Anda di halaman 1dari 49

DIDIK POMADI

SESUAI UU 36 TH.2008

COMPUTERIZED TAX SYSTEM


DP & FRIENDS TAX ADVISORY
YOGYAKARTA
2013
www.pajak-kita.blogspot.com

E-Book Akuntansi Pajak Terapan

DP TAX ADVISORY

KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur bagi Tuhan Yang Maha Esa, atas rahmat dan hidayahNya, sehingga penulis dapat mempersembahkan sebuah buku dengan judul
AKUNTANSI PAJAK sebagai revisi edisi sebelumnya kehadapan pembaca
sekalian.
Buku Akuntansi Pajak ini disusun untuk memberikan kemudahan bagi
mahasiswa dalam meningkatkan pengetahuan Perpajakan khususnya masalah
penyusunan Laporan Keuangan Fiskal (LKF), dan bagi masyarakat yang ingin
mempelajari masalah pajak sebagai acuan didalam pemenuhan kewajiban pajak
secara umum.
Disamping membahas secara teori, buku ini menyajikan secara sistematika
ketentuan-ketentuan dalam penyusunan Laporan Keuangan Fiskal (LKF) beserta
contoh-contoh dengan harapan dapat lebih membantu didalam pemahaman
mengenai permasalahan pajak.
Terima kasih penulis sampaikan kepada semua pihak yang telah membantu
dalam penyusunan dan penerbitan buku ini, segala saran dan kritik untuk
penyempurnaan buku ini di waktu-waktu mendatang sangat penulis harapkan.

Yogyakarta, Juni 2013


Penulis

E-Book Akuntansi Pajak Terapan

DP TAX ADVISORY

RIWAYAT PENULIS

Ir. Didik Pomadi, M.M.

Adalah Ketua Program Studi Perpajakan Politeknik PPKP Yogyakarta, sekaligus


Pimpinan Pusat Pengembangan Ilmu Perpajakan (PPIP) dan Koordinator
Keahlian Perpajakan sejak tahun 1999. Aktif mengikuti berbagai Pelatihan dan
Seminar dibidang Perpajakan, Accounting, Auditing, dan International Invesment
di Yogyakarta, Semarang dan Surabaya.
Disamping sebagai staf pengajar di PerguruanTinggi, juga pengajar pada
Pelatihan Perpajakan Brevet A dan B antara lain di PPA Fakultas Ekonomi
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, dan aktif dalam kegiatan In-House
Training Perpajakan pada perusahaan-perusahaan swasta. Saat ini juga aktif
sebagai Managing Partner pada Konsultan Pajak DP & Friends Consultant di
Yogyakarta.

E-Book Akuntansi Pajak Terapan

DP TAX ADVISORY

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ii
RIWAYAT PENULIS iii
DAFTAR ISI iv
BAB 1 PENDAHULUAN 6
1. Pengertian Umum
6
2. Akuntansi Sebagai Sumber Data

BAB 2 REKONSILIASI FISKAL 9


1. Akuntansi Komersial
2. Akuntansi Fiskal
3. Rekonsiliasi Fiskal
a. Laporan Laba Rugi
b. Neraca
11

9
9
10
10

BAB 3 MACAM REKONSILIASI (KOREKSI) FISKAL


1. Koreksi Waktu 12
a. Penyusutan 12
b. Amortisasi
14
c. Harga Pokok Penjualan (HPP)
d. Piutang Tidak Tertagih
18
e. Pendapatan Diterima Dimuka

12

16
18

2. Koreksi Tetap
19
a. Pengeluaran Natura dan Kenikmatan
19
b. Sumbangan/Bantuan/Hibah
20
c. Pemakaian Untuk Kepentingan Pribadi
20
d. Biaya Bunga 21
e. Pengalihan Aktiva Tetap
24
f. Penghasilan Yang Telah Dikenakan Pajak Bersifat Final
g. Penghasilan Yang Tidak Termasuk Obyek Pajak
26
BAB 4 KAPITA SELEKTA

27

1. Penjualan Konsinyasi 27
2. Ability to Pay
27
3. Penjelasan Pos-Pos Dalam Neraca Fiskal
a. Aktiva Lancar 28
b. Aktiva Tetap 28
c. Kewajiban
28
d. Modal 30
E-Book Akuntansi Pajak Terapan

25

27

DP TAX ADVISORY

HARGA POKOK PENJUALAN


RINGKASAN REKONSILIASI
PENGELOMPOKAN HARTA

32
33
36

DAFTAR PUSTAKA

40

BONUS :
PETUNJUK PENGHITUNGAN PPH BADAN 2012

E-Book Akuntansi Pajak Terapan

41

DP TAX ADVISORY

BAB 1

PENDAHULUAN
1. Pengertian Umum
Dalam setiap pembicaraan mengenai perpajakan muncul permasalahan yang
selalu hidup dan berkembang dalam kehidupan masyarakat seiring dengan
perkembangan kondisi sosial ekonomi. Dimana kita menyadari adanya
perbedaan deamental antara pemerintah (fiskus) dengan wajib pajak, fiskus
berusaha memperoleh pemasukan sebesar-besarnya dari pajak sedangkan
wajib pajak berpikir sebaliknya, yaitu bagaimana memperkecil atau menghindari
pembayaran pajak.
Kontroversi tersebut dalam kenyataan selalu ada, namun bagaimana hal ini
dapat dijembatani dengan suatu kebijakan pemerintah yang dapat meminimalisir
ekses negatif yang mungkin timbul. Untuk mendukung hal tersebut perlu adanya
perangkat aturan yang jelas, transparan dan adil yang didukung dengan aparat
yang profesional dengan birokrasi yang sederhama.
Sejak dilaksanakan Tax Reform tahun 1984 terdapat perubahan yang sangat
mendasar didalam sistem pemungutan pajak, yaitu dengan digunakan Self
Assessment System dimana wajib pajak diberi wewenang untuk menghitung,
menyetor dan melaporkan kewajiban pajaknya sendiri. Fiskus melakukan
pembinaan , pelayanan dan pengawasan terhadap kepatuhan pemenuhan
kewajiban pajak yang dilakukan wajib pajak (tax compliance). Salah satu
bentuk kewajiban yang harus dilakukan oleh wajib pajak adalah menyusun
laporan keuangan yang dalam istilah pajak disebut pembukuan/pencatatan
sebagai sumber data dalam proses penghitungan pajak.

E-Book Akuntansi Pajak Terapan

DP TAX ADVISORY

2. Akuntansi sebagai sumber data


Dirjen Pajak sebagai aparat pajak (fiskus) sesuai dengan Undang-undang
menghendaki informasi akuntansi untuk kepentingan penghitungan pajak
haruslah disusun secara khusus yaitu berdasarkan peraturan perpajakan yang
berlaku. Akuntansi yang disusun secara khusus tersebut selanjutnya disebut
Akuntansi Fiskal (Akuntansi Pajak).
Masalah yang timbul dalam hal ini adalah adanya perbedaan-perbedaan prinsip
didalam penyusunan laporan keuangan antara akuntansi komersial dengan
akuntansi fiskal, dan muncul pertanyaan apakah wajib pajak harus menyusun
dari awal lagi untuk membuat laporan keuangan berdasarkan akuntansi fiskal.
Untuk menyusun laporan keuangan fiskal tidak perlu dimulai dari awal
penyusunan informasi akuntansi komersial, namun dapat dilakukan dengan jalan
mengadakan penyesuaian-penyesuaian atau koreksi dari laporan akuntansi
komersial yang sudah ada.
Penyesuaian atau koreksi yang dilakukan atas laporan akuntansi komersial
tersebut menjadi laporan akuntansi fiskal berdasarkan peraturan pajak yang
berlaku disebut sebagai koreksi fiskal atau rekonsiliasi fiskal.
Langkah awal dari koreksi fiskal adalah mengadakan koreksi pada laporan
laba rugi akuntansi. Laporan laba rugi akuntansi yang semula disusun
berdasarkan SAK kemudian dilakukan koreksi baik pada pos-pos pendapatan
maupun pos-pos biaya. Koreksi fiskal ini dilakukan berdasarkan peraturan pajak
yang berlaku. Laporan laba rugi yang penyusunannya telah sesuai dengan
peraturan perpajakan inilah yang disebut sebagai Laporan Laba rugi Fiskal.
Dari laporan laba rugi fiskal akan didapat laba bersih sebelum pajak yang
selanjutnya disebut Laba Fiskal atau dalam istilah pajaknya disebut sebagai
Penghasilan Kena Pajak (PKP).

E-Book Akuntansi Pajak Terapan

DP TAX ADVISORY

Dengan mengalikan Penghasilan Kena Pajak (PKP) tersebut dengan tarif PPh
pasal 17, akan diperoleh besarnya PPh terhutang yang menjadi kewajiban wajib
pajak pada tahun pajak yang bersangkutan.

Koreksi fiskal juga dilakukan pada laporan perubahan modal dan neraca.
Pada laporan perubahan modal akuntansi dilakukan koreksi sesuai dengan
peraturan perpajakan yang berlaku sehingga menjadi laporan perubahan modal
fiskal. Koreksi ini dilakukan untuk mendapatkan laba ditahan fiskal atau modal
fiskal yang akan dicantumkan dalam Neraca Fiskal . Selain pos laba ditahan atau
modal, pos-pos lain dalam neraca akuntansi juga harus dikoreksi agar menjadi
neraca fiskal yang sesuai dengan peraturan perpajakan yang berlaku.

E-Book Akuntansi Pajak Terapan

DP TAX ADVISORY

BAB 2

REKONSILIASI FISKAL
1. Akuntansi Komersial
Perusahaan dalam menyampaikan informasi keuangannya kepada pihak-pihak
yang berkepentingan (manajemen, pemilik / pemegang saham, Bank dan lainlain) yaitu dengan menggunakan Informasi Akuntansi.

Informasi Akuntansi

Yang merupakan informasi keuangan Perusahaan atas hasil operasional atau


Posisi keuangan perusahaan.

Disusun secara sistematisyang diterima secara umum

Standart Akuntansi Keuangan (SAK)

(generally accepted)

AKUNTANSI KOMERSIAL

2. Akuntansi Fiskal
Untuk keperluan menghitung Pajak Penghasilan (PPh), Dirjen Pajak (fiskus)
menghendaki informasi akuntansi yang disusun secara Khusus (tidak
berdasarkan pada SAK)

tetapi berdasarkan pada peraturan pajak yang

berlaku.

Informasi Akuntansi
Yang disusun scr khusus

E-Book Akuntansi Pajak Terapan

AKUNTANSI FISKAL

DP TAX ADVISORY

3. Rekonsiliasi Fiskal
Untuk membuat Akuntansi Fiskal perlu dilakukan Koreksi Fiskal terhadap
Akuntansi Komersial.

Akuntansi Komersial

Akuntansi Fiskal

Koreksi Fiskal

Koreksi (rekonsiliasi) fiscal dilakukan antara lain pada :

a. Laporan Laba Rugi


L/R Akuntansi

L/R Fiskal

Koreksi pos-pos pendapatan dan biaya

Sistematika selanjutnya adalah :


L/R Fiskal

Laba Bersih Sebelum Pajak

Laba Fiskal

Penghasilan Kena Pajak (PKP)

Tarif PPh Pasal 17

PPh Terhutang
(yang menjadi kewajiban perusahaan pada tahun yang bersangkutan)

E-Book Akuntansi Pajak Terapan

DP TAX ADVISORY

10

b. Neraca
Koreksi fiskal ini dilakukan pada : Laporan perubahan modal dan pos-pos lain
didalam neraca.
Hal ini untuk mendapatkan laba ditahan fiscal atau modal fiscal yang
tercantum dalam neraca fiscal.

E-Book Akuntansi Pajak Terapan

DP TAX ADVISORY

11

BAB 3
MACAM REKONSILIASI (KOREKSI) FISKAL

Rekonsiliasi (koreksi) fiskal diklasifikasikan menjadi 2, yaitu :


a. Koreksi Waktu
Yaitu perbedaan yang bersifat waktu (waktu pengakuan) baik pada
pendapatan maupun pada biaya.
b. Koreksi Tetap
Yaitu perbedaan yang bersifat tetap (permanent), dalam arti boleh atau
tidaknya pengakuan baik pada pendapatan atau biaya.

1. KOREKSI WAKTU
Koreksi waktu dapat dilakukan pada pos-pos antara lain :

a. Penyusutan
Pengertian penyusutan adalah : sebagian harga perolehan aktiva tetap yang
secara sistematis dialokasikan sebagai biaya. Dimana besarnya penyusutan
yang dibebankan setiap tahunnya dipengaruhi oleh metode penyusutan yang
digunakan.
Berdasarkan metode penyusutan yang digunakan, maka :
Menurut Akuntansi Komersial
Banyak metode, antara lain :
Garis Lurus
Saldo Menurun
Saldo Menurun Ganda
Jumlah Angka Tahun, dll.

E-Book Akuntansi Pajak Terapan

DP TAX ADVISORY

12

Menurut Akuntansi Fiskal


Metode yang boleh digunakan adalah : Garis Lurus dan Saldo
Menurun.
a. Metode Garis Lurus ( straight line method )
Yaitu : penyusutan dilakukan dalam bagian-bagian yang sama besar
selama masa manfaat.
Harga Perolehan x Tarif Penyusutan

b. Metode Saldo Menurun ( declining balance method )


Yaitu : penyusutan dilakukan dalam bagian-bagian yang menurun
selama masa manfaat.
Nilai Sisa Buku Aktiva Tetap x Tarif Penyusutan

Catatan : Pada akhir masa manfaat, Nilai Sisa Buku (NSB) yang ada
disusutkan sekaligus (closed ended).

Didalam pemilihan metode penyusutan yang ada, wajib pajak dapat memilih
salah satu diantara 2 (dua) metode tersebut, dengan ketentuan Taat Asas.

Taat Asas :
Sekali memilih untuk menggunakan salah satu metode penyusutan, maka untuk
tahun-tahun berikutnya harus menggunakan metode yang sama. Hal ini berlaku
untuk seluruh aktiva tetap dalam perusahaan.

E-Book Akuntansi Pajak Terapan

DP TAX ADVISORY

13

b. Amortisasi
Harta tidak berwujud yang mempunyai masa manfaat lebih dari satu tahun,
misalnya :

- Biaya pendirian perusahaan


- Biaya perluasan modal
- Biaya sewa tanah / bangunan

Dapat diamortisasikan sesuai dengan masa manfaatnya.

Berdasarkan peraturan pajak, metode amortisasi yang boleh digunakan


adalah :
a. Metode Garis Lurus
b. Metode Saldo Menurun

TABEL PENYUSUTAN AKTIVA TETAP

Kelompok Harta Berwujud Masa Manfaat

Tarif Penyusutan
Garis Lurus Saldo Menurun

Bukan Bangunan

Kelompok I

4 Th

25 %

50 %

Kelompok II

8 Th

12,5 %

25 %

Kelompok III

16 Th

6,25 %

12,5 %

Kelompok IV

20 Th

5%

10 %

Permanen

20 Th

5%

Tidak Permanen

10 Th

10 %

Bangunan

E-Book Akuntansi Pajak Terapan

DP TAX ADVISORY

14

TABEL AMORTISASI AKTIVA TETAP

Kelompok Harta Tidak


Berwujud

Tarif Amortisasi
Masa Manfaat
Garis Lurus Saldo Menurun

Kelompok I

4 Th

25 %

50 %

Kelompok II

8 Th

12,5 %

25 %

Kelompok III

16 Th

6,25 %

12,5 %

Kelompok IV

20 Th

5%

10 %

Kelompok masa manfaat diterapkan atas dasar pada kelompok masa


manfaat yang terdekat dengan masa manfaat yang sesungguhnya.

Beberapa perbedaan aturan penyusutan antara Akuntansi Komersial


dengan Akuntansi Fiskal, yaitu :
No.

AKUNTANSI KOMERSIAL

AKUNTANSI FISKAL

1.

Aktiva yang disusutkan adalah Aktiva yang disusutkan hanya aktiva yang
seluruh aktiva tetap yang dimiliki dimiliki dan digunakan untuk mendapatkan,
atau dikuasai
menagih, dan memelihara penghasilan.

2.

Saat
dimulainya
pengakuan Saat dimulainya pengakuan
penyusutan adalah pada tanggal adalah pada bulan pembelian.
pemakaian.

penyusutan

3.

Tidak terdapat pengelompokan Aktiva tetap dikelompokan


aktiva.
(empat) kelompok aktiva.

menjadi

4.

Banyak metode
yang dapat dipilih.

penyusutan Hanya 2 (dua) metode yang diperkenankan,


yaitu : Garis Lurus dan Saldo Menurun.

E-Book Akuntansi Pajak Terapan

DP TAX ADVISORY

15

c. Harga Pokok Penjualan (HPP)


Merupakan harga pokok dari barang dagangan atau produk jadi perusahaan
yang sudah dilakukan penjualannya.
HPP = (Persediaan Awal + Pembelian) - Persediaan Akhir

Untuk menentukan jumlah persediaan, baik persediaan awal maupun persediaan


akhir, sangat dipengaruhi oleh metode penilaian persediaan yang dipakai.

Menurut Akuntansi Komersial :


Metode yang digunakan antara lain : - FIFO
- LIFO

- Rata-Rata
- Identifikasi Khusus

Menurut Akuntansi Fiskal :

Hanya ada 2 (dua) metode yang boleh digunakan adalah :


- FIFO (Fist In Fist Out)
- Rata-Rata (Average)

Contoh penghitungan persediaan dengan masing-masing metode sebagai


Berikut :

E-Book Akuntansi Pajak Terapan

DP TAX ADVISORY

16

KELUAR

MASUK

FIFO

RATA-RATA

SALDO
LIFO

FIFO

RATA-RATA

SALDO AWAL

100 @9 = 900

100 @10 = 1000

100 @ 9 = 900

100 @ 9 = 900

100 @10 = 1000

100 @10 = 1000

1900

100 @14 = 1400

100 @9 =

100 @9 = 900

LIFO
100 @9 = 900

200 @9,5 = 1900

1900

900

100 @9 = 900

100 @10 = 1000

100 @10 = 1000

100 @14 = 1400


3300
100 @9 = 900

100 @14 = 1400


300 @11 = 3300

3300

100 @10 = 1000


100 @11 = 1100

100 @ 9 = 900

100 @14 = 1400


100 @14 = 1400

2400

100 @10 = 1000


200 @11 = 2200

1900

100 @10 = 1000


100 @11 = 1100

100 @14 = 1400


100 @10 = 1000

1400

100 @ 9 = 900
100 @11 = 1100

900

Dari penghitungan persediaan diatas, maka penghitungan HPP untuk masingmasing metode penilaian persediaan sebagai berikut :

KETERANGAN

FIFO

RATA-RATA

LIFO

900

900

900

Pembelian

2.400

2.400

2.400

Persediaan Akhir

1.400

1.100

900

Harga Pokok Penjualan (HPP)

1.900

2.200

2.400

Persediaan Awal

E-Book Akuntansi Pajak Terapan

DP TAX ADVISORY

17

d. Piutang Tidak Tertagih

PIUTANG / TAGIHAN

Mengandung resiko untuk tidak tertagih / macet

Akuntansi Komesial
Dibuat rekening cadangan -

Akuntansi Fiskal
Tidak boleh menggunakan -

Kerugian piutang.

Metode cadangan.

Dibebankan langsung sebagai -

Menggunakan metode langsung,

Kerugian dalam lap. L/R

yaitu : pembebanan piutang tidak


tertagih ditentukan sebesar
piutang yang benar-benar sudah
tidak dapat ditagih lagi.

Catatan :
Nilai piutang dalam neraca harus dicantumkan secara Netto, dalam arti saldo
piutang setelah dikurangi dengan piutang yang tidak dapat ditagih lagi.

e. Pendapatan Diterima Dimuka

Menurut Akuntansi Komersial :


Pendapatan yang diterima misalnya : uang sewa untuk jangka waktu
tertentu belum dapat diakui sebagai pendapatan, tetapi baru diakui
sebagai pendapatan yang diterima dimuka.
Namun apabila barang atau jasa telah diserahkan, maka dapat diakui
sebagai penghasilan periode yang bersangkutan.

E-Book Akuntansi Pajak Terapan

DP TAX ADVISORY

18

Menurut Akuntansi Fiskal :


Pendapatan yang diterima dimuka (misalnya : uang sewa) Harus diakui
sebagai penghasilan fiscal untuk periode yang bersangkutan, yaitu
pada saat uang itu diterima.

2. KOREKSI TETAP
Koreksi tetap dapat dilakukan pada pos-pos antara lain :
a. Pengeluaran Natura dan Kenikmatan

Menurut Akuntansi Komersial :

Pengeluaran untuk pemberian natura / kenikmatan Boleh dibebankan


sebagai biaya. Misalnya : beras, gula, makan siang, seragam, harga
pokok dari produk yang diberikan karyawan.

Menurut Akuntansi Fiskal :

Pengeluaran untuk pemberian natura / kenikmatan Tidak Boleh


diperlakukan sebagai biaya.

Ketentuan Khusus : Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan nomor :


83/PMK.03/2009 yang mulai berlaku 1 Januari 2009 menegaskan hal-hal
sebagai berikut :
Pemberian natura dan kenikmatan yang dapat dikurangkan dari
penghasilan bruto pemberi kerja dan bukan merupakan penghasilan bagi
Pegawai yang menerimanya adaIah :
1. Pemberian atau penyediaan makanan dan/ atau minuman bagi seluruh
Pegawai yang berkaitan dengan pelaksanaan pekerjaan.
2. Penggantian atau imbalan dalam bentuk natura atau kenikmatan yang
diberikan berkenaan dengan pelaksanaan pekerjaan di daerah tertentu
dalam rangka menunjang kebijakan pemerintah untuk mendorong
pembangunan di daerah tersebut.

E-Book Akuntansi Pajak Terapan

DP TAX ADVISORY

19

3.

Pemberian natura dan kenikmatan yang merupakan keharusan dalam


pelaksanaan pekerjaan sebagai sarana keselamatan kerja atau karena
sifat pekerjaan tersebut mengharuskannya.

b. Sumbangan / Bantuan / Hibah

Menurut Akuntansi Komersial :

Pengeluaran untuk sumbangan baik yang bersifat sosial atau komersial


Boleh dibebankan sebagai biaya.

Menurut Akuntansi Fiskal :

Sumbangan / bantuan / hibah Tidak Boleh dibebankan sebagai biaya,


kecuali terdapat hubungan kerja, hubungan usaha, atau hubungan
kepemilikan.

c. Pemakaian Untuk Kepentingan Pribadi

Menurut Akuntansi Komersial :

Hal ini dapat terjadi karena adanya penarikan dana / aktiva untuk
keperluan pribadi pemilik perusahaan atau pengeluaran biaya untuk
pribadi pemilik perusahaan.

Pengeluaran tersebut Tidak Boleh dibebankan sebagai biaya usaha,


tetapi dibebankan sebagai pengurang modal (prive / deviden)

Menurut Akuntansi Fiskal :

Pengeluaran untuk keperluan pribadi Tidak Boleh dibebankan sebagai


biaya.
Pemakaian untuk keperluan pribadi menurut fiscal mempunyai arti yang
sangat luas, yaitu :
a. Untuk pribadi pemegang saham, direksi atau karyawan.

E-Book Akuntansi Pajak Terapan

DP TAX ADVISORY

20

b. Pembayaran bunga atas pinjaman untuk pribadi.


c. Pembayaran premi asuransi untuk kepentingan pribadi (kecuali yang
diatur lain dalam PPh Pasal 21).
d. Gaji untuk pemilik badan usaha yang modalnya tidak terbagi atas
saham, dimana gaji pemilik diakui sebagai pengurang modal.

d. Biaya Bunga
KREDIT / HUTANG

Mengakibatkan perusahaan
Membayar biaya bunga

Menurut Akuntansi Komersial :


Pengeluaran membayar bunga atas hutang / kredit dapat dibebankan
sebagai biaya yang mengurangi pendapatan bersih.

Menurut Akuntansi Fiskal :


Pengeluaran membayar bunga atas hutang / kredit pada prinsipnya
dapat dibebankan sebagai biaya secara fiscal dengan syarat :
a. Biaya bunga atas hutang bukan untuk kepentingan pribadi.
b. Dalam struktur modal, hutang menunjukkan rasio yang wajar.
c. Dalam hal tingkat bunga, sebatas pada tingkat bunga yang wajar
(misalnya : tingkat bunga bank)
d. Dalam hal menempatkan dana pinjamannya dalam deposito atau
tabungan, maka biaya bunga yang boleh dibebankan secara fiscal
ditentukan dengan formulasi sebagai berikut :

(Rata-rata pinjaman perbulan - Rata-rata deposito perbulan) x tingkat bunga

E-Book Akuntansi Pajak Terapan

DP TAX ADVISORY

21

Pengecualian dari ketentuan diatas, dimana biaya bunga pinjaman dapat


dibebankan seluruhnya sebagai biaya secara fiscal, apabila :
a. Dana yang ditempatkan di Bank dalam bentuk rekening Giro.
b. Penempatan dalam deposito atau tabungan merupakan keharusan
(peraturan), misalnya : syarat suatu proyek / tender.
c. Dapat dibuktikan bahwa deposito atau tabungan tersebut berasal dari
tambahan modal atau sisa laba.

Contoh :
PT. MAJU pada tahun 2013 mendapat pinjaman dari pihak ketiga dengan
batas maksimal sebesar Rp. 200.000.000,- dan tingkat bunga 20%
pertahun. Dari jumlah tersebut telah diambil dengan rincian sebagai
berikut :
- Bulan Februari diambil Rp. 125.000.000,- Bulan Juni diambil Rp. 25.000.000,- Bulan Agustus diambil Rp. 50.000.000,-

Disamping itu PT. MAJU mempunyai dana yang ditempatkan dalam


deposito dengan rincian sebagai berikut :
- Bulan Februari s/d Maret Rp. 25.000.000,- Bulan April s/d Agustus Rp. 46.000.000,- Bulan Sept s/d Desember Rp. 50.000.000,-

E-Book Akuntansi Pajak Terapan

DP TAX ADVISORY

22

Dengan demikian besarnya biaya bunga yang dapat dibebankan


sebagai biaya secara fiscal sebagai berikut :
RATA-RATA PINJAMAN :
Bulan

Pinjaman

Januari

Jangka Waktu
0 1 bulan = Rp.

Pebruari s/d Mei

RP. 125.000.000 4 bulan = Rp.

500.000.000

Juni s/d Juli

Rp. 150.000.000

2 bulan = Rp.

300.000.000

Agustus s/d Desember

Rp. 200.000.000

5 bulan = Rp. 1.000.000.000


Jumlah = Rp. 1.800.000.000

Rata-rata pinjaman perbulan :


Rp. 1.800.000.000,- : 12

Rp. 150.000.000,-

RATA-RATA DEPOSITO :
Bulan
Januari

Deposito

Jangka Waktu
0 1 bulan = Rp.

Pebruari s/d Maret

RP. 25.000.000

2 bulan = Rp. 50.000.000

April s/d Agustus

Rp. 46.000.000

5 bulan = Rp. 230.000.000

September s/d Desember

Rp. 50.000.000

4 bulan = Rp. 200.000.000


Jumlah = Rp. 480.000.000

E-Book Akuntansi Pajak Terapan

DP TAX ADVISORY

23

Rata-rata deposito perbulan :


Rp. 480.000.000,- : 12 = Rp. 40.000.000,Jadi besarnya biaya bunga yang dapat dibebankan secara fiscal
= (Rp.150.000.000 - Rp. 40.000.000) x 20% = Rp. 22.000.000,-

e. Pengalihan Aktiva Tetap


Pengalihan Aktiva Tetap

Penjualan
Pertukaran
Penghapusan karena sebab luar biasa
(Hilang, kebakaran, atau rusak berat)

Menurut Akuntansi Komersial :


Apabila terjadi pengalihan aktiva tetap, maka selisih lebih atau selisih
kurang antara harga jual dengan nilai bukunya, diakui sebagai laba atau
rugi atas penjualan aktiva tetap.

Menurut Akuntansi Fiskal :


a. Nilai sisa buku aktiva tetap tersebut dibebankan sebagai penghapusan
/ kerugian.
b. Harga jual / penggantian asuransi yang diterima, diperlakukan
sebagai penghasilan pada tahun terjadinya pengalihan aktiva tetap
tersebut.

E-Book Akuntansi Pajak Terapan

DP TAX ADVISORY

24

Apabila :
Aktiva Tetap

Dijual

Kepada pihak yang ada hubungan


Istimewa, misal :
pemegang saham
direktur
karyawan, dll

Maka penjualan tersebut (yaitu adanya hubungan istimewa) secara fiskal yang
diakui adalah Harga Pasar.

Aktiva Tetap

Diserahkan

Sebagai penyertaan modal (saham)

Dinilai dengan harga pasar

Dibukukan sebagai Nominal Saham

Apabila harga pasar Lebih Besar dari nominal saham, maka selisih lebih
dibukukan sebagai Agio Saham.

f. Penghasilan yang telah dikenakan pajak bersifat final

Menurut Akuntansi Komersial :

Semua pendapatan, baik yang telah dikenakan pajak final atau tidak final
diakui sebagai pendapatan.

Menurut Akuntansi Fiskal :

E-Book Akuntansi Pajak Terapan

DP TAX ADVISORY

25

Pendapatan yang telah dikenakan pajak yang bersifat final tidak boleh
diakui sebagai pendapatan.

g. Penghasilan yang tidak termasuk obyek pajak

Menurut Akuntansi Komersial :

Semua pendapatan, baik yang tidak dikenakan pajak (bukan obyek pajak)
diakui sebagai pendapatan.

Menurut Akuntansi Fiskal :

Pendapatan yang tidak termasuk obyek pajak, boleh tidak diakui sebagai
pendapatan, misalnya :
a. Sumbangan, bantuan, hibah, sepanjang tidak dalam rangka hubungan
kerja / usaha dan hubungan kepemilikan.
b. Deviden / pembagian laba atas penyertaan modal yang diperoleh PT,
Koperasi, Yayasan, BUMN / BUMD.

E-Book Akuntansi Pajak Terapan

DP TAX ADVISORY

26

BAB 3

KAPITA SELEKTA

1. Penjualan Konsinyasi
System penjualan konsinyasi adalah barang telah diserahkan tetapi hak
pemilikan masih berada dipihak pabrik (yang menyerahkan).

Penyerahan barang

Sistem Konsinyasi

Bukan Penghasilan

Dianggap sebagai Penghasilan


Jika telah ada laporan penjualannya

Apabila belum terjual


Dicatat sebagai persediaan

2. Ability to Pay
Dalam perpajakan konsep ability to pay, yaitu pajak harus dipungut pada saat
WP mempunyai kemampuan untuk membayar (likuid).
Misalnya : Sewa yang diterima dimuka, dalam perpajakan diakui sekaligus
sebagai penghasilan saat diterimanya uang sewa tersebut.

3. Penjelasan Pos-Pos Dalam Neraca Fiskal


Pada sisi Aktiva dalam neraca fiskal terdapat pos-pos antara lain :

E-Book Akuntansi Pajak Terapan

DP TAX ADVISORY

27

a. AKTIVA LANCAR :
1. Kas (sama dengan pada akuntansi komersial)
2. Kas Bank (sama dengan pada akuntansi komersial)
3. Piutang
Yang dicantumkan adalah piutang netto, yaitu setelah dikurangi dengan
piutang yang benar-benar tidak dapat ditagih, yang telah dibebankan
dalam biaya operasional.
4. PPh dibayar dimuka
Merupakan besarnya PPh yang telah dibayar selama tahun pajak
yang bersangkutan, yang dapat dikreditkan dalam penghitungan PPh
terhutang.
5. Persediaan
Merupakan persediaan barang dagangan yang telah dihitung berdasarkan
metode FIFO atau Rata-rata.

b. AKTIVA TETAP :
1. Jumlah Aktiva tetap
Merupakan jumlah harga perolehan aktiva tetap yang dimiliki dan
digunakan secara langsung dalam kegiatan usaha.
2. Akumulasi Penyusutan
Merupakan nilai akumulasi dari penyusutan yang dilakukan secara fiskal
selama masa manfaat.

Pada sisi Pasiva dalam neraca fiscal terdapat pos-pos antara lain :
c. KEWAJIBAN :
Merupakan pengorbanan ekonomis yang wajib dilakukan dimasa yang
akan datang yang timbul karena adanya transaksi dimasa sebelumnya,
misalnya pembelian barang / jasa atau menerima pinjaman uang.

E-Book Akuntansi Pajak Terapan

DP TAX ADVISORY

28

Dalam perpajakan kewajiban yang dicantumkan adalah kewajiban yang jelas


statusnya.

Klasifikasi Kewajiban :
1. Kewajiban (hutang) jangka pendek.
Merupakan hutang yang harus dilunasi dalam jangka waktu sampai
dengan satu tahun, misalnya :

Hutang usaha

Uang muka penjualan

Hutang pajak

Hutang sewa

Hutang deviden

Hutang pembelian aktiva, dll

2. Kewajiban (hutang) jangka panjang.


Merupakan hutang yang jatuh tempo pembayarannya lebih dari
satu tahun, dan sumber pembayarannya tidak diambil dari aktiva
lancar, misalnya :

Pinjaman bank

Pinjaman gadai

Kredit investasi, dll

3. Kewajiban (hutang) lain-lain.


Merupakan kewajiban yang tidak dapat dikelompokkan dalam hutang
jangka pendek atau jangka panjang.
Misalnya :

Pendapatan ditangguhkan

Uang jaminan dari pelanggan

Hutang direksi, dll

E-Book Akuntansi Pajak Terapan

DP TAX ADVISORY

29

Bagaimana jika hutang dalam mata uang asing ?

Hutang dalam M.U. Asing

Dibukukan dalam M.U. rupiah

Berdasarkan :
a. Nilai tukar tetap, atau
b. Nilai tukar pada akhir tahun pajak

Memilih salah satu, tapi taat asas.

Catatan :
Dalam neraca, kewajiban disajikan disisi pasiva berdasarkan urutan jatuh
temponya (dari yang terdekat sampai dengan yang paling lama)

d. MODAL :
Adalah sejumlah harta yang menjadi hak milik suatu usaha.
Rekening modal terdiri dari :
1. Modal disetor
Yaitu : harta yang ditanamkan pemiliknya ke perusahaan.
2. Laba ditahan
Yaitu : akumulasi laba setelah pajak termasuk laba tahun berjalan dan
telah dikurangi dengan laba yang dibagikan (deviden).

E-Book Akuntansi Pajak Terapan

DP TAX ADVISORY

30

Catatan :
Semua pembayaran yang bersumber dari Laba Ditahan tidak boleh
dibebankan sebagai biaya untuk tahun buku selanjutnya. Misalnya :

Pembayaran bonus

Gratifikasi

Jasa produksi

Tantiem

Dll

Bagaimana caranya biaya yang tidak boleh dibebankan,


Secara fiscal dapat dibebankan sebagai biaya ?
(mis : fasilitas kesehatan, perumahan, dll)

Dengan merubah menjadi tunjangan sebesar fasilitas yang diberikan

Contoh : Sistematika Mencari Harga Pokok Penjualan untuk Industri

E-Book Akuntansi Pajak Terapan

DP TAX ADVISORY

31

HARGA POKOK PENJUALAN


(INDUSTRI)

Uraian

Bahan Baku

Bahan Pembantu

Jumlah

Rp

Rp

Rp

Yang besangkutan

Rp(+)

Rp(+)

Rp.(+)

Bahan tersedia

Rp

Rp...

Rp

Persediaan bahan akhir th

Rp (-)

Rp... (-)

Rp..(-)

Pemakaian bahan

Rp.

Rp

Rp.

Persediaan awal tahun


Pembeliah dalam tahun-

Gaji/upah

Rp

Penyusutn / amortisasi

Rp

Biaya lain-lain

Rp.(+)

Total biaya proses produksi

Rp

Barang dalam proses awal tahun

Rp.(+)

Barang dalam proses tersedia

Rp.

Barang dalam proses akhir tahun

Rp..(-)

Harga Pokok Produksi

Rp

Persediaan barang jadi awal tahun

Rp....(+)

Barang jadi tersedia

Rp.

Persediaan barang jadi akhir tahun

Rp.(-)

Harga Pokok Penjualan

Rp.

Catatan :
1. Persediaan dan pemakaian persediaan dinilai berdasarkan harga perolehan
yang dilakukan secara Rata-rata atau FIFO.
2. Penyusutan / amortisasi dilakukan dengan metode Garis Lurus atau Saldo
Menurun.
3. Jumlah pembelian adalah nilai pembelian setelah dikurangi dengan
pengembalian barang, potongan, dan rabat dalam tahun yang bersangkutan.

E-Book Akuntansi Pajak Terapan

DP TAX ADVISORY

32

RINGKASAN REKONSILIASI
LAPORAN KEUANGAN FISKAL

NO
I.

KETERANGAN
PENGHASILAN USAHA
1. Penjualan Neto
a. Metode pengakuan
b. Potongan penjualan/rabat
- Metode realisasi
- Metode penyisihan
c. Retur penjualan
- Metode realisasi
- Metode penyisihan
2.Harga Pokok Penjualan (HPP)
a. Penilaian persediaan
- Harga perolehan
- HP & H.Pasar terendah
- Prosentase laba bruto
- Harga eceran
b. Metode
- FIFO
- LIFO
- Rata-rata
c. Pencatatan
- Fisik
- Perpetual

E-Book Akuntansi Pajak Terapan

KOMERSIAL

KOREKSI

FISKAL

Akrual

Akrual

DP TAX ADVISORY

33

II.

PENGHASILAN LUAR USAHA


1. Deviden penyertaan di DN
2. Deviden penyertaan di LN
3. Bunga tabungan, deposito, jasa giro
4. Keuntungan penjualan tanah
a. Bukan usaha pokok
b. Usaha pokok
5. Keuntungan pengalihan harta
6. Penghasilan royalty
7. Penghasilan sewa
a. Aktiva tetap bergerak
b. Aktiva tetap tidak bergerak
8. Penerimaan kembali pembayaran pajak
yang telah dibebankan sebagai biaya,
mis : PBB, PPn.BM
9. Keuntungan pembebasan hutang
10. Keuntungan selisih kurs valas
11. Hadiah / penghargaan
a. Sehubungan prestasi
b. Sehubungan undian
12. Penerimaan dari piutang yang telah
dihapuskan
13. Penerimaan hibah dari pihak yang ada
hubungan
usaha,
pekerjaan,
kepemilikan, dan penguasaan

III. BEBAN USAHA


1. Biaya untuk mendapatkan, menagih dan
memeliharan penghasilan :
a. Obyek pajak penghasilan
b.Bukan obyek pjk penghasilan
2. Gaji / upah
3. Menanggung PPh Pasal 21
4. Tunjangan dalam bentuk uang
5. Premi asuransi jiwa yang dibayar
perusahaan
6. Iuran THT
a. Dibayar perusahaan
b. Dibayar karyawan
7. Iuran Pensiun ke dana pensiun yang
telah disahkan M.K :
a. Dibayar perusahaan
b. Dibayar karyawan

E-Book Akuntansi Pajak Terapan

Harga Pasar

Harga Pasar

DP TAX ADVISORY

34

8. Iuaran pensiun ke dana pensiun yang


belum disahkan M.K
9. Tunjangan Hari Raya (THR)
10. Uang lembur
11. Pengobatan
a. Cuma-Cuma
b. Penggantian
c. Tunjangan pengobatan
12. Imbalan dalam bentuk natura
13. Tunjangan cuti / uang cuti
14. Perjalanan dinas
15. Biaya rekreasi
16. Bonus / pesangon
17. Biaya pendidikan pegawai
18. Beasiswa :
a. Ada ikatan kerja
b. Tidak ada ikatan kerja
c. GN-OTA
19. Sumbangan pada karyawan :
a. Barang
b. Uang
20. Gaji yang dibayarkan kpd anggota
persekutuan, Firma, CV
21. Bunga pinjaman
22. Beban sewa
23. Beban royalty
24. Jasa manajemen / tehnik
25. Litbang
26. Intertaiment
27. Keperluan pribadi direksi / pegawai
28. Iklan / promosi
29. Rugi selisih kurs valas
30. Kerugian pengalihan harta
31. Beban ATK kantor
32. Beban Listrik, Telp dan Fax
33. Perangko dan meterai
34. Handphone dan radio pager
35. Pemeliharaan & perbaikan aktiva

E-Book Akuntansi Pajak Terapan

Bukan
Biaya

Bukan
Biaya

50%
-

Bukan
Biaya

Bukan
Biaya

50%

DP TAX ADVISORY

35

Lampiran Keputusan Menteri Keuangan Nomor 138/KMK.04/2002


Jenis-Jenis Harta Berwujud yang Termasuk
Kelompok I
No.
1.

2.

3.
4.

5.

Jenis Usaha
Jenis Harta
Semua
Jenis a. Mebel dan peralatan dari kayu atau rotan termasuk
Usaha
meja, bangku, kursi, almari dan sejenisnya yang bukan
bagian dari bangunan.
b. Mesin kantor seperti mesin ketik, mesin hitung,
duplikator, mesin photo copy, accounting machine dan
sejenisnya. Komputer, printer, scanner dan
c. Perlengkapan lainnya seperti amplifier, tape/casette,
video recorder, televisi, dan sejenisnya.
d. Sepeda motor, sepeda dan becak.
Alat perlengkapan khusus (tools) bagi industri/jasa yang
e.
bersangkutan.
f. Alat dapur untuk memasak, makanan dan minuman.
Dies, jigs, dan mould.
Pertanian,
Alat yang digerakkan bukan dengan mesin
Perkebunan,
Kehutanan,
Perikanan
Industri Makanan Mesin ringan yang dapat dipindah-pindahkan seperti huller,
dan Minuman
pemecah kulit, penyosoh, pengering, pallet, dan sejenisnya.
Perhubungan,
Mobil taksi, bus dan truk yang digunakan sebagai
Pergudangan dan angkutan umum.
Komunikasi
Industri
Semi Flash memory tester, writer machine, bipolar test system,
Konduktor
eliminator (PE8-1), pose checker.

Jenis-Jenis Harta Berwujud yang Termasuk


Kelompok II
No.
1.

Jenis Usaha
Semua Jenis
Usaha

Jenis Harta
a Mebel dan peralatan dari logam termasuk meja, bangku,
. kursi, almari, dan sejenisnya yang bukan merupakan
bagian dari bangunan. Alat pengatur udara seperti AC,
kipas angin, dan sejenisnya.
b Mobil, bus, truk, speed boat dan sejenisnya.
.
c Container dan sejenisnya
.

E-Book Akuntansi Pajak Terapan

DP TAX ADVISORY

36

2.

3.

4.
5.
6.
7.

8.

9.

Pertanian,
Perkebunan,
Kehutanan,
Perikanan
Industri Makanan
dan Minuman

a
.

Mesin pertanian/perkebunan seperti traktor dan mesin


bajak, penggaruk, penanaman, penebar benih dan
sejenisnya.

a
.
b
.

Mesin yang mengolah produk asal binatang, unggas dan


perikanan, misalnya pabrik susu, pengalengan ikan.
Mesin yang mengolah produk nabati, misalnya mesin
minyak kelapa, margarine, penggilingan kopi, kembang
gula, mesin pengolah biji-bijian seperti penggilingan
beras, gandum, tapioka.
c Mesin yang menghasilkan/memproduksi minuman dan
. buah-buahan minuman segala jenis.
d Mesin yang menghasilkan/memproduksi bahan-bahan
. makanan dan makanan segala jenis.
Industri Mesin
Mesin yang menghasilkan/produksi mesin ringan (misalnya
mesin jahit, pompa air)
Perkayuan
Mesin dan peralatan penebangan kayu
Kontruksi
Peralatan yang dipergunakan seperti truk berat, dump truck,
crane, buldoser dan sejenisnya
Perhubungan,
a Truck kerja untuk pengangkutan dan bongkar muat,
Pergudangan dan
. truck peron, truck ngangkang dan sejenisnya.
Komunikasi
b Kapal penumpang, kapal barang, kapal khusus dibuat
. untuk pengangkutan barang tertentu (misalnya gandum,
batu-batuan, biji tambang dan sebagainya) termasuk
kapal pendingin dan kapal tanki, kapal penangkap
c Kapal dibuat khusus untuk menghela atau mendorong
. kapal, kapal suar, kapal pemadam kebakaran, kapal
keruk, keran terapung dan sejenisnya,
d Perahu layar pakai atau tanpa motor yang mempunyai
. berat sampai dengan 250 DWT.
e
Kapal balon.
.
Telekomunikasi
a Perangkat pesawat telepon.
.
b Pesawat telegraf, termasuk pesawat pengiriman dan
. penerimaan radio telegraf dan radio telepon.
Industri
Semi Auto frame loader, automatic logic handler, baking oven,
Konduktor
ball shear tester, bipolar test handler (automatic), cleaning
chine, coating machine, curing oven, cutting press, ambar
cut machine, dicer, die bonder, die shear test, dynamic
burn-in system ovn, dynamic test handler, eliminator (PGE01), full
automatic handler, full automatic mark, hand maker,
individual mark, inserter remover machine, laser marker
(FUM A-01), logic test system, marker (mark), memory test
system, molding, mounter, MPS automatic, MPS manual,
O/S tester manual, pass oven, pose checker, re-form
machine, SMD stocker, taping machine, tiebar cut press,
trimming/forming machine, wire bonder, wire pull tester.

E-Book Akuntansi Pajak Terapan

DP TAX ADVISORY

37

Jenis-Jenis Harta Berwujud yang Termasuk


Kelompok III
No.
Jenis Usaha
Jenis Harta
1.
Pertambangan Selain Mesin-Mesin yang dipakai dalam bidang pertambangan,
Minyak dan Gas
termasuk dan gas mesin-mesin yang mengolah produk
pelikan.
2.
Pemintalan,
a. Mesin yang mengolah/menghasilkan produk-produk
Penenunan, dan
dan
Pencelupan
tekstil (misalnya kain katun, sutra serat-serat buatan, wol
dan bulu hewan lainnya, lena rami, permadani, kain-kain
bulu, tule).
3.
Perkayuan
a. Mesin yang mengolah/menghasilkan produk-produk
kayu,
barang-barang dari jerami, rumput dan bahan anyaman
lainnya.
b. Mesin dan peralatan penggergajian kayu
4.

Industri Kimia

a. Mesin dan peralatan yang mengolah/menghasilkan


produk industri kimia dan industri yang ada
hubungannya dengan industri kimia (misalnya bahan
kimia anorganis, persenyawaan organis dan anorganis
dari logam mulia, elemen radio aktif, isotop, bahan
kimia organis, produk farmasi, pupuk, obat pewarna,
cat, pernis, minyak eteris dan resinoida-resinoida
wangi-wangian, obat kecantikan dan obat rias, obat
organis pembersih lainnya , zat albumina, perekat,
bahan peledak, produk pirotehnik, korek api, alloy
piroforis, barang fotografi dan sinematografi.
b. Mesin yang mengolah/menghasilkan produk industri
lainnya, (misalnya damar tiruan, bahan plastik, ester
dan eter dari selulosa, karet, karet sintetis, karet tiruan,
kulit samak, jangat dan kulit mentah).

5.

Industri Mesin

6.

Perhubungan
Komunikasi

Mesin yang menghasilkan/memproduksi mesin menengah


dan erat (misalnya mesin mobil, mesin kapal)
dan a. Kapal penumpang, kapal barang, kapal khusus dibuat
untuk
pengangkutan barang-barang tertentu (misalnya gandum,
batu-batuan, biji tambang dan sejenisnya) termasuk kapal
pendingin dan kapal tangki, kapal penangkap ikan dan
sejenisnya, yang mempunyai berat di atas 100 DWT
sampai
dengan 1000 DWT
b. Kapal dibuat khusus untuk menghela atau mendorong
kapal, kapal suar, kapal pemadam kebakaran, kapal
keruk, keran terapung dan sejenisnya, yang mempunyai

E-Book Akuntansi Pajak Terapan

DP TAX ADVISORY

38

berat diatas 100 DWT sampai dengan 1.000 DWT


c. Dok terapung. Perahu layar pakai atau tanpa motor
yang mempunyai berat di atas 250
d. DWT
e. Pesawat terbang dan helikopter-helikopter segala jenis
7.

Telekomunikasi

Perangkat radio navigasi, radar, dan kendali jarak jauh.

Jenis-Jenis Harta Berwujud yang Termasuk


Kelompok IV
No.
Jenis Usaha
1.
Konstruksi

Jenis Harta
Mesin berat untuk konstruksi

2.

a. Lokomotif uap dan tender atas rel.


b. Lokomotif listrik atas rel, dijalankan dengan batere atau
dengan tenaga listrik dari sumber luar.
c. Lokomotif atas rel lainnya.
d. Kereta, gerbong penumpang dan barang, termasuk
kontainer khusus dibuat dan diperlengkapi untuk ditarik
dengan satu alat atau beberapa alat engangkutan.
e. Kapal penumpang, kapal barang, kapal khusus dibuat
untuk pengangkutan barang tertentu (misalnya
gandum, batu-batuan, biji tambang dan sebagainya)
termasuk kapal pendingin dan kapal tangki, kapal
penangkap ikan dan sebagainya, yang mempunyai
berat di atas 1.000 DWT.
f. Kapal dibuat khusus untuk menghela atau mendorong
kapal, kapal suar, kapal pemadam kebakaran, kapal
keruk, keran- keran terapung dan sebagainya, yang
mempunyai berat di atas 1.000 DWT.
g. dok dok terapung

Perhubungan dan
Komunikasi

E-Book Akuntansi Pajak Terapan

DP TAX ADVISORY

39

DAFTAR PUSTAKA

1. Direktorat Jenderal Pajak, 2007

Undang-undang nomor 28 tahun 2007


Tentang Ketentuan Umum dan Tata
cara Perpajakan.

2. Direktorat Jenderal Pajak, 2008

Undang-undang nomor 36 tahun 2008


Tentang Pajak Penghasilan.

3. -----------------------------------, 2009

Peraturan
Menteri Keuangan
Nomor : 83/PMK.03/2009. Tentang
Pemberian Natura & Kenikmatan yang
Dapat Mengurangi Penghasilan Bruto.

4. -----------------------------------, 2009

Peraturan Direktur Jenderal Pajak


Nomor : 12/PJ/2009 Tentang Tata
Cara Revaluasi Aktiva Tetap.

5. -----------------------------------, 2001

Himpunan
Peraturan Pelaksanaan
Perubahan Undang-Undang Perpajakan
Tahun 2001, CV Eko Jaya, Jakarta.

6. Tunas Hariyulianto, 1996

Pajak Penghasilan Indonesia, CV Eko


Jaya, Jakarta.

7. -----------------------------------, 2000

Undang - Undang Pajak Tahun 2000,


Edisi Lengkap, PT Salemba Empat,
Jakarta.

8. Waluyo, Wirawan B. Ilyas, 2002

Perpajakan Indonesia, Buku 1 dan 2,


PT Salemba Empat, Jakarta.

9. ----------------------------------

Himpunan Peraturan Pemerintah,


Keputusan Presiden, Keputusan Menteri
Keuangan, Keputusan Direktorat Jenderal
Pajak dan Surat Edaran Direktorat Jenderal
Pajak.

E-Book Akuntansi Pajak Terapan

DP TAX ADVISORY

40

BONUS

PETUNJUK PENGHITUNGAN
PAJAK PENGHASILAN BADAN
( UU No.36 Tahun 2008)

A. Formulasi Penghitungan
(-)

(=)

PENGHASILAN BRUTO

BIAYA-BIAYA

PENGHASILAN NETO
(-)
KOMPENSASI
KERUGIAN
(=)

PPH
TERUTANG

(=)

TARIF
PASAL 17

(X)

PENGHASILAN
KENA PAJAK

(-)
PPh YG DIPOTONG /
DIPUNGUT PIHAK LAIN
(=)
PPh YG HARUS
DI BAYAR SENDIRI

(-)

PPh YANG TELAH


DIBAYAR SENDIRI

(=)

PPh KURANG/LEBIH
BAYAR

B. Keterangan :
1. Penghasilan Bruto
Merupakan penghasilan yang diperkenankan sebagai obyek pajak, baik
penghasilan dari usaha maupun penghasilan dari luar usaha kecuali
penghasilan yang telah dikenakan pajak bersifat final.
2. Biaya-Biaya
Merupakan

pengurang-pengurang

yang

diperkenankan

didalam

penghitungan Pajak Penghasilan, yaitu :

E-Book Akuntansi Pajak Terapan

DP TAX ADVISORY

41

a. Biaya untuk mendapatkan, menagih dan memelihara penghasilan


termasuk :
- Biaya pembelian bahan
- Upah, gaji, honorarium, bonus, tunjangan yang diberikan dalam bentuk
uang.
- Biaya bunga
- Biaya sewa
- Biaya royalti
- Biaya perjalanan dinas
- Biaya pengolahan limbah
- Piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih.
- Premi asuransi
- Biaya administrasi
- Pajak, kecuali pajak penghasilan
b. Penyusutan dan amortisasi, untuk harta yang mempunyai masa manfaat
lebih dari satu tahun.
c. Iuran kepada dana pensiun yang pendiriannya telah disahkan oleh Menteri
Keuangan.
d. Kerugian karena penjualan atau pengalihan harta perusahaan.
e. Kerugian karena selisih kurs mata uang asing.
f. Biaya penelitian dan pengembangan perusahaan.
g. Biaya beasiswa, magang dan pelatihan.
h. Sumbangan dalam rangka penanggulangan bencana nasional yang
ketentuannya diatur Peraturan Pemerintah.
i. Sumbangan dalam rangka penelitian pengembangan yang dilakukan di
Indonesia ketentuannya diatur dengan Peraturan Pemerintah.
j. Biaya pembangunan infrastruktur sosial ketentuannya diatur dengan
Peraturan Pemerintah.
k. Sumbangan fasilitas pendidikan yang ketentuannya diatur dengan
Peraturan Pemerintah.

E-Book Akuntansi Pajak Terapan

DP TAX ADVISORY

42

l. Sumbangan dalam rangka pembinaan olahraga yang ketentuannya diatur


dengan Peraturan Pemerintah
Pengurang yang tidak diperkenankan
a. Pembagian laba, termasuk dividen dan sisa hasil usaha koperasi.
b. Biaya untuk kepentingan pribadi pemegang saham, sekutu atau anggota.
c. Pembentukan cadangan, kecuali untuk usaha bank, sewa guna usaha
dengan hak opsi, usaha asuransi dan pertambangan.
d. Imbalan dalam bentuk natura (barang) dan kenikmatan (fasilitas), kecuali
penyediaan makanan dan minuman bagi seluruh pegawai serta
kenikmatan daerah tertentu berkaitan pelaksanaan pekerjaan yang
ditetapkan oleh Menteri Keuangan.
e. Jumlah yang melebihi kewajaran yang dibayarkan kepada pemegang
saham atau pihak yang mempunyai hubungan istimewa.
f. Harta yang dihibahkan, bantuan atau sumbangan dan warisan.
g. Pajak penghasilan.
h. Gaji yang dibayarkan kepada anggota persekutuan, firma atau CV.
i.

Sanksi administrasi berupa bunga, denda dan kenaikan yang berkenaan


dengan perpajakan.

3. Penghasilan Neto dan Kompensasi Kerugian


Selisih dari penghasilan bruto dengan biaya-biaya yang diperkenankan
adalah yang disebut penghasilan neto. Apabila penghasilan bruto setelah
dikurangi biaya-biaya yang diperkenankan didapat kerugian, maka kerugian
tersebut dapat dikompensasikan dengan penghasilan mulai tahun pajak
berikutnya berturut-turut sampai dengan 5 (lima) tahun.

Contoh :
PT.

dalam

tahun

2007

mengalami

kerugian

fiskal

sebesar

Rp.1.200.000.000,- Diketahui dalam 5 (lima) tahun berikutnya rugi laba fiskal


PT. X sebagai berikut :

E-Book Akuntansi Pajak Terapan

DP TAX ADVISORY

43

Th. 2008 laba fiscal

: Rp. 200.000.000

Th. 2009 Rugi fiscal

: (Rp. 300.000.000)

Th. 2010 laba fiscal

: NIHIL

Th. 2011 laba fiscal

: Rp. 100.000.000

Th. 2012 laba fiscal

: Rp. 800.000.000

Kompensasi kerugian dilakukan sebagai berikut :


Rugi fiskal Th.2007

: (Rp. 1. 200.000.000)

Laba fiskal Th.2008

Sisa rugi fiskal Th.2007 :


Rugi fiskal Th.2009

200.000.000 (+)
( 1.000.000.000)

( 300.000.000)

Sisa rugi fiskal Th.2007 :

( 1.000.000.000)

Laba fiskal Th.2010

Sisa rugi fiskal Th.2007 :


Laba fiskal Th.2011

( 1.000.000.000)

Sisa rugi fiskal Th.2007 :


Laba fiskal Th.2012

NIHIL

100.000.000 (+)
( 900.000.000)

Sisa rugi fiskal Th.2007 :

800.000.000 (+)
( 100.000.000)

Rugi fiskal tahun 2007 sebesar Rp. 100.000.000,- yang masih tersisa akhir
tahun 2012 tidak boleh dikompensasikan lagi dengan laba fiskal tahun
2013. Sedangkan rugi fiskal tahun 2009 sebesar Rp. 300.000.000,- hanya
boleh dikompensasikan dengan laba fiskal tahun 2013 dan 2014, karena
jangka waktu 5 (lima) tahun yang dimulai sejak tahun 2009 berakhir pada
tahun 2014.
4. Penghasilan Kena Pajak (PKP)
Penghasilan Kena Pajak sebagai dasar penerapan tarif dihitung dengan jalan
mengurangkan penghasilan neto dengan kompensasi kerugian tahun
sebelumnya. Dengan kata lain jika tidak ada kompensasi kerugian tahun

E-Book Akuntansi Pajak Terapan

DP TAX ADVISORY

44

sebelumnya, maka penghasilan neto dianggap sebagai Penghasilan Kena


Pajak (PKP).

5. Tarif Pajak Pasal 17


Berdasarkan UU PPh nomor 36 tahun 2008 yang efektif berlaku per 1 Januari
2009, dimana tarif PPh Badan menggunakan tarif tunggal 28% untuk tahun
pajak 2009 (Pasal 17 ayat 1 huruf b) dan berubah menjadi 25% untuk tahun
pajak 2010 (Pasal 17 ayat (2a)).

Selanjutnya sesuai Pasal 31E ayat (1) menyatakan bahwa : Wajib Pajak
badan

dalam

negeri

dengan

peredaran

bruto

sampai

dengan

Rp50.000.000.000,00 (lima puluh miliar rupiah) mendapat fasilitas berupa


pengurangan tarif sebesar 50% (lima puluh persen) dari tarif sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 17 ayat (1) huruf b dan ayat (2a) yang dikenakan atas
Penghasilan Kena Pajak dari bagian peredaran bruto sampai dengan
Rp4.800.000.000,00 (empat miliar delapan ratus juta rupiah).

Contoh 1:
Peredaran bruto PT Y dalam tahun pajak 2009 sebesar Rp4.500.000.000,00
(empat miliar lima ratus juta rupiah) dengan Penghasilan Kena Pajak sebesar
Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).

Penghitungan pajak yang terutang:


Seluruh Penghasilan Kena Pajak yang diperoleh dari peredaran bruto
tersebut dikenai tarif sebesar 50% (lima puluh persen) dari tarif Pajak
Penghasilan badan yang berlaku karena jumlah peredaran bruto PT Y tidak
melebihi Rp4.800.000.000,00 (empat miliar delapan ratus juta rupiah).

Pajak Penghasilan yang terutang:


(50% x 28%) x Rp500.000.000,00 = Rp70.000.000,00

E-Book Akuntansi Pajak Terapan

DP TAX ADVISORY

45

Contoh 2:
Peredaran bruto PT X dalam tahun pajak 2009 sebesar Rp30.000.000.000,00
(tiga puluh miliar rupiah) dengan Penghasilan Kena Pajak sebesar
Rp3.000.000.000,00 (tiga miliar rupiah).

Penghitungan Pajak Penghasilan yang terutang:


1. Jumlah Penghasilan Kena Pajak dari bagian peredaran bruto yang
memperoleh fasilitas:
(Rp4.800.000.000,00 : Rp30.000.000.000,00) x Rp3.000.000.000,00 =
Rp480.000.000,00

2. Jumlah Penghasilan Kena Pajak dari bagian peredaran bruto yang tidak
memperoleh fasilitas:
Rp3.000.000.000,00 Rp480.000.000,00 = Rp2.520.000.000,00

Pajak Penghasilan yang terutang:


- (50% x 28%) x Rp480.000.000,00 = Rp67.200.000,00
- 28% x Rp2.520.000.000,00 = Rp705.600.000,00

Jadi Jumlah Pajak Penghasilan yang terutang = Rp67.200.000,00 +


Rp705.600.000,00 = Rp772.800.000,00

6. PPh Terhutang
Besarnya

pajak

terhutang

(PPh

terhutang)

diperoleh

dengan

jalan

mengalikan Penghasilan Kena Pajak (PKP) dengan Tarif Pajak Pasal 17.
Untuk keperluan penerapan tarif pajak ini jumlah Penghasilan Kena Pajak
(PKP) dibulatkan kebawah dalam ribuan rupiah penuh.

7. PPh Yang Dipotong/Dipungut Pihak Lain


Merupakan

pelunasan

pajak

dalam

tahun

berjalan

yaitu

melalui

pemotongan/pemungutan oleh pihak lain (pada saat wajib pajak menerima

E-Book Akuntansi Pajak Terapan

DP TAX ADVISORY

46

penghasilan) yang boleh diperhitungkan sebagai Kredit Pajak (dikreditkan)


terhadap PPh terhutang untuk tahun pajak yang bersangkutan. Kredit Pajak
hanya dapat diperhitungkan untuk penghasilan yang pengenaan pajaknya
tidak bersifat final.

Adapun jenis Pajak Penghasilan yang dapat dikreditkan antara lain :


a. Pajak Penghasilan Pasal 22
Pajak Penghasilan yang dipungut oleh bendaharawan atau badan lain
yang ditunjuk sehubungan dengan pembayaran atas penyerahan barang,
kegiatan dibidang impor atau kegiatan usaha dibidang tertentu lainnya.
b. Pajak Penghasilan Pasal 23/26
Pajak Penghasilan yang dipotong sehubungan dengan penghasilan yang
diterima atau diperoleh atas penggunaan modal (capital income) dan
penghasilan sehubungan dengan jasa yang diterima wajib pajak badan.
Misalnya royalti, sewa, jasa teknik, jasa manajemen, jasa konsultan.
c. Pajak Penghasilan Pasal 24
Pajak yang dibayar atau terhutang di luar negeri atas penghasilan dari
luar negeri yang diterima atau diperoleh wajib pajak dalam negeri.

8. PPh Yang Harus Dibayar Sendiri


Merupakan selisih antara PPh terhutang dengan PPh yang dipotong/dipungut
pihak lain ( sebagaimana yang dimaksud kredit pajak pasal 22, pasal 23 dan
pasal 24). Dimana besarnya PPh yang harus dibayar sendiri tersebut menjadi
dasar penghitungan Angsuran Pajak (PPh. Pasal 25) untuk tahun pajak
berikutnya, dengan formulasi penghitungan yaitu PPh yang harus dibayar
sendiri dibagi 12 (dua belas) atau banyaknya bulan dalam bagian tahun
pajak.

9. PPh Yang Telah Dibayar Sendiri


Merupakan pelunasan/pembayaran pajak dalam tahun berjalan yaitu oleh
wajib pajak sendiri yang boleh diperhitungkan sebagai Kredit Pajak

E-Book Akuntansi Pajak Terapan

DP TAX ADVISORY

47

(dikreditkan) terhadap PPh terhutang untuk tahun pajak yang bersangkutan.


PPh yang telah dibayar sendiri dapat meliputi :
a. PPh. Pasal 25 (angsuran pajak setiap bulannya)
b. Surat Tagihan Pajak (STP) PPh. Pasal 25 (hanya pokok pajak)
c. Fiskal luar negeri

10. PPh Yang Kurang / Lebih Bayar


Merupakan selisih antara PPh yang harus dibayar sendiri dengan PPh yang
telah dibayar sendiri oleh wajib pajak. Dimana jika PPh yang harus dibayar
sendiri lebih besar dari pada PPh yang telah dibayar sendiri, maka terdapat
PPh yang masih harus dibayar (PPh kurang bayar). Demikian pula jika PPh
yang harus dibayar sendiri lebih kecil dari pada PPh yang telah dibayar
sendiri, maka terdapat PPh yang lebih bayar.

Apabila terdapat hasil PPh kurang bayar, maka kekurangan tersebut harus
dilunasi

selambat-lambatnya

sebelum

Surat

Pemberitahuan

Tahunan

dilaporkan di akhir bulan April tahun pajak berikutnya.

C. KREDIT PAJAK
Yang dimaksud dengan kredit pajak adalah pelunasan / pembayaran pajak
dalam tahun berjalan yaitu melalui dibayar sendiri oleh wajib pajak ataupun
melalui pemotongan/pemungutan oleh pihak lain (pada saat wajib pajak
menerima penghasilan) yang boleh diperhitungkan sebagai Kredit Pajak
(dikreditkan) terhadap PPh terhutang untuk tahun pajak yang bersangkutan.
Kredit Pajak hanya dapat diperhitungkan untuk penghasilan yang pengenaan
pajaknya tidak bersifat final.
Adapun Pajak Penghasilan yang dapat dikreditkan yaitu :
1. Pajak Penghasilan Pasal 22
2. Pajak Penghasilan Pasal 23
E-Book Akuntansi Pajak Terapan

DP TAX ADVISORY

48

3. Pajak Penghasilan Pasal 24


4. Pajak Penghasilan Pasal 25

Dalam hal ini dapat diambil suatu kesimpulan bahwa yang dimaksud kredit
pajak adalah :
1. Pajak yang telah dibayar oleh wajib pajak
2. Baik dengan cara dipotong/dipungut pihak lain
3. Maupun dengan cara dibayar sendiri
4. Yang tidak bersifat final
5. Untuk tahun pajak yang sama
6. Yang dapat diperhitungkan sebagai angsuran pajak

D. KELENGKAPAN LAPORAN SPT TAHUNAN PPh. PASAL 29


BADAN
1. 1 (satu) set formulir SPT-Tahunan PPh WP Badan (Form.1771)
2. Laporan laba rugi fiskal
3. Neraca Fiskal
4. Daftar aktiva dan penghitungan penyusutan/amortisasi fiskal
5. Surat Setoran Pajak (SSP), apabila kurang bayar
6. Transkrip elemen kutipan laporan keuangan.

E-Book Akuntansi Pajak Terapan

DP TAX ADVISORY

49