Anda di halaman 1dari 20

MAKALAH pendekatan teologis dan pendekatan filosofis dalam kajian islam,

KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah Yang Maha
Kuasa. Hanya berkat rahmat, taufiq dan hidayah-NYA, sehingga makalah
ini dapat terselesaikan dengan lancar, baik dan tepat waktu. Sholawat
serta salam senantiasa tersanjungkan kepangkuan Rasululloh Saw.
beserta keluarga, sahabat-sahabatnya dan para pengikutnya yang telah
membawa kita dari jalan yang gelap gulita ke jalan yang terang
benderang ke jalan agama islam.
Penulisan makalah ini guna melengkapi / memenuhi salah satu tugas
mata kuliah METODOLOGI STUDI ISLAM. Dengan terselesaikannya
makalah yang berjudul Pendekatan Teologis dan Pendekatan Filosofis
dalam

Kajian

menyampaikan

Islam

Teori

terimakasih

dan

Praktik

kepada

penulis

semua

pihak

dengan

ikhlas

yang

telah

membantunya baik langsung maupun tidak langsung khususnya kepada


dosen pengampu Mata Kuliah METODOLOGI STUDI ISLAM, Bp.
MIFTAHUL HUDA, M. Ag
Sebagai manusia biasa yang tak lepas dari kekhilafan, demi
perbaikan makalah ini selalu di harapkan kritik dan saran dari semua
pihak. Semoga makalah ini bermafaat bagi penulis khususnya dan bagi
para pembaca pada umumnya.
Akhirul kalam semoga segala usaha kita dalam peningkatan mutu
pendidikan mendapat ridho dari Allah SWT amin.

BAB I
PENDAHULUAN
Agama sering dipahami sebagai sumber gambaran-gambaran yang
sesunguhnya tentang dunia ini, sebab ia diyakini berasal dari wahyu yang
diturunkan oleh untuk semua manusia. namun, dewasa ini, agama kerap
kali dikritik karena tidak dapat mengakomidir segala kebutuhan manusia,
bahkan agama dianggap sebagai sesuatu yang menakutkan, karena
berangkat dari sanalah tumbuh berbagai macam konflik, pertentangan
yang terus meminta korban. Kemudian sebagai tanggapan atas kritik itu,
orang mulai mempertanyakan kembali dan mencari hubungan yang paling
otentik antara agama dengan masalah-masalah kehidupan sosial budaya
kemasyarakatan yang berlaku dewasa ini. Apa yang menjadi kritik
terhadap agama adalah bahwa agama, tepatnya pemikiran-pemikiran
keagamaannya terlalu menitik beratkan pada struktur-struktur logis
argument tekstual (mormative). Ini berarti mengabaikan segala sesuatu
yang membuat agama dihayati secara semestinya. Struktur logis tidak
pernah berhubungan dengan tema-tema yang menyangkut tradisi,
kehidupan sosial dan kenyataan-kenyataan yang ada di masyarakat.
Agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw, diyakini dapat
menjamin terwujudnya kehidupan manusia yang sejahtera lahir dan batin.
Di dalamnya terdapat berbagai petunjuk tentang bagaimana seharusnya
manusia itu menyikapi hidup dan kehidupan ini secara lebih bermakna
dalam arti yang seluas-luasnya. Seiring perubahan waktu dan
perkembangan zaman , agama semakin dituntut agar ikut terlibat secara
aktif di dalam memecahkan berbagai masalah yang dihadapi manusia.
agama tidak boleh hanya sekedar menjadi lambang kesalehan atau
berhenti sekedar di sampaikan dalam khotbah, melainkan secara
konsepsional menunjukkan cara-cara yang paling efektif dalam
memecahkan masalah.
Melihat kenyataan semacam ini, maka diperlukan rekonstruksi
pemikiran keagamaan, khususnya berkaitan dengan pendekatapendekatan teologis dan pendekatan filosofis.

BAB II
PEMBAHASAN
1.
Definisi pendekatan
Secara etimologi pendekatan adalah derivasi kata dekat, artinya tidak jauh, setelah
mendapat awalan pe dan akhiran an maka artinya (a) proses, perbuatan, cara mendekati (b)
usaha dalam rangka aktivitas penelitian untuk mengadakan hubungan dengan orang yang
diteliti atau metode-metode untuk mencapai pengertian tentang masalah penelitian.
Pendekatan dari sudut terminologi adalah cara pandang atau paradigma yang terdapat dalam
suatu bidang ilmu yang selanjutnya digunakan dalam memahami agama. Dari keterangan di
atas, dapat kita pahami bahwa pendekatan terhadap objek pengkajian perlu dimasyarakatkan
guna mendapatkan keterangan ilmiah seiring dengan tuntunan zaman1[1].
2.
Berbagai pendekatan dalam studi islam
Berbagai pendekatan tersebut meliputi pendekatan teologis normatif, antropologis, sosiologis,
filosofis, historis, kebudayaan dan pendekatan psikologi. Adapun yang dimaksud pendekatan
disini adalah cara pandang atau pradigma yang terdapat dalam suatu bidang ilmu yang
selanjutnya digunakan dalam memahami agama.
a. Pendekatan teologis normatif
Pendekatan teologis normatif dalam memahami agama secara harfiah dapat diartikan
sebagai upaya memahami agama dengan menggunakan kerangka ilmu ketuhanan yang
bertolak dari suatu keyakinan bahwa wujud empirik dari suatu keagamaan dianggap sebagai
yang paling benar dibandingkan yang lainnya. Amin Abdullah mengatakan, bahwa teologi,
sebagaimana kita ketahui, tidak bisa tidak pasti mengacu kepada agama tertentu. Loyalitas
terhadap kelompok sendiri, komitmen, dan dedikasi yang tinggi serta penggunaan bahasa
yang bersifat subjektif, yakni bahasa sebagai pelaku, bukan sebagai pengamat adalah
merupakan ciri yang melekat pada bentuk pemikiran teologis.2[2]
Dalam islam, secara tradisional, dapat dijumpai telogi mutazilah, teologi teologi
Asyariah, dan maturidiyah. Dan sebelumnya terdapat pula teologi bernama Khawarij dan
Murjiah. Berkenaan dengan pendekatan teologi semata-mata tidak dapat memcahkan
masalah esensial pluralitas agama saat sekarang ini. Terlebih-lebih lagi kenyataan demikian
harus ditambahkan bahwa doktrin teologi, pada dasarnya memang tidak pernah berdiri
1[1] Mushlihin al-Hafizh.Definisi Pendekatan.
http://www.referensimakalah.com/2012/01/definisi-pendekatan_7827.html (1 juli 2011).
Di Akses, 29 Maret 2013.

2[2] . Abudin Nata, Metodologi Studi islam, (Jakarta: Rajawali Pers, 2010), hlm.
28.

sendiri, terlepas dari jaringan institusi atau kelembagaan sosial kemasyarakatan yang
mendukung keberadaannya. Kepentingan ekonomi, sosial, politik, pertahanan selalu
menyertai pemikiran teologis yang sudah mengelompok dan mengkristal dalam satu
komunitas masyarakat tertentu.
Pendekatan teologis ini selanjutnya erat kaitannya dengan pendekatan normatif, yaitu
suatu pendekatan yang memandang agama dari segi ajarannya yang pokok dan asli dari
Tuhan yang didalamnya belum terdapat penalaran pemikiran manusia. dalam pendekatan
teologis ini agama di lihat sebagai suatu kebenaran mutlak dari Tuhan, tidak ada kekuarangan
sedikit pun dan tampak bersikap ideal. Dalam kaitan ini agama tampil sangat prima dengan
seperangkat cirinya yang khas. Untuk agama Islam misalnya, secara normatif pasti benar,
menjunjung nilai-nilai luhur. Untuk bidang sosial, agama tampil menawarkan nilai-nilai
kemanusiaan, kebersamaan, kejujuran, kesetiakawanan, tolong menolong, tenggang rasa,
persamaan derajat dan sebagainya.3[3]
b. Pendekatan Antropologis
Pendekatan antropologis dalam memahami agama dapat diartikan sebagai salah satu upaya
memahami agama dengan cara melihat wujud praktik keagamaan yang tumbuh dan
berkembang dalam masyarakat. Melalui pendekatan ini agama tampak akrab dan dekat
dengan masalah-masalah yang dihadapi manusia dan berupaya menjelaskan dan memberikan
jawabannya.4[4] Melalui pendekatan antropologis sebagaimana tersebut, terlihat dengan jelas
hubungan agama dengan berbagai masalah kehidupan manusia, dan dengan itu pula agama
terlihat akrab dan fungsional dengan berbagai fenomena kehidupan manusia.5[5]
Pendekatan antropologis seperti itu diperlukan adanya, sebab banyak berbagai hal yang
dibicarakan agama hanya bisa dijelaskan dengan tuntas melalui pendekatan antropologis.
Dalam Alquran Al-karim, sebagai sumber utama ajaran islam misalnya kita memperoleh
informasi tentang kapal Nabi Nuh di gunung Arafat, kisah Ashabul Kahfi yang dapat bertahan
hidup dalam gua lebih dari tiga ratus tahun lamanya. Di mana kira-kiranya bangkai kapal
Nabi Nuh itu; di mana kira-kira Gua itu; dan bagaimana pula bisa terjadi hal yang
menakjubkan itu; ataukah hal yang demikian merupakan kisah yang fiktif. Tentu masih

3[3] . Ibid., Hlm. 35.


4[4] . Ibid.
5[5] . Ibid., Hlm. 38.

banyak lagi contoh lain yang hanya dapat dijelaskan dengan bantuan ahli geografi dan
arkeologi.6[6]
Dengan demikian, pendekatan antropologi sangat dibutuhakan dalam memahami ajaran
agama, karena dalam ajaran agama tersebut terdapat uraian dan informasi yang dapat
dijelaskan lewat bantuan ilmu antropologi dengan cabang-cabangnya.
c. Pendekatan Sosiologis
Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hidup bersama dalam masyarakat dan meyelidiki
ikatan-ikatan atara manusia yang menguasai hidupnya itu. Sosiologi mencoba mengerti sifat
dan maksud hidup bersama, cara terbentuk dan tumbuh serta berubahnya perserikatanperserikatan hidup itu serta pula kepercayaannya, keyakinan yang memberi sifat tersendiri,
kepada cara hidup bersama itu dalam tiap persekutuan hidup manusia.7[7]
Sosiologi dapat digunakan sebagai salah satu pendekatan dalam memhamia agama. Hal
demikian dapat dimengerti, karena banyak bidang kajian agama yang baru dapat dipahami
secara proporsional dan tepat apabila menggunakan jasa bantuan ilmu sosiologi. Dalam
agama islam dapat dijumpai peristiwa Nabi yusuf yang dahulu budak lalu akhirnya bisa
menjadi penguasa Mesir. Mengapa dalam tugasnya Nabi Musa harus di bantu oleh Nabi
Harun. Beberapa peristiwa tersebut baru dapat dijawab dan sekaligus dapat ditemukan
hikmahnya dengan bantuan ilmu sosial. Tanpa ilmu sosial peristiwa-peristiwa tersebut sulit
dijelaskan dan sulit pula di pahami maksudnya. Di sinilah letaknya sosiologi sebagai salah
satu alat dalam memahami ajaran agama.
Melalui pendekatan sosiologis agama akan dapat dipahami dengan mudah, karena
agama itu sendiri diturunkan untuk kepentingan sosial. Dalam Alquran misalnya kita jumpai
ayat-ayat berkenaan dengan hubungan manusia dengan manusia lainnya., sebab-sebab yang
terjadinya kemakuran suatu bangsa, dan sebab-sebab yang menyebabkan terjadinya
kesengsaraan. Semua itu jelas baru dapat dijelaskan apabila yang memahaminya mengetahui
sejarah sosial pada saat ajaran agama itu diturunkan.8[8]

d. Pendekatan Filosofis

6[6] . Ibid.
7[7] . Ibid., Hlm. 39.
8[8] . Ibid., Hlm. 42.

Secara harfiah, kata filsafat berasal dari kata philio yang berarti cinta kepada kebenaran,
ilmu, dan hikmah. Selain itu filsafat dapat pula berarti mencari hakikat sesuatu, berusaha
menautkan sebab dan akibat serta berusaha menafsirkan pengalaman-pengalaman manusia. 9
[9]
Pengertian filsafat yang umunya digunakan adalah pendapat yang dikemukakan Sidi
Gazalba. Menurutnya filsafat adalah berpikir secara mendalam, sistematik, radikal dan
universal dalam rangka mencari kebenaran, inti, hikmah, atau hakikat mengenai segala
sesuatu yang ada.10[10]
Berpikir secara filosofis tersebut selanjutnya dapat digunakan dalam
memahami ajaran agama, dengan maksud agar hikmah, hakikat atau inti
dari ajaran agama, dengan maksud agar hikmah, hakikat atau inti dari
ajaran agama dapat dimengerti dan dipahami secara saksama.
Pendekatan filosofis yang demikian itu sebenarnya sudah banyak
dilakukan oleh para ahli. Kita misalnya membaca kitab berjudul Hikmah
Al-Tasyri wa Falsafatubu yang ditulis oleh Muhammad Al-Jurjawi. Dalam
buku tersebut Al-Jurjawi berupaya mengungkapkan hikmah yang terdapat
di balik ajaran-ajaran agama islam. Ajaran agama islam misalnya
mengajarkan agar melaksanakan salat berjamaah. Tujuannya antara lain
agar seseorang merasakan hikmahnya hidup secara berdampingan
dengan orang lain.11[11]
e.

Pendekatan Historis
Sejarah atau historis adalah ilmu yang di dalamnya dibahas berbagai
peristiwa dengan memperhatikan unsur tempat, waktu, objek, latar
belakang dan pelaku dari peristiwa tersebut.12[12] Menurtu ilmu ini, segala
peristiwa dapat dilacak dengan melihat kapan peristiwa itu terjadi, di
mana, apa sebabnya, siapa yang terlibat dalam peristiwa tersebut.
Pendekatan kesejarahan ini amat dibutuhkan dalam memahami agama,
karena agama itu sendiri turun dalam situasi yang konkret bahkan
9[9] . Ibid.
10[10] . Ibid.
11[11] . Ibid., Hlm. 43
12[12] . Ibid., Hlm. 46

berkaitan dengan kondisi sosial kemasyarakatan. Dalam hubungan ini,


kuntowijoyo telah melakukan studi yang mendalam terhadap agama
dalam hal ini islam, menurut pendekatan sejarah. Ketika ia mempelajari
Alquran ia sampai pada suatu kesimpulan bahwa pada dasarnya
kandungan Alquran itu terbagi menjadi dua bagian. Bagian pertama
berisis konsep-konsep dan bagian kedua , berisi kisah-kisah sejarah dan
perumpamaan.
Melalui pendekatan sejarah ini seseorang diajak untuk memasuki
keadaan yang sebenarnya berkenaan dengan penerapan suatu peristiwa.
Dari sini, maka seseorang tidak akan memhami agama keluar dari konteks
historisnya, karena pemahaman demikian itu akan menyesatkan orang
yang memahaminya. Seorang yang ingin memahami Alquran secara
benar, misalnya, yang bersangkutan harus mempelajari sejarah turunnya
Alquran atau kejadian-kejadian yang mengiringi turunnya Alquran yang
selanjutnya disebut sebagai Ilmu Asbab al-Nuzul yang intinya berisi
sejarah turunnya ayat Alquran. Dengan ilmu ini seseorang akan dapat
mengetahui hikmah yang terkandung dalam suatu ayat berkenaan
dengan hukum tertentu dan ditujukan untuk memelihara syariat dari
kekeliruan memahaminya.13[13]
f. Pendekatan Kebudayaan
Dalam KBBI, kebudayaan diartikan sebagai hasil kegiatan dan
penciptaan batin (akal budi) manusia seperti kepercayaan, kesenian, adat
istiadat; dan berarti pula kegiatan (usaha) batin (akal dan sebagainya)
untuk menciptakan sesuatu yang termasuk hasil kebudayaan.14[14]
Dengan demikian, kebudayaan adalah hasil daya cipta manusia dengan
menggunakan dan mengarahkan segenap potensi batin yang dimilikinya.
Di dalam kebudayaan tersebut terdapat pengetahuan, keyakinan, seni,
moral, adat istiadat, dan sebagainya. Kesemuanya itu selanjutnya
digunakan sebagai kerangka acuan oleh seseorang dalam menjawab
berbagai masalah yang dihadapinya. Dengan demikian, kebudayaan
tampil sebagai pranata yang secara terus menerus dipelihara oleh para
13[13] . Ibid., Hlm. 48
14[14] . Ibid., Hlm. 49

pembentuknya dan generasi selanjutnya yang diwarisi kebudayaan


tersebut.15[15]
Kebudayaan yang demikian selanjutnya dapat pula digunakan untuk
memahami agama yang terdapat pada tataran empiris atau agama yang
tampil dalam bentuk formal yang menggejala di masyarakat. Kita
misalnya menjumpai kebudayaan berpakaian, bergaul bermasyarakat dan
sebagainya. Dalam produk kebudayaan tersebut, unsur agama ikut
berintregasi. Pakaian model jilbab, kebaya dan lainnya dapat dijumpai
dalam pengalaman agama. Sebaliknya, tanpa adanya unsur budaya,
maka agama akan sulit di lihat cocoknya secara jelas.
g. Pendekatan Psikologi
Psikologi atau ilmu jiwa adalah ilmu yang mempelajari jiwa seseorang
melalui gejala perilaku yang dapat diamatinya. Menurut Zakiah Daradjat.16
[16] Periaku seseorang yang tampak lahiriah terjadi karena dipengaruhi
oleh keyakinan yang dianutnya. Seseorang ketika berjumpa saling
mengucapkan salam, hormat kepada orang tua, kepada guru, menutup
aurat, rela berkorban untuk kebenaran, dan sebagainya merupakan
gejala-gejala keagamaan yang dapat dijelaskan melalui ilmu jiwa agama.
Kita misalnya dapat mengatahui pengaruh dari salat, puasa, zakat, haji,
dan ibadah lainnya dengan melalui ilmu jiwa. Dengan pengetahuan ini
maka dapat disusun langkah-langkah baru yang lebih efisien lagi dalam
menanamkan ajaran agama. Itulah sebabnya ilmu jiwa ini banyak
digunakan sebagai alat untuk menjelaskan gejala atau sikap keagamaan
seseorang.
3. PENDEKATAN TEOLOGIS DALAM KAJIAN ISLAM
a. Pengertian telogis dan Tinjauan Historis
Menurut Amin Abdullah, teologi ialah suatu ilmu yang membahas
tentang keyakinan, yaitu sesuatu yang sangat fundamental dalam
kehidupan beragama, yakni suatu ilmu pengetahuan yang paling
otoritatif, dimana semua hasil penelitian dan pemikiran harus sesuai

15[15] . Ibid.
16[16] . Ibid., Hlm. 50

dengan alur pemikiran teologis, dan jika terjadi perselisihan, maka


pandangan keagamaan yang harus dimenangkan.17[17]
Teologi islam yang diajarkan diindonesia pada umumnya adalah teologi
dalam bentuk ilmu tauhid. Ilmu tauhid biasanya kurang mendalam dalam
pembahasannya dan kurang bersifat filosofis. Selanjutnya, ilmu tauhid
biasnya memberi pembahasan sepihak dan tidak mengemukakan
pendapat dan paham dari aliran-aliran atau golongan-golongan lain yang
ada dalam teologi Islam.
b. Perkembangan Teologi Islam
Dalam sejarah Islam, khususnya dalam perkembangan teologi islam
di dunia islam dibagi kedalam tiga periode atau zaman, yang mana dalam
setiap zaman teologi islam tersebut memiliki karakteristik atau ciri-ciri
tersendiri yang membedakan antara hasil pemikiran teologis zaman yang
satu dengan zaman yang lainnya. Zaman tersebut meliputi : zaman klasik
(650-1250 M), zaman pertengahan (1250-1800 M) dan zaman modern
(1800 dan seterusnya).18[18]
Ulama pada zaman klasik ini cenderung memakai metode berfikir
rasional, ilmiah dan filosofis. Dan yang cocok dengan metode berfikir ini
adalah filsafat qadariyah yang menggambarkan kebebasan manusia
dalam kehendak dan perbuatan. Karena itu, sikap umat islam zaman itu
adalah dinamis, orientasi dunia mereka tidak dikalahkan oleh akhirat.
Keduanya berjalan seimbang. Tidak mengherankan kemudian kalau pada
zaman klasik itu, soal dunia dan akhirat sama sama dipentingkandan
produktivitas umat islam berbagai bidang meningkat pesat. Sehingga
dalam sejarah islam masa klasik tersebut disebut sebagai masa keemasan
dalam perkembangan keilmuan islam, khususnya bidang teologi.
Zaman pertengahan (1250-1800). Pada masa inilah, dunia islam
justru memasuki zaman pertengahan, yang merupakan zaman
kemunduran dalam berbagai hal, begitu pula dengan pemikiran teologi
islam. Teologi dengan pemikiran rasional, filosofis dan ilmiah itu hilang
17[17] . Amin Abdullah, Studi Agama: Normativitas atau Historitas (Yogyakarta:
Pustaka Pelajar, 1999), hlm. 10.
18[18]. Hozaini.Pendekatan Teologis Dalam Islam.
http://www.scribd.com/doc/55074869/Pendekatan-Teologis-Dalam-Kajian-Islam.
(10 mei 2011). Di Akses, 20 April 2013.

dari islam dan diganti oleh teologi kehendak mutlak Tuhan (Jabariah atau
Fatalisme), yang besat pengaruhnya pada umat Islam di dunia.
c. Pendekatan Teologi Dalam Islam
1. Pendekatan Normative
Pendekatan teologis normative merupakan salah satu pendekatan
teologis dalam upaya memahami agama secara harfiah. Pendekatan
normative ini dapat diartikan sebagai upaya memahami agama dengan
menggunakan kerangka ilmu ketuhanan yang bertolak dari suatu
keyakinan bahwa wujud empiric dari suatu keagamaan dianggap sebagai
yang paling benar dibandingkan dengan yang lainnya.19[19]
Dalam islam kajian teologi terutama teologi Asyariah yang dianut
kebanyakan masyarakat muslim masih berkutat pada masalah ketuhanan
dengan segala sifatNya, tegasnya kajian teologi islam yangn
menggunakan pendekatan normative masih bersifat teosentris, menurut
Amin Abdullah
Dan setidaknya pemikiran yang digunakan masih diwarnai oleh
gaya pemikiran yunani yang spekulatif. Kenyataan ini tidak hanya terjadi
pada Asyariah, tetapi juga pada Mutazilah yang dianggap paling rasional,
sehingga serasional apapaun pemikiran Mutazilah, sesungguhnya ia
masih bersifat deduktif bayaniyah, artinya ia masih bersifat transmission,
deskriptif dan bergantung pada teks, al-Quran maupun al-Hadist.
Dari pemikiran teologi di atas, dapat diketahui bahwa pendekatan
teologis semacam ini dalam pemahaman keagamaan adalah menekankan
pada bentuk forma atau simbol-simbol keagamaan teologi teologi
mengklaim dirinya yang paling benar, sedangkan yang lainnya salah,
sehingga memandang bahwa paham orang lain itu keliru, sesat, kafir,
murtad dan lain sebagainya.
4. PENDEKATAN FILOSOFIS DALAM KAJIAN ISLAM
a. Filsafat dalam Islam
Dalam bahasa Arab dikenak kata hikmah dan hakim, kata ini bisa
diterjemahkan dengan arti filsafat dan filsofol . kata hukamul islam
bisa berarti falasifatul islam. Hikmah adalah perkara tertinggi yang bisa
dicapai oleh manusia dengan melalui alat-alat tertentu, yaitu akal dan
metode berpikirnya. Dalam Al Quran surat Al Baqarah : 259, dinyatakan:
19[19] . Abudin Nata, Metodologi Studi Islam, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada,
2000), hlm. 28.

Allah menganugerahkan Al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al


Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendakin-Nya. Dan
barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-beanr telah dianugerahi
karunia yang banyak. Dan hanya orang orang yang berakallah yang
dapat mengambili pelajaran (dari fiman Allah).20[20]
Datangnya hikmah itu bukan dari penglihatan saja, tetapi juga dari
penglihatan dan dan hati, atau dengan mata hati dan pikiran yang tertuju
kepada alam yang ada disekitarnya. Karena itu kadangkala ada orang
yang melihat tetapi tidak memperhatikan (melihat dengan mata hati dan
berpikir). Terhadap orang tersebut Allah menyatakan antara lain dalam
QS. Al Hajj 46: sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta , tetapi yang
buta ialah hati yang di dalam dada.
Agama islam memberikan memberikan penghargaan yang tinggi
terhadap akal, tidak sedikit ayat-ayat al Quran yang mengajurkan dan
mendorong supaya manusia banyak berpikir dan menggunakan akalnya.
Di dalam al Quran dijumpai perkataan yang berakar dari aql (akal)
sebanyak 49 kali, yang semuanya dalam bentuk kata kerja aktif, seperti
aquluh, taqilun, naqil, yaqiluha, dan yaqilun. Dan masih banyak lagi
kata yang di pakai dalam Al Quran yang menggambarkan perbuatan
berpikir diantaranya: nazhara (QS. Al Thariq : 5-7), tadabbara (QS. Shaad :
29), tafakkara, faqiha, tadzakkara dan lain sebagainya. Selain itu di dalam
Al Quran juga terdapat sebutan-sebutan yang memberi sifat berpikir bagi
seorang muslim, diantaranya ulu al bab (QS. Yusuf: 111), ulu al abshar
(QS. An Nur : 44), ulu al nuha (QS. Thaha : 128), dan lain-lain.
Semuanya bentuk ayat-ayat tersebut mengandung anjuran, dorongan
bahkan memerintahkan kepada pemeluknya untuk berfilsafat.
Manusia adalah makhluk berfikir, yang dalam segala aktifitas
kehidupannya selaluu berujung kepada mencari kebenaran tentang
sesuatu. Misalnya dalam mencari jawaban tentang hidup, berarti dia
mencari kebenaran tentang hidup. Jadi dengan demikian manusia adalah
makhluk pencari kebenaran . dalam proses mencari kebenaran ini
manusia menggunakan tiga instrumen, yaitu dengan agama, filsafat dan
20[20] .Erlan Muliadi.Filsafat dalam Islam.
http://erlanmuliadi.blogspot.com/2011/04/pendekatan-filosofis-dalam-studiislam.html . (30 april 2011). Di Akses, 02 April 2013.

dengan ilmu pengetahuan. Antara ketiganya mempunyai titik persamaan,


dan titik singgung.
b. Aplikasi pendekatan filosofis dalam kajian Islam
Untuk membawa pendekatan filosofis dalam tataran aplikasi kita tidak
bisa lepas dari pengertian pendekatan filosofis yang bersifat mendalam,
radikal, sistematik dan universal. Karena sumber pengetahuan
pendekatan filosofis rasio, maka untuk melakukan kajian dengan
pendekatan ini akal mempunyai peranan yang sangat psignifikan. Untuk
memperjelas hal ini, penulis akan coba memaparkan contoh kajian
keagamaan tentang takdir dengan menggunakan pendekatan ini.
Kata takdir (taqdir) terambil dari kata qaddara berasal dari akar kata
qadara yang berbarti mengukur, memberi, kadar atau ukuran. Jika
dikatakan bahwa Allah telah menakdirkan sesuatu, harus dipahami dalam
makna Allah telah menetapkan ukuran, kadar, batas tertentu terhadap
sesuatu itu. Takdir dapat juga diterjemahkan sebagai sistem hukum
ketetapan Tuhan untuk alam raya atau singkatnya disebut sebagai hukum
alam. Sebagai hukum alam maka tidak ada satupun gejala alam yang
terlepas dari Dia, termasuk amal perbuatan manusia. pengertian ini dapat
dilihat pada firman Allah yang artinya, Dan Dia diciptakan segala sesutau,
maka dibuat hukum kepastiannya sepasti-pastinya. Kesan yang sama juga
dapat diperhatikan pada ayat-ayat berikut ini:
Artinya: Dan matahari beredar pada tempat peredarannya .
demikianlah takdir (taqdir) yang telah ditentukan Allah SWT Yang Maha
Perkasa lagi Maha Mengetahui.
Perhatikan juga ayat berikut :
Artinya : Yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan dia
tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutuu baginya dalam
kekuasaan(Nya), dan dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia
menetapkan atasnya qadar (ketetapan) dengan sesempurnasempurnanya (faqaddarahti taqdira).
Djohan Effendi setelah menganalisis ayat-ayat yang berbicara tentang
takdir menyatakan bahwa, takdir ilahi pada hakikatnya adalah hukum
Ilahi yang berlaku pada seluruh alam semesta ". Dalam hubungan ini Al-Qur'an
menyebutkan ungkapan lain, yaitu din Ilahi yang kepada-Nya dunia bahkan manusia
menundukkan dirinya tanpa ada kemungkinan berbuat lain.

Agaknya Djohan membedakan "takdir Ilahi" pada alam (non manusia) dengan takdir yang
berlaku pada manusia. Takdir Ilahi yang berlaku pada alam, bersifat pasti dan berbentuk
pemaksaan, sedangkan pada manusia tidak demikian. Melihat ayat-ayat di atas, jelaslah
bahwa dalam Al-Qur'an, kata-kata takdir yang digunakan dalam berbagai ayat mengacu pada
benda-benda alam (non manusia) yang bermakna kadar, ukuran dan batasan. Matahari
beredar pada porosnya, ini adalah ukuran atau kadar untuk matahari sehingga ia tidak dapat
keluar dari ukuran tersebut. Api telah ditetapkan ukurannya untuk membakar benda-benda
yang kering, inilah batasan atau takdir bagi api. Air mengalir dari tempat yang tinggi ke
tempat yang rendah dan tidak bisa sebaliknya. Inilah ukuran dan batasan pada air.
Berkenaan dengan manusia, menurut Djohan, takdir bukanlah belenggu wajib yang
menentukan untung atau malangnya seseorang, yang membagi manusia diluar kehendak
dirinya, sebagai orang baik atau orang jahat dalam pengertian moral dan agama, melainkan
lebih merupakan hukum atau tata aturan Ilahi yang mengikat dan mengatur kehidupan
manusia, jasmani dan ruhani, baik sebagai makhluk individu maupun makhluk sosial.
Sebagai contoh, tidak ada manusia di muka bumi ini yang telah ditetapkan Tuhan menjadi
jahat atau baik, sehingga ia tinggal menjalaninya saja tak ubahnya seperti robot. Kalaupun
pada akhirnya ia menjadi jahat atau baik, itu merupakan keputusan yang diambilnya sendiri,
dan penyebabnya adalah hal-hal yang terdapat di dalam dirinya dan bukan di luar dirinya.
Sampai di sini, Djohan menyimpulkan bahwa takdir pada manusia bermakna kebebasan
moral, suatu kualitas atau sikap pribadi yang tidak bergantung pada dan ditentukan di luar
dirinya. Dengan penjelasan di atas, jelaslah bahwa takdir itu bermakna ketentuan, ketetapan,
batasan, dan ukuran. Pada alam, ukuran dan ketetapan tersebut bersifat pasti sedangkan pada
manusia bermakna hukum-hukum Tuhan yang universal.

PENUTUP

Sejarah Islam mencatat bahwa perkembangan teologi Islam di dunia Islam dibagi ke
dalam tiga periode atau zaman, yaitu zaman klasik (650-1250 M), zaman pertengahan
(1250-1800 M) dan zaman modern (1800 dan seterusnya).

Teologi memiliki peranan yang cukup signifikan dalam upaya membentuk pola pikir
yang nantinya akan berimplikasi pada perilaku keberagamaan seseorang.

Pendekatan teologis normative adalah upaya memahami agama dengan menggunakan


kerangka ilmu ketuhanan yang bertolak dari suatu keyakinan bahwa wujud empiric
dari suatu keagamaan dianggap sebagai yang paling benar dibandingkan dengan yang
lainnya.

Pendekatan teologis normative menekankan pada bentuk forma atau symbol-simbol


keagamaan yang masing-masing bentuk forma atau symbol-simbol keagamaan teologi
mengklaim dirinya yang paling benar, sedangkan yang lainnya salah.

Dampak dari pendekatan teologis normative teologi lahirnya corak pemikiran yang
teosentris, teologi Islam menjadi ahistoris, tidak kontekstual dan tidak empiris dan
hanya berbicara tentang dirinya sendiri dan tentang kebenarannya sendiri (truth
claim). Disamping itu sulitnya membedakan antara aspek normative yang sacral
dengan aspek yang hanya merupakan hasil pemikiran (ijtihad ulama) yang bersifat
relative dan profane. Akibat pemikiran teologis yang ada telah menjadi sacral semua.
Islam sebagai agama yang banyak menyuruh penganutnya mempergunakan

akal pikiran sudah dapat dipastikan sangat memerlukan pendekatan filosofis dalam
memahami ajaran agamanya. Pendekatan filosofis adalah cara pandang atau paradigma yang
bertujuan untuk menjelaskan inti, hakikat, atau hikmah mengenai sesuatu yang berada di
balik objek formanya. Dengan kata lain, pendekatan filosofis adalah upaya sadar yang
dilakukan untuk menjelaskan apa dibalik sesuatu yang nampak. Memahami ajaran Islam
dengan pendekatan filosofis ini dimaksudkan agar seseorang melakukan pengamalan agama

sekaligus mampu menyerap inti, hakikat atau hikmah dari apa yang diyakininya, bukan
sebaliknya melakukan tanpa makna. Diantara cabang-cabang filsafat adalah metafisika,
logika, epistemologi, dan etika.
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, Amin. 1999. Studi Agama: Normativitas atau Historitas.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Erlan Muliadi.Filsafat dalam Islam.
http://erlanmuliadi.blogspot.com/2011/04/pendekatan-filosofisdalam-studi-islam.html
Hozaini.Pendekatan Teologis Dalam Islam.
http://www.scribd.com/doc/55074869/Pendekatan-Teologis-DalamKajian-Islam
Mushlihin al-Hafizh.Definisi Pendekatan.
http://www.referensimakalah.com/2012/01/definisi-pendekatan_7827.html
Nata, Abudin, 2000. Metodologi Studi Islam. Jakarta: PT. Raja Grafindo
Persada.
Nata, Abudin. 2010. Metodologi Studi islam. Jakarta: Rajawali Pers.

21

[1] Mushlihin al-Hafizh.Definisi Pendekatan.


http://www.referensimakalah.com/2012/01/definisi-pendekatan_7827.html (1 juli 2011).
Di Akses, 29 Maret 2013.
22

[2] . Abudin Nata, Metodologi Studi islam, (Jakarta: Rajawali Pers, 2010), hlm.

28.
23

[3] . Ibid., Hlm. 35.

21
22

24

[4] . Ibid.

25

[5] . Ibid., Hlm. 38.

26

[6] . Ibid.

27

[7] . Ibid., Hlm. 39.

28

[8] . Ibid., Hlm. 42.

29

[9] . Ibid.

30

[10] . Ibid.

31

[11] . Ibid., Hlm. 43

32

[12] . Ibid., Hlm. 46

33

[13] . Ibid., Hlm. 48

34

[14] . Ibid., Hlm. 49

23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34

35

[15] . Ibid.

36

[16] . Ibid., Hlm. 50

37

[17] . Amin Abdullah, Studi Agama: Normativitas atau Historitas (Yogyakarta:

Pustaka Pelajar, 1999), hlm. 10.


38

[18]. Hozaini.Pendekatan Teologis Dalam Islam.

http://www.scribd.com/doc/55074869/Pendekatan-Teologis-Dalam-Kajian-Islam.
(10 mei 2011). Di Akses, 20 April 2013.
39

[19] . Abudin Nata, Metodologi Studi Islam, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada,

2000), hlm. 28.


40

[20] .Erlan Muliadi.Filsafat dalam Islam.

http://erlanmuliadi.blogspot.com/2011/04/pendekatan-filosofis-dalam-studiislam.html . (30 april 2011). Di Akses, 02 April 2013.

No comments:
Post a Comment
Newer Post Older Post Home

Blog Archive

35
36
37
38
39
40

2014 (11)

2013 (126)
o

Nov (2)

Oct (6)

Sep (3)

Jun (5)

May (55)

Apr (55)

Makalah tentang Maqamat dan Ahwal

Makalah tentang Aliran - aliran Pendidikan

Bersama dengan si cantiq sepupu ku.,

40 HAL PENYEBAB KEBODOHAN

Makalah Tentang integrative - interkonektif dalam ...

Makalah Tentang Tafsir, Ta'qil dan Terjemah Al-Qur...

Makalah Tentang Ilmu i'jazul Qur'an

Makalah Tentang Ilmu i'jazul Qur'an

Makalah Tentang Aliran-aliran Pendidikan

Makalah Tentang Aliran-aliran Pendidikan

Makalah Tentang Ilmu Qiro'at

Makalah tentang Ilmu Muhkam dan Mutasyabbihat

Makalah Tentang Ilmu Makiyah dan Madaniyah

Makalah Tentang Ilmu Munasabah

Makalah Tentang Ilmu AsbabunNuzul

Makalah Tentang Rosam Mushaf Ustmani

Khotbah Jum'at Syukur Mendekatkan Kepada Allah

Makalah Tentang sejarah turunnya Al-Quran dan Penu...

Makalah Tetang Ulumul Quran dan Sejarah Perkemaban...

Habiburrahman El-syirazy dialog Mahasiswa STAIN Pe...

Artikel "Sifat Kedermewanan Rasul SAW

Artikel Larangan Menghadap Kiblat Saat Buang Air

Bukti kehebatan Umat Manusia Di Dunia "Manusia Heb...

7 Kota Maksiat di Dunia

Pidato Judul "Kebudayaan"

Pidato judul "Inikah Akhir Zaman Budaya Kita"

Makalah Tentang Agama Islam dan Dunia Kontemporer

Makalah Tentng Pendekatan Fenomenologis dalam Kaji...

Makalah Tentang Pendekatan Filologis Dalam Kajian ...

Resuman Mata Kuliah Materi Pendidikan Islam

Makalah Tentang Pendekatan Sosologis dalam Kajian ...

Makalah Tentang Epistimologi, Bayani, Irfani

Makalah Tentang Sumber Ajaran Islam

resuman Buku "Prinsip-prinsip Pendidikan Rosulullo...

Firqoh Qadariyah

Resuman Buku "STUDI ISLAM KONTEKSTUAL" oleh : Abd...

Logo STAIN PEKALONGAN

Makalah perbedaan Ahlussunnah dengan Syiah Imamiya...

Makalah Tentang Aliran Syiah

Ingat Akhirat dengan Ziarah

Makalah tentang Aliran mu'tazilah

Makalah Tentang Aliran Qadariyah

Makalah Tentang Aliran Jabariyah

Tips Sehat Rosululloh Saw

SEJARAH AWAL MUHAMMADIYAH YANG TERLUPAKAN

Makalah Tentang Maturidiyah Bukhara

Resensi Buku Abudin Nata "Metodologi Studi Islam" ...

Makalah Tentang Aliran Maturidiyah Samarkand

Makalah Tentang Aliran Asy'ariyah

Makalah tentang Aliran Murji'ah

Makalah "tentang Aliran Khawarij"

Menggali Kedahsyatan Tahajjud

<!--[if gte mso 9]> <![endif]--> <!--[if gte ...

MAKALAH pendekatan teologis dan pendekatan filosof...

RAHASIA DI BALIK LAHIRNYA NU !..,Bagi warga Nahdli...

2011 (2)

Total Pageviews
51253