Anda di halaman 1dari 8

Fungsi, Tugas, Dan Wewenang LPS1

LPS bekerja menjalankan dua fungsi, yaitu (1) menjamin simpanan nasabah perbankan dan
(2) turut aktif memelihara stabilitas sistem perbankan.
Memelihara Stabilitas Sistem Perbankan: Penyelesaian dan Penanganan Bank Gagal
Berdasarkan UU LPS, LPS dapat melakukan penyelesaian atau penanganan bank gagal
dengan cara-cara sebagai berikut:
1. Penyelesaian bank gagal yang tidak berdampak sistemik dilakukan dengan melaksanakan
penyelamatan atau tidak menyelamatkan bank gagal tersebut.
Gambar 1. Diagram alur penyelesaian bank gagal non sistemik oleh LPS2

Keputusan untuk menyelamatkan atau tidak menyelamatkan ditetapkan oleh LPS dengan
sekurang-kurangnya didasarkan pada perkiraan biaya penyelamatan dan perkiraan biaya
tidak melakukan penyelamatan bank gagal.
LPS melakukan penyelamatan terhadap bank gagal yang tidak berdampak sistemik
apabila syarat-syarat berikut dipenuhi (Gambar 1) , yaitu: (1) biaya penyelamatan secara
signifikan lebih rendah dibandingkan dengan biaya tidak melakukan penyelamatan. LPS
memiliki metode perhitungan perkiraan biaya penyelamatan dan perkiraan biaya tidak
melakukan penyelamatan bank gagal (Lower Cost Test) yang telah digunakan untuk
melakukan analisis terhadap 35 bank gagal yang tidak berdampak sistemik; (2) bank
memiliki prospek yang baik; (3) terdapat pernyataan dari RUPS yang antara lain
menyatakan kesediaan untuk menyerahkan hak dan wewenang RUPS, kepengurusan bank
kepada LPS, dan menyerahkan dokumen terkait kepada LPS.
Seluruh biaya penyelamatan bank yang dikeluarkan oleh LPS menjadi penyertaan modal
sementara LPS pada bank tersebut. LPS wajib menjual saham bank yang diselamatkan
dalam jangka waktu paling lama dua tahun, yang dapat diperpanjang maksimum dua kali
dengan masing-masing perpanjangan satu tahun. Penjualan saham dilakukan secara
1 Sumber: Laporan Tahunan LPS 2013.
2 Sumber: http://www.lps.go.id/web/guest/mekanisme-resolusi-bank

terbuka dan transparan dengan tetap mempertimbangkan tingkat pengembalian yang


optimal bagi LPS. Tingkat pengembalian yang optimal adalah sekurang-kurangnya
sebesar nilai penyertaan modal sementara. Apabila sampai dengan masa perpanjangan
tidak memperoleh tingkat pengembalian yang optimal, LPS wajib menjual seluruh saham
bank dengan harga terbaik pada tahun berikutnya.
Apabila bank gagal yang tidak berdampak sistemik diputuskan untuk tidak diselamatkan
dan Bank Indonesia mencabut izin usaha bank tersebut atas rekomendasi LPS, maka LPS
melakukan pembayaran klaim penjaminan dan proses likuidasi bank dimaksud.
Tindakan-tindakan LPS dalam melakukan proses likuidasi yaitu: mengambil alih dan
menjalankan segala hak dan wewenang pemegang saham termasuk dalam hal RUPS;
memberikan talangan untuk pembayaran gaji pegawai yang terutang dan talangan
pesangon pegawai; melakukan pengamanan aset bank sebelum proses likuidasi dimulai;
memutuskan pembubaran badan hukum bank; membentuk tim likuidasi; serta
menyatakan status bank sebagai bank dalam likuidasi. Selanjutnya LPS melakukan
pengawasan terhadap pelaksanaan likuidasi bank dimaksud.
2. Penanganan bank gagal yang berdampak sistemik dilakukan dengan penyelamatan yang
mengikutsertakan pemegang saham lama (open bank assistance) atau tanpa
mengikutsertakan pemegang saham lama (Gambar 2).
Gambar 2. Diagram alur penanganan bank gagal sistemik oleh LPS

Setelah Komite Koordinasi (KK) menyerahkan penanganan bank gagal yang telah
ditetapkan sebagai bank gagal berdampak sistemik kepada LPS, LPS akan melaksanakan
penanganan bank gagal berdampak sistemik tersebut sesuai dengan UU LPS.
Pemegang saham lama dapat diikutsertakan dalam penanganan bank gagal apabila
menyetorkan modal minimal 20% dari perkiraan biaya penanganan, menyerahkan
pernyataan RUPS bank yang menyatakan antara lain memuat kesediaan untuk
menyerahkan kepada LPS hak dan wewenang RUPS, dan bank telah menyerahkan
dokumen yang diperlukan. Penanganan bank gagal tanpa mengikutsertakan pemegang
saham lama dilakukan apabila pemegang saham lama tidak memenuhi persyaratan di atas.
Seluruh biaya penanganan bank yang dikeluarkan oleh LPS menjadi penyertaan modal
sementara LPS pada bank tersebut. LPS wajib menjual saham bank yang diselamatkan
dalam jangka waktu paling lama tiga tahun, yang dapat diperpanjang maksimum dua kali

dengan masing-masing perpanjangan satu tahun untuk mencapai hasil penjualan yang
optimal.
Penjualan saham dilakukan secara terbuka dan transparan dengan tetap
mempertimbangkan tingkat pengembalian yang optimal bagi LPS. Tingkat pengembalian
yang optimal adalah sekurang-kurangnya sebesar nilai penyertaan modal sementara.
Dalam hal sampai dengan masa perpanjangan tidak memperoleh tingkat pengembalian
yang optimal, LPS wajib menjual seluruh saham bank dengan harga terbaik pada tahun
berikutnya tanpa memperhatikan ketentuan penjualan yang optimal.
Pengembangan Business Continuity Management (BCM)
BCM adalah manajemen holistik dalam upaya pemulihan organisasi dan aktivitasnya ketika
organisasi mengalami bencana atau krisis. Pengembangan dan penerapan BCM bertujuan
untuk memungkinkan lembaga dapat melanjutkan kegiatannya ketika terjadi bencana atau
krisis, dan dapat tetap bertahan ketika terjadi gangguan serius terhadap sistem informasinya.
Proses BCM terdiri dari penyiapan langkah-langkah kebijakan, identifikasi risiko dan critical
function, serta pembentukan struktur organisasi. Pembentukan struktur organisasi itu sendiri
disertai dengan penetapan tanggung jawab, mekanisme kerja, dan prosedur operasional.
Pengembangan BCM berada di bawah tanggung jawab Group Sistem Informasi.3
Dalam penyusunan BCM dapat menggunakan metode pengembangan yang mengacu kepada
Good Practice Guidelines, The Business Continuity Institute. Metode yang digunakan
merupakan tahap-tahap pengembangan Business Continuity Management (BCM-life cycle)
sebagai berikut:4
The Business Continuity Management Programme
Sebagai tahap awal, diperlukannya keterlibatan manajemen puncak, penyusunan struktur
oragnisasi dan kebijakan yang akan diambil dalam pengembangan BCM.
Tahap I : Understanding Your Business
Untuk menyusun BCM strategi yang tepat maka langkah awal yang perlu dilakukan adalah
memahami kegiatan usaha yang dijalankan. Beberapa teknik akan dilakukan adalah melalui
Business Impact Analysis dan Risk Assessment.
Tahap II : Business Continuity Management Strategies
Pada tahap ini dilakukan pemilihan strategi BCM yang tepat dari beberapa pilihan yang
didapat dari informasi kajian Business Impact Analysis dan Risk Assessment.
Tahap III : Developing a Business Continuity Management Response
3 Sumber: http://www.lps.go.id/in/c/document_library/get_file?uuid=902256b80b82-4324-b231-504d10847043&groupId=10157
4 Sumber: http://www.bi.go.id/id/publikasi/sistempembayaran/riset/Documents/4a368839bc6c4ea4a1326f81bf12ebabbcmsp.pdf

Fokus pada tahap ini akan ditujukan untuk mengidentifikasi beberapa langkah kegiatan yang
dipandang perlu untuk dapat memulihkan gangguan yang terjadi pada kondisi normal.
Tahap IV : Developing a Business Continuity Management Culture
Pada tahap ini akan digambarkan langkah-langkah untuk meningkatkan kesadaran
(awareness) akan BCM melalui desain komunikasi, training dan sosialisasi yang terintegrasi
dengan strategi organisasi.
Tahap V : Exercising, Maintenance and Audit
Fokus pada tahap ini adalah penyusunan strategi testing, upaya-upaya pemeliharaan dan
proses audit yang dilakukan dalam BCM.
Dukungan Operasional5
1. Sistem Informasi
Sepanjang 2013, LPS telah menyelesaikan dan mengimplementasikan beberapa aplikasi
Teknologi Informasi (TI) yang ditujukan untuk mendukung kegiatan operasional
Lembaga antara lain aplikasi Core System, aplikasi internet untuk pengelolaan pengadaan,
enhancement aplikasi monitoring tindak lanjut Rapat Dewan Komisioner, peminjaman
inventaris, serta pengelolaan ruang rapat.
A. Core System
Core System merupakan aplikasi berbasiskan web yang dikembangkan untuk menunjang
kegiatan operasional terkait dengan fungsi, tugas dan wewenang yang dimiliki LPS.
Aplikasi Core System memiliki fungsi-fungsi antara lain pengelolaan penjaminan meliputi
pengelolaan administrasi bank peserta penjaminan dan pengelolaan premi penjaminan
termasuk penyampaian laporan bank peserta penjaminan secara online (e-reporting).
Berikut ini adalah gambaran umum kebutuhan masing-masing pengguna (user) teknologi
informasi yang digunakan dalam Lembaga Penjamin Simpanan yang dikutip dari
dokumen proposal implementasi SAP LPS.6
a. Insurance Management
Modul ini membantu menangani fungsi manajemen penjaminan termasuk di
dalamnya administrasi kepesertaan, premi penjaminan, manajemen penagihan
(collection management), denda keterlambatan baik administrative maupun
keterlambatan penyampaian laporan keuangan bank peserta penjaminan dan
kesalahan penghitungan oleh bank peserta tersebut.
Modul ini sangat terkait dengan sistem ERP Financial khususnya Account
Receivable untuk menentukan kewajiban bank peserta penjaminan.
b. Claim Management and Handling
Modul ini membantu menangani fungsi manajemen penanganan klaim atas
simpanan nasabah bank peserta penjaminan yang dicabut ijin usahanya termasuk
di dalamnya pengadministrasian dan pencatatan pembayaran baik pokok simpanan
maupun bunga dengan perhitungan yang wajar.
Pengadministrasian tersebut juga mencakup status layak dan tidak layak bayar
serta penanganan yang pernah dilakukan baik oleh lembaga, nasabah dan pihak
5 Sumber: Laporan Tahunan LPS 2013.
6 Sumber: http://thesis.binus.ac.id/Asli/Bab3/2010-1-00581-si%20bab%203.pdf

lain atas penunjukan dan seijin lembaga. Modul ini sangat terkait dengan sistem
ERP Financial khususnya Budgeting dan Account Payable.
c. Bank resolution dan Analysis
Modul ini membantu menangani fungsi manajemen penanganan penyelamatan
bank gagal yang diputuskan untuk diselamatkan dengan cara penambahan modal
bank dalam bentuk penyertaan modal sementara termasuk proses penyertaan
modal sementara serta pengakhiran penyertaan modal sementara. Disamping itu
modul ini juga, berdasarkan data yang diperoleh dan informasi yang dikumpulkan
dari suatu bank gagal yang selanjutnya dianalisa, memberikan gambaran atas
estimasi biaya penyelamatan bank gagal tersebut. Estimasi tersebut akan
digunakan bahan usulan kepada manajemen untuk memutuskan apakah bank
gagal tersebut diselamatkan atau ditutup. Modul ini sangat terkait dengan ERP
Financial khususnya Account Receivable dan Account Payable.
d. Bank Liquidation Management
Modul ini membantu menangani fungsi penanganan dan pengawasan penutupan
bank yang dicabut izin usahanya yang diputuskan untuk dilikudasi termasuk
penalangan pembayaran gaji pengawai bank yang terhutang, penalangan
pembayaran pesangon pegawai bank dan pengadministrasian dan penjualan aset
bank serta penagihan piutang bank kepada debitur bank dan pencatatan biaya
terkait proses likuidasi bank dan penerimaan penjualan aset dan lainnya. Modul
ini sangat berkaitan dengan sistem ERP Financial khusunya Account Receivable
dan Account Payable.
Selain itu, Core System juga memiliki beberapa fitur sebagai berikut:
1. Fitur pengelolaan risiko yang memiliki fungsi antara lain pengelolaan laporan
keuangan bank umum dan BPR.
2. Fitur pada pengelolaan likuidasi antara lain meliputi persiapan pelaksanaan likuidasi
termasuk monitoring proses likuidasi; dan pengelolaan neraca terkait bank dalam
likuidasi.
3. Fitur pada pengelolaan klaim antara lain pengelolaan data rekonsiliasi dan verifikasi,
pengelolaan pembayaran klaim kepada nasabah bank yang dilikuidasi dan
penanganan keberatan nasabah.
4. Fitur pada pengelolaan resolusi bank meliputi pengelolaan dan monitoring kondisi
bank dalam pengawasan khusus, due diligence, monitoring perkembangan/kondisi
bank yang diselamatkan, dan pengelolaan penjualan bank yang diselamatkan.
5. Fitur alert management untuk memberikan notifikasi terhadap kondisi/indikator yang
melampaui kriteria tertentu untuk mempermudah melakukan monitoring terhadap
proses-proses yang ada.
Selain diakses oleh internal LPS, Core System dapat diakses juga oleh bank peserta
penjaminan dan tim likuidasi.
B. Pusat Data
LPS juga telah meningkatkan infrastruktur teknologi informasi dengan pengembangan
pusat data yang mengimplementasikan device redundancy pada perangkat kritikal dan
meningkatkan kapasitas teknologi informasi serta meningkatkan sistem keamanan dengan
implementasi sistem pencegahan serangan untuk meningkatkan keamanan komunikasi
dan jaringan dan implementasi Secured Socket layer (SSL) untuk peningkatan keamanan
transaksi.
Selain itu, keputusan LPS menyelamatkan atau tidak menyelamatkan bank gagal yang
tidak berdampak sistemik salah satunya ditentukan berdasarkan hasil analisis resolusi

bank. Dalam melakukan proses analisis resolusi bank, LPS berkoordinasi dengan Bank
Indonesia (BI) guna mendapatkan data/ informasi secara periodik dan terkini tentang
bank dalam status pengawasan khusus.
Adapun data/informasi yang diterima oleh LPS dari BI adalah daftar bank yang
ditetapkan sebagai bank Dalam Pengawasan Khusus (DPK), data/informasi berupa profil
(data pokok), perkembangan kondisi usaha/keuangan, rincian permasalahan yang
dihadapi bank, serta langkah-langkah yang telah dan akan ditempuh dalam upaya
penyehatan bank DPK.
C. Pengadaan Barang dan Jasa
Sistem pengadaan barang dan jasa yang diselenggarakan oleh LPS senantiasa dilakukan
dengan efisien dan efektif. Oleh karena itu, LPS memiliki Group Layanan Umum yang
bertanggung jawab dalam pelaksanaan pengadaan barang dan jasa guna memenuhi
kebutuhan operasional LPS dengan berpegang teguh pada prinsip-prinsip pengelolaan tata
kelola lembaga yang baik.
Unit kerja tersebut memiliki fungsi sebagai unit pendukung dan bertanggungjawab untuk
mengkoordinasi fungsi:
- Pengadaan (procurement) barang/jasa;
- Penyediaan dan layanan logistik perkantoran; dan
- Dokumentasi dan kearsipan.
Untuk meningkatkan tata kelola kearsipan, LPS telah mempunyai payung hukum berupa
Keputusan Dewan Komisioner Nomor KEP-020/DK/VI/2012 tanggal 10 Juni 2012
tentang Kebijakan Pengelolaan Arsip di Lingkungan Lembaga Penjamin Simpanan dan
Keputusan Kepala Eksekutif Nomor KEP-20/KE/III/2013 tanggal 23 Maret 2013 tentang
Standar Prosedur Operasi (Standard Operating Procedures) Pengelolaan Arsip di
Lingkungan Lembaga Penjamin Simpanan.
Selanjutnya, LPS telah menyelesaikan kegiatan pemilahan, indexing, dan penyimpanan
secara tertata atas arsip-arsip milik Bank Dalam Likuidasi dan melakukan proses alih
media terha
2. Pengembangan Teknologi Informasi Pada Masa Mendatang
Dalam mewujudkan visi untuk menjadi lembaga penjamin simpanan yang dipercaya
dalam memelihara stabilitas sistem perbankan nasional, LPS telah menyelesaikan IT
Strategic Plan termasuk IT Blueprint dan IT Roadmap yang diselaraskan dengan Rencana
Strategis LPS 2011-2015. Penyelarasan TI dengan Rencana Strategis LPS 2011-2015
merupakan langkah nyata LPS dalam mewujudkan program penjaminan simpanan yang
efektif serta berperan aktif dalam memelihara stabilitas sistem perbankan nasional. Pada
masa mendatang, LPS juga menyelenggarakan pelatihan terkait teknologi informasi dan
sosialisasi rutin terkait keamanan teknologi informasi kepada pegawai guna
meningkatkan keahlian dan security awareness.
Selain itu, terdapat dua rencana kerja LPS pada tahun 2014 terkait teknologi informasi,
yaitu:
a. mengembangkan suatu sistem deteksi dini (early warning system) sebagai tatanan
rangkaian aktivitas dalam fungsi manajemen risiko. Sistem deteksi dini bertujuan
untuk mengetahui informasi terhadap kondisi dan risiko individual bank dengan
lebih efektif. Hasil deteksi dini akan mendukung pelaksanaan fungsi dan tugas
LPS sesuai kewenangannya dan
b. melakukan pengembangan Disaster Recovery Center (DRC).

Identifikasi Risiko7
1. Risiko Operasional
Risiko operasional, merupakan risiko yang muncul karena adanya ketidakcukupan, tidak
berjalannya atau gagalnya proses internal, kesalahan manusia (human error), kegagalan
sistem, atau adanya faktor eksternal yang dapat berpengaruh terhadap kerugian dan
operasional lembaga, seperti kebakaran, bencana alam, dan serangan teroris yang sering
terjadi di wilayah Indonesia.
Risiko operasional memiliki cakupan yang luas, inheren, dan mendasar karena meliputi
hampir seluruh aktivitas lembaga serta berpotensi terjadi pada risiko-risiko yang belum
diidentifikasi dengan baik. Risiko operasional melekat pada setiap kegiatan lembaga.
Tujuan dari pengelolaan risiko operasional adalah untuk meminimalisasi potensi
timbulnya kerugian dalam bentuk keuangan secara langsung maupun tidak langsung,
yaitu kerugian potensial atas biaya-biaya yang seharusnya tidak muncul akibat kegagalan
operasional. Sebagai upaya pengembangan pengelolaan risiko operasional, mulai tahun
2012 LPS melakukan penerapan Risk Self Assessment yang dilaksanakan oleh semua unit
kerja. Perhitungan atas risiko operasional tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan
analisis kuantitatif dengan mempertimbangkan analisis kualitatif (adjustment).
Profil risiko operasional berada pada tingkat sedang (Moderate). Kondisi tersebut
dipengaruhi dari beberapa hal yang terkait dengan manusia (people) yaitu human error
dan kurangnya SDM, sistem informasi yaitu ketersediaan database dan sistem database
yang terintegrasi, proses internal yaitu kecukupan SOP, dan koordinasi antar unit kerja,
serta faktor eksternal yang dapat berpengaruh terhadap operasional lembaga.
Untuk mengelola risiko operasional, sepanjang 2013 LPS telah menyelesaikan dan
mengimplementasikan beberapa aplikasi Teknologi Informasi (TI) yang ditujukan untuk
mendukung kegiatan operasional Lembaga antara lain aplikasi Core System, aplikasi
internet untuk pengelolaan pengadaan, enhancement aplikasi monitoring tindak lanjut
Rapat Dewan Komisioner, peminjaman inventaris, serta pengelolaan ruang rapat.
LPS memiliki Group Layanan Umum yang bertanggung jawab dalam pelaksanaan
pengadaan barang dan jasa guna memenuhi kebutuhan operasional LPS dengan
berpegang teguh pada prinsip-prinsip pengelolaan tata kelola lembaga yang baik. Unit
kerja tersebut memiliki fungsi sebagai unit pendukung dan bertanggungjawab untuk
mengkoordinasi fungsi:
a. Pengadaan (procurement) barang/jasa;
b. Penyediaan dan layanan logistik perkantoran; dan
c. Dokumentasi dan kearsipan.
Untuk meningkatkan tata kelola kearsipan, LPS telah mempunyai payung hukum berupa
Keputusan Dewan Komisioner Nomor KEP-020/DK/VI/2012 tanggal 10 Juni 2012
tentang Kebijakan Pengelolaan Arsip di Lingkungan Lembaga Penjamin Simpanan dan
Keputusan Kepala Eksekutif Nomor KEP-20/KE/III/2013 tanggal 23 Maret 2013 tentang
Standar Prosedur Operasi (Standard Operating Procedures) Pengelolaan Arsip di
Lingkungan Lembaga Penjamin Simpanan.
Selanjutnya, LPS telah menyelesaikan kegiatan pemilahan, indexing, dan penyimpanan
secara tertata atas arsip-arsip milik Bank Dalam Likuidasi dan melakukan proses alih
media terhadap dokumen yang dikategorikan sebagai surat berharga.
7 Sumber: Laporan Tahunan LPS 2013.

2. Risiko Ketersediaan Data


Risiko ketersediaan data adalah risiko tidak tersedianya data/ informasi secara tepat
waktu, lengkap, akurat, dan relevan untuk memfasilitasi pengambilan keputusan. LPS
perlu mengembangkan sistem informasi yang handal dan efisien sehingga kebutuhan data
dalam proses pengambilan keputusan dapat dilakukan dengan baik.