ratio ( 80 95%), jumlah bunga jantan anthesis minimal 2 tandan/Ha) dan populasi SPKS minimal 20.000ekor/Ha.Fruit Set awal Afdeling I Kebun Aek Kulim PT. Binanga Mandala sebelum aplikasi 58.87%, setelah diaplikasi sampai Desember 2013 fruitset meningkat menjadi 84,16%.

Kata Kunci : Kelapa Sawit, Eladobius, Elaiedobius Kamerunicus Hatch And Carry

I.

PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang

Dimulai pada tahun 2007 banyak pekebun kelapa sawit mengeluhkan adanya penurunan produksi tandan buah segar (TBS) per hektar. Kondisi ini tidak hanya terjadi pada perkebunan rakyat, tetapi juga pada perkebunan besar negara dan perkebunan besar swasta. Bahkan selain produktifitas yang menurun, rendemen

minyak juga mengalami nasib yang serupa. Penurunan ini diduga kuat berkaitan dengan berkurangnya nilai fruit set (Prasetyo dkk,

2012).

Fruit set atau dapat dikatakan sebagai tatanan buah adalah persentase buah jadi (berkembang karena terjadi penyerbukan) dibanding dengan total buah (buah yang jadi ditambah buah parteno kapri) dalam satu tandan kelapa sawit.

Jurnal Tugas Akhir STIPAP 2014

Buah yang jadi dicirikan dengan adanya inti buah (kernel) yang merupakan hasil akhir dari perkawinan polen (tepung sari) dari bunga jantan dengan sel telur di dalam bunga betina kelapa sawit, sedangkan buah parteno kapri tidak memiliki kernel. Buah yang jadi umumnya akan berkembang dan mempunyai daging buah (mesocarp) yang mengandung minyak. Buah partenokapri cendrung tidak berkembang dan sangat sedikit mengandung minyak, walaupun terkadang dijumpai buah partenokapri dengan daging yang tebal tetapi tidak mempunyai kernel namun berjumlah kurang dari 0,1% per tandan (Prasetyo dkk, 2012).

Tanaman kelapa sawit melakukan penyerbukkan secara alami terjadinya dengan bantuan angin, tetapi keberhasilannya sangat kecil. Oleh karena itu perlu diupayakan pengadaan serangga penyerbuk kelapa sawit. Jenis serangga penyerbuk kelapa sawit yang paling banyak digunakan dan telah memberikan hasil yang optimal adalah Elaiedobius kamerunicus (Fauzy dkk,2012). Kehadiran serangga penyerbuk kelapa sawit memberikan dampak yang nyata bagi perkebunan kelapa sawit, diantaranya meningkat produksi TBS hingga mencapai 15 - 20%, susunan buah yang dihasilkan sangat baik dan padat. Begitu pula ukuran, berat tandan dan remendemen mengalami peningkatan menjadi 6-7% (Fauzy dkk ,2012).

Teknik Hatch and Carry telah diterapkan di beberapa kebun di Indonesia dan telah berhasil meningkatkan fruitset hingga 30%, bahkan lebih tergantung kepada fruit set awal. Semakin rendah nilai fruit set awal maka peningkatannya akan semakin besar. Hatch and Carry adalah sistem penangkaran E. kamerunicus yang disertai dengan penyemprotan polen pada tubuh kumbang tersebut yang bertujuan untuk menambah populasi E. kamerunicus

dan nilai fruit set kelapa sawit pada suatu kebun. (Prasetyo dkk, 2012).

B. Perumusan Masalah

Beberapa perkebunan kelapa sawit besar negara, swasta maupun rakyat mengeluhkan kondisi tingginya persentase buah yang tidak jadi, sehingga dapat menurunankan produktifitas perkebunan kelapa sawit yang disebabkan kurangngnya ketersediaan bunga jantan. Penurunan produktifitas kelapa sawit erat kaitannya dengan rendahnya nilai fruit set tandan buah

kelapa sawit. (Agus, 2012).

Rendahnya nilai fruit set tandan buah kelapa sawit dipengaruhi oleh tingkat keberhasilan penyerbukan pada tanaman kelapa sawit, terutama pada tanaman muda (1 8 tahun) dengan sex ratio mencapai 95 %. Oleh sebab itu diperlukan adanya bantuan dari serangga penyerbuk kelapa sawit. Jenis serangga penyerbuk kelapa sawit yang umum digunakan adalah Elaiedobius kamerunicus. Elaiedobius kamerunicus dapat dikembangbiakkan dengan metode Hatch and Carry yang bertujuan menambah populasi Elaiedobius Kamerunicus, sehingga dapat meningkatkan nilai fruit set tandan kelapa sawit. (Prasetyo dkk, 2012)

C. Tujuan Penelitian

Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui efektifitas pembiakan serangga penyerbuk kelapa sawit dengan menggunakan metode Hatch and Carry untuk mengurangi jumlah buah yang tidak jadi (buah partenokarpi) sehingga dapat meningkatkan persentase fruit set pada tandan kelapa sawit.

Jurnal Tugas Akhir STIPAP 2014

D. Kegunaan Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan dan berguna pada perusahaan serta dapat memberikan informasi tentang cara pengembangbiakkan

Elaeidobius kamerunicus.

TINJAUAN PUSTAKA

A. Botani dan Morfologi

1.

Botani

Menurut Lubis (2008) kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq) memiliki 36 khromosom dan sebagian peneliti berpendapat bahwa jumlah kromosom kelapa sawit sebanyak 32. Elaeis berasal dari bahasa Yunani yaitu Elaion yang berarti minyak. Guineensis berasal dari Guinea (pantai barat Afrika), Jacq berasal dari nama Botanist Amerika Jacquin yang menemukan

tanaman kelapa sawit.

tanaman kelapa sawit

Taksonomi adalah :

Divisi

:

Spermatophyta

Subdivisi

:

Angiospermae

Kelas

:

Dicotyledone

Keluarga

:

Palmaceae

Subkeluarga

:

Cocoideae

Genus

:

Elaeis

Spesies

:

Elaeis guineensis Jacq

Menurut Lubis (2008), para peneliti memiliki banyak pendapat mengenai varietas kelapa sawit yang diklasifikasikan dalam beberapa hal. Misalnya dibedakan atas tipe buah, bentuk luar, tebal cangkang, warna buah dan lain lain. Menurut Beccari dan Chavalier (1914) ada 18 varietas, Becer dan Fickendy (1919) ada 19 varietas sedangkan Annet (1921) hanya menggolongkannya dalam 7 varietas. Dari

warna buah maka dari spesies Elaeis guineensis Jacq dikenal varietas:

Nigrescens yaitu buahnya bewarna violet sampai hitam waktu muda dan menjadi merah kuning (orange) sesudah matang.

Virescens yaitu buahnya bewarna hijau waktu muda dan sesudah matang bewarna merah kuning (orange).

Albescens yaitu buah muda bewarna kuning pucat, tembus cahaya karena megandung sedikit karotein. Baik nigrescens maupun virescens ada buah yang memiliki carpet tambahan (bersayap = mantled) atau dikenal sebagai diwakka wakka. Varietas anak daunnya tidak memisah (Lubis 2008).

Menurut Lubis (2008) berdasarkan tebal tipisnya cangkang sebagai faktor homozigote tunggal yaitu Dura yang bercangkang tebal jika dikawinkan dengan Pisifera yang bercangkan tipis jika keduanya dikawinkan maka akan menghasilkan vrietas baru yaitu Tenera yang memiliki ketebalan cangkang diantara keduanya. Skema perkawinannya adalah:

Dura x Dura 100% Dura

Dura x Psifera

Dura x Tenera

50% Dura + 50% Teneraadalah: Dura x Dura 100% Dura Dura x Psifera Dura x Tenera Tenera x Psifera Tenera

Tenera x Psifera

Tenera

Dura x Tenera 50% Dura + 50% Tenera Tenera x Psifera Tenera 100% Tenera 50% +50%

100% TeneraDura x Tenera 50% Dura + 50% Tenera Tenera x Psifera Tenera 50% +50% Psifera Tenera

50% Dura + 50% Tenera Tenera x Psifera Tenera 100% Tenera 50% +50% Psifera Tenera x

50%

+50% Psifera

Tenera x Tenera

Psifera Tenera 100% Tenera 50% +50% Psifera Tenera x Tenera 25% Dura + 50% Tenera +

25%

Dura

+

50% Tenera + 25% Psifera

Tenera merupakan hasil persilangan yang digunakan perkebunan perkebunan, sebab hasil persilangan ini memiliki buah yang lebih baik dari pada kedua jenis induknya, tebal cangkang tenera hanya 3 20 % dari buah, mesocarp yang tebal yaitu

Jurnal Tugas Akhir STIPAP 2014

60 90% dari buah dan inti 3 15 % dari buah. Untuk lebih jelasnya perbedaan

antara Dura, Psifera dan tenera dapat dilihat pada tabel 1.

Tabel 1. Perbedaan tebal cangkang beberapa varietas

Varitas

Pericarp

Cangkang

Mesocarp

 

Inti

(mm)

(% buah)

(% buah)

(% buah)

Dura

2 6

25 50

20

65

4

20

Tenera

3 10

3 20

60

90

3

15

Psifera

5

10

-

92

97

 

3 8

Disamping itu, terdapat juga varitas yang sangat tebal cangkangnya yaitu varietas Macrocarya dengan tebal cangkang 4 8,5

Memiliki asam lemak tidak jenuh yang lebih tinggi.

mm dan daging buah hanya 0,75 - 2,5 mm

saja. Varietas ini jarang sekali digunakan untuk pemuliaan tanaman apa lagi untuk

tanaman budidaya (Lubis. 2008).

Menurut Lubis (2008) spesies lainnya yang sudah mulai dimanfaatkan adalah spesies yang berasal dari Amerika selatan bernama Elaeis melanococca Gaert atau Elaeis oleifera Cortes atau dikenal sebagai Caiaue yang banyak terdapat di

Brazil, Suriname, Colombia dan lain lain. Spesies ini digunakan dalam pemuliaan tanaman karena dapat dikawinkan dengan Elaeis guineensis yang akan menghasilkan hibridanya.Seleksionistertarikmenggunakan

nya karena memiliki beberapa sifat unik

seperti :

Pertumbuhan meninggi lambat hanya 20 cm/tahun, dibandingkan dengan

E. guineensis 45 cm/tahun

Memiliki kanopi yang relatif lebih kecil, sehingga dapat ditanam lebih banyak per Ha.

Memiliki sex ratio yang lebih tinggi

B. Penyerbukan Bantuan

Penyerbukan adalah sampainya serbuk sari yang dihasilkan bunga jantan ke

atas kepala putik yang dihasilkan bunga betina. Serbuk sari dihasilkan oleh bunga jantan yang segar dan sedang mekar (anthesis) yang ditandai dengan warna kuning terang dan bau yang khas. Bunga betina yang sedang reseptif dengan tanda putiknya bewarna kuning kemerah merahan, berlendir, berbau spesifik dan kelopak bunga bagian atas sudah terbuka (anonim).

merahan, berlendir, berbau spesifik dan kelopak bunga bagian atas sudah terbuka (anonim). Gambar 1. Penyerbukan Bantuan

Gambar 1. Penyerbukan Bantuan

Jurnal Tugas Akhir STIPAP 2014

Jika buah dalam tandan dibawah optimal, ini menunjukkan bahwa jumlah bunga yang dibuahi tentu dibawah optimal juga.Hal ini sebagai pertanda bahwapenyerbukan secara alamiah tidak cukup. Untuk memperoleh tandan tandan dengan jumlah buah yang optimal, penyerbukan harus dibantu dengan memberi serbuk secara buatan (anonim). Teknik memberikan serbuk ini dikenal sebagai penyerbukan bantuan, yaitu pemberian serbuk sari yang dikumpulkan kepada bunga betina selama masa reseptif (anonim).

1.

Kriteria

Fruit set adalah istilah yang sering digunakan dalam bidang kelapa sawit dalam menggambarkan perbandingan/rasio buah yang jadi (hasil pernyerbukan) terhadap keseluruhan buah pada satu tandan termasuk buah yang partenokarpi/mantel. Fruit set satu tandan adalah 80%, artinya dalam satu tandan tersebut persentase buah yang jadi adalah 80% sedangkan buah partenokarpi adalah 20%. Frui tset yang baik pada tanaman kelapa sawit adalah diatas 75% (Prasetyo dan Agus, 2012). Ini berarti apabila fruit set buah kurang dari 75% maka persentase buah yang diserbuki rendah pula. Maka untuk mengatasi hal tersebut maka

perlu dilakukan penyerbukan bantuan.

Buah landak juga merupakan salah satu kriteria agar penyerbukan bantuan segera diaplikasikan. Buah landak menjadi masalah karena mengakibatkan penurunan produksi kelapa sawit. Salah satu dugaan faktor penyebab terjadinya buah landak adalah kurangnya keberadaan serangga penyerbuk E. kamerunicus. Buah landak mempunyai fruit set yang sangat rendah kurang dari 2% (Prasetyo dan Agus, 2012).

2. Pelaksanaan

Penyerbukan bantuan dilaksanakan pada saat bunga betina sedang anthesis. Berdasarkan pada karakteristik biologi bunga kelapa sawit, maka kegiatan penyerbukan bantuan dapat dilakukan dengan rotasi 2 3 hari dalam areal yang sama. Kegiatan ini baik dilakukan pada pagi hingga siang hari khususnya pada kondisi cuaca yang terang. Hal ini karena proses penyerbukan bunga kelapa sawit tergantung kepada suhu dan cahaya matahari (Prasetyo

dan agus, 2012).

Penyerbukan bantuan dilakukan dengan berjalan di pasar pikul, masing masing penyerbuk memeriksa kedua dua barisan. Tiap pohon harus dikelilingi satu demi satu untuk memeriksa apakah ada bunga betina yang sedang mekar untuk diserbuk. Pertama buka seludang bunga, semprotkan polen dengan menggunakan alat penyemprot polen, polen harus disemprotkan ke semua bunga yang sedang anthesis (vademecum, 1987).

3. Efektifitas

Efektifitas penerapan penyerbukan bantuan sebenarnya sangat baik, namun karena biaya yang dikeluarkan untuk melakukan penyerbukan bantuan ini sangat tinggi (Lubis, 2008). Biaya yang tinggi ini disebabkan karena pekebun yang akan melakukan penyerbukan buatan harus membeli polen (serbuk sari) dengan harga yang cukup mahal beserta upah untuk tenaga

kerja.

Untuk mengatasi biaya yang tinggi, maka diadakan penelitian oleh para peneliti yang berada di Pusat Penelitian Kelapa Sawit yang kemudian menemukan metode penyerbukan bantuan yang lebih ekonomis.Yaitu penyerbukan Semi-Assisted Polination dengan mengembang biakkan serangga penyerbuk kelapa sawit (E.

Jurnal Tugas Akhir STIPAP 2014

kamerunicus) sebagai agen penyerbuk atau pengganti tenaga kerja manusia.

C. Serangga Penyerbuk Kelapa Sawit

Proses penyerbukan bunga kelapa sawit memerlukan agen penyerbuk. Agen pembawa polen bunga jantan anthesis di pohon yang satu ke bunga betina yang sedang reseptif di pohon yang lain disebut polinator. Polinator bunga kelapa sawit dapat berupa angin, air, manusia, hewan vertebrata dan serangga (Prasetyo dan Agus,

2008).

Elaeidobiuskamerunicus (Coleoptera Curculionidae) saat ini menjadi serangga penyerbuk utama kelapa sawit di Indonesia setelah proses introduksi oleh Pusat Penelitian Kelapa Sawit pada tahun 1982. Sebelum introduksi E. kamerunicus, proses penyerbukan bunga kelapa sawit di Indonesia utamanya dilakukan dengan bantuan manusia yang sering disebut assisted pollination. Kegiatan assisted pollination ini memerlukan biaya yang sangat mahal, terlebih jika dilakukan pada tanaman kelapa sawit menghasilkan diatas umur 5 tahun (Prasetyo dan agus, 2012). Agen penyerbuk bunga kelapa sawit yang lain berasal dari Indonesia adalah Trhips hawaiiensis (Thysanoptera) dan pyrodercer sp.(Lepidoptera : Cosmopteryangidae). Dua jenis serangga ini memiliki peran penting penyerbukan bunga kelapa sawit sebelum diintroduksinya E. kamerunicus walaupun efektivitas penyerbukan masih sangat rendah. T. Hawaiinensis bersifat polifag, yaitu sumber makanannya dapat dari berbagai jenis tanaman.

E. kamerunicus bersifat monofag, sumber makanannya hanya dari satu sumber tanaman yaitu kelapa sawit, sehingga E. kamerunicus lebih efektif sebagai penyerbuk tanaman kelapa sawit. T. Hawaiinensis sebenarnya merupakan hama minor pada

tanaman kacangan yang hanya memakan bunga tanaman inang. Polinator ini mampu melaksanakan penyerbukan pada tanaman menghasilkan (TM). Pada tanaman belum menghasilkan serangga ini tidak melakukan polinasi dengan baik, kemungkinan disebabkan tingginya tingkat intensitas cahaya matahari dan gangguan penerbangan karena pelepah yang masih pendek. Thrips juga merupakan penerbang yang lemah. Peran agen penyerbuk Pyroderces sp. juga kurang berarti banyak karena makanan utama larvanya adalah jagung, sementara tidak banyak pekebun yang menumpangsarikan tanaman kelapa sawit dengan jagung (Prasetyo dan Agus, 2012).

D. Pembiakan Hatch and Carry

Metode hatch and carry ini telah diterapkan di beberapa kebun di Indonesia dan telah meningkatkan fruit set hingga 30% ,bahkan tergangtung pada nilai fruit set awal. Semakin rendah nilai fruit set awal maka peningkatannya semakin besar. Hatch and Carry berasal dari kata “hatch” yang

artinya menetas dan “carry” yang artinya membawa.

Dalam hal hal ini Hatch and Carry adalah sisitem penangkaran E. kamerunicus yang disertai dengan penyemprotan polen pada tubuh kumbang tanduk tersebut yang bertujuan untuk menambah populasi E. kamerunicus dan nilai fruit set kelapa sawit pada suatu kebun. (Prasetyo dkk,2012).

set kelapa sawit pada suatu kebun. (Prasetyo dkk,2012). Gambar7.Desain kotak penangkaran E. kamerunicus metode

Gambar7.Desain kotak penangkaran E. kamerunicus metode Hatch and Carry.

Jurnal Tugas Akhir STIPAP 2014

Penangkaran E. kamerunicus dilakukan menggunakan kotak dengan ukuran 60 cm x 60 cm x 120 cm. Kotak terbuat dari kayu triplek dengan bagian atas berupa kain kasa yang bisa dibuka dan ditutup untuk memasukkan dan mengeluarkan E. kamerunicus. Masing - masing kotak memiliki atap yang dapat terbuat dari seng, asbes, atau atap rumbia untuk melindungi penyinaran langsung dari sinar matahari atau terkenatetesanairhujan.Strategi aplikasi hacth and carry digunakan pada tanaman TM 1 3 dengan kondisi mempunyai nilai fruit set rendah (<60%), populasi E. kamerunicus rendah dan sex ratio bunga kelapa sawit tinggi (>96%). Untuk mempermudah aplikasi Hatch and Carry ,maka dalam 1 kotak dibagi menjadi 2 ruangan. Ruangan pertama berisi 3 4 tandan bungan jantan dan demikian juga pada ruangan kedua. Pengisian tandan bunga jantan ini pada masing - masing ruangan dilakukan pada waktu yang berbeda yang kemudian dapat diganti dengan tandan bunga jantan lewat anthesis yang baru setiap 8-9 hari sekali.

jantan lewat anthesis yang baru setiap 8-9 hari sekali. Gambar 8. Tandan bunga jantan lewat anthesis

Gambar 8. Tandan bunga jantan lewat anthesis dari tanaman tua.

Penyemprotan polen kelapa sawit murni pada tubuh kumbang E. kamerunicus dilakukan pada setiap hari. Penyemprotan dilakukan pada mulai jam 7 pagi dengan jumlah polen yang di semprotkan sekitar 1 g/kotak. Penyemprotan pada sisi atas kotak

Hatch and Carry dilakukan sebanyak 2-3 semprotan. Tutup kotak kemudian dibukak dan dilakukan penyemprotan pada bagian bawah sebanyak 15-20 semprotan dan didalam kotak sebanyak 2-4 semprotan. Botol semprot yang digunakan memiliki daya semprot dan sebar yang ckup baik seperti botol semprot yang bis digunakan untuk penyemprotan nyamuk.

botol semprot yang bis digunakan untuk penyemprotan nyamuk. Gambar 9. Penyemprotan polen pada kotak Hatch and

Gambar 9. Penyemprotan polen pada kotak Hatch and Carry. Setelah dilakukan penyemprotan tutup kotak hacth and carry dibiarkan terbukak selama 1-2 jam sehingga kumbang E. kamerunicus yang telah membawa polen terbang kelapangan kemudian di tutup lagi pada jam 9 pagi. Sambil menti kumbang E. kamerunicus yang telah disemprot terbang kelapangan, para pekerja dapat melakukan penyemprotan polen pada kotak hacth and carry lainnya.

E. Efektivitas Penyerbukan

Produksi tandan buah segar (TBS) kelapa sawit sangat ditentukan oleh keberhasilan penyerbukan, dimana keberhasilan penyerbukan dipengaruhi oleh lingkungan tanaman seperti hara, pencahayaan dan tindakan budidaya seperti pemupukan. Perubahan terhadap salah satu faktor di atas akan meningkatkan atau menurunkan

produksi tandan buah kelapa sawit. Defisiensi hara, penyerbukan yang tidak baik atau aktifitas penyerbuk yang tidak efisien akan mengarah kepadarendahnya produksi tandan kelapa sawit. Pada tanaman berserbuk silang keberhasilan penyerbukan dipengaruhi oleh topographilahan dimana tingkatkeberhasilan

Jurnal Tugas Akhir STIPAP 2014

persilangan lebih tinggi dilahan miring dibanding lahan yang datar jika jarak sumber sari tidak jauh. Namun jika sumber serbuk sari semakin jauh dari bunga betina, keberhasilan pembentukanbuahtidakberbeda antara kedua kondisi lahan tersebut (Dravel Marjon dkk, 2012).Pada lahan yang datar, radiasi matahari relatif konstan selama siang hari dimana radiasi maksimum tercapai pada tengah hari hingga pukul 14. 00. pada lahan yang miring dengan lereng yang mengarah ke Timur, radiasi matahari yang diterima sore hari relatif terbatas, sementara pada lahan yang lerengnya mengarah ke Barat radiasi matahari yang diterima sore hari lebih maksimal. Perbedaan penerimaan radiasi maksimum pada lahan datar dan kemiringan yang berbeda ini diduga akan mempengaruhi keberhasilan penyerbukan dan sekaligus pembentukan buah.

Ketersediaan serbuk sari dan serangga penyerbuk kelapa sawit juga mempengaruhi efektifitas penyerbukan. Dengan bantuan serangga penyerbuk kelappa sawit bunga betina yang terdapat pada daerah daerah yang curam, tertutp oleh pelepah dan bunga yang seludangnya kurang membuka dapat diserbuki. Sehingga tingkat buah yang diserbuki menjadi tinggi. Kehadiran serangga penyerbuk kelapa sawit memberikan dampak yang nyata bagi perkebunan kelapa sawit,diantaranya meningkat produksi TBS hingga mencapai 15 - 20%, susunan buah yang dihasilkan sangat baik dan padat. Begitu pula ukuran, berat tandan dan remendemen mengalami peningkatan menjadi 6-7% (Yan fauzy dkk

,2012).

III METODOLOGI

A. Tempat dan Waktu

Penelitian ini akan dilaksanakan di kebun Aek Kulim PT. BINANGA MANDALA Labuhan Batu Selatan. Penelitian ini berlangsung mulai bulan Mei sampai dengan Juni 2014.

B. Alat dan Bahan

Alat dan bahan yang digunakan pada penelitian ini:

1. Kotak penangkaran

2. Rumah kotak penangkaran

3. Alat semprot

4. Serbuk sari/polen

5. Bunga jantan lewat anthesis

C. Metode Penelitian

Pelaksanaan tugas akhir ini dilakukan dengan metode pengambilan data sekunder dan analisa dilakukan dengan menggunakan analisa deskriftif.

D. Data Pengamatan

1. Informasi kebun Aek Kulim PT. Binanga Mandala.

2. Syarat Ketentuan tentang penyerbukan bantuan.

3. Ketentuan tentang pengembangan SPKS Hatch and Carry.

4. Pelaksanaan Hatch and Carry.

5. Data Sex Ratio.

6. Perhitungan fruit set.

Jurnal Tugas Akhir STIPAP 2014

IV HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Informasi Umum Kebun

1. Luas Areal

Kebun PT. Binanga Mandala terletak pada ketinggian 10 50 meter dari permukaan laut. Kondisi topografi datar ±

45% dan bergelombang ± 55%. Afdeling I kebun Aek Kulim luas arealnya 350,14 Ha. Luas kebun dan jumlah pohon pada Afdeling I Aek Kulim tempat pelaksanaan penelitian terdapat pada tabel dibawah ini

Tabel 6. Data Luas Areal Kebun PT. Binanga Mandala Afdeling I.

Tahun Tanam

Blok

Luas (Ha)

Jumlah pohon

 

I

29,01

4.

149

II

20,44

2.

923

2008

III

19,99

2.

858

IV

22,53

3.

222

VA

23,57

3.

370

VB

18,08

2.

586

 

Jumlah

133,62

19.

108

 

VI

38,21

5.

464

2009

VII

33,29

4.

746

VIII

29,14

4.

167

IX

25,20

3.

604

 

Jumlah

125,84

17.

981

 

X

16,98

2.

428

2010

XI

32,55

4.

655

XII

32,96

4.

713

XIII

8,29

1.

185

 

Jumlah

90,78

12.

982

 

Total

350,24

50.

071

2. Curah Hujan

Hal yang dapat mengakibatkan adanya perbedaan peralihan pada masing kelas lahan dan keragaman produktivitas adalah salah satunya dipengaruhi oleh beberapa faktor pembatas yaitu iklim (curah hujan). Curah hujan yang baik untuk

tanaman kelapa sawit agar memenuhi kebutuhan air tanaman kelapa sawit adalah 1.700 2.500 mm per tahun. Dibawah ini adalah tabel data curah hujan Afdeling 1 kebun Aek Kulim tahun 2011 sampai tahun

2013.

Jurnal Tugas Akhir STIPAP 2014

Tabel 7. Data Curah Hujan Afdeling I Kebun Aek Kulim

Bulan

 

2011

 

2012

 

2013

Rata Rata

Hh

Ch

hh

ch

hh

Ch

hh

Ch

Januari

9

226

9

278

13

345

10

283

Februari

3

110

8

160

15

275

9

181

Maret

18

96

5

70

7

89

10

85

April

6

166

8

220

13

205

9

197

Mei

8

38

9

202

6

69

8

103

Juni

5

91

7

153

6

81

6

108

Juli

3

24

6

123

9

220

6

122

Agustus

8

186

7

205

5

137

7

176

September

6

51

10

57

9

233

8

113

Oktober

16

390

13

277

14

369

14

345

Nopember

17

315

20

415

15

363

17

365

Desember

12

229

14

148

10

246

12

208

Total

111

1.920

116

2.305

122

2.632

116

2.286

Rata Rata

9

160

10

192

10

219

10

190

Ket : - ch : Curah Hujan (mm)

- hh : Hari Hujan

Jurnal Tugas Akhir STIPAP 2014

Dari tabel curah hujan dapat dilihat bahwa curah hujan yang terjadi pada tahun

2011 sampai dengan tahun 2013 yaitu 2.286

mm per tahun, jika di sesuaikan dengan

kriteria karakteristik lahan mineral untuk tanaman kelapa sawit, maka curah hujan

pada Afdeling I kebun Aek Kulim tersebut

termasuk dalam katagori S1 (sesuai) pada

kelas kesesuaian kelapa sawit.

Hari Hujan (hh)

Hari Hujan 20 (hh) 15 10 5 0 Januari Desember
Hari Hujan
20
(hh)
15
10
5
0
Januari
Desember

Gambar 9. Grafik Hari Hujan Tahun 2011

2013

Dari grafik rata-rata hari hujan

Afdeling I Aek Kulim PT. Binanga Mandala dapat dilihat bahwa rata-rata hari hujan yang paling tinggi terdapat pada bulan Oktober dan Nopember yaitu dengan 14- 17

hari hujan sementara untuk rata-rata hari

hujan paling rendah terdapat pada bulan Juni dan Juli yaitu 6 hari hujan.

Curah Hujan (ch)

Curah Hujan 400 (ch) 300 200 100 0 Januari Desember Gambar 10. Grafik Curah Hujan
Curah Hujan
400
(ch)
300
200
100
0
Januari
Desember
Gambar 10. Grafik Curah Hujan Tahun
2011 – 2013

Dari grafik curah hujan di atas dapat dilihat rata-rata curah hujan Afdeling I Aek Kulim PT. Binanga Mandala di atas terdapat perbedaan curah hujan setiap bulannya untuk curah hujan yang paling tinggi terdapat pada bulan Nopember curah hujan mencpai 365 mm sementara curah hujan yang rendah terdapat pada bulan Maret yaitu 85 mm.

Penyerbukan

Bantuan Penyerbukan bantuan dilaksanakan berdasarkan beberapa faktor. Pada PT. Binanga Mandala penyerbukan bantuan dilaksanakan berdasarkan faktor faktor

berikut :

B. Syarat

Ketentuan

1. Fruit Set

Fruit set adalah perbandingan buah yang jadi terhadap kelseluruhan buah pada tandan termasuk buah yang partenokarpi. Fruit set yang baik pada tanaman kelapa sawit adalah di atas 75%. Semakin tinggi nilai fuit set maka berat, kualitas dan ukuran

tandan akan semakin meningkat.

2. Sex Ratio

Sex ratio yang tinggi juga menjadi faktor untuk melaksanakan penyerbukan bantuan. Sex ratio tanaman muda kelapa sawit 85 - 95%. Dengan tingginya persentase sex ratio serbuk sari yang terdapat pada tanaman telapa sawit tidak

mencukupi kebutuhan bunga betina reseptif.

3. Jumlah Bunga Jantan Anthesis

Bunga jantan berperan sebagai penghasil polen yang kemudian menyerbuki kepala putik pada bunga betina dan menghasilkan buah. Untuk memenuhi kebutuhan polen diperlukan minimal 2 tandan bunga jantan anthesis per hektar. Setiap tandan bunga jantan mengandung 600 1200 bulir bunga dan menghasilkan polen

sekitar 40 gram/tandan.

Jurnal Tugas Akhir STIPAP 2014

4. Populasi SPKS E. kamerunicus

SPKS merupakan agen pengantar serbuk sari (polen) ke bunga betina reseptif. Junlah SPKS untuk memenuhi kebutuhan penyerbukan kelapa sawit minimal 20.000

ekor/Ha.

C. Ketentuan Pengembangan SPKS Hatch and Carry

1. Kotak dan Rumah Penangkaran

Kotak penangkaran pada Afdeling I Kebun Aek Kulim PT. Binanga Mandala berbentuk empat persegi panjang dengan

dimensi Panjang 120 cm, Lebar 75 cm, Tinggi 75 cm dan memiliki 4 buah kaki

disudut-sudutnya dengan panjang kaki 35

cm. Dimensi rumah kotak penangkaran

Panjang = 220 cm, Lebar = 180 cm dan Tinggi = 160 cm (tiang) ; 70 cm (atap), atap dibuat agak memanjang = 40 cm dapat

dilihat pada gambar 10.

dibuat agak memanjang = 40 cm dapat dilihat pada gambar 10. Gambar 10. Rumah dan Kotak

Gambar 10. Rumah dan Kotak Hatch and Carry

2. Penempatan Kotak Hatch and Carry

Penempatan Kotak Hatch and Carry Afdeling I Kebun Aek Kulim PT. Binanga Mandala mulai dilaksanakan pada bulan Juni 2012 dengan uraian yang terdapat pada

tabel 8.

Tabel 8. Penempatan Kotak Hatch and Carry

Tahun

   

Jumlah

Tanam

Blok

Luas (Ha)

Kotak

 

I

29,01

1

II

20,44

1

2008

III

19,99

1

IV

22,53

-

VA

23,57

-

VB

18,08

-

Sub Jumlah

133,62

3

 

VI

38,21

3

2009

VII

33,29

5

VIII

29,14

7

IX

25,20

3

Sub Jumlah

125,84

18

 

X

16,98

1

2010

XI

32,55

2

XII

32,96

3

XIII

8,29

-

Sub Jumlah

90,78

6

Total

350,24

27

Dari tabel diatas dapat kita lihat jumlah kotak pada Blok VA, VB jumlah kotak lebih banyak sebab fruitset awal yang sangat rendah, sedangkan blok VII jumlah kotak lebih banyak sebab kondisi areal blok VI dan VII yang berdekatan dan berbukit. Peletakan kotak penangkaran disesuaikan dengan kondisi areal.

Jurnal Tugas Akhir STIPAP 2014

Namun jika kita kaji kembali berdasarkan ketentuan 1 kotak untuk 10 Ha, maka kebutuhan kotak adalah 350,24 : 10 = 35 kotak. Jadi jumlah total kotak dengan total luasan pada PT. Binanga Mandala Afdeling I kebun Aek Kulim sudah sesuai dengan ketentuan.

D. Pelaksanaan Hatch and Carry

Tahapan pelaksanaan penyerbukan Hatch and Carry pada Afedling I Kebun Aek Kulim PT. Binanga Mandala dapat diuraikan

sebagai berikut:

Menyiapkan semua alat

penyerbukan buatan sistem Hatch- Carry.

Melakukan pengambilan bunga jantan pasca anthesis sebanyak 3 tandan/kotak penangkaran. Sebelum aplikasi bunga jantan

dahulu

dikoleksi/dikumpulkan selama 1 hari agar bersihkan dari semut, laba-laba dan binantang lainnya.

terlebih

Hari berikutnya dimasukkan dalam kotak penangkaran dengan digantungkan pada kawat yang sudah ada, sebanyak 3 janjang dalam 1 sekat.

Pada hari ke-4 sekat ke-dua diisi dan 4 hari berikutnya lagi sekat ke-tiga

E.

Sex Ratio

Sex ratio adalah persentase perbandingan jumlah bunga jantan dengan bunga betina, yang didapat dari total jumlah tandan dikurang jumlah tandan betina dan dibagi total jumlah tandan. Pada Afdeling I

diisi 3 tandan bunga jantan lewat anthesis.

Pada hari ke-4 sudah dapat dilakukan penyemprotan serbuk sari/polen ke tubuh serangga SPKS yang hinggap pada pintu/tutup kotak penangkaran yang disekat dengan kawat, kasa dan kain kelambu.

Selanjutnya kotak penangkaran dibuka pada pukul 07.00 10.00 WIB. Sebelum kotak penangkaran dibuka dilakukan penyemprotan serbuk sari (polen) pada bagian atas kotak.

Setelah membuka dan melakukan semprotan, kotak penangkaran dibiarkan terbuka dan pekerja melanjutkan pekerjaan yang sama terhadap kotak-kotak yang lain.

Pekerjaan buka, semprot dan tutup dikerjakan setiap hari, sambil pada sore hari mencari bunga jantan pasca anthesis untuk mengganti bunga jantan setiap 5 hari per skat kotak penangkaran.

Bunga jantan pasca anthesis yang sudah dikeluarkan dari kotak penangkaran, diletakkan dibawah rumah kotak penangkaran, dengan harapan masih ada sisa sisa serangga SPKS yang dapat keluar dari tandan tersebut.

Kebun Aek Kulim PT. Binanga mandala sensus bunga untuk perhitungan sex ratio dilakukan dengan norma 1 HK untuk 10 Ha. Data sex ratio pada Afdeling I Kebun Aek Kulim bulan Juni 2012 sampai bulan desember 2013 diuraikan pada tabel 9.

Jurnal Tugas Akhir STIPAP 2014

Tabel 9. Data Sex Ratio Afdeling I Kebun Aek Kulim TT 2008 Blok VA.

         

Sex

Tahun

Bulan

Bunga

Bunga

Jumlah

Ratio

Jantan

Betina

%

 

Juli

2,71

21,29

24

88,71

Agustus

3,15

20,85

24

86,88

September

3,44

20,57

24

85,69

2012

Oktober

3,59

20,42

24

85,06

November

3,15

20,86

24

86,90

Desember

3,21

20,8

24

86,65

Rata rata

3,08

20,92

24

87,16

 

Januari

3,33

20,68

24

86,15

Februari

2,96

21,05

24

87,69

Maret

2,87

21,13

24

88,04

April

2,84

21,17

24

88,19

Mei

2,48

21,52

24

89,67

2013

Juni

3,52

20,49

24

85,35

Juli

2,07

21,93

24

91,38

 

Agustus

2,28

21,73

24

90,52

September

1,5

22,51

24

93,77

Oktober

2,17

21,83

24

90,96

November

1,9

22,1

24

92,08

Desember

1,78

22,23

24

92,60

Rata rata

2,47

21,53

24

89,70

.

Dari tabel 9 dapat dilihat bahwa Sex Ratio

tanaman, rata rata jumlah tandan adalah 24

di

Afdeling I Kebun Aek Kulim PT.

tandan/pohon.

Binanga Mandala berkisar antara 85% hingga 95% dan rata rata Sex Ratio per tahun adalah 89,70%. Sesuai dengan usia

Data Sex Ratio pada Afdeling I Kebun Aek Kulim bulan Maret 2014 sampai bulan Mei 2014 diuraikan pada tabel 10.

Tabel 10. Data Sex Ratio PT. Binanga Mandala Afdeling I Kebun Aek Kulim Maret Mei 2014.

         

Sex

Tahun

Bulan

Bunga

Jantan

Bunga

Betina

Jumlah

(Tandan)

Ratio

%

 

Maret

1,1

22,9

24

95,38

2014

April

0,5

23,5

24

97,72

Mei

1,3

22,7

24

94,76

Rata rata

1,0

23,0

24

95,96

Jurnal Tugas Akhir STIPAP 2014

Dari tabel 10 dapat dilihat bahwa Sex Ratio di Afdeling I Kebun Aek Kulim PT. Binanga Mandala berkisar antara 90% hingga 100% dan rata rata Sex Ratio per tahun adalah 95,96%. Dengan jumlah Sex Ratio seperti diatas, jika tidak menggunakan penyerbukan bantuan akan kehilangan banyak produksi. Dengan Sex Ratio yang tinggi, persentase buah yang terserbuki dalam satu tandan kelapa sawit akan menjadi rendah. Jika rata rata jumlah tandan bunga jantan per hektar adalah 2 tandan bunga jantan, maka persentase buah yang terserbuki dengan tidak ada penyerbukan bantuan hanya 11% dari jumlah tandan bunga betina yang reseptif.

Tabel 11. Data Populasi Serangga Elaeidobius kamerunicus di PT. Binanga Mandala Afdeling I

Kebun Aek Kulim

Maret dan Mei 2014 di Blok I, Blok II, Blok III, Blok IV, Blok VA dan Blok VB di Kebun Lama PT. Perkebunan Nusantara I disajikan pada tabel 11.

Pada pengamatan populasi Elaeidobius kamerunicus data yang digunakan adalah menggunakan data sampel sebanyak dua blok yaitu, Blok I dan Blok II. Menurut Agus Susanto (2007), jumlah Elaeidobius kamerunicus yang efektif untuk menyerbuki bunga betina Kelapa sawit adalah 20.000 kumbang per hektar. Berikut ini adalah Blok Blok yang digunakan sebagai sampel untuk menentukan efektifitas serangga Elaeidobius kamerunicus terhadap Fruit Set pada bulan

F. Populasi Elaeidobius kamerunicus

 

Bulan

   

Kumbang Elaeidobius ekor/Blok

 

Kumbang

No

Blok

Luas

Jumlah

Elaeidobius

Pengamatan

(Ha)

Sample I

Sample II

ekor/Ha

1

Mar-14

 

I 29,01

23.661

9.163

32.824

1.131

2

 

II 20,44

8.296

20.736

29.032

1.420

3

   

I 29,01

5.517

14.624

20.141

694

4

Apr-14

 

II 20,44

10.101

21.181

31.282

1.530

5

   

I 29,01

8.854

6.072

14.926

515

6

Mei-14

 

II 20,44

10.709

8.526

19.235

941

Pada tabel 11 terdapat perbedaan populasi Serangga Penyerbuk Kelapa Sawit Elaeidobius kamerunicus pada Blok I dan Blok II

G. Perhitungan Fruit Set

1. Cara Perhitungan Fruit Set

Fruit Set adalah jumlah buah yang jadi (buah yang diserbuki) dalam satu tandan buah kelapa sawit. Perhitungan fruitset

diambil dengan menggunakan sampel. Pada satu blok diambil empat tandan buah kelapa sawit yaitu dua tandan jenis Yangambi dan dua tandan jenis Lame. Pada satu tandan

diambil spiklet pada bagian dekat pangkal, tengah dan ujung tandan buah sebanyak 20 spiklet.

Penghitungan nilai Fruit Set dilakukan dengan cara:

Memilih tandan buah yang akan digunakan sebagai sampel sebanyak empat tandan dalam satu blok.

Memisahkan spiklet pada tandan buah dengan menggunakan alat

kampak kecil. Spiklet yang diambil pada bagian atas, tengah dan bawah tandan, dapat dilihat pada gambar

11.

Jurnal Tugas Akhir STIPAP 2014

Jurnal Tugas Akhir STIPAP 2014 Gambar 11. Pemisahan Spiklet dengan Tandan Kelapa Sawit – Menghitung buah
Jurnal Tugas Akhir STIPAP 2014 Gambar 11. Pemisahan Spiklet dengan Tandan Kelapa Sawit – Menghitung buah

Gambar 11. Pemisahan Spiklet dengan Tandan Kelapa Sawit

Menghitung buah jadi (mengandung kernel) dan buah partenokarpi (tidak mengandung kernel). JBJ

Nilai Fruit Set = x 100 JBJ + BP

Keterangan :

JBJ

= Jumlah Buah Jadi

BP

= Buah Partenocarpi

: JBJ = Jumlah Buah Jadi BP = Buah Partenocarpi Gambar 12. Spiklet Kelapa Sawit Dari
: JBJ = Jumlah Buah Jadi BP = Buah Partenocarpi Gambar 12. Spiklet Kelapa Sawit Dari

Gambar 12. Spiklet Kelapa Sawit Dari gambar diatas dapat dilihat hampir seluruh buah memiliki kernel, artinya Fruit Setnya sangat bagus atau tinggi. Periksaan dilakukan dengan mengambil sample per blok. Satu blok

terdiri dari 4 (empat) sampel. Sampel sample tersebut kemudian di rata ratakan sehingga mewakili Fruit Set dalam 1 blok. Pemeriksaan Fruit Set dilakukan dengan norma 1 HK untuk seluruh blok pada Afdeling I Kebun Aek Kulim.

2. Hasil Perhitungan Fruit Set

Pada penelitian ini data Fruit Set yang digunakan merupakan hasil pengamatan yang telah dilakukan oleh PT. Binanga Mandala Afdeling I Kebun Aek Kulim mulai bulan Juni tahun 2012 sampai bulan Desember 2013 dengan uraian yang terdapat pada tabel 12.

Jurnal Tugas Akhir STIPAP 2014

Tabel 12. Data Fruit Set PT. Binanga Mandala Afdeling I Bulan Juni 2012 sampai Desember
Tabel
12.
Data
Fruit
Set
PT.
Binanga
Mandala
Afdeling
I
Bulan
Juni
2012
sampai
Desember 2013
Blok
Tahun
Bulan
I
II
III
IV
V.A
V.B
Rata – rata
Persentase
Juni
64,83
64,66
62,67
66,58
46,83
47,66
58,87
Juli
68,42
67,24
65,38
63,83
48,21
49,47
60,43
Agustus
68,36
70,69
66,29
65,00
56,69
63,33
65,06
2012
September
73,55
72,66
70,88
71,44
62,88
68,59
70,00
Oktober
77,21
74,58
74,39
77,56
65,45
70,67
73,31
Nopember
86,00
85,00
77,00
88,00
73,43
77,42
81,14
Desember
87,54
85,44
79,66
88,56
81,86
80,59
83,94
Rata - rata
75,13
74,32
70,90
74,42
62,19
65,39
70,39
Januari
77,68
80,56
78,32
84,66
80,58
80,91
80,45
Februari
72,57
81,07
73,87
84,34
81,33
82,54
79,29
Maret
80,43
83,60
72,65
81,47
80,47
83,00
80,27
April
82,37
80,74
84,38
82,57
79,38
79,22
81,44
Mei
82,44
80,88
84,30
82,00
81,27
80,67
81,93
Juni
80,86
81,21
81,59
81,59
79,56
79,44
80,71
2013
Juli
73,63
74,57
76,47
80,46
77,58
78,49
76,87
Agustus
77,50
79,50
72,50
79,63
75,88
77,00
77,00
September
70,79
72,00
72,10
81,33
88,00
81,00
77,54
Oktober
74,56
74,86
70,76
84,77
86,75
81,45
78,86
Nopember
80,44
78,93
74,69
86,65
84,66
81,67
81,17
Desember
82,25
84,07
83,25
91,13
84,00
80,25
84,16
Rata – rata
77,96
79,33
77,07
83,38
81,62
80,47
79,97
Fruit Set
Fruit Set
Data Fruit Set pada tabel diatas diambil
pada tahun 2012 mulai dari bulan Juni.
Fruit Set awal aplikasi HATCH AND
CARRY pada Afdeling I 58,87%. Setelah
pengaplikasian HATCH AND CARRY Fruit
Set selama 6 bulan meningkat menjadi
83,94 % pada bulan Desember 2012.
Peningkatan Fruit Set setelah 6 bulan
aplikasi sebesar 25,07 %.
100
80
60
40
20
0
Juni
Januari
Desember
2012
2013

Gambar 12. Grafik Fruitset Bulan Juni Desember 2012 2013

Jurnal Tugas Akhir STIPAP 2014

Data Fruit Set pada gambar grafik 12 diatas diambil pada tahun 2012 mulai dari bulan Juni. Fruit Set awal aplikasi HATCH AND CARRY pada Afdeling I 58,87%. Setelah pengaplikasian HATCH AND CARRY Fruit Set selama 6 bulan meningkat menjadi 83,94 % pada bulan Desember 2012 dan

Tabel 13. Data Fruit Set PT. Binanga Mandala Afdeling I

2014

meningkat

menjadi

84,16%

pada

bulan

Desember 2013.

Data Fruit Set hasil pengamatan yang telah dilakukan oleh Afdeling I Kebun Aek Kulim PT. Binanga Mandala mulai bulan Maret - Mei tahun 2014 diuraikan pada tabel 13.

Bulan Maret Mei

     

Blok

   

Tahun

Bulan

I

II

III

IV

V.A

V.B

Rata

rata

     

Persentase

 
 

Maret

92,50

93,50

90,25

96,00

93,00

92,50

93,50

2014

April

91,25

85,50

87,50

89,25

93,25

88,75

85,50

Mei

88,25

89,75

72,00

86,25

86,75

79,00

89,75

Rata - rata

90,67

89,58

83,25

90,50

91,00

86,75

89,58

Dari tabel 13 dapat dilihat bahwa Fruit Set pada PT. Binanga Mandala Afdeling I Kebun Aek Kulim berkisar antara 85 95%, dengan rata rata Fruit Set tertinggi pada bulan maret yaitu 93,50% dan terendah pada bulan april yaitu 85,50%. Rata rata Fruit Set pada bulan Maret Mei 2014 adalah 89,58%.

Tabel 14. Data Produksi TBS PT. Binanga Mandala Afdeling I Tahun 2012

H. Produksi TBS Pada penelitian ini data produksi TBS yang digunakan merupakan hasil pengamatan yang telah dilakukan oleh PT. Binanga Mandala Afdeling I Kebun Aek Kulim tahun 2012, 2013 dan bulan Maret sampai Mei 2014 dengan uraian yang terdapat pada tabel 14 dan 15.

     

Blok

 

Total

(Kg)

Tahun

Bulan

I

II

III

IV

V.A

V.B

29,01

20,44

19,99

22,53

23,57

18,08

 

Januari

27.130

17.100

13.920

30.020

45.270

35.820

169.260

Pebruari

23.020

19.390

18.920

23.450

36.530

24.380

145.690

Maret

33.640

25.790

24.390

30.400

39.070

43.950

197.240

April

30.740

23.390

23.980

34.300

40.510

23.020

175.940

Mei

36.610

22.940

14.180

22.260

26.830

23.060

145.880

Juni

38.210

35.510

34.440

32.420

24.710

19.910

185.200

2012

Semester I

189.350

144.120

129.830

172.850

212.920

170.140

1.019.210

Juli

50.730

24.740

25.860

35.020

22.020

31.060

189.430

 

Agustus

50.650

33.890

36.810

68.010

43.140

41.080

273.580

September

59.757

35.505

35.055

50.294

54.115

48.654

283.380

Oktober

48.700

31.830

32.130

43.870

79.490

47.080

283.100

November

51.480

35.230

43.060

40.010

68.870

54.420

293.070

Desember

56.668

29.380

35.560

46.160

83.162

77.800

328.730

Semester II

317.985

190.575

208.475

283.364

350.797

300.094

1.651.290

 

Total

507.335

334.695

338.305

456.214

563.717

470.234

2.670.500

Jurnal Tugas Akhir STIPAP 2014

Dari tabel 14 dapat dilihat bahwa produksi Semester I tahun 2012 adalah

1.019.210 Kg dan Semester II 1.615.290 Kg

dengan total produksi tahun 2012 adalah

2.670.500 Kg. Dari tabel 14 dapat diketahui

bahwa pencapaian produksi TBS perhektar PT. Binanga Mandala Afdeling I Kebun Aek

Kulim adalah 19.986 Kg/Ha.

Produksi

Produksi 350,000 300,000 250,000 200,000 150,000 100,000 50,000 -
Produksi
350,000
300,000
250,000
200,000
150,000
100,000
50,000
-

Januari

Gambar 13. Grafik Produksi PT. Binanga Mandala Afdeling I Tahun 2012

Dari gambar grafik produksi PT. Binanga Mandala Afdeling I tahun 2012 bahwa produksi tertinggi terdapat pada bulan Desember yaitu 328.730 Kg, sedangkan produksi terendah terdapat pada bulan Februari dan Mei yaitu 145.690 Kg dan 145.880 Kg. Rata rata produksi TBS PT. Binanga Mandala Afdeling I tahun 2012 adalah 222.542 Kg/Bulan. Data produksi TBS PT. Binanga Mandala Afdeling I tahun 2013 dan bulan

Maret sampai Mei 2014 diuraikan pada tabel

15.

Tabel 15. Data Produksi TBS PT. Binanga Mandala Afdeling I Tahun 2013 dan Bulan Maret Sampai Mei 2014.

     

Blok

 

Total

(Kg)

Tahun

Bulan

I

II

III

IV

V.A

V.B

29,01

20,44

19,99

22,53

23,57

18,08

 

Januari

37.000

24.171

27.092

27.079

28.322

59.986

203.650

Pebruari

34.301

26.388

33.617

40.932

51.562

45.840

232.640

Maret

56.525

33.269

29.625

26.959

66.780

66.632

279.790

April

51.312

32.749

41.223

39.100

57.357

57.309

279.050

Mei

44.633

26.564

35.797

33.278

51.587

33.921

225.780

Juni

70.990

44.860

39.570

27.220

44.900

35.160

262.700

2013 Juli

Semester I

294.761

188.001

206.924

194.568

300.508

298.848

1.483.610

 

79.190

69.480

55.150

41.660

68.430

50.170

364.080

 

Agustus

69.660

40.220

37.010

43.070

55.170

51.300

296.430

September

68.840

40.540

36.720

40.460

80.090

26.820

293.470

Oktober

82.420

35.620

44.040

69.430

82.080

36.650

350.240

November

52.690

35.340

38.060

38.260

67.010

43.160

274.520

Desember

29.770

32.620

38.670

40.800

60.940

33.650

236.450

Semester II

382.570

253.820

249.650

273.680

413.720

241.750

1.815.190

Total (Kg)

677.331

441.821

456.574

468.248

714.228

540.598

3.298.800

 

Mar

36.230

23.440

21.400

48.680

58.570

49.610

237.930

2014 Apr

 

35.650

22.060

22.940

46.230

44.780

46.900

218.560

Mei

57.410

30.540

31.390

39.040

55.670

41.400

255.450

Total (Kg)

129.290

76.040

75.730

133.950

159.020

137.910

711.940

Jurnal Tugas Akhir STIPAP 2014

Dari tabel 15 dapat dilihat bahwa produksi Semester I tahun 2013 adalah

1.483.610 Kg dan Semester II 1.815.190 Kg

dengan total produksi tahun 2012 adalah

3.298.800 Kg. Dari tabel 13 dapat diketahui

bahwa pencapaian produksi TBS perhektar

PT. Binanga Mandala Afdeling I Kebun Aek Kulim adalah 24.688 Kg/Ha. Dari tabel 15 dapat dilihat bahwa total produksi bulan Maret sampai Mei 2014 adalah 711.940 Kg dengan potensi produksi hektar perbulan adalah 5.328 kg.

Produksi

Produksi 400000 350000 300000 250000 200000 150000 100000 50000 0 Januari Desember
Produksi
400000
350000
300000
250000
200000
150000
100000
50000
0
Januari
Desember

Gambar 14. Grafik Produksi TBS PT. Binanga Mandala Tahun 2013

Dari gambar grafik produksi TBS PT. Binanga Mandala Afdeling I tahun 2013 produksi tertinggi terdapat pada bulan Juli yaitu 364.080 Kg. Sedangkan produksi

terendah terdapat pada bulan Januari yaitu 203.650 Kg. Rata rata produksi pada tahun 2013 adalah 274.900 Kg TBS/Bulan.

Produksi

Produksi 400,000 350,000 300,000 250,000 200,000 150,000 100,000 50,000 - Januari Desember 2012 2013
Produksi
400,000
350,000
300,000
250,000
200,000
150,000
100,000
50,000
-
Januari
Desember
2012
2013

Gambar 15. Grafik Produksi TBS PT. Binanga Mandala Tahun 2012 dan 2013

Jurnal Tugas Akhir STIPAP 2014

Dari gambar grafik produksi TBS PT. Binanga Mandala Afdeling I tahun 2012 dan 2013 dapat dilihat produksi tertinggi terdapat pada bulan Juni tahun 2013 dengan total produksi 364.080 Kg TBS, sedangkan produksi terendah terdapat pada bulan Februari tahhun 2012 dengan total produksi 145.690 Kg TBS. Rata rata produksi pada tahun 2012 adalah 222.542 Kg TBS/Bulan dan rata rata produksi pada tahun 2013 adalah 274.900 Kg TBS/Bulan.

Dari rata rata produksi TBS tahun 2012 dan 2013 dapat dilihat penigkatan rata rata produksi TBS/Bulan mencapai 52.358 KG TBS/Bulan.

I. Hubungan Sex Ratio Fruit Set dan

Produksi Pada penelitian ini hubungan antara Sex Ratio, Fruit Set dan Produksi PT. Binanga Mandala Afdeling I Kebun Aek Kulim bulan Juli tahun 2012 sampai bulan Desember tahun 2013 diuraikan pada tabel

16.

Tabel 16. Hubungan Sex Ratio, Fruit Set dan Produksi PT. Binanga Mandala

Tahun

Bulan

Sex Ratio (%)

Fruit Set (%)

Produksi (Kg)

 

Juli

88,71

60,43

189.430

Agustus

86,88

65,06

273.580

2012

September

85,69

70,00

283.380

Oktober

85,06

73,31

283.100

 

November

86,90

81,14

293.070

Desember

86,65

83,94

328.730

Rata rata

87,16

70,39

275.215

 

Januari

86,15

80,45

203.650

Februari

87,69

79,29

232.640

Maret

88,04

80,27

279.790

April

88,19

81,44

279.050

Mei

89,67

81,93

225.780

2013

Juni

85,35

80,71

262.700

Juli

91,38

76,87

364.080

 

Agustus

90,52

77,00

296.430

September

93,77

77,54

293.470

Oktober

90,96

78,86

350.240

November

92,08

81,17

274.520

Desember

92,60

84,16

236.450

Rata - rata

89,70

79,97

274.900

 

Maret

95,38

93,50

237.930

2014

April

97,72

85,50

218.560

Mei

94,76

89,75

255.450

Rata - rata

95,96

89,58

237.313

Dari tabel hubungan antara Sex Ratio, fruitset dan produksi pada bulan Juli sampai Desember tahun 2012 dapat dilihat

adalah

87,16%, dengan rata-rata Fruit Set adalah

bahwa rata-rata Sex Ratio

Jurnal Tugas Akhir STIPAP 2014

70,39% dan capaian produksi adalah

275.215 Kg/Blok/Bulan.

Dari tabel hubungan antara Sex Ratio, fruitset dan produksi pada bulan Januari sampai Desember tahun 2013 dapat dilihat bahwa rata-rata Sex Ratio adalah 89,70%, dengan rata-rata Fruit Set adalah 79,97% dan capaian produksi adalah

274.900 Kg/Blok/Bulan.

Dari tabel hubungan antara Sex Ratio, fruitset dan produksi pada bulan Maret sampai Mei 2014 dapat dilihat bahwa rata-rata Sex Ratio adalah 95,96%, dengan rata-rata Fruit Set adalah 89,58% dan capaian produksi adalah 237.313 Kg/Blok/Bulan.

400 350 300 250 200 150 100 50 0 Juli Desember 2012 2013 Sex ratio
400
350
300
250
200
150
100
50
0
Juli
Desember
2012
2013
Sex ratio (%)
Fruit Set (%)
Produksi (Ton)

Gambar 16. Grafik Hubungan Sex Ratio, Fruit Set dan Produksi PT. Binanga Mandala Afdeling I Tahun 2012 Sampai 2013.

dengan Sex Ratio 88,71% dan Fruit Set

Dari gambar grafik hubungan Sex Ratio, Fruit Set dan Produksi PT. Binanga Mandala tahun 2012 sampai tahun 2013 dapat dilihat produksi tertinggi pada bulan Juli tahun 2013 yaitu 364.080 Kg dengan Sex Ratio 91,38% dan Fruit Set 76,87%. Sedangkan produksi terendah terdapat pada bulan Juli tahun 2012 yaitu 189.430 Kg

Tabel 17. Data Rekapitulasi Hasil Pengamatan Bulan Maret sampai Mei 2014

60,43%.

Data hasil pengamatan Sex Ratio, Serangga Penyerbuk Kelapa Sawit Elaeidobius kamerunicus, Fruit Set dan Produksi PT. Binanga Mandala Afdeling I Kebun Aek Kulim, data hasil pengamatan bulan Maret sampai Mei 2014 diuraikan pada tabel 17.

   

Sex Ratio

SPKS

Fruit Set

Produksi

Tahun

Bulan

(%)

(Ekor)

(%)

Kg)

 

Maret

95,38

97.364

93,50

237.930

2014

April

97,72

125.166

85,50

218.560

Mei

94,76

62.101

89,75

255.450

Rata rata

95,96

94.877

89,58

237.313

Jurnal Tugas Akhir STIPAP 2014

Dari data pengamatan terhadap Sex Ratio, jumlah SPKS, persentase Fruitset dan produksi dapat dilihat rata rata Sex Ratio 95,96%, rata rata SPKS Elaeidobius kamerunicus 94.877 ekor, rata rata Fruit Set 89,58%. rata rata produksi bulan Maret sampai Mei 2014 adalah 237.313 Kg/Blok/Bulan.

V. KESIMPULAN DAN SARAN

1. Kesimpulan

1. Penyerbukan bantuan dilakukan berdasarkan pertimbangan nilai Fruit Set (< 75%), Sex Ratio ( 80 95%), jumlah bunga jantan anthesis minimal 2 tandan/Ha dan populasi SPKS minimal

20.000ekor/Ha.

2. Fruit Set awal Afdeling I Kebun Aek Kulim PT. Binanga Mandala pada bulan Juli 2012 sebelum aplikasi adalah 58.87%, dan setelah diaplikasi sampai Desember 2013 fruitset meningkat menjadi 84,16%.

2. Saran

1. Aplikasi teknik HATCH AND CARRY baik dilakukan untuk meningkatkan Fruit Set kelapa sawit pada daerah pengembangan kelapa sawit baru dengan tingkat populasi Elaeidobius kamerunicus yang masih rendah dan pada varietas kelapa sawit yang memiliki bunga jantan yang cendrung rendah pada umur tertentu.

2. Penyediaan polen yang akan digunakan pada pengaplikasian HATCH AND CARRY merupakan polen yang produktif.

DAFTAR PUSTAKA

Agus S. Roietha dan Agus Eko. 2007. Elaeidobius kamerunicus . Serangga Penyerbuk Kelapa Sawit Pusat Penelitian Kelapa Sawit . Medan.

Anonim. 1987. Vademecum Kelapa Sawit PT. Perkebunan IV. Instruksi No. 041/Instr/3/1987. Gunung Pamela. Tebing Tinggi Deli.

Chairam,Masra et al. 2008. Pengaruh Pemasukan Kumbang Elaeidobius Kamerunicus Terhadap Komponen Tandan Kelapa Sawit Selama Limah Tahun . Buletin Perkebunan. No. 2, Vol. 20, agustus 2008.

Hartanto H. 2011. Sukses Besar Budi Daya Kelapa Sawit. Cetakan I. Yogyakarta: Citra Media Publishing.

Lubis A. U. 2008. Kelapa Sawit (Elaeiis guineensis Jacq) di Indonesia. Pusat Penelitian Perkebunan Marihat Bandar Kuala. Marihat Ulu. Pematang Siantar Sumatra Utara.

Pahan I. 2011. Panduan Lengkap Kelapa Sawit Manajemen Agribisnis dari Hulu hingga Hilir. Cetakan 11. Jakarta: Penebar Swadaya.

Prasetyo A. E, Supriyadi dan Agus Susanto. 2012. Fruit Set Kelapa Sawit Naik 30% dengan HATCH AND CARRY. Warta Pusat Penelitian Kelapa Sawit vol 17 (1): 1 4. Pusat Penelitian Kelapa Sawit Medan.

Prasetyo E. A dan Agus Sutanto. 2012. Meningkatkan Fruit Set Kelapa Sawit dengan Teknik HATCH AND CARRY Elaeidobius kamerunicus .

Jurnal Tugas Akhir STIPAP 2014

Seri Kelapa Sawit Populer 11. Pusat Penelitian Kelapa Sawit Medan.

Sunarko. 2007. Petunjuk Praktis Budi Daya & Pengolahan Kelapa Sawit, Cetakan I Jakarta: Penebar Swadaya.

Yan Fauzy . 2012. Varietas & Ekologi Kelapa Sawit. Cetakan I Jakarta:

Penebar Swadaya.

Dravel Marjon, Aslim Rasyat dan GME Manurung. 2012. Efektivitas Sistem Penyerbukan Tanaman Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq) Pada Berbagai Kemiringan. Jurnal Teknobiologi III (2) : 79 83. Fakultas Pertanian Universitas Riau.