Anda di halaman 1dari 4

Xylene

Xylene merupakan bahan kimia yang memiliki rumus C 6H4(CH3)2. Nama lain dari
xylene antara lain xylol, dan dimetilbenzene. Xylene memiliki berat molekul 106,17
gram/mol dengan komposisi karbon (C) sebesar 90,5% dan hidrogen (H) 9,5%. Xylene
memiliki tiga isomer yaitu ortho-xylene, meta-xylene dan para-xylene. Xylene adalah cairan
tak berwarna berbau seperti benzene. Larut dalam alkohol dan eter tidak larut dalam air.
Digunakan sebagai pelarut dalam cat.
Xylene merupakan cairan tidak berwarna yang diproduksi dari minyak bumi atau
aspal cair dan sering digunakan sebagai pelarut dalam industri (G.A.Jacobson dan S.
McLean, 2003). Xylene pada aspal cair pertama kali ditemukan pada pertengahan abad ke 19.
Nama dari xylene berasal dari bahasa latin wood xulon karena xylene dapat diperoleh dari
hasil destilasi kayu tanpa kehadiran oksigen (Richard L. Myers, 2007).
Xylene merupakan hidrokarbon aromatik yang secara luas digunakan dalam industri
dan teknologi medis sebagai pelarut (Langman JM, 1994.). Xylene dapat digunakan sebagai
bahan kimia dasar di industri. Xylene dapat teroksidasi dimana gugus methyl berubah
menjadi gugus karboksilat. Ortho-xylene akan membentuk phthalic acid sedangkan paraxylene akan membentuk terephthalic acid. Terephthalic acid merupakan salah satu bahan
dalam pembuatan polyesters. Terephthalic acid dapat bereaksi dengan ethylene glycol
membentuk ester polyethylene terephthalate (PET). Bahan PET meerupakan bahan plastik
yang digunakan sebagai wadah makanan. Perkiraan penggunaan xylene diseluruh dunia
mencapai 30 juta ton pertahun (Richard L. Myers, 2007).
Beberapa lembaga internasional telah menentukan nilai ukuran toksisitas untuk
xylene. ACGIH menentukan nilai 100 ppm selama 8 jam untuk batas TWA dan 150 ppm
selama 15 menit untuk STEL. Tidak jauh berbeda, NIOSH menetapkan angka yang sama
untuk TWA yaitu 100 ppm atau sekitar 435 mg/m3 dan 150 ppm atau sekitar 655 mg/m3
untuk STEL. OSHA menetapkan hal senada untuk TWA yaitu 100 ppm atau sekitar 435
mg/m3.Kementrian tenaga kerja menetapkan nilai ambang batas sebesar 434 mg/m selama 8
jam. Nilai ambang batas (NAB) merupakan konsentrasi dari zat, uap, atau gas dalam udara
yang dapat dihirup selama 8 jam per hari selama 5 hari/minggu, tanpa menimbulkan
gangguan kesehatan yang berarti (Soemanto Imamkhasani, 1990).
Xylene dapat masuk ke dalam tubuh manusia melalui beberapa jalur, seperti oral,
inhalasi maupun dermal. Pemaparan melalui oral merupakan hal yang jarang terjadi untuk
kasus bahan xylene. Pemaparan via oral untuk kasus xylene lebih dikarenakan kurang
higienis para pekerja setelah menggunakan atau setelah terpapar xylene, seperti makan tanpa
cuci tangan. Pemaparan via oral ini dapat langsung masuk ke dalam saluran pencernaan dan
kemudian mengiritasinya. Namun sebagian besar akan bergerak menuju hati untuk
dimetabolisis dan diekresikan. Pemaparan melalui inhalasi cukup sering terjadi, hal ini
dikarenakan xylene memiliki karakteristik mudah menguap dan uap xylene dapat terabsorbsi
dengan cepat melalui paru-paru (G.A.Jacobson dan S. McLean, 2003). Pemaparan via
inhalasi ini akan mengiritasi saluran pernafasan. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya

pada dosis akut, xylene akan mengiritasi hidung, tenggorokan hingga paru-paru.
Pemaparan melalui dermal menyebabkan kulit mengalami kerusakan berupa larutnya lemak
oleh xylene. Hal tersebut dikarenakan karakteristik dari xylene yang mudah larut dalam
lemak. Pemaparan xylene via dermal tidak sebanyak pemaparan via inhalasi hal tersebut
dikarenakan xylene cair dan uap terabsorbsi lambat melalui kulit (G.A.Jacobson dan S.
McLean, 2003). Xylene yang terabsorbsi kemudian diangkut oleh darah menuju hati untuk
dimetabolisis dan diekresikan.
Perjalanan xylene dalam tubuh manusia bergantung pada jalur masuk xylene, seperti
yang telah dijelaskan pada mode of exposure. Tujuan akhir pengangkutan xylene berada di
hati. Selama di hati xylene mengalami proses metabolisis dimana xylene yang terabsorbsi ke
dalam tubuh, 95% dimetabolisme dalam hati menjadi methylhippuric acid (MHA) dan 7080% hasil metabolisme dieksresikan melalui urin dalam jangka waktu 24 jam (G.A.Jacobson
dan S. McLean, 2003). Hasil metabolisme dalam tubuh sebagai indikator paparan xylene
yang direkomendasikan oleh American Cenference of Governmental Industrial Hygiensts
(ACGIH) disebut biological exposure index (BEI) sebesar 2,0 gram MHA/L urin (Langman
JM, 1994.)
Xylene adalah hidrokarbon aromatik yang terdiri dari benzen yang berikatan dengan
dua metil dan dapat diproduksi melalui reformasi katalitik naphta. Reformasi katalitik naphta
menghasilkan campuran xylene yang terdiri dari paraxylene (p-xylene), ortoxylene (oxylene), metaxylene (m-xylene), danethylbenzene. P-xylene adalah isomer yang bernilai jual
paling tinggi karena dapat digunakan sebagai bahan baku pada produksi terephthalic
acid pada pabrik polyester.

Masalah utama dari pemisahan p-xylene dari m-xylene dan o-xylene ialah dekatnya
nilai titik didih ketiga senyawa tersebut yang menyebabkan sulitnya dilakukan distilasi
sebagai metode pemisahan. Saat ini telah banyak berkembang teknik untuk memisahkan pxylene dari kedua isomernya dan sejarah perkembangan teknik pemisahan tersebut diawali
dengan kristalisasi. Teknik pemisahan melalui kristalisasi memiliki beberapa kekurangan
yaitu hanya dapat dilakukan pada skala yang kecil dan reliabilitas alat-alat yang digunakan
rendah. Teknik pemisahan lain yang berkembang ialah adsorpsi selektif. Saat ini, 90%
produksi p-xylene dunia menggunakan teknik adsorpsi selektif.

Pemisahan Paraxylene
1.

Kristalisasi
CrystPXsm menerapkan teknik kristalisasi 2 tahap dan merupakan hasil pengembangan
teknologi awal pemishan p-xylene dengan kristalisasi. Umpan yang berupa campuran xylene
dialirkan ke kristalisator tahap pertama. Pada kristalisator tahap pertama terjadi penurunan
temperatur sehingga p-xylene yang memiliki titik beku tertinggi membentuk kristal,
sedangkan isomer lainnya tetap berfasa cair. Campuran cairan dan kristal tersebut kemudian
dialirkan ke sentrifugator sehingga terjadi pengendapan kristal p-xylene membentuk slurry.

Cairan yang terdiri dari o-xylene dan m-xylene dialirkan ke isomerator untuk menghasilkan
lebih banyak p-xylene, sedangkan slurry dialirkan ke kolom pelelehan. Pada kolom
pelelehan, terjadi pemanasan sehingga kristal p-xylene meleleh. Kemudian, lelehan dialirkan
ke kristalisator tahap kedua. Pada kristalisator tersebut kembali terjadi kristalisasi p-xylene.
Setelah itu, campuran cairan dan kristal dialirkan ke sentrifugator dan kemudian slurry
dialirkan ke bejana pelelehan. Beberapa perusahaan pengembang sejenis ialah BEFS Prokem,
Raytheon, BP, Sulzer, dan Axens.
2.

Adsorpsi selektif
Pada proses adsorpsi, p-xylene dan isomer-isomernya dialirkan ke bejana unggun tetap yang
berisimolecular sieves yang secara selektif hanya mengadsorpsi p-xylene, sedangkan isomer-

isomer lainnya tidak teradsorp dan dialirkan keluar dari bejana adsorpsi. Pelarut yang dapat
diregenerasi dialirkan ke bejana adsorpsi dan berfungsi untuk melarutkan p-xylene yang telah
teradsorp pada molecular sieves. Setelah proses adsorpsi, pelarut dipisahkan dari p-xylene
dengan cara distilasi. Rafinat yang terdiri dari m-xylene dan o-xylene diisomerisasi untuk
menghasilkan lebih banyak p-xylene. Teknik pemisahan p-xylene dari isomer-isomer xylene
lainnya melalui proses adsorpsi selektif telah dikembangkan oleh Axens Eluxyl dan UOPs
Parex.

Paraxylene di Pertamina Indonesia


Paraxylene adalah senyawa hidrokarbon aromatic yang dihasilkan dari proses
aromatisasi dari heavy naptha dalam unit platformer yang kemudian dipisahkan untuk
memproduksi benzene dengan ekstraksi dan paraxylene dengan absorpsi. Paraxylene
digunakan sebagai bahan baku untuk memproduksi PTA (pure terephthalic acid). Paraxylene
di PERTAMINA dihasilkan oleh Kilang Paraxylene PERTAMINA UP IV Cilacap. Kapasitas
produksi kilang tersebut ialah 270.000 ton/tahun. Kilang Paraxylene Cilacap didirikan pada
tahun 1988 dan mulai beroperasi setelah diresmikan oleh Presiden pada tanggal 20 Desember
1990.

Kapasitas

total

kilang

produksi: paraxylene, benzene,

ini

adalah

590.000

LPG, raffinate, heavy

ton/tahun

dengan

aromate dan fuel

range

gas/excess.

Paraxylene adalah bahan baku untuk Plaju Aromatic Center dan dipasarkan untuk keperluan
ekspor.
PERTAMINA ialah produsen PTA pertama di Indonesia dan sejak tahun 1986 telah
memproduksi PTA di Kilang PERTAMINA UP III Plaju. Proses produksi dilaksanakan di
Unit Terepthalic Acid melalui reaksi oksidasi paraxylene dengan udara yang dilanjutkan
dengan reaksi hidrogenasi. Bentuk fisik PTA ialah bubuk/kristal putih yang tidak larut dalam
air, chloroform, ether, dan asam asetat. PTA larut dalam alkohol dan alkali (NaOH, KOH),
memiiki berat molekul 166.10, dan mudah terbakar.
Kapasitas produk PTA di PERTAMINA UP III Plaju ialah 225.000 ton/tahun.
Kegunaan PTA antara lain ialah sebagai bahan baku utama pembuatan serat benang polyester
untuk industri tekstil, bahan baku polyester chip, dan bahan baku polyester fibre yang
kemudian digunakan sebagai bahan baku tekstil, ban, seatbelts, reinforcement, dan jaket
tahan panas. PTA dapat juga digunakan untuk pembuatan botol PET (polyethylene
terephthalate), PET film, dan juga polyester filament untuk bahan baku benang polyester.