Anda di halaman 1dari 10

TEORI ABC (ANTESENDEN-BEHAVIOR-CONSEQUENCE)

PAPER
diajukan guna memenuhi tugas mata kuliah
Komunikasi Kesehatan kelas D

Oleh:
Kelompok 1
Rani Romadaniyati

(122110101009)

Miftakul Mudwammah

(122110101008)

Puput Baryatik

(122110101020)

Romdhan Feriyadi

(122110101030)

Siti Kresnawati

(122110101039)

Andi Hilman Imtiyaz

(122110101042)

Putri Suci Wulansari

(122110101053)

Uswatun Asihta

(122110101099)

Wahyu Murvy D.O

(122110101117)

Wita Nur Cahyaningsih

(122110101125)

Farah Zairina

(122110101160)

Ahmad Halif Mardian

(122110101175)

PROGRAM STUDI ILMU KESEHATAN MASYARAKAT


FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS JEMBER
2013

TEORI ABC (ANTESENDEN-BEHAVIOR-CONSEQUENCE)

a. Antesenden
Antesenden adalah peristiwa lingkungan yang membentuk tahap atau
pemicu perilaku.Antesenden yang secara reliable mengisyaratkan waktu untuk
menjalankan perilaku dapat meningkatkan kecenderungan terjadinya suatu
perilaku pada saat dan tempat yang tepat.
Antesenden ada 2 macam, yaitu :
1) Antesenden yang terjadi secara alamiah (naturally occurings antesendents)
yaitu perilaku yang dipicu oleh peristiwa-peristiwa lingkungan.
Contoh: Di daerah yang memiliki sumber air yang kotor/terkontaminasi
mengakibatkan penyakit diare, sehingga penduduk sekitar dengan
sendirinya akan memiliki kesadaran untuk tidak menggunakan air yang
tercemar tersebut untuk dikonsumsi.
2) Antesenden buatan/terencana
Pada

perilaku

kesehatan

yang

tidak

memiliki

antesenden

alami,

komunikator bisa mengeluarkan berbagai peringatan yang memicu perilaku


sasaran.
Contoh: Dengan memasang poster, leaflet yang berisi penggunaan jamban
yang sehat agar tidak menimbulkan wabah penyakit.

b. Behaviour (Perilaku)
Ciri-ciri suatu perilaku membawa implikasi penting bagi penyusunan
strategi komunikasi.Perilaku sasaran, misalnya konsumsi ARV pada penderita
HIV/AIDS merupakan tujuan program komunikasi kesehatan. Ketika
mengamati perilaku sasaran, komunikator mempertimbangkan:

1) Perilaku sasaran ada, tetapi tidak dalam frekuensi yang cukup.


Contoh: pemberian ARV kepada para penderita HIV yang dilakukan seumur
hidup. Tetapi persediaan ARV tidak mencukupi untuk penderita HIV.
2) Perilaku sasaran ada, tetapi tidak dalam jangka waktu yang mencukupi.
Contoh: Mengkonsumsi obat tidak sampai jangka waktu yang telah
ditentukan. Sehingga orang tersebut akan memiliki kekebalan terhadap obat
tersebut.
3) Perilaku sasaran ada, tetapi tidak dalam bentuk yang diharapkan.
Contoh: Penyuluhan tentang penularan HIV/AIDS hanya melalui bahaya
jarum suntik, tidak dalam bentuk yang lain seperti melalui bagaimana cara
penularan seksual, dan bahaya penularan ibu ke anak melalui ASI.
4) Perilaku sasaran ada, tetapi tidak dalam saat yang tepat.
Contoh : Penyuluhan kepada seseorang tentang pencegahan kanker servik,
sedangkan orang tersebut sudah terkena penyakit kanker serviks.
5) Perilaku sasaran tidak ada sama sekali.
Contoh : Strategi yang dilakukan tidak efektif, tidak ada action. Sehingga
tidak ada orang yang akan tertarik.
6) Ada perilaku tandingan.
Contoh : ASI vs susu formula.
7) Perilaku sasaran merupakan perilaku yang kompleks.
Contoh : Mengunjungi klinik VCT untuk melakukan test.

c. Consequence (Konsekuen)
Konsekuensi adalah peristiwa lingkungan yang mengikuti sebuah
perilaku, yang juga menguatkan, melemahkan atau menghentikan suatu
perilaku (Holland & Skinner, 1961 ; Miller, 1980). Secara umum, orang
cenderung mengulangi perilaku-perilaku yang membawa hasil-hasil positif
(konsekuensi positif) dan menghindari perilaku-perilaku yang memberikan
hasil-hasil negative.Istilah reinforcement mngacu pada peristiwa-peristiwa
yang menguatkan perilaku.
Reinforcement positif adalah peristiwa menyenangkan dan diinginkan,
peristiwa ramah yang mengikuti sebuah perilaku. Tipe reinforcement ini
menguatkan perilaku atau meningkatkan kemungkinan perilaku tersebut akan
terjadi lagi (Baer, Wolf & Risley, 1969, Miller, 1980).Contoh :Pada ibu hamil
yang sedang memeriksakan kehamilannya di puskesmas mendapat pujian dan
pelayanan yang baik dari pihak pelayan kesehatan, sehingga ibu tersebut
cenderung mengunjungi puskesmas tersebut.
Reinforcement negative adalah peristiwa atau persepsi dari suatu
peristiwa yang tidak menyenangkan dan tidak diinginkan, tetapi juga
memperkuat perilaku, karena seseorang cenderung mengulangi sebuah perilaku
yang dapat menghentikan peristiwa yang tidak menyenangkan. Orang akan
mencoba menjalankan berbagai perilaku untuk mengakhiri peristiwa negative.
Perilaku yang pada akhirnya bisa menghentikan suatu peristiwa kemungkinan
besar bisa dicoba lagi di masa mendatang (Rimm & Masters, 1979 ; Karoly &
Harris, 1986).Contoh :Penggunaan kondom bagi orang yang beresiko tinggi.
Hukuman (pusnishment ) adalah suatu konsekuensi negative yang
menekan atau melemahkan perilaku. Peristiwa-peristiwa ini berlaku sebagai
hukuman karena perilaku yang mereka anut kecil kemungkinannya terjadi lagi
(Sandler, 1986).
Komunikator kesehatan terutama menggunakan reinforcement positif
dalam

menyusun

peristiwa-peristiwa

untuk

program

mendukung

perilaku.Meskipun demikian, karena banyak orang bertindak menghindari


hukuman (misalnya petugas kesehatan mengisi laporan-laporan untuk
menghindari teguran dari atasan) atau mengakhiri reinforcement negative
(seseorang yang menggunakan kondom supaya terhindar dari IMS), maka
komunikator perlu memahami semua bentuk konsekuens ketika menilai
praktik-praktik kesehatan yang sekarang terdapat dalam masyarakat.
Berikut ini adalah ciri-ciri konsekuens lain yang penting untuk
komunikasi kesehatan (Rimm & Masters, 1979 ; Miller, 1980) :
1) Suatu konsekuens yang segera mengikuti suatu perilaku adalah jauh lebih
kuat mempengaruhi perilaku daripada konsekuens timbul setelah satu masa
penundaan.
Contoh:

Sensasi

mengkonsumsi

menyenangkan
narkoba.

yang

Memantapkan

timbul

setelah

berlangsungnya

kebiasaan tidak sehat ini meskipun dalam jangka panjang


menimbulkan konsekuens kesehatan negative.
2) Makin menonjol, relevan, penting atau bermakna suatu konsekuens bagi
individu, maka makin berdayaguna konsekuens itu terhadap individu.
Contoh: Ahli gizi memperkenalkan makanan penyapihan yang
kaya gizi pada ibu-ibu pedesaan agar anak-anak mereka
menjadi tumbuh sehat dan untuk alasan ini maka para ahli
gizi berupaya meyakinkan ibu-ibu supaya memberikan
makanan tersebut, ibu-ibu yang pada akhirnya mencoba
memberikan makanan penyapihan baru tersebut menjadi
amat terpikat sebab anak-anak menjadi tidak rewel dan
manja selama bulan-bulan penyapihan itu. Konsekuens itu
bersifat

lebih

relevan

bagi

kehidupan

ibu

sehari-hari

daripada hanya sekedar memperoleh keuntungan berkaitan


dengan gizi anak.

3) Sebuah konsekuens yang lebih konkrit, lebih berdaya guna dibandingkan


dengan konsekuens yang abstrak.
Contoh: Seorang ibu bersama anaknya mengunjungi klinik dan rela
menunggu di ruangan yang sesak untuk mendapatkan imunisasi dikarenakan
imunisasi tersebut sangat berguna bagi anaknya.
4) Sekali sebuah perilaku berhasil dipelajari, maka konsekuens yang
menyenangkan tidak perlu mengikuti setiap kejadian untuk memelihara
perilaku dari perilaku untuk mempertahankannya tersebut tidak perlu selalu
ada.
Contoh:

Selama

pelatihan,

petugas

kesehatan

perlu

mendapat umpan balik dari instruktur. Sekali mereka


berhasil belajar menjalankan ketrampilan dengan baik,
maka observasi dan umpan balik supervisor yang diberikan
secara periodic akan memelihara kinerja petugas kesehatan
tersebut.

d. Rantai ABC
Hubungan antara peristiwa-peristiwa lingkungan dengan perilaku sering
disebut sebagai rantai ABC (Antecendent-Behavior-Consequence).Hubungan
ini mempunyai beberapa implikasi dalam komunikasi kesehatan.
1) Antesenden atau Konsekuen
Kejadian serupa kadang-kadang dapat berfungsi sebagai antesenden
dan disaat lain sebagai konsekuens, tergantung bagaimana hal kejadian
tersebut mempengaruhi perilaku.

Sebagai contoh: Siaran radio dapat berfungsi sebagai


antesenden

dengan

mengingatkan

ibu-ibu

supaya

membawa anak-anak mereka agar diimunisasi, namun


siaran tersebut juga dapat dipakai sebagai konsekuens
dengan memuji komunitas dalam perolehan angka cakupan
yang tinggi.Pada kenyataannya, konsekuens untuk suatu
perilaku tersebut dapat merupakan bagian dari antesenden
bila perilaku tersebut diulang kembali.
Beberapa kampanye kesehatan telah menggunakan piagam sebagai
penghargaan dalam cara hidup yang mengikuti aturan medis. Contoh :
tindakan mengikuti aturan lengkap. Piagam di sini tidak hanya berfungsi
sebagai pemantap (C 1 ) bagi tindakan mengunjungi klinik untuk yang
pertama kali (B 1 ), tetapi juga sebagai isyarat (A 2 ) agar kembali
mengunjungi klinik (B 2 ) untuk mendapatkan imunisasi yang kedua atau
ketiga. Isyarat ini terutama efektif bila piagam yang diberikan tersebut
menarik dan dipajang di rumah atau di tempat lain yang dapat dilihat. Uruturutan kedua tahap ini dapat dilukiskan dalam gambar berikut :
A1 B2 C1

A2 B2 C2
2) Kekuatan Konsekuen
Teori ABC menjelaskan konsekuens mengarahkan lebih banyak
pengaruh terhadap kelangsungan pelaksanaan perilaku daripada pengaruh
yang diberikan oleh antesenden (Miller, 1980). Seorang komunikator yang
ingin menghasilkan sebuah perilaku tahap akhir akan mengarhkan diri pada
apa yang mengikuti perilaku yang diharapkan serta menciptakan
sekumpulan konsekuens menyenangkan bagi pelaksanaan perilaku tersebut.
Upaya ini disebut sebagai strategi konsekuens (Consequences Strategies).
Strategi

yang

mengarah

pada

munculnya

kesadaran,

peningkatan

pengetahuan, penggunaan alat-alat bantu audiovisual serta pelatihan disebut


sebagai strategi antesenden (Antesendent Strategies). Apabila intervensi
semacam ini saja yang digunakan, tanpa memperkenalkan konsekuens yang
mengikuti sebuah perilaku, maka kecil kemungkinan mereka melakukan
tindakan pengadopsian praktek-praktek.

e. Keterkaitan dalam Rantai ABC


Program komunikasi yang paling berdayaguna adalah program yang
memperkuat keterkaitan antara antesenden, pelaksanaan perilaku dan
konsekuensnya. Di samping memicu perilaku dalam bentuk pengingat dan
improvisasi tambahan, strategi antesenden dapat juga memperkuat jalinan
antara konsekuens dan perilaku sasaran.
1) Strategi ini mampu memasarkan konsekuensi. Sebagai contoh: siaran
radio

yang

mempromosikan

pemahaman

tentang

pentingnya imunisasi akan mampu mengajari ibu-ibu untuk


merasa bangga bila berhasil melengkapi kartu imunisasi.
2) Strategi tersebut bisa menjanjikan konsekuens yang menyenangkan. Sebagai
contoh:

dengan

penyapihan

baru

mempromosikan
sebagai

salah

sebuah
satu

cara

makanan
mencapai

peningkatan berat badan bayi.


3) Strategi tersebut mampu mengajarkan kepada yang lain bagaimana
memantapkan perilaku. Sebagai contoh: petugas kesehatan dapat
dilatih untuk memuji ibu-ibu bila ibu-ibu tersebut berhasil
mencampur dan memberikan ORS dengan cara yang benar
bagi anak-anak mereka yang baru saja diare.

f. Aplikasi Teori
A1

B1

C1

Poster

kunjungan
Ke klinik
A2

B2

Kembali

penghargaan

Berkunjung

dr petugas

C2

Dengan adanya pemasangan poster tentang anjuran untuk mengunjungi


VCT untuk melakukan pengetesan dan konseling (A 1 ), maka banyak orangorang dengan resiko tinggi berkunjung ke klinik (B 1 ). Orang-orang yang
berkunjung diberi penghargaan (C 1 ) karena bersedia berkunjung ke klinik.
Penghargaan tersebut tidak hanya berfungsi sebagai pemantap bagi tindakan
kunjungan ke klinik untuk yang pertama kali, tetapi juga sebagai isyarat (A 2 )
agar kembali mengunjungi klinik (B 2 ) untuk mendapatkan perawatan dan
pemeriksaan yang selanjutnya. Isyarat ini efektif jika penghargaan dibentuk
secara menarik.

g. Analisa Teori ABC (Sulzer, Azaroff, Mayer : 1977)


Menurut teori ini perilaku manusia merupakan suatu proses sekaligus
hasil interaksi antara: Antecedent Behavior Consequences
1

Antecedent

: trigger, bisa alamiah ataupun man made

Behavior

: reaksi terhadap antecedent

Consequences : bisa positif (menerima), atau negatif (menolak)


Contoh: Penyuluhan di Posyandu tentang bagaimana agar anak mau

makan banyak, salah satunya dengan membuat tampilan makanan menarik (A),
Ibu membuat tampilan makanan semenarik mungkin (B), Anak mau makan
banyak (C).

DAFTAR PUSTAKA
Graeff, Judith, dkk. 1993. Communication for Health and Behavior. Change,
Jossey-Bass Inc. Publisher
Silaniherlina,

U.

2012.

Teori

Perubahan

Perilaku

[on

line].

http://www.slideshare.net/charkelima/teori-perubahan-perilaku [17
September 2013]

Wilangsari, Y. A. (Tanpa Tahun). Teori ABC (Antesenden-BehaviorConsequence)


[on
line].
http://st298253.sitekno.com/page/47695/teori-abc.html [17
September 2013]