Anda di halaman 1dari 12

BAB.

2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Streptococcus pneumonia


Merupakan bakteri yang masuk dalam family Streptococcae. Berbentuk
bulat (coccus) biasa tersusun memanjang seperti lancet atau berpasangan 2
(diplococcus). Dapat berbentuk tunggal dikelilingi kapsul atau seperti rantai
dikelilingi oleh sebuah kapsul. Susunan rantai sering didapatkan pada medium cair.
Bakteri ini tida membentuk spora dan tidak bergerak.
Bakteri ini mampu memfermentasikan glukosa menjadi laktat. Tidak seperti
spesies Streptococcus yang lain, S. pneumoniae tidak mempunyai protein M, dan
dinding selnya terdiri dari komponen asam teichoic dan peptidoglikan. Pada agar
darah, diameter koloni biasanya berkisar antara 0,5-1,25 mm, menghasilkanhemolisis
yang bersifat -hemolisis, mukoid, dan berwarna keperakan (Todar, 2011).
Streptococcus dapat hidup berbulan-bulan dalam sputum yang kering yang
terlindung matahari. Bakteri akan mati dalam beberapa hari apabila ditanam pada
medium biasa. Bakteri cepat mati dengan larutan fenol dan antiseptic biasa. Dan
sensitif terhadap penisilin.
2.1.1

Taksonomi S. pneumoniae
Kingdom
: Bakteri
Filum
: Frimicutes
Kelas
: Cocci
Ordo
: Lactobacillales
Famili
: Streptococcaceae
Genus
: Streptococcus

Spesies
: Streptococcus pneumoniae
(Brooks, 2005)

2.1.2

Morfologi S. pneumoniae
Streptococcus Pneumoniae adalah diplococcus Gram positif, sering

berbentuk lancet atau berbentuk rantai, memiliki kapsul polisakarida yang


memudahkan untuk pengelompokan antisera spesifik. Streptococcus Pneumoniae
mudah dilisis dengan agen aktif pada permukaan misalkan garam empedu. Agen aktif
permukaan umumnya menghambat atau tidak mengaktifkan penghalang autolysin
dinding sel. Streptococcus pneumoniae merupakan penghuni normal dari saluran
pernapasan bagian atas manusia sekitar 5-40% (Brooks, 2005).
Pneumococcus mempunyai 3 lapisan permukaan utama terdiri dari plasma
membran, dinding sel dan kapsul. Dinding sel terdiri dari 3 lapis peptidoglikan
pendukung yang menahan kapsul polisakarida, dinding sel polisakarida (CWPS),
dan juga protein protein. Kapsul merupakan lapisan tipis yang menutupi struktur yang
lebih dalam. Struktur dari CWPS untuk semua serotype sama tetapi struktur dari
kapsul polisakarida spesifik untuk masing masing serotipe.
Kapsul terdiri dari polimer dengan berat molekul tinggi yang menyebabkan
unit oligosakarida yang berulang, yang mana bisa berisi antara 2 sampai 8
monosakarida. Banyak serotipe memiliki komponen acidic (seperti D-glukoronic
Acid

atau

grup

fosfat),

ribitol

atau

arabinitol.

Dalam

enam

serotipe,

Phosphorylcholine (PC ) adalah bagian dari kapsul PS (Velasco, 1995). Hal inilah
yang menyebabkan S. pneumoniae bersifat patogen bagi manusia. Kapsul
menghambat fagositosis dengan cara mencegah terjadinya opsonisasi bakteri oleh
komplemen C3b. Bentuk dan jenis antigen menjadi dasar untuk mengklasifikasikan
S. pneumoniae menjadi beberapa serotype. Lima puluh serotype dari S. pneumoniae
telah teridentifikasi. Banyak serotype dari S. pneumoniae yang telah ditemukan
5

menjadi penyebab dari penyakit yang serius, tetapi hanya beberapa serotype yang
merupakan penyebab utama dari infeksi karena S. Pneumoniae (Todar, 2011).
Dinding sel S. pneumoniae merupakan enam lapisan tebal yang terdiri dari
peptidoglikan dengan asam techinoid yang menempel pada setiap tiga asam Nacetylmuramic. Asam lipoteikoat secara kimiawi identik dengan asam teichoic tetapi
melekat ke membran sel pada bagian lipid. Kedua asam teichoic dan asam lipoteikoat
mengandung phosphorylcholine, dua residu kolin kemungkinan merupakan kovalen
yang ditambahkan ke setiap karbohidrat berulang. Ini merupakan elemen penting
dalam S. pneumoniae sejak kolin secara khusus melekat pada reseptor pengikat kolin
yang terletak di hampir semua sel manusia.
Pili merupakan strutur seperti rambut yang memanjang dari permukaan yang
telat di ketahui pada kebanyakan strain S. Pneumoniae. Bagian ini terbukti
mempunyai kontribusi dalam proses kolonisasi pada saluran nafas bagian atas dan
meningkatkan pembentukan TNF dalam jumlah besar oleh sel imun selama infeksi
invasif.
Protein permukaan berdasarkan analisis genomik fungsional, diperkirakan
bahwa Pneumococcus mengandung lebih dari 500 protein permukaan. Beberapa
terkait membran lipoprotein, dan lainnya secara fisik terkait dengan dinding sel. Yang
terakhir ini meliputi lima Protein Binding Penicillin (PBP), dua neuraminidases, dan
protease IgA. Komposisi unik dari protein pada permukaan pneumokokus adalah
famili protein choline-binding (CBPs). Dua belas CBPs yang terikat nonkovalen
pada gugus kolin dari dinding sel dan digunakan untuk memisahkan berbagai elemen
fungsional yang berbeda pada permukaan bakteri. Semua CBPs pada umumnya
berbetuk C-terminal kolin-binding domain sedangkan N-terminal

dari CBPs

berbeda, yang menunjukkan fungsi mereka berbeda. famili CBP meliputi determinan
penting pada proses virulensi seperti PSPA (protektiv antigen), Lyta, B, dan C (tiga
autolysins), dan CbpA (adhesin) (Todar, ).

2.2 Uji Membedakan Streptococcus pneumoniae


S. pneumoniae (pneumococcus) dapat dibedakan dengan S.viridans dengan
reaksi biokimiawi, yaitu:
a. Tes kelarutan empedu
Pneumococcus akan lisis dengan bahan pengaktif permukaan (surface
active agents), misalnya empedu, natrium deoksikolat, atau taurokolat.
Larutan 10% natrium deoksikolat diteteskan pada koloni bakteri pada
medium BAP yang telah dieramkan selama 24 jam, maka koloni akan
larut. Tes ini tidak mutlak karena beberapa galur Streptococcus
pneumoniae ada yang tidak larut, sedangkan S.viridans ada yang larut.
b. Tes fermentasi inulin
Sebagian besar pneumococcus memfermentasi inulin.
c. Tes optokhin
Dengan menggunakan kertas cakram yang mengandung 5g optokhin
diletakkan pada medium BAP yang ditanami pneumococcus. Setelah
diinkubasi selama 24 jam, maka pneumococcus akan memberikan zona
inhibisi seluas lebih dari 18 mm (sensitif) (Tim Mikrobiologi FK UB,
2003).

2.3 Faktor Virulensi


S. pneumoniae mempunyai berbagai faktor virulensi yang berperan penting
dalam proses terjadinya infeksi. Faktor virulensi tersebut adalah kapsul, dinding sel,
adhesin, IgA1 protease, autolysin, neuromidase, hyaluronidase, dan pneumolysin.

Kapsul merupakan salah satu faktor virulensi yang esensial. Penelitian


dengan menggunakan transposom mutagen yang merusak dinding kapsul
menghasilkan peningkatan lethal dosis organism sampai 1.000 kali. Sebenarnya
kapsul tidak menyebabkan inflamasi, tetapi berperan dalam progresifitas penyakit,
karena kapsul bersifat antifagositik.
Kapsul terdiri dari polimer dengan berat molekul tinggi yang menyebabkan
unit oligosakarida yang berulang, yang mana bisa berisi antara 2 sampai 8
monosakarida. Banyak serotipe memiliki komponen acidic (seperti D-glukoronic
Acid

atau

grup

fosfat),

ribitol

atau

arabinitol.

Dalam

enam

serotipe,

Phosphorylcholine (PC ) adalah bagian dari kapsul PS (Velasco, 1995).


Dinding sel bakteri gram positif terdiri terutama dari peptidoglikan : rantai
glycan dari perubahan N-acetylglucosamine dan residu asam N-acetylmuramic, saling
berhubungan satu sama lain melalui rantai peptide. Rantai peptide mempunyai
alanine sebagai residu pertama, terhubung dengan asam N-acetylmuramic. Dinding
sel, merupakan kompleks asam tekioid yang berisi banyak residu polisakarida, yang
juga berpasangan dengan peptidoglikan melalui asam N-acetylmuramic (Velasco,
1995).
Komponen dari dinding sel memacu respon inflamasi yang akan
menyebabkan injury jaringan. Komponen dinding sel mempunyai peran penting pada
rekruimet sel inflamasi ke paru-paru dan ruang subarachnoid, mempengaruhi
permeabilitas epitel, menstimulasi produksi sitokin dan produksi Platelet Activating
Factor (PAF). Sedangkan peran pada meningitis, komponen dinding sel secara
langsung dapat merusak neuron dan mengubah cerebral blood flow. Adanya asam
teichod pada dinding sel memperkuat aktivitas inflamasi (Mitcell et al., 1997).
Dinding sel polisakarida juga mengaktivasi jalur komplemen.
Saat aktivasi komplemen, anaphylatoxin C3a dan C5a, merubah
permeabilitas vaskular serta memicu proses degranulasi sel mast

dan mengaktivkan sel PMN pada tempat terjadinya inflamasi. Lebih


jauh lagi pemurnian dinding sel merupakan stimulus yang kuat
(lebih kuat dari endotoksin) produksi interleukin-1 dari sel monosit.
Sitokin bersama Tumor Necrotic Factor (TNF) berperan utama dalam
terjadinya

proses

tambahan pada
endotel manusia

inflamasi.

jenis

Dinding

sel

juga

menunjukan

unencapsulated pneumococci pada sel

menjadi mediasi interleukin-1 dan punya efek

cytopathic dalam sel ini (Velasco, 1995).


Pneumococcus dikenali oleh reseptor glycoconjugat pada permukaan sel
host. Pneumococcus menempel di permukaan nasopharyng diperantarai oleh
G1cNAc1-3Gal, sedangkan di sel paru-paru mempunyai reseptor G1cNAc1-4Gal
dan

G1cNAc.

Beberapa

komponen

permukaan

sel

Pneumococcus

yang

memperantarai penempelan merupakan suatu protein. Tetapi hal ini belum ada
kejelasan (Mitcell et al., 1997).
IgA1 secara prinsip berperan sebagai mediator sistem imunospesifik pada
suran napas bagian bawah. IgA1 protease berperan pada invasi lokal Pneumococcus
pada permukaan mukosa sel host.
Autolysin adalah enzim degradasi dinding sel yang ditemukan pada kapsul
sel. Enzim ini secara normal dalam keadaan inaktiv, tetapi pada kondisi sintesis
dinding sel berhenti seperti nutrisi yang berkurang, terapi penisilin, maka enzim ini
menjadi aktif dan menyebabkan autolisis bakteri. Autolisis bakteri melepaskan
produk degradasi dinding sel, meliputi peptidoglikan dan asam teichoid. Produk
degradasi dinding sel memacu inflamasi dan toksisitas pada beberapa hewan coba
(Mitcell et al., 1997).
Hyaluronidase merupakan enzim yang berfungsi memecah asam hialuronat
yang merupakan komponen dari jaringan ikat. Pecahnya asam hialuronat
menyebabkan bakteri mengalami translokasi dari jaringan paru ke darah(Mitcell et

al., 1997). Enzim hyaluronidase memfasilitasi invasi jaringan dengan cara merusak
komponen matriks ekstrasellular hal ini pertamakali dilaporkan oleh Duran-Reynals
yang menggambarkan hal ini sebagai spreading factor. Peningkatan permeabilitas
disebabkan hyaluronidase pada matriks ekstraselular memegang peranan pada infeksi
pada luka, pneumonia, dan sepsis seperti bakteremia dan meningitis.
Pneumolisin

merupakan

hemolitik

toksin

yang

dihasilkan

oleh

Pneumococcus. Toksin ini memacu inflamasi melalui mekanisme aktivasi komponen


jalur klasik, menstimulus produksi interleukin 1 dan TNF dari sel monosit(Mitcell et
al, 1997). Pneumolisin adalah Monomer Sitotoksik Sitoplasmik yang merupakan
agregat pada membran sel eukariotik dan pori pori transmembrane mengakibatkan
kebocoran larutan,ketika terjadi kerusakan sel. Pneumolisin juga terlibat pada
kerusakan dari celah sempit antara sel epitel alveolar mengakibatkan invasi ke
peredaran darah. Kemampuan pneumolisin untuk mengaktivkan sistem komplemen
klassik dengan mengikan fc region dari imunoglobulin G menginduksi inflamasi serta
bakteri untuk menghindari/mencegah opsonophagisitosis dengan menurunkan jumlah
faktor komplemen yang ada di alveoli (Norman, 2007).

2.4 Adhesi/ Perlekatan


Mikroorganisme dapat melekat dan memasuki tubuh inang melalui kult,
saluran napas, saluran pencernaan, saluran urogenital, dan konjungtiva. Streptococcus
pyogenes dapat menginfeksi kulit dan menimbulkan impetigo. Peneltian terdahulu
menunjukkan bahwa protein M bertanggungjawab terhadap pengikatan pada
keratinosit, tetapi baru-baru ini ditunjukkan bahwa Protein M tidak terlibat dalam
proses ini. S. pyogenes yang tidak memproduksi kapsul menunjukkan pengikatan
yang lebih tinggi daripada sel yang berkapsul. Hal ini diduga bahwa tidak adanya
kapsul lebih meningkatkan adhesin yang belum diketahui terhadap reseptor pada
keratinosit.
10

Patogen yang melekat pada nasopharing adalah Pneumococcus, Neisseria


meningitidis. N. meningitidis menempel melalui pili tipe IV. Reseptor inang sampai
saat ini belum diketahui. Pneumococcus mempunyai adhesin yang dikenali oleh
reseptor glycoconjugat pada permukaan sel host. Pneumococcus menempel di
permukaan nasopharing diperantarai oleh G1cNAc1-3Gal, sedangkan di sel paru
mempunyai reseptor G1cNAc1-4Gal dan G1cNAc. Beberapa komponen permukaan
sel pneumococcus yang memperantarai penempelan merupakan suatu protein. Tetapi
hal ini belum ada kejelasan (Mitcell et al, 1997).
Proses adhesi pneumococcus pada sel pejamu melalui 2 tahap. Tahap pertama
penargetan anatomik tempat penempelan yang cocok seperti di nasopharing dengan
mengikat permukaan glycoconjugates pada epitel saluran pernapasan dan sel endotel.
Pada tahap ini pula sitokin teraktivasi, sebagai hasil dari ekspresi novel glycan pada
permukaan sel yang sudah teraktivasi dan peningkatan adhesi dari pneumococcus.
Sebagai contoh aktivasi sitokin adalah ekspresi dari Platelet Activating Factor
Receptor pada beberapa permukaan sel pejamu. Tahap kedua yaitu invasi
pneumococcus pada sel pejamu dan untuk menimbulkan penyakit pneumococcus.
Adhesi pneumococcus terhadap sel pejamu mungkin memerlukan susunan dari
molekul adhesi yang dihasilkan oleh permukaan itu sendiri. Sebagai contoh seperti
molekul itu menambil bagian atau memodulasi adhesi terhadap sel pejamu (Jedrzejas,
2001).

2.5 Pili pada Gram Positif


Pada bakteri gram positif terdapat 2 tipe pili yang telah diidentifikasi dengan
menggunakan mikroskop elektron. Bakteri gram positif sebagai contoh Streptococcus

11

Gordonii dan S. Oralis dilengkapi dengan lapisan tipis dan fibril dengan panjang dari
permukaan bakteri antara 70-500 nm. Penelitian ini menunjukan struktur tersebut
terlibat dalam adhesi dan pembentukan biofilm ( Yamaguchi et al, 2004).
Seperti bakteri Gram negatif, pili pada bakteri gram positif mempunyai
peran pada adhesi, yang merupakan tahap penting dari patogenesis penyakit. Pada
bakteri Gram positif pathogen mulut A.naeslundii mempunyai dua tipe pili dengan
struktur berbeda yang dikenal sebagai tipe 1 dan tipe 2. Pil tipe 1 melakukan
pelekatan pada protein saliva kaya proline yang melapisi enamel gii dan pili ini
selanjutnya berperan efektif dalam kolonisasi A. naeslundii di mulut. Sebaliknya pili
tipe 2 mempunyai aktivitas terhadap lektin dan terlibat adhesi sel host, sebaik dengan
pembentukan biofilm yang mengandung A. naeslundii. Komponen pili streptococcus
yang invasif, mempunyai serangkaian asam amino yang merupakan anggota family
protein yang disebut komponen protein mikroba yang mengenali matrix molekul
adhesive (MSCRAMMs) yang berinteraksi melibatkan komponen ECM meliputi
fibrinolectin, fibrinogen, kolagen, laminin dan fibronectin (Telford et al, 2006).

2.6 Protein Permukaan


Selain pili, adhesi bakteri pada epitel sel host juga diperantarai oleh protein
permukaan. Bakteri gram positif yang telah diteliti yaitu streptococcus mutans
menunjukan bahwa protein perukaan utama P1, yang juga dikenal sebagai antigeb
antigen I/ II (sekitar 185 kDa), adalah adhesin yang yang berinteraksi dengan
agglutinin saliva tinggi berat molekul dan telah terlibat dalam adhesi bakteri ke
permukaan gigi (Lee and Boran, 2003).
Sampai saat ini, protein permukaan pneumokokkus bertindak sebagai faktor
virulensi dan berperan dalam kolonisasi dan patogenesis penyakit yang secara
keseluruhan sekitar 15. Dari ke 15 protein tersebut yang berperan dalam proses
12

adhesin adalah Choline Binding Protein (Cbps). Cbps ini mempunyai fungsi utama
berinteraksi dengan host dan sebagai protein adhesi mampu melakukan pelekatan
pada elastin yang merupakan komponen utama dari paru paru dan embuluh darah,
dan ini menjelaskan, terjadinya bakterimia dan pneumonia disebabkan karena
kemampuan protein permukaan, khususnya Cbps yang berikatan dengan lektin. Lalu
interaksi dari Cbps dan PspA dengan laktoferin dan faktor H mempunyai peran
penting untuk terhindar dari serangan sel imun pejamu. (Frolet et al, 2010).
Protein ini disebut juga CBPs dikenal sebagai salah satu Cholin Binding
Protein yang mempunyai unit tersendiri dengan struktur dari ikatan unit c-terminal
cholin yang biasanya diikuti oleh unit fungsional n-terminal. Ikatan cholin sendiri
terdiri dari beberapa regio yang berulang yang biasanya 20 asam amino. Unit ini
sudah diidentifikasi mengikat residu terminal cholin dari techioid atau struktur asam
lipotechioid yang berada di permukaan pneumococcus dan bertugas sebagai alat
untuk proses anchoring. Motif CBP juga ditemukan diantara protein protein
permukaan pada bakteri lain seperti Clostridium Acetobutylicum, Clostridium
Difficile, Streptococcus Mutans, Dan Streptococcus Downei (Jedzerjas, 2001).
Protein permukaan lain yang diidentifikasi oleh Yamaguchi et al. (2008)
yaitu plasmin and Fibrinolectin Binding Protein A (PfbA) berperan dalam kolonisasi
dan punya kemampuan antifagosit pada tes bakterisidal. Tidak adanya PfbA pada
bakteri akan menurunkan kemampun adhesi dan kolonisasi bakteri. Kemampuan
untuk mengikat fibronectin (Fn) pada fase dalam cairan/ darah ataupun saat
menempel di permukaan merupakan kemampuan umum dari streptococcus dan juga
meningkatkan kecepatan adhesi dari S pyogens pada epitel. Dan bertanggung jawab
atas pembentukan trombus pada infeksi endokarditis akibat streptococcus viridans
(Yamaguchi et al., 2008).

13

Penelitian menggunakan antibodi memperlihatkan Pneumococcus Surface


Protein A (PspA) berada pada dinding sel pneumococcus dan ditemukan pada setiap
strain pneumococcus yang ditemukan sampai sekarang. Fungsi dari PspA, sebagai
proteksi antigen untuk

pneumococcus, muncul untuk menjadi proteksi melawan

sistem komplemen pejamu. Studi struktural menunjukan PsaA mempunyai daya tarik
polar elektropositif yang tinggi, yang menghasilkan stabilisasi dalam kapsul
melewati ujung elektropositif dari molekul dan mencegah dari aktivasi sistem
komplemen melewati bagian elektronegatif dominan pada PspA. Bukti biologi dari
antikomplemen pada PspA sudah diteliti dan menunjukan PspA mereduksi clereance
komplemen dan pagositosis terhadap S pneumoniae. Semua antibodi protektif
bereaksi terhadap PspA yang berada pada permukaan sel pneumococcus yang
mengikat pada setengah terminal N dari molekul, menunjukan bagian dari molekul
meerupakan permukan yang telah terekspose. Bentuk helikal ini juga memperlihatkan
lebih banyak variabilitas yang mengakibatkan akumulasi dari mutasi, memperkuat
karakter penempelan dari PspA (Jedzerjas, 2001).

2.7 Kerangka Konseptual

Streptococcus pneumoniae

OMP x kDa
S. pneumoniae

Protein adhesin

14

Adhesi

Enterosit mencit

Vaksin berbasis
protein adhesi
Gambar kerangka konseptual

Protein OMP y kDa streptococcus pneumoniae yang disalutkan pada sel


eritrosit mencit akan menghambat adhesi streptococcus pneumoniae. Hal ini terjadi
karena reseptor sel eritrosit mencit dipenuhi OMP y kDa streptococcus pneumoniae
sehingga reseptor sel eritrosit mencit tidak dapat ditempeli oleh bakteri streptococcus
pneumoniae lain. OMP y kDa
adhesin

S. pneumoniae dapat dibuktikan sebagai protein

dengan menghitung indeks adhesi, yaitu dengan menghitung jumlah

perlekatan bakteri S. pneumoniae terhadap sel enterosit mencit.

2.8 Hipotesis
OMP dengan berat molekul y kDa Streptococcus pneumoniae merupakan
protein adhesi terhadap enterosit mencit.

15