Anda di halaman 1dari 5

PERBEDAAN

PIROMETALURGI DAN HIDROMETALURGI

A. Piromelurgi
Pirometalurgi merupakan pengambilan logam inti dari bijih/ore yang di
peroleh dengan pemberian suhu tinggi sehingga logam inti yang dibutuhkan akan
meleleh. Proses ini akan melibatkan pengetahuan tentang bahan bakar, reaksireaksi eksotermik dan perubahan fasa dari padat ke liquid.
Pengertian lain dari pirometalurgi ini juga merupakan teknik metalurgi
yang logam berharganya diolah dan dimurnikan menggunakan panas yang
sangat tinggi. Panas didapatkan dari tanur yang biasanya berbahan bakar
batubara yang secara langsung berperan sebagai reduktan. Suhu pada proses
ini bisa mencapai ribuan derajat Celcius.
Kemudian pirometalurgi ini juga merupakan proses pengekstrakan bijih
menjadi logam dengan menggunakan energi kimia, bahan bakar, energi listrik
dan energi tersembunyi.
Peralatan yang biasanya digunakan adalah untuk mengekstraksi ini
adalah :

Tanur tiup (Blast furnace)

Reverberatory furnace
Sedangkan untuk pemurnian yang digunakan adalah :

Pierce-smith converter

Bessemer converter

Kaldo converter

Linz-donawitz (L-D) converter

Open hearth furnace


Proses-proses reduksi dalam industri, disebut peleburan (smelting). Ada
beberapa metode kimia yang dapat dipakai untuk mereduksi suatu logam
tertentu dari keadaan oksidanya dalam bijih, ke keadaan unsurnya, yaitu:
Reduksi dengan panas dalam udara. Logam mulia dalam grup VIIB dan IA
mudah diproduksi. Platinum, emas, dan kadang-kadang perak ditemukan dalam
bentuk unsurnya, dan hanya perlu dipanaskan untuk membuatnya meleleh

keluar dari batu-reja. Karena banyak oksida dari logam yang kurang aktif,
diuraikan oleh panas yang sangat tinggi, memanggang saja dengan udara sudah
cukup untuk mereduksinya.

Gambar 1
Proses Pirometalurgi

Pemanggangan bijih sulfida dari merkurium, akan lebih membentuk


logamnya ketimbang membentuk oksida logam :
HgS + O2 Hg + SO2
Tembaga sulfida yang meleleh, direduksi dengan menghembuskan udara
melaluinya:
Cu2S + O2 2 Cu + SO2
Pada tahapan ini energi yang paling dibutuhkan yaitu kalor sebab energi
kalor

ini

akan

digunakan

untuk

mengubah

atau

mereduksi

mineral.

Logam seperti titanium yang sukar diperoleh dalam keadaan bebas, dengan
pemanggangan diubah menjadi klorida kemudian direduksi. Untuk memperoleh
klorida, oksida logam atau karbida logam dipanggang dalam atmosfer klor.
TiC(s) + 4 Cl2(g) TiCl4(g) + CCl4(g)
Reduksi dengan karbon. Oksida dari banyak logam yang sedang-sedang
saja aktifnya, dapat direduksi oleh karbon. Reaksi untuk kobalt oksida adalah:
CoO + C Panas Co + CO
CoO + CO Panas Co + CO2

Metode reduksi ini cocok untuk logam dari keluarga besi dan untuk
beberapa lainnya seperti timbel, timah, dan zink. Perhatikan bahwa karbon
mungkin dioksidasikan menjadi karbon monoksida, CO, atau karbon dioksida,
CO2. Pada kehadiran karbon (biasa disebut kokas) dan pada suhu-suhu tinggi,
CO merupakan gas yang dominan, dan merupakan zat pereduksi yang efektif
dalam

kebanyakan

proses

peleburan

yang

menggunakan

karbon.

Karbon cenderung membentuk karbida dengan logam tertentu, seperti krom dan
mangan; maka tak bisa digunakan untuk mereduksi semua bijih-bijih oksida dari
logam yang sedang-sedang saja aktifnya. Tetapi karbon digunakan kapan saja
mungkin, karena harganya murah serta pemakaiannya mudah.
Reduksi dengan hidrogen boleh digunakan bila karbon tidak cocok.
Tungsten oksida direduksi dengan cara ini, karena dengan karbon sebagai zat
pereduksi, logam yang tereduksi akan bercampur dengan karbida. Reaksi
reduksi hidrogen adalah:
WO3 + 3 H2 W + 3 H2O
Aluminium diproduksi dengan reduksi elektrolitik aluminium oksida atau
aluminium klorida. Juga, unsur-unsur grup IIIB dan deret lantanida, biasanya
dibuat dengan mengelektrolisis kloridanya yang meleleh.

B. Hidromelurgi
Hidrometalurgi adalah teknik metalurgi yang paling banyak mendapat
perhatian peneliti. Hal ini terlihat dari banyaknya publikasi ilmiah semisal jurnal
kimia berskala internasional yang membahas pereduksian logam secara
hidrometalurgi. Logam-logam yang banyak mendapat perhatian adalah nikel (Ni),
magnesium (Mg), besi (Fe) dan mangan (Mn). Hidrometalurgi memberikan
beberapa keuntungan:

Bijih tidak harus dipekatkan, melainkan hanya harus dihancurkan


menjadi bagian-bagian yang lebih kecil.

Pemakaian batubara dan kokas pada pemanggangan bijih dan sekaligus


sebagai reduktor dalam jumlah besar dapat dihilangkan.

Polusi atmosfer oleh hasil samping pirometalurgi sebagai belerang


dioksida, arsenik(III)oksida, dan debu tungku dapat dihindarkan.

Untuk bijih-bijih peringkat rendah (low grade), metode ini lebih efektif.

Suhu prosesnya relatif lebih rendah.

Reagen yang digunakan relatif murah dan mudah didapatkan.

Produk yang dihasilkan memilki struktur nanometer dengan kemurnian


yang tinggi
Peralatan yang digunakan adalah :

Electrolysis/ electrolytic cell

Bejana pelindian (leadhing box)


Hidrometalurgi

merupakan cabang dari

metalurgi.

Secara

harfiah

hidrometalurgi dapat diartikan sebagai cara pengolahan logam dari batuan atau
bijihnya dengan menggunakan pelarut berair (aqueous solution). Dua cabang
metalurgi lainnya adalah pirometalurgi dan elektrometalurgi.
Suhu selama proses leaching, konsentrasi reaktan, ukuran partikel
sampel dan PH larutan merupakan faktor-faktor yang paling menentukan
keberhasilan proses hidrometalurgi. Apabila kita mampu menemukan kombinasi
yang tepat dari keempat faktor ini maka proses hidrometalurgi akan semakin
optimal. Kedepan diharapkan para ahli teknik kimia dapat menciptakan teknologi
yang mampu mengaplikasikan hidrometalurgi agar terpakai lebih luas dalam
dunia industri, menggunakan reagen kimia encer dan pada suhu <100oC. Kondisi
yang baik untuk hidrometalurgi adalah :

Logam yang diiginkan harus mudah larut dalam ragen yang murah.

Metal yang sudah larut tersebut harus dapat diambil dari larutan tersebut
dengan mudah dan murah.

Unsur atau metal lain yang ikut larut harus mudah dipisahkan pada
proses berikutnya.

Mineral pengganggu (ganggue mineral) jangan terlalu banyak berreaksi


dengan reagen yang dipakai.

Zat pelarut harus dapat diperoleh kembali untuk didaur ulang.

Zat yang diumpankan jangan banyak mengandung lempung karena akan


sulit memisahkannya.

zat yang diumpankan harus porous atau punya permukaan kontak yang
luas agar mudah bereaksi pada suhu rendah.Zat pelarut sebaiknya tidak korosi
dan beracun sehingga tidak membahayakan alat dan operator.

Pada prinsipnya hidrometalurgi melewati beberapa proses yang dapat


disederhanakan tergantung pada logam yang ingin dimurnikan. Salah satu yang
saat ini banyak mendapat perhatian adalah logam mangan dikarenakan
aplikasinya yang terus berkembang terutama sebagai material sel katodik pada
baterai isi ulang. Baterial ion litium konvensional telah lama dikenal dan diketahui
memiliki kapasitas penyimpanan energi yang cukup besar. Namum jika
katodanya dilapisi lagi dengan logam mangan oksida maka kapasitas
penyimpanan energi baterai tersebut menjadi jauh lebih besar.
Secara garis besar, proses hidrometalurgi terdiri dari tiga tahapan yaitu:

Leaching atau pengikisan logam dari batuan dengan bantuan reduktan


organik.

Pemekatan larutan hasil leaching dan pemurniannya.

Recovery yaitu pengambilan logam dari larutan hasil leaching.


Larutan hasil leaching tersebut kemudian dipekatkan dan dimurnikan. Ada

tiga proses pemurnian yang umum digunakan yaitu evaporasi, ekstraksi pelarut
dan presipitasi (pengendapan). Di antara ketiganya, presipitasi adalah yang
paling mudah dilakukan, juga lebih cepat. Namun cara ini kurang efektif untuk
beberapa logam.
Logam hasil pemurnian biasanya diaktivasi dengan asam tertentu terlebih
dahulu sebelum diambil dari larutannya. Cara ini menjamin didapatkannya logam
dalam struktur nanometer dengan tingkat kemurnian yang lebih tinggi. Logam
yang berstruktur nanometer harganya bisa puluhan kali lipat dibandingkan
dengan logam yang berstruktur biasa.