Anda di halaman 1dari 3

BEDA MALPRAKTIK DAN KELALAIAN MEDIK

Oleh: DR Sardjana,dr SpOG-K,SH


BAGAIKAN gayung tak bersambut, pemerintah dan DPR sepakat menuntaskan RUU
Praktik Kedokteran pada tanggal 14 September 2004. Namun demikian banyak
organisasi non pemerintah maupun pengamat Undang- Undang Kesehatan
melakukan aksi protes atas RUU itu.
Ada apa ? Sebab bahasa kedokteran tak gampang dimengerti oleh kalangan umum
termasuk pengamat Undang Undang Kesehatan sekalipun. Penelitian penelitian
ilmu kedokteran tidak pernah 100 % benar,begitu juga kesembuhan bisa berarti
gejalanya saja yang sembuh sedang penyebab penyakit tetap berjalan terus,jadi
makna sembuh kedokteran tidak ada yang 100 %.
Istilah kelalaian (Negligence) hanya dikenal dalam arti umum dalam percakapan
sehari-hari diartikan acuh tak acuh, masa bodoh, sembarangan, tidak
memperhatikan atau mempedulikan orang lain. Kini istilah kelalaian medik makin
popular berkaitan dengan kedokteran. Demikian pula istilah malpraktik yang pada
umumnya diartikan berkaitan dengan profesi kedokteran (Medikal Malpractise).
Kedua istilah ini terkadang membingungkan dan sukar dibedakan, pakar
kedokteranpun sering rancau mencampuradukkan antara negligence dan
malpractice, sehingga lebih baik malpractice dianggap sinonim saja dengan
profesional negligence.
Dalam literaturnya Creghton disadur dari Mason Smith penggunaan kedua istilah ini
sering dipakai secara bergantian seolah-olah artinya sama. Malpractise is a tern
wich is increasingly widely used as a sinonim for medical neglience. Gunting
tertinggal diperut sehabis operasi ( RSD Jakarta ), selang kateter tertinggal diperut (
RS PI Jakarta ), keracunan gas CO2 hingga tewas ( RSUD Bengkulu ) dll ( Jawa Pos 31
Agustus 2004 ) wujudnya lebih tepat kalau disebut kelalaian medik.
Tetapi, sebenarnya pengertian medical malpractise lebih luas dari medical
negligence. Kelalaian memang termasuk malpraktek, tetapi didalam malpraktek
tidak selalu harus terdapat unsur kelalaian. Malpraktek dalam arti luas dibedakan
antara tindakan yang dilakukan dengan sengaja (dolus, Vorsatz, willens en wetens
handelen, international) yang dilarang oleh peraturan perundang undangan dan
memiliki motif tertentu dan tindakan yang dilakukan tidak dengan sengaja
(negligence, culpa) yang tidak memiliki motif tertentu.
Kelalaian medik atau medical negligence atau culpa merupakan suatu pengertian
normatif. Bagaimana tolak ukur dalam menilai kelalaian tersebut ? Negara Anglo
Saxon memberikan tolak ukur dari kelalaian yang dikenal sebagai 4-D yaitu Duty,
Dereliction of That Duty, Direct Causation, Damage.
Apa yang dimaksud Duty? Duty atau kewajiban adalah kewajiban profesi dokter
untuk mempergunakan segala ilmu dan kepandaiannya untuk penyembuhan atau
setidak tidaknya meringankan beban penderitaan pasiennya (to cure and to care)
berdasarkan standar profesi medik.
Hubungan dokter pasien termasuk perikatan berusaha (inspanning verbintenis).

Ini berarti bahwa dokter itu tidak dapat dipersalahkan apabila pengobatannya
ternyata tidak sebagaiman yang diharapkan, asalkan sudah dipenuhi syarat syarat
standar profesi. Seorang dalam melakukan tindakan medik terhadap pasien
haruslah berdasarkan 4 hal, yaitu adanya indikasi medis, bertindak secara hati
hati dan teliti, cara bekerjanya berdasarkan standar profesi medik dan sudah ada
persetujuan tindakan medik.
Sementara itu Deriliction of That Duty adalah penyimpangan yang dilakukan dokter
dari apa yang seharusnya dilakukan menurut standar profesinya. Namun,
penyimpangan ini tidak diartikan sempit. Hal ini disebabkan karena dalam ilmu
kedokteran terdapat suatu kelonggaran untuk perbedaan pendapat. Untuk
menentukan apakah terdapat penyimpangan atau tidak harus berdasarkan fakta
fakta yang meliputi kasus itu dengan bantuan ahli dan saksi ahli.
Direct Caution dan Damage berkaitan sangat erat satu sama lain. Untuk dapat
dipersalahkan, harus ada hubungan kausal (langsung) antara penyebab (causa) dan
kerugian (damage) yang diderita oleh karenanya, dan tidak ada tindakan atau
peristiwa sela diantaranya.
Tetapi, itu harus dibuktikan dengan jelas. Tidak bisa hanya karena hasil (outcome)
yang negatif, lantas hal ini langsung saja dokternya dianggap salah atau lalai. Tetapi
terkadang dokter sudah merasa terhakimi sehingga lebih bersikap defensif,semakin
banyak gugatan kalangan dokter semakin takut dan kalangan dokter merasa
terancam.
Dampak selanjutnya tarif dokter semakin mahal untuk berjaga- jaga kalau ada
tuntutan dikemudian hari..Sekarang ini sudah tidak adalagi perusahaan asuransi
yang bersedia mengklaim profesi dokter kebidanan dan kandungan karena
tuntutannya terlalu mahal begitu juga dokter bedah syaraf.
Dari keempat tolok ukur di atas, perlu digaris bawahi standar baku yang resmi
belum ada di Indonesia, walaupun sudah memiliki undang undang. Dari sini,
sebenarnya modal awal untuk menilai apakah sebuah tindakan merupakan kelalaian
medik atau bukan belumlah kita punyai.
Standar prosedur yang ada di rumah sakit rumah sakit belum memadai, di
samping tidak semua rumah sakit sudah memiliki standar prosedur. Kadang rumah
sakit membuat prosedur tetap ( protap ) setelah ada kasus yang mencuat dimedia
massa, sebelumnya tidak dianggap penting atau protap dibuat karena akan ada
lomba tujuh belasan atau sekedar menara gading saja, protapnya disampul rapi
disimpan dalam almari pimpinan rumah sakit. Idealnya, setiap bagian disiplin ilmu
kedokteran di rumah sakit mempunyai standar baru yang resmi,atau setidaknya
rumah sakit memiliki sebuah standar prosedur baku yang resmi digunakan secara
nasional untuk penyakit yang paling banyak ditemukan di institusi rumah sakit.
Merujuk ke negara yang sudah maju, standar prosedur adalah mutlak untuk
mengevaluasi tindakan dokter dalam menanganai pasien. Tentunya perlu diingat,
memang pemandangan dokter dituntut oleh pasien adalah hal yang umum di
negara maju. Bahkan cenderung seperti mencari cari kesalahan dari tindakan
dokter dalam melayani pasiennya. Segi positifnya, dokter manjadi lebih hati hati
dan mutu pelayanan menjadi lebih bagus. Jadi sebenarnya pekerjaan rumah ( PR )

kita saat ini adalah membuat standar profesi baku yang bersifat resmi dan nasional
dan menjadi kiblatnya bagi semua dokter praktek. Dengan standar profesi baku ini
kita dapat menilai apakah ada pengendalian dan penyimpangan dari pelayanan
kedokteran. Pengendalian dan penyimpangan terkait erat antara manajemen klinik
seperti medical audit, peer review dan diagnostic related groups yang berbasis
bukti ( Evidence Based Medicine / EBM ) bukan kebiasaan,perasaan, ilmu turun
temurun dari seniornya.