Anda di halaman 1dari 72

Kerangka Acuan - Analisis Dampak Lingkungan (KA-ANDAL)

Rencana Pembangunan Apartemen dan Hotel

BAB II
RUANG LINGKUP STUDI
2.1.

Lingkup Rencana Usaha dan/atau Kegiatan yang akan Ditelaah

2.1.1. Status dan Lingkup Rencana Usaha dan/atau Kegiatan yang Ditelaah
2.1.1.1. Status Studi AMDAL
Studi AMDAL rencana pembangunan apartemen dan hotel oleh PT. Broadbiz Asia
dilakukan setelah studi kelayakan teknis dan studi kelayakan ekonomi selesai dilakukan.
Berdasarkan hasil studi tersebut diketahui, bahwa rencana pembangunan apartemen
dan hotel ini secara teknis dan ekonomi layak dilakukan.
2.1.1.2. Kesesuaian Lokasi Kegiatan dengan RTRW
Lokasi rencana pembangunan apartemen dan hotel ini secara administratif berada
di Jalan Jenderal Sudirman, Kelurahan Babakan, Kecamatan Tangerang, Kota Tangerang,
Provinsi Banten (Peta lokasi disajikan pada Gambar 2.1). Secara fisik batas-batas tapak
lokasi kegiatan adalah sebagai berikut :

Sebelah Utara berbatasan dengan Perumahan Modernland.

Sebelah

Selatan

berbatasan

dengan

permukiman

warga/permukiman

masyarakat .

Sebelah Barat berbatasan dengan Jalan Jenderal Sudirman.

Sebelah Timur berbatasan dengan Perumahan Modernland.

Berdasarkan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kecamatan Tangerang (Lampiran


Perda No. 11 Tahun 2005) bahwa lokasi tanah rencana pembangunan apartemen dan
hotel ini terletak pada zona yang diarahkan untuk komersial (perdagangan dan jasa).
Berdasarkan RTRW Kota Tangerang Tahun 2010-2030 (Gambar 2.2), Kecamatan
Tangerang diarahkan sebagai pusat kota dengan kegiatan pemerintahan, perdagangan
jasa dan kebijakan pengembangan Kecamatan Tangerang adalah :
1. Menciptakan pusat Kota Tangerang sebagai pusat utama yang menjadi
konsentrasi pusat kegiatan dan pelayanan skala kota.
2. Pengembangan pusat kegiatan perdagangan dan jasa skala kota dengan
membuka peluang kemitraan dengan swasta.
3. Menciptakan kawasan perlindungan tata air dengan penataan sistem drainase
lingkungan, melestarikan dan mencegah kerusakan lingkungan sekitar Situ Gede
dan Sungai Cisadane.

II-1

Kerangka Acuan - Analisis Dampak Lingkungan (KA-ANDAL)


Rencana Pembangunan Apartemen dan Hotel

4. Pengembangan perumahan menengah-atas oleh pengembang swasta.


5. Mengembangkan Kecamatan Tangerang sebagai kawasan strategis dengan
pengembangan kegiatan perdagangan dan jasa komersial.
6. Peremajaan kawasan perkampungan sekitar pusat kota sebagai kawasan
penunjang kegiatan perkotaan.
7. Memanfaatkan budaya lokal untuk pegembangan wisata Kota Tangerang.
8. Penataan lalulintas dan perparkiran yang memadai secara on street dan off street
dengan kerjasama pengelolaan dengan swasta.
Berdasarkan uraian arahan RDTR Kecamatan Tangerang dan RTRW Kota
Tangerang di atas diketahui bahwa rencana pembangunan apartemen dan hotel di
Kelurahan Babakan ini tidak bertentangan dengan rencana tata ruang tersebut.

II-2

Kerangka Acuan - Analisis Dampak Lingkungan (KA-ANDAL)


Rencana Pembangunan Apartemen dan Hotel

Peta Lokasi Proyek

Gambar 2.1. Lokasi rencana pembangunan apartemen dan hotel


II-3

Kerangka Acuan - Analisis Dampak Lingkungan (KA-ANDAL)


Rencana Pembangunan Apartemen dan Hotel

Lokasi Proyek

Lokasi
Proyek

Gambar. 2.2. Peta rencana tata ruang Kota Tangerang


II-4

Kerangka Acuan - Analisis Dampak Lingkungan (KA-ANDAL)


Rencana Pembangunan Apartemen dan Hotel

2.1.1.3. Status Tanah dan Permodalan


Luas tanah yang digunakan untuk pembangunan apartemen dan hotel ini seluas
8.200 m2. Status tanah adalah Hak Milik atas nama PT. Broadbiz Asia. Tanah tersebut
diperoleh dengan cara membeli hak atas tanah dari masyarakat pemilik hak.
Pengalihan hak atas tanah dituangkan dalam Surat Perjanjian Pengikatan Jual Beli
Nomor: 22 Tanggal 25 Maret 2011. Status permodalan usaha PT. Broadbiz Asia adalah
100 % PMDN (Penanaman Modal Dalam Negeri).
2.1.1.4. Rencana Penggunaan Lahan
Pada lahan seluas 8.200 m2 tersebut direncanakan akan dibangun apartemen,
hotel dan area komersial. Bangunan apartemen dan hotel terdiri atas 2 tower (Tower A
dan Tower B). Total jumlah lapis lantai sebanyak 25 lapis, dengan rincian 23 lapis lantai
di atas permukaan tanah (ground floor hingga lantai 23) dan 2 lapis lantai di bawah
permukaan tanah (lower ground dan basement). Tinggi bangunan adalah 77,7 m
(ground floor-lantai 23). Luas bangunan adalah 4.141m2 (ground floor) dan luas lantai
bangunan adalah 71.556,50 m2.
Letak Lokasi kegiatan pembangunan Apartemen dengan ketinggian 77,7 m yang
berdekatan dengan Bandara Internasional Sukarno-Hatta harus memenuhi persyaratan
kawasan keselamatan operasional penerbangan ditinjau dari: 1) kawasan pendekatan
dan lepas landas; 2) kawasan kemungkinan bahaya kecelakaan; 3) kawasan di bawah
permukaan horizontal dalam; 4) kawasan di bawah permukaan horizontal luar; 5)
kawasan di bawah permukaan kerucut; 6) kawasan di bawah permukaan transisi; dan
7) kawasan di sekitar penempatan alat bantu navigasi

penerbangan. Secara rinci

alokasi penggunaan lahan disajikan pada Tabel 2.1 dan gambar rencana tapak (site
plan) disajikan pada Gambar 2.3.

II-5

Kerangka Acuan - Analisis Dampak Lingkungan (KA-ANDAL)


Rencana Pembangunan Apartemen dan Hotel

Tabel 2.1. Rencana penggunaan lahan


A. Lahan Terbangun
No
1
2
3

Uraian
Tower A
Tower B
Komersial
Sub Total A

B. Sarana dan Prasarana


No
Uraian
1
Jalan, saluran, dan parkir
2
Lahan untuk pelebaran jalan
3
Taman (ruang terbuka hijau)
dan sarana (jalan setapak, dll)
Sub Total B
Total (A + B)
Keterangan :
Luas areal perencanaan
KDB
RTH

Luas Bangunan (m2)


420,27
1.752,31
1.893,99
4.066,57
Luas (m2)
2.466,92
1.049,05
597,46
4.133,43
8.200,00

Penggunaan
Hotel
Apartemen
Komersial
49,59 %
Penggunaan
Jalan, saluran, dan parkir
Diserahkan ke Pemda
Taman (ruang terbuka hijau)
dan sarana (jalan setapak, dll)
50,41 %
100,00 %

8.200,00 m2
50,50 % (Building Covered yang diizinkan = 60%)
49,50 %

2.1.1.5. Rencana Bangunan


a. Apartemen dan Hotel
Bangunan Tower A diperuntukkan untuk hotel sebanyak 19 lantai (lantai 5 hingga
lantai 23). Jumlah unit hunian hotel direncanakan sebanyak 247 unit. Bangunan Tower
B adalah untuk apartemen sebanyak 19 lantai (lantai 5 hingga lantai 23) dengan jumlah
unit hunian sebanyak 1025 unit. Tipe hunian apartemen dan hotel yang disediakan
adalah tipe 1 BR (luas unit 21,82 m2), tipe 2 BR (luas unit 32,62 m2), tipe 3 BR (luas
unit 57,55 m2) dan tipe 2 BR A (luas unit 35,65 m2). Rincian jumlah unit hunian setiap
lantai disajikan pada Tabel 2.2.
Tabel 2.2. Jumlah unit hunian untuk tower A dan B
Lantai
Lantai 5
Lantai 6
Lantai 7
Lantai 8
Lantai 9
Lantai 10
Lantai 11
Lantai 12
Lantai 13
Lantai 14
Lantai 15
Lantai 16
Lantai 17
Lantai 18
Lantai 19

1 BR
12
12
12
12
12
12
12
12
12
12
12
12
12
12
12

2 BR
1
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

3 BR
0
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1

2 BR A
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1

Tower B
1 BR
36
37
37
37
37
37
37
37
37
37
37
37
37
37
37

2 BR
16
16
16
16
16
16
16
16
16
16
16
16
16
16
16

Keterangan

Total tipe 1 BR =930 unit


Total tipe 2 BR = 305 unit
Total tipe 3 BR = 18 unit
Total tipe 2 BR A = 19 unit
Luas per unit tipe 1 BR
= 21,82 m2
Luas per unit tipe 2 BR
= 32,62 m2
Luas per unit tipe 3 BR
= 57,55 m2

II-6

Kerangka Acuan - Analisis Dampak Lingkungan (KA-ANDAL)


Rencana Pembangunan Apartemen dan Hotel

Lantai
Lantai 20
Lantai 21
Lantai 22
Lantai 23
Jumlah

1 BR
12
12
12
12
228

2 BR
0
0
0
0
1

3 BR
1
1
1
1
18

2 BR A
1
1
1
1
19

Tower B
1 BR
37
37
37
37
702

2 BR
16
16
16
16
304

Keterangan
Luas per unit tipe 2 BR A
= 32,65 m2

Sumber: PT. Broadbiz Asia 2011

b. Area Komersial
Untuk menunjang penyediaan kebutuhan sehari-hari di apartemen dan hotel akan
disediakan area komersial seperti supermarket, cafe, dan restoran. Area komersial
disediakan di lantai lower ground, ground floor, upper ground floor, lantai 3 dan lantai 5.
Fasilitas penunjang lain yang akan disediakan yakni: kolam renang & pusat kebugaran,
taman bermain anak, ruang serbaguna, sarana peribadatan, dan klinik dokter.
Tabel 2.3.

Rincian luas lantai bangunan dan rencana penggunaan bangunan


apartemen, hotel, dan area komersial

Lantai

Area
Komersial

Faslitas
Apartemen

Basement
Lower Ground
Ground Floor
Upper Ground
P3 (Lantai 3)
P4 (Lantai 4)
Lantai 5
Lantai 6-23
Total

2.100,35
3.689,60
3.611,14
828,50
606,50
-

491,40
322,27
224,11
224,11
-

Penggunaan/Luas (m2)
Taman &
Tower A
Tower B
Kolam
Condotel Apartemen
Renang
2.254,21
434,04
1.743,28
7.812,72
31.379,04

Total Luas
(m2)

Parkir,
M/E
5.806,76
3.706,40
4.308,14
4.308,14
-

Sumber: PT. Broadbiz Asia

Rencana tapak (site plan) pembangunan apartemen, hotel dan area komersial
yang akan dibangun PT. Broadbiz Asia disajikan pada Gambar 2.3 dan gambar potong
vertikal bangunan disajikan pada Gambar 2.4. Gambar-gambar detail bangunan
disajikan pada Lampiran 2.

II-7

5.806,76
5.806,75
4.141,00
3.933,41
5.360,75
4.532,25
2.783,82
39.191,76
71.556,50

Kerangka Acuan - Analisis Dampak Lingkungan (KA-ANDAL)


Rencana Pembangunan Apartemen dan Hotel

Gambar 2.6. Lay out ground floor plan gedung Apartemen dan Hotel
Gambar 2.7. Lay out 2nd floor plan gedung Apartemen dan Hotel
Gambar 2.8. Lay out P1/3rd floor plan gedung Apartemen dan Hotel
Gambar 2.9. Lay out P2/4th floor plan gedung Apartemen dan Hotel
Gambar 2.10. Lay out 5th floor plan gedung Apartemen dan Hotel

Gambar 2.3. Rencana tapak (site plan) bangunan apartemen, hotel, dan area komersial
II-8

Kerangka Acuan - Analisis Dampak Lingkungan (KA-ANDAL)


Rencana Pembangunan Apartemen dan Hotel

Gambar 2.4. Gambar potong vertikal bangunan apartemen, hotel dan area komersial
II-9

Kerangka Acuan - Analisis Dampak Lingkungan (KA-ANDAL)


Rencana Pembangunan Apartemen dan Hotel

2.1.1.6. Deskripsi Rencana Kegiatan


Secara umum tahapan kegiatan rencana pembangunan apartemen dan hotel
oleh PT. Broadbiz Asia terdiri atas: (1) tahap prakonstruksi, (2) tahap konstruksi, dan (3)
tahap operasi. Adapun jenis-jenis kegiatan pada masing-masing tahap adalah sebagai
berikut :
a. Tahap Prakonstruksi :
1. Perencanaan.
2. Sosialisasi dan konsultasi publik rencana kegiatan.
3. Pengurusan perizinan.
4. Pemasaran.
b. Tahap Konstruksi :
1. Rekruitmen tenaga kerja konstruksi.
2. Mobilisasi alat dan material.
3. Penggalian basement.
4. Pekerjaan konstruksi bangunan.
5. Pemasaran.
c. Tahap Operasi
1. Rekruitmen tenaga kerja operasi.
2. Aktivitas operasional gedung.
3. Penggunaan air.
4. Pemeliharaan sarana dan prasarana pendukung.
5. Pengelolaan limbah padat dan cair.
6. Aktivitas perparkiran.
7. Pemasaran.
d. Tahap Pascaoperasi
1. Pemutusan hubungan kerja
2. Pembongkan bangunan
3. Demobilisasi peralatan
2.1.1.6.1. Tahap Prakonstruksi
(a) Perencanaan
Kegiatan perencanaan, terdiri atas penyusunan site plan, perencanaan detail
bangunan, penyiapan gambar kerja dan spesifikasi teknis, serta perhitungan rencana
anggaran biaya (RAB) dan waktu. Perencanaan konstruksi apartemen dan hotel oleh PT.
Broadbiz Asia dilakukan oleh konsultan perencana untuk menentukan desain,

II-10

Kerangka Acuan - Analisis Dampak Lingkungan (KA-ANDAL)


Rencana Pembangunan Apartemen dan Hotel

kebutuhan tenaga kerja, peralatan, biaya serta jadwal pelaksanaan kegiatan dan
konsultan pengawas untuk membantu pemrakarsa memilih kontraktor pelaksana dan
mengawasi pembangunannya dari awal sampai serah terima proyek (hand over)
kegiatan pembangunan apartemen dan hotel oleh PT. Broadbiz Asia. Dengan adanya
konsultan pengawas ini diharapkan kegiatan yang dilakukan oleh kontraktor sesuai
dengan spesifikasi teknis dan lingkungan yang ditetapkan dalam perencanaan.
Perencanaan meliputi pemilihan kontraktor yang akan melaksanakan usaha dan
kegiatan. Kegiatan ini diprakirakan akan menimbulkan dampak terhadap komponen
sosial, yaitu persepsi masyarakat.
(b) Sosialisasi Rencana Kegiatan dan Konsultasi Publik
Sosialisasi rencana kegiatan dan konsultasi publik dalam rangka penyusunan
AMDAL rencana pembangunan apartemen dan hotel oleh PT. Broadbiz Asia dilakukan
melalui pengumuman di media cetak lokal dan diskusi interaktif langsung dengan
masyarakat di wilayah dampak yaitu di Kelurahan Babakan, Kecamatan Tangerang,
yang dihadiri juga oleh perwakilan masyarakat dan tokoh masyarakat. Pengumuman
melalui media cetak dimuat di Surat Kabar Harian Tangerang Ekspres Hari Selasa,
Tanggal 10 Mei 2011. (Kliping pengumuman rencana kegiatan disajikan pada
Lampiran 3).
Konsultasi publik dengan masyarakat yang akan terkena dampak dilaksanakan di
Aula Kantor Kelurahan Babakan. Resume pelaksanaan konsultasi publik adalah
sebagai berikut :

Waktu pelaksanaan: Sabtu, Tanggal 14 Mei 2011, jam 14.0016.00 WIB,


bertempat di Aula Kelurahan Babakan.

Jumlah peserta: 63 orang.

Latar belakang peserta: perwakilan masyarakat yang terkena dampak, tokoh


masyarakat, LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat), LPM (Lembaga Perwakilan
Masyarakat), Lurah yang ada di lokasi kegiatan,

RT, RW, dan wakil dari

pemrakarsa.

Hasil dari konsultasi publik secara umum sebagai berikut:


(1) Masyarakat Kecamatan Tangerang khususnya Kelurahan Babakan
menyetujui rencana kegiatan dan mengharapkan PT. Broadbiz Asia
sebagai pemrakarsa segera merealisasikan pembangunan apartemen dan
hotel tersebut.
(2) Masyarakat menginginkan agar pemrakarsa mengkaji secara mendalam
dampak kegiatan terhadap komponen lingkungan, seperti: kejadian banjir,

II-11

Kerangka Acuan - Analisis Dampak Lingkungan (KA-ANDAL)


Rencana Pembangunan Apartemen dan Hotel

timbulnya getaran, dan kebisingan yang akan diterima oleh masyarakat


sekitar proyek.
(3) Masyarakat mengharapkan adanya komitmen dari pemrakarsa untuk
memperhatikan apabila rencana kegiatan ini berdampak terhadap
kerusakan rumah warga tentang ganti rugi yang akan diterima oleh warga.
(4) Masyarakat mengharapkan agar proporsi penerimaan tenaga kerja dan
peluang berusaha mengutamakan warga di sekitar tapak proyek.
(5) Masyarakat mempertanyakan penggunaan air apabila apartemen dan
hotel beroperasi bersumber dari mana?
(6) Masyarakat menginginkan adanya kerjasama yang harmonis antara
pemrakarsa dengan warga sekitar proyek selama masa konstruksi dan
operasional dari rencana kegiatan apartemen dan hotel ini.

Berita acara, daftar hadir, dan foto dokumentasi konsultasi publik disajikan
pada Lampiran 4.

(c) Pengurusan Perizinan


Untuk memenuhi legalitas usaha, maka sebelum kegiatan dilaksanakan terlebih
dahulu dilakukan pengurusan perizinan yang diperlukan sesuai peraturan perundangan
yang berlaku. Proses pengurusan perizinan sampai saat ini masih berlangsung,
termasuk izin lingkungan melalui proses studi AMDAL. Sementara dokumen perijinan
yang telah dimiliki oleh PT. Broadbiz Asia dapat dilihat pada Tabel 2.4. dan Lampiran 1.
Tabel 2.4. Izin dan legalitas yang telah dimiliki pemrakarsa
Jenis Izin dan Legalitas

1.

Izin Penggunaan
Pemanfaatan Lahan
Surat Keterangan Lokasi

651/345-IPPT/BPPT/2011

Pertimbangan Teknis
Pertanahan untuk
Pembangunan Apartemen
dan Hotel
Akta Pendirian PT. Broadbiz
Asia
Pengesahan Akta
Pendirian Perseroan
Terbatas
Persetujuan Perubahan
Anggaran Dasar Perseroan
Terbatas
Persetujuan Akta
Perubahan Anggaran
Dasar Perseroan Terbatas

No. 21/9-36.71/III/2011
Tanggal 30 Maret 2011

Kantor Pertanahan
Kota Tangerang
Kantor Pertanahan
Kota Tangerang

No. 21
Tanggal 22 Maret 2002
No. C-12514 HT.01.01.TH.2002
Tanggal 9 Juli 2002

Notaris Myra
Yuwono, S.H.
Departemen
Kehakiman dan HAM

No. C-09337 HT.01.04.TH.2004


Tanggal 19 April 2004

Departemen
Kehakiman dan HAM

No. AHU-11711.AH.01.02.Tahun
2009
Tanggal 8 April 2009

Departemen
Kehakiman dan HAM

2.
3.

4
5

Nomor & Tanggal

Instansi yang
Mengeluarkan
Walikota Tangerang

No

2326/9-36.71/IV/2011

II-12

Kerangka Acuan - Analisis Dampak Lingkungan (KA-ANDAL)


Rencana Pembangunan Apartemen dan Hotel

No

Jenis Izin dan Legalitas

Nomor & Tanggal

Persetujuan Akta
Perubahan Anggaran
Dasar Perseroan Terbatas
Surat Keterangan Domisili
Usaha
Surat Pengukuhan
Pengusaha Kena Pajak

No. AHU-21858.AH.01.02.Tahun
2010
Tanggal 28 April 2009
No. 503/669-Perek.Cbds.
Tanggal 13 Agustus 2010
No. PEM00610/WPJ.08/KP.0803/2010
Tanggal 22 Maret 2010
N0. 09.05.1.51.43949
Tanggal 23 Agustus 2007

9
10

11

Tanda Daftar Perusahaan


(TDP) Perseroan Terbatas

12

Surat Izin Usaha


Perdagangan (SIUP) Kecil

No. 503/30/-BP2T/3003/PK/VIII/2010
Tanggal 11 Agustus 2010

13

Surat Keterangan Domisili


Usaha (SKDU)
Rekomendasi Bangunan
Apartemen

No. 503.2/38-Kel.Bng
Tanggal 9 April 2010
No.AOSH/94/TEK.05/III/2011
tanggal 14 Maret 2011

Kajian Teknis Penataan


Drainase Hotel, Apartemen
dan Pusat Perbelanjaan
Paragon II

No.611.13/0538.SDA/2011
tanggal 7 Juli 2011

14

13

Instansi yang
Mengeluarkan
Departemen
Kehakiman dan HAM
Camat Cibodas Kota
Tangerang
Kantor Pelayanan
Pajak Pratama
Tigakarsa
Suku Dinas
Perindustrian dan
Perdagangan Kota
Madya Jakarta Pusat
Badan Pelayanan
Perizinan Terpadu
Kabupaten
Tangerang
Kelurahan Binong
Kecamatan Curug
Dirjen Perhubungan
Udara, Kementerian
Perhubungan
Dinas Pekerjaan
Umum Kota
Tangerang

Sumber: PT. Broadbiz Asia 2011

(d) Pemasaran
Kegiatan promosi dan pemasaran apartemen dan hotel oleh PT. Broadbiz Asia
memegang peranan penting agar investasi yang ditanamkan dapat segera kembali dan
dapat dimanfaatkan untuk rencana investasi kegiatan perekonomian lainnya.
Mengingat hal tersebut maka kegiatan promosi dan pemasaran perlu dilakukan sejak
tahap prakonstruksi, dengan harapan agar segera setelah tahap konstruksi selesai
seluruh fasilitas komersial yang dibangun dapat terjual dan dapat dioperasikan.
Kegiatan promosi dan pemasaran apartemen dan hotel dilakukan oleh tim pemasaran
yang didukung dengan fasilitas yang memadai meliputi sistem administrasi, leaflet atau
brosur, media cetak, dan komunikasi personal.
2.1.1.6.2. Tahap Konstruksi
a. Rekruitmen Tenaga Kerja
Salah satu kegiatan penting pada tahap konstruksi pembangunan apartemen dan
hotel oleh PT. Broadbiz Asia adalah rekruitmen tenaga kerja. Hal tersebut karena tahap
konstruksi akan menciptakan kesempatan kerja yang tidak sedikit. Keperluan tenaga
kerja selama tahap konstruksi mencakup: keahlian di bidang manajemen, teknisi,

II-13

Kerangka Acuan - Analisis Dampak Lingkungan (KA-ANDAL)


Rencana Pembangunan Apartemen dan Hotel

teknik sipil (engineering), tenaga administrasi, dan tenaga lapangan (mandor dan
pekerja harian).
Penciptaan kesempatan kerja selama tahap konstruksi diprakirakan mencapai
255 orang (Tabel 2.5). Tingkat pendidikan tenaga kerja untuk mengisi posisi atau
bidang keahlian yang diperlukan meliputi strata sarjana (S1), diploma atau ahli madya
(D3), SLTA (STM dan SMU), SLTP, dan SD. Seluruh pekerjaan konstruksi akan dikerjakan
oleh pihak kontaktor. Pemrakarsa akan menyarankan kepada pihak kontraktor agar
mengutamakan masyarakat setempat dalam perekrutan tenaga kerja yang sesuai
dengan kualifikasi yang dibutuhkan.
Tabel 2.5. Prakiraan kebutuhan tenaga kerja tahap konstruksi
No
1
2
3
4
5
6
7
8

Posisi/Keahlian
Manager
Supervisor
Teknisi/Surveyor
Engineering
Tenaga Administrasi
Mandor
Pekerja Harian
Satpam
Jumlah

Tingkat Pendidikan
S1
S1 dan D3
S1 dan STM
S1 dan STM
STM/SMU
STM/SMU
SD/SLTP
SMU

Jumlah (Orang)
5
10
5
5
10
10
200
10
255

Sumber: PT. Broadbiz Asia 2011

Manager Project

Site Manager
HSE

Divisi Peralatan

Supervisor

Divisi Keuangan

Mandor

Tukang

Gambar 2.5. Struktur organisasi pelaksana konstruksi pembangunan apartemen dan


hotel oleh PT. Broadbiz Asia

II-14

Kerangka Acuan - Analisis Dampak Lingkungan (KA-ANDAL)


Rencana Pembangunan Apartemen dan Hotel

Pekerjaan konstruksi rencana Pembangunan Apartemen dan Hotel oleh PT.


Broadbiz Asia dilaksanakan oleh kontraktor yang ditunjuk dengan struktur organisasi
sebagaimana disajikan pada Gambar 2.5. Struktur organisasi tersebut terdiri atas
tingkatan Project Manager (PM), Kepala Divisi, Kepala Seksi, dan Pelaksana.
b. Mobilisasi Alat dan Material
Mobilisasi alat dan material dalam proses pembangunan fisik gedung Apartemen
dan Hotel oleh PT. Broadbiz Asia akan dilakukan oleh kontraktor pelaksana yang akan
menggunakan berbagai peralatan berat, seperti tractor, dump truck, buldozer,
excavator, bore pile, tower crane, motor crane dan berbagai peralatan pendukung
lainnya. Peralatan tersebut digunakan untuk perataan lahan, pembangunan, dan
pemeliharaan infrastruktur. Sedangkan beberapa peralatan tersebut juga digunakan
dalam rangka pengadaan dan pengangkutan bahan-bahan yang berasal dari lokasi
setempat atau dari luar seperi: pasir, batu, semen, besi, kawat beton, tiang besi, cat,
dan lain-lain. Pada tahap awal beberapa alat berat yang dipergunakan dalam
operasional diadakan secara sewa (rental) dan dilaksanakan oleh kontraktor yang
sudah berpengalaman di bidangnya yang berasal dari sekitar Kota Tangerang dan
sekitarnya.
Peralatan berat diangkut dengan trailler sedangkan bahan bangunan diangkut
dengan truck. Semua jenis peralatan ini diangkut melalui segmen jalan yang berada di
sekitar lokasi. Mobilisasi peralatan berat dilakukan pada malam hari, sedangkan
pengangkutan bahan bangunan ada yang dilakukan pada siang dan malam hari.
c. Penggalian Basement
Bangunan Apartemen dan Hotel direncanakan terdiri atas dua lantai basement.
Pada pekerjaan basement ini akan dilakukan penggalian tanah sedalam 7 m. Metode
penggalian dilakukan dengan cara open cut dari atas ke bawah. Alat penggalian tanah
untuk lokasi basement menggunakan excavator lengan pendek. Untuk mencegah
keruntuhan tanah selama proses penggalian, stabilitas tanah akan dijaga agar tidak
runtuh. Volume galian sebesar 5.806,76 m2 x 7 m = 40648 m3.
Tanah galian ditumpuk pada lokasi tertentu menunggu dibuang oleh dump truck
ke luar lokasi atau digunakan sebagai bahan timbunan di dalam lokasi. Tumpukan
tanah akan dibuat tidak terlalu tinggi agar tidak mudah runtuh sehingga mengganggu
pekerjaan yang lain. Tanah galian harus diangkat secepatnya ke luar lokasi atau
ditimbun ke tempat penimbunan sementara di dalam lokasi.
Kendaraan pengangkut hasil galain menggunakan dumptruck engkel yang tidak
melebihi 10 MST (muatan sumbu terberat). Pada prose pengangkutan berkoordinasi

II-15

Kerangka Acuan - Analisis Dampak Lingkungan (KA-ANDAL)


Rencana Pembangunan Apartemen dan Hotel

dengan Dinas perhubungan setempat. Standar pengangkutan galian dilakukan dengan


cara menutup bak kendaraan dengan terpal dan membersihkan roda kendaraan agar
rute jalan yang dilalui tidak kotor.
Tahap pekerjaan yang dilakukan pada saat membuat basement yaitu: pengaturan
stabilisasi tanah, pembuatan dinding, penyokongan gaya samping (lateral), pengaturan
penggalian, pengeluaran air (dewatering) dan pemindahan tumpukan tanah.
Ketika dilakukan penggalian tanah untuk basement maka kecenderungan tanah
mengalami keruntuhan meningkat. Keruntuhan ini terjadi karena adanya tekanan pasif
dan aktif tanah. Keruntuhan tanah akan dicegah dengan membangun dinding penahan
(retaining wall) di sekeliling sisi galian basement. Dinding penahan ini terbuat dari beton
pracetak yang dipancang menggunakan alat pemancang. Selama proses penggalian
tanah untuk basement maka air cenderung tergenang di dalam galian karena adanya
proses pengaliran air ke dalam galian terutama pada musim penghujan. Hasil
pengukuran kedalaman air tanah dangkal, bahwa di tapak proyek kedalaman air tanah
sekitar 12 m, dengan demikian diperkirakan pada penggalian tanah hingga kedalaman
7 m belum ditemukan air tanah dangkal. Jika selama proses penggalian terdapat
genangan air akibat hujan, air tersebut akan dikeluarkan (dewatering). Pengeluaan air
menggunakan selang karet yang ditarik dengan mesin. Air yang dikeluarkan dari dalam
basement dapat diresapkan kembali atau dibuang ke saluran yang disediakan. Metode
yang dilakukan untuk mengeluarkan air yaitu: metode dewatering aktif dengan
menggunakan jenis penghisap well point dan dewatering pasive dengan menggunakan
sum pit .
d. Pekerjaan Konstruksi Bangunan
d.1. Pekerjaan Struktur Bawah
Pekerjaan konstruksi dimulai dengan melakukan pemancangan tiang pancang
dengan ukuran dan kedalam pemancangan yang sesuai dengan kekuatan daya dukung
tanah. Tiang pancang ini berfungsi sebagai fondasi dalam konstruksi apartemen.
Kekuatan daya dukung tanah diperoleh dari hasil test sondir. Dari hasil test sondir
diperoleh besar daya dukung setiap lapisan tanah. Kekuatan tiang pancang dan berapa
kedalaman tiang pancang yang dipancang kedalam tanah tergantung pada beban
bangunan yang akan dipikul tiang pancang. Mutu beton tiang pancang yang
dipergunakan untuk tiang pancang disarankan adalah K-400 atau K-500 yang nilai
kekuatan tekannnya minimum (

bk = 400 atau 500 kg/cm 2 ). Jumlah tiang pancang

sebanyak 112 titik

II-16

Kerangka Acuan - Analisis Dampak Lingkungan (KA-ANDAL)


Rencana Pembangunan Apartemen dan Hotel

Pada bagian atas tiang pancang dibuatkan kepala tiang sebagai tatakan kolom.
Jumlah lapisan tanah yang akan memikul semua beban yang bekerja akan
didistribusikan melalui tiang pancang, sehingga tiang pancang harus dapat memikul
beban tanpa terjadi penurunan. Penurunan tiang pancang terutama penurunan
setempat (tidak rata) akan menimbulkan kemiringan bangunan dan pada akhirnya akan
dapat menimbulkan keruntuhan bangunan. Untuk mencegah terjadinya penurunan
tiang pancang maka sebelum tiang pancang dipancang, maka terlebih dahulu dilakukan
uji pembebanan (loading test). Beban yang akan dipikul oleh tiang pancang adalah
beban berat sendiri, beban angin, beban gempa dan beban hidup yang bergerak di atas
bangunan. Oleh karena itu maka konstruksi tiang pancang harus dapat memikul
kombinasi pembebanan yang bekerja. Beban yang bekerja pada bangunan adalah
beban berat sendiri bangunan, beban hidup, beban angin, dan beban gempa.
Bahan yang digunakan sebagai tiang pancang fondasi adalah prestress concrete
yang dibuat di pabrik pembuatan beton prestress. Jumlah dan ukuran bahan prestress
concrete dibuat di pabrik pembuatan prestress sesuai dengan pemesanan dan diangkut
dengan truk pengangkut ke lokasi proyek. Bahan tiang pancang prestressed dipancang
dengan menggunakan alat pemancang tiang pancang. Tiang pancang dipancang
menggunakan alat pemancang tiang pancang bore pile, sehingga tidak menimbulkan
dampak kebisingan bagi masyarakat sekitar tapak proyek.
Pada saat pemancangan dilakukan alat pemancang dan tiang pancang diangkat
menggunakan truck crane. Crane ini dapat dipindah dari suatu lokasi ke lokasi lain
tanpa bantuan alat pengangkutan. Truck crane ini mempunyai bagian atas yang dapat
berputar 360. Untuk menyangga keseimbangan alat, truck crane memiliki kaki
(outrigger). Di dalam pengoperasiannya kaki tersebut dipasangkan dan roda diangkat
dari tanah sehingga keselamatan dan pengoperasiannya dengan boom yang panjang
akan terjaga.
d.2. Pekerjaan Struktur Atas
Pekerjaan struktur atas adalah semua struktur yang berada di permukaan tanah
dasar. Pekerjaan struktur atas meliputi pekerjaan kolom, balok, plat lantai, dinding.
Bahan struktur kolom, balok, plat lantai, dinding ringan dapat berupa pabrikasi atau cor
di tempat yang sudah dibentuk di pabrik. Untuk bahan beton bertulang pabrikasi, maka
bahan kolom, balok dan plat lantai ini merupak beton bertulang yang sudah diberikan
kekuatan sebelumnya (prestress). Pertemuan antara kolom dan balok disambung
dengan cara grouting supaya mencapai kekuatan penuh. Menurut penelitian pemakaian
bahan ini lebih cepat, kuat, dan ramah lingkungan. Untuk pemasangan kolom yang di

II-17

Kerangka Acuan - Analisis Dampak Lingkungan (KA-ANDAL)


Rencana Pembangunan Apartemen dan Hotel

cor di tempat, kolom diletakkan terpusat di atas pondasi tiang pancang yang telah
dipancang dan dibuatkan kepala tiangnya sebagai dudukan kolom. Kolom berfungsi
untuk memikul semua beban yang bekerja pada konstruksi. Kolom dibentuk dari
pembesian kolom yang di cor dengan beton ready mix yang dituangkan melalui selang
besar ke dalam formwork kolom dari mobil pengangkut ready mix bila campuran beton
didatangkan dari luar proyek. Dimensi dan kekuatan kolom disesuaikan dengan beban
yang bekerja pada kolom. Kolom-kolom harus dirancang menerus dari bawah ke atas
sehingga akan membuat kekakuan yang optimal. Sementara balok seminimal mungkin
menerima beban terpusat di antara dua tumpuannya. Dengan demikian sambungansambungan harus menuju pada titik temu yang dapat diteruskan langsung vertikal ke
bawah. Untuk merencanakan peletakan kolom, denah harus dirancang tepat dengan
pola peletakan kolom. Pola peletakan kolom ini atau disebut juga dengan grid struktur
dipakai untuk mengatur kesesuaian antara fungsi, bentuk ruang dan fasilitas struktur
yang membentuk bangunannya.
Bangunan dengan struktur beton bertulang direncanakan dan dirancang dengan
pertimbangan-pertimbangan tertentu. Untuk merencanakan sebuah bangunan ini harus
diketahui dahulu ketersediaan bahan material dan tenaga kerja pada lokasi bangunan.
Material atau bahan bangunan tidak hanya meliputi semen, pasir, batu atau besi
tulangan saja tapi juga ketersediaan air, cetakan (begesteng) dan juga keadaan alam
(cuaca, iklim). Cuaca terlalu banyak hujan akan membuat konstruksi kurang berjalan
dengan cepat sementara cuaca terlalu panas akan membuat beton terlalu cepat kering
yang akan menimbulkan keretakan. Untuk iklim yang mempunyai perbedaan suhu siang
dan malam yang tinggi akan membuat kembang susut yang tinggi pula pada beton yang
belum jadi tersebut, akibatnya retak-retak juga akan mudah didapatkan pada beton.
Apabila proyek konstruksi menggunakan volume beton relatif besar maka beton
dapat dibuat langsung di lokasi proyek dengan mendirikan concreate mix plant. Hal ini
biasa dilakukan untuk mempercepat pelaksanaan konstruksi dan mengurangi ke luar
masuknya angkutan ready mix. Bahan agregate campuran beton didatangkan dari luar
lokasi proyek. Pengecoran dilakukan setelah kolom dibentuk dengan formwork yang
terbuat dari plat baja yang dapat dipasang dan dibongkar sesuai dengan kebutuhan.
Pada saat kolom sampai pada tiap lantai maka dibuatkan balok (beam) sebagai balok
penopang plat lantai. Pada penggunaan beton untuk pelat lantai akan dipilih lantai yang
tahan terhadap air. Namun untuk pemakaian atap, masih harus dipikirkan penambahan
lapisan kedap air lain untuk mengantisipasi keretakan akibat cuaca. Atap dengan pelat
beton juga dapat dimanfaatkan untuk fasilitas penempatan elemen sistem bangunan
seperti watertank, bahkan taman luar.

II-18

Kerangka Acuan - Analisis Dampak Lingkungan (KA-ANDAL)


Rencana Pembangunan Apartemen dan Hotel

Balok lantai ini terbuat dari beton bertulang dan dicor langsung di tempat dengan
memakai formwork yang juga dapat dipasang dan dibongkar. Pemasangan kolom dan
balok dilakukan sampai lantai tertinggi rencana gedung apartemen dan hotel setinggi
24 lantai. Tinggi tiap lantai kira-kira 3,1 m sudah termasuk tempat pemasangan
plumbing yang diikat pada plat lantai. Kolom, balok, dan lantai harus kuat sehingga
tidak mengalami keruntuhan secara struktur. Pada saat pemasangan kolom, balok, dan
lantai sampai dicapai kekuatan penuh maka konstruksi ditahan dengan menggunakan
scafolding yang dapat dipasang dan dibongkar. Tebal plat lantai 12 cm. Dimensi
kolom 60 x 60 cm. Untuk membentuk sebuah sistem struktur, elemen-elemen beton
(kolom, balok, pelat, dsb) harus disambung dengan cara yang sama dengan pembuatan
elemen tersebut (dicor). Ketika proses pencoran dilakukan supaya hasil cor padat sering
digunakan alat perojok yang bergetar. Ketika pembuatan kolom, balok, dan lantai
dilaksanakan sekaligus juga cerobong tempat pemasangan pipa pembuangan saluran
air kotor, air mandi, lift dan pembuangan sampah serta jaringan kabel yang dibutuhkan.
Selama pelaksanaan konstruksi untuk bangunan tinggi memakai alat pengangkat
tower crane yang dapat berputar bebas. Scaffolding dan tangga digunakan untuk naik
turunnya pekerja bangunan dan sekaligus penyangga. Pada bagian terluar dari
konstruksi sebaiknya dipasang jaring penyelamat untuk mencegah terjadinya
kecelakaan akibat benda-benda jatuh dari atas konstruksi. Setelah konstruksi kolom,
balok dan lantai terpasang maka dapat dilanjutkan dengan pekerjaaan dinding, plafond,
jendela, dan lain-lain. Selama pelaksanaan konstruksi atas ini banyak dijumpai
potongan-potongan sisa bahan seperti kayu, besi, aluminium, kabel, gypsum, karet,
kaca, dan lain-lain. Peralatan yang sering dipergunakan adalah bor, pemotong, gurinda,
mesin las listrik, gergaji, dan lain-lain. Selama pelaksanaan konstruksi atas ini
diperkirakan banyak dijumpai limbah potongan-potongan sisa bahan seperti kayu, besi,
aluminium, kabel, gypsum, karet, kaca, sisa pelumas dan lain-lain. Selain itu terjadi
kebisingan, getaran, pencemaran udara.
Konstruksi bangunan bertingkat harus mempunyai keandalan bangunan yang
meliputi persyaratan keselamatan, kesehatan, kenyamanan, dan kemudahan.
Persyaratan keselamatan dipenuhi dengan membuat komponen struktur utama
mempunyai daya tahan terhadap api dan dipasang anti petir. Ketahanan api komponen
struktur utama pada 4 (empat) lantai teratas pada bangunan tinggi, minimal 1 (satu)
jam sedang dari lantai 5 (lima) sampai dengan lantai 14 (empat belas) dari atas minimal
2 (dua) jam dan dari lantai 15 (lima belas) dari atas sampai lantai terbawah minimal 3
(tiga) jam. Ketahanan api dinding luar pemikul maupun dinding partisi pada 4 (empat)
lantai teratas minimal 1 (satu) jam dan dari lantai di bawah lantai tersebut sampai lantai

II-19

Kerangka Acuan - Analisis Dampak Lingkungan (KA-ANDAL)


Rencana Pembangunan Apartemen dan Hotel

terbawah minimal 2 (dua) jam. Ketahanan api dinding luar bukan pemikul yang
mempunyai risiko terkena api pada semua lantai minimal 1 (satu) jam. Ketahanan api
dinding bukan pemikul pada bagian dalam semua lantai minimal 1/2 (setengah) jam.
d.3. Mekanikal dan Elektrikal
1. Sistem Transportasi Vertikal
Bangunan bertingkat apartemen yang lebih dari lima lantai disyaratkan
mengunakan transportasi vertikal untuk sampai ke lantai yang lebih tinggi. Untuk
apartemen ini menggunakan lift sebagai transportasi vertikal yang beroperasi selama
24 jam/hari. Pada bangunan ini akan disediakan lift penumpang kapasitas 15 orang
(1.000 kg) sebanyak 2 unit dan lift service kapasitas 24 orang (1.600 kg) sebanyak 3
unit. Lokasi lift ditempatkan pada area hall atau lobby bangunan sebagai simpul
sirkulasi horizontal ataupun vertikal. Pada bangunan, lift memerlukan cerobong
menerus yang menembus semua lantai dengan ukuran sesuai pesawat dan peralatan
lain yaitu rell dan atau bandul pemberatnya. Lift barang (service) digunakan untuk
mengangkut barang pada bangunan. Kapasitas angkat lift barang bisanya lebih besar
dari lift penumpang walaupun dengan ukuran yang kurang besar. Lift barang biasanya
diletakkan pada area service dimana delivery barang dilakukan. Lift barang ini tidak
diperuntukkan secara umum, sehingga tidak diberikan akses secara terbuka kepada
pengguna bangunan.
Selain lift juga disediakan tangga cadangan dan tangga darurat. Fungsi tangga
cadangan adalah sebagai alat trasportasi kedua disamping lift untuk keperluan
cadangan bila power atau listrik mati, terjadi kerusakan pada sistem lift, over-capacity
pada lift, terjadi gempa atau gangguan alam lain. Desain tangga akan memperhatikan
aspek-aspek, antara lain lebar, tinggi anak tangga dan jumlahnya (kelipatannya). Lebar
tangga cadangan dibuat minimal 110 cm dan maksimal 160 cm. Anak tangga setinggi
25 cm. Dengan lebar tangga ini pengguna dapat berjalan dua arah melewati anak
tangga dalam keadaan aman. Tangga cadangan terletak di sekitar lift berada, atau di
area sirkulasi utama dalam bangunan (hall, lobby dsb).
Selain tangga cadangan juga akan disediakan tangga darurat. Tangga darurat
fungsinya sebagai alat transportasi vertikal yang hanya ditujukan untuk menurunkan
pengguna ke luar bangunan secepatnya dalam keadaan darurat. Prinsip tangga darurat
ini hanya digunakan untuk satu arah menurun saja sehingga lebar tangga didesain
hanya untuk satu orang saja sekitar 60 70 cm. Lebar dan tinggi anak tangga relatif
sama dengan tangga biasa namun agar tidak terlalu landai dan terlalu curam untuk
menghindari kecelakaan jika digunakan secara bersama-sama dalam antrian pada
keadaan yang panik.

II-20

Kerangka Acuan - Analisis Dampak Lingkungan (KA-ANDAL)


Rencana Pembangunan Apartemen dan Hotel

2. Sarana Pemadam Kebakaran


Untuk menghindari bahaya kebakaran, pada bangunan ini akan disediakan sistem
untuk mencegah dan mematikan kebakaran. Untuk mencegah dan mengendalikan
kebakaran akan dipasang sistem sprinklers dan hydrant. Sistem springklers dipasang
pada gedung dengan menggunakan media pemadam api air atau cairan khusus untuk
efektifitas pemadaman. Hydrant dipasang pada setiap lantai dengan jarak 40 m dan
posisi kegiatan usaha memungkinkan secara cepat mobil pemadam kebakaran masuk
ke dalam lokasi apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Sistem pemadam kebakaran dirancang untuk dapat mengendalikan kebakaran
yang terjadi di dalam lokasi apartemen dan hotel. Pemadam kebakaran akan dirancang
sebagai berikut:
1. Pelaksanaan pemadaman api sudah harus terlaksana begitu terjadi kejadian.
2. Alat-alat pemadam kebakaran ditempatkan di lokasi yang mudah dijangkau/diakses.
3. Beberapa alat pemadam kebakaran portabel ditempatkan di lokasi-lokasi strategis.
4. Box hidran di tempatkan pada area dengan interval jarak maksimum 40 m.
Kapasitas air hidran minimum 2.000 l/menit.
5. Pada bangunan apartemen dan hotel akan dipasang detektor panas.
Sumber air untuk pemadam kebakaran berasal dari ground tank, jaringan pipa
PDAM dan mobil pemadam kebakaran. Untuk memompa air dari ground tank akan
disediakan electrical fire pump (kapasitas 750 GPM, 10,3 bar), electrical jockey pump
(kapasitas 25 GPM, 11,3 bar dan diesel pupm (kapasitas 750 GPM, 10,3 bar). Untuk
dapat mengakses air dari jaringan PDAM akan dipasang hidran pillar dan untuk dapat
mengalirkan air dari tangki air pemadam kebakaran akan dipasang siemess connection.
Adapun spesifikasi alat dan system pengendalian kebarakan yang diterapkan digedung
apartemen dan hotel ini berupa :
a. Hidran Box Indoor sebanyak 76 unit
b. 1 buah pillar hidran lengkap dengan outdoor hidran box pada masing masing
tower.
c. Tabung Pemadam Kebakaran (APAR) 5 kg dan 3 kg.
d. Automatic Sprinkler System untuk setiap ruangan.
e. Fire Alarm untuk kontol asap dan panas.
f.

smoke Extract untuk menyedot asap saat kebakaran.

g. Siamese Connection ditempatkan dekat dengan jalan masuk comersial area


agar akses mobil pemadam kebakaran lebih mudah untuk hydrant dan
sprinkler.
h. Tangga biasa yang digunakan sebagai tangga kebakaran dan tangga darurat.

II-21

Kerangka Acuan - Analisis Dampak Lingkungan (KA-ANDAL)


Rencana Pembangunan Apartemen dan Hotel

Dibeberapa tempat juga dilengkapi dengan sarana kebakaran seperti pada


ruang diesel disediakan portable fire extinguisher menggunakan CO2 23 Kg dan
menggunakan troley, Ruang AHU juga dilengkapi fire extinguisher CO2 5 Kg. Untuk lebih
jelas tentang posisi dan jumlah alat pengendali kebakaran pada gedung dan bangunan
Apartemen dan Hotel Paragon Square disajikan pada Lampiran 2.

3. Instalasi Listrik
Sumber listrik utama berasal dari PLN dan sebagai cadangan akan disediakan
generator set (genset). Untuk itu akan dipasang trafo sebanyak 2 unit dengan kapasitas
masing-masing 500 kVA (20 kV/30/50 Hz) dan genset dengan kapasitas 500 kVA
(380/220/50 Hz). Dengan demikian sistem instalasi listrik gedung didesain dapat
menggunakan keduanya. Hal utama yang harus disediakan adalah ruang panel. Panel
ini berfungsi mengatur pasokan listrik ke dan di dalam bangunan.
Selain sumber listrik dari PLN, juga diperlukan sumber cadangan untuk
mengantisipasi bila pasokan listrik dari PLN padam. Genset akan ditempatkan di ruang
khusus sehingga bila beroperasi tidak menyebabkan gangguan seperti getaran dan
kebisingan.

4. Sistem Tata Air (Plumbing)


Pada kegiatan ini, air bersih diperlukan dengan volume yang tinggi yakni untuk
kebutuhan hotel, apartemen, dan area komersial. Selain itu air bersih juga diperlukan
untuk pemeliharaan taman, cadangan untuk pemadam kebakaran dan untuk kolam
renang. Sumber air direncanakan berasal dari sumur dalam dan dari PDAM. Untuk
menampung air akan disediakan 1 unit ground tank dan 3 unit roof tank. Dimensi
tangki air bersih dirancang untuk dapat mensupplai kebutuhan air pada jam puncak
seperti pagi dan sore hari dan untuk cadangan air pemadam kebakaran.
Pipa-pipa air bersih (digabung dengan pipa lainnya) ditempatkan di dalam shaft
yang sudah disediakan untuk memudahkan pemasangan, pemantauan, dan
pemeliharaan. Shaft-shaft ini diletakkan tidak jauh dengan area layanan kamar mandi.
Untuk itu, posisi area layanan ini secara vertikal idealnya segaris lurus vertikal. Pada
beberapa bangunan diperlukan penyediaan air panas. Air panas ini didapatkan dengan
menyediakan pemanas air.
Pada saat bangunan sudah dioperasikan volume air kotor yang dihasilkan juga
tergolong besar. Air kotor dari W.C. dan kamar mandi dialirkan melalui saluran pipa yang

II-22

Kerangka Acuan - Analisis Dampak Lingkungan (KA-ANDAL)


Rencana Pembangunan Apartemen dan Hotel

berbeda. Air kotor (limbah cair domestik) ini akan diolah terlebih dahulu di STP (Sewage
Treatment Plant) sebelum dibuang ke saluran drainase/saluran kota. Ukuran pipa
dibuat untuk dapat mengalirkan semua air kotor yang dihasilkan, karena itu ukuran pipa
dari lantai atas ke lantai dibawahnya mulai dari ukuran kecil dan besar. Dengan
penyusunan ini diharapkan air tidak meluap dari dalam pipa. Pipa terbuat dari bahan
yang kuat sehingga mampu melawan tekanan air di dalam pipa saluran. Air kotor yang
berasal dari kamar mandi, air pencucian di wastafel akan diolah terlebih dahulu dalam
IPAL sebelum dibuang ke saluran drainase.
5. Instalasi Penangkal Petir
Mengingat bangunan apartemen dan hotel ini merupakan bangunan tingkat tinggi,
sehingga rawan terkena sambaran petir, maka akan dipasang instalasi penangkal petir.
Pemasangan instalasi penangkal petir akan mengikuti standar, normalisasi teknik dan
peraturan yang berlaku. Prinsip instalasi penangkal petir yang akan dipasang ;
a. Harus dapat melindungi semua bagian dari bangunan termasuk juga manusia
yang ada di dalamnya, terhadap bahaya sembaran petir.
b. Harus

memperhatikan

arsitektur

bangunan,

tanpa

mengurangi

nilai

perlindungan terhadap sambaran petir yang efektif.


c. Terhadap instalasi penangkal petir harus dilakukan pemeriksaan dan
pemeliharaan secara berkala.
d. Setiap perluasan atau penambahan bangunan instalasi penangkal petir harus
disesuaikan dengan adanya perubahan tersebut.
e. Adanya terjadi sambaran pada instalasi penangkal petir, harus diadakan
pemeriksaan dari bagian-bagiannya dan harus segera dilaksanakan perbaikan
terhadap bangunan yang mengalami kerusakan.
d.4. Pembuatan Sarana Penunjang
Prasarana dan sarana apartemen adalah kelengkapan dasar fisik lingkungan
yang memungkinkan lingkungan apartemen dapat berfungsi sebagaimana mestinya.
Prasarana dan sarana itu antara lain berupa: jaringan pemadam kebakaran, tempat
sampah, parkir, saluran drainase, sumur resapan, rambu penuntun, dan lampu
penerangan luar.
1. Jalan Keluar-Masuk
Sistem sirkulasi keluar-masuk gedung akan dirancang untuk dapat saling
mendukung, antara sirkulasi eksternal dengan internal bangunan, serta antara individu
pemakai bangunan dengan sarana transportasinya. Sirkulasi harus memberikan

II-23

Kerangka Acuan - Analisis Dampak Lingkungan (KA-ANDAL)


Rencana Pembangunan Apartemen dan Hotel

pencapaian yang mudah dan jelas untuk kendaraan pemadam kebakaran dan
kendaraan pelayanan lainnya.
Sirkulasi dibuatkan petunjuk arah supaya jelas. Akses keluar-masuk gedung
direncanakan dibuat di sisi Jalan Sudirman (lihat layout bangunan). Pintu masuk (in)
dibuat di sisi Selatan, pintu keluar (out) dibuat dua yakni di sisi Selatan dan Utara. Hal
ini dimaksudkan untuk mempermudah aksesibilitas ke apartemen dan hotel.
2. Parkir
Areal parkir kendaraan yang disediakan sebanyak 536 SRP (Satuan Ruang Parkir)
untuk mobil dan 368 SRP untuk sepeda motor. Rincian lahan parkir yang disediakan
disajikan pada Tabel 2.6.
Tabel 2.6. Parkir yang disediakan
Lokasi Parkir
Parkir Area Komersial (A)
Basement
Lower ground
Ground floor
Jumlah A
Parkir Apartemen dan Hotel (B)
Lantai 3 (P3)
Lantai 4 (P4)
Jumlah B
Total parkir (A + B)

Jumlah Unit (SRP)


Sepeda
Mobil
Motor
140
69
43

Ketentuan Parkir (SNI 031733-2004)


Apartemen = 1 SRP
mobil untuk 5 unit
368
(0,2 x 1117 = 223 SRP)

184
184
252

142
142

284
536

Keterangan

0
368

Area komersial = 1
SRP mobil untuk setiap
60
m2
bangunan
(10.836,09 m2/60 =
180,6 SRP mobil

Sumber: PT. Broadbiz Asia 2011

Dalam penyediaan parkir maka setiap bangunan apartemen bertingkat tinggi


diwajibkan menyediakan area parkir dengan rasio 1 (satu) lot parkir kendaraan untuk
setiap 5 (lima) unit hunian yang dibangun. Namun demikian besaran parkir akan
berbeda-beda tergantung pusat kegiatan yang dilayaninya. Standar besaran yang
umumnya dipakai adalah:
a. Setiap luas 60 m2 luas area perbelanjaan 1 lot parkir mobil.
b. Setiap luas 100 m2 luas area perkantoran 1 lot parkir mobil.
c. Sedangkan pemilikan kendaraan adalah 60 mobil setiap 1.000 penduduk.
d. Rumus Luas parkir untuk area hunian:
e. Luas lahan parkir (bruto) = 3% x Luas daerah dilayani (Pedoman Perencanaan
Lingkungan Pemukiman Kota Dirjen Cipta Karya, 1983).
f.

Dimensi minimal parkir 2.5 x 5.5. m (SNI 03-1733-2004).

Sarana parkir akan disediakan di beberapa tempat, yakni di area apartemen dan
di basement bangunan. Kapasitas parkir yang disediakan dapat dilihat pada Tabel 2.7.

II-24

Kerangka Acuan - Analisis Dampak Lingkungan (KA-ANDAL)


Rencana Pembangunan Apartemen dan Hotel

Tabel 2.7. Kapasitas parkir yang akan disediakan


No.

Peruntukan

Kapasitas
Mobil

Motor

140

184

1.

Basement

2.

Semi Basement

69

184

3.

Ground FL

43

4.

P1/3rd FL

142

5.

P2/4rd FL

142

536

368

TOTAL
Sumber: PT. Broadbiz Asia, 2011

3. Landscaping
Landscaping dan penghijauan yang dilakukan adalah dengan membuat taman di
sekitar area pembangunan. Hal ini perlu dilakukan dalam upaya menambah nilai
estetika keberadaan Apartemen dan Hoteldan berfungsi sebagai daerah resapan air
saat terjadi hujan. Area yang digunakan dalam kegiatan ini adalah seluas 597,46 m 2.
Jenis vegetasi yang akan ditanam memiliki multifungsi: yaitu fungsi hidrologi
(menjaga tata air), penguat tanah, dan menyediakan habitat fauna, seperti pohon
Beringin. Tanaman penyerap CO2 adalah tanaman-tanaman yang berdaun lebar, yaitu
seperti Glodokan Tiang dan Dadap Merah; dan untuk menyerap SO2 tanaman yang
sering digunakan adalah tanaman Kayu Manis. Area yang digunakan untuk penghijauan
dapat dilihat pada Lampiran 2.
4. Drainase
Sistem drainase permukaan berfungsi untuk mengendalikan limpasan air hujan
(run off) di permukaan agar tidak merusak konstruksi seperti kerusakan karena air
banjir yang melimpas di atas permukaan jalan dan kerusakan pada badan jalan akibat
erosi. Limpasan air hujan akan meningkat dengan dibangunnya apartemen dan hotel
karena berkurangnya resapan air. Untuk mencegah menyebarnya aroma yang bau dan
kelihatan indah maka dipakai drainase sistem tertutup yang dilengkapi dengan bak
kontrol (man hole) untuk mempermudah mengeruk drainase apabila terjadi sumbatan.
Man hole terbuat dari plat baja yang dipasang pada jarak 6 m, sehingga memungkinkan
air masuk ke dalam saluran. Permukaan aliran air menuju drainase harus dibuat miring
supaya dapat dengan cepat mengalirkan limpasan air permukaan akibat hujan ke
drainase. Dengan demikian genangan air diharapkan tidak terjadi. Bahan yang dipakai
untuk drainase adalah pasangan batu kali yang dilapisi dengan dengan spesi semen.
Dapat juga dibuat dari cor beton di tempat dengan penguatan besi bertulang.

II-25

Kerangka Acuan - Analisis Dampak Lingkungan (KA-ANDAL)


Rencana Pembangunan Apartemen dan Hotel

5. Sumur Resapan
Sumur resapan berfungsi untuk membantu infiltrasi air hujan ke dalam tanah
sehingga mengurangi run off yang masuk ke saluran drainase utama. Kapasitas dan
jumlah sumur resapan yang akan dibuat disesuaikan dengan volume air yang akan
diresapkan (air hujan yang jatuh ke atap bangunan). Jumlah sumur resapan ditentukan
satu unit untuk luasan kira-kira 50 m2 dengan ukuran mimimal 1 m x 3 m. Berdasarkan
Permen LH No. 12 Tahun 2009, bahwa setiap tambahan 500 1.000 m2 luas tutupan
bangunan diperlukan tambahan 1 (satu) unit sumur resapan dalam. Pada
pembangunan apartemen dan hotel yang memiliki luas lahan 8.200 m2 maka wajib
membuat 9 17 unit sumur resapan dalam. Area lokasi sumur resapan dapat dilihat
pada Lampiran 2.
Sumur resapan yang dibangun berupa lubang yang terdiri atas bagian-bagian:

Bak kontrol yang berfungsi untuk menyaring air sebelum masuk sumur resapan.

Pipa pemasukan atau saluran air masuk. Ukuran tergantung jumlah aliran
permukaan yang akan masuk.

Bidang resapan.

Pipa pembuangan yang bersungsi sebagai saluran pembuangan jika air dalam
sumur resapan sudah penuh.

Gambar 2.6. Spesifikasi sumur resapan


6. Tempat Penampungan Sementara (TPS) Sampah
Pengelolaan sampah dimulai dari mengumpulkan sampah ke dalam wadah yang
telah disediakan. Pada setiap unit hunian akan diberikan 2 wadah sampah, satu untuk
sampah organik dan satunya anorganik. Sampah-sampah yang berasal dari aktivitas
penghuni akan dibuang ke TPS yang berada di lantai terbawah unit hunian. Pengaliran
sampah tersebut akan melalui lorong-lorong yang telah disiapkan sebelumnya agar
mempermudah pembuangannya. TPS yang ada di lantai terbawah bangunan berupa

II-26

Kerangka Acuan - Analisis Dampak Lingkungan (KA-ANDAL)


Rencana Pembangunan Apartemen dan Hotel

kontainer. Kontainer TPS juga terdiri atas 2 macam, yaitu untuk sampah organik dan
sampah anorganik. Wadah sampah harus dapat menampung jumlah sampah yang
dihasilkan oleh penghuni apartemen.
Wadah sampah ini ditempatkan pada bangunan yang ditempatkan di bagian
bawah lantai. Ukuran dari bangunan tempat sampah disesuaikan dengan kebutuhan.
Semua sampah yang ada di TPS kemudian diangkut oleh pengangkut sampah ke
pembuangan akhir. Pengangkutan sampah dari TPS menuju ke TPA akan dikordinasikan
dengan petugas Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Tangerang. Kontainer sampah
harus tertutup dan diangkut tepat waktu supaya sampah tidak menumpuk. Cara-cara
mengurangi produksi sampah oleh penghuni harus disosialisasikan supaya kesehatan
lingkungan dapat ditingkatkan.
Selain itu pemrakarsa juga akan membuat TPS untuk limbah B3. Limbah padat B3
dari operasional Apartemen, Hotel dan fasilitas komersil lainnya seperti Lampu TL,
Battery bekas, cartridge printer bekas, dan lain-lain dikumpulkan di TPS limbah B3
sebelum dikirim ke pengelola Limbah B3 berijin KLH. Untuk desain masih dalam proses
pembuatan dan akan mengacu kepada Keputusan Kepala Bapedal No. 1 Tahun 1995
sedangkan proses perizinan penyimpanan limbah B3 akan segera diurus ke instansi
yang berwenang. Dalam rangka melaksanakan UU No. 18 Tahun 2008 tentang
Pengelolaan Sampah, pemrakarsa mensosialisasikan pengelolaan sampah, khususnya
dalam pelaksanaan prinsip 4R (Reduce, Reuse, Recycle, dan Replant). Reduce
(Mengurangi), artinya masyarakat atau penghuni harus berhemat dalam penggunaan
listrik, air, bahan bakar, dan lain sebagainya. Gunakan sesuatu seperlunya saja, jangan
berlebihan dan boros. Reuse (Menggunakan Kembali), artinya barang-barang layak
pakai yang sudah tidak digunakan sebaiknya disumbangkan kepada orang lain.
Kembangkan imajinasi dan kreatifitas agar barang bekas/lama menjadi tampak baru
dan bermanfaat. Recycle (Daur Ulang), artinya lakukan kegiatan daur ulang barangbarang yang sudah tidak terpakai. Recycle yang paling umum dan mudah adalah
pengomposan dan daur ulang kertas. Replant (Menanam Kembali), artinya masyarakat
harus punya inisiatif untuk memulai menanam di lingkungan kita dengan tanaman obat,
rempah dapur, buah-buahan, sayuran, dan tanaman hias.
7. Pembuatan Instalasi Pengolah Limbah Cair
Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) akan dibangun untuk mengolah air
buangan dari toilet (WC) kamar, umum, dan restoran yang ada sebelum air limbah
tersebut dibuang ke perairan umum terdekat. Sistem pengolahan air limbah terdiri atas
dua sistem, yakni (1) sistem pengolah air limbah dari dapur restoran dan hotel atau

II-27

Kerangka Acuan - Analisis Dampak Lingkungan (KA-ANDAL)


Rencana Pembangunan Apartemen dan Hotel

kitchen waste water grease trap dengan perlengkapannya meliputi influent box,
submersible pumps, hydraulic piping, dan electric cabling; dan (2) sistem pengolah air
limbah dengan perlengkapannya berupa tangki penampung air kotor dan teknik
perlakuannya dengan sistem aerasi. Kapasitas IPAL yang terpasang akan menyesuaikan
dengan kapasitas yang dibutuhkan. Limbah cair dari dapur akan diperlakukan dengan
sistem penangkap lemak, mulai dapur sampai pada tangki pusat penampungan (central
grease trap) yang kemudian masuk Ke IPAL. Air kotor dari toilet langsung masuk ke IPAL
dengan perlakuan biologi aerasi. Limbah cair yang dihasilkan akan diolah kembali
(recycle) untuk keperluan penyiraman tanaman dan keperluan lain seperti flushing toilet
sehingga diharapkan tidak semua air limbah terbuang ke drainase ataupun perairan
kota.
e. Pemasaran
Kegiatan promosi dan pemasaran apartemen dan hotel memegang peranan
penting agar investasi yang ditanamkan dapat segera kembali dan dapat dimanfaatkan
untuk rencana investasi kegiatan perekonomian lainnya. Mengingat hal tersebut maka
kegiatan promosi dan pemasaran perlu dilakukan sejak tahap prakonstruksi, dengan
harapan agar segera setelah tahap konstruksi selesai seluruh fasilitas komersial yang
dibangun dapat terjual dan dapat dioperasikan. Kegiatan promosi dan pemasaran
apartemen dan hotel dilakukan oleh tim pemasaran yang didukung dengan fasilitas
yang memadai meliputi sistem administrasi, leaflet atau brosur, media cetak, dan
komunikasi personal.
Sasaran pasar apartemen dan hotel ini meliputi :

Pekerja/kelompok masyarakat dengan pendapatan Rp 3 juta Rp 7 juta/bulan

Pegawai

Negeri,

Guru,

Pegawai

Swasta,

dan

golongan

masyarakat

berpenghasilan menengah ke bawah yang membutuhkan perumahan.

Karyawan yang bekerja di pusat-pusat aktivitas ekonomi seperti perkantoran,


industri, rumah sakit, sekolah, yang belum memiliki rumah sendiri.

Pekerja sektor informal yang membutuhkan membutuhkan tempat tinggal yang


baik, sehat dan dekat dengan pekerjaan.

2.1.1.6.3. Tahap Operasi


a. Rekrutmen Tenaga Operasi
Kegiatan pengelolaan dan pengoperasian apartemen dan hotel akan memerlukan
tenaga kerja meskipun tidak dalam jumlah besar, sehingga perlu dilakukan rekruitmen
tenaga kerja. Diprakirakan jumlah tenaga kerja yang akan direkrut oleh perusahaan
pengelola untuk mengelola, mengoperasikan dan memelihara gedung sekitar 200

II-28

Kerangka Acuan - Analisis Dampak Lingkungan (KA-ANDAL)


Rencana Pembangunan Apartemen dan Hotel

orang. Keperluan tenaga kerja selama tahap operasi mencakup untuk posisi general
manager, manager, staf, staf pemasaran dan tenaga penunjang lainnya baik sebagai
tenaga tetap maupun harian.
b. Aktivitas Operasional Gedung
1. Aktivitas Apartemen
Setelah bangunan apartemen selesai dibangun, maka ruangan di tiap lantai siap
digunakan oleh para penghuninya. Apartemen akan dikelola oleh manajemen yang
sama dengan pengelola hotel. Manajemen ini bertugas untuk memelihara, memperbaiki
dan mengontrol kerusakan-kerusakan yang terjadi di apartemen.
2. Aktivitas Hotel
Setelah bangunan hotel selesai dibangun, maka kamar di tiap lantai siap
digunakan oleh para pengunjung.

Kegiatan ini merupakan pengaturan penyewaan

kamar dan pemanfaatan fasilitas oleh pengunjung. Kegiatan operasional hotel dan
fasilitas yang ada akan diatur oleh pihak hotel. Untuk menciptakan keamanan dan
kenyamanan pengunjung akan dibuat tata-tertib, hak dan kewajiban penyewa kamar.
Pengunjung hotel dapat menggunakan semua fasilitas yang disediakan oleh pihak hotel
sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Kegiatan pelayanan hotel yang dicakup adalah pelayanan tamu saat masuk
(check in), pelayanan prasarana dan sarana kamar hotel, pelayanan restorasi, penyajian
sarana dan prasarana hiburan, sarana informasi dan ruang pertemuan.

3. Aktivitas Area Komersial


Aktivitas perdagangan dan jasa akan berlangsung di area hotel, perkantoran,
rumah makan, gedung pertemuan. Pada area komersil tersebut terdapat coffee shop,
lobby, ruang makan, dan meeting room, dan lainnya. Fasilitas perdagangan dan jasa ini
adalah salah satu fasilitas yang disediakan dengan tujuan untuk memberikan
kesempatan kepada pengunjung yang hendak bersantai diluar kamar serta memberikan
kesempatan kepada pihak lain untuk menggunakan fasilitas pendukung seperti
meeting room, yang dapat digunakan untuk acara rapat dan kolam renang.
Pelayanan hidangan makanan/minuman kepada tamu hotel dan lainnya
dilakukan di ruang makan (restoran) utama. Pengadaan dan penyediaan energi untuk
bahan pengolah masakan seperti gas, minyak tanah, arang, dan lain-lain dilakukan
secara berkala menurut kebutuhan dan tingkat ketersediaannya.

Penyediaan gas

dilakukan kerjasama dengan pengusaha gas LPG yang ada di wilayah Kota Tangerang.

II-29

Kerangka Acuan - Analisis Dampak Lingkungan (KA-ANDAL)


Rencana Pembangunan Apartemen dan Hotel

Bahan makanan akan disajikan dalam bentuk segar dan olahan sesuai dengan
menu yang ada di Hotel. Frekuensi pengolahan disesuaikan dengan jumlah pesanan.
Untuk mempermudah proses pengolahan makanan maka pada setiap meja pengunjung
disediakan Buku Daftar Menu Makanan dan Minuman.
4. Aktivitas Kolam Renang
Hotel menyediakan kolam renang sebagai sarana pelayanan untuk memuaskan
tamu hotel. Letak kolam renang berada di lantai 5. Untuk mempertahankan kejernihan
air kolam, dilakukan dengan cara resirkulasi air secara kontinu. Selain untuk
mempertahankan kejernihan air, cara ini dapat menghemat penggunaan air karena air
dari kolam renang tidak langsung dibuang/dialirkan ke drainase, tetapi digunakan
ulang. Apabila ada hujan atau kotoran yang terdapat dalam kolam renang seperti daun
atau ranting tanaman yang berasal dari tanaman sekitar kolam, dilakukan pembersihan
secara manual menggunakan tongkat penyaring.
Proses pengurasan biasanya dilakukan setiap 1 (satu) bulan sekali. Untuk
mencegah kecelakaan bagi pengguna kolam tersebut, disediakan petugas yang
menjaga kolam renang dan siaga apabila ada keadaan darurat.
5. Pengoperasian Genset
Penyediaan dan pengoperasian genset dimaksudkan sebagai cadangan sumber
listrik apabila aliran listrik PLN sewaktu-waktu terputus. Dalam pemeliharaannya, setiap
hari atau dalam jangka waktu tertentu genset dinyalakan selama 15-30 menit untuk
memanaskan mesin agar kondisi mesin genset tetap optimal.

c. Penggunaan Air
Asumsi penggunaan air untuk aktivitas hotel asumsi penggunaan air berdasarkan
SNI 03-7065-2005 adalah 250 liter/jumlah tempat tidur/hari, jumlah kamar sebanyak
209 unit dengan jumlah tempat tidur sebanyak 283 unit, maka diperlukan air bersih
70,75 m3 per hari. Untuk hunian apartemen, asumsi penggunaan air adalah 250
liter/penghuni/hari, dengan jumlah unit hunian sebanyak 1025 unit, dimana
diperkirakan 1 BR dihuni oleh 2 orang dan 2 BR dihuni 3 orang, maka kebutuhan airnya
adalah sebanyak 593,25 m3 per hari. Dengan jumlah karyawan sebanyak 200 orang
dan kebutuhan air lain untuk kebersihan gedung, maka total air yang dibutuhkan untuk
operasional Hotel dan Apartemen serta areal komersil adalah sebanyak 690 m3/hari,
dengan jumlah debit air limbah yang dihasilkan sebesar 514 m3/hari. Untuk

II-30

Kerangka Acuan - Analisis Dampak Lingkungan (KA-ANDAL)


Rencana Pembangunan Apartemen dan Hotel

penggunaak air untuk kolam renang sebesar 24,81 m3/hari. Rencana penggunaan air
dapat dilihat pada Tabel 2.8.
Tabel 2.8. Rencana penggunaan air
Penggunaan
Air

Kapasitas
Jumlah
Jumlah
(unit)/
(TT/orang)
Luas (m2)

Apartemen
Area Komersil
Kebutuhan Air
Kebersihan
Gedung

(liter/
tempat
tidur/ hari)

Penggunaan
air (liter/hari)

Prakiraan debit air limbah


Debit air
limbah

Debit air
limbah
(liter/hari)

200

50 (*)

10.000

80%

8.000

209

283

250 (*)

70.750

80%

56.600

1025

2327

250 (**)

593.250

80%

474.600

5 (*)

9.469,95

80%

7.575,96

Karyawan
Hotel

Penggunaan air

1.893,99

683.469,95
1% total pemakaian air (***)

Kolam renang
Total
Kebutuhan Air
dan Debit Air
Limbah
Sumber : (*) SNI 03 7065 2005
(**) Soufyan et a/, 2009
(***) Asumsi

546.775,96

6.834,79
24,81 (***)
690.329,46

513.952,36

II-31

Kerangka Acuan - Analisis Dampak Lingkungan (KA-ANDAL)


Rencana Pembangunan Apartemen dan Hotel

PDAM kota
Tangerang

20 % terpakai
pada kegiatan
Dapur

Grease
Trap

690 m3/ hr
Ground Water Tank

Roof Tank

683,2 m3/hr

6,8 m3/hr

Domestik Hunian
(Mandi, Cuci,
Dapur, Laundry,
dan Toilet

514 m3/ hr

Fasos / Fasum :
Kebersihan Gedung
Siram Tanaman

STP sistem
Extended
Aeration

Badan Air
Penerima

Meresap ke tanah
(loss)
6,8 m3/ hr

Hydrant

Gambar 2.7. Neraca penggunaan air

II-32

Kerangka Acuan - Analisis Dampak Lingkungan (KA-ANDAL)


Rencana Pembangunan Apartemen dan Hotel

d. Pemeliharaan Sarana dan Prasarana Pendukung


Kegiatan pemeliharaan gedung dan fasilitas penunjangnya mencakup antara lain
kebersihan lingkungan gedung sehari-hari, pemeriksaan berbagai peralatan dan
fasilitas umum dan sosial yang ada, pengecatan, pemeliharaan saluran air, listrik
telepon, tempat parkir, taman, sound system, MCFA, telephone/MDF/server, dan
lainnya.
Untuk mengetahui tingkat keandalan struktur bangunan, akan dilakukan
pemeriksaan keandalan bangunan secara berkala sesuai dengan ketentuan dalam
Pedoman/Petunjuk Teknis Tata Cara Pemeriksaan Keandalan Bangunan Gedung.
Perbaikan atau perkuatan struktur bangunan akan segera dilakukan sesuai
rekomendasi hasil pemeriksaan keandalan bangunan gedung, sehingga bangunan
gedung selalu memenuhi persyaratan keselamatan struktur.
e. Pengelolaan Limbah Padat dan Cair
Limbah padat yang dihasilkan berasal dari apartemen, hotel, dan restoran seperti:
plastik, kertas, daun-daunan, kaleng, dan sisa-sisa makanan. Untuk penanganan limbah
padat ini pihak pengelola menyediakan tempat sampah di setiap sudut lantai. Sampah
yang terkumpul dari setiap lantai selanjutnya dibuang ke TPS. Sampah selanjutnya dari
TPS diangkut oleh petugas Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Tangerang untuk
dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Sampah yang dibuang ke TPS adalah
sampah yang sudah tidak dapat digunakan ulang, sementara itu sampah yang masih
dapat dipergunakan ulang, seperti: kardus, botol/gelas air kemasan, dan plastik dipilah
untuk selanjutnya dijual ke pihak ke 3.
Tabel 2.9. Prakiraan timbulan sampah
Uraian
Hotel
Apartemen
Karyawan
Taman
Parkir dan jalan

Kapasitas
Jumlah
Jumlah
kamar (unit) penghuni/kamar
247
2
1025
3
200
1.582,51 (m2)
2.486,92 (m2)

Prakiraan timbulan sampah


Standar timbulan
Timbulan sampah
sampah (l/org/hri)
(liter/hari)
2,25 *
1111,5
2,5 *
7687,5
0,75 *
150
0,01 **
15,8
0,02 **
49,7
9014,5
9 m3/hari

Sumber : * SNI 3242:2008 tentang Pengelolaan Sampah di Pemukiman


** KepMen Kimpraswil No.534/Kpts/M/2001

Limbah cair berasal dari kegiatan domestik yaitu: penghuni apartemen, restoran
dan hotel (mandi, cuci, dapur, laundry, dan WC). Seluruh limbah cair yang dihasilkan
baik dari WC maupun restoran akan diolah dalam IPAL. Limbah cair yang berasal dari
restoran masuk ke grease trap kemudian diolah dalam IPAL. Sedangkan limbah cair

II-33

Kerangka Acuan - Analisis Dampak Lingkungan (KA-ANDAL)


Rencana Pembangunan Apartemen dan Hotel

yang berasal dari mandi, cuci, dapur, laundry, dan WC langsung diolah dalam IPAL.
Setelah limbah cair memenuhi BML maka dibuang menuju badan air penerima yang
ada di depan lokasi proyek (saluran kota). Secara garis besar bagan alir proses
pengolahan limbah cair pada IPAL disajikan pada Gambar 2.8. dan lebih lengkapnya
bisa dilihat pada Lampiran 2.
Untuk pengelolaan limbah B3 (padat dan cair) disimpan dalam TPS B3 sementara
yang selanjutnya dibawa ke pengelola limbah B3 yang sudah mempunyai ijin dari
Kementrian Lingkungan Hidup.

Air Limbah Toliet

Air Limbah
restoran

Bak Pemisah
Lemak

IPAL

Badan Air
Penerima

Gambar 2.8. Bagan alir proses pengolahan limbah cair

f. Pemasaran
Kegiatan promosi dan pemasaran apartemen dan hotel memegang peranan
penting agar investasi yang ditanamkan dapat segera kembali dan dapat dimanfaatkan
untuk rencana investasi kegiatan perekonomian lainnya. Mengingat hal tersebut maka
kegiatan promosi dan pemasaran perlu dilakukan sejak tahap prakonstruksi, dengan
harapan agar segera setelah tahap konstruksi selesai seluruh fasilitas komersial yang
dibangun dapat terjual dan dapat dioperasikan. Kegiatan promosi dan pemasaran
apartemen dan hotel dilakukan oleh tim pemasaran yang didukung dengan fasilitas
yang memadai meliputi sistem administrasi, leaflet atau brosur, media cetak, dan
komunikasi personal.
g. Pengelolaan Parkir
Lokasi parkir kendaraan disediakan pada lantai basement, semi basement,
ground floor plan, 2nd floor plan, lantai 1 & 3 serta lantai 2 & 4. Rincian kapasitas
parkir pada setiap lantai dapat dilihat pada Tabel 2.6. Pengelolaan parkir dilakukan
oleh pihak ketiga. Sistem pengamanan kendaraan pada area parkir adalah dengan
mencatat nomor polisi dan jam masuk parkir. Catatan tersebut diserahkan kepada
pemilik kendaraan sebagai tanda bukti masuk parkir. Pada saat kendaraan akan
keluar, petugas mengecek

kesesuaian tanda bukti parkir dengan kendaraan.

Pencatatan jam masuk berkaitan dengan besarnya biaya parkir yang harus dibayar
pemilik kendaraan.

II-34

Kerangka Acuan - Analisis Dampak Lingkungan (KA-ANDAL)


Rencana Pembangunan Apartemen dan Hotel

2.1.1.6.4. Tahap Pascaoperasi


Pada tahap pascaoperasi akan dilakukan pengurusan perpanjangan izin
beroperasi ketika izin HGB masih diberikan oleh Pemerintah. Namun demikian
apabila izin tersebut tidak diperpanjang, maka kegiatan yang akan dilakukan antara
lain:
a.

Pemutusan Hubungan Kerja (PHK)


Dengan berakhirnya kegiatan apartemen dan hotel maka rasionalisasi tenaga

kerja atau Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) tidak dapat dihindari. Dalam kegiatan
ini pihak pengelola akan mengacu pada peraturan dan ketentuan yang berlaku serta
disesuaikan dengan kondisi perusahaan. Pemrakarsa akan memberikan pesangon
sesuai dengan peraturan yang berlaku..
b. Pembongkaran bangunan
Pada tahap pascaoperasi perusahaan PT. Broadbis Asia akan melakukan
pengembalian lahan Hak Guna Bangunan (HGB) yang di pergunakan untuk kegiatan
Apartemen, hotel dan komersil kepada pemerintah. Pada tahap ini bangunan fisik
akan dilakukan pembongkaran atau dirobohkan. Adapun metode pengembaliannya
disesuaikan dengan metode yang tercantum pada penjanjian saat melakukan
pengurusan perizinan sebelumnya.
c. Demobilisasi alat dan material
Pemindahan alat yang telah selesai digunakan dalam kegiatan operasional
apartemen, hotel dan komersil tidak berbeda jauh dengan kegiatan mobilitas peralatan
pada tahap konstruksi. Semua peralatan yang ada di dalam lokasi kegiatan setelah
melakukan pembingkaran dibawa keluar, sehingga di dalam lokasi kegiatan

siap

digunakan untuk kepentingan yang lain oleh pemerintah setempat. Dalam mobilisasi
peralatan, pemrakarsa akan berkoordinasi dengan instansi terkait.
2.1.1.7. Jadwal Kegiatan
Jadwal kegiatan rencana Pembangunan Apartemen dan Hotel oleh PT. Broadbiz
Asia adalah sebagai berikut:
Tabel 2.10. Jadwal rencana pembangunan apartemen dan hotel oleh PT. Broadbiz
Asia
No

Jenis kegiatan

Prakonstruksi
Perencanaan
Pengurusan perizinan
Sosialisasi & konsultasi
publik

.....
....

Mei

Jun

2012
2011
Jul Ags Sep Okt Nov Des Jan-Apr

x
x

.....

2041

II-35

Kerangka Acuan - Analisis Dampak Lingkungan (KA-ANDAL)


Rencana Pembangunan Apartemen dan Hotel

No
2

Jenis kegiatan
Pemasaran
Konstruksi
Rekruitmen tenaga
kerja konstruksi
Mobilisasi alat dan
material
Penggalian basement
Pekerjaan kontruksi
bangunan
Pemasaran
Operasi
Rekruitmen tenaga
kerja operasi
Aktivitas operasional
gedung
Penggunaan air
Pemeliharaan saran
dan prasarana
Pengelolaan limbah
padat dan cair
Aktivitas perparkiran
Pemasaran
Pascaoperasi
Pemutusan hubungan
kerja
Pembongkaran
bangunan
Demobilisasi alat dan
material

.....
....

Mei

Jun

2012
2011
Jul Ags Sep Okt Nov Des Jan-Apr

.....

2041

x
x
x
x
x
x
x
x
x
x
x
x
x
x
x
x
x

Sumber: PT. Broadbiz Asia, 2011

2.1.1.8. Kegiatan Lain di Sekitar Lokasi Rencana Kegiatan


Kegiatan lain yang ada di sekitar lokasi rencana kegiatan yaitu :
a. Perumahan
Perumahan yang berada di rencana Pembangunan Apartemen dan Hotel oleh PT.
Broadbiz Asia berupa Perumahan Moderland. Lokasi tersebut berada di sebelah Utara
dan Selatan calon lokasi proyek.
Pemukiman yang ada di sekitar lokasi rencana Pembangunan Apartemen dan
Hotel oleh PT. Broadbiz Asia berada di sebelah Selatan. Namun demikian permukiman
masyarakat yang terdekat dengan lokasi proyek berada di RT 02 dan RT 03, RW VII
Kelurahan Babakan.
b. Perdagangan
Di sebelah Timur, Utara dan Selatan terdapat aktivitas perdagangan seperti
bengkel, warung makan, toko, dan lain-lain.

II-36

Kerangka Acuan - Analisis Dampak Lingkungan (KA-ANDAL)


Rencana Pembangunan Apartemen dan Hotel

c. Jalan Raya
Ada ruas ruas jalan yang merupakan satu kesatuan dengan jalan Jend.
Sudirman yaitu jalan terdekat dengan Kegiatan. Dari arah Timur terdapat Jalan Jenderal
Sudirman yang merupakan jalan 2 jalur 2 arah yaitu: menuju Tanah Tinggi dan Cikokol
sebaliknya. Jalan ini merupakan jalan Arteri Primer. Jarak dari lokasi proyek 10 meter
dari pintu masuk calon lokasi proyek. Tingkat pelayanan jalan Jen Sudirman masuk
pada tingkat pelayanan D dimana kondisi jalan mendekati arus tidak stabil. Kecepatan
lalu lintas turun sampai 60 km/jam, Volume lalu lintas dapat mencapai 85% dari
kapasitas (yaitu 1700 smp perjam, 2 arah
Alat alat perlengkapan jalan seperti rambu-rambu lalu lintas untuk pembatas
kecepatan, dan. marka jalan sudah terpasang pada sebagian jalan yang dekat dengan
kegiatan.
2.1.2. Alternatif yang Dikaji di dalam AMDAL
Lokasi dan luas rencana pembangunan Apartemen dan Hotel oleh PT. Broadbiz
Asia yang akan dikaji dalam ANDAL ini adalah seperti yang telah dijelaskan sebelumnya.
Tidak ada alternatif lokasi lain yang akan dikaji. Demikian halnya dengan teknologi
pembangunan Apartemen dan Hotel adalah seperti yang telah diuraikan pada deskripsi
tahapan pembangunan konstruksi, sehingga tidak ada alternatif teknologi lain yang
akan dikaji.
Pemukiman

Jl. Jend
Sudirman

Lokasi
Proyek
Perumahan
Moderland

Bengkel

Pemukiman
Gambar 2.9. Keadaan sekitar lokasi rencana kegiatan

II-37

Kerangka Acuan - Analisis Dampak Lingkungan (KA-ANDAL)


Rencana Pembangunan Apartemen dan Hotel

2.2. Lingkup Rona Lingkungan Hidup Awal


Rona lingkungan awal yang akan dikaji meliputi komponen fisik-kimia, komponen
biologi, komponen sosial ekonomi dan budaya (sosekbud), komponen kesehatan
lingkungan masyarakat (keslingmas) serta komponen ruang dan lahan.
2.2.1. Komponen Fisik-Kimia
2.2.1.1. Klimatologi
Kuantitas air permukaan di lokasi proyek tergambar dari kondisi iklimnya.
Gambaran umum kondisi iklim di Kota Tangerang termasuk lokasi studi disajikan pada
Tabel 2.11. Data hujan berasal dari Stasiun Pencatat BMG Kelas I Tanah Tinggi, Kota
Tangerang. Curah hujan rata-rata terendah terjadi pada Bulan Agustus yakni 25,8 mm
dan curah hujan rata-rata tertinggi terjadi pada Bulan Februari yakni 416,2 mm.
Terdapat lima bulan kering dengan intensitas kurang dari 100 mm/bulan dan tiga bulan
basah dengan intensitas di atas 200 mm/bulan. Sehingga menurut klasifikasi Oldeman
(1975) wilayah ini memiliki Zona Agroklimat D-3 dan berdasarkan klasifikasi Schmidt
Ferguson (1951) wilayah ini memiliki Tipe Hujan D.
Kondisi rata-rata beberapa peubah iklim di lokasi studi menggambarkan bahwa
bulan terpanas adalah Mei dengan temperatur 24,2oC, dan bulan terdingin adalah Juli
dengan temperatur 22,9 oC. Rata-rata temperatur tahunan adalah 27,7 oC. Bulan
terlembab adalah Februari dengan kelembaban 84% dan bulan terkering adalah
September dengan kelembaban 72%. Rata-rata kelembaban udara tahunan sebesar 79
%. Lama penyinaran matahari berkisar antara 3,5 jam pada Desember hingga 10,2 jam
pada Bulan Juli dengan rata-rata lama penyinaran matahari tahunan sebesar 7,4 jam.
Tabel 2.11. Keadaan curah hujan dan hari hujan di Kota Tangerang
Bulan
Jan

Feb

Mar

April
Mei
Juni

IKLIM
Curah Hujan
Kelembaban
Kecepatan Angin
Curah Hujan
Kelembaban
Kecepatan Angin
Curah Hujan
Kelembaban
Kecepatan Angin
Curah Hujan
Kelembaban
Kecepatan Angin
Curah Hujan
Kelembaban
Kecepatan Angin
Curah Hujan
Kelembaban
Kecepatan Angin

SAT

2002

2003

2004

2005

2006

2009

RATA-RATA

mm
%
knot
mm
%
knot
mm
%
knot
mm
%
knot
mm
%
knot
mm
%
knot

643
87
4
504
86
4
171
83
3
147
82
4
27
84
4
46
77
4

121
77
4
479
86
2
149
85
1
33
79
1
101
82
2
21
77
3

185
86
2
559
87
5
247
85
3
707,7
84
1
259
85
0
33
80
2

367
87
2
302
86
1
165
85
1
198
82
2
111
81
0
200
85
2

383
86
4
237
85
4
264
84
4
94
82
4
93
81
3
22
80
2

359.0
84
252.8
84
211.1
81
305.2
82
196.5
82
129.1
79
-

339,8
84,6
3,2
416,2
86
3,2
199,2
84,4
2,4
235,94
81,8
2,4
118,2
82,6
1,8
64,4
79,8
2,6

II-38

Kerangka Acuan - Analisis Dampak Lingkungan (KA-ANDAL)


Rencana Pembangunan Apartemen dan Hotel

Bulan
Juli

Agust
Sept
Okt
Nop
Des

IKLIM
Curah Hujan
Kelembaban
Kecepatan Angin
Curah Hujan
Kelembaban
Kecepatan Angin
Curah Hujan
Kelembaban
Kecepatan Angin
Curah Hujan
Kelembaban
Kecepatan Angin
Curah Hujan
Kelembaban
Kecepatan Angin
Curah Hujan
Kelembaban
Kecepatan Angin

SAT

2002

2003

2004

2005

2006

2009

RATA-RATA

mm
%
knot
mm
%
knot
mm
%
knot
mm
%
knot
mm
%
knot
mm
%
knot

104
78
4
16
74
4
0
68
4
0
68
5
145
74
5
105
80
4

0
75
3
23
75
2
62
73
2
0
79
2
68
78
5
0
83
6

75
81
1
0
74
0
53
76
0
12
73
0
190
82
1
227
83
0

80
81
2
86
81
2
22
79
3
172
72
3
62
81
3
222
83
6

17
76
3
4
72
4
1
69
4
25
69
4
56
74
3
105
82
5

21.3
75
15.4
75
36.8
72
38.7
74
247.2
79
187.7
81
-

55,2
78,2
2,6
25,8
75,2
2,4
27,6
73
2,6
41,8
72,2
2,8
104,2
77,8
3,4
131,8
82,2
4,2

Sumber Data: BMG Kelas I Tanah Tinggi, Kota Tangerang.(Periode data tahun 2002-2006 dan 2009)

2.2.1.2.

Geomorfologi dan Topografi

Secara umum geomorfologi daerah kajian dapat dibagi menjadi dua satuan
geomorfologi, yaitu: satuan dataran aluvium sungai dan satuan dataran vulkanik.
Topografi yang terdapat pada satuan ini cukup landai dengan kemiringan sekitar 5%,
dan tersusun oleh endapan lempung lanauan, lanau pasiran, dan pasir. Satuan dataran
aluvium sungai terdapat di bagian barat daerah kajian seluas sekitar 5%. Satuan
bentang alam ini merupakan dataran bergelombang dengan kemiringan lereng yang
umumnya kurang dari 5%, kecuali pada lembah sungai yang mencapai 30%. Aliran
sungai berarah selatan-utara, setempat membentuk pola dendritik, dan secara umum
berpola sejajar. Satuan ini terbentuk oleh endapan batuan sedimen berupa lempung
lanauan, tuf, dan batu pasir tufan. Satuan dataran vulkanik terdapat pada bagian
tengah, selatan, dan timur daerah kajian seluas hampir 85%. Satuan ini membentuk
dataran bergelombang dengan kemiringan lereng kurang dari 5%, kecuali pada lembah
sungai yang mencapai 30%. Satuan ini terbentuk oleh batu pasir tufan, endapan lahar,
dan batu pasir.
2.1.1.1.

Geologi

(Jurnal Geologi Indonesia, Vol. 1 No. 3 September 2006: 115-128 ) Secara


geologis, daerah Tangerang berada pada suatu tinggian struktur yang dikenal dengan
sebutan Tangerang High. Tinggian ini terdiri atas batuan Tersier yang memisahkan
Cekungan Jawa Barat Utara di bagian barat dengan Cekungan Sunda di bagian Timur.
Tinggian ini dicirikan oleh kelurusan bawah permukaan berupa lipatan dan patahan
nomal, berarah utara-selatan. Batuan yang menutupi daerah Tangerang merupakan

II-39

Kerangka Acuan - Analisis Dampak Lingkungan (KA-ANDAL)


Rencana Pembangunan Apartemen dan Hotel

batuan Kuarter yang terdiri atas Tuf Banten yang tersusun atas tuf, tuf batu lempung,
batu pasir tufan; ditindih oleh endapan kipas aluvium yang terdiri atas pasir tufan
berselingan dengan konglomerat tufan, cangkang moluska; serta endapan aluvium yang
terdiri atas bongkah, kerakal, kerikil, pasir halus, dan lempung. Di Subcekungan Jakarta,
berdasarkan data pemboran menunjukkan adanya endapan aluvium yang menebal ke
arah utara, yang disusun oleh klastika halus hingga kasar, sedangkan cekungan di
Barat Tangerang High memiliki ciri endapan pantai dan delta. Struktur-struktur tersebut,
pada saat ini, sulit dijumpai di permukaan karena endapan Kuarter yang berumur lebih
muda telah menutupi lapisan batuan tersebut. Endapan Kuarter yang menindihi batuan
tersebut berupa batuan vulkanik yang berasal dari Gunung Gede-Pangrango dan Salak.
Hampir seluruh daerah kajian ditutupi oleh batuan vulkanik yang berasal dari Gunung
Gede-Pangrango dan Salak serta sebagian kecil ditindihi oleh endapan alluvium.
Deskripsi singkat satuan batuan dari tua ke muda yang terdapat di daerah kajian dapat
dilihat pada Tabel 2.12.
Tabel 2.12. Stratigrafi batuan kuarter dan tersier

a. Satuan Batuan Tuf Banten Atas/Tuf Banten


Satuan ini terdiri atas lapisan tuf, tuf batu apung, dan batu pasir tufan yang
berasal dari letusan Gunung. Tuf tersebut menunjukkan sifat yang lebih asam (pumice)
dibandingkan dengan batuan vulkanik yang diendapkan sesudahnya. Bagian atas
satuan tersebut menunjukkan adanya perubahan kondisi lingkungan pengendapan dari
lingkungan pengendapan di atas permukaan air menjadi di bawah permukaan air.
Satuan ini berumur PlioPlistosen atau sekitar dua juta tahun (Effendi, 1974).

II-40

Kerangka Acuan - Analisis Dampak Lingkungan (KA-ANDAL)


Rencana Pembangunan Apartemen dan Hotel

b. Endapan Vulkanik Muda


Endapan ini terdiri atas material batu pasir, batu lempung tufan, endapan lahar,
dan konglomerat yang membentuk endapan kipas. Ukuran butiran berubah menjadi
semakin halus (lempungan) dan menebal ke arah utara. Hal ini menunjukkan sumber
material berasal dari selatan. Satuan ini terbentuk oleh material endapan vulkanik yang
berasal dari gunung api di sebelah selatan Kabupaten Tangerang, seperti Gunung Salak
dan Gunung Gede-Pangrango. Batuan ini diendapkan pada umur Plistosen (20.000
dua juta tahun). Kipas vulkanik tersebut terbentuk pada saat gunung api menghasilkan
material vulkanik dengan jumlah besar. Kemudian ketika menjadi jenuh air, tumpukan
material tersebut bergerak ke bawah dan melalui lembah. Ketika mencapai tempat yang
datar, material tersebut akan menyebar dan membentuk endapan seperti kipas.

II-41

Kerangka Acuan - Analisis Dampak Lingkungan (KA-ANDAL)


Rencana Pembangunan Apartemen dan Hotel

Gambar 2.10. Peta geologi daerah Tangerang dan sekitarnya

II-42

Kerangka Acuan - Analisis Dampak Lingkungan (KA-ANDAL)


Rencana Pembangunan Apartemen dan Hotel

Gambar 2.11. Penampang Geologi Utara-Selatan Berdasarkan Data Pemboran di Cekungan Jakarta. (Sumber: Jurnal Geologi Indonesia, 2006).

II-43

Kerangka Acuan - Analisis Dampak Lingkungan (KA-ANDAL)


Rencana Pembangunan Apartemen dan Hotel

c. Endapan
Endapan batuan ini berasal dari material batuan yang terbawa oleh aliran sungai
dan berumur antara 20.000 tahun hingga sekarang. Endapan tersebut tersusun oleh
material lempung, pasir halus dan kasar, dan konglomerat serta mengandung cangkang
moluska. Endapan aluvium tersebut dapat membentuk endapan delta dan endapan
sungai dengan bentuk meander atau sungai teranyam.
d. Endapan Aluvium
Endapan ini terdiri atas lempung, lanau, pasir (Gambar 2.10). Penampang geologi
utara - selatan berdasarkan data pemboran di Cekungan Jakarta. Sebaran akuifer dan
pola aliran air tanah di Kecamatan Tangerang Kota Tangerang, Propinsi Banten (M.S.D.
Hadian dkk.) kerikil, kerakal, dan bongkah yang berumur Kuarter dan tersebar pada
daerah pedataran serta sekitar aliran sungai.
Berdasarkan pembahasan terhadap data pemboran yang berada di sekitar
Cengkareng (Jurnal Geologi Indonesia, Vol. 1 No. 3 September 2006: 115-128) yang
mempunyai ketinggian 7 m di atas permukaan laut (dpl.) dengan kedalaman pemboran
mencapai 200 m, menunjukkan urutan stratigrafi perselingan klastika halus dan kasar
berupa batu lempung, batu pasir, batu pasir kuarsa, batu pasir tufaan, breksi,
konglomerat, dan batu lempung pasiran. Lapisan yang dapat berfungsi sebagai akuiklud
terdapat pada kedalaman 0 10,5 m, 16,5 25,5 m, 40,5 101,5 m, dan 104,5
200 m. Berdasarkan data pemboran ini, terdapat tiga lapisan akuifer, yaitu: lapisan
akuifer I (air tanah tak tertekan) berada pada kedalaman 10,5 16,5 m dan 25,5
40,5 m, sedangkan lapisan akuifer II (air tanah dalam) berada pada kedalaman 101,5
104,5 m, dengan permukaan air tanah berada pada kedalaman -37,75 m. Akuiklud
terdapat pada kedalaman 22,5 25 m, 29 32,5 m, 73 84,5 m, dan 93 97,5 m.
Lapisan akuifer I terdapat pada kedalaman 0 22,5 m, 25 29 m, dan 32,5 73 m;
dan lapisan akuifer II terdapat pada kedalaman 84,5 93 m, dan 97,5 106 m. Dari
hasil pengolahan data, diperoleh peta sebaran daya hantar listrik untuk akuifer dangkal
dan dalam. Penelusuran ketebalan akuifer dangkal dan akuifer dalam pun dilakukan
untuk mengetahui trend sebaran ketebalan masing-masing akuifer. Berdasarkan
pendugaan geolistrik, pada daerah kajian terdapat dua jenis akuifer, yaitu akuifer
dangkal yang berada di atas kedalaman 50 m bmt (di bawah permukaan tanah) dan
akuifer dalam yang berada di bawah kedalaman 50 m bmt. Di wilayah ini diperoleh hasil
bahwa akuifer dangkal (kedalaman kurang dari 50 m) memiliki permukaan air tanah
antara 2 10 m di bawah permukaan tanah setempat (bmt), sedangkan pada akuifer

II-44

Kerangka Acuan - Analisis Dampak Lingkungan (KA-ANDAL)


Rencana Pembangunan Apartemen dan Hotel

dalam (kedalaman lebih dari 50 m) diperoleh permukaan air tanah antara 40 m 60 m


(bmt).
2.1.1.2.

Jenis Akuifer dan Pola Aliran Tanah

a. Jenis dan Sebaran Akuifer


Akuifer yang berkembang di Kecamatan Tangerang ini berlitologi pasir tufaan, dan
dapat dibedakan berdasarkan kedalamannya menjadi akuifer dangkal dan akuifer
dalam. Akuifer dangkal di sini dibatasi hanya untuk akuifer-akuifer yang terdapat hingga
kedalaman sampai 50 m (bmt), dan akuifer dalam adalah akuifer yang terdapat pada
kedalaman lebih dari 50 m (bmt). Ketebalan akuifer di kawasan Kecamatan Tangerang
ini beragam mulai dari 5 m - 25 m untuk akuifer dangkal (kedalaman sampai 50 m),
hingga ketebalan 4 - 80 m untuk akuifer dalam (kedalaman lebih dari 50 m). Akuifer
dangkal (kedalaman kurang dari 50 m) adalah akuifer bebas (tak tertekan) dan pada
tempat yang semakin dalam berubah menjadi akuifer semitertekan. Sedangkan akuifer
dalam (kedalaman lebih dari 50 m) merupakan akuifer tertekan yang dibatasi oleh dua
lapisan kedap air (impermeable layer) pada bagian atas dan bawahnya.
Sistem air tanah tak tertekan di Kecamatan Tangerang dijumpai pada kedalaman
antara 2 10 m di bawah permukaan tanah setempat (bmt). Batuan penyusun akuifer
sistem air tanah. Akuifer tak tertekan ini berubah menjadi semitertekan pada tempat
yang lebih dalam. Permeabilitas batuan pada satuan endapan ini sedang, dan pada
beberapa lokasi berubah menjadi tinggi, khususnya pada daerah akumulasi endapan
sungai dengan butiran pasir kasar hingga kerakal. Ketinggian permukaan air tanah tak
tertekan ini antara 2 10 m (bmt). Debit aliran pada sumur gali pada sistem akuifer ini
berkisar antara 0 3 liter/detik. Tipe akuifer yang berkembang pada kecamatan ini
adalah Sistem Endapan Aluvium. Batuan penyusun endapan ini umumnya berupa
lempung, pasir, dan kerikil hasil dari erosi dan transportasi batuan di bagian hulunya.
Umumnya batuan pada endapan aluvium bersifat tidak kompak, sehingga potensi air
tanahnya cukup baik. Akan tetapi kualitas air tanah yang baik umumnya dapat dijumpai
pada endapan akuifer aluvium. Kondisi air tanah endapan aluvium banyak ditentukan
oleh geologi di hulunya. Endapan aluvium ini dapat menjadi tebal jika cekungan yang
membatasi terus menurun karena beban endapannya, misalnya dibatasi oleh
sesar/patahan turun. Akuifer pada sistem ini tersusun oleh endapan pasir halus yang
belum terkompaksi dan setempat terdapat air tanah segar.
b. Karakteristik Pola Pengaliran dan Fisik Air Tanah
Peta pola aliran air tanah dangkal relatif ke arah timur dan memperlihatkan
terbentuknya depresi konus aliran air tanah, terutama di sekitar Kota Tangerang. Hal

II-45

Kerangka Acuan - Analisis Dampak Lingkungan (KA-ANDAL)


Rencana Pembangunan Apartemen dan Hotel

yang mungkin menjadi penyebab kondisi tersebut adalah perkembangan alamiah


geometri akuifer endapan delta yang cenderung membentuk lensa-lensa batu pasir.
Sementara itu, depresi aliran juga terbentuk pada zona yang hampir sama dengan peta
pola aliran air tanah dalam. Selain kondisi alamiah yang sama berupa endapan delta
dengan lensa-lensanya, interpretasi yang lain adalah kondisi tersebut mungkin
diakibatkan oleh pengambilan air yang melebihi kapasitas akuifer yang ada, mengingat
pada lokasi ini industri memakai air tanah begitu besar. Hal tersebut terlihat pada hasil
pengukuran sifat fisik dan hasil pengujian kimia air tanah pada sumur pantek dan
sumur bor. Nilai daya hantar listrik pada akuifer dangkal (kedalaman kurang dari 50 m)
memiliki nilai antara 500 6250 S/cm, dan pada akuifer dalam (kedalaman lebih dari
50 m) memiliki nilai daya hantar listrik antara 750 2600 S/cm. Besarnya nilai daya
hantar listrik tersebut menunjukkan bahwa kecamatan Tangeraang merupakan daerah
luahan (discharge zone). Akuifer dalam (kedalaman lebih dari 50 m) yang berkembang
pada daerah kajian adalah akuifer produktif dengan aliran melalui ruang antarbutir.
Akuifer dalam yang merupakan akuifer tertekan ini memiliki daerah resapan (recharge
area) di luar wilayah daerah kajian. Sedangkan akuifer dangkal (kedalaman kurang dari
50 m) yang berkembang pada Kecamatan Tangerang adalah akuifer produktif dengan
aliran melalui ruang antarbutir. Akuifer dangkal yang merupakan akuifer bebas ini
memiliki daerah resapan (recharge area) di atas akuifer itu sendiri. Untuk mendukung
kesinambungan akuifer ini, sebaiknya pada daerah kajian terdapat seluas mungkin
lahan hijau. Penutupan lahan dengan beton supaya dibatasi, dan sebanyak mungkin
dibuat sumur serta parit resapan.
2.1.1.3.

Air Tanah

Akuifer yang berkembang di Kecamatan Tangerang secara litologi adalah pasir


tufan. Tipologi akuifer yang berkembang adalah Sistem Endapan Aluvium. Batuan
penyusun endapan ini umumnya berupa lempung, pasir, dan kerikil hasil erosi dan
transportasi batuan di bagian hulunya. Di Kecamatan Tangerang, akuifer dangkal
memiliki ketebalan mulai dari 5 m 25 m, dan akuifer dalam memiliki ketebalan 4 m
80 m. Pola pengaliran air tanah tersebut relatif ke arah timur, dan terbentuk depresi
konus aliran air tanah, terutama di kota Tangerang. Kondisi demikian menunjukkan dua
penyebab yang memungkin, yaitu perkembangan lensa-lensa yang secara alamiah
terbentuk pada daerah tersebut, atau pengambilan air tanah yang berlebihan di zone
tersebut. Untuk itu, kawasan depresi air tanah perlu ditelaah lebih lanjut untuk
menunjang langkah kebijakan terkait dengan konservasi air tanah di Kota Tangerang.

II-46

Kerangka Acuan - Analisis Dampak Lingkungan (KA-ANDAL)


Rencana Pembangunan Apartemen dan Hotel

Gambar 2.12. Peta Hidrogeologi Kota Tangerang dan sekitarnya

II-47

Kerangka Acuan - Analisis Dampak Lingkungan (KA-ANDAL)


Rencana Pembangunan Apartemen dan Hotel

2.2.2. Komponen Biologi


2.2.2.1.

Penutupan Lahan

Lahan tapak proyek yang akan digunakan sebagai lokasi kegiatan sudah
mengalami pematangan lahan. Ketinggian permukaan tanah sudah sesuai dengan
yang diperlukan. Tanah sudah tidak perlu lagi di urug, tetapi hanya perlu pemerataan
sedikit. Lahan tapak proyek sebelumnya digunakan sebagai tempat pemancingan ikan
(kolam ikan). Setelah usaha pemancingan ikan kurang berkembang, lahan tersebut
beralih fungsi menjadi tempat parkir truk, dan usaha kios-kios serta warung. Saat ini
kondisi tanah sudah bersih dan tidak ada bangunan lagi. Lahan sebagian ditumbuhi
rumput-rumput liar dan beberapa pohon, seperti: Pohon Angsana, Kersen, Beringin,
Mangga, Kelapa, Lamtoro, dan lain sebagainya yang jumlahnya tidak terlalu banyak.
a. Keadaan Vegetasi
Secara umum keadaan vegetasi pada daerah kawasan rencana pembangunan
apartemen dan hotel merupakan vegetasi budidaya berupa vegetasi kayuan, tahunan,
dan rumput liar. Secara umum, dilihat dari jenis vegetasi yang tumbuh tersebut, maka
dapat diketahui bahwa lahan pada lokasi proyek merupakan daerah permukiman,
perdagangan, dan industri sehingga fungsi vegetasi adaklah sebagai tanaman
pekarangan dan tanaman pelindung. Vegetasi budidaya yang ada di sekitar lokasi
kegiatan dapat dilihat pada Tabel 2.13.
Tabel 2.13. Jenis vegetasi budidaya yang ada di sekitar tapak proyek
No.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.

Nama Indonesia
Kangkung
Mangga
Rambutan
Pisang
Jambu Biji
Pepaya
Jambu Air
Sawo
Ubi Kayu
Ubi Jalar
Kelapa

Nama Latin
Ipomea aquatica
Mangifera indica
Nyphelium leppocaeum
Musa paradisiaca
Psidium guajava
Carica papaya
Eugenia aquatica
M. kauki
Mannihot esculente
Ipomoca betatas
Cocos nucifera

Golongan
Sayur
Buah
Buah
Buah
Buah
Buah
Buah
Buah
Pertanian Lahan Kering
Pertanian Lahan Kering
Perkebunan Rakyat

Sumber: Data Primer, 2011

Vegetasi alami yang ada di sekitar lokasi kegiatan pembangunan apartemen dan
hotel, antara lain dapat dilihat pada Tabel 2.14.

II-48

Kerangka Acuan - Analisis Dampak Lingkungan (KA-ANDAL)


Rencana Pembangunan Apartemen dan Hotel

Tabel 2.14. Jenis vegetasi alami yang ada di sekitar tapak proyek
Nama Indonesia
Alang-alang
Akasia

Nama Latin
Imperata cylindrica
Acacia mangium

Golongan
Gulma

Rumput pahit

Axonopus compressus

Gulma

Putri malu
Enceng gondok
Calopo
Centrosema

Mimossa pudica
Eichornia crassipes
Calopogonium muconuides
Centrosema pubescens

Perdu
Gulma
Perdu
Perdu

Pohon

Sumber: Data Primer, 2011

b. Keadaan Satwa (Fauna)


Kondisi satwa/fauna di lokasi lahan yang akan diperuntukkan bagi rencana
pembangunan Apartemen dan hotel adalah jenis-jenis burung yang menyenangi habitat
kebun pekarangan dan sudah beradaptasi dengan permukiman. Semua jenis satwa
yang ditemukan tidak ada yang memiliki nilai konservasi penting karena statusnya
dilindungi maupun sifatnya endemik. Kebanyakan jenis satwa/fauna yang ditemukan
merupakan jenis yang sangat umum dijumpai di habitat dekat pemukiman di seluruh
Pulau Jawa. Jenis-jenis satwa yang terdapat di lokasi rencana pembangunan Apartemen
dan hotel disajikan pada Tabel 2.15.
Tabel 2.15. Jenis satwa di sekitar tapak proyek pembangunan apartemen dan hotel
No.
A.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
B.
1
2
3
C.
1.
2.
D.
1.
2.

Nama Indonesia
Jenis Aves/Burung
Burung Gereja
Walet
Perkutut
Ayam
Angsa
Bebek
Jenis Mamalia
Tikus Tanah
Anjing
Kucing
Jenis Reptil
Ular
Tokek
Jenis Amfibi
Kodok Ijo
Kodok

Nama Latin

Golongan

Paser montanus
Collocalia fusciphaga
Nectarinia jugularis
Galus glankiva
Anser cygnoides
H. histrionicus

Tidak dilindungi
Tidak dilindungi
Tidak dilindungi
Tidak dilindungi
Tidak dilindungi
Tidak dilindungi

Rattus rattus
Canis familiaris
Felis catus

Tidak dilindungi
Tidak dilindungi
Tidak dilindungi

Phyton reticulatus
Gekko gecko

Tidak dilindungi
Tidak dilindungi

Rana pipiens
Bufo melanostictus

Tidak dilindungi
Tidak dilindungi

Sumber: Data Primer, 2011

II-49

Kerangka Acuan - Analisis Dampak Lingkungan (KA-ANDAL)


Rencana Pembangunan Apartemen dan Hotel

2.2.3. Komponen Sosial Ekonomi dan Budaya


2.2.3.1. Kependudukan (Demografi)
a. Letak Geografis
Kecamatan Tengerang merupakan ibukota dari Kota Tangerang. Jarak antara
kelurah-ke kekelurahan lainnya tidaklah terlalu jauh begitu juga jarak antar kelurahan
ke Ke Kecamatan Tangerang. Secara geografis Kecamatan Tangerang mempunyai
batas wilayah:

Sebelah Utara

: Berbatasan dengan Kecamatan Pinang.

Sebelah Selatan :Berbatasan dengan Kecamatan Neglasari dan Kecamatan


Batu Ceper.

Sebelah Timur

: Berbatasan dengan Kecamatan Cipondoh.

Sebelah Barat

: Berbatasan dengan Kecamatan Karawaci.

Adapun luas Kecamatan Tangerang yaitu 1.452,6 ha yang meliputi 8 Kelurahan.


Kelurahan Cikokol (417 ha), Kelurahan Kelapa indah (180 ha), Kelurahan Babakan
(185 ha), Kelurahan Sukasari (187 ha) dan Kelurahan Sukarasa (95,6 ha), terdiri dari
397 Rukun Tetangga dan 78 Rukun Warga (RW). Untuk lebih jelasnya disajikan pada
Tabel 2.16.
Tabel 2.16. Luas wilayah perkelurahan, jumlah rukun tetangga dan rukun warga di
Kecamatan Tangerang tahun 2009
No
Kelurahan
Luas (%)
Rukun Tetangga
Rukun Warga
1
Cikokol
29
66
13
2
Kelapa Indah
12
29
7
3
Babakan
13
39
8
4
Sukasari
13
89
16
5
Buaran Indah
11
52
9
6
Tanah Tinggi
12
77
16
7
Sukaasih
3
18
4
8
Sukarasa
7
27
5
Jumlah
100,00
397
78
Sumber: Kecamatan Tangerang Dalam Angka 2010

b. Tingkat Kepadatan Penduduk


Kecamatan Tangerang yang berdekatan dengan pusat pemerintahan Kota
Tangerang. Pertumbuhan penduduk Kota Tangerang tiap tahun terus bertambah. Tahun
2009 jumlah rumah tangga di Kecamatan Tangerang berjumlah 36.244 rumah tangga
dengan jumlah penduduk 137.524 jiwa, dengan komposisi jumlah penduduk laki-laki
67.779 jiwa dan perempuan 69.745 jiwa. Dengan rasio jenis kelamin 97,18. Tingkat
kepadatan penduduk tertinggi terdapat di Kelurahan Tanah Tinggi dengan tingkat
kepadatan 18.452 jiwa/km2, sedangkan tingkat kepadatan terendah berada di
Kelurahan Sukarasa yaitu sebesar 5.342 jiwa/km2.

II-50

Kerangka Acuan - Analisis Dampak Lingkungan (KA-ANDAL)


Rencana Pembangunan Apartemen dan Hotel

Berdasarkan jumlah mutasi penduduk di Kecamatan Tangerang Tahun 2009


untuk penduduk yang datang baik laki-laki maupun perempuan sebesar 483 jiwa dan
jumlah penduduk yang pindah laki-laki maupun perempuan sebesar 724 jiwa.
Tabel 2.17. Jumlah penduduk dan tingkat kepadatan di Kecamatan Tangerang Tahun
2009
No

Kelurahan

1
2
3
4
5
6
7
8

Cikokol
Kelapa indah
Babakan
Sukasari
Buaran Indah
Tanah Tinggi
Sukaasih
Sukarasa
Jumlah

Luas Wilayah
(Km2)
4,17
1,80
1,85
1,87
1,60
1,80
0,48
0,96
14,53

Jumlah Penduduk
26.63
10.114
16.266
19.698
22.226
33.214
3.940
5.128
137.524

Kepadatan
Penduduk/Km2
6.388
5.786
8.792
10.534
13.891
18.452
8.208
5.342
9.465

Sumber: Kecamatan Tangerang Dalam Angka 2010

Tabel 2.18. Jumlah penduduk menurut jenis kelamin dan rasio jenis kelamin Tahun
2009
Jumlah
Ratio Jenis
No
Kelurahan
Laki-laki
Perempuan
Penduduk
Kelamin
1
Cikokol
2.663
13.427
13.210
101,64
2
Kelapa Indah
10.114
4.919
5.496
89,50
3
Babakan
16.266
8.112
8.154
99,48
4
Sukasari
19.698
9.532
10.166
93,76
5
Buaran Indah
22.226
11.039
11.187
98,68
6
Tanah Tinggi
33.214
16.330
16.884
96,72
7
Sukaasih
3.940
1.999
1.941
102,99
8
Sukarasa
5.128
2.421
2.707
89,43
Jumlah
137.524
67.779
69.745
97,18
Sumber: Kecamatan Tangerang Dalam Angka 2010

Adapun jumlah penduduk menurut kelompok umur di Kecamatan Tangerang pada


Tahun 2009 dari semua golongan usia tersebut, jika usia 0 14 tahun dianggap
sebagai usia yang belum produktif, dan usia 15- 54 tahun sebagai usia produktif dan
>55 tahun sebagai usia pascaproduktif, maka penduduk yang berusia produktif sekitar
89.395 jiwa (33 %) dan penduduk yang berusia non produktif yaitu sekitar 185.653
orang (67%). Untuk lebih jelasnya disajikan pada Tabel 2.19.
Tabel 2.19. Jumlah penduduk Kecamatan Tangerang menurut kelompok umur tahun
2009
No
Kelompok Umur
Laki-laki
Perempuan
Jumlah
1
04
6.380
6.762
13.142
2
59
5.502
5.218
10.720
3
10 14
4.098
4.939
9.037
4
15 19
5.272
5.523
10.795
5
20 24
6.727
7.279
14.006
6
25 29
8.503
7.677
16.180
7
30 34
6.536
6.917
13.453

II-51

Kerangka Acuan - Analisis Dampak Lingkungan (KA-ANDAL)


Rencana Pembangunan Apartemen dan Hotel

No
8
9
10
11
12
13
14
15

Kelompok Umur
35 39
40 44
45 49
50 54
55 59
60 64
65 69
70+
Jumlah

Laki-laki
6.075
4.647
3.530
3.439
2.987
1.399
1.091
1.593
67.779

Perempuan
5.133
4.880
3.382
3.875
2.737
1.917
1.384
2.122
69.745

Jumlah
11.208
9.527
6.912
7.314
5.724
3.316
2.475
3.715
137.524

Sumber: Kecamatan Tangerang Dalam Angka 2010

c. Tingkat Pendidikan
Pendidikan merupakan suatu faktor kebutuhan dasar untuk setiap manusia
sehingga upaya mencerdaskan kehidupan bangsa melalui pendidikan merupakan
bagian dari upaya peningkatan kesejahteraan rakyat. Kecamatan Tangerang memiliki
33 Sekolah Dasar Negeri dan 19 Sekolah Dasar Swasta dengan jumlah murid sebanyak
19.098 siswa dan ditunjang oleh 653 guru. Sedangkan jumlah guru dengan status PNS
di Sekolah Dasar Negeri sebanyak 331 orang.
Perguruan tinggi swasta di Kecamatan Tangerang cukup banyak yaitu berjumlah
11 buah yang terletak di Kelurahan Cikokol, Kelurahan Babakan dan Kelurahan
Sukarasa. Sekolah Menengah Kejuruan berjumlah 18 buah, terdiri dari 14 SMK Swasta
dan 4 SMK Negeri.

Gambar 2.13. Persentase angka partisipasi sekolah menurut jenjang pendidikan di


Kecamatan Tangerang Tahun 2009
d. Agama dan Sarana Ibadah
Salah satu indikator yang dapat digunakan untuk melihat kerukunan beragama
dan kebebasan beribadah adalah ketersediaan fasilitas beribadah baik sarana maupun
prasarana. Pada tahun 2009, rasio tempat beribadah per 1.000 penduduk
menunjukkan bahwa penduduk relatif mudah dalam menjalankan ibadahnya.

II-52

Kerangka Acuan - Analisis Dampak Lingkungan (KA-ANDAL)


Rencana Pembangunan Apartemen dan Hotel

Fasilitas beribadah merupakan salah satu indikator yang dapat di gunakan untuk
melihat kerukunan beragama dan kebebasan beribadah. Untuk memenuhi kebutuhan
rohani masyarakat di Kecamatan Tangerang telah tersedia 206 sarana ibadah yang
terdiri atas 55 Masjid, 131 Mushola, 16 Gereja dan 4 unit Vihara. Untuk lebih jelasnya
disajikan pada Tabel 2.20.
Tabel 2.20. Jumlah sarana ibadah di Kecamatan Tangerang Tahun 2009
Kelurahan
Cikokol
Kelapa Indah
Babakan
Sukasari
Buaran Indah
Tanah Tinggi
Sukaasih
Sukarasa
Jumlah

Mesjid
12
1
5
8
8
11
5
5
55

Mushalla
27
5
5
10
47
28
5
4
131

Gereja
1
2
0
5
0
2
2
4
16

Pura
0
0
0
0
0
0
0
0
0

Vihara
0
0
0
0
0
0
0
1
4

Jumlah
40
8
10
26
55
41
12
14
206

Sumber: Kecamatan Tangerang Dalam Angka 2010

2.2.3.2. Sosial Ekonomi


a. Mata Pencaharian Penduduk
Sebagian besar penduduk Kota Tangerang adalah pekerja industri.

Hal ini

dikarenakan Kota Tangerang merupakan Kota Industri yang sedang berkembang.


Sumber utama perekonomian Kota Tangerang berasal dari sektor industri pengolahan
sebesar 58,45%, menyusul perdagangan, hotel dan restoran. Kedua sektor ini
menguasai hampir 85% kegiatan ekonomi dan dapat dipastikan bahwa sektor tersebut
memberikan kontribusi utama pada pendapatan asli daerah.
Pada bagian tenaga kerja sekitar 75% angkatan kerja yang ada di Kota Tangerang
bergerak di sector industri, perdagangan dan jasa. Hal tersebut selaras dengan kondisi
perekonomian daerah yang mengandalkan sektor-sektor yang menyerap banyak tenaga
kerja.
b. Ketenagakerjaan
Ketenagakerjaan merupakan salah satu indikator penting pembangunan ekonomi
khususnya dalam upaya pemerintah untuk menanggulangi kemiskinan. Hal ini karena
tenaga kerja adalah modal bagi geraknya pembangunan. Masalah penyediaan lapangan
kerja menjadi masalah yang cukup serius di Kota Tangerang, kesenjangan antara
jumlah pencari kerja dan lowongan yang tersedia semakin jauh dari tahun ke tahun.
Menurut data Disnaker Kota Tangerang jumlah lowongan kerja yang terdaftar sampai
bulan Desember 2009 tercatat sebanyak 13.731 lowongan sementara pencari kerja
yang mendaftar sebanyak 33.949 orang. Seperti tahun sebelumnya pencari kerja ini

II-53

Kerangka Acuan - Analisis Dampak Lingkungan (KA-ANDAL)


Rencana Pembangunan Apartemen dan Hotel

masih didominasi tamatan SLTA sebanyak 27.573 orang. pencari kerja wanita lebih
sedikit dibandingkan pencari kerja laki-laki namun lowongan kerja yang tersedia untuk
perempuan lebih banyak.
Indikator lain untuk menggambarkan ketenagakerjaan adalah TPAK, Tingkat
Partisipasi Angkatan Kerja Tahun 2009 tercatat sebesar 68,50 meningkat dari tahun
sebelumnya yang sebesar 58.24, hal ini menggambarkan tingkat penyerapan tenaga
kerja yang cukup menggembirakan karena semakin banyak penduduk usia kerja yang
bekerja atau berusaha mendapatkan pekerjaan.
Tabel 2.21. Jumlah penduduk pencari kerja menurut tingkat pendidikan di Kota
Tangerang Tahun 2009
Tidak
Tamat SD

SD

SLTP

SLTA

Diploma

Sarjana

Pasca

Jumlah

Januari

21

134

800

74

72

1.103

Februari

165

1.022

45

93

1.314

Maret

21

184

976

51

71

1.303

April

26

155

936

48

88

1.253

Mei

17

213

1.004

72

111

1.418

Juni

13

150

1.159

62

124

1.509

Juli

151

3.425

92

68

3.741

Agustus

91

1.671

171

410

2.350

September

16

112

1.682

329

962

3.108

Oktober

31

422

10.679

92

68

11.385

Nopember

26

239

2.533

169

289

21

3.279

Desember

23

207

1.616

104

227

2.186

2009

31

422

10.679

92

68

11.385

2008

19.346

2.373

4.654

Bulan

321 2.356

30.051

Sumber: Kota Tangerang Dalam Angka 2010


Keterangan; * Data tidak tersedia

Tabel 2.22 Tingkat partisipasi angkatan kerja di Kota Tangerang, 2007 2009
Tahun

Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) %

2007

58,24

2008

65,79

2009

68,50

Rata-Rata

61,63

Sumber: Kota Tangerang Dalam Angka 2010

II-54

Kerangka Acuan - Analisis Dampak Lingkungan (KA-ANDAL)


Rencana Pembangunan Apartemen dan Hotel

c. Industri
Sektor industri dapat dibedakan menjadi empat jenis yaitu Industri Besar, Industri
Sedang, Industri Kecil dan Industri Rumah Tangga. Perbedaan ini didasarkan dari
banyaknya tenaga kerja yang bekerja di sector industri tersebut. Industri Besar jumlah
tenaga kerjanya terdiri dari 100 orang atau lebih, Industri. Sedang jumlah tenaga
kerjanya antara 20 sampai 99 orang, Industri Kecil jumlah tenaga kerjanya antara 5
sampai 19 orang dan Industri Rumah Tangga jumlah tenaga kerjanya kurang dari 5
orang. Perusahaan Industri yang terdapat di Kecamatan Tangerang berjumlah 27
perusahaan yang terdiri dari Industri yang berskala besar/sedang berjumlah 16
perusahaan dan Industri kecil berjumlah 11 perusahaan.
d. Produk Domestik Regional Bruto Kota Tangerang
Perkembangan suatu wilayah dapat dilihat dari tiga variabel makro yang utama,
yaitu jumlah output yang dihasilkan, tingkat pengangguran dan tingkat inflasi. Salah
satu indikator yaitu jumlah output yang dihasilkan, suatu wilayah dapat dilihat dari
besaran nilai Produk Domestik Bruto (PDB), pada level nasional atau Produk Domestik
Regional Bruto (PDRB) pada level provinsi dan kabupaten/kota.
Perkembangan

perekonomian

Kota

Tangerang

juga

dapat

dilihat

dari

perkembangan nilai PDRB dari tahun ke tahun. Untuk tiga tahun terakhir yaitu tahun
2007 2009, terlihat perkembangan yang cukup baik, meskipun secara global
perekonomian dunia sedang terpuruk pada akhir tahun 2008 hingga awal tahun 2009.
Besarnya PDRB Atas Dasar Harga Berlaku Kota Tangerang tahun 2009 adalah
sebesar 49,33 triliun rupiah, atau meningkat 10,39% dari tahun 2008. Pada tahun
2008 PDRB Kota Tangerang sebesar 44,69 meningkat 13,55% dari

tahun 2007.

Sedangkan berdasarkan PDRB Atas Dasar Harga Konstan 2000, besarnya nilai tersebut
pada tahun 2009 adalah 27,56 triliun rupiah.
Perkembangan nilai PDRB Atas Dasar Harga Konstan 2000, tahun 2009 terhadap
tahun 2008, yang merupakan indikator laju pertumbuhan ekonomi, adalah sebesar
5,74%, yang berarti secara riil produksi barang dan jasa final yang diproduksi di wilayah
Kota Tangerang pada tahun 2009 meningkat sebesar 5,74 % dari tahun 2008.
Pada tahun 2009, perekonomian Kota Tangerang masih didominasi oleh sektor
Industri Pengolahan dengan konstribusi sebesar 47,54%. Namun peranan sektor ini
agak menurun dibandingkan pada tahun 2008 sekitar 50,75%. Pergeseran peranan
sektor Industri Pengolahan pada tahun

2009 ini diikuti peningkatan peranan dari

sektor lainnya, seperti: Sektor Bangunan, Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran,
Sektor Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan, serta Sektor Jasa-jasa.

II-55

Kerangka Acuan - Analisis Dampak Lingkungan (KA-ANDAL)


Rencana Pembangunan Apartemen dan Hotel

Grafik. 2.14. Distribusi persentase PDRB Kota Tangerang atas dasar harga berlaku
menurut sektor primer, sekunder, dan tersier Tahun 2007 2009
Tabel 2.23. Produk domestik regional bruto Kota Tangerang atas dasar harga berlaku
menurut lapangan usaha Tahun 2007 - 2009 (juta)
Lapangan Usaha
1. Pertanian

2007

2008*)

2009**)

59,34

69,33

77,10

20.883,69

22.536,28

23.451,63

4. Listrik, Gas & Air Minum

337,47

337,89

348,94

5. Bangunan & Konstruksi

682,87

864,512

1.041,62

10.988,42

13.377,89

15.320,57

7. Angkutan & Komunikasi

4.302,80

4.959,67

6.003,84

8. Bank & Lembaga Keuangan Lainnya

1.236,03

1.485,82

1.775,18

863,96

1.057,33

1.311,8

39.354,58

44.688,73

49.330,67

2. Pertambangan & Penggalian


3. Industri Pengolahan

6. Perdagangan, Hotel & Restoran

9. Jasa-Jasa
Produk Domestik
Sumber: Kota Tangerang Dalam Angka 2010

Tabel 2.24. Produk Domestik regional bruto Kota Tangerang atas dasar harga konstan
2000 menurut lapangan usaha tahun 2007 2009 (juta)
Lapangan Usaha
1. Pertanian

2007

2008*)

2009**)

42,64

43,93

45,43

12.945,13

13.229,93

13.502,46

4. Listrik, Gas & Air Minum

256,48

253,76

268,71

5. Bangunan & Konstruksi

436,31

481,08

532,51

6. Perdagangan, Hotel & Restoran

6.668,78

7.498,13

8.023,97

7. Angkutan & Komunikasi

2.887,30

3.119,50

3.576,95

2. Pertambangan & Penggalian


3. Industri Pengolahan

II-56

Kerangka Acuan - Analisis Dampak Lingkungan (KA-ANDAL)


Rencana Pembangunan Apartemen dan Hotel

Lapangan Usaha

2007

2008*)
880,18

2009**)

8. Bank & Lembaga Keuangan Lainnya

766,25

9. Jasa-Jasa

502,22

560,49

620,85

24.505,12

26.066,99

27.562,54

Produk Domestik

991,65

Sumber: Kota Tangerang Dalam Angka 2010


Keterangan:*) Angka Perbaikan
**) Angka Sementara

2.2.3.3. Sosial Budaya dan Pranata Sosial


a. Sosial Budaya
Asimilasi sosial antara penduduk asli dengan pendatang dapat berjalan dengan
baik, karena .adanya pandangan bahwa penduduk pendatang dapat ikut membangun
dan mendukung kegiatan pembangunan di daerah ini. Konflik sosial kurang potensial
terjadi, karena setiap anggota masyarakat masih kuat memiliki sifat toleransi dan
kesamaan sosial, corak budaya. Sistem kelembagaan sosial dalam masyarakat
menganut dua jalur, selain tunduk kepada para ulama juga mengakui kepemimpinan
pejabat formal (Kepal Desa, Camat, dan Bupati).
b. Pranata Sosial/Kelembagaan Masyarakat
Lembaga sosial adalah pola aktivitas yang terbentuk berdasarkan norma atau
aturan tertentu sebagai wahana untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia. Lembaga
sosial yang terutama ditemui di wilayah studi antara lain lembaga ekonomi, lembaga
pendidikan, lembaga agama, dan lembaga sosial. Dalam bidang perekonomian,
terdapat kelembagaan antara lain: toko dan warung. Dalam bidang pendidikan terdapat
sarana pendidikan seperti sekolah umum (TK, SD, SMP, SMA) dan sekolah agama
(madrasyah dan pesantren).
c. Proses Sosial
Proses sosial yang di maksud dalam kajian ini adalah proses penyesuaian diri
antara masyarakat lokal (penduduk asli) dengan masyarakat pendatang (perantau luar
daerah). Secara sosiologis hal ini disebut proses assimilasi. Bagaimana proses
assimilasi berlangsung ditujukan oleh sikap menerima-menolak kelompok masyarakat
asli terhadap kehadiran kelompok/individu atau orang lain (the others) yang bukan
anggota system sosial mereka. Selain

faktor sikap juga ditunjukan oleh bentuk

tindakan atau perilaku sosial: kerjasama, tolong menolong, perkawinan campur,


kesenian dan penyesuaian budaya.

II-57

Kerangka Acuan - Analisis Dampak Lingkungan (KA-ANDAL)


Rencana Pembangunan Apartemen dan Hotel

d. Budaya dan Struktur Masyarakat


Salah satu kekayaan budaya warisan nusantara adalah keberagaman suku
bangsa dengan aneka karakteristik dan khasanah adat istiadatnya masing-masing,
namun mampu hidup berdampingan secara damai. Kehidupan semacam ini
melambangkan semangat persatuan dan kesatuan Bhineka Tunggal Ika yang kokoh.
Secara garis besar komposisi penduduk Kota Tangerang terdiri atas etnik Sunda,
Jawa, Betawi dan Cina. Pada masa itu kelompok etnik Sunda sebagian besar
menempati daerah Tangerang Selatan dan Tangerang Tengah yang meliputi wilayah
Kecamatan Tangerang, Cikupa, Serpong, Curug, Tigaraksa dan Legok. Mereka umumnya
penganut agama Islam yang taat. Kelompok etnik Betawi sebagian besar menempati
wilayah sepanjang perbatasan Batavia seperti wilayah Kecamatan Teluknaga,
Batuceper, Ciledug, dan Ciputat. Mereka ini juga umumnya pemeluk agama Islam yang
sangat taat. Kelompok etnik Jawa menempati wilayah Tangerang Barat Laut dan
Tangerang Utara terus menyusur pantai utara pulau Jawa, yang meliputi Kecamatan
Mauk, Kresek, dan Rajeg. Mereka sehari-hari menggunakan bahasa Jawa dan pada
umumnya hidup sebagai petani nelayan. Tangerang juga memiliki jumlah komunitas
Tionghoa yang cukup signifikan. Budaya mereka berbeda dengan komunitas Tionghoa
lainnya, mereka adalah pemeluk Taoisme yang kuat dan tetap menjaga tempat-tempat
ibadah dan pusat-pusat komunitas mereka. Di sekitar tapak proyek, umumnya sudah
sulit dibedakan menurut etnik tertentu karena umumnya sudah membaur dan terjadi
perkawinan antar suku. Serta terdapat juga etnis dan suku lainnya seperti: Batak,
Bugis, Minangkabau, dan lain-lainnya.
e. Lembaga Kemasyarakatan
Di Kelurahan Babakan yang menjadi wilayah administrasi tapak proyek terdapat
kelembagaan masyarakat informal, yaitu antara lain: PKK, Karang Taruna, Majelis
Talim, serta organisasi kesenian Orkes Melayu dan Qasidah.
2.2.4. Komponen Kesehatan Lingkungan dan Kesehatan Masyarakat
a. Kesehatan Masyarakat
Arah kebijaksanaan pembangunan kesehatan adalah meningkatkan kualitas
sumber daya manusia, kualitas hidup dan usia harapan hidup penduduk. Secara implisit
arah pembangunan kesehatan itu menyatakan bahwa penduduk yang sehat merupakan
salah satu modal dasar dalam pembangunan, sehingga peranannya sangat penting
dalam menunjang keberhasilan pembangunan nasional.

II-58

Kerangka Acuan - Analisis Dampak Lingkungan (KA-ANDAL)


Rencana Pembangunan Apartemen dan Hotel

Sarana kesehatan yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat yang ada di


Kecamatan Tangerang yang berada di sekitar lokasi rencana pembangunan Apartemen
dan Hotel oleh PT. Broadbiz Asia adalah berupa Rumah Sakit, Puskesmas dan
Puskesmas Pembantu, Posyandu, dan Klinik.
Kecamatan Tangerang mempunyai 5 unit Rumah Sakit yang sangat memadai
dalam hal fasilitas maupun Pelayanan kesehatannya dan tersebar di 5 kelurahan, yaitu
kelurahan Cikokol, Kelurahan Kelapa Indah, Kelurahan Buaran Indah, Kelurahan Suka
asih dan Kelurahan Sukarasa. Fasilitas kesehatan lain di Kecamatan Tangerang ialah
RS bersalin, Tenaga kesehatan di Puskesmas Sukasari berjumlah 20 orang dan 17
orang di Puskesmas Tanah Tinggi. Secara keseluruhan tenaga kesehatan di Puskesmas
kecamatan berjumlah 37 orang yang terdiri dari 2 orang analis lab, 1 tenaga farmasi, 2
tenaga gizi, 23 perawat dan bidan, 5 dokter umum dan 4 dokter gigi. Untuk lebih
jelasnya disajikan pada Tabel 2.25.
Tabel 2.25. Banyaknya fasilitas kesehatan menurut jenis dan kelurahan di Kecamatan
Tangerang Tahun 2009
No

Kelurahan

1
2
3
4
5
6
7
8

Cikokol
Kelapa Indah
Babakan
Sukasari
Buaran Indah
Tanah Tinggi
Sukaasih
Sukarasa
Jumlah

Rumah
Sakit
1
1
1
1
1
5

R.S.
Bersalin
1
1
1
1
4
1
9

Jenis Fasilitas Kesehatan


Balai
Puskesmas
Pengobatan
3
2
2
1
2
1
1
1
11
2

Dokter
Praktek
2
2
3
5
1
1
4
5
23

Bidan
Praktek
4
2
6
2
2
8
2
2
28

Sumber: Kecamatan Tangerang Dalam Angka 2010

Tabel 2.26. Jumlah tenaga kesehatan di Kecamatan Tangerang Tahun 2009


No

Kelurahan

1
2
3
4
5
6
7
8

Cikokol
Kelapa Indah
Babakan
Sukasari
Buaran Indah
Tanah Tinggi
Sukaasih
Sukarasa
Jumlah

Dokter

Bidan

Dukun Bayi

3
10
3
5
4
2
9
4
17

2
4
8
1
11
4
5
4
23

1
4
8
2
15

Mantri
Kesehatan
9
8
2
1
4
1
25

Sumber: Kecamatan Tangerang Dalam Angka 2010

II-59

Kerangka Acuan - Analisis Dampak Lingkungan (KA-ANDAL)


Rencana Pembangunan Apartemen dan Hotel

Tabel 2.27. Jumlah tenaga kesehatan di Puskesmas di Kecamatan Tangerang Tahun


2009
No

Tenaga Kesehatan

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12

Kesehatan Masyarakat
Sanitasi
Analis Laboratorium
TEM dan P. Rongt
P. Anestesi
Fisiotherapis
Tenaga Farmasi
Tenaga Gizi
Perawat dan Bidan
Dokter spesialis
Dokter Umum
Dokter Gigi
Jumlah

Puskesmas
Sukasari
1
1
1
12
3
2
20

Puskesmas Tanah
Tinggi
1
1
11
2
2
17

Jumlah
2
1
2
23
5
4
37

Sumber: Kecamatan Tangerang Dalam Angka 2010

Jenis penyakit yang paling banyak diderita masyarakat di Kecamatan Tangerang


adalah penyakit Diare, Disentri, Typoid dan Pnumonia. Untuk lebih jelasnya dapat
dilihat pada Tabel 2.28.
Tabel 2.28. Jumlah jenis penyakit yang diamati di Puskesmas Kecamatan Tangerang
Tahun 2009
Jenis Penyakit
TB. Paru Klinis
TB. Paru BTA (+)
Pnumonia
Campak
DBD
Hepatitis
Diare
Disentri
Typoid
Jumlah

Puskesmas
Sukasari
110
70
107
95
71
3
2.184
739
293
3.672

Puskesmas
Tanah Tinggi
38
48
62
15
27
2
1.214
84
104
1.594

Jumlah
148
118
169
110
98
5
3.398
823
397
5.266

Sumber: Kecamatan Tangerang Dalam Angka 2010

b. Kesehatan Lingkungan
Kesehatan Masyarakat dipengaruhi beberapa faktor. Menurut Bloom dalam
Notoatmodjo, (2003) kesehatan Masyarakat dipengaruhi oleh Lingkungan (45%),
Perilaku (30%), Pelayanan Kesehatan (20%), dan faktor genetik/keturunan (5%).
Pembangunan apartemen dan hotel oleh PT. Broadbiz Asia akan berpengaruh pada
lingkungan sekitarnya. Dengan faktor lingkungan yang memiliki pengaruh besar pada
kesehatan masyarakat, perlu perhatian khusus mengenai dampak perubahan
lingkungan pada kesehatan.

II-60

Kerangka Acuan - Analisis Dampak Lingkungan (KA-ANDAL)


Rencana Pembangunan Apartemen dan Hotel

c. Vektor Penyakit.
Vektor

adalah

organisme

yang

tidak

menyebabkan

penyakit

tetapi

menyebarkannya dengan membawa patogen dari satu inang ke yang lainnya (Safitri,
P.D. 2011). Vektor juga merupakan anthropoda yang dapat menimbulkan dan
menularkan suatu Infectious agent dari sumber Infeksi kepada induk semang yang
rentan. Bagi dunia kesehatan masyarakat, binatang yang termasuk kelompok vektor
dapat merugikan kehidupan manusia karena disamping mengganggu secara langsung
juga sebagai perantara penularan penyakit. Penyakit yang ditularkan melalui vektor
masih menjadi penyakit endemis yang dapat menimbulkan wabah atau kejadian luar
biasa serta dapat menimbulkan gangguan kesehatan masyarakat sehingga perlu
dilakukan upaya pengendalian atas penyebaran vektor tersebut.
Adapun dari penggolongan binatang yang dapat dikenal dengan 10 golongan
yang dinamakan phylum diantaranya ada 2 phylum yang sangat berpengaruh terhadap
kesehatan manusia yaitu phylum anthropoda seperti nyamuk yang dapat bertindak
sebagai perantara penularan penyakit malaria, dan phylum chodata yaitu tikus sebagai
pengganggu tanaman dan manusia, serta sekaligus sebagai tuan rumah (hospes), pinjal
Xenopsylla cheopis yang menyebabkan penyakit pes. Untuk dilokasi studi sumber vektor
penyakit yang paling banyak adalah nyamuk, lalat, kecoa, dan tikus.
d. Toksikologi Lingkungan
Menurut Fadhil Hayat (2010) Toksikologi lingkungan mempelajari efek dari
bahan polutan terhadap kehidupan dan pengaruhnya terhadap ekosistem yang
digunakan untuk mengevaluasi kaitan antara manusia dengan polutan yang ada di
lingkungan. Penilaian akan bahaya bahan kimia, pencemaran lingkungan, dan bahan
lainnya bagi kesehatan merupakan unsur penting dalam perlindungan kesehatan
pekerja dan anggota masyarakat baik yang ada lokasi pembangunan apartemen dan
hotel maupun yang ada di sekitarnya. Pencemaran lingkungan dapat menyebabkan lesi
toksik pada manusia, perubahan biosfer atau perubahan dalam lingkungan luar.
Dengan adanya aktivitas pembangunan apartemen dan hotel di wilayah tersebut
dan aktivitas masyarakat pada umumnya dapat juga menurunkan kualitas dan
kesehatan lingkungan. Pencemaran udara, air dan tanah akan mempengaruhi keadaan
lingkungan dan merupakan masalah tersendiri. Hal ini mencakup gas buangan
kendaraan bermotor, asap dan gas, tinja, deterjen dan bahan kimia rumah tangga
dalam jumlah besar dalam air limbah serta sejumlah besar sampah dari bahan
kemasan yang tidak dapat dipakai ulang dan barang buangan.

II-61

Kerangka Acuan - Analisis Dampak Lingkungan (KA-ANDAL)


Rencana Pembangunan Apartemen dan Hotel

e.

Sanitasi Lingkungan.
Pengertian sanitasi adalah sesuatu cara untuk mencegah berjangkitnya suatu

penyakit menular dengan jalan memutuskan mata rantai dari sumber. Sanitasi
merupakan usaha kesehatan masyarakat yang menitikberatkan pada penguasaan
terhadap berbagai faktor lingkungan yang mempengaruhi derajat kesehatan.
Sedangkan yang dimaksud

Sanitasi lingkungan adalah Status kesehatan suatu

lingkungan yang mencakup perumahan, pembuangan kotoran, penyediaan air bersih


dan sebaginya (Notoadmojo, 2003).
2.2.5. Komponen Keamanan dan Ketertiban Masyarakat
a. Kamtibmas
Berdasarkan informasi yang diperoleh dari aparat Kecamatan Tangerang, tidak
ada gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas) yang berarti di
daerah tersebut. Tidak ada aksi premanisme maupun perbuatan anarkis. Belum pernah
terjadi konflik horisontal antar kelompok. Demikian juga sikap penerimaan penduduk
setempat terhadap pekerja pendatang juga baik. Hal ini dikarenakan penduduk
setempat yang telah menetap bertahun-tahun umumnya juga merupakan pendatang
yang telah lama tinggal dan berkeluarga di sekitar tapak proyek.
Kebutuhan akan rasa aman merupakan salah satu kebutuhan hidup yang
mendasar bagi masyarakat saat ini. Salah satu indikator untuk mengukur tingkat rasa
aman masyarakat adalah data jumlah kasus kriminalitas dari instansi terkait. Semakin
tinggi jumlah kasus kriminal yang terjadi berarti semakin rendah tingkat rasa aman
masyarakat dan berlaku sebaliknya.
Dengan melihat data jumlah kasus kriminalitas yang bersumber dari data
kepolisian setempat, pada tahun 2009 ditemukan/dilaporkan sebanyak 1285 kasus
kriminalitas. Angka ini menurun jauh dibandingkan tahun sebelumnya yang tecatat
sebanyak 1.520. Untuk lebih jelasnya tentang tindak kejahatan di Kota Tangerang
disajikan pada Tabel 2.29. Berdasarkan data tersebut tindakan kejahatan yang paling
banyak terjadi di Kota Tangerang adalah tindak kejahatan pencurian kendaraan
bermotor, pencurian dengan pemberatan berada pada urutan kedua sedangkan urutan
ketiga yaitu tindak kejahatan Narkotika.

II-62

Kerangka Acuan - Analisis Dampak Lingkungan (KA-ANDAL)


Rencana Pembangunan Apartemen dan Hotel

Tabel 2.29. Jumlah kasus tindak kejahatan/kriminalitas per kasus di Kota Tangerang
Tahun 2005 -2009
Jumlah Kasus
Jenis Tindak Kejahatan
2005 2006
2007
2008
2009
1. Pembunuhan
10
11
3
4
5
2. Penganiayaan berat
37
19
123
123
134
3. Pencurian dengan pemberatan

143

46

378

512

389

4. Pencurian dgn kekerasan

57

14

111

89

40

5. Pencurian kendaraan bermotor

159

211

616

582

484

6. Kebakaran

33

36

26

25

29

7. Perjudian

81

36

32

46

49

8. Pemerasan dengan acaman

18

35

43

53

28

9. Perkosaan

13

21

19

10. Narkotika

239

345

357

337

258

11. Kenakalan remaja

12. Kekerasan dalam rumah tangga

77

108

784

766

1.710

1.520

1.285

Kota Tangerang
Sumber: Kota Tangerang dalam Angka 2010

2.2.6. Komponen Ruang dan Transportasi


a. Lalu Lintas
Segmen jalan pada rencana kegiatan Pembangunan Apartemen Menengah Hak
Milik (Apartemen) dan Hotel oleh PT. Broadbiz Asia di Kota Tangerang ini digolongkan
sebagai perkotaan: Fungsi jalan sebagai jalan Arteri Primer. Hirarki jalan masuk dalam
jalan kota Madya. Mempunyai perkembangkan dalam kelompok jalan perkotaan karena
jumlah penduduk lebih dari 100.000 dan terus mengalami perubahan perkembangan
lahan sepanjang sisi samping segmen jalan. Pada sisi kanan dan kiri terdapat pusat
kegiatan lain seperti perkantoran, pertokoan, rumah sakit, pemukiman, dan lain-lain.
Indikasi penting lebih lanjut tentang daerah Kota Tangerang ini adalah
karakteristik arus lalu-lintas puncak terjadi pada pagi dan sore hari, secara umum
lebih

tinggi dan terdapat perubahan komposisi lalu-lintas (dengan persentase

kendaraan pribadi dan sepeda motor yang lebih tinggi, dan persentase truk berat yang
lebih rendah dalam arus lalu-lintas). Peningkatan arus yang berarti pada jam puncak
biasanya menunjukkan perubahan distribusi arah lalu-lintas (tidak seimbang). Kondisi
lalu lintas dibeberapa jalan sudah tergolong jenuh: Menurut penelitian Didid (2009),
ditemukan kejenuhan jalan seperti pada Tabel 2.30.,

II-63

Kerangka Acuan - Analisis Dampak Lingkungan (KA-ANDAL)


Rencana Pembangunan Apartemen dan Hotel

Tabel 3.30. Arus lalu lintas di beberapa jalan di kota Tangerang


Jalan
Kota Bumi
Lio Baru
Batu Ceper
Kober

Kapasitas (C)
1390
352
836
2059

Arus Lalu lintas (Q)


1721
438
1046
2569

Derajad Kejenuhan (Q)


1.239
1.245
1,251
1,248

Karakteristik tipe jalan pada segmen jalan yang dikaji adalah jalan tidak terbagi
4 jalur satu arah (4/1UD) untuk jalan menuju kota. Pada sisi utara terdapat perumahan,
Jalan sudirman dengan jalan tak terbagi 2 jalur satu arah (4/1 UD) dan Jalan menuju
Kota Tangerang dengan terbagi 2 jalur satu arah (2/1 D). Jenis perkerasan permukaan
badan jalan menggunakan perkerasan lentur (hot mix).
Jalan menuju tapak proyek sudah dilengkapi dengan rambu lalu lintas (traffic light)
dan marka jalan. Jembatan layang (play over) ada satu di depan rencana studi. Sistem
drainase sebagai perangkat jalan sudah tersedia di jalan menuju kota sedangkan untuk
jalan Sudirman sudah dilengkapi dengan saluran terbuka. Fasilitas trotoar bagi pejalan
kaki sudah tersedia sehingga pejalan kaki berjalan dapat dengan aman. Lalu lintas
kendaraan yang mungkin masuk ke jalan Jenderal Sudirman di depan kegiatan Hotel
adalah dari jalan Teuku Umar dan jalan Husni Thamrin. Selanjutnya akses jalan dapat
dari simpang jalan Veteran (fly over).

Gambar 2.15. Akses lalu lintas


simpang Jl Veteran (fly over)

dari Gambar 2.16. Akses lalu lintas dari Teuku


Umar dan jalan Husni Thamrin. Ke Lokasi
Proyek

II-64

Kerangka Acuan - Analisis Dampak Lingkungan (KA-ANDAL)


Rencana Pembangunan Apartemen dan Hotel

Komposisi

kendaraan

adalah

Kendaraan

ringan

(LV)

(termasuk

mobil

penumpang, minibus, sedan, van, kijang, pik-up, truk kecil dan jeep). Kendaraan berat
(HV) (termasuk truk besar dan bus besar) sepeda motor (MC). Sepanjang ruas Jalan
Sudirman terdapat beberapa titik jalan masuk ke lokasi perumahan dan perkantoran
serta pertokoan. Kapasitas jalan ruas Jalan Raya Kota Tangerang diperkirakan 2.842
smp/jam/arah. Ada persimpangan menuju tapak proyek yang merupakan titik kritis
sebagai sumber tundaan.
Tabel 2.31. Jumlah kasus lalu lintas dan kasus per 100 kendaraan bermotor menurut
jenis kasus di Kota Tangerang tahun 2004-2009
Jenis Kasus

Frekuensi
2004

2005

2006

2007

2008

2009

1. Kecelakaan (kasus)

824

501

348

351

378

470

2. Meninggal Dunia (orang)


3. Luka Berat (orang)

341

185

66

69

50

35

664

339

337

171

104

189

455

337

276

335

465

507

4. Luka Ringan (orang)


5. Kerugian Material
(Rp.000)

2.206.205 1.324.085 916.650 770.750 1.044.840 624.400

Sumber: Kota Tangerang dalam Angka 2010

II-65

Kerangka Acuan - Analisis Dampak Lingkungan (KA-ANDAL)


Rencana Pembangunan Apartemen dan Hotel

2.4. Batas Wilayah Studi


Batas wilayah studi AMDAL meliputi batas proyek, batas ekologis, batas sosial
dan batas administratif. Batas tersebut diperoleh dengan cara menumpangsusunkan
(overlay) batas wilayah proyek, batas sosial, batas administrasi, dan batas ekologis
sehingga merupakan resultante batas terluar yang merupakan batas wilayah studi
(Gambar 2.25).
2.4.1. Batas Proyek
Batas proyek adalah ruang dimana suatu rencana usaha dan/atau kegiatan
akan melakukan kegiatan prakonstruksi, konstruksi, dan operasi. Batas proyek rencana
pembangunan Apartemen dan Hotel oleh PT. Broadbiz Asia adalah seluas 8.200 m2.
(Gambar 2.21)
2.4.2. Batas Administrasi
Batas administrasi adalah ruang dimana masyarakat dapat secara leluasa
melakukan kegiatan sosial ekonomi dan sosial budaya sesuai dengan peraturan
perundangan yang berlaku di dalam ruang (wlayah) administrasi tersebut. Batas
administrasi dalam kegiatan studi AMDAL Apartemen dan Hotel PT. Broadbiz Asia
masuk dalam ini adalah Kecamatan Tangerang (Gambar 2.22).
2.4.3. Batas Sosial
Batas sosial adalah ruang di sekitar rencana usaha dan/atau kegiatan yang
merupakan tempat berlangsungnya berbagai interaksi sosial yang mengandung norma
dan nilai tertentu yang sudah mapan sesuai dengan dinamika sosial suatu kelompok
masyarakat, yang diperkirakan akan mengalami perubahan mendasar akibat suatu
rencana usaha dan/atau kegiatan. Dengan demikian batas sosial adalah batas antara
tapak proyek dengan kegiatan penduduk yang berada di sekitar proyek. Adapun batas
sosial dari proyek Kegiatan Pembangunan Apartemen dan Hotel oleh PT. Broadbiz Asia
RT 02 dan RT 03 RW VII, Kelurahan Babakan di Kecamatan Tangerang (Gambar 2.23).
2.4.4. Batas Ekologis
Batas ekologis adalah ruang persebaran dampak dari suatu rencana usaha
dan/atau kegiatan menurut media transportasi limbah (air dan udara), dimana proses
alami yang berlangsung di dalam ruang tersebut. diperkirakan akan mengalami
perubahan mendasar. Dengan demikian batas ekologis sering didasarkan pada sebaran
dampak melalui media udara dan air pada satu satuan ekosistem tertentu. Batas
ekologis pada pembangunan Apartemen dan Hotel oleh PT. Broadbiz Asia adalah
sebagian wilayah DAS Cisadane (Gambar 2.24).

II-66

Kerangka Acuan - Analisis Dampak Lingkungan (KA-ANDAL)


Rencana Pembangunan Apartemen dan Hotel

2..5.

Batas Kajian Waktu


Batas waktu kajian merupakan batas yang akan digunakan dalam melakukan

prakiraan dan evaluasi dampak dalam kajian studi Analisis Mengenai Dampak
Lingkungan Hidup (AMDAL). Batas waktu kajian tersebut minimal dilakukan selama
rencana umur rencana usaha dan/atau kegiatan berlangsung. Penentuan batas waktu
kajian ini selanjutnya digunakan sebagai dasar untuk melakukan penentuan perubahan
rona lingkungan tanpa adanya rencana usaha dan/atau kegiatan atau dengan adanya
rencana usaha dan/atau kegiatan. Batas waktu kajian selama beroperasinya
Apartemen dan Hotel oleh PT. Broadbiz Asia, yaitu selama 20 tahun.

II-67

Kerangka Acuan - Analisis Dampak Lingkungan (KA-ANDAL)


Rencana Pembangunan Apartemen dan Hotel

Gambar 2.21. Peta batas proyek rencana pembangunan apartemen dan hotel

II-68

Kerangka Acuan - Analisis Dampak Lingkungan (KA-ANDAL)


Rencana Pembangunan Apartemen dan Hotel

Gambar 2.22. Peta batas administrasi rencana pembangunan apartemen dan hotel

II-69

Kerangka Acuan - Analisis Dampak Lingkungan (KA-ANDAL)


Rencana Pembangunan Apartemen dan Hotel

Gambar 2.23. Peta batas sosial rencana pembangunan apartemen dan hotel
II-70

Kerangka Acuan - Analisis Dampak Lingkungan (KA-ANDAL)


Rencana Pembangunan Apartemen dan Hotel

Gambar 2.24. Peta batas ekologis rencana pembangunan apartemen dan hotel
II-71

Kerangka Acuan - Analisis Dampak Lingkungan (KA-ANDAL)


Rencana Pembangunan Apartemen dan Hotel

Gambar 2.25. Peta batas wilayah studi rencana pembangunan apartemen dan hotel
II-72