Anda di halaman 1dari 2

Kelompok 4, 5 dan 6 menggunakan biji kedelai dengan perlakuan sebagai

berikut. Pada kelompok 4, biji kedelai dengan pemberian hormon (GA3, IAA &
Kinetin), dengan kadar 50 ppm, kemudian kelompok 5 dengan hormon yang sama
berkadar 100 ppm dan kelompok 6 pemberian hormon dengan kombinasi dari
ketiganya (GA3 + IAA, GA3 + Kinetin dan IAA + Kinetin) dengan kadar 50 ppm
per hormon tersebut.
Dapat dilihat dari tabel dan grafik data kelompok 4 pada hari pertama
pengamatan belum terlihat perkecambahan. Hal yang sama juga terjadi pada
kelompok 5 dan 6. Hal ini mungkin terjadi karena hormon belum aktif untuk
memulai metabolisme (aktivitas sel dan pertumbuhan) (Santoso, 2009).
Pengamatan yang kedua pada kelompok 4 didapatkan perlakuan GA3 memiliki
persentase yang cukup tinggi yaitu 20% dibanding dengan lainnya. Hal ini
dikarenakan GA3 Memacu proses perkecambahan biji. Salah satu efek giberelin
adalah mendorong terjadinya sintesis enzim dalam biji seperti amilase, protease
dan lipase dimana enzim tersebut akan merombak dinding sel endosperm biji dan
menghidrolisis pati dan protein yang akan memberikan energi bagi perkembangan
embrio diantaranya adalah radikula yang akan mendobrak endosperm, kulit biji
membatasi pertumbuhan/perkecambahan biji sehingga biji berkecambah (Santoso,
2009). Kemudian pengamatan selanjutnya perlakuan dengan IAA memiliki
persentase yang paling tinggi dibanding yang lain. Hal ini terjadi dimungkin
terdapat kerjasama antara giberelin alami dengan IAA sehingga mempercepat
pembelahan sel dan perkecambahan biji kedelai (Yennita, 2003).
Data kelompok 5 hasil pengamatan hari kedua didapatkan perlakuan
dengan IAA memiliki persentase paling tinggi 40% dan pengamatan terakhir
persentase perlakuan dengan kinetin meningkat pesat sebesar 37,3% dibanding
yang lain. Pada pengamatan kedua kelompok 5, hal itu dapat terjadi karena
penambahan IAA dengan konsentrasi 100 ppm sangat efektif membantu dan
mempercepat pemanjangan sel dan perkecambahan biji kedelai (Manurung,
1985). Kemudian pengamatan hari terakhir dapat terjadi disebabkan kinetin

bekerja memacu pembelahan sel dan bersinergis dengan auksin dalam tanaman
sehingga perkecambahannya jauh lebih cepat.
Pada kelompok 6 data pengamatan hari kedua didapatkan persentase
perkecambahan biji tertinggi pada kontrol dan pengamatan hari terakhir
persentase perkecambahan biji tertinggi juga pada kontrol. Lalu persentase yang
cukup tinggi yaitu perlakuan GA3 + Kinetin pada hari kedua 29,33% dan hari
terakhir 25,33%. Hal ini dapat terjadi karena dimungkinkan, kombinasi dari ketiga
hormon tersebut tidak membuat proses perkecambahan biji menjadi lebih cepat,
hal ini dibutuhkan konsentrasi dan komposisi yang pas atau sesuai dengan
kebutuhan biji kedelai tersebut. Jika pemberian hormon tersebut tidak sesuai
kebutuhan biji maka justru akan terjadi kerja yang antagonis sehingga tidak
seperti pada kontrol, yang tumbuh dan berkecambah. Seperti perlakuan biasa yang
menggunakan air atau aquades yang justru dapat memberikan hasil yang lebih
baik dari pada dengan kombinasi hormon yang belum sesuai konsentrasinya.

Dapus:
Manurung, S.O., 1985. Penggunaan Hormon dan Zat Pengatur Tumbuh Pada
Kedelai Dalam Somaatmadja, S., M. Ismunadji, Sumarno, M. Syam. S.O.
Manurung dan Iswadi (eds.). Kedelai. Badan Litbang Pertanian. Puslittan, Bogor.
Santoso. S., 2009. Hormon-hormon Tumbuhan. ZPT.html [26 Februari 2015].
Yennita., 2003. Pengaruh Hormon Tanaman Terhadap Kedelai (Glycine max) Pada
Fase Generatif. http://digilib.umm.ac.id/go.php Jurnal UNIB, Vol IX No 2 :81-84