Anda di halaman 1dari 3

ABSTRAK

Anemia adalah keadaan berkurangnya sel darah merah atau konsentrasi


hemoglobin (Hb) di bawah nilai normal sesuai usia dan jenis kelamin. Anemia
dipengaruhi oleh tiga faktor utama yaitu usia, jenis kelamin, dan populasi. Diagnosis
anemia ditegakkan berdasarkan temuan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan
laboratorium yang dapat mendukung sehubungan dengan gejala klinis yang sering
tidak khas. Suatu anemia gravis dikatakan bila konsentrasi Hb 7 g/dL selama 3
bulan berturut-turut atau lebih. Anemia gravis dapat dikarenakan kanker, malaria,
thalassemia mayor, defisiensi besi, leukemia, dan infeksi cacing. Akupunktur dapat
menangani anemia, yaitu dengan menggunakan titik Zusanli (ST 36). Penelitian
menunjukkan titik Zusanli (ST 36) dapat meningkatkan kadar ferritin serum dan
mengurangi TIBC (Total Iron Binding Capacity).
Kata kunci : anemia gravis, anemia berat, Hemoglobin, eritropoetin
A. Pendahuluan
1. Definisi anemia gravis
Anemia gravis adalah anemia apabila konsentrasi Hb 7 g/dL selama 3
bulan berturut-turut atau lebih. Anemia gravis timbul akibat penghancuran sel
darah merah yang cepat dan hebat. Anemia gravis lebih sering dijumpai pada
penderita anak-anak. Anemia gravis dapat bersifat akut dan kronis. Anemia
kronis dapat disebabkan oleh anemia defisiensi besi (ADB), sickle cell anemia
(SCA), talasemia, spherocytosis, anemia aplastik dan leukemia. Anemia
gravis kronis juga dapat dijumpai pada infeksi kronis seperti tuberkulosis
(TBC) atau infeksi parasit yang lama, seperti malaria, cacing dan lainnya.
Anemia gravis sering memberikan gejala serebral seperti tampak bingung,
kesadaran menurun sampai koma, serta gejala-gejala gangguan jantung-paru
(Tramuz & Jereb, 2003).

2. Prevalensi anemia
Menurut Organisasi Kesehatan dunia (WHO), tahun 2005 didapati
1.62 milyar penderita anemia di seluruh dunia. Angka prevalensi anemia di
Indonesia menurut Husaini dkk (2008) terdapat dalam tabel berikut.
Tabel 1. Pravalensi anemia di Indonesia

Kelompok Populasi

Angka Pravalensi

Anak prasekolah (balita)

30-40%

Anak usia sekolah

23-35%

Wanita dewasa

30-40%

Wanita hamil

50-70%

Sumber. Buku Ajar Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Gangguan Sistem

Laki-laki dewasa

20-30%

Pekerja berpenghasilan rendah

30-40%

Hematologi

Pravalensi anemia gravis tertinggi terdapat pada ibu hamil yaitu


sebanyak 50-70% dan yang paling rendah yaitu pada laki-laki dewasa
sebanyak 20-30%. Anemia lebih sering ditemukan pada masa kehamilan
karena selama masa kehamilan keperluan zat-zat gizi bertambah dan adanya
perubahan-perubahan dalam darah dan sumsum tulang (Price et al, 1995
dalam Wulansari, 2006).
Angka pravalensi anemia di dunia sangat bervariasi tergantung pada
geografi. Salah satu faktor determinan utama adalah taraf sosial ekonomi
masyarakat. Sedangkan prevalensi anemia gravis sendiri menurut WHO
mencapai angka lebih dari 40% dalam satu populasi (WHO, 2006).
B. Fisiologi Eritrosit
Eritrosit (sel darah merah) dihasilkan pertama kali di dalam kantong
kuning saat embrio pada minggu-minggu pertama. Proses pembentukan eritrosit
disebut eritropoesis. Setelah beberapa bulan kemudian, eritrosit terbentuk di
dalam hati, limfa, dan kelenjar sumsum tulang. Produksi eritrosit ini dirangsang

oleh hormon eritropoietin. Setelah dewasa eritrosit dibentuk di sumsum tulang

membranosa. Semakin bertambah usia seseorang, maka produktivitas sumsum


tulang semakin turun (Hoffbrand, 2005).
Pembentukan