Anda di halaman 1dari 16

TRADISI ADAT PERNIKAHAN BUGIS SINJAI

OLEH :

RAMI
NIS. 023
KELAS. XII IPS 2

SMA NEGERI 2 SINJAI TENGAH


TAHUN PELAJARAN 2014/2015

KATA PENGANTAR
Puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas segala limpahan rahmat
dan karunia-Nya kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan laporan ini yang
berjudul Tradisi Adat Pernikahan Bugis Sinjai

Penulis menyadari bahwa didalam pembuatan laporan ini tidak lepas dari
bantuan berbagai pihak untuk itu dalam kesempatan ini penulis menghaturkan
rasa hormat dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang
membantu dalam pembuatan laporan ini.
Kami menyadari bahwa dalam proses penulisan laporan ini masih jauh dari
kesempurnaan baik materi maupun cara penulisannya. Namun demikian, penulis
telah berupaya dengan segala kemampuan dan pengetahuan yang dimiliki
sehingga dapat selesai dengan baik dan oleh karenanya, penulis dengan rendah
hati dan dengan tangan terbuka menerima masukan, saran dan kritikan guna
penyempurnaan laporan ini.
Akhirnya penulis berharap semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi
seluruh pembaca. Amin.
Wassalam
Manimpahoi, 29 Januari 2015
Penulis

DAFTAR ISI

Hal.

HALAMAN JUDUL ...................................................................................... i


KATA PENGANTAR...................................................................................... ii
DAFTAR ISI ................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN .............................................................................. 1
A. Latar Belakang .............................................................................. 1
B. Rumusan Masalah ......................................................................... 1
C. Tujuan ........................................................................................... 1
D. Manfaat ......................................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN ............................................................................... 2
A. Upacara sebelum Pernikahan ........................................................ 2
B. Akad Nikah .................................................................................. 6
C. Upacara Sesudah Akad Nikah ....................................................... 9
BAB III PENUTUP ........................................................................................ 11
A. Kesimpulan ................................................................................... 11
B. Saran ............................................................................................. 11
DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Perkawinan adalah sesuatu yang di lakukan setiap insan ketika sudah
menginjak usia dewasa. pernikahan merupakan sesuatu yang sangat penting dalam
kehidupan manusia karena pernikahan bukan hanya merupakan peristiwa yang
harus ditempuh atau dijalani oleh dua individu yang berlainan jenis kelamin,
tetapi lebih jauh adalah perkawinan sesungguhnya proses yang melibatkan beban
dan tanggung jawab dari banyak orang, baik itu tanggung jawab keluarga, kaum
kerabat, bahkan kesaksian dari seluruh masyarakat yang ada di lingkungannya.
Prosesi pernikahan berbeda satu sama lain pada setiap daerah. Ada
yang melakukan prosesi pernikahan secara glamour dan ada yang melakukannya
dengan sangat sederhana. Tidak terkecuali suku-suku pedalaman yang ada di
seluruh penjuru dunia, termasuk suku-suku yang ada di Indonesia. Salah satunya
adalah suku bugis. Suku Bugis adalah masyarakat asli dari Provinsi Sulawesi
Selatan. Suku Bugis tersebar di beberapa kabupaten di Sulawesi Selatan, seperti
Kabupaten Luwu, Bone, Wajo, Pinrang, Barru, dan Sidenreng Rappang. Seperti
suku-suku yang lainnya yang ada di nusantara, masyarakat bugis juga memiliki
tradisi dalam proses pernikahan. Mulai dari lamaran, pra akad nikah, akad nikah,
sampai dengan pasca akad nikah. Semuanya terangkai dalam suatu proses yang
cukup unik dan kompleks.

Berdasarkan paparan di atas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian


terhadap prosesi adat pernikahan suku Bugis Sinjai.
B. Rumusan Masalah
Bagaimana tradisi adat perkawinan suku bugis Sinjai ?
C. Tujuan
Untuk mengetahui tradisi adat perkawinan suku bugis Sinjai.
D. Manfaat
Untuk menambah pengetahuan pembaca tentang tradisi adat perkawinan
suku bugis Sinjai
BAB II
PEMBAHASAN
TRADISI ADAT PERKWAINAN BUGIS SINJAI
A. Upacara Sebelum Pernikahan
Budaya dan adat perkawinan suku Bugis Sinjai adalah salah satu budaya
pernikahan di Indonesia yang paling kompleks. Bagaimana tidak mulai dari ritual
lamaran hingga selesai resepsi pernikahan akan melibatkan seluruh keluarga yang
berkaitan dengan kedua pasangan calon mempelai. Ditambah lagi dengan biaya
mahar dan "doi' panaik" atau uang naik atau biaya akomodasi pernikahan yang
sangat mahal.
Adapun upacara sebelum pernikahan, yaitu :
1. Madduta Massuro / Lettu
Madduta artinya meminang secara resmi, dahulu kala dilakukan beberapa
kali, sampai ada kata sepakat, namun secara umum proses yang ditempuh sebelum
meminang adalah sebagai berikut:
Mammanu-manu
Mammanu-manu bermakna seperti burung yang terbang kesana kemari,
untuk menyelidiki apakah ada gadis yang berkenan di hati. Langkah pendahuluan
ini biasanya ditugaskan kepada seseorang biasanya kepada para paruh baya
perempuan, yang akan melakukan kunjungan biasa kepada keluarga perempuan
untuk mencari tahu seluk beluknya.
Mappettu Ada

Mappettu Ada biasanya ditindak lanjuti dengan mappasierekeng atau


menyimpulkan kembali kesepakatan-kesepakatan yang telah dibicarakan bersama
pada proses sebelumnya. Pada saat inilah akan dibicarakan secara terbuka segala
sesuatu terutama mengenai hal-hal yang prinsipil. Ini sangat penting karena
kemudian akan diambil kesepakatan atau mufakat bersama, kemudian dikuatkan
kembali keputusan tersebut (mappasierekeng).
Pada saat Mappettu ada akan disepakati beberapa perjanjian, diantaranya:
a. Sompa, Sompa artinya mas kawin atau mahar sebagai syarat sahnya suatu
perkawinan. Besarnya sompa telah ditentukan menurut golongan atau
tingkatan derajat gadis. Penggolongan sompa tidaklah selalu sama dalam
pengistilahannya. Ada dalam bentuk mata uang real dan ada pula dalam
bentuk kati tetapi dalam buku ini secara umum adalah sebagi berikut:
Bangsawan tinggi 88 real, Bangsawan menengah 44 real, Arung palili 28
real,Golongan tau maradeka 20 real,Golongan ata (budak) 10 real
b. Dui menre / Dui balanca
Dui menre adalah sejumlah uang yang akan diserahkan oleh pihak laki-laki
pasa saat mappettu ada (mappasierekeng). Hal ini biasa dilakukan oleh pihak
perempuan untuk mengetahui kerelaan atau kesanggupan berkorban dari pihak
laki-laki sebagai perwujudan keinginannya untuk menjadi anggota keluarga. Dui
menre ini akan digunakan oleh pihak perempuan dalam rangka membiayai pesta
perkawinannya.
2. Tanra esso akkalabinengeng
Kalau semua persayaratan ini telah disepakati, kemudian telah dikuatkan
(mappasierekeng) maka pinangan telah resmi diterima. Kemudian akan disepakati
lagi hari H perkawinan. Penentuan hari H perkawinan (tanra esso akkalabineneng)
atau penentuan saat akad nikah biasanya disesuaikan dengan penanggalan
berdasarkan tanggal dan bulan Islam.
3. Mappaisseng atau memberi kabar
Setelah kegiatan madduta atau peminangan telah selesai dan menghasilkan
kesepakatan, maka kedua pihak keluarga calon mempelai akan menyampaikan

kabar mengenai perkawinan ini. Biasanya yang diberi tahu adalah keluarga yang
sangat dekat, tokoh masyarakat yang dituakan, serta tetangga-tetangga dekat.
4. Mattampa / Mappalettu selleng
Kegiatan ini merupakan kelanjutan dari proses sebelumnya yaitu
mappaisseng, dan biasanya pihak keluarga calon mempelai akan mengundang
seluruh sanak saudara dan handai taulan. Undangan tertulis ini dilaksanakan kirakira 10 atau 1 minggu sebelum resepsi perkawinan dilangsungkan.
5. Mappatettong sarapo/ Baruga
Sarapo atau baruga adalah bangunan tambahan yang didirikan di samping
kiri/kanan rumah yang akan ditempati melaksanakan akad nikah. Sedangkan
baruga adalah bangunan terpisah dari rumah yang ditempati bakal pengantin dan
dindingnya terbuat dari jalinan bambu yang dianyam yang disebut wlsuji
walasuji. Di dalam sarapo atau baruga dibuatkan pula tempat yang khusus bagi
pengantin dan kedua orang tua mempelai yang disebut lmi lamming.
6. Mappacci / Tudampenni
Upacara adat mappacci dilaksanakan pada waktu tudampenni, menjelang
acara akad nikah/ijab kabul keesokan harinya. Upacara mappacci adalah salah
satu upacara adat Bugis yang dalam pelaksanaannya menggunakan daun pacar
(Lawsania alba), atau Pacci. Sebelum kegiatan ini dilaksanakan biasanya
dilakukan dulu dengan mappanre temme (khatam Al-Quran) dan barazanji. Daun
pacci ini dikaitkan dengan kata paccing yang makananya adalah kebersihan dan
kesucian. Dengan demikian pelaksanaan mappacci mengandung makna akan
kebersihan raga dan kesucian jiwa.
Dalam pelaksanaan mappacci disiapkan perlengkapan yang kesemuanya
mengandung arti makna simbolis seperti:
Sebuah bantal atau pengalas kepala yang diletakkan di depan calon
pengantin, yang memiliki makna penghormatan atau martabat, kemuliaan
dalam bahasa Bugis berarti mappakalebbi.
Sarung sutera 7 lembar yang tersusun di atas bantal yang mengandung arti
harga diri.

Di atas bantal diletakkan pucuk daun pisang yang melambangkan kehidupan


yang berkesinambungan dan lestari.
Di atas pucuk daun pisang diletakkan pula daun nangka sebanyak 7 atau 9
lembar sebagai permakna menasa atau harapan.
Sebuah piring yang berisi wenno yaitu beras yang disangrai hingga
mengembang sebagai simbol berkembang dengan baik sesuai dengan arti
bahasa Bugisnya (mpenno riali).
Tai bani, patti atau lilin yang bermakna sebagai suluh penerang, juga
diartikan sebagai simbol kehidupan lebah yang senantiasa rukun dan tidak
saling mengganggu.
Daun pacar atau pacci sebagai simbol dari kebersihan dan kesucian.
Penggunaan pacci ini menandakan bahwa calon mempelai telah bersih dan
suci hatinya untuk menempuh akad nikah keesokan harinya dan kehidupan
selanjutnya sebagai sepasang suami istri hingga ajal menjemput. Daunpacar
atau pacci yang telah dihaluskan ini disimpan dalam wadah bekkeng sebagai
permaknaan dari kesatuan jiwa atau kerukunan dalam kehidupan keluarga
dan kehidupan masayarakat. Biasanya upacara mappacci didahului dengan
pembacaan Barzanji sebagai pernyataan syukur kepada Allah SWT dan
sanjungan kepada Nabiyullah Muhammad SAW atas nikmat Islam. Setelah
semua selesai meletakkan pacci ke telapak tangan calon mempelai maka
tamu-tamu disuguhi dengan kue-kue tradisional yang diletakkan dalam
bosara. Biasanya acara mappacci ini didahului dengan ritual sebagai berikut:
Ripasau
Sementara dalam kesibukan mempersiapkan pesta pernikahan maka
diadakan pula persiapan-persiapan yang tak kalah pentingnya yaitu perawatan
pengantin (ripasau/mappasau). Biasanya perawatan ini dilakukan sebelum hari
pernikahan (3 hari berturut-turut atau karena keterbatasan waktu hanya dilakukan
1 kali saja pada saat sebelum kegiatan mappacci).
Ripasau atau mappsau ini dilakukan pada satu ruangan tertentu yang
terlebih dahulu dipersiapkan dengan memasak berbagai macam ramuan yang
terdiri dari daun sukun, daun coppeng, daun pandan, rampa parapulo dan akarakaran yang harum dalam belanga yang besar. Namun sebelum kegiatan ini,

terlebih dahulu pengantin dipakaikan bedak basah atau lulur yang terdir atas beras
yang telah direndam dan telah ditumbuk halus bersama kunyit dan akar-akaran
yang harum ditambah dengan rempah-rempah. Ramuan ini kemudian dilulurkan
ke seluruh permukaan badan. Dahulu kala ritual ini dilaksanakan selama 40 hari,
dewasa ini hanya 3 hari atau 7 hari atau malah hanya 1 kali sebelum acara
tudampenni atau mappacci.
Cemme passili, Mappassili
Disebut juga cemme tula bala yaitu permohonan kepada Allah SWT agar
kiranya dijauhkan dari segala macam bahaya atau bala, yang dapat menimpa
khususnya bagi calon mempelai. Prosesi ini dilaksanakan di depan pintu rumah
dengan maksud agar kiranya bala atau bencana dari luar tidak masuk ke dalam
rumah dan bala yang berasal dari dalam rumah bisa keluar.
Sesudah cemme passili atau mappassili selesai maka calon mempelai baik itu
laki-laki maupun perempuan disilakan mandi seperti biasa.
Macceko
Macceko berarti mencukur rambur-rambut halus yang ada pada dahi dan
di belakang telinga, agar supaya dadasa yaitu riasan hitam pada dahi yang akan
dipakai pada calon mempelai perempuan pada waktu dirias dapat melekat dengan
baik. Acara macceko ini hanya diperuntukkan bagi calon mempelai perempuan.
Dahulu kala model dadasa ini berbeda antara perempuan yang bangsawan dan
perempuan dari kalangan biasa.
B. Akad Nikah /akkalabinengeng
Upacara akad nikah juga memiliki beberapa rangkaian acara yang secara
beruntun. Kegiatan yang dimaksud adalah sebagai berikut:
1. Mappenre Botting
Merupakan kegiatan mengantar pengantin laki-laki ke rumah pengantin
perempuan untuk melaksanakan akad nikah. Di depan pengantin laki-laki ada
beberapa laki-laki tua berpakaian adat dan membawa keris. Kemudian diikuti oleh
sepasang remaja yang masing-masing berpakaian pengantin. Lalu diikuti
sekelompok bissu yang berpakaian adat pula berjalan sambil menari mengikuti

irama gendang. Lalu di belakangnya terdiri dari dua orang laki-laki berpakaian
tapong yang membawa gendang dan gong. Kemudian pengantin laki-laki pada
barisan beikutnya dengan diapit oleh dua orang passeppi dan satu bali botting.
2. Madduppa botting
Diartikan menjemput kedatangan pengantin laki-laki. Sebelum penganting
laki-laki berangkat ke rumah perempuan, terlebih dahulu rombongan tersebut
menunggu penjemput dari pihak perempuan (biasanya dibicarakan lebih dahulu
sebagai suatu perjanjian). Bila tempat mempelai perempuan jauh dari lokasi
rumah laki-laki maka yang disepakati adalah jam tiba di rumah perempuan.
Rombongan penjemput tersebut menyampaikan kepada pihak laki-laki bahwa
pihak perempuan telah siap menerima kedatangan pihak laki-laki. Untuk
menyambut kedatangan rombongan mempelai laki-laki maka di depan rumah
mempelai perempuan telah menunggu beberapa penjemput yaitu: 2 orang
padduppa: 1 orang puteri dan 1 orang remaja dengan pakaian lengkap, 2 orang
pakkusu-usui: perempuan yang sudah menikah, 2 orang pallipa sabbe: sepasang
orang tua setengah baya sebagai wakil orang tua,1 orang prempuan pangampo
wenno, 1 atau 2 orang padduppa botting yang biasanya dilakukan oleh saudara
dari orang tua mempelai perempuan, mereka ditugaskan menjemput dan
menuntun pengantin turun dari kendaraan menuju ke dalam rumah untuk
melaksanakan akad nikah.
3. Akad Nikah
Acara akad nikah dimulai dengan pembacaan ayat suci Al-Quran yang
dilanjutkan dengan pemeriksaan berkas pernikahan, penandatanganan berkas dan
juga sompa. Pihak yang bertandatangan adalah pengantin laki-laki, pengantin
perempuan, wali dan 2 orang saksi. Kemudian dilanjutkan dengan penyerahan
perwalian dari orang tua atau wali pengantin perempuan kepada imam
kampung/penghulu yang akan menikahkan. Ijab kabul dilakukan dengan
didahului oleh khutbah nikah oleh imam kampung atau orang yang ditunjuk oleh
undang-undang. Ijab kabul dilakukan dengan pengantin laki-laki berhadapan
dengan imam lalu saling berpegangan ibu jari kanan sebelumnya. Pengantin lakilaki dibimbing oleh imam untuk menjawab pertanyaan imam, setelah merasa

lancar maka ijab kabulpun dilaksanakan. Proses ijab kabul ini biasanya diulang 23 kali untuk memperjelas ketepatan jawaban laki-laki. Setelah itu pengantin lakilaki membaca sighat taklik talak. Selama proses ini mempelai perempuan tetap
berada di dalam kamar pengantin yang telah dihiasi lamming dan didampingi
oleh: 2 orang passeppi, 1 orang balibotting,3 orang pattiwi cere, 2 orang indo
pasusu. Mereka ini merupakan pendamping yang dahulu kala harus disesuaikan
dengan tingkat derajat pengantin, dan disesuaikan dengan jumlah dari
pendamping pengantin laki-laki yang dibawa. Apabila pengantin perempuan
merupakan puteri bangsawan, maka selain ia dinaungi lellu ia juga dipangku oleh
seorang perempuan atau indo pasusu sendiri selama akad nikah dilakukan.
4. Mappasiluka
Setelah akad nikah selesai maka dilanjutkan dengan acara mappasiluka atau
mappasikarawa. Acara ini merupakan kegiatan mempertemukan mempelai lakilaki dengan pasangannya. Pengantin laki-laki diantar oleh seseorang yang
dituakan oleh keluarganya menuju kamar pengantin. Kegiatan ini biasa disebut
juga dengan mappalettu nikka. Setiba di kamar, oleh orang yang mengantar
menuntun pengantin laki-laki untuk menyentuh bagian tertentu tubuh pengantin
perempuan. Ada beberapa variasi bagian tubuh yang disentuh, antara lain: Ubunubun, bahkan menciumnya agar laki-laki tidak diperintah oleh istrinya, Bagian
atas dada, agar kehidupan keluarga dapat mendatangkan rezeki yang banyak
seperti gunung, jabat tangan atau ibu jari, diharapkan nantinya kedua pasangan ini
saling mengerti dan saling memaafkan,dan ada pula yang memegang telinganya
dengan maksud agar istrinya dapat senantiasa mendengar ajakan suaminya.
Setelah uapacara ini pengantin laki-laki duduk di sisi istrinya untuk
mengikuti kegiatan malloangeng. Orang tua atau orang yang telah ahli dalam hal
ini ditunjuk melilitkan kain/sarung sehingga kedua pengantin berada dalam satu
sarung, kemudian kedua pinggirnya dikaitkan dan dijahit tiga kali dengan benang
emas atau benang biasa yang tidak ada pinggirnya. Kegiatan ini memiliki makna
agar nantinya pasangan ini senantiasa bersatu padu dalam menempuh kehidupan
rumah tangganya di kemudian hari.
5. Marellau Dampeng

Setelah prosesi mappasiluka maka dilanjutkan dengan acara memohon maaf


kepada kedua orang tua pengantin perempuan dan seluruh keluarga dekat yang
sempat hadir pada akad nikah tersebut. Selesai memohon maaf lalu kedua
pengantin diantar menuju pelaiminan untuk bersanding guna menerima ucapan
selamat dan doa restu dari segenap tamu dan keluarga yang hadir.
C. Upacara Sesudah Akad Nikah
1. Mapparola
Acara ini merupakan juga prosesi penting dalam rangkaian perkawinan suku
Bugis, yaitu kunjungan balasan dari pihak perempuan kepada pihak lak-laki. Jadi
merupakan sebuah kekurangan, apabila seorang mempelai perempuan tidak
diantar ke rumah orang tua mempelai laki-laki. Kegiatan ini biasanya
dilaksanakan sehari atau beberapa hari setelah upacara akad nikah
dilaksanakan. Pada hari yang disepakati untuk proses mapparola/marola
(mammatoa) kedua belah pihak kemudian mengundang kembali keluarga dan
kaum kerabat untuk hadir dan meramaikan upacara mapparola. Keluarga pihak
perempuan mengundang beberapa keluarga untuk turut mengantar kedua
mempelai ke rumah orang tua pihak laki-laki. Sedangkan pihak laki-laki
mengundang beberapa keluarga dan kerabat untuk menyambut kedatangan pihak
perempuan. Kedua mempelai kembali dirias seperti pada waktu akad nikah,
lengkap pula dengan semua pengringnya, seperti balibotting, passeppi, pembawa
cerek, pembawa tombak, pembawa payung, pembawalellu, indo pasusu.
Apabila kedua mempelai beserta rombongan tiba di hadapan rumah orang
tua laki-laki maka disambut dengan wanita berpakaian waju tokko hitam dengan
menghamburkan wenno, sebagai pakkuru sumange (ucapan selamat datang).
Dalam acara mapparola ini biasanya dilakukan juga makkasiwiang yaitu
mempelai perempuan membawakan sarung untuk mertua/orang tua laki-laki
beserta saudar-saudaranya. Hal ini dilakukan di kamar pengantin laki-laki.
Pengantin perempuan diantar oleh indo botting untuk memberikan sarung sutera
kepada orang tua dan saudara pengantin laki-laki. Di daerah Bugis biasanya

pemberian ini akan dikembalikan lagi dengan ditambahkan pemberian dari


mempelai laki-laki sesuai dengan kemampuan.
2. Marola wekka dua
Pada marola wekka dua ini, mempelai perempuan biasanya hanya bermalam
satu malam saja dan sebelum matahari terbit kedua mempelai kembali ke rumah
mempelai perempuan.
3. Ziarah kubur
Meskipun banyak pihak mengatakan bahwa ziarah kubur bukanlah
merupakan rangkaian dalam upacara perkawinan suku Bugis namun sampai saat
ini kegiatan tersebut masih sangat sering dilakukan karena merupakan tradisi atau
adat kebiasaan bagi masyarakat Bugis, yaitu lima hari atau seminggu setelah
kedua belah pihak melaksanakan upacara pernikahan.
4. Cemme-cemme atau mandi-mandi
Sudah menjadi tradisi bagi suku Bugis bahwa setelah upacara perkawinan
yang banyak menguras tenaga dan pemikiran maka rombongan dari kedua belah
pihak pergi mandi-mandi di suatu tempat.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Suku bugis sinjai yang terletak di Provinsi Sulawesi Selatan mempunyai
prosesi adat yang sangat kompleks. Pernikahan di suku Bugis terdiri dari lima
tahapan, yaitu :
(1)

Pelamaran;

(2)

Pertunangan;

(3)

Pernikahan;

(4)

Pesta Perkawinan;

(5)

Pertemuan resmi berikutnya.

B. Saran
Karena suku Bugis mempunyai adat pernikahan yang sangat unik dan
sangat kompleks, maka masyarakat Bugis khususnya dan masyarakat di Indonesia
umumnya harus bangga dan menjaga adat istiadat tersebut supaya tidak punah.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2012. Budaya Perkawinan Bugis Sinjai. https://blogspot.com. diakses


tanggal 29 Januari 2015.