Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN GAWAT

DARURAT PADA PASIEN DENGAN ASMA BRONKIAL


DI RUANG TRIASE MEDIK RSUP SANGLAH

OLEH :
BAIQ FITRIA SURYANI
NIM: 1202115038

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS UDAYANA
2015

KONSEP DASAR PENYAKIT


1. PENGERTIAN
Asma adalah gangguan inflamasi kronik saluran napas yang melibatkan banyak sel dan
elemennya. Inflamasi kronik menyebabkan peningkatan hiperesponsif jalan napas yang
menimbulkan gejala episodik berulang berupa mengi, sesak napas, dada terasa berat dan
batuk-batuk terutama malam dan atau dini hari. Episode tersebut berhubungan dengan
obstruksi jalan napas yang luas, bervariasi dan seringkali bersifat reversibel dengan atau
tanpa pengobatan (Mangunegoro, 2004).
Asma adalah satu keadaan yang ditandai oleh terjadinya penyempitan bronkus yang berulang
dari reversibel dan diantara episode penyempitan bronkus tersebut terdapat keadaan ventilasi
yang lebih normal. (Prince, 1995)
2. EPIDEMIOLOGI DAN ETIOLOGI ASMA
Asma bronkial dapat terjadi pada semua umur namun sering dijumpai pada awal kehidupan.
Sekitar setengah dari seluruh kasus diawali sebelum berumur 10 tahun dan sepertiga bagian
lainnya terjadi sebelum umur 40 tahun. Pada usia anak-anak, terdapat perbandingan 2:1
untuk laki-laki dibandingkan wanita, namun perbandingan ini menjadi sama pada umur 30
tahun. Angka ini dapat berbeda antara satu kota dengan kota yang lain dalam negara yang
sama. Di Indonesia prevalensi asma berkisar antara 5 7 % (Rani, 2006).
Atopi merupakan faktor terbesar yang mempengaruhi perkembangan asma. Asma
alergi sering dihubungkan dengan riwayat penyakit alergi pribadi maupun keluarga seperti
rinitis, urtikaria, dan eksema. Keadaan ini dapat pula disertai dengan reaksi kulit terhadap
injeksi intradermal dari ekstrak antigen yang terdapat di udara, dan dapat pula disertai
dengan peningkatan kadar IgE dalam serum dan atau respon positif terhadap tes provokasi
yang melibatkan inhalasi antigen spesifik (Sundaru, 2006).
3. PATOFISIOLOGI ASMA

Patofisiologi asma merupakan proses yang sangat kompleks, dan melibatkan beberapa
komponen yaitu inflamasi saluran nafas, obstruksi aliran udara, dan hiperaktivitas bronkus
(Rani, 2006).

a. Penyempitan Saluran Napas


Penyempitan saluran napas merupakan hal yang mendasari timbulnya gejala dan perubahan
fisiologis asma. Ada beberapa faktor yang menyebabkan timbulnya penyempitan saluran
napas yaitu kontraksi otot polos saluran napas, edema pada saluran napas, penebalan dinding
saluran napas dan hipersekresi mukus.
Kontraksi otot polos saluran napas yang merupakan respon terhadap berbagai
mediator bronkokonstiktor dan neurotransmiter adalah mekanisme dominan terhadap
penyempitan saluran napas dan prosesnya dapat dikembalikan dengan bronkodilator. Edema
pada saluran napas disebabkan kerena adanya proses inflamasi. Hal ini penting pada
eksaserbasi akut. Penebalan saluran napas disebabkan karena perubahan struktural atau
disebut juga remodelling.

Proses inflamasi kronik pada asma akan menimbulkan

kerusakan jaringan yang secara fisiologis akan diikuti oleh proses penyembuhan (healing
process) yang menghasilkan perbaikan (repair) dan pergantian sel-sel yang mati atau rusak
dengan sel-sel yang baru. Proses penyembuhan tersebut melibatkan perbaikan jaringan yang
rusak dengan jenis sel parenkim yang sama dan pergantian jaringan yang rusak dengan
jaringan penyambung yang menghasilkan jaringan parut. Pada asma kedua proses tersebut
berkontribusi dalam proses penyembuhan dan inflamasi yang kemudian akan menghasilkan
perubahan struktur yang komplek yang dikenal dengan airway remodelling.
3

b. Hiperreaktivitas saluran napas


Penyempitan saluran respiratorik secara berlebihan merupakan patofisiologis yang secara
klinis paling relevan pada penyakit asma. Mekanisme yang bertanggungjawab terhadap
reaktivitas yang berlebihan atau hiperreaktivitas ini belum diketahui dengan pasti tetapi
mungkin berhubungan dengan perubahan otot polos saluran napas (hiperplasi dan hipertrofi)
yang terjadi secara sekunder yang menyebabkan perubahan kontraktilitas. Selain itu,
inflamasi dinding saluran respiratorik terutama daerah peribronkial dapat memperberat
penyempitan saluran respiratorik selama kontraksi otot polos.
4. FAKTOR PENCETUS ASMA
Risiko berkembangnya asma merupakan interaksi antara faktor penjamu (host factor) dan
faktor lingkungan.

a. Faktor host

Genetik

Obesitas

Jenis kelamin

b. Faktor lingkungan

Rangsangan alergen.
Rangsangan bahan-bahan di

tempat kerja.
Infeksi.
Merokok
Obat.
Penyebab lain atau faktor
lainnya (Mangunegoro, 2004).

5. MANIFESTASI KLINIS ASMA


Gejala klinis asma klasik terdiri dari trias sesak nafas, batuk, dan mengi. Gejala lainnya dapat
berupa rasa berat di dada, produksi sputum, penurunan toleransi kerja, nyeri tenggorokan, dan
pada asma alergik dapat disertai dengan pilek atau bersin. Gejala tersebut dapat bervariasi
menurut waktu dimana gejala tersebut timbul musiman atau perenial, beratnya, intensitas, dan
juga variasi diurnal. Timbulnya gejala juga sangat dipengaruhi oleh adanya faktor pencetus
seperti paparan terhadap alergen, udara dingin, infeksi saluran nafas, obat-obatan, atau aktivitas
fisik. Faktor sosial juga mempengaruhi munculnya serangan pada pasien asma, seperti
karakteristik rumah, merokok atau tidak, karakteristik tempat bekerja atau sekolah, tingkat
pendidikan penderita, atau pekerjaan (Rani, 2006).
6.

KLASIFIKASI ASMA

Tabel 1. Klasifikasi Derajat Berat Asma Berdasarkan Gambaran Klinis


(Sebelum Pengobatan) (Mangunegoro, 2004)
Derajat
Gejala
Gejala malam
Faal paru
asma
I. Intermiten Bulanan
APE 80%
Gejala < 1x/minggu
2x/bulan
VEP1 80% nilai prediksi
Tanpa gejala diluar serangan
APE 80% nilai terbaik
Serangan singkat
Variabilitas APE < 20%
II. Persisten
Ringan
Mingguan
APE 80%
Gejala > 1x/minggu, tapi < > 2x/bulan
VEP1 80% nilai prediksi
1x/hari
APE 80% nilai terbaik
Serangan dapat mengganggu
Variabilitas APE 20-30%
aktivitas dan tidur
Membutuhkan bronkodilator
setiap hari
III.
Persisten
Harian
APE 60-80%
Sedang
Gejala setiap hari
>1x/minggu VEP1
60-80%
nilai
Serangan

menggangu

aktivitas dan tidur


Membutuhkan bronkodilator

prediksi
APE 60-80% nilai terbaik
Variabilitas APE > 30%

setiap hari
IV. Persisten
Berat
Kontinyu
Gejala terus menerus
Sering kambuh
Aktivitas fisik terbatas
7.

Sering

APE 60%
VEP1 60% nilai prediksi
APE 60% nilai terbaik
Variabilitas APE > 30%

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pengukuran faal paru dilakukan untuk menilai obstruksi jalan nafas, reversibiliti kelainan

faal paru, variabiliti faal paru, sebagai penilaian tidak langsung hiper-responsif jalan nafas.
Pemeriksaan faal paru yang standar adalah pemeriksaan spirometri dan peak expiratory flow
meter (arus puncak ekspirasi). Pemeriksaan lain yang berperan untuk diagnosis antara lain uji
provokasi bronkus dan pengukuran status alergi. Uji provokasi bronkus mempunyai sensitivitas
yang tinggi tetapi spesifisitas rendah. Komponen alergi pada asma dapat diidentifikasi melalui
pemeriksaan uji kulit atau pengukuran IgE spesifik serum, namun cara ini tidak terlalu bernilai
dalam mendiagnosis asma, hanya membantu dalam mengidentifikasi faktor pencetus.
8.

PENATALAKSANAAN ASMA

Menurut pedoman diagnosis dan penatalaksanaan asma di Indonesia yang dikeluarkan oleh
Perhimpunan Dokter Paru Indonesia tahun 2004, ada 7 komponen program penatalaksanaan
asma dimana 6 di antaranya menyerupai komponen pengobatan yang dianjurkan oleh GINA dan
ditambah satu komponen yaitu pola hidup sehat.1
EDUKASI
Edukasi yang diberikan antara lain adalah pemahaman mengenai asma itu sendiri, tujuan
pengobatan asma, bagaimana mengidentifikasi dan mengontrol faktor pencetus, obat-obat yang
digunakan berikut efek samping obat, dan juga penanganan serangan asma di rumah.
PENILAIAN DERAJAT BERATNYA ASMA
Penilaian klinis berkala antara 1-6 bulan dan monitoring asma oleh penderita sendiri mutlak
dilakukan pada penatalaksanaan asma.
A. Pemantauan tanda gejala asma.
B. Pemeriksaan faal paru

Sedangkan untuk pengobatan darurat asma, pemberian epinefrin tetap merupakan langkah
pertama yang cocok, walaupun obat-obat inhalasi beta (misalnya, metaproterenol, albuterol)
seringsama efektifnya.
IDENTIFIKASI DAN PENGENDALIAN FAKTOR PENCETUS
Sebagian penderita dengan mudah mengenali fakor pencetus, akan tetapi sebagian lagi tidak
dapat menegtahui faktor pencetus asmanya.
MERENCANAKAN DAN MEMBERIKAN PENGOBATAN JANGKA PANJANG
Asma terkontrol adalah kondisi stabil minimal dalam waktu satu bulan. Dalam menetapkan atau
merencanakan pengobatan jangka panjang untuk mencapai atau mempertahankan keadaan asma
yang terkontrol, terdapat tiga faktor yang perlu dipertimbangkan:
1. Medikasi (obat-obatan)
2. Tahapan pengobatan
3. Penanganan asma mandiri (pelangi asma)
Pengobatan jangka panjang berdasarkan derajat berat asma, agar dapat tercapai tujuan
pengobatan dengan menggunakan medikasi seminimal mungkin. Perhimpunan Dokter
Paru Indonesia (PDPI) menyarankan stepdown therapy.
KONTROL SECARA TERATUR
Dua hal penting yang harus diperhatikan dokter dalam penatalaksanaan asma jangka panjang
adalah melakukan tindak lanjut/follow up teratur dan merujuk ke ahli paru pada keadaankeadaan tertentu.
POLA HIDUP SEHAT
Pola hidup sehat yang dianjurkan antara lain adalah meningkatkan kebugaran fisik melalui
olahraga,

penderita dianjurkan untuk berhenti atau tidak pernah merokok karena rokok

merupakan oksidan yang dapat menimbulkan inflamasi dan menyebabkan ketidakseimbangan


protease antiprotease serta penderita asma dianjurkan untuk tidak bekerja di tempat kerja yang
merupakan faktor pencetus asma.

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN GAWAT DARURAT ASMA


A. PENGKAJIAN DASAR
1. KEADAAN UMUM
2. KESADARAN : Pain
3. TRIAGE
: P1
4. KELUHAN UTAMA
5. PRIMARY SURVEY
A (Airways)
B (Breathing) :

: Tampak sakit berat


: Klien merasa sukar bernapas, sesak
:
: Penyempitan saluran pernapasan (obstruksi)

- Look : ada napas, takipnea, kulit tampak sianosis, Bernapas dengan menggunakan otototot tambahan
- Listen : terdengar suara napas tambahan whezzing
- Feel

: terasa pergerakan udara, pernapasan tidak adekuat


C (Circulation)

: teraba nadi karotis, takikardi, pucat, hipotensi

6. MASALAH PADA PRIMARY SURVEY


Terjadi obstruksi jalan napas.
Pernapasan tidak adekuat
Hipotensi
7. TINDAKAN PADA PRIMARY SURVEY

A (Airways):
a. Meng kaji dan mempertahankan jalan napas
b. Melakukan head tilt dan chin lift.
c. gunakan alat batu untuk jalan napas jika perlu
d. pertimbangkan untuk merujuk ke ahli anestesi untuk dilakukan intubasi jika
tidak dapat mempertahankan jalan napas

B (Breathing):

a. kaji saturasi oksigen dengan menggunakan pulse oximeter, untuk


mempertahankan saturasi >92%.
b. Berikan oksigen dengan aliran tinggi melalui non re-breath mask.
c. Melakukan nebulizer.
d. Mengkaji jumlah pernapasan.
e. Mendengarkan adanya bunyi pleura
f. Melakukan pemeriksaan gas darah arterial untuk mengkaji PaO2 dan
PaCO2
g. Pertimbangkan untuk mendapatkan pernapasan dengan menggunakan bagvalve-mask ventilation
h. Lakukan pemeriksan system pernapasan
i. Dengarkan adanya bunyi pleura
j. Lakukan pemeriksaan foto thorak mungkin normal

C(Circulation)
a. Mengkaji heart rate dan ritme, kemungkinan terdengan suara gallop
b. Mengkaji peningkatan JVP
c. Mengukur tekanan darah
d. Memasang infus D5% + teofilin 2 amp
e. Melakukan pemeriksaan darah lengkap
f. Pemeriksaan EKG mungkin menunjukan: Sinus tachikardi

g. Suntikan epinrfrin 0,3 ml 1 : 1000 secara subkutan

Disability
a. kaji tingkat kesadaran dengan menggunakan AVPU
b. penurunan kesadaran menunjukan tanda awal pasien masuk kondisi
ekstrim dan membutuhkan pertolongan medis segera dan membutuhkan
perawatan di ICU.

Exposure
a. selalu mengkaji dengan menggunakan test kemungkinan bronkitis
b. jika pasien stabil lakukan pemeriksaan riwayat kesehatan dan pemeriksaan
fisik lainnya.

8. EVALUASI PRIMARY SURVEY : sesak nafas berkurang


9. SECONDARY SURVEY:
SAMPLE:
- S (Signs and symptoms); sukar bernapas, sesak
- A (Allergies); dingin, debu, asap, bulu-bulu binatang
- M (Medications); ventolin
- P (Pertinent past medical history); ada riwayat asma yang sering kambuh
- L (Last oral intake sold liquid);
- E (Event leading to injury or illness);
NYERI
- P (Provoked)
- Q (Quality)
- R (Radian)
- S(Severity)
- T(Time)

TTV
Tekanan darah : 90/60 mmHg
Nadi
: >100
Suhu
: 37
Respirasi
: >24

a.

Psikososial

Peningkatan ansietas : takut mati, takut menderita, panik, gelisah

b.

BIOPSIKOSOSIALSPIRITUAL

PEMERIKSAAN FISIK

Sistem pernafasan

Peningkatan frekuensi pernafasan, susah bernafas, perpendekan periode inspirasi.

Penggunaan otot-otot aksesori pernafasan (retraksi sternum, pengangkatan bahu


waktu bernafas).

c.

Pernafasan cuping hidung.

Adanya mengi yang terdengar tanpa stetoskop.

Bunyi nafas : whezzing, pemanjangan ekspirasi.

Batuk keras, kering dan akhirnya batuk produktif.

Sistem Kardiovaskuler

Takhikardia

Pulsus paradoksus (penurunan tekanan darah > 10 mmHg pada waktu inspirasi)

Sianosis

Dehidrasi

Diaforesis

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Analisa Gas darah : Hipoxemia, Hiperkapnia, Asidosis Respiratorik.
Pemeriksaan darah : Kadar IgE meningkat dan Jumlah eosinofil meningkat.

10. MASALAH PADA SECONDARY SURVEY : Hipotensi dan dehidrasi

11. TINDAKAN PADA SECONDARY SURVEY :


- Observasi TTV
- Berikan cairan elektrolit
12. EVALUASI SECONDARY SURVEY :
- Tekanan darah meningkat
- Tidak ada tanda-tanda dehidrasi

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. ANALISA DATA
2. RUMUSAN DIAGNOSA KEPERAWATAN
a. Bersihan jalan napas tidak efektif b/d obstruksi jalan napas (bronkospasme),
peningkatan produksi mukus
b. Ketidak efektifan pola nafas yang berhubungan dengan distensi dinding dada dan
kelelahan akibat kerja pernafasan
c. Kerusakan pertukaran gas yang berhubungan dengan retensi CO2, peningkatan
sekresi, peningkatan kerja pernafasan dan proses penyakit.
d. Devisit volum cairan berhubungan dengan kehilangan volum cairan secara aktif
e. Ansietas yang berhubungan dengan sulit bernafas dan rasa takut sufokasi.
f. Gangguan pola tidur berhubungan dengan hospitalisasi, kelelahan
g. Kurang pengetahuan tentang kondisi terapi

dan pencegahan berhubungan

dengan keterbatasan kognitif


C. INTERVENSI
N
O
1

DIAGNOSA

TUJUAN DAN KRITERIA

INTERVENSI

HASIL
Bersihan
tidak
obstruksi

jalan

napas NOC

efektif

b/d

jalan

napas

(bronkospasme)

Respiratory

status

Posisikan

ventilation
Respiratoty

NIC
Air way management

status air

aspiration control

untuk
memaksimalkan

way patency
Respiratory

paasien

status

ventilasi
Auskultasi

suara

napas,

catat

Setelah

dilakukan

tindakan

adanaya

keperawatan selama 1x24jam


pasien

menunjukkan

tambahan.
Monitor

keefektifan jalan napas dengan


criteria hasil:

suara
respirasi

dan status O2
Atur intake untuk

Mendemonstrasikan

cairan

batuk efektif dan suara

Lakukan

napas yang brsih.

fisiotherapi

Tidak sesak, mampu

bila perlu

mengeluarkan sputum,

dada

Keluarkan

secret

dan bernapas dengan

dengan batuk atau

mudah.

suction

Menunjukkan

jalan

Kolaborasi

nafas yang paten (irama

pemberian

nafas, frekwensi nafas

bronkodilatasi

dalam rentang normal, Respirasi monitoring


tidak
ada
suara
Amati kesimetrisan
abnormal.

pengguanaan

Mampu

otot

tambahan, retraksi

mengidentifikasi
mencegah

dan
factor

penyebab.

otot intercostals
Monitor pola napas
Auskultasi

pola

napas
2

Devisit

volum

berhubungan

cairan NOC:
dengan

NIC:

Fluid balance: balance

kehilangan volum cairan

cairan

secara aktif

Hidration:

normaltidak ada

tanda tanda dehidrasi


-Nutritional

Pertahankan intake
dan

output

yang

akurat
Monitor

status

status;

hidrasi(kelembaban

Food and fluid intake

membran mukosa,

dalam

nadi

batas

batas

adekuat,

normal

tekanan

Kretiria hasil:

darah

orthostatik),

Mempertahankan urine
output sesuai dengan

Monitor vital sign


Monitor

masukan

usia dan BB,Bj urine

makanan

/cairan

normal.

dan hitung

intake

Tekanan darah, nadi,


suhu tubuh dalam batas

kalori harian
Kolaborasi

normal

pemberian cairan iv

Tidak ada tanda-tanda

Moitor

dehidrasi,elastisitas
turgor

kulit

nutrisi
Berikan cairan iv

baik,membrane mukosa
lembab, tidak ada rasa

status

pada suhu ruangan


Dorong

haus yang berlebihan.

masukan

oral
Kolaborasi

dengn

dokter

untuk

pemberian cairan.
3

Kurang

pengetahuan N0C:

tentang kondisi terapi


dan
berhubungan

pencegahan
dengan

keterbatasan kognitif

NIC:

Knowledge:

disease Teaching:disease Proces

proses
Knowledge:

Healt

Berikan

penilaian

tentang

tingkat

peengetahuan

behavior
Kreteria hasil:

pasien

tentang

Klien

proses

penyakit

pehaman

menyatakan
tentang

penyakit,kondisi,

yang spesifik
Jelaskan

prognosis dan program

patofisiologidari

pengobatan

penyakit

Klien

mampu

melaksanakan prosedur

dan

bagaimana hal ini


berhubungan

yang dijelaskan scara

dengan

benar

dan

Klien
menjelaskan
apa

yang

perawat

fisisologi,

mampu

dengan cara yang

kembali

tepat.

dijelaskan
dan

kesehatan lain.

anatomi

tim

Gambarkan proces
penyakit

dengan

cara yang tepat.


Identifikasi
kemungkinan
penyebab

dengan

cara yang tepat.


Sediakan informasi
pada

keluarga

tentang
kondisidengan cara
yang tepat
Hindari

harapan

kosong
Sediakan

bagi

keLuarga
informasi

tentang

kemajuan

pasien

dengan cara yang


tepat
Diskusikan
perubahan

gaya

hidup

yang

mungkin
diperlukan

untuk

mencegah
komplikasidimasa

yang akan datang


dan

atau

proses

pengontrolan
penyakit.
Diskusikan pilihan
terapi

atau

penanganan
Dukung

keluarga

untuk mendapatkan
second

opinion

dengan cara yang


tepat
Eksplorsi
kemungkinan
sumber

atau

dukungan

dengan

cara yang tepat


Instruksikan
keluarga mengenai
tanda

dan gejala

untuk

melaporkan

pada

pemberi

perawatan
kesehatan , dengan
4

Gangguan

pola

berhubungan

tidur NOC
dengan

Rest

hospitalisasi, kelelahan

Extent

and

Determinasi

Pattern
Sleep

Extent

and

dilakukan

efek

efek-

medikasi

terhadap pola tidur

Pattern
Setelah

cara yang tepat


NIC
Sleep enhancement

tindakan

Jelaskan

keperawatan selama 2x24jam

pentingnya

gangguan pola tidur pasien

yang adekuat

teratasi dengan criteria

Fasilitasi

Jumlah jam tidur dalam


batas normal
Pola

tidur,

tidur

dalam

batas

normal

Mampu

yang

nyaman
pemberian

hal-

hal yang meningkatkan


tidur

Ciptakan

Kolaborasi

tidur/istrahat
mengidentifikasi

sebelum

tidur
lingkungan

Perasaan segar sesudah

untuk

mempertahankan
aktivitas

kualitas

tidur

tidur

obat

DAFTAR PUSTAKA
Arif Mutaqim, (2008), Asuahan Keperawatan Klien Dengan Gangguan Sistem Pernapasan.
Jakarta : Salemba Medika
Brunner & Suddart, (2002), Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : EGC
Guyton & Hall, (1997), Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta : EGC
Hudak & Gallo, (1997), Keperawatan Kritis Pendekatan Holistik, Volume 1. Jakarta : EGC
Price Silvia A & Willson, L.M, (1995), Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-proses Penyakit.
Jakarta : EGC
Mangunegoro, H. Widjaja, A. Sutoyo, DK. Yunus, F. Pradjnaparamita. Suryanto, E. et al. (2004),
Asma Pedoman Diagnosis dan Penatalaksanaan di Indonesia, Balai Penerbit FKUI, Jakarta.
Sundaru, H. Sukamto. (2006), Asma Bronkial, In: Sudowo, AW. Setiyohadi, B. Alwi, I.
Simadibrata, M. Setiati, S. (eds), Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Jilid I, Edisi Keempat, Balai
Penerbit FKUI, Jakarta, pp: 247-252.
Rani, AA. Soegondo, S. Nasir, UAZ. Wijaya, IP. Nafrialdi. Mansjoer, A. (2006), Panduan
Pelayanan Medik Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia, PB PAPDI, Jakarta.

D. PATHWAY

Factor pencetus serangan asma


Ekstrinsik/alergi (debu, bulu
binatang, makanan, serbuk sari, dll)

Intrinsic/non alegi (ISPA, olah raga,


emosi, factor lingkungan, dll)

Bila terjadi pemajanan berulangulang

System saraf parasimpatis

Mekanisme pertahanan tubuh


membentuk ikatan antigen dan
antibody
Pelepasan produk sel mast
Histamine, Bradikini,
Protaglandin

Sat anafilatis
bereaksi lambat

permeabilitas dan
sensivitas terhadap alergi

Bronkospasme

Hipersekresi mukus
Resiko infeksi

Reflek batuk
Wheezing
Bersihan jalan napas
tidak efektif

System saraf simpatis

reseptor
adrenergik

Respon
adrenergik

CAMP

CAMP
Bronkodilata
si

Kontraksi otot
polos

Edema mukosa

Tahanan saluran
napas

Merangsang saraf otonom

Hospitalissasi

Tahanan saluran
napas

Gangguan pola
tidur

tekanan dalam
paru

kebutuhan O2

usaha napas
Diameter bronkus berkurang
selama ekspirasi daari pada
inspirasi
kecepatan ekspirasi
maksimum
sesak

Hiperventilasi
Retensi CO2
Gangguan pertukaran
gas

Kelemahan/keletihan
Intoleransi aktivitas

Napsu makan
Pemenuhan nutrisi kurang
dari kebutuhan tubuh